Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 21-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 21-02*

Karya.   : SH Mintardja

Tetapi mereka mengerti, bahwa agaknya pembicaraan di antara mereka menjadi agak kusut karena nampaknya ada perbedaan pendapat di antara mereka.

Tetapi sekali lagi terdengar suara agak keras, “Kita perlu menelitinya lebih dalam lagi Ki Buyut. Tiga orang bukannya suatu kebetulan saja. Mungkin telah menjadi kebiasaan mereka, untuk selalu berkuda bertiga dalam pengembaraan mereka mencari korban.”

“Tetapi sikap dan tutur katanya tentu akan memberikan ciri yang lebih jelas” Terdengar suara lain.

“Marilah, kita bertanya kepada mereka.”

“Tentu kalian akan terperdaya” Suara itu pernah dikenal oleh ketiga orang yang sedang menjadi pusat pembicaraan itu, “Mereka tentu akan menunjukkan sikap dan sifat yang baik.”

“Anak Ki Buyut” Desis Mahisa Bungalan.

“Ya, anak Ki Buyut.” Sahut Mahisa Agni perlahan-lahan Mahisa Bungalan menjadi semakin geram. Dengan gelisah ia mencoba menahan diri seperti yang dimaksud oleh kedua pamannya.

Sementara itu pembicaraan masih berlangsung. Dan masih terdengar suara, “Ki Buyut, tiga orang yang terdahulu itu juga menunjukkan sikap dan tingkah laku yang nampaknya meyakinkan. Tetapi ternyata bahwa tidak ubahnya seperti iblis yang paling jahat”

“Ya” Sahut yang lain, “Tidak ada pembicaraan apapun yang perlu dilakukan. Kita sudah siap untuk menghukum mereka. Mereka harus menanggung akibal kejahatan yang pernah dilakukan oleh kawan-kawannya.”

“Itu adalah keputusan yang paling baik”, Teriak yang lain.

Suasana menjadi semakin dalam dicengkam oleh ketegangan. Terlebih-lebih adalah Mahisa Bungalan. Adalah sangat pahit rasanya untuk dibicarakan oleh sekelompok orang lain tanpa berbuat apa-apa- Apalagi dalam prasangka yang sangat buruk.

Namun dalam pada itu, terdengar suara Ki Buyut justru yang pernah mengalami bencana di padukuhannya, “Tetapi bagaimanapun juga kita tidak boleh tergesa-gesa mengambil kesimpulan”

Ketegangan yang semakin memuncak itu pun kemudian ditambah lagi dengan kata-kata Ki Buyut, “Aku akan bertanya kepada mereka.”

“Tidak ada gunanya.” Terdengar suara lain.

“Berguna atau tidak berguna, tetapi aku wajib meyakinkan diri.”

Sekelompok orang-orang itu pun kemudian menyibak Dua orang Buyut dari kedua padukuhan itu pun kemudian melangkah mendekati Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan.

Mahisa Bungalan ingin meloncat menerkam orang-orang yang mengiringi dua orang buyut itu dan menunjukkan kepada mereka, bahwa mereka tidak pantas membicarakannya dengan prasangka yang buruk, dan apalagi seolah-olah mereka memiliki kekuasaan untuk menentukan nasibnya.

Mahisa Agni dan Witantra menyadari sikap hati Mahisa Bungalan itu. Karena itu, maka mereka berdualah yang kemudian melangkah maju untuk menjawab setiap pertanyaan yang akan diucapkan oleh setiap orang yang mengerumuninya, terutama kedua orang Buyut itu.

Ki Buyut dari padukuhan di ujung hutan itulah yang kemudian mendekati ketiga orang itu lebih dekat dari yang lain. Sejenak ia memandangi ketiga wajah itu di bawah cahaya obor.

“Kalian memang bukan orang-orang yang pernah membunuh saudara-saudaraku sepadukuhan di sini” berkata Ki Buyut

“Baru kali ini aku melalui daerah ini Ki Buyut” Jawab Mahisa Agni

“Tetapi kawan-kawanmu tentu pernah berceritera kepadamu tentang daerah ini” Terdengar seseorang mendahului Ki Buyut.

“Ki Sanak” Berkata Witantra, “Seandainya seorang atau lebih dari kawan-kawanku berceritera tentang daerah ini, maka aku kira justru aku tidak akan tersesat sampai ke daerah ini, karena aku tentu tahu, bahwa daerah ini akan menjadi sangat mudah tersinggung seperti yang sebenarnya terjadi.”

“Jadi, apakah yang mendorong kalian sampai ke tempat ini?” bertanya Ki Buyut-

“Aku pernah mengatakan kepada Ki Buyut dari padukuhan di ujung bukit, bahwa kami adalah hamba-hamba istana yang sedang nganglang untuk melihat kenyataan hidup rakyat Singasari”-

“He?” Ki Buyut mengerutkan keningnya. Namun salah seorang di belakangnja berkata, “Setiap orang dapat menyebut dirinya demikian. Hamba istana, bahkan Senapati sekalipun Tetapi dapatkah mereka bertiga menunjukkan pertanda itu?”

“Apakah pertanda yang kau kehendaki?” bertanya Witantra.

Tidak seorang pun yang menjawab. Mereka tidak dapat menyebutkan pertanda apapun bagi hamba istana meskipun mereka sedang bertugas selain pakaiannya apabila ia seorang prajurit dan bagi hamba yang lain adalah ujud lahiriah yang pertama-tama juga nampak pada pakaian yang lain dari orang-orang padesan. Dan nampaknya ketiga orang itu juga berpakaian lebih baik dari orang-orang padukuhan itu.

“Tetapi ketiga orang yang pernah merusak ketenteraman padukuhan ini pun berpakaian lebih baik” kata orang itu di dalam hatinya.

Karena tidak ada yang menjawab, maka Witantra pun berkata selanjutnya, “Ki Buyut. Katakanlah, apa yang harus kami lakukan untuk membuktikan bahwa kami memang bukan orang-orang yang kalian maksud sebagai orang-orang jahat.”

“Ki Buyut menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak ada yang dapat aku katakan. Memang sulit sekali membedakan, siapakah yang jahat, dan siapakah yang bukan sekarang ini.”

“Tetapi apakah keterangan kami tidak meyakinkan?”

Bertanya Mahisa Agni, “Kami adalah hamba-hamba istana yang seperti kami katakan, sedang mengalami kehidupan rakyat Singasari. Terakhir kami akan pergi ke Panawijen dan kemudian melihat taman di Padang Karautan, bekas taman yang dibuat pada masa kejayaan Tumapel. Kami harus melaporkan hal itu kepada Maharaja Singasari yang sekarang, karena Baginda mungkin sekali ingin membangun kembali taman yang pernah menjadi taman impian setiap keluarga istana Tumapel itu.”

“Kau mengenal Panawijen?”

“Tentu Ki Buyut.”

“Penjahat-penjahat seperti mereka mengenal setiap padukuhan dimanapun juga. Apalagi padukuhan-padukuhan yang dapat memberikan kemungkinan untuk mendapatkan barang-barang rampasan” Terdengar suara yang serak. Suara anak Ki Buyut di ujung bukit

Mahisa Bungalan menjadi gemetar. Bukan oleh ketakutan. Tetapi darah mudanya yang menggelegak di dadanya, rasa-rasanya sudah tidak tertahankan lagi. Dan jantungnya di dalam dada itu rasa-rasanya memang akan meledak.

“Ki Buyut” berkata Mahisa Agni kemudian, “jika persoalannya menjadi sangat rumit dan ketiadaan keyakinan untuk mempercayai kami, maka kami kira tidak ada jalan lain bagi kami untuk meninggalkan padukuhan yang manapun juga di sekitar daerah ini. Usaha kami untuk dengan jujur bahwa kami bukan penjahat-penjahat itu, namun kami tetap tidak mendapat tempat. Karena itu, baiklah kami mohon diri dan akan pergi sejauh-jauhnya. Karena kami memang akan. pergi ke Panawijen.”

Suasana yang tegang menjadi bertambah tegang. Beberapa orang saling berpandangan. Namun tiba-tiba seorang anak muda yang bertubuh kekar dan berkumis lebat menyibakkan beberapa orang yang mengerumuni sambil berkata, “Kau begitu enaknya akan pergi begitu saja. Adikku telah dibunuh oleh kawan-kawanmu Pamanku terluka parah dan beberapa orang sahabatku terluka pula.”

“Tetapi kami tidak tahu menahu akan hal itu Ki Sanak” Jawab Mahisa Agni.

“Omong kosong. Adikku itu pun tidak lahu menahu apapun tentang kawan-kawanmu itu. Tetapi ia harus menjadi korban bersama beberapa orang lain“ Orang itu menggeram, lalu, “Tidak. Kalian tidak dapat pergi. Kalian akan kami ikat di depan banjar untuk menerima hukum picis.”

Mahisa Bungalan bergeser setapak, tetapi Witantra menggamitnya.

“Ki Sanak” berkata Mahisa Agni, “Kenapa kalian tidak dapat berpikir bening. Jika kami adalah kawan-kawan dari orang-orang yang telah membunuh saudara-saudaramu, maka kami tentu tidak akan dapat kalian paksa untuk menyerah begitu saja, Seandainya jumlah kami terlampau sedikit dibandingkan dengan jumlah kalian, namun percayalah, bahwa jika kami berniat, seperti orang-orang yang kalian sebut kawan-kawan kami itu, tentu akan dapat, membunuh lebih banyak dari dua orang dan melukai lebih dari lima belas”

“Nah, kalian dengar” Teriak anak muda itu kepada kawan nya, “Orang ini sudah mengaku.”

“Kau salah paham” Bantah Mahisa Agni, “Maksud kami, jika kami benar-benar kawan orang berkuda ini.”

“Persetan, jangan ingkar. Kepung mereka rapat.. Jika mereka melawan, lumpuhkan mereka. Aku tetap menghendaki pembalasan yang setimpal atas kematian adikku dan saudara-saudaraku. Karena itu, aku menghendaki mereka ditangkap hidup-dan mendapat hukuman picis”

Mahisa Bungalan benar tidak lagi dapat menahan hati Dengan suara gemetar ia berbisik di telinga Mahisa Agni, “Dan paman masih akan tetap bersabar?”

Mahisa Agni tidak menghiraukannya. Bahkan ia masih berkata kepada anak muda itu, “Jangan memaksa kami untuk melakukan kekerasan Ki Sanak. Sekali lagi aku minta, lepaskan kami pergi. Kami tidak akan berbuat apa-apa.”

“Setelah terbayang kegagalan dan hukuman yang paling pantas bagi kalian, maka kalian mengambil sikap lain. Tidak. Kalian akan kami tangkap. Kami akan menunggu selama tiga hari. Jika dalam tiga hari kawanmu yang membunuh itu tidak dapat kami tangkap atau datang dengan suka rela untuk membebaskan kalian, maka kalian benar-benar akan kami hukum picis.”

Sebelum Mahisa Agni berkata sesuatu, Mahisa Bungalan sudah berbisik pula, “Dan paman akan dengan sabar menunggu tiga hari? Tidak paman. Aku akan bertindak sekarang.”

Mahisa Agni menarik nafas. Ia sadar, bahwa Mahisa Bungalan tentu tidak akan dapat dikendalikan lagi. Bahkan mungkin ia akan melakukan kekerasan yang tidak terkendalikan karena darah mudanya yang mendidih.

“Ulurkan tangan dan kaki kalian” Teriak anak muda berkumis itu, “Kalian adalah tawanan kami. Kebebasan kalian tergantung sekali kepada ketiga kawan-kawanmu yang telah membunuh dengan semena-mena disini.”

Mahisa Bungalan menggeram. Namun yang terdengar, adalah suara salah seorang anak Ki Buyut di ujung bukit, “Itu adalah keputusan mereka yang mengalami perlakuan di luar peri kemanusiaan. Kami hanya dapat mendukung keputusan itu dan akan ikut melaksanakannya pula. Memang tidak ada pilihan lain bagi kalian. Kesempatan yang tiga hari itu adalah ujud kebaikan hati yang jarang sekali dapat dicari.”

“Nah, sekarang menyerahlah” terdengar suara yang lain.

Ki Buyut dari padukuhan di pinggir hutan itu nampak termangu-mangu. Tetapi ia tidak mengubah sikap anak muda yang bertubuh kekar itu. Menurut pertimbangannya, waktu yang tiga hari itu sudah seimbang dengan kemungkinan-kemungkinan yang manapun juga bagi ketiga orang itu, sesuai dengan kejahatan yang dilakukan oleh kawan-kawan mereka.

“Tetapi bagaimanakah jika mereka benar-benar tidak mengenal ketiga orang itu, dan bahkan mereka adalah benar-benar hamba istana?” Pertanyaan itu kadang-kadang terselip juga di hati Ki Buyut.

Tetapi ia tidak akan berdaya untuk mengubah keputusan anak-anak muda

Beberapa saat suasana dicengkam oleh ketegangan yang memuncak. Mahisa Bungalan benar-benar menjadi gelisah dan gemetar. Rasa-rasanya ia sudah siap meloncat menghantam anak muda bertubuh kekar itu.

“Mereka bukan lawanmu Bungalan” bisik Witantra, “Jika kau tidak mampu mengendalikan perasaanmu, kau akan menambah sakit hati mereka karena kematian yang bertambah-tambah.”

“Jadi lebih baik kita sajakah yang mati?”

“Tentu bukan begitu.”

“Jadi bagaimana?”

Witantra menjadi bingung. Namun ia kemudian menjawab juga, “Seharusnya kita menyelamatkan diri. Tetapi jangan menimbulkan kematian lagi.”

“Itu sulit sekali. Apalagi mereka bersenjata. Mungkin aku tidak sengaja. Tetapi senjataku menusuk di sela-sela rusuk mereka dan menyentuh jantung.”

Witantra benar-benar menjadi bingung karena Mahisa Bungalan pun agaknya telah kehilangan pengendalian diri.

Dalam pada itu, orang-orang yang sudah tidak sabar lagi itu pun kemudian mendesak semakin maju mendekati Mahisa Agni, Mahisa Bungalan dan Witantra. Rasa-rasanya tangan mereka sudah menjadi gatal dan tidak terkendali lagi.

Mahisa Agni pun agaknya sudah tidak mampu lagi mencari dalih untuk menghindarkan perkelahian. Tetapi sudah tentu ia tidak akan melakukan seperti apa yang pernah dilakukan oleh ketiga orang yang pernah datang lebih dahulu ke padukuhan itu. Karena itu, maka ia merasa wajib untuk menemukan cara, bagaimana ia harus menghadapi orang-orang yang telah kehilangan akal itu.

Tiba-tiba saja, terbersit suatu pikiran yang mungkin dapat dipergunakan untuk mengatasi kesulitan itu. Karena itu, maka ia pun berkata, “Ki Sanak sekalian. Adalah aneh sekali jika kami bertiga pun harus berkelahi melawan kalian seperti tiga orang yang telah lebih dahulu merusak ketenangan padukuhan ini. Tetapi sudah tentu bahwa kami pun tidak akan dengan suka rela menyerahkan nyawa kami karena kesalahan orang-orang yang tidak kami kenal. Apalagi kami adalah hamba-hamba istana yang membawa tugas negara. Karena itu, jika kalian tidak percaya, baiklah kita akan mengadakan sedikit permainan. Diantara kami terdapat seorang anak muda yang sebaya dengan anak-anak muda padukuhan ini yang sekarang dengan penuh dendam memandang kepada kami. Di antara mereka adalah anak-anak Ki Buyut, justru dari padukuhan di ujung bukit- Karena itu, apabila kalian menghendaki, sebaiknya kita melihat, apakah yang dapat di lakukan oleh kalian atau anak-anak muda yang kalian anggap paling berilmu di padukuhan ini. Dengan demikian, kalian akan mendapat gambaran, apakah yang akan terjadi jika kami terpaksa mempertahankan diri kami bertiga”

Ketegangan rasa-rasanya menjadi semakin memuncak. Namun tiba-tiba seseorang maju sambil bertolak pinggang, “Apakah maksudmu sebenarnya? Apakah kau akan menyombongkan diri, bahwa kau memiliki ilmu yang pilih tanding.”

“Tidak ada jalan lain kecuali dengan menyombongkan diri” Jawab Mahisa Agni, “Sekarang kita buat sebuah arena. Kita akan melihat, apakah kalian sebenarnya mampu menahan kemarahan kami, jika kemarahan itu telah benar-benar mencengkam dada kami.”

“Persetan” Geram salah seorang anak Ki Buyut di ujung bukit.

“Jangankan hanya seorang melawan seorang. Untuk membuktikan bahwa kami adalah hamba-hamba istana dan sekaligus adalah prajurit-prajurit, maka biarlah anak muda di antara kami ini berkelahi melawan lebih dari satu orang. Mungkin, dua, atau tiga

Sejenak anak-anak muda itu menjadi ragu-ragu. Apakah itu bukan sekedar cara untuk meloloskan diri. Atau cara-cara lain yang licik?

Namun seorang anak muda yang merasa terhina, tiba-tiba saja berteriak, “Baik, kita akan membuat arena.”

Mahisa Bungalan tiba-tiba bergeser maju. Bisiknya, “Apa yang harus aku lakukan paman?”

“Tunjukkan kemampuanmu. Tetapi ingat, kau tidak boleh kehilangan akal. Kau lihat batu padas di pinggir padukuhan itu?”

“Sebesar kerbau itu?”

“Ya. Batu itu adalah batu padas yang tentu tidak terlampau keras. Berusahalah mendapat kesempatan. Pecahkan batu padas itu dengan tanganmu, sehingga dengan demikian maka kita akan menemukan perkembangan baru di arena itu.”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia harus melakukan permainan yang aneh. Tetapi ia dapat mengerti, bahwa dengan demikian ada kemungkinan bahwa persoalannya akan bergeser.

Demikianlah, maka beberapa orang anak muda yang marah, telah berteriak-teriak, bagaikan memecahkan selaput telinga. Marilah kita buat arena. Minggir, kita akan melihat, apakah benar-benar mereka bukan manusia biasa.”

Dan yang lain berteriak pula, “Kita pilih tempat yang paling baik.”

“Tidak perlu di tempat yang jauh” Mahisa Agni lah yang menjawab, “Kita buat arena di sini. Pinggir padukuhan itu cukup luas untuk melakukan perkelahian antara anak muda di antara kami dengan siapa pun dari kalian, dua atau tiga orang. Bahkan lebih dari itu, supaya kalian mendapat gambaran kekuatan kami yang sebenarnya.”

“Persetan.”

Anak-anak muda itu pun segera mendesak orang-orang yang sedang berkerumun, seolah-olah mereka tanpa sadar telah menyiapkan sebuah arena.

Namun dalam pada itu Mahisa Bungalan berdesis, “Bagaimana jika mereka memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga aku harus mengerahkan segenap kemampuan dan dengan demikian harus ada korban, karena jika tidak demikian, aku sendirilah yang akan menjadi korban?”

“Kau akan dapat membuat perhitungan. Tetapi sejauh jauhnya kau harus menghindari korban.”

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa ragu-ragu juga untuk melakukannya. Tetapi itu agaknya adalah cara yang paling baik. Dan dengan demikian ia akan dapat sekedar melepaskan ketegangan.

Sejenak kemudian, maka beberapa orang telah berdiri dalam sebuah lingkaran. Tetapi adalah mendebarkan sekali, bahwa batu padas itu justru dipergunakan oleh beberapa orang untuk berdiri agar mereka dapat melihat, perkelahian itu dengan baik.

Sejenak Mahisa Bungalan justru tertegun diam. Ia mencoba mencari jalan, bagaimanakah sebaiknya yang akan dilakukan.

Tetapi Mahisa Bungalan tidak banyak mendapat kesempatan. Beberapa orang anak muda telah berteriak, “Kemarilah. Siapakah di antara kalian bertiga yang akan memasuki arena.”

Mahisa Agni dan Witantra berpandangan sejenak. Kemudian, “biarlah yang termuda diantara kami memasuki arena. Ia adalah orang yang terlemah diantara kami bertiga meskipun mungkin tenaga jasmaniahnya masih utuh. Biarlah ia mendapat dua atau tiga lawan dari anak-anak muda yang terkuat di padukuhan ini.”

Kata-kata Mahisa Agni itu benar-benar telah membakar hati setiap anak muda. Karena itu, seorang yang bertubuh kekar meloncat ke arena, hampir bersamaan dengan salah seorang anak Ki Buyut dari ujung bukit.

“Biar aku sajalah yang membunuhnya di arena ini.” Desis yang bertubuh kekar

“Lepaskan anak itu” berkaca anak Ki Buyut, “akulah yang akan mengatakan kepadanya dengan perbuatan, bahwa ia telah kehilangan kesempatan untuk meninggalkan padukuhan ini.”

Ternyata anak Ki Buyut itu memiliki perbawa yang besar, sehingga anak muda bertubuh kekar itu meninggalkan arena.

“Kemarilah” Geram anak Ki Buyut.

“Nah” Berkata Mahisa Agni kepada Mahisa Bungalan, “Majulah. Dan berhati-hatilah. Kau tidak boleh bersenjata”

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Senjata yang mana paman?”

Mahisa Bungalan memang membawa sebilah keris yang lebih mirip dengan perhiasan, karena keris itu tetap di punggung meskipun keadaan sudah demikian tegangnya. Beberapa orang padukuhan yang membawa keris, lelah memutar kerisnya sehingga hulunya berada di dada mereka.

Mahisa Agni mengulurkan tangannya tanpa menjawab pertanyaan Mahisa Bungalan. Dan betapapun keragu-raguan mencengkam dadanya, namun Mahisa Bungalan pun kemudian menarik keris di punggungnya dan menyerahkannya kepada Mahisa Agni

Anak Ki Buyut yang melihat Mahisa Bungalan menyerahkan kerisnya menjadi termangu-mangu. Ia membawa sebilah keris yang. besar yang hulunya mencuat di atas pundaknya. Tetapi karena Mahisa Bungalan telah meletakkan senjatanya, apakah ia pun menjadi ragu-ragu.

“Jika kau memerlukan senjatamu, janganlah kau letakkan” berkata Mahisa Agni kepada anak Ki Buyut itu.

Tetapi justru karena itu maka anak muda itu merasa tersinggung dan dengan serta merta ia menarik kerisnya dan melemparkan kepada adiknya, “Pegangilah.”

Adiknya dengan tangkas menangkap keris itu. Namun rasanya ia menjadi heran, bahwa kakaknya telah melepaskan senjata di punggungnya justru pada saat ia menghadapi lawan yang disangkanya sangat licik dan kejam.

Tetapi jika ia mencoba memperingatkan kakaknya, maka kakaknya tentu akan merasa tersinggung karenanya.

“Apakah hanya seorang saja yang akan memasuki arena?” Bertanya Mahisa Agni.

Beberapa orang anak muda menggeram. Tetapi mereka tidak menjawab

Yang menjawab adalah anak Ki Buyut yang berada di arena, “Jika anak ini dapat membunuhku, maka akan tampil dua orang di arena. Dan jika yang dua itu terbunuh, akan tampil empat orang. Demikian seterusnya.”

Tiba-tiba saja di luar sadarnya, bulu tengkuk Mahisa Bungalan meremang. Bukan karena ia takut menghadapinya, tetapi apakah jika benar-benar harus demikian, akan berarti kematian yang berturut-turut akan memenuhi arena itu?

Justru karena itulah maka Mahisa Bungalan teringat pesan pamannya, “Jangan menimbulkan korban.”

Mahisa Bungalan menarik nafas. Dengan ragu-ragu ia melangkah maju memasuki arena yang menjadi terang di bawah cahaya obor di seputarnya.

“Mulailah anak setan” geram anak Ki Buyut, “meskipun aku bukan, orang dari padukuhan ini, tetapi aku merasa wajib untuk membunuhmu, karena akulah yang telah menangkapmu dan membawanya kemari.”

Mahisa Bungalan sama sekali tidak menjawab. Sekilas ditatapnya batu padas yang masih saja menjadi alas beberapa orang yang berdiri di pinggir arena itu

“He, kenapa kau tiba-tiba jadi bisu” geram anak Ki Buyut itu.

Mahisa Bungalan memandanginya sejenak, lalu, “Aku. berkelahi dengan tubuhku, tidak dengan mulutku.”

Jawaban itu sangat menyakitkan hati anak Ki Buyut itu. Karena itu, maka langsung ia pun meloncat menyerang.

Mahisa Bungalan yang masih belum mengetahui kekuatan lawannya sama sekali, tidak mau membentur serangan itu. Jika ia salah hitung, maka serangan itu akan dapat berbahaya baginya, atau langsung membahayakan lawan itu sendiri. Karena itulah maka ia pun mengelakkan dengan sebuah langkah ke samping. Namun dengan telapak tangannya ia mencoha menyentuh kaki lawannya untuk sekedat mengetahui, apakah serangan itu cukup berbahaya.

Mahisa Bungalan adalah seorang anak muda yang memiliki pengalaman yang cukup. Karena itu, maka sentuhan tangannya itu, seolah-olah telah dapat menunjukkan kepadanya, bahwa sebenarnyalah tingkat ilmu anak Ki Buyut itu barulah pada tingkat tata gerak dasar dari olah kanuragan meskipun nampaknya cukup garang, dengan kekuatan wantah tubuhnya.

Dengan demikian maka Mahisa Bungalan dapat menempatkan dirinya dalam perlawanannya atas anak muda itu.

Di dalam cahaya obor yang kemerah-merahan, maka perkelahian itu pun menjadi semakin cepat. Anak Ki Buyut yang marah itu mengerahkan segenap kemampuan yang ada, sementara Mahisa Bungalan hanyalah sekedar mengimbanginya. Namun untuk memberikan kesan kelebihannya, maka ia ingin mengakhiri perkelahian itu dengan cepat.

Namun sekilas teringatlah ia kepada pesan Mahisa Agni untuk menghantam padas yang justru menjadi alas berdiri beberapa orang di seputar arena itu. Karena itulah, maka ia pun berkelahi sambil mencari akal, agar orang-orang yang berdiri di atas dan sebelah menyebelah batu padas itu menyingkir.

Tetapi sebelum ia menemuakn cara itu, maka ia pun masih saja melayani anak Ki Buyut itu. Dengan mudahnya ia dapat menghindari setiap serangan- Bahkan kadang-kadang seolah-olah ia tidak beranjak sama sekali dari tempatnya.

Orang yang berkerumun di seputar arena itu, menjadi heran. Perkelahian itu semakin lama tidak menjadi semakin sengit, meskipun mereka mengerti, bahwa anak Ki Buyut itu menjadi semakin garang. Tetapi lawannya dengan hampir tidak berbuat apa-apa, dengan mudahnya dapat mengimbanginya. Semua serangan anak Ki Buyut itu seolah-olah tidak berarti sama sekali.

Anak Ki Buyut itu mula-mula kurang menyadari keadaannya. Ia mula-mula menyangka, bahwa ia belum saja berhasil mengalahkan lawannya, tetapi lawannya juga tidak berhasil mengalahkannya. Bahkan menyentuhnya dengan serangan. Tetapi kemudian ia menyadari, bahwa lawannya itu tampaknya tidak sedang bersungguh-sungguh.

Orang-orang yang berada di sekeliling arena itu pun menjadi semakin heran. Anak muda di antara ketiga orang berkuda itu tidak berusaha menimbulkan korban sama sekali, balikan setelah ia dibiarkan turun dalam arena perang tanding tanpa senjata.

Dalam pada itu, ternyata Mahisa Bungalan telah mendapat cara yang paling baik untuk menghantam batu padas itu. Dengan demikian, maka tiba-tiba saja ia menjadi garang. Ia mendesak lawannya ke arah batu padas itu. Namun kemudian dengan serangan yang berputaran ia menyerang anak Ki Buyut itu dari arah yang berbeda-beda, sehingga anak Ki Buyut itu benar-benar menjadi bingung.

Dengan demikian, maka orang-orang yang ada di sekitar batu padas itu pun segera menyibak. Bahkan beberapa orang yang berdiri di atas batu padas itu pun segera berloncatan dan berlari-lari menjauh.

Ternyata Mahisa Bungalan dapat mempergunakan saat itu sebaik-baiknya. Ketika orang-orang sudah menyibak, maka ia pun segera mengambil keputusan untuk melakukan pesan Mahisa Agni itu.

Ketika ternyata kemudian anak Ki Buyut itu berdiri terlampau dekat dengan batu padas itu, Mahisa Bungalan pun meloncat dengan sigapnya mendorongnya beberapa langkah ke samping, sehingga anak Ki Buyut itu kehilangan keseimbangan dan jatuh bergulingan di tanah.

Pada saat itulah, Mahisa Bungalan mempersiapkan diri dengan segenap kemampuannya. Dengan garangnya ia berdiri pada kedua kakinya yang sedikit merendah pada lututnya. Satu kakinya agak di depan, sedang kedua tangannya bersilang di depan dadanya.

Yang dilakukan itu hanyalah berlangsung beberapa saat saja. Sedang sekejap kemudian, maka Mahisa Bungalan pun telah meloncat ke arah batu padas itu. Untuk memberikan tekanan dan suasana yang lebih mencengkam, maka Mahisa Bungalan pun berteriak dengan suara yang serasa memecahkan jantung.

Sesaat kemudian setiap orang di sekeliling arena itu benar-benar telah dicengkam oleh peristiwa yang tidak pernah mereka bayangkan dapat terjadi. Darah mereka rasa-rasanya telah membeku di dalam dada. Dalam keremangan cahaya obor, mereka melihat Mahisa Bungalan yang berteriak nyaring itu meloncat seperti lidah api di langit. Sambil mengayunkan tangannya ia bagaikan menerkam batu padas di hadapannya.

Yang terdengar adalah suara ledakan yang tidak begitu keras akibat benturan. Dan yang mereka saksikan hampir tidak masuk di akal mereka, bahkan beberapa orang seolah-olah tidak dapat mempercayai penglihatannya.

Batu padas yang sudah terletak di tempat itu berpuluh-puluh tahun itu pun telah pecah berserakan. Debu yang putih mengepul ke udara, dan hanyut didera oleh angin malam yang dingin, sedingin darah orang-orang yang kebingungan melihat peristiwa yang rasanya telah memecahkan jantung mereka masing-masing

Ketika mereka menyadari keadaan yang telah terjadi itu, dan debu yang putih telah tersapu bersih, mereka melihat Mahisa Bungalan itu berdiri tegak menghadap ke arah anak Ki Buyut yang sudah berdiri pula. Tetapi tiba-tiba saja kakinya menjadi gemetar, dan keberaniannya pun bagaikan larut seperti debu putih yang terhapus oleh angin itu.

Mahisa Bungalan memandang kepada orang-orang yang berdiri di sekelilingnya. Tiba-tiba saja terdengar suaranya mengguruh, “Nah, kalian lihat, apa yang dapat aku lakukan. Jika tanganku itu sengaja aku arahkan ke tubuh kalian, maka kalian akan dapat membayangkan apa yang telah terjadi.”

Berpasang-pasang mata memandangnya tanpa berkedip. “Nah, siapakah yang merasa dirinya cukup kuat untuk menangkis pukulanku?”

Suasana yang semula gemuruh oleh kemarahan orang-orang padukuhan itu, tiba-tiba seperti dicengkam oleh kesenyapan yang mati. Tidak seorang pun yang berani menyahut tantangan itu. Bahkan untuk bernafas pun rasa-rasanya mereka sangat berhati-hati agar tidak didengar oleh Mahisa Bungalan.

Mahisa Agni dan Witantra saling berpandangan sejenak. Ternyata cara itu berhasil menghindarkan korban, meskipun agaknya merupakan kesombongan yang cukup besar.

Namun Mahisa Bungalan yang masih muda itu ternyata tidak dapat menahan hati lagi. Kejengkelan, kemarahan yang bercampur baur di dalam dadanya, rasa-rasanya masih memerlukan penyaluran lagi. Darah mudanya yang sudah terlanjur mendidih masih menuntut peledakan yang mengejut untuk mengurangi ketegangan jiwanya.

Karena itu, Witantra dan Mahisa Agni terkejut ketika mereka melihat Mahisa Bungalan sekali lagi memusatkan kekuatannya ditangannya. Demikian cepatnya, sehingga sebelum Mahisa Agni dan Witantra berbuat sesuatu. Mahisa Bungalan telah meloncat sekali lagi. Yang menjadi sasarannya kemudian bukanlah batu padas yang sudah menjadi debu itu, tetapi dinding padukuhan itu sendiri yang terbuat dari batu yang tersusun.

Sekali lagi orang-orang yang berada di sekitarnya terkejut dan rasa-rasanya mereka menjadi sangat kecil di hadapan anak muda itu. Sekali lagi terdengar benturan kekuatan Mahisa Bungalan dengan dinding batu padukuhan itu. Yang kemudian disusul oleh gemuruhnya dinding itu pecah dan berguguran. Bukan saja yang disentuh tangan Mahisa Bungalan, tetapi getarannya telah meruntuhkan dinding itu antara tiga atau empat langkah.

Mahisa Agni dan Witantra menarik nafas dalam-dalam. Mereka menyadari, bahwa Mahisa Bungalan menjadi terlalu tegang karena perlakuan yang agak berlebih-lebihan atasnya. Untunglah bahwa Mahisa Bungalan masih .menyadari sepenuhnya dan berhasil menyalurkan ketegangan itu tanpa menimbulkan korban jiwa.

Sesaat kemudian, selagi kecemasan dan ketakutan mencengkam semua orang yang ada di sekitar tempat itu, Mahisa Bungalan meloncat ke atas dinding yang masih berdiri tegak di sebelah guguran karena pukulannya itu.

Dengan suara lantang ia berkata, “Ki Sanak semuanya dari padukuhan yang manapun juga yang ada di tempat ini. Aku tidak mempunyai cara lain untuk meyakinkan kalian, bahwa kami bukanlah tiga orang pembunuh seperti yang pernah dilakukan oleh tiga orang yang terlebih dahulu telah sampai di tempat ini. Jika kami tidak melawan kalian dengan langsung itu adalah karena kami ingin menunjukkan perbedaan antara kami dan orang-orang yang kalian katakan, meskipun jika terpaksa, kalian masih saja ingin menangkap dan membunuh kami, maka kami harus membela diri dengan kemampuan yang ada pada kami. Jika ternyata kemudian kami harus berkelahi, maka aku kira bahwa kami tentu akan membunuh bukan saja hanya dua atau tiga, bahkan lima belas, tetapi puluhan. Aku sendiri sanggup membunuh lebih dari sepuluh orang di antara kalian. Dan kedua pamanku itu masing-masing akan dapat membunuh lima puluh orang. Nah, cobalah bayangkan, bencana apakah yang akan menimpa padukuhan ini jika kalian tetap bersikap bodoh”

Ketakutan yang sangat ternyata telah mencengkam orang-orang yang berada di tempat itu. Kedua orang Buyut dari padukuhan di sisi hutan dan dari padukuhan di ujung Bukit itu pun serasa menggigil segenap tubuhnya. Ketakutan, kecemasan dan penyesalan saling berbenturan di dalam diri mereka. Demikian anak-anak Ki Buyut dari padukuhan di ujung bukit yang merasa diri mereka tidak terkalahkan.

Selama ini mereka hanya melihat, betapa dahsyatnya bekas prajurit Tumapel itu memainkan pedang. Namun mereka tidak pernah melihat kekuatan yang lain, yang jauh lebih dahsyat dari kemampuan prajurit itu, yang tersebar di luar padukuhan mereka.

Dan kini ternyata bahwa kemampuannya itu sama sekali tidak berarti dibandingkan dengan kemampuan ketiga orang itu.

“Nah Ki Sanak” berkata Mahisa Bungalan, “Apakah yang sekarang ingin kalian lakukan? Apakah kalian masih tetap akan menangkap kami dan menjatuhkan hukuman picis?”

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Cobalah perhatikan” Berkata Mahisa Bungalan, “Jika yang datang kemudian bukannya kami bertiga, tetapi orang lain yang juga kebetulan bertiga, tetapi sama sekali tidak mempunyai sangkut paut dengan ketiga orang yang datang lebih dahulu, apakah kira-kira yang akan terjadi atas mereka? Jika mereka adalah petani-petani yang dalam perjalanan menengok keluarganya yang sakit di tempat yang jauh, atau dengan tergesa-gesa ingin pulang karena anaknya sakit keras menurut berita yang didengarnya, sedangkan mereka itu kalian tangkap di sini dan kalian jatuhi hukuman picis, cobalah bayangkan. Anaknya menangis di rumah merindukan ayahnya, sedang ayahnya tanpa bersalah tergantung di tiang kayu yang tertanam di simpang empat mengalami hukuman picis.”

Wajah-wajah di sekitar tempat itu pun menjadi tegang

“Itukah yang kalian tuntut dari dendam yang membara di hati kalian karena kalian merasa bahwa perikemanusiaan sudah diinjak-injak oleh ketiga orang yang tidak kalian kenal itu? Dan apakah perbuatan kalian itu juga dapat disebut perbuatan yang biadab tanpa mengenal perikemanusiaan?”

Suasana yang sepi itu pun terasa, menjadi semakin sepi. Dan sinar obor, rasa-rasanya mereka sedang melihat Wajah-wajah sendiri

Beberapa orang menundukkan wajahnya dalam-dalam. Mereka tidak berani dengan tengadah menatap sorot mata. Mahisa Bungalan yang meskipun tidak tertuju kepadanya. Rasa-rasanya mata anak muda itu memantulkan cahaya obor dengan cahaya yang berlipat ganda, menusuk langsung ke dalam lubuk hati.

“Nah, sekarang apa yang akan kalian lakukan? Apakah aku harus memecah seluruh dinding batu yang melingkari padukuhan ini, atau masih harus berperang tanding melawan siapa pun juga?”

Tidak ada jawaban sama sekali. Yang terdengar kemudian hanyalah suara angin malam yang berdesah di dedaunan, seakan-akan tanpa menghiraukan apa yang sedang terjadi di ujung padukuhan itu.

Dalam kesenyapan itu, Ki Buyut dari padukuhan di pinggir hutan itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian selangkah ia maju ke arah Mahisa Bungalan. Dengan nada yang dalam ia pun kemudian berkata, “Anak muda yang perkasa. Adalah terlampau sulit untuk melihat kesalahan sendiri. Tetapi biarlah aku yang tua ini mencoba untuk mengakui, betapa bodohnya kami semuanya. Rasa-rasanya yang kau lakukan adalah semacam pengakuan di hati kami masing-masing. bahwa kami tidak lebih dari orang-orang yang dungu dan sombong. Dalam saat-saat yang demikian, kami baru menyadari, alangkah gilanya angan-angan kami yang diwarnai oleh dendam yang tiada taranya.”

“Ketahuilah” Berkata Mahisa Bungalan kemudian, “Agaknya tiga orang yang datang lebih dahulu dari kami adalah orang-orang dari perguruan ilmu hitam. Mereka telah melakukan perbuatan terkutuk dimana-mana. Namun dendam yang membakar hati kalian akan menumbuhkan akibat yang tidak kalah terkutuknya dengan perbuatan orang-orang berilmu hitam itu”

Ki Buyut dari padukuhan di tepi hutan itu mengangguk-angguk. Selangkah ia maju lagi dan berkata, “Sekarang kami menyerahkan semua persoalan kami kepadamu anak muda. Apapun yang kau anggap baik, kami akan menganggapnya baik pula, meskipun itu akan berarti hukuman bagi kami sekalian.”

“Aku tidak berhak menghukum siapa pun. Jika hukuman itu dimaksudkan untuk melepaskan dendam dan kepuasan oleh nyala api kebencian, maka hukuman itu tidak akan berarti apa-apa. Hukuman seharusnya diberikan untuk menghapuskan kesalahan dari diri seseorang. Maksudnya, agar orang itu jera melakukan kesalahan dan kembali mencari jalan yang benar dengan sadar” Mahisa Bungalan berhenti, “Tetapi hal serupa itu tidak harus kalian lakukan dengan menjalani hukuman. Kesadaran akan kesalahan dan penyesalan adalah hukuman yang paling baik. Kemudian bertaubat dan tidak akan melakukannya sekali lagi. Nah, apakah kalian telah bersiap untuk berbuat demikian?”

Ki Buyut termenung sejenak. Lalu, “Alangkah sulitnya untuk menguasai perasaan sendiri. Tetapi biarlah kami mencobanya. Melihat kesalahan diri, menyesali dan bertaubat. Kami tidak akan lagi dengan tergesa-gesa menimpakan kesalahan kepada orang lain yang tidak pasti demikian.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Kita akan melihat bersama-sama. Meskipun mungkin di hari mendatang kami tidak akan melalui daerah ini, tetapi daerah ini akan tetap menjadi perhatian pimpinan pemerintahan di Singasari. Seperti yang sudah kami katakan, kami bertiga adalah hamba istana Singasari. Karena itu, jika kami melakukan tindakan apa saja atas nama jabatan kami, maka kami tentu akan dibenarkan oleh pimpinan pemerintahan di Singasari.”

Penjelasan itu membuat setiap orang semakin berdebar-debar. Bahkan anak Ki Buyut dari ujung bukit, seolah-olah terbungkam dan tidak mengetahui, apakah yang harus dilakukannya.”

“Nah, jika kalian telah berhasil melihat diri sendiri, maka kami akan segera meninggalkan tempat ini.” berkata Mahisa Bungalan” kembalilah ke rumah masing-masing dan cobalah mengerti apa yang aku katakan. Sebenarnyalah bahwa aku pun seakan-akan telah dicengkam oleh kesesatan nafas karena rasanya dada ini akan retak oleh kemarahan dan gejolak perasaan. Perlakuan kalian atas kami benar-benar membuat darahku mendidih. Untunglah bahwa aku berjalan dengan orang-orang tua yang dapat menenangkan gejolak perasaanku. Jika tidak, maka mungkin aku sudah berbuat lain dari yang aku lakukan, karena aku pun masih cukup muda untuk dikuasai oleh panasnya hati.”

Dalam pada itu, Ki Buyut dari padukuhan di ujung bukit pun tampil sambil berkata dengan suara gemetar, “Ampuni kami. Apalagi setelah kami yakini bahwa anak muda adalah benar hamba istana. Kami akan mempersilahkan anak muda dan kedua kawan anak muda itu untuk bermalam di rumah kami seperti yang semula anak muda kehendaki.”

Sepercik keseganan melonjak di hati Mahisa Bungalan. Seperti anak-anak yang merajuk ia menjawab, “Malam sudah menjadi semakin larut. Jika kami kembali ke rumah Ki Buyut, maka akan segera datang fajar yang merah. Kapankah kami sempat beristirahat malam ini? Istirahat itulah yang kami ingini sehingga kami singgah di padukuhanmu, dan kemudian mengalami perlakukan yang sangat buruk.”

“Kami minta maaf” Ulang Ki Buyut.

Mahisa Agni dan Witantra hanya menarik nafas saja melihat kelakuan Mahisa Bungalan. Tetapi seperti yang dikatakan nya, maka malam memang sudah menjadi semakin larut.

“jika demikian” sahut Ki Buyut dari padukuhan di pinggir hutan, “apakah anak muda bertiga akan beristirahat saja di padukuhan ini? Meskipun padukuhan ini pun telah sangat mengecewakan anak muda.”

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun nampak bahwa ia berusaha untuk menangkap kesan dari wajah Mahisa Agni dan Witantra yang kemerahan kena sinar obor.

Namun dari wajah-wajah yang tidak begitu jelas itu, Mahisa Bungalan tidak tahu pasti, apakah yang dikehendaki oleh Mahisa Agni dan Witantra.

Dalam keragu-raguan, maka Mahisa Bungalan pun kemudian berkata, “Bagi kami tidak ada bedanya, tidur dan beristirahat dimana pun juga. Bahkan kami dapat juga beristirahat di tengah-tengah bulak sekalipun.”

“Kami mempersilahkan anak muda bertiga untuk beristirahat di rumah kami.” Ki Buyut dari padukuhan di ujung hutan menegaskan.

Tetapi Mahisa Bungalan tetap saja menggeleng, “Tidak. Tetapi jika kalian mempunyai banjar padukuhan, kami akan tidur di banjar, meskipun sekejap lagi fajar akan menyingsing.

“Ah” jawab Ki Buyut, “kalian adalah tamu-tamu kami. Sebaiknya kalian bermalam di rumah kami.”

“Jika kita akan bertengkar terus, maka sampai malam berikutnya aku tidak akan sempat beristirahat. Nah, jika kalian sependapat, tunjukkanlah kepada kami banjar padukuhan kalian. Jika tidak, kami akan melanjutkan perjalanan, dan tidur di pematang.”

“Baiklah, baiklah anak muda” berkata Ki Buyut, “marilah. Aku akan menunjukkan letak banjar padukuhan kami yang buruk itu.“ Demikianlah maka Mahisa Bungalan, Mahisa Agni dan Witantra pun segera mengikuti Ki Buyut dari padukuhan di sebelah hutan itu pergi ke banjar. Banjar itu memang tidak besar dan terbuat dari bahan yang sederhana. Dinding bambu wulung yang berwarna ungu menyekat banjar itu. sehingga merupakan bilik-bilik kecil di bagian belakang.

“Inilah banjar padukuhan kami” berkata Ki Buyut.

“Bagus sekali. Dan kami akan tidur di pendapa banjar.

“Kami akan membersihkan bilik-bilik itu.”

“Kami akan tidur di pendapa.” Ulang Mahisa Bungalan tegas.

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Baiklah anak muda. Biarlah seseorang membersihkan pendapa itu.”

Sejenak kemudian, maka seorang anak muda membawa beberapa helai tikar naik ke pendapa :dan dengan tergesa-gesa membersihkan debu dengan sapu ijuk. Kemudian dibentangkannya tikar pandan yang dibawanya masing- masing diberinya rangkap.

“Terima kasih” berkata Mahisa Bungalan yang kemudian menambatkan kudanya pada sebatang pohon perdu di halaman pendapa itu, “aku akan tidur.”

“Kami sedang menjerang air dan menanak nasi.” Desis anak muda yang membentangkan tikar itu.

“Aku akan tidur” Ulang Mahisa Bungalan seolah-olah tidak mendengarkan kata-kata anak muda itu, “jangan bangunkan aku sebelum aku bangun dengan sendirinya.”

“Bagaimana jika nasi masak?” bertanya anak muda itu

“Kau dengar? Jangan bangunkan kami.”

Anak muda itu menjadi bingung, sedang Mahisa Agni dan Witantra menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ketika ada kesempatan Witantra berbisik, “Bungalan, aku lapar. Kenapa kau tidak mau dibangunkan?”

“Aku tidak percaya” jawab Mahisa Bungalan, “paman Witantra dapat bertahan tiga hari tiga malam pati geni tanpa terisi oleh secuwil makanan dan setetes air sekalipun.”

Witantra tersenyum. Namun katanya Tetapi bagi sanak padukuhan Mahisa Bungalan, jika kita menolak jamuan yang mereka hidangkan, apalagi setelah mereka dengan tergesa-gesa menyiapkan, maka hati mereka rasa-rasanya telah disakiti”

“Tetapi apakah mereka tidak menyadari, bahwa mereka pun telah menyakiti hatiku? Hati paman Wirantra dan paman Mahisa Agni.”

Witantra mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi kau membalas sakit hatimu dengan cara menyakiti hati mereka pula?”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia bertanya, “Jadi bagaimana maksud paman?”

“Kalau mereka ingin membangunkan kami, biarlah mereka melakukannya. Dengan begitu kita tidak membuat hati mereka sakit. Apalagi jika mereka tahu, bahwa sikapmu itu adalah sikap seseorang yang sedang merajuk.”

“Ah” Mahisa Bungalan menjadi tegang. Tetapi Witantra dan Mahisa Agni justru tertawa karenanya.

Mahisa Bungalan pun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Terserahlah kepada paman. Tetapi aku sudah terlanjur mengatakan kepada anak muda itu, bahwa aku tidak mau mereka bangunkan.”

“Terserahlah kepada mereka,” berkata Mahisa Agni kemudian, “apakah mereka akan membangunkan kita atau tidak. Jika mereka memang berhasrat membangunkan kita, kita akan bangun. Jika tidak, tentu saja kita tidak dapat berbuat apa-apa, karena Mahisa Bungalan memang sudah terlanjur mengatakannya.”

Mahisa Bungalan hanya bisa mengangguk kecil. Tapi agaknya ia masih tetap menyimpan kejengkelan dalam hatinya Tanpa membersihkan diri, ia langsung membaringkan dirinya di atas tikar itu.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...