Jumat, 29 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 07-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 07-01*

Karya.   : SH Mintardja

Meskipun demikian Mahisa Agni melakukannya juga. Pada pagi-pagi hari, ketika langit mulai menjadi merah, Mahisa Agni telah mengambil kedua anak itu di bangsalnya masing-masing tanpa menghiraukan para prajurit yang mengawasinya. Kemudian membawa mereka ke taman dan mengajari mereka melakukan gerakan-gerakan yang masih sangat sederhana, namun akan sangat penting artinya bagi perkembangan jasmani mereka.

Kadang-kadang seorang Senapati yang sedang mengawasi mereka sama sekali tidak menganggap gerakan-gerakan itu akan membahayakan kelak. Tetapi Senapati yang lain menganggap, bahwa yang sedang mereka pelajari itu adalah dasar dari setiap ilmu yang akan menjadi sangat dahsyat di masa mendatang, seperti ilmu Mahisa Agnt itu sendiri.

“Mereka hanya berlari, meloncat-loncat dan kadang-kadang berguling di atas rerumputan.” desis seorang prajurit.

“Itu adalah tata gerak dasar untuk membentuk jasmani kedua anak-anak itu. Jika jasmani mereka telah terbentuk maka barulah mereka memasuki latihan-latihan yang sebenarnya.” sahut seorang kawannya yang lebih mengenal gerak-gerak itu.

“Tetapi waktu yang kau sebutkan itu masih sangat panjang. Dengan demikian kita tidak usah tergesa-gesa mengambil tindakan atas mereka.”

“Tetapi hal ini pantas diketahui oleh tuanku Tohjaya.”

Mahisa Agni pun menyadari bahwa yang dilakukan itu tentu akan sangat menarik perhatian. Tetapi ia tidak dapat mencari jalan lain. Jika ia mencoba melakukannya sambil bersembunyi, maka para pengawas yang ketat itu akhirnya akan mengetahuinya juga, dan kecurigaan yang tumbuh tentu akan menjadi semakin besar.

Demikianlah, sejalan dengan perkembangan jasmani kedua anak-anak yang masih terlalu muda itu. Singasari sedang mempersiapkan sebuah upacara untuk meresmikan Tohjaya menjadi seorang Maharaja di hadapan paseban agung. Para pemimpin pemerintahan, para Panglima dan Senapati, para Akuwu dan keluarga kerajaan, akan menghadapi upacara itu.

Menjelang hari yang ditentukan, maka para Panglima menjadi semakin sibuk. Petugas-petugas sandi dikirimkan ke segala penjuru untuk mengetahui tanggapan rakyat Singasari. Namun agaknya rakyat Singasari tidak banyak menaruh perhatian. Apalagi usaha menentang peresmian itu.

“Kita berjalan di atas jalan yang licin.” berkata seorang Senapati kepada kawannya.

”Ya. Tidak ada kesulitan apapun. Di Kediri pun tidak ada usaha apapun yang pantas dicurigai. Apalagi Mahisa Agni masih tetap berada disini, sehingga yang ada di Kediri hanyalah seorang perwira yang diberi kuasa untuk melakukan tugas sehari-hari. Dan hal itu masih tetap dibiarkan saja oleh tuanku Tohjaya.”

Dalam pada itu, maka semua persiapannya sudah selesai. Para utusan sudah disebar ke segala penjuru untuk memanggil setiap orang yang akan hadir di dalam paseban agung yang pertama kali diselenggarakan oleh Tohjaya, yang kini menjadi Maharaja yang memerintah atas Singasari yang besar.

Pada saat paseban agung itu dilaksanakan, maka kota Singasari mendadak menjadi semakin ramai.

Penginapan-penginapan, barak-barak dan bangsal-bangsal yang disediakan oleh para pemimpin pemerintahan di pusat kota Singasari telah penuh. Semua yang dipanggil menghadap memerlukan datang ke Singasari, agar mereka tidak dianggap telah menentang kekuasaan Tohjaya.

Namun ada juga diantara mereka yang datang untuk melihat, apakah sebenarnya yang dapat dilakukan oleh Tohjaya. Meskipun secara lahiriah mereka juga memenuhi perintah untuk hadir di dalam sidang agung untuk meresmikan kekuasaan Tohjaya, namun sebenarnya mereka tidak lebih dari melakukan penjajagan atas kemampuan Tohjaya memerintah.

Pada hari yang ditentukan, maka di bangsal paseban, para pemimpin pemerintahan, para Panglima dan Senapati, para Akuwu dan keluarga kerajaan telah hadir menghadap Tohjaya yang akan menyatakan dirinya dengan resmi, bahwa ia telah menggantikan kakandanya Anusapati memegang pimpinan tertinggi pemerintahan di Kediri.

Seperti yang direncanakan, maka upacara itu pun berjalan lancar. Para pemimpin keagamaan yang bertugas dan para pemimpin pemerintahan yang menyaksikan upacara itu mengikuti rencana dengan sempurna. Tidak ada yang mengecewakan. Sambutan para pemimpin pemerintahan, para Panglima dan Senapati dan keluarga kerajaan pun sangat membesarkan hati Tohjaya.

Namun ketika upacara itu sudah hampir selesai, ketika paseban agung itu sudah hampir dibubarkan, tiba-tiba saja terlihat oleh Tohjaya, dua orang anak-anak yang masih sangat muda duduk di sebelah menyebelah Mahisa Agni. Didorong oleh gejolak perasaannya yang sedang melambung, tiba-tiba saja timbullah keinginannya untuk menunjukkan kebesaran jiwanya. Karena itulah maka katanya kepada yang ada di bangsal paseban agung itu, ”Lihatlah. Keduanya adalah kemanakanku. Yang seorang adalah putera Kakanda Anusapati yang sudah tidak ada lagi di antara kita, sedang yang seorang adalah putera Adinda Mahisa Wonga Teleng. Keduanya adalah anak-anak muda yang baik. Dan aku adalah pamannya yang berkewajiban membesarkannya, memberinya bekal buat masa depannya sebagai anak muda yang berjiwa kesatria. Untuk sementara aku masih membiarkannya berada di bawah asuhan ibundanya masing-masing. Tetapi pada saatnya, aku akan menempatkannya ke tempat yang paling layak bagi kedua kesatria yang masih sangat muda itu.”

Mereka yang mendengar kata-kata Tohjaya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka bertambah kagum melihat kebesaran jiwa Tohjaya yang sangat memperhatikan kedua kemanakannya itu, terutama putera Anusapati yang sudah tidak berayah lagi. Apalagi mereka yang mengetahui dengan pasti, bahwa kedua kakak beradik itu sejak masa hidup Anusapati bagaikan minyak dengan air.

Namun ternyata bahwa sikap Tohjaya itu telah menarik perhatian seorang pemimpin pemerintahan yang dekat sekali dengan Tohjaya. Dengan wajah yang tegang dipandanginya kedua kesatria yang masih sangat muda itu.

Mahisa Agni yang duduk di samping kedua kemanakannya sambil menundukkan kepalanya itu, sempat melihat dengan sudut matanya, pemimpin pemerintahan Singasari yg memandang kedua kemanakannya itu dengan pandangan yang mencurigakan.

Mahisa Agni yang memiliki ketajaman indera yang luar biasa, rasa-rasanya dapat menangkap getar di dalam dada pemimpin yang satu itu. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin berhati-hati. Mungkin persoalannya tidak mulai dari dirinya sendiri, tetapi justru mulai dari kedua anak-anak yang masih sangat muda itu.

Demikianlah, maka pada saat yang ditentukan, paseban itu pun dibubarkannya. Semua yang hadirkembali kebarak, bangsal, dan penginapannya masing-masing. Selama itu di kota kerajaan akan dilangsungkan keramaian untuk menghormati peresmian Tohjaya yang duduk di atas tahta kerajaan.

Namun dalam pada itu, semua orang yang bergembira itu pun tidak banyak lagi teringat akan kesulitan, keributan dan bahaya yang dapat timbul dengan tiba-tiba, sehingga mereka pun menjadi lengah karenanya.

Mahisa Agni yang menangkap firasat yang kurang baik di paseban karena tatapan mata seorang pemimpin yang terlalu dekat dengan Tohjaya itu pun harus segera berbuat sesuatu.

Diperintahkannya salah seorang pengawalnya untuk menghubungi Witantra. Dalam saat-saat tertentu ia memerlukannya. Bahkan mungkin di rumahnya. Karena itu, untuk beberapa hari yang dekat, sebaiknya Witantra berada di Singasari.

“Biarlah Witantra berada di rumah yang sudah sejak lama dipakainya di dalam kota Singasari sebagai tempat berkumpul dengan beberapa orang yang sebagian kini sudah tidak ada lagi. Dengan demikian aku akan dapat cepat menghubunginya apabila diperlukan.” pesan Mahisa Agni.

Ternyata bahwa firasat yang menyentuh perasaan Mahisa Agni itu benar-benar terjadi. Sorelah paseban menjadi sepi, maka Pranaraja, pemimpin yang sangat dekat dengan Tohjaya itu pun datang menghadap untuk menyatakan perasaannya.

“Apa katamu tentang kedua kemanakanku itu? Bukankah mereka anak-anak yang baik, tampan?” bertanya Tohjaya.

“Hamba tuanku. Keduanya adalah kesatria yang sempurna ujud dan sikapnja. Namun keduanya dapat diumpamakan sebagai …. (bisul di pusat perut?) (pada naskah aslinya kalimatnya memang tidak lengkap)

Tohyaja menganggukkan kepalanya. Memang kedua kemanakannya itu benar-benar anak-anak muda yang tampan dari sikapnya dapat dilihat, bahwa mereka akan menjadi anak-anak muda yang tangkas dan cekatan.

“Tetapi tuanku.” berkata Pranaraja kemudian, ”Kedua anak-anak muda yang cakap dan tampan itu, bagi tuanku dapat diumpamakan sebagai bisul di pusat perut.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Lalu ia pun bertanya dengan hati berdebar-debar. ”Apa maksudmu?”

“Jika dibiarkan saja tuanku, anak-anak muda itu tumbuh menjadi dewasa, maka banyak yang dapat terjadi karenanya. Mereka memiliki pengaruh, ilmu dan darah keturunan tuan puteri, Ken Dedes.”

“Apa artinya semuanya itu?”

“Mereka adalah anak-anak yang cakap dan tampan, yang segera dapat menarik perhatian orang lain dalam sikap dan tingkah laku. Sedangkan di saat ini pamannya Mahisa Agni, telah mulai menyiapkan mereka secara jasmaniah untuk menerima warisan ilmu yang tiada duanya di Singasari. Dan yang terakhir keduanya adalah keturunan langsung dari ibunda Tuanku Anusapati.”

“Apa bedanya ibunda Ken Dedes dan ibunda Ken Umang?”

“Tuanku tentu mengetahui bahwa yang mewarisi tahta dari Akuwu Tunggul Ametung semula adalah tuan puteri Ken Dedes. Bukan tuanku Sri Rajasa yang lahir dari antara rakyat biasa seperti orang-orang kebanyakan.”

“Persetan. Tetapi ayahanda Sri Rajasa adalah orang yang berhasil mempersatukan Singasari. Apakah artinya Tumapel yang kecil itu dibandingkan dengan Singasari sekarang ini.”

“Namun modal kekuasaan tuanku Sri Rajasa pun dari Tumapel pula. Apalagi setiap prajurit mengetahui bahwa di samping Sri Rajasa masih ada Mahisa Agni. Tanpa Mahisa Agni, Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi tidak akan dapat mengalahkan Kediri saat itu. Dengan demikian, maka setiap orang masih akan menghargai ibunda tuanku Ken Umang di bawah penilaian mereka terhadap tuan puteri Ken Dedes.”

“Cukup. Kau sudah menghinakan ibuku. Apakah kau tidak menyadari bahwa aku dapat menghukummu? Dapat menggantungmu di alun-alun.”

“Ampun tuanku. Bukan maksud hamba menghinakan ibunda tuanku. Tetapi hamba bermaksud baik. Hamba ingin pemerintahan tuanku akan kekal. Karena itu, jika tuanku sependapat dengan hamba, maka sebaiknya kedua anak-anak yang masih sangat muda itu disingkirkan saja.”

“Maksudmu?”

“Tuanku dapat memerintahkan seorang Senapati yang terpercaya untuk membunuh mereka berdua dan membuang bekas-bekasnya.”

Wajah Tohjaya menjadi tegang. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil menganguk-angukkan kepalanya. Katanya, ”Kau memang seorang kejam yang tiada duanya di Singasari Pranaraja. Tetapi usulmu dapat aku mengerti.”

“Tuanku, sebenarnyalah kita adalah orang-orang yang kejam dan tidak mengenal perikemanusiaan. Kematian Akuwu Tunggul Ametung, seperti desas-desus yang terakhir terdengar di Singasari sepeninggal tuanku Sri Rajasa, kemudian kematian beberapa orang sebagai akibatnya. Disusul oleh kematian tuanku Sri Rajasa sendiri dan Pengalasan dari Batil, dan yang terakhir adalah kematian tuanku Anusapati, adalah kenyataan bahwa kematian demi kematian telah terjadi. Dengan demikian jika kedua anak-anak yang masih sangat muda itu ditambahkan di belakang mereka yang mendahuluinya, maka agaknya tidak akan sangat mempengaruhi dan membebani perasaan kita.”

“Baiklah Pranaraja, panggilah Lembu Ampal. Aku akan berbicara dengan orang itu.”

Pranaraja pun kemudian memerintahkan seorang prajurit untuk memanggil Lembu Ampal menghadap.

“Katakan, bahwa tuanku Tohjaya memerlukannya sekarang juga.” berkata Pranaraja kepada prajurit itu.

Demikianlah maka prajurit itu pun dengan tergesa-gesa mencari Lembu Ampal dan minta kepadanya agar saat itu juga pergi menghadap tuanku Tohjaya di istana.

“Apakah ada masalah yang penting sekali?” bertanya Lembu Ampal kepada prajurit itu.

“Aku tidak tahu pasti.”

“Siapakah yang sedang menghadap?”

“Pranaraja.”

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati, ”Tentu ada pendapatnya yang harus aku lakukan. Orang itu terlampau banyak akalnya. Sayang akal yang licik. Dan orang lain yang harus melakukannyalah yang akan mengalami kesulitan.”

Tetapi Lembu Ampal tidak dapat menolak. Ia pun dengan segan pergi juga menghadap Tohjaya di istana.

Ketika ia memasuki ruangan dan dilihatnya tidak ada orang lain kecuali Pranaraja, maka Lembu Ampal pun menyadari, bahwa ada tugas yang penting yang harus dilakukan. Dan tugas itu tentu usul dari Pranaraja yang licik itu.

“Kemarilah.” Tohjaya melambaikan tangannya memanggil Lembu Ampal mendekatinya.

Dengan kepala tunduk Lembu Ampal bergeser maju mendekati Tohjaya dan Pranaraja.

“Ada tugas yang penting yang harus kau lakukan.” berkata Tohjaya kemudian, ”Tidak ada orang lain yang pantas melakukannya kecuali kau.”

Lembu Ampal yang memang sudah menduga bahwa ia akan mendapat tugas penting, hanya mengangguk kecil tanpa mengangkat wajahnya. Namun debar jantungnya menjadi semakin cepat.

“Jika aku harus berurusan dengan Mahisa Agni, maka riwayatkulah yang tentu akan berakhir.” katanya di dalam hati.

“Lembu Ampal.” berkata Tohjaya kemudian, ”Di dalam tugas ini kau dapat menunjuk kawan berapa saja kau butuhkan, dan siapa saja yang menurut pertimbanganmu akan akan dapat menyelesaikan persoalan.”

Lembu Ampal menjadi semakin berdebar-debar.

“Lembu Ampal.” Tohjaya melanjutkan, ”Menurut pertimbangan Pranaraja, maka sebaiknya aku melenyapkan bisul di pusat perutku. Kau tentu tahu bahwa di dalam paseban Agung, ada dua orang anak yang masih sangat muda. Keduanya adalah anak kakanda Anusapati dan adinda Mahisa Wonga Teleng. Jika aku biarkan saja mereka hidup di Singasari ini maka bagaikan memelihara seekor harimau yang pada suatu saat akan dapat menerkam aku sendiri.”

Lembu Ampal menahan nafasnya. Dan ia mendengar Tohjaya berkata selanjutnya, ”Karena itu Lembu Ampal. Menurut pertimbangan Pranaraja, maka keduanya harus dilenyapkan.”

Lembu Ampal tidak menyahut. Perasaannya dipenuhi oleh berbagai macam persoalan yang bercampur baur. Ia dapat mengerti jalan pikiran Pranaraja yang licik itu. Namun tugas yang dibebankan kepadanya saat itu adalah tugas yang sangat berat. Membunuh kedua anak-anak yang masih sangat muda itu adalah pekerjaan yang tidak begitu sulit di dalam keadaan yang ribut ini. di seluruh kota sedang diadakan keramaian untuk menyambut peresmian Tohjaya sebagai seorang Maharaja yang berkuasa di Singasari. Bahkan di istana pun suasananya jauh berbeda dengan hari-hari biasa. Karena itu di dalam keramaian ini dapat saja ia mengambil kesempatan untuk membawa kedua anak-anak muda yang hampir tidak pernah berpisah itu dan melenyapkannya. Meskipun keduanya sering tampak bersama Mahisa Agni, namun tidak terlalu sulit untuk mencari saat-saat yang dapat memberikannya peluang.

Namun yang terasa sangat berat adalah perjuangan melawan perasaannya sendiri. Sebenarnya ia tidak akan sampai hati melakukan pembunuhan itu. Kedua anak itu sama sekali tidak bersalah. Kesalahan mereka satu-satunya adalah karena mereka keturunan Ken Dedes. Dan itu sudah barang tentu bukan atas kehendak kedua anak-anak itu.

“Kenapa kau diam saja?” bertanya Tohjaya, ”Apakah Lembu Ampal sekarang sudah berubah dan menjadi seorang pengecut?”

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil membungkuk dalam-dalam ia berkata, ”Ampun tuanku. Hamba adalah seorang prajurit. Hamba tidak dapat ingkar akan tugas tugas hamba. Karena itu, apapun yang harus hamba lakukan, akan hamba lakukan dengan baik. Namun tuanku, perkenankanlah hamba bertanya, apakah benar bahwa kedua anak-anak muda itu sangat berbahaya bagi tuanku?”

“Lembu Ampal, kau sudah mengatakan bahwa kau adalah seorang prajurit. Apapun yang diperintahkan akan kau jalankan. Karena itu tidak sewajarnya kau bertanya seperti itu.” Tohjaya berhenti sejenak, lalu, ”Tetapi baiklah aku kali ini memberi penjelasan sedikit agar hatimu menjadi lapang. Aku tahu, kau merasa segan melakukan perintahku yang satu ini karena kau dipengaruhi oleh perasaan belas kasihan. Karena itu, dengarlah baik-baik. Kedua anak-anak yang masih sangat muda itu adalah keturunan ibunda Ken Dedes ang akan dapat menuntut haknya di masa mendatang. Hak yang sebenarnya hanya sekedar semu. Apalagi dengan dorongan Mahisa Agni, mereka melakukan perlawanan yang berbahaya bagi kedudukanku. Karena itu, selagi keduanya belum dapat berbuat apapun juga, bunuhlah mereka.”

Lembu Ampal masih ragu-ragu. Ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat menolak. Namun ia merasa sangat berat untuk melakukannya.

“Kenapa tugas ini jatuh ke atas pundakku.” keluhnya di dalam hatinya.

“Lembu Ampal.” berkata Tohjaya kemudian yang melihat keragu-raguan membayang di wajah seperti itu, ”Dengarlah baik-baik. Aku memberimu waktu sampai purnama naik. Jika sampai saat purnama naik kau belum berhasil membinasakan kedua anak-anak itu, maka itu berarti bahwa kau justru melindunginya. Karena itu, maka kau sendiri akan mendapat hukuman dari padaku, karena kau mengingkari tugasmu. Kau akan dihukum picis di alun-alun.”

Wajah Lembu Ampal menjadi merah. Namun kemudian kepalanya tertunduk dalam-dalam. Ia sadar, bahwa ancaman itu bermaksud agar ia melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh.

“Nah, masih ada waktu kira-kira dua puluh hari lagi. Lakukanlah tugasmu baik-baik Lembu Ampal. Kau harus selalu ingat bahwa Mahisa Agni ada di istana ini. Jika menurut pertimbanganmu Mahisa Agni perlu disingkirkan lebih dahulu, maka aku akan memerintahkannya pergi ke Kediri untuk beberapa saat lamanya dan memanggilnya kembali setelah semuanya selesai.“

“Tuanku, hamba tidak akan dapat ingkar. Biarlah hamba berpikir dua tiga hari, apakah yang sebaiknya hamba lakukan. Juga tentang Mahisa Agni itu. Ia harus mendapat perhatian dengan saksama.”

Tohjaya mengangguk-angguk. Lembu Ampal yang telah dibebani dengan tugas yang berat itu pun diperkenankan meninggal kan ruangan itu.

Di sepanjang langkahnya Lembu Ampal selalu dibayangi oleh tugas yang baginya sangat berat. Kedua anak-anak muda itu sendiri tidak memiliki kekuatan apapun untuk menyelamatkan dirinya. Tetapi di sisinya ada Mahisa Agni dan lebih daripada itu, keduanya sama sekali tidak bersalah. Kematian yang meng hantui kedua anak-anak muda itu tentu sama sekali tidak mereka duga. Selain perasaan iba kepada kedua anak-anak yang masih sangat muda itu, Lembu Ampal juga membayangkan, betapa pedihnya perasaan ibunya. Terlebih-lebih bekas Permaisuri tuanku Anusapati. Ia baru saja kehilangan suaminya. Dan sebentar kemudian ia kehilangan anaknya yang sangat dikasihinya. Padahal selama ini ia tidak pernah berbuat apa-apa untuk melawan ketidak adilan yang sudah terjadi atas suaminya.

Lembu Ampal benar-benar dicengkam oleh kesulitan perasaan, la mendapat waktu dua tiga hari untuk mengemukakan cara yang paling baik untuk melakukan tugasnya. Namun tugas itu sendiri merupakan beban yang hampir tidak tertanggungkan.

Di malam hari Lembu Ampal tidak dapat memejamkan matanya barang sekejap. Jika ia mencobanya, maka terbayanglah wajah kedua anak-anak yang masih sangat muda itu. Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Kedua anak-anak yang tampan, lincah dan lucu di masa kanak-anak. Setiap hari Lembu Ampal melihat keduanya berlari-larian. Kadang-kadang berdua saja, kadang-kadang bersama dengan Mahisa Agni. Di halaman belakang, sekilas Lembu Ampal sering melihat, bagaimana Mahisa Agni mengajar mereka berloncatan, berlari-larian dan berguling-guling.

“Memang di bawah asuhan Mahisa Agni mereka berdua akan dapat membahayakan kedudukan tuanku Tohjaya. Tetapi itu bukan alasan yang cukup kuat untuk mengambil keputusan yang tidak berperikemanusiaan itu.” berkata Lembu Ampal kepada diri sendiri, namun kemudian, ”Tetapi jika aku tidak melakukannya, maka akulah yang akan dihukum gantung, atau hukum picis atau hukuman apalagi yang paling buruk yang pernah dilakukan oleh Singasari.”

Demikianlah Lembu Ampal tidak dapat menemukan jawaban atas kegelisahan hatinya sendiri. Sehingga karena itu, maka ia pun berniat untuk menghadap seorang pendeta yang akan dapat memberinya petunjuk agar ia dapat berbuat sesuatu dengan hati yang tenang.

Pendeta istana yang mendengar keluhan Lembu Ampal itu menepuk bahunya. Katanya, ”Lembu Ampal. Kau benar-benar berdiri di simpang jalan yang rumit. Kemana pun kau melangkah kau akan melakukan kesalahan.”

“Itulah yang membuat aku tidak dapat tidur semalam suntuk. Dan tentu pada malam mendatang. Tugas itu terlampau berat bagiku. Bukan karena aku tidak mampu, tetapi perasaankulah yang menahan aku melakukannya.”

“Aku mengerti perasaanmu Lembu Ampal. Tetapi kau tidak dapat ingkar atas perintah Maharaja. Tetapi kau tidak akan mendapat ketenteraman hati untuk selanjutnya, jika kau terpaksa melakukannya. Apabila kau melihat tuan puteri Ken Dedes, bekas tuanku Permaisuri Anusapati, dan tuanku Mahisa Wonga Teleng suami isteri. Setiap kali kau akan dikejar oleh perasaan bersalah yang tidak akan dapat kau ingkari seperti kau tidak akan dapat mengingkari perintah tuanku Tohjaya.”

“Jadi, apakah yang harus aku lakukan? Apakah aku memang sudah diharuskan hidup dalam kegelisahan, ketidak tenangan dan dikejar oleh perasaan bersalah seumurku?”

Lembu Ampal berhenti sejenak, lalu, ”Jika aku harus maju kepeprangan, aku tidak akan mengalami kesulitan perasaan seperti ini. Atau bahkan perintah itu berbunyi, agar aku membunuh Mahisa Agni, aku akan melakukannya dengan mantap meskipun aku tahu, bahwa akulah yang akan terbunuh.”

“Keadaan memang sulit. Tetapi jika sasaran yang harus kau bunuh itu tidak ada, maka itu bukan salahmu.”

“Aku tidak mengerti.”

Pendeta itu menarik nafas dalam-dalam. Ada sesuatu yang akan dikatakannya, tetapi agaknya ia menjadi ragu-ragu.

”Tidak ada jalan untuk menghindar.” berkata Lembu Ampal selanjutnya, ”Jika aku gagal apapun alasannya, akulah yang akan dihukum picis di alun-alun.”

Pendeta istana itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, ”Heningkan hatimu untuk seharidua hari Lembu Ampal.”

“Sehari dua hari lagi aku harus memberitahukan kepada tuanku Tohjaya, apakah yang harus aku lakukan. Jalan manakah yang harus aku pilih.”

“Tetapi yang satu dua hari itu mungkin akan datang terang di hatimu. Mungkin di dalam satu hari itu, aku dapat menemukan jalan yang dapat kau tempuh dan dapat kau setujui.”

Lembu Ampal mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia pun mohon diri dan meninggalkan pendeta istana itu dengan kepala tunduk.

Rasa-rasanya dunianya menjadi gelap. Sekali-sekali ia sempat mengutuk Pranaraja yang pasti telah mengusulkan kepada Tohjaya. Tetapi ia sendiri tidak sanggup melakukannya. Dan Lembu Ampallah yang mendapat beban yang hampir tidak terangkat olehnya itu.

“Tetapi aku tidak dapat ingkar.” setiap kali kata-kata itu terngiang di telinganya.

Namun dalam pada itu, sepeninggal Lembu Ampal, pendeta istana itu pun menjadi gelisah. Ia sudah terlanjur mendengar rencana pembunuhan itu. Meskipun maksud kedatangan Lembu Ampal untuk minta nasehatnya, untuk ketenteraman hatinya, namun pendeta itu telah dijalari penyakit yang sama seperti yang dialami oleh Lembu Ampal itu. Kegelisahan dan kecemasan.

Setiap kali ia mendengar kata-katanya sendiri yang diucapkannya kepada Lembu Ampal, ”Tetapi kau tidak akan mendapat ketenteraman hati untuk selanjutnya.”

Dan ketidak tenteraman itu akan berlaku pula atasnya. Jika pada suatu saat ia mendengar berita bahwa kedua anak yang tidak bersalah itu terbunuh oleh Lembu Ampal, atau orang lain yang dipercayanya melakukan karena Lembu Ampal sendiri tidak sampai hati, maka ia akan merasa dikejar pula oleh kesalahan karena ia tidak berusaha untuk mengurungkannya.

Karena itu, maka pendeta itu sendiri menjadi bingung. Ia adalah seorang pendeta istana yang wajib melindungi rahasia pimpinan pemerintahan. Ia adalah salah seorang pendamping Maharaja Singasari yang manapun. Tetapi ia adalah seorang pendeta yang menyerahkan hidupnya kepada pengabdian yang tulus kepada Yang Maha Agung.

Namun kebingungan itu tidak terlampau lama menguasai hatinya. Berbeda dengan Lembu Ampal, maka pendeta istana itu pun kemudian berpegang pada nuraninya. Meskipun seandainya karena itu, ia dapat dihukum picis sekalipun, ia tidak menghiraukannya lagi.

“Tidak ada yang pantas aku turut selain nurani kependetaanku. Apakah arti keselamatanku, keselamatan wadagku daripada keselamatan jiwaku.” berkata pendeta itu kepada diri sendiri.

Dan ternyata kemudian bahwa pendeta itu benar-benar tidak menghiraukan dirinya sendiri. Meskipun ia tidak pergi dengan semata-mata tanpa usaha penyelamatan diri, maka ditemuinya Mahisa Agni di bangsalnya.

Ketika Mahisa Agni mendengar rencana itu, maka ia pun menggeretakkan giginya. Sebenarnya ia sudah menduga sejak ia melihat sikap ang aneh di paseban agung. Namun bahwa Tohjaya benar-benar telah memerintahkan untuk membunuh kedua kemanakannya itu telah membuat dada Mahisa Agni bagaikan terbakar.

Meskipun demikian Mahisa Agni tidak berbuat dengan tergesa-gesa. Ia tetap menyadari betapa pentingnya ketenangan di Singasari pada saat-saat seperti ini. Saat-saat yang berbahaya karena ketidak pastian dan desas-desus yang bersimpang siur tentang perpindahan kekuasaan dari Anusapati kepada Tohjaya.

Tetapi Mahisa Agni tidak menyampaikan berita itu kepada Ken Dedes. Mahisa Agni tidak ingin Ken Dedes menjadi semakin sedih dan membuatnya semakin parah. Namun Mahisa Agni tidak dapat berdiam diri kepada Mahisa Wonga Teleng.

Dengan hati-hati Mahisa Agni menyampaikan berita yang didengarnya dari pendeta istana itu kepada Mahisa Wonga Teleng.

Namun demikian, betapa pun Mahisa Agni berusaha, namun Mahisa Wonga Teleng hampir tidak dapat menahan diri lagi. Sambil berdiri tegak ia menggeram, ”Aku akan menantangnya berperang tanding, meskipun aku sadar, menang atau kalah aku tentu akan dibunuhnya di alun-alun. Tetapi biarlah aku mengenal sifat kekesatriaannya.”

“Sabarlah Mahisa Wonga Teleng.” berkata Mahisa Agni, ”Kita tidak dapat berbuat dengan tergesa-gesa. Jika kau berbuat demikian, akibatnya kematian anakmu akan menjadi semakin cepat.”

“Tetapi tidak ada cara lain paman. Jika Mahisa Cempaka harus mati, biarlah aku mati lebih dahulu.”

“Mahisa Wonga Teleng. Seperti aku, kiranya kau tidak akan berkeberatan untuk mati. Karena itu, tinggallah di sini. Jagalah ibumu baik-baik. Jagalah isterimu dan iparmu, isteri Anusapati yang sudah tidak ada lagi. Biarlah aku mencoba menyelamatkan anakmu dan anak Anusapati.”

“Paman. Jika rencana itu benar, maka istana ini tentu sudah dikepung. Kedua anak-anak itu tentu mendapat pengawasan yang ketat.”

“Biarlah aku berusaha. Berusaha tentu jauh lebih baik dari berdiam diri saja. Jika anak-anak itu dapat disingkirkan, maka biarlah, apa saja yang akan terjadi atas kita yang tua-tua ini.”

Mahisa Wonga Teleng masih saja dicengkam ketegangan.

“Aku akan menyingkirkan kedua anak-anak itu. Aku akan berusaha meyakinkan ibu Ranggawuni bahwa anaknya perlu diselamatkan bersama anakmu Mahisa Cempaka.”

Sejenak Mahisa Wonga Telenglah kepada paman. “Aku tidak menghiraukan keselamatanku sendiri. Jika kedua anak-anak ku dapat berhasil melepaskan diri dari maut, apapun tebusannya aku akan menjalaninya.” Mahisa Wonga Teleng termenung sejenak, lalu, ”tetapi bagaimana dengan adinda Agnibaya yang melihat sendiri pembunuhan itu? Apakah jiwanya juga tidak terancam?”

“Tentu tidak akan dilakukan dalam waktu pendek justru karena Agnibaya melihat peristiwa itu. Mungkin di waktu mendatang. Namun yang harus segera disingkirkan adalah kedua anak-anak itu. Keduanya merupakan hantu yang menakutkan bagi kedudukan Tohjaya sekarang, karena ia sadar, bahwa kesetiaan terhadap Anusapati masih cukup besar.”

Mahisa Wonga Teleng menundukkan kepalanya dalam-dalam. Akhirnya ia berkata dengan suara lemah, ”Paman Mahisa Agni. Terserahlah kepada paman. Aku akan menurut perintah paman asal anak-anak itu dapat diselamatkan. Seperti kata paman, aku tidak menghiraukan lagi, apa yang akan terjadi atas orang-orang tua ini.”

“Baiklah. Sementara ini jaga anakmu baik-baik. Jangan sampai ia lepas dari pengawasanmu. Aku akan membantumu, tetapi ada kalanya aku sibuk mengatur orang-orang yang akan berusaha melepaskan keduanya.”

‘Baiklah paman. Biarlah kedua anak-anak itu selalu bermain di halaman bangsal ini. Aku sendiri akan selalu mengawasi mereka.”

Demikianlah maka Mahisa Agni pun mulai berpikir dan berusaha untukmelepaskan kedua anak-anakitu dari kematian.

Jalan satu-satunya bagi Mahisa Agni adalah menyingkirkan mereka dari halaman istana dan menyembunyikan mereka di tempat yang jauh dan terlindung.

“Tidak ada orang lain kecuali Witantra.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Ternyata bahwa Mahisa Agni berhasil mengadakan hubungan dengan Witantra tanpa diketahui oleh siapapun. Bahkan Witantra sendiri sering memasuki istana Singasari seperti yang pernah dilakukannya meskipun di sekeliling dinding batu halaman para prajurit selalu berjaga-jaga.

“Anak-anak itu harus cepat kau bawa keluar Witantra. Agar tidak menimbulkan kesan bahwa aku yang membantu menying kirkannya, aku akan tetap berada di halaman istana saat-saat kau membawa kedua anak-anak itu.” berkata Mahisa Agni ketika Witantra memasuki bangsalnya.

“Aku akan berusaha. Tetapi jalan agak terlalu sulit. Aku sendiri dapat keluar masuk halaman ini. Tetapi dengan kedua anak-anak itu, aku harus mendapat jalan yang aman.”

“Aku percaya kepadamu. Kau dapat membawa beberapa orang pengawal yang kau percaya dari antara prajurit-prajurit Singasari yang ada di Kediri. Jika ternyata kepergian kedua anak-anak itu diketahui oleh para penjaga, kau dapat mengamankannya dengan kekerasan.”

“Baiklah Mahisa Agni, aku akan berusaha. Memang tidak seharusnya kedua anak-anak itu mati. Bukan karena pamrih yang melonjak-lonjak di dalam hati ini, namun keduanya memang perlu mendapat perlindungan.”

“Aku berterima kasih kepadamu Witantra. Kedua anak-anak itu sebenarnyalah sama sekali tidak berdosa.”

“Baiklah Agni. Siapkan keduanya malam nanti. Aku akan membawanya keluar menjelang fajar. Malam ini biarlah seseorang menyiapkan sepasukan kecil pengawal dari Kediri Tetapi selain itu. aku merasa lebih tenang jika Mahendra ada bersamaku.”

“Jika Mahendra bersedia, aku akan senang sekali .Kedua anak-anak itu akan menjadi semakin aman di tangan kalian sampai saatnya aku menyusulmu.”

Demikianlah maka Witantra pun kemudian meninggalkan bangsal Mahisa Agni untuk memulai dengan rencananya. Betapapun ketatnya penjagaan di istana dan pengawasan atas Mahisa Agni, namun dengan tanda-tanda sandi yang sudah mereka buat bersama, Witantra tidak banyak menemui kesulitan untuk memasuki dan keluar dari bangsal Mahisa Agni, Karena perhatian para prajurit Singasari lebih tertuju kepada pengawal-pengawal Mahisa Agni yang kadang-kadang berkeliaran di depan bangsal daripada kepada bayangan di gerumbul yang gelap di belakang bangsal itu.

Dalam pada itu, Mahisa Agni mulai mengatur persiapan sebaik-baiknya. Bagaimanapun juga, jika keadaan memaksa, ia tidak akan tinggal diam dan sekedar menyembunyikan kesan bahwa ia sudah terlihat. Jika kedua anak itu benar-benar dalam bahaya, maka ia tidak akan segan-segan untuk langsung melindunginya, meskipun akibatnya akan sangat jauh karena ia sudah langsung terlibat.

Untunglah bahwa Lembu Ampal yang mendapat tugas untuk membunuh kedua anak-anak yang masih sangat muda itu pun telah dibayangi oleh keragu-raguan. Seandainya Lembu Ampal dengan membabi buta melakukan perintah Tohjaya, maka kedua anak-anak itu tentu sudah dibunuhnya dengan mudah meskipun di halaman istana itu ada Mahisa Agni dan ayah salah seorang dari kedua anak yang harus dibunuhnya. Dengan sedikit permainan kedua anak-anak itu tentu dipisahkan dari Mahisa Agni. Tidak usah mengirimkan Mahisa Agni ke Kediri. Disaat tertentu Mahisa Agni dapat dipanggil menghadap di paseban. Dan disaat yang demikian tugas itu bukannya tugas yang sulit.

Tetapi Lembu Ampal adalah seorang prajurit yang mempunyai nilai berpikir yang cukup. Ia bukan sekedar alat yang bergerak tanpa mengerti. Apalagi untuk membunuh kedua anak-anak yang tidak bersalah itu.

Keragu-raguan Lembu Ampal yang bahkan telah menghadap pendeta istana itulah yang telah ikut menyelamatkan kedua anak-anak muda itu. Dua tiga hari yang diminta oleh Lembu Ampal ternyata merupakan peluang bagi Mahisa Agni yang bertindak cukup cepat.

Seperti yang dipesankan oleh Witantra, maka Mahisa Agni pun telah mempersiapkan kedua anak-anak muda itu dibantu oleh Mahisa Wonga Teleng. Dengan susah payah keduanya berusaha meyakinkan ibu Ranggawuni, bahwa tindakan itu semata-mata demi keselamatan anaknya.

“Apakah yang terjadi dengan Ranggawuni?” bertanya ibundanya.

Tetapi bekas Permaisuri Singasari yang telah ditinggalkan oleh Anusapati itu selalu ragu-ragu. Terbayang di wajahnya kecemasan yang mendalam.

Mahisa Agni dapat mengerti. Ranggawuni adalah satu-satunya anaknya yang diharap dapat menyambung namanya dan terlebih-lebih lagi nama Anusapati. Sehingga dengan demikian rasa-rasanya ia tidak akan dapat melepaskan anaknya.

“Tuan Puteri.” berkata Mahisa Agni, ”Tidak ada jalan lain untuk melindungi Ranggawuni.”

“Kenapa anak itu harus pergi? Apakah di dalam istana ini Ranggawuni tidak mendapat perlindungan?”

“Tuan Puteri. Ranggawuni adalah putera tuanku Anusapati. Tuan Puteri mengetahui perkembangan terakhir dari pemerintahan Singasari ini. Juga mengenai tuanku Anusapati. Karena itu, Ranggawuni tentu selalu diancam oleh bahaya justru karena ia adalah putera tuanku Anusapati.”

“Tetapi aku tidak dapat berpisah dengan anak itu. Ia adalah satu-satunya hiburan bagiku. Dan hidup matiku sangat tergantung kepadanya.”

“Karena itu tuan puteri, Ranggawuni perlu diselamatkan.”

Ibunya termangu-mangu sejenak. Tetapi sangat berat rasanya untuk melepaskan Ranggawuni, karena ia tidak mau terpisah dari anak satu-satunya itu.

“Kakanda puteri.” berkata Mahisa Wonga Teleng yang datang bersama Mahisa Agni, ”Sebenarnya aku juga berat melepaskan Mahisa Cempaka. Tetapi bagi keselamatannya, apa-boleh buat. Aku kira jalan yang paling baik adalah menyembunyikan anak-anak itu saat ini. Nanti jika keadaan sudah berubah dan menjadi berangsur baik, kita dapat mengambilnya kembali dan membawanya ke istana.”

Ibu Ranggawuni selalu termangu-mangu. Kebimbangan yang tajam telah melanda jantungnya. Namun ia menjadi cemas juga membiarkan Ranggawuni berada di istana. Agaknya ancaman pada anak itu bukan sekedar bergurau.

“Seandainya ancaman itu tidak sebenarnya ada.” berkata Mahisa Agni kemudian, ”Kepergian Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak menimbulkan kerugian apapun. Di daerah yang tersembunyi mereka akan mendapat latihan-latihan kanuragan yang penting bagi hari depan mereka kelak. Karena itu, menurut pertimbangan hamba, biarlah Ranggawuni pergi bersama Mahisa Cempaka. Hamba akan selalu mengawasi mereka berdua agar mereka berdua selalu selamat. Baik dalam perjalanan maupun di persembunyian.”

Akhirnya ibu Ranggawuni tidak dapat mengelak lagi. Mahisa Agni dan Mahisa Wonga Teleng berhasil meyakinkannya, bahwa kedua anak-anak itu harus menyingkir sejauh-jauhnya dari istana urtuk beberapa saat lamanya.

Demikianlah maka dengan diam-diam Mahisa Agni mempersiapkan keduanya. Malam nanti Witantra akan mengambil mereka. Karena itu, maka kedua anak-anak itu harus berada di bangsal Mahisa Agni jauh sebelum gelap, justru untuk menghilangkan kecurigaan karena keduanya selalu mendapat pengawasan yang yang ketat.

Sehari itu kedua anak-anak muda itu berjalan hilir mudik berdua. Kadang-kadang mereka berada di bangsal Ranggawuni, kemudian ke bangsal Mahisa Cempaka, dan sebentar kemudian mereka berada di bangsal Mahisa Agni.

Dengan demikian orang-orang yang mengawasinya menjadi agak bingung dan akhirnya keduanya seakan-akan hilang di dalam bangsal Mahisa Agni. Tetapi para pengawas tidak begitu banyak memperhatikannya lagi. Mereka menyangka bahwa ketiga masih saja hilir mudik di halaman.

“Jika senja turun, kita harus tahu pasti di manakah kedua anak-anak itu berada.” guman seorang prajurit yang bertugas mengawasi anak-anak itu.

“Mereka tidak akan dapat lari keluar halaman.” desis yang lain. ”Jika malam ini kita tidak mengetahui dimana mereka tidur, besok pagi-pagi kita tentu akan menemukannya bermain di halaman lagi.”

Kawannya mengangguk-angguk. Mereka terlalu percaya bahwa tidak akan ada jalan keluar halaman istana. Setiap regol sudah mendapat perintah untuk menahan kedua anak-anak itu jika mereka pergi keluar. Bahkan Mahisa Agni sekalipun, jika ia akan pergi keluar halaman harus ada ijin tersendiri dari tuanku Tohjaya. Dan mereka sama sekali tidak menduga bahwa Mahisa Agni sedang mempersiapkan keduanya untuk melarikan diri lewat jalan yang tidak pernah mereka duga pula.

Dengan tegang Mahisa Agni malam itu menyimpan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka di bangsal. Keduanya telah siap untuk meninggalkan halaman. Meskipun demikian kedua anak-anak yang tidak terlampau banyak memikirkan bahaya yang dapat terjadi atas diri mereka itu, sempat tidur dengan nyenyaknya sebelum mereka nanti akan dibangunkan oleh Mahisa Agni.

Di bangsal masing-masing, ibu kedua anak-anak itu sama sekali tidak dapat tidur sekejappun. Bagaimanapun juga mereka selalu dibayang-bayangi oleh kecemasan dan ketakutan bahwa sesuatu akan terjadi atas anak-anak mereka.

Dalam pada itu di luar halaman istana, Witantra pun sudah menyiapkan diri untuk mengambil kedua anak-anak itu. Seperti yang dikatakannya, ia telah membawa Mahendra. Serta selain Mahendra, beberapa orang pengawal yang tepercaya dari Kediri telah siap pula melindungi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka jika terjadi sesuatu atas mereka.

Demikianlah malam rasa-rasanya berjalan terlampau lambat. Setiap saat Mahisa Agni selalu dicengkam oleh ketegangan dan kegelisahan.

Sementara itu beberapa orang pengawal Mahisa Agni yang datang bersamanya dari Kediri selalu berjaga-jaga pula. Jika niat kedua anak-anak itu untuk melarikan diri dapat diketahui, maka yang akan terjadi adalah kekerasan. Dan para pengawal itu memang sudah siap. Seperti yang selalu tampak di dalam sikap dan bahkan pakaian mereka, para pengawal itu benar-benar telah, pasrah diri pada pengabdian dan kesetiaannya kepada Mahisa Agni.

Lewat tengah malam, seisi bangsal itu menjadi semakin tegang ketika mereka mendengar isyarat di belakang bangsal. Isyarat yang sudah bersama-sama mereka setujui, jika Witantra datang untuk mengambil kedua anak-anak itu dan membawanya menjelang fajar.

Dengan sangat hati-hati, Mahisa Agni pun menjawab isyarat itu dan membuka selarak pintu belakang.

Dalam pada itu, dua orang pengawalnya telah memancing perhatian para penjaga bangsal itu. Keduanya keluar dari bangsal dan berjalan di halaman depan hilir mudik.

Pemimpin penjaga yang melihat keduanya menjadi curiga dan mendekatinya sambil bertanya, ”Ada apa kalian berjalan hilir mudik di halaman di tengah malam Ki Sanak?”

Keduanya tertawa. Salah seorang dari keduanya menjawab, ”Udara sangat panas di dalam. Kami tidak dapat tidur sama sekali. Sebenarnya kami ingin berjalan-jalan keluar halaman ini, bahkan keluar halaman istana. Tetapi kami menyadari kedudukan kami, sehingga kami hanya berjalan hilir mudik saja di sini.”

Pemimpin penjaga itu memandang keduanya berganti-ganti. Menilik sikapnya yang acuh tidak acuh saja, agaknya keduanya memang tidak mempunyai niat lain. Meskipun demikian, pemimpin penjaga itu tidak boleh lengah, sehingga katanya, ”Sebaiknya kalian berada di dalam bangsal saja Ki Sanak. Jika kalian berada di halaman, mungkin akan dapat menimbulkan tanggapan yang lain di dalam keadaan seperti sekarang.”

“Ah.” jawab salah seorang pengawal itu, ”Bukankah kami tidak berbuat apa-apa? Jika keringat kami sudah kering, kami memang akan masuk kembali dan mencoba untuk tidur. Di luar ternyata udaranya terasa agak sejuk.”

“Memang.” jawab pemimpin penjaga itu, ”Tetapi maaf Ki Sanak. Sebaiknya Ki Sanak masuk saja.”

“Kami akan segera masuk jika kami sudah tidak merasa kepanasan lagi. Tentu kami tidak akan berada di halaman semalam suntuk.”

Pembicaraan itu memang menarik perhatian. Beberapa orang prajurit yang bertugas di sekitar bangsal itu memandang kedua orang yang sedang berbincang itu dengan saksama. Perhatian mereka benar-benar tercengkam oleh pembicaraan yang agaknya semakin lama menjadi semakin keras itu.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...