*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 25-03*
Karya. : SH Mintardja
“Apakah kau berkata sebenarnya,” tiba-tiba saja ia bertanya.
“Aku berkata sebenarnya.”
“Atau hanya karena kau tidak sempat berbuat lain daripada menawarkan bekerja bersama.”
“Kau memang gila. Sekarang akulah yang pada kedudukan yang menguntungkan. Bukan kau. Dan sekarang kau mencoba untuk menyombongkan diri.”
“Kau sangat licik. Aku selalu curiga kepadamu. Jika aku mati saat ini, maka persoalanku sudah selesai. Tetapi jika aku menerima, tawaranmu, maka aku masih harus membuat perhitungan-perhitungan dan pertimbangan-pertimbangan tersendiri dikemudian hari.”
“Kau memang sombong. Tetapi kau nampak jujur dalam hal ini. Aku senang menghadapi orang sekeras batu akik. Tetapi cobalah, pikirkan tawaranku.”
Orang itu termangu-mangu. Namun kapaknya tidak lagi menyambar. Bahkan nampak bahwa tangannya mulai mengendor ketika Empu Baladatu menghentikan tekanannya.
“Apakah kau dapat aku percaya? Atau barangkali kau sekedar ingin mendapatkan cara yang paling baik untuk membunuhku menurut caramu.”
“Kali ini aku berkata sebenarnya. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan seperti sekarang ini. Semula aku hanya ingin bergabung dengan gerombolan Serigala Putih yang kehilangan pemimpinnya. Tetapi tanpa aku duga-duga, kalian ada disini.”
Pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu mengerutkan keningnya. Lalu, “Apakah buktinya bahwa kau benar-benar berniat baik.”
“Kau curiga?”
“Aku curiga.”
”Dan kau sadar bahwa aku dapat membunuhmu?”
“Ya. Aku sadar. Tetapi aku tidak ingin mengemis belas kasihanmu. Jika kau ingin membunuh, lakukanlah. Itu jika kau benar-benar mampu.”
“Kau memang sombong.” sahut Empu Baladatu, “tetapi baiklah. Aku benar-benar tidak ingin berbuat licik kali ini, meskipun aku memang seorang yang licik.”
Sejenak keduanya berdiri dengan tegang. Namun kemudian Empu Baladatu tersenyum sambil melangkah mundur, “Aku akan membuktikannya.”
Perkelahian dihalaman padepokan itu seolah-olah telah berhenti dengan sendirinya. Kedua belah pihak dengan dada yang berdebar-debar memperhatikan, apa yang akan dilakukan oleh Empu Baladatu dan lawannya.
Sejenak Empu Baladatu termangu-mangu. Namun iapun kemudian melangkah mundur beberapa langkah sambil berkata, “Kau telah aku bebaskan dari kesulitan. Kau tidak lagi terjepit di sudut yang gawat. Sekarang keluarlah dan bicaralah dengan orang-orangmu, bahwa perkelahian telah berakhir. Katakanlah bahwa kau telah setuju untuk bekerja bersama dengan kami menjelang hari-hari yang gemilang.”
Pemimpin gerombolan Macan Kumbang itupun termangu-mangu. Namun ia pun kemudian melangkah maju sambil berkata, “Jangan menunggu aku lengah. Aku akan tetap bersiap menghadapi sergapanmu yang tiba-tiba.”
Empu Baladatu tertawa. Bahkan ia pun kemudian menyarungkan kedua pisau belatinya sambil melangkah menjauhi lawannya.
“Kita berasal dari sumber yang sama. Kenapa kita harus bertengkar. Jika kita memang ingin bertengkar, marilah. Aku akan menunjukkan jalan bagi kalian. Baik mereka dari gerombolan Serigala Putih maupun mereka dari gerombolan Macan Kumbang.”
Orang-orang dari kedua gerombolan itu termangu-mangu.
Empu Baladatu benar-benar berusaha memperlihatkan kepada setiap orang, bahwa ia telah melepaskan niatnya untuk membunuh dan bertengkar diantara mereka sendiri. Pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu maju selangkah demi selangkah ketika kemudian Empu Baladatu menjauhinya. Bahkan membelakanginya menghadap orang-orang yang menjadi bingung menanggapi keadaan yang tidak menentu itu.
“Jangan bingung” teriak Empu Baladatu. Lalu katanya sambil berpaling kepada pemimpin gerombolan Macan Kumbang yang masih ragu-ragu, “berbicaralah.”
“Kau pengecut” geramnya, “jika aku sedang berbicara kau akan menikam aku.”
“Aku tidak memegang senjata lagi” berkata Empu Baladatu sambil merentangkan tangannya yang sudah tidak bersenjata.
Kesempatan itu ternyata tidak disia-siakan. Dihiar dugaan setiap orang, juga orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang sendiri, bahwa tiba-tiba saja pemimpin gerombolan Macan Kumbang itupun meloncat sambil mengayunkan kapaknya langsung keubun-ubun Empu Baladatu.
Serangan itu benar-benar mengejutkan dan tidak terduga-duga. Karena itulah, maka Empu Baladatu yang sedang berusaha meyakinkan lawannya itupun terkejut bukan buatan. Ia sadar, bahwa maut benar-benar sedang menerkamnya dengan licik sekali.
Empu Baladatu merasa bahwa ialah yang telah lengah saat itu. Ia telah kehilangan kewaspadaan menghadapi lawan yang licik dan pengecut.
Namun semuanya sudah terjadi. Sekarang kapak itu sedang terayun untuk membelah kepalanya.
Dengan mempergunakan segenap kemampuan yang ada, maka Empu Baladatu yang tidak bersenjata itupun berusaha untuk mengelak. Secepat-cepat dapat dilakukan ia telah memiringkan kepalanya sambil bergeser. Tetapi serangan itu datang begitu cepat dan tiba-tiba, sehingga ternyata bahwa Empu Baladatu tidak lagi dapat melepaskan dirinya sepenuhnya dari ayunan kapak lawannya.
Ternyata Empu Baladatu masih sempat menyelamatkan kepalanya. Tetapi ayunan yang deras dan cepat itu masih sempat menyambar pundaknya, sehingga sentuhan kapak itu ternyata telah bukan saja mengelupas kulitnya, tetapi segumpal daging dilengan kirinya telah sobek.
Kemarahan yang tiada taranya telah menyengat dada Empu Baladatu. Namun ia masih harus meloncat surut, ketika dengan serta merta, maka serangan berikutnyapun telah menyusul dengan dahsyatnya. Pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu benar bagaikan gila. Serangan-serangan beruntun mengejar Empu Baladatu seperti angin pusaran yang melibatnya. Kapak itu seakan-akan telah berterbangan mengitarinya dengan desing yang menggetarkan jantung.Namun akhirnya, Empu Baladatu yang tcrluka itu berhasil mengambil jarak. Dengan kemarahan yang meluap, maka ia pun kemudian berusaha mencabut senjatanya yang sudah di sarungkannya.
Tetapi Empu Baladatu mengeram ketika terasa seolah-olah tangan kirinya yang robek oleh kapak lawannya itu menjadi lemah dan nyeri.
“Gila, kau hantu licik yang tidak tahu diri” teriak Empu Baladatu.
Yang terdengar adalah suara tertawa yang memenuhi halaman itu. Pemimpin Macan Kumbang berkata disela-sela suara tertawanya, “Kau memang luar biasa Empu. Kau masih sempat mengelakkan kapakku yang siap membelah kepalamu. Tetapi meskipun demikian, tangan kirimu tentu menjadi lumpuh, sehingga kau tidak akan dapat lagi mempertahankan sepasang belati panjangmu. Dengan mudah aku akan membinasakanmu, jangan kau mengharap bantuan para pengawalmu karena mereka akan tetap terikal pada perkelahian dengan pengawalku yang memiliki kemampuan lebih baik dari pengawalamu yang malang itu”
Empu Baladatu tidak menjawab. Yang terdengar adalah gemeretak giginya karena kemarahan yang meledak di dalam dadanya. Luka ditangan kirinya itu benar-benar, telah menyalakan api kemarahan yang tidak tertahan lagi. Seolah-olah ia ingin me loncat menerkam dan menelan lawannya bulat-bulat.
Tetapi Empu Baladatu memiliki pengalaman yang luas. Ia tidak mau tenggelam dalam kemarahannya tanpa sempat mempergunakan akalnya.
Itulah sebabnya, maka betapun juga, ia masih tetap mencoba mempergunakan akalnya. Ia membuat perhitungan dan penimbangan untuk melawan pemimpin gerombolan Macan Kumbang yang licik itu. Apalagi ia seolah-olah hanya mampu tangan kirinya yang terluka itu bagaikan telah lumpuh.
Sejenak kemudian, maka halaman itu telah dibakar kembali oleh api pertempuran yang dahsyat. Kedua belah pihak ternyata telah dijalari oleh kemarahan seperti yang membakar dada kedua orang yang sedang bertempur dengan sengitnya.
Dalam pada itu, serangan pemimpin gerombolan Macan Kumbang itupun menjadi semakin dahsyat. Kapaknya menyambar tanpa henti-hentinya. Kelemahan Empu Baladatu benar-benar telah dimanfaatkan oleh lawannya, sehingga serangan-serangannya seolah-olah telah datang dari sebelah sisi.
Tetapi Empu Baladatu cukup lincah. Ia berusaha mengisi kekurangan pada tangan kirinya dengan kecepatan gerak kakinya. Itulah sebabnya, maka Empu Baladatu pun kemudian berloncatan seperti kijang direrumputan.
“Aku harus cepat menyelesaikan pertempuran ini sebelum aku kehabisan darah” geram Empu Baladatu di dalam hatinya.
Namun sementara itu lawannya berkata kepada diri sendiri, “Aku harus memperlambat pertempuran ini, agar orang itu mati karena kehabisan darah. Ia akan segera menjadi lemah dan tidak berdaya.”
Tetapi kemarahan Empu Baladatu tidak tertahankan lagi. Dengan cermat ia memperhitungkan setiap langkahnya justru karena ia hanya mempergunakan tangan sebelah. Lawannya benar-benar tidak menduga, bahwa meskipun tangan kiri Empu Baladatu sudah tidak dapat mengangkat pisau belatinya, namun kelincahan kakinya selalu membingungkannya
Empu Baladatu yang tidak mau sekedar hanyut dalam arus kemarahannya itu, tiba-tiba telah mempergunakan ilmunya yang paling dibanggakan. Dengan lincah dan cepat, tiba-tiba saja ia sudah berada dalam lingkaran di seputar lawannya. Demikian cepatnya, sehingga pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu seolah-olah telah dicengkam oleh kebingungan dan tidak sempat memotong putaran itu.
Empu Baladatu meskipun mempergunakan sebelah tangannya, namun ternyata, didalam putaran yang cepat, pisaunya mulai berhasil menggores lawannya, sehingga kulitnya pun mulai terluka.
Pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu menggeram. Lawannya telah terluka, dan darah mengalir dengan derasnya. Sebenarnya ia tinggal menunggu lawannya itu akan jatuh dengan lemahnya, karena darahnya menjadi kering.
Tetapi ternyata lawannya itu masih berhasil menggoreskan ujung pisaunya meskipun lukanya tidak menimbulkan kekhawatiran apapun juga.
Namun luka itu seolah-olah telah membangunkannya, bahwa lawannya yang terluka itu masih mampu memberikan perlawanan yang kuat. Perlawanan yang dapal membahayakan jiwanya.
Itulah sebabnya, maka pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu menjadi semakin berhati-hati. Dengan tajamnya ia mengamati putaran lawannya. Dan dengan tiba-tiba saja iapun kemudian meloncat panjang sambil mengayunkan kapaknya memotong putaran Empu Baladatu.
Empu Baladatu sempat meloncat kesamping, sehingga serangan itu tidak mengenainya. Namun dengan demikian, pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu berhasil memotong putaran lawannya yang membuatnya menjadi pening.
Sebenarnyalah bahwa kekuatan Empu Baladatu rasa-rasanya sudah mulai dipengaruhi oleh lukanya. Darahnya yang mengalir terus menerus, benar-benar membuatnya semakin lemah. Namun justru karena itulah maka ia bertekad untuk segera mengakhiri perkelahian.
Pada saat-saat yang menentukan itu, ternyata keduanya mempunyai perhitungan masing-masing. Lawannya berusaha selalu mengambil jarak dari Empu Baladatu. Hanya pada saat-saat ia yakin, maka serangannya datang bagaikan badai. Tetapi sejenak kemudian, iapun segera meloncat surut menjauhinya.
Empu Baladatu lah yang tidak mau melepaskannya membuat jarak yang panjang. Dengan cepat Empu Baladatu selalu memburunya jika lawannya meloncat mundur. Semakin lama semakin cepat, sehingga akhirnya pertempuran itu terjadi seolah-olah tanpa jarak.
Senjata dari kedua belah pihak terayun-ayun mengerikan. Dalam jarak yang pendek, masing-masing berusaha untuk menangkis dan menghindar sambil menyerang pada saat-saat yang hampir bersamaan. Jika ujung belati Empu Baladatu mematuk, maka lawannya menggeliat dengan geseran kecil sambil mengayunkan kapaknya pada dada lawannya. Tetapi Jawannya sempat memiringkan tubuhnya, sekaligus merubah arah pisaunya mendatar. Tetapi lawannya masih sempat mengelak pula.
Dalam pertempuran yang semakin cepat itu, Empu Baladatu perlahan-lahan mulai bergeser dalam satu arah putaran. Semakin lama semakin cepat, sehingga akhirnya ia kembali berada pada puncak ilmunya yang membingungkan lawannya.
Pemimpin gerombolan Macan Kumbang menjadi bingung menghadapi kenyataan itu. Putaran itu demikian cepat dan dekat, sehingga serasa tidak ada kesempatan baginya untuk berbuat sesuatu.
Namun ia adalah seorang yang mempunyai pengalaman cukup. Itulah sebabnya, maka tiba-tiba saja ia berputar justru pada putaran yang berlawanan, dalam jarak yang lebih pendek dari putaran lawannya.
Empu Baladatu menggeram. Terasa luka ditangannya menjadi semakin pedih. Namun ia masih mempunyai cukup kesempatan, karena ia yakin sepenuhnya, bahwa lawannya sedang menghadapi kesulitan.
Dalam pada itu, ternyata bahwa kemarahan Empu Baladatu yang sudah berada dipuncaknya itu, tidak dapat terbendung lagi. Apalagi Empu Baladatu yang marah itu dengan sadar mempergunakan nalarnya didalam perkelahian yang semakin seru dan sengit.
Meskipun ia telah terluka, dan sebelah tangannya seolah-olah tidak lagi mampu dipergunakan, namun ternyata bahwa puncak ilmunya masih dapat dituntaskan di atas batas kemampuan lawannya.
Karena itulah, maka sejenak kemudian, terdengar sebuah keluhan yang tertahan. Ternyata bahwa ujung pisau belati Empu Baladatu masih sempat menggores ditubuh lawannya yang telah melukainya dengan licik.
Luka itu agaknya benar-benar telah berpengaruh pada pertempuran yang berlangsung semakin seru, karena masing-masing benar-benar telah dibakar oleh kemarahan yang tidak tertahankan.
Namun agaknya Empu Baladatu masih mempunyai ketenangan yang melampaui lawannya. Betapapun kemarahan serasa memecahkan jantung, tetapi ia masih sempat berpikir, apakah yang sebaiknya dilakukan. Perhitungannya masih cukup cermat dan mengarah.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian, sekali lagi terdengar sebuah keluhan. Tetapi hanya desis yang lemah, karena tiba-tiba suara itu terputus oleh sebuah teriakan nyaring yang terloncat dari mulut Empu Baladatu.
Dengan sekuat tenaga yang tersisa, Empu Baladatu kemudian meloncat sambil berteriak ketika pisaunya mematuk langsung kedada lawannya.
Sesaat kemudian Empu Baladatu menarik pisaunya yang terhunjam ditubuh lawannya. Tetapi Empu Baladatu telah bertekad untuk menunjukkan, bahwa ia adalah pemimpin dari golongan yang disebut berilmu hitam yang paling besar.
Karena itulah, maka ia tidak melepaskan lawannya yang sudah tidak sempat menyelamatkan dirinya itu. Demikian pisaunya ditarik, dan tubuh itu mulai terhuyung-huyung, maka nampaklah betapa buasnya Empu Baladatu, pemimpin yang merasa, dirinya terbesar dari golongannya itu.
Sesaat sebelum tubuh pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu jatuh ditanah, maka tubuhnya sudah tidak dapat di kenalinya lagi. Goresan, luka dan bahkan kulit yang terkelupas dan daging yang tersayat, membuat setiap orang yang melihatnya menjadi pening dan muak.
Ketika tubuh itu jatuh terguling ditanah, maka tidak seorang pun lagi yang dapat mengenal, siapakah yang telah dibunuh oleh Empu Baladatu itu.
Dalam pada itu, pertempuran di halaman itu pun seolah-olah telah dicengkam oleh kengerian yang memuncak. Orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang seolah-olah telah kehilangan kekuatannya sama sekali. Bukan saja pemimpinnya telah terbunuh, tetapi juga karena kematian yang mendebarkan jantung itu.
Empu Baladatu yang memegang pisau belati yang berlumuran darah dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya masih terkulai oleh lukanya, kemudian berdiri sambil memandang orang-orang yang bagaikan telah dicengkam oleh pesona yang mendebarkan itu.
“Orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang “ geramnya kemudian, “betapa hati menjadi sakit dan dendam melihat kelicikan pemimpinmu. Tetapi aku bukan orang yang tidak mempunyai nalar dan perhitungan. Aku dapat mempergunakan pikiranku dengan baik menghadapi kegilaan pemimpin dan kalian semuanya, jika aku menghendaki, maka sebentar lagi kalian akan mengalami nasib yang sama seperti pemimpinmu yang licik.” Empu Baladatu berhenti sejenak, lalu, “tetapi terserah kepadamu. Apakah kau akan berbuat licik seperti pemimpinmu, atau akan memilih jalan lain, mengakui kenyataan yang kalian hadapi.”
Orang-orang yang berada di halaman itu, baik dari gerombolan Serigala Putih maupun dari gerombolan Macan Kumbang, seolah diam mematung.
“Bersikaplah” berkata Empu Baladatu, “aku telah merasakan kejujuran sikap orang-orang dari gerombolan Serigala Putih. Sekarang, apa katamu, hai orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang;?”
Tidak seorangpun yang menjawab. Tetapi halaman itu benar-benar telah dicengkam oleh kesenyapan yang tegang.
“Aku adalah orang yang paling buas dari antara orang-orang yang disebut berilmu hitam. Tetapi aku adalah orang yang bercita-cita.” berkata Empu Baladatu kemudian. Halaman itu menjadi sunyi dan tegang. Semua orang memandang wajah Empu Baladatu yang seolah-olah telah berubah menjadi wajah iblis yang paling buas. Orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang yang terkenal liar itupun menjadi kecut. Mereka tidak menduga, bahwa pada saat itu mereka akan menjumpai orang lain yang lebih ganas dan buas dari pemimpin gerombolan Serigala Putih yang sudah terbunuh.
Karena kenyataan yang tidak terduga-duga itulah mereka justru menjadi bingung. Apalagi pemimpin merekapun telah terbunuh pula dengan cara yang paling mengerikan.
“He, kenapa kalian menjadi bisu?” teriak Empu Baladatu, “ingat. Aku dapat meneriakkan perintah kepada orang-orang dari gerombolan Serigala Putih yang mengakui kehadiranku disini sebagai seorang tamu yang pantas dihormati, dan yang telah membuktikan diri bahwa aku dapat menyelamatkan padepokan ini”
Terasa hati orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang menjadi semakin kecut.
“Dengarlah” Empu Baladatu melanjutkan, “kedua gerombolan ini sudah tidak mempunyai pemimpin-pemimpinnya lagi. Karena itu, maka aku akan menawarkan diriku untuk menerima kalian bergabung dengan kekuatan kami. Seperti kalian, maka kamipun disebut orang-orang yang berilmu hitam. Karena itu, maka sudah sewajarnya jika kita menyusun kekuatan dalam lingkungan yang sama.”
Tidak terdengar seorangpun yang menyahut.
“Nah, pikirkan” berkata niPu Baladatu seterusnya, “jika kalian bersedia, maka aku akan menawarkan, siapakah yang akan menjadi pemimpin kita semuanya. Jika ada seseorang yang menginginkannya, aku tidak berkeberatan sama sekali.”
Halaman itu masih dicengkam kediaman. Dan Empu Baladatu masih berbicara lagi, “Jangan segan. Aku akan menerima dengan senang hati dan akan menyerahkan kekuatan yang ada dipadepokanku kepada siapapun yang akan memimpin kita sekalian. Aku mempunyai kekuatan sebesar kedua kelompok yang sekarang ada disini.”
Sejenak orang-orang yang berada dihalarnan itu saling berpandangan. Salah seorang dari mereka berbisik ditelinga kawannya, “Apakah mungkin ada orang lain yang dapat menyamainya? Ia mendapat serangan yang tiba-tiba dari pemimpin gerombolan Macan Kumbang. Namun akhirnya ia dapat membunuhnya dengan caranya sendiri.”
Kawannya tidak menjawab.
“Nah, jawablah.” Tidak ada jawaban.
“Apakah kediaman kalian berarti bahwa tidak ada seorang pun yang tertarik kepada tawaranku, atau tidak ada seorang pun yang mau mengambil alih pimpinan kedua kelompok yang ada dihalarnan ini.”
Semuanya masih tetap diam, sehingga Empu Baladatu akhirnya membentak, “He, apakah aku berbicara dengan batu?”
Orang tertua didalam lingkungan gerombolan Serigala Putih itupun kemudian melangkah maju sambil berkata, “Empu, tidak ada, seorang pun diantara kami yang merasa berhak mewakili pendapat kami. Karena itu, tidak seorang pun yang memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Empu.”
“Lalu, apakah sebenarnya yang kalian kehendaki.”
“Empu” berkata orang itu, “sebenarnya bagi orang-orang dari Gerombolan Serigala Putih tidak akan ada keberatan lagi jika kekuatan yang tidak seberapa dipadepokan ini di perbolehkan berlindungan dibawah pimpinan Empu. Selanjutnya terserah kepada orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang yang telah kehilangan pemimpinnya pula.”
“Nah, kalian dengar?” Teriakan Empu Baladatu, “terserah kepada orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang. Jika kalian ingin bergabung dengan kami, kami akan menerima dengan senang hati. Tetapi jika kalian menolak, kila akan bertempur terus. Sedangkan bila kalian berpura-pura seperti pemimpinmu, maka setiap orang akan mengalami nasib seperti orang yang licik itu.”
Tiba-tiba saja seorang yang bertubuh tinggi meskipun kekurus-kurusan maju selangkah. Katanya, “Tidak ada seorang pun diantara kami yang berhak mewakili seluruh gerombolan sepeninggal pemimpin kami. Tetapi perkenankanlah aku menyatakan perasaanku sendiri.”
“Katakan.”
“Aku bersedia dengan tulus berlindung di bawah pimpinan Empu seperti orang-orang dari gerombolan Serigala Putih.”
Empu Baladatu memandang orang itu sejenak, lalu, “Kau berkata sebenarnya?”
“Ya.”
“Bertanyalah kepada kawan-kawanmu, apakah yang akan mereka kehendaki seperti yang kau kehendaki pula?”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berdiri menghadap kepada kawan-kawannya sambil berteriak, “Siapakah yang berkeberatan, nyatakanlah kepada kami.”
Wajah-wajah itupun menjadi tegang. Tetapi tidak seorangpun yang menyahut.
“Nah, sudah Empu saksikan sendiri. Tidak seorangpun yang merasa keberatan.”
Empu Baladatu tertawa. Katanya, “Kaulah yang licik. Pertanyaanmu sudah menjurus. Tetapi kediaman bukan jawaban yang mantap. Aku hanya menerima pengakuan yang mereka ucapkan. Bukan sekedar kediaman oleh pertanyaan yang licik.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sekali lagi ia menghadap kepada kawan-kawannya sambil berteriak, “Katakanlah yang ingin kalian katakan. Kau tidak terikat kepada sikapku, karena kedudukan kita sejajar.”
Nampak wajah-wajah yang ragu-ragu.
“Cepatlah. Kalian bersedia menerima Empu Baladatu sebagai pemimpin kita, atau tidak.”
Sejenak masih nampak ke-ragu-raguan. Namun kemudian terdengar jawaban, “Kami menerimanya. Kami menerimanya“
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Empu sekarang sudah mendengar pengakuan mereka. Bukan sekedar sikap yang diam.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Dengan demikian kalian telah mengakui aku. Dan akupun akan bertanggung jawab atas pengakuan kalian. Aku harus menjadi seorang pemimpin yang memiliki sesuatu yang tidak kalian miliki. Yang pertama adalah kelebihan ilmu. Berikutnya, aku akan menunjukkan bahwa aku akan berusaha membawa kalian kesasaran yang pasti. Bukan sekedar melakukan perampokan dan kejahatan yang lain tanpa tujuan.”
Orang-orang yang berada dihalaman itu termangu-mangu. Dan Empu Baladatupun berkata lebih lanjut, “Camkanlah. Aku adalah orang yang bercita-cita. Bukan sekedar melakukan kejahatan. Sejak kini kalian harus menyesuaikan diri. Kalian bukan lagi perampok-perampok yang hanya sempat memungut jemuran dan menangkap ayam diluar kandang. Tetapi kalian harus memandang istana Singasari.”
Orang-orang itu mengerutkan keningnya.
“Kalian harus mempersiapkan diri untuk melakukan sesuatu yang besar, karena kalian adalah orang-orang yang memiliki sesuatu. Kalian memiliki kemampuan seperti seorang prajurit. Bahkan mungkin lebih daripada itu. Karena itulab sejak sekarang kalian harus menyempurnakan ilmu itu sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang akan aku berikan. Pada suatu saat kalian akan bangkit sebagai seorang prajurit dari negara yang besar. Yang memiliki kelebihan dari kawan-kawannya akan aku angkat menjadi lurah prajurit atau seorang tumenggung, atau jabatan-jabatan lain yang memadai. Sedangkan yang memiliki perjuangan yang sempurna, tentu akan menjadi seorang Akuwu atau jabatan-jabatan lain yang pantas.”
Orang-orang itu masih diam mematung.
“Nah, renungkan. Aku tidak mengingini jawaban. Tetapi aku mengingini perbuatan yang nyata.”
Orang-orang itu saling berpandangan sejenak. Namun mereka masih tetap diam.
“Sekarang, kalian harus melenyapkan rasa permusuhan yang ada. Pulihkan ketenangan di padepokan ini dan padepokan Macan Kumbang. Kita harus menempa diri, agar pada saatnya kita tidak akan mengecewakan.”
Orang-orang dari kedua padepokan itu mengangguk-angguk meskipun mereka masih belum jelas.
Empu Baladatu agaknya dapat membaca rasa kebingungan yang membayang disetiap wajah, sehingga karena itu, maka katanya, “Kalian memang orang-orang dungu. Kalian hanya mengetahui satu cara untuk mengisi hidupmu yang gersang. Merampok harta benda. Hanya itu. Tetapi aku tidak. Aku bukan hanya ingin harta benda. Tetapi aku ingin kedudukan, pangkat, kekuasaan, dan kemudian dengan sendirinya aku akan mendapatkan harta benda jauh melampaui yang kalian dapatkan dengan menyabung nyawa.”
Orang-orang itu mengangguk-angguk.
“Tegasnya, aku akan mengatakannya kemudian. Bahkan aku mengharap bahwa kalian akan mengerti dengan sendirinya.”
Sejenak halaman itu dicengkam kembali oleh ketegangan. Bahkan seorang dari mereka kemudian berbisik, “Aku tidak mengerti.”
Kawannya tidak menjawab.
“Kenapa kalian tiba-tiba saja benar-benar menjadi orang-orang yang paling dungu? Jika kalian tidak mengetahui, sebaiknya kalian bertanya.”
Orang tertua dari gerombolan Serigala Putih memberanikan diri untuk melangkah maju sambil bertanya, “Apakah maksud Empu, pada suatu saat kita akan memberontak terhadap Singasari?”
“Tepat” jawab Empu Baladatu, “aku sudah mengira, bahwa kaulah orang yang paling pandai di antara kalian. Pada suatu saat, kita akan memberontak terhadap Singasari yang selama ini telah memusuhi golongan yang mereka namakan golongan berilmu hitam.”
Orang-orang itu mengangguk-angguk.
“Kemudian, kita harus memperhatikan pula orang-orang yang bernama Linggadadi dan Mahisa Bungalan. Mereka menamakan diri pembunuh orang-orang berilmu hitam. Karena itu, pada suatu saat kita harus menemukannya dan membunuh mereka tanpa ampun, agar ternyata bagi kita dan kawan-kawan orang yang bernama Linggadadi dan Mahisa Bungalan itu, bahwa orang-orang yang mereka sebut berilmu hitam memiliki kekuatan yang tidak terlawan.”
Orang-orang yang mendengarkan penjelasan Hu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja diangan-angan mereka telah terbersit harapan-harapan yang cerah dimasa datang. Harapan-harapan yang selama itu tidak pernah mereka bayangkan.
“Mengalahkan Singasari” desis seseorang sambil mengerutkan keningnya, “apakah kata-kata itu benar seperti yang aku dengar?”
Orang yang berdiri disampingnya berpaling. Tetapi kerut merut dikeningnyapun menggambarkan keragu-raguan meskipun tidak dikatakannya.
Namun dalam pada itu, Empu Baladatu yang seolah-olah mengerti keragu-raguan yang mencengkam beberapa orang yang mendengarkan sesorahnya itu berkata, “Memang kedengarannya seperti ceritera tentang mimpi. Tetapi aku benar-benar ingin melakukan segala usaha, agar yang aku katakan itu benar-benar terjadi. Jika itu suatu mimpi, maka hendaknya mimpi daradasih.”
Orang-orang yang mendengarnya mengangguk-angguk.
“Nah, aku tidak akan berbicara lebih banyak lagi. Aku harap kalian kali ini jujur meskipun kita bukannya orang-orang yang dapat jujur sepanjang waktu.”
Orang-orang itupun termangu-mangu.
“Orang-orang dari padepokan Macan Kumbang. Kembalilah kepadepokanmu. Bawalah pemimpinmu yang sudah tidak dapat dikenal lagi. Aku akan datang kepadepokanmu pada suatu saat. Karena aku adalah pemimpinmu. Mungkin aku akan datang dengan beberapa orang pengawal. Tetapi mungkin aku akan datang seorang diri untuk mengetahui apakah kalian benar-benar orang yang dapat dipercaya meskipun hanya untuk kali ini.”
Sejenak halaman itu menjadi sepi.
“Pergilah.” Orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang itu termangu-mangu. Namun sejenak kemudian merekapun menyadari keadaan mereka masing-masing. Orang yang mula-mula sekali menyatakan pendapatnya, nampaknya telah berbuat lebih dahulu pula.
“Kami mohon diri Empu. Kami menunggu kehadiran Empu dipadepokan kami. :
:Terima kasih. Pada saatnya aku akan datang. Aku atau orang yang aku beri kuasa untuk mengunjungi padepokanmu.”
Orang-orang itupun kemudian bergeser surut. Tidak banyak yang mereka katakan. Apalagi dengan orang-orang dari perguruan Serigala Putih. Meskipun mereka kemudian telah dipersatukan oleh suatu ikatan yang dibuat oleh Empu Baladatu, namun rasa-rasanya mereka masih belum dapat luluh menjadi satu keluarga.
Sejenak kemudian, maka orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang itupun telah meninggalkan halaman. Mereka telah membawa pemimpin mereka yang telah terbunuh betapapun mereka merasa ngeri.
Sepeninggal orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang, maka Empu Baladatu pun kemudian mengumpulkan orang-orang dari gerombolan Serigala Putih. Nampaknya Empu Baladatu pun sempat memperhatikan padepokan yang lengang itu. Seolah-olah padepokan itu adalah padepokan laki-laki semata-mata.
“Bawalah mereka kembali” berkata Empu Baladatu, “kalian memerlukan mereka.”
Orang tertua dari padepokan itu menyahut, “Maksud kami, kami telah menyelamatkan mereka.”
“Susullah. Mereka akan menjadi kawan yang baik untuk melanjutkan kehadiranmu dimuka bumi ini. Bahkan mereka akan dapat mengasuh anak-anak yang akan melanjutkan cita-citamu, serta memelihara apa yang pernah kau capai selama hidupmu.”
Orang tertua itu mengangguk-angguk.
“Jangan menunggu. Mereka akan berpencaran jika mereka merasa bahwa mereka tidak akan mendapat kesempatan kembali kepadepokan ini. Jika mereka menduga bahwa padepokan ini benar-benar telah hancur, maka mereka akan mencari jalan keselamatan mereka masing-masing. Orang-orang Laki-laki yang ada diantara mereka tentu mampu memperhitungkan, bahwa lawan kalian akan menyusul mereka.”
“Baiklah. Aku akan segera menyuruh beberapa orang menyusul mereka.”
“Kenapa tidak sekarang?”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah. Aku akan menyuruh beberapa orang untuk pergi sekarang.”
Sejenak kemudian, maka orang itupun telah memanggil tiga orang yang paling dipercaya. Mereka mendapat tugas untuk menyusul perempuan dan anak-anak yang sedang menyingkir. Mereka harus segera kembali dan berada kembali dipadepokan.
“Pergilah. Tetapi kalian memang harus ber-hati-hati. Jika terjadi sesuatu, segera berusaha salah seorang dari kalian membebaskan diri dan memberikan kabar kapada kami.”
Ketiga orang itu mengangguk-angguk.
i
“Perlakukan perempuan itu dengan baik” pesan Empu Baladatu, “jangan kau perlakukan seperti memperlakukan seekor binatang peliharaan. Tetapi mereka sebagai kawan hidupmu.”
Ketiga orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika terlihat oleh mereka sorot mata Empu Baladatu yang garang, maka mereka mengangguk sambil menjawab, “Baiklah Empu. Kami akan melakukannya sebaik-baiknya.”
Sejenak kemudian maka ketiga orang itu pun segera meninggalkan padepokan. Mereka berpacu dengan hati segan. Tetapi mereka tidak berani menentang pesan Empu Baladatu yang sudah mereka ketahui kemampuan dan kekerasan hatinya. Bahkan kekejamannya.
Dalam pada itu, orang-orang dari gerombolan Serieala Putih itupun merasa semakin senang kepada Empu Baladatu. Jika semula beberapa orang menganggapnya sebagai seorang yang baik hati dan pemurah, karena perlakuannya atas mereka dihutan perburuan itu, maka kini mereka menganggap bahwa Empu Baladatu adalah penguasa maut yang menakutkan.
Namun dalam pada itu, sikap Empu Baladatu nampaknya cukup meyakinkan, bahwa ia benar-benar akan melakukan seperti apa yang dikatakannya. Mencari jalan bagi kemungkinan terbaik dihari depan.
Untuk beberapa lama Empu Baladatu masih berada di padepokan itu. Ketika malam kemudian turun, maka orang tertua dari antara gerombolan Serigala Putih itu mengharap Empu Baladatu untuk bermalam.
“Aku akan berada disini sampai Perempuan-Perempuan yang mengungsi itu datang kembali.”
Orang tertua itu mengerutkan keningnya. Tetapi nampaknya ia mulai disentuh oleh kecurigaan, bahwa Empu Baladatu yang ternyata mengerikan itu, mempunyai pamrih yang lain.
“Ia nampaknya mengetahui bahwa perempuan yang mengungsi itu telah membawa barang-barang berharga yang disediakan bagi anak-anak dan hidup mereka sendiri, sekedar untuk melayani kelangsungan hidup anak-anak itu. Dan agaknya perempuan-perempuan itu tidak akan berani melanggar pesan yang pernah diberikan kepada mereka. Bahkan seandainya orang-orang yang memberikan pesan itu sudah mati terbunuh sekalipun. Karena Empu Baladatu mengetahuinya, maka ia telah mengambil sikap yang keras untuk mengambil orang-orang yang telah mengungsi itu.”
Dalam pada itu, ketiga orang itupun berkuda semakin cepat. Mereka berharap bahwa mereka akan sampai ketempat tujuan sebelum malam menjadi semakin dalam. Agaknya ketiga orang itu tidak terlambat. Perempuan dan anak-anak yang dijaga oleh beberapa orang laki-laki tua masih berada ditempatnya. Kedatangan ketiga orang itu membuat mereka terkejut dan cemas. Namun setelah ketiga orang itu menjelaskan, merekapun menjadi lega.
“Jadi kami dapat kembali kepadepokan” bertanya seorang laki-laki berambut putih dan berpedang dilambung.
“Ya.”
“Kami sudah cemas. Hampir saja kami memutuskan untuk meninggalkan tempat ini dan memencar seperti yang direncanakan. Tempat ini rasa-rasanya menjadi semakin miskin, karena binatang-binatang buruannya telah kami tangkap setiap saat.”
“Hutan ini tidak akan kehabisan binatang buruan meskipun bukan hutan yang terlampau lebat.”
“Sokurlah, bahwa kami sudah boleh kembali.” desis laki-laki yang lain, yang rambutnya justru sudah hampir habis rontok sehelai demi sehelai.
Orang-orang yang mengungsi dihutan itupun segera bersiap-siap. Mereka berharap bahwa mereka akan dapat hidup lebih baik dan tenang, setelah kawan-kawannya menceriterakan kematian orang yang paling berbahaya bagi gerombolannya.
“Tetapi pemimpin kami yang baru itu bukannya tidak mendebarkan jantung” desis salah seorang dari ketiga orang yang menjemput mereka.
“Kenapa?”
Orang itupun kemudian menceriterakan serba sedikit, apa yang sudah dilakukannya. Bagaimana ia membunuh dan seolah-olah telah mengelupas kulit pemimpin gerombolan Macan Kumbang itu.
Perempuan yang mendengarnya menjadi ngeri. Tetapi seperti biasanya, tidak seorangpun dari mereka yang menyatakan pendapatnya. Mereka adalah orang-orang yang seakan-akan tidak diperhitungkan selain untuk memberikan air susu kepada bayi-bayi yang dilahirkan. Bayi-bayi laki-laki akan mendapat tempat, sedang bayi-bayi perempuan akan mengalami nasib serupa dengan ibunya. Tetapi karena kebiasaan itu sudah berlaku dalam waktu yang panjang, maka rasa-rasanya mereka tidak lagi dapat mempersoalkannya, selain menjalani dengan hati yang Kadang-kadang me mang terasa pahit.
“Kita akan berangkat pagi-pagi benar” berkata salah seorang dari tiga orang ang menyusul mereka itu.
“Perempuan-perempuan harus mengemasi barang-barang kita semuanya dan siap di dini hari“ teriak salah seorang laki-laki tua yang ikut mengawasi mereka. Tidak seorangpun yang dapat mengeluh. Meskipun mata mereka kantuk, namun merekapun mulai bekerja, mengatur barang-barang yang telah mereka bawa dan yang akan mereka bawa kembali kepadepokan, termasuk barang-barang berharga yang mereka sisihkan, agar tidak jatuh ketangan gerombolan Macan Kumbang.
Ternyata bahwa mereka masih sempat beristirahat dan tidur beberapa lama menjelang dini hari, sehingga rasa-rasanya tubuh mereka telah menjadi segar.
Demikianlah, ketika fajar menyingsing maka iring-iringan itu keluar dari persembunyian mereka. Seperti yang mereka lakukan saat mereka pergi, maka merekapun maju dengan sangat berhati-hati menyusuri jalan-jalan sepi dipinggir hutan dan padang yang kosong.
“Kita akan memasuki daerah yang berpenghuni dimalam hari,” berkata salah seorang dari tiga orang yang menjemput mereka.
“Ya” sahut yang lain, “kita akan berhenti setiap kali, untuk memberi kesempatan anak-anak beristirahat.”
Tidak seperti saat ketiga orang yang menyusul mereka, yang dapat menempuh jarak itu jauh lebih cepat karena mereka berkuda, maka perjalanan kembali itu terasa sangat lamban. Mereka harus mengiringi beberapa orang anak-anak yang berjalan, karena tidak ada orang lagi yang dapat mendukungnya. Hampir setiap perempuan telah mendukung anak-anak mereka yg paling kecil, sehingga anak-anak yang agak lebih besar harus menempuh perjalanan mereka dengan berjalan sendiri.
Itulah sebabnya, maka jarak yang tidak terlampau jauh di pinggir hutan itu harus mereka tempuh dalam waktu yang sangat lama. Belum lagi mereka sempat meninggalkan hutan itu setelah mereka berhasil keluar, anak-anak sudah mulai letih, sehingga mereka harus beristirahat.
Betapapun kejemuan terasa mengganggu perasaan beberapa orang diantara mereka, namun mereka tidak dapat meninggalkan anak-anak mereka.
Karena itulah, maka perjalanan mereka terasa terlalu lama. Bahkan seolah-olah mereka tidak bergerak sama sekali. Anak-anak yang kelelahan, haus dan lapar mulai merengek, sehingga orang-orang tua yang ada diantara mereka harus berusaha untuk mendapatkan air dan makan.
Ketika mereka kemudian berada di padang semak-semak, sebelum mereka turun kedaerah yang berpenghuni, maka iring-iringan itupun sengaja beristirahat cukup lama. Orang-orang tua mencoba menidurkan anak-anak mereka, karena mereka kemudian akan menempuh perjalanan dimalam hari, agar tidak banyak menimbulkan pertanyaan dari orang-orang yang melihat iring-iringan itu di sepanjang jalan padukuhan.
Tetapi akhirnya perjalanan yang sulit itu dapat juga mereka selesaikan. Meskipun Perempuan-Perempuan itu seolah tidak mendapat perlakuan yang sewajarnya dari setiap laki-laki yang ada dipadepokannya, namun ketika mereka melihat pintu gerbang dari padepokan yang sudah lama mereka huni, terasa juga perasaan mereka menjadi berdebar-debar.
Hampir semalam suntuk mereka berjalan. Anak-anak yang tidak mampu lagi berjalan, dinaikan ke atas punggung kuda yang dituntun di antara mereka. Bahkan terpaksa beberapa orang perempuan harus mendukung dua orang sekaligus.
Ketika mereka memasuki padepokan mereka, terasa dipipi mereka menitik air yang hangat. Meskipun mereka harus menghadapi tata kehidupan yang pahit, namun itu agaknya, lebih baik daripada mereka harus berada diperantauan yang tidak menentu, atau di hutan yang gelap dan mengerikan, apalagi di perjalanan yang berat.
Ternyata Empu Baladatu masih menuggu kedatangan perempuan dan anak-anak. Beberapa orang penghuni padepokan itu menerima kedatangan anak-anak mereka dengan gembira. Terutama mereka yang mempunyai anak laki-laki.
Tetapi kecemasan yang sangat telah menjalari dada orang tertua dari padepokan Serigala Putih itu. Ia melihat beberapa orang laki-laki tua yang mengawasi perempuan dan anak-anak itu masih membawa barang-barang berharga yang memang diperuntukkan bagi bekal anak-anak mereka yang akan bertebaran jika padepokan itu benar-benar dikuasai oleh orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang.
“Empu Baladatu adalah orang yang sama sekali tidak dapat dimengerti watak dan tabibatnya” berkata orang tertua itu didalam hatinya.
Namun, orang itu berusaha menghapus semua kesan itu dari wajahnya. Bahkan ia masih sempat berkata lantang, “kembalilah ketempat kalian masing-masing. Padepokan kita tidak mengalami kerusakan apapun juga..”
Demikianlah, maka perempuan dan anak-anak itupun segera kembali ketempat masing-masing. Mereka benar-benar masih menemukan tempat tinggal mereka seperti saat mereka tinggalkan.
Orang tertua dari padepokan itu menjadi berdebar-debar ketika Empu Baladatu bertanya kepadanya, “Apakah semua dapat diselamatkan?”
Sejenak orang itu termangu-mangu. Namun kemudian iapun bertanya, “Maksud Empu?”
“Perempuan dan anak-anak” jawab Empu Baladatu.
“O, ya, ya Empu. Semua dapat diselamatkan.”
Empu Baladatu mengangguk-angguk. Tetapi senyum dibirnya membuat orang tertua itu tetap berdebar-debar.
Tetapi beberapa saat ia menunggu Empu Baladatu tidak bertanya lebih lanjut meskipun nampaknya ia sangat memperhatikan barang-barang yang dibawa oleh orang-orang yang baru saja datang itu.
Tetapi sampai orang terakhir pergi ketempat mereka masing-masing, Empu Baladatu tidak menanyakan apapun juga tentang barang-barang itu. Bahkan iapun kemudian berkata, “lihatlah orang-orang yang baru datang. Tenangkan hati mereka, agar mereka tidak mengalami gangguan jiwa untuk waktu yang lama. Apalagi Perempuan-Perempuan.”
Orang tertua itu kurang mengerti maksudnya, sehingga Empu Baladatu tertawa, “Kau tidak pernah menghargai perempuan, apalagi mencoba mengerti tentang mereka. Cobalah sekarang. Bertanyalah apakah keadaan mereka baik, atau katakanlah kepada mereka, bahwa mereka tidak usah gelisah dan takut, karena gerombolan Macan Kumbang tidak akan datang mengganggu lagi.”
Orang tertua itu mengangguk-angguk. Namun baginya Empu Baladatu tetap merupakan teka-teki. Terutama yang berhubungan dengan barang-barang mereka yang telah dibawa kembali kepadepokan mereka itu.
Meskipun dengan segan, tetapi orang tertua dari padepokan Serigala Putih itu pergi juga menemui perempuan dan anak-anak. Dengan ragu-ragu ia mencoba menjelaskan bahwa mereka tidak usah cemas lagi karena orang-orang Macan Kumbang tidak akan datang mengganggu.
“Kita sudah mendapatkan seorang pemimpin yang baru yang sekaligus menjadi pemimpin gerombolan Macan Kumbang karena ia sudah membunuh pemimpin mereka.” berkata orang tertua itu, “karena itu, maka gerombolan Macan Kumbang sejak saat itu tidak akan mengganggu kita lagi.”
Perempuan dan anak-anak itu mengangguk-angguk. Ada sedikit perasaan asing pada Perempuan-Perempuan itu. Orang tertua itu nampaknya mulai memperhatikan mereka.
Tetapi yang dikatakan oleh orang tertua itu tidak lebih dari sebuah pemberitahuan. Namun demikian pemberitahuan itu terasa sangat berarti bagi Perempuan-Perempuan itu. Mereka memang menjadi tenang, dan terlebih-lebih lagi tanpa mereka sadari tumbuh harapan yang tidak mereka mengerti.
Hari itu Empu Baladatu masih tetap berada dipadepokan Serigala Putih, sedang orang tertua dipadepokan itu masih tetap dibayangi oleh kegelisahan apabila pada suatu saat barang-barang mereka akan dirampas. Dengan alasan apapun juga maka hal itu akan sangat kemungkinan sekali terjadi.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar