Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 05-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 05-02*

Karya.   : SH Mintardja

“Minum, ambilkan aku minum.” Ken Umang berteriak.

Seorang emban dengan bergegas bergeser surut untuk mengambil mangkuk minuman.

“Cepat, he, Cepat. KIni aku berkuasa melampaui permaisuri itu. Aku memiliki wewenang berbuat apa saja atas nama anakku yang akan menjadi Maharaja di Singasari.”

Emban itupun menjadi gemetar. Justru karena ia menjadi sangat tergesa-gesa, maka di luar bilik iapun tergelincir jatuh. Dengan tertatih-tatih ia cepat-cepat bangkit dan berlari-lari mengambil mangkuk minuman Ken Umang.

Pada hari itu juga Tohjaya benar-benar sudah duduk di Tahta Singasari. Ia mengadakan paseban agung yang pertama, kemudian mengangkat dirinya sendiri menjadi Maharaja di Singasari.

Tidak seorang pun dapat melawan kehendaknya. Di luar paseban prajurit segelar sepapan berbaris lengkap dengan senjata telanjang. Demikian pula di setiap regol istana dan hilir mudik di jalan-jalan kota Singasari yang justru menjadi sangat sepi.

Namun, Tohjaya tidak dapat memaksa setiap hati untuk menyetujui sikapnya meskipun untuk sementara mereka harus tetap diam.

Sementara itu seekor kuda yang berwarna putih bagaikan terbang di jalan-jalan padesan, mengambil jalan memintas dan bahkan menyusup hutan-hutan perdu menuju ke Kediri. Penunggangnya seorang yang menjelang usia lanjutnya dengan tangkas mengemudikan kudanya yang lari bagaikan dikejar hantu.

“Aku harus datang mendahului setiap utusan dari Singasari.” berkata orang itu.

Dengan demikian, maka orang itu seakan-akan tidak beristirahat sama sekali selain memberi kesempatan kudanya minum beberapa teguk dan sedikit rerumputan yang hijau yang tumbuh di tanggul-tanggul parit di pinggir jalan.

Ketika malam menjadi semakin kelam, ia sampai di regol istana Penguasa yang mewakili Maharaja Singasari di Kediri, hatinya terasa bergetar semakin cepat. Meskipun regol itu nampak sepi, namun di dalamnya api yang setiap saat dapat menyala dan membakar seluruh Singasari.

“Aku harus menemukan kata-kata yang paling baik untuk menyampaikan berita ini.” berkata orang itu di dalam hatinya.

Dengan ragu-ragu orang itu pun kemudian mendekati regol istana yang besar itu. Perlahan-lahan ia mengetuk pintunya yang tertutup.

Seorang kemudian menjengukkan kepalanya pada sebuah lubang di regol itu sambil bertanya, “Siapa?”

Orang itu termangu-mangu sejenak, namun kemudian ia tidak mau membuang-buang waktu lagi. Katanya, “Aku Witantra. Aku ingin menghadap tuanku Mahisa Agni.”

“Dimalam hari begini?”

“Ya. Ada persoalan yang penting sekali.”

“Tunda sampai besok. Tuanku Mahisa Agni tentu sedang tidur nyenyak.”

“Maaf. Ada persoalan yang penting sekali meskipun persoalan keluarga. Aku datang dari Panawijen.”

“Tunda sampai besok.” terdengar suara yang lain lagi.

“Jika tertunda sampai besok, maka aku akan dimarahinya. Bahkan mungkin kepalaku akan dapat dipenggalnya. Persoalan keluarga ini sudah diserahkan kepadaku. Jika persoalan yang penting ini terjadi, kapanpun, siang atau malam, aku harus menghadap dan memberitahukan kepadanya. Jika tidak, aku akan mati sia-sia. Meskipun umurku sudah mendekati saat kelam, tetapi aku tidak ingin mati dicekiknya.”

Para penjaga itu berpikir sejenak, lalu, “Siapa namamu?”

“Witantra. Jika kalian menyampaikan nama itu kepada tuanku Mahisa Agni, maka aku tentu akan diijinkannya menghadap. Justru karena pesan tuanku Mahisa Agni sendiri.”

Sejenak Witantra menunggu. Ketika ia mendengar regol itu berderit dan terbuka, hatinya menjadi sedikit lega.

Seorang yang bertubuh tinggi kekar, yang agaknya menjadi pemimpin penjaga yang bertugas malam itupun mendekatinya dan berkata, “Apakah kau salah seorang anggauta keluarganya.”

“Ya. Aku adalah kakak sepupunya. Aku masih tetap tinggal di padepokan Panawijen.”

“Masuklah. Tunggulah di regol sebentar. Biarlah para pelayan menyampaikannya. Tetapi jika kau berbohong, dan tuanku Mahisa Agni menjadi marah, kau pun akan mengalami perlakuan yang buruk sekali dari kami.”

“Baiklah. Aku bersedia menanggung semua akibat.”

Witantra itupun kemudian dibawanya masuk dan dipersilahkan menunggu di regol itu setelah mengikat kudanya pada sebatang pohon perdu di sebelah regol itu.

Tidak banyak yang dibicarakan dengan para penjaga. Sedang seorang penjaga yang ditugaskan masuk kebagian belakang istana itu dan berbicara dengan seorang pelayan.

“Biarlah seorang emban menyampaikan.”

“Hus.” desis pelayan itu, “tidak ada seorang emban pun yang boleh masuk di malam hari.”

“O.” prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi.”

“Kenapa tidak menunggu sampai besok?”

“Orang itu memaksa. Kami menjadi kasihan melihatnya, jika tidak disampaikannya berita yang dikatakannya sangat penting itu, ia akan dapat dicekik oleh tuanku Mahisa Agni. Karena, baiklah kita mencoba.”

Pelayan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Biarlah berita ini disampaikan. Jika tidak kebetulan ada hantu lewat, tuanku Mahisa Agni biasanya tidak marah.”

“Ya. Karena kami mengetahui bahwa bukan kebiasaannya cepat menjadi marah, maka kami berani menerima keluarganya itu di malam hari.”

Demikianlah, seorang pelayan telah membangunkan Mahisa Agni meskipun dengan ragu-ragu.

Ketika Mahisa Agni mendengar pintu biliknya diketuk, ia terkejut bukan kepalang. Tiba-tiba saja ia sudah meloncat dan berdiri tegak di sisi pembaringannya.

Namun sesaat kemudian iapun menarik nafas dalam-dalam. Bahkan kemudian diusapnya wajahnya yang berkeringat.

“Aku mimpi buruk.” katanya di dalam hati. “Tetapi ketukan pintu itu benar-benar aku dengar.”

Karena iu, maka iapun bertanya, “Siapa di luar?”

“Hamba tuanku.”

Karena itu, maka iapun bertanya, “Siapa di luar?”

“Seseorang telah memaksa menghadap tuanku malam ini. Menurut katanya, ada berita yang sangat penting bagi tuanku Mahisa Agni.”

Mahisa Agni termangu-mangu sejenak. Ia mencoba untuk mengingat-ingat, apakah kira-kira yang dapat terjadi dalam waktu yang dekat.

“Tuanku.” berkata pelayan itu kemudian, “orang itu mengaku datang dari padukuhan. Tuanku telah berpesan kepadanya untuk menyampaikan berita yang penting ini pada saatnya. Jika tidak, orang itu akan mendapat hukuman.”

“Apakah harus malam ini?” bertanya Mahisa Agni.

“Ketika para penjaga bertanya kepadanya, maka jika ia terlambat sampai esok, ia akan dapat digantung.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ia tidak pernah berpesan kepada siapa pun tentang sesuatu yang sangat penting di padukuhannya. Namun demikian akhirnya Mahisa Agni bertanya, “Apakah kau tahu nama orang itu?”

“Menurut pengakuannya, namanya Witantra.”

“Witantra.” Mahisa Agni mengulang. Namun dalam pada itu jantungnya serasa berdentangan semakin cepat. Jika benar orang itu Witantra, apakah ia akan menyebut namanya.

Tetapi dengan demikian, justru ia menjadi sangat tertarik untuk menerima orang itu. Karena itu maka katanya, “Baiklah. Bawalah ia ke ruang dalam. Aku akan menerimanya di sana.”

“Hamba tuanku.”

Mahisa Agni mendengar langkah pelayan itu menjauh. Sementara itu iapun kemudian berkemas dan pergi ke ruang dalam menunggu tamunya yang menyebut dirinya bernama Witantra.

Ketika seorang prajurit mengantarkan tamunya itu masuk, maka sebenarnyalah orang itu Witantra.

“Witantra.” Mahisa Agni menjadi berdebar-debar.

Witantra tersenyum. Ia tidak mau melontarkan kesan yang dengan tiba-tiba telah membuat Mahisa Agni menjadi tegang.

Namun demikian kehadirannya di malam hari itu telah menumbuhkan persoalan di dalam hati Mahisa Agni.

“Maafkan aku Agni.” berkata Witantra sepeninggal prajurit yang mengantarkannya, “aku memaksa untuk menghadapmu di malam hari.”

“Aku tidak berkeberatan Witantra. Tetapi kehadiranmu ini membuat aku menjadi berdebar-debar. Tentu ada persoalan yang sangat penting yang ingin kau sampaikan kepadaku. Jika tidak maka kau tidak akan datang di malam hari begini. Seandainya demikian, bukanlah kau telah mempunyai pintu tersendiri di belakang?”

Witantra masih saja tersenyum. Katanya, “Kali ini aku datang dengan kepentingan khusus. Lagipula aku belum memberitahukan bahwa aku akan datang dengan melalui jalan yang biasa aku lalui setelah agak lama tidak aku lakukan.”

“Aku menjadi berdebar-debar. Sebaiknya kau segera menyebut keperluanmu itu.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sesaat ia memandang berkeliling, seakan-akan ingin meyakinkan bahwa tidak ada orang lain di dalam bilik itu.

“Berkatalah Witantra. Tidak ada orang lain yang dapat mendengar pembicaraan kita dari luar ruangan ini.” berkata Mahisa Agni.

Witantra memandang Mahisa Agni sejenak. Kini wajahnya mulai menjadi berkerut merut dan bersungguh-sungguh.

“Agni.” berkata Witantra dengan nada yang dalam dan datar. “Memang ada sesuatu yang sangat penting yang akan aku sampaikan kepadamu. Aku kira lebih baik bagimu mendengar dari mulutku daripada orang lain.”

“Kau membuat aku gelisah sekali.”

“Baiklah.” Witantra termangu-mangu sejenak, lalu, “sebuah berita sedih dari Singasari.”

“He.” Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Ternyata kita telah lengah. Tuanku Anusapati pun telah lengah.”

“Maksudmu? Bukankah kolam itu berhasil melindunginya di dalam tidurnya yang nyenyak di malam hari, sedang di siang hari tuanku Anusapati akan dapat melindungi dirinya sendiri.”

“Kau benar Agni. Tetapi jika lawan kita adalah orang-orang jantan yang berani beradu dada.” sahut Witantra.

“Katakan. Katakanlah dahulu apa yang terjadi.”

“Tuanku Anusapati telah terbunuh.”

“He?” nafas Mahisa Agni bagaikan berhenti mengaili dan jantungnya serasa berhenti berdenyut.

Sejenak ia diam mematung. Ditatapnya Witantra seakan ingin melihat langsung ke dalam lubuk hatinya.

“Apakah kau bergurau Witantra?” bertanya Manis Agni kemudian.

“Kali ini tidak Agni.”

Mahisa Agni tiba-tiba menjadi gemetar. Dengan suara yang dalam ia bergumam, “Katakanlah yang telah terjadi.”

Witantrapun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi, yang didengarnya dari orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu di arena sabung ayam. Anusapati terbunuh bersama pengawal-pengawalnya yang setia dan Kuda Sempana.

Mahisa Agni menekan dadanya dengan telapak tangannya. Seakan-akan menahan ledakan jantungnya, yang hampir tidak dapat ditahankannya lagi.

“Jadi hal itu telah terjadi?” ia bergumam.

“Ya. Dengan licik sekali.”

“Kuda Sempana dan pengawal-pengawal yang malang. Mereka telah mengorbankan nyawanya. Tetapi keadaan sama sekali tidak akan dapat ditolong lagi.”

Mahisa Agni menundukkan kepalanya dalam-dalam. Terasa tenggorokannya menjadi panas. Kecemasannya tentang keselamatan Anusapati ternyata kini telah terjadi betapapun sudah diusahakan untuk melindunginya. Dengan pengawal-pengawal yang setia, dengan kolam di seputar bangsalnya dan dengan usaha-usaha yang lain. Namun agaknya Anusapati sendiri selalu dikejar oleh perasaan bersalah karena kematian Sri Rajasa, sehingga karena itu justru tidak dapat berbuat sesuatu untuk menolak permintaan Tohjaya. Ia sudah memberikan keris Empu Gandring kepadanya. Kemudian memenuhi undangannya di arena sabung ayam yang kisruh.

“Mahisa Agni.” berkata Witantra kemudian, “kau adalah orang yang paling dekat dengan Anusapati sejak ia masih anak-anak. Setiap orang kini mengetahui bahwa kau adalah gurunya. Karena itu di dalam pergolakan ini kau harus dapat menempatkan dirimu.”

“Aku menyadari Witantra.” sahut Mahisa Agni, “aku harus memilih tindakan yang paling tepat. Sebenarnyalah bahwa aku tidak rela membiarkan Anusapati mati terbunuh dengan cara yang sangat licik itu.”

“Apakah yang akan kau lakukan itu.”

“Kabut yang gelap akan menyelubungi Singasari untuk beberapa saat lamanya.” berkata Mahisa Agni kemudian, “yang terjadi itu tentu akan terasa juga akibatnya bagi Kediri. Bukan saja prajurit-prajurit Singasari yang ada di Kediri, tetapi bagi keluarga bangsawan-bangsawan Kediri.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan ragu-ragu ia pun bertanya, “Apakah kau akan tetap berada di Kediri dan berbuat sesuatu?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Witantra sejenak, lalu, “Aku harus memilih Witantra. Apakah aku akan memanjakan perasaanku yang bergejolak ini, atau aku harus mengingat kepentingan Singasari dan hari depannya. Jika aku memanjakan perasaanku, dan bukannya sekedar sikap yang sombong dan tidak berperhitungan apabila aku aka dapat membuat kekuatan tandingan bagi Tohjaya. Aku dapat membangunkan Kediri yang sedang tidur ini. Aku masih mempunyai modal. Prajurit Singasari yang setia, yang kini berada di Kediri dan prajurit-prajurit Kediri yang sampai saat ini masih tetap ada meskipun kekuatannya sangat kecil. Tetapi aku masih sanggup membangun suatu pasukan yang kuat, yang dapat membendung kekuatan Tohjaya yang tentu tidak akan dalam waktu yang sangat singkat, menguasai seluruh pasukan. Jika ada pihak yang berdiri berseberangan dengan kekuasaannya, maka aku kira masih banyak prajurit yang bersedia membantu.” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu, “namun dengan demikiai Singasari akan terpecah belah. Negeri yang sebenarnya sudah mulai berkembang ini akan berserakan kembali.”

“Jadi apakah yang akan kau lakukan? Jika sekiranya Tohjaya memanggilmu menghadap, apakah kau akan datang?”

“Aku akan dihadapkan ke tiang gantungan.” sahut Mahisa Agni, “aku adalah pendukung yang paling baik bagi Anusapati bukan saja karena aku mempunyai sikap dan pandangan yang sama bagi Singasari, tetapi aku adalah pamannya aku adalah gurunya dan akulah yang selama ini berdiri di belakangnya di dalam perang yang berlangsung dengan diam-diam di istana antara Tohjaya dan Anusapati.”

Witantra mengerutkan keningnya. Dilihatnya wajah Mahisa Agni menjadi tegang. Sesuatu telah membayang di rongga matanya meskipun tidak dikatakannya kepada Witantra.

Ken Umang bagi Mahisa Agni adalah sesosok hantu betina yang sangat mengerikan. Justru lebih mengerikan dari Tohjaya sendiri. Sejak mudanya Ken Umang telah membuatnya gelisah.

Kini Ken Umang memiliki kekuasaan yang tidak terbatas. Bahkan mungkin melampaui kekuasaan Tohjaya sendiri yang tentu akan segera mengangkat dirinya menjadi Maharaja di Singasari. Ken Umang yang mendendamnya itu tentu akan mempergunakan kekuasaannya untuk memuaskan dirinya sendiri.

“Bahkan mungkin sesuatu yang sangat mengerikan dapat terjadi atasku.” tiba-tiba saja ia bergumam.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun Mahisa Agni tidak mengatakan, namun rasa-rasanya getaran di dalam dadanya terasa juga pada Witantra, karena Witantra mengetahui serba sedikit sikap Ken Umang itu terhadap Mahisa Agni sejak ia masih seorang gadis.

“Witantra.” berkata Mahisa Agni kemudian, “keadaan ini sangat tidak menguntungkan bagi Singasari. Tetapi aku kira, aku akan dapat mengendalikan diri agar aku tidak ikut merobek-robek kesatuan Singasari yang masih ada.”

“Jadi kau akan menjadi penonton saja setelah ini?”

“Bukan maksudku Witantra.” jawab Mahisa Agni, “aku masih harus melihat apa yang dilakukan oleh Tohjaya. Jika yang dilakukan oleh Tohjaya akan menguntungkan Singasari, maka apaboleh buat. Aku hanya sebutir debu di atas tanah ini. Aku sama sekali tidak berarti dibandingkan dengan kepentingan Singasari yang besar. Karena itu jika Tohjaya kelak dapat memimpin Singasari dengan baik, biarlah, aku tidak berbuat sesuatu.”

“Lalu bagaimana dengan tuan puteri Ken Dedes dan putera-puteranya yang lain?”

“Sikap Tohjaya terhadap mereka termasuk penilaianku atasnya. Apakah ia seorang yang berjiwa besar atau berjiwa kerdil.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang betapa pahit penderitaan yang harus dialami oleh, Ken Dedes sepeninggal Anusapati justru karena Witantra mengenal sifat dan watak Ken Umang.

Karena itu maka ia berdesis. “Apakah kau sampai hati membiarkan tuanku Ken Dedes di dalam kepedihan dan menanggungkannya sendiri?”

“Aku harus mempertimbangkan, Witantra.” berkata Mahisa Agni, “tetapi jika aku datang ke Singasari dan digantung di alun-alun, maka ia akan menjadi semakin menderita. Karena itu, biarlah aku tetap hidup. Aku akan menilai sikap dan perbuatan Tohjaya, terutama bagi Singasari. Jika ia berjalan di atas jalan yang sesat, adalah kuwajiban kita bersama untuk menyelamatkan Singasari. Tetapi jika ia berhasil mengendalikan pemerintahan seperti ayahandanya Sri Rajasa, biarlah aku menekan perasaan dalam-dalam, karena sebenarnyalah bahwa kepentingan Singasari jauh lebih besar dari dendam dan kebencian di dalam hatiku.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi semakin hormat kepada Mahisa Agni atas sikapnya. Sebenarnya ia dapat berbuat banyak untuk menentang kekuasaan Tohjaya. Bahkan jika Mahisa Agni menghendaki, ia dapat membangun Kediri yang besar, yang memang sudah didasari oleh perasaan dendam kepada Sri Rajasa di Singasari. Apalagi yang kini menjadi Maharaja di Singasari adalah anak Sri Rajasa dari isterinya yang kedua.

Mahisa Agni adalah orang yang mumpuni. Ia mempunyai banyak kawan dan pengikut, baik di Kediri maupun di Singasari.

Tetapi Mahisa Agni memandang kepentingan Singasari lebih besar daripada dendam yang melonjak di hatinya.

“Baiklah Mahisa Agni.” berkata Witantra, “aku tidak mau membakar hatimu yang tetap dingin menghadapi persoalan yang sebenarnya cukup mengguncangkan Singasari. Agaknya kau memang berjiwa besar, dan sejak mula-mula kau tampil di dalam pergaulan dari yang paling sempit sehingga yang paling luas seperti sekarang ini, kau tidak dikendalikan oleh pamrih pribadimu. Ketika aku belum mengenal sifatmu dengan baik, hampir saja aku kehilangan akal karena kau pernah mengalahkan Mahendra di dalam perang tanding memperebutkan Ken Dedes. Tetapi kau tidak berkelahi atas namamu sendiri, tetapi atas nama orang lain, Wiraprana. Dan sekarang sifatmu yang seperti itu aku lihat lagi. Betapa kau dilanda oleh kekecewaan dan dendam karena kematian kemenakanmu itu, namun kau masih dapat melihat dengan terang, bahwa kepentingan Singasari ada di atas segala kepentingan.”

“Tentu aku mempunyai pamrih pribadi Witantra. Tetapi sudahlah. Jangan memuji. Aku hanya sekedar tidak ingin melihat perang berkecamuk lagi di atas Singasari yang baru tumbuh kembali setelah terguncang karena terbunuhnya Sri Rajasa. Muda-mudahan kematian Anusapati merupakan bebanten yang justru membuat Singasari bertambah kuat.”

“Apakah kau benar-benar bermaksud demikian?”

“Kau menguji aku Witantra. Tetapi sudah barang tentu aku harus memilih salah satu di antara dua. Perasaanku atau nalarku. Aku dapat bersikap jujur terhadap perasaanku, bahwa sebenarnya aku memang mendendam. Aku tidak rela Anusapati terbunuh. Aku tidak rela melihat Tohjaya duduk di atas tahta. Apalagi aku merasa bahwa aku mempunyai kekuatan. Tetapi jika aku ingin jujur terhadap pertimbangan nalarku, maka aku harus menahan diri. Dan kau tentu mengerti, bahwa demikianlah isi dari hidup kita ini. Pertentangan yang tidak kunjung berakhir. Baik di dalam diri kita sendiri sebagai suatu dunia kecil maupun di dalam hidup kita di dalam dunia yang besar. Peperangan demi peperangan telah terjadi. Dan hampir setiap pihak mengatakan bahwa peperangan itu terpaksa dilakukan justru melindungi perikemanusiaan, sedang di dalam setiap peperangan maka perikemanusiaan itu telah dikorbankan.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ia sendiri bagaikan terjun ke dalam pusaran air yang memutarnya tanpa arah, menurut tepi sebuah lingkaran tanpa ujung dan pangkal.

Bahkan di luar sadarnya ia berdesis, “Sebenarnyalah demikian Agni. Kehidupan ini selalu dibayangi oleh ketidak pastian sikap dan perbuatan.”

“Dan aku telah menentukan sikap yang pasti di dalam ketidak pastian itu Witantra.”

Witantra memandang Mahisa Agni sejenak, lalu, “Baiklah. Kau tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi apakah kau akan tetap tinggal di istana ini?”

“Aku akan menunggu utusan dari Singasari. Menurut perhitunganku, utusan itu akan segera datang. Mungkin besok, mungkin lusa.”

“Jika demikian, aku akan mencoba menyesuaikan diriku dengan sikapmu Mahisa Agni. Sebenarnya bagiku, hidup di padepokan terpencil, tidak akan banyak terpengaruh oleh pergantian pimpinan pemerintahan seperti ini. Tetapi karena hubungan di antara kita sajalah yang membuat aku ikut merasa tersentuh oleh peristiwa yang mengejutkan ini.”

“Sebaiknya kau tetap di sini untuk beberapa hari Witantra. Jika utusan itu datang, maka aku harus segera mengambil keputusan, apakah yang akan aku lakukan. Mungkin aku tidak dapat mengelak lagi untuk menghadap Tohjaya. Tetapi mungkin aku masih mempunyai pilihan lain atau justru hatiku yang nampaknya kini tetap dingin itu akan menyala dan membakar perasaanku.”

Witantra mengerutkan keningnya. Sebenarnyalah hidup Mahisa Agni pun tidak luput dari ketidak pastian itu, sehingga yang dikatakannya sudah pasti itu pun masih bukan suatu kepastian.

Setelah merenung sejenak, maka Witantra pun berkata, “Baiklah Agni, aku akan tetap tinggal di sini untuk beberapa lama. Bahkan mungkin tidak lebih dari satu atau dua hari, karena menurut dugaanku, Singasari tentu akan segera mengirimkan utusan kemari. Apapun maksudnya.”

“Ya. Tentu, Dan aku berharap bahwa utusan itu tidak memaksa aku menjadi gila.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun lagi.

Demikianlah maka percakapan merekapun terhenti. Mahisa Agni mempersilahkan Witantra menempati salah satu bilik di dalam bangsalnya sebagai Witantra. Tidak lagi dengan diam-diam masuk lewat pintu butulan. Sedang seorang pelayan telah diperintahkannya untuk mengurusi kuda Witantra yang masih berada di sisi regol depan.

“He, akan kau bawa kemana kuda itu.” bertanya seorang prajurit penjaga regol.

“Ke gedogan.”

“Bagaimana dengan Witantra itu?”

“Ia akan bermalam di sini atas perintah tuanku Mahisa Agni.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Siapakah yang memberikan perintah membawa kuda itu ke kandang? Witantra atau tuanku Mahisa Agni.”

“Tuanku Mahisa Agni.”

Prajurit itu tidak bertanya lagi. Ternyata bahwa tamunya benar-benar keluarga Mahisa Agni. Apalagi ia mendapat kesempatan untuk bermalam di bangsal itu pula.

Dihari berikutnya, tidak ada seorang utusanpun yang datang dari Singasari. Namun berita kematian Anusapati sudah mulai terdengar di pinggir-pinggir kota. Pedagang yang hilir mudik antara Singasari dan Kediri membawa berita itu sebagai berita yang diragukan kebenarannya. Namun demikian Kediripun segera menjadi sibuk membicarakan.

“Dari siapa kau dengar?” bertanya seorang buyut di pinggir kota kepada seorang pedagang kain beludru dari seberang.

“Orang-orang di Singasari memperbincangkannya.”

“Kapan hal itu terjadi?”

“Kemarin pagi.”

“Bohong. Jika itu terjadi kemarin pagi, kau tentu belum mendengarnya, karena saat ini kau sudah ada di sini.”

“Setelah mendengar berita itu aku segera kembali. Bahkan aku berjalan terus di malam hari.”

“Meskipun kau berjalan semalam suntuk, sekarang kau belum akan tiba di sini.”

“Maksudku, aku tidak berjalan kaki. Aku berjalan terus di malam hari dengan naik seekor kuda yang tegar dan baik.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Tetapi apakahan benar tuanku Anusapati terbunuh?”

“Menurut pendengaranku. Tetapi sudah tentu aku tidak dapat mengatakan kepastiannya.”

Berita itu pun kemudian tersebar sampai ke segenap sudut Kediri. Orang-orang yang pergi kepasar memperbincangkannya sehingga seluruh isi pasar mendengarnya. Ketika mereka pulang maka merekapun menceriterakannya kepada tetangga2 mereka, sehingga sepadukuhan mendengar pula karenanya.

Seorang prajurit yang mendengar cerita itu pun segera menceriterakannya di dalam lingkungannya, sehingga akhirnya seorang pelayan di istana Mahisa Agni pun mendengarnya pula.

Mahisa Agni yang sudah mengetahui peristiwa itu melihat kegelisahan di kalangan para prajurit. Karena itu ia segera mengerti, bahwa berita kematian Anusapati telah sampai ke telinga mereka, lebih cepat dari utusan yang resmi memberitahukan hal itu kepadanya.

Karena itu, maka dipanggillah pemimpin prajurit yang ada di regol halaman istananya.

“Apa yang kalian percakapkan dengan gelisah?” bertanya Mahisa Agni.

Pemimpin prajurit yang sedang bertugas di regol itu ragu-ragu sejenak. Namun katanya kemudian, “Sebuah berita lewat dendang pedagang di sepanjang jalan tuanku. Tetapi hamba sudah memerintahkan agar anak buah hamba menghentikan kabar yang menggelisahkan itu.”

“Berita apakah yang kalian dengar?”

Prajurit itu ragu-ragu sejenak, dan Mahisa Agnipun berkata selanjutnya, “Jangan ragu-ragu. Katakanlah bahwa kau telah mendengar berita penting dari Singasari.”

Prajurit itu termangu-mangu.

“Bukankah kau mendengar berita dari Singasari tentang tuanku Anusapati?”

“Tuanku sudah mendengarnya?”

“Seperti kau aku mendengar desas-desus. Nah katakanlah apa yang kau dengar.”

Dengan ragu-ragu prajurit itu berkata, “Tuanku Anusapati terbunuh.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, lalu, “Siapakah yang membunuhnya?”

Prajurit itu masih tetap ragu-ragu.

“Katakanlah. Aku tahu bahwa bukan kaulah yang membuat ceritera itu, tetapi desas-desus yang tersebar luas.”

“Menurut pendengaran hamba, rakyat Singasari lah yang telah membunuh tuanku Anusapati.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menekan perasaannya yang justru mulai melonjak. Pada saat ia mendengar bahwa Anusapati terhunuh oleh Tohjaya dari Witantra, meskipun dengan susah payah, ia berhasil menguasai perasaannya. Namun kini rasa-rasanya perasaannya itu telah terungkat kembali. Justru karena ia mendengar ceritera yang tidak benar sama sekali.

Tetapi Mahisa Agni masih tetap bersikap tenang. Dengan nada yang datar ia bertanya, “Bagaimanakah tuanku Anusapati itu terbunuh menurut pendengaranmu?”

“Rakyat yang bergolak telah menyerbu ke istana di saat tuanku Anusapati melihat sabung ayam di arena. Mereka tidak dapat dicegah oleh para prajurit dan pengawal.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Teruskan.” katanya.

Prajurit itu menjadi ragu-ragu. Bahkan ia bertanya, “Tetapi tuanku sudah mendengarnya. Apakah pendengaran hamba tidak sesuai?”

“Sebagian besar sesuai. Teruskan.”

“Setelah rakyat membunuh tuanku Anusapati, pengawal-pengawalnya yang setia dan seorang yang menyebut dirinya bernama Kuda Sempana, yang mencoba melindungi tuanku Anusapati dari kemarahan rakyat, maka rakyat itupun kemudian meneriakkan nama tuanku Tohjaya untuk menggantikan kedudukan tuanku Anusapati.”

“Begitu?” suara Mahisa Agni mulai menjadi tegang.

Sambil mengerutkan lehernya prajurit itu menjawab, “Sekedar menurut pendengaran hamba. Sama sekali bukan pendapat hamba.”

Mahisa Agni menyadari hal itu. Karena itu betapapun perasaannya bergetar, ia masih tetap bersikap tenang.

“Apakah kau percaya?” tiba-tiba ia bertanya.

Prajurit itu termenung sejenak. Ia tidak mengerti arah pembicaraan Mahisa Agni. Bahkan ia tidak mengerti, dimanakah sebenarnya Mahisa Agni berdiri.

“Tetapi tuanku Mahisa Agni adalah guru tuanku Anusapati sejak mudanya.” berkata prajurit itu di dalam hati, sehingga karena itu ia berkata, “Tidak tuanku. Sudah barang tentu hamba tidak percaya. Hamba tahu bahwa rakyat Singasari mencintai tuanku Anusapati sejak tuanku Anusapati belum naik ke atas tahta. Sejak tuanku Anusapati masih sering disebut sebagai Kesaria Putih.”

“Tetapi bagaimana hal itu dapat terjadi?” bertanya Mahisa Agni kemudian.

“Hamba tidak dapat membayangkan, apakah sebenarnya yang telah terjadi.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia memerintahkan prajurit itu memanggil Senapati tertinggi pasukan Singasari yang berada di Kediri.

Ketika Senapati itu menghadap, maka dipanggilnya pula Witantra yang memang masih berada di dalam istananya untuk bersama-sama menemui Senapati itu.

“Kau adalah Senapati Singasari yang termasuk angkatan yang tua. Sejak tuanku Sri Rajasa masih seorang prajurit, kau sudah menjadi hamba di istana Tumapel, meskipun saat itu kau masih muda sekali.”

“Hamba tuanku.” jawab Senapati itu.

“Tetapi aku kira kau sudah dapat mengenal beberapa orang pemimpin prajurit Tumapel waktu itu.”

“Tentu tuanku. Hamba sudah mengenal beberapa orang pimpinan prajurit. Hamba kenal juga tuanku Sri Rajasa, yang waktu itu masih disebut Ken Arok.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Dan sekarang kita menjadi semakin tua. Tetapi apakah kau masih dapat mengenal seseorang yang waktu itu menjadi seorang Panglima di Tumapel.”

“Tentu tuanku. Jika aku bertemu dengan para Panglima itu. Tetapi tidak seorang pun dari mereka yang masih ada beritanya. Sebagian dari mereka telah meninggalkan istana dan menyepi ke tempat yang jauh.”

“Jika tiba-tiba mereka kembali ?”

“Hamba akan mengenalnya.”

“Kau kenal Witantra?”

“Witantra.” orang itu mengingat-ingat, “O, tentu tuanku. Witantra adalah Panglima Pasukan Pengawal yang paling terkenal.”

“Kau tahu dimanakah ia sekarang tinggal?”

“Tidak tuanku.”

“Jika ia berada di sini?”

“Ah.” orang itu mengerutkan keningnya. Lalu dipandanginya Witantra yang tersenyum.

“Kenalilah tamuku kali ini.”

“Tuan. Tuankah Panglima itu?”

Witantra tertawa kecil. Jawabnya, “Ternyata kau tidak dapat mengenali aku lagi.”

“O, jadi tuankah yang bernama Witantra.” Senapati itu terdiam sejenak, lalu, “tentu, sekarang aku ingat. Meskipun tuan menjadi tua, aku masih tetap mengingat garis-garis wajah tuan. Tentu tidak dengan segera. Tetapi sekarang aku ingat benar, bahwa tuan adalah Panglima itu.”

Witantra masih saja tertawa. Lalu katanya, “Tetapi aku tidak ada artinya lagi sekarang. Aku memang sudah lama pergi menyepi.”

“Dan tuan muncul kembali di dalam keadaan yang buram ini”

“Apakah yang kau maksud?” bertanya Mahisa Agni.

“Hamba memang akan datang menghadap seandainya tuanku tidak memanggil hamba. Ada berita yang memanaskan telinga hamba datang dari Singasari.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia mengerti bahwa yang dimaksud oleh Senapati itu tentu berita tentang terbunuhnya Anusapati. Meskipun demikian ia masih juga bertanya, “Berita apakah yang kau maksudkan memanaskan telinga itu.”

“Apakah tuanku belum mendengarnya?”

“Mungkin sudah. Tetapi jika yang kau maksud lain, maka lebih baik kau katakan saja.”

“Tuan.” berkata Senapati itu, “meskipun berita ini bukan berita resmi, tetapi hamba dapat mempercayainya. Memang mungkin berita ini sudah jauh menyimpang dari keadaan yang sebenarnya, namun, bahwa aku melihat asap, tentu ada apinya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tuan. Hamba mendengar berita bahwa rakyat Singasari yang marah telah membunuh tuanku Anusapati.” Senapati itu berhenti sejenak lalu, “tetapi tentu tidak begitu yang terjadi sebenarnya. Hamba tahu pasti perasaan rakyat Singasari terhadap tuanku Anusapati, sehingga karena itu tidak mungkin mereka melakukan perbuatan itu.”

“Aku juga mendengar. Dan Witantrapun mendengar.”

“Apakah benar seperti berita itu?”

“Bagaimana tanggapanmu sebenarnya.”

Senapati itu ragu-ragu sejenak. Dipandanginya Mahisa Agni dan Witantra berganti-ganti.

“Katakanlah tanggapanmu dengan jujur. Aku ingin mendengar pendapat seseorang yang tidak dipengaruhi oleh tekanan-tekanan dari atasannya. Aku berjanji, sependapat atau tidak dengan tanggapanmu, aku tidak akan berbuat apa-apa atasmu.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “tuan, sebenarnyalah hamba berpendapat, bahwa tentu bukan rakyat Singasari yang melakukan. Mungkin memang demikianlah yang kasat mata. Tetapi jiwa dari pembunuhan itu tentu dilakukan oleh tuanku Tohjaya. Jika benar-benar dugaan hamba, maka sebagian dari prajurit yang berada di Singasari agaknya telah berada di bawah pengaruhnya. Seandainya benar rakyat yang membunuhnya, tentu rakyat yang telah diupahnya pula untuk melakukan pembunuhan itu sekedar membuang bekas.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Dan iapun kemudian bertanya, “Apakah demikian tanggapan prajurit Singasari yang berada di Kediri.”

“Ya. Dan hamba yakin bahwa kami tetap setia kepada tuanku Anusapati, hambapun yakin bahwa jika tuanku menjatuhkan perintah, hamba akan bersedia menghimpun kekuatan yang ada di dalam maupun di luar kota Kediri. Bahkan di sekitar Singasari itu sendiri. Hamba berjanji bahwa hamba akan memasuki kota Singasari dan menjalankan semua perintah tuan.”

Mahisa Agni tidak segera menyahut. Dan karena Mahisa Agni masih tetap berdiam diri Senapati itu berkata seterusnya, “Kediri adalah kekutan yang sampai sekarang bagaikan tertidur karena tuan ada di sini. Tetapi jika kami membangunkannya, maka kekuatan yang akan kami dapatkan daripadanya akan mengejutkan sekali.”

“Terima kasih.” berkata Mahisa Agni, “apakah kau yakin bahwa kau akan dapat merebut Singasari.”

“Hamba yakin.”

“Dengan kekerasan.”

“Dengan kekerasan.”

“Perang?”

Senapati itu termenung sejenak. Ia pun mulai sadar dengan siapa ia berbicara. Dan mulailah Senapati itu melihat seperti yang selalu dilihatnya, sikap Mahisa Agni yang lemah.

Sambil menarik nafas dalam. Senapati itu berkata, “Hamba mengerti apa yang akan tuanku katakan. Kita tidak dapat saling membunuh di antara kita sendiri.”

Mahisa Agni mengangguk. Katanya, “Perang akan membuat Singasari semakin lemah.”

“Tuan. Hamba kadang-kadang tidak mengerti. Kenapa perang harus terjadi. Tetapi hambapun tidak mengerti, kenapa perang kadang-kadang tidak dapat dihindari. Bagi kami, para prajurit, lebih baik membunuh musuh di peperangan daripada kita harus menyerahkan nyawa kami. Dan hamba tahu, tuanku pun seorang prajurit, tetapi tuanku tidak berjiwa prajurit, meskipun tuanku berjiwa kesatria sejati.”

“Sudahlah. Jangan menilai aku lagi. Tetapi sebenarnyalah bahwa yang kau katakan itu telah terjadi. Dan seperti yang kau katakan, ceritera itu sudah menyimpang dari kenyataan yang sebenarnya. Yang terjadi adalah, bahwa tuanku Anusapati telah dibunuh oleh tuanku Tohjaya yang selalu dibayangi oleh dendam kepada kakaknya, karena Tohjaya menuduh Anusapati lah yang telah membunuh Sri Rajasa. Kemudian terbunuh pula ke empat pengawal khususnya yang setia dan seorang sahabatku bernama Kuda Sempana setelah Kuda Sempana berhasil membunuh seorang Panglima Pelayan Dalam.”

“Kuda Sempana?”

“Tentu kau mengenalnya. Ia juga seorang Pelayan Dalam selama pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi ia pernah meninggalkan tugasnya karena Akuwu mengambil Ken Dedes dari padanya.”

Senapati itu mencoba mengingat-ingat. Meskipun tidak jelas sekali namun lamat-lamat ia dapat mengingatnya.

“Ya, Kuda Sempana. Dimanakah ia berdiri sebelum matinya?”

“Ia berdiri di pihak tuanku Anusapati.”

Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil memandang ke kejauhan ia berkata, “Sebenarnya masih banyak sekali orang yang akan berdiri di pihak tuanku Anusapati. Perbuatan tuanku Tohjaya adalah perbuatan yang sangat berbahaya. Ia tentu belum dapat meyakini bahwa ia akan dapat mempertahankan kedudukannya jika mereka yang setia kepada tuanku Anusapati mengangkat senjata.”

“Tetapi apakah kau dapat membayangkan, akibat yang dapat terjadi karena orang-orang yang setia kepada tuanku Anusapati akan bertahan. Peperangan besar-besaran akan memecah Singasari.” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu, “orang yang paling sedih atas kematian Anusapati selain ibunya adalah aku, pamannya. Tetapi aku tidak akan dapat menangis untuk kesekian kalinya melihat Singasari menyobek-nyobek dirinya sendiri.”

“Jadi maksud tuanku?”

“Biarlah yang sudah terjadi. Tetapi kita tidak berarti sama sekali tidak menghiraukan kelanjutan dari peristiwa ini. Jika Tohjaya berjalan di atas jalan yang lurus, marilah kita melupakan dendam di dalam hati, karena Singasari lebih berarti bagi kita daripada kepentingan yang manapun juga.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Aku mengerti tuanku. Tetapi bagaimanakah kira-kira nasib kita sendiri? Nasib kita masing-masing. Seandainya tuanku Tohjaya memutuskan untuk membantai orang-orang yang dianggapnya setia kepada tuanku Anusapati, apakah kita akan menyerahkan leher kita?”

“Kita sudah bertekad untuk melihat jalan yang akan dilalui oleh Tohjaya. Jika ia memilih jalan yang menyimpang, maka kita akan berdiri di atas jalan yang lurus.”

Tetapi wajah Senapati itu masih tetap muram. “Mungkin tuanku. Tetapi mungkin pula kita melihat setelah terlambat. Tentu tuanku Tohjaya tidak akan melakukannya dengan sekaligus. Tetapi perlahan-lahan. Hari ini hamba, besok seorang Senapati yang lain, dan sepekan lagi orang lain lagi, sehingga akhirnya kita akan punah tanpa kita sadari.”

Mahisa Agni memandang Senapati itu dengan saksama, lalu, “Jangan terlampau berprasangka. Marilah kita melihatnya untuk beberapa saat, sehingga cukup waktu bagi kita untuk menilai.”

“Sebelum leher ini dijerat di tiang gantungan.”

Mahisa Agni mengerti perasaan Senapati itu. Ia adalah orang setia kepada Anusapati, tetapi juga mencemaskan nasib dirinya sendiri. Namun demikian Mahisa Agni berkata, “Baiklah kita tidak berbuat setelah terlambat. Aku akan melihat semua peristiwa yang akan terjadi di Singasari. Jika kau masih percaya kepadaku, aku akan sangat berterima kasih.”

Senapati itu terdiam sejenak. Namun kemudian ia berdesis, “Hamba percaya kepada tuanku.”

“Terima kasih. Aku berharap, mudahkan Singasari terhindar dari malapetaka karena kesalahan Tohjaya. Mungkin aku adalah orang yang berhati lemah. Tetapi aku kira, aku mencintai Singasari lebih dari segala-galanya.” Mahisa Agni terdiam sejenak, lalu, “namun demikian, kita tidak boleh menunjukkan kekecilan arti kita masing-masing.”

“Maksud tuanku?”

“Tentu akan ada sesuatu terjadi. Maksudku perubahan-perubahan yang mungkin cukup besar. Dan akupun tentu akan dipanggil ke Istana Singasari apapun alasannya.”

“Apakah tuanku akan pergi?”

“Mungkin aku akan digantung.”

“Sebaiknya tuanku tidak usah pergi.”

Mahisa Agni terdiam sejenak, tetapi kemudian, “Aku akan pergi jika aku dipanggil,”

“Bukankah itu berarti membunuh diri?”

“Tidak. Aku harus meyakini, bahwa aku tidak akan digantung. Atau aku harus berbuat sesuatu, supaya aku tidak digantung.”

“Apakah tuanku akan membawa pengawal segelar sepapan?”

“Hampir seperti itu, tetapi tidak usah mengikuti perjalanan ke Singasari.”

“Maksud tuanku.”

Suara Mahisa Agni merendah, “Siapkan seluruh kekuatan yang ada di Kediri. Pasukan Singasari yang ada di Kediri dan sekitarnya harus kau tarik ke dalam kota. Kemudian kau siapkan pula pasukan keamanan yang terdiri dari orang-orang Kediri sendiri, yang meskipun sedikit, tetapi dapat menambah kebesaran seluruh gelar perang yang akan kau siapkan di alun-alun.”

“Tetapi apakah maksudnya?”

“Tidak apa-apa. Kita akan menunjukkan saja kepada utusan dari Singasari, bahwa kita memiliki kekuatan.”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Hamba tuanku. Hamba mengerti. Hamba akan menyiapkan seluruh pasukan di bawah pimpinan hamba. Pasukan keamanan Kediri pun akan hamba siapkan pula. Sepasukan prajurit berkuda akan berada di dalam gelar itu pula.”

“Hanya beberapa orang.”

“Tidak tuanku. Di Kediri ada beberapa ratus kuda tegar yang dapat kita pinjam.”

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Kau benar-benar mengerti akan maksudku.”

“Hambapun dapat berlindung pula pada gelar itu.”

“Baiklah.” tiba-tiba Mahisa Agni berpaling kepada Witantra, “Sudah saatnya kau menyebut namamu di dalam gelar itu.”

Witantra terkejut, lalu, “Apakah ada gunanya?”

“Mudah-mudahan ada.” jawab Mahisa Agni.

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia merenungi kata-kata Mahisa Agni, bahwa sudah saatnya ia menyebut namanya.

“Agni.” berkata Witantra kemudian, “jika hal ini kau anggap bermanfaat, aku serahkan saja kepada keputusanmu.”

“Baiklah. Kita tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi kita pun tidak akan diam.”

Demikianlah Senapati itupun mohon diri. Namun ia langsung menghubungi Perwira-perwira di bawah pimpinannya.

“Kita siapkan semua kekuatan Singasari yang ada di Kediri. Dan kita ikut sertakan pasukan keamanan Kediri seluruhnya. Setiap saat mereka akan kita panggil dan kita pasang di dalam gelar di alun-alun.”

Para perwira mengerutkan keningnya, karena mereka masih belum mengerti, apakah gunanya memasang gelar di alun-alun Kediri.

Tetapi Senapati itu pun kemudian memberikan penjelasan dengan singkat. Diterangkannya keadaan yang terjadi di Singasari menurut pendengaran Witantra. Dan bagi Senapati itu, berita itulah yang paling dapat dipercayainya. Diterangkannya pula rencana kepergian Mahisa Agni apabila ia dipanggil menghadap oleh Tohjaya yang tentu sudah duduk di atas tahta kekuasaan Singasari.

“Ketika menunggu pernyataan resmi dari istana yang barangkali tidak seperti yang terjadi sebenarnya. Tetapi kita sudah menentukan sikap seperti yang dimaksudkan oleh tuanku Mahisa Agni.” Senapati itu mengakhiri.

Beberapa orang perwira menjadi kecewa sekali. Mereka memang mengenal Mahisa Agni sebagai seorang prajurit yang memiliki ilmu dahsyat, yang dapat mengimbangi kekuatan ilmu Sri Rajasa, tetapi hatinya selunak hati seorang Pendeta yang menjauhkan diri dari rasa dendam dan kebencian.....

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...