*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 12-01*
Karya. : SH Mibtardja
Dengan demikian, maka Panglima prajurit itu kini berpindah lawan. Ia tidak lagi melawan Panglima Pasukan Pengawal. Tetapi ia memilih lawannya yang baru, Lembu Ampal.
Karena itulah maka Senapati yang bertempur bertiga melawan Panglima Pelayan Dalam, segera mengatur diri. Seorang dari mereka segera melepaskan arena pertempuran itu dan terjun melawan Panglima Pasukan Pengawal bersama seorang kawannya.
Dan ternyata perhitungan Panglima lawan Lembu Ampal itu salah. Ia menganggap bahwa Lembu Ampal adalah seorang Senapati yang tidak mempunyai ilmu yang cukup untuk melawannya. Ia menganggap bahwa Lembu Ampal masih berada selapis di bawahnya seperti kebanyakan Senapati yang lain.
Namun, setelah bergaul dengan Witantra, Mahendra, Mahisa Agni dan menjadi kawan berlatih Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, Lembu Ampal ternyata telah berubah. Ia kini memiliki ilmu yang lebih tinggi dari perhitungan lawannya.
“Gila, iblis manakah yang mengajari kau berkelahi?” teriak Panglima itu.
“Sekedar untuk membela diri.” sahut Lembu Ampal. Lawannya menggeram. Dengan sepenuh tenaga ia mencoba mendesak Lembu Ampal.
Namun ternyata kemudian bahwa kemampuan Panglima itu memang masih lebih tinggi dari Lembu Ampal. Meskipun Lembu Ampal masih akan tetap mampu menjaga dirinya, tetapi untuk bertempur dalam waktu yang tidak terbatas, maka Lembu Ampal akan mengalami kesulitan.
Tetapi untuk sementara Lembu Ampal masih tetap bertahan. Sekilas bahkan ia masih sempat melihat kedua Panglima yang lain bertempur masing-masing melawan dua orang Senapati.
Ternyata keduanya pun masih mengalami kesulitan. Tetapi untuk beberapa saat mereka pun pasti akan dapat bertahan. Apalagi mereka kemudian tidak lagi harus bertempur melawan kekuatan yang berlebih-lebihan. Masing-masing dari kedua Panglima itu tinggal melawan dua orang lawan. Sedangkan para pengawal kedua Panglima itu masih mampu membantu mereka sejauh-jauh dapat mereka lakukan.
Dalam pada itu, Mahisa Agni yang bertempur di bagian lain dari halaman itu, berusaha untuk menghisap lawan sebanyak-banyaknya. Ia menyadari bahwa orang-orang Rajasa dan Sinelir terdesak di mana-mana. Karena itu, maka Mahisa Agni dan para pengawalnya berusaha untuk mengurangi tekanan itu dengan melumpuhkan lawan yang mereka jumpai.
Namun sekali-sekali Mahisa Agni menjadi bimbang. Ia sendiri tidak dapat mengerti akan tingkah lakunya sendiri. Bahkan kemudian ia jatuh pada suatu kesimpulan, bahwa di dalam keadaan yang memaksa akhirnya seseorang harus memilih, mengorbakan yang dianggapnya kurang baik bagi yang lebih baik.
Demikianlah Mahisa Agni mengorbankan orang-orang yang tidak akan banyak berguna lagi bagi Singasari dengan harapan untuk menemukan hari depan yang lebih baik bagi negara yang sedang berkembang itu. Meskipun Mahisa Agni tidak ingin melumpuhkan lawannya dengan membunuh mereka, namun adalah di luar kemampuannya untuk menghindarinya sama sekali.
Ketika kemudian Mahisa Agni melihat seakan-akan ada arus yang sedang memasuki halaman, ia pun mengerti bahwa beberapa orang telah berhasil memasuki halaman itu dan membantu orang-orang Rajasa dan Sinelir yang mengalami tekanan. Karena itu, maka hatinya pun menjadi semakin tenang, dan karena itu, korban yang jatuh oleh tangannya pun menjadi berkurang.
Perlahan-lahan namun pasti Mahisa Agni langsung mendekati bangsal Tohjaya. Betapa pun ketatnya pertahanan yg berlapis-lapis, namun Mahisa Agni selalu mendesak maju. Apalagi karena prajurit yang membentengi bangsal itu pun sudah susut, karena mereka harus berpencaran di seluruh halaman.
Tetapi selagi Mahisa Agni menjadi semakin dekat dengan bangsal itu, maka datanglah penghubung yang telah dipesan oleh Panglima Pelayan Dalam untuk menjumpai Mahisa Agni. Dengan nafas terengah-engah ia pun berkata, ”Aku harus mencari tuan di seluruh halaman ini.”
“Apakah kau membawa pesan?”
“Ya.”
“Apakah pesan itu?”
“Panglima Pelayan Dalam mengirimkan pesan, bahwa Panglima Prajurit yang setia kepada tuanku Tohjaya itu berkeliaran di halaman. Tingkah lakunya sama sekali tidak dapat dibatasi, sehingga menimbulkan korban yang tiada terhitung jumlahnya.”
“Dimana ia sekarang?”
“Bertempur melawan Panglima Pasukan Pengawal.”
Mahisa Agni termangu-mangu sejenak. Ia sudah menjadi semakin dekat dengan bangsal Tohjaya. Ia ingin memasuki bangsal itu lebih dahulu dari para prajurit dan Panglima. Jika Panglima Pelayan Dalam itulah yang pertama-tama menemukannya, maka nasib Tohjaya agaknya akan menjadi sangat buruk. Kedua Panglima itu sudah menyimpan dendam di dalam hati. Kecuali penyesalan bahwa mereka sudah terlibat dalam usaha pembunuhan Anusapati yang kemudian menempatkan Tohjaya pada tahta Singasari, juga karena sikap dan tingkah laku Tohjaya yang sangat menyakitkan hati.
Namun ternyata bahwa kedua Panglima itu kini berada di dalam kesulitan.
“Bagaimanakah imbangan kekuatan itu?” bertanya Mahisa Agni kemudian, ”Apakah Panglima Pasukan Pengawal selalu terdesak?”
“Ya tuan Panglima prajurit yang setia kepada tuanku Tohjaya itu bersama dengan empat orang Senapati yang disebut berhati iblis itu.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Senapati itu memang benar-benar berhati iblis. Ia tidak mengenal perikemanusiaan sama sekali. Kematian lawannya dimedan perang merlupakan permainan yang menyenangkan baginya.
Karena itu, Mahisa Agni pun kemudian berpikir sejenak. Bangsal Tohjaya sudah tidak begitu jauh lagi. Tetapi Panglima Pasukan Pengawal itu memang memerlukan pertolongan.
Sejenak Mahisa Agni memperhatikan pertempuran di sekitar halaman bangsal Tohjaya yang diputari dengan sebuah kolam yang justru dibuat oleh Anusapati. Ternyata pengawal-pengwal Tohjaya masih cukup kuat untuk bertahan. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata, ”Baiklah. Aku akan pergi mendapatkan Panglima-panglima yang sedang bertempur itu.”
Dengan tergesa-gesa Mahisa Agni pun kemudian membawa pengawalnya menuju ke arena pertempuran para Panglima itu. Beberapa kali Mahisa Agni harus menghalau lawan-lawannya yang mencoba menyergapnya. Tetapi, tidak seorang pun Senapati yang berusaha untuk menahannya setelah mereka melihat bahwa orang itu adalah Mahisa Agni.
“Biarlah Panglima menundukkannya.” berkata Senapati-senapati yang memimpin kelompok-kelompok yang sedang bertempur di halaman itu.
Di sepanjang halaman itu Mahisa Agni sempat melihat, bahwa kekuatan pelindung Tohjaya masih cukup besar. Jika tidak ada bantuan yang menambah kekuatan orang orang Rajasa dan Sinelir, maka pertempuran di halaman itu tentu akan memerlukan waktu yang sangat panjang. Bahkan mungkin di malam hari.
Sementara itu, maka pertempuran menjadi semakin seru. Lembu Ampal yang kemudian mengambil alih lawan Panglima Pasukan Pengawal itu pun harus bertempur dengan sekuat lenaga. Panglima itu memang memiliki kelebihan yang pada suaiu saat akan dapat menentukan akhir dari pertempuran itu.
Ternyata bahwa ketahanan Lembu Ampal yang harus memeras tenaganya itu pun semakin lama menjadi semakin susut. Lebih cepat dari lawannya. Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu memiliki ketahanan yang mengagumkan. Sekian lama ia bertempur namun tenaganya sama sekali tidak berkurang.
Ketika Lembu Ampal merasakan bahwa nafasnya mulai sendat, maka seakan-akan ia merasa bahwa akhir dari pertempuran itu sudah dekat. Pengawalnya sekali-sekali dapat juga membantunya. Namun mereka agaknya mempunyai lawan masing-masing. Pengawal Panglima dan keempat Senapati iblis itu pun bertempur dengan garangnya, bahkan mendekati cara bertempur para Senapati yang ganas, dan bahkan seolah-olah menjadi liar dan buas.
Lembu Ampal yang menjadi semakin letih itu terkejut ketika ia mendengar keluhan tertahan. Ketika ia berusaha untuk melihatnya, maka hatinya menjadi berdebaran. Ia melihat seleret luka tergores dilengan Panglima Pelayan Dalam yang bertempur melawan dua orang dari keempat Senapati berhati iblis itu.
Dengan sigapnya Panglima itu meloncat surut. Beberapa orang pengawal mencoba melindunginya. Tetapi justru sebuah tusukan langsung menembus dada seorang pengawal yang terlampau tergesa-gesa meloncat maju.
Tetapi Lembu Ampal tidak dapat berbuat apapun juga karena ia sendiri harus memeras segenap kemampuannya untuk mempertahankan diri.
Panglima Pelayan Dalam yang terluka itu menggeram. Kemarahannya telah membakar jantungnya sehingga wajahnya menjadi merah semerah darah yang menitik dari lukanya.
Meskipun luka itu tidak terlampau dalam, tetapi luka itu agaknya telah mengganggunya. Bukan saja perasaan nyeri yang menyengat, tetapi terlebih-lebih lagi adalah gangguan perasaan yang sangat mempengaruhinya. Kemarahan, dendam dan kecemasan bercampur baur membuat nalarnya kadang-kadang menjadi buram.
Sementara itu, Panglima Pasukan Pengawal pun harus bertempur mati-matian. Ia pun terdesak terus, sehingga semakin lama menjadi semakin dekat dengan dinding halaman. Jika ia tersudut pada dinding itu, dan kedua Senapati lawannya menyerang bersama-sama. maka tidak ada harapan lagi baginya untuk dapat keluar dari lingkaran maut.
Ternyata bahwa Senapati-Senapati yang disebut berhati iblis itu memang memiliki kelebihan dari Senapati-Senapati yang lain.
Lembu Ampal yang bertempur dengan memeras segenap kemampuannya masih dapat bertahan. Tetapi ia pun sadar, bahwa ia tidak akan dapat mengimbangi lawannya sampai saat terakhir dari pertempuran itu. Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu benar-benar seorang yang memiliki kemampuan melampaui sesamanya, karena itulah maka Lembu Ampal pun menjadi sangat cemas. Ia melihat Panglima Pelayan Dalam yang terluka dan ia pun melihat Panglima Pasukan Pengawal yang terdesak ke dinding.
Terasa jantung Lembu Ampal bergetar ketika ia kemudian melihat, sebuah serangan pedang yang mendatar telah menyentuh tubuh Panglima Pasukan Pengawal pula. Terdengar ia pun berdesis. Dengan tangan kirinya ia meraba dadanya. Segumpal darah telah memerah di telapak tangannya.
Sementara itu terdengar salah seorang Senapati yang disebut berhati iblis itu tertawa. Katanya, ”Kalian telah terluka semuanya. Sebentar lagi kalian akan mati. Kalian akan menyesal pada saat ajal itu datang. Tetapi sudah terlambat. Tidak ada yang dapat kau lakukan selain pasrah diri kepada kematian.”
Panglima Pasukan Pengawal itu pun menggeram. Ia tidak mempedulikannya. Meskipun dadanya telah terluka, tetapi ia masih berusaha untuk mempertahankan dirinya.
Namun, baik Panglima Pelayan Dalam, maupun Panglima Pasukan Pengawal agaknya tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Darah mereka mengalir semakin banyak dari luka, sehingga ketahanan tubuh mereka pun menjadi semakin berkurang.
Tetapi sebelum kedua Panglima itu harus menyerahkan nyawanya, maka tiba-tiba pertempuran di sekitar mereka pun tersibak. Ketika mereka yang sedang bertempur di arena itu berpaling, mereka melihat seseorang yang sudah mulai berubah pada janggut dan kumisnya. Bahkan rambutnya yang berjuntai di bawah ikat kepalanya pun telah menjadi keputih-putihan pula.
Hampir diluar sadarnya, Lembu Ampal berdesis, ”Panji Pati-pati.”
Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu tiba-tiba saja menggeram. Katanya, ”Inikah Panji Pati-Pati itu?”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Aku Witantra. Memang beberapa orang menyebutku Panji Pati-Pati.”
“Apakah kau juga berpihak kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka?”
“Aku telah melindunginya ketika keduanya lari dari kejaran maut atas perintah tuanku Tohjaya. Kemudian Lembu Ampal yang mendapat perintah membunuh tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka pun berada di rumahku pula. Kini kami bersama-sama datang untuk menempatkan tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka kembali pada kedudukannya.”
“Gila.” geram Panglima itu, ”Kau kira bahwa kau akan berhasil? Sebentar lagi orang-orangmu, orang-orang Rajasa dan Sinelir akan tumpas dihalaman ini. Jika kau ingin menyaksikan, maka sebaiknya kau menunggu di tepi. Sebab jika kau ikut berada di arena, maka kau pun akan mati.”
Witantra mengerutkan keningnya. Sekilas ia melihat kedua Panglima yang bertempur melawan Senapati-Senapati yang disebut berhati iblis itu menjadi semakin terdesak, sehingga katanya kemudian kepada Lembu Ampal, ”Lembu Ampal, serahkau Panglima ini kepadaku. Kau dapat menolong Panglima Pasukan Pengawal yang terluka itu. Agaknya lukanya lebih parah dari Panglima Pelayan Dalam.”
Lembu Ampal surut selangkah. Tetapi agaknya lawannya tidak membiarkannya. Dengan serta-merta ia pun meloncat menyerang.
Namun yang terjadi adalah sebuah benturan yang dahsyat. Diluar dugaan, Witantra pun telah meloncat pula membentur senjata lawannya pula. Sebuah pedang pendek yang lurus dan tebal.
Benturan ilu telah menggoncangkan hati Panglima yang setia kepada Tohjaya. Ia tidak menduga, bahwa dengan gerak yang tiba-tiba saja, Witantra mampu menahan kekuatannya. Karena itu, maka ia pun harus memperhitungkan lawannya itu sebaik-baiknya.
Sesaat Panglima itu memandang Witantra. Kemudian sambil melangkah maju ia berkata, ”Ternyata kau lebih baik dari Lembu Ampal. Menggembirakan sekali, bahwa aku mendapat lawan yang pantas.”
Witantra tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Dalam pada itu Lembu Ampal telah terlepas dari ikatan perkelahian dengan Panglima itu. Dengan demikian maka ia pun kemudian bebas memilih lawannya. Seperti yang dikatakan oleh Witantta, maka ia harus membantu Panglima yang sudah terluka itu.
Dengan pasti Lembu Ampal pun mendekati arena pertempuran itu. Ketika ia kemudian meloncat dengan senjata teracu, maka ia pun berkata kepada para pengawal yang mencoba membantu Panglimanya, ”Tinggalkan arena ini. Bantulah Panglima Pelayan Dalam yang juga sudah terluka. Bertempurlah dalam kelompok yang ketat. Cobalah memisahkan Senapati yang seorang dengan yang lain.”
Beberapa orang pengawalpun kemudian melangkah surut dan beralih di arena yang lain, bergabung dengan para pengawal Panglima Pelayan Dalam.
Lembu Ampal dengan segera mengambil alih salah seorang dari kedua Senapati yang bertempur melawan Panglima Pasukan Pengawal.
Dengan demikian maka Panglima Pasukan Pengawal itu pun menjadi agak lapang. Tekanan lawannya terasa jauh berkurang.
Namun sayang sekali, bahwa karena luka-lukanya, maka ia pun menjadi semakin lama semakin lemah. Darah yang mengucur dari tubuhnya seolah-olah telah melepaskan sebagian dari tenaganya pula.
“Bertahanlah.” berkata Lembu Ampal, ”Aku akan menyelesaikan yang seorang ini. Kemudian aku akan membantumu.”
Panglima Pasukan Pengawal itu tidak menjawab. Ia bertempur dengan sisa tenaganya yang semakin tipis.
Sebenarnya Panglima Pasukan Pengawal itu mempunyai beberapa kelebihan dari lawannya. Tetapi lukanya benar-benar telah mengganggu, sehingga sesaat kemudian ia telah terdesak kembali. Setiap kali ia sudah berusaha berlindung di balik beberapa orang pengawal yang membantunya.
Tetapi prajurit-prajurit lawannya pun tidak mau melepaskannya pula. Mereka berusaha untuk mendesak pengawal itu dari sisi Panglimanya.
Dibagian lain, Panglima Pelayan Dalam yang masih harus, melawan dua orang Senapati, benar-benar telah kehilangan kesempatan. Lukanya pun terasa nyeri meskipun tidak separah Panglima Pasukan Pengawal. Pengawal-pengawalnya yang berusaha membantunya tidak banyak dapat menahan arus serangan kedua Senapati itu, karena prajurit-prajurit lawannyapua bagaikan mengerumuni mereka disegala arah.
Pada saat ia kehilangan segala kesempatan untuk bertahan, maka ia tidak dapat berbuat lain kecuali pasrah kepada Yang Maha Agung. Jika umurnya memang sampai pada batasnya, maka ia tidak akan dapat mengelak.
Namun pada saat yang paling sulit itu rasanya setitik embun telah membasahi hatinya yang serasa telah menjadi kering. Tiba-tiba saja seseorang telah berdiri di arena pertempuran itu. Ketika kedua Senapati lawannya menyerangnya bersama-sama dengan serangan yang menentukan, maka serangan itu telah membentur kekuatan vang seakan-akan tidak tertembus lagi.
Ternyata Mahisa Agni telah berdiri diarena itu.
“Setan alas.” geram salah seorang Senapati yang disebut berhati iblis, ”Kenapa kau mencampuri pertempuran ini. Pertempuran di antara kesatria Singasari?”
“Yang terjadi di halaman ini adalah perang brubuh. Karena itu, aku akan melawan setiap orang yang berdiri di seberang. Kau pun dapat melawan siapa saja tanpa memilih.”
“Pengecut. Menepilah. Jika tidak, maka kaulah yang akan segera terbunuh. Bukan Panglima yang licik itu.” Senapati itu membentak, ”Sebenarnya kau dapat hindarkan diri dari bencana ini. Tetapi jika kau berkeras, apaboleh buat.”
Mahisa Agni memandang kedua Senapati itu. Ada sesuatu yang rasa-rasanya mendorongnya untuk bertindak keras terhadap kedua Senapati seperti lazimnya yang terjadi di arena peperangan. Apalagi Mahisa Agni menyadari bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang menurut beberapa orang disebut berhati iblis.
“Aku masih memberimu kesempatan.” teriak salah seorang dari mereka.
Kesombongan orang itu telah menambah kebencian Mahisa Agni kepada sifat-sifat mereka. Meskipun pada dasarnya Mahisa Agni bukan seorang yang haus akan kematian lawan-lawannya, tetapi Senapati-Senapati itu memang harus diperlakukan khusus. Tidak ada lagi harapan untuk dapat mengubah sifat mereka. Karena itu, tidak ada jalan lain bagi Mahisa Agni untuk menghilangkan sifat-sifatnya dengan melenyapkan mereka.
Karena itu, maka Mahisa Agni pun kemudian telah, berketetapan hari untuk melawan keduanya. Dengan penuh kewaspadaan ia melangkah maju sambil berkata, ”Marilah. Lakukanlah yang menurut pendapat kalian paling baik kalian lakukan. Aku telah memutuskan untuk mengambil alih lawan Panglima yang telah terluka itu.”
“Kau memang gila.” teriak salah seorang Senapati itu.
Dalam pada itu Panglima Pelayan Dalam itu pun menjadi termangu-mangu. Meskipun ia percaya akan kelebihan Mahisa Agni, tetapi dua orang Senapati yang bertempur bersama itu tentu merupakan musuh yang cukup berat baginya.
Dalam pada itu, salah seorang Senapati itu telah meloncat menyerangnya. Namun dengan sigapnya Mahisa Agni bergeser menghindari. Ketika serangan yang kedua dari Senapati yang lain meluncur mengarah kedadanya, maka ia pun menangkis serangan itu dengan senjatanya.
Benturan-benturan yang terjadi benar-benar telah mengejutkan Senapati itu. Mahisa Agni ternyata memang seorang yang memiliki kelebihan dari mereka berdua.
Dalam pada itu, Witantra pun masih bertempur dengan Panglima prajurit yang setia kepada Tohjaya itu. Agaknya Witantra menjadi ragu-ragu untuk mengambil sikap. Apakah Panglima itu pantas dibinasakan atau sekedar dilumpuhkan.
Namun kemudian Witantra melihat bahwa agaknya Mahisa Agni telah bertempur bersungguh-sungguh. Ia melihat Mahisa Agni yang tegang mengambil sikap tanpa menunggu perkembangan perlawanan kedua Senapati itu.
“Mahisa Agni akan langsung bertindak terhadap keduanya.” berkata Witantra di dalam hatinya.
Sebenarnyalah bahwa bagi Mahisa Agni, keduanya harus segera dilenyapkan. Halaman itu harus segera dibersihkan agar pertempuran itu tidak menjadi berlarut-larut. Orang-orang yang sudah tidak dapat diharapkan lagi untuk dapat berubah, harus segera dibinasakan.
Witantra pun agaknya dapat menangkap perasaan yang tersirat di dalam sikap dan tatapan mata Mahisa Agni yang bagaikan bara.
Dengan demikian maka Witantra pun merasa wajib mengimbanginya. Memang orang-orang itu adalah orang-orang yang sangat berbahaya. Mereka adalah orang-orang yang sekedar mengejar kepentingan pribadi. Saat Tohjaya menguntungkan bagi mereka, maka mereka pun dengan gigih merpertahankannya. Tetapi jika Tohjaya tidak mereka perlukan lagi, maka ia akan segera dilemparkannya. Jika ada orang lain yang mereka anggap lebih baik, maka pengkhianatan tidak akan banyak dipertimbangkan lagi.
Dengan demikian, maka Witantra pun segera bersikap. Ia ingin segera mengakhiri pertempuran itu.
Dalam pada itu, Lembu Ampal pun tidak lagi dapat didesak oleh lawannya. Lembu Ampal ternyata cukup mampu melawan seorang Senapati betapapun garangnya. Ternyata Senapati yang disebut berhati iblis itu seorang diri bukan merupakan iblis yang tidak terkalahkan.
Namun Panglima Pelayan Dalam yang terluka itu harus mengerahkan sisa tenaganya untuk tetap bertahan. Tetapi lawannya yang hanya seorang itu tidak terlampau berbahaya lagi baginya.
Sebenarnyalah bahwa Witantra dan Mahisa Agni dapat menentukan akhir dari pertempuran itu seperti yang mereka kehendaki. Apalagi dibagian lain di halaman itu. orang-orang Rajasa dan Sinelir yang ada di luar dinding telah berturut-turut memasuki halaman. Ternyata bahwa pintu gerbang kota telah dapat ditembus sehingga pasukan dari Iuar pun dengan arus yang tidak tertahan telah memenuhi kota.
Dalam ketegangan itulah hadir pula seorang yang memiliki ilmu yang hampir tidak terlawan oleh prajurit-prajurit yang setia kepada Tohjaya. Ternyata Mahendra yang memimpin pasukan dari arah lain, telah memasuki halaman istana pula. Ia sempat melihat bagaimana Witantra bersiap untuk mengakhiri pertempuran.
Disaat terakhir itu ia melihat Panglima Pelayan Dalam yang terluka menjadi semakin terdesak. Bukan karena ilmu lawannya yang melampaui ilmunya, tetapi karena darah yang mengalir dari lukanya, maka ia pun menjadi semakin lama semakin lemah.
Pada saat yang gawat, Mahendra tanpa disadari telah memperhatikannya. Seleret kecemasan menyentuh dadanya, sehingga ia pun segera meloncat mendekatinya, tepat pada saat sebuah serangan yang dahsyat mengarah kedada Panglima itu.
Mahendra yang mampu bergerak secepat lidah api menyambar dilangit itu, sempat menyambar leher Senapati yang menyerang Panglima itu. Kemudian melemparkannya dengan sekuat tenaganya.
Senapati itu sama sekali tidak menyangka bahwa ada orang yang dapat berbuat demikian. Karena itu, ia pun sama sekali tidak bersiap menghadapi serangan Mahendra.
Yang dirasakannya adalah sambaran pada tengkuknya, kemudian sebuah kekuatan yang tidak terlawan telah melontarkannya.
Sebuah benturan yang dahsyat telah terjadi. Senapati yang tidak menyangka akan mendapat serangan itu ternyata telah membentur dinding halaman.
Sekilas ia masih dapat melihat wajah Mahendra. Kemudian dengan suara parau ia menggeram, ”Pengecut, licik.”
Tetapi suaranya pun segera terputus. Agaknya kepalanya tidak dapat menahan benturan yang dahsyat itu, sehingga otaknya telah terguncang.
Senapati itu hanya dapat menggeliat sekali. Kemudian ia pun menghembuskan nafasnya yang penghabisan.
Ternyata Mahendra yang datang terakhir telah membunuh lawannya lebih dahulu dari yang lain. Sekilas ia mengedarkan tatapan matanya. Kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia melihat kedua Panglima yang terluka itu. Sedangkan disisi yang lain Lembu Ampal masih bertempur dengan gigihnya.
Mahendra menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Witantra bertempur. Ia memang agak lebih muda dari Witantra. Dan agaknya sifatnya pun agak berbeda. Ia tidak telaten melihat Witantra bertempur. Hampir saja ia ikut campur. Namun agaknya Witantra pun memang sudah berniat mengakhiri pertempuran itu.
Diarena yang lain, Mahisa Agni pun sudah sampai pada tekanan yang menentukan. Serangannya memang tidak dapat dibendung lagi. Kedua lawannya yang berusaha saling mengisi ternyata telah kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri.
Sekilas pedang Mahisa Agni menyambar. Yang terasa oleh salah seorang Senapati itu hanyalah sebuah goresan dilehernya. Namun kemudian terasa nafasnya seolah-olah telah kehilangan jalan. Dan ia pun terjerembab dengan tanpa dapat bertahan sama sekali.
Senapati yang lain pun tidak dapat berbuat apa pun ketika serangan berikutnya mengarah kelambungnya. Meskipun ia mencoba untuk meloncat surut, tetapi ujung pedang Mahisa Agni mengejarnya terus, seolah-olah pedang itu dapat terjulur menjadi panjang sekali.
Hampir bersamaan dengan Senapati yang kedua itu, adalah Panglima yang tetap setia kepada Tohjaya. Betapa ia memeras kemampuannya, namun lawannya adalah Witantra. Seorang yang memiliki kelebihan di dalam segala segi.
Karena itu, maka sejenak kemudian nampaklah bahwa perlawanannya tidak berarti lagi bagi Witantra. Sebuah serangan yang dahsyat telah melandanya, seperti angin pusaran yang tidak dapat dihindarinya lagi.
Panglima itu adalah Pangliima yang berbangga atas kemampuannya. Tetapi ternyata ada orang lain yang mampu mengatasinya. Dan orang itu bukan Mahisa Agni, karena baginya hanya Mahisa Agnilah orang yang disegani selama ini. Dan ternyata Mahisa Agni telah membinasakan dua orang pengawalnya. Sedang orang yang tidak dikenalnya, dengan mudah sekali membunuh Senapati pengawalnya yang lain dengan membenturkannya pada dinding.
“Iblis mana sajakah yang telah masuk kedalam tubuh mereka.” geram Panglima itu di dalam hatinya.
Dalam saat terakhir itu ternyata Witantra masih sempat berkata, ”Panglima, sayang sekali bahwa pintu telah tertutup bagimu.”
“Persetan.”
“Disaat terakhir, bertaubatlah. Mungkin masih ada kesempatan.“
“Jangan banyak bicara.”
Witantra benar-benar tidak mempunyai kesempatan. Karena itu memang tidak ada pilihan lain daripada membinasakannya.
Dengan demikian maka Witantra menjadi tidak ragu-ragu lagi. Bahkan kemudian hampir tidak dapat dilihat dengan mata wadag, serangannya tiba-tiba saja telah mencengkam sisa hidup Panglima yang sampai saat terakhirnya setia kepada Tohjaya karena baginya Tohjaya adalah sandaran yang paling banyak memberikan harapan kepadanya. Baginya, memang tidak ada pilihan lain kecuali mempertahankan Tohjaya, atau harus mati di peperangan. Adalah imbangan yang sudah dipilihnya di dalam garis hidupnya. Mukti atau mati.
Sejenak kemudian, Witantra sudah berdiri tegak di sisi mayat Panglima itu. Sekilas ia memandang Mahisa Agni dan Mahendra yang termangu-mangu. Namun mereka pun kemudian melangkah saling mendekati.
“Pasukan tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka sudah ada di dalam kota.” desis Mahendra kemudian.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dilihatnya mayat yang terbujur lintang di halaman itu. Sementara Lembu Ampal masih harus menyelesaikan seorang lawannya.
“Memang tidak ada jalan yang lebih cepat dari perang ini.” berkata Mahisa Agni, ”Tetapi perang ini telah menelan korban tak terhitung jumlahnya.”
Witantra termangu-mangu. Tetapi korban memang terlampau banyak.
Sementara itu, Lembu Ampal telah berhasil mengalahkan lawannya. Dengan demikian maka ia pun kemudian berkumpul pula bersama Mahisa Agni. Witantra dan Mahendra.
“Apa yang sekarang kita lakukan?” bertanya Witantra.
Lembu Ampal termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, ”Kita masih belum sampai ke bangsal induk istana ini. Tentu tuanku Tohjaya berada di sana dengan pengawalan yang kuat. Kita harus datang kepadanya, menemuinya dan memaksanya menyerahkan pimpinan Kerajaan Singasari kepada tuanku Ranggauwuni dan Mahisa Cempaka.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Apakah kau kira Tohjaya akan dengan suka rela melakukannya.”
“Mahisa Agni.” berkata Lembu Ampal, ”Kita sudah sampai di sini. Jika tuanku Tohjaya berkeberatan, maka tidak ada pilihan lain daripada memaksanya. Tentu saja dengan segala akibatnya.”
Mahisa Agni memandang Witantra dan Mahendra berganti-ganti. Nampak di wajah mereka membayangkan ketegangan yang menghentak-hentak jantung. Ada semacam pertentangan di dalam diri mereka masing-masing.
Tetapi jalan itu adalah jalan yang sudah direncanakan. Tohjaya memang harus disingkirkan. Jika ia berkeras untuk bertahan, maka Tohjaya akan dapat mengalami nasib seperti Panglima dan Senapati-Senapati yang setia kepadanya itu.
Dalam pada itu, agaknya mereka memang tidak ada pilihan. Karena itulah maka kemudian Lembu Ampal bersama dengan Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra mempersiapkan diri untuk menuju ke bangsal induk tempat tinggal Tohjaya. yang dikelilingi oleh kolam dan dijaga oleh prajurit segelar sepapan.
Pertempuran di halaman itu masih berlangsung dengan sengit di beberapa bagian. Tetapi sudah menjadi semakin berat sebelah. Prajurit-prajurit Singasari yang mempertahankan Tohjaya sudah terdesak karena jumlah lawannya menjadi semakin banyak. Bahkan di beberapa bagian setiap tawaran untuk menyerah, pasti mereka terima dengan, serta merta karena mereka yakin, bahwa mereka tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi.
Namun demikian, ketika Lembu Ampal dan pasukannya mendekati bangsal Tohjaya, mereka masih mendapat perlawanan yang gigih. Beberapa saat mereka harus bertempur. Tetapi karena di dalam pasukannya terdapat Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan para Panglima yang meskipun sudah terluka, maka perlawanan para penjaga bangsal itu pun tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Perlahan-lahan mereka terdesak, sehingga pertahanan itu pun akhirnya menjadi pecah. Prajurit-prajurit itu pun berlarian meninggalkan arena. Tetapi mereka tidak mendapat kesempatan. Di segala sudut telah berjaga-jaga orang-orang Rajasa dan Sinelir, disertai prajurit-prajurit yang datang dari luar halaman istana.
Rasa-rasanya halaman istana itu memang sudah penuh dengan orang-orang yang mengenakan tanda lawe berwarna putih di pergelangan tangannya. Karena itu, maka prajurit yang mempertahankan kedudukan Tohjaya itu pun tidak mempunyai pilihan lain kecuali menghentikan perlawanan mereka dan menyerah.
Sekelompok demi sekelompok, para prajurit itu pun melemparkan senjata mereka. Tidak ada harapan lagi bagi mereka, apalagi untuk menang, sedang untuk melarikan diri pun rasa-rasanya sudah tidak ada jalan.
Dalam pada itu dengan berdebar-debar Lembu Ampal mendekati bangsal tempat tinggal Tohjaya. Mahisa Agni tidak dapat melepaskannya sendiri. Jika ia memasuki bangsal itu dan menemukan Tohjaya, mungkin gejolak perasaannya akan meledak. Karena itu, maka ia selalu berada di samping Lembu Ampal pada saat mereka mendekati bangsal yang dikelilingi oleh sebuah kolam.
Meskipun nampaknya sudah tidak ada prajurit yang berjaga-jaga di sekitar bangsal itu, tetapi mereka yang mendekati pintu bangsal itu masih tetap berhati-hati. Tohjaya tentu tidak akan dengan mudah menyerah. Di dalam bangsal itu pasti masih ada sepasukan prajurit pilihan, yang barangkali seperti para pengawal Mahisa Agni, berkalung sehelai kain putih dilehernya dan pasrah untuk mati di dalam peperangan.
Tetapi rasa-rasanya bangsal itu terlalu sepi.
Lembu Ampal yang menjadi tegang merayap mendekati bangsal itu didampingi oleh Mahisa Agni. Kemudian beberapa orang lain mengikutinya.
“Sepi sekali.” desis Lembu Ampal.
Mahisa Agni pun menjadi curiga. Katanya, ”Seakan-akan bangsal itu memang sudah kosong.”
Lembu Ampal tidak sabar lagi. Ia pun kemudian meloncat berlari di atas jembatan kolam yang mengelilingi bangsal itu diikuti oleh Mahisa Agni dan orang-orang yang lain.
Dengan serta merta Lembu Ampal mendorong pintu yang tertutup sehingga pintu itu berderak keras sekali.
Wajah Lembu Ampal menjadi tegang. Dengan nada yang dalam ia berdesis, ”Kosong. Bangsal ini sudah kosong.”
Beberapa orang pun kemudian berlari-larian memasuki bangsal itu dan melihat segala ruang yang ada. Bangsal itu memang sudah kosong.
“Di paseban.” teriak Lembu Ampal, ”Mungkin Tohjaya ingin tetap duduk di atas tahta sampai kesempatan yang paling akhir.”
“Atau di bangsal ibundanya.” teriak Panglima Pasukan Pengawal.
“Marilah kita bagi.” berkata Mahisa Agni, ”Kakang Witantra dan Mahendra ke bangsal tuan puteri Ken Umang bersama para pengawal. Sedang aku akan mengikuti Lembu Ampal ke paseban.”
Demikianlah maka mereka pun telah membagi diri. Yang sebagian mengikuti Lembu Ampal dan Mahisa Agni sedang yang lain mengikuti Mahendra dan Witantra.
Dengan hati-hati mereka mendekati kedua bangsal itu pada saat yang hampir bersamaan. Seperti ketika mereka memasuki bangsa! yang dikelilingi oleh kolam itu, maka mereka pun masih saja selalu berhati-hati. Di sana sini prajurit yang setia kipada Tohjaya masih saja berkeliaran meskipun perlawanan mereka sudah tidak berarti apa-apa lagi.
Witantra yang mendekati bangsal Ken Umang, tiba-tiba saja tertegun ketika ia melihat tuan puteri Ken Umang berada di depan pintu bangsalnya. Ia sama sekali tidak berada di antara para pengawal dan emban. Seorang diri ia mendapatkan pasukan yang mendekati bangsalnya.
“Kakang.” desis Mahendra, ”Bukankah perempuan itu Ken Umang?”
“Ya.” sahut Witantra.
“Apakah maksudnya?”
“Aku tidak tahu.”
Mahendra termangu-mangu sejenak. Dan Witantra pun kemudian berkata, ”Aku akan mendekatinya.”
Witantra pun kemudian memberikan isyarat kepada prajurit prajuritnya, agar mereka berhenti ditempat masing-masing. Bersama Mahendra ia pun melangkah mendekati perempuan yang sudah berada di halaman itu.
”Tuan puteri.” sapa Witantra, ”Kemanakah tuan putri akan pergi?”
Ken Umang memandang Witantra sejenak. Lalu ia pun bertanya, ”He. siapakah kau?”
“Hamba Witantra tuan puteri.”
“Witantra, Witantra siapa?”
“Witantra. Tentu tuan Puteri ingat, bahwa hamba adalah Witantra. Seorang bekas Panglima pada masa pemerintahan Akuwu di Tumapel. Tetapi itu sudah lama lampau. Sekarang hamba tidak lebih dari penghuni sebuah padepokan kecil yang terpencil.”
Ken Umang mengingat-ingat sejenak, lalu tiba-tiba saja ia tertawa, ”Witantra. Seorang Panglima masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung.” ia berhenti sejenak, lalu, ”Jadi kau kakang Witantra ya?”
“Hamba luari puteri.”
Suara tertawa Ken Umang menjadi semakin tinggi. Kemudian di sela-sela tertawanya ia berkata, ”Sekarang anakku telah menjadi seorang Maharaja yang paling perkasa di muka bumi. He Witantra, kau harus berlutut di hadapan tuanku Tohjaya. Sang Mahaprabu yang tiada duanya. Apalagi Mahisa Agni yang sombong itu. Ia harus berlutut dan mencium jari-jari kakiku.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Mahendra dilihatnya Mahendra memandanginya pula.
Dalam pada itu, Ken Umang pun berkata, ”Witantra. Meskipun aku adalah adikmu, adik iparmu, tetapi aku mempunyai kedudukan yang jauh lebih tinggi daripadamu. Kau tidak dapat menolak bahwa kau harus berlutut dihadapanku.”
Witantra masih belum menjawab. Suara tertawa Ken Umang rasa-rasanya telah menggetarkan dadanya.
“He, dimana Mahisa Agni? Bawa ia kemari. Ia harus menebus kesombongannya di masa mudanya. Sekarang ia harus bertiarap dihadapanku. Aku akan menginjakkan kakiku di atas ubun-ubunnya. Ia tidak dapat menentang. Karena aku adalah Ibunda Maharaja di Singasari.”
Witantra menjadi semakin berdebar-debar. Pada sorot matanya ia melihat, bahwa goncangan jiwa Ken Umang atas kegagalan usaha anaknya, untuk menguasai Singasari tidak dapat dikendalikan lagi. Apalagi hubungannya dengan Tohjaya yang di saat terakhir menjadi kurang baik.
“Tuan puteri.” berkata Witantra kemudian, ”Sebenarnyalah hamba akan datang untuk berlutut di hadapan putera tuan puteri. Tetapi dimanakah tuanku Maharaja Singasari?”
“Tentu tidak ada di sini.” jawab Ken Umang, ”Toh-jaya ada di bangsal paseban atau di bangsalnya sendiri. Ia tidak pantas lagi tinggal di bangsal yang buruk ini, karena ia adalah seorang Maharaja.” namun tiba-tiba wajah Ken Umang menjadi buram, ”Tetapi, tetapi aku tidak diperbolehkannya tinggal bersamanya. Aku telah berjuang dengan segala cara untuk menempatkannya di atas tahta Tetapi ia kemudian melupakan aku. Aku ibundanya. Cara apapun yang aku tempuh, cara apapun yang dapat menumbuhkan bibit kelahirannya, namun aku sudah melahirkannya dan membesarkannya. Aku sudah berjuang dan menempatkannya di atas tahta.”
Tiba-tiba saja Ken Umang menangis. Dengan serta merta ia menjatuhkan dirinya di atas rerumputan. Tanpa menghiraukan dirinya ia menangis sejadi-jadinya. Meraung-raung seperti kanak-kanak yang ditinggalkan oleh ibunya pergi ketempat yang tidak diketahui.
“Tohjaya.” suaranya tiba-tiba meninggi, ”Kau telah mendurhakai ibumu. Kenapa kau persoalkan, bagaimana ibundamu berbasil meruntuhkan kekerasan hati Ken Arok saat itu. Kenapa kau persoalkan bahwa hal itu terjadi di saat ia sedang berburu di tengah-tengah hutan. Apa salahnya? Apakah kau menyangka bahwa hal itu hanya dapat terjadi atas binatang buas yang hidup di hutan-hutan itu sendiri. Tidak, kita pun ti-dak ubahnya binatang buas yang hidup di hutan. Siapa yang kuat, ialah yang berkuasa. Bukankah karena kau kuat dan dapat membunuh Anusapati kau dapat menjadi seorang raja? Kenapa kau kemudian mengingkarinya hanya karena yang terjadi adalah peristiwa yang tidak kau setujui? Tidak ada seorang pun yang mengetahui, bahwa kau menjelma pada gairah yang tumbuh di tengah hutan perburuan. Kenapa kau seakan-akan menjadi muak karenanya.”
Witantra yang melihat dan mendengar keluhan itu memalingkan wajahnya. Bagaimana pun juga, ia mempunyai sangkut paut dengan perempuan itu telah terguncang dan tidak dapat dikuasainya lagi.
Mahendra pun menundukkan wajahnya. Sekilas ia melihat para prajurit dan pengawal termangu-mangu di tempatnya. Muka mereka pun menjadi tertunduk seperti daun ilalang yang menjadi layu.
Tidak seorang pun yang dapat berbuat sesuatu. Semua kebencian menjadi luluh dan larut seperti debu di dedaunan di sapu oleh hujan yang runtuh dari langit.
Ken Umang kemudian tidak hanya duduk bersimpuh di rerumputan. Tetapi ia pun kemudian menangis sambil menelengkupkan wajahnya di bawah kedua lengannya.
“Tohjaya. Tohjaya.” tangis itu semakin menyayat, ”Kenapa kau tinggalkan aku sendiri. Bukankah sebentar lagi semua orang yang akan dapat mengusikmu sudah akan terbunuh tanpa kecuali? Ranggawuni, Mahisa Cempaka, Mahisa Wonga Teleng, Mahisa Agni, Ken Dedes dan semua anak-anaknya yang lain. Kau adalah satu-satunya pewaris atas Singasari.” tangisnya jadi meninggi, ”Tetapi jangan tinggalkan aku sendiri. Tohjaya.”
Pengakuan di luar sadar itu memang dapat menggetarkan jantung. Tetapi tidak seorang pun yang dapat terbakar hatinya. Yang tumbuh hanyalah perasaan iba dan kasihan. Seorang puteri yang mempunyai kedudukan tertinggi di Singasari, ibunda Maharaja Tohjaya, tiba-tiba telah menjadi kehilangan kesadaran.
“Tuan Puteri.” Witantra melangkah mendekatinya, ”Tuan puteri jangan bersedih. Semuanya akan menjadi baik. Tuanku Tohjaya akan segera kembali menjemput tuan puteri. Bukankah tuanku Tohjaya tidak pergi terlampau jauh?”
“Ia telah melarikan diri bersama pengawal-pengawalnya. Aku hanya diberitahu oleh seorang penghubung. Ia tidak membawa aku serta. Ia telah meninggalkan aku sendiri.”
“Tidak tuan puteri. Masih banyak para pengawal di sekitar tuan puteri. Tuan puteri akan selalu aman dan mendapat perlindungan.”
Tiba-tiba tangis Ken Umang mereda. Ketika ia mengangkat wajahnya, nampak matanya menjadi merah dan liar.
“He, apakah kalian pengawal-pengawalku.”
“Hamba tuan puteri. Kami adalah pengawal tuan puteri yang setia.”
Ken Umang memandang Witantra sejenak. Lalu matanya yang basah seakan-akan menjadi bersinar. Katanya, ”He, apakah benar kalian pengawal-pengawalku yang setia?”
“Hamba tuanku.”
“Jika demikian, bawa aku menyusul anakku, Tohjaya, Maharaja Singasari.”
“Kemanakah tuanku Tohjaya pergi?”
“Ia pergi meninggalkan istana ini setelah ia mendapat berita bahwa Panglima prajurit yang setia kepadanya terbunuh.”
“Tetapi bukankah istana ini telah terkepung? Tuan puteri. Kemanakah kita pergi, kita tentu akan tertahan oleh prajurit-prajurit yang mengepung istana ini.”
“Tetapi Tohjaya tentu dapat lolos. Di bangsal sebelah utara ada pintu rahasia yang menghubungkan bagian dalam bangsal itu dengan bagian luar istana ini.”
“Maksud tuan puteri, tuanku Tohjaya telah menemukan sebuah pintu rahasia?”
“Bukan menemukan. Tetapi Tohjaya lah yang membuat pintu rahasia itu.”
“Tuan puteri. Marilah, hamba akan mengantarkan tuan puteri melalui pintu rahasia itu. Apakah tuan puteri juga mengetahui pintu itu?”
“Akulah yang menganjurkannya membuat. Ketika Anusapati masih memerintah, maka Tohjaya membuat pintu rahasia ini sebelum membunuh Anusapati. Jika usahanya gagal, maka ia akan dapat lolos dari pintu itu. Ternyata pintu itu kini telah dipergunakannya.”
Witantra mengangguk-angguk. Lalu, ”Marilah tuan puteri. Kami akan mengawal tuan puteri menyusul tuanku Tohjaya.”
Ken Umang pun segera meloncat berdiri. Ia tidak menghiraukan lagi pakaiannya yang kusut dan tidak mapan. Berlari-lari seperti kanak-kanak menyongsong ibunya yang datang dari jauh, Ken Umang pergi ke bangsal sebelah.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar