*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 23-03*
Karya. : SH Mintardja
Namun demikian, maka Lembu Ampal masih berkata, “Jika di antara kalian tidak ada yang menyebut nama Mahisa Bungalan, mungkin kami percaya, bahwa kalian benar-benar bermaksud baik, dan kami pun akan dapat memberikan lebih banyak keterangan tentang diri kami. Tetapi karena salah seorang dari kalian menamakan diri Mahisa Bungalan pembunuh orang berilmu hitam, maka kami menjadi ragu-ragu, apakah kalian benar-benar tidak bermaksud buruk.”
Sejenak Linggadadi tertegun. Tetapi hatinya benar-benar telah menjadi gelap. Nafsunya untuk membunuh orang yang dianggapnya berilmu hitam itu sudah tidak dapat terbendung lagi. Karena itulah maka ia pun kemudian melangkah maju sambil berkata, “Aku tidak sempat berbicara lebih lama lagi. Kalian harus segera kami musnahkan. Kemudian akan menyusuli kawan-kawan kalian yang masih ada di padang perburuan itu. Dengan demikian sekaligus kami akan mendapatkan dua ekor harimau yang kami inginkan itu.”
“Jika soalnya adalah harimau itu, maka apakah sudah sepantasnya kalian berusaha membunuh sesama?”
“Aku tidak peduli apapun tanggapanmu. Aku akan tetap membunuh orang-orang yang tidak mengenal perikemanusiaan.”
“Dengan cara yang tidak berperikemanusiaan pula?”
“Persetan.” Linggadadi melangkah maju. Demikian pula Linggapati dan pengiringnya yang nampak ragu-ragu. Tetapi iapun ternyata tidak mempunyai pilihan lain, karena kedua anak-anak muda itu benar-benar akan bertempur melawan orang-orang yang dianggapnya berilmu hitam itu.
Ranggawuni dan Mahisa Campaka pun telah bersiap pula. Meskipun mereka tidak saling berjanji, tetapi Ranggawuni seolah-olah telah menempatkan diri melawan anak muda yang menyebut dirinya bernama Linggadadi, dan Mahisa Campaka telah bersiap-siap melawan anak muda yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan.
Sementara itu dengan segan, pengiring Linggapati pun telah bersiap pula melawan Lembu Ampal yang nampak ragu-ragu juga.
Tetapi Linggadadi yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan itu ternyata benar-benar bernafsu membunuh lawannya. Dengan garangnya ia mempersiapkan diri. Dan sejenak kemudian maka iapun telah mulai menyerang Mahisa Campaka.
Mahisa Campaka sudah siap menghadapi serangan itu, sehingga dengan demikian, serangan itu sama sekali tidak mengejutkannya. Dengan sigap ia menghindari serangan itu.
Namun demikian, seperti juga pada Ranggawuni dan Lembu Ampal, Mahisa Campaka pun merasa bahwa tidak sepantasnya ia kehilangan akal seperti lawan-lawannya, karena ia masih tetap menduga, bahwa yang terjadi adalah sebuah salah paham saja.
Tetapi menghadapi serangan yang kemudian membadai, Mahisa Campaka tidak akan dapat selalu bertahan dan menghindar Pada suatu saat iapun akan sampai pada suatu batas yang tidak dapat dihindarinya lagi. Untuk mengurangi tekanan lawannya, maka iapun harus melawannya pula.
Dalam pada itu, Linggapati pun telah menyerang Ranggawuni pula. Serangannya merupakan amukan badai yang sangat berbahaya, karena Linggapati ingin dengan segera, menyelesaikan perkelahian itu. Jika terjadi apapun juga dengan adiknya dan pengiringnya, maka jika ia sudah terlepas dari lawannva, maka ia akan dapat membantunya.
Tetapi lawannya adalah Ranggawuni yang memiliki ilmu yang hampir sempurna. Karena itulah maka serangannya tidak segera dapat menundukkan lawannya. Bahkan kadang-kadang Linggapati menjadi heran, bagaimana mungkin lawannya dapat dengan mudah melepaskan diri dari belitan serangannya yang sangat cepat dan berbahaya.
“Ternyata orang; ini adalah orang-orang berilmu hitam dari tingkat yang lebih tinggi daripada mereka yang aku jumpai di dalam pasar itu.” berkata Linggapati di dalam hatinya.
Di lingkaran perkelahian yang lain. Lembu Ampal bertempur dengan orang yang paling tua di antara ketiga orang itu, masih juga tetap ragu-ragu. Ia berpendapat bahwa ketiga orang-orang itu hanyalah sekedar salah paham. Mereka tentu tidak mengira bahwa orang-orang yang sedang dilawannya itu adalah Maharaja dan Ratu Anghabaya.
Tetapi Lembu Ampal tidak berani mengatakan hal itu kepada lawannya, karena pesan Ranggawuni sendiri, bahwa kepada orang yang tidak dikenal, jangan sekali-kali menyebutkan kenyataan tentang dirinya.
Karena itu, maka yang dilakukan oleh Lembu Ampal hanyalah sakedar bertahan. Ia tidak bernafsu untuk mencelakai lawannya karena pertimbangan-pertimbangan yang masih meragukan.
Namun di lingkaran perkelahian yang lain, Linggadadi yang sudah terlanjur menyebut namanya dengan Mahisa Bungalan, yang ternyata telah menumbuhkan persoalan tersendiri itu, bertempur dengan segenap kemampuan yang ada padanya, karena ia tetap menganggap bahwa lawannya adalah orang berilmu hitam yang harus dibinasakan, karena orang berilmu hitam itu akan dapat mengganggu rencananya. Orang berilmu hitam itu mempunyai tujuan yang akan dapat mencairkan tujuan Linggadadi yang utama, menguasai segenap kekuasaan di Singgasana Singasari.
Linggapati yang memperhitungkan semua rencananya dengan cermat untuk jangka waktu yang panjang itu, merasa sangat terganggu dengan hadirnya orang-orang dari golongan lainyang disebut berilmu hitam itu. Karena itu. maka orang-orang berilmu hitam itu memang harus dibinasakan.
“Tetapi ternyata membinasakan mereka tidak semudah yang aku duga.” berkata Linggadadi di dalam hatinya. Apalagi setelah ia bertempur beberapa saat melawan Ranggawuni.
Meskipun ia telah mengerahkan segenap kemampuannya, namun ia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda, bahwa lawannya akan dapat, ditundukkannya.
Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Linggapati dan Linggadadi telah memeras segenap kemampuan yang ada padanya untuk menguasai lawannya.
Sementara itu, Mahisa Campaka dan Ranggawuni yang semula masih dengan sadar, mempertahankan diri dari serangan lawannya dengan pertimbangan, bahwa lawannya hanyalah sekedar salah menilai dirinya, semakin lama menjadi semakin kehilangan kesabaran. Mereka adalah anak-anak muda seperti juga Linggapati dan Linggadadi, sehingga karena itu, maka ketika keringat mereka telah mulai membasahi kulit, merekapun menjadi semakin garang pula.
Untuk sekedar mempertahankan diri dari serangan lawannya yang membadai, terasa semakin lama menjadi semakin sulit. Karena itu, maka pertahanan yang paling baik dalam keadaan yang demikian adalah berganti menyerang pula.
Darah muda di dalam tubuh kedua orang pemimpin tertinggi di Singasari yang sedang tidak mengenakan tanda-tanda kebesarannya itupun menjadi semakin panas. Bahkan akhirnya telah mendidih ketika serangan lawannya terasa mulai menyentuh tubuhnya. Bukan saja sekedar untuk mempertahankan dirinya, namun tanggung jawabnya atas Singasari yang besar itulah yang terutama mendorong mereka untuk kemudian bertempur dengan kemampuan yang ada pada mereka. Dan kemampuan raksasa yang sulit untuk dicari bandingnya.
Semula, ketika Linggapati berhasil menyentuh tubuh Ranggawuni, ia merasa bahwa saat yang menentukan akan segera tiba. Jika orang-orang yang dilawannya itu benar-benar orang berilmu hitam, maka mereka akan segera mengerahkan kemampuan terakhirnya. Suatu ciri dari orang-orang berilmu hitam adalah bertempur dalam lingkaran yang dapat membuat lawannya menjadi bingung, dan kemudian dengan kejam menyobek kulit korbannya sehingga seolah-olah terkelupas.
Karena itu, maka Linggapati pun segera mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Namun yang kemudian dihadapinya adalah berbeda sekali dengan gambaran di dalam kepalanya. Lawannya itu sama sekali tidak menjadi buas dan liar, kemudian berlari-lari melingkar sambil berteriak-teriak dengan kerasnya. Tetapi lawannya itu justru nampaknya menjadi semakin tenang. Namun dalam ketenangannya itu. terasa bahwa kekuatan ilmunya menjadi semakin mapan.
“Gila.” desis Linggapati, “Apakah benar bahwa mereka bukan orang-orang berilmu hitam.”
Linggapati tidak sempat menilai lawannya lebih lama lagi. Serangan Ranggawuni terasa semakin mendesaknya. Gerak yang mantap dan cepat, membuatnya kadang-kadang kehilangan pengamatan diri. Berkali-kali ia kehilangan kesempatan untuk menempatkan diri sebaik-baiknya, sehingga karena itu, maka setiap kali Linggapati itu meloncat jauh-jauh surut, untuk mendapat kesempatan menyiapkan perlawanan berikutnya.
Ranggawuni tidak tergesa-gesa memburu lawannya. Bahkan nampaknya ia sama sekali tidak bernafsu untuk mengalahkan lawannya. Namun demikian, serangan-serangan yang dilontarkannya bagaikan amukan angin prahara.
“Apakah aku berhadapan dengan anak jin.” desis Linggapati di dalam hatinya, ketika keadaannya menjadi semakin sulit.
Demikian pula agaknya dengan Linggadadi. Ternyata bahwa Masiha Campaka dapat bergerak secepat loncatan kilat di udara. Bahkan sudah mulai terasa, bahwa serangannya akan langsung mengarah kesasaran yang meyakinkan.
Linggadadi benar-benar menjadi heran, la pernah beberapa kali bertempur melawan orang-orang berilmu hitam. Namun kali ini ia berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kemampuan yang tidak diduganya. Ia menyangka bahwa anak-anak muda itu adalah orang-orang berilmu hitam yang memiliki tingkat ilmu tidak lebih dari yang pernah dibunuhnya. Namun ternyata, bahwa anak-anak muda itu justru sudah mulai menguasainya.
“Apakah anak-anak ini termasuk murid-murid yang paling baik dari lingkungan orang-orang berilmu hitam itu?” Pertanyaan itu bukan saja mengganggu Linggadadi. tetapi juga Linggapati.
Bahkan pengiringnya yang tua itupun merasa heran karena tingkah lawannya. Ternyata bahwa Lembu Ampal sama sekali tidak bertempur dengan sungguh-sungguh. Karena ia sendiri juga ragu-ragu, maka perkelahian antara kedua orang-orang tua itu nampaknya menjadi semakin lama semakin lamban. Bahkan merekapun kemudian berusaha untuk dapat memperhatikan perkelahian kedua anak-anak muda yang menyebut diri mereka pembunuh orang-orang berilmu hitam itu, melawan dua orang yang sebenarnya masih diragukan.
Apalagi setelah berkelahi beberapa lama, sama sekali tidak nampak pada kedua anak-anak muda yang mereka sangka berilmu hitam itu, ciri-ciri dari ilmu hitam yang memang pernah mereka kenal.
Namun Linggapati dan Linggadadi sudah terlanjur terlibat dalam pekelahian yang sengit dengan Ranggawuni dan Mahisa Campaka yang sama sekali tidak mengenakan ciri-ciri kebesaran mereka.
Dalam pada itu. perkelahian itupun menjadi semakin seru. Ranggawuni dan Mahisa Campaka sama sekali tidak mau mempertaruhkan diri mereka dan, tanggung jawab mereka atas Singasari. Karena itu, maka agar mereka tidak hancur di dalam perkelahian itu, maka merekapun mulai mendesak lawan masing-masing.
“Gila.” desis Linggapati sambil menghentakkan segenap ilmunya. Tetapi Ranggawuni sama sekali tidak dapat disentuhnya lagi, sehingga dengan demikian ia menjadi yakin, bahwa ilmu lawannya itu masih lebih baik dari ilmunya.
Tetapi Linggapati tidak berputus asa Ia masih ingin menguasai lawannya dengan kekuatan daya tahan tubuhnya. Ia akan mampu bertempur untuk waktu yang lama dengan mengerahkan segenap kemampuannya.
Tetapi ternyata bahwa melawan Ranggawuni, Linggapati benar-benar telah memeras tenaganya. Ia tidak dapat menahan diri untuk menyimpan tenaganya agar ia mampu bertempur untuk waktu yang panjang. Setiap kali bahkan ia harus meloncat surut sejauh-jauhnya untuk mendapatkan kesempatan memperbaiki keadaannya.
Ranggawuni mulai mengetahui, bahwa lawannya sudah kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan diri apabila ia mendesak terus. Apalagi dengan puncak ilmunya. Namun Ranggawuni sama sekali tidak bermaksud demikian. Ia mengetahui bahwa yang terjadi adalah salah paham. Namun ia masih tetap curiga, bahwa lawannya itu telah menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan dan Linggadadi, pembunuh orang-orang berilmu hitam.
“Mungkin dengan menyebut nama-nama itu mereka ingin menakut-nakuti kami.” berkata Ranggawuni di dalam hatinya.
Sementara itu Linggadadi yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan itupun semakin terdesak pula. Agaknya sifat Mahisa Campaka agak lebih keras dari Ranggawuni, sehingga karena itu, maka tekanan ilmunya terasa menjadi sangat berat bagi Linggadadi. Berkali-kali Linggadadi terpaksa berloncatan menjauhi lawannya. Namun setiap kali Mahisa Campaka selalu berhasil mencapainya. Beberapa kali sentuhan serangan Mahisa Campaka telah mengenai lawannya.
Karena desakan yang tidak terelakkan lagi, maka Linggadadi tidak dapat berbuat lain. kecuali menarik senjatanya. Ia sadar, bahwa dengan demikian, perkelahian itu menjadi semakin berbahaya baginya, karena lawannya pun tentu akan berberbuat serupa.
Ternyata dugaan itu adalah tepat. Mahisa Campaka tidak membiarkan terdesak karena lawannya benar-benar menguasai senjatanya dengan baik. Karena itu, maka sejenak kemudian, Mahisa Campaka pun telah menarik senjatanya pula. Tetapi senjatanya tidak lebih dari sebuah pisau belati.
Linggadadi yang semula telah ragu-ragu menilai lawannya sebagai orang berilmu hitam, tiba-tiba seakan-akan mendapat keyakinan baru atas lawannya, karena lawannya itu bersenjata sebilah pisau belati.
“Mereka mengupas kulit lawannya dengan pisau-pisau belati.” katanya di dalam hati.
Dengan demikian, maka perkelahian itupun menjadi semakin sengit. Tebasan, senjata kedua belah pihak telah mematahkan dahan-dahan kayu di sekitar mereka. Gerumbul-gerumbul perdu bagaikan diratakan dengan rerumputan yang terinjak-injak oleh kaki mereka yang sedang berkelahi.
Linggapati pun kemudian tidak dapat bertahan, sekedar bertempur dengan tangannya, betapapun ia percaya kepada kemampuan jarinya. Karena itulah, maka seperti Linggadadi maka iapun telah mencabut senjata kepercayaannya pula. Namun juga seperti Mahisa Campaka, Ranggawuni pun telah mencabut pisau belatinya.
“Kau benar-benar orang berilmu hitam yang aku cari.” geram Linggapati, “Karena kau bersenjata sebilah pisau belati.”
Ranggawuni menjadi heran. Tetapi iapun menjawab, “Ini adalah senjata yang paling umum bagi seorang pemburu.”
Tetapi Linggapati sama sekali tidak menghiraukannya. Serangannya justru menjadi semakin .garang. Bahkan Linggapati telah bersiap menghadapi lawannya, seandainya lawannya itu akan mempergunakan ilmunya yang paling kasar. Berlari-lari melingkar dengan ujung pisau yang teracu, kemudian menyayat korbannya sehingga lukanya arang kranjang.
Namun ternyata bahwa Ranggawuni tidak berbuat demikian. Ia masih saja bertempur dengan caranya. Sama sekali tidak menunjukkan kekasaran, apalagi yang liar. Meskipun terasa ilmunya semakin mendesak lawannya, namun sikap dan geraknya adalah sikap dan gerak dari seseorang yang memiliki kewibawaan yang agung.
Karena itulah, maka orang yang sedang bertempur melawan Lembu Ampal, yang mendapat kesempatan terbanyak untuk menilai lawannya, menjadi semakin heran. Bahkan ia pun kemudian yakin, bahwa lawan mereka itu sama sekali bukan orang-orang yang disebut berilmu hitam itu.
Semakin seru perkelahian itu, Linggapati dan Linggadadi semakin terdesak. Meskipun lawannya hanya membawa senjata-senjata pendek, tetapi rasa-rasanya ujung pisau belati itu sudah menyentuh kulitnya. Bahkan ketika Linggadadi kehilangan kesempatan sama sekali untuk menghindar dan menangkis, ujung senjata lawannya telah tergores di kulitnya. Hanya segores kecil. Namun setitik darah mulai menetes.
“Ia mulai melukai aku.” geram Linggadadi di dalam hatinya. Namun lawannya itu tidak belari-lari berputar-putar dan melukai tubuhnya disegala permukaan kulitnya. Bahkan ketika titik darah itu telah diusapnya, lawannya nampaknya tidak hernafsu lagi untuk melukainya. Namun demikian Mahisa Campaka masih saja mendesak terus, sehingga Linggadadi merasa seolah-olah di hutan yang lebat dan luas itu tidak ada lagi tempat yang aman untuk berpijak.
Sententara itu, Lembu Ampal yang bertumpur dengan ragu-ragu, masih sempat bertanya kepada lawannya, “Ki Sanak. Kenapa anak-anak muda itu bernafsu sekali menganggap kami orang orang berilmu hitam?”
Lawannya meloncat surut. Katanya, “Benar-benar salah paham. Aku yakin bahwa kalian bukan orang-orang yang kami maksud.”
“Jika demikian, apakah kau dapat menghentikan perkelahian itu?” bertanya Lembu Ampal.
Orang itu menjadi ragu-ragu. Tetapi Lembu Ampal tidak menyerangnya lagi. Seolah-olah ia sengaja memberi kesempatan kepada lawannya untuk memberiperingatan kepada kawan-kawannya.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata meskipun dengan ragu-ragu, “Apakah perkelahian; ini harus diteruskan?”
Linggadadi dan Linggapati yang mendengar kata-kata itupun melangkah surut. Terasa sesuatu menyentuh hati. Pertanyaan serupa itu, agaknya memang sudah tumbuh dihati mereka, sejak mereka melihat, bagaimana cara lawannya mempergunakan pisau belatinya, yang sama sekali; berbeda dengan cara yang pernah dilakukan oleh orang-orang berilmu hitam.
Karena lawannya menghindar, maka Ranggawuni dan Mahisa Campaka pun menghentikan serangannya pula. Mereka memang tidak bernafsu untuk menghancurkan lawannya itu pada segala kesempatan. Karena itu, maka merekapun membiarkan lawannya mengambil jarak.
“Agaknya perkelahian ini tidak akan berarti apa-apa jika kita teruskan.” berkata orang tertua dari ketiga orang yang tidak menyebut nama mereka itu, karena lawannya pasti bahwa yang menyebut dirinya Mahisa Bungalan itu adalah orang yang sama sekali tidak bernama Mahisa Bungalan.
“Jadi apa maksudmu?” bertanya Mahisa Campaka.
“Agaknya kami keliru. Kalian benar-benar bukan orang berilmu hitam.”
“Kami sudah mengatakan sejak semula. Bahwa kami bukan orang berilmu hitam.” Jawab Ranggawuni.
“Ya. Kami kemudian yakin setelah kami melihat tata gerak dan sikap kalian.”
“Bagaimana dengan tata gerak ilmu kami?” tiba-tiba saja Mahisa Campaka bertanya, “Apakah mirip dengan tata gerak dari ilmu Mahisa Bungalan?”
Orang yang menyebut dirinya Mahisa Bungalan termangu-mangu.
“Sebenarnya kami dapat berbuat lebih baik jika salah seorang dari kalian tidak menyebut dirinya Mahisa Bungalan, pembunuh orang-orang berilmu hitam.” desis Mahisa Campaka.
“Kenapa?” bertanya Linggadadi yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan. Seperti yang pernah dilakukan jika orang-orang berilmu hitam itu ada yang berhasil melepaskan dirinya, maka dendamnya akan tertumpah kepada Mahisa Bungalan. Tetapi karena agaknya Linggapati berpendapat lain, semata-mata didorong oleh nafsunya untuk memusuhi orang-orang berilmu hitam, maka iapun telah menyebut dirinya Linggadadi pembunuh orang-orang berilmu hitam pula.
Ranggawuni termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Sudah tentu mungkin sekali dua orang mempunyai nama yang sama. Tetapi jika kau menyebut nama dan gelar yang sama, maka kami pun menjadi bingung karenanya. Mahisa Bungalan pembunuh orang berilmu hitam, tentu bukan dua atau tiga orang.”
“Apa kau kenal dengan Mahisa Bungalan pembunuh orang berilmu hitam? Barangkali ada orang lain yang mengaku bernama dan bergelar demikian untuk kepentingan tertentu.”
Ranggawuni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita tidak mempunyai alasan yang kuat untuk bermusuhan. Hanya sekedar curiga. Sebenarnyalah kami juga menaruh curiga pada nama dan gelarmu.”
Linggapati dan Linggadadi termangu-mangu sejenak. Sementara itu kawan mereka sudah lebih tua menyahut, “Sudahlah. Jangan dihiraukan tentang persamaan nama dan gelar itu. Tetapi, seterusnya kita akan saling mengakui, bahwa kita telah terjerumus ke dalam suatu kesalah pahaman.”
“Sebenarnya salah paham itu tidak perlu terjadi.” Mahisa Campaka yang paling muda di antara ketiga orang yang dituduh orang-orang berilmu hitam itu menjawab, “Kami sudah memberi tahukan sejak kami kalian hentikan dan sebelum perkelahian terjadi.”
“Ya. Itu adalah suatu kekhilafan.” jawab lawannya yang sudah seusia Lembu Ampal.
“Hampir saja kami menyelesaikan perkelahian ini dengan kekerasan pula.” Sambung Mahisa Campaka.
Wajah Linggadadi yang masih muda pula menjadi merah. Tetapi kawannya yang tua menjawab, “Kemungkinan semacam itu memang dapat saja terjadi di sepanjang jalan yang sempit ini. Tetapi baiklah kami minta maaf.”
Mahisa Campaka masih akan menjawab. Tetapi Lembu Ampal mendahului, “Sekarang, apakah yang akan kalian lakukan setelah kalian mengetahui dan yakin bahwa kami bukan orang berilmu hitam?”
“Kami akan menghentikan niat kami untuk membunuh kalian.” jawab Linggapati.
Namun Mahisa Campaka menyahut, “Salah Ki Sanak, siapapun namamu. Seandainya kalian berniat untuk melakukannya, aku yakin bahwa kalian tidak akan mampu, karena menurut perhitunganku, kalianlah yang tentu akan terbunuh.”
Lembu Ampal segera memotong, “Tetapi kita akan menghindarkan pertentangan lebih jauh.”
“Ya.” jawab orang yang setua Lembu Ampal itu, “Kami akan mempersilahkan kalian berjalan terus.”
“Apakah kau akan mengganggu kawan-kawan kami yang masih ada di hutan itu?”
“Tentu tidak.”
“Sebaiknya kalian jangan mengganggu mereka. Apalagi menyangka mereka termasuk orang-orang berilmu hitam Empu Sanggadaru itu mungkin tidak akan memaafkan kalian. Ia adalah orang yang mempunyai ilmu tanpa tanding.”
“Bukan karena ilmunya itu jika kami mengurungkan niat kami.” Linggapati menyahut, “Betapapun tingginya ilmu seseorang, aku tidak akan gentar. Tetapi justru karena ia bukan orang berilmu hitam.”
“Jadi kau berpendirian bahwa kau tetap merasa dirimu orang tidak terkalahkan setelah kita bertempur beberapa lama?” potong Mahisa Campaka yang muda itu.
“Sudahlah.” sahut Lembu Ampal, “Jika kalian tidak ingin memusuhi kami, biarlah kami meneruskan perjalanan kami.”
Ketiga orang lawan yang meragukan itu termangu-mangu sejenak. Orang yang tertua di antara mereka berkata, “Silahkan Ki Sanak melanjutkan perjalanan. Jika Ki Sanak tidak berkeberatan, perkenankanlah kami bertanya, siapakah kalian ini sebenarnya.”
“Seperti kalian tidak menyebut diri kalian yang sebenarnya, maka kamipun merasa tidak terikat pada kuwajiban untuk menyatakan diri kami.” jawab Ranggawuni.
“Kami menyebut nama kami yang sebenarnya.” putong Linggapati.
Tetapi Ranggawuni menggeleng. Katanya, “Tidak. Kalian tidak menyebut nama kalian yang sebenarnya. Kami tahu bahwa baik Mahisa Bungalan, maupun Linggadadi adalah pembunuh orang-orang berilmu hitam. Tetapi kamipun tahu bahwa keduanya tidak akan berada di dalam lingkungan yang sama seperti ini.”
Wajah Linggadadi dan Linggapati menjadi merah.
“Tetapi sudahlah.” Ranggawuni melanjutkan, “Aku sependapat bahwa tidak ada gunanya meneruskan perselisihan tanpa sebab yang pantas ini. Kita akan berpisah tanpa mengenal diri kita masing-masing yang sebenarnya. Tetapi satu hal yang boleh kalian ketahui, bahwa kami tahu pasti, bahwa yang menyebut Mahisa Bungalan adalah sama sekali bukan Mahisa Bungalan pembunuh orang-orang berilmu hitam, karena sebenarnyalah bahwa putera Ki Mahendra bukanlah orang yang sedang kami hadapi sekarang ini.”
“Persetan.” geram Linggadadi.
Namun orang yang tertua di antara mereka berkata, “Baiklah. Mungkin kita masih akan bertemu pada kesempatan yang lain. Pada kesempatan yang lebih baik. Perkenalan yang diawali dengan sikap bermusuhan memang tidak menyenangkan. Mungkin dikesempatan lain. kita akan dapat bertemu dalam suasana yang lebih baik.”
“Mudah-mudahan.” jawab Lembu Ampal, “Sekarang, kami minta diri. Pesan kami, jangan mencoba mengganggu kawan-kawan kami jika kalian tetap pada keinginan kalian untuk tidak berselisih dengan kami.”
“Kami memang tidak ingin mengalami salah paham yang lebih parah lagi.” jawab orang yang setua Lembu Ampal itu.
Demikianlah, maka Lembu Ampal pun kemudian mengajak kedua anak-anak muda itu meninggalkan hutan itu. Sejenak kemudian mereka berloncatan ke atas punggung kuda yang mereka pinjam itu dan berpacu meninggalkan lawan-lawannya yang sebenarnya akan dapat mereka kuasai. Namun ketiga orang yang sedang menyelubungi diri masing-masing dengan penyamaran itu, menganggap hal itu tidak menguntungkannya. Apalagi orang-orang itu adalah orang-orang yang agaknya dengan mati-matian memusuhi orang-orang berilmu hitam. Bahkan mereka tidak segan-segan meminjam nama Mahisa Bungalan dan Linggadadi, pembunuh orang berilmu hitam.
Karena itu, ketiga orang itu merupakan teka-teki yang sulit bagi Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal. Namun demikian, mereka masih tetap menganggap bahwa orang-orang itu pada suatu saat akan dapat membantu mereka melawan orang-orang berilmu hitam, karena mereka sama sekait tidak mongerti latar belakang dari tindakan ketiga orang itu.
“Kita akan menghubungi Mahisa Bungalan.” berkata Ranggawuni.
“Mereka masih dalam perjalanan.” jawab Lembu Ampal.
“Kami mengharap, mereka akan segera kembali. Jika Mahisa Bungalan mengetahui apa yang telah terjadi. maka ia tentu akan merasa tersinggung karenanya.”
Tiba-tiba saja Lembu Ampal berdesis, “Apakah justru mereka itulah orang-orang berilmu hitam?”
Tetapi Ranggawuni menggelengkan kepalanya, “Aku yakin, mereka bukan berilmu hitam itu.”
Lembu Ampal mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Mahisa Bungalan akan dapat banyak memberikan pendapatnya tentang orang-orang itu. Mudah-mudahan orang-orang itu tidak benar-benar tidak mengganggu Empu Sanggadaru yang sedang menunggui harimau-harimau itu.”
Demikianlah maka ketiga orang itupun kemudian berpacu terus langsung menuju ke istana Singasari. Karena mereka sama sekali tidak mempergunakan tanda-tanda kebesaran, maka tidak seorangpun yang mengetahui, bahwa mereka bertiga adalah orang-orang terpenting dalam pemerintahan yang baru berkembang di Singasari itu.
Bahkan para penjaga gerbang di istana pun tidak dapat mengenal mereka. Karena itu, maka para prajurit pun segera menghentikan mereka dan dengan curiga bertanya, siapakah mereka bertiga itu.
Lembu Ampal lah yang meloncat turun dari kudanya dan berkata, “Apakah kalian benar-benar tidak mengenal kami?”
Para prajurit itu menggeleng.
“Kau harus mengenal aku, meskipun yang dua orang anak muda itu belum.” berkata Lembu Ampal.
Prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari mereka tiba-tiba saja mendesak maju sambil berdesis, “Senapati Lembu Ampal.”
Lembu Ampal tersenyum. “Kau mengenal aku.”
Prajurit itu mengangguk dalam-dalam. Namun dalam pada itu, seorang perwira yang masih muda dengan tergesa-gesa datang pula menemui mereka. Dengan cemas tiba-tiba saja ia mengangguk dalam-dalam kepada kedua orang yang masih berada di punggung kudanya. Katanya, “Ampun tuanku, apakah ada sesuatu yang terjadi di luar rencana. Bukankah belum saatnya hamba menyusul ke hutan perburuan seperti yang tuanku titahkan?”
Ranggawuni memandang perwira muda itu sambil tersenyum. Jawabnya sambil menggeleng, “Tidak. Tidak ada sesuatu yang terjadi.”
“Tetapi tuanku telah datang jauh lebih cepat dari waktu yang tuanku tentukan.”
Ranggawuni tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan segera memberi tahukan kepadamu. Aku akan masuk dahulu.”
Para prajurit yang berada di regol mulai memandang Ranggawuni dan Mahisa Campaka dengan saksama. Barulah kemudian mereka sadar, bahwa mereka memang berhadapan dengan Maharaja dan Ratu Angabhaya dari Singasari.
Dengan serta merta para prajurit itu pun segera mengangguk hormat dengan, hati yang gelisah. Seolah-olah mereka telah melakukan kesalahan meskipun sama sekait tidak mereka sengaja.
“Tidak apa-apa.” berkata Ranggawuni seolah-olah melihat perasaan para prajurit itu. “Kalian tidak melakukan kesalahan apapun juga.”
Ranggawuni, Mahisa Campak dan Lembu Ampal pun segera memasuki gerbang istana diiringi oleh perwira muda itu.
Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal pun segera menghilang di dalam bangsal, agar tidak terlalu banyak prajurit dan hamba istana yang melihat dengan keheran-heranan, bahwa Ranggawuni Mahisa Campaka dan Lembu Ampal tidak mengenakan pakaian yang sepantasnya. Bahkan mereka lebih mirip dengan seorang pemburu di hutan-hutan.
Baru kemudian Ranggawuni memanggil perwira muda itu untuk menghadap dan memberitahukan apa yang telah terjadi.
Perwira muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Jadi hamba harus mengambil harimau itu tuanku?”
“Ya Bawalah sebuah pedati. Dengan demikian, kau tidak akan mengalami kesulitan di perjalanan, karena harimau itu agaknya cukup buas, sedangkan aku ingin harimau itu tetap hidup dan dipelihara di halaman ini. Mungkin kelak kita akan mendapatkan jenis binatang yang lain, yang akan dapat mengisi halaman istana ini pula.”
“Hamha tuanku. Hamba akan mempersiapkannya.”
“Segeralah berangkat, agar orang-orang yang menunggui binatang itu tidak terlalu lama dan menjadi jemu. Paman Lembu Ampal akan menyertai kalian, agar Empu Sanggadaru tidak ragu-ragu untuk memberikan harimau itu kepada kalian.”
“Hamba tuanku. Baiklah hamba mempersiapkan diri bersama para prajurit. Hamba akan mengumpulkan mereka, dan pada saatnya, hamba akan menghadap lagi untuk mohon diri.”
“Kau dapat langsung berhubungan dengan paman Lembu Ampal yang seterusnya akan memimpin kalian sepanjang perjalanan ke hutan itu. Dan paman Lembu Ampal sudah ngetahui, apakah yang harus dilakukannya.”
Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa ia harus bersiap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang kurang baik jika orang-orang yang mencegatnya itu masih mendendam.
Karena itu, maka Lembu Ampal pun berpesan kepada perwira yang akan membawa sekelompok prajurit mengambil harimau di hutan itu, agar yang dibawanya itu adalah prajurit-prajurit pilihan.
Perwira itu mengerutkan keningnya. Dan Lembu Ampal berkata, “Tidak ada apa-apa. Hanya sekedar sikap berhati-hati.”
Demikianlah maka sekelompok kecil prajurit Singasari segera dipersiapkan, membawa sebuah pedati ke hutan perburuan. Namun di perjalanan itu, Lembu Ampal berkata berterus teng kepada perwira muda, bahwa di saat Ranggawuni dan Mahisa Campaka kembali ke Singasari, mereka telah bertemu dengan orang-orang yang menyebut dirinya bernama Mahisa Bungalan dan Linggadadi yang bergelar pembunuh orang-orang berilmu hitam.
“Tetapi apakah mereka benar-benar Mahisa Bungalan dan Linggadadi?” bertanya perwira muda itu.
“Tentu bukan Mahisa Bungalan.” jawab Lembu Ampal, “Tetapi aku tidak tahu pasti, apakah yang seorang memang Linggadadi.”
Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah. Jika kita harus bertemu dan terjadi salah paham pula, mungkin aku dan para prajurit mengambil sikap lain dari sikap tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Campaka. Mungkin juga akan berbeda dengan sikap Senapati Lembu Ampal.”
“Apakah yang akan kau lakukan?”
“Kami agaknya lebih senang menangkap mereka. Atau jika gagal membunuh mereka, karena bagiku mereka sudab jelas, mempunyai niat buruk. Jika tidak, mereka tidak akan mempergunakan nama yang bukan namanya, atau justru nama yang lain sama sekali.”
“Mungkin. Tetapi mungkin juga karena mereka benar menyangka babwa kami adalah orang-orang berilmu hitam, sehingga mereka merasa perlu untuk menakut-nakuti kami.”
Perwira itu mengangguk-angguk. Tetapi iapun mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin. Tetapi jika mereka mengganggu kami, apa boleh buat.”
“Aku kira, seandainya kita bertemu, mereka akan mempunyai sikap yang lain melihat prajurit-prajurit Singasari yang lengkap dengan tanda-tanda keprajuritannya.”
Perwira itu menyahut, “Mudah-mudahan.”
Lembu Ampal tidak berbicara lagi tentang orang-orang yang mengaku bernama Mahisa Bungalan itu. Namun demikian, ia masih tetap berhati-hati. Apalagi jika ketiga orang itu ternyata mempunyai kawan-kawan yang lain yang dapat dikumpulkannya dengan cepat.
Dalam pada itu, pedati yang ditarik dengan dua ekor lembu itu berjalan lamban sekali. Tetapi para prajurit Itu tidak dapat memaksa lembu-lembu mereka berlari secepat derap kaki kuda.
Dalam pada itu, Linggapati, Linggadadi dan seorang pengiringnya pun menjadi bimbang sepeninggal Ranggawuni, Mahisa Campaka dan Lembu Ampal. Dengan ragu-ragu merekapun kemudian mengurungkan niatnva untuk mencari seekor harimau atau binatang buruan yang lain. Namun demikian mereka masih berada di hutan itu untuk beberapa lama sambil membicarakan ketiga orang yang mereka anggap aneh itu.
“Agaknya mereka benar-benar bukan orang berilmu hitam.” berkata Linggapati.
Linggadadi mengerutkan keningnya.
“Kau pernah bertemu langsung dengan beberapa orang di antara mereka.” berkata Linggapati, “Lebih banyak dari yang pernah aku temui. Dengan demikian kau dapat mempunyai gambaran yang lebih banyak tentang sikap dan ciri-ciri mereka.”
“Aku juga menjadi ragu-ragu.” berkata Linggadadi. Dalam pada itu, pengiringnya memotong, “Tetapi mereka bukanlah orang-orang yang jahat. itu aku pasti. Jika aku dapat berkata terus terang, maka sebenarnyalah mereka mempunyai cukup kesempatan untuk melakukan sesuatu yang dapat mengakibatkan bencana bagi kami.”
“Tidak.” teriak Linggadadi, “Itu adalah kekhawatiran orang-orang tua yang sama sekali tidak beralasan.”
Namun Linggapati menyahut, “Aku tidak membantah. Agaknya mereka memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Setidak-tidaknya mereka tidak akan dapat kami kalahkan, jika mereka tidak lengah atau melakukan kesalahan.”
Linggadadi menarik nafas dalam-dalam. Tetapi akhirnya iapun berkata, “Aku mengakui bahwa mereka memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi aku masih menganggap bahwa ilmu mereka belum berada di atas ilmu kita.”
Pengiringnya memandang Linggadadi sejenak. Namun ia tidak membantah, karena ia mengerti, bahwa sebenarnya di dalam hati Linggadadipun telah terbersit pengakuan bahwa ketiga orang itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.
Untuk beberapa saat lamanya mereka tetap berada di hutan itu meskipun nafsu Linggadadi untuk mendapatkan seekor binatang buruan telah lenyap. Namun hatinya yang bergejolak membuatnya seolah-olah mematung di tempatnya. Sekali-sekali Linggadadi membayangkan orang-orang yang lain, yang tidak ikut bersama ketiga orang itu meninggalkan hutan. Memang timbul keinginan untuk melihat mereka. Tetapi keinginan itupun segera disingkirkannya jauh-jauh. Ia tidak mau mengalami keadaan yang. sama. Apalagi baginya, nampaknya orang yg. memakai pakaian pemburu dari kulit harimau itu, lebih meyakinkan dari anak-anak muda yang baru saja meninggalkan hutan itu.
“Apakah kita tidak akan pergi dari hutan ini?” bertanya Linggapati kemudian.
Linggadadi menarik nafas dalam-dalam. Kesan tentang perkelahiannya dengan anak-anak muda itu benar-benar telah mencengkam hatinya. Betapapun juga ia berusaha menutupi kekecewaan dan kekurangannya di hadapan pengiringnya, namun seperti juga Linggapati, ia tidak dapat ingkar kepada diri sendiri, bahwa sebenarnya anak-anak muda itu memiliki ilmu yang tidak akan dapat dikalahkannya.
Namun, darahnya yang panas oleh umurnya yang masih muda, membuatnya untuk berusaha menutupi kekurangan itu sejauh dapat dilakukan.
Namun ternyata bahwa kakaknya, Linggapati, telah berterus terang, bahwa ilmu anak-anak muda itu telah melampaui ilmu mereka.
“Jadi, apakah yang akan kita lakukan sekarang kakang?” bertanya Linggadadi, “Apakah kita akan kembali untuk beberapa lamanya sebelum kita mulai lagi dengan perburuan kita atas orang-orang berilmu hitam seperti yang kita rencanakan?”
Linggapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya, kita akan kembali untuk menenangkan hati dan membuat rencana yang lebih bening. Jika kita tenggelam dalam perburuan ini, kita akan terpisah dari orang-orang yang selama ini merupakan dasar kekuatan kita.”
“Tetapi dengan demikian, orang-orang berilmu hitam akan menjadi leluasa untuk melakukan kejahatan-kejahatan dan perampokan-perampokan. Mereka agaknya tidak saja menangkap orang-orang yang mereka kehendaki, yang menurut pendengaran kita, sejak ilmu itu berkembang dimasa lampau, dipergunakan untuk korban bagi kelanggengan ilmu mereka, namun mereka juga telah merampok harta benda untuk bekal perkembangan ilmu mereka dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup mereka.”
“Ya.” jawab kakaknya, “Mudah-mudahan sementara kita menyusun rencana yang lebih baik, Mahisa Bungalan benar-benar telah melakukan tugasnya, membunuh orang-orang berilmu hitam, sehingga mereka tidak lagi berkeliaran. Kami berkepentingan dengan lenyapnya orang-orang berilmu hitam, agar Singasari menjadi tenang. Dalam ketenangan itu kita akan mengembangkan diri di luar kecurigaan Singasari.”
“Bagaimana jika Mahisa Bungalan tidak berbuat apa-apa pula sehingga orang-orang berilmu hitam itu justru semakin berkembang di seluruh Singasari? Kecuali dengan demikian mereka akan merupakan sentuhan-sentuhan yang membuat Singasari semakin kuat, maka mereka pun merupakan bencana bagi kami di hari kemudian.”
“Tentu kita tidak akan melepaskannya sama sekali. Kita hanya akan beristirahat untuk waktu yang pendek sambil menyusun diri. Tetapi jika keadaan memburuk bagi kita, maka kita akan segera bertindak cepat.”
Linggadadi mengangguk-angguk. Memang untuk herbuat sesuatu tanpa melihat perkembangan keadaan secara menyeluruh, agaknya tidak akan menghasilkan, sesuatu yang bermanfaat.
Demikianlah setelah mereka berbincang cukup lama, dan sekaligus beristirahat setelah mereka memeras tenaga bertempur melawan tiga orang yang tidak mereka kenal, maka merekapun segera berkemas.
“Kita akan melalui Kotaraja.” berkata Linggapati, “Sekaligus melihat apakah ada perkembangan yang menarik perhatian. Mungkin di Kotaraja kita mendengar, apa saja yang pernah dilakukan oleh Mahisa Bungalan yang sesungguhnya, sehingga dengan demikian kita akan dapat menyesuaikan diri.”
Linggadadi pun ternyata sependapat pula, sehingga ketiganya kemudian menempuh perjalanan langsung menuju ke Kotaraja yang tidak terlampau jauh.
Tidak banyak yang mereka percakapkan di sepanjang jalan, karena angan-angan masing-masing yang berkembang jauh melampaui kemungkinan yang dapat dilakukan oleh wadag mereka. Kadang-kadang angan-angan itu dapat memberikan beberapa kepuasan tertentu, namun dalam kesadaran yang kemudian membangun mereka, terasa betapa kekecewaan telah menerkam mereka.
Dalam perjalanan itu, mereka kemudian tertegun ketika mereka melihat dari kejauhan iring-iringan prajurit Singasari dalam jumlah yang kecil dengan sebuah pedati di antara mereka.
“Apakah ada seorang puteri yang ingin bercengkerama dengan sebuah pedati?” tiba-tiba saja Linggapati berdesis.
Linggadadi mengerutkan keningnya. Katanya, “Nampaknya sekelompok prajurit yang mempunyai tugas yang khusus. Tetapi kenapa mereka melalui jalan ini, jalan yang menuju ke hutan yang jarang sekali dijamah orang itu?”
“Mereka tentu akan bertemu dengan orang-orang yang dalam hutan itu?”
“Mereka tentu akan bertemu dengan orang-orang yang dalam ciri-ciri ucapannya sebagai orang berilmu hitam itu.” desis Linggadadi kemudian.
Yang lain menjadi termangu-mangu. Namun kemudian Linggapati berkata, “Siapapun mereka, tetapi kami telah meyakinkan diri, bahwa mereka bukan orang-orang berilmu hitam. Setelah kita bertempur, maka kita sama sekali tidak melihat ciri-ciri dari ilmu hitam itu pada mereka.”
Linggadadi tidak menjawab. Bahkan merekapun kemudian harus menepi ketika para prajurit itu menjadi semakin dekat. Namun ketiga orang itu terperanjat ketika ketika mereka melihat salah seorang dari para prajurit itu adalah orang yang telah mereka kenal sebelumnya. Meskipun nampak perubahan pada bentuk pakaian dan pertanda kebesaran yang dipakainya, namun mereka bertiga sama sekali tidak melupakannya, bahwa yang berada dipaling depan, di samping seorang perwira muda adalah salah seorang dari yang telah bertempur melawan mereka.
Tetapi orang itu kini mengenakan pakaian dan tanda-tanda kebesaran seorang perwira prajurit Singasari. Bahkan seorang Senapati besar yang tentu berkedudukan tinggi dan berjabatan penting.
Linggapati yang berada di paling depan berpaling. Dilihatnya wajah adiknya yang tegang. Demikian juga pengiringnya yang telah setua perwira yang telah mereka kenal itu.
“Siapakah sebenarnya orang itu.” desis Linggadadi.
Linggapati menggeleng. Katanya, “Aku tidak tahu. Jika ia seorang perwira, siapakah dua orang anak muda yang telah berburu bersamanya?”
“Apakah mata kita yang telah menjadi rabun dan melihat orang itu sebagai seseorang yang pernah kita, kenal?”
“Ya. Mungkin wajahnya sajalah yang mirip.”
“Tetapi kita akan melihat, apakah ia mengenal kita atau tidak.”
“Bagaimana jika ia masih mengenal kita, namun kemudian menjatuhkan perintah kepada para prajuritnya untuk menangkap kita?”
“Kita bukan tikus piti.”
Ketiga orang itupun menjadi tegang. Dengan tatapan yang tajam mereka memandang perwira yang nampaknya sudah mereka kenal itu.
Mereka menjadi semakin berdebar-debar ketika iring-iringan itu menjadi semakin dekat. Dengan tegang mereka memandang perwira yang berada di paling depan bersama seorang perwira muda itu.
Terasa dada meteka berdesir, ketika ternyata perwira itu mengangkat tangannya dan memberikan isyarat agar iring-iringan itu berhenti. Sejenak Linggapati tercenung. Namun kemudian iapun bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan da pat terjadi.
Lembu Ampal yang memimpin iring’an prajurit Singasari itu masih mengenal dengan baik ketiga orang yang telah bertempur melawannya bersama kedua pimpinan tertinggi Singasari. Karena itu, maka iapun kemudian mendekati ketiga orang itu lebih dekat lagi. Namun yang nampak di wajahnya adalah sebuah senyuman yang bersih.
Linggapati menarik nafas dalam-dalam. Menurut pertimbangannya, perwira itu tidak akan berbuat sesuatu atas mereka bertiga. Apalagi kekerasan.
“Ki Sanak.” berkata Lembu Ampal kemudian, “Apakah kalian masih mengenal aku?”
“Ya.” jawab Linggapati.
“Inilah kenyataanku sebenarnya. Bukan maksudku untuk membanggakan diri di hadapan Ki Sanak bertiga. Bahkan aku kira Ki Sanak sudah tidak ada di sini, atau sama sekali aku tidak menyangka bahwa kita akan bertemu di pinggir kota ini.”
Linggapati mengangguk hormat. Katanya, “Kami mohon maaf. Kami sama sekali tidak mengetahui bahwa Ki Sanak adalah seorang perwira yang barangkali justru berkedudukan tinggi.”
“Sama sekali bukan seseorang yang berkedudukan tinggi. Tetapi aku memang seorang prajurit.” Lembu Ampal berhenti sejenak, lalu, “Aku kira Ki Sanak sudah jauh. Rasa-rasanya kami sudah terlalu lama meninggalkan hutan itu. Menyiapkan pedati kemudian pergi ke hutan itu dengan sangat lamban karena di antara kami terdapat sebuah pedati.”
Linggapati mengangguk. Jawabnya, “Kami masih agak lama berada di hutan itu. Kami memerlukan waktu untuk merenungi apa yang baru saja terjadi. Dan ternyata bahwa kami telah melakukan kesalahan, karena kami telah mengira bahwa Ki Sanak, yang ternyata seorang prajurit, adalah orang-orang berilmu hitam.”
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar