Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 30-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 30-01*

Karya.   : SH Mintardja

Mahisa Agni bergeser setapak. Katanya, “Bicaralah. Katakanlah. Selain kau, siapa lagi orang-orang yang termasuk empat puluh orang dari padepokan tertutup itu. “

“Aku bukan.”

“O, kau bukan.”

“Ya. Aku bukan.” orang itu berhenti sejenak.

“Yang manakah yang kau maksud?” desak Mahisa Bungalan yang tidak sabar lagi.

Orang itu menelan ludahnya Lalu katanya, “Salah seorang dari mereka adalah orang yang terluka di antara orang orang Mahibit yang luka-luka”

“Yang mana?”

“Yang berkumis tipis. Berwajah keras dengan bekas luka dikeningnya. Ia adalah salah seorang dari keempat puluh orang yang berada di padepokan tertutup di Mahibit”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya sambil mengangguk-angguk, “Terima kasih. Tetapi apakah hanya ada satu orang yang ikut serta bersama kalian kali ini?”

Orang itu ragu-ragu. Namun ia sudah terlanjur mengatakan, sehingga ia pun berkata selanjutnya, “Ada lima orang yang ikut serta kali ini mengawal Linggadadi. Aku tidak tahu, apa kali yang lain sempat melarikan diri atau terbunuh. Yang aku ketahui hanyalah seorang yang berkumis itu. Tanpa Linggapati dan Linggadadi. ia adalah orang yang berkuasa atas kami. Karena itu, jika ia mengetahui bahwa aku telah mengatakan tentang dirinya, aku tentu akan dibunuhnya. Dengan tangannya sediri, atau tangan orang lain yang tertawan di sini.” Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Sebaiknya aku akan mempertemukan kau dengan orang itu. Aku akan minta.agar ia tidak berbuat apa-apa. “

“O, tidak. Jangan. Aku akan dibunuhnya, “

“Kau salah Ki Sanak. Jika aku mengatakan, bahwa apabila terjadi sesuatu atasmu, maka orang itulah yang bertanggung jawab. Sehingga dengan demikian, ia tidak akan berani memerintahkan membunuhmu. “

“Tidak Ia akan mencekikku sampai mati. “

“Aku pun dapat melakukan atasnya. “

“Sebaiknya jangan. “

“Aku akan menanggung keselamatanmu “

Orang itu ragu-ragu sejenak. Lalu katanya, “Atau singkirkan aku dari tempat ini. Aku tidak akan ingkar, kemanapun aku akan dibawa “

Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan merahasiakannya. Aku akan mencoba memperlakukan orang itu seolah-olah kami tidak mengetahui bahwa orang Itu adalah salah satu dari empat puluh orang di dalam padepokan tertutup itu.”

Orang yang tertawan itu menarik nafas dalam dalam Lalu katanya, “Terima kasih. Aku harap bahwa aku akan selamat meskipun aku harus dihukum oleh prajurit Singasari. Sebenarnyalah bahwa tidak ada keinginanku untuk melawan kekuasaan Singasari. “

Mahisa Agni tersenyum, sedang Mahisa Bungalan menjawab, “Jika kau tidak ingin melawan, kenapa kau ikut bertempur?”

“Tidak ada pilihan lain bagiku. “

Demikianlah maka orang itu pun dikembalikannya ke dalam tempat untuk menawannya. Dengan cara yang sama.

Mahisa Agni mendapat keterangan dari tiga orang yang serupa, bahwa otang berkumis dan cacat dikening itu adalah salah seorang dari empat puluh orang di dalam lingkungan padepokan tertutup di Mahibit itu.

“Kita tidak dapat tergesa-gesa” berkata Mahisa Bungalan, “biarlah orang itu kami bawa lebih dahulu ke Singasari, sehingga penjagaan atasnya akan lebih terjamin.“

Empu Sanggadaru meng-angguk-angguk. Katanya, “Terserah kepada para Senopati di Singasari. Aku hanya mengharap kelak mendapat keterangan yang akan dapat kami jadikan pegangan. Sebab dengan hilangnya Baladalu aku masih tetap cemas, bahwa ia akan datang mulai dengan kekuatan yang lebih besar.”

“Ya Empu. Dan untuk itu. kami akan tetap menempatkan prajurit Singasari di padepokan ini. Barangkali Mahisa Bungalan, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti akan tetap tinggal di sini pula untuk sementara.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Tetapi ia masih tetap dicengkam oleh kecemasan justru karena tingkah adiknya itu.

Ternyata Mahisa Agni tidak berada terlalu lama di padepokan itu. Setelah bermalam dua malam untuk meneliti semua keadaan, muka ia pun memutuskan untuk kembali ke Singasari.

“Diantara kalian yang terluka akan aku bawa serta ke Singasari” berkata Mahisa Agni kepada para tawanan, “dengan demikian, maka kalian akan mendapatkan perawatan yang lebih baik. Tetapi sayang, bahwa mungkin tidak sekaligus semuanya dapat aku bawa serta. Pada kesempatan pertama ini mungkin baru tiga atau empat orang saja.”

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun orang berkumis dan cacat di kening itu tiba-tiba saja menyahut, “Tentu yang terluka parah. Memang mereka memerlukan perawatan yang lebih baik.,” Tetapi Mahisa Agni menggelengkan; kepalanya. Katanya, “Sayang. Kali ini bukan mereka. Yang akan pergi bersamaku adalah mereka yang terluka meskipun nampaknya tidak begitu parah, tetapi membahayakan jiwanya. Atau mungkin cacat jiwa di sisa hidupnya.”

“O” orang berkumis itu mengangguk-angguk, “mungkin perlu sekali. Untunglah bahwa aku sudah sembuh sama sekali.”

“Kau sudah mulai hidup dalam khayalan,” berkata Mahisa Agni sambil menunjukkan orang berkumis itu. Sehingga orang itu. terkejut, “apakah maksud Senopati?”

“Lukamu sangat berbahaya. Kau dipengaruhi oleh racun yang akan dapat membuat jiwamu cacat sepanjang umurmu. Kau sekarang sudah mulai dibayangi oleh khayalan yang berbahaya Kau sama sekali belum sembuh. Bahkan lukamu yang kecil itu akan menjadi semakin parah.”

Wajah orang itu menjadi tegang. Karanya, “Jadi aku harus ikut ke Singasari?”

“Ya. Kau dapat dua atau tiga orang lain. Tetapi agaknya kaulah yang paling parah.”

“Tidak.” tiba-tiba saja orang itu meloncat berdiri, “ aku tidak mau pergi ke Singasari. Aku sudah sembuh sama sekali.”

“Khayalanmu membuat kau mengalami kejutan semacam itu. Tenanglah.”

“Tidak. Bohong. Semuanya itu hanya sekedar cara untuk menipu aku. Aku tahu sekarang, tentu ada orang yang telah menunjukkan siapakah aku sebenarnya.”

Mahisa Agnipun menjadi tegang sejenak. Juga orang-orang Mahibit yang mendengar kata-kata itu. Apalagi mereka yang merasa telah mengatakan tentang orang berkumis itu.

“Ki Sanak” berkata Mahisa Agni sareh, “baiklah. Agaknya memang demikian. Tetapi kau tidak akan mengetahui siapakah yang telah mengatakan, bahwa kau termasuk salah satu dari empat puluh orang yang tinggal di dalam dinding tertutup dan tanpa pintu sama sekali itu.”

“Gila. Aku tentu akan menemukannya. Aku akan mencekiknya sampai mati. Jika aku tidak terluka dan pingsan, aku tidak akan menyerah dan menjadi tawanan seperti ini. Karena itu. sekarang, aku tidak lagi sedang pingsan. Meskipun aku masih terluka, namun aku akan bertempur melawan siapapun juga sampai mati, karena aku sadar, bahwa prajurit-prajurit Singasari akan mengeroyokku.”

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Kekecewaannya atas hilangnya Empu Baladatu masih saja mencengkamnya. Dan kini ia mendengar orang Mahibit itu berteriak dengan sombongnya

Tetapi ia heran ketika ia melihat Mahisa Agni masih saja tersenyum. sambil berkata, “Jangan terlalu sombong Ki Sanak. Itu tidak baik. Apakah untungnya mati dikeroyok orang banyak? Lebih baik ikut sajalah kami ke Singasari. Kami akan mengobati luka-lukamu, dan sudah tentu kami ingin mendengar beberapa keterangan tentang Mahibit itu pun sudah bukan merupakan rahasia lagi, karena sebagian dari padepokanmu yang tertutup itu sudah terbaca oleh petugas-petugas sandi sejak lama. Mungkin Linggapati menyadari, sehingga ia telah memindahkan padepokannya dari ujung kota Mahibit ke tempatnya yang sekarang.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Ia pun menjadi heran, bahwa Mahisa Agni itu masih saja bersikap acuh tidak acuh.

“Senapati tua ini benar-benar seorang yang memiliki kemampuan di luar kemampuan manusia” berkata orang itu di dalam hatinya karena ia pernah mendengar nama Mahisa Agni.

“Sudahlah. Kita akan berangkat. Kau akan mendapat seekor kuda khusus. Demikian pula dua orang kawanmu. pilihlah, siapakah yang akan kau ajak untuk menemanimu.”

Sejenak orang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Tidak. Aku akan mati di sini.”

“Kenapa kau memilih mati? Aku tahu, empat puluh orang yang berada di dalam lingkungan dinding tertutup itu tentu sudah bersumpah untuk tidak membocorkan rahasia padepokannya. Baiklah. Kami tidak akan memaksa. Tetapi hal-hal yang tidak bersifat rahasia, yang umum sekali, tentu boleh kau sebut. Misalnya apakah Linggapati mempunyai adik yang lain kecuali Linggadadi yang terbunuh itu?”

“Persetan.”

Mahisa Agni tertawa. Katanya, “Kau memang keras kepala. Tetapi agaknya kau memang telah dibentuk demikian. Seperti juga Empu Baladatu yang melarikan diri setelah mebunuh penjaganya. He. apakah kau juga merencanakannya.”

“Cukup. Cukup Pertanyaanmu membuat aku muak.”

“Jangan membentak Ki Sanak. Aku orang tua. Tidak baik dilihat orang. Kau masih terlalu muda untuk membentak aku.”

“Senapati” tiba-tiba saja Empu Sanggadaru memotong, “aku akan menyelesaikannya. Kepergian Empu Baladatu aku hampir gila. Mungkin orang ini akan dapat mengurangi ketegangan otakku.”

Mahisa Agni tersenyum. Ia dapat mengerti, betapa hati Empu Sanggadaru bagaikan diguncang oleh kekecewaan, marah dan penyesalan yang bercampur haru. Namun demikian Mahisa Agni mendekatinya sambil berkata, “Empu sudah menujukkan sikap dan budi yang luhur. Karena itu, biarlah Empu tetap pada sikap itu. Serahkan orang ini kepadaku.”

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya pun tertunduk meskipun terasa hatinya bergejolak.

Yang hampir tidak dapat dicegah lagi adalah Mahisa Murti. Dengan serta merta ia meloncat sambil berkata, “Paman. Biarlah aku membuktikan. Apakah yang empatpuluh orang di dalam padepokan tertutup itu benar-benar bukan manusia wantah.”

Sekali lagi Mahisa Agni tersenyum Katanya, “Siapakah yang mengatakan bahwa mereka bukannya manusia wantah?”

Mahisa Murti menjadi bingung sejenak. Namun kemudian katanya, “Lihatlah, bagaimana angkuh sikapnya. Seolah olah ia membenarkan bahwa empatpuluh orang di padepokan tanpa pintu itu memiliki ilmu yang tidak terjangkau oleh manusia di luar dinding padepokannya.”

“Keangkuhan dan kesombongannya itulah yang justru menunjukkan, bahwa ia adalah manusia sewajarnya. Dan kau tidak usah ikut menjadi sombong dan angkuh.”

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun aapun kemudian melangkah surut.

Namun dalam pada itu, orang berkumis itu menjadi semakin marah, seolah-olah ia hanya sekedar menjadi bahan tertawaan bagi Mahisa Agni. Meskipun ia sudah pernah mendengar kebesaran namanya, tetapi kemarahannya telah membuatnya gelap hati. Apalagi ia merasa bahwa iapun memiliki ilmu yang cukup. Tentu hanya karena kebetulan atau kelengahan, mungkin karena ada dua atau tiga orang yang menyerangnya bersama-sama sehingga ia terluka dan pingsan sehingga ia tertawan.

Karena itulah, maka iapun tiba-tiba telah meloncat menerkam Senopati yang sudah menjadi semakin tua dan seolah-olah sama sekali tidak bersiaga itu.

Mahisa Agni melihat serangan itu. Tetapi ia sama sekali tidak melakukan apapun juga. karena iapun melihat dalam waktu yang bersamaan Mahisa Bungalan lelah meloncat pula.

Dua kekuatan telah berbenturan. Tetapi kedua kekuatan itu ternyata tidak berimbang. Mahisa Bungalan telah berhasil membunuh Linggadadi. Orang kedua di Mahibit. Apalagi salah seorang pengawalnya yang sudah terluka.

Untunglah Mahisa Bungalan pun tidak melontarkan segenap kekuatannya. Ia menyadari, bahwa dengan segenap kekuatannya maka orang itu tentu akan terbunuh. Dan itu berarti suatu kerugian bagi Singasari dalam keadaan yang gawat ini.

Orang berkumis yang membentur kekuatan Mahisa Bungalan itupun telah terlempar beberapa langkah. Dengan kerasnya ia terbanting di tanah.

Orang itu masih berusaha untuk menggeliat dan bangkit. Tetapi ternyata bahwa kekuatannya bagaikan larut sama sekali. Selain oleh benturan yang keras melampaui ketahanan tubuhnya, juga karena luka-lukanya sendiri yang belum sembuh.

Terdengar orang itu mengerang. Tetapi ia tidak pingsan.

Mahisa Agni mendekatinya. Dengan hati-hati ia berjongkok di sampingnya.

“Pergi, pergi. Aku bunuh kau” geram orang itu.

“Kau benar-benar seorang laki-laki” desis Mahisa Agni, “kau keras hati dan pantang menyerah”

“Lebih baik aku mati daripada menyerah.”

“Aku percaya bahwa kau bukan sekedar menyombong kan diri.” jawab Mahisa Agni, “tetapi sayang sekali.”

Orang itu termangu-mangu. Seolah-olah ia ingin bertanya, apakah yang disayangkan oleh Mahisa Agni.

“Ki Sanak. Jika sifat jantanmu itu berada di jalan kebenaran, maka aku kira kita akan hidup sejahtera dan tenang. Setiap orang akan mendapatkan perlindungan apabila jumlah orang-orang jantan yang berada di jalan kebenaran semakin besar jumlahnya.”

“Diam. jangan gurui aku. Aku tidak perlu sesorahmu”

Mahisa Agni menggeleng, “Tidak Ki Sanak. Aku tidak sesorah. Aku mengatakan apa yang aku lihat sekarang. Seorang Laki-laki jantan yang pantang menyerah. Yang lebih baik mati daripada menguncupkan tangannya.”

“Kalau kau ingin membunuh sekarang, bunuhlah.”

“Sayang sekali. Dengan demikian maka kita akan kehilangan. Meskipun kau memilih jalan sesat, tetapi padamu masih juga, ada pilihan.”

.”Diam. Diam.”

“Baiklah Ki Sanak. Aku akan diam. Dan kau akan segera diangkat kedalam bilikmu. Setelah kau beristirahat sejenak, maka kau akan kami bawa ke Singasari. Kami akan menunjukkan kepada Sri Baginda di Singasari, Bahwa sikap jantan seperti yang kau miliki ini perlu dibina pada setiap hati prajurit Singasari. Pantang menyerah dan tidak takut mati sama sekali. Tentu saja., ada yang harus disisihkan, yaitu kesesatanmu.”

“Diam. diam, setan.”

“Tentu kau yakin, bahwa kau telah memilih jalan yang paling baik, meskipun kau tahu bahwa itu salah. Karena ada orang yang berbuat kesalahan karena ia tidak mengetahui, tetapi ada yang melakukannya dengan sadar dan bahkan ya kin seperti kau. sehingga kesalahan yang kau yakini itu akan kau pertahankan sampai mati. Disinilah letak kesia-siaanmu. Setelah kau menjadi seorang Laki-laki jantan yang memilih mati daripada menyerah, maka ternyata bahwa pilihannya itu ada lah sia-sia.”

Wajah orang itu menjadi semakin tegang oleh kemarahan yang menghentak-hentak dadanya. Namun justru karena itu, maka mulutnya bagaikan tidak dapat mengucap lagi. Dipandanginya saja Mahisa Agni yang berjongkok disampingnya kemudian herkata lagi, “Camkanlah. Dan bertanyalah kepada dirimu sendiri. Jika kau mati karena keyakinanmu, apakah kematianmu itu mempunyai arti? Agaknya itulah tidak seimbang padamu. Kejantanan dan kesia-siaan.”

Orang itu tidak menjawab lagi. Betapapun jantungnya bagaikan bergelora.

Mahisa Agni pun kemudian berdiri sambil berkata kepada Mahisa Pukat dan Mihisa Murti, “Bawalah ia kebiliknya Aku akan bersiap-siap untuk berangkat. Setelah pernafasannya pulih, iapun akan segera berangkat bersama kami.”

Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangkat orang berkumis itu ia sama sekali tidak berusaha untuk menolak. Dibiarkannya saja tangan kedua anak-anak muda itu mengangkatnya dan membawanya ke dalam baliknya.

Sejenak orang itu masih terbaring. Beberapa orang kawannya menjadi sangat ketakutan karenanya. Mereka menyangka, jika orang itu nanti menjadi segar kembali ia tentu akan marah dan membunuh setiap orang dari Mahibit yang dianggapnya telah membuka rahasianya.

Tetapi ternyata setelah pernafasannya mulai teratur, dan perlahan-lahan mampu bangkit kembali, orang berkumis itu tidak menunjukkan gejala-gejala yang membahayakan kawananya. Bahkan ia pun kemudian duduk saja di sudut sambil memeluk lututnya.

Ternyata kata-kata Mahisa Agni telah menyentuh hatinya, ia mulai bertanya kepada diri sendiri, apakah jika benar-benar ia mati, kematiannya itu ada artinya.

“Tentu” ia menggeretakkan giginya, “aku telah memperjuangkan suatu cita-cita yang luhur bagi Mahibit.” ,

Tetapi kemudian timbul lagi sebuah pertanyaan “Apa kah artinya pemberontakan yang disiapkan oleh Linggapati dan Linggadadi? Dengan kekuatan dari padepokan Macan Kumbang dan Serigala Putih, orang-orang Mahibit tidak berhasil mengalahkan sebuah padepokan. Sebuah padepokan saja meskipun dipadepokan ini ternyata ada beberapa orang prajurit Singasari. Hanya beberapa. Sehingga apakah artinya kekuatan Mahibit yang sebenarnya dibanding kekuatan Singasari? Jika Linggapati menilai perjuangan Sri Rajasa yang perkasa itu dari sebuah lingkungan kecil, dimana pada saat itu Ken Arok memegang jabatan sebagai seorang Akuwu di Tumapel namun tentu ada persoalan-persoalan lain yang menyangkut, hubungan antara Kediri dan Tumapel, terutama dari segi pengaruh para Brahmana.”

Orang berkumis itu mengerutkan keningnya. Masih Terngiang kata-kata Mahisa Agni, tidak ada keseimbangan antara kejantanannya dan kesia-siaannya.

Orang berkumis itu tidak sempat mempertimbangkannya terlalu panjang, karena iapun kemudian melihat Mahisa Agni sendiri datang menjemputnya sambil berkata, “Marilah”

Orang itu tetap berdiam diri.

Orang itu tidak menjawab. Seolah-olah diluar sadarnya, ia pun bangkit perlahan-lahan, karena dadanya masih terasa agak sesak

“Kemarilah” desis Mahisa Agni.

Orang itupun datang kepadanya dan mengikutinya.

“Kali ini kau pergi sendiri” berkata Mahisa Agni, “kau mendapat kehormatan khusus dari prajurit-prajurit Singasari. Kudamu sudah siap Tentu kau pun sudah siap.”

Sejenak kemudian, maka iring-iringan prajurit Singasari itu pun meninggalkan padepokan Empu Sanggadaru dengan kesan yang sungguh-sungguh tentang kemungkinan yang buruk yang akan dapat ditimbulkan oleh Linggapati maupun oleh Empu Baladatu yang berhasil melarikan diri.

Sementara itu, para tawanan dari Mahibit. justru menjaji tenang ketika orang berkumis itu sudah tidak ada lagi di antara mereka. Mereka sadar sepenuhnya bahwa orang berkumis itu akan dapat menjadi bencana yang mengerikan, jika ia masih tetap berada di antara kawan-kawannya yang tertawan dan terluka.

Justru sepeningal orang berkumis itu, orang-orang Mahibit Yang tidak lagi dicengkam oleh ketakutan, mulai dengan leluasa menceriterakan apa saja yang mereka ketahui tentang Mahibit.

Namun yang mereka ketahuipun hanya terbatas sekali. Hanya terbatas keadaan di luar dinding tertutup yang jarang sekali mereka lihat bagian dalamnya.

Dalam pada itu, Empu Baladatu yang masih dalam keadaan terluka, dan setelah berhasil membunuh pengawasnya, meninggalkan padepokan kakaknya. berjalan dengan susah payah menjauhi padepokan yang baginya merupakan neraka itu.

Ia telah gagal menciptakan suatu upacara korban terbesar bagi aliran ilmunya untuk mencengkam murid-muridnya agar menjadi semakin patuh kepadanya. Sehingga dengan demikiain ia tidak dapat menepuk dada sambil menyebut dirinya sebagai Maha Guru yang paling berwibawa dari aliran di sepanjang masa.

Korban purnama naik pada bulan itu, justru terjadi sebaliknya. Pasukannya telah dihancurkan hampir mutlak, ia sendiri tertawan dan tidak berdaya sama sekali. Hanya karena Empu Sanggadaru adalah kakak kandungnya, maka ia dapat mempergunakan kelengahannya untuk melarikan diri dengan mengorbankan pengawal yang sedang mengawasinya.

Namun dalam pada itu, dendam telah menyala di dalam hatinya. Dan Empu Baladatu telah bersumpah kepada diri sendiri, untuk membalas dendam itu sampai tuntas.

“Aku masih mempunyai kesempatan” berkata Empu haladatu dengan kemarahan yang menghentak dadanya.

Namun daya tahan tubuh Empu Baladatu memang luar biasa sekali. Meskipun ia masih belum sembuh dari lukanya yang parah, ia masih mampu berjalan hampir sehari semalam. Hanya sekali-kali ia berhenti dibalik gerumbul-gerumbul liar. Minum seteguk air dari sumber-sumber air di pinggir sungai, dan mencuri buah jagung muda disawah atau akar ketela rambat.

Di siang hari Empu Baladatu berjalan sambil bersembunyi di balik hutan-hutan kecil atau lapanggan perdu yang rimbun. Sedangkan di malam hari ia berjalan langsung menuju kepadepokannya yang jauh.

Tetapi Empu Baladatu tidak mau berjalan terus. Setelah berjalan sehari semalam, ia merasa sudah tidak dapat diikuti lagi jejaknya oleh orang-orang padepokan kakak kandungnya. Karena itu, maka ia sempat beristirahat dan tidur hampir semalam suntuk di sebuah batu besar di pinggir sungai yang jarang didatangi oleh manusia.

Meskipun ia masih dalam keadaan terluka, namun Empu Baladatu sama sekali tidak takut, seandainya ada seekor binatang buas yang mendatanginya di malam hati. Ia yakin bahwa telinganya masih mampu mendengar desir langkah kaki binatang itu di atas batu-batu kerikil sebelum mencapai batu be sar dipinggir sungai itu.

“Biasanya binatang buas mencari air dibagian yang langsung dapat diteguknya” berkata Empu Baladatu kepada diri sendiri sehingga iapun kemudian dengan tenang dapat beristirahat.

Ketika fajar menyingsing Empu Baladatu baru terbangun.Tidak ada yang mengusiknya sama sekali. Meskipun perutnya terasa agak lain, karena yang dimakannya adalah akar-akaran dan buah-buahan yang mentah, namun ia sama sekali tidak menghiraukannya.

Setelah membersihkan wajahnya dengan air sungai dan bahkan kemudian dengan membuat sumber kecil ditepian, iapun minum seteguk. maka ia mulai membenahi diri.

Ketika matahari mulai naik, Empu Baladatu melanjutkan perjalannya menyusuri sungai yang begitu besar. Sebagai seorang perantau, ia mengerti, kemana ia harus melangkah. Meskipun ia belum pernah melalui tempat yang asing itu, tetapi ia tidak pernah kehilangan arah. pun cak gunung dan bintang di malam hari. Selalu menjadi petunjuk, dimana ia sedang berada, dan ke arah mana ia sedang melangkah.

Tetapi berjalan kaki adalah pekerjaan yang menjemukan. Ia lebih senang pergi berkuda. Kuda siapapun juga.

Maka mulailah rencananya untuk mendapatkan seekor kuda Bagi Empu Baladatu, maka mendapatkan seekor kuda tentu akan dapat dilakukannya dengan mudah

Meskipun demikian Empu Baladatu tidak mau merampas kuda seseorang dergan terang-terangan. Ketika ia melihat seekor kuda. yang tegar di sebuah kandang, maka ia pun tertegun.

Empu Baladatu tidak meneruskan perjalanannya. Ia berhenti di sebuah bulak di bawah sebatang pohon yang rindang. Seperti seorang perantau yang kelelahan, ia pun kemudian duduk bersandar dengan mata yang setengah terpejam.

Sebenarnyalah Empu Baladatu memang sedang terkantuk-kantuk. Ia sama sekali tidak cemas, bahwa seseorang akan dapat mengenalnya di tempat yang terasing itu.

Seperti yang dilakukan sebelumnya, maka jika tidak ada seorang pun yang melihat, ia telah memetik buah jagung muda. Tanpa dipanggang diatas api, jagung muda itu langsung dimakannya.

“Burung-burung di langit makan jagung juga mentah,” katanya mereka juga tetap hidup dan terbang di langit yang biru”

Ketika kemudian malam turun, mulailah Empu Baladatu dengan rencananya. Ia ingin mendapatkan kuda yang tegar di kandang yang dilihatnya di siang hari itu.

Dengan hati-hati Empu Baladatu mendekati regol halaman. Rumah itu tidak terlalu besar. Tetapi agaknya pemiliknya rumah itu termasuk orang yang agak berkecukupan di padukuhan.

Ketika Empu Baladatu yakin bahwa rumah itu tidak dijaga, maka iapun dengan diam-diam telah menyelinap memasuki dinding halaman dan hilang didalam kegelapan.

Sejenak Empu Baladatu meyakinkan, apakah pemilik rumah itu sudah tidur nyenyak, dan tidak ada lagi seseorang yang masih terbangun di bagian belakang.

Setelah yakin barulah Empu Baladatu mendekati kandang kuda dengan hati yang berdebar-debar.

Dengan hati-hati dan lembut Empu Baladatu mulai menyentuh kuda itu. Dibelainya lehernya perlahan-lahan. Barulah kemudian Empu Baladatu membuka selarak kandang itu dan menarik kuda itu dengan hati-hati keluar.

Sejenak Empu Baladatu memasang kendali dan pelananya yang tersangkut pada tiang kandang itu, seolah dengan sengaja telah disediakan. Barulah ketika semuanya sudah siap Empu Baladatu menarik nafas dalam-dalam.

Tetapi Empu Baladatu tidak mau mengejutkan pemilik rumah yang sedang tidur nyenyak itu. Ia menuntun kuda itu sampai ke regol halaman. Perlahan-lahan didorongnya pintu regol itu dan barulah kemudian ia meloncat ke pun ggung kuda yang telah berhasil dicurinya itu.

Tetapi belum lagi kuda itu berderap, dua orang yang kebetulan lewat di jalan di depan regol itu terhenti dengan ragu-ragu. Dibawah cahaya obor ia mengamati wajah Empu Baladatu yang belum pernah dikenalnya.

“He, siapakah kau? Aku belum pernah melihatmu” bertanya salah seorang dari mereka, “aku mengenal penghuni rumah ini seperti mengenal keluargaku sendiri. Tetapi aku belum pernah mengenalmu.”

Empu Baladatu tergagap. Ia tidak menyangka bahwa tiba-tiba saja ia akan dihadapkan pada pertanyaan seperti itu. Sehingga akhirnya ia menjawab asal saja terucapkan, “Aku tamu yang akan kembali pulang.”

“Tetapi dimanakah yang pun ya rumah? Dan aku kenal kuda ini” sahut yang lain.

Empu Baladatu menjadi Semakin bingung. Sedangkan orang itu mendesaknya lagi, “Kau mencurigakan. Turunlah Jika kau benar-benar tamu penghuni rumah ini. aku akan mohon maaf. Tetapi sebaiknya, aku bertanya dahulu kepada pemilik kuda yang sedang kau pakai. -”

Empu Baladatu bukannya seorang yang sabar. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia menggeram, “Minggirlah, atau kepalamu akan terinjak oleh kaki kuda ini.”

Kecurigaan kedua orang itu kian bertambah. Karena itu. salah seorang kemudian berkata, “Ki Sanak. Aku baru saja pergi kesawah menelusur air yang memang agak sulit sekarang ini bagi persawahan. Kebetulan saja aku jumpai kau yang menumbuhkan kecurigaan padaku. Agaknya kau benar-benar orang bermaksud buruk. Turunlah, atau aku akan menghantam kepalamu dengan cangkul?”

Empu Baladatu tidak menjawab. Tiba-tiba saja kedua tumitnya telah menyentuh perut kudanya, sehingga kuda itupun terkejut dan meloncat.

Kedua orang itu memang kerusaha untuk menghalang-halangi. Tetapi mereka tidak menyadari, bahwa mereka berhadapan dengan Empu Baladatu. Karena itulah, maka keduanya pun kemudian terpelanting dan berguling beberapa kali menyeberang jalan. Sementara itu, kuda yang dipergunakan oleb Empu Baladatu itu telah berderap dan hilang di gelapan.

Ternyata bahwa keributan itu terdengar oleh penghuni rumah itu sehingga ia pun kemudian terbangun dan dengan hati-hati keluar rumah lewat pintu butulan.

Derap kaki kuda yang keluar dari halaman rumahnya telah menarik perhatiannya. Dengan ter-gesa-gesa ia menengok kandangnya. Namun kudanya sudah tidak ada di dalamnya lagi.

Orang itu kemudian berlari-lari kehalaman depan. Ketika ia melihat regol halamannya terbuka, iapun langsung keluar halaman dan turun kejalan.

Ia terkejut melihat kedua orang tetangganya yang dengan susah payah berusaha bangkit sambil menyeringai kesakitan.

“Kenapa?” pemilik kuda itu bertanya. Kedua tetangganyapun kemudian menceriterakan. bahwa mereka menjadi curiga ketika mereka melihat seseorang yang keluar dari regol halaman itu diatas pun ggung kuda di malam hari tanpa seorang pun yang mengantarkannya meskipun hanya sampai turun kejalan.

“Kami tidak berdaya” desis salah seorang dari keduanya.

Pemilik kuda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Di Padukuhan ini biasanya tidak pernah terjadi kerusuhan seperti ini. Tentu bukan kebanyakan orang yang sekedar ingin mencuri”

Kedua orang tetangganya itu mengangguk-angguk. Mereka masih saja menyeringai memegang pinggang masing-masing.

“Punggungku rasa-rasanya patah” desis yang seorang.

“Aku tidak melihat orang itu berbuat sesuatu. Tetapi tiba-tiba saja aku sudah terpelanting jatuh.” sambung yang lain.

“Sudahlah. Aku tidak dapat menyalahkan kalian. Marilah masuklah. Kita dapat berbicara lebih panjang.”

Kedua orang itu berpandangan sejenak. Namun karena pinggang mereka rasa-rasanya masih sakit juga, maka keduanya pun kemudian mengikuti pemilik rumah itu dan naik kependapa.

Isteri pemilik rumah itu yang kemudian terbangun juga telah menyuruh pelayannya untuk merebus air, sehingga ketiga orang yang bercakap-cakap dipendapa itupun kemudian masing-masing mendapat semangkuk minuman panas.

“Tentu seseorang yang sekedar memerlukan seekor kuda” desis pemilik kuda itu kemudian.

“Ya” sahut yang lain, “itu adalah kesimpulan yang paling mendekati kenyataan. Tidak ada kemungkinan yang dapat dipertimbangkan lagi.”

“Bagaimanapun juga. kita akan melaporkannya besok kepada Ki Buyut. Mungkin padukuhan ini perlu mengambil tindakan untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan yang lebih parah. Jika ia hanya memerlukan seekor kuda untuk mempercepat perjalanan jauhnya, dan tidak menimbulkan akibat apa-apa di kemudian hari, biarlah aku ikhlaskan kudaku. Tetapi jika yang terjadi ini baru permulaan dari kejadian-kejadian yang akan berkepanjangan, maka agaknya Ki Buyut perlu mengetahuinya.”

Ternyata ketiga orang itu tidak berusaha membangunkan tetangga-tetangganya yang lain. Tetapi mereka berjanji dipagi harinya akan bersama-sama menghadap Ki Buyut untuk memberikan kesaksian atas hilangnya seekor kuda pemilik rumah itu.

Ternyata peristiwa itu telah cukup menggemparkan padukuhan kecil yang biasanya selalu tenang dan damai itu. Dari mulut kemulut. berita tentang hilangnya seekor kuda, dan usaha kedua orang untuk mencegahnya, telah menjalar keseluruh padukuhan. Setiap orang mempercakapkannya dengan hati yang cemas dan berdebar-debar.

Seperti yang direncanakan, maka pemilik kuda itu pun pergi menghadap Ki Buyut bersama dengan kedua orang tetangganya yang menyaksikan langsung orang yang telah mengambil keduanya petani sama sekali tidak berhasil mencegahnya itu.

Laporan itu diterima Ki Buyut dengan wajah yang tegang dan bersungguh-sungguh. Baginya persoalan itu merupakan persoalan yang cukup gawat dan tentu akan menggetarkan padukuhan yang tenang.

Para bebahu yang lain pun menjadi cemas. Bahwa seseorang telah mencuri kuda, adalah sesuatu yang benar-benar telah menyinggung perasaan setiap orang di padukuhan itu.

“Kenapa hanya seekor kuda” bertanya Ki Buyut seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “kenapa ia tidak mengambil yang lain”

“Seperti yang aku katakan Ki Buyut. Agaknya orang itu memang hanya memerlukan seekor kuda saja.” jawab orang yang kehilangan, “ia bukan seperti kebanyakan penjahat yang ingin merampas harta benda.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya, “Itulah yang lebih berbahaya. Jika jelas yang datang itu adalah seorang yang hanya menginginkan harta benda, persoalannya akan terbatas. Tetapi jika tidak, mungkin masih akan berkepanjangan.”

Tidak ada kesimpulan lain yang dapat dilakukan kecuali mengadakan kesiagaan sepenuhnya di seluruh padukuhan. Bahkan padukuhan-padukuhan tetangga pun mulai menjadi ribut ketika mereka mendengar tentang pencuri kuda yang penuh dengan rahasia itu.

Dalam pada ini, selagi orang-orang di padukuhan itu menjadi ribut, Empu Baladatu telah berpacu semakin jauh. Ia tidak lagi memilih jalan. Ia tidak peduli lagi apakah ada orang yang menghiraukannya atau tidak.

Tetapi agaknya memang tidak banyak orang yang memperhatikan orang lain dengan saksama. Demikian juga, orang-orang yang berpapasan dengan Empu Baladatu tidak begitu menghiraukannya, bahwa pakaiannya kusut dan robek. Luka-luka nya yang masih berdarah karena terlalu banyak untuk bergerak Dan kesan wajahnya yang penuh dendam dan kebencian.

Dengan seekor kuda maka Empu Baladatu telah berhasil mempercepat lari kudanya. Ia memang ingin langsung ke padepokannya dan menenangkan diri untuk beberapa lama. Terutama untuk menyembuhkan luka-lukanya. Ia tidak begitu menghiraukan padepokan Serigala Putih dan Macan Kumbang, Kedua padepokan itu tentu bagaikan lumpuh karena keduanya telah kehilangan orang-orangnya yang terbaik. Apalagi jika prajurit Singasari telah dengan sengaja datang untuk menghancurkannya.

“Keduanya tidak banyak berarti lagi” katanya. Meskipun demikian bukan berarti bahwa Empu Baladatu melepaskan keduanya. Ia sadar, bahwa pada suatu saat ia akan datang untuk membina reruntuhan di padepokan itu agar ia tetap mendapat pancadan didaerah disekitar Kota Raja Singasari.

Tetapi untuk sementara Empu Baladatu akan berada di padepokannya. sebelum rencananya yang pertama-tama adalah membuat hubungan dengan Linggapati, karena Linggapati pun tentu akan dibakar oleh dendam dan kebencian karena kematian adiknya.

Sebenarnyalah, bahwa satu dua orang yang melarikan diri dari medan pertempuran, berusaha dapat kembali ke Mahibit. Meskipun dengan kesulitan dan susah payah, akhirnya mereka dapat menghadap Linggapati dan melaporkan apa yang telah terjadi atas seluruh pasukan Empu Baladatu.

Betapa kemarahan yang tiada taranya menghentak dada Linggapati sehingga rasa-rasanya dada itu akan pecah, berita tentang kekalahan mutlak bagi orang-orang Empu Baladatu dan orang-orang Mahibit yang langsung dipimpin oleh Linggadadi itu, benar-benar merupakan berita terburuk yang pernah didengarnya

“Jadi Empu Baladatu juga terbunuh?” ia bertanya dengan wajah tegang.

“Aku tidak tahu pasti. Mungkin terbunuh, mungkin luka parah. Pada saat-saat aku melarikan diri dari arena, semuanya rasa-rasanya sudah menjadi gelap dan tidak dapat diketahui dengan pasti.”

Linggapati menghentakkan kakinya. Kemarahan yang meluap-luap rasa-rasanya telah membakar jantungnya.

Tetapi Linggapati bukan seorang yang mudah kehilangan akal. Ia mendengar laporan anak buahnya sampai tuntas Kemudian mengurainya dan melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada dan yang dapat terjadi.

“Betapa bodohnya Baladatu. Seolah-olah ia sudah menjerumuskan Mahibit ke dalam kesulitan. Dengan kekalahan itu maka aku sudah kehilangan sebagian besar dari kemungkinan yang selama ini telah aku pupuk dengan hati-hati. Orang-orangku pun akan menjadi berkecil hati dan mungkin bahkan kehilangan gairah perajuangannya” berkata Linggapati kepada diri sendiri, “selebihnya, aku telah kehilangan adikku. Betapa bengalnya Linggadadi. tetapi ia adalah orang yang memiliki kemampuan cukup untuk membantuku. Satu-satunya pembantuku yang paling aku percaya.”

Namun dalam pada itu. Linggapati pun memikirkan kemungkinan lain yang dapat terjadi atasnya. Mungkin para prajurit Singasari yang mendapat beberapa penjelasan dari orang-orangnya yang tertangkap, termasuk orang-orangnya dari lingkungan tertutup yang mengawal Linggadadi, akan datang ke Mahibit dan menghancurkan sama sekali.

Itulah sebabnya. Linggapati pun bertindak cepat. Ia menarik semua orang-orangnya dari lingkungan tertutupnya dan menempatkannya di sebuah padukuhan kecil yang terasing dan yang dihuni hanya oleh beberapa keluarga yang memang sudah berada dibawah pengaruhnya dengan taat.

Biarlah mereka berada di tempat terpecil untuk beberapa saat” berkata Linggapati, “sekedar untuk menghindari kemungkinan buruk, jika orang-orang Singasari itu datang dalam waktu yang singkat. Sebelum persiapan-persiapan yang lebih mapan dapat aku lakukan.”

Tetapi dalam pada itu, Singasari tidak mengirimkan pasukan ke Mahibit dengan tergesa-gesa. Kemungkinan seperti yang dalakukan oleh Linggapati itu memang sudah diperhitungkan, sehingga yang datang adalah para petugas sandinya saja.

Dengan bekal keterangan dari para tawanan, terutama orang berkumis yang ternyata memang merupakan salah seorang dalam dari padepokan tertutup orang-orang Mahibit, maka Singasari telah mengirimkan beberapa orang terpercaya untuk mengenal daerah itu sebaik-baiknya, sehingga apabila keadaan memaksa, prajurit Singasari dapat bertindak cepat dan tepat.

Tetapi orang-orang Mahibit. terutama Linggapati pun bukan orang yang kurang perhitungan. Mereka pun sudah memperhitungkan bahwa Singasari tentu akan mengirimkan petugas sandinya berdasarkan keterangan para tawanan.

Sehingga karena itulah, maka Linggapati telah membuat perubahan-perubahan yang dapat merubah seluruh wajah lingkungannya.

Seperti yang dilakukan oleh Linggapati, maka Empu Baladatupun tidak tinggal diam. Iapun membuat beberapa perubahan didalam padepokannya.

Tetapi, Empu Baladatu masih menganggap padepokan tidak akan mendapat pengawasan yang mendalam, karena sebagian terbesar dari orang-orangnya yang tertangkap dan terbunuh adalah orang-orang Macan Kumbang dan orang-orang dari padepokan Serigala Putih.

Meskipun demikian tidak mustahil bahwa orangnya yang sedikit dari padepokannya yang jauh itu ada yang tertangkap hidup. Karena itulah, maka ia pun membuat beberapa penyamaran yang akan dapat mengelabuhi petugas-petugas sandi dari Singasari atas padepokannya yang jauh terpencil.

Empu Baladatu sediri kemudian tidak berada di padepokannya yang lama. Ia tinggal di sebuah padukuhan kecil yang kemudian seolah-olah telah menjadi padepokannya yang baru dengan para pengawalnya yang terpilih. Di tempatnya yang baru itu Empu Baladatu mencoba untuk menghirup kekuatan dari daerah di sekitarnya. Dengan melakukan hal-hal yang kadang-kadang nampaknya tidak masuk akal, maka Empu Baladatu bagi orang-orang di sekitarnya merupakan orang yang sangat dihormati dan ditakuti.

Tetapi pengaruh Empu Baladatu bukannya pengaruh yang mencengkam sampai ke sungsum. Orang-orang di sekitarnya mengangapnya sebagai seorang pemuka yang tidak dapat dibantah perintahnya. Bukan sebagai seorang pemimpin yang menuntun pengikutnya untuk memperjuangkan sebuah cita-cita yang luhur. Itulah sebabnya, maka pengaruh Empu Baladatu sukar untuk berkembang lebih jauh lagi.

Namun demikian bukan berarti bahwa Empu Baladatu tidak berbuat apa-apa. Dendam dan kebenciannya benar-benar telah membakar jantungnya. Dengan segala ia mempengaruhi semua pihak yang mungkin dapat memperkuat pasukannya jika pada suatu saat diperlukannya.

Sementara itu, ia masih tetap ingin membuat hubungan dengan Linggapati. Ia yakin bahwa Linggapati pun tentu dibakar oleh dendam seperti dirinya sendiri, inilah sebabnya, ketika Empu Baladatu sudah merasa sembuh sama sekali, dan merasa telah mampu membina dirinya lebih baik lagi ia mencoba menjajagi jalan yang akan dirambahnya.

Dengau tiga orang pengawalnya yang paling kuat, maka Empu Baladatu meninggalkan padepokannya menuju ke sekitar Kota Raja. Ia ingin melihat, apakah ada peningkatan kesiap-siagaan pada prajurit Singasari.

Dalam pada itu, setelah terjadi peristiwa dipadepokan Empu Sanggadaru. maka Singasari memang telah bersiaga menghadapi perkembangannya.

Untuk sementara prajurit Singasari yang ada di padepokan Empu Sanggadaru memang tidak ditarik. Bahkan diperkuat dengan beberapa orang prajurit muda sambil menempa mereka. Di samping mereka, Mahisa Bungalan, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti masih berada di padeokan itu juga.

“Padepokan itu memang masih memerlukan perlindungan” berkata Mahisa Agni kepada para Senapati.

“Ya” sahut Lembu Ampal, “setiap saat dendam Empu Baladatu dan Linggapati dapat meledak.”

Namun di samping itu, Singasari pun melakukan kegiatan pengawasan atas Mahibit dan daerah yang berada di bawah ptngaruh Empu Baladatu menurut arah yang ditunjukkan oleh orang-orangnya yang tertangkap.

“Kegiatan sandi itu tidak boleh nampak dan mengelisahkan orang-orang di sekitar Mahibit dan sekitar padepokan Empu Baladatu” perintah pada Senapati di Singasari.

“Tetapi, jangan menganggap mereka terlalu kecil” pesan Mahisa Agni, “mungkin saat ini mereka memang tidak nampak. Tetapi pada Suatu saat mereka merupakan kekuatan yang dapat meledak dan mengguncangkan seluruh Singasari”

Karena itulah, maka para pemimpin di Singasari pun tidak kehilangan kewaspadaan. Mereka selalu mengamati suasana yang berkembang di Mahibit dan daerah di sekitar padepokan Empu Baladatu. Tapi sampai begitu jauh, prajurit Singasari tidak melakukan tindakan apapun juga, agar yang mereka lakukan itu tidak seperti mengguncang sarang lebah.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...