Senin, 04 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 033-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 033-03*

“Baiklah,“ berkata Tatas Lintang, “ternyata kita telah mendapat beban baru. Aku minta dua orang di antara kita menemui Ki Bekel dan pemilik tanah ini, sementara dua yang lain menjaga agar lubang-lubang yang tersisa ini tidak membunuh.”

“Siapakah yang akan pergi?“ bertanya Mahisa Murti.

“Pergilah bersama Mahisa Ura,“ jawab Tatas Lintang, “aku dan Mahisa Pukat akan menjaga tempat ini.”

Mahisa Murti mengangguk. Ketika ia berpaling ke arah Mahisa Ura, maka Mahisa Ura pun telah bersiap.

“Bagaimana keadaanmu?“ bertanya Mahisa Murti.

“Aku sudah baik,“ jawab Mahisa Ura, “aku siap untuk pergi menghadap Ki Bekel.”

Mahisa Murti mengangguk. Katanya, “Marilah. Kita akan melaporkannya.”

Keduanya pun kemudian meninggalkan pategalan itu. Mereka langsung menuju ke rumah Ki Bekel sebelum mereka melaporkannya kepada pemilik pategalan itu.

Sementara itu, di pategalan. Tatas Lintang telah berusaha untuk mengamati jenis raeun yang dituangkan ke dalam lubang-lubang yang telah mereka buat untuk menanam pepohonan. Diambilnya segenggam tanah yang telah dituangi bisa itu. Kemudian dengan takir-takir daun pisang ia mencairkan tanah itu dengan air dan dicobanya pula meneteskan cairan penawarnya dengan kadar yang berbeda-beda. Dengan demikian Tatas Lintang ingin mengetahui, apa yang harus dibuatnya untuk menawarkan racun itu, karena obat penawar racun yang dimilikinya terlalu sedikit untuk menawarkan racun yang banyak dituangkan di lubang-lubang yang disiapkan untuk menanam pohon buah-buahan itu.

Ternyata keahlian Tatas Lintang telah memberikan jalan kepadanya untuk menentukan ramuan apakah yang paling baik dipergunakannya untuk menawarkan racun itu. Dan reramuan itu masih harus dibuatnya.

Sementara itu. Mahisa Murti dan Mahisa Ura telah menghadap Ki Bekel, di rumahnya. Laporannya memang membuat Ki Bekel itu terkejut.

“Bukan main,“ berkata Ki Bekel, “orang itu benar-benar melakukan apa saja tanpa menghiraukan pertimbangan-pertimbangan sama sekali untuk mencapai maksudnya. Untunglah kalian masih mampu mengatasinya. Namun tentu bukan untuk yang terakhir kalinya.”

“Mungkin Ki Bekel. Kami pun harus mempersiapkan diri menghadapi masa-masa mendatang. Aku memang menduga, bahwa langkahnya itu bukan langkah yang terakhir,“ jawab Mahisa Murti.

“Baiklah,“ berkata Ki Bekel, “aku akan pergi ke pategalan itu. Aku akan membawa beberapa orang untuk menutup pategalan itu agar tidak dimasuki oleh seseorang, sampai segalanya dapat diatasi.”

“Terima kasih Ki Bekel,“ sahut Mahisa Murti, yang kemudian minta diri untuk pergi menemui pemilik tanah itu.

“Pergilah. Mudah-mudahan pemilik tanah itu dapat mengerti. Juga tentang kerusakan yang telah terjadi di pategalan itu,“ jawab Ki Bekel, “jika terjadi salah paham, maka aku akan berusaha menyelesaikannya, karena akulah yang telah menahan kalian untuk tinggal lebih lama di padukuhan ini.”

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Ura pun telah menemui pemilik tanah itu, meskipun dengan sedikit berdebar-debar. Jika terjadi salah paham karena kerusakan bukan saja tanahnya, tetapi juga tanaman-tanamannya karena perkelahian yang terjadi, maka persoalannya akan semakin berkepanjangan.

Tetapi ternyata dugaan itu sama sekali tidak terjadi. Pemilik tanah itu sama sekali tidak merasa dirugikan. Bahkan dengan nada menyesal ia berkata, “Seharusnya aku tidak membiarkan kalian melakukan kerja itu. Aku sama sekali tidak menyesali tanah dan pepohonan yang ada di pategalan itu, tetapi aku justru menyesali peristiwa itu. Seandainya kalian tidak melakukan kerja di pategalan itu. agaknya kalian tidak akan mengalami kesulitan meskipun kalian dapat mengatasinya.”

“Tidak,“ jawab Mahisa Murti, “bukan karena kami bekerja di pategalan itu. Seandainya kami tidak berada di pategalan itu, maka mereka pun akan tetap menyerang kami di manapun kami berada dan apapun yang kami lakukan.”

“Aku akan pergi ke pategalan,“ berkata pemilik tanah itu, “tanah itu memang harus ditutup untuk sementara.”

“Ki Bekel akan melakukannya,“ jawab Mahisa Murti, “Ki Bekel akan membawa beberapa orang. Tetapi seharusnya kami pun dapat melakukannya. Bukankah kami memang telah melakukan kerja untuk menerima upah.”

Pemilik tanah itu menarik nafas. Namun kemudian katanya, “Aku akan pergi ke pategalan itu.”

Pemilik tanah itupun kemudian berkemas untuk pergi ke pategalan dengan membawa dua orang pembantu laki-laki di rumahnya. Keduanya membawa parang dan cangkul, yang barangkali akan dapat dipergunakan di pategalan itu.

“Kami telah membawa alat-alat ke pategalan itu,“ berkata Mahisa Murti.

“Biarlah mereka juga membawa,“ jawab pemilik tanah itu.

Ketika Mahisa Murti, Mahisa Ura dan pemilik tanah itu sampai di pategalan, ternyata di pategalan itu telah terdapat banyak orang. Namun Ki Bekel telah menarik gawar lawe melingkari lingkungan yang ternyata masih beracun keras itu.

“Tidak seorang pun boleh melintasi gawar ini,“ berkata Ki Bekel kepada orang-orang yang berkerumun.

Namun ternyata bahwa gawar lawe saja tidak cukup. Karena itu, maka Ki Bekel pun telah memerintahkan orang-orangnya untuk membuat pagar yang kuat di sekitar tempat yang berbahaya itu.

Sementara itu Tatas Lintang telah menentukan reramuan yang agaknya paling baik untuk menawarkan racun itu. Ada beberapa jenis binatang berbisa yang akan dapat dipergunakannya untuk menawarkan racun, diramu dengan getah dari pepohonan tertentu. Yang harus dilakukannya kemudian adalah mencari jenis binatang dan getah pohon yang diperlukan itu.

Karena itu, ketika orang-orang mulai melakukan kerja mereka, membuat pagar yang kuat dan cukup tinggi untuk menutup pategalan itu, maka Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya kemanakannya. telah minta diri untuk mencari reramuan yang mungkin akan dapat menjadi penawar racun yang tersebar di pategalan itu.

“Kami harus segera mendapatkannya,“ berkata Tatas Lintang.

Mahisa Murti. Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengikut saja kemana Tatas Lintang pergi. Namun ketika mereka sudah keluar dari pategalan dan tidak memasuki padukuhannya. Mahisa Murti bertanya, “Kita akan ke mana?”

“Kita harus menemukan bahan reramuan obat penawar racun itu,“ jawab Tatas Lintang.

“Bahan yang kita perlukan terdapat di mana? Apakah kau sudah mempunyai gambaran, di mana kita akan mendapatkannya?“ bertanya Mahisa Murti pula.

“Aku memerlukan sejenis binatang beracun dan getah sejenis pohon nyamplung berbuah panjang yang sulit dicari. Tetapi aku kira aku akan dapat mempergunakan cairan pelepah pisang kering sebagai penggantinya meskipun kadar kekuatannya berbeda. Tetapi dengan mengentalkan cairan itu bersama bisa dari binatang-binatang yang akan kita dapatkan itu. maka aku kira akan mendapatkan obat penawar racun. Di pondok kita aku masih mempunyai buah dari sebangsa nyamplung berbuah panjang itu, yang akan dapat menentukan ketajaman obat penawar yang akan kita buat,“ berkata Tatas Lintang.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura hanya mengangguk-angguk saja. Mereka kurang mengerti jenis-jenis bahan yang disebut oleh Tatas Lintang. Sepengetahuan mereka, nyamplung buahnya selalu bulat.

Tetapi Tatas Lintang tentu memiliki pengetahuan yang jauh lebih luas dari mereka, sehingga apa yang diketahuinya, tidak diketahui oleh ketiga orang yang disebutnya sebagai kemenakannya itu.

Dalam pada itu. maka Mahisa Pukat pun bertanya, “Kita sekarang akan pergi ke mana?”

“Kita akan pergi ke batu yang berwarna kehijauan itu,“ jawab Tatas Lintang.

“Untuk apa?“ bertanya Mahisa Pukat.

“Mencari bahan yang kita perlukan. Memang kita akan berjalan agak panjang. Tetapi harus kita lakukan jika kita akan menolong orang-orang dari padukuhan itu,“ jawab Tatas Lintang.

“Bahan apa? Batu itu?“ bertanya Mahisa Pukat.

“Di celah-celah batu itu,“ jawab Tatas Lintang.

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menjawab. Meskipun demikian ia berkata kepada diri sendiri, “Jadi Tatas Lintang juga sudah mengamati batu yang berwarna kehijauan itu?”

Ternyata Mahisa Murti pun berpikir demikian. Karena Tatas Lintang mengetahui, bahwa di celah-celah batu yang berwarna kehijauan itu terdapat beratus bahkan beribu binatang beracun sejenis kala dalam beberapa macamnya. Ada yang jenisnya kecil dan yang besar.

Demikianlah mereka berempat telah berjalan langsung menuju ke tempat batu yang berwarna kehijauan, yang letaknya tidak terlalu dekat dari padukuhan itu.

Namun ternyata bahwa Tatas Lintang memang memiliki ketajaman penggraita melampaui orang kebanyakan. Karena itulah, maka iapun berkata, “Kita akan mendekati batu itu pada malam hari.”

“Kenapa?“ bertanya Mahisa Murti.

“Kita akan menghindari kemungkinan buruk yang dapat terjadi atas kita.“ berkata Tatas Lintang, “setidak-tidaknya kita akan mempunyai kesempatan untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan dihadapan kita.”

“Apakah ada sesuatu yang akan terjadi menurut perhitunganmu?“ bertanya Mahisa Pukat.

“Aku kira, orang yang menaburkan racun itupun telah memperhitungkan bahwa kita akan mencari bahan penolak racun. Orang itupun tentu mengetahui bahwa bahan penawar racun yang banyak diketemukan adalah pada celah-celah batu hijau itu,” jawab Tatas Lintang.

Mahisa Murti. Mahisa Pukat Mahisa Ura pun mengangguk-angguk. Sementara itu Tatas Lintang pun berkata, “Akhirnya kita akan berbenturan dengan kekuatan di dalam padepokan itu justru di luar padepokan. Namun jika pekerjaan ini dapat kita selesaikan, maka tugas selanjutnya bukannya tugas yang berat. Kita akan dapat memasuki padepokan itu seolah-olah kitalah pemimpin dari padepokan itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Mereka tidak mengerti, apakah dengan demikian mereka sudah dapat dikatakan menyelesaikan tugas mereka. Apakah dengan demikian mereka akan dapat menjawab, apakah alasan orang-orang bertongkat itu untuk menguasai Mahkota yang dianggap menjadi lambang tempat bermukim Wahyu Keraton itu.

Namun keduanya sama sekali tidak mengatakan sesuatu. Mereka masih akan melihat apa yang terjadi kemudian.

Tetapi mereka merasa sulit untuk dapat berprasangka buruk terhadap Tatas Lintang yang telah memberikan kemampuan baru pada pelepasan ilmu mereka.

Demikianlah mereka berjalan menuju ke tempat batu berwarna kehijauan itu. Namun mereka tidak langsung mengambil arah. Tetapi mereka telah menempuh jalan-jalan sempit yang agak menyimpang. Sebagaimana dikatakan oleh Tatas Lintang, mereka baru akan mendekati sasaran pada malam hari. Dengan demikian mereka akan mendapat kesempatan untuk menilai, apakah mereka akan dapat melakukan dengan aman atau mereka harus melakukan langkah kekerasan.

Namun apapun yang harus mereka lakukan, mereka semuanya telah bersiap. Meskipun seandainya mereka harus bertempur menghadapi lawan yang lebih besar dari mereka. Mungkin dalam jumlah, tetapi mungkin juga pada tingkat kemampuan.

Karena itu. maka mereka berempat memang tidak tergesa-gesa. Karena mereka memang menunggu hari menjadi gelap di perjalanan.

Dengan singgah di sebuah kedai maka mereka telah banyak membuang waktu, sehingga akhirnya, malam pun telah turun.

“Kita akan mendekat,“ berkata Tatas Lintang, “berhati-hatilah. Mungkin kita diamati oleh orang-orang yang telah menuangkan racun itu.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun menyadari hal itu. Karena itu maka mereka pun telah berada dalam kesiapan tertinggi ketika mereka mulai mendekati batu yang berwarna kehijauan itu.

Namun Tatas Lintang memang berhati-hati. Mereka tidak langsung mendekati batu itu. Tetapi Tatas Lintang telah membawa ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu untuk menunggu dan mengamati keadaan.

“Biasanya kita terlambat mengetahui orang yang mengamati kita,“ berkata Tatas Lintang, “beberapa kali terjadi, merekalah yang menyapa kita lebih dahulu. Menyapa dengan serangan-serangannya.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura tidak membantah. Mereka memang menganggap bahwa Tatas Lintang memiliki pengamatan yang sangat tajam, sehingga ia akan dapat memilih kesempatan yang paling baik untuk melakukan rencana mereka.

Beberapa saat lamanya mereka menunggu. Tetapi mereka sama sekali tidak melihat atau mendengar apapun juga, selain gelapnya malam dan desir angin di hutan sebelah.

Namun sejenak kemudian Mahisa Murti pun terkejut ketika Tatas Lintang menggamitnya sambil memberi isyarat bahwa ia mendengar sesuatu.

Mahisa Murti pun kemudian telah menggamit Mahisa Pukat dan Mahisa Ura dan memberi isyarat yang sama pula.

Keempat orang itupun kemudian memperhatikan keadaan dengan saksama. Mereka memang mendengar langkah berdesir. Semakin lama terdengar semakin dekat, sehingga mereka-pun telah menahan nafas mereka.

Dalam keremangan malam maka mereka pun telah melihat beberapa orang berjalan menuju ke batu berwarna kehijauan itu. Tiga di antara mereka langsung mendekati batu itu, sementara tiga orang yang lain berdiri mengawasi keadaan di sekitar mereka.

“Orang-orang bertongkat,“ berkata keempat orang itu di dalam hati.

Sebenarnyalah keenam orang itu membawa tongkat yang agak panjang.

Namun keempat orang itupun segera mengetahui gunanya, ketika seorang di antara mereka telah merundukkan tongkatnya dan ketika ia menghentakkan tongkatnya, maka nampak samar-samar sesuatu yang menggeliat.

Agaknya orang itu telah menekan kepala seekor ular yang mendekatinya. Karena di tempat itu memang banyak terdapat ular-ular yang berbisa.

Tetapi bagi keempat orang itu, agaknya tongkat itu bukan hanya khusus untuk membunuh ular saja. Tetapi tongkat itu tentu juga merupakan senjata mereka.

Namun dengan demikian memang telah timbul pula satu pertanyaan, “Apakah memang ada hubungannya antara orang-orang bertongkat ini dengan orang yang telah menuang cairan beracun di lubang-lubang yang telah dibuat oleh keempat orang itu di pategalan. Sementara menurut penglihatan keempat orang itu, orang yang bertempur melawan Tatas Lintang di pategalan itu tidak mempergunakan senjata tongkat.

Tetapi agaknya tongkat bukannya ciri yang memastikan. Mungkin di dalam padepokan itu memang terisi oleh orang-orang yang bersenjata tongkat dan orang-orang yang tidak mempergunakan tongkat sebagai senjata mereka. Menurut perhitungan keempat orang itu. maka orang-orang yang datang ke dekat batu itu agaknya memang ada hubungannya dengan peristiwa yang telah terjadi di pategalan.

Sejenak tiga orang yang mendekati batu yang berwarna kehijauan itu mengamati-amatinya. Namun kemudian terdengar suara salah seorang di antara mereka, “belum ada perubahan. Binatang itu masih berada di celah-celah retak-retak batu itu.”

“Mungkin mereka tidak datang kemari,“ sahut yang lain.

“Binatang-binatang seperti itu terdapat di banyak tempat. Mungkin mereka mempunyai persediaan yang mereka pelihara di satu tempat yang tersembunyi, sehingga setiap kali mereka membutuhkan, mereka tidak perlu mencarinya lagi.“ berkata yang lain lagi.

Namun terdengar suara yang agaknya mempunyai pengaruh di antara mereka, “Kita akan menunggu beberapa lama. Jika mereka datang, kita akan menghancurkannya. Tetapi ingat, mereka memiliki ilmu yang tinggi.”

“Mereka tidak akan mampu berbuat banyak,“ jawab seseorang di antara mereka, “seorang di antara mereka memang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi yang lain bukan apa-apa.”

“Jangan pura-pura. Justru yang lain itulah yang pernah menghancurkan perlawanan beberapa ekor harimau di tempat ini. Jika kau pura-pura tidak mengetahui bahwa mereka berilmu tinggi, maka kita sudah mulai dengan satu kesalahan yang akan dapat menjerat diri kita sendiri. Namun kita pun tidak akan menjadi ketakutan karenanya. Kita adalah orang-orang terpercaya.“ berkata suara orang yang agaknya memimpin keenam orang itu.

Kawan-kawannya tidak menjawab lagi. Namun mereka-pun kemudian telah menebar. Mereka memandang ke segenap arah. Namun agaknya mereka pun tidak lengah terhadap ular-ular yang banyak terdapat di tempat itu.

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Iapun mempersilahkan Mahisa Ura berada di antara ketiga orang yang lain dengan isyarat, agar seekor ular tidak sempat menggigitnya.

Tanpa mengatakan sesuatu Tatas Lintang telah memberikan segelintir obat penawar racun yang mampu melindunginya untuk beberapa lama kepada Mahisa Ura. Sedangkan Mahisa Ura pun agaknya mengerti pula kekuatan obat itu sebagaimana pernah diterimanya dari Tatas Lintang. Karena itu, maka dengan serta merta maka iapun telah menelan obat penawar itu.

Sementara itu, setelah menunggu beberapa lama, enam orang itu masih juga tetap berada di tempatnya meskipun beberapa kali mereka harus membunuh beberapa ekor ular yang merambat mendekati mereka, maka Mahisa Pukat pun mulai menjadi jemu. Ia menjadi gelisah dan sekali-sekali berdesah.

Mahisa Murti yang mengenal saudara laki-lakinya itu dengan baik mengerti pula perasaannya. Mahisa Pukat tentu sudah mulai menjadi jemu menunggu. Bahkan Tatas Lintang dan Mahisa Ura pun merasakan kegelisahan itu.

Karena itu. Tatas Lintang pun kemudian bertanya, “Apakah yang akan kita lakukan sekarang?”

“Kita akan banyak kehilangan waktu di sini,“ desis Mahisa Pukat.

Tatas Lintang yang sudah mengira bahwa Mahisa Pukat sudah tidak sabar lagi menyahut, “Apakah kita akan mengambilnya sekarang?”

“Apa salahnya,“ berkata Mahisa Pukat, “kita akan dapat menjajagi kemampuan orang-orang bertongkat itu.”

“Kita pernah bertempur dengan orang-orang itu di sini.” berkata Mahisa Murti, “sebelum kita bertempur dengan harimau-harimau yang dikuasai oleh ilmu gendam. Bukankah pernah ada orang-orang yang menyebut dirinya satu dengan ular-ular yang ada di tempat ini?”

“Mungkin. Tetapi tentu orang lain yang hadir sekarang. Orang yang mempunyai ilmu yang lebih tinggi untuk menebus kegagalan-kegagalan yang pernah terjadi. Bahkan mungkin seorang diantaranya adalah lawan Tatas Lintang itu. Mereka tentu bukan orang-orang dungu yang tidak mengenal perbandingan ilmu setelah mereka berusaha menjajaginya beberapa kali dengan beberapa macam cara. Tetapi bukan berarti bahwa kita harus tetap bersembunyi di sini,“ sahut Mahisa Pukat.

“Baiklah,“ berkata Tatas Lintang. Lalu, “Lihat, agaknya ada di antara mereka yang mendengar suara kita. Ternyata pendengaran mereka pun cukup tajam, meskipun mereka belum menemukan tempat kita.”

“Kita akan mempergunakan cara sebagaimana dilakukan oleh kawan-kawan mereka,“ desis Mahisa Pukat.

“Bagaimana?“ bertanya Tatas Lintang.

“Kita sapa mereka. Tetapi sebaiknya kita berpisah dan berlindung di tempat yang berbeda,“ jawab Mahisa Pukat.

Tatas Lintang mengerti maksud Mahisa Pukat. Karena itu, maka iapun menggamit Mahisa Ura dan dengan isyarat mengajaknya meninggalkan tempat itu.

Dengan hati-hati keduanya bergeser dari tempat mereka. Berlindung di balik gelapnya rimbunnya dedaunan dan pohon-pohon perdu, mereka mengambil jarak dari dekat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bersembunyi.

“Beberapa saat kemudian, setelah Tatas Lintang berada beberapa puluh langkah dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, mereka mulai mempersiapkan diri untuk menyapa orang-orang yang berada di sekitar batu yang kehijauan itu.

Namun dalam pada itu, Tatas Lintang pun berkata kepada Mahisa Ura perlahan-lahan, “Kerahkan daya tahanmu. Yakinkah dirimu, bahwa kau tidak terpengaruh sama sekali oleh getaran suaraku. Justru karena kau berada di sebelahku.”

Mahisa Ura mengangguk. Iapun segera memusatkan nalar budinya untuk mengerahkan daya tahannya. Ia mengerti apa yang akan dilakukan oleh Mahisa Pukat, Mahisa Murti dan Tatas Lintang.

Sebenarnyalah, sebelum Tatas Lintang berbuat sesuatu, telah terdengar suara yang menggetarkan udara di sekitar batu yang berwarna kehijauan itu.

“Selamat malam Ki Sanak. Agaknya kalian sedang menunggu seseorang.”

Orang-orang yang berdiri di sekitar batu yang berwarna kehijauan itu nampaknya terkejut. Dalam kegelapan malam, ketajaman penglihatan Tatas Lintang dan ketiga orang yang disebut kemanakannya itu mampu melihat, keenam orang itu telah bergeser selangkah saling mendekat. Namun agaknya mereka tidak segera mengerti dari mana arah suara yang terdengar itu. Ternyata keenam orang itu telah menghadap ke arah yang berbeda-beda.

Sejenak kemudian telah terdengar lagi suara yang menggelarkan udara, “Siapakah sebenarnya yang kalian tunggu? Coba, sebutkan, apakah kau menunggu pemimpinmu orang yang bertongkat dengan kepala yang terbuat dari pecahan batu di sebelahmu itu? Atau mungkin orang yang mampu menguasai binatang dengan ilmu gendamnya, atau barangkali siapa lagi?”

“Persetan,“ geram pemimpin dari keenam orang itu. “Kemarilah jika kau jantan. Jangan bersembunyi.”

“Carilah, di mana sumber suara yang kau dengar itu,“ getaran itu bergulung lagi di sekitar batu berwarna kehijauan itu.

“Pengecut. Kenapa kami harus mencari? Jika kalian benar-benar memiliki keberanian, marilah.“ teriak pemimpin dari keenam orang itu.

Namun ketika sekali terdengar suara itu menggetarkan udara, terdengar orang itu berdesah.

“Aku akan dapat datang kepada kalian setiap saat. Tetapi ternyata kalian tidak tahu di mana kami berada,” jawab suara itu yang disusul oleh suara tertawa yang menggelegar mengguncang isi dada.

Keenam orang itu harus berjuang untuk menahan goncangan di dadanya. Sementara itu. mereka masih belum mengetahui dari mana arah suara yang telah menggetarkan dadanya itu.

Suara tertawa itu bagaikan bergulung-gulung dari segala penjuru. Menyusup dan kemudian mengguncang-guncang isi dada. Sehingga dengan demikian maka keenam orang itu benar-benar harus memusatkan segala perhatiannya.

Karena itu, maka tiba-tiba saja pemimpin dari keenam orang itu telah berteriak, “berhati-hatilah. Kita akan melakukannya sekarang.”

Suara itu memang menarik perhatian. Sejenak kemudian suara tertawa yang bergulung-gulung itupun telah mereda. Orang-orang yang bersembunyi itu agaknya telah tertarik untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh keenam orang itu.

Ternyata keenam orang itu telah menelan sesuatu. Orang-orang yang bersembunyi itu tidak melihat dengan jelas, apakah yang telah mereka telan itu. Namun Tatas Lintang telah berdesis, “Agaknya mereka telah menelan semacam penawar racun.”

“Kenapa baru sekarang?“ bertanya Tatas Lintang.

“Mereka merasa bahwa ular yang ada di padang di sekitar batu itu tidak berbahaya bagi mereka, karena mereka mempunyai kemampuan untuk membunuh ular-ular itu. Tetapi dalam keadaan yang sulit karena mereka harus mempertahankan diri maka mereka tidak akan sempat lagi untuk memperhatikan ular yang mungkin menyerang mereka, sehingga mereka harus mempersiapkan diri. “jawab Tatas Lintang.

“Aku mengerti. Tetapi kenapa tidak sejak mereka memasuki lingkungan ini?“ bertanya Tatas Lintang pula.

“Mungkin penawar racun itu tidak dapat bekerja cukup lama, sehingga mereka harus memperhatikan waktu. Hanya apabila keadaan mereka benar-benar menjadi gawat mereka telah melindungi diri dengan penawar racun itu. Agaknya mereka memperhitungkan, bahwa persoalan yang mereka hadapi tidak akan dapat diselesaikan dalam waktu dekat,“ berkata Tatas Lintang.

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Iapun agaknya telah melihat kepada dirinya sendiri. Penawar racun yang diterima dari Tatas Lintang hanya mampu berpengaruh dalam waktu yang terbatas, kurang lebih setengah hari atau setengah malam.

Tatas Lintang agaknya dapat menangkap perasaan Mahisa Ura. Karena itu maka katanya, “Jika lebih panjang dari setengah malam, maka kau pun memerlukan penawar itu lagi. Tetapi kau tidak dapat mempergunakannya sekarang sekaligus, karena dengan demikian, maka penawar itu tidak akan berlaku lebih dari setengah hari pula, sehingga karena itu, tentu hanya sekedar kelebihan yang tidak bermanfaat, karena kelebihan kekuatannya tidak akan diperlukan. Dengan demikian maka jika tiba saatnya, sebaiknya kau harus menelan penawar berikutnya.”

“Dengan demikian maka kau tidak akan diganggu oleh-ular-ular dan jenis binatang berbisa lainnya. Kau dapat memusatkan perhatianmu terhadap kemungkinan lain yang mengancammu.“ Mahisa Ura mengangguk-angguk. Sementara itu Tatas Lintang pun telah mengambil sebutir penawar racun dan diberikannya kepada Mahisa Ura yang kemudian menyimpannya di kantong ikat pinggangnya.

Dalam pada itu, maka terdengar lagi suara yang menggelegar bergulung-gulung. Agaknya Mahisa Murti lelah mulai lagi mengganggu keenam orang itu dengan suara tertawanya.

Untuk beberapa saat keenam orang itu berusaha dengan segenap kemampuan mereka untuk menemukan arah suara tertawa yang telah mengguncang jantung mereka. Keenam orang yang menyebar itu perlahan-lahan telah bergeser saling mendekat. Bahkan kemudian mereka telah membuat lingkaran dan saling bergandengan tangan, dengan tongkat mereka yang tegak dalam pegangan.

“Apa yang mereka lakukan?“ bertanya Mahisa Ura.

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Mereka telah menghubungkan diri. Mereka berusaha untuk menyatukan kemampuan mereka. Dengan demikian mereka berharap untuk mampu mengatasi kebingungan mereka menemukan arah suara tertawa yang menggetarkan jantung mereka.”

Mahisa Lira mengangguk-angguk. Dilihatnya orang-orang itu mulai bergeser melingkar. Namun agaknya pegangan mereka semakin lama menjadi semakin menjadi kuat. Sehingga lingkaran itu benar-benar merupakan satu kesatuan yang kokoh.

Dengan demikian mereka telah menyatukan pula pemusatan nalar budi untuk menemukan arah suara yang agaknya telah menyakiti dada mereka, sekaligus untuk menyusun lapisan-lapisan perisai yang melindungi mereka.

Untuk beberapa saat keenam orang itu bergeser perlahan-lahan. Namun mereka mulai yakin bahwa mereka akan dapat menemukan arah suara yang telah mengganggu isi dada mereka itu

Ternyata kebingungan memang telah terjadi. Keenam orang yang telah menyatukan diri itu. telah kehilangan arah suara yang menggetarkan jantung mereka. Suara itu seakan-akan telah berpindah pada saat mereka hampir menemukannya.

“Gila,“ geram pemimpin dari keenam orang itu. Sementara itu suara tertawa itu benar-benar telah menghentak-hentak jantung mereka.

Demikianlah, Tatas Lintang berganti-ganti dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang telah membuat keenam orang itu semakin kebingungan. Namun akhirnya pemimpin dari keenam orang itu berkata, “Kita tidak usah mencarinya. Kita akan melawannya.”

Keenam orang itupun kemudian telah duduk di dalam lingkaran. Mereka meletakkan tongkat-tongkat mereka di dalam lingkaran, sementara tangan mereka pun telah bergandengan dengan erat.

Keenam orang itu telah memusatkan kekuatan daya tahan mereka. Namun mereka tidak menunduk dan menajamkan mata. Mereka justru mengamati langsung ke dalam kegelapan di arah pandangan masing-masing.

Dengan mengerahkan daya tahan di dalam diri masing-masing, maka mereka berhasil mengurangi hentakan-hentakan di dalam dada mereka. Dengan bergandengan tangan erat-erat. mereka memang benar-benar telah menjadi satu dan saling mengisi.

Tatas Lintang akhirnya menghentikan serangannya, iapun sadar bahwa dalam sikapnya keenam orang itu akan mampu melindungi diri mereka meskipun harus menahan sakit.

Namun agaknya dengan cara itu. mereka tidak akan dapat segera menyelesaikan persoalan.

Sejenak kemudian Tatas Lintang pun berbisik kepada Mahisa Ura, “Kita kembali kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.”

Namun sebelum Tatas Lintang benar-benar mendekati kedua anak muda itu maka Mahisa Pukat telah sampai kepadanya dan berkata, “Aku tidak telaten. Apakah kita akan bermain-main seperti ini semalam suntuk. Atau bahkan tiga hari tiga malam.”

“Jadi bagaimana menurut pertimbanganmu?“ bertanya Tatas Lintang.

“Mahisa Murti setuju kita mengambil jalan yang paling pasti. Berhasil atau tidak berhasil,“ berkata Mahisa Pukat.

“Baiklah,“ berkata Tatas Lintang, “kita akan mendekati mereka.”

Dengan demikian, maka Tatas Lintang pun kemudian telah minta mereka berkumpul dan bersama-sama mendekati keenam orang yang telah menyatukan diri itu.

Mahisa Pukat kemudian telah memanggil Mahisa Murti. Sejenak kemudian maka keempat orang itupun telah keluar dari rimbunnya pohon perdu dan berjalan menuju ke arah keenam orang yang sedang duduk memusatkan kemampuan mereka untuk mengerahkan daya tahan di dalam diri untuk melawan suara tertawa yang menggelegar.

Kehadiran keempat orang itu memang telah mengejutkan. Keenam orang itu sama sekali tidak menduga, bahwa orang itu akan muncul dari arah itu, karena menurut pengamatan mereka arah timbulnya getaran dari suara yang menggelepar itu bukannya dari arah itu.

Melihat kehadiran keempat orang itu, maka keenam orang itupun segera menguraikan lingkaran mereka. Dengan cepat mereka pun bangkit sambil meraih tongkat mereka masing-masing.

Bersambung.......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...