BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-17-03
Demikianlah, maka makin jelas bahwa Kiai Kisi akan segera bisa mengakhiri perkelahian. Ketiga lawannya itu-pun menjadi semakin terdesak dan mulai membayang pula saat-saat terakhir dari perjuangan mereka yang gigih.
Namun sampai saat-saat terakhir Senapati Singasari itu masih belum dapat memutuskan, apakah yang sebaiknya dilakukan atas anak buahnya. Sehingga dengan demikian maka Senapati itu-pun masih belum memberikan isyarat apa-pun juga.
Tetapi Senapati itu-pun menyadari keadaannya. Ia bersama kedua prajurit sandi itu tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Ketiganya pasti akan segera mengakhiri perlawanan. Dan apakah yang akan terjadi atas mereka, tergantung sekali kepada Kiai Kisi yang akan segera menguasai seluruh keadaan.
Meskipun ketiga prajurit Singasari itu tidak berputus asa, namun mereka-pun mampu memperhitungkan keadaan, sehingga mereka sudah tidak berpengharapan lagi untuk dapat meninggalkan gelanggang.
Tetapi selagi Kiai Kisi sampai pada keputusan terakhir untuk membinasakan tiga orang lawannya itu, tiba-tiba ia sudah dikejutkan oleh suara tertawa dibalik sebuah gerumbul. Suara itu tidak begitu keras, namun seakan-akan langsung menusuk kepusat jantung.
“Kiai Kisi,” terdengar suara disela-sela tertawanya, “apakah kau benar-benar akan membunuh ketiga orang itu dan menangkap Putera Mahkota?”
Kiai Kisi tertegun sejenak. Tetapi bukan saja Kiai Kisi, ketiga lawannya-pun menjadi termangu-mangu pula karenanya. Sejenak kemudian mereka-pun melihat sesosok tubuh yang muncul dari balik gerumbul. Hampir seluruh wajahnya tertutup oleh selembar kain hitam, sedang pakaiannya yang membelit tubuhnya-pun tampak kusut dan tidak keruan. Kainnya membelit pinggang di sela-sela kain yang juga berwarna hitam. Dadanya yang telanjang tampak menengadah, seakan-akan tidak akan dapat dilukai dengan jenis senjata apa-pun juga.
Kiai Kisi berdiri tegak ditempatnya. Wajahnya menjadi tegang dan nafasnya mulai memburu oleh perasaan heran yang menghentak-hentak dadanya.
“He, Kiai Kisi. Kenapa kau berdiri termangu-mangu seperti melihat hantu? Sudah lama kita tidak ketemu. Sekarang kesempatan yang aku tunggu-tunggu itu tiba. Aku dapat menciummu di tengah-tengah padang ilalang ini.”
“Siapa kau? “ terdengar Kiai Kisi berdesis.
“He, kau sudah lupa kepadaku?”
“Siapakah kau?”
“Aku Siluman Bayangan. Nah, kau ingat sekarang?”
Kiai Kisi mengerutkan keningnya. Perlahan-lahan ia bergumam, “Nama itu aneh sekali. Aku belum pernah bertemu dengan jenis siluman apa-pun juga.”
Orang yang berkerudung itu tertawa. Katanya kemudian, “Mungkin kau sudah lupa akan janjimu duapuluh tahun yang lampau. Bahwa pada suatu saat kita akan bertemu lagi di medan perkelahian. Nah, sekarang waktu itu telah lewat beberapa hari. Sampai purnama terakhir, dua puluh tahun itu sudah lewat dua hari. Sampai sekarang yang duapuluh tahun itu sudah lewat delapan hari.”
Kiai Kisi mencoba mengingat-ingat. Tetapi ia tidak berhasil mengingat kembali waktu yang duapuluh tahun itu.
“Duapuluh tahun memang waktu yang lama. Tetapi pertemuan ini tidak akan sia-sia. Aku akan menuntut balas atas kekalahanku dahulu. Bahkan seandainya aku tidak terperosok kedalam jurang, kau pasti sudah membunuhku. Nah, niat membunuh itu kini telah tumbuh pula dihatiku. Yang akan terjadi hanyalah dua kemungkinan. Kau atau aku yang akan mati sekarang. Kita tidak akan sempat membuat janji lagi untuk dua-puluh tahun mendatang. Umur kita sudah semakin tua, dan duapuluh tahun lagi, kita tidak akan dapat lagi berdiri tegak di angin yang agak kencang.”
Orang itu berhenti sejenak. Dipandanginya wajah Kiai Kisi yang tegang. Namun kemudian Kai Kisi itu menggeram, “Agaknya kau memang orang gila. Namamu sudah nama orang gila. Aku tidak pernah mendengar nama serupa itu, bahkan yang sejenis dengan namamu itu sampai sekarang.”
“O, jadi namaku tidak sesuai dengan seleramu? Baik. Aku akan merubah namaku. Namaku yang sebenarnya adalah Dandang Kaluwat. Nah, apakah kau sudah ingat?”
Kiai Kisi berpikir sejenak. Lalu, “Persetan dengan namamu. Aku tidak perduli. Aku sudah lupa semuanya atau memang semua itu tidak pernah terjadi. Kalau sekarang kau sengaja membuat persoalan, marilah. Bersama dengan tiga orang itu, aku akan membunuhmu juga. Kau tidak perlu mengarang serangkaian ceritera tentang duapuluh tahun yang lalu. Kalau kau menyerang aku meskipun tanpa sebab, aku akan melawan dan membunuhmu tanpa persoalan duapuluh tahun atau seratus tahun yang lalu.”
“O. Begitu? Jadi kau samakan Dandang Kaluwat dengan tiga orang anak-anak manis ini? Memang sayang kalau mereka terbunuh. Apalagi mereka adalah pengawas-pengawas Putera Mahkota.”
Orang itu terdiam sejenak lalu, “aku tidak berkepentingan dengan ketiga orang itu. Sekarang aku akan membunuhmu. Habis perkara. Aku juga tidak mau mengenang kekalahanku duapuluh tahun yang lampau. Kekalahan yang memalukan sekali dari seorang Dandang melawan sejenis Kisi yang mabuk ini.”
Kiai Kisi menjadi tegang. Tetapi ia tidak berhasil mengingat nama Dandang Kaluwat itu, sehingga akhirnya ia memutuskan bahwa nama itu memang belum pernah didengarnya.
Karena itu maka katanya, “Ayo Dandang Kaluwat kalau kau ingin mulai, marilah segera mulai bersama dengan ketiga prajurit ini. Atau kau sebenarnya juga seorang prajurit yang menyamar?”
“Aku tidak mau diganggu apabila aku sudah turun ke arena. Karena itu, aku minta waktu beberapa saat saja untuk berkelahi melawan Kiai Kisi.” lalu ia berpaling kepada ketiga prajurit Singasari itu, “silahkan beristirahat. Aku akan bertempur seorang melawan seorang sebagai layaknya seorang Dandang Kaluwat. Kalau kalian masih ingin bertempur, uruslah yang dua orang itu. Kalian dapat menangkapnya dan membawanya ke Singasari bersama-sama kawannya yang lain. Kalian akan segera dapat menyelesaikan tugas kalian tanpa diganggu lagi oleh Kiai Kisi yang tamak ini.”
Kemarahan Kiai Kisi telah sampai ke puncak ubun-ubunnya, sehingga karena itu ia berteriak, “jangan banyak bicara. Aku sudah siap membunuhmu.”
Orang yang menyebut dirinya bernama Dandang Kaluwat itu-pun segera mempersiapkan dirinya. Selangkah ia maju. Namun ia masih sempat berkata, “Jangan ganggu aku. Kalau dua orang kawan Kiai Kisi itu akan berbuat aneh-aneh, tangkaplah mereka.”
Senapati Singasari yang seolah-olah justru membeku itu sadar ketika Kiai Kisi tiba-tiba saja telah menyerang Dandang Kaluwat. Namun Dandang Kaluwat ternyata cukup tangkas untuk menghindarinya.
Sejenak kemudian keduanya telah terlibat dalam perkelahian. Namun kali ini Kiai Kisi tidak sekedar melawan tiga orang prajurit yang mempunyai kemampuan jauh di bawah kemampuannya. Kini ia bertempur melawan seseorang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat, yang ternyata memiliki ilmu yang cukup kuat untuk melawannya.
Senapati bersama dua orang petugas sandi dari Singasari itu-pun bergeser beberapa langkah surut. Sejenak mereka memandang dua orang kawan Kiai Kisi yang agaknya sedang memperhatikan perkelahian yang sedang terjadi itu. Perkelahian yang benar-benar merupakan perkelahian yang semakin lama semakin seru.
Kiai Kisi yang dibakar oleh kemarahan menyerang Dandang Kaluwat seperti banjir bandang. Beruntun tidak henti-hentinya. Ia ingin segera menyelesaikan perkelahian itu sebelum ketiga prajurit Singasari itu berusaha melarikan diri.
Tetapi agaknya lawannya sama sekali tidak membiarkannya berbuat seperti rencananya. Lawannya yang menyebut diri bernama Dandang Kaluwat itu mampu bergerak sedahsyat angin prahara yang melandanya bertubi-tubi.
Baik Senapati dan kedua petugas sandi dari Singasari, mau-pun kawan-kawan Kiai Kisi, telah dicengkam oleh kekaguman atas perkelahian yang telah terjadi itu. Ternyata Kiai Kisi yang pilih tanding itu kini mendapat lawan yang mampu mengimbanginya. Bahkan bukan saja mengimbanginya, tetapi mampu memaksa Kiai Kisi untuk sekali-sekali meloncat surut.
Memang terasa oleh Kiai Kisi bahwa lawannya semakin lama menjadi semakin garang. Ilmu yang dipergunakan oleh Dandang Kaluwat adalah ilmu yang membingungkan baginya. Tampaknya ilmu itu tidak memiliki kekuatan yang dapat dibanggakan. Namun didalam benturan-benturan yang terjadi, ternyata bahwa Kiai Kisi selalu terdesak surut.
“Gila,” geramnya didalam hati, “siapakah orang ini sebenarnya?”
Namun dalam pada itu, orang yang menyebut dirinya bernama Dandang Kaluwat dan menutup wajahnya dengan sepotong kain hitam itu-pun heran melihat tandang Kiai Kisi. Semakin lama justru menjadi semakin kasar. Bahkan kadang-kadang orang itu telah berbuat sesuatu diluar dugaan. Didalam perkelahian yang kedua-duanya tidak mempergunakan senjata itu, orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu-pun segera melihat, bagaimana Kiai Kisi percaya kepada kekuatan jarinya.
Dengan garangnya Kiai Kisi kadang-kadang meloncat menerkam seperti seekor harimau. Kedua tangannya terjulur kedepan, sedang jarinya yang mengembang siap untuk mencengkam tubuh lawannya.
“Aku pernah melihat cara dan unsur-unsur gerak seperti ini,” katanya di dalam hati.
Sambil bertempur orang yang menyebut dirinya bernama Dandang Kaluwat itu mencoba mengingat-ingat, dimana ia mengenal tata gerak yang demikian. Agaknya ia menjadi ragu-ragu ketika ia kemudian teringat, bahwa ia pernah melihatnya justru di istana Singasari.
Untuk menyakinkan pengamatannya, maka Dandang Kaluwat itu-pun segera memperdahsyat serangan-serangannya. Tangannya bergerak dan terayun dari segala arah, seperti berpuluh-puluh pasang tangan yang bergerak bersama-sama.
Dalam keadaan yang sulit itu. Kiai Kisi telah mengerahkan segenap kemampuannya, yang seperti diduga oleh orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu, semakin lama menjadi semakin kasar.
Dengan penuh keragu-raguan ia bergumam didalam hatinya, “Tohjaya. Tata gerak ini pernah aku lihat pada anak itu.” Namun kemudian, “tetapi apa mungkin bahwa keduanya memiliki ilmu serupa. Atau setidak-tidaknya bersumber pada cabang ilmu yang sama?”
Pertanyaan itu telah berputar-putar di kepalanya. Namun ia menjadi semakin pasti, bahwa ilmu itu senada dengan ilmu yang dipelajari oleh Tohjaya dari gurunya yang diliputi oleh rahasia, yang tugasnya sehari-hari justru penasehat Ayahanda Sri Rajasa di istana Singasari.
Dan dari penasehat ayahandanya itulah Tohjaya menyadap ilmu yang kasar dan kadang-kadang menjadi seakan-akan liar. Seperti juga Kiai Kisi yang mulai terdesak itu-pun menjadi liar pula.
Dengan demikian maka orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu-pun menjadi semakin cermat mengamati tata gerak lawannya. Hampir setiap unsur gerak yang khusus selalu diingatnya baik-baik. Tata gerak yang pernah tampak pada Tohjaya maupun yang belum.
Sejenak kemudian maka perkelahian itu-pun menjadi semakin nyata bagi mereka yang menyaksikannya. Kiai Kisi, yang merasa dirinya tidak terkalahkan itu semakin terdesak surut. Betapa ia berusaha mempertahankan dirinya, tetapi lawannya memang memiliki beberapa kelebihan yang tidak teratasi. Meskipun Dandang Kaluwat itu sama sekali tidak mengimbangi kekasaran Kiai Kisi yang hampir menjadi buas itu, namun ia sanggup menguasai setiap gerak dan sikapnya.
Kiai Kisi akhirnya tidak dapat mengelakkan diri dari kenyataan itu, sehingga segenap kemampuannya telah diperasnya habis-habisan.
Dalam pada itu, kedua kawannya-pun menjadi cemas melihat perkembangan dari perkelahian itu. Orang yang menamakan diri Dandang Kaluwat dan tiba-tiba saja masuk ke arena pertempuran, telah membuat segala-galanya berubah. Semua rencana yang telah disusun menjadi pecah.
Sejenak kemudiannya masih tetap berdiam diri. Sekali-sekali disambarnya ketiga prajurit Singasari dengan tatapan matanya yang penuh kebimbangan. Mereka berdua telah melihat ketiganya bertempur melawan Kiai Kisi. Sehingga dengan demikian mereka-pun telah dapat menjajagi, betapa ketiganya adalah prajurit-prajurit yang benar-benar memeluk tugas keprajuritannya.
“Persetan,” tiba-tiba salah seorang dari kedua orang kawan Kiai Kisi itu menggeram didalam hatinya, “ketiga orang itu harus dibinasakan dahulu. Baru aku dapat membantu Kiai Kisi melawan iblis yang tiba-tiba saja telah mengganggu itu,” dengan satu isyarat ia mengajak kawannya segera berbuat. Dan agaknya kawannya-pun mempunyai perhitungan yang serupa pula. Karena itu, maka keduanya-pun segera beringsut dari tempatnya perlahan-lahan. Mereka berharap bahwa geraknya tidak menumbuhkan kecurigaan, sehingga dengan serta-merta mereka dapat menyerang dan menjatuhkan lawannya.
Tetapi ternyata ketiga prajurit Singasari itu-pun bukan kanak-anak lagi yang sedang terpesona melihat sepasang penari di malam peralatan. Karena itu, gerak kedua kawan Kiai Kisi itu telah menimbulkan kecurigaan pula kepada mereka.
Dengan diam-diam ketiganya mempersiapkan dirinya. Mereka masih membawa senjata-senjata mereka di tangan. Namun mereka masih belum beringsut dari tempatnya.
Sejengkal demi sejengkal kedua kawan Kiai Kisi itu beringsut terus, semakin lama semakin dekat dengan ketiga prajurit Singasari. Meskipun nampaknya ketiga prajurit itu tidak menghiraukan mereka, namun mereka sudah bersiap menghadapi setiap kemungkinan.
Ketika kedua orang itu merasa waktunya telah tiba, dengan satu isyarat pula, tiba-tiba saja keduanya telah meloncat menyerang dengan garangnya.
Tetapi tidak seperti yang mereka duga, ketiga prajurit itu telah siap menyambut serangannya. Dengan tangkasnya mereka menghindar dan bahkan dengan cepat pula mereka-pun berganti menyerang.
Justru kedua kawan Kiai Kisi itulah yang terkejut. Sejenak mereka menjadi bingung. Namun sejenak kemudian mereka telah berhasil menguasai keadaan dan kebingungan didalam diri masing-masing, sehingga keduanya-pun segera menjadi mapan.
Prajurit-prajurit Singasari itu tidak merasa lagi terikat pada sikap perang tanding. Apalagi setelah kedua orang itu menyerang dengan diam-diam, mereka seakan-akan merupakan prajurit-prajurit di medan perang. Siapa yang lengah, ialah yang akan binasa. Tidak seperti tata kehormatan di dalam perang tanding yang beradu dada dan selalu menyerang dengan sikap jantan.
Demikianlah maka kedua kawan Kiai Kisi itu-pun segera terlibat di dalam perkelahian yang seru melawan ketiga prajurit Singasari itu. Ternyata keduanya juga bukan orang-orang kebanyakan. Keduanya agaknya murid-murid yang terpercaya pula dari Kiai Kisi di samping muridnya yang menjadi kepala berampok yang bersembunyi di padukuhan itu.
Kai Kisi sendiri yang terlibat didalam perkelahian yang berat, masih sempat juga sejenak melihat perkelahian yang terjadi. Ia memang berharap bahwa kedua murid-muridnya itu dapat segera mengalahkan lawannya.
Namun, ketiga prajurit Singasari itu-pun bukan pula prajurit yang dipungutnya dari antara para pengawal di padukuhan-padukuhan. Ketiganya adalah prajurit pilihan, dan bahwa seorang di antaranya adalah prajurit yang sudah mendapat kepercayaan memimpin pasukan kecil yang membawa Putera Mahkota, sedang dua yang lain adalah prajurit sandi yang terpercaya.
Itulah sebabnya maka kedua orang itu tidak segera dapat menguasai lawannya. Bahkan perkelahian di antara mereka itu menjadi kian sengit. Ketiga prajurit yang tidak mampu melawan Kiai Kisi itu kini berjuang mati-matian untuk melawan dua orang muridnya.
Namun kemudian ternyata bahwa di dalam perkelahian yang demikian, dua orang kawan Kiai Kisi yang menurut tata geraknya adalah murid-muridnya itu, memiliki beberapa kelebihan dari ketiga prajurit Singasari itu. Geraknya yang kasar dan liar, kadang-kadang membuat, lawan-lawannya menjadi bingung, dan bahkan ngeri dan berdebar-debar. Tetapi mereka sadar, bahwa apabila mereka terpengaruh oleh perasaan itu, maka akhirnya mereka akan benar-benar dicincang oleh kedua orang yang buas itu.
Karena itulah maka mereka-pun segera berjuang mati-matian untuk mempertahankan dirinya. Ketiganya berusaha untuk bertempur sebaik-baiknya melawan kedua orang itu, tanpa menempatkan diri dalam suatu ikatan perlawanan. Ketiganya bertempur isi mengisi dan berusaha melawan kekasaran kedua lawannya itu dengan kecepatan bergerak. Sekali-sekali mereka berputar-putar, namun tiba-tiba mereka menyerang berganti-ganti.
Agaknya usaha itu sedikit memberikan pengaruh. Kecepatan bergerak ketiga prajurit Singasari itu agaknya berhasil mengurangi tekanan-tekanan dari kedua orang yang semakin lama menjadi semakin ganas karena kemarahan yang melanda dinding jantung mereka.
Tetapi untuk mengalahkan ketiga prajurit Singasari yang terpilih itu memang tidak terlampau mudah. Mereka memerlukan waktu dan perjuangan yang cukup berat.
Namun dalam pada itu Kiai Kisi sendiri semakin lama menjadi semakin terdesak. Ia tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang. Betapa liarnya cara yang dipakainya, tetapi justru karena itu, maka ia-pun segera kehilangan kemantapannya untuk melawan serangan-serangan orang yang menyebut dirinya bernama Dandang Kaluwat itu.
Sekilas ia mencoba menuai perkelahian dua orang kawan-kawannya. Namun keduanya-pun agaknya masih memerlukan waktu yang lama, meskipun keduanya tidak terdesak.
Kehadiran orang yang menyebut dirinya bernama Dandang Kaluwat itu benar-benar di luar perhitungan Kiai Kisi. Dengan demikian, rencananya untuk menangkap Putera Mahkota semakin lama menjadi semakin pudar. Ia tidak akan dapat menggunakan Putera Mahkota untuk memeras kerajaan. Ia tidak akan dapat berbuat apa-apa seperti yang diinginkannya apabila Putera Mahkota itu ada di tangannya.
Dalam kecemasannya itu, masih juga terngiang segala janji yang pernah didengarnya. Rencana yang tidak saja disusunnya sendiri. Namun kenyataan yang dihadapinya benar-benar di luar dugaan.
“Apakah aku memang dijebak dengan cara ini?” ia menggeram di dalam hatinya, “atau iblis ini memang mempunyai kepentingan sendiri, yang kebetulan bersamaan waktunya, atau iblis ini memang berkepentingan pula dengan Putera Mahkota?”
Demikianlah maka akhirnya Kiai Kisi sampai pada suatu kesimpulan, bahwa ia harus mempergunakan ilmu pamungkasnya. Ia harus mempergunakan aji yang diandalkan selama ini untuk menyelesaikan kesulitan yang timbul didalam setiap pertempuran melawan siapa-pun juga. Biasanya, setiap orang yang tidak dapat dikalahkannya dengan kemampuan wantahnya. akan segera dibinasakan dengan aji pamungkasnya.
Agaknya orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu-pun harus dihancurkannya dengan ilmu tertingginya, sehingga tubuhnya akan robek tersayat-sayat.
“Apaboleh buat. Ia harus menyesali kesombongannya,” berkata Kiai Kisi didalam hatinya.
Demikianlah, ketika Kiai Kisi benar-benar tidak mampu lagi melawan kecepatan gerak orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat, maka ia-pun segera mempersiapkan dirinya untuk melepaskan aji pamungkasnya.
Dengan suatu loncatan yang jauh ia berusaha mendapat kesempatan sesaat, untuk membangunkan kekuatan tertingginya. Orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat, yang berusaha memburunya tiba-tiba tertegun ketika ia melihat Kiai Kisi telah bersikap dan pemusatan segenap kekuatan yang ada di dalam dirinya.
“O,” berkata Dandang Kaluwat, “kau pergunakan aji pamungkasmu?”
Kiai Kisi tidak menjawab. Tetapi ia sudah berhasil membangunkan kekuatannya.
Orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu termangu-mangu sejenak. Tetapi ia-pun tidak mau hancur berkeping-keping oleh kekuatan aji lawannya, sehingga ia-pun harus melawannya pula dengan kekuatan tertingginya.
Kedua kawan Kiai Kisi yang bertempur melawan ketiga prajurit Singasari sempat melihat, bahwa Kiai Kisi sudah bersikap. Karena itu, mereka-pun menjadi berdebar-debar. Mereka sandar, bahwa Kiai Kisi benar-benar tidak mampu melawan orang yang menyebut dirinya bernama Dandang Kaluwat itu dengan tenaga wantahnya, sehingga ia harus membinasakannya dengan kekuatan terakhir yang disimpannya.
“Sebentar lagi orang yang menamakan dirinya Dandang Kaluwat itu pasti akan remuk. Tulang-ulangnya akan berpatahan dan darahnya akan memancar seperti air di dalam belanga yang terbanting di atas batu hitam.” mereka berkata kepada diri sendiri. Meskipun Kiai Kisi adalah gurunya dan bahkan keduanya adalah orang-orang yang liar pula, tetapi kematian yang demikian, adalah kematian yang paling mengerikan.
“Setelah orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu, akan datang gilirannya ketiga orang ini,” salah seorang dari mereka meneruskan di dalam hatinya, “kalau Kiai Kisi, sudah marah, dan sekali membangun aji pamungkasnya, maka setiap lawan akan mengalami nasib yang serupa.”
Terbayang dirongga matanya burung-burung gagak yang besok siang akan beterbangan mengitari padang ilalang ini. Karena bau darah dan daging yang berceceran.
“Mungkin juga setiap prajurit Singasari yang lain, kecuali putera Mahkota.”
Demikianlah pertempuran itu kian menjadi tegang. Bahkan kedua kawan Kiai Kisi itu hampir tidak sempat lagi melayani lawannya, karena ia ingin melihat, apa yang akan terjadi kemudian atas orang yang menamakan diri Dandang Kaluwat.
Tetapi lawan-lawannya, ketiga prajurit Singasari itu-pun mulai tertarik pula kepada akhir dari perkelahian mati-matian antara Kiai Kisi dan orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat. Mereka-pun mengerti pula, bahwa Kiai Kisi sudah sampai pada puncak tertinggi dari ilmu terakhirnya.
Itulah sebabnya maka mereka-pun menjadi tegang pula, sehingga mereka tidak lagi menyerang lawan-lawannya dengan bersungguh-sungguh. Bahkan kemudian seakan-akan mereka telah berhenti bertempur untuk mendapat kesempatan melihat apa yang telah terjadi.
Dalam pada itu Kiai Kisi-pun sudah siap untuk menghantamkan ilmu terakhirnya. Namun pada saat itu, orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu-pun telah memusatkan segenap akal budinya. Maka terbangunlah suattu kekuatan yang dahsyat yang kemudian telah siap untuk menerima kekuatan tertinggi dari Kiai Kisi. Dan kekuatan yang tersalur lewat anggauta-anggauta badan orang yang menamakan dirinya Dandang Kaluwat itu adalah kekuatan yang tiada terkira, yang di sebut aji Gundala Sasra.
Kiai Kisi melihat juga orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu sedang berusaha mempertahankan dirinya. Tetapi Kiai Kisi yakin, bahwa tidak ada kekuatan yang akan mampu menahan kekuatan pamungkasnya. Betapa-pun dahsyatnya ilmu yang dimiliki lawannya, namun aji pamungkasnya adalah kekuatan yang tidak ada duanya di muka bumi.
Demikianlah, maka sejenak kemudian Kiai Kisi telah meloncat untuk melontarkan kekuatan ajinya. Sambil berteriak nyaring tangannya terayun tepat mengarah ke kepala Dandang Kaluwat. Tetapi orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu-pun telah siap pula. Ia-pun segera mengimbangi serangan lawannya, meloncat sambil mengayunkan tangannya pula, yang telah dilambarinya aji Gundala Sasra.
Sejenak kemudian terjadilah benturan yang dahsyat antara dua kekuatan raksasa. Dua kekuatan yang hampir tidak ada bandingnya. Seperti beradunya petir di udara, maka kedua kekuatan raksasa itu telah menimbulkan akibat pada kedua orang yang telah melontarkannya.
Ternyata kekuatan kedua aji itu hampir berimbang. Meskipun kekuatan aji Gundala Sasra memiliki beberapa kelebihan, tetapi agaknya orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu masih belum menguasainya dengan sempurna. Sehingga dengan demikian, maka kedua orang itu-pun segera terlempar beberapa langkah surut. Seperti Kiai Kisi, maka orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu-pun terbanting di tanah dan berguling berapa kali.
Namun ternyata bahwa ketahanan tubuh mereka benar-benar luar biasa. Hampir berbareng pula mereka meloncat bangkit. Dan hampir berbareng pula mereka telah siap untuk melepaskan serangan-serangan berikutnya dengan kekuatan aji yang mereka miliki masing-masing.
Tetapi sikap orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat agak berbeda. Tampaknya ia menjadi bertambah tegang. Tangannya yang bersilang di dada menjadi bergetar dan seolah-olah tanah-tanah di bawah kakinya yang sedikit merendah, tidak kuat lagi menahan berat tubuhnya.
Ternyata bahwa orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu kini benar-benar telah memeras segenap kemampuan yang di dalam hidupnya sehari-hari terpendam di bawah kehendaknya. Kini, dalam keadaan yang sangat genting, semuanya itu telah diungkit oleh kehendak yang terpusat dengan segenap akal budi dan keyakinan.
Orang yang menamakan dirinya Dandang Kaluwat itu-pun kemudian tidak sekedar menyiapkan aji Gundala Sasra untuk melawan serangan lawannya, tetapi juga unsur-unsur kekuatan aji Kala Bama yang telah luluh di dalam suatu pancaran sikap dan perbuatan. Itulah sebabnya, maka orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu menjadi gemetar, karena kekuatan itu sendiri memang kekuatan yang hampir tidak terdukung olehnya.
Dan sejenak kemudian terjadilah saat-saat yang mendebarkan itu. Sekali lagi Kiai Kisi meloncat untuk melepaskan serangannya. Ia-pun berusaha untuk membangunkan segenap kekuatan yang masih ada di dalam dirinya.
Tetapi kali ini kekuatannya telah membentur luluhnya dua kekuatan yang dahsyat tiada taranya. Aji Gundala Sasra dan aji Kala Bama. Karena itu, maka alangkah malangnya nasib Kiai Kisi. Meskipun lawannya masih belum mampu menguasai kesempurnaan luluhnya dua kekuatan itu, namun benturan itu telah melemparkannya beberapa langkah surut. Sekali lagi ia terbanting di tanah. Tetapi kali ini terasa betapa dadanya menjadi sakit dan sesak. Seakan-akan tulang-ulang iganya telah tertindih oleh beratnya Gunung Semeru.
Karena itu, maka sejenak Kiai Kisi menggeliat. Namun sejenak kemudian ia tidak kuasa lagi menahan himpitan didadanya, sehingga ia-pun menjadi pingsan.
Dalam pada itu, lawannya yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu-pun terduduk di tanah untuk beberapa saat. Terasa tubuhnya menjadi seberat timah dan nafasnya seakan-akan terputus dikerongkongan. Dengan serta-merta ia memusatkan segenap sisa dan tenaganya, untuk mencoba mengatasi kesulitan di dalam dirinya itu, sehingga perlahan-lahan nafasnya telah mengalir kembali, meskipun masih tersengal-sengal.
Sementara itu, kelima orang yang menyaksikan itu, berdiri seakan-akan membeku. Mereka melihat dua kekuatan raksasa yang telah beradu. Dan kini mereka sedang menunggui akibat dari benturan kekuatan raksasa itu.
Namun akibat dari benturan itu, telah menumbuhkan kecemasan dan kebingungan yang amat sangat pada dua orang kawan Kiai Kisi yang masih tegak ditempatnya.
Mereka tidak menyangka bahwa hal yang demikian itu dapat terjadi. Bagi mereka Kiai Kisi adalah kawan, guru dan orang yang paling dikagumi. Selama ini mereka belum pernah menemui kekuatan yang apalagi melebihi, bahkan mengimbangi-pun tidak.
Tetapi ternyata kini mereka menyaksikan kenyataan itu. Kiai Kisi yang bagi mereka adalah kawan, guru dan kebanggaan sekaligus itu, terkapar di tanah tanpa dapat berbuat sesuatu setelah kekuatannya membentur kekuatan orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat. Tetapi kedua orang itu tidak dapat menyebutkan, kekuatan apakah yang sebenarnya tersimpan di dalam diri Dandang Kaluwat.
Dalam kebingungan itu mereka melihat Dandang Kaluwat duduk di tanah sambil memusatkan segenap sisa tenaganya. Ia sedang berjuang untuk menemukan keseimbangan didalam dirinya, mengatur pernafasannya dan mengatasi segala macam akibat dari benturan yang dahsyat itu.
Sejenak keduanya termangu-mangu. Namun tiba-tiba salah seorang memberikan isyarat kepada yang lain, sehingga tiba-tiba saja keduanya meloncat menyerang orang yang menamakan diri Dandang Kaluwat itu.
Tetapi untunglah, bahwa ketiga prajurit Singasari itu tidak lengah. Demikian mereka melihat gelagat yang mencurigakan, mereka-pun segera bersiap, sehingga ketika mereka melihat kedua orang itu menyerang, maka mereka-pun segera berloncatan untuk menahan kedua orang itu.
Sambil mengumpat habis-habisan kedua orang itu terpaksa menahan diri sejenak. Mereka terpaksa melayani ketiga prajurit Singasari yang menyerangnya itu dengan segenap kemampuan yang ada di dalam diri mereka.
Diantara mereka-pun segera terjadi pertempuran yang sengit pula. Mereka mengulangi perkelahian mereka dengan memeras segenap kemampuan. Ketiga prajurit Singasari itu seakan-akan kini mendapat tenaga baru setelah Kiai Kisi tidak berdaya lagi, sedang kedua lawannya bahkan dalam keadaan sebaliknya. Mereka mulai dirayapi kecemasan dan ketakutan, apabila nanti orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu telah menemukan kekuatannya kembali, maka keduanya tidak akan berarti apa-apa lagi baginya.
Dengan demikian, maka kedua orang yang semula menunjukkan beberapa kelebihannya itu, kini harus berjuang mati-matian agar mereka dapat mempertahankan diri. Berjuang melawan ketiga prajurit Singasari itu dan berjuang melawan kekecilan hati sendiri setelah Kiai Kisi tidak ada di antara mereka.
Sejenak kemudian, selagi mereka bertempur mati-matian, maka orang yang menamakan dirinya Dandang Kaluwat itu telah mulai menemukan keseimbangan di dalam dirinya kembali. Segala jalur-jalur nafas dan darah telah berjalan seperti sediakala. Hanya kekuatannyalah yang masih belum pulih sama sekali, meskipun lambat laun, serasa mulai menjalari tubuhnya kembali bersama arus darahnya.
Sejenak kemudian orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu bangkit. Terhuyung-huyung ia berdiri sambil memandang perkelahian yang sedang berlangsung. Sambil menggeliat ia mengibas-ngibaskan tangan dan menggerakkan jari-jari tangannya. Kemudian dijulurkannya kedua kakinya berganti-ganti.
Orang yang menyebut dirinya bernama Dandang Kaluwat itu menarik nafas dalam-dalam. Kesegaran angin malam membuat badannya menjadi segar.
Sejenak kemudian ia-pun berpaling. Dilihatnya Kiai Kisi masih terbaring diam.
Setapak demi setapak ia berjalan mendekatinya. Ketika ia sudah berdiri disisinya, maka ia-pun kemudian berjongkok di samping tubuh Kiai Kisi itu.
Sekilas ia masih memandang pertempuran yang masih berlangsung dengan serunya. Ia masih sempat menilai dan membuat perhitungan atas perkelahian itu.
“Perkelahian itu masih akan berlangsung lama,” katanya didalam hati, “biarlah mereka menjadi lelah lebih dahulu.”
Orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu sama sekali tidak menghiraukannya lagi. Kini perhatiannya tertuju kepada orang yang pingsan dihadapannya.
Perlahan-lahan orang yang menamakan dirinya Dandang Kaluwat itu memijit pundak Kiai Kisi. Kemudian bagian atas dari perutnya. Diangkatnya kedua tangannya perlahan-lahan kemudian sebuah sentuhan dipinggangnya, membuat Kiai Kisi mulai bergerak-gerak sedikit demi sedikit.
Tetapi ketika perlahan-lahan ia mulai membuka matanya, maka justru dari mulutnya mulai mengalir darah yang kehitam-hitaman pula.
Dengan tubuh yang gemetar Kiai Kisi melihat dalam keremangan malam, bayangan yang samar-samar. Perlahan-lahan ia mencoba menggerakkan kepalanya. Tetapi ia sudah tidak mampu lagi mengangkatnya.
“Siapa kau?” desisnya.
“Dandang Kaluwat,” jawab orang yang berjongkok di sampingnya.
“Persetan,” Kiai Kisi menggeram.
“Kenapa?”
“Kau telah menggagalkan rencanaku. Aku ingin menangkap Putera Mahkota.”
“Siapa yang menyuruhmu?”
“Setan alas. Tidak ada. Aku memang ingin menangkap Putera Mahkota itu. Dimana Putera Mahkota itu sekarang?” Kiai Kisi mencoba untuk bangkit, tetapi tenaganya sudah lenyap sama sekali, sehingga ia-pun telah terjatuh kembali, berbaring di atas tanah yang berdebu.
Orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu mengerutkan keningnya. Dilihatnya darah yang sudah mulai mengental meleleh di bibir Kiai Kisi. Ternyata bahwa benturan yang terjadi telah merusakkan bagian dalam tubuhnya. Benturan antara kekuatannya melawan luluhnya aji Gundala Sasra dan aji Kala Bama walaupun belum sempurna.
“Kalau ia harus melawan kekuatan yang lebih sempurna, maka ia tidak akan dapat bertahan untuk hidup beberapa tarikan nafas saja,” berkata orang berkerudung itu di dalam hatinya.
Tetapi dalam keadaannya, Kiai Kisi masih mengigau, “Dimana Putera Mahkota? Aku akan menangkapnya.”
“Apakah kau pernah melihat Putera Mahkota?”
“Ya. Aku pernah melihat Putera Mahkota.”
“Dimana?”
“Di Istana Singasari.”
Orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu terkejut sehingga dengan serta-merta ia bertanya, “Apakah kau pemah masuk kedalam istana Singasari?”
“Ya. Aku pernah masuk dan melihat wajah Putera Mahkota.”
“Siapa kau sebenarnya dan dengan siapa kau berhubungan?” desis orang yang menamakan dirinya Dandang Kaluwat.
Tetapi Kiai Kisi justru menggeram. Sekali ia menggeliat lalu suara menjadi lemah, “Aku adalah Kiai Kisi. Aku berhubungan dengan setiap orang di istana. Apa pedulimu? Sekarang dimana Putera Mahkota? Dimana? Aku akan menangkapnya.”
Orang berkerudung hitam itu termenung sejenak. Namun kemudian dilihatnya tubuh Kiai Kisi menjadi semakin lemah. Bukan maksudnya untuk membunuh orang itu. Tetapi akibat dari benturan yang dahsyat itu, agaknya jiwanya tidak dapat tertolong lagi.
Karena itu, maka orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu menjadi semakin dekat. Perlahan-lahan ia berbisik, “Kau mencari Putera Mahkota?”
Kiai Kisi yang sudah memejamkan matanya tiba-tiba terbelalak lagi, “Ya. Aku akan membunuhnya sama sekali.”
Perlahan-lahan orang yang menamakan dirinya Dandang Kaluwat membuka kerudung hitam di wajahnya sambil membelakangi perkelahian yang sedang terjadi. Perlahan-lahan ia berkata, “Kiai Kisi, inilah Putera Mahkota.”
Mata Kiai Kisi menjadi semakin terbelalak. Samar-samar ia masih melihat wajah itu. Wajah yang sebenarnya memang pernah dilihatnya.
“Ya. Ya. Kau, kau Putera Mahkota itu,” desisnya.
“Dan kita telah bertempur secara jantan.”
“Tetapi, tetapi kenapa kau mampu melawan kekuatanku yang tertinggi?”
Orang berkerudung hitam yang sebenarnya adalah Anusapati itu tidak segera menjawab. Sementara Kiai Kisi masih berbicara, katanya, “Bukankah Putera Mahkota adalah seorang anak muda yang malas dan dungu, yang tidak mampu berbuat apa-apa? Tetapi kenapa kau mempunyai kekuatan aji yang dapat melampaui kekuatanku?”
Anusapati mengerutkan keningnya. Lalu sekali lagi ia mendesak, “Dengan siapa kau berhubungan?”
Kiai Kisi memandang Putera Mahkota itu dengan mata yang semakin suram, “Aku telah dijebak.”
“Ya. Kau sudah dijebak. Siapa yang menjebakmu? Siapakah yang telah menipumu untuk bertempur melawan Putera Mahkota? Seandainya kita tidak bertemu sekarang, besok, kita akan berhadapan pula. Dan kau akan mati dihadapan orang-orangmu. Nah, katakan, siapa yang telah menipu dan menjebakmu mempertemukan kau dengan Putera Mahkota, yang akan berarti kematianmu?”
Kiai Kisi mencoba menahan nafasnya yang memburu. Ia masih menggeliat. Tetapi wajahnya telah menjadi sepucat kapas.
“Aku, aku … “ suaranya terputus-putus.
“Siapa? Sebut namanya.”
Kiai Kisi menggerakkan bibirnya. Tetapi kemudian kepalanya tersentak. Kiai Kisi telah menarik nafasnya yang terakhir.
Anusapati-pun menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah Kiai Kisi yang membeku. Ia telah meninggal selagi ia akan mengucapkan sebuah nama Nama yang pasti sudah dikenal oleh Anusapati.
“Ternyata ada usaha untuk menjebakku disini,” desis Anusapati, “pasti orang istana yang mengetahui rencana perjalananku. Pasti orang yang pernah berhubungan dengan lingkungan keprajuritan, atau mendengar keputusan ayahanda untuk mengirim aku kemari bersama sepasukan kecil prajurit-prajurit ini.”
Anusapati tiba-tiba menggeram. Namun sejenak kemudian ia sadar akan keadaannya saat itu. Karena itu, maka dikenakannya kembali kerudung hitamnya. Perlahan-lahan ia berdiri dan melangkah mendekati arena.
Sejenak ia melihat perkelahian yang menjadi semakin seru. Meskipun ketiga prajurit Singasari itu kini berhasil bertahan namun tidak dapat diharap bahwa mereka akan segera memenangkan perkelahian. Apalagi sepeninggal Kiai Kisi, maka murid beserta anak buahnya pasti akan berbuat sesuatu. Karena itu, menurut perhitungan Anusapati, pertempuran tidak akan dapat ditunda lagi. Prajurit Singasari harus menyergap malam ini juga selagi sebagian orang-orang yang tinggal dipadukuhan itu sedang dilelahkan oleh kesibukan mereka menerima kedatangan Kiai Kisi, serta makan minum yang berlebih-lebihan.
Karena itu, maka Anusapati yang telah mendapatkan seluruh kekuatannya kembali itu-pun melangkah perlahan-lahan mendekati arena sambil berkata, “Aku tidak sengaja membunuhnya. Tetapi Kiai Kisi telah meninggal.”
Berita itu benar-benar telah mengejutkan kedua kawan-kawannya itu. Bahkan kemudian serasa kekuatan mereka telah susut sebagian sehingga perlawanan mereka tidak akan banyak berarti lagi.
Tetapi ternyata mereka juga tidak segera menyerah. Mereka masih berusaha menguasai perasaan mereka, agar mereka masih dapat melakukan perlawanan atas ketiga prajurit Singasari itu, dan bahkan orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat.
Namun perlawanan mereka semakin lama menjadi semakin tidak terarah karena kegelisahan yang semakin memuncak.
Dalam pada itu Anusapati yang masih memakai kerudung hitam itu-pun berkata, “Kalau mungkin, kalian harus menangkap keduanya hidup-hidup. Kalian memerlukan kedua orang itu untuk mendengar keterangannya tentang Kiai Kisi dan para perampok dipadukuhan itu. Mungkin masih ada orang lain yang berdiri di belakang mereka atau masih ada orang lain yang menggurui mereka, sehingga masih memungkinkan timbul akibat-akibat yang berkepanjangan.”
Ketiga prajurit Singasari yang sedang bertempur itu tidak menyahut. Tetapi mereka sependapat dengan Dadang Kaluwat, untuk menangkap keduanya hidup-hidup.
Namun untuk melakukannya agaknya tidak begitu mudah. Meskipun kedua orang itu sudah tidak mempunyai banyak harapan, tetapi untuk menangkap mereka hidup-hidup, agaknya memang terlalu sulit.
Ternyata orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu dapat mengerti kesulitan ketiga prajurit Singasari itu, sehingga setelah merenung sejenak, maka ia-pun melangkah mendekati arena. Diikutinya perkelahian itu dengan saksama, seakan-akan ia ingin mengetahui setiap gerak dari kedua belah pihak.
Namun tanpa diduga-duga, orang yang menyebut dirinya Dandang Kaluwat itu meloncat memasuki arena dan langsung menyentuh tubuh kedua orang kawan Kiai Kisi itu.
Sentuhan itu ternyata menentukan akhir dari perkelahian mereka. Sejenak mereka terhuyung-huyung. Namun kemudian terasa nafas mereka menjadi sesak. Dengan demikian, maka mereka tidak mampu lagi bergerak selincah perlawanannya yang sebelum terjadi sentuhan itu.
“Sekarang, kalian tidak akan mendapatkan kesulitan lagi untuk menangkap mereka hidup-hidup. Bawalah mereka ketempat yang agak jauh. Kemudian, sebelum para perampok itu menyadari apa yang telah terjadi, lakukanlah rencana kalian,” berkata orang berkerudung itu.
Senapati prajurit Singasari yang ikut didalam pertempuran itu ingin menjawab. Tetapi orang yang menamakan diri Dandang Kaluwat itu telah meloncat meninggalkan mereka dan sejenak, kemudian hilang di dalam kegelapan.
Kini tinggal kedua orang kawan Kiai Kisi yang sudah menjadi semakin payah itu. Mereka seakan-akan tidak lagi dapat berbuat apa-apa ketika serangan-serangan merekutnya melanda mereka, sehingga sejenak kemudian mereka-pun jatuh terduduk dengan lemahnya.
Ketiga prajurit Singasari itu tidak menemui kesulitan lagi untuk menangkap mereka. Meskipun mereka mencoba untuk meronta, tetapi akhirnya mereka harus membiarkan kedua tangan masing-masing diikat di belakang dengan ikat kepala mereka sendiri.
“Jangan mencoba berbuat sesuatu yang dapat membahayakan jiwamu sendiri.”
Keduanya tidak menjawab. Namun terdengar mereka menggeram. Kedua kawan Kiai Kisi itu menjadi heran terhadap diri mereka sendiri yang seolah-olah menjadi tidak bertenaga sama sekali.
“Apa yang telah dilakukan oleh orang berkerudung itu?” mereka bertanya kepada diri mereka sendiri. Tetapi mereka tidak dapat menemukan jawabnya.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar