Kamis, 28 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 21-01

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-21-01
Sejenak kemudian keduanya telah menjadi semakin dekat. Darah rakyat Singasari yang mengelilingi arena seakan-akan berhenti mengalir ketika kedua orang di arena itu saling berbenturan.

Mulut mereka terbungkam ketika mereka melihat Tohjaya terdorong oleh ujung tongkat lawannya. Tetapi ternyata bahwa ia benar-benar memiliki ketangkasan berkuda. Meskipun ia sudah menjadi miring, akan tetapi ia berhasil memperbaiki, kemudian Tohjaya-pun telah tegak kembali di atas punggung kuda.

Sri Rajasa terkejut juga melihat kedudukan Tohjaya yang goyah itu, sehingga ia bergeser setapak. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, ketika puteranya terkasih itu ternyata berhasil memperbaiki keseimbangannya.

Namun demikian, pada benturan yang pertama Sri Rajasa melihat bahwa Kesatria Putih agaknya memang memiliki kemampuan yang lebih besar dari Tohjaya.

“Mudah-mudahan Tohjaya mampu bertahan, sehingga ia mendapat kesempatan untuk bertanding pada jarak yang pendek.” Sri Rajasa berharap, bahwa kepandaian Tohjaya mengendalikan kudanya akan berpengaruh didalam pertandingan itu.

Ketika kedua orang yang berada diarena itu harus mengulangi benturan dengan ancang-ancang itu, Sri Rajasa telah menahan nafasnya. Demikian juga para penonton disekeliling arena. Tidak seorang-pun yang bergerak dan tidak seorang-pun yang mengucapkan sepatah kata. Semuanya seakan-akan membeku karenanya.

Yang terdengar hanyalah derap kaki-kaki kuda, diikuti oleh tatapan mata yang tegang.

Sejenak kemudian, sekali lagi setiap orang harus menahan nafasnya ketika benturan kedua itu terjadi.

Sri Rajasa hampir meloncat berdiri. Untunglah ia sadar, bahwa ia adalah seorang Maharaja yang besar. Karena itu maka ia tetap saja duduk ditempatnya.

Ternyata benturan yang kedua menguntungkan Tohjaya ketika Kesatria Putih agak terlambat mengangkat tongkatnya. Sentuhan tongkat Tohjaya telah menggerakkan ujung tongkat Kesatria Putih sehingga sama sekali tidak mengenai sasarannya. Namun dalam pada itu, Tohjaya dengan cepat berhasil menggerakkan ujung tongkatnya sehingga menyentuh pundak Kesatria Putih.

Kesatria Putih mencoba untuk menghindar. Tetapi geraknya sangat terbatas, karena kudanya berlari terus. Meskipun ia berusaha memutar tubuhnya, namun ujung tongkat Tohjaya masih mengenainya sehingga hampir saja Kesatria Putih terlempar dari kudanya. Tetapi seperti Tohjaya, Kesatria Putih masih berhasil mempertahankan dirinya. Kakinya masih berpegangan dengan kuat, sedang sebelah tangannya memeluk kudanya sementara tangannya yang lain memegangi, tongkatnya erat-erat.

Untunglah bahwa kudanya adalah kuda yang baik, sehingga meskipun kendalinya lepas sama sekali, tetapi kuda putih itu tidak melonjak dan melemparkan penunggangnya yang sedang dalam kesulitan.

Tohjaya melihat kedudukan Kesatria Putih yang lemah itu. Karena itu, setelah kedua benturan itu tidak berhasil menjatuhkan salah seorang daripada mereka yang bertanding, mereka akan meneruskan pertandingan pada jarak pendek tanpa ancang-ancang.

Dalam pada itu Tohjaya ingin mempergunakan kesempatan selagi Kesatria Putih masih berusaha memperbaiki keseimbangannya. Dengan serta-merta ia menarik kendali kudanya berputar. Dengan tergesa-gesa Tohjaya memacu kudanya kembali mengejar kuda Kesatria Putih. Namun sementara itu, Kesatria Putih sudah sempat duduk kembali di atas punggung kudanya. Ia sudah berhasil menguasai keadaan sepenuhnya. Karena itu ketika ia sadar bahwa Tohjaya menyerangnya, maka ia-pun segera memutar kudanya menghadap lawannya.

Sejenak kemudian keduanya-pun telah terlihat dalam pertandingan yang seru. Masing-masing menggerakkan tongkatnya dengan cepatnya. Sekali-sekali terdengar kedua tongkat panjang itu berbenturan. Namun kemudian tongkat-tongkat itu terayun mengenai tubuh-tubuh mereka berganti-ganti. Bahkan kadang-kadang tongkat itu berhasil mendorong lawannya. Tetapi keduanya adalah orang-orang yang trampil dan seakan-akan mumpuni mempergunakan senjata panjang dan naik di atas punggung kuda.

Mereka yang berada diatas panggung kehormatan-pun menjadi tegang. Sri Rajasa hampir tidak berkedip menyaksikan pergulatan yang sengit itu. Mahisa Agni bagaikan patung batu. Bahkan seakan-akan bernafas-pun tidak.

Apalagi Ken Umang yang menyaksikan putranya bertempur dengan orang yang penuh rahasia, yang oleh rakyat Singasari dianggap sebagai seorang Pahlawan.

Demikianlah perkelahian itu menjadi semakin dahsyat. Bahkan kemudian mereka seakan-akan telah menjadi bersungguh-sungguh. Hanya karena ujung tongkat-tongkat itu dilapisi dengan sabut, serta daya tahan tubuh-tubuh itu sangat kuat, maka mereka berdua masih tetap berada dipunggung kuda.

Anak-anak muda Singasari menyaksikan pertandingan itu dengan dada yang berdebaran. Kini mereka merasa, betapa kecilnya diri mereka sendiri dibandingkan dengan kedua kesatria yang tengah beradu ketrampilan di tengah-tengah arena.

Tetapi lambat laun, ternyata bahwa Kesatria Putih memiliki ketahanan tubuh dan kelebihan setingkat di dalam olah ketrampilan. Bahkan semakin lama, mereka yang memiliki ilmu yang cukup dapat melihat, bahwa sebenarnyalah Kesatria Putih berusaha untuk mengekang diri. Mereka yang berilmu matang, seperti para Panglima dan para Senapati pilihan, Mahisa Agni dan Sri Rajasa sendiri merasa bahwa Kesatria Putih berusaha menghormati Tohjaya sebaik-baiknya, sehingga meskipun Tohjaya akan kalah juga, namun ia kalah dengan hormat, setelah berjuang habis-habisan serta melayani lawannya hampir seimbang. Kekalahan itu seakan-akan hanyalah sekedar kekalahan kecil atau justru karena Tohjaya sudah lelah, karena ia sudah dua kali bertanding melawan orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi.

Dengan demikian Sri Rajasa menjadi semakin cemas. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat menghentikan pertandingan. Ia tidak akan dapat berbuat sesuatu atas Kesatria Putih, karena ia adalah seorang pahlawan.

“Kesatria Putih akan memenangkan pertandingan ini,” ia berdesah, “jika demikian, maka ia harus dilenyapkan, agar di Singasari hanya ada seorang pahlawan saja, Tohjaya.”

Tanpa sesadarnya Sri Rajasa berpaling kepada Mahisa Agni sambil berkata di dalam hati, “Ia harus menyelesaikannya nanti”

Dalam pada itu Mahisa Agni sendiri duduk dengan tegangnya menyaksikan pertandingan itu. Karena itu ia sama sekali tidak menyadari bahwa Sri Rajasa sedang memandanginya dan bahkan berkata di dalam hatinya, bahwa Mahisa Agni akan mendapat tugas yang sangat berat. Membinasakan Kesatria Putih tanpa diketahui oleh orang lain, agar tidak menimbulkan kesan, bahwa Singasari telah berkhianat terhadap kesatria yang selama ini telah mengabdi kepada rakyat tanpa pamrih.

Demikianlah pertandingan di arena itu berlangsung terus.

Tetapi agaknya Tohjaya sudah menjadi semakin letih. Serangan-serangannya sama sekali sudah tidak mapan lagi. Bahkan sekali dua kali apabila Kesatria Putih berhasil menghindar, maka ayunan tongkatnya hampir-hampir saja menyeretnya jatuh dari atas punggung kuda.

Dalam pada itu Kesatria Putih nampaknya masih segar, sesegar ketika ia datang. Dengan sentuhan kecil, Tohjaya pasti sudah akan terlempar dari kudanya. Namun ternyata Kesatria Putih tidak melakukannya. Seperti pada saat Tohjaya bertanding melawan anak muda yang terakhir. Kesatria Putih banyak memberi kesempatan kepada lawannya untuk bertahan duduk di atas punggung kudanya.

Demikianlah sebenarnya tampak oleh mereka yang berdiri di sekitar arena, apalagi bagi yang duduk di atas panggung kehormatan, bahwa Tohjaya sudah kehilangan kemampuan karena kelelahan meskipun ia masih tetap duduk di atas punggung kuda. Ternyata bahwa Kesatria Putih tidak berhasrat sama sekali menjatuhkannya dari atas punggung kuda itu. Bagi orang-orang yang berada di panggung kehormatan, tampak jelas, bagaimana Kesatria Putih masih berpura-pura menyerang Tohjaya. Namun serangan-serangan itu sama sekali bukan serangan sebenarnya yang dapat menjatuhkannya.

Sri Rajasa tidak mengerti, apa sebabnya Kesatria Putih berbuat demikian. Tohjaya-pun tidak mengerti, kenapa Kesatria Putih itu tidak menyentuh saja tubuhnya, dan ia akan segera terpelanting jatuh.

Adalah di luar dugaan, ketika Kesatria Putih itu kemudian mendekati Senapati yang menjadi saksi utama di dalam pertandingan itu sambil berkata. “Apakah ketentuan dari pertandingan ini, jika tidak seorang-pun terjatuh dari kudanya, dapat dianggap bahwa pertandingan ini berakhir tanpa ada yang menang dan kalah?”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak membuat ketentuan itu. Pertandingan akan berlangsung terus, sehingga salah seorang dapat dikalahkan. Bahkan meskipun tidak dengan sengaja, ada juga salah seorang peserta yang jatuh dan pingsan.

“Bagaimana?” Kesatria Putih mendesak.

Sebelum ia menjawab, Tohjayalah yang menyahut, “Aku tahu, kau memenangkan pertandingan ini. Kenapa kau tidak mau mendorong aku jatuh?”

“Tidak. Kau, eh, maksud hamba, tuanku adalah seorang yang memiliki kemampuan yang mengagumkan. Tuanku bukan seorang yang dengan mudah dapat dikalahkan. Dan hamba kira, hamba tidak akan dapat menjatuhkan tuanku, meskipun tampaknya tuanku sudah lelah. Hamba-pun sadar, bahwa hal ini juga disebabkan bahwa tuanku sudah bertempur dua kali berturut-turut.”

“Jangan mengigau, ayo, selesaikan tugasmu, kau akan dielu-elukan oleh rakyat Singasari sebagai pahlawan terbesar melampaui kebesaranku.”

Kesatria Putih tidak menyahut. Namun tiba-tiba saja ia mengangkat wajahnya memandang Sri Rajasa yang kemudian berdiri di panggung kehormatan, “Tohjaya. Kau harus mengakui kelebihan Kesatria Putih kali ini, meskipun kau dapat bertahan sampai saat terakhir. Kau sudah bertempur dua kali melawan orang-orang terkuat di Singasari. Namun itu bukan alasan yang dapat kau pergunakan untuk membela diri. Sudahlah, turunlah dari kudamu sebagai pertanda kemenangan lawanmu.”

Tohjaya memandang Sri Rajasa dengan tegangnya. Tetapi ia-pun kemudian turun dari kudanya di depan panggung kehormatan. Dengan tergesa-gesa ia-pun naik ke atas panggung itu, lalu bersimpuh dihadapan Sri Rajasa sambil berkata, “Ampun ayahanda, hamba tidak dapat mempertahankan kebesaran nama ayahanda diarena ini karena kehadiran Kesatria Putih.”

“Kau sudah berbuat sebaiknya. Marilah sekarang kita menuntut janji Kesatria Putih. Jika ia memenangkan pertandingan ini, ia akan membuka kerudung putihnya dihadapan kita di sini, sehingga rakyat Singasari akan mengenalnya, siapakah sebenarnya pahlawan yang besar ini, yang selama ini sudah menyelamatkan puluhan, bahkan ratusan rakyat yang mengalami bencana.”

Tohjaya mengangkat wajahnya. Kini ia memandang Kesatria Putih yang masih duduk di atas punggung kudanya dengan tongkat panjang di tangan kanannya.

“Kesatria Putih,” panggil Sri Rajasa, “kemarilah.”

Kesatria Putih tampak ragu-ragu sejenak.

“Buat apa kakanda memanggil setan itu,” desis Ken Umang, “biarlah ia segera pergi. Ia sudah melepaskan harapan Tohjaya untuk menjadi anak muda terkuat di seluruh negeri.”

Ketika Sri Rajasa berpaling, dilihatnya wajah Ken Umang yang merah padam. Setitik air matanya mengambang di sudut matanya yang basah itu.

“Aku memerlukannya. Aku ingin tahu, apakah Kesatria Putih memenuhi ketentuan yang ada di dalam pertandingan ini. Jika tidak, ia sudah menipu kita semua, dan hukumannya adalah hukuman pancung di sini juga.”

Ken Umang tidak menjawab lagi. Kini dilihatnya Kesatria Putih yang masih duduk di atas punggung kudanya perlahan-lahan mendekati panggung kehormatan.

“Mendekatlah,” berkata Sri Rajasa, “aku ingin melihat, apakah kau masih berhak ikut di dalam pertandingan ini.”

Kesatria Putih itu menjadi termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Sri Rajasa yang berdiri di atas panggung kehormatan. Kemudian Senapati yang menjadi saksi utama dari pertandingan terbuka itu, serta beberapa orang Senapati dan prajurit yang berada di sekitar arena.

“Mendekatlah.” panggil Sri Rajasa sekali lagi, “bukalah kerudung wajahmu seperti yang kau janjikan.”

Ken Umang yang kehilangan harapan atas puteranya untuk mendapat gelar pahlawan terbesar itu mulai terisak. Dengan tangannya ia mengusap air mata yang jatuh satu-satu dipangkuannya. Air mata yang mencerminkan betapa tamaknya hati perempuan itu.

Sedang di sebelah lain, mata Ken Dedes-pun berlinang-linang pula. Ia mulai membayangkan wajah Anusapati yang seakan-akan semakin lama semakin tersisih. Di dalam kesempatan serupa ini, Anusapati sama sekali tidak terucapkan. Hampir saja Tohjaya berhasil merebut hati rakjat Singasari. Jika Tohjaya memenangkan pertandingan terakhir, maka sempurnalah permainan Sri Rajasa.

Lamat-lamat terbayang kembali bagaimana Tunggul Ametung tersingkir dari kedudukannya. Bagaimana-pun juga akhirnya Ken Dedes-pun mengerti, bahwa sebenarnya Ken Arok saat itu telah berhasil melakukan peranannya dengan baik sekali.

Hanya karena hatinya yang disaput oleh gejolak naluri seorang perempuan, serta kemudian diikuti oleh kenyataan bahwa Ken Arok berhasil memerintah Singasari lebih baik dari Tunggul Ametung, Ken Dedes tidak pernah mempersoalkan kematian Tunggul Ametung. Tetapi kini, dengan cara yang selembut itu pula Sri Rajasa berusaha menyingkirkan keturunan Tunggul Ametung, meskipun anak itu sendiri sama sekali tidak mengetahuinya.

Seperti Ken Umang, Ken Dedes-pun mengusap air matanya. Tetapi seakan-akan cahaya yang terpantul dari butiran-butiran air mata dari kedua isteri Sri Rajasa itu berwarna lain.

Demikianlah kuda Kesatria Putih kini sudah berdiri di depan panggung kehormatan. Perlahan-lahan Kesatria Putih itu-pun meloncat turun dari kudanya. Katanya kemudian, “Ampun tuanku Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Apakah tuanku benar-benar berkeinginan melihat wajah hamba yang jelek ini.”

“Aku tidak peduli. Namun aku ingin mengetahui, apakah kau masih pantas untuk ikut bermain-main bersama anak-anak di arena ini.”

Kesatria Putih membungkukkan badanya dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera membuka kerudung putihnya. Perlahan-lahan ia mendekati tangga panggung kehormatan itu. Dan tanpa diduga-duga oleh siapa-pun ia mulai naik setapak demi setapak.

Langkahnya ternyata telah mempesona setiap orang. Mereka bagaikan membeku melihat Kesatria Putih naik ke atas panggung. Bahkan Sri Rajasa-pun bagaikan kehilangan nalar sejenak, melihat Kesatria Putih itu semakin lama semakin mendekat.

Yang mendebarkan jantung setiap orang adalah, tiba-tiba saja Kesatria Putih itu-pun berlutut. Tidak dihadapan Sri Rajasa tetapi yang mula-mula adalah dihadapan Permaisuri.

Semua orang terkejut karenanya. Ken Dedes-pun terkejut bukan kepalang, sehingga ia hanya diam mematung, tidak tahu apa yang akan dilakukan.

Baru setelah berlutut dihadapan Permaisuri, Kesatria Putih bersimpuh dihadapan Sri Rajasa sambil berkata, “Perkenankanlah hamba membuka kerudung putih hamba betapa-pun jeleknya wajah ini.”

“Berdirilah,” berkata Sri Rajasa yang serasa masih terpesona oleh peristiwa-peristiwa yang tidak mereka perhitungkan sebelumnya, “dan bukalah kerudung putihmu menghadap rakyat Singasari yang akan menilai, siapakah Kesatria Putih sebenarnya, dan apakah ia masih dapat disebut kanak-anak.”

Kesatria Putih termangu-mangu sejenak. Namun seperti perintah Sri Rajasa, maka Kesatria Putih itu-pun kemudian berdiri. Sekali ia berpaling memandang Tohjaya dan Ken Umang, barulah kemudian tangannya bergerak menggapai kerudung putihnya.

Darah Tohjaya serasa berhenti mengalir. Ia menjadi sangat tegang menunggu. Demikian juga rakyat Singasari.

Nafas mereka tertahan-tahan. Mereka tidak sabar lagi menunggu, siapakah sebenarnya Kesatria Putih itu.

Tiba-tiba hati mereka terjerat oleh kata-kata Kesatria Putih yang lantang, “Rakyat Singasari. Inilah kenyataanku, Kesatria Putih yang selama ini menumbuhkan teka-teki bagi kalian.”

Bersamaan dengan terkatubnya bibir Kesatria Putih itu, maka direnggutnya tirai yang selama ini menutup wajahnya. Tirai putih yang membuatnya disebut Kesatria Putih selain kudanya yang putih pula.

Ketika tirai di wajah itu terbuka, setiap dada telah dihentakkan oleh kenyataan yang tidak mereka duga-duga sama sekali. Demikian wajah itu terbuka, setiap mulut telah menyebut namanya dengan wajah tegang penuh keheranan dan bahkan pertanyaan yang ragu-ragu, “Anusapati Putera Mahkota.”

Mereka menjadi yakin ketika Kesatria Putih yang sudah tidak berkerudung lagi itu berkata, “Akulah Anusapati, Putera Mahkota Kerajaan Singasari yang besar, Putera Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi yang lahir dari ibunda Permaisuri Ken Dedes.”

Arena itu menjadi gegap gempita. Lebih dahsyat dari ledakan seribu guntur bersama-sama. Langit rasa-rasanya akan runtuh dan demikian pula hati Tohjaya dan Ken Umang. Seperti belanga yang terbanting dibatu pualam, maka hati mereka-pun pecah berkeping-keping.

Dalam pada itu Sri Rajasa berdiri dengan wajah yang merah padam. Sejenak dipandanginya Anusapati, namun kemudian dipandanginya wajah Mahisa Agni tenang. Tetapi wajah yang tenang itu bagaikan air pusaran yang dahsyat yang menghisapnya ke dalam kehancuran yang mutlak.

Mahisa Agni sendiri masih tetap berada di tempatnya. Ia sama sekali tidak berbuat sesuatu. Dibiarkannya semuanya terjadi menurut perkembangan yang wajar dari peristiwa yang sudah diperhitungkannya masak-masak. Sri Rajasa pasti tidak akan berani berbuat apa-pun juga dihadapan rakyat Singasari yang selama ini menganggap Kesatria Putih sebagai pelindung mereka. Apalagi kini mereka mengetahui, bahwa Kesatria Putih itu tidak lain adalah Putera Mahkota. Putera Mahkota yang selama ini mereka anggap sebagai seorang laki-laki yang hanya mampu menunggui isterinya, tanpa menghiraukan keadaan pemerintah sama sekali, tanpa berbuat apa-pun juga untuk kesejahteraan rakyatnya. Ternyata bahwa dugaan itu keliru. Yang mereka anggap sebagai pahlawan selama ini ternyata adalah orang yang tepat, orang yang dapat mereka pergunakan sebagai tempat berpegangan yang kokoh di masa mendatang.

Rakyat Singasari sama sekali tidak menghiraukan, perasaan apakah yang sedang bergejolak di dalam hati Sri Rajasa. Bahkan sebagian dari mereka menganggap, bahwa Sri Rajasa-pun akan menjadi gembira sekali menghadapi kenyataan itu.

Namun dalam pada itu Sri Rajasa terpaksa mengakui di dalam hati, bahwa kini ia menghadapi permainan Mahisa Agni yang ternyata berhasil mengatasi permainannya. Ketika ia berhasil menyingkirkan Tunggui Ametung, Mahisa Agni hanyalah seorang anak muda Panawijen yang sedang sibuk membuat bendungan, ia sama sekali tidak berbuat sesuatu, selain justru membantunya, mengalahkan Witantra ketika ia berusaha membersihkan nama Kebo Ijo yang telah dibunuhnya pula.

Tetapi kini, ia menghadapi permainan Mahisa Agni. Dan Sri Rajasa-pun sadar, bahwa Anusapati adalah kemenakan Mahisa Agni. Meskipun kecurigaan itu timbul sejak lama, dan menyingkirkan Mahisa Agni ke Kediri, namun ternyata bahwa Mahisa Agni masih sempat membentuk Anusapati menjadi seorang anak muda yang pilih tanding, yang melampaui kemampuan Tohjaya.

Meskipun demikian, Sri Rajasa bukannya seorang yang terlampau bodoh. Ia adalah seorang pemikir yang masak. Yang mampu menyingkirkan Tunggul Ametung dan sekaligus memperisteri Ken Dedes, kemudian menggunakan gejolak perasaan orang-orang Kediri sendiri untuk menjatuhkan Maharaja Kediri yang termashur.

Karena itu, setelah ia berhasil menguasai gejolak perasaannya, maka tiba-tiba Sri Rajasa itu-pun melangkah maju mendekati Anusapati. Sambil menepuk bahunya ia berkata kepada rakyat Kediri. “Rakyatku yang baik. Sekarang kalian sudah melihat kenyataan ini. Yang kalian elu-elukan sebagai pahlawan dan kalian sebut Kesatria Putih itu adalah seorang yang memang seharusnya menjadi seorang pahlawan. Ia adalah Putera Mahkota. Itulah sebabnya aku ikut berbangga, bahwa pilihanku tidak salah. Anak sulungku, yang selama ini aku bentuk untuk menjadi seorang pahlawan di masa datang, telah menunjukkan kemampuannya. Selama ini aku simpan ia di dalam istana dalam penempaan yang tidak mengenal jemu bersama Tohjaya. Dan harapanku atas keduanya ternyata tidak sia-sia. Tohjaya telah mencoba berbuat sejauh dapat dilakukan, sedang Anusapati telah menunjukkan baktinya pula kepada rakyat Singasari dengan caranya, karena ia tidak mau menyanjung diri. Dan adalah wajar sekali bila Tohjaya tidak dapat mengalahkan Kesatria Putih, karena ternyata bahwa Kesatria Putih bukan saja saudara tuanya, tetapi juga saudara tua seperguruan. Kini terimalah kedua Puteraku di tengah-tengah kalian.”

Rakyat Singasari itu menyambut kata-kata Sri Rajasa dengan tepuk tangan dan sorak mawurahan.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ternyata Sri Rajasa masih mempunyai cara untuk meneruskan permainan. Tetapi bagaimana-pun juga, Mahisa Agni sudah memiliki separo kemenangan. Sedang separo lagi masih diperebutkan. Jika Mahisa Agni mendapat sebagian yang separo, maka bagiannya sudah lebih banyak dari yang akan didapat oleh Sri Rajasa.

Tetapi Mahisa Agni-pun mempertimbangkan semuanya dengan saksama. Kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang di dalam istana. Tetapi kesempatan untuk merebut hati rakyat dihadapan rakyat itu adalah kesempatan yang hampir mustahil didapatkannya jika bukan karena tingkah Tohjaya sendiri.

Dalam pada itu, kedua isteri Sri Rajasa ternyata tengah menekuni perasaan masing-masing yang bergejolak di dalam dada. Ternyata mereka telah menjumpai persoalan yang sama sekali tidak diduga-duga. Begitu besar hati Ken Dedes menyaksikan putranya yang tanpa disangkanya, bahkan mimpi-pun tidak, tiba-tiba saja menjadi seorang pahlawan yang paling besar di kalangan anak-anak muda Singasari sesuai dengan kedudukannya sebagai Putera Mahkota. Sebagai seorang yang berpikir cerah, Ken Dedes-pun segera dapat menyelusuri, apakah yang sebenarnya telah terjadi dibalik dinding istana yang tinggi itu. Tentu Mahisa Agni memegang peranan yang penting didalam permainan ini. Tanpa Mahisa Agni, Anusapati hanyalah sekedar abu di dalam kobaran api ketamakan istana Singasari.

Tanpa disadarinya, maka air mata Permaisuri itu mengalir dengan derasnya. Setiap kali tangannya mengusap maka air itu telah tumbuh pula dipelupuk.

Ken Umang-pun telah menangis pula. Betapa ia mencoba bertahan menghadapi kenyataan. Betapa ia mencoba menghibur diri dengan keterangan Sri Rajasa. Namun ternyata bahwa dendam telah menyala tanpa terkendali di dalam hati. Kekalahan Tohjaya dari Anusapati, dan kenyataan bahwa pahlawan besar yang selama ini dielu-elukan rakyat Singasari melampaui puteranya, dan yang mereka sebut Kesatria Putih itu adalah Anusapati.

“Kenapa ia tidak dibunuh saja,” geram Ken Umang di dalam hatinya, sedang Tohjaya berkata di dalam hati pula, “Pantas Mahisa Agni dan Anusapati begitu mudahnya menyingkirkan Kesatria Putih seperti yang dikatakan ayahanda itu.”

Tetapi sekarang tidak mudah bagi siapa-pun juga untuk menyingkirkan Kesatria Putih yang ternyata adalah Anusapati. Tentu Anusapati kini merupakan pahlawan besar pula bagi rakyat Singasari, yang dengan demikian tidak akan dapat dengan begitu saja disingkirkan dari hati rakyat itu.

Ternyata bahwa latihan dan pertandingan terbuka yang diminta oleh Tohjaya itu telah menimbulkan kecut di hati Sri Rajasa dan Ken Umang beserta puteranya terkasih, yang diharapkan akan dapat menjadi anak muda yang paling perkasa di seluruh Singasari. Namun mereka tidak dapat menghindarkan diri dari kenyataan, bahwa Anusapati adalah anak muda yang lebih besar dari padanya.

Dengan demikian, bukan saja Anusapati yang harus menengadahkan dadanya, bahwa ia bukan seorang anak muda yang dungu seperti yang diduga oleh para prajurit dan Senapati, juga oleh Tohjaya dan gurunya, namun setiap orang-pun akan menilai Mahisa Agni, orang terdekat disisi Anusapati. Tidak seorang-pun yang tidak menyorotkan pandangan matanya atas ilmu Anusapati pada kemampuan Mahisa Agni.

“Aku-pun tidak dapat menyembunyikan diri lagi,” berkata Mahisa Agni, “kini kita bermain dengan pintu terbuka.”

Anusapati yang dengan patuh menjalankan semua petunjuk Mahisa Agni ternyata mendapat cara untuk tampil langsung didepan mata rakyat Singasari.

Setelah pertandingan itu dinyatakan selesai dan rakyat Singasari yang ada di sekitar arena pergi meninggalkan alun-alun, maka yang mereka percakapkan tidak ada lain kecuali Putera Mahkota.

“Ternyata aku telah sesat,” berkata salah seorang dari mereka. “selama ini aku menganggap bahwa Putera Mahkota itu adalah seorang laki-laki yang tidak mampu menunjukkan kejantanan diri. Berbeda dengan adindanya Tohjaya, yang dengan penuh tanggung jawab telah berusaha menyelamatkan rakyatnya dari kesusahan. Tetapi ternyata bahwa bukan demikian yang sebenarnya. Tuanku Putera Mahkota-pun adalah seorang pahlawan yang besar.”

“Ia tidak mendapat kesempatan itu,” seseorang berbisik.

“Kenapa?”

Seorang yang berjanggut putih berkata diantara kedua telapak tangannya, “Apakah kau lupa, bahwa tuanku Permaisuri melahirkan puteranda Anusapati hanya enam bulan setelah perkawinannya dengan Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi?”

“Ah, jangan menyinggung itu lagi. Mungkin itu memang suatu dosa, bahwa tuanku Permaisuri mengandung sebelum perkawinannya. Tetapi Ken Arok tidak ingkar.”

“Bodoh sekali. Putera yang dikandung itu bukan hadir dari dosa. Ia ada didalam kandungan dari suaminya yang dahulu.”

“O, ya. Ia adalah putera Tunggul Ametung.”

“Sst.”

Kawannya terdiam. Namun mereka sadar, bahwa bukan hanya mereka sajalah yang mengerti bahwa Anusapati lahir terlampau cepat, setelah perkawinan Ken Dedes dengan Ken Arok, sehingga sebenarnya hampir setiap orang tua-tua di Singasari mengerti, bahwa Anusapati adalah Putera Tunggul Ametung.

Demikian pula akhirnya para Senapati mengambil kesimpulan yang sama. Tetapi susunan keprajuritan yang lahir setelah Sri Rajasa memegang pemerintahan, mencerminkan kesetiaan mereka kepada Sri Rajasa. Terlebih-lebih adalah Senapati-Senapati muda yang diangkat di saat-saat Sri Rajasa sudah berkuasa.

Namun Mahisa Agni sudah memperhitungkannya juga.

Dalam pada itu, Sri Rajasa yang kemudian duduk termangu-mangu menerima keluh kesah puteranya yang lahir dari Ken Umang. Bukan saja Tohjaya, tetapi Ken Umang sendiri menangis berkata. “Memalukan sekali tuanku, Tohjaya sudah turun ke arena dan dikalahkan oleh anak sakit-sakitan itu.”

“Jangan berkata begitu, ia adalah Putera Mahkota.”

“Tetapi ia tidak berhak menghancurkan nama Tohjaya dihadapan rakyat Singasari.”

“Tidak seorang-pun yang tahu bahwa akan terjadi demikian.”

“Tentu pokal Mahisa Agni. Kenapa tuanku masih juga mempergunakan orang yang jelas tidak setia kepada tuanku?”

“Tidak mudah untuk menuduh demikian, Mahisa Agni lah yang datang bersama aku ke Kediri dan menundukkan Gubar Baleman. Tidak ada seorang-pun yang dapat melakukan hal itu.”

“Tentu tuanku sendiri dapat melakukannya.”

“Aku tidak yakin, setelah aku memeras tenaga melawan Maharaja dari Kediri itu.” sahut Sri Rajasa, “apalagi jika tanpa Mahisa Agni saat itu, kedua kekuatan itu pasti akan bergabung. Dan aku tidak akan pernah kembali ke Singasari. Tidak ada kekuatan yang dapat melawan Gubar Baleman dan Maharaja Kediri bersama-sama.”

Ken Umang tidak menyahut lagi. Ia memang tidak dapat ingkar, tanpa Mahisa Agni, Singasari tidak akan dapat sebesar saat ini. Bahkan mungkin Kediri akan mampu mematahkannya sebelum tumbuh dan berkembang. Namun kini ternyata Mahisa Agni menjadi penghalang baginya, bagi puteranya Tohjaya, karena Mahisa Agni adalah paman Anusapati.

“Jangan kau risaukan,” berkata Sri Rajasa, “aku mempunyai seribu jalan. Tetapi aku tidak dapat berbuat kasar. Aku harus berhati-hati. Sekarang aku tahu, bahwa pasti Anusapati sendirilah yang telah berhasil membunuh Kiai Kisi ketika ia pergi menumpas penjahat itu. Dan aku-pun harus memperhitungkannya sebagai orang berkerudung hitam yang berkeliaran di istana ini. Jika demikian, maka aku harus menjadi semakin berhati-hati permainan Mahisa Agni cukup matang.”

Ken Umang dan Tohjaya tidak menyahut. Mereka harus mengerti, bahwa tidak menguntungkan apabila mereka berbuat dengan tergesa-gesa. Ternyata orang Panawijen itu bukannya seorang yang tidak mampu menanggap permainan Sri Rajasa.

“Mahisa Agni sudah dapat membaca rencanaku,” berkata Sri Rajasa didalam hatinya. Dan Sri Rajasa-pun agaknya sudah menduga bahwa Mahisa Agni sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi atas Tunggul Ametung.

“Tidak mustahil ia akan mengambil sikap yang menentukan.” katanya didalam hati. Tetapi Sri Rajasa tidak pernah menyatakan kecemasannya kepada, Ken Umang, mau-pun kapada Tohjaya.

Dalam pada itu, Permaisuri sedang menangisi kenyataan yang tidak terduga-duga. Dihadap oleh putera-puteranya. ia mengucapkan syukur kepada Yang Tunggal, bahwa ternyata Anusapati bukan seekor domba yang lemah di padang rumput yang penuh dengan serigala.

“Dimana kau mendapat kemungkinan untuk mengalahkan Tohjaya?” bertanya ibunya.

Anusapati tidak menyahut. Ia hanya menundukkan kepalanya saja di samping isteri dan anaknya yang mulai nakal.

“Aku benar-benar iri hati kanda,” berkata Mahisa Wonga Teleng, “kanda tentu tidak berkeberatan mengajari aku.”

Anusapati tersenyum. Jawabnya, “Tentu. Tetapi kau akan banyak kehilangan waktu.”

“Kenapa? Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”

“Baiklah, pada saatnya, kau dapat saja belajar ilmu tata bela diri. Mungkin bersama dengan anak-anak kita.”

Mahisa Wonga Teleng tertawa. Anak-anak mereka memang telah tumbuh semakin besar. Mereka adalah laki-laki yang kuat dan nakal.

“Tetapi dengan demikian kau harus berhati-hati Anusapati,” berkata ibunya.

“Kenapa ibu?”

Ken Dedes tidak segera menyahut. Dipandanginya wajah Anusapati sejenak. Masih tampak kegembiraan disorot matanya meskipun mata itu basah. Namun lambat laun, mata itu menjadi suram. Terbayang dimata Ken Dedes itu, kenyataan tentang Anusapati. Wajah puteranya itu mirip benar dengan wajah Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel yang telah disingkirkan oleh Ken Arok.

Sebagai seorang ibu, maka Ken Dedes justru mulai dirayapi oleh kecemasan tentang puteranya itu. Ia sadar, bahwa Ken Arok tidak bersikap jujur. Gelar Putera Mahkota diberikan kepada Anusapati bukan karena hatinya berkata demikian. Tetapi sekedar untuk mengelabui kata hatinya yang sebenarnya. Beberapa orang tua-tua di Tumapel mengetahui, bahwa sumber kekuasaan atas Tumapel ada di tangan Tunggul Ametung yang melimpah kepada Ken Dedes, sehingga kekuasaan itu sudah sewajarnya diwarisi oleh Anusapati. Tetapi tentu Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu tidak ikhlas membiarkan Anusapati kelak benar-benar bertahta di Singasari.

Betapa perasaan itu menghentak-hentak di dadanya, sehingga pada suatu saat, ia tidak dapat bertahan lagi. Dipanggilnya Anusapati menghadap seorang diri, dan terloncat dibibirnya pesan, “kau memang harus berhati-hati Anusapati.”

Anusapati yang memang sudah menyimpan berbagai pertanyaan didalam hati, seolah-olah mendapat jalan untuk bertanya kepada ibunya. “Kenapa ibu setiap kali berpesan kepada hamba untuk berhati-hati. Dan kenapa hamba merasa bahwa memang hamba selalu dibayangi oleh pengawasan yang tidak sewajarnya di dalam istana ini?”

Ken Dedes yang dadanya sudah dipenuhi oleh berbagai macam perasaan itu hampir saja menuangkan segala sesuatu kepada Anusapati. Namun tiba-tiba ia merasa sesuatu telah menahannya.

Karena itu yang terlontar dari bibirnya hanyalah sebagian saja, “Kau mempunyai ibu tiri Anusapati. Dan ibu tirimu juga mempunyai seorang anak laki-laki, hampir sebaya dengan kau.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Tetapi ibu, apakah hamba harus mencurigai saudaraku sendiri meskipun bukan lahir dari ibu yang sama?”

Pertanyaan itu menyentuh hati Ken Dedes. Maka sejenak ia merenung. Ada sesuatu yang memberati hatinya untuk berkata berterus terang. Apalagi setelah ia tahu bahwa anaknya bukan seorang laki-laki dungu yang hanya dapat mengeluh dan meratap. Kini baginya Anusapati adalah seorang laki-laki, seorang jantan sepenuhnya, sehingga ia-pun pasti akan dapat mengambil sikap jika hatinya tersinggung.

Karena itu, Ken Dedes hanyalah dapat menarik nafas dalam-dalam.

Namun desakan perasaan di dada Anusapati lah yang kemudian mendorongnya bertanya, “Bunda, hamba tidak mengerti, apakah hanya sekedar perasaan hamba, bahwa sebenarnyalah ayahanda tidak bersikap adil terhadap hamba dan Adinda Tohjaya. Sejak hamba kanak-anak, hamba merasakan perbedaan sikap itu. Di dalam banyak hal Ayahanda Sri Rajasa tidak membantu hamba. Juga di dalam olah kanuragan. Hamba seakan-akan selalu tersisih. Hanya Adinda Tohjaya lah yang mendapat kesempatan sebaik-baiknya. Baginya, sebelum hamba muncul sebagai Kesatria Putih di arena, hamba adalah seorang yang tidak berharga. Dengan demikian hamba harus menempuh jalan lain untuk dapat mengimbanginya.”

“Jalan apakah yang sudah kau tempuh Anusapati?”

“Untunglah ada Pamanda Mahisa Agni. Pamanda Mahisa Agni lah yang telah membentuk hamba menjadi seorang yang mampu mengimbangi Tohjaya tanpa diketahui olehnya dan oleh Ayahanda Sri Rajasa. Jika hamba tidak mendapat kesempatan atas permainan Pamanda Mahisa Agni, sebagai Kesatria Putih yang sudah dikenal Rakyat Singasari, mungkin hamba akan mengalami akibat lain, jika diketahui bahwa hamba mempunyai ilmu yang cukup.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tanpa disadarinya air matanya mengalir semakin deras. Terbayang keadaan Anusapati yang seakan-akan selalu terdorong menjauh dari setiap kesempatan.

Tetapi Ken Dedes tidak dapat mengatakannya. Ken Dedes tidak dapat mengemukakan perasaan yang sebenarnya bergejolak di dalam hatinya.

“Ibu,” bertanya Anusapati lebih lanjut, “kenapa Ayahanda Sri Rajasa bersikap demikian? Apakah sesuatu yang membuatnya membenci hamba?”

“Tidak Anusapati, tidak. Itu hanya sekedar perasaanmu saja. Sikap ayahandamu kepadamu tidak ubahnya dengan sikap Sri Rajasa kepada putera-puteranya yang lain. Aku juga pernah mendengar Tohjaya mengeluh kepada ibunya, menanyakan sikap Ayahanda Sri Rajasa. Kenapa ia selalu tersisih dan dengan tergesa-gesa menyerahkan gelar Putera Mahkota kepadamu, seakan-akan Ayahanda Sri Rajasa cemas, bahwa Tohjaya ingin merebutnya.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Jika benar demikian, maka adalah bayangan yang tumbuh dari mimpi buruk sajalah yang menyebabkannya merasa tersisih.

Tetapi Anusapati yang sudah dewasa itu menangkap sesuatu yang tersirat di wajah dan titik air mata ibunya. Meskipun ibunya mencoba menyembunyikan perasaannya, namun Anusapati berhasil menangkapnya, dan merasa bahwa apa yang dikatakan oleh ibunya itu bukannya yang sebenarnya dirasakannya.

Namun Anusapati tidak mendesaknya. Ia sadar, dengan demikian ia akan membuat ibunya menjadi semakin sakit hati. Karena itu untuk sementara Anusapati terpaksa menyimpannya didalam hati.

Tetapi demikian ia mundur dari hadapan ibunya, maka dicarinya pamannya yang masih berada di istana Singasari.

Ia kini tidak perlu mencari kesempatan tersembunyi. Setiap orang di dalam istana itu tanpa mendapat penjelasan dari siapapun, mulai meraba-raba, bahwa kemampuan Anusapati pasti diturunkan oleh Mahisa Agni, karena mereka tahu. bahwa latihan-latihan yang dilakukan bersama Tohjaya hampir tidak berarti sama sekali. Terlebih-lebih adalah Tohjaya sendiri dan gurunya, yang tidak segan-segan berbicara tentang kemungkinan itu dengan siapa-pun juga.

“Curang,” katanya, “Kakanda Anusapati merahasiakan kemampuannya selama ini. Tentu maksudnya tidak baik. Hanya orang-orang yang licik sajalah yang merahasiakan ilmunya. Tentu untuk tujuan-tujuan yang kurang baik.”

Tetapi hampir setiap orang berkata, “Ternyata bahwa Anusapati mampu mendapatkan ilmu dengan caranya sendiri dan mengamalkannya sebagai Kesatria Putih.”

Meskipun demikian, beberapa orang perwira yang mempunyai kepentingan tersendiri berkata di antara mereka, “Licik. Tuanku Tohjaya harus berhati-hati menghadapinya.”

Dan untuk sikap itu para perwira itu-pun mendapat janji yang baik dihari mendatang.

“Ayahanda ada di pihakku,” berkata Tohjaya. Tetapi semuanya itu disadari oleh Mahisa Agni. Ia sudah membuka daun pintu yang selama ini ditutupnya, dan semua orang sudah melihat apa yang terdapat di dalamnya. Ternyata bahwa rakyat Singasari menerima kehadiran Anusapati yang tiba-tiba itu.

“Kau harus meneruskan amalmu sebagai Kesatria Putih,” berkata Mahisa Agni ketika Anusapati menghadapnya.

“Ya paman. Aku akan melakukannya. Tetapi di samping tugas itu, aku harus memperhatikan sikap Tohjaya. Aku yakin bahwa ada suatu yang tidak wajar pada ayahanda. Aku sudah mencoba bertanya kepada ibunda Permaisuri. Tetapi setiap kali ibunda Ken Dedes hanya menangis. Dan aku-pun yakin, ada sesuatu yang disembunyikan. Agaknya ibunda berusaha melindungi pula sikap ayahanda.”

“Jangan salah mengerti Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “bukan maksud ibundamu melindungi sikap yang tidak wajar dari ayahandamu Sri Rajasa. Tetapi sebagai seorang ibu ia harus bijaksana. Ibundamu memang tidak boleh membakar perasaanmu. Dan kau-pun harus menyadari, jangan memaksa ibumu mengatakan sesuatu, agar hatinya tidak semakin sakit.”

Anusapati menundukkan kepalanya. Namun perlahan-lahan ia berkata, “Kenapa Ibunda Permaisuri masih harus menyimpan perasaannya itu. Hampir setiap orang didalam istana ini mengetahui, bahwa sikap ayahanda tidak adil, bukan saja terhadap putera-puteranya, tetapi juga terhadap ibunda berdua, Ayahanda Sri Rajasa lebih mementingkan ibunda Ken Umang. Mungkin ibunda Ken Umang adalah seseorang yang lebih terbuka dari ibunda Ken Dedes yang lebih dalam menyimpan perasaannya.”

“Sudahlah Anusapati,” potong Mahisa Agni, “tidak baik bagimu untuk selalu menyesali diri. Kau sudah mendapat kesempatan. Pergunakan sebaik-baiknya. Bentuklah hari depanmu sendiri tanpa menggantungkannya kepada orang lain, meskipun kepada Ayahanda Sri Rajasa sendiri.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Baiklah paman.”

Demikianlah maka Anusapati-pun mulai keluar lagi dari istana di malam hari dengan kuda putihnya. Tetapi ia masih merasa perlu menyembunyikan wajahnya meskipun kadang-kadang dibukanya. Tetapi rakyat yang jauh dari kota, meskipun mereka sudah mendengar pula bahwa Kesatria Putih itu adalah Putera Mahkota, akan tetapi mereka masih sering menjumpai Kesatria Putih lengkap dalam pakaiannya yang semula. Kerudung putih dan Kuda Putih.....

Bersambung.. ..!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...