Kamis, 28 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 22-02

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-22-02
“Siapa kau? “ pemimpin garombolan penjahat itu bertanya lagi dengan suara bergetar.

Mahendra kini berdiri tegak beberapa langkah dari mereka. Sejenak ia masih berdiam diri, namun kemudian ia berkata, “Aku adalah pekatik dari istana ini. Aku sedang menyabit rumput di halaman belakang ketika aku mendengar kalian masuk meloncati dinding belakang sehingga aku dan kedua kawanku yang seorang juru taman dan seorang lagi juru masak, mengikuti kalian sampai ketempat ini. Aku melihat bagaimana kalian kebingungan. Tiga orang masuk dan yang dua orang berada di luar, sehingga akhirnya yang dua orang terlihat oleh abdi istana yang kau sangka tuanku Mahisa Agni.”

Pemimpin perampok itu termangu-mangu sejenak. Namun ia-pun kemudian sadar, bahwa orang itu pasti bukan seorang pekatik dan orang itu tentu kawan-kawan Mahisa Agni. Namun menilik sikap dan kata-katanya, maka orang itu agaknya yakin akan dirinya dan memiliki kemampuan yang setidak-tidaknya dapat membantu kesulitan Mahisa Agni menghadapi mereka berlima.

Karena Mahendra sudah menyebut dua orang kawannya yang lain, maka Witantra dan Kuda Sempana-pun tidak bersembunyi lebih lama lagi. Hampir berbareng mereka-pun muncul sambil berkata, “Baiklah. Kami tidak akan bersembunyi lagi.”

Terasa dada para perampok itu berdesir. Ternyata kedatangan mereka telah diketahui lebih dahulu oleh Mahisa Agni dan kawan-kawannya yang pasti dipercayanya untuk membantu menghadapi mereka.

“Gila,” pemimpin perampok itu menggeram, “siapakah yang sudah berkhianat? Sri Rajasa atau penasehatnya atau salah seorang kepercayaan Sri Rajasa tanpa diketahuinya?”

“Tidak ada seorang-pun yang berkhianat,” sahut Mahisa Agni, “kebetulan saja kami mengetahui kedatanganmu.”

“Bohong,” pemimpin perampok itu memotong, “jangan menunggu lebih lama lagi. Tentu di halaman ini telah dipersiapkan prajurit segelar sepapan. Suruh mereka segera keluar. Kami akan menghancurkan mereka dan membunuh mereka bersama kalian termasuk Mahisa Agni.”

“Sayang,” jawab Mahisa Agni, “kami tidak menyiapkan penyambutan serupa itu. Justru aku sudah mengatakan kepada para prajurit, bahwa malam ini mereka tidak usah meronda. Istana ini tidak pernah diganggu oleh kejahatan. Tetapi sudah tentu bahwa kami harus menyiapkan penyambutan bagi kalian yang apalagi salah seorang dari kalian telah langsung melakukan penjajagan kemampuan melawan Sri Rajasa sendiri.”

“Gila,” pemimpin perampok itu hampir berteriak, “siapa pengkhianat itu he? Katakan, katakan! Darimana kau ketahui semuanya itu?”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak ada gunanya. Tetapi nasibmu tidak akan lebih baik dari Kiai Kisi yang diumpankan langsung kepada Putera Mahkota, sehingga Putera Mahkota sendirilah yang telah membunuhnya.”

“Persetan,” kemarahan yang memuncak telah mendidihkan darah pemimpin perampok itu, “ternyata istana Singasari telah dipenuhi oleh pengkhianat-pengkhianat. Dan sekarang kalian mencoba menjebak aku dan kawan-kawanku.” ia berhenti sejenak. Lalu, “tetapi kalian kali ini akan gagal. Meskipun Mahisa Agni memiliki kemampuan setinggi langit, tetapi tidak semua kalian memiliki kemampuan seperti Mahisa Agni. Karena itu, seorang demi seorang kalian akan mati, bahkan seandainya kalian memanggil prajurit segelar sepapan.”

“Kami tidak akan memanggil seorang prajurit pun. Kami akan bertempur langsung,” jawab Mahendra, “kami berempat, dan kalian berlima. Setuju?”

Pemimpin perampok itu tidak menyahut. Namun ketika ia menggeram seperti seekor harimau kelaparan kawan-kawannya agaknya menerima suatu isyarat untuk segera mempersiapkan dirinya.

Mahisa Agni dan ketiga kawannya-pun kemudian menebar. Mereka segera mempersiapkan diri untuk melawan setiap orang yang akan menyerang mereka. Keempatnya menyerahkan kepada lawan-lawannya untuk memilih salah seorang dari mereka.

Melihat sikap keempat orang itu para perampok itu-pun menjadi semakin berdebar-debar. Keempatnya seolah-olah begitu yakin akan dirinya dan kemampuannya. Umur-umur mereka agaknya sebaya kecuali Witantra yang tampak agak lebih tua dari yang lain-lain, meskipun tidak begitu banyak.

Para perampok itu tidak dapat memilih siapakah yang lebih kuat dan siapakah yang paling lemah. Namun menurut perhitungan mereka, pasti Mahisa Agnilah yang paling kuat di antara mereka, sehingga pemimpin perampok itu berkeputusan untuk melawan Mahisa Agni. Karena itu maka katanya, “Pilihlah lawanmu sendiri. Aku akan membuktikan, bagaimana mungkin orang yang bernama Mahisa Agni ini mampu membunuh Kebo Sindet dan kemudian Senapati Agung dari Kediri. Dan bagaimana mungkin ia dapat membuat Putera Mahkota menjadi seorang yang dikagumi oleh seluruh rakyat Singasari dan menamakan dirinya Kesatria Putih.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun ia beringsut selangkah. Kini ia benar-benar telah mempersiapkan diri untuk melawan orang yang pernah langsung mencoba kekuatannya dengan Sri Rajasa itu. Karena menurut perhitungannya, orang itulah yang merasa dirinya mempunyai kemampuan melampaui kawannya.

Mahendra, Kuda Sempana dan Witantra-pun telah bersiap pula. Namun mereka masih tetap menunggu, siapakah yang akan datang kepada mereka masing-masing sebagai lawannya. Menurut jumlahnya, maka salah seorang dari mereka harus melawan dua orang bersama-sama. Dan yang dua itu pastilah dua orang yang tidak ikut masuk kedalam istana itu.

Untuk sesaat lamanya tidak seorang-pun yang segera mulai. Baik para perampok mau-pun kawan-kawan Mahisa Agni agaknya saling menunggu, siapakah yang harus dilawannya, selain Mahisa Agni sendiri yang sudah pasti menemukan lawannya.

Ternyata Mahendra lah yang tidak sabar menunggu. Karena itu ia-pun maju selangkah sambil berkata, “He, apakah kita harus mengundi, siapakah yang akan bertemu sebagai lawan?”

“Persetan,” pemimpin perampok itu menggeram, “cepat, bunuh mereka.”

“O, jadi kalian tidak setuju? Baik. Aku akan tetap berdiri disini sampai ada seseorang yang menyerangku,” sahut Mahendra kemudian, “jika tidak, maka sampai besok pagi aku tidak akan beranjak.”

“Bunuh anak itu lebih dahulu,” pemimpin perampok yang sudah siap melawan Mahisa Agni itu menggeram.

“Ah, jangan panggil aku anak. Aku sudah hampir mempunyai cucu,” berkata Mahendra.

Namun demikian mulutnya terkatup, maka salah seorang perampok itu telah meloncat menyerangnya, sehingga Mahendra harus meloncat menghindar. Serangan itu ternyata cukup berbahaya baginya, karena lontaran kekuatan yang sepenuhnya itu benar-benar ingin menghancurkannya.

Mahendra yang meloncat menghindar itu ternyata menjadi berdebar-debar juga. Ternyata serangan itu datang begitu cepat dan tiba-tiba. Dengan demikian Mahendra dapat menilai, bahwa lawannya itu memang bukan orang kebanyakan.

Karena serangannya yang pertama gagal, maka lawan Mahendra-pun segera memburunya dan mengulangi serangannya beruntun. Ia benar-benar ingin segera membinasakannya, seperti yang diperintahkan oleh pemimpinnya.

Tetapi, ternyata pekerjaan itu tidak begitu mudah. Mahendra yang masih berloncatan menghindar itu, masih mencoba untuk mengetahui lebih banyak tentang kemampuan lawannya, sehingga apabila datang saatnya ia tidak akan terjebak karena kesalahannya sendiri.

Dalam pada itu, ternyata pemimpin perampok yang memasuki halaman istana wakil Mahkota di Kediri itu masih belum mulai menyerang Mahisa Agni. Ia masih ingin mengetahui, apakah kawannya mampu mengimbangi orang-orang yang telah mengganggu tugas mereka itu.

Namun untuk beberapa lamanya, Mahendra sengaja masih belum melakukan perlawanan sepenuhnya. Ia masih saja berloncatan meskipun kadang-kadang ia menahan serangan lawannya pula apabila ia sudah sangat terdesak.

Witantra dan Kuda Sempana-pun berdiri termangu-mangu melihat Mahendra bertempur. Namun Witantra-pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Sebagai seorang yang memiliki ketajaman tanggapan tentang olah kanuragan, maka ia-pun segera mendapat kepastian, bahwa keadaan Mahendra tidak akan begitu jelek melawan orang yang menyerangnya.

Dan yang harus dilakukannya kemudian adalah menunggu, siapakah dari antara para penjahat itu yang akan menyerangnya.

Tetapi ternyata bahwa Kuda Sempanalah yang mendapat serangan lebih dahulu. Seperti orang yang pertama maka serangannya datang dengan cepat dan tiba-tiba. Tetapi juga seperti Mahendra maka Kuda Sempana-pun mampu menghindari serangan-serangan yang datang beruntun seperti banjir. Orang itu sudah mencoba memperbaiki kesalahan kawannya yang tidak berhasil langsung mengalahkan Mahendra, tetapi meskipun demikian, ia-pun tidak segera berhasil menjatuhkan Kuda Sempana.

Yang kemudian masih berdiri bebas adalah Witantra. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia harus berkelahi melawan dua orang yang masih belum menemukan lawannya. Namun ia-pun sadar, bahwa yang dua orang itu pasti orang-orang yang paling lemah dari kelompok penyerang itu.

“Nah, kitalah yang belum mendapatkan lawan,” berkata Witantra, “dengan demikian maka kita tidak akan dapat memilih lagi. Kita harus berhadapan. Terserah kepada kalian, apakah kalian akan bertempur bersama-sama atau seorang demi seorang.”

Kedua orang perampok yang masih belum mendapat lawannya itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian terdengar pemimpinnya berkata, “Cepat, bunuh orang itu.”

Keduanya-pun segera berloncatan menyerang Witantra langsung dengan senjata-senjata mereka yang sudah berada ditangan. Tetapi Witantra-pun berhasil menghindar dan bahkan melayani keduanya dengan tangkasnya.

Di halaman belakang istana wakil Mahkota itu telah terjadi tiga lingkaran perkelahian. Namun dalam pada itu sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni telah memberikan kesan, seakan-akan para prajurit yang berjaga-jaga di istana itu tidak perlu lagi meronda kehalaman belakang. Dengan tidak langsung Mahisa Agni mengatakan kepada mereka, bahwa kadang-kadang hanya mengejutkannya saja, dan bahkan karena badan Mahisa Agni yang agak kurang segar, maka biarlah mereka tidak usah meronda kehalaman dalam dan belakang.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni dapat menghadapi lawan-lawannya tanpa para prajurit. Menurut perhitungannya para prajurit itu hanya akan membuatnya bingung dan bahkan mungkin akan dapat menimbulkan korban. Selain korban yang mungkinjatuh, maka persoalan itu akan menjadi berkepanjangan sampai ke setiap telinga dengan tafsiran mereka masing-masing.

Mahisa Agni masih sempat menyaksikan perkelahian itu. Ternyata bahwa para perampok itu benar-benar orang pilihan. Karena itulah maka Mahisa Agni-pun harus berhati-hati, karena pemimpinnya pastilah orang yang lebih baik dari mereka yang sudah terlibat di dalam perkelahian itu, dan apalagi Sri Rajasa sendiri sudah menjajaginya dan menganggapnya cukup mampu untuk melakukan tugas ini.

Ternyata orang itu-pun masih memerlukan waktu sedikit untuk melihat anak buahnya yang bertempur. Sambil mengerutkan kening ia mengangguk-angguk. Menurut pengamatannya, orang-orangnya tidak mengecewakannya, meskipun ia tidak yakin bahwa mereka akan segera menang.

“Aku harus bertindak cepat. Mahisa Agni harus segera terbunuh, lalu yang lain-lain akan dengan mudah selesai,” berkata orang itu di dalam hatinya.

Sejenak kemudian maka ia-pun melangkah maju mendekati Mahisa Agni. Namun setelah keduanya berdiri berhadapan, sepercik kesangsian membayang di wajah pemimpin perampok itu. Mata Mahisa Agni yang seakan-akan menyala di dalam gelapnya malam itu membuatnya sedikit berdebar-debar.

“Persetan,” ia menggeram. Dicobanya untuk mengusir kesangsian dihatinya itu. Ia tidak pernah ragu-ragu menghadapi siapa-pun juga, karena ia terlalu percaya kepada kemampuan diri sendiri.

“Belum pernah aku gagal. Meskipun aku mengakui bahwa ada juga orang yang melampaui kemampuanku. Tetapi satu-satunya orang adalah Sri Rajasa.” katanya di dalam hati.

Karena itu, maka sejenak kemudian ia-pun melangkah semakin mendekati Mahisa Agni sambil berkata. “Mahisa Agni. Aku hanya sekedar menjalankan perintah. Kau sudah tidak akan dipakai lagi oleh Sri Rajasa. Karena itu kau harus dibunuh. Setelah kau pasti akan datang giliran Anusapati anak Tunggul Ametung itu.”

“Rencana yang bagus sekali. Jika aku dan Anusapati tidak ada, maka Singasari akan menjadi murni. Begitu?”

“Ya. Darah Tunggul Ametung akan lenyap sama sekali dari muka bumi, terutama dari kekuasaan Singasari.”

“Sayang sekali. Rencana itu tidak terlampau mudah dilakukan. Baik aku sendiri maupun Anusapati yang ternyata adalah Kesatria Putih, bukan orang-orang yang mudah menyerahkan lehernya. Seperti seharusnya kodrat manusia, ia pasti akan mempertahankan hidupnya sejauh dapat dilakukan.”

“Tetapi kau tidak akan dapat melakukannya, karena disini akulah yang mendapat tugas untuk membunuhmu.”

“Sayang. Aku akan bertahan. Dan aku memang ingin melihat Anusapati menjadi raja di Singasari. Yang penting bagiku bukannya siapakah yang menjadi ayah raja Singasari itu. Tetapi ia harus keturunan Ken Dedes. Itulah sebabnya aku berjuang dengan caraku untuk mempertahankan Anusapati di atas kedudukannya sekarang, sebagai Putera Mahkota. Jika Sri Rajasa ingin menurunkan raja di Singasari, dan memadu Mahisa Wonga Teleng untuk menjadi Putera Mahkota, aku tidak akan berkeberatan, dan Anusapati-pun pasti akan dengan sukarela minggir dari kedudukannya. Tetapi sudah tentu, bukan Tohjaya, anak Ken Umang itu.”

“Persetan, itu adalah hak Sri Rajasa untuk menentukan, siapakah yang akan ditunjuk untuk menggantikannya.”

“Tidak. Sri Rajasa tidak berhak atas tahta. Tetapi Ken Dedeslah yang mewarisi kekuasaan Tunggul Ametung karena Tunggul Ametung telah melimpahkan kekuasaannya atas kehendaknya sendiri kepada Ken Dedes, ketika Ken Dedes mula-mula memasuki istana dan kehidupan Tunggul Ametung.”

“Bohong.”

“Jangan kau sangka aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Karena kau atau aku yang akan mati, baiklah aku berterus terang, bahwa aku sudah mengetahui bahwa Sri Rajasalah yang membunuh Tunggul Ametung dan pamanku Empu Gandring. Barangkali kau belum mendengarnya. Karena itu, ketahuilah, bahwa Sri Rajasa tidak berhak memindahkan aliran keturunan Ken Dedes dan memberikannya kepada Ken Umang, meskipun sebagian besar adalah karena jasa Ken Arok, bahwa Singasari menjadi besar seperti sekarang.”

“Omong kosong,” geram pemimpin perampok itu, “aku tidak memerlukan ceritera mimpi itu. Sekarang aku akan membunuhmu.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi ia mempersiapkan dirinya baik-baik untuk menghadapi lawanya itu.

“Bersiaplah untuk mati, atau kau ingin mati dengan tenang tanpa kelelahan?”

Mahisa Agni sudah segan untuk berbicara berkepanjangan. Karena itu ia tidak menjawab.

“Baik. Kau memang ingin mati setelah menitikkan keringat dan darah. Dan aku akan membantumu.”

Tiba-tiba saja orang itu telah menarik sebuah pedang panjang. Oleh cahaya obor dikejauhan, mata pedang itu tampak berkilat-kilat memantulkan sinarnya yang kemerah-merahan.

Mahisa Agni memandang pedang itu sejenak. Ia tidak dapat melawan pedang itu tanpa senjata apapun, karena ia menganggap bahwa lawannya adalah lawan yang cukup berat. Karena itu, maka ia-pun segera mencabut belati panjangnya yang terselip dibawah kain panjang. Sepasang pisau belati panjang di kedua tangannya.

Sejenak mereka masih berdiri berhadapan. Namun sejenak kemudian pedang di tangan pemimpin perampok itu sudah berputar. Dengan sigapnya ia mulai menyerang Mahisa Agni yang dengan tangkas berhasil menghindarkan diri.

Ternyata dugaan Mahisa Agni tidak meleset. Orang itu benar-benar mampu bergerak cepat dan kuat. Pedangnya menyambar-nyambar seperti seekor burung sriti yang berterbangan di udara.

Namun Mahisa Agni bukan sekedar seekor capung yang tidak mampu menghindarkan diri dari ujung paruh burung sriti yang menyambarnya. Tetapi Mahisa Agni-pun mampu bergerak secepat lawannya, sehingga karena itu, maka serangan-serangan itu sama sekali tidak berhasil menyentuh sasarannya.

Apalagi ketika Mahisa Agni-pun mulai menyerang lawannya itu pula, maka barulah lawannya menyadari, sebenarnyalah Mahisa Agni seorang yang disegani oleh Sri Rajasa.

Demikianlah maka perkelahian antara Mahisa Agni dengan lawannya itu segera menjadi pertempuran yang sangat sengit karena keduanya adalah orang-orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan.

Didalam perkelahian itu Mahisa Agni masih juga sempat berkata di dalam hati, “Ada juga orang yang memiliki kemampuan tinggi di antara mereka yang tersesat. Orang ini ternyata adalah orang yang berbahaya sekali. Untunglah bahwa ia tidak memancing Kesatria Putih dan membinasakan. Jika kebetulan ia bertemu sendiri dengan Anusapati, maka Anusapati akan sulit sekali untuk mengatasinya dalam keadaan yang sekarang. Masih untunglah bahwa orang itu telah dikirimkan kepadanya oleh Sri Rajasa. Namun demikian Mahisa Agni berterima kasih tidak terhingga di dalam hatinya kepada Sumekar. Kehadiran Sumekar di istana Singasari ternyata mempunyai arti yang besar sekali. Baik bagi Putera Mahkota maupun bagi Mahisa Agni sendiri, karena tanpa Sumekar, maka Mahisa Agni dan kawan-kawannya itu tidak akan dapat mempersiapkan diri menghadapi kelima orang itu.

“Tanpa orang lain aku tidak akan dapat mengatasi kesulitan. Jika tidak ada persiapan yang baik menghadapi mereka, dan ketiga orang yang memasuki istana itu berhasil menyergap aku di dalam bilikku, maka aku kira aku benar-benar terbunuh,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.

Namun gambaran-gambaran itu ternyata membuat Mahisa Agni menjadi semakin marah. Bayangan yang tampak di rongga matanya, seakan-akan dirinya sendiri terkapar di dalam pembaringannya sebelum sempat bangkit, membuatnya menjadi semakin marah.

“Sri Rajasa benar-benar ingin merenggut nyawaku. Dan orang-orang ini pasti orang-orang yang tamak, yang menyewakan diri mereka untuk membunuh sesama. Dan itu berarti kejahatan yang tidak dapat diampuni.” Mahisa Agni berkata pula di dalam hatinya.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni-pun telah mengambil sikap seperti orang itu pula. Membunuh atau dibunuh. Mahisa Agni sama sekali tidak memerlukan orang itu hidup karena ia tidak memerlukan keterangan apa-pun daripadanya. Ia sudah tahu pasti bahwa orang itu harus membunuhnya atas perintah Sri Rajasa. Hanya itu. Alasan-alasan yang lain tidak akan dapat dikoreknya dari orang itu, tetapi harus dicarinya di istana Singasari.

Demikianlah perkelahian itu adalah lambang dari perang yang sebenarnya memang sudah mulai. Perang tanpa menyeret prajurit-prajurit Singasari. Karena baik Sri Rajasa mau-pun Mahisa Agni menyadari, bahwa Singasari yang sudah mencapai kebesarannya itu tidak boleh dikorbankan. Apa-pun yang akan terjadi atas mereka, dan apa-pun yang akan mengakhiri perang di antara dua raksasa yang berdiri dibalik takbir asap yang samar-samar.

Tidak seorang-pun di Singasari, selain yang langsung berkepentingan, mengerti bahwa perang sudah dimulai. Jika kedua raksasa itu bertemu satu dengan yang lain, maka keduanya masih juga tersenyum-senyum dan tertawa-tawa. Keduanya masih dapat berkelakar dan berbicara tentang perkembangan pemerintahan Singasari. Bahkan mereka masih dapat dengan jujur membicarakan tugas-tugas yang harus mereka lakukan masing-masing. Sri Rajasa sebagai Maharaja yang memerintah seluruh Singasari, dan Mahisa Agni yang mendapat tugas untuk mewakili Mahkota Singasari di daerah Kediri.

Tetapi dibalik sikap yang ramah, dibalik pembicaraan-pembicaraan dan rencana-rencana mereka bagi Singasari, tersembunyi pertentangan yang tidak terelakkan, yang akan menentukan Mahkota Singasari dihari depan.

Dalam pada itu perkelahian yang terjadi itu-pun menjadi semakin lama semakin dahsyat. Namun dilingkaran-lingkaran perkelahian yang lain, Kuda Sempana segera dapat mengatasi kemampuan lawannya, meskipun ia tidak akan dapat menyelesaikannya dengan segera. Dan bahkan Kuda Sempana-pun tidak bernafsu untuk dengan cepat memenangkan perkelahian itu, karena ia mempunyai perhitungan tersendiri. Menurut pengamatannya, Mahisa Agni berada dalam keadaan yang gawat. Lawannya bukan orang yang dapat diabaikan, sehingga Mahisa Agni benar-benar harus bertempur. Supaya Mahisa Agni mendapat kesempatan sebaik-baiknya menyelesaikan rencananya, maka Kuda Sempana ingin menunggu apakah yang harus dilakukan atas lawannya itu. Jika Mahisa Agni nanti berhasil menyelesaikan tugasnya, apakah ia akan mempunyai sikap tertentu terhadap orang-orang yang memasuki halaman istana itu, karena setiap kali di dalam melakukan tugas-tugas Kesatria Putih, Mahisa Agni sering kali menegurnya, bahwa ia terlampau cepat mengambil keputusan untuk membunuh lawannya.

Demikian juga agaknya Mahendra dan Witantra. Keduanya-pun segera dapat merasa bahwa mereka dapat menentukan akhir dari perkelahian itu menurut keinginan mereka, jika mereka tidak berbuat kesalahan yang berpengaruh.

Witantra yang memiliki kemampuan yang hampir sempurna, sempat menyaksikan perkelahian antara Mahisa Agni dan lawannya. Dan ia-pun sempat menilai, apa yang sedang terjadi.

“Lawan Mahisa Agni memang lawan yang berat,” berkata Witantra di dalam hati, “untunglah orang itu datang kemari. Jika tidak, maka ia akan menjadi racun di dalam peradaban manusia. Itulah agaknya di daerah sebelah Timur dan Utara, kadang-kadang terjadi sesuatu yang menggemparkan, yang masih belum terjangkau oleh tangan Kesatria Putih. Agaknya orang itulah pelakunya bersama kawan-kawannya ini.”

Namun dalam pada itu, Mahisa Agni yang bertempur melawan pemimpin perampok itu segera mengenal, bahwa ilmu orang itu adalah ilmu yang pada dasarnya sudah dikenal di istana Singasari, sehingga dengan demikian ilmu itu didalam perkembangannya pasti bersumber dari guru yang memiliki cabang ilmu yang sama. Dan arus ilmu itu telah mengalir kedalam diri Tohjaya lewat gurunya, penasehat Sri Rajasa. Dengan demikian Mahisa Agni-pun segera tahu pula, siapakah yang membawa orang itu keistana beserta rencana-rencana dan pamrihnya sama sekali. Dengan demikian Mahisa Agni-pun yakin, bahwa penasehat Sri Rajasa itu ikut serta menentukan jalannya peperangan diam-diam antara Sri Rajasa untuk kepentingan Tohjaya dan Mahisa Agni untuk kepentingan Anusapati.

“Jadi guru Tohjaya itu tidak sekedar menjemput dan membawanya masuk keistana atas perintah Sri Rajasa,” berkata Mahisa Agni yang memang sudah mendengar dari Witantra yang mendapat keterangan dari Sumekar bahwa telah datang orang asing di istana dan bahkan mengadakan penjajagan ilmu dengan Sri Rajasa. “Agaknya guru Tohjaya itulah yang mengusulkan orang ini untuk mengemban tugas didalam peperangan yang diam-diam ini.”

Sambil bertempur Mahisa Agni sempat membayangkan bagaimana keadaan yang bakal terjadi tanpa dirinya dan orang-orang yang sekarang sedang membantunya. Yang dicemaskan oleh Mahisa Agni adalah sikap yang kasar dari Sri Rajasa. Dalam keadaan tertentu, Sri Rajasa kehilangan sifat-sifatnya sebagai seorang Maharaja. Ia dapat bertindak kasar seperti ketika ia masih seorang yang berkeliaran di padang Karautan. Ketika ia masih disebut Hantu Karautan.

“Apakah hal ini akan semakin berlarut-larut atau akan dapat memberikan kesadaran baru bagi Sri Rajasa?” pertanyaan itu selalu mengganggunya. Namun dalam pada itu, Mahisa Agni justru menjadi semakin kehilangan kepercayaannya kepada Sri Rajasa.

“Orang itu adalah orang besar,” berkata Mahisa Agni didalam hati, “tetapi ia terperosok ke dalam suatu kubangan yang dapat mencelakakannya. Ia kehilangan kebesarannya dan justru berjuang untuk kepentingan yang terlalu kecil bila dibandingkan dengan usahanya mempersatukan Singasari.”

Mahisa Agni terkejut ketika senjata lawannya hampir saja menyentuh pelipisnya.

Kini Mahisa Agni mencoba memusatkan perhatiannya kepada senjata lawannya yang bergerak semakin cepat. Namun semakin lama semakin jelas, bahwa Mahisa Agni akan berhasil menguasainya.

Meskipun demikian bila Mahisa Agni lengah dan membuat sedikit kesalahan, mungkin keadaan akan menjadi jauh berbeda. Karena itu, Mahisa Agni berusaha untuk tidak hanyut lagi dalam arus angan-angannya.

“Orang ini terlalu berbahaya,” katanya di dalam hati, “berbahaya bagiku dan berbahaya bagi rakyat Singasari. Ia dapat memeras siapa-pun yang dikehendaki tanpa perlindungan, karena ia sudah berhubungan dengan Sri Rajasa. Jika ia bebas sekarang, apalagi memenangkan perkelahian ini, maka Sri Rajasa tidak akan dapat bertindak apa-pun kepadanya, karena orang ini menggenggam rahasia terbesar dari Sri Rajasa atas kematian seorang wakil Mahkota. Dengan demikian maka orang ini akan dapat memeras Sri Rajasa sampai kering, sebelum Sri Rajasa berhasil membunuhnya. Dan orang ini adalah orang yang licik, sehingga ia akan dapat bersembunyi rapat sekali, sementara orang-orangnya yang akan memainkan peranan yang akan membuat Sri Rajasa kehilangan akal.

“Orang ini harus disingkirkan,” tiba-tiba saja Mahisa Agni menggeram, “jika tidak, maka persoalannya pasti akan berkepanjangan. Apalagi aku tidak memerlukan apa-pun daripadanya. Keterangan yang dapat dikatakannya tidak akan berarti apa-apa bagiku.”

Ternyata Mahisa Agni benar-benar akan melakukan keputusannya. Dengan demikian mata tandangnya menjadi semakin mantap. Kakinya seolah-olah tidak lagi berjejak di atas tanah, sedang tangannya menyambar-nyambar seperti sayap burung garuda yang terbang diudara.

Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin lama semakin sengit. Masing-masing tidak lagi mengekang dirinya. Bahkan masing-masing telah melepaskan semua kemampuan yang dimilikinya.

Lawan Mahisa Agni itu terkejut mengalami sikap yang tiba-tiba saja menjadi semakin garang. Tekanan Mahisa Agni menjadi semakin tajam, sehingga pemimpin gerombolan perampok itu menjadi cemas karenanya.

Tetapi ia tidak dapat mengharap bantuan dari siapapun. Ketika sempat melihat perkelahian yang terjadi di sekitarnya, ia mengumpat habis-habisan. Ternyata Witantra hampir tidak berbuat apa-apa selain berputar-putar. Kedua orang lawannya sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa, meskipun seakan-akan Witantra hanya sekedar bermain-main saja.

“Setan alas,” pemimpinnya berteriak, “bunuh orang itu.”

Kedua orang yang berkelahi melawan Witantra itu berusaha memusatkan segenap kemampuannya. Namun Witantra masih saja bersikap acuh tidak acuh.

Pemimpinnya tidak lagi sempat menghiraukannya. Mahisa Agni semakin lama semakin mendesaknya. Tidak ada cara yang dapat dipergunakan untuk mengatasi serangan-serangan Mahisa Agni yang semakin ganas.

Apalagi tiba-tiba saja Mahisa Agni itu berkata, “Orang-orang ini harus dibinasakan, karena mereka telah mengetahui rahasia yang paling besar bagi Singasari. Pertentangan di lingkungan pemerintahan yang tidak boleh didengar dan apalagi dihayati oleh orang lain. Karena itu, adalah nasibnya yang kurang baik, apabila dengan demikian mereka harus bercanda dengan maut.”

Kata-kata Mahisa Agni itu benar-benar telah menggetarkan dada mereka. Bahkan pemimpin perampok itu-pun menjadi berdebar-debar. Namun demikian ia masih sempat berteriak, “Mahisa Agni, sebutkan siapakah yang telah berkhianat? Siapakah yang telah menjebak aku ke dalam sarang serigala lapar ini?”

Mahisa Agni mendesak lawannya sambil menjawab, “Tidak ada yang berkhianat. Tetapi kejahatan memang harus dimusnahkan. Jangan menyesal jika nasibmu sama seperti Kiai Kisi yang dibinasakan langsung oleh Putera Mahkota, tidak dalam kerudung putih, tetapi dalam bentuknya dibawah kerudung hitam.”

Kata-kata Mahisa Agni itu rasa-rasanya telah membakar telinga lawannya. Namun kemampuannya ternyata terbatas, sehingga betapa-pun juga ia berusaha, namun ia tidak mampu mengatasi ilmu Mahisa Agni. Senapati Agung kerajaan Singasari, yang pernah mengalahkan Senapati Agung pada masa Kediri.

Demikianlah, maka akhir dari perkelahian itu menjadi semakin dekat. Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana hanya menunggu saat yang sebaik-baiknya. Mereka menyesuaikan diri dengan perkelahian yang berat sebelah, setelah lawan Mahisa Agni kehabisan tenaga yang diperasnya untuk mempertahankan diri.

“Jika saat itu tiba,” berkata kawan-kawan Mahisa Agni didalam hatinya, “maka yang lain-pun akan terbunuh.”

Demikianlah, akhirnya Mahisa Agni mendapatkan kesempatan itu. Dengan belati panjang di tangan kirinya ia menangkis serangan lawannya yang menjadi terhuyung-huyung karena keseimbangannya yang hampir hilang. Namun saat yang paling pahit dari perjuangan untuk mendapat harta benda yang tertimbun di dalam istana wakil Mahkota itu segera tiba. Sebelum ia sempat memperbaiki keseimbangannya, maka pisau belati di tangan kanan Mahisa Agni telah menghunjam di dadanya, langsung menyobek jantung.

Pemimpin perampok itu tidak sempat menggeliat. Demikian ujung pisau Mahisa Agni ditarik dari dadanya, maka ia-pun segera rebah menelungkup di tanah.

Dan sesaat kemudian, nasib yang sama telah hinggap pula pada kawannya. Hampir bersamaan senjata kawan-kawan Mahisa Agni telah menyambar lawan-lawannya yang seakan-akan tinggal sekedar menunggu. Senjata Mahisa Agni yang menembus jantung itu bagaikan perintah bagi kawan-kawannya untuk berbuat serupa. Sehingga hampir bersamaan pula lawan-lawan Mahendra dan Kuda Sempana mengeluh pendek. Kemudian disusul dengan dua orang yang sedang bertempur melawan Witantra.

Mahisa Agni yang berdiri tegak di sebelah mayat lawannya mengusap keringat di dahinya dengan lengannya. Ternyata lawannya adalah lawan yang cukup berat baginya.

Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana-pun kemudian mendekatinya. Mereka tidak menemukan lawan seberat pemimpin perampok itu. Namun meskipun demikian, nafas mereka-pun menjadi terengah-engah dan keringat mereka-pun mengalir juga di seluruh tubuhnya.

“Bagaimana dengan mayat-mayat ini?” bertanya Witantra kepada Mahisa Agni.

“Kita harus menghilangkan jejaknya. Kita harus menyimpan rahasia ini sebaik-baiknya, supaya tidak ada ccritera yang bersimpang siur dari peristiwa ini.”

“Jadi, apakah kita akan mengubur mereka?”

“Ya, sebelum dketahui orang lain.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Jika demikian, kita akan membawanya ketempat yang tersembunyi.”

“Ya, sebelum ada orang yang melihat. Untunglah bahwa para prajurit itu benar-benar tidak meronda. Aku sudah mencegahnya sore tadi.”

Demikianlah maka mereka-pun segera membawa mayat-mayat itu menyingkir. Di bawah rimbunnya perdu di sudut kebun belakang, mereka telah menggali sebuah lubang yang besar dan dalam. Bagi Witantra menggali lubang itu ternyata jauh lebih melelahkan dari saat-saat ia harus berkelahi melawan dua orang lawannya.

Namun akhirnya mereka telah berhasil membuat lubang yang cukup dalam, untuk mengubur mayat-mayat itu sekaligus dan kemudian berusaha menghilangkan segala macam bekas perkelahian.

“Sekarang kita tinggal membersihkan diri kita masing-masing,” berkata Mahendra, “lalu aku kembali tidur di gubug Kuda Sempana.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

Demikianlah setelah semuanya selesai, maka mereka-pun segera kembali ke tempat masing-masing. Kuda Sempana masih sempat menggulung tali isyarat yang direntangkannya di halaman belakang.

Ketika tidak lama kemudian fajar membayang di langit, mereka yang baru saja bertempur di halaman belakang itu telah berbaring dipembaringan masing-masing. Namun bagaimana-pun juga mereka berusaha, mereka sama sekali tidak dapat melepaskan ingatan tentang usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Sri Rajasa itu.

Dalam pada itu, di Singasari, ternyata Sri Rajasa-pun sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Ia-pun memperhitungkan bahwa semuanya akan terjadi malam ini. Bahkan dengan gelisahnya ia berjalan hilir mudik di dalam biliknya. Sekali-sekali ia duduk di tepi pembaringannya, namun kemudian berdiri dan berjalan beberapa langkah.

Demikian juga agaknya penasehat Sri Rajasa itu. Ia-pun menduga bahwa semuanya sudah terjadi. Bahkan sudah terbayang di angan-angannya, besok pagi akan berpacu utusan dari Kediri mengabarkan bahwa telah terjadi bencana di istana wakil Mahkota. Para abdi di istana itu menemukan wakil Mahkota mati berlumuran darah, sedang isi istana itu habis dibawa oleh sekelompok perampok.

Singasari pasti akan gempar. Senapati Agung yang telah mengalahkan Senapati dari Kediri, diketemukan mati di dalam biliknya.

“Betapa tinggi ilmu Mahisa Agni, ia tidak akan dapat melawan lima orang sekaligus. Ia pasti akan binasa, karena selisih kemampuannya dengan saudara tertua mereka itu tidak terpaut banyak. Apalagi Sri Rajasa sendiri telah menjajagi kemampuannya dan menganggapnya bahwa ia akan mampu melakukan tugasnya bersama dua orang saudara seperguruannya,” berkata penasehat Sri Rajasa itu di dalam hatinya.

Karena itu, semakin dekat dengan datangnya pagi, rasa-rasanya ia tidak sabar lagi menunggu. Ia mulai membayangkan, seorang pelayan yang akan memasuki bilik Mahisa Agni terkejut dan menjerit. Kemudian beberapa orang prajurit datang berlari-larian. Tetapi yang mereka ketemukan hanyalah mayat Mahisa Agni dan barang-barang yang ada di dalam istana itu hilang.

“Benar-benar suatu perampokan yang gila, yang baru terjadi untuk pertama kalinya di sepanjang sejarah,” desisnya.

Ketika kemudian matahari terbit, Penasehat Sri Rajasa itu-pun segera menyiapkan diri untuk menghadap. Rasa-rasanya ia tidak betah lagi menahan gejolak perasaannya. Ia ingin mendapat penyaluran dan lawan berbicara mengenai peristiwa yang pasti telah terjadi di Kediri.

Sumekar yang membersihkan halaman istana diluar petamanan menjadi heran melihat Sri Rajasa itu pergi ke paseban jauh lebih pagi dari kebiasaannya. Dan karena paseban masih sepi, maka ia-pun langsung pergi ke bangsal Sri Rajasa.

Ternyata Sri Rajasa yang gelisah-pun telah berada di serambi belakang bangsalnya. Seperti kebiasaannya, di saat-saat senggang ia duduk di serambi belakang memandang tanaman yang sedang berbunga. Sebuah longkangan dengan batang-batang perdu yang hijau.

“O,” desis Sri Rajasa ketika ia melihat penasehatnya datang pagi-pagi.

“Ampun tuanku, hamba menghadap terlampau pagi karena hamba tidak dapat menahan diri untuk membicarakan apakah yang kira-kira terjadi semalam di Kediri,” berkata penasehat itu.

Sri Rajasa menganggukkan kepalanya. Katanya, “Aku-pun menjadi gelisah. Tetapi perjalanan dari Kediri memerlukan waktu. Jika pagi ini utusan itu berangkat, maka ia akan datang malam nanti.”

Penasehatnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan waktu yang sehari itu pasti akan menyiksanya.

“Tetapi, aku kira mereka tidak akan mengecewakan,” desis Penasehat itu.

“Aku percaya akan kemampuannya. Meskipun barangkali orang itu tidak dapat mengimbangi kemampuan Mahisa Agni, tetapi berlima Mahisa Agni tidak akan dapat berbuat banyak. Aku menganggap bahwa kemampuan orang itu cukup tinggi.”

Penasehat Sri Rajasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya kepada kata-kata itu, karena Sri Rajasa sendiri sudah langsung menjajaginya.

Demikianlah sehari itu penasehat Sri Rajasa menjadi gelisah. Rasa-rasanya ia tidak sabar menunggu, bahwa akan ada utuskan datang dari Kediri mengabarkan peristiwa yang sudah terjadi.

Sumekar diam-diam memperhatikan Penasehat Sri Rajasa yang gelisah itu. Karena Sri Rajasa hari itu tidak hadir dipaseban, karena badannya yang kurang sehat, maka di siang hari sekali lagi Penasehatnya datang menghadap di bangsalnya.

“Bukankah Anusapati tetap berada di istana?” bertanya Sri Rajasa.

“Ya tuan. Putera Mahkota tetap berada di istana. Ia mematuhi perintah yang tuanku berikan.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika Anusapati meninggalkan istana, maka ada kemungkinan sebagai Kesatria Putih ia mengikuti para perampok itu ke Kediri dan jika kekuatannya bergabung dengan kekuatan Mahisa Agni, maka rencana itu memang dapat gagal.

Demikianlah Penasehat Sri Rajasa yang kemudian meninggalkan bangsal itu-pun pergi keregol depan. Dipandanginya jalan yang membelah kota Singasari membujur kearah yang jauh sekali. Tetapi ia masih belum melihat seseorang yang datang dari Kediri.

“Memang tidak mungkin. Nanti malam ia akan datang.”

Ketika ia berjalan memasuki halaman dalam istana, Sumekar yang berjongkok di pinggir lorong di antara tetanaman memberanikan diri bertanya, “Tuan, tampaknya tuan menjadi gelisah sekali. Aku yang tidak mengetahui persoalan apa-pun menjadi ikut gelisah. Apakah ada musuh yang mengancam Singasari.”

“Bodoh kau. Tidak ada satu negeri-pun yang akan memusuhi Singasari. Sri Rajasa sudah berhasil menyatukan bagian-bagian yang semula terpecah belah,” jawab Penasehat Sri Rajasa itu.

Sumekar yang masih berjongkok mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan ia bertanya pula, “Jika demikian, apakah tuan melihat sesuatu yang tidak wajar terjadi di istana ini, atau barangkali keluarga tuan akan datang.”

Penasehat itu memandang Sumekar dengan tajamnya, lalu bertanya, “Kenapa kau bertanya begitu?”

“Tuan nampaknya gelisah sekali. Tuan berjalan hilir mudik antara bangsal dan paseban serta regol depan istana.”

“O,” Penasehat Sri Rajasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “aku sedang menunggu isteriku. Aku sudah menyampaikannya kepada tuanku Sri Rajasa. Sedang isteriku itu agak sakit-sakitan.”

“O,” Sumekar mengangguk-angguk, “kenapa tuan tidak memerintahkan beberapa orang menjemput dengan sebuah tandu.”

“Isteriku akan datang di atas tandu.”

“O,” Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.

Penasehat itu tidak menghiraukan Sumekar lagi. Juru taman itu ditinggalkannya pada kerjanya di pinggir lorong di dalam halaman istana. Namun pertanyaan-pertanyaan Sumekar itu memberikan pertimbangan kepada Penasehat Sri Rajasa, bahwa kegelisahannya itu dapat dibaca oleh orang lain.

Betapa lama mereka menunggu, namun akhirnya malam datang juga menyelimuti Singasari. Lampu minyak mulai menyala dan jalan-jalan menjadi sepi. Pintu-pintu telah tertutup rapat, karena udara yang dingin bertiup bersama angin dari Selatan.

Kegelisahan di hati Penasehat Sri Rajasa menjadi semakin memuncak. Demikian juga Sri Rajasa sendiri, sehingga ketika Penasehatnya datang ke bangsalnya ia berkata, “Kau tetap disini. Jika ada laporan yang datang, maka orang itu akan dibawa langsung menghadap.”

“Hamba tuanku,” jawab Penasehat itu.

Namun meskipun mereka mencoba mengisi waktu yang menegangkan itu dengan berbagai macam persoalan, mereka ternyata menjadi tidak sabar menunggu.

“Malam menjadi semakin larut. Jika pagi-pagi benar utusan itu berangkat dari Kediri, maka sekarang ia pasti sudah datang, atau memasuki kota. Kita akan menunggu sejenak lagi.” berkata Sri Rajasa.

Tapi yang mereka tunggu tidak juga segera datang. Betapa kegelisahan telah memuncak dihati keduanya, namun tidak seorang-pun yang menghadap dan memberitahukan bahwa ada utusan datang dari Kediri.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...