BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-21-02
Demikianlah bagi rakyat Kesatria Putih masih tetap merupakan teka-teki. Ia berada di segala tempat dan di segala waktu. Seolah-olah Kesatria Putih dapat mengelilingi seluruh Singasari dalam waktu sekejap.
Namun dalam pakaian Kesatria Putih, Anusapati dapat keluar masuk pintu gerbang istana dengan leluasa. Kini tidak seorang-pun yang berani menegurnya. Bahkan setiap Kesatria Putih lewat pintu gerbang istana, maka hati para prajurit menjadi tenang, karena para penjahat pasti akan menjauh dan Singasari menjadi makin tenteram.
Dalam pada itu kebesaran nama Kesatria Putih semakin hari menjadi semakin menambat hati rakyat Singasari. Hampir tidak masuk akal, bahwa Anusapati dalam waktu hampir berbareng telah menangani dan menghancurkan dua kelompok penjahat di tempat yang berbeda-beda.
Tetapi tidak seorang-pun yang memperhatikan, bekas tangan Kesatria Putih. Hanya Mahisa Agni lah yang dengan teliti mengikutinya. Di dalam hati ia masih menyebut perbedaan akibat dari tindakan Kesatria Putih.
“Dibagian Utara kota Singasari. Kesatria Putih jarang sekali membinasakan lawannya, tetapi dibagian Barat, hampir setiap penjahat tidak lolos dari ujung pedangnya.”
Dengan demikian, Mahisa Agni merasa perlu untuk menertibkan tindakan Kesatria Putih sebelum orang lain mencurigainya juga, karena sebenarnya bukan saja Anusapati, tetapi ia masih juga dibantu oleh orang-orang yang sebelumnya telah mengenakan pakaian Kesatria Putih diatas kudanya yang putih.
“Untunglah, bahwa Anusapati sudah pantas dilepaskan dalam bentuk Kesatria Putih,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya pula, “meskipun Anusapati masih belum menyamai Witantra. Kuda Sempana dan Mahendra, tetapi dengan bekal yang ada, ia cukup mampu menghadapi kejahatan di daerah padesan.”
Sejalan dengan memanjatnya nama Kesatria Putih yang dikenal sebagai Putera Mahkota, maka hati Sri Rajasa-pun menjadi semakin kecut. Kadang-kadang ia menjadi hampir berputus asa. Ia mengakui, betapa cerahnya hati Mahisa Agni melawan permainannya.
“Aku lengah menghadapinya karena ia berada jauh dari istana. Ternyata di tempat yang jauh itu, ia masih mampu melakukan permainan yang matang,” katanya setiap kali kepada diri sendiri.
Apalagi semakin lama nama Tohjaya semakin tidak pernah diucapkan lagi oleh rakyat Singasari di luar istana, karena Tohjaya hampir tidak pernah mendapat kesempatan apapun. Setelah mereka mengetahui bahwa Kesatria Putih itu adalah Anusapati, maka mereka mulai ragu-ragu mempergunakan prajurit-prajurit sebagai umpan yang akan dipergunakan untuk memanjatkan nama Tohjaya.
Meskipun demikian, beberapa orang perwira di puncak pimpinan prajurit Singasari, masih berhasil dikuasainya dengan berbagai macam janji dan kesempatan.
Namun bagi Sri Rajasa, semuanya itu tidak akan banyak memberi harapan.
Bahkan di saat-saat ia duduk sendiri di belakang bangsalnya, jika matahari sudah tenggelam, kadang-kadang Sri Rajasa tidak dapat menghindarkan diri dari kenangan masa lampaunya. Bahkan kadang-kadang kenangan itu bagaikan hantu yang merayap mengintainya dan menerkamnya setiap saat.
“Apakah dewa-dewa sudah mulai melepaskan aku sendiri?” katanya kepada diri sendiri.
Sekilas terkenang kata-kata Empu Purwa di Padang Karautan, “Kembalilah kepada Yang Maha Agung.”
Dan Ken Arok yang saat itu menghantui Padang Karautan bertanya kepada diri sendiri, “Siapakah Yang Maha Agung itu?”
Terkenanglah olehnya bagaimana ia dikejar-kejar oleh orang-orang padesan di daerah Kemundungan. Karena kebingungan ia segera memanjat pohon tal. Tetapi orang-orang itu berusaha menebang pohon tal tempat ia memanjat. Di saat yang gawat itulah ia mendengar suara di angkasa, “Ambil daun tal, pakailah sebagai sayapmu kiri dan kanan.”
Dan Ken Arok selamatlah menyeberangi sungai dengan sayap daun tal.
“Itu adalah suara Yang Maha Agung,” desisnya.
Saat itu, ia ternyata dekat sekali dengan Yang Maha Agung. Beberapa kali ia menjumpai keajaiban yang tidak dimengertinya sendiri, sehingga sampai saat ini ia masih bertanya, “Ilmu apakah yang sebenarnya aku miliki sekarang, sehingga aku dapat mengalahkan Maharaja di Kediri?”
“Tetapi apakah kini Yang Maha Agung itu masih dekat dengan aku?” pertanyaan itu mulai mengganggunya.
Bahkan kadang-kadang di dalam kegelapan. Sri Rajasa melihat bayangan seseorang yang duduk bersimpuh sambil memegang dadanya yang terluka. Namun kadang-kadang bayangan itu mengangkat tangannya yang menuding wajahnya, “Kau membunuh aku Ken Arok.”
“Tidak, tidak,” Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu berdesis sambil menutup wajahnya. Bayangan itu adalah bayangan Empu Gandring yang telah dibunuhnya dengan keris yang dibuat oleh Empu Gandring itu sendiri.
Ketika bayangan itu lenyap, hadirlah bayangan yang lain, seorang anak muda yang berwajah riang. Tetapi wajah itu rasa-rasanya bagaikan menyala, “Kau memperdaya aku Ken Arok. Aku tidak pernah bersalah. Aku tidak pernah membunuh Akuwu Tunggul Ametung. Dan ketika bayangan yang kemudian hadir, hatinya menjadi semakin kecut. Dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung datang sambil menggeram, “Akan datang saatnya aku menuntut balas Ken Arok.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menjadi semakin kecut. Bayangan Tunggul Ametung itu semakin lama menjadi semakin jelas.
Bukan, bukan wajah Tunggul Ametung, tetapi wajah itu adalah wajah Anusapati. Wajah Kesatria Putih yang lahir dari Ken Dedes oleh tetesan darah Akuwu yang telah dibunuhnya itu.
Terasa kengerian yang sangat mencekam hati Sri Rajasa. Wajah demi wajah dari orang yang telah dibunuhnya silih berganti membayanginya, bercampur baur dengan wajah Anusapati, bahkan kemudian wajah Mahisa Agni.
“Mahisa Agni,” tiba-tiba Sri Rajasa menggeram.
Bagi Sri Rajasa ternyata Mahisa Agni lah kini orang yang paling berbahaya. Tanpa Mahisa Agni, Anusapati sama sekali tidak berarti baginya.
Tetapi Sri Rajasa untuk sementara tidak akan dapat berbuat banyak terhadap Mahisa Agni, meskipun Sri Rajasa yakin bahwa Mahisa Agni tidak akan berhenti sampai sekian. Kemenangan yang pernah dicapainya akan mendorongnya untuk berbuat lebih banyak lagi.
Bagi Mahisa Agni perjuangan itu pasti dianggapnya sebagai kewajiban. Ia telah kehilangan pamannya, Empu Gandring, suami Ken Dedes, dan bahkan terjerumus kedalam perang tanding melawan Witantra untuk menetapkan kekalahan Kebo Ijo.
“Mahisa Agni pasti sudah menemukan kebenaran dari segala peristiwa yang terjadi,” berkata Sri Rajasa kepada diri sendiri.
Dan tiba-tiba saja Sri Rajasa-pun teringat pula kepada Witantra dan saudara seperguruannya, Mahendra.
Ingatan yang tumbuh dihati Sri Rajasa itu membuatnya semakin gelisah. Terapi ia sudah melangkah. Tingkat demi tingkat dari suatu perjuangan yang berat sudah dilaluinya. Yang. kini ia sudah sampai pada titik perjuangan yang terakhir, mewariskan kekuasaan yang dibangunnya selama ini kepada keturunannya, bukan keturunannya Tunggul Ametung. Meskipun ada juga putra-putranya yang lahir dari Ken Dedes, tapi Sri Rajasa menganggapnya bahwa Ken Dedes pernah melahirkan anak Tunggul Ametung. Tapi kegagalannya menampilkan Tohjaya menjadi pahlawan terbesar di antara putra-putranya membuatnya kehilangan arah. Semua rencananya pecah bersama dengan kekalahan Tohjaya di arena melawan Kesatria Putih yang ternyata adalah Anusapati.
“Aku harus mulai dari permulaan lagi,” berkata Sri Rajasa di dalam hatinya. Tapi ia belum tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Namun yang terlintas didalam angan-angannya, Mahisa Agni harus segera kembali ke Kediri sehingga kesempatannya bertemu dan berbincang dengan Anusapati menjadi sangat terbatas.
Demikianlah maka di hari berikutnya jatuhlah perintah bahwa Mahisa Agni harus segera meninggalkan istana Singasari.
Mahisa Agni-pun sebenarnya telah menduga bahwa ia harus segera meninggalkan Singasari untuk dijauhkan dari putra Mahkota. Tetapi jalan sudah terbuka meskipun justru bahaya menjadi semakin besar bagi Anusapati. Namun bertindak sesuatu atas Anusapati yang dikenal oleh rakyat Singasari sebagai kesatria Putih memerlukan pertanggungan yang besar.
Meskipun demikian Mahisa Agni tidak boleh lengah sebelum ia berangkat meninggalkan istana ia banyak sekali memberikan pesan kepada Anusapati.
Tetapi satu hal yang tidak dikatakannya, bahwa Anusapati sebenarnya bukan putera Sri Rajasa.
“Paman,” Anusapati mendesak, “apakah sebabnya, aku harus menempuh jalan yang aneh untuk mendapatkan tempat di hati rakyat Singasari. Dan kenapa aku rasa-rasanya menjadi semakin jauh dari Ayahanda Sri Rajasa?”
“Tidak ada persoalan apa-pun yang dapat menjadi alasan itu Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “jika sekarang kau menghadapi kenyataan itu, barangkali, karena ibumu seorang yang lebih banyak menyimpan perasaan. Seorang yang tidak ingin melontarkan diri keatas awang-awang, melampaui dan bahkan jika perlu beralaskan orang lain. Tetapi sifat-sifat Ken Umang memang tidak terpuji. Itulah agaknya yang menyebabkan ada perbedaan antara kau dan Tohjaya dihadapan Sri Rajasa. Tetapi percayalah bahwa hal itu tidak akan langgeng. Akhirnya akan tampak dan terbukti, mana yang baik dan mana yang tidak.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
“Jalanmu sudah terbuka. Teruskan amalmu sebagai Kesatria Putih. Kau harus lebih banyak keluar dari istana. Jangan sampai terjadi, Kesatria Putih melakukan tindakan di suatu tempat tetapi kau berada di dalam istana. Jika demikian pasti akan menimbulkan pertanyaan. Satu kali dua kali mungkin tidak akan diketahui, tetapi perasaan Sri Rajasa yang tajam, dan usaha Tohjaya untuk mencari kelemahanmu, akan memaksa mereka mencari setiap kesalahan yang mungkin terjadi.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
“Pada suatu saat Anusapati, untuk tidak menimbulkan kesalahan, sebaiknya kau sendirilah yang akan menjadi Kesatria Putih. Kau seorang diri tanpa orang lain. Meskipun kegiatan Kesatria Putih akan berkurang, tetapi lubang-lubang yang dapat membuat kau terperosok kedalamnya menjadi semakin kecil.”
“Ya, paman.”
“Sementara itu, untuk keselamatanmu, setiap kali salah seorang dari orang-orang tua itu akan mengawasimu dari kejauhan seperti yang juga sering terjadi. Menghadapi kejahatan yang besar dan dilakukan oleh penjahat-penjahat yang kuat, kau tidak boleh berjuang seorang diri. Satu atau dua orang akan membantumu. Tetapi hanya seorang sajalah yang boleh berperan sebagai Kesatria Putih.”
“Tetapi bagaimana aku dapat berhubungan dengan mereka paman.”
“Merekalah yang akan menghubungi kau setiap kali. Sumekar dapat menjadi penghubung yang baik pula.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, jagalah dirimu baik-baik. Tetapi jangan sekedar tenggelam dalam tugas Kesatria Putih. Kau harus menyempurnakan ilmumu sebaik-baiknya. Jika pada suatu saat kau menjumpai bahaya dari mana-pun datangnya, kau benar-benar sudah menjadi sempurna dan mampu mempertahankan dirimu. Orang-orang seperti Kiai Kisi masih akan berkeliaran mencarimu. Suatu saat akan datang orang yang jauh lebih dari kiai Kisi, karena ternyata Sri Rajasa kini pasti sudah memperhitungkan, bahwa kau sendirilah yang telah membunuh Kiai Kisi itu.”
Demikianlah, maka pesan Mahisa Agni itu selalu diingat oleh Anusapati. Ia harus berhati-hati. Baik di dalam lingkungan hidupnya sehari-hari, mau-pun apabila ia pergi ke luar istana sebagai Kesatria Putih. Namun seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, Anusapati masih selalu memerlukan waktu untuk menyempurnakan ilmunya. Setiap hari ia singgah di tempat yang terasing untuk mematangkan ilmu yang sudah dimilikinya.
Namun ternyata ada beban baru yang harus dilakukannya. Mahisa Wonga Teleng berkeras untuk mempelajari ilmu daripadanya.
“Aku jauh ketinggalan dari saudara-saudaraku,” berkata Mahisa Wonga Teleng. “Tentu ada kesengajaan Ayahanda Sri Rajasa untuk membedakan aku dengan saudara-saudaraku yang lahir dari ibunda Ken Umang.”
“Tidak Mahisa Wonga Teleng,” jawab Anusapati, “tidak ada perbedaan apa-apa. Itu hanyalah perasaan kita.” Anusapati mencoba menirukan Mahisa Agni setiap kali ia mengeluh. Dan kini ia mencoba menenteramkan hati adiknya itu.
Mahisa Wonga Teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun Anusapati sendiri melihat kenyataan itu. Adalah tidak mustahil, terdorong oleh sikap Tohjaya maka adik-adiknya yang lahir dari Ken Umang telah membenci Mahisa Wonga Teleng karena ia adalah adik Anusapati.
“Kakanda Tohjaya juga mengajari adik-adiknya yang lahir dari ibunda Ken Umang. Apa salahnya aku minta Kakanda Anusapati melatih aku?”
“Baiklah.” berkata Anusapati, “kita mencari tempat yang baik. Di pagi-pagi benar kita mulai berlatih sampai matahari terbit.”
“Waktunya hanya pendek sekali.” sahut Mahisa Wonga Teleng, “bagaimana kalau sampai matahari sepenggalah?”
Anusapati tersenyum. Katanya, “Bukankah kau sudah mempunyai seorang guru yang mengajarimu bersama-sama dengan adinda yang lain.”
“Tetapi tidak lagi bagiku setelah aku kawin. Seperti juga Kakanda Anusapati tidak mendapat kesempatan berguru lagi. Untunglah ada Pamanda Mahisa Agni. Jika aku tahu sebelumnya, aku pasti ikut berlatih pada paman Mahisa Agni. Akulah yang barangkali bernasib jelek. Aku tidak mendapat perhatian dari Pamanda Mahisa Agni, dan tidak terhitung oleh Ramanda Sri Rajasa.”
“Jangan begitu. Tidak ada perbedaan. Baik pada paman Mahisa Agni, mau-pun pada Ayahanda Sri Rajasa.”
“Entahlah,” sahut Mahisa Wonga Teleng, “tetapi sekarang aku minta kepada Kakanda Anusapati, ajari aku meskipun terlambat. Aku menjadi semakin tua, dan anakku menjadi semakin besar.”
Anusapati tidak dapat menolak permintaan adiknya. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Wonga Teleng belum menjadi tua. Ia masih sangat muda. Meskipun anaknya bertambah besar, tetapi saat perkawinannyalah yang terlampau maju. Anusapati tidak mengerti, kenapa Ayahanda Sri Rajasa berlaku demikian. Apakah tujuannya, karena ternyata sikap Ayahanda Sri Rajasa-pun jauh lebih baik pada Mahisa Wonga Teleng daripada kepada, dirinya sendiri.
Tidak seperti pada saat Anusapati mempelajari olah kanuragan dari pamannya, Mahisa Wonga Teleng tidak perlu bersembunyi-sembunyi. Ternyata ia berani menghadapi tantangan di sekitarnya. Dan ternyata tidak ada seorang-pun yang berani merintanginya, apalagi gurunya adalah Kesatria Putih.
Namun dalam pada itu, sebenarnya Tohjaya sama sekali masih belum mengakui kemenangan Anusapati daripadanya. Memang Anusapati dapat mengalahkannya dalam permainan sodoran di arena. Tetapi itu tidak berarti bahwa Anusapati dapat mengalahkannya apabila benar-benar mereka harus berperang tanding.
Tetapi Tohjaya tidak berani mencobanya. Ia masih belum mengetahui dengan pasti, kemampuan yang sebenarnya dimiliki oleh Anusapati.
“Tuanku,” guru Tohjaya yang siang dan malam memikirkan cara untuk melenyapkan Kesatria Putih, sejak ia masih belum mengenakan bentuknya itu, berkata kepada muridnya, “adalah suatu keharusan untuk melenyapkan Kesatria Putih. Aku rasa kita tidak akan dapat bertindak atasnya. Jika kita memberikan beban ini kepada salah seorang di antara kita, atau setidak-tidaknya orang yang ada dilingkungan kita, jika orang itu tidak berhasil, maka akan sangat berbahaya akibatnya bagi kita. Untunglah bahwa sampai saat ini, usaha kita belum dapat diketahuinya dengan pasti.”
Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi gurunya menjadi ragu-ragu sendiri. Terbayang di dalam angan-angannya, seseorang berkerudung hitam telah memancingnya dan melibatnya dalam perkalahian. Ketika ia merasa, bahwa ia akan berhasil membunuh orang itu, rahasia yang disimpannya terlanjur dikatakannya.
“Apakah orang itu juga Anusapati?” katanya didalam hati, “Jika orang itu Putera Mahkota, kenapa ia masih tetap berdiam diri sampai sekarang?”
Hal itu ternyata sangat membingungkan sekali. Menurut pengamatannya, bentuk tubuhnya dan sikap terjangnya, orang itu bukan Putera Mahkota. Tetapi siapa?
Orang itu sama sekali tidak menduga, bahwa di halaman istana itu ada seorang juru taman yang memiliki kemampuan seperti Kesatria Putih dan seperti orang-orang berkerudung yang pernah dikenal di istana Singasari.
“Jadi bagaimana maksudmu?” bertanya Tohjaya kemudian.
“Kita minta pertolongan seseorang di luar lingkungan kita.”
Tohjaya mengerutkan keningnya, namun kemudian ia berkata lemah, “Kau pernah gagal. Kiai Kisi tidak dapat berbuat apa-apa. Bukankah kau pernah mengatakannya meskipun kau tidak mengajak aku berbicara ketika kau merencanakan? Dan bukankah ayah pernah marah kepadamu?”
“Tetapi keadaannya sekarang berbeda. Kita tidak membenturkan orang itu langsung kepada Putera Mahkota, tetapi kepada Kesatria Putih.”
“Apa bedanya? Setiap orang tahu bahwa Kesatria Putih adalah Kakanda Anusapati.”
“Tuanku,” berkata Penasehat Sri Rajasa itu, “hamba mempunyai seorang sahabat. Seorang sakti yang bertapa di lereng Gunung Semeru.”
“Jangan mengigau. Kita tidak tahu kekuatan yang sebenarnya tersimpan di dalam diri Kakanda Anusapati.” potong Tohjaya, “sedangkan jika pertapa itu orang yang putih, ia pasti tidak akan bersedia memenuhi keinginan itu.”
“Orang itu adalah kakak seperguruan Kiai Kisi.”
“Tidak ada gunanya. Ilmunya tidak akan jauh lebih tinggi dari Kiai Kisi.”
“Tentu dengan cara yang khusus. Ia mempunyai beberapa orang murid.”
“Kesatria Putih dijebak, kemudian dikerubut bersama-sama?”
“Ya.”
“Kakanda Anusapati bukan seorang yang bodoh. Ia pasti mempunyai perhitungan tersendiri.”
“Biarlah mereka menjadikan dirinya penjahat kecil yang mengotori daerah Singasari. Kesatria Putih pasti akan datang mencarinya.”
“Seperti beberapa orang prajurit itu? Mereka dimusnakan oleh Kesatria Putih.”
“Cecurut-cecurut yang tidak berarti itu. Kita telah salah hitung. Tetapi kali ini hamba akan berhati-hati. Jebakan ini harus mengena. Kalau tidak, kita memang akan menjumpai kesulitan. Tetapi betapa-pun kuatnya Kesatria Putih, tetapi seorang diri ia tidak akan dapat mengalahkan orang itu beserta beberapa orang muridnya. Apalagi dendam yang ada di dalam dirinya kita hembus semakin besar.”
Tohjaya merenung sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Terserah kepada ayahanda. Aku tidak dapat mengambil kesimpulan.”
Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak yakin kalau ayahanda memperkenankan.”
“Mungkin ayahanda tidak menghendaki kematian Kesatria Putih. Meskipun ayah hendak menyingkirkannya, tetapi bukan membunuhnya.”
Penasehat Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia masih belum mengatakan, bahwa Anusapati bukan saudara Tohjaya. Sama sekali bukan, karena mereka tidak seayah dan tidak seibu.”
Sejenak keduanya saling berdiam diri. Sebenarnya bagi Tohjaya, Anusapati memang lebih baik disingkirkan sama sekali, bukan saja dari kedudukannya sebagai Putera Mahkota, tetapi untuk seterusnya, sehingga ia tidak akan dapat mengganggunya lagi kapan-pun juga.
“Tetapi aku kira ayahanda bersikap lain,” berkata Tohjaya didalam hatinya, “apalagi setelah ayahanda tahu, bahwa Kesatria Putih adalah Kakanda Anusapati. Bagaimana-pun juga kematian kakanda Kesatria Putih akan sangat berpengaruh pada pemerintahan Singasari kelak. Ayahanda pasti akan terpaksa ikut berduka karena ibunda Permaisuri berduka, meskipun seandainya kematian Kesatria Putih itu dikehendaki oleh ayahanda. Setelah itu maka untuk mengangkat seorang Putera Mahkota pasti akan menimbulkan persoalan tersendiri pula. Aku yakin bahwa ayahanda akan memilih aku. Tetapi adalah sulit sekali untuk menembus ketentuan yang berlaku, bahwa Putera Mahkota adalah putera seorang Permaisuri.”
Tohjaya menarik nafas dalam-dalam.
“Kematian itu dapat ditempuh,” berkata Tohjaya pula di dalam hatinya, “ayahanda adalah seorang Maharaja yang berkuasa. Kata-katanya adalah ketentuan yang tidak dapat dibantah mengatasi segala ketentuan yang sudah ada. Selagi ayahanda masih ada, tidak akan ada seorang-pun yang berani menentang keputusannya.”
Namun segera terlintas dikepalanya, wajah seorang Senapati Singasari yang tidak ada duanya, yang bersama-sama Sri Rajasa telah mengalahkan Kediri. Mahisa Agni.
“Orang itulah yang seharusnya disingkirkan,” geram Tohjaya tiba-tiba.
“Siapa tuanku? “ gurunya itu bertanya.
“O,” Tohjaya baru sadar, bahwa ia sedang dihanyutkan oleh angan-angannya.
“Siapakah yang seharusnya disingkirkan tuanku?”
Tohjaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Semua rencana rusak oleh Pamanda Mahisa Agni.”
“Ya tuanku. Ternyata Mahisa Agni adalah seorang yang bukan saja memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni, tetapi ia memiliki kemampuan berpikir yang tidak terduga-duga. Anak padesan itu hampir berhasil merusakkan seluruh rencana tuanku Sri Rajasa. Karena itu, kita harus bersikap lebih keras lagi. Ayahanda tuan memilih jalan yang paling lembut untuk mencapai maksudnya. Namun ternyata Mahisa Agni adalah seorang yang sangat licik.”
“Kau nasehatkan kepada ayahanda. Jika mungkin mengambil jalan kekerasan meskipun ayahanda pernah tidak menyetujuinya. Tetapi saat itu, jalan masih terbuka dan ayahanda masih belum mengetahui betapa licik lawannya.”
“Hamba akan mencoba. Tetapi sebelum ayahanda memutuskan, kita memang tidak akan dapat berbuat apa-apa,” berkata gurunya.
“Aku menunggu, meskipun aku hampir tidak sabar.”
Demikianlah guru Tohjaya yang juga menjadi penasehat Sri Rajasa itu mencoba untuk mendorong Sri Rajasa mempergunakan kekerasan di dalam usahanya menyingkirkan Kesatria Putih.
“Kau memang bodoh sekali,” berkata Sri Rajasa, “apakah kau masih belum jera atas kegagalanmu itu?”
“Tetapi kali ini jalan kita lebih lapang tuanku. Kesatria Putih adalah musuh setiap penjahat. Jika terjadi sesuatu atas Kesatria Putih, maka tidak seorang-pun yang dapat dituntut. Berbeda dengan Putera Mahkota di dalam sebuah pasukan. Hamba memang terlampau tergesa-gesa waktu itu.”
“Bagaimana dengan Tohjaya?”
“Tuanku Tohjaya hampir tidak sabar menunggu.”
“Apakah kau mengatakan kepadanya, siapakah Anusapati sebenarnya dan hubungan antara kedua anak-anak itu.”
“Tidak tuanku.”
“Kau tidak berdusta?”
“Tidak tuanku.”
Sri Rajasa justru terdiam. Tiba-tiba saja ia merenung. “Bagaimanakah pendapat tuanku?” bertanya penasehatnya.
Sri Rajasa tidak segera menjawab. Tetapi yang terlintas di angan-angannya justru persoalan yang sama sekali menyimpang dari pertanyaan penasehatnya.
Tohjaya sampai hati menjatuhkan pilihan, menyingkirkan Anusapati. Bukan karena Sri Rajasa terlampau sayang kepada Anusapati tetapi ia sedang merenungi watak puteranya. Apalagi karena Tohjaya tidak tahu, hubungan yang sebenarnya antara ia dan Anusapati itu.
“Seharusnya ia menganggap Anusapati sebagai kakaknya. Dan ia sampai hati untuk melenyapkan kakaknya itu,” berkata Sri Rajasa di dalam hatinya. Sekilas terbayang segala macam tingkah lakunya semasa ia masih muda. Petualangan, kejahatan, bahkan pembunuhan dan perkosaan telah dilakukannya. Apakah sifat dan watak itu menurun kepada puteranya? Ditambah dengan sifat-sifat Ken Umang yang tamak dan sombong.”
Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu memejamkan matanya. Dan bayangan-bayangan itu justru menjadi semakin jelas. Terlintas dalam angan-angannya itu, bagaimana ia menemukan Ken Umang di hutan perburuan. Bagaimana gadis itu menjeratnya dengan menyerahkan dirinya sendiri.
Gabungan dari sifat-sifat yang hitam itu kini tampak pada puteranya.
“Apakah anak-anakku yang lain juga bersifat seperti itu?” ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi suatu kenyataan bahwa Mahisa Wonga Teleng, memiliki sifat-sifat yang lain dari Tohjaya, justru karena ia lahir dari ibu yang lain.
“Apakah sifat itu menurun ataukah justru karena tuntunan yang diterimanya dari ibunyalah yang salah?” bertanya Ken Arok kepada dirinya sendiri pula.
Ternyata pertanyaan-pertanyaan itu telah membuat Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu menjadi termangu-mangu. Kesadaran tentang tingkah lakunya di masa mudanya, membuat ia kini bersedih atas kelakuan puteranya.
Namun tiba-tiba terbayang dendam yang membara di wajah Anusapati. Seakan-akan wajah itu memancarkan sorot mata Tunggal Ametung. Karena itu maka sambil menggeretakkan giginya Sri Rajasa menggeram di dalam dadanya, “Ia harus dibunuh.”
Saat-saat yang demikian menegangkan, membuat Sri Rajasa bagaikan kehilangan akal. Rasa-rasanya ia berada di dalam suatu keadaan sesaat sebelum ia menghunjamkan kerisnya di dada Empu Gandring dan juga di dada Akuwu Tunggul Ametung. Ragu-ragu, bimbang dan segala macam perasaan bercampur-baur.
“Semuanya sudah terlanjur. Aku sudah mengorbankan, beberapa nyawa dan orang-orang yang terlalu baik kepadaku. Sekarang korban yang jatuh itu tidak boleh sia-sia, keturunan Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi lah yang harus berkuasa di Singasari,” katanya kepada diri sendiri.
Penasehatnya masih duduk sambil menundukkan kepalanya dihadapannya ia menunggu dengan sabar, keputusan yang akan diambil oleh Ssi Rajasa tentang Anusapati.
Namun tiba-tiba saja Sri Rajasa itu berkata, “kita selesaikan dahulu Mahisa Agni. Itu adalah sumber kegagalan-kegagalanku menghadapi Anusapati. Setelah Mahisa Agni lenyap, kita akan dapat berbuat apa saja.”
Penasehat menjadi tegang sejenak. Ia tidak menduga bahwa Mahisa Agni yang menjadi pusat perhatian Sri Rajasa.
“Kematian Mahisa Agni tidak akan banyak menimbulkan persoalan padaku. Aku tidak akan dibingungkan tentang jabatan Putera Mahkota untuk sementara, sebelum aku menemukan jalan. Dan kesalahan atas kematian Mahisa Agni dapat aku bebankan kepada orang-orang Kediri. Ternyata mereka telah membunuh wakil Mahkota di Kediri.”
Penasehat Sri Rajasa itu menarik nafas dalam-dalam, “Soalnya, apakah orang yang kau katakan mempunyai kemampuan untuk melakukannya? Aku kira Mahisa Agni tidak akan menduga bahwa hal serupa itu dapat terjadi atasnya. Orang-orang itu harus memasuki istananya tanpa diketahui oleh para penjaga. Mereka harus menyerang Mahisa Agni dengan serta merta. Jangan hanya satu dua orang. Ambillah tiga atau empat orang yang setingkat. Aku dapat memberikan apa saja yang diminta. Hanya dengan demikian Mahisa Agni akan dapat terbunuh.”
“Hamba tidak dapat mengatakannya tuanku. Apakah orang itu mampu mengalahkan Mahisa Agni.”
“Jangan sendiri.”
“Hamba juga belum tahu. apakah ada kawan-kawannya atau saudara-saudara seperguruannya yang dapat melakukannya.”
“Cobalah, hubungi orang itu. Tetapi hati-hati supaya kau tidak terjerumus ke tiang gantungan karena kesalahanmu.”
Terasa sesuatu bergetar di dada penasehat itu. Namun ia berkata, “Hamba tuanku. Hamba akan sangat berhati-hati.”
“Jika kau temukan tiga atau empat orang, bawalah mereka kemari. Mereka harus menunjukkan kemampuan mereka. Aku akan menjajagi ilmu mereka langsung.”
“Maksud tuanku.”
“Aku akan mencoba melawan mereka seorang demi seorang. Baru aku dapat menentukan apakah mereka mampu melakukan tugas itu atau tidak, karena Mahisa Agni adalah seorang yang pilih tanding, hampir tidak ada duanya didunia ini.”
“Hamba tuanku. Hamba mengerti.”
“Nah, lakukanlah. Setelah itu baru aku akan menentukan sikap terhadap Anusapati. Kematian Anusapati pasti akan mempengaruhi perasaan Permaisuri dan pengaruhnya yang lain akan terasa sekali pada pemerintahan yang sedang berjalan di Singasari. Tetapi tidak demikian dengan Mahisa Agni. Meskipun ia akan diserahkan kembali kepada asalnya dengan upacara kebesaran salah seorang pemimpin tertinggi di Singasari, namun persoalannya akan segera selesai dan orang-orang Singasari dan Kediri akan segera melupakannya.”
“Baiklah tuanku. Hamba mengerti tugas yang harus hamba lakukan.”
“Kerjakan baik-baik. Jangan kau katakan lebih dahulu kepada Tohjaya. Aku sendirilah yang akan mengatakan kepadanya.”
“Hamba tuanku. Hamba mengerti. Hamba mengerti,” penasehat itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, lakukanlah baik-baik. Jika kau sudah menemukan, bawalah mereka kemari. Didalam saat yang tepat, mereka akan pergi ke Kediri, sementara Anusapati harus diusahakan tetap berada di istana saat itu. Jika tidak, dan kebetulan sekali ia berada di Kediri, maka gabungan kekuatan keduanya benar-benar mencemaskan meskipun harus melawan tiga atau empat orang sekaligus.”
“Hamba tuanku. Hamba mohon waktu sepekan. Hamba akan segera memberikan laporan tentang orang yang hamba katakan.”
“Aku menunggu waktu yang kau katakan. Segala sesuatu harus kau bicarakah dahulu dengan aku. Kau mengerti? Jangan membuat rencana sendiri yang justru akan dapat menggagalkan semua rencana yang sudah tersusun.”
“Hamba tuanku.” penasehat itu mengangguk-angguk.
Sejenak kemudian maka ia-pun mohon diri. Bukan saja dari hadapan Sri Rajasa, tetapi ia mohon kesempatan sepekan untuk melakukan tugas itu, sehingga dalam waktu itu ia tidak akan berada di istana.
Demikianlah dengan gelisah Sri Rajasa menunggu kesempatan itu. Penasehat itu masih mohon diri pula, ketika ia siap meninggalkan istana dengan kudanya yang tegar.
Ketika kuda itu berlari keluar dari regol istana, sepasang mata mengikutinya dengan tajamnya. Mata seorang juru taman.
Sumekar menjadi curiga melihat kepergian orang itu. Menilik bekal yang dibawanya, yang tersangkut dipunggung kudanya pula, ia tidak hanya sekedar pergi keluar istana untuk beberapa saat. Tetapi ia pasti meninggalkan istana untuk beberapa hari.
“Kemana orang itu?” ia bertanya kepada diri sendiri. Tetapi tidak ada orang yang dapat menjadi tempat ia bertanya.
Namun karena ia mengetahui apa yang pernah dilakukan oleh orang itu atas Putera Mahkota, maka ia tidak dapat melepaskan perhatiannya kepada kepergiannya itu. Mungkin ia sedang merencanakan sesuatu untuk mencelakakan Putera Mahkota pula.
Karena itu, mau tidak mau, Sumekar harus menghubungi Anusapati dan memberi tahukan kepergian penasehat Sri Rajasa itu.
“Tuanku harus berhati-hati. Selama tuanku menjalankan tugas tuanku sebagai Kesatria Putih. Mungkin pada suatu saat orang itu sengaja menjebak tuanku.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Teringat pula olehnya bagaimana ia telah dijebak oleh seorang yang menyebut dirinya bernama Kiai Kisi, sehingga kemungkinan yang serupa memang akan dapat terjadi. Teringat pula olehnya, sekelompok prajurit yang menyamar menjadi perampok untuk menjebak Kesatria Putih. Tetapi mereka dapat dihancurkan dan bahkan pedang-pedangnya telah dilemparkan ke depan regol istana.
Dengan demikian Anusapati semakin menyadari, bahwa bahaya menjadi semakin besar mengancamnya dari segala arah. Baik sebagai Putera Mahkota, apalagi sebagai Kesatria yang berkeliaran di segala tempat dan di segala waktu.
“Jadi bagaimana menurut pertimbangan paman Sumekar?”
“Tuanku harus menyampaikan hal ini kepada orang-orang lain yang menyatakan dirinya dalam pakaian Kesatria Putih itu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mereka memang harus lebih berhati-hati.”
“Bukan sekedar berhati-hati tuanku. Mereka harus memperhitungkan segala kemungkinan. Jika salah seorang Kesatria Putih itu dapat dijebak oleh sekelompok orang-orang itu, dan Kesatria Putih itu ternyata bukan tuanku, maka persoalannya akan menggemparkan seluruh Singasari. Nama tuanku akan terguncang pula karenanya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mengerti paman. Aku akan menghubungi mereka. Biasanya salah seorang dari mereka menunggu aku dibatas kota. Tentu saja tidak sebagai Kesatria Putih.”
“Sebaiknya tuanku cepat menyampaikan kabar ini sebelum terlambat.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari kesulitan yang dapat timbul apabila sekelompok orang yang berilmu tinggi sengaja menjebak salah seorang dari Kesatria Putih itu.
Demikianlah, di malam harinya, Anusapati-pun seperti biasanya keluar dari regol istana dalam pakaian Kesatria Putih. Para prajurit yang sedang bertugas menganggukkan kepalanya dengan hormatnya. Mereka sadar betapa beratnya tugas yang telah dibebankan dipundaknya sendiri oleh Putera Mahkota itu. Tugas yang dilakukan seorang diri sebagai Kesatria Putih itu ternyata melampaui kemampuan sepasukan prajurit pilihan.
Namun malam itu Anusapati telah membawa pesan yang mendebarkan bagi Kesatria Putih yang lain. Orang yang malam itu menghubungi Anusapati di batas kota adalah Witantra sendiri.
“Paman, menurut paman Sumekar, kemungkinan yang buruk itu dapat terjadi.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Memang tuanku. Jika terjadi demikian, maka semuanya akan rusak.”
“Jadi bagaimana menurut pertimbangan paman?”
“Aku akan menarik mereka malam ini.”
“Tetapi di manakah mereka itu?”
“Hanya seorang yang berpakaian Kesatria Putih malam ini. Kuda Sempana. Aku tahu kemana ia pergi.”
“Jadi maksud paman, Kesatria Putih harus menghentikan kegiatannya untuk sementara?”
“Sampai aku menghubungi tuanku lewat Sumekar.”
Anusapati mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu kainnya, “Jadi bagaimana aku malam ini?”
“Marilah tuanku pergi bersama aku. Sebaiknya tuanku melepaskan pakaian Kesatria Putih itu supaya jika bertamu dengan Kuda Sempana dalam pakaian Kesatria Putih, tidak akan ada dua Kesatria Putih dalam waktu bersamaan, jika kebetulan ada seseorang yang melihatnya, maka akibatnya dapat mengganggu pula.
“Tetapi bagaimana dengan kudaku?” bertanya Anusapati, “kuda putih adalah salah satu ciri Kesatria Putih.”
“Banyak kuda putih di Singasari. Tetapi asal tuanku tidak mempergunakan pakaian dan kerudung putih, maka orang tidak segera mengambil kesimpulan, bahwa yang lewat adalah Kesatria Putih.”
Anusapati ragu-ragu sejenak. Tetapi ia-pun segera melepaskan tirai putih yang tersangkut dilehernya. Bahkan kemudian ia melepas kain pancingnya dan dikerudungkannya dipunggungnya, agar orang tidak mudah mengenalnya sebagai Putera Mahkota.
“Tuanku seperti seekor burung yang besar sekali di atas seekor kuda,” berkata Witantra.
Anusapati tersenyum. Tetapi katanya, “Kita menempuh jalan paling aman, kita menghindari seseorang sejauh mungkin agar tidak timbul pertanyaan tentang kuda putih ini.”
“Yang penting tuanku, asal tidak ada dua orang Kesatria Putih bersama-sama. Yang berbahaya adalah saat kita bertemu dengan Kuda Sempana. Dan kita akan berusaha menemuinya tanpa dilihat oleh orang lain, meskipun tuanku tidak dalam pakaian Kesatria Putih. Sampai saat ini Kesatria Putih masih dianggap sebagai seseorang yang ajaib. Yang ada disembarang tempat dan waktu meskipun sudah mengalami pengekangan yang agak jauh.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari bahwa pamannya sudah berusaha mengatur serapi mungkin agar tidak menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengurangi nilai dari perbuatan Kesatria Putih.
Demikianlah maka Witantra telah membawa Anusapati berpacu di dalam kegelapan. Untunglah bahwa keduanya telah terbiasa berkuda di dalam gelap menyusuri jalan-jalan di daerah yang paling sulit sekalipun. Malam itu mereka harus menemukan Kuda Sempana dan menariknya sebelum ia bertemu dengan jebakan yang belum dimengerti.
Untunglah bahwa di setiap malam mereka yang menamakan diri Kesatria Putih itu selalu saling berbicara tentang daerah yang akan mereka datangi, sehingga dalam keadaan yang gawat, mereka akan segera dapat dihubungi. Demikianlah, menjelang tengah malam mereka telah sampai ditempat yang disebutkan oleh Kuda Sempana. Sesuai dengan ciri-ciri yang diberikannya, maka Witantra-pun berhasil mengikuti jejak perjalanan Kesatria Putih sehingga pada suatu tempat, mereka menemukan Kesatria Putih yang sedang menunggu di bawah sebatang pohon cangkring.
“He, ternyata tuanku Putera Mahkota,” berkata Kuda Sempana.
“Ya, aku dibawa oleh paman Witantra kemari.”
“Apakah ada sesuatu yang penting tuanku? Bukankah malam ini hamba diperbolehkan bergerak setelah tengah malam, karena di separuh malam pertama, tuanku sendiri akan mengelilingi kota Singasari.”
“Ya. Tetapi ada sesuatu yang penting aku sampaikan,” sahut Anusapati, “sehingga paman Witantra memandang perlu untuk membawa aku kemari.”
“Apakah yang penting itu tuanku? Apakah ada kejahatan dilewat tengah malam yang akan tuanku tangani sendiri, sehingga hamba harus membatalkan tugas hamba malam ini.”
“Tidak, tetapi ada sesuatu yang berbahaya bagi kita,” jawab Anusapati.
Kuda Sempana menganggukan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi, dan Anusapati lah yang kemudian berceritera tentang Penasehat Sri Rajasa dan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi.
Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti bahwa dengan demikian tugas Kesatria Putih ada dalam bahaya. Seperti yang dikatakan oleh Anusapati, apabila seseorang atau segerombolan orang berhasil menangkap Kesatria Putih, dan Kesatria Putih itu bukan Putera Mahkota, maka nama Putera Mahkota memang dapat terancam. Tohjaya akan memanfaatkan hal itu untuk kepentingannya.
Karena itu Kuda Sempana-pun sependapat bahwa untuk sementara semua rencana akan dibatalkan hingga mendapat suatu penyelesaian yang dapat dipertanggung jawabkan.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar