Sabtu, 30 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 20-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 20-02*

Karya.   : SH Mintardja  

“Mereka tidak melihat.” katanya.

Kedua orang yang lain termangu-mangu. Namun yang seorang berkata, “Tetapi aku tidak salah lagi. Beberapa orang tahu, bahwa Mahendra dan dua anaknya ada dikota itu, dan pada hari ini telah meninggalkannya. Kedua anak muda yang ada dipasar itu tentu kedua anak Mahendra.”

“Kita belum pernah mengenal dengan baik orang yang bernama Mahendra itu meskipun kita sudah mengenal namanya sebagai salah seorang Senapati yang tidak terikat pada kedudukan keprajuritan. Ia datang kekota itu untuk memperdagangkan barang-barang berharga. Emas, intan dan sebagainya. Dengan demikian apakah kita akan berhasil menyusulnya?. Jika kita sudah menemukannya, apakah kita dapat berbuat sesuatu atasnya.”

“Kita bertiga.”

Untuk beberapa saat tidak ada yang menjawab. Kedua orang lainnya menjadi termangu-mangu. Namun kemudian yang tertua diantara mereka berkata, “Kita tidak yakin bahwa kita akan berhasil menguasai mereka. Karena itu, kita lebih baik membuat rencana lain yang lebih baik daripada sekedar menuruti gejolak perasaan.”

“Tetapi paman” berkata salah seorang yang lain , “jika benar kedua anak-anak muda yang berada di dalam pasar itu adalah kedua anak Mahendra, maka mereka tentu menertertawakan aku.”

“Kenapa?.” bertanya yang lain lagi.

“Aku mengaku bernama Mahisa Bungalan. Bukankah dengan demikian mereka tahu pasti bahwa aku berbohong.”

Yang tertua di antara merekapun kemudian berkata, “Ya, Mereka mengetahui bahwa kau berbohong.”

“Darimana paman mengetahuinya.”

“Ketika ia bertanya kepadaku, apakah benar kau bernama Mahisa Bungalan, dan aku membenarkannya, maka sambil tersenyum anak-anak itu mengatakan bahwa aku berbohong.”

“Setan alas.” desis yang paling muda dari ketiga orang itu, “mereka sepantasnya kita bunuh. Dengan demikian mereka tentu tahu pasti, bahwa akulah Linggadadi.”

“Kenapa kau menjadi cemas” bertanya kakaknya, “biar sajalah mereka menetahui bahwa kau adalah Linggadadi, aku bernama Linggapati. Apa yang dapat mereka lakukan?. Mereka tentu juga menyadari, bahwa mereka bertiga tidak akan dapat berbuat apa-apa atas kita.”

“Mereka tidak mempedulikan kita.” berkata yang paling tua.

Sejenak mereka bertiga termangu-mangu. Kemudian yang paling tua itupun berkata., “Terserah kepada Angger Linggapati. Aku akan menjalankan segala perintah.”

Linggapati berpikir sejenak. Lalu, “Aku kira tidak ada gunanya lagi menyusul Mahendra. Kita akan menemui kesu litan untuk menemukan jejaknya, karena ia tidak melalui jalan ini. Mungkin ia sudah jauh atau mungkin ia pergi ke arah yang sama sekali tidak kita duga-duga. Apalagi kita memang tidak yakin akan dapat berbuat sesuatu atas mereka bertiga, karena ternyata kedua anak-anak muda itu sudah memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan.”

“Jadi?.”

“Kita merubah arah. Kita pergi seperti rencana semula.”

“Menemukan sarang orang-orang berilmu hitam?.”

“Setidak-tidaknya mengetahui arahnya. Aku ingin membuat hubungan. Tetapi jika hubungan itu gagal, aku ingin menghancurkannya, agar mereka tidak mengganggu kepentingan kita kelak.”

“Kita akan menyerang mereka?.”

“Mungkin kita akan menyerang padepokan orang-orang berilmu hitam. Tetapi mungkin kita dapat mempergunakan tangan orang-orang Singasari.”

Kedua orang yang lain mengangguk-angguk.

“Nah, sekarang, marilah kita pergi.” berkata Linggapati kemudian.

Ketiganya pun kemudian meninggalkan warung itu tanpa minta diri. Beberapa orang yang berada di dalam warung itupun termangu-mangu. Mereka melihat ketiga orang itu jauh berbeda sifat dan tingkah lakunya dengan tiga orang yang terdahulu.

“Mereka menyebut-nyebut beberapa nama” berkata salah seorang yang duduk didalam warung itu, “tetapi tidak begitu jelas kedengarannya.”

“Mereka menyebut nama Mahisa Bungalan.”

“Tetapi juga Linggadadi, bahkan Linggapati.”

“Membingungkan sekali.” sahut penjual di warung itu, “tetapi agaknya mereka itulah pembunuh orang-orang berilmu hitam. Nampaknya mereka sendiri juga orang-orang kasar dan mungkin juga kejam seperti orang berilmu hitam.”

“Atau mungkin orang-orang berilmu hitam itu sendiri yang ingin menuntut kematian kawan-kawannya?.”

“Tentu tidak. Salah seorang dari mereka menyebut juga orang-orang berilmu hitam. Malahan mereka akan menghancurkan orang-orang berilmu hitam itu.”

Seorang yang berkulit kuning dan bermata lebar berkata sambil menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Kepalaku justru menjadi pening, setelah jantungku rasa-rasanya akan rontok. Sudahlah, kaki. Berapa aku harus membayar?, Aku akan pulang sebelum jalan di depan warung ini benar-benar menjadi jalur kelompok-kelompok yang bertengkar itu saling bertemu.”

Tetapi sebelum pemilik warung itu menjawab, mereka telah dikejutkan lagi oleh derap kaki-kaki kuda. Seorang yang menjengukkan kepalanya, melihat tiga ekor kuda berpacu meskipun tidak begitu cepat. Tetapi kali ini dari arah lain.

“Tiga orang berkuda lagi” desisnya.

“O, dari arah yang berlawanan. Apakah mereka tidak berpapasan dengan ketiga orang itu?.”

“Mungkin jalan yang dilalui berbeda dengan arah dari ketiga orang itu. Diujung padukuhan itu ada simpang tiga. sedang di sisi yang lain terdapat simpang empat.”

Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi hati mereka menjadi berdebar-debar ketika kuda-kuda itu menjadi semakin dekat.

“Siapa lagi yang akan datang kali ini?.” desis pemilik warung itu.

“Orang-orang berilmu hitam itu sendiri.”

“O” wajah-wajah di dalam warung itu menjadi pucat. Tetapi mereka justru bagaikan membeku, sehingga mereka tidak dapat berbuat apapun lagi.

Ketiga ekor kuda yang berderap itupun menjadi semakin dekat. Dengan demikian maka orang-orang di dalam warung itu seakan-akan telah berkerut semakin kecil. Bahkan nafas mereka rasa-rasanya menjadi sesak dan warung itu bagaikan bertambah sempit sehingga dindingnya bagaikan menghimpit tubuh mereka.

Mereka sama sekali tidak berani bergerak ketika tiga ekor kuda itu menjadi semakin dekat pula. Mereka berdoa mudah-mudahan kuda-kuda itu tidak berhenti dimuka warung itu. Apa lagi penunggangnya turun dan masuk ke dalamnya.

Tetapi darah mereka serasa membeku ketika mereka mendengar bahwa ketiga ekor kuda itu ternyata kemudian berhenti tepat dimuka pintu warung itu.

Ketika terdengar derak pintu warung yang didorong dari luar, seolah pintu ubun-ubun merekapun sudah terbuka, sehingga sebentar lagi, nyawa merekapun akan meloncat keluar.

Seorang anak muda yang bertubuh kekar memasuki warung itu. Sejenak ia berdiri di muka pintu sambil memperhatikan setiap orang yang ada didalamnya.

“Siapakah pemilik warung ini?.” terdengar suaranya yang dalam dan berat.

Tidak ada seorang pun yang berani mengangkat wajah mereka. Meskipun demikian, mereka telah mencoba memandang pemilik warung dengan sudut matanya.

“Siapa?.” anak muda itu mengulang.

Pemilik warung itu tidak dapat ingkar. Meskipun ia duduk di antara para pembelinya, namun ia terpaksa mengangkat wajahnya sejenak sambil menjawab, “Aku, aku Ki Sanak.”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau tidak berada di tempatmu, sehingga aku kira pemiliknya sedang pergi.” Ia berhenti sejenak lalu katanya, “apakah masih ada tempat bagi kami bertiga?.”

Pemilik warung itu termangu-mangu. Namun katanya dengan suara gemetar , “Ya, ya. Silahkan Ki Sanak. Masih ada tempat bagi kalian bertiga.”

Anak muda itu justru melangkah keluar untuk memberitahukan kepada kedua kawannya, bahwa masih ada tempat bagi mereka.

Setelah menambatkan kuda mereka, maka ketiga orang itu pun kemudian memasuki warung yang dicengkam oleh suasana yang aneh itu.

Ketiga orang itu semula tidak begitu menghiraukan orang-orang lain yang juga berada didalam warung itu. Namun lambat laun mereka melihat juga suasana yang beku, Bahkan penjual di warung itupun nampaknya tidak begitu ramah dan canggung.

Ketiga orang itu saling berpandangan sejenak. Namun mereka pun, segera melihat suasana yang buram telah mencengkam seisi warung itu.

“Ki Sanak.” berkata yang muda, “kami memerlukan minuman panas.”

“O.” pemilik itu tergagap. Dengan gemetar iapun kemudian menyiapkan tiga mangkuk minuman panas.

Ketika pemilik warung itu menghidangkan mangkuknya, oleh tangannya yang gemetar, maka minuman yang ada di dalamnya pun telah terpercik dan membasahi pakaian salah seorang dari ketiga orang itu. Justru yang paling muda di antara mereka.

Dengan gerak naluriah oleh percikan air panas, maka anak muda itu pun meloncat berdiri. Namun agaknya geraknya itu justru mengejutkan pemilik warung itu, sehingga mangkuk yang ada di tangannya justru telah tertumpah.

Yang kemudian meloncat bukan saja anak muda itu. Tetapi ketiga orang itu semuanya telah bergeser menghindari air yang bukan saja panas, tetapi juga akan membasahi pakaian mereka.

Pemilik warung ilu menjadi semakin gemetar. Sejenak ia dicengkam oleh kebingungan. Bahkan rasa-rasanya tubuhnya menjadi beku dan mulutnya seperti tersumbat.

Anak muda yang terpercik air panas itupun kemudian berkata, “Hati-hatilah Ki Sanak. Percikan airmu dapat membuat pakaian basah dan mungkin dikerumuni semut, karena air panasmu berbau gula kelapa?, Bukankah kau menghidangkan air sere dengan gula kelapa?.”

“Eh, ya, ya Ki Sanak” jawab pemilik warung itu tergagap, “tetapi, tetapi aku sama sekali tidak sengaja.”

“Aku sudah tahu bahwa kau tidak sengaja” jawab anak muda itu, “karena itu, hati-hatilah. Untunglah, kami sempat menghindar sehingga air sere itu tidak menyiram pakaian kami bertiga.”

Pemilik warung itu menjadi semakin gemetar. Dengan wajah yang tegang ia memandang ketiga orang yang kemudian duduk kembali di tempatnya.

“Nah, kami memesan lagi minuman. Kami memang haus. Tetapi kamilah yang haus itu. Bukan pakaian kami.”

Pemilik warung itu masih gemetar. Tetapi ia telah menyiapkan tiga mangkuk minuman lagi bagi ketiga tamunya. Betapapun ia mencoba menenangkan hatinya dan berhati-hati. tetapi ketiga orang itu melihat, bahwa penjual itu sedang diganggu oleh perasaan takut dan gelisah.

Tetapi mereka belum bertanya sesuatu. Mereka masih ingin melepaskan haus mereka dahulu dengan semangkuk minuman hangat.

Pemilik warung itu menarik napas lega ketika mangkuknya tidak tertumpah lagi. Dengan berbagai macam pertanyaan yang menggelegak dihatinya tentang ketiga orang tamunya yang baru itu, ia duduk di samping perapian seperti orang yang kedinginan.

Baru setelah ketiga orang tamunya itu menghirup separo isi mangkuknya, maka salah seorang dari mereka bertuiya, “Aku melihat suasana yang lain di dalam warung ini. Apakah benar begitu?.”

Pemilik warung itu termangu-mangu, sedang orang-orang yang ada di dalam warung itu bagaikan membeku.

“Apakah kalian berada dalam ketakutan?” bertanya orang yang lain dari ketiga orang itu. Tidak ada yang menjawab.

Karena itu maka yang paling muda di antara metekapun kemudian berkata, “Baiklah. Agaknya kalian memang menyimpan rahasia. Namun bagaimanapun juga, kami dapat melihat bahwa ada yang kalian sembunyikan. Meskipun demikian kami tidak akan dapat memaksa kalian untuk membuka rahasia itu.”

Pemilik warung itu termangu-mangu. Ketiga orang ini mempunyai pertanda yang lain lagi dari ketiga orang yang baru saja pergi. Agaknya ketiga orang ini bukanlah kawan-kawan dari mereka yang baru saja singgah mencari tiga orang yang lewat terdahulu.

Suasana di dalam warung itu menjadi sepi. Orang yang sudah lebih dahulu ada di dalam warung itu, rasa-rasanya bagaikan membeku. Mereka tidak dapat meninggalkan ruangan itu lebih dahulu oleh perasaan tidak menentu yang telah mencengkam mereka.

Tetapi sejenak kemudian, salah seorang dari ketiga orang yang datang kewarung itu berkata, “Baiklah Ki Sanak. Jika kehadiran kami telah mengganggu kalian, kami minta maaf Kami akan segera melanjutkan perjalanan.”

Kata-kata itu benar-benar telah menimbulkan tanggapan baru bagi ketiganya. Sudah tentu dengan demikian mereka tidak berniat buruk. Bahkan pemilik warung itupun kemudian menduga, bahwa ketiganya benar-benar orang yang sedang lewat dan kehausan, sehingga tidak mempunyai hubungan apapun juga dengan peristiwa yang telah terjadi dikota kecil itu.

Karena itu, maka pemilik warung itu telah memberanikan diri untuk bertanya, “Ki Sanak. Maaf bahwa sikap kami telah membuat Ki Sanak ragu-ragu menghadapi kami. Sebenarnyalah bahwa kami pun menjadi ragu-ragu terhadap setiap orang yang lewat karena peristiwa yang baru saja kami alami.”

“Apakah yang telah terjadi?.” bertanya yang paling muda di antara mereka bertiga.

“Dikota kecil di sebelah ini telah terjadi malapetaka.”

Ketiga orang itu ternyata telah tertarik kepada keterangan itu, sehingga dengan serta merta hampir berbareng mereka bertanya, “Apakah yang telah terjadi ?”

Pemilik warung itu menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian iapun berkata, “Kota kecil itu telah diamuk oleh ketakutan setelah terjadi peristiwa yang mengerikan di dalam pasar.”

“Ya, apa yang telah terjadi itu” yang paling muda di antara mereka tidak sabar lagi menunggu.

“Mahisa Bungalan dan Linggadadi, pembunuh orang-orang berilmu hitam telah membunuh orang-orang berilmu hitam di dalam pasar.”

“He.” anak muda itu tersentak sehingga di luar sadarnya ia telah meloncat berdiri.

Ternyata sikap itu telah membuat pemilik warung dan beberapa orang yang lain menjadi ketakutan kembali. Namun kawannya yang lebih tua telah menggamitnya dan menyuruhnya duduk kembali.

“Dengarlah baik-baik” desis orang itu kepada yang paling muda.

Orang yang paling muda itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah. Aku akan mendengarkan.”

Tetapi pemilik warung itu telah dicengkam oleh ketakutan sehingga untuk beberapa saat ia masih tetap berdiam diri.

“Nah, teruskan Ki Sanak. Kau tadi mengataakn bahwa Mahisa Bungalan dan Linggadadi telah bersama-sama membunuh orang-orang berilmu hitam. Keterangan itu memang mengejutkan sekali, Apalagi kau menyebut orang-orang berilmu hitam yang menakutkan itu sehingga kemanakanku ini terkejut karenanya. Tetapi seterusnya kami memang ingin mendengar agar kami tidak terperosok kedalam peristiwa yang mengerikan itu pula.”

Pemilik warung itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menceriterakan bahwa di pasar telah terjadi perkelahian yang membingungkan antara beberapa kelompok yang semula tidak diketahui siapakah mereka. Namun akhirnya tersebar berita bahwa yang terlibat didalamnya adalah Mahisa Bungalan bersama Linggadadi melawan orang-orang berilmu hitam. Tetapi selain mereka masih ada lagi dua orang anak-anak yang masih terlampau muda., “Selanjutnya kami tidak mengetahui dengan pasti. Yang kami ketahui adalah bahwa pada hari ini, telah singgah di warung kami, beberapa orang berkuda yang keluar dari kota kecil itu.”

“Orang berilmu hitam itu ?”

“Kami tidak tahu pasti. Tetapi agaknya bukan mereka, meskipun sikapnya juga mendebarkan jantung.”

“Seperti kami bertiga ?” bertanya yang paling muda.

“Tidak. Jauh berbeda.”

Ketiga orang itu menjadi semakin tertarik kepada ceritera pemilik warung itu. Karena itu maka salah seorang dari mereka mendesaknya, “Ceriterakan Ki Sanak. Mungkin ceriteramu sangat menarik.”

Pemilik warung itu termangu-mangu.

Orang yang paling muda dari ketiga orang itu tiba-tiba saja melemparkan beberapa keping uang sambil berkata, “Ambillah. Mungkin uang itu masih tersisa dari pembayaran makanan dan minuman kami bertiga.”

Pemilik warung itu terkejut. Ia memandang uang yang berserakan di antara barang-barang jualannya.

“Ki Sanak. Kami bukan orang-orang yang akan berbuat apapun juga. Jika kami sangat ingin mendengar ceriteramu, semata-mata agar kami tidak terperosok kedalam keterlibatan yang sangat kami cemaskan.”

Pemilik warung itu menatap wajah anak muda diantara ketiga orang itu. Lalu katanya, “Kepada tiga orang yang kedua singgah di warung ini aku tidak berterus terang tentang penglihatan kami atas orang-orang berkuda yang lewat dijalan ini.”

“Ada berapa kelompok orang-orang berkuda ?” bertanya anak muda itu.

“Tiga dengan kalian. Masing-masing tiga-tiga.”

“O, coba ceriterakan.”

Pemilik warung itupun kemudian dengan ragu-ragu mulai berceritera tentang tiga orang berkuda yang pertama dan yang kedua.

“Sedang yang ketiga adalah Ki Sanak bertiga sekarang ini.”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Namun ternyata mereka tidak memberikan tanggapan apapun juga. Yang dikatakan oleh salah seorang dari ketiga orang itu adalah, “Terima kasih Ki Sanak. Kami akan mencoba menghindari mereka Di kota kecil itu pun kami akan langsung menemui beberapa orang kenalan kami, agar tidak terjadi salah paham dan mungkin beberapa pertanyaan dari penghuninya. Adalah kebetulan pula bahwa kali ini kami pergi bertiga”

“Bagaimana jika kalian bertemu dengan orang-orang berilmu hitam, atau orang-orang yang semacam itu. termasuk tiga orang berkuda yang kedua singgah di warung kami ?”

“Kami akan menghindarkan diri jauh-jauh. Atau mungkin kami akan mati membeku jika kami tidak berhasil lari dari mereka.”

Pemilik warung dan orang-orang yang mendengar jawaban itu menjadi ragu-ragu. Nampaknya mereka sangat merendahkan diri. Meskipun mereka menyebut dirinya akan mati membeku, namun nampaknya mereka sama sekali tidak menjadi ketakutan dan cemas. Wajah mereka masih tetap cerah dan sikap mereka sama sekali tidak berubah.

Sejenak kemudian maka ketiga orang itupun minta diri. Yang paling muda di antara mereka berkata, “Jika uang itu tersisa, biarlah di sini. Ambillah. Aku mengucapkan terima kasih atas segala keteranganmu. Mudah-mudahan kami tidak terperosok kedalam kekalutan yang dapat mencelakai kami.”

Pemilik warung itu hanya termangu-mangu saja kebingungan. Sekali-kali ia memandang uang yang berserakan itu dengan sudut matanya.

Sesaat kemudian ketiga orang itu telah meloncat kepunggung kuda masing-masing dan meneruskan perjalanannya justru menuju kekota kecil yang diceriterakan oleh pemilik warung itu.

“Kau sudah berceritera tentang orang-orang berilmu hitam” berkata salah seorang yang berada diwarung itu.

“Nampaknya mereka orang baik” berkata pemilik warung itu sambil memunguti beberapa keping uang yang di tinggalkan oleh orang yang paling muda dari ketiga orang ber kuda itu.

“Ya. Nampaknya mereka orang baik” berkata yang lain, “apalagi dengan uang itu.”

“Ada beberapa persamaan sikap antara ketiga orang yang terakhir dengan ketiga orang yang pertama“ berkata pemilik warung itu.

“Ya Meskipun yang pertama sekali-kali menyebut tentang kulit yang terkelupas-“

“Dan sikap ketiga orang yang terakhir yang nampak garang ketika mereka hampir tersentuh air panas yang tertumpah.”

“Kau tidak berhati-hati. Untunglah mereka orang baik. Justru kau mendapat uang begitu banyak. Jika orang-orang itu termasuk pemarah dan orang-orang kasar seperti tiga orang yang kedua singgah di warung ini, mungkin kulitmu benar-beanr akan dikelupas.”

Bulu-bulu tengkuk pemilik warung itu mememang. Namun kemudian ia berkata kepada orang-orang yang berada diwarungnya, “Kalianpun akan mendapat bagian dari uang itu. Hari ini kalian hanya akan membayar separo dari yang seharusnya, Aku tentu tidak akan mengalami kerugian karena uang ini.”

“He” orang-orang yang ada di dalam warung itu membelalakkan matanya, “terima kasih” jawab yang gemuk, “untunglah aku belum meninggalkan warung ini dan belum membayar pula.”

Demikianlah maka orang-orang yang masih ada didalam warung itu hanyalah dipungut separo dari yang seharusnya mereka bayar. Dengan bibir yang tersenyum ramah, mereka mulai menghitung makanan yang telah mereka makan dan minuman yang telah mereka minum.

“Tutup sajalah warungmu hari ini” berkata salah seorang dari mereka, “sebelum tiga orang yang lain lagi akan lewat. Dan mereka adalah orang-orang berilmu hitam.”

Pemilik warung itu termangu-mangu. Tetapi ia menjadi ngeri juga bahwa orang-orang berilmu hitam akan benar-benar lewat dan apa lagi singgah diwarungnya. Mereka tentu akan berlaku kasar seperti yang mereka lakukan dipasar. Hampir setiap orang dapat menceriterakan pengalaman seorang anak muda yang hampir mati dicincang oleh orang-orang berilmu hitam itu tanpa berbuat kesalahan apuapun, karena orang-orang berilmu hitam itu sekedar ingin menakut-nakuti lawannya.

“Baiklah” berkata pemilik warung itu, “warung ini lebih baik aku tutup saja. Aku akan membawa sisa makanan pulang ke rumah. Anak-anakku tentu akan senang sekali. Biasanya mereka tidak pernah dapat ikut makan barang-barang daganganku, selain sepotong-sepotong yang aku berikan kepada mereka. Kali ini mereka akan mendapat agak banyak, karena aku pun telah mendapat uang buat menyiapkan dagangan besok pagi.”

Dengan demikian ketika orang-orang yang berada di warung itu pergi, maka pemilik warung itu pun kemudian menutup pintu dan mengemasi barang dagangannya yang tersisa. Setelah memadamkan api di perapian dan membersihkan amben besarnya, maka ia pun segera meninggalkan warungnya sambil membawa barang-barangnya di dalam bakul.

Dalam pada itu, ketika orang berkuda yang baru saja meninggalkan warung itupun telah berpacu langsung menuju kekota kecil yang baru saja dicengkam oleh kengerian dan ketakutan karena orang-orang berilmu hitam yang terbunuh di pasar. Mereka mempunyai perhitungan, bahwa pada suatu saat orang-orang berilmu hitam yang lain akan berkeliaran di kota itu dan membuat kerusuhan-kerusuhan yang mengerikan sekali. Mereka tentu ingin membalas dendam atas kematian kawan-kawannya. Jika mereka tidak menemukan Mahisa Bungalan dan Linggadadi yang mereka sangka telah membunuh orang-orang berilmu hitam itu, mereka tentu akan melepaskan dendamnya kepada siapapun juga yang mereka jumpai.

Ketika mereka menjadi semakin dekat dengan pintu ger bang kota kecil itu, maka orang yang paling muda di antara mereka bertiga itupun bertanya, “Apakah yang akan kita lakukan kemudian paman?”

Kedua orang yang lain berpikir sejenak. Salah seorang dari mereka pun kemudian berkata, “Tentu mengherankan bahwa mereka menyangka bahwa Mahisa Bungalan dan Linggadadi telah bersama-sama melakukan pembunuhan atas orang-orang berilmu hitam itu.”

“Agaknya berita yang tersebar di sekitar kota ini benar-benar membingungkan. Setiap orang akan mendapat gambaran yang salah tentang apa yang sebenarnya terjadi.”

“Tetapi yang pasti” sahut yang lain, “beberapa orang telah terbunuh di dalam pasar.”

“Kita akan mendapat berita yang lain dikota kecil itu. Mudah-mudahan dapat memperjelas apa yang sebenarnya sudah terjadi.”

“Atau justru membuat kita semakin bingung.”

Ketiganya mengangguk-angguk. Namun yang paling muda berkata, “kita akan melihat paman.”

Kuda-kuda itu pun berpacu semakin cepat. Sementara itu gerbang kota kecil itu pun kemudian sudah nampak dari kejauhan sehingga mereka mulai memperlambat derap kudanya.

“Paman” berkata yang paling muda di antara mereka, “aku mempunyai dugaan aneh kepada tiga orang yang terdahulu singgah di warung itu.”

“Dugaan apa?” bertanya yang lain.,

“Aku mengira bahwa mereka adalah ayah Mahendra dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.”

“Darimana kau menduga demikian ?”

“Sifat-sifat mereka yang dikatakan oleh pemilik warung itu. Tentu Mahisa Pukat yang telah menakut-nakuti orang-orang di warung itu dengan menyebutnyebut pisang yang terkelupas atau semacam itu.”

Kedua orang yang lain tersenyum. Salah seorang berkata, “Memang mungkin sekali. Tetapi kenapa mereka tiba-tiba berada di kota kecil itu?”

“Ayah adalah seorang penjual barang-barang perhiasan dan wesi aji. Mungkin beberapa sahabat ayah di kota kecil itu memesan berbagai bentuk keris atau mungkin barang-barang perhiasan emas dan intan. Bahkan ayah juga sering membawa batu-batu akik dan permata-permata yang lain.”

Yang lain Mengangguk-angguk.

“Paman” berkata yang muda, “Nama Mahisa Bungalan telah benar-benar dipertentangkan dengan orang-orang berilmu hitam.”

“Karena itu kau harus berhati-hati. Dan sebaiknya kau tidak mempergunakan nama itu disembarang tempat. Bukan berarti kau bersembunyi atau ingkar akan tanggung jawab. Tetapi sekedar untuk menghindari benturan-benturan yang tidak berarti agar usaha kita untuk menemukan orang-orang berilmu hitam itu dapat berhasil.”

“Dan apakah paman berdua juga akan mempergunakan nama lain ? Bukan lagi paman Witantra dan Mahisa Agni ?”

Keduanya mengerutkan keningnya. Sejenak kemudian Witantralah yang menjawab, “Agaknya demikian Mahisa Bungalan. Dengan tanpa dibebani nama-nama itu. kita akan dapat berbuat lebih banyak.”

“Baiklah paman” berkata Mahisa Bungalan, “tetapi dengan demikian, kemanakah kita akan langsung menuju ? Aku mengerti beberapa orang kawan ayah di kota itu. Tetapi dengan demikian aku tidak dapat menyembunyikan namaku dan juga sudah tentu bahwa aku adalah anak Mahendra akan segera diketahui orang.”

Mahisa Agni dan Witantra tidak segera dapat menjawab. Sejenak mereka mencoba merenungi, yang manakah yang sebaiknya mereka lakukan

Dengan ragu-ragu Witantra kemudian berkata, “Mahisa Bungalan. Bagaimanakah jika kita singgah kerumah salah seorang kawan ayahmu dan berterus terang, bahwa kita mempergukan nama lain dikota kecil itu justru untuk mengetahui perkembangan kota itu sepeninggalan ayahmu dan mungkin benar bahwa Linggadadi juga pernah datang kekota itu.”

Mahisa Bungalan ragu-ragu. Katanya, “Jika orang itu dapat diyakinkan, demi keamanannya sendiri, maka aku kira ia tidak akan berkeberatan.”

“Itulah yang meragukan”

“Tetapi mungkin dapat kita coba paman. Aku mengenal seorang kawan ayah yang cukup kaya dikota kecil itu.”

Mahisa Agni dan Witantra Mengangguk-angguk. Agaknya mereka sependapat dengan Mahisa Bungalan untuk mencoba menghubungi kawan Mahendra yang telah dikenal oleh Mahisa Bungalan itu.

Kedatangan mereka di kota kecil itu telah menarik perhatian beberapa orang. Demikian mereka memasuki pintu gerbang kota, beberapa orang telah mulai berbisik-bisik tentang mereka bertiga.

“Tiga orang pimpinan dari orang-orang berilmu hitam yang ingin membalas kematian kawan-kawannya” desis seseorang.

“Nampaknya bukan dari mereka. Tetapi entahlah, siapa tahu”

“Wajahnya nampaknya penuh dengan rahasia”

“Tetapi pengaruh wibawanya lain sekali dengan orang orang berilmu hitam yang terbunuh di pasar itu, yang justru mula-mula berusaha menakut-nakuti lawannya. Namun yang akhirnya justru lawannya telah melakukan kekejaman yang luar biasa.”

“Yang tidak ada bedanya dengan orang-orang berilmu hitam itu sendiri.”

Tidak seorang pun yang mengetahui siapakah mereka bertiga dan kenapa mereka datang ketempat mereka, yang baru-baru saja telah dikacaukan oleh peristiwa yang mengerikan itu.

Tetapi tiba-tiba saja seseorang yang berdiri termangu-mangu di pinggir jalan meloncat maju sambil melambaikan tangannya .”He, kau.”

Mahisa Bungalan terkejut. Orang itu adalah kawan ayahnya. Satu-satunya kawan ayahnya yang mengenalnya, bahwa Mahisa Bungalan adalah anak Mahendra. Sedang sahabat-sahabat dan langganan ayahnya yang lain tidak ada yang mengenalnya sebagai anak Mahendra. Jika ada orang lain yang dikenalnya, maka orang itu justru tidak mengetahuinya bahwa ialah Mahisa Bungalan anak Mahendra yang mereka kenal sebagai pedagang permata. Bahkan beberapa orang meskipun pernah mendengar nama Mahendra, namun mereka sama sekali tidak menghubungkan nama itu dengan Mahendra, yang mempunyai seorang anak laki yang bernama Mahisa Bungalan bergelar pembunuh orang berilmu hitam.

Mahisa Bungalan segera meloncat turun dari kudanya ke tika orang itu mulai menyapanya, “Kemana kau he ?”

“Ssst” desis Mahisa Bungalan, “jangan sebut namaku”

Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu sambil tersenyum ia berbisik, “Aku mengerti. Bukankah kau telah membunuh orang berilmu hitam di pasar itu ?”

“Bukan aku”

“He. Berita itu telah tersebar. Mahisa Bungalan dan Linggadadi.”

“Berita itu tidak benar. Aku baru datang hari ini. Bahkan aku sebenarnya ingin singgah kerumah paman. Aku datang bersama kedua pamanku.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian timbullah keinginannya untuk mengetahui ceritera Mahisa Bungalan tentang dirinya. Karena itu maka iapun berkata, “Baiklah. Singgahlah kerumahku. Aku akan segera pulang.”

“Apakah paman akan mempergunakan kudaku ?”

“Tidak. Aku akan cepat-cepat berjalan pulang. Kau dapat berkuda melalui pasar yang masih sepi. Sedang aku akan melintas jalan sempit itu.”

Mahisa Bungalan pun kemudian meneruskan perjalanannya melalui jalan-jalan di kota kecil itu. Beberapa orang masih saja mengawasinya. Apalagi ketika mereka bertiga melewati pasar yang sepi. Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu memandang mereka dengan cemas.

“Ki Anjas menyangka bahwa akulah yang telah membunuh orang-orang berilmu hitam itu.”

“Bagaimana ia dapat menyangka demikian?” bertanya Mahisa Agni.

“Ia tidak melihat sendiri. Tentu ia hanya mendengar orang-orang itu saling berceritera. Dan ia menduga bahwa yang di ceriterakan itu adalah aku. Jika ia telah berceritera serba sedikit tentang aku, mungkin aku tidak dapat bersembunyi lagi dikota kecil ini.”

Tetapi orang-orang yang melihat siapakah yang telah berkelahi di pasar itu justru akan yakin bahwa bukan kaulah orangnya yang telah membunuh orang-orang berilmu hitam itu.” sahut Witantra

“Kita akan melihat. manakah yang menguntungkan paman. Tetapi seandainya aku tidak dapat bersembunyi lagi apa boleh buat. Bukankah begitu paman ?”

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Aku tahu Bungalan, bahwa sebenarnya itulah yang kau inginkan. Dan akupun mengerti bahwa kau masih dengan mudah dibakar oleh gejolak darah mudamu.”

Mahisa Bungalan termenung sejenak. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Entahlah paman” Tetapi aku sudah berusaha untuk menahan diri, agar aku tidak terjerumus kedalam pilihan yang salah. Apalagi menghadapi orang berilmu hitam.”

Witantra dan Mahisa Agni Mengangguk-angguk. Namun masih nampak senyum di bibir mereka.

Demikianlah mereka pun berkuda di sepanjang jalan kota kecil yang tidak begitu ramai itu.

Namun dengan demikian, ternyata kehadiran mereka bertiga telah menumbuhkan persoalan yang bermacam-macam di dalam lingkungan hidup orang-orang yang sedang dicengkam oleh kecemasan itu. Rasa-rasanya bau darah di pasar itu masih belum lenyap. Dan kini mereka telah dikejutkan lagi oleh derap kaki-kaki kuda yang menyusuri kota mereka yang sebelumnya terasa tenang dan sepi.

Beberapa lama kemudian, maka Mahisa Bungalan pun menunjuk pada sebuah regol halaman rumah yang luas. Kata nya, “Itulah rumahnya.”

“Apakah kau sudah mengenalnya dengan baik ?”

“Belum begitu akrab. Tetapi ia adalah salah seorang langganan ayah yang dekat. Aku kira ia adalah Satu-satunya orang yang mengenal aku disini.”

“Baiklah. Tetapi kita harus tetap berhati-hati.”

Demikianlah mereka pun kemudian memasuki regol rumah Ki Anjas itu dengan ragu-ragu. Satu-satu mereka meloncat turun dari kuda mereka dan menuntunnya memasuki regol halaman yang luas itu.

Dengan tergesa-tergesa Ki Anjas pun menyambut mereka dihalaman. Kemudian mempersilahkan mereka naik kependapa setelah membersihkan kaki mereka di jambangan di ujung tangga.

Sejenak mereka saling memperkenalkan diri dan bertanya tentang keselamatan masing-masing- Baru kemudian Ki Anjas mulai bertanya kepada Mahisa Bungalan tentang peristiwa yang pernah terjadi di pasar itu.

“Aku sama sekali tidak mengerti Ki Anjas” jawab Mahisa Bungalan.

Berita yang tersebar di daerah ini mengatakan, bahwa salah seorang pembunuh itu menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan. Tetapi seseorang berbisik dipintu regol pasar, bahwa yang telah membunuh itu di antaranya bernama Linggadadi.”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya” Tentu ada orang yang mengaku namaku. Mungkin dengan sengaja untuk menumbuhkan benturan antara aku dan orang-orang berilmu hitam itu.”

“Mahisa Bungalan” berkata Ki Anjas, “aku sebenarnya sudah mengetahui bahwa ayahmu, yang sering membawa wesi aji dan batu akik itu bukan orang kebanyakan. Namanya justru pernah disebut-sebut dalam hubungannya dengan para Senapati prajurit di Singasari.”

Mahisa Agni dan Witantra menjadi berdebar-debar. Tetapi karena mereka telah memperkenalkan diri mereka tidak dengan nama mereka yang sebenarnya, maka mereka pun tidak berusaha mengalihkan pembicaraan.”

“Apakah Ki Anjas yakin, bahwa Mahendra yang sering di sebut-sebut bersama para Senapati itu adalah Mahendra ayahku ?”

“Ya.” kemudian Ki Anjas bergeser mendekat, seolah-olah ia ragu-ragu mengatakannya, “kau sangka aku tidak mempunvai dugaan yang pasti, bahwa dua orang adikmu yang pada saat ayahmu datang kekota ini ikut serta, adalah anak-anak muda yang luar biasa? Tidak seorang pun yang tahu, bahwa keduanya adalah anak Mahendra. Juga tidak banyak orang yang memperhatikan bahwa Mahendra sendiri lelah datang ke pasar itu. He, kau jangan menipu aku. Seorang dari mereka tentu Mahisa Bungalan.”

“Kesimpulan yang salah,” sahut Mahisa Bungalan, “Mahendra yang menjadi perwira cadangan di Singasari itu tentu bukan Mahendra ayahku yang kerjanya sehari-hari hanyalah berdagang batu akik.”

Ki Anjas tertawa. Katanya, “Jangan membohongi orang tua seperti aku. Hanya orang yang percaya kepada diri sendiri sajalah yang berani membawa perhiasan dan batu-batu berharga sepeti kecil penuh.”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi jika Ki Anjas sempat membawa seseorang yang melihat dengan mata kepala sendiri peristiwa di pasar itu tentu akan mengatakan bahwa ia tidak melihat aku di antara mereka.”

Ki Anjas mengerutkan keningnya.

“Kau berkata sebenarnya?”

“Aku tidak berbohong” jawab Mahisa Bungalan.

Ki Anjas memperhatikan kedua orang yang datang bersama Mahisa Bungalan itu satu persatu. Tetapi ia sama sekali tidak mengenal mereka sebagai Mahisa Agni dan Witantra, karena keduanya memperkenalkan dirinya dengan nama yang lain itu.

“Ah sudahlah” berkata Ki Anjas, “aku tidak mau di bingungkan oleh peristiwa yang sudah lewat. Nah, sekarang apakah keperluanmu datang kemari ?”

Mahisa Bungalan menjadi bingung sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Justru karena tersebar nama Mahisa Bungalan dan Linggadadi, pembunuh orang-orang berilmu hitam. Karena itu paman, aku mohon paman menyebutku dengan nama lain.”

“Kenapa?”

“Supaya usahaku menemukan kebenaran tentang peristiwa itu tidak terganggu oleh prasangka yang tidak dikehendaki.”

Ki Anjas termangu-mangu sejenak. Bahkan kemudian dipandanginya Mahisa Agni dan Witantra yang telah mempergunakan nama lain itu berganti-ganti, seolah-olah ia ingin mendapatkan penjelasan lebih banyak tentang keterangan Mahisa Bungalan.

Tetapi agaknya Mahisa Agni dan Witantra justru menundukkan kepalanya tanpa memberikan isyarat apapun juga.

“Mahisa Bungalan” berkata Ki Anjas, “jika pada suatu saat, orang-orang berilmu hitam itu datang lagi ke kota ini untuk mengusut sebab-sebab kematian kawan-kawannya, sedangkan pada suatu saat mereka mengenal bahwa kau adalah Mahisa Bungalan, maka apakah kau telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan itu dengan kedua kawanmu ini ?”

“Karena itu, aku tidak ingin disebut namaku paman.”

“Jika terpaksa. Aku mengatakannya jika secara kebetulan atau dengan cara apapun juga, mereka mengenalmu, apakah kedua orang kawanmu ini dapat kau bawa untuk menghadapi segala kemungkinan? Menilik sikap dan tubuhnya, mereka cukup meyakinkan. Tetapi sebenarnya mereka sudah terlalu tua untuk menghadapi orang-orang berilmu hitam itu.”

Mahisa Agni menarik nafas, sedang Witantra bergeser setapak,

“Apakah paman dapat mengatakan serba sedikit tentang orang berilmu hitam itu?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Aku tidak melihat mereka. Tetapi menurut orang-orang yang menyaksikan, perkelahian itu ternyata sangat dahsyatnya. Sungguh di luar kemampuan mereka untuk menilai.” Namun Ki Anjas tiba-tiba saja terdiam. Dipandanginya Mahisa Agni dan Witantra sambil berdesis, “He, apakah salah seorang kawanmu ini bernama Linggadadi?”

“Bukan paman. Bukankah mereka sudah memperkenalkan dirinya. Yang seorang ini benar-benar bernama Lumban dan yang lain paman Werdi. Bukankah nama mereka bukan Linggadadi.”

“Ya” sahut Ki Anjas, “menurut orang-orang yang menyaksikan, yang seorang sudah tua, tetapi yang dua orang masih muda.”

“Dan sekali lagi aku ingin memastikan bahwa dugaan itu sama sekali tidak mendasar. Sebaiknya paman memanggil seseorang yang menyaksikan perkelahian itu dan biarlah orang itu mengatakan bahwa ketiga orang itu sama sekali bukan kami bertiga atau salah satu di antara kami.”

Ki Anjas mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mulai percaya kepadamu. Dan sekarang, apakah yang akan kau lakukan?”

“Paman,“ berkata Mahisa Bungalan, “apakah aku boleh bermalam di rumah paman untuk beberapa hari ?”

Ki Anjas menjadi ragu-ragu. Jika kemudian ternyata orang-orang berilmu hitam itu mengetahui, bahwa Mahisa Bungalan tinggal bersamanya, maka rumahnya akan dapat menjadi sasaran kemarahan orang-orang berilmu hitam itu. Tetapi menurut perhitungannya, jika benar-benar Mahisa Bungalan menyamarkan namanya, maka tentu tidak akan ada orang yang mengetahui bahwa yang tinggal bersamanya itu adalah benar-benar Mahisa Bungalan. Apa lagi sementara Mahisa Bungalan berada di rumahnya, maka tentu rumahnya akan menjadi aman dan tidak akan terganggu meskipun oleh orang-orang berilmu hitam. Karena yang tinggal di rumahnya itu adalah Mahisa Bungalan, yang mendapat gelar, dikehendaki atau tidak, pembunuh orang-orang berilmu hitam.

Mahisa Bungalan menunggu jawaban Ki Anjas dengan ragu-ragu. Jika Ki Anjas berkeberatan, maka ia tidak mempunyai gambaran kemana lagi ia akan mencari tempat untuk bermalam. Apalagi beberapa hari.

“Jika terpaksa, kami akan bermalam dipasar itu” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya, “tetapi dengan demikian kami akan dapat diusir oleh para peronda di malam hari.”

Baru sejenak kemudian Ki Anjas Mengangguk-angguk sambil berkata, “Baiklah Mahisa Bungalan. Aku mempunyai pertimbangan yang bertentangan. Kadang-Kadang aku menjadi cemas, bahwa jika samaran namamu itu pada suatu saat terbuka, maka rumahku akan dapat dijadikan debu oleh orang-orang berilmu hitam, termasuk keluargaku. Tetapi jika samaranmu rapat, maka aku tidak akan mengalami apapun juga.”

“Aku akan berusaha untuk merahasiakan diriku sebaik-baiknya paman.”

“Kau tahu, taruhannya amat mahal bagiku.”

“Aku tahu. Dan karena itulah aku pun mohon, agar paman tidak keliru menyebut namaku.”

“Nah, dengan nama siapakah aku harus memanggilmu ?”

“Terserah kepada paman. Nama yang manakah yang paling baik buatku.”

Ki Anjas termangu-mangu sejenak, lalu, “Namamu Singkir. Jangan lupa.”

“Baik paman. Namaku sekarang adalah Singkir. Nama yang baik sekali bagiku.”

“Kau adalah kemanakanku. Dan kedua kawanmu ini adalah sahabatku. Dengan demikian, maka tidak akan timbul kecurigaan apapun di antara para tetangga dan terlebih-lebih jika tanpa kita ketahui, hadir orang-orang berilmu hitam itu.”

“Baik paman. Aku akan selalu ingat.”

“Nah, jika demikian marilah, aku akan menunjukkan dimana kau harus tidur. Ingat keluargaku sendiri harus tidak boleh mengetahui namamu yang sebenarnya. Apalagi para pembantu Jika salah seorang saja dari mereka mendengar namamu maka mereka akan dengan bangga mengatakan kepada semua orang yang dikenalnya, bahwa Mahisa Bungalan, pembunuh orang berilmu hitam itu berada di sini.”

Demikianlah, maka Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan mendapat tempatnya di dalam gandok. Mereka mendapat kesempatan untuk bermalam di rumah itu beberapa hari. Tetapi dengan pesan, agar tidak seorang pun yang mengetahui siapakah mereka itu, justru yang dikehendaki oleh Mahisa Bungalan sendiri.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...