Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 22-03

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 22-03*

Karya.  : SH Mintardja

Namun dalam pada itu, selagi mereka akan meninggalkan tempat itu, kembali cantrik itu berkata, “Aku melihat sesuatu yang agak lain pada gerumbul-gerumbul itu.”

“Apa yang kau lihat?” Bertanya Empu Sanggadaru, “Kau adalah seorang pencari jejak yang baik. Barangkali kau melihat sesuatu.”

“Empu” Berkata cantrik itu, “Ternyata selain jejak kijang yang terluka itu, aku melihat jejak beberapa ekor kuda.”

Empu Sanggadaru mendekati cantrik yang menyusup di belakang gerumbul itu. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Pemburu itu langsung membawa kudanya kemari.”

“Aneh” Desis cantrik itu, “Tentu seorang pemburu yang benar-benar mampu menguasai kudanya, sedang kudanya pun tentu kuda yang sudah terbiasa. Ia mengejar buruannya dengan kudanya yang semula ditaruh di belakang gerumbul-gerumbul itu.”

“Apakah itu mungkin” Desis Empu Baladatu tiba-tiba.

“Bukankah sudah aku katakan, bahwa jika waktunya Telah tiba, kita pun akan berburu dengan kuda-kuda kita? Mungkin kudamu masih harus menyesuaikan diri. Tetapi kita akan mencoba. Kali ini kita tidak perlu memaksa diri untuk mendapatkan binatang buruan sebanyak-banyaknya. Kita akan menangkap binatang yang kita perlukan untuk makan kita selama kita di hutan ini. Selebihnya, apa saja yang kita dapatkan tanpa melakukan sesuatu yang sulit dan berbahaya sekali karena bagimu kali ini adalah pengalaman yang mungkin pertama kali.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk.

“Kita akah melakukannya sesuai dengan kemampuan kita” Empu Sanggadaru melanjutkan.

Empu Baladatu masih mengangguk-angguk.

Namun tiba-tiba cantrik yang banyak pengetahuannya tentang jejak itu berkata, “Empu. Kita mengenal, siapakah yang berburu dengan cara yang berani dan tidak mengenal babaya itu.”

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Lalu, “Siapa menurut ingatanmu?”

“Keluarga istana. Singasari.”

“He?”

“Tentu Tuanku Ranggawuni dan Tuanku Mahisa Cempaka.”

“Ah” Desis Empu Sanggadaru, “Jika yang ada di hutan ini Tuanku Ranggawuni dan Tuanku Mahisa Campaka, tentu ada tanda-tanda khusus, dan beberapa orang pengawal tentu ada di lapangan kecil itu. Bagaimanapun juga mereka adalah Maharaja dan Ratu Angabhaya. Betapapun berani dan mungkin agak kekanak-kanakan, namun para penasehatnya tidak akan melepaskannya begitu saja. Bukankah kau tidak melihat di mulut lorong itu janur kuning dan lawe wenang sebagai pertanda kehadiraa kedua anak muda. yang sedang memegang kekuasaan tertinggi itu?”

Cantrik itu mengangguk-angguk Katanya, “Ya. Aku memang tidak melihatnya. Tetapi aku belum mengenal orang lain yang melakukannya kecuali kedua anak muda itu, dan orang ketiga adalah Empu Sanggadaru.”

“Mungkin kita sajalah yang belum mengenalnya. Tetapi tentu ada orang lain yang dapat melakukannya. -”

Cantrik itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin demikian. Dan kali ini kita akan bertemu dengan, orang-orang itu. Orang-orang yang barangkali belum kita kenal.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Dipandanginya hutan yang lebat itu seolah-olah ingin memandang langsung kedalamnya. Namun kemudian ia pun berdesis, “Siapakah mereka, aku tidak peduli. Sekarang, marilah kita kembali bersembunyi. Kita akan menunggu binatang yang mungkin masih akan pergi mencari air.”

Mereka pun kemudian kembali bersembunyi di balik batu, sedang cantrik itu pun dengan hati-hati mengintai jika pada suatu saat seekor binatang turun untuk minum di belumbang kecil itu.

“Apakah belumbang itu tempat satu-satunya binatang buruan mencari minum?”

“Ya di daerah ini” Jawab Empu Sanggadaru, Lalu, “Tetapi di tempat lain, terdapat pula sebuah mata air yang lebih besar. Bahkan terdapat sebuah parit yang mengalir dari sendang itu sampai keluar hutan.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Sementara itu, cantrik yang mengintai binatang buruan yang mungkin masih mencari air dibelumbang itu pun masih tetap di tempatnya. Nampaknya ia sama sekali tidak beranjak dan bahkan tidak berkedip. Tetapi dalam pada itu Empu Baladatu dan pengawalnya telah mulai menjadi jemu. Mereka duduk dengan gelisah, dan bahkan sekali-kali menggeliat

Empu Sanggadaru melihat kegelisahan itu. Namun ia tidak menegur adiknya. Dibiarkannya adiknya sekali-kali bergeser, sekali menarik nafas dan bahkan kadang-kadang mengeluh.

Tetapi suasana tiba-tiba menjadi tegang ketika cantrik yang sedang mengintai belumbang itu berdesis. Dengan isyarat ia memberitahukan, bahwa ada seekor binatang yang mendekati belumbang itu.

Empu Baladatu hampir saja meloncat dari tempatnya. Untunglah kakaknya sempat memberikan isyarat agar ia berhati-hati, sehingga tidak mengejutkan binatang itu.

Empu Sanggadaru pun kemudian bergeser mendekati cantriknya. Dari tempatnya mengintai, Empu Sanggadaru menjengukkan kepalanya.

Wajah Empu Sanggadaru menjadi tegang. Dengan isyarat pula ia memanggil adiknya yang ikut mengintai pula. Tetapi Empu Baladatu tidak sempat bertanya karena Empu Sanggadaru meletakkan jari-jarinya di muka mulutnya.

Yang nampak oleh Empu Baladatu justru seekor harimau loreng yang besar sekali. Agaknya hal itu tidak merupakan kebiasaan, karena nampaknya Empu Sanggadaru pun menjadi heran melihat hadirnya harimau itu.

“Aneh” Bahkan Empu Sanggadaru pun berdesis, “Jarang sekali dapat ditemui seekor harimau loreng sebesar itu.”

Cantrik yang melihat pertama kali harimau itu pun nampak nya menjadi sangat heran. Dengan hati-hati ia pun berbisik, “Agak nya titik darah itulah yang telah mengundangnya kemari.”

Empu Sanggadaru mengangguk. Dan memang ternyata bahwa agaknya harimau loreng itu sedang asyik mencium bau darah binatang yang agaknya sudah terluka, namun masih sempat melarikan diri.

“Tetapi binatang itu tentu sudah menjadi sangat lapar, sehingga nampaknya ia berbuat sesuatu yang kurang lajim dilakukan sesuai dengan naluri mereka”

Tiba-tiba cantrik yang agaknya memahami benar-benar tentang medan perburuan itu pun berdesis, “Agaknya pemburu-pemburu yang berani itu telah melakukan sesuatu yang dapat mempengaruhi tata kehidupan binatang hutan.”

“Maksudmu.”

“Berhari-hari ia sudah berada di daerah ini. Ketakutan dan kecemasan telah menghinggapi hutan ini sehingga binatang-binatang telah melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Desisnya, “Aku tidak peduli. Tetapi binatang itu adalah binatang yang manis sekali. Aku ingin menangkapnya dan mendapatkan kulitnya. Aku akan menangkap tanpa melukanya dengan senjata tajam, sehingga belulangnya kelak akan utuh tanpa cacat “

“Maksud Empu” Desis cantrik itu.

Empu Sanggadaru tersenyum. Lalu, “Berikan sepotong galih asem yang tergantung diikat pinggangmu itu, “Empu” Desis cantrik itu dengan cemas .”Empu tidak boleh melakukannya atas seekor harimau sebesar itu. Apalagi seekor harimau yang lapar.”

Empu Baladatu termangu-mangu. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apa yang akan kakang lakukan?”

“Aku akan menangkapnya. Cepat, sebelum binatang itu mengetahui kehadiran kita dan lari masuk kedalam semak-semak.”

“Empu. Ujung panah tidak akan merusakkan kulitnya, Jika Empu tepat membidiknya, maka hanya ada sebuah lubang pada kulit binatang itu.”

“Aku ingin kulitnya tetap utuh. Aku akan mematahkan tulang belakangnya dengan alat pemukul ini, tanpa melukai kulitnya yang manis itu.”

Cantrik itu nampaknya menjadi tegang. Namun ia sadar, bahwa Empu Sanggadaru tidak akan dapat dicegahnya lagi.

“Empu” Desis cantrik itu, “Aku mohon ijin, jika perlu aku akan melukainya. Hanya jika perlu”“

Empu Sanggadaru tersenyum. Katanya perlahan-lahan, “Aku mengerti. Kau tidak ingin melihat aku mati dicengkeraman harimau itu. Terserahlah kepadamu jika kau memandang perlu. Kau tahu, bahwa aku ingin mendapatkan kulitnya yang utuh. Tetapi jika aku tidak akan dapat menguasainya, maka terserahlah, apa yang akan kau lakukan”

Cantrik itu mengerutkan keningnya. Nampaknya kecemasan yang membayang diwajahnya.

Empu Saggadaru pun kemudian berkata, “Aku akan melakukannya sekarang. Tunggulah aku disini.”

Cantrik itu termangu-mangu sejenak. Sekali-kali dipandanginya wajah Empu Baladatu, seolah-olah ia minta bantuannya untuk mencegah kakaknya agar mengurungkan niatnya.

Tetapi Empu Baladatu sama sekali tidak berbuat apa-apa. Meskipun ada ketegangan yang nampak diwajahnya, namun sepercik keinginan untuk melihat kemampuan kakaknya telah tersirat di hatinya.

Karena itu maka ia seolah-olah telah berdiri diatas keragu-raguan yang semakin dalam.

Namun Empu Sanggadaru sendiri kemudian tersenyum sambil menepuk bahu cantriknya, “Selagi harimau itu belum pergi. Tunggulah, dan jika kau menganggap perlu berbuatlah sesuatu untuk ketenanganmu.” Cantrik itu mengangguk kecil.

Sejenak kemudian maka Empu Sanggadaru pun segera mempersiapkan diri. Ia sama sekali tidak menarik pisau helatinya karena ia tidak ingin melukai harimau itu. Karena itu, ia akan mempergunakan sepotong galih asem yang berwarna kehitam-hitaman.

Sejenak kemudian maka Empu Sanggadaru pun telah siap melakukan rencananya. Tiba-tiba saja ia pun meloncat keatas sebongkah batu padas, dan berteriak nyaring.

Harimau yang sedang termangu-mangu mencium bau darah itu pun terkejut. Bahkan bukan harimau itu sajalah yang terkejut. Empu Baladatu yang ada di sebelah batu itu pun terkejut pula sehingga ia bergeser surut. Bahkan seorang pengawalnya yang ada di belakangnya, telah menjadi gemetar karena suara itu banar-benar tidak disangkanya.

Sejenak kemudian, selagi gema suaranya telah lenyap, maka Empu Sanggadaru pun segera meloncat berlari menuruni tanah yang miring ke arah belumbang di bawah pohon raksasa itu.

Sejenak harimau loreng yang besar itu justru termangu-mangu. la agaknya melihat sesosok mahluk yang aneh, yang mengenakan kulit seperti kulit seekor barimau tetapi yang berjalan di atas kedua kakinya.

Namun sejenak kemudian terdengar harimau itu mengaum. Keras sekali. Suaranya menggetarkan dedaunan di sekitarnya dan bahkan menggetarkan isi dada orang-orang yang mendengarnya.

Sejenak Empu Sanggadaru tertegun memandang harimau yang mulai merundukkan kepalanya. Namun kemudian ia pun justru melangkah dengan hati-hati mendekatinya.

Empu Baladatu memandang kakaknya dengan hati yang berdebar-debar. Demikian pula pengawalnya. Sedangkan cantrik padepokan kakaknya itu pun agaknya telah dicengkam oleh ketegangan. Bahkan seolah-olah di luar sadarnya, ia telah mempersiapkan busurnya dan memasang sebuah anak panah yang siap untuk dilepaskan apabila diperlukan.

Tetapi agaknya ia tidak akan dapat membidik dari jarak yang agak jauh itu jika terjadi pergulatan antara Empu Sanggadaru dan harimau loreng yang sangat besar itu, agar tidak salah sasaran. Karena itu, maka ia pun kemudian tanpa menghiraukan Empu Baladatu dan pengawalnya, perlahan-lahan bergeser mendekat.

Empu Baladatu pun bergeser pula di luar sadarnya. Hatinya menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat harimau itu mulai merunduk.

Sejenak kemudian terdengarlah auman yang dahsyat sekali lagi. Berbareng dengan itu, maka harimau itu pun telah meloncat menerkam Empu Sanggadaru.

Tetapi Empu Sanggadaru telah bersiap. Ketika kedua kaki depan harimau yang terjulur dengan kukuhnya yang runcing itu hampir menyentuhnya, maka Empu Sanggadaru telah melenting dengan kecepatan yang tidak dapat dilihat dengan tatapan mata biasa. Seolah-olah ia telah hilang dari tempatnya dan tiba-tiba saja telah muncul disisi harimau yang kehilangan lawannya.

Bahkan agaknya Empu Sanggadaru tidak hanya sekedar membuat harimau itu kebingungan. Namun dengan tangkasnya ia pun telah meloncat ke punggung harimau itu seperti ia meloncat ke atas punggung kuda.

Tangan kirinya pun kemudian dengan kerasnya telah memeluk leher harimau itu sambil mencengkam pada bulu-bulunya. Kemudian dengan serta merta ia mengayunkan sepotong galih asem ditangannya, memukul tengkuk harimau itu berulang-ulang.

Tetapi harimau itu tidak menyerah begitu saja. Sambil meraung dengan dahsyatnya, binatang itu meronta-ronta. Sekali harimau itu meloncat, kemudian menjatuhkan dirinya dan berguling-guling di tanah.

Tetapi Empu Sanggadaru berpegangan dengan eratnya. Seolah-olah ia telah melekat pada punggung harimau itu. Betapapun juga harimau itu berusaha, namun ternyata bahwa Empu Sanggadaru tidak dapat dilepaskannya.

Namun harimau yang bagaikan gila itu masih saja berusaha. Bahkan kemudian harimau itu pun meloncat-loncat dan sekali-kali membenturkan dirinya pada batang pepohonan.

Empu Sanggadaru yang berada di punggung harimau itu berusaha untuk tetap berada di tempatnya. Bahkan kemudian, ia tidak sempat lagi memukul dengan sepotong galih asemnya, karena kedua tangannya harus berpegangan erat-erat agar ia tidak terlepas dari punggung harimau itu.

Tetapi ternyata bahwa harimau itu pun memiliki kekuatan yang tidak terkira. Setelah beberapa kali ia berusaha, maka pegangan Empu Sanggadaru pun menjadi kendor. Ketika binatang itu meloncat dan membenturkan tubuhnya pada sebatang pohon, kemudian menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali, ternyata tangan Empu Sanggadaru telah terlepas. Dengan serta merta, harimau itu mengibaskan dirinya sehingga Empu Sanggadaru pun kemudian terlempar beberapa langkah.

Terdengar aum harimau itu menggema. Agaknya harimau itu pun mengerti, bahwa yang melekat dipunggungnya telah terlepas dan jatuh beberapa langkah daripadanya.

Namun demikian, harimau itu pun telah menjadi letih Apalagi karena kemarahan dan kebingungan yang mencekamnya, beberapa kali ia telah membenturkan tubuhnya dan bahkan kepalanya pada batang-batang pohon yang ada disekjtarnya tanpa dikehendakinya sendiri.

Meskipun demikian harimau itu masih tetap garang. Dengan gigi-giginya yang menyeringai tajam, ia siap untuk menyobek lawannya yang untuk beberapa saat masih terbaring diam.

Agaknya Empu Sanggadaru pun merasa pening. Tetapi ia masih mampu menguasai dirinya, sehingga dengan sadar ia memperhatikan harimau yang siap untuk menerkamnya.

Bahkan sekilas ia masih melihat cantriknya menarik tali busurnya, siap untuk melepaskan anak panahnya, justru pada saat ia sudah terpisah dari harimau itu.

“Jangan” Empu Sanggadaru masih sempat berteriak sehingga cantriknya menjadi tertegun diam.

Justru pada saat itu, harimau loreng itu sudah mulai bersiap-siap. Kepalanya menjadi semakin rendah dan ekornya yang mengkibas itu pun menjadi semakin cepat.

Namun pada saat itulah Empu Sanggadaru melenting berdiri Dan tepat pada saat harimau itu meloncat menerkamnya, Empu Sanggadaru meloncat menggapai dahan kayu yang menyilang atasnya. Dengan tangan kirinya ia menggantung pada dahan itu. Namun ketika harimau yang kehilangan lawannya itu menjejakkan kakinya di tanah, maka Empu Sanggadaru sempat memutar diri dan meloncat sekali lagi di atas punggung harimau yang ganas itu.

Harimau loreng itu pun kemudian menjadi seolah-olah gila. Terdengar auman yang dahsyat dan sekali lagi binatang itu berusaha melepaskan diri. Tetapi tangan Empu Sanggadaru telah mencengkam kulit dan bulu-bulunya.

Berkali-kali Empu Sanggadaru sempat memukul kepala harimau itu dengan galih asemnya, sehingga agaknya harimau itu pun menjadi semakin pening. Dengan demikian maka geraknya pun menjadi bertambah liar dan tidak terkendali.

Dengan ganasnya harimau itu meloncat dan menjatuhkan dirinya beryiilang kali. Berguling-guling dan mengaum tidak hentinya.

Sekali lagi Empu Sanggadaru kehilangan keseimbangannya. Perlahan-lahan tangannya menjadi kendor. Justru pada saat ia mencoba memperbaiki pegangannya, maka sekali lagi ia terlempar dan jatuh tepat disamping harimau itu.

Harimau yang bagaikan gila itu menggeram. Ia tidak sempat merunduk dan menerkam lawannya. Tetapi dengan serta merta ia langsung menerkam lawannya yang hanya selangkah daripadanya.

Empu Sanggadaru tidak sempat meloncat bangkit. Yiang di lakukan kemudian adalah berguling dengan cepatnya menghindari kuku-kuku harimau yang tajam itu.

Empu Sanggadaru ternyata mampu bergerak secepat kilat, la berhasil melepaskan diri dari cengkeraman harimau itu. Tetapi, ternyata bahwa ia tidak terbebas seluruhnya. Ketika ia ke mudian bangkit berdiri, ternyata bahwa lengan dan pahanya bagaikan digores oleh beberapa bilah pisau berbareng. Darah yang merah mengalir dari luka-lukanya itu.

Ternyata harimau itu sama sekali tidak memberinya kesempatan. Begitu Empu Sanggadaru berdiri, maka harimau itu pun telah siap pula. Dengan garangnya ia menerkam kearah kepala lawannya. Kedua kaki depannya terangkat tinggi, seolah-olah harimau itu telah berdiri tegak dengan kaki belakangnya.
Empu Sanggadaru bergeser sejauh dapat dilakukan. Tetapi semuanya itu berlangsung cepat sekali. Yang dapar dilakukan kemudian mengayunkan galih asem ditangannya sekeras-kerasnya mengarah ke kening harimau itu, tepat di antara kedua matanya.

Sekali lagi terdengar aum yang dahsyat. Harimau itu agak nya merasa kesakitan dan bergeser mundur.

Empu Baladatu berdiri ditempatnya seolah-olah membeku. Ia telah melihat perkelahian yang dahsyat antara seekor harimau loreng melawan kakaknya yang semula masih diragukan kemampuannya. Namun yang kemudian ternyata, bahwa kakaknya memiliki kemampuan bergerak cepat sekali. Lebih cepat dari yang diduganya. Namun demikian, Empu Baladatu masih belum dapat menjajagi betapa besar kekuatan yang sebenarnya dan kakaknya itu.

Sejenak kemudian, maka perkelahian itu pun berlangsung kembali. Empu Sanggadaru tidak lagi berusaha meloncat dan melekat ke punggung harimau itu. Tetapi ia kemudian mempergunakan kecepatannya untuk membingungkan lawannya. Sekali-kali ia meloncat dan berpegangan pada dahan yang menyilang diatas kepalanya. Kemudian turun sambil menyerang dengan galih asemnya. Ketika harimau itu berputar dan berusaha mencengkam dengan kukunya, Empu Sanggadaru meloncat surut.

Dalam perkelahian yang demikian, Empu Baladatu mulai melihat perbedaan sifat dan watak yang ada pada kakaknya. Jika semula ia menjadi bimbang, bahwa kakaknya adalah seorang yang lembut dan selalu tersenyum dan tertawa didalam gurau yang segar, maka perlahan-lahan Empu Sanggadaru telah berubah menjadi seorang yang garang dan bahkan kasar. Geraknya yang semula masih terkendali, telah berubah, seperti tata gerak, harimau yang liar itu sendiri.

Namun demikian, Empu Sanggadaru masih belum melepaskan keinginannya untuk menangkap harimau itu tanpa melukai kulitnya meskipun ia dapat mematahkan tulangnya dengan sepotong galih asem ditangan kanannya.

Cantrik yang memegang busur dan anak panah itu pun menjadi semakin tegang. Sekali-kali ia membidikkan anak panah nya, namun kemudian sambil menarik nafas ia menurunkan busurnya. Sekali-kali ia bergeser namun kemudian ia menjadi bingung pula karena perkelahian yang semakin seru.

Luka dilengan goresan-goresan pada punggung dan bahkan didadanya. Kuku harimau yang tajam itu, berkali-kali berhasil menyentuh tubuh Empu Sanggadaru betapapun lincahnya ia bergerak.

Melihat darah yang mengalir semakin banyak, cantrik yang memegang busur itu pun menjadi semakin tegang. Bahkan kemudian ia melangkah semakin dekat sambil mengangkat busur dan anak panahnya.

Empu Baladatu pun ikut bergeser mendekat. Betapapun juga, ia tidak akan sampai hati melihat kakaknya berkelahi melawan seekor harimau loreng yang demikian besarnya. Meskipun agaknya Empu Sanggadaru masih ingin menyelesaikan kerja itu seperti yang dikehendaki, maka apabila pada suatu saat keadaan sangat membahayakan, maka Empu Baladatu pun telah menyiapkan tombak pendeknya. Tombak pendek yang dibawa dari padepokan kakaknya pula sebagai kelengkapan untuk berburu.

Namun dalam pada itu, baik cantrik yang membawa busur itu. maupun Empu Baladatu dan pengawalnya terkejut ketika mereka melihat Empu Sanggadaru meloncat jauh-jauh dari harimau yang semakin ganas, karena kepalanya benar-benar telah menjadi pening, karena setiap kali terantuk dengan galih asem yang sekeras batu hitam. Bahkan punggungnya serasa retak oleh pukulan-pukulan itu pula.

Agaknya harimau itu tidak mau melepaskan mangsanya. Karena itu, ketika Empu Sanggadaru menjauhinya, harimau itu pun meloncat dengan kaki terjulur siap menyobek dadanya.

Mereka yang menyaksikan menjadi berdebar-debar. Bahkan cantrik yang membawa busur itu sudah mulai menarik busuf nya. Sementara itu Empu Baladatu pun telah bergeser semakin dekat. Jika terjadi sesuatu, maka ia pun akan segera meloncat dan betapapun tidak dikehendaki oleh kakaknya, ia terpaksa akan menghunjamkan ujung tombaknya ketubuh harimau itu meskipun dengan demikian berarti, kulit harimau itu akan menjadi cacat. Tetapi baginya jiwa Empu Sanggadaru tentu akan lebih berharga dari selembar kulit harimau yang manapun juga. Apalagi Empu Baladatu masih berharap, bahwa ia akan mendapatkan bantuan kakaknya menghadapi kekuasaan Singasari yang tidak disukainya itu.

Namun dalam pada itu, Empu Baladatu pun tertegun. Juga cantrik yang memegang busur Itu. Mereka melihat Empun Sanggadaru yang sudah berhasil membuat jarak dari harimau loreng itu pun telah berdiri tegang sambil merentangkan; tangannya.

“O” gumam cantrik yang membawa busur itu

“Kenapa?”

Cantrik itu tidak menjawab. Namun tatapan matanya yang, tegang terpukau pada tata gerak Empu Sanggadaru selanjutnya.

Ketika kuku-kuku harimau yang tajam itu hampir menyentuh kulitnya, tiba-tiba saja Empu Sanggadaru bergeser. Dengan tangkasnya ia menangkap kaki depan harimau itu sebelah.

Yang terjadi kemudian adalah diluar dugaan Empu Baladatu dan pengawalnya. Bahkan mereka sama sekali tidak menduga, bahwa mereka akan menyaksikan kekuatan yang luar biasa yang ada pada Empu Sanggadaru.

Dengan sebelah tangannya, Empu Sanggadaru memutar harimau itu di atas kepalanya. Semakin lama semakin cepat, berbareng dengan auman yang dahsyat dari harimau yang kehilangan kesempatan untuk melawan, justru karena putaran yang semakin cepat.

Selagi mereka yang menyaksikan masih termangu-mangu, mereka, telah dikejutkan oleh sebuah benturan yang dahsyar pada sebatang pohon raksasa. Ternyata Empu Sanggadaru telah melontarkan harimau itu dan membenturkannya pada pohon raksasa itu dengan kekuatan yang tidak terduga besarnya.

“Aji Bayu Seketi” desis cantrik yang masih menggenggam busur itu,

“He” desis Empu Baladatu tanpa berpaling. Ia masih mengagumi apa yang baru saja terjadi. Dilihatnya harimau itu hanya sempat menggeliat dan mencoba berdiri. Tetapi kemudian binatang itu pun terjatuh. Mati. Tanpa luka pada tubuhnya. Namun agaknya tulanganya telah remuk didalam tubuhnya.

“Apakah kau menyebut aji Bayu Seketi?” bertanya Empu Baladatu kepada cantrik itu.

“Ya Empu. Empu Sanggadaru menyebut kekuatan yang tidak ternilai besarnya itu Aji Bayu Seketi.”

Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan demikian ia menjadi semakin yakin, bahwa kedatangannya kepada kakaknya itu agaknya akan sangat bermanfaat.

“Tetapi apakah kakang Empu Sanggadaru akan bersedia membantuku?” bertanya Empu Baladatu didalam hatinya.

Sementara itu, Empu Sanggadaru yang hampir di seluruh tubuhnya telah menjadi merah karena darahnya, melangkah perlahan-lahan mendekati harimau yang tergolek mati itu.

Dalam pada itu, cantrik yang membawa busur, Empu Baladatu dan pengawalnya pun dengan tergesa-gesa mendekatinya pula.

Tetapi sebelum mereka menyatakan sesuatu, mereka telah dikejutkan oleh suara tertawa pendek di balik gerumbul yang lebat di sebarang belumbang itu.

Empu Sanggadaru yang masih terengah-engah pun memandang ke arah suara tertawa itu pula dengan kerut merut di keningniya. Bahkan kemudinan dengan suara yang dalam ia bertanya, “Siapakah yang berada di balik gerumbul itu?”

Tidak ada jawaban. Namun suara tertawa itu masih terdengar berkepanjangan.

Empu Sanggadaru yang masih dibasahi oleh keringat dan darahnya itu menjadi tegang. Bahkan tiba-tiba ia telah meloncat dengan loncatan yang panjang menuju kegerumbul itu.

Cantrik, Empu Baladatu dan pengawalnya tidak membiarkan Empu Sanggadaru pergi seorang diri. Mereka pun kemudian dengan tergesa-gesa berlari mengikutinya.

Tetapi langkah Empu Sanggadaru segera terhenti. Bahkan ia pun kemudian melangkah surut sambil membungkuk dalam?.

Empu Baladatu dan pengawalnya menjadi heran. Tetapi cantrik yang membawa busur itu pun segera mengetahui, siapakah yang berada dibalik gerumbul itu.

“Ampun tuanku” desis Empu Sanggadaru sambil membungkuk dalam-dalam ketika dilihatnya dua orang anak muda berdiri memandanginya.

“Siapa?” desis Empu Baladatu ditelinga cantrik.

“Tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka.”

“He” Empu Baladatu terkejut bukan kepalang. Ternyata ia telah bertemu muka dengan kedua anak muda yang selama ini menjadi sasaran keinginannya untuk mendesak kedudukan mereka.

Namun dalam pada itu, Empu Baladatu pun mengangguk pula dalam-dalam seperti Empu Sanggadaru dan cantrik yang membawa busur itu,

“Hamba sama sekali tidak menyangka bahwa tuanku berdua ada didalam hutan ini.”

“Aku tidak hanya berdua” sahut Ranggawuni.

“Ya, maksud hamba bahwa tuanku sedang berburu dengan beberapa orang pengawal.”

“Aku berburu bersama paman Lembu Ampal.”

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Lalu, “Apakah tuanku hanya bertiga saja?”

“Ya.”

Empu Sanggadaru menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Bukan main tuanku. Sebenarnya tentu berbahaya sekali jika Tuanku hanya pergi bertiga ketengah-tengah hutan yang lebat ini.”

“Kenapa berbahaya? Aku sudah sering pergi berburu.”

“Tetapi kehadiran tuanku tentu diikuti oleh sekelompok pengawal pilihan. Dan pemburu-pemburu yang lain sama sekali tidak akan berani memasuki hutan ini, karena di beberapa tempat terpancang tanda, janur kuning atau lawe wenang. Tetapi kali ini hamba sama sekali tidak melihat tanda apapun.“

Ranggawuni tertawa. Jawabnya “Aku bosan dengan cara yang sama sekali tidak menyenangkan itu. Aku lebih senang berburu sebagai seorang pemburu. Namun ternyata bahwa kau adalah pemburu yang jauh lebih baik daripada kami bertiga. Beberapa saat yang lalu, aku masih memenangkan pertandingan berpacu mendapatkan binatang buruan. Tetapi kali ini agaknya aku harus mengaku kalah, karena kau sudah berhasil membunuh harimau itu dengan cara yang dahsyat sekali.”

“Ah, hanya suatu permainan kanak-kanak yang tidak berarti” jawab Empu Sanggadaru.

“Sudahlah. Rawatlah luka-lukamu. Aku tahu, bahwa luka-luka itu tidak akan memberikan pengaruh apa-apa padamu. Tetapi sebaiknya kau bersihkan dan kau obati. Bukankah kau mempunyai obat yang dapat menyembuhkan luka-lukamu itu dengan segera?”

“Ampun Tuanku. Hamba memang membawa obat-obat yang mungkin diperlukan, dalam perburuan seperti ini.”

Ranggawuni mengangguk-angguk. Namun kemudian dipandanginya Empu Baladatu yang termangu-mangu.

“Siapakah orang itu Empu. Agaknya aku belum pernah melihatnya. Namun menillik wajahnya yang mirip dengan wajahmu, tentu ia mempunyai hubungan keluarga dengan kau.”

“Ia adalah adikku Tuanku. Ia datang kepadepokan hamba, dan agaknya ia ingin berburu di tengah-hutan yang lebat ini, sehingga ia hamba bawa bersama hamba sekarang ini.”

Ranggawuni mengangguk-angguk. Lalu ia pun bertanya pula, “Siapakah namanya?”

“Baladatu Tuanku. Empu Baladatu.”

Ranggawuni mengangguk-angguk. Sambil tersenyum ia bertanya kepada Empu Baladatu, “Apakah kau tidak tinggal bersama kakakmu?”

“Ampun Tuanku, hamba tinggal ditempat yang jauh. Tetapi karena kerinduan hamba kepada satu-satunya saudara laki, maka hamba pun memerlukan menengoknya.

Ranggawuni tertawa. Katanya, “Dan sekarang kalian berdua telah berburu di tengah-tengah hutan ini. Sungguh mengagumkan cara kakakmu menangkap harimau itu. Aku tahu, kakakmu adalah seorang yang suka sekali mengumpulkan kulit binatang buruan. Ia tentu lebih senang mendapatkan kulit yang utuh daripada yang telah cacat karena senjata. Itulah sebabnya, ia lebih senang membunuh harimau itu dengan caranya, meskipun ia sendiri telah terluka.”

“Hamba Tuanku.”

“Dan apakah kan juga ingin mencobanya?”

“Ampun Tuanku. Hamba sama sekali tidak berkemampuan apapun juga. Karena itu, hamba hanyalah sekedar mengikut di belakang.”

Ranggawuni mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum, “Kau kakak beradik memang suka merendahkan diri. Sikapmu tidak dapat mengelabui aku. Tatapi baiklah. Obatilah lukamu lebih dahulu. Aku akan melihat harimau yang telah kau bunuh itu.”

Empu Sanggadaru pun kemudian melangkah surut. Sementara itu Ranggawuni dan Mahisa Campaka diiringi seseorang yang telah melampaui separo baya, dan yang disebutnya Lembu Ampai itu melangkah mendekati harimau yang tergolek mati.

“Tuanku tidak berkuda?” Bertanya Empu Sanggadaru tiba-tiba.

“Tidak” Jawab Ranggawuni.

Empu Sanggadaru menjadi terheran-heran. Karena itu justru sejenak ia termangu-mangu memandang Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal berganti-ganti.

“Kenapa kau heran?” Bertanya Ranggawuni, “Tentu kau berpikir bahwa jarak antara istanaku di Kota Raja sampai kehutan ini cukup jauh.”

“Hamba Tuanku.”

“Aku memang berkuda sampai ke hutan ini. Tetapi aku perintahkan para pengawalku pergi. Aku minta mereka menjemputku dua malam lagi, sehingga aku akan berada di tempat ini tiga hari dua malam.”

“O, jadi Tuanku baru hari ini juga mulai berburu.”

“Agaknya kita tidak terpaut lama. Kau datang lebih dahulu.”

“He” Empu Sanggadaru menjadi semakin bingung, “O, ampun Tuanku. Hamba tidak mengerti.”

Ranggawunilah yang kemudian menjadi heran. Namun kemudian katanya, “Kau belum mengobati lukamu. Lakukanlah. Nanti kita akan berbicara tentang saat kehadiran kita masing-masing.

Empu Sanggadaru mengangguk dalam-dalam. Katanya “Hamba Tuanku. Hamba mohon maaf, bahwa hamba akan mengobati luka-luka hamba.”

Ranggawuni dan Mahisa Campaka pun kemudian melangkah mendekati harimau yg terkapar mati. Nampaknya harimau itu benar-benar masih utuh. Hanya dari mulutnya mengalir darah dari dalam tubuhnya yang agaknya telah remuk.

“Bukan main” Desis Ranggawuni, “Harimau loreng yang jarang terdapat.”

“Terlampau besar bagi harimau biasa” Desis Mahisa Campaka.

“Suatu keuntungan bagi Empu Sanggadaru meskipun ia harus mengalami luka-luka.”

Lembu Ampal berdiri dengan menyilangkan tangan didadanya. Meskipun ia memperhatikan harimau itu pula, namun ia tidak kehilangan kewaspadaan, karena yang dikawal itu adalah orang yang sedang memerintah Singasari.

Memang kadang-kadang kedua anak muda itu berbuat aneh Sekali-kali mereka ingin melepaskan diri dari kungkungan jabatan. Oleh ketentuan-ketentuan yang menjemukan. Karena itu pulalah maka mereka kemudian telah pergi berburu dengan caranya, meskipun seperti yang dikatakan oleh Empu Sanggadaru adalah berbahaya sekali.

Dalam pada itu, Empu Sanggadaru dibantu oleh cantriknya telah mengobati lukanya. Empu Baladatu yang menungguinya sempat bertanya, “Apakah cara itu sering kali dilakukan oleh kedua anak muda itu?”

“Mereka memang sering berburu” Jawab Empu Sanggadaru, “Tetapi tidak dengan cara ini. Cara yang sangat berbahaya dan kurang dapat dipertanggung jawabkan. Semua orang akan menyalahkannya jika terjadi sesuatu atas mereka.”

Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam. Tanpa disangka-sangka ia telah bertemu dengan kedua orang anak muda yang berada di puncak pemerintahan Singasari itu.

“Kesempatan seperti ini jarang sekali dapat aku temukan” Berkata Empu Baladatu di dalam harinya.

Sepercik keinginan telah menyala di dalam hatinya, untuk melakukan sesuatu atas kedua orang itu. Namun ia masih belum sempat berkata apapun juga dengan kakaknya. Jika saja kakaknya sependapat, maka kedua anak muda itu bersama seorang pengawalnya akan dapat diselesaikannya tanpa ada orang yang mengetahuinya.

“Masih ada dua hari” Berkata Empu Baladatu di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, selagi perhatian Empu Baladatu terpusat kepada kedua anak muda itu, tiba-tiba saja ia terkejut mendengar Empu Sanggadaru bertanya, “Jika Tuanku Ranggawuni dan Tuanku Mahisa Campaka tidak mempergunakan kuda di dalam hutan perburuan ini, jejak kuda siapakah yang baru saja kita ketemukan? Dan jika keduanya datang sesudah kita, siapakah yang sudah melukai binatang buruan di tepi belumbang itu?”

Empu Baladatu berpaling kepada cantrik yang membantu mengobati luka-luka Empu Sanggadaru. Agaknya cantrik itu pun juga berpikir tentang hal itu.

“Memang agak menarik perhatian Empu” berkata cantrik itu, “Meskipun kedua anak-anak muda itu senang sekali bergurau, tetapi agaknya mereka tidak bergurau tentang masa perburuan mereka kali ini. Agaknya keduanya benar-benar tidak berkuda dan datang setelah kita. Agaknya keduanya menemukan kawan-kawan kita yang menjaga kuda-kuda kita, dan dari merekalah kedua anak muda itu mengetahui hahwa Empu sudah berada di arena perburuan.”

“Mungkin juga demikian. Tetapi bukankah dengan demikian masih ada pertanyaan yang harus dijawab? Siapakah yang telah datang lebih dahulu dan berburu dengan kuda seperti yang sering dilakukan oleh Tuanku Ranggawuni dan Tuanku Mahisa Campaka?”

Cantriknya mengangguk-angguk. Desisnya, “Itulah yang menarik. Bukankah selama ini kami belum pernah bertemu dengan orang lain yang berburu dengan cara itu, atau cara yang serupa dengan itu.”

Empu Sanggadaru termenung sejenak Namun kemudian ia pun tertawa sambil berkata, “Baiklah. Kita akan mendapat kawan lagi untuk berlomba dalam perburuan. Mungkin kita akan dapat mengatur waktu bersama untuk menentukan masa perlombaan yang menarik di daerah perburuan ini.”

Cantrik itu pun menyahut, “Mungkin Tuanku Banggawuni dan Tuanku Mahisa Campaka mengetahui, siapakah yang telah mendahului kita. Atau bahkan para Senapati dari istana Singasari.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Memang mungkin ada orang lain yang berhuru seperti yang dilakukan oleh kedua anak muda itu. Mungkin Senapati yang pernah mengawalnya atau justru mereka memang mendapat perintah untuk mendahuluinya.

“Nanti aku akan bertanya kepadanya” Gumam Empu Sanggadaru kemudian.

Setelah selesai mengobati lukanya, maka iapun kemudian mengemasi dirinya. Dari tempatnya ia melihat kedua anak muda yang sedang memperhatikan harimau yang telah dibunuhnya itu dengan saksama.

“Mereka menjadi heran” Berkata Empu Baladatu, “Tentu mereka sama sekali tidak mengerti, bagaimana kau berhasil membunuh harimau itu“

“O” Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya, “Tentu tidak. Keduanya memiliki kemampuan yang tidak dapat di gambarkan. Karena itu, maka mereka pun tentu tidak menjadi heran melihat harimau itu terbunuh. Yang justru mengherankan mereka adalah bahwa di hutan ini terdapat harimau loreng sebesar itu.”

Empu Baladatu lah yang menjadi heran. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah kedua anak muda itu memiliki kemampuan untuk melakukannya?”

Empu Sanggadaru termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia mengelakkan pertanyaan itu dan berkata, “Aku tidak tahu pasti. Tetapi keduanya adalah anak-anak muda yang perkasa.”

Empu Baladatu hanya mengangguk-angguk saja.

Sementara itu, tiba-tiba saja Empu Sanggadaru berkata” Masih ada kemungkinan kita menemukan harimau loreng yang lain, “

“Darimana kakang mengetahuinya.”

“Harimau yang terbunuh itu adalah harimau betina. Jika ada harimau jantan yang mendampinginya, tentu harimau itu akan mencarinya. Harimau itu tahu benar apa yang telah terjadi dengan betinanya.”

“O” Empu Baladatu mengangguk-angguk.

Namun tiba-tiba saja mereka melihat kedua anak muda yang sedang mengamat-amati harimau yang terbunuh itu dengan tergesa-gesa mendekati Empu Sanggadaru. Dengan lantang Ranggawu ni berkata, “Empu Sanggadaru, kau sudah mendapatkannya seekor. Jika masih ada seekor yang lain, aku mengingininya”

“Maksud Tuanku, jika harimau jantan itu mencarinya?

“Ya. Biarkan harimau itu di tempatnya sampai malam nanti. Aku akan menungguinya di sini.”

“Tuanku akan menangkap harimau jantan itu?”

“Ya.”

Empu Baladatu menjadi berdebar-debar. Sekilas dipandanginya wajah kakaknya yang ragu-ragu.

Sebenarnyalah Empu Sanggadaru menjadi ragu-ragu. Sebenarnya ia ingin memperingatkan, bahwa harimau itu memang berbahaya sekali, apalagi di malam hari. Tetapi jika ia berbuat demikian, maka jika kedua anak muda itu menjadi salah paham, mereka tentu menyangka, betapa sombongnya ia. Bahwa sesudah ia berhasil membunuh harimau itu, maka ia menganggap orang lain tidak akan dapat melakukannya.

Karena Empu Sanggadaru nampak ragu-ragu, maka Ranggawuni mendesaknya, “Kenapa kau ragu-ragu? Aku inginkan harimau yang seekor lagi.”

Empu Sanggadaru menjadi semakin bingung.

Namun dalam pada itu, Empu Baladatu berpikir lain. Kebetulan sekali jika anak muda itu berniat untuk menangkap harimau itu seperti yang dilakukan oleh Empu Sanggadaru.

Bahkan ia pun kemudian bertanya, “Apakah Tuanku akan mempergunakan cara seperti yang dilakukan oleh kakang Sanggadaru?”

“Ya. Aku akan menangkap harimau jantan itu tanpa melukainya. Aku juga harus mempunyai kulit harimau loreng sebesar kepunyaan Empu Sanggadaru tanpa cacat. Dimasa perburuan yang lampau aku telah memenangkan perlombaan. Saat kami berpacu menangkap binatang buruan, akulah yang pertama. Sekarang aku pun harus dapat menyamainya jika ada kesempatan. Kecuali jika harimau itu tidak pernah ada lagi di hutan ini.”

Empu Baladatu mengangguk-angguk. Katanya, “Tuanku adalah anak muda yang perkasa. Tentu rakyat Singasari akan berbangga mempunyai seorang Maharaja yang memiliki kemampuan yang luar biasa.”

“Lupakan. Aku sedang berusaha melupakan segala-galanya dari kedudukanku. Aku kini adalah pemburu seperti kakakmu. Jika aku masih dibebani kedudukan istana itu, maka aku tidak akan berani berbuat apa-apa. Dan aku akan memanggil pengawal segelar sepapan hanya untuk menangkap seekor harimau “

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Kedua anak muda ini memang mempunyai sifat yang agak aneh.

Namun dalam pada itu Empu Baladatu berkata, “Ampun Tuanku. Hamba tidak mengerti maksud Tuanku. Tetapi agaknya Tuanku ingin melupakan tugas sehari-hari yang menjemukan di istana.”

“Ya.”

“Bukan main. Namun demikian, setidaknya hambalah yang akan menjadi saksi atas kebanggaan rakyat Singasari jika hamba dapat, melihat kemampuan Tuanku yang tidak ada taranya itu.”

“Aku baru akan mencoba” Sahut Ranggawuni.

“Ampun Tuanku.” Potong Lembu Ampal “Jika hamba boleh mengajukan permohonan, janganlah Tuanku lakukan. Sebenarnyalah sangat berbahaya untuk bertempur melawan seekor binatang buas. Apalagi di malam hari.”

Ranggawuni memandang Lembu Ampal dengan kerut merut dikeningnya. Lalu, “Tetapi kesempatan serupa itu tidak akan aku temui lagi paman.”

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Ranggawuni adalah orang yang keras bati, sehingga jika la berkemauan, sulitlah kiranya untuk mengurungkannya.

Namun sekali ini, maksudnya benar berbahaya. Bertempur dengan seekor harimau yang besar dimalam hari.

“Paman” Berkata Ranggawuni kemudian, “Paman jangan cepat menjadi cemas. Harimau itu belum tentu ada.”

“Tetapi jika ada?”

“Apa salahnya aku menjajagi kemampuanku.”

“Tetapi tidak dengan seekor harimau loreng sebesar ini dan tanpa senjata. Jika Tuanku berkenan membawa sebatang tombak pendek atau pedang, atau bahkan hanya sebilah pisau aku tidak akan cemas. Aku yakin Tuanku akan dapat membunuh harimau sebesar apapun juga. Tetapi usaha membunuh harimau dengan tanpa melukainya adalah suatu pekerjaan yang sangat berat.”

Ranggawuni justru tertawa. Katanya, “Memang kebiasaan orang-orang tua adalah sangat berhati-hati. Tetapi juga sedikit tidak mempercayai anak-anak muda. Cobalah paman mempercayai aku.”

Lembu Ampal menjadi bimbang. Sekilas dipandanginya Mahisa Campaka yang sedang berdiri termangu-mangu, seolah-olah ia ingin berkata, “Kenapa tidak Tuanku berdua?”

Tetapi Mahisa Campaka yang merasa dipandang oleh Lembu Ampal justru berkata, “Jika kakanda Ranggawuni memberikan kesempatan itu kepadaku, aku akan menerima dengan senang hati.”

Ranggawuni tersenyum. Katanya, “Aku lebih tua daripadamu adinda. Sebaiknya aku sajalah yang melakukannya.”

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Empu Sanggadaru menjadi semakin bingung.

“Tuanku” Empu Baladatu lah yang kemudian berkata, “Kenapa Tuanku ragu-ragu. Seluruh Singasari akan berbangga dengan kemampuan Tuanku.”

“Ah. Jangan memuji seperti terhadap anak-anak yang segan mandi begitu mPu. Aku memang tidak ragu-ragu. Tetapi bukan karena aku mengharapkan pujian dari siapapun. Aku sekedar ingin menjajagi kemampuanku. Tidak sebagai kebanggaan dan apalagi untuk memperkuat kedudukanku.”

Wajah Empu Baladatu menjadi kemerah-merahan. Ternyata anak muda itu memiliki tanggapan yang tajam. Meskipun demikian ia berkata, “Ampun Tuanku. Bukan maksud hamba memuji Tuanku seperti memuji kanak-kanak. Setidaknya hamba sendiri benar-benar telah mengagumi Tuanku, meskipun baru niat yang terbesit dihati Tuanku. Dengan demikian hamba mengetahui, betapa kuatnya kemauan yang tersimpan di dalam dada Tuanku seperti juga kemauan untuk memerintah dengan sebaik-baiknya.”.

Ranggawuni mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab, Lembu Ampal telah mendahului. “Empu. Agaknya kau pun orang yang luar biasa seperti kakakmu, Empu Sanggadaru. Kau selalu ingin menyaksikan peristiwa-peristiwa yang dahsyat. Setelah kau menyaksikan pekelahian antara Empu Sanggadaru dengan seekor harimau raksasa ini, maka kau masih menunggu peristiwa yang serupa?”

“Ah” Desis Empu Baladatu, “Bukan maksudku. Tetapi semuanya itu terdorong oleh kekagumanku kepada Tuanku Ranggawuni dan Tuanku Mahisa Campaka.”

“Maaf Empu” Sahut Ranggawuni, “Aku melakukannya tidak atas pengaruh perhatian orang lain. Aku melakukan karena keinginanku sendiri. Jika keinginanku tidak mendesak, justru sikap Empu telah mengendorkan niatku.”

Empu Baladatu akhirnya menyadari, bahwa tanggapan yang tajam itu pada suatu saat akan dapat mengungkap niatnya yang sebenarnya apabila ia masih saja berkeras ingin memuji dan mendorong niat itu.

Sebenarnyalah Lembu Ampal pun merasakan sesuatu yang kurang wajar pada Empu Baladatu. Namun ia mencoba membatasi dirinya dengan prasangka yang baik. Ia membatasi dirinya dengan dugaan, bahwa Empu Baladatu memang hanya sekedar ingin melihat perkelahian yang tentu akan dahsyat sekali.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...