*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 02-01*
Karya. : SH Mintardja
Walaupun jumlah mereka tidak begitu banyak, namun terasa juga pengaruhnya. Prajurit yang memberontak itu tidak dapat mendesak lebih laju lagi. Usaha mereka menembus prajurit-prajurit yang menahan mereka terpaksa terhenti untuk beberapa lamanya. Namun demikian perwira yang memimpin mereka itu pun segera berteriak, “Pecahkan pertahanan ini. Di seberang padukuhan ini kita akan menemukan kebebasan. Semakin cepat semakin baik.”
Tetapi perwira yang memimpin pasukan lawannya berteriak pula, “Tidak! Kepungan ini berlapis-lapis. Kalian tidak akan berhasil.”
“Persetan!” teriak pemimpin prajurit yang memberontak itu, “marilah kita buktikan bahwa kita pun prajurit.”
Prajurit-prajurit yang ingin melarikan diri itu bertempur semakin kasar. Yang ada di dalam angan-angan mereka adalah hanya satu tujuan, lari. Lepas dari tangkapan prajurit Singasari dan dengan demikian lepas dari tiang gantungan.
Pertempuran menjadi semakin lama semakin sengit. Prajurit-prajurit Singasari yang harus bertahan terus-menerus itu pun telah menjadi semakin garang pula.
Ternyata bahwa panah-panah sendaren yang berloncatan di udara telah mendapat tanggapan dari setiap prajurit yang mendengarnya. Sambung menyambung, maka isyarat itu terdengar ke seluruhan daerah pengepungan, bahwa prajurit yang terkepung itu telah berusaha memecahkan kepungan dan melarikan diri.
Dalam pada itu, prajurit berkuda Singasari yang sedang menyusul prajurit yang lolos dari baraknya itu pun telah melihat panah sendaren pula. Dan jarak padukuhan itu telah menjadi semakin dekat pula.
Panah itu ternyata telah mempercepat laju kuda mereka. Dengan cepatnya pasukan itu meluncur menuju ke padukuhan yang sedang dibakar oleh api pertempuran itu.
Ternyata yang kemudian memasuki padukuhan itu bukan saja pasukan berkuda itu. Tetapi juga pasukan dari padukuhan sebelah menyebelah. Meskipun jumlah mereka tidak begitu banyak, tetapi karena kedatangan mereka yang hampir bersamaan dari beberapa jurusan, maka mereka pun menjadi semakin kuat pula.
Prajurit-prajurit Singasari itu pun segera menempatkan diri mereka. Mereka tidak semuanya berada di satu pihak. Tetapi karena perintah Anusapati bagi prajuritnya adalah menangkap pemimpin prajurit yang memberontak itu, maka mereka pun telah mengepung prajurit-prajurit yang memberontak itu dari segala arah.
Pasukan yang berdatangan semakin banyak, dan menempatkan diri dalam satu lingkaran, telah membuat prajurit-prajurit yang memberontak itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka yang hampir kehilangan akal itu menjadi semakin bingung. Dengan demikian maka tandang mereka pun menjadi semakin liar dan buas sehingga mereka benar-benar telah menjadi sepasukan prajurit yang mendebarkan jantung oleh keputusasaan.
Pertempuran di antara mereka pun berkobar semakin dahsyat. Pasukan Singasari berjumlah semakin banyak, sedang prajurit yang memberontak itu bertempur semakin liar dan tanpa pegangan.
Perwira dari pasukan berkuda, yang ternyata merupakan senapati tertua di antara setiap kelompok pasukan yang ada di arena itu pun kemudian berteriak mengatasi dentang senjata beradu, “Pasukan yang memberontak. Menyerahlah. Kalian sudah terkepung. Jangan mempersulit diri sendiri dengan perlawanan yang tiada berarti apa-apa ini selain korban yang akan berjatuhan.”
Tidak ada jawaban. Tetapi pertempuran berkobar semakin seru. Kedua belah pihak memeras tenaga semakin banyak sehingga suara senjata beradu semakin memekakkan telinga.
“Cepat menyerah!” teriak Senapati itu, “kami masih akan mempertimbangkan pengampunan seperti kawan-kawanmu yang telah menyerah lebih dahulu di barak. Jika kalian tidak menyerah, dan kalian tertangkap di dalam pertempuran, maka persoalan kalian akan menjadi lain.”
Namun yang didengar adalah jawaban senapati yang telah memberontak itu, “Jangan bujuk kami seperti membujuk anak-anak dengan gula kelapa. Kami adalah prajurit yang menyadari tindakan kami. Dan kami tahu hukuman apa yang akan kalian timpakan kepada kami. Karena itu, kami akan menebus kebebasan kami dengan darah dan nyawa kami.”
“Kalian telah dibayangi oleh perasaan putus asa. Dengarlah suaraku. Aku adalah pemegang perintah Tuanku Anusapati.”
“Jangan sebut-sebut lagi. Minggirlah, kami akan melalui padukuhan ini. Atau kalian ingin kami melangkahi mayat kalian?”
Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya prajurit-prajurit yang memberontak itu benar-benar telah kehilangan akal, sehingga mereka melakukan perlawanan itu semata-mata sebagai suatu tindakan untung-untungan antara dua pilihan. Mati atau lepas dari tangan prajurit-prajurit Singasari.
Dengan demikian maka prajurit-prajurit Singasari itu pun tidak mempunyai pilihan lain. Mereka mengepung semakin rapat dalam jumlah yang semakin banyak.
Demikianlah selagi pertempuran itu berkobar semakin dahsyat, maka datanglah di padukuhan itu sepasukan berkuda yang lain. Bahkan di dalam pasukan ini terdapat beberapa tanda kebesaran Maharaja Singasari, karena Anusapati sendiri ada di dalam pasukan itu.
Dan daerah persawahan Anusapati melihat padukuhan yang dilanda oleh peperangan itu. Sejenak pasukan itu termangu-mangu. Namun kemudian Anusapati pun memerintah, “Kita masuk ke dalamnya. Kita melihat pertempuran yang telah terjadi itu.”
Dengan menyusuri jalan padukuhan, maka pasukan itu berhasil mendekati arena pertempuran yang menjadi semakin sempit karena kepungan yang semakin rapat.
Ternyata bahwa tanda kebesaran Maharaja Singasari itu mempengaruhi pertempuran yang sedang berkobar. Prajurit-prajurit yang melihat tanda-tanda kebesaran itu menjadi berdebar-debar. Yang berada di pihak Maharaja Anusapati menjadi semakin mantap, karena rasa-rasanya mereka bertempur di bawah lambaian panji-panji kebesaran. Sedang yang melawan Singasari menjadi semakin gelisah dan kecil hati.
Namun akibatnya menjadi semakin parah. Mereka menjadi semakin putus asa. Tidak ada lagi harapan untuk tetap hidup. Jika mereka tertangkap maka mereka akan digantung berderet-deret di alun-alun.
Dengan demikian maka mereka pun justru menjadi semakin liar dan garang.
Anusapati mengetahui apa yang sedang berkecamuk di dalam hati mereka. Jika pertempuran itu berkobar terus, maka korban akan semakin banyak berjatuhan di kedua belah pihak. Karena itu, maka ia pun maju beberapa langkah. Sambil duduk di atas kudanya ia berteriak, “Apakah kalian bersedia menghentikan perlawanan? Jika kalian bersedia, maka kami mempertimbangkan hukuman yang lebih ringan. Meskipun kami tetap akan menghukum yang bersalah, tetapi hukuman itu akan terbatas. Dan mereka yang sekedar terseret oleh arus tanpa menyadari dirinya akan dipertimbangkan pula.”
Suara Anusapati itu bagaikan bergema di seluruh daerah pertempuran. Meskipun senjata masih juga berdentingan, namun setiap telinga dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Anusapati.
Ternyata bahwa suara itu seolah-olah langsung meresap di dalam setiap hati. Beberapa orang prajurit yang semula tidak lagi dapat berpikir selain mati dan mati, mulai mempertimbangkan kata-kata Anusapati itu.
Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin kendur. Beberapa orang prajurit yang melakukan perlawanan itu mulai melepaskan perlawanannya selain berloncatan surut.
“Hentikan pertempuran!” tiba-tiba terdengar suara Anusapati bergema kembali, “Aku akan berbicara dengan mereka.”
Setiap prajurit yang mendengar perintah itu pun segera mematuhinya. Baik prajurit yang melakukan perlawanan, maupun yang akan menangkap mereka.
“Aku tahu bahwa kalian bukan berbuat karena kehendak kalian sendiri. Nah, jika demikian apakah kalian tidak mulai menyadari, bahwa perlawanan kalian tidak akan berarti? Janji yang tentu kalian terima sebagai imbalan tingkah laku kalian tidak akan pernah dapat terjadi jika kalian berdiri di bawah tiang gantungan. Karena itu sebaiknya kalian berpikir, bahwa sebaiknya kalian menyerah.”
Prajurit yang memberontak itu mengerutkan keningnya. Mereka benar-benar mulai berpikir.
“Nah, siapa yang menyerah, letakkanlah senjata. Sekali lagi aku memberikan jaminan, bahwa hukuman bagi kalian akan diperingan. Kalian tidak akan digantung dan dihukum mati dengan cara apapun.”
Sejenak prajurit-prajurit itu menjadi tegang. Namun tiba-tiba saja pemimpin mereka, yang merasa bahwa baginya tentu tidak akan ada pengampunan itu pun berteriak, “Licik! Kalian telah membujuk kami.”
“Tetapi kami bukan membujuk kalian untuk melakukan perbuatan yang salah dengan menjanjikan upah atau derajat yang tinggi, namun kemudian menjerumuskan kalian ke dalam neraka ini. Kami membujuk kalian untuk menyadari kenyataan yang kalian hadapi.”
“Omong kosong! Kami sudah menentukan sikap.”
“Apakah kau sadar dengan siapa kau berbicara?” bertanya Anusapati.
Senapati itu terdiam sejenak. Namun agaknya hatinya telah benar-benar dilapisi oleh keputusasaan, sehingga ia menjawab, “ Ya. Aku kenal. Kau adalah penguasa tertinggi di Singasari. Nah apakah akan memaksakan kekuasaanmu untuk berbuat sewenang-wenang di sini?”
Jawaban itu benar-benar telah mengejutkan setiap orang yang mendengarnya, termasuk Anusapati sendiri.
Tetapi Maharaja Singasari itu cukup bijaksana. Karena itu ia tidak segera terbakar hatinya dan menjatuhkan perintah yang berat bagi senapati yang dengan terus terang telah melawannya.
“Senapati,” berkata Anusapati, “jika aku menghentikan perlawananmu dan memberi kesempatan kau dan orang-orangmu menyerah dengan janji keringanan hukuman atas kesalahan kalian, apakah itu namanya sewenang-wenang?”
“Cukup!” potong Senapati itu, “kau mencoba mempengaruhi prajurit-prajuritku yang setia, yang telah menyatakan diri sehidup semati meskipun kami akan berhadapan dengan Maharaja Singasari sendiri. Karena kami sadar, bahwa Maharaja Singasari sekarang ini sebenarnya sama sekali tidak berhak atas tahta.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Tetapi dibiarkannya saja orang itu berbicara, agar ia mendapat bahan yang diperlukan. Adalah lebih baik orang itu berbicara atas kehendaknya sendiri daripada ia harus memaksanya.
“Kau telah membunuh Tuanku Sri Rajasa, agar kau mendapat kesempatan untuk menjadi raja.”
“Apakah begitu?” bertanya Anusapati, meskipun terasa dadanya berdesir juga, “setiap orang mengetahui bahwa aku adalah Pangeran Pati, yang berhak menggantikan kedudukan Ayahanda Sri Rajasa. Tetapi siapakah yang mengatakan hal itu kepadamu, Senapati?”
Senapati itu termangu-mangu. Lalu, “Aku mengerti karena aku dapat membuat perhitungan sebagai seorang prajurit. Kau memerintahkan Pengalasan dari Batil itu membunuh Sri Rajasa, lalu kau bunuh Pengalasan itu.”
“Tutup mulutmu!” geram panglima pasukan tempur Singasari yang menyertai Anusapati.
Tetapi Anusapati berdesis, “Biarlah ia mengatakan apa saja yang dikehendakinya. Kau tahu bahwa Ayahanda Sri Rajasa adalah seorang maharaja yang memiliki kemampuan tempur yang tidak ada duanya di muka bumi. Apakah Pengalasan dari Batil itu akan mampu membunuhnya seorang diri. Meskipun kita berpendapat demikian tetapi mungkin Pengalasan itu datang bersama satu dua orang sakti yang lain. Kesalahannya adalah karena ia datang seorang diri saja padaku, sehingga aku berhasil membunuhnya. Apabila senapati ini mempunyai cerita yang lain, tentu ia mempunyai sumber yang sengaja memutar balikkan kenyataan untuk tujuan tertentu.”
“Aku tidak mengerti bicaramu,” potong Senapati itu, “tetapi aku tidak akan menyerah kepadamu, kepada pembunuh Sri Rajasa meskipun kau meminjam tangan orang lain.”
“Jadi, kau tetap pada pendirianmu?” bertanya Anusapati.
“Aku tetap pada pendirianku.”
“Baiklah. Tetapi kau akan berdiri seorang diri. Lihat, prajurit-prajurit Singasari yang telah menyadari kesalahan akan meletakkan senjatanya. Bagaimana dengan kau?”
Senapati itu masih berdiri termangu-mangu. Namun kemudian sekali lagi ia menggeram, “Aku tetap pada pendirianku. Dan prajurit-prajuritku pun akan tetap pada pendiriannya.”
Sejenak Senapati itu berpaling, namun kemudian ia berteriak, “Marilah, kita sempurnakan tugas kita. Kita sudah berhadapan dengan pembunuh itu. Kita harus segera bertindak.”
Tidak seorang pun yang bergerak. Beberapa orang prajurit yang semula mengikuti jejaknya, kini berdiri saja termangu-mangu.
Yang terdengar kemudian adalah suara Anusapati, “Siapa yang mendengar suaraku, suara Maharaja Singasari yang memegang segala macam kekuasaan atas negeri ini, letakkan senjata kalian!”
Para prajurit itu masih termangu-mangu. Dan yang terdengar kemudian adalah senapati itu berteriak, “Jangan hiraukan! Cepat, angkat senjatamu. Hancurkan pembunuh itu!”
“Aku memberi kesempatan beberapa kejap mata lagi. Selebihnya, pasukanku akan bergerak. Siapa yang menyerah akan mendapat keringanan. Nah, siapakah yang meletakkan senjata?”
Prajurit-prajurit yang bingung itu bagaikan berdiri pada bibir sebuah lingkaran yang berputar. Semakin lama semakin cepat, semakin cepat, sehingga mereka bagaikan kehilangan kepribadian mereka sendiri.
Namun dalam pada itu, yang terdengar kemudian seakan-akan hanyalah suara Anusapati. Semakin lama semakin keras, semakin keras berdesing di telinganya. Sehingga dengan demikian, hampir di luar sadar, mereka pun segera melemparkan senjata mereka masing-masing.
Melihat sikap yang seolah-olah dalam mimpi itu, senapati yang memberontak itu berteriak keras-keras, “Gila! Kalian sudah gila! Kalian telah berkhianat. Berkhianat dua kali. Kita sudah bersepakat untuk mengkhianati pembunuh itu, namun sekarang kalian mengkhianati aku.”
Tidak ada jawaban. Orang-orang itu berdiri bagaikan patung dan seolah-olah telah kehilangan diri sendiri.
“Senapati,” berkata Anusapati kemudian, “kau sudah kehilangan semua kesempatan. Nah, sekarang lepaskan senjatamu.”
Tetapi senapati ini pun bagaikan sudah kehilangan akalnya pula. Sambil mengacu-acukan pedang dan kerisnya ia berkata, “Aku adalah seorang prajurit. Seorang prajurit jantan. Karena itu maka aku hanya berhenti bertempur jika nyawaku telah lepas dari tubuhku. Ayo, kerubut aku. Aku tidak gentar menghadapi pasukan Singasari yang manapun juga meskipun ia dipimpin oleh maharajanya, maharaja pembunuh itu.”
Wajah Anusapati menjadi merah, dan telinganya serasa panas. Lalu katanya, “Baiklah jika kau tidak mau menyerah. Kau benar-benar seorang prajurit jantan. Karena itu, maka kau pun akan mendapat kehormatan pula. Karena kau tinggal seorang diri, maka kami pun akan melawanmu dengan seorang diri. Nah, kau mendapat kesempatan memilih. Siapakah yang akan melawanmu seorang lawan seorang di antara para senapati yang datang menyertaiku.”
Senapati itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun menggeram menahan kemarahan yang menghentak-hentak dadanya.
“Pilihlah lawanmu. Mungkin yang kau anggap paling lemah di antara kami.”
“Persetan!” teriak senapati itu, “aku memilih lawan pembunuh Sri Rajasa.”
“Oh,” sahut Anusapati, “pembunuh Sri Rajasa sudah mati. Pilihlah yang ada di hadapanmu sekarang.”
“Kau, kau. Maharaja Singasari. Aku tidak yakin bahwa sebenarnya kau cukup sakti untuk menggantikan Sri Rajasa yang sudah berhasil menaklukkan Kediri dan membinasakan Maharaja Kediri waktu itu.”
“Aku?” Anusapati menjadi heran.
“Ya. Aku tidak yakin kemampuanmu yang sering menyebut dirinya Kesatria Putih itu benar-benar mampu mengimbangi senapati yang setia kepada Sri Rajasa ini.”
Anusapati tiba-tiba saja tersenyum. Katanya, “Kau dapat menyebut dirimu setia kepada Sri Rajasa. Tetapi kau telah memerintahkan dua kelompok prajurit yang kau samarkan untuk menimbulkan benturan dari golongan yang menyebut dirinya setia kepada Sri Rajasa dan golongan yang menyatakan diri sebagai pencinta Akuwu Tunggul Ametung yang terbunuh lebih dahulu. Nah, kenapa kau tidak menuduh pimpinan sekarang sebagai keturunan orang yang telah mengambil alih kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung sepeninggalnya? Atau apa saja yang dapat menimbulkan kesan seakan-akan bahwa kau bercita-cita tentang suatu susunan pemerintahan yang paling baik bagi Singasari?”
“Aku tidak peduli. Jika kau benar-benar memberi kesempatan aku memilih, aku memilih Maharaja Singasari sebagai lawanku.”
Anusapati termangu-mangu sejenak. Namun panglima prajurit Singasari yang menyertainya berkata, “Ampun Tuanku. Permintaan itu adalah tidak pantas sama sekali. Di sini ada beberapa orang senapati dan panglima. Jika Tuanku berkenan, biarlah hamba sajalah yang akan melayani orang yang sudah menjadi gila itu.”
“Persetan!” teriak Senapati itu, “Aku tidak gila. Aku masih sadar sepenuhnya. Aku masih dapat mengenal kau sebagai penjilat. Nah, apa katamu?”
Panglima prajurit Singasari itu menggeretakkan giginya. Katanya, “Beri hamba kesempatan Tuanku. Hamba akan memaksa Senapati itu untuk menyadari dirinya.”
“Kau tidak pantas melawan aku. Hanya Maharaja Singasari sajalah yang pantas melawan aku, karena aku adalah jelmaan dari tuntutan keadilan. Nah, apakah orang yang bernama Anusapati berani melakukan perang tanding ini.”
Anusapati tidak segera menjawab. Ia benar-benar menjadi bimbang, apakah yang sebaiknya dilakukan.
Karena Anusapati tidak segera menjawab, maka senapati yang seakan-akan sudah kehilangan nalarnya itu berteriak lagi, “Jangan menjadi ketakutan. Kau sekarang adalah seorang maharaja apapun caranya. Karena itu, sabdanya hanya satu kali. Dan kau memberi aku kesempatan memilih, dan aku sekarang sudah memilih. Jika kau tidak berani melakukan perang tanding, maka baiklah, aku akan melawan siapa saja yang akan kau tunjuk. Namun dengan pengertian, bahwa Maharaja Singasari sekarang adalah seorang pengecut. Tidak seperti Sri Rajasa yang agung, dan tidak seperti Akuwu Tunggul Ametung yang pernah memerintah Tumapel yang kecil, tetapi berjiwa sebesar seorang maharaja sejati.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku tahu, bahwa kau menyebut Sri Rajasa yang agung dan Akuwu Tunggul Ametung untuk memaksa aku memenuhi tantangan.”
“Jangan hiraukan,” potong panglima prajurit Singasari itu, “perintahkanlah kepada hamba, agar hamba menyumbat mulutnya yang kasar itu.”
Tetapi Anusapati tersenyum. Katanya, “Bukan karena ejekannya aku memenuhi pilihannya. Tetapi aku sendiri memang sudah mengatakan, bahwa ia dapat memilih di antara kita. Dan ia benar sudah menjatuhkan pilihan.”
“Tetapi Tuanku adalah seorang maharaja.”
“Biarlah. Justru aku seorang maharaja maka aku akan memegang janji kata-kataku.”
Panglima itu tidak dapat berbuat lain. Dengan hati yang berdebar-debar ia memandang Anusapati yang melangkah mendekati senapati yang menggenggam dua pucuk senjata. Sebilah pedang dan sebilah keris.
“Beri aku senjata!” berkata Anusapati.
Seorang senapati dengan hati yang berdebar-debar maju mendekati sambil membawa pedang Maharaja Anusapati yang dibawanya.
“Nah Senapati,” berkata Anusapati, “aku sudah siap. Kau benar-benar mendapat kehormatan untuk bertempur melawan seorang Maharaja Singasari.”
“Jangan banyak bicara. Cepat!”
“Aku sudah siap.”
Senapati itu tidak menunggu lagi. Ia benar-benar sudah tidak dapat mengendalikan dirinya. Dengan cepat ia meloncat, seakan-akan hendak menerkam Anusapati yang berdiri menghadapinya.
Serangannya benar-benar berbahaya. Senapati itu memang memiliki kemampuan yang tinggi. Serangan itu bagaikan angin yang menyambar, dan bahkan sentuhannya seolah-olah terasa mengusap tubuh Anusapati.
Anusapati agak terkejut juga mengalami serangan itu. Demikian pula para senapati yang menyaksikannya. Panglima prajurit Singasari yang ada di pinggir arena itu pun terkejut pula sehingga ia bergeser melangkah maju.
Namun Anusapati pun segera berhasil menyesuaikan diri. Ketika senapati yang kehilangan nalar itu menyerangnya sekali lagi, Anusapati sudah berhasil menempatkan dirinya sebaik-baiknya.
Tetapi senapati itu bagaikan seekor harimau yang kelaparan. Bahkan mirip dengan harimau yang terluka. Tandangnya menjadi semakin liar dan kasar.
Anusapati harus mengimbanginya. Bagaimanapun juga ia harus berkelahi dengan keras pula. Benturan-benturan yang terjadi ke-mudian adalah benturan-benturan yang keras. Bukan sekedar usaha melontarkan bunga-bunga api.
Demikian perkelahian itu merupakan perkelahian yang mendebarkan hati. Senapati yang telah dicengkam oleh keputusasaan itu berkelahi dengan garangnya. Kedua senjata di kedua tangannya bergerak-gerak dengan cepatnya bagaikan dua buah baling-baling yang berputar saling susul-menyusul.
Namun, ternyata Anusapati cukup tangkas menghadapinya. Ia mampu berloncatan seperti kijang. Bahkan kadang-kadang lawannya yang putus asa itu menjadi bingung.
Beberapa saat kemudian, Anusapati merasa bahwa ia akan dapat menguasai lawannya. Jika saja lawannya bertempur dalam keadaan yang wajar, sehingga ia dapat mempergunakan nalar dan pertimbangan akalnya, maka senapati itu memang cukup tangguh. Tetapi karena hatinya yang gelap pekat, maka ia bertempur sekedar mempergunakan gerakan-gerakan naluri meskipun dilandasi oleh ilmu yang dimilikinya. Namun sama sekali tidak terarah. Namun demikian, gerakan-gerakan yang dilandasi oleh perasaan putus asa itu, kadang-kadang berbahaya juga bagi Anusapati.
Dalam pada itu, maka Anusapati kemudian sempat membuat pertimbangan. Ia ingin menangkap senapati itu hidup-hidup agar ia dapat menyadap keterangan darinya, siapakah sebenarnya yang berdiri di belakangnya. Meskipun para prajuritnya telah menyerah, namun agaknya mereka tidak banyak mengetahui, siapakah yang berdiri di balik keributan ini.
Karena itulah, maka Anusapati kemudian tidak lagi melayaninya mati-matian. Ia ingin memaksa lawannya menyerah, atau kehabisan nafas sehingga ia akan dapat ditangkap dengan mudah.
Karena itu untuk beberapa saat, Anusapati seakan-akan justru terdesak oleh lawannya. Beberapa orang senapati terkejut melihat hal itu. Namun sejenak kemudian mereka pun menarik nafas dalam-dalam.
Para senapati pun segera melihat bahwa sebenarnya Anusapati telah meyakini keadaannya. Dan mereka pun menyadari, bahwa tentu Anusapati ingin menangkap pemimpin prajurit yang telah memberontak itu hidup-hidup.
Tetapi senapati itu sendiri, yang melakukan perang tanding melawan Anusapati, tidak segera merasa bahwa sebenarnya Anusapati sedang berusaha menangkapnya hidup-hidup. Ketika ia merasa bahwa Anusapati mulai terdesak olehnya, maka ia pun berkata, “Nah, Anusapati. Jangan menyesal. Jika kau mati terbunuh di arena perang tanding ini, maka Singasari akan jatuh ke tangan yang berhak.”
“Siapakah yang berhak?” bertanya Anusapati.
Hampir saja mulut Senapati itu mengucapkan sebuah nama. Tetapi untunglah bahwa ia segera menyadari kekeliruannya. Maka jawabnya, “Sayang, bahwa kau tidak pantas mendengar namanya. Jangan menyesal.”
Anusapati tidak bertanya lagi. Ia masih saja sekedar bertahan dan menghindarkan diri dari serangan-serangan lawannya. Dan senapati yang sudah putus asa itu merasa dirinya mendapat kemenangan yang akan dapat menyelamatkannya, dan bahkan akan mengangkat derajatnya.
Namun semakin lama, terasa nafasnya menjadi semakin terengah-engah. Meskipun rasa-rasanya ia masih saja menekan lawannya yang sama sekali tidak mendapat kesempatan menyerang, namun tekanannya sama sekali tidak menimbulkan gangguan apapun terhadap Anusapati.
Demikianlah maka semakin lama, nafas senapati itu pun menjadi semakin dalam. Bahkan kemudian terasa nafas itu semakin mengganggunya. Namun demikian, ia masih saja tidak berhasil melakukan serangan yang berbahaya dan apalagi melumpuhkan lawannya.
Akhirnya senapati itu mulai curiga terhadap perkelahian itu. Sedikit demi sedikit ia merasa, bahwa keadaan perkelahian itu agak aneh baginya. Meskipun ia selalu berhasil mendesak dan tidak memberi kesempatan kepada Anusapati, namun Anusapati rasa-rasanya masih saja tetap segar dan melakukan perlawanan dengan tangkasnya.
Senapati yang hampir kehabisan nafas itu pun akhirnya merasa sepenuhnya, bahwa perlawanannya sebenarnya adalah sia-sia saja. Ia kemudian menyadari, bahwa Anusapati memang tidak bertempur sepenuh kemampuannya dan dengan segera berusaha mengalahkannya. Ia sadar, bahwa selama itu agaknya Anusapati membiarkannya berloncatan, berputar dan bertempur seorang diri. Itulah sebenarnya, akhirnya nafasnya bagaikan terputus di kerongkongan.
Meskipun demikian, rasa-rasanya tidak mungkin lagi baginya untuk menyerah. Karena itu, maka ia pun berusaha untuk tetap bertempur terus, apapun yang akan terjadi. Bahkan sampai nafasnya putus sama sekali.
Tetapi ternyata bahwa kemampuannya memang terbatas. Sampai pada saatnya, tenaganya rasa-rasanya telah terkuras habis. Bahkan apabila ia mengayunkan pedangnya, maka ia akan terseret sendiri oleh ayunan pedang itu, sehingga terhuyung-huyung. Setiap langkah membuatnya kehilangan keseimbangan dan sekali-sekali senapati perang yang telah melawan kekuasaan Anusapati itu terseret oleh tenaganya sendiri dan terjatuh di tanah.
Anusapati sama sekali tidak berusaha menyerangnya. Dibiarkannya senapati itu dengan tertatih-tatih berusaha bangkit dengan kedua senjata di tangannya. Pedangnya masih tergenggam erat di tangan kanan, sedang di tangan kirinya dipegang kerisnya dengan eratnya.
“Apakah kita bertempur terus?” tiba-tiba Anusapati bertanya.
“Persetan!” senapati itu menggeram. Tetapi suaranya sudah tidak terdengar jelas lagi.
Anusapati tersenyum, katanya, “Kau memang berjiwa prajurit. Kau memiliki kejantanan yang cukup. Pantang menyerah. Tetapi sayang, bahwa kau dungu dan agak keras kepala sehingga kau tidak mau melihat kenyataan yang kau hadapi. Apakah kau masih belum mau mengerti keadaan yang sebenarnya dari pertempuran ini? Dan kemudian dari perang tanding ini?”
Senapati itu tidak menjawab. Tetapi ia justru menyerang dengan menusukkan pedangnya ke arah dada Anusapati.
Dengan menarik sebelah kakinya Anusapati menghindar sehingga orang itu terdorong oleh tenaganya sendiri. Sejenak ia terhuyung-huyung. Namun ia pun kemudian jatuh terjerembab mencium tanah.
“Kau masih keras kepala?”
Orang itu mencoba bangkit sambil bertelekan pedangnya. Namun karena ia sudah demikian lelahnya, sehingga ia seakan-akan tidak lagi mempunyai kekuatan untuk mengangkat lututnya.
Perlahan-lahan Anusapati mendekatinya. Kemudian ditolongnya orang itu berdiri.
Namun demikian ia tegak, sekali lagi ia mengayunkan pedangnya langsung ke lambung Anusapati. Dan kali ini Anusapati tidak menghindar. Tetapi ditangkisnya pedang itu dengan senjatanya.
Terdengar suara kedua senjata itu beradu. Namun ternyata benturan senjata itu telah melemparkan senapati itu beberapa langkah dan kini ia jatuh terbanting.
Sejenak ia menelentang sambil menyeringai. Wajahnya jadi pucat seperti kapas. Namun ia masih belum menyerah. Ternyata ia masih berusaha bangkit meskipun ia tidak berhasil.
“Menyerahlah,” berkata Anusapati sambil mengacukan senjatanya di dada orang itu.
Tetapi senapati itu tidak menghiraukannya. Ia mencoba memukul senjata Anusapati dengan senjatanya.
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Orang itu benar-benar sudah tidak berdaya. Bahkan ketika Anusapati kemudian membiarkannya, ia sudah tidak dapat segera berdiri lagi.
Meskipun demikian Anusapati belum memberikan perintah untuk menangkap orang itu. Jika demikian agaknya orang itu tidak akan segera membunuh dirinya. Karena itu, maka dibiarkannya saja orang itu dengan susah payah berusaha untuk berdiri lagi.
Akhirnya sambil bertelekan senjatanya, ia berhasil tertatih-tatih berdiri. Namun demikian ia berusaha untuk tegak, maka datanglah serangan Anusapati tanpa diduganya. Tetapi Anusapati sama sekali tidak menyerang tubuhnya, namun dengan senjatanya ia memukul senjata senapati itu sehingga kedua-duanya terlepas dari tangannya.
“Licik, licik,” suaranya seakan-akan tersangkut di kerongkongan, “kau melepaskan senjataku.”
Anusapati tidak menanggapinya. Namun kemudian keluarlah perintah untuk menangkap orang itu hidup-hidup.
Hampir tidak ada perlawanan sama sekali. Ketika dua orang senapati kemudian menangkapnya, maka ia tidak dapat berbuat lain kecuali mengumpat-umpat dan meronta beberapa saat. Namun kemudian tenaganya pun seolah-olah telah terserap habis sama sekali.
Meskipun demikian, orang itu terpaksa diikat tangannya. Bukan karena ia akan mendapat kesempatan menyerang tetapi yang paling dicemaskan adalah apabila ia membunuh dirinya, jika berkesempatan.
Demikianlah maka orang itu pun kemudian dengan susah payah dibawa ke Singasari. Orang itu sendiri sama sekali sudah tidak mau berbuat apapun juga. Ia sama sekali tidak lagi berusaha menyelamatkan dirinya dengan cara apapun juga.
Selain senapati itu, maka para prajurit yang telah dipengaruhinya, dibawa pula bersamanya ke Singasari. Namun bagi yang menyerah, prajurit-prajurit Singasari telah mengambil sikap yang lain. Apalagi mereka yang menyerah sejak mereka masih berada di barak.
Demikianlah usaha penangkapan prajurit-prajurit yang memberontak itu dapat dikatakan selesai. Bahkan satu dua yang sebenarnya masih mendapat kesempatan untuk lari pun telah menyerahkan diri pula, karena mereka sadar, bahwa mereka tidak akan dapat hidup tenteram sebagai orang buruan.
Atas perintah Anusapati, maka senapati itu telah mendapat tempat di dalam halaman istana untuk menahannya. Di hari pertama ia sama sekali tidak mau mengatakan apapun juga. Dan para petugas pun menyadari, bahwa darahnya tentu masih terasa mendidih. Karena itu, dibiarkannya saja senapati itu duduk diam di dalam ruang yang menyekapnya.
Dengan tertangkapnya sekelompok prajurit yang telah berusaha mengeruhkan pemerintahan Singasari itu, Anusapati ingin mendapat bukti dan saksi, siapakah yang sebenarnya telah mengganggu ketenteraman, sehingga apabila ia harus bertindak, maka tindakannya itu bukannya tidak beralasan.
“Kita akan mendapatkan bukti hidup, Paman,” berkata Anusapati kepada Mahisa Agni yang berada di Singasari.
“Ya. Tetapi kesaksiannya tidak dapat dijadikan bahan satu-satunya untuk bertindak terhadap seseorang. Meskipun demikian kesaksiannya akan sangat besar pengaruhnya bagi kukuhnya kedudukan Tuanku.”
“Aku akan berusaha mendengar pengakuannya meskipun aku tidak boleh segera mempercayainya. Mungkin ia sengaja membuat kesaksian palsu yang justru dapat mengacaukan pemerintahanku.”
“Tuanku benar. Dan apabila tidak berkeberatan dan diperkenankan, biarlah hamba ikut mendengarkan pengakuan itu.”
“Tentu tidak Paman. Aku mengharap Paman mendengarkan kesaksiannya. Dan aku pun mengharap Paman Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana akan ikut mempertimbangkan pengakuannya. Paman dapat memberitahukan pengakuan itu kepada mereka, dan mendengarkan apakah yang mereka katakan tentang pengakuan itu.”
“Hamba akan menghadap di dalam pemeriksaan itu kelak.”
“Biarlah orang itu mendapat kesempatan merenungi dirinya sendiri lebih dahulu. Mudah-mudahan ia menyesal.”
“Mudah-mudahan,” ulang Mahisa Agni.
Demikianlah maka hari itu, senapati yang telah memberontak itu dibiarkannya saja di dalam ruang tahanannya. Di sebelah senapati itu, dipisahkan oleh sekat yang tebal, adalah tempat untuk menahan para perwira di dalam kelompok itu yang barangkali juga mengetahui serba sedikit tentang usaha pengkhianatan yang mereka lakukan. Sedangkan para prajurit, yang dianggap tidak berbuat banyak kesalahan itu, ditahan di luar halaman istana, dan mereka akan segera mendapat keputusan keringanan hukuman atas kesalahan mereka. Bahkan ada di antara mereka yang sama sekali tidak mengerti, apakah sebenarnya yang telah dilakukan itu.
“Besok siang aku akan bertemu dengan senapati itu,” berkata Anusapati kepada seorang perwira yang bertugas menjaga senapati yang memberontak itu.
“Hamba Tuanku. Mudah-mudahan besok siang, senapati itu sudah dapat mengendapkan perasaannya dan menemukan dirinya sebagai seorang prajurit Singasari.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang mengharap bahwa segera ada kesaksian yang dapat dipakainya sebagai landasan untuk bertindak lebih jauh, meskipun ia masih harus selalu berhati-hati.
Ketika malam kemudian menyelimuti Singasari, rasa-rasanya hati Anusapati masih saja selalu terganggu. Ia ingin segera mendengar keterangan dari mulut senapati itu. Seakan-akan ia tidak dapat bersabar menunggu sampai besok.
Tetapi Anusapati harus mengekang dirinya. Ia harus menunggu sampai besok seperti yang sudah dikatakannya sendiri.
Namun dengan demikian hampir semalam suntuk ia tidak dapat tertidur. Jika sekilas ia terlena, maka ia pun segera diganggu oleh mimpi yang mengejutkan.
“Rasa-rasanya aku meninggalkan seorang bayi di tepi telaga,” berkata Anusapati di dalam hatinya.
Ketika ia mendengar suara burung hantu di kejauhan, hatinya menjadi berdebar-debar. Seolah-olah ia mendengar keluh yang memelas dari beberapa orang yang tidak dikenalnya.
“Ah, aku telah dipengaruhi oleh perasaan yang terlepas dari ikatan nalar,” berkata Anusapati, “seharusnya aku dapat tidur nyenyak malam ini, setelah sekelompok prajurit itu berhasil ditangkap. Malam ini tidak akan ada lagi tindakan-tindakan tercela yang dengan sengaja memancing kekeruhan di dalam pemerintahanku.”
Meskipun demikian, ia tidak berhasil mengusir kegelisahannya seakan-akan memang ada sesuatu yang terjadi.
Itulah sebabnya Anusapati keluar dari peraduannya dan hampir di luar sadarnya ia pun pergi ke tempat senapati itu ditahan.
Tiga orang pengawalnya menjadi heran. Ketika Anusapati turun dari bangsalnya, maka para pengawal itu pun menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Ampun Tuanku. Sebaiknya Tuanku memerintahkan hamba untuk melakukan yang Tuanku kehendaki.”
Anusapati memandang para pengawal itu sejenak. Namun katanya kemudian, “Aku akan berjalan-jalan di halaman. Rasa-rasanya malam panas sekali.”
Para pengawal itu saling berpandangan sejenak. Salah seorang kemudian berkata, “Apakah ada perintah bagi hamba?”
Anusapati memandang pengawal itu sejenak, lalu, “Ikut aku!”
Ketika pengawal itu pun kemudian mengikutinya. Anusapati pun sadar, bahwa ia tidak dapat menolak pengawalnya. Ketika ia masih menjadi seorang Pangeran Pati, ia tidak pernah memerlukan pengawal. Memang agak berbeda dengan Tohjaya.
Tetapi sekarang ia tidak dapat berbuat demikian. Anusapati sadar, bahwa ia kini adalah seorang maharaja. Itulah sebabnya ia selalu membiarkan dirinya diikuti oleh pengawalnya. Tetapi ia kenal benar kepada pengawal-pengawal itu, karena ia sendirilah yang memilikinya.
Tanpa tujuan Anusapati melangkahkan kakinya di sepanjang halaman bangsalnya. Beberapa orang prajurit yang sedang bertugas menjadi heran melihatnya. Tetapi mereka menyadari bahwa Anusapati tentu sedang digelisahkan oleh peristiwa yang baru saja terjadi. Meskipun ia berhasil menangkap prajurit-prajurit itu, tetapi peristiwa itu agaknya sempat mengguncangkan hatinya.
Ketika Anusapati sampai di depan regol taman, terasa hatinya berdebar. Taman itu kini rasa-rasanya menjadi sangat sepi. Dahulu ia selalu pergi ke taman dan bercakap-cakap dengan seorang juru taman yang sangat baik. Tetapi orang yang dikenal sebagai pengalasan dari Batil itu sudah tidak ada lagi. Ia telah mengorbankan jiwanya, dan bahkan kemudian namanya untuk kepentingannya. Ia telah mati dengan sadar, bahwa ia telah berusaha menyelamatkan kedudukannya. Berbeda dengan pengorbanan yang pernah diberikan Kebo Ijo. Nyawanya dan namanya. Tetapi ia sama sekali tidak menyadari apa yang dilakukan dan apa yang terjadi atasnya.
“Paman Sumekar yang baik itu,” berdesis Anusapati.
Pengawalnya mendengar desis itu. Tetapi tidak begitu jelas. Namun tidak seorang pun yang berani bertanya, apa yang dikatakan oleh Anusapati itu.
Dan tiba-tiba saja Anusapati yang sedang menahan gejolak perasaannya itu menggeram, “Aku akan melihat orang-orang yang sedang ditawan itu.”
Pengawalnya saling berpandangan. Namun mereka tidak dapat berbuat lain daripada mengikuti Anusapati pergi ke ruang tawanannya disimpan.
Prajurit yang bertugas menjaga para tawanan itu menjadi terkejut sekali melihat kehadiran Anusapati justru di malam hari. Dengan tergesa-gesa mereka menyambut kedatangannya dengan dada yang gelisah.
“Aku tidak mempunyai keperluan yang khusus,” katanya kepada para penjaga ketika ia melihat kegelisahan mereka.
“Hamba Tuanku,” sahut prajurit yang dengan gemetar berdiri memegang tombak panjang.
“Di manakah tawanan itu?”
“Di bilik itu Tuanku.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Kemudian perlahan-lahan ia mendekati bilik berdinding kayu yang tebal. Perlahan-lahan Anusapati mengangkat selarak pintu itu dan mendorong daun pintunya ke samping.
Para penjaga menjadi heran. Ketiga pengawalnya segera berloncatan di samping. Mereka bersiap menghadapi setiap ke-mungkinan apabila tawanan yang sudah berputus asa itu mengamuk.
Ternyata dugaan para pengawal itu benar. Ketika senapati yang berada di dalam ruangan itu melihat dalam cahaya lampu, siapakah yang berdiri di muka pintu, tiba-tiba saja ia meloncat meraih lampu minyak di dalam bilik itu. Dengan sekuat tenaga ia melemparkan lampu itu ke wajah Anusapati.
Tetapi Anusapati pun sebenarnya sudah menduga bahwa sesuatu dapat terjadi atas dirinya. Karena itu, maka ia pun segera bergeser ke samping sambil memiringkan kepalanya.
Lampu minyak itu terbang setebal jari dari wajah Anusapati, sehingga panasnya masih terasa. Tetapi sejenak kemudian halaman bangsal tempat senapati itu ditawan segera menjadi terang benderang, karena lampu yang dilemparkan itu jatuh pada seonggok rumput yang mulai kering di musim kemarau. Minyaknya berhamburan dan api pun segera menyambarnya.
Tetapi Anusapati tidak menjadi bingung. Ia pun segera melangkah masuk ke dalam ruangan yang gelap. Tetapi karena ia memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan, maka ia pun dapat melihat senapati yang siap untuk menyerangnya.
Namun bukan saja Anusapati yang kemudian berada di dalam bilik itu, tetapi ketiga pengawalnya pun segera berloncatan masuk dengan senjata telanjang, sehingga senapati itu terpaksa mengurungkan niatnya.
“Kau benar-benar berjiwa prajurit,” desis Anusapati, “tetapi sayang, bahwa kau tidak dapat menempatkan dirimu pada tempat yang sebenarnya bagi seorang prajurit.”
Senapati itu tidak menjawab. Tetapi ia menggeram menahan kemarahan yang bergolak di dalam dadanya.
“Beristirahatlah,” berkata Anusapati kemudian, “baru besok kita akan berbicara. Tetapi agaknya sulit berbicara dengan seorang senapati yang dicengkam oleh perasaan putus asa dan bahkan berusaha untuk membunuh dirinya sendiri.”
“Persetan!” senapati itu menggeram. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa karena ujung senjata yang mengarah ke dadanya.
“Baiklah. Renungkanlah dirimu sendiri menjelang fajar menyingsing. Mudah-mudahan kau menemukan jalan yang jernih.”
Senapati itu tidak menjawab. Tetapi cahaya matanya bagaikan membara.
Ketika Anusapati kemudian keluar dari bilik itu, dilihatnya beberapa orang prajurit sedang berusaha memadamkan api yang membakar rerumputan. Dengan tanah dan pasir, maka sejenak kemudian api itu pun menjadi semakin surut, dan akhirnya padam sama sekali.
“Hati-hatilah dengan tawananmu,” berkata Anusapati kepada penjaga tawanan itu.
“Hamba Tuanku. Hamba akan menjaganya baik-baik.”
“Selarak pintu itu.”
“Hamba Tuanku.”
“Di manakah perwira-perwira yang lain?”
“Ada di bilik sebelah.”
“Mereka tidak akan seliar senapati yang sedang berputus asa ini. Biarlah mereka tidur. Jangan diganggu. Aku besok akan menemui mereka seorang demi seorang, termasuk senapati itu.”
Anusapati pun kemudian meninggalkan bilik tawanan itu dan berjalan menyusuri halaman dengan kepala tunduk.
Malam yang gelap rasa-rasanya menjadi semakin gelap. Ketika Anusapati menengadahkan kepalanya, dilihatnya bintang gemintang gemerlapan di langit yang biru hitam.
Sambil menarik nafas dalam-dalam Anusapati bergumam, “Bintang Gubuk Penceng telah menjadi semakin condong.”
“Hamba Tuanku. Bintang Gubuk Penceng sudah condong ke barat.”
“Sebentar lagi fajar akan menyingsing.”
“Hamba Tuanku.”
Anusapati tidak berbicara lagi. Ia pun kemudian memasuki bangsalnya kembali. Kepada para pengawalnya ia berkata, “Kalian dapat beristirahat. Biarlah para penjaga bangsal itu menggantikan tugasmu.”
“Hamba Tuanku,” jawab mereka hampir berbareng sambil menganggukkan kepalanya.
Ketika Anusapati sudah di balik pintu, maka ketiga pengawal itu pun menarik nafas dalam-dalam.
“Aku rasa, jarang sekali seorang raja yang bertingkah laku seperti Tuanku Anusapati,” desis salah seorang dari mereka.
“Kenapa?” bertanya yang lain.
“Tuanku Anusapati yang pernah menyebut dirinya, atau katakanlah disebut orang sebagai Kesatria Putih itu masih saja ingin menangani berbagai masalah langsung dengan tangannya sendiri.”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepala. Katanya, “Sebenarnya itu sangat berbahaya bagi seorang maharaja. Mungkin hal itu tidak terlampau terasa selagi Tuanku Anusapati masih seorang Pangeran Pati. Tetapi seharusnya ia dapat mengendalikan dirinya sedikit selagi ia sudah menjadi seorang maharaja, karena kalau terjadi sesuatu, maka akibatnya akan terasa di seluruh negeri.”
Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala. Salah seorang dari mereka berkata, “Kita akan beristirahat di gardu. Biarlah para pengawal bangsal ini bertugas sampai fajar.”
Kawan-kawannya pun menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun kemudian berbaring di gardu di depan regol. Sejenak mereka terlena. Namun rasa-rasanya mata mereka baru terpejam mereka sudah dibangunkan dengan tergesa-gesa.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar