Sabtu, 30 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 14-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 14-02*

Karya : SH Mintardja

“Pada suatu saat, ia akan sampai ke daerah yang sepi.” berkata Tapak Lamba.

“Tetapi apakah kau yakin bahwa ia seorang diri?”

“Kita akan dapat melihat, apakah ia seorang diri atau tidak.”

“Sulit untuk mengetahui. Kita tidak tahu pada saat ia datang dan duduk di belakang kita.”

“Uh, kau memang pengecut. Kau berani menengadahkan dada sambil berkata, “Aku bunuh prajurit-prajurit Singasari.” Tetapi ternyata kau sudah ketakutan sekarang melihat seseorang menyebut dirinya dengan nama yang aneh.”

“Tetapi kenapa kita tidak mendengar langkahnya jika ia bukan orang yang memiliki kelebihan.”

“Sebut namaku. Kau tahu, siapa aku. Dan aku pun tahu bahwa kau bukan anak ingusan. Kau memiliki kemampuan bertempur yang cukup meskipun kau gagal membunuh anak Mahendra. Sekarang kau gemetar karena kau tidak mendengar langkah orang itu saat ia mendekati kita.” Tapak Lamba berhenti sejenak, lalu, “Dengar, saat itu kita terlampau terikat kepada kedua anak-anak muda di pintu gerbang itu, sehingga kita sama sekali tidak sempat membagi perhatian kita.”

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin memang begitu. Tetapi kita wajib berhati-hati.”

“Sudah tentu kita harus berhati-hati. Tetapi kita, pengikut setia Tuanku Tohjaya, tidak akan membiarkan Singasari berdiri tegak dengan tenang. Apapun yang dapat kita lakukan, akan kita lakukan. Sekarang kita membunuh orang gila itu. Besok kedua anak-anak Mahendra. Kemudian kita akan membunuh Mahendra itu sendiri, Witantra dan Mahisa Agni. Selebihnya maka Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, bukan orang yang harus diperhitungkan.”

Kawannya mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menjawab.

Ketika keduanya memandang ke depan, maka dilihatnya orang yang msnyebut dirinya Awan Hitam masih berjalan terus tanpa berpaling. Agaknya ia sama sekali tidak mengetahui bahwa dua orang sedang mengikutinya.

“Lihat.” berkata Tapak Lamba, “Ia berjalan ke pategalan yang kosong itu. Pategalan yang sepi, yang baru disiapkan untuk menjadi sebuah padesan.”

“Ya.”

“Kesempatan bagi membunuhnya. Tentu tidak ada seorang pun yang mengetahui. Kemudian mayatnya kita lempar ke jalan, agar dapat diketemukan oleh seseorang. Itu adalah pertanda, kita mulai dengan gerakan kita. Kita harus membuat hati orang-orang Singasari ketakutan.” ia berhenti sejenak, lalu, “Kita tidak dapat mundur, karena kau sudah memulainya dengan sebuah kegagalan.”

Kawannya tidak menyahut. Mereka berjalan semakin cepat sehingga jarak mereka dengan orang yang menyebut dirinya bernama Awan Hitam itu menjadi semakin dekat.

“Jangan lepaskan orang itu.” geram Tapak Lamba.

Namun ternyata bahwa Awan Hitam itu tanpa disadarinya telah berpaling. Nampak wajahnya menjadi tegang, justru karena kedua orang yang mengikutinya sudah semakin dekat.

Tiba-tiba saja orang yang menyebut dirinya bernama Awam Hitam itu mempercepat langkahnya, seolah-olah ia ingin menyelamatkan diri dari kedua orang yang mengikutinya.

“Ia akan lari.” berkata Tapak Lamba, “Nah kau tahu bahwa ia menjadi ketakutan. Ia bukan apa-apa sebenarnya, hanya memanfaatkan hadirnya para prajurit di gerbang itu.”

Kawannya mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab, karena ia harus berkata lantang, “Lihat, ia benar-benar lari.”

“Kita harus menangkap dan membunuhnya.” sahut Tapak Lamba sambil berlari pula mengejarnya.

Ternyata Awan Hitam benar-benar telah berlari secepat dapat dilakukannya, sedang Tapak Lamba mengejarnya bersama kawannya.

Untuk beberapa saat lamanya mereka berkejaran. Sekali-sekali orang yang menyebut dirinya Awan Hitam itu berpaling. Dan setiap kali ia melihat Tapak Lamba semakin dekat, maka ia pun berusaha untuk berlari lebih cepat.

Tetapi ternyata bahwa Tapak Lamba dapat berlari lebih cepat. Jarak mereka semakin lama menjadi semakin dekat.

Karena ternyata bahwa orang yang menyebut dirinya Awan Hitam itu tidak dapat mempercepat larinya, dan merasa bahwa ia tidak akan dapat lolos lagi jika ia tetap berlari di sepanjang jalan, maka tiba-tiba ia pun segera meloncat masuk ke dalam pategalan yang sepi dan luas.

“Awas.” teriak Tapak Lamba, “Jangan sampai lolos.”

Ia pun kemudian meloncat masuk ke dalam pategalan pula disusul oleh kawannya. Keduanya benar-benar tidak mau melepaskan buruannya.

Untuk beberapa saat Awan Hitam masih dapat berlari berputaran di antara pepohonan. Tetapi tiba- tiba Tapak Lamba berkata kepada temannya di belakangnya, “Kita berpencar.”

Dengan demikian, maka orang yang menamakan dirinya Awan Hitam itu pun segera kehilangan kesempatan. Kawan Tapak Lamba berhasil mencegatnya, sehingga Awan Hitam karus berhenti dengan nafas terengah-engah. Ketika ia akan berlari membalik, Tapak Lamba suda ada di belakangnya.

“Nah.” berkata Tapak Lamba. Ternyata nafasnya pun mulai berkejaran lewat rongga hidungnya, “Kau tidak akan dapat lepas lagi dari tangan kami.”

“Kenapa kalian mengejar aku.” suara Awan Hitam menjadi gemetar.

“Kau tidak usah bertanya lagi.” jawab Tapak Lamba, “Kau memang pantas untuk dibunuh.”

“Tetapi aku tidak bersalah.”

“Aku tidak mengerti, kenapa kau masih dapat menyebut dirimu tidak bersalah. Kau telah menggagalkan usahaku untuk membunuh kedua anak-anak muda, itu.”

“Maksudku baik bagimu dan bagiku.”

“Gila. Sudah aku katakan, kau telah membuat kami marah sekali. Saat itu, aku membenarkan katamu, bahwa kami tidak akan dapat berkuat apa-apa dihadapan para prajurit Singasari. Tetapi sekarang, kita tidak berada di dekat para prajurit itu lagi.”

“Tetapi aku tidak berbuat apa-apa atasmu berdua.”

Tiba-tiba saja kawan Tapak Lamba berkata, “Kita tidak perlu banyak berbincang lagi. Apakah yang sebaiknya kita lakukan, marilah kita lakukan.”

Tapak Lamba mengangguk-angguk sambil memandang orang yang menyebut dirinya Awan Hitam itu dengan tajamnya. Kemudian ia pun menggeram, “Awan Hitam yang malang. Kami akan segera membunuhmu dan melemparkan mayatmu ke jalan raya agar pada suatu saat mayat itu dapat diketemukan seseorang. Dengan demikian kita sudah membuat kesan yang pertama akan ketidak tenangan Singasari. Kemudian akan disusul dengan mayat-mayat berikutnya yang berserakan di dalam dan di luar kota raja ini.”

“Jangan. Jangan.” Awan Hitam mundur selangkah, “Sudah aku katakan. Kesan yang demikian tidak menguntungkan sama sekali. Prajurit-prajurit Singasari akan segera bersiaga dan menempatkan diri disemua sudut negeri ini. Itu sangat merugikan pekerjaan kami dan semua kawan-kawan kami.”

“Persetan dengan pekerjaanmu. Kau agaknya pencuri ayam atau jemuran di siang hari. Aku tidak peduli. Kau harus mati. Cepat, tundukkan kepalamu, agar aku dapat memancung lehermu dengan mudah.”

Awan Hitam mundur lagi selangkah, “Itu, itu tidak mungkin. Aku hanya berbuat sesuatu yang menurut pendapatku baik. Tetapi kenapa sekarang aku harus menghadapi maut.”

“Jangan menyesal. Cepat. Bungkukkan badanmu. Akulah yang akan memenggal lehermu.” berkata kawan Tapak lamba sambil melangkah maju.

Tapak Lamba pun menyambung, “Barangkali kau akan menempuh cara lain yang lebih baik bagimu? Kau akan membunuh diri dengan keris atau dengan membenturkan kepalamu pada sebatang pohon?”

Awan Hitam memandang kedua orang itu berganti-ganti. Tetapi agaknya mulutnya sudah tidak dapat mengucapkan kata-kata apapun lagi.

“Cepat, pilihlah jalan kematianmu yang paling baik menurut seleramu.”

Orang itu tidak menjawab.

“Ia tidak mempunyai pilihan.”

“Ya. Kitalah yang harus menentukan.” berkata Tapak Lamba sambil mengacung-acungkan tongkatnya. Lalu katanya, “Aku akan membunuhnya dengan racun. Jika ia terkena duri beracunku yang terlontar dari tongkatku, ia masih sempat berjalan sendiri sampai ke jalan raya.”

“Bagus sekali.” desis kawannya.

Namun tiba-tiba Awan Hitam menyahut, “Bagaimana jika, aku memilih dipancung saja? Tetapi agaknya kalian tidak membawa pedang. Apakah kalian dapat memancung kepalaku dengan keris yang terlalu kecil itu?”

Pertanyaan itu ternyata membuat kedua orang yang akan membunuh Awan Hitam itu terkejut. Sejenak mereka termangu-mangu memandanginya dengan penuh keheranan.

Selagi kedua orang itu termangu-mangu, maka terdengarlah Awan Hitam itu tertawa. Semakin lama semakin keras sehingga tubuhnya terguncang-guncang.

Tapak Lamba dan kawannya itu menjadi semakin heran. Orang yang bernama Awan Hitam itu semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin asing bagi mereka karena suara tertawanya dan sikapnya.

Ketika Tapak Lamba menyadari keadaan itu, maka tiba-tiba saja ia membentak sekeras-kerasnya, “Diam. Diam.”

Awan Hitam terdiam sejenak. Dipandanginya Tapak Lamba dengan tatapan mata yang aneh. Kemudian katanya, “Kau tidak berhak menghentikan suara tertawaku. Aku ingin tertawa lepas sepuas-puasnya. Aku melihat lelucon yang sangar menarik di sini.”

“Apa yang kau maksud?”

“Kalian berdua.”

“Gila.” Tapak Lamba menggeram. Rasa-rasanya telinganya bagaikan disentuh dengan api.

Dan Awan Hitam pun mulai tertawa lagi sambil berkata, “Itulah agaknya maka kalian tidak akan pernah dapat menyelesaikan pekerjaan kalian dengan baik, karena kalian terlalu banyak berbicara, tanpa ujung dan pangkal.”

“Persetan. Sekarang aku akan membunuhmu.”

Tapak Lamba yang merasa terhina, tidak dapat menahan hatinya lagi. Ia pun kemudian mengacukan tongkatnya dan melekatkan ujung tongkatnya pada mulutnya.

Degan sekuat tenaganya ia meniup sumpitnya dan melontarkan sepucuk duri yang tajam beracun pada jarak yang tidak terlalu jauh dari sasarannya.

Tetapi pada saat yang bersamaan, Awan Hitam berputar setengah lingkaran sambil memiringkan tubuhnya. Namun ternyata gerak yang sederhana itu telah membebaskannya dari ujung duri sumpit Tapak Lamba.

“Gila.” geram Tapak Lamba, “Kau dapat mengelakkan senjataku.”

Awan Hitam tertawa. Katanya, “Senjatamu sudah jauh ketinggalan jaman. Sampai habis nafasmu, kau tidak akan dapat mengenai sasaran. Karena itu, buang sajalah senjata itu.”

Awan Hitam masih akan berbicara Lagi. Tetapi suaranya terputus. Tiba-tiba saja kawan Tapak Lamba telah meloncat menyerang dengan ujung kerisnya.

Dengan mudah pula Awan Hitam meloncat menghindari sambil berdesis, “Agaknya kau mampu berkelahi pula. Sayang bahwa kau masih terlampau lamban untuk dapat mengalahkan kedua anak-anak Mahendra itu. Kau bertiga memang bukan lawan kedua anak-anak Mahendra. Baru kau bertiga melawan seorang saja dari mereka, agaknya perkelahian akan seimbang. Namun belum menjamin bahwa kalian akan memenangakan perkelahian itu.”

Tapak Lamba dan kawannya seolah-olah telah terbangun dari mimpinya. Mereka mulai menyadari, bahwa sebenarnya mereka sedang berhadapan dengan orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Karena itu, maka Tapak Lamba pun kemudian tidak lagi berbuat dengan tergesa-gesa. Ia sendiri adalah orang yang cukup berilmu. Kelengahanyalah yang membuatnya seolah-olah sedang menunjukkan kebodohan yang tidak ada taranya dihadapan orang yang menyebut dirinya Awan Hitam itu.

Sambil menarik nafas Tapak Lamba pun kemudian justru meletakkan tongkat. Kemudian katanya dengan sareh, “Kau benar Awan Hitam. Kau memang sedang melihat satu lelucon yang sangat menarik. Aku adalah orang yang sangat bodoh pada hari ini. Dan kau memang berhak menertawakannya sepuasmu. Tetapi, jika kau sudah puas, maka kita akan berhadapan dengan cara yang lain.”

Awan Hitam mengerutkan keningnya. Justru ia tidak tertawa lagi. Dipandanginya wajah Tapak Lamba dengan tatapan mata yang tajam.

“Aku mengerti. Dan kau mulai bersungguh-sungguh sekarang.”

“Ya. Sekarang aku tidak dapat berkata, bahwa aku akan membunuhmu. Tetapi marilah kita berkelahi. Siapakah di antara kita yang akan terbunuh mati hari ini.”

Awan Hitam menarik nafas pula. Katanya, “Apakah itu perlu?”

“Kita sudah terlanjur saling membenci. Dan karena sikapmu, maka aku menjadi tidak percaya lagi kepadamu apapun yang akan kau katakan. Agaknya kau memang seorang petugas yang sedang berusaha melindungi kedua anak-anak muda itu. Karena itulah, maka kita akan berkelahi sampai mati. Kau atau aku.”

“Kau boleh tidak percaya kepadaku. Tetapi sebenarnyalah bahwa maksudku hanya sekedar menggagalkan usahamu membunuh kedua anak Mahendra dengan alasan seperti yang sudah aku katakan. Aku mempunyai rencana yang jauh lebih besar dari sekedar membuat Singasari menjadi kacau.”

“Aku tidak perduli rencanamu. Aku berhak menantang kau berperang tanding sekarang. Harga diriku benar-benar telah tersinggung karena sikapmu.”

“Apakah aku dapat minta maaf?”

“Tidak. Bersiaplah. Barangkali kita memerlukan waktu yang agak panjang.”

Awan Hitam menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Aku memang suka bermain-main dengan cara itu.”

“Tetapi tidak dengan aku.”

Orang yang menamakan dirinya Awan Hitam itu termangu-mangu sejenak. Dengan sorot mata yang sukar diduga maknanya ia berkata, “Aku menyesal bahwa aku telah mempergunakan cara yang tidak kau sukai. Tetapi sayang, itu adalah kebiasaanku.”

“Persetan.” sahut Tapak Lamba, “Jika demikian, maka kita akan mempergunakan cara kita masing-masing. Cara yang paling kita sukai menurut selera kita sendiri-sendiri.”

“Seharusnya kau tidak bersikap demikian.”

“Apa boleh buat.”

Orang yang menyebut dirinya Awan Hitam itu pun menarik nafas sambil berkata, “Jika itu pilihanmu, terserahlah.”

Tapak Lamba pun bergeser setapak maju. Kemarahannya sudah tidak dapat disabarkannya lagi. Dengan wajah yang tegang itu pun segera mempersiapkan dirinya.

Kawannya, berdiri termangu-mangu beberapa langkah daripadanya. Namun agaknya Tapak Lamba ingin menyelesikan persoalan itu seorang diri, sehingga ia pun masih tetap berdiri saja ditempatnya.

Awan Hitam pun segera bersiap pula. Beberapa langkah ia bergeser kesamping. Nampak wajahnya menegang, dan keningnya berkerut merut.

Ternyata sikap Tapak Lamba yang meyakinkan, membuatnya harus berhati-hati.

“Masih ada kesempatan untuk bersikap lebih baik.” berkata Awan Hitam.

Tapak Lamba tidak menyahut. Ia pun melangkah maju, dengan sebelah tangan terjulur lurus ke depan, sedang tangannya yang lain diangkatnya tinggi-tinggi.

“Kau sudah tidak mau mempertimbangkan kata-kataku lagi?” Awan Hitam masih akan bertanya lebih banyak, tetapi Tapak Lamba pun telah meloncat menyerang dengan garangnya.

Ternyata bahwa Tapak Lamba memiliki kemampuan yang mengagumkan. Serangannya jauh lebih cepat dari serangan kawannya. Dalam keadaan yang demikian, ia justru tidak mempergunakan sumpitnya lagi.

Awan Hitam tidak mempunyai pilihan lain. Ia pun harus melayani Tapak Lamba yang sudah mulai menyerangnya.

Dengan cepat, Awan Hitam pun mengelakkan serangan itu. Ia meloncat ke samping sambil memiringkan tubuhnya, sehingga serangan lawannya lewat beberapa jari saja dari dadanya.

Tetapi Tapak Lamba belum melakukan serangan yang sebenarnya. Seolah-olah ia sedang menjajagi kemampuan lawannya yang baru dikenalnya itu. Namun, ketika serangannya yang pertama tidak menyentuh sasaran, maka ia pun segera meloncat seolah-olah melenting dengan serangan barunya. Kakinya berputar mendatar menyambar lambung lawannya yang sedang bergeser ke samping.

Tetapi Awan Hitam pun mampu bergerak secepat lawannya Demikian kaki itu menyambar lambunganya, ia pun telah meloncat surut pula.

Tapak Lamba tidak mau melepaskan lawannya. Dengan serta merta ia pun memburunya. Serangan berikutnya datang bagaikan angin prahara. Ia melangkah maju dengan pukulan tangan lurus kedepan, disusul dengan tangan yang lain.

Namun, sekali lagi serangannya tidak mengenai sasaran. Awan Hitam masih sempat menghindari pukulan tangannya yang dapat merontokkan tulang iga itu.

Tapak Lamba menjadi semakin marah karenanya. Serangannya yang beruntun itu sama sekali tidak mengenai sasarannya. Karena itu, maka ia pun mempercepat tata geraknya dan menyerang lebih dahsyat lagi. Bertubi-tubi seperti badai yang bertiup dengan dahsyatnya menghantam tebing pegunungan, tanpa ada hentinya.

Namun Awan Hitam benar-benar seorang yang memiliki ketangkasan yang tinggi. Ternyata serangan itu sama sekali tidak mengenai sasarannya.

“Gila.” Tapak Lamba menggeram, “Apakah kau mempunyai ilmu iblis atau sebangsanya?”

“Apakah kita akan berbicara?” tiba-tiba saja Awan Hitam bertanya.

“Persetan.” Tapak Lamba pun menyerang semakin dahsyat.

Tetapi serangannya sama sekali tidak mampu menyentuh lawannya, apalagi mengenai dan melukainya.

Kawan Tapak lamba yang menyaksikan perkelahian itu mengerutkan keningnya. Ia pun menjadi tegang dan kadang-kadang bingung melihat gerak Awan Hitam itu. Seolah-olah ia dapat melakukan gerakan yang tidak masuk akal. Sekali-sekali kakinya bergeser ke kiri, namun tiba-tiba saja tubuhnya telah melenting ke kanan.

Kawan Tapak Lamba itu pun akhirnya tidak dapat berdiam diri. Ia melihat kesullitan yang dialami oleh Tapak Lamba. Sehingga karena itu, ia mulai mempertimbangkan untuk turut serta dalam perkelahian itu.

Namun demikian, ada satu hal yang menarik perhatiannya. Dalam keadaan yang tegang itu, seakan-akan hanyalah Tapak Lamba sajalah yang selalu menyerang. Awan Hitam sama sekali tidak membalas serangan-serangan itu dengan serangan pula.

“Apakah demikian derasnya serangan Tapak Lamba sehingga Awan Hitam sama sekali tidak berkesempatan untuk membalas dengan serangan pula?” bertanya kawan Tapak Lamba itu di dalam hatinya.

“Aku tidak peduli.” Sambungnya, “Aku harus melibatkan diri agar pekerjaan ini cepat selesai.”

Untuk beberapa saat kawan Tapak Lamba itu masih berdiri termangu-mangu. Namun kemudian tekatnya pun menjadi bulat. Meskipun ia tahu, orang yang menyebut dirinya Awan Hitam itu memiliki kelebihan, bahkan kadang-kadang sempat membuatnya kebingungan, namun ia pun mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri, bahwa ia mempunyai bekal untuk membantu Tapak Lamba itu.

Karena itu, maka beberapa langkah ia maju mendekati arena. Kemudian dengan keris di tangan ia meloncat masuk ke dalam lingkaran pertempuran.

“He, kau ikut serta?” bertanya Tapak Lamba. Orang itu sama sekali tidak menjawab. Tetapi seperti Tapak Lamba ia pun langsung menyerang dengan sengitnya.

Awan Hitam bergeser surut beberapa langkah. Kedua lawannya ternyata telah benar-benar sampai kepuncak ilmunya.

“Jadi kalian berdua sudah tidak dapat diajak berbicara iagi?” Awan Hitam masih bertanya.

Sama sekali tidak ada jawaban. Tapak Lamba dan kawannya benar-benar sudah menjadi mata gelap. Mereka menyerang beruntun dengan dahsyatnya.

Awan Hitam terpaksa bergeser beberapa kali. Ternyata untuk melawan dua orang yang memiliki ilmu yang cukup itu, ia harus memusatkan perhatiannya dan bersikap bersungguh-sungguh.

Sejenak kemudian maka perkelahian itu pun nampaknya menjadi semakin seru. Awan Hitam yang masih saja selalu mengelak, akhirnya menjadi jemu.

“Jika kalian memang tidak dapat diajak berbicara, maka aku pun akan mempergunakan cara yang telah kalian pilih.” berkata Awan Hitam.

Tapak Lamba dan kawannya sama sekali tidak menghiraukannya, dan bertempur dengan sengitnya.

Sejenak, Awan Hitam masih dalam sikapnya. Setiap kali ia harus menghindarkan diri dari serangan Tapak Lamba dan ujung keris lawannya.

Tetapi, disaat berikutnya. Awan Hitam mulai mempersiapkan serangan-serangannya sambil berkata, “Menjemukan sekali. Kalian harus sedikir belajar melihat kenyataan ini.”

Dengan demikian, maka Awan Hitam mulai melawan kedua orang itu, bukan saja sekedar mengelak dan melangkah surut tetapi ia pun mulai menyerang dengan gerak yang sangat cepat.

Hampir diluar akal, bahwa Awan Hitam masih selalu dapat mengelakkan kedua serangan yang kadang-kadang datang bersamaan dengan dahsyatnya, dan bahkan kemudian dengan tangkasnya ia masih berhasil menyentuh lawannya dengan serangan yang mulai dilontarkannya.

“Benar-benar gila.” desis Tapak Lamba, “Apakah aku berhadapan dengan Mahendra itu sendiri yang menyamar? Atau Witantra atau Mahisa Agni?”

Namun pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “Tidak. Aku sudah pernah melihat mereka, dan bagaimana pun juga ia mengenakan samaran, aku akan tetap mengenalnya.”

Namun lawannya itu pun benar-benar orang yang pilih tanding, yang tidak dapat disentuh oleh serangan-serangannya bersama kawannya. Bahkan kadang-kadang serangan Awan Hitam itulah yang dapat mengenainya.

Meskipun demikian Tapak Lamba masih bertempur terus. Ia masih belum berputus asa, karena ia pun merasa dirinya memiliki ilmu yang cukup tinggi.

Tetapi ia tidak dapat ingkar, ketika terasa nafasnya mulai mergganggu. Ia menjadi semakin heran terhadap dirinya sendiri. Ia pernah bertempur sehari penuh tanpa berhenti sebelum lawannya tergolek di tanah dengan darah yang memancar dari lukanya. Namun kini, tiba-tiba saja tenaganya seperti terhisap habis oleh tata gerak dalam puncak ilmunya yang diperas dalam perlawanannya atas orang yang menyebut dirinya Awan Hitam itu.

“Apalagi ketika sentuhan.” serangan lawannya semakin sering mengenai tubuhnya. Lengannya bagaikan dicengkam oleh perasaan nyeri karena pukulan Awan Hitam, dan tulang pahanya serasa menjadi retak ketika tumit lawannya itu mengenainya.

“Uh, gila. Tenagaku bagaikan terhisap habis.”

Tetapi perkelahian itu masih berlangsung terus.

Awan Hitam memperhatikan keadaan lawannya dengan saksama. Dengan jari-jarinya ia berhasil menyakiti hampir seluruh tubuh kawan Tapak Lamba, sehingga diluar sadarnya, ia selalu meloncat menjauhi orang yang menyebut dirinya Awan Hitam. Dengan demikian, perlawanannya hampir tidak berarti sama sekali. Sedang Tapak Lamba pun menjadi semakin lama semakin lemah pula. Perasaan sakit dan nyeri telah menyentuh seluruh tubuhnya.

Meskipun Awan Hitam tidak bersenjata, tetapi jari-jari tangannya, tumit dan sikunya, serta ujung jari kakinya, seolah-olah merupakan senjata yang tidak kalah dahsyatnya dengan tajamnya ujung keris.

Ada semacam penyesalan yang merambat di hati Tapak Lamba. Jika ia tidak terburu nafsu, dan membiarkan orang yang menyebut dirinya Awan Hitam itu pergi, maka ia tidak akan terlibat dalam perkelahian yang sangat menyakitkan itu. Menyakitkan hati, dan menyakitkan tubuh.

Tiba-tiba saja, dalam keadaan itu, Awan Hitam menggeram, “Bukankah kita sudah berjanji untuk menyelesaikan perkelahian ini dengan kematian? Nah, aku akan melaksanakan perjanjian itu sebaik-baiknya.”

Ancaman itu benar-benar telah menggetarkan hati Tapak Lamba dan kawannya Tetapi ternyata mereka pun bukan seorang yang lekas berputus asa dan kehilangan harga diri. Apalagi Tapak Lamba, yang sama sekali tidak berhasrat untuk melarikan diri dari arena. Apalagi ia menyadari, bahwa lari pun tidak akan ada artinya. Jika lawannya akan membunuhnya, maka ia pun tentu akan mati. Dan dalam saat-saat terakhir itu, ia masih akan tetap menengadahkan dadanya, bahwa ia mati sebagai seorang laki-laki.

Demikianlah perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin tidak seimbang. Tapak Lamba yang dengan heran merasa seolah-olah tenaganya terhisap habis beserta kawannya yang juga tidak berdaya itu, dengan tabah menunggu kematian yang sudah mulai membayang.

Namun pada saat keduanya tidak dapat mengelak lagi, terasa tubuh mereka terdorong dengan kerasnya, sehingga mereka berdua terbanting beberapa langkah surut. Tetapi mereka masih tetap merasa, bahwa mereka masih belum mati terbunuh.

Dengan susah payah kedua berusaha bangkit. Tetapi rasa-rasanya tulang-tulang mereka telah terlepas dari tubuh, sehingga yang dapat mereka lakukan hanyalah duduk bertelekan tangan.

“Nah, alangkah mudahnya membunuh kalian berdua sekarang.” berkata Awan Hitam. Wajahnya yang tiba-tiba telah berubah nampak tegang dan garang. Ia bukan lagi seorang laki-laki yang berwajah pucat dan berlari-lari menghindari Tapak Lamba dan kawannya yang terpancing sampai ke pategalan itu. Tetapi ia adalah seorang laki-laki yang memancarkan pengaruh yang tidak dapat disebutnya dengan kata-kata.

Tetapi Tapak Lamba tidak mau mengorbankan harga dirinya pada saat terakhir. Apapun yang dilakukannya, ia merasa bahwa kematian sudah akan menjemputnya. Karena itu, ia memilih saat kematian yang paling baik bagi seseorang yang pernah menjadi seorang Senopati perang di masa pemerintahan Tohjaya yang hanya sesaat itu.

“Kalau kau akan membunuh kami, bunuhlah. Tetapi sebelum kami mati, kami ingin mengetahui, siapakah kau yang sebenarnya. Apakah kau Mahendra itu sendiri yang menyamar, atau orang lain yang dengan sengaja melindungi kedua anak-anak Mahendra itu?”

“Kalian memang dungu. Sudah tentu aku bukan Mahendra atau orang yang melindungi anaknya. Aku adalah orang lain. Sudah aku katakan, namaku Awan Hitam. Aku memang mempunyai kepentingan dengan menggagalkan usahamu membunuh siapa pun juga sekarang ini. Aku tidak mau Singasari terbangun dari mimpinya dan bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Aku ingin Singasari tetap tidur nyenyak. Bahkan semakin nyenyak.”

“Siapa kau sebenarnya? Apakah kau tidak berani mengatakannya?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu, “Baiklah. Aku tidak mau membuat kalian kecewa disaat menjelang kematian. Aku adalah Linggadadi, adik Linggapati dari Mahibit.”

“He.” Tapak Lamba terkejut. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku pernah mendengar nama Linggapati. Aku pernah membicarakan dengan beberapa orang kawan untuk membuat hubungan dengan Linggapati di Mahibit. Tetapi kini kita bertemu sebagai lawan, dan kita sudah berjanji untuk saling membunuh. Nah, sekarang bunuhlah. Aku mengerti kenapa kau berusaha untuk membuat Singasari tetap tertidur.”

“Kenapa kau berusaha membuat hubungan dengan Mahibit yang dipimpin oleh kakang Linggapati?”

“Terasa ada kekuatan yang asing bagi Singasari di Mahibit. Adalah karena firasat kami, orang-orang yang merasa terancam karena terbunuhnya Tohjaya, bahwa pada suatu saat kekuatan di Mahibit akan bertambah besar.”

Linggadadi tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Apakah kau sekedar ingin menyambung umurmu?”

“Tidak. Aku sudah mengatakannya. Bunuhlah jika kau mau membunuh kami.”

Linggadadi justru menjadi ragu-ragu. Lalu ia pun bertanya, “Apakah kau berkata dengan jujur, bahwa kau memang akan membuat hubungan dengan kakang Linggapati?”

“Pikiran itu ada pada kami. Tetapi kami belum membuat langkah-langkah yang nyata dan pasti untuk itu.” ia berhenti sejenak, “Tidak ada gunanya kau bertanya lagi. Sekarang, bunuhlah jika kau ingin membunuh. Salamku buat Linggapati.”

“Kau memang gila. Linggapati bukan sederajadmu. Ia adalah kakakku, dan memiliki banyak kelebihan dari aku. Nah, kau dapat membayangkan. Kau berdua tidak dapat melawan aku seorang diri, apalagi kakang Linggapati.”

“Aku tidak perlu menghormati orang yang akan membunuhku.”

Linggadadi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sikapmu sangat menarik. Kau tidak begitu banyak menyimpan ilmu. Terapi hatimu keras seperti batu.” ia berhenti sejenak, lalu, “Sudah barang tentu bahwa Mahibit masih memerlukan banyak sekali kekuatan untuk dapat membayangi Singasari. Karena itu agaknya kami masih memerlukan waktu. Dan selama ini Singasari harus aman tenteram, dan dengan demikian maka Ranggawuni dan Mahisa Cempaka akan tertidur nyenyak.”

“Demikian juga orang yang kau sebut bernama Mahendra, kemudian Mahisa Agni, Witantra, Lembu Ampal, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.” ia berhenti sejenak, lalu, “He, apakah kau mengetahui bahwa masih ada anak Mahendra yang lain, yang bernama Mahisa Bungalan?”

“He?” sahut Tapak Lamba, “Aku tidak mengetahui. Kedua anak yang ada di istana itu pun aku tidak mengetahui sebelumnya.”

Orang yang menyebut dirinya bernama Linggadadi itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Ternyata kau tidak banyak mengetahui tentang Singasari meskipun aku tahu pasti, bahwa kau adalah bekas prajurit Singasari pada masa pemerintahan Tohjaya yang hanya sekejap. Memang Tohjaya tidak akan dapat memerintah Singasari dengan baik, karena ia tidak berbekal apapun. Pengetahuan kajiwan apalagi. Sedangkan kanuragan pun ia tidak cukup mumpuni untuk seorang raja.”

“Jangan menghina. Jika kau mau membunuh kami, lakukanlah.” geram Tapak Lamba.

Linggadadi mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berkata, “He, apakah kau masih tetap pada rencanamu untuk berhubungan dengan Kakang Linggapati? Tentu saja dalam hubungan yang sesuai dengan tingkat dan derajadmu?”

“Apa maksudmu?”

“Apakah kau benar-benar ingin menghambakan diri kepada Kakang Linggapati?”

“Persetan. Bunuh kami. Kami bukan budak-budak yang hanya sekedar mencari hidup dengan menghambakan diri.”

Linggadadi tertawa. Katanya, “Itu memang sangat menarik. Tetapi tidak ada jalur hubungan yang pantas bagimu di hadapan Kakang Linggadadi daripada menghambakan diri.”

“Tidak. Bunuh kami jika kau ingin membunuh.”

“Baiklah. Jika kau tidak mau mendengarkan tawaranku, kau memang sebaiknya dibunuh. Aku dan sudah barang tentu kakang Linggapati tidak akan membutuhkan orang seperti kau berdua. Orang yang tidak tahu diri dan dengan demikian tidak dapat menempatkan dirinya sendiri.”

“Cukup, cukup.” teriak Tapak Lumba.

Linggadadi tertawa. Katanya, “Baik, baik. Memang sudah cukup. Kini bersiaplah untuk mati. Jika kau ingin mati dengan cepat, sayang, aku tidak dapat menolongmu. Aku akan mempergunakan sumpitmu saja. Aku akan menyumpit kau dengan duri-duri yang kau sediakan.”

“Gila.”

“Aku juga mengerti serba sedikit tentang racun semacam itu.”

“Gila ,gila.”

Linggadadi tertawa berkepanjangan. Sifat-sifatnya menjadi berubah sama sekali. Ia benar-benar iblis yang sangat mengerikan.

Tetapi suara tertawanya pun terputus ketika ia mendengar seseorang mendehem dibalik gerumbul perdu yang rimbun. Tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.

Linggadadi pun segera bersiaga menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

Tetapi ketika seseorang muncul dari balik gerumbul itu, Linggadadi justru tertawa. Katanya, “Kakang, kau membuat aku terkejut. Apakah urusanmu sudah selesai di istana?”

Linggapati menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Aku belum dapat berbuat apa-apa. Orang-orang itu kini sedang berkumpulan, sehingga sangat berbahaya untuk berbuat sesuatu meskipun hanya sekedar melihat-lihat.”

“Nah, aku telah menangkap dua ekor kelinci. Aku sedang bersiap untuk membunuhnya.”

Tetapi Linggapati menggelengkan kealanya. Katanya, “Jangan. Aku mengikuti apa yang sudah kau kerjakan selama ini. Kau memang adikku yang garang. Tetapi kau kadang-kadang berbuat seperti kanak-anak.”

“Maksud kakang?”

“Tapak Lamba adalah sahabat yang baik bagi kita. Kau tidak dapat bersikap demikian kasar dan merendahkan martabatnya.”

“He, jadi kakang menganggap orang ini penting?”

“Semua orang yang mengerti akan perjuangan kita adalah orang penting bagi kita. Bukankah Tapak Lamba sudah mengatakan bahwa sebenarnya ia sudah bersiap-siap untuk membuat hubungan dengan kita.”

“Tentu bukan sebuah hubungan. Ia akan menghambakan diri kepada kita.”

“Itulah sifat kekanak-kanakanmu. Dalam keadaan seperti sekarang, kau yang sudah mulai ubanan itu, tidak boleh lagi bersikap seperti kanak-anak. He, bukankah umurmu sudah mendekati pertengahan abad? Kau harus menjadi dewasa dan matang menghadapi seseorang.”

“Kakang akan memberi mereka ampun?”

“Tidak Bukan pengampunan. Tetapi sebenarnyalah bahwa kita memerlukan mereka.”

“Oh, omong kosong. Kakang terlalu merendahkan diri. Itu tidak perlu sama sekali terhadap orang-orang seperti ini. Kakanglah yang bersikap terlalu kekanak-kanakan.”

Linggapati tersenyum. Katanya, “Jangan bodoh. Menepilah. Aku akan berbicara dengan mereka.”

Linggadadi pun kemudian melangkah menepi. Dipandanginya saja kakaknya yang mendekati Tapak Lamba dan kawannya yang masih duduk dengan lemahnya bersandar kedua tangan masing-masing.

“Marilah, bangkitlah.” berkata Linggapati sambil menekan bahu Tapak Lamba. “Kami sangat memerlukan kalian.” Tangan Linggapati masih tetap menekan bahu Tapak Lamba. Namun kemudian tangan itu bergeser kepunggung. Sesuatu rasa-rasanya telah menjalari seluruh tubuh Tapak Lamba. Dan sejenak kemudian maka rasa-rasanya tubuhnya telah menjadi segar kembali.

“Berdirilah.” berkata Linggapati sambil mendekati kawan Tapak Lamba dan berbuat serupa pula.

“Tidak ada gunanya kalian bersikap demikian baik terhadap kami. Aku tahu, kami akan kalian peralat untuk tujuan tertentu.”

Linggapati tersenyum. Ia sama sekali tidak menghiraukan sikap Tapak Lamba yang masih dicengkam oleh kecurigaan dan kebencian.

“Kalian memang pandai berpura-pura.” berkata Tapak Lamba kemudian.

Linggapati bahkan tertawa karenanya.

“Adikmu juga pandai berpura-pura. Ia menyebut dirinya bernama Awan Hitam, memancing kami ke tempat ini dan akan membunuh kami dengan caranya. Tentu kau juga sedang berpura-pura. Tentu kau juga sedang merencanakan cara yang paling baik menurut seleramu, untuk membunuh kami.”

“Ki Sanak.” berkata Linggapati, “Aku berkata sebenarnya. Jika kau menuduh aku mempunyai tujuan tertentu itu adalah benar. Aku memang mempunyai tujuan tertentu. Tujuan yang besar, sebesar kerajaan Singasari.” ia berhenti sejenak, lalu, “Aku selalu membayangkan, bagaimana mungkin Sri Rajasa pada waktu itu berhasil menguasai seluruh kerajaan Kediri yang dimulainya dari daerah yang kecil, Tumapel.”

“Sri Rajasa mendapat haknya dari isterinya.”

“Atas Tumapel memang benar. Tuan Puteri Ken Dedes yang baru saja wafat itulah yang mewarisi kekuasaan dari suaminya, tuanku Tunggul Ametung. Tetapi sebelumnya Tunggul Ametung tidak pernah berbuat apa-apa bagi Tumapel. Baru setelah Ken Arok memegang kekuasaan, maka Tumapel akhirnya menjadi besar di bawah pemerintahannya yang kemudian bergelar Sri Rajasa. Nah, apakah ada orang yang dapat ingkar bahwa kebesaran Singasari sekarang adalah hasil perjuangan Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu? Bukan tuanku Anusapati. Bukan tuanku Tohjaya. Apalagi Tohjaya yang sudah didorong-dorong oleh ayahandanya Sri Rajasa, namun ia sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Ia membunuh Anusapati dengan cara yang paling bodoh. Nah, akhirnya kau tahu sendiri, apakah yang terjadi dengan tuanku Tohjaya. Bahkan Ranggawuni, bukan Mahisa Cempaka, bukan Mahisa Agni atau Witantra, bukan pula Mahendra atau Lembu Ampal yang membunuhnya. Tetapi pengawalnya sendiri.” Linggapati berhenti sejenak, lalu, “Nah, apakah kau masih juga berkeras hati untuk melepaskan dendammu atas kematian Tohjaya? Kau menjadi sangat setia kepadanya karena kau pernah menerima banyak pemberiannya dan mungkin janji-janji yang tinggi. Tetapi kini tinggallah mimpi buruk saja bagimu.”

Tapak Lamba tdak menjawab. Tetapi agaknya ia mendengarkan keterangan yang diucapkan oleh Linggapati itu.

“Nah, sekarang terserah kepadamu. Apakah kau akan letap setia kepada seseorang yang memang tidak mempunyai kelebihan dan apalagi hasil yang gemilang semasa pemerintahannya itu atau kau akan berpikir menurut nalar.”

Tapak Lamba tidak menyahut.

“Nah. Sebaiknya kau memang mempertimbangkannya dengan saksama. Jika kau masih saja ingin berbuat sesuatu untuk kepentingan Tohjaya, maka kau tentu tidak akan mendapatkan apapun, karena Tohjaya memang sudah mati. Mati dalam keadaan yang tidak menguntungkan sama sekali.” Linggapati berhenti sejenak, lalu, “Tetapi jika kau berbuat. Sesuatu dengan pertimbangan nalar, tentu kau akan berbuat lain. Berbuat sesuatu yang berguna bagimu sekarang.”

“Dan aku harus menjadi hambamu?”

Linggapati tertawa. Katanya, “Istilah Linggadadi memang menggelikan. Karena itu aku menyebutnya seperti kanak-kanak meskipun ia sudah mulai ubanan.” ia berhenti sejenak. Lalu, “Sudah barang tentu aku tidak dapat mengatakan demikian. Yang terjadi adalah kerja sama. Kau tentu mempunyai kekuatan. Kawan-kawanmu yang sakit hati masih banyak. Mungkin ada diantara mereka yang kini lebih baik bersembunyi sambil menekan gejolak perasaan itu di dalam dadanya, karena ia sadar bahwa ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Tetapi jika terbuka saluran untuk mengalirkan perasaan itu, maka ada kemungkinan ia akan bangun dan bergabung dengan kita. Melepaskan sakit hati, tetapi berlandaskan pada perjuangan yang nyata dan dapat diharapkan bagi masa datang. Bukan sekedar membela orang yang sudah mati dan tidak mempunyai hari depan sama sekali.”

“Apa rencanamu?” bertanya Tapak Lamba.

“Sudah aku katakan. Aku mengagumi Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa. Aku pun mempunyai landasan daerah yang cukup kuat. Mahibit.”

“Tetapi aku akan kau singkirkan setelah kau berhasil.”

“Memang sesuatu yang mungkin aku lakukan. Tetapi itu akan berarti melemahkan perjuangan untuk seterusnya dan apakah keuntunganku berbuat demikian? Jika aku berhasil, maka sudah tentu aku memerlukan banyak sekali tenaga yang cakap dan tangguh untuk menguasai daerah yang sangat luas ini. Aku tentu akan mempertimbangkan, apakah aku akan mempergunakan orang-orang yang sudah berjuang bersama-sama sebelumnya atau akan mengambil orang-orang baru yang belum pasti kesetiaan dan lelabuhannya. Apakah kau dapat mengerti?”

“Janji-janji yang serupa yang pernah diucapkan oleh tuanku Tohjaya.”

“Apakah jika Tohjaya berhasil dan tidak terbunuh, kau juga merasa dirimu akan disingkirkan? Jika demikian kau tentu tidak akan dengan membabi buta setia kepadanya meskipun ia sudah mati.”

Tapak Lamba termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku akan memikirkannya.”

“Baiklah. Jika kau sependapat, datanglah ke Mahibit. Aku akan menerima kau dengan senang hati.”

Tapak Lamba tidak segera menjawab. Dipandanginya Linggapati dan Linggadadi berganti-ganti. Namun pada sorot matanya masih memancar keragu-raguan hatinya.

“Tentu kau masih ragu-ragu.” berkata Linggapati, “Tetapi pada suatu saat kau akan menemukan ketetapan hati. Tidak ada yang dapat kau harapkan dengan menyimpan dendam karena kematian Tohjaya. Apalagi Tohjaya sekarang sudah mati. Sedangkan dalam masa hidupnyapun, Tohjaya tidak dapat memberikan apa-apa kepadamu.”

Tapak Lamba masih tetap berdiam diri. Sekali-sekali ia memandang kawannya yang termangu-mangu.

Namun terngiang di telinganya kata-kata Linggadadi saat ia mencegah usahanya membunuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa jika ia mengurungkan usahanya itu, ia kelak akan tertawa. Tetapi ternyata Linggadadi justru akan membunuhnya. Jika Linggapati tidak datang pada saatnya, mungkin ia dan kawannya itu pun sudah mati terbunuh oleh Linggadadi itu.

“Apakah mungkin ini suatu permainan, atau sebenarnya Linggadadi memang lebih garang dan bodoh dari Liggapati?” bertanya Tapak Lamba di dalam hatinya.

Tetapi agaknya Tapak Lamba pun mempunyai perhitungan tersendiri. Ia ternyata memilih hidup dari pada mati.

“Aku dapat memikirkannya dan mempertimbangkannya dengan beberapa orang kawan.” berkata Tapak Lamba di dalam hatinya.

Tetapi ia terkejut bukan kepalang ketika Linggapati seolah-olah dapat melihat isi hatinya dan berkata, “Nah, bukankah kau mendapat kesempatan untuk membicarakan persoalanmu dengan kawan-kawanmu. Yang penting bagimu adalah, bahwa kau masih tetap hidup. Mungkin kau akan mengkhianati aku dengan keputusan-keputusan lain. Tetapi itu terserah kepadamu. Aku tahu bahwa kau cukup licik, seperti aku dan adikku. Kebanyakan orang-orang yang mempunyai gegayuhan yang terlampau tinggi, akan memperjuangkannya dengan licik atau pada saat maut mulai mengancam.”

Ternyata sekali lagi Tapak Lamba tidak mau tersinggung harga dirinya dengan terang-terangan. Karena itu maka jawabnya, “Bukankah itu pertimbangan yang wajar? Aku belum memutuskan sesuatu saat ini. Jika kau tidak membunuhku, adalah salahmu sendiri jika pada suatu saat aku justru yang membunuhmu.”

Linggapati tertawa. Tetapi Linggadadi menggeram, “Ini berbahaya bagi kita kakang.”

“Apakah yang dapat dilakukan oleh tikus-tikus semacam ini? Bukankah dengan sangat mudah kau hampir saja membunuhnya?”

“Tetapi kalian akan menyesal.” geram Tapak Lamba yang hatinya menjadi sangat panas.

“Tidak. Kau bukan orang yang bodoh. Menilik sikap dan kata-katamu, kau cukup cerdas menanggapi setiap keadaan. Karena itu, kau akan dapat menjadi orang penting di dalam masa mendatang yang jauh lebih baik dari jaman ini. Singasari bukan saja akan menjadi bertambah besar, akan tetapi pada suatu saat Singasari akan mengembangkan sayapnya sampai daerah seberang yang paling ditakuti dimasa kini. Daerah disebelah lautan. Hantu akan kita tundukkan dengan kekerasan. Dia selajutnya kita akan menguasai daratan yang paling luas dimuka bumi.”

Tapak Lamba mengerutkan kening. Lalu katanya, “Kau memang seorang pemimpin yang baik. Tetapi dengan demikian, kau akan memperjuangkan mimpimu dengan bersungguh-sungguh.”

“Aku senang mendengar jawabmu. Seperti dugaanku kau memang cerdik. Nah, sekarang aku akan pergi. Terserah kepadamu. Yang manakah yang akan kau pilih. Kau masih seorang yang bebas sampai saat ini.”

Tapak Lamba tidak menjawab. Ia memandangi saja Linggapati yang kemudian berpaling kepada adiknya, “Marilah. Kita beri anak ini kesempatan untuk berpikir. Aku yakin, bahwa pada suatu saat ia akan datang ke Mahibit untuk menyatukan dari dengan kita. Kita tahu bahwa ia tidak berdiri sendiri. Justru karena itu, kita memerlukannya.”

Linggadadi tidak menyahut. Ia mengikuti saja langkah kakaknya meninggalkan pategalan itu. Sekali-kali ia berpaling kepada Tapak Lamba. Akan tetapi ternyata watak Linggadadi jauh lebih sulit dari Linggapati untuk dijajagi. Ternyata ketika ia menjadi semakin jauh, ia sempat melambaikan tangannya sambil tertawa. Kesan kekecewaan sama sekali tidak nampak pada sikapnya.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...