BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-26-01
“Anusapati…”
“Anggaplah bahwa yang terjadi adalah karma. Bukankah ayahanda Tunggul Ametung mengambil ibunda dengan cara yang tidak ibunda sukai? Bukankah Ayahanda Tunggul Ametung telah melakukan kesalahan yang merusak kehidup ibunda selanjutnya? Ibunda, dalam hal ini ibunda jangan menyalahkan diri sendiri. Karma akan berlaku dimana-pun hamba bersembunyi. Kutuk seorang pendeta di Panawijen pasti akan berlaku. Dan hamba-pun akan memanggul karma itu sebagai seorang putera dari Akuwu Tunggul Ametung.”
“Tidak, tidak anakku. Kau tidak bersalah. Kau adalah anakku. Aku mencintaimu seperti aku mencintai adik-adikmu. Karena itu, aku tidak rela akan kematianmu itu.”
Tangis Ken Dedes yang tertahan-tahan membuat hati Anusapati bagaikan tergores duri. Pedih. Tetapi ia masih bertahan dan berkata, “Hamba tahu ibunda mencintai hamba. Tapi karma adalah diluar jangkauan kemampuan manusia. Dan keris yang ada di tangan Sri Rajasa itu-pun hanya sekedar sebagai lantaran. Sudahlah ibu. Jangan hiraukan hamba. Anak hambalah yang akan menggantikan hamba dihadapan ibunda. Jika hamba telah memanggul karma, maka akan bersihlah anak hamba dari kemungkinan-kemungkinan yang pahit. Dan biarlah keris itu kini tetap di tangan Sri Rajasa.”
“Tidak, tidak,” Ken Dedes berdesis diantara sedu sedannya.
“Sudahlah ibunda, hamba mohon diri. Hamba mohon diri untuk selama-lamanya.”
“Anusapati, Anusapati,” tiba-tiba ibundanya bangkit dan memeluknya erat-erat. Katanya, “Kau jangan membuat hatiku semakin parah Anusapati.”
Anusapati menarik nafas. Jawabnya. “Tidak ibunda. Hamba akan tersenyum apa-pun yang akan terjadi. Hamba akan menerimanya dengan ikhlas sehingga kepergian hamba tidak akan membuat hati ibunda terluka.”
“Tidak. Kau tidak boleh pergi,” suara Ken Dedes lemah, “anakku, maafkan ibumu. Aku, aku telah membohongimu.”
Anusapati mengangkat wajahnya. Pelukan ibunya-pun terlepas perlahan.
“Kenapa ibunda membohongi hamba? Apakah ternyata ayah hamba bukan Akuwu Tunggul Ametung, atau apakah, ayahanda Tunggul Ametung tidak mati terbunuh oleh Ayahanda Sri Rajasa?”
“Bukan, bukan itu.”
“Lalu?”
“Aku membohongimu. Keris itu tidak ada pada ayahandamu Sri Rajasa. Keris itu ada padaku.”
“O,” Anusapati menarik nafas dalam-dalam, “jadi keris itu ada pada ibunda?”
Ken Dedes mengangguk-angguk. Betapa-pun ia menahan hati, tetapi air matanya meleleh semakin deras, “Ya Anusapati. Keris itu ada padaku.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, Tetapi ia bertanya, “Kenapa ibunda membohongi hamba? Apakah ibunda tidak menganggap penting bahwa keris itu tidak boleh berada di sembarang tangan?”
“O, justru karena aku menganggap keris itu akan dapat menentukan kelanjutan sejarah Singasari, maka aku telah menyimpannya baik-baik.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Ibunda. Jika keris itu memang ada pada ibunda, apakah hamba dapat memohon agar keris itu ibunda berikan kepada hamba?”
“Itulah yang aku cemaskan Anusapati.” jawab ibundanya, “Karena itulah, maka aku berbohong kepadamu. Tetapi ternyata kau menjadi berputus-asa dan seakan-akan kau membiarkan dirimu sendiri mengalami kematian, tanpa berbuat sesuatu.”
“Bukan ibunda. Jika memang keris itu ada pada Ayahanda Sri Rajasa, hamba memang tidak akan dapat berbuat apa-apa. Tetapi ternyata keris itu ada pada ibunda. Karena itu, maka hamba mohon agar keris itu diserahkan kepada hamba. Hamba akan menyimpannya baik-baik.”
Ken Dedes menggelengkan kepalanya. “jangan anakku. Biarlah ibunda menyimpannya.”
“Apakah sebabnya ibunda tidak mengijinkan hamba menyimpan keris itu, karena justru jiwa hambalah yang kini paling terancam karenanya?”
“Tidak Anusapati. Aku akan menyimpannya baik-baik. Aku mengerti bahwa jiwamu terancam karenanya. Dengan demikian aku tidak akan menyerahkan keris itu kepada siapa-pun juga. Aku akan menyimpannya baik-baik sehingga dengan demikian jiwamu-pun akan selamat. Aku adalah ibumu Anusapati, dan aku akan selalu berusaha agar kau tidak terancam oleh bencana yang sama seperti ayahandamu Tunggul Ametung.”
“Mungkin ibunda berniat demikian,” jawab Anusapati, “tetapi apakah ibunda dapat bertahan jika pada suatu saat Ayahanda Sri Rajasa datang kepada ibunda dan minta agar keris itu diserahkan? Mungkin ibunda berkeberatan. Tetapi Sri Rajasa dapat memaksa Ibunda dengan cara apa-pun juga sehingga akhirnya keris itu jatuh ketangannya.”
Ken Dedes menggeleng. Katanya, “Anusapati, keris ini tidak boleh berpindah tangan. Aku akan mempertahankannya.”
“Tentu Ayahanda Sri Rajasa akan dapat mengambilnya. Jangankan ibunda seorang perempuan, sedangkan keris itu dapat dicurinya dari tangan Kebo Ijo, seorang perwira prajurit Tumapel yang memiliki kelebihan karena Kebo Ijo adalah saudara seperguruan pamanda Witantra.”
“O,” Ken Dedes menundukkan kepalanya.
“Apakah ibunda pernah mengenal paman Witantra? Seorang Panglima yang tidak ada duanya di Tumapel waktu itu. Panglima pasukan pengawal yang justru tersingkir karena Ia ingin membersihkan nama Kebo Ijo dan dikalahkan oleh Pamanda Mahisa Agni di arena? Ternyata semuanya telah terjebak. Semua orang telah berhasil dikelabui oleh seorang yang bernama Ken Arok.”
Ken Dedes menundukkan kepalanya sambil memegangi keningnya. Kini semuanya terbayang dengan jelas. Semuanya seakan-akan baru kemarin terjadi. Bagaimana rakyat Tumapel berkabung karena Akuwu Tunggul Ametung terbunuh. Kemudian dengan penuh kemarahan mereka menuduh Kebo Ijo telah membunuh Akuwu Tunggul Ametung. Yang belum lagi air mata rakyat Tumapel yang menangisi kematian Tunggul Ametung itu kering, ia sudah memasuki jenjang perkawinan bersama seorang anak muda yang tampan pada waktu itu, dan seorang prajurit yang perkasa, yang bernama Ken Arok.
“Ibunda,” berkata Anusapati kemudian seakan-akan membangunkan ibundanya dari lamunan, “hamba menunggu keputusan ibunda. Jika ibunda memperbolehkan biarlah keris itu hamba saja yang menyimpannya. Mungkin paman Mahisa Agni berpendirian lain dan menganggap perlu untuk menyimpannya. Hamba percaya bahwa jika keris itu ada pada Pamanda Mahisa Agni, Ayahanda Sri Rajasa tidak akan berani mengambilnya. Dengan terang-terangan atau dengan sembunyi-sembunyi, karena di Singasari, orang yang paling disegani oleh Ayahanda Sri Rajasa adalah Pamanda Mahisa Agni.”
Ken Dedes masih belum menjawab.
Dan Anusapati-pun berkata seterusnya, “Tetapi jika ibunda tidak berkenan menyerahkan keris itu kepada hamba, maka biarlah hamba sekali lagi mohon diri. Tidak ada harapan lagi bagi hamba untuk membebaskan diri.”
“O, Anusapati.” desis Ken Dedes, “kau berhasil memaksa aku untuk menyerahkan keris itu. Ternyata aku tidak dapat berbuat lain.”
Dada Anusapati menjadi berdebar-debar.
“Tetapi ingat anakku. Keris itu bukan alat untuk menyebarkan dendam. Jika kau dikejar oleh dendam dihatimu, dan kau mempergunakan keris itu, maka akan tumbuh dendam yang lain di antara keturunan Sri Rajasa. Dan dendam itu akan selalu menghantuimu setiap saat.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Hamba tidak mendendam ibunda. Hamba telah mendengar pesan Pamanda Mahisa Agni, bahwa hamba tidak diperkenankan berbuat apa-apa, selain berusaha menghindarkan diri dari bencana. Salah satu cara yang dapat hamba tempuh adalah menyembunyikan keris ini. Bukan untuk dipergunakan.”
Ken Dedes memandang puteranya sejenak. Di wajah itu memang terbayang wajah ayahandanya, Tunggul Ametung. Wajah yang semula sangat ditakutinya ketika Akuwu itu datang mengambilnya ke Panawijen dengan sorot mata yang merah.
“Kuda Sempana lah sumber dari bencana ini,” desisnya di dalam hati.
Tetapi semuanya itu sudah lama lampau. Semuanya itu sudah terjadi. Jika ia sendiri tidak ikut mengembangkan peristiwa-peristiwa berikutnya, maka akibatnya-pun tidak akan separah ini.
Ken Dedes mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Anusapati kemudian berkata, “Ibunda. Jika memang berkenan dihati ibunda, hamba mohon keris itu dapat hamba terima dan hamba simpan sebaik-baiknya. Mumpung kini Pamanda Mahisa Agni masih berada di Singasari. Biarlah hamba mohon pertimbangan, apakah yang sebaiknya hamba lakukan dengan keris itu, dan barangkali Pamanda Mahisa Agni mempunyai cara yang baik yang dapat hamba lakukan.”
Ken Dedes masih ragu-ragu. Terbayang ditatapan matanya kecemasan yang mencengkam.
“Apakah ibunda ragu-ragu?” bertanya Anusapati.
Dengan jujur Ken Dedes menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya Anusapati. Sebenarnyalah aku ragu-ragu. Tetapi aku kira tidak ada yang lebih baik bagimu daripada menyimpan keris itu. Tetapi sekali lagi, keris itu hanya dapat aku serahkan padamu untuk disimpan. Jika dengan demikian kau akan terhindar dari bencana.”
“Tentu ibunda. Hamba hanya sekedar akan menyimpan keris itu. Hamba tidak akan mempergunakannya.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian ia-pun berdiri dan melangkah perlahan-lahan masuk kedalam ruangan sempit di sebelah biliknya.
Anusapati menunggu ibundanya dengan hati yang berdebar-debar. Ia belum pernah melihat keris buatan Empu Gandring itu. Seandainya ibundanya memberikan keris yang mana-pun juga, maka ia-pun akan mempercayainya.
Ketika ibundanya Ken Dedes keluar dari ruang sempit itu dengan membawa sebuah peti, maka hatinya kian bergejolak. Jika benar keris itu keris Empu Gandring, maka keris itulah yang sudah menghabisi jiwa ayahandanya.
“Inilah keris itu Anusapati,” berkata Permaisuri itu dengan suara bergetar. Bukan hanya suaranya, tetapi tangannya yang memegang peti itu-pun bergetar.
Perlahan-lahan Ken Dedes meletakkan peti itu di pembaringan. Kemudian dengan hati-hati sekali ia merabanya sambil berkata, “Bukan maksudku untuk memperluas dendam di setiap hati, Anusapati, apakah kau mengerti maksudku?”
“Hamba mengerti ibunda.”
“Simpanlah keris ini baik-baik. Dan lupakanlah bahwa kau menyimpan keris ini, keris yang mempunyai sangkut paut dengan ayahandamu. Jika kau berhasil melupakannya, kau akan mendapatkan ketenteraman.”
“Hamba akan berusaha ibunda. Mudah-mudahan hamba dapat melupakannya bahwa hamba telah menyimpan dan menyembunyikan keris ini demi keselamatan hamba.”
Ken Dedes tidak menjawab. Tetapi hatinya bagaikan terpecah karenanya. Ia benar-benar harus memilih, Sri Rajasa atau Anusapati anaknya yang lahir dari tetesan darah Akuwu Tunggul Ametung.
“Inilah Anusapati,” desis Ken Dedes sambil menyerahkan peti itu kepada Anusapati.
Ternyata bahwa tangan Anusapati-pun menjadi gemetar pula. Dengan dada yang berdebar-debar tangannya yang gemetar itu-pun kemudian membuka peti itu.
Dadanya berdesir ketika ia melihat keris yang ada di dalam peti itu. Keris yang tidak seperti dibayangkannya, keris dengan sarung emas bertatahkan intan berlian. Bukan pula dengan ukiran yang indah. Tetapi keris itu disarungkan dalam wrangka yang sederhana dan ukirannya adalah sebatang kayu cangkring yang belum dibentuk.
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia memang pernah mendengar bahwa keris itu sebenarnya masih belum siap sama sekali ketika Ken Arok mengambilnya dan kemudian membunuh Empu Gandring agar Empu itu tidak dapat mengatakan, bahwa yang memesan keris itu kepadanya adalah Ken Arok yang kini bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.
Sesaat kemudian maka peti itu-pun ditutupnya kembali. Anusapati tidak sampai hati untuk menarik keris itu dari wrangkanya dihadapan ibunya. Ia yakin bahwa keris itu pasti masih bernoda darah yang membeku karena sepengetahuannya keris buatan Empu Gandring itu tidak pernah dimandikan.
Sejenak kemudian, setelah getar didadanya agak mereda, maka Anusapati-pun mohon diri kepada ibunya untuk membawa keris itu dan menyimpannya.
“Bagaimana jika seseorang melihat kau membawa peti itu Anusapati? Mungkin seseorang akan menjadi curiga dan mengatakan kepada orang lain bahwa kau membawa sebuah peti dari bilik ini.”
“Apakah ada orang yang mengetahui bahwa peti ini berisi keris Empu Gandring itu ibunda?”
“Tidak. Tetapi bahwa kau membawa sesuatu dari bilik ini memang dapat dicurigai. Mungkin aku sekedar berprasangka. Tetapi jika benar-benar demikian, dan kecurigaan itu sampai ditelinga Tohjaya dan Ayahanda Sri Rajasa, maka ia pasti akan bertanya kepadamu atau kepadaku, apakah yang ada didalam peti itu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Baiklah ibunda, jika demikian aku akan membawa kerisnya saja. Petinya biarlah aku tinggalkan disini.”
“Apalagi keris itu Anusapati,” jawab ibunda, “ciri keris itu mudah sekali dikenal.”
Anusapati mengamati keris itu sekali lagi. Memang keris itu mudah sekali dikenal. Tetapi sepintas lalu, keris itu tidak berbeda dengan keris-keris yang lain. justru sederhana sekali bentuk dan warnanya.
“Ibunda,” berkata Anusapati kemudian. “hamba akan membawanya tanpa peti ini. Keris hamba akan hamba tinggal didalam peti ini, dan hamba akan menggantinya dengan keris Empu Gandring ini.”
“Sudah aku katakan Anusapati,” keris itu mempunyai ciri yang mudah dikenal oleh siapapun. Meskipun orang itu tidak mengenalnya bahwa keris ini adalah keris Empu Gandring, tetapi mereka pasti akan segera tertarik melihat, kesederhanaan keris ini, apalagi ukirannya yang terbuat dari kayu cangkring.”
“Hamba akan membawanya dengan hati-hati ibunda. Hamba akan berusaha menyembunyikannya dibawah tangan hamba. Dari bangsal ini hamba akan langsung pergi ke bangsal hamba dan kemudian menemui paman Mahisa Agni untuk mengatakan kepadanya bahwa keris Empu Gandring itu ada ditangan hamba. Apakah sebaiknya yang pantas hamba lakukan menurut pertimbangan Pamanda Mahisa Agni.”
Ken Dedes termangu-mangu sejenak. Tetapi kemudian ia-pun berkata, “Hati-hatilah. Rasa-rasanya keris itu sendiri masih menuntut karena kematian Empu yang membuatnya.”
“Itulah sebabnya keris ini harus disembunyikan. Dan seperti kata ibunda, aku akan berusaha melupakan, bahwa akulah yang telah menyembunyikan keris ini.”
“Terserahlah kepadamu Anusapati.”
Anusapati kemudian mengambil kerisnya yang terselip dilambung. Kemudian keris itu-pun diletakkannya didalam peti, setelah ia mengambil keris Empu Gandring.
Dengan hati-hati keris itulah yang kemudian disisipkan di pinggangnya. Ukirannya tepat berada dibawah tangan Anusapati yang tergantung disisi tubuhnya.
“Mudah-mudahan tidak ada orang yang melihatnya ibunda, agar tidak timbul persoalan-persoalan baru yang dapat mengguncangkan istana ini.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Namun ia masih berkata, “Anusapati, aku masih harus mencari jawab jika pada suatu saat Ken Arok datang kepadaku dan menanyakan keris itu seperti kedatanganmu kini.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi terbayang kecemasan di wajah ibunya meskipun Ken Dedes itu kemudian berkata, “Tetapi biarlah jangan kau hiraukan. Aku akan berusaha untuk menjawabnya meskipun saat ini aku belum menemukan alasan yang sebaik-baiknya.”
Anusapati masih termangu-mangu. Karena itu ia-pun tidak segera berbuat sesuatu.
“Kenapa kau bimbang?” bertanya ibunya, “bagiku ternyata keris itu memang lebih baik ada padamu daripada ada pada Sri Rajasa.”
“Terima kasih ibu,” berkata Anusapati kemudian, “sekarang hamba mohon diri.”
“Hati-hatilah Anusapati.”
Anusapati kemudian meninggalkan ibunya sendiri di dalam biliknya. Sejenak ia berdiri dipintu bangsal sambil memandang berkeliling. Ternyata tidak banyak orang yang berkeliaran di halaman. Seorang juru taman dan dua orang prajurit yang melintas.
Anusapati-pun kemudian melangkah menuruni tangga. Di sebelah pintu duduk dua orang emban sambil menunduk dalam-dalam.
Dengan hati-hati Anusapati pun melangkah meninggalkan bangsal itu. Tangannya hampir tidak melenggang sama sekali karena ia berusaha untuk menyembunyikan ciri-ciri keris yang aneh itu.
Sepeninggal Anusapati, kedua emban yang duduk di sebelah pintu itu-pun saling berpandangan. Tetapi mereka masih tetap ragu-ragu untuk mendekati bilik Permaisuri. Menurut dugaan mereka, Permaisuri yang sedang sakit itu selalu saja marah-marah kepada puteranya laki-laki yang sulung itu.
Barulah ketika mereka mendengar Permaisuri memanggil, mereka-pun datang mendekat dan dengan hati yang berdebar-debar mereka memasuki pintu bilik. Ketika mereka melampaui pintu bilik mereka melihat Permaisuri itu berbaring dipembaringannya sambil berselimut kain berwarna kelam menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajahnya.
“Ambilkan air panas emban,” suara Ken Dedes lambat dan parau.
Kedua emban itu-pun saling berpandangan sejenak. Namun kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Hamba tuan Puteri. Tetapi apakah hamba harus mengambil air panas untuk minum atau untuk keperluan yang lain?”
“Aku ingin minum air yang panas sekali. Taruhlah sedikit pangkal jahe dan gula kelapa.”
“O, hamba tuan Puteri.”
Salah seorang dari kedua emban itu-pun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan bilik itu untuk membuat air jahe bagi tuan Puteri Ken Dedes.
Dalam pada itu, Anusapati yang berjalan dengan hati-hati telah sampai di halaman bangsalnya. Langkahnya menjadi semakin cepat, meskipun ia berusaha agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi siapa-pun juga.
Demikian Anusapati sampai di bangsalnya, maka ia-pun menarik nafas dalam-dalam. Keringatnya terasa terperas dari dalama tubuhnya oleh ketegangan meskipun jarak yang dilewatinya sudah terlampau sering dilaluinya. Namun kali ini, dengan keris Empu Gandring dilambung, maka jarak itu rasa-rasanya menjadi sepuluh kali lipat. Setelah hatinya agak tenang, dan keringatnya berkurang, barulah ia masuk ke ruang dalam menemui isterinya yang sedang duduk bersama anak laki-lakinya.
“O, dari manakah ayahanda datang?” bertanya anak laki-lakinya, “tampaklah ayahanda lelah sekali. Keringat ayahanda membasahi seluruh tubuh.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Namun ia-pun kemudian tersenyum sambi berkata, “Udara panasnya bukan main. Ayahanda tidak pergi kemana-mana. Ayahanda baru datang dari regol depan, melihat-lihat kegiatan para prajurit.”
Anak laki-lakinya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia-pun telah asyik lagi dengan permainannya.
Tetapi ternyata bahwa isteri Anusapati itu tidak secepat anaknya menerima keterangan itu. Dari sorot matanya masih tampak berbagai macam pertanyaan yang tidak terucapkan.
Sejenak kemudian maka Anusapati-pun segera masuk ke dalam biliknya. Tetapi ia tidak mau membuat isterinya menjadi gelisah. Karena ia tidak bermaksud mengatakan apa-pun juga tentang keris itu dan tentang dirinya sendiri.
Sebelum isterinya menyusul masuk kedalam bilik itu, maka Anusapati-pun segera menyimpan keris Empu Gandring dan meletakkannya di antara beberapa pusakanya yang lain, sebelum ia dapat menyimpannya secara khusus.
“Aku harus menemui paman Mahisa Agni lebih dahulu,” berkata Anusapati didalam hatinya, “aku harus mendapat petunjuk tentang keris itu.”
Karena itu, maka ia-pun segera minta diri kepada isterinya untuk pergi kebangsal pamannya.
“Kakanda akan pergi lagi?” bertanya isterinya.
Anusapati tersenyum. Ia sadar, bahwa isterinya-pun melihat kesibukannya yang meningkat pada saat-saat terakhir. Tetapi ia masih belum mengatakan sesuatu.
“Aku akan menemui Pamanda Mahisa Agni. Mungkin pamanda akan segera meninggalkan Singasari.”
Isterinya tidak menyahut. Tetapi dimatanya membayang kecemasan dan kegelisahan.
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mencoba tersenyum dan berkata, “Jika kau memerlukan aku, perintahkanlah seorang prajurit pengawal memanggil aku di bangsal Pamanda Mahisa Agni.”
Isterinya menganggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berani mendesak lebih jauh lagi meskipun sebenarnya hatinya sudah bergejolak. Sebagai seorang puteri dari keturunan Maharaja di Kediri, ia merasa asing di Singasari. Bahkan ia merasa bahwa ia berada dalam lingkungan yang sangat mencemaskan. Apalagi akhir-akhir ini Anusapati tampaknya sedang terlibat dalam suatu kesibukan yang sangat penting.
Beberapa keanehan yang dialaminya membuatnya semakin kecut. Bau yang sangat wangi, bunyi yang tidak dikenal dan wajah-wajah yang kadang-kadang memandanginya dengan tajamnya, seakan-akan sengaja menunjukkan kebencian dan dendam yang tertahan di dalam hati.
Untunglah bahwa Ken Dedes bersikap sangat baik kepadanya. Dan bahkan Permaisuri itu rasa-rasanya bagaikan ibunya sendiri. Setiap kali ia selalu menghiburnya dan menenteramkan kegelisahannya. Adik-adiknya-pun sangat baik kepadanya. Adik-adik Anusapati yang lahir dari Ken Dedes. Tetapi adik-adik Anusapati yang lahir dari Ken Umang sama sekali acuh tidak acuh saja kepadanya.
“Tenangkan hatimu,” berkata Anusapati, “bukankah di siang hari kita tidak pernah mengalami apa-pun juga.”
Isterinya menganggukkan kepalanya pula.
“Nah, baiklah. Hati-hatilah mengawasi anak kita. Ia menjadi semakin nakal. Jika ia keluar bangsal, suruhlah pemomongnya mengikutinya kemana ia pergi.”
“Baiklah kakanda,” jawab isterinya, meskipun kata-katanya itu bagaikan meloncat begitu saja dari bibirnya tetapi tidak dari hatinya.
Anusapati-pun kemudian mengambil kerisnya yang lain dan keluar pula dari biliknya. Dengan susah payah ia menahan perasaannya yang bergejolak, agar orang-orang yang melihatnya tidak menjadi curiga melihat sikapnya.
Perlahan-lahan Anusapati melangkah menuruni tangga. Di halaman bangsalnya yang ditanami berbagai macam pohon bunga ia berhenti sejenak. Dipetiknya setangkai bunga menur yang putih. Kemudian diselipkannya bunga itu diatas telinganya.
Langkahnya terhenti pula didepan gardu penjaga. Sambil tersenyum ia bertanya, “Berapa orang yang bertugas di sini hari ini?”
Prajurit pengawal yang bertugas menganggukkan kepalanya dalam-dalam sambil menjawab, “Dua orang tuanku. Seperti biasanya.”
“O, dan dimalam hari?”
Prajurit itu menjadi heran. Selama ini masih belum ada perubahan apa-apa. Namun demikian ia menjawab juga, “Lima orang tuanku dan dua orang penghubung. Tetapi pada saat-saat yang dianggap gawat, kadang-kadang ditambah lagi dengan dua orang pengawal.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia hampir tidak mendengar jawaban itu. Apalagi ketika pengawal itu menambahkan, “Bahkan kadang-kadang masih ditambah lagi apabila perlu.”
Anusapati masih mengangguk-angguk. Bahkan masih tersenyum-senyum meskipun angan-angannya sama sekali tidak melekat pada jawaban prajurit-prajurit itu.
“Jagalah baik-baik,” katanya kemudian, “aku akan pergi sebentar.”
Sekali lagi prajurit itu menjadi heran. Pangeran Pati itu hampir tidak pernah memberikan pesan seperti itu disiangi hari. Jika ia pergi, maka ia-pun pergi sajalah. Jika ia datang, ia-pun hanya sekedar berpaling dan tersenyum sedikit. Memang kadang-kadang Putera Mahkota itu menghampiri mereka dan bercakap-cakap. Tetapi hampir tidak pernah berpesan seperti itu di siang hari, selain apabila memang sedang timbul persoalan. Itu-pun dimalam hari, seperti pada saat-saat terjadi hal-hal yang aneh di sekitar bangsal ini.
Tetapi prajurit itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dalam-dalam. Demikian juga seorang kawannya. Dengan wajah yang aneh keduanya memandang Anusapati yang melangkah perlahan-lahan meninggalkan mereka. “Tampaknya Pangeran Pati itu sedang gelisah,” berkata seorang prajurit.
“Ya. Akhir-akhir ini tampaknya sibuk sekali. Hilir mudik setiap kali.”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab lagi.
Dalam pada itu, Anusapati berjalan melintasi halaman istana Singasari menuju ke bangsal pamannya Anusapati selama ia berada di Singasari. Betapa-pun ia tergesa-gesa untuk segera menyampaikan ceritera tentang keris yang kini sudah ada ditangannya, namun langkah Pangeran Pati itu tampaknya tenang-tenang saja, dan bahkan seakan-akan tanpa maksud sama sekali.
Sementara itu, sepasang mata memandanginya dengan tajamnya dari balik gerumbul perdu agak jauh dari bangsal Mahisa Agni. Ketika ia melihat Anusapati dari kejauhan, ia-pun segera berlindung dibalik segerumbul pohon bunga soka merah.
Tetapi orang itu terkejut ketika tiba-tiba saja seorang juru taman yang membawa sebuah cangkul telah berdiri di sebelahnya sambil menggamitnya.
“Gila, kau lagi,” ia menggeram.
Juru taman itu adalah Sumekar. Katanya sambil tersenyum, “Kau harus berterima kasih kepadaku, karena aku tidak menyebutmu akan membunuhku malam itu.”
Orang itu memandang Sumekar dengan tajamnya. Betapa dendam memancar dari sorot matanya itu.
“Jangan memandang aku begitu,” berkata Sumekar, “aku dapat mati kaku disini.”
“Persetan. Kau memang harus mati.”
“Tidak. Kau sudah gagal membunuh aku. Seharusnya, kau tidak boleh berusaha mengulanginya.”
“Apa katamu? Nanti malam aku akan membunuhmu.”
“Benar?”
“Ya, pasti.”
Sumekar tidak segera menyahut. Dilontarkannya pandangan matanya ke halaman, dan ternyata Anusapati sudah tidak tampak lagi.
Prajurit itu-pun kemudian berpaling juga. Dan ia-pun kehilangan Anusapati pula.
“Kau memang gila,” bentak prajurit itu, “nanti malam aku akan benar-benar membunuhmu.”
“Jangan.”
“Aku tidak peduli.”
“Jika demikian, sekarang aku akan melaporkan kepada para prajurit pengawal, bahwa kaulah yang akan membunuhku malam itu.”
“Gila,” prajurit itu membelalakkan matanya.
“Jangan, nanti aku akan berteriak.”
Prajurit itu menjadi ragu-ragu. Jika juru taman itu benar-benar berteriak, maka para pengawal akan mendengarnya. Mereka akan berlari-larian datang dan ia kehilangan kesempatan untuk ingkar.
“Apakah aku harus berteriak.”
Tiba-tiba prajurit itu tersenyum, “Aku tidak bersungguh-sungguh. Sebenarnya malam itu-pun aku tidak ingin membunuhmu. Aku hanya ingin membuatmu jera, agar kau tidak menipuku lagi. Tetapi kau sudah berteriak. Seandainya kau tidak berteriak, aku-pun tidak akan benar-benar mencekikmu. Aku bukan pembunuh seperti yang kau sangka.”
“Benar begitu?”
“Ya. Bukanlah aku seorang prajurit. Prajurit pengawal? Tugasku adalah melindungi setiap orang di dalam istana ini dan tentu bukan untuk membunuhmu.”
Tatapan Sumekar memancarkan keragu-raguan.
“Kau ragu-ragu,” prajurit itu tertawa pendek, “tentu kau ragu-ragu. Tetapi tidak apa, pada saatnya kau akan mengetahui bahwa aku berkata sebenarnya. Aku benar-benar tidak akan membunuh. Selama aku menjadi seorang prajurit, aku belum pernah membunuh. Apalagi membunuh seorang juru taman, sedang di peperangan-pun aku tidak membunuh.”
Sumekar memandang orang itu sejenak. Namun ia-pun ikut tertawa pula. Katanya, “Apa benar yang kau katakan?”
“Tentu, apakah kau masih belum percaya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Baiklah. Aku percaya. Dan sekarang, apakah yang akan kau lakukan disini?”
“Dan kau?” prajurit itu-pun bertanya.
Sumekar mengerutkan keningnya. Katanya, “Bukankah aku seorang juru taman yang bertugas di halaman ini. Aku mengurusi semua tanaman bersama beberapa orang kawanku. Tanaman perdu, pohon-pohon bunga, sampai pohon sawo kecik dan pohon beringin. Itu semua adalah tugas kami.”
Prajurit itu mengangguk-angguk.
“Nah, aku minta diri. Aku akan bekerja lagi.”
Prajurit itu tersenyum meskipun di dalam hati ia mengumpat-umpat. Ia tidak melihat kemana Anusapati menghilang. Tetapi ia hampir pasti, bahwa Anusapati masuk kedalam bangsal Mahisa Agni.
Sejenak kemudian Sumekar-pun meninggalkan prajurit itu seorang diri. Namun langkahnya tertegun ketika Sumekar mendengar prajurit itu berkata, “He, nanti malam aku pergi kepondokmu. Aku akan membawa makanan yang paling enak buatmu.”
“Benar?” bertanya Sumekar.
“Ya. Apakah kau tinggal di belakang di antara para kamba Istana ini?”
“Ya, aku tinggal di gubug paling ujung.”
Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tunggulah, aku pasti datang.”
“Kau sangat baik. Aku minta maaf bahwa aku pernah berprasangka buruk terhadapmu.”
“Aku nanti malam bertugas. Tetapi lewat tengah malam, aku sudah beristirahat. Aku akan datang saat itu.”
“Lewat tengah malam?” bertanya Sumekar, “kenapa lewat tengah malam? Tetangga-tetangga kadang-kadang marah jika mereka terganggu di malam hari. Mereka bekerja sehari penuh, sehingga di malam hari mereka ingin beristirahat.”
“Apakah kau sangka aku akan berteriak-teriak?”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Lalu jawabnya, “Baiklah jika demikian. Aku akan menunggu.”
“Baiklah, pergilah kepekerjaanmu.”
Sepeninggal Sumekarj prajurit itu menggeram. Katanya kepada diri sendiri, “Nanti malam aku harus dapat membunuhnya dengan cara apapun. Tanpa mengeluarkan tenaga aku akan dapat membunuhnya. Tetapi ia tidak boleh mendapat kesempatan untuk berteriak. Ia harus terdiam pada serangan yang pertama.”
Sambil menggeretakkan giginya prajurit itu-pun kemudian berlalu. Ia tidak mendapatkan bahan apa-pun juga tentang Anusapati. Juru taman itu telah mengganggunya lagi.
Namun ia sama sekali tidak menyangka bahwa apabila benar-benar ia berusaha untuk membunuh juru taman itu, maka pada suatu ketika juru taman itu akan kehilangan kesabarannya dan bahkan juru taman itu akan dapat membunuhnya tanpa mengadakan perlawanan apapun.
Dalam pada itu, Anusapati-pun telah sampai ke bangsal pamannya. Dengan ragu-ragu Anusapati menceriterakan, apa yang sudah terjadi.
“Keris itu sekarang sudah aku simpan baik-baik paman.”
Mahisa Agni-pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Dengan demikian, kau sudah mengurangi kemungkinan pahit yang dapat terjadi atasmu Anusapati. Keris Empu Gandring adalah keris yang sangat tajam. Bukan saja tajam ujungnya, tetapi juga tuahnya. Setiap goresan betapa-pun kecilnya, akan berarti maut.”
“Ya paman,” jawab Anusapati. Lalu, “tetapi yang sekarang menjadi pikiranku, apakah yang dapat dikatakan oleh ibunda Permaisuri apabila ayahanda bertanya kepadanya tentang keris itu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.
“Mungkin Ayahanda Sri Rajasa dapat menjadi sangat marah dan menimpakan kesalahannya kepada ibunda.”
Mahisa Agni merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku kira ia tidak akan berani berbuat begitu terhadap ibundamu Anusapati. Selain Sri Rajasa harus mengingat asal usul kekuasaannya yang besar itu sekarang, juga karena ibundamu mempunyai seorang anak laki-laki yang digelari oleh rakyat Singasari sebagai Kesatria Putih. Disamping Kesatria Putih, ibundamu adalah adikku, yang ikut serta dalam perjuangan mempersatukan tanah Singasari. Setiap prajurit Singasari mengetahuinya dan setiap prajurit Singasari mengakuinya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia-pun kemudian bertanya, “Jadi apakah tidak mungkin ayahanda mengambil suatu tindakan mendahului peristiwa-peristiwa yang dapat terjadi menurut perhitungannya?”
“Maksudmu, Sri Rajasa mengambil tindakan terhadap ibundamu dan lebih daripada itu, berusaha untuk mendapatkan keris itu kembali?”
“Demikianlah paman.”
“Memang mungkin Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “namun jika demikian, maka persoalannya akan menjadi terbuka. Setiap prajurit di halaman istana ini harus memilih. Dan Sri Rajasa tidak akan berani menghadapi akibat itu pada saat ini.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Namun ia masih tetap dibayangi oleh kegelisahan tentang ibunya, “Paman, jika Ayahanda Sri Rajasa tidak dapat mengendalikan kemarahannya, maka yang pertama-tama akan mengalami akibatnya adalah ibunda. Apakah aku dapat berdiam diri jika Ayahanda Sri Rajasa berbuat sesuatu atas ibunda Ken Dedes meskipun ibunda seorang Permaisuri, yang di dalam persoalan keris itu pasti akan mempunyai pertimbangan tersendiri?”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Katanya, “Tentu kita tidak dapat membiarkan ibundamu menjadi sasaran kemarahan Sri Rajasa. Tetapi bukankah itu baru merupakan dugaan? Meskipun demikian Anusapati, aku akan pergi kebangsal Permaisuri. Aku akan pura-pura menengoknya dan menungguinya. Jika pada saat itu Sri Rajasa datang, aku akan dapat membantu ibundamu di dalam persoalan keris yang kau bawa itu.” Mahisa Agni berhenti sejenak. Lalu, “tetapi bukankah keris itu sudah bertahun-tahun ada di tangan ibundamu dan Sri Rajasa tidak pernah bertanya sesuatu tentang keris itu? Tentu tidak dengan tiba-tiba saja ia datang hari ini dan mempersoalkannya. Kecuali jika ada seseorang yang melihat keris itu ditanganmu.”
“Aku kira tidak ada seorang-pun yang melihatnya paman.”
“Jika demikian tentu tidak ada pula yang menyampaikannya kepada Sri Rajasa, dan ia-pun tidak akan berbuat apa-apa hari ini.”
“Mudah-mudahan. Tetapi aku berharap agar paman dapat menengok ibunda barang sejenak. Mungkin ada orang yang melihatnya di luar pengetahuanku. Aku akan segera kembali kebangsal. Jika ayahanda langsung mencari keris itu ke bangsal, maka isteriku akan mati ketakutan.”
“Dan jika kau ada di bangsalmu?”
“Tentu aku akan mempertahankan keris itu. Jika ayahanda memaksa apaboleh buat. Seperti kata paman Mahisa Agni, persoalannya akan menjadi persoalan terbuka. Dan aku akan kehilangan baktiku kepada Ayahanda Sri Rajasa. Aku berharap bahwa orang-orang Singasari akan mengetahui bahwa aku berbuat dengan wajar. Bukan berbuat sebagai seorang anak yang durhaka.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Itulah tekad yang sebenarnya yang tersimpan di dada Anusapati. Tetapi Mahisa Agni masih berharap bahwa hal itu tidak akan segera terjadi. Meskipun demikian, Anusapati memang harus berhati-hati menanggapi keadaan yang berkembang dengan pesatnya.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Agni ingin melihat keris itu. Apakah benar keris yang diberikan kepada Anusapati itu keris Empu Gandring. Mungkin ibunya hanya sekedar menenangkan hatinya, sementara keris itu masih tetap disimpannya sendiri.
Karena itu, maka Mahisa Agni-pun kemudian berkata, “Anusapati, apakah aku dapat melihat keris itu.”
“Tentu paman. Apabila paman berkenan melihat keris itu, aku persilahkan setiap saat paman datang ke bangsalku.”
“Aku akan datang sore nanti Anusapati. Setelah aku menengok ibundamu, maka aku akan singgah di bangsalmu.”
“Silahkan paman. Aku akan menerima paman dengan senang nati, bahkan aku ingin mendapat keterangan dari paman Mahisa Agni, apakah benar keris itu keris Empu Gandring yang telah mengambil nyawa ayahanda Akuwu Tunggul Ametung.”
Dada Mahisa Agni berdesir. Ternyata Anusapati-pun mempunyai keragu-raguan meskipun tidak terlampau besar.
Demikianlah maka Anusapati-pun kemudian minta diri. Sementara Mahisa Agni-pun kemudian berkemas untuk pergi menghadap Permaisuri.
Dengan dada yang berdebar-debar Mahisa Agni memasuki bilik Ken Dedes. Dilihatnya adik angkatnya itu terbaring di pembaringan berselimut kain panjang yang berwarna kelam. Sementara dua orang emban duduk disebelah pintu bilik yang tidak tertutup rapat, “Kau kakang,” desis Ken Dedes.
“Berbaringlah,” berkata Mahisa Agni sambil melangkah masuk.
Ken Dedes-pun kemudian menyuruh kedua embannya itu meninggalkannya.
“Rasa-rasanya aku benar-benar menjadi sakit kakang,” desis Permaisuri itu, “kepalaku menjadi pening dan badanku menjadi dingin.”
Mahisa Agni-pun kemudian duduk di atas sebuah dingklik kayu yang dialasi dengan kulit domba yang lunak. Sambil memandang wajah Ken Dedes yang buram Mahisa Agni berkata, “Tuan Puteri terlampau memikirkan keadaan yang berkembang dengan cepatnya saat ini. Sebaiknya tuan Puteri mencoba melupakannya.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata dengan nada yang dalam dan perlahan-lahan seolah-olah hanya ingin didengarnya sendiri, “Tetapi bagaimana aku akan melupakannya. Baru saja Anusapati datang kepadaku dan minta keris Empu Gandring itu. Aku sudah mencoba untuk mengingkarinya bahwa akulah yang membawa keris itu. Tetapi aku tidak berhasil.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia berkata, “Mungkin itu bukan kesalahan Pangeran Pati, akan tetapi hambalah yang bersalah. Namun bukan maksud hamba untuk mendorong Pangeran Pati berbuat sesuatu. Tetapi memang sebenarnyalah bahwa hamba ingin pengamanan yang lebih jauh lagi, karena keris itu akan dapat menjadi bahaya yang sebenarnya bagi Pangeran Pati.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedang Mahisa Agni berkata selanjutnya, “Tetapi hamba masih belum memikirkan bahwa hal itu memang dapat menimbulkan kepedihan pada tuan Puteri. Kegelisahan dan mungkin juga kecemasan, jika kemudian tuanku Sri Rajasa datang untuk mengambil keris itu.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar