Minggu, 31 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 26-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 26-01*

Karya.  : SH Mintardja

Tetapi pada pagi hari berikutnya, Empu Baladatu ternyata telah minta diri. Ia sama sekali tidak menanyakan tentang harta benda itu. Setiap kali ia hanya berpesan, agar orang-orang Serigala Putih merubah sikapnya terhadap perempuan dan anak-anak mereka yang kebetulan lahir perempuan pula.

“Aku akan pergi” berkata Empu Baladatu, “pada saat-saat yang belum dapat aku katakan, aku akan datang. Kalian tidak boleh bertengkar lagi dengan orang-orang Macan Kumbang. Aku akan singgah di padepokan mereka dan memberikan pesan yang sama. Selebihnya, berhati-hatilah terhadap orang-orang yang bernama Mahisa Bungalan dan Linggadadi. Keduanya adalah musuh yang paling buas bagi orang-orang yang mereka sebut berilmu hitam. Yang mereka maksud sudah tentu adalah kita sekalian.”

Orang-orang dari gerombolan Serigala Putih itu mengangguk-angguk.

“Hati-hatilah menjaga diri” berkata Empu Baladatu kemudian.

“Tetapi Empu” tiba-tiba saja orang yang dianggap memiliki ilmu tertua dan tertinggi itu bertanya, “bagaimanakah sikapku terhadap Empu Sanggadaru dan penguasa di Singasari yang ternyata adalah dua orang anak muda yang baik hati itu?”

Empu Baladatu mengerutkan keningnya. Ia memang sulit sekali untuk menentukan sikap Terhadap kedua pemimpin Singasari itu ia sama sekali tidak ragu-ragu. Meskipun keduanya adalah orang yang baik hati dan pemurah, tetapi baginya, sifat yang dianggapnya lemah itu justru menguntungkannya, meskipun kedua anak-anak muda itu memiliki ilmu yang luar biasa.

Tetapi untuk menentukan sikap terhadap Empu Sanggadaru memang terlampau sulit baginya. Ia sadar, bahwa kakaknya tentu tidak akan bersedia berdiri di pihaknya. Tetapi untuk memusuhinya, rasa-rasanya masih ada perasaan segan, meskipun sudah terbayang pula di dalam angan-angannya, jika Empu Sanggadaru itu kelak akan menjadi penghalang bagi cita-citanya, maka ia tidak akan ragu-ragu untuk mengambil sikap.

Apalagi Empu Baladatu merasa, bahwa ilmu kakaknya tidak terpaut banyak dari ilmunya sendiri.

“Jika aku berhasil menambah tingkat ilmuku selapis lagi, maka aku akan menjadi orang yang akan mampu melakukan apa saja.” berkata Empu Baladatu di dalam hati.

Namun dalam pada itu, ia harus menjawab pertanyaan orang dari gerombolan Serigala Putih itu, sehingga kemudian katanya, “Empu Sanggadaru adalah orang yang baik. Ia tidak akan mengganggu kita. Dan kita pun tidak akan mengganggunya. Ia adalah kakak kandungku yang mengerti apa yang aku inginkan, meskipun kami akan mengambil jalan yang berbeda.” ia berhenti sejenak, lalu, “dan bukankah persoalan gerombolan Serigala Putih dan Empu Sanggadaru sudah selesai? Kematian pemimpinmu merupakan akhir dari pertentangan yang berkepanjangan.”

Orang tertua itu mengangguk-angguk.

“Apakah kalian masih tetap mendendam terhadap kakang Sanggadaru yang telah menyebabkan kematian pemimpinmu?”

Orang tertua itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Tidak Empu, aku tidak mendendamnya.”

“Tetapi meskipun demikian, tanpa aku, jangan membuat hubungan dengan Empu Sanggadaru. Jika terjadi sesuatu akibat kelengahanmu, aku tidak bertanggung jawab.”

Orang tertua itu mengangguk-angguk.

“Nah, hati-hatilah. Aku akan kembali ke padepokanku. Pada saatnya aku akan datang. Sebelumnya mungkin sekali aku akan mengirimkan orang-orangku untuk melakukan hubungan-hubungan jika aku berhalangan.”

“Baiklah Empu” berkata orang tertua, “kami akan menunggu, apakah yang harus kami lakukan.”

“Baiklah. Untuk sementara, kaulah yang harus memimpin kawan-kawanmu. Usahakan agar ilmu mereka meningkat dengan caramu, karena pada suatu saat, aku akan mempergunakan caraku bagi kepentingan kalian.”

“Kami menunggu” jawab orang tertua itu.

Demikianlah Empu Baladatu pun meninggalkan padepokan Serigala Putih untuk kembali ke padepokannya. Ia merasa usahanya untuk menguasai gerombolan yang kehilangan pemimpin itu berhasil. Sejak ia melihat kematian pemimpin Serigala Putih, maka ia sudah mempunyai pertimbangan tersendiri, sehingga sikapnya yang nampaknya lunak dan baik telah berhasil membawanya ke dalam lingkungan Serigala Putih dan bahkan sekaligus, tanpa diperhitungkan lebih dahulu, bahkan gerombolan Macan Kumbang. Hanya karena kecepatannya menentukan sikap sajalah, maka kedua gerombolan itu berada di bawah kekuasaannya, dan setiap saat akan dapat dipergunakannya.

Dalam perjalanan kembali itulah Empu Baladatu singgah sejenak di padepokan gerombolan Macan Kumbang yang suasana serta keadaannya tidak banyak berbeda dengan padepokan Serigala Putih. Orang-orang di padepokan gerombolan Macan Kumbang pun sama sekali tidak menghargai perempuan-perempuan yang ada di padepokan mereka. Dan seperti di padepokan gerombolan Serigala Putih, maka Empu Baladatu pun menghembuskan nafas kehidupan yang berbeda.

Namun dalam pada itu, kedua-duanya benar-benar telah berada di bawah pengaruhnya. Kengerian dan harapan adalah ikatan yang tidak dapat mereka lepaskan lagi.

Empu Baladatu hanya berada semalam di padepokan gerombolan Macan Kumbang. Setelah memberikan beberapa petunjuk dan menetapkan orang yang untuk sementara memegang pimpinan selama ia tidak berada di padepokan itu, maka Empu Baladatu pun segera kembali ke padepokannya.

”Semuanya harus direncanakan dengan baik” berkata Empu Baladatu kepada para pengawalnya.

“Ya Empu. Tetapi apakah Empu tidak curiga bahwa sepeninggal Empu mereka akan menentukan sikap yang lain?”

“Mereka tidak mempunyai kekuatan cukup untuk berbuat demikian. Mereka merasa kehilangan pemimpin sehingga secara jiwani, mereka menjadi lemah sekali, meskipun sebenarnya mereka masih cukup kuat secara badani. Jika aku berhasil, maka kedua padepokan itu akan dapat menjadi landasan kekuatan yang berbahaya bagi Singasari.”

Pengawalnya mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa jika rencana itu berhasil, maka kemungkinan-kemungkinan yang cerah akan dapat terjadi.

“Tetapi kita harus dapat dengan cepat menguasai daerah diluar Singasari sendiri sebelum daerah-daerah itu menentukan sikap. Dan untuk itu harus ada perencanaan sebaik-baiknya. Dalam pada itu, para pemimpin pemerintahan di setiap daerah, para Raja, para Akuwu dan Buyut akan ikut menentukan. Jika kita kurang memperhitungkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi, maka kita akan sesat.”

Pengawalnya hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Tetapi mereka dapat membayangkan keterangan Empu Baladatu,,

“Kemenangan Akuwu Tumapel yang kecil saat itu atas Kediri dapat dipakai sebagai cermin. Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa dapat memperhitungkan waktu dan keadaan sebaik-baiknya. Ketidak puasan para brahmana dipergunakannya sebaik-baiknya untuk melaksanakan rencananya menguasai Kediri yang besar.”

Para pengawalnya masih mengangguk-angguk.

“Nah, kita harus menemukan kelemahan Singasari. Kita harus dapat menumbuhkan ketidak puasan pada sebagian dari rakyat Singasari agar pada suatu saat ketidak puasan itu akan dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya.”

Pengawalnya masih mengangguk-angguk.

“Itulah sebabnya, aku masih harus memikirkannya. Masih banyak hal yang harus diperhitungkan. Bukan sekedar menyusun kekuatan dan bertempur di arena.”

Demikianlah Empu Baladatu telah memberikan beberapa landasan sikap kepada para pengawalnya yang terperdaya. Namun yang masih belum diketemukan oleh Empu Baladatu adalah orang-orang yang dapat diajaknya berpikir, membuat pertimbangan dan menentukan sikap.

“Tetapi jika tidak ada orang lain” katanya di dalam hati, “aku sendiri agaknya akan mampu melakukannya. Kakang Sanggadaru agaknya tidak sejalan dengan rencanaku. Bahkan nampaknya ia terlampau mengagumi kedua anak muda yang kini sedang memegang pemerintahan.”

Sekilas terbayang wajah-wajah yang tegang dari orang-orang yang bernama Linggadadi dan Mahisa Bungalan. Namun Empu Baladatu kemudian menggeretakkan giginya sambil berkata, “Keduanya adalah orang-orang yang tidak mempunyai kekuatan apapun di belakangnya. Mungkin mereka mempunyai beberapa kawan atau saudara seperguruan. Tetapi mereka bukan kekuatan yang perlu dicemaskan.” Namun kemudian, “tetapi perlu diperhitungkan usaha mereka menjumpai orang-orangku seorang demi seorang atau sekelompok kecil demi sekelompok kecil yang akhirnya benar-benar dapat mengurangi kekuatan dalam keseluruhan.”

Dalam usahanya untuk mengatasi kemungkinan itu, maka Empu Baladatu berniat untuk mengirimkan beberapa orangnya khusus untuk mengetahui lebih banyak dari kedua orang itu, tanpa menimbulkan kemungkinan benturan, karena Empu Baladatu masih menganggap bahwa orang-orang yang menamakan diri pembunuh orang berilmu hitam itu benar-benar memiliki kelebihan dari orang-orangnya.

“Aku harus mengirimkan beberapa orang dalam tugas sandi tanpa memperkenalkan ciri-ciri perguruan yang disebut ilmu hitam” berkata Empu Baladatu di dalam hatinya.

Demikianlah, ternyata Empu Baladatu benar-benar melakukan seperti yang dikehendakinya itu. Ketika ia sampai di padepokannya dan berbicara dengan orang-orang terdekat, maka ia pun kemudian memutuskan untuk melepaskan beberapa orang untuk mencari keterangan lebih jauh tentang Mahisa Bungalan anak Mahendra dan Linggadadi..

“Tetapi kalian tidak boleh sama sekali menunjukkan ciri-ciri dan tanda-tanda yang dapat menjebak kalian. Bukan kalian yang dapat mengenali Linggadadi dan Mahisa Bungalan, namun sebaliknya, merekalah yang akan berhasil menjebak kalian.”“

Orang-orang itu mengangguk-angguk.

“Kalian pergi sebagai orang-orang yang tidak memiliki kemampuan apapun yang dapat kalian banggakan. Kalian adalah perantau-perantau miskin yang mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain. Tugas kalian, mengetahui dengan lebih jelas lagi tentang Mahisa Bungalan dan Linggadadi. Bukan merekalah yang mengetahui lebih banyak tentang kalian dan bahkan membunuh kalian.”

Dengan demikian maka Empu Baladatu pun telah mempersiapkan beberapa orangnya untuk tugas itu. Dengan sungguh-sungguh ia memberikan beberapa petunjuk dan pesan.

“Tugas kalian tidak termasuk tugas yang berat. Kalian pergi menjelajahi daerah Singasari dan sekitarnya. Kalian tidak harus melakukan sesuatu selain mendengarkan berita. Kalian tidak harus berkelahi atau melakukan kekerasan apapun. Hanya jika jiwa kalian terancam, kalian boleh melakukan perlawanan. Itu pun harus kalian jaga, agar kalian tidak menunjukkan ciri perguruan kita.”

Enam orang telah disiapkan untuk tugas itu. Mereka mendapat latihan khusus dalam tata perkelahian yang agak menyimpang dari ciri-ciri perguruan mereka.

Setelah Empu Baladatu yakin bahwa mereka akan dapat menyamar diri, maka keenam orang itu pun kemudian dilepaskannya meninggalkan padepokan dengan pesan, agar mereka selain mendapatkan keterangan tentang Mahisa Bungalan dan Linggadadi, juga mencari keterangan tentang gerombolan yang disebut berilmu hitam, aliran yang manapun juga. Mereka akan dapat diserap untuk menjadi pengikut yang baik seperti gerombolan Serigala Putih dan gerombolan Macan Kumbang.

Dengan pakaian dan sikap seorang perantau maka keenam orang itu pun kemudian pergi memencar menempuh jalannya masing-masing. Dari padepokan mereka membawa bekal yang cukup, karena mereka akan menempuh perjalanan yang cukup panjang. Mereka membawa beberapa keping perak yang dapat mereka pergunakan jika perlu sekali. Namun bagi makan dan minum mereka sehari-hari, mereka sudah berbekal pakaian seorang perantau yang dapat mereka pergunakan untuk menumbuhkan belas kasihan orang lain.

Dalam pada itu, keenam orang itu pun merasa bahwa tugasnya bukanlah tugas yang berat dalam arti benturan-benturan jasmaniah. Mereka hanya harus melakukan dengan tekun, telaten dan tidak segera menjadi jemu dan apalagi putus asa.

Sepeninggal keenam orang itu, maka Empu Baladatu pun memerintahkan beberapa orang yang pernah ikut bersamanya ke padepokan gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang. Atas namanya orang-orang itu harus mengatur, agar orang-orang dari gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang selalu merasa bahwa Empu Baladatu adalah pemimpinnya sehingga semua perintahnya harus ditaati, selain harus melakukan pengawasan atas perkembangan padepokan itu selanjutnya.

Namun dalam pada itu, tidak semua orang di dalam kedua lingkungan itu dapat menahan diri. Bagaimanapun juga rahasia itu mereka simpan, namun orang-orang yang tidak terlalu puas dengan keadaan terakhir, diluar sadarnya telah berceritera kepada orang-orang lain yang pernah berhubungan dengan mereka. Orang-orang yang kadang-kadang mereka jumpai untuk membeli bahan makanan atau bahan pakaian, sehingga betapapun lambatnya, tetapi akhirnya beberapa orang pun mengetahui pula, bahwa kedua gerombolan itu telah berada di bawah pimpinan orang baru. Dan diantara beberapa orang itu termasuk orang yang bernama Linggadadi.

“Gerombolan itu sudah lama aku dengar” berkata Linggadadi kepada kakaknya.

“Mereka berada di bawah pimpinan seseorang yang memiliki ilmu hitam.” sahut Linggapati.

Keduanya termenung sejenak. Baru kemudian Linggapati berkata, “Kita tidak dapat bertindak tergesa-gesa. Kita harus berada di antara orang-orang kita untuk menyusun kekuatan. Kedua gerombolan ditambah dengan kekuatan Empu Baladatu sendiri, merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan.”

Linggadadi mengangguk-angguk.

“Kita tidak dapat menghadapi mereka seperti yang kita lakukan sebelumnya” berkata Linggadadi, “apalagi jika kita berhadapan dengan gerombolan-gerombolan yang karena sesuatu hal telah menggabungkan diri menjadi satu lingkungan. Agaknya Empu Baladatu dapat memanfaatkan kedua gerombolan perampok itu menjadi kekuatan yang lain, yang langsung atau tidak langsung merupakan kekuatan yang perlu kita perhatikan, jangka pendek dan jangka panjang.”

Linggapati mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian bersepakat untuk berada di dalam lingkungannya dan menempa diri lebih tekun lagi.

“Tetapi kita tidak boleh berada dalam lingkungan yang mati sehingga kita tidak mengetahui perkembangan keadaan” desis Linggapati.

Linggadadi mengangguk-angguk. Ia menyadari sepenuhnya bahwa padepokannya harus selalu mengikuti perkembangan keadaan terutama tentang kedua gerombolan yang telah diikat oleh seorang pemimpin dari keduanya.

Demikianlah, maka Linggapati dan Linggadadi pun kemudian berusaha untuk menempa diri bersama kekuatan yang ada padanya. Mereka tidak lagi merantau mencari orang-orang berilmu hitam dan sekaligus membinasakan mereka. Kini mereka ternyata berhadapan dengan gerombolan yang semakin lama menjadi semakin besar dan meluas.

Perlahan-lahan namun pasti, padepokan Linggapati dan Linggadadi pun semakin berkembang. Dalam kehidupan sehari-hari keduanya mempunyai pengaruh yang besar atas pemerintahan di Mahibit, sehingga keduanya seakan-akan mempunyai kekuasaan yang khusus melalui kekuasaan yang berada di tangan Akuwu.

“Jika pada suatu saat Akuwu Tumapel mampu mengalahkan kekuatan di Kediri yang besar, maka tidak mustahil bahwa Akuwu di Mahibit pun akan dapat mengalahkan kekuasaan di Singasari” berkata Linggapati kepada adiknya dan seluruh kekuasaan yang ada padanya.

Dengan hadirnya beberapa orang bekas prajurit yang berpengalaman di dalam lingkungannya, maka Linggapati dapat menyusun kekuatan yang semakin lama semakin berkembang. Beberapa orang yang telah terhimpun di dalam padepokannya pun mendapat tempaan lahir dan batin.

“Tanpa orang-orang berilmu hitam kita tidak perlu tergesa-gesa” berkata Linggapati, “tetapi kini kita harus bersikap lain. Orang-orang berilmu hitam itu akan dapat mendahului atau mengganggu usaha kita.”

Adiknya yang sependapat, berusaha sekuat-kuatnya untuk meningkatkan ilmu, bukan saja orang-orangnya, tetapi juga dirinya sendiri.

Namun dalam pada itu, berita tentang kekuasaan Empu Baladatu yang telah menembus ke dalam lingkungan gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang pun terdengar pula oleh para petugas sandi di Singasari. Orang-orang yang tidak terlalu puas dengan keadaan di dalam lingkungan mereka, ternyata tidak berhasil menyimpan rahasia itu serapat-rapatnya.

“Kedua gerombolan itu memiliki kekuatan yang cukup” seorang petugas sandi melaporkan kepada Lembu Ampal

Lembu Ampal termangu-mangu. Menurut pendengarannya, orang yang bernama Empu Baladatu itu adalah saudara Empu Sanggadaru, sehingga karena itu, maka ia pun menjadi ragu-ragu.

“Benarkah yang kau dengar?” bertanya Lembu Ampal.

“Sepanjang pendengaranku, benarlah demikian. Tetapi aku masih belum membuktikannya karena yang disebut bernama Empu Baladatu itu kini tidak berada di kedua padepokan itu.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk. Tetapi keterangan itu di terimanya dengan penuh keragu-raguan.

“Aku akan menemui Empu Sanggadaru” berkata Lembu Ampal di dalam hatinya.

Karena keragu-raguannya itulah maka Lembu Ampal masih belum menyampaikannya kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Ia ingin mendapat keterangan yang lebih pasti, selebihnya menunggu kedatangan Mahisa Agni yang masih belum kembali dari pengembaraannya bersama Mahisa Bungalan dan Witantra.

“Baiklah” berkata Lembu Ampal kemudian, “aku pun akan berusaha mendapatkan keterangan. Tetapi jika pendengaranmu benar, maka kita memang harus berhati-hati menghadapinya. Soalnya tentu bukan sekedar bermain-main.”

“Apakah sebaiknya kita mendekati kedua padepokan itu untuk mendapatkan kepastian?” bertanya petugas sandi itu.

“Jangan berbuat apapun juga. Aku sendiri akan mencari jalan.”

Petugas sandi itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Silahkan. Mudah-mudahan segera berhasil.”

Dengan demikian maka Lembu Ampal pun kemudian berusaha untuk mendapat keterangan lebih jauh tentang Empu Baladatu. Sumber yang mungkin dapat memberikan keterangan kepadanya adalah Empu Sanggadaru yang menurut pengertiannya adalah saudara kandung Empu Baladatu.

Dengan diam-diam maka Lembu Ampal pun kemudian pergi ke padepokan Empu Sanggadaru. Bahkan ia sama sekali tidak mengatakan kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Ia hanya mengatakan bahwa ia mohon ijin untuk pergi dalam sehari karena ada persoalan keluarga yang harus diselesaikan.

Dengan dua orang pengawalnya Lembu Ampal mengunjungi padepokan Empu Sanggadaru. Kedatangannya ternyata telah mengejutkan seisi padepokan, karena Lembu Ampal datang dengan diam-diam tanpa memberitahukannya lebih dahulu.

“Kami terkejut sekali” berkata Empu Sanggadaru.

“Maaf Empu, kami tidak sempat memberitahukan lebih dahulu akan kedatangan kami. Tiba-tiba saja kami didera oleh suatu kepentingan yang sangat mendesak.”

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Aku sudah menduga bahwa persoalan adikku agaknya telah terdengar sampai ke istana, “

Lembu Ampal pun tersenyum pula. Jawabnya,, “Dugaan Empu tepat sekali. Aku memang ingin mengetahui lebih banyak tentang Empu Baladatu.”

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia sadar bahwa saat seperti itu pasti akan datang, namun ia masih juga menjadi berdebar-debar.

Tetapi Empu Sanggadaru masih sempat berkata, “Baiklah. Aku memang tidak akan dapat ingkar dari pertanyaan tentang adikku itu. Tetapi aku ingin mempersilahkan Senapati untuk duduk lebih dahulu sambil melihat-lihat hasil buruanku. Setelah para cantrik menghidangkan seteguk air untuk menghapus dahaga, aku akan mengatakan serba sedikit yang aku ketahui tentang adikku itu.”

Lembu Ampal tidak menolak. Sambil memandang hasil buruan Empu Sanggadaru yang sudah dikeringkan di dalam ruang itu, ia meneguk air hangat dengan sepotong gula kelapa.

“Yang menarik” berkata Lembu Ampal, “adalah ular raksasa di luar bilik ini.”

Empu Sanggadaru tersenyum. Katanya, “Adikku juga mengagumi ular itu. Tetapi sudah tentu bagi Senapati, ular itu tidak ada artinya.”

Lembu Ampal tersenyum. Dan ia masih bertanya tentang beberapa jenis binatang buruan yang terdapat di dalam dan yang dilihatnya diluar bilik itu.

Baru sejenak kemudian ia mengulangi pertanyaannya tentang Empu Baladatu.

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar sebuah desah yang meluncur dari sela-sela bibirnya.

“Senapati, sebenarnyalah aku menjadi sangat prihatin mendengar berita tentang adikku. Aku tidak menyangka, bahwa adikku yang sudah lama tidak bertemu itu, terjerumus ke dalam ilmu yang disebut ilmu hitam itu.”

“Apakah yang kau ketahui tentang sifat-sifatnya sejak kanak-kanak?”

“Ia memang keras kepala. Tetapi ia cerdas dan penuh kemauan untuk menguasai keadaan.”

“Sifat itulah yang mendorongnya untuk melakukan tindakannya yang nampaknya agak berbahaya sekarang ini.”

“Ya. Yang aku dengar, ia telah berhasil menguasai gerombolan Serigala Putih dan gerombolan Macan Kumbang. Dua gerombolan yang menurut penyelidikanku lewat orang-orangku adalah gerombolan yang cukup besar. Aku pernah terlibat persoalan dengan gerombolan Serigala Putih dan yang membuatku untuk sangat berhati-hati. Membuat banyak rahasia di dalam padepokanku dan bahkan kadang-kadang membuat orang lain bingung menghadapi para, cantrik-cantrik di padepokan ini karena sikap yang terlampau hati-hati itu.”

“Dan ternyata bahwa pemimpin gerombolan itu terbunuh di hutan perburuan.”

“Ya. Kesempatan itu dipergunakan oleh Baladatu sebaik-baiknya.”

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam.

“Agaknya kedatangannya ke padepokan ini pada waktu itu” berkata Empu Sanggadaru kemudian, “adalah dalam rangka usahanya menyeret aku ke dalam lingkungannya. Untunglah bahwa sikapku waktu itu meragukannya, sehingga ia tidak menyampaikan maksudnya kepadaku.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk. Katanya, “Jika ia menyampaikan maksudnya, apakah yang akan Empu lakukan?”

“Aku berada dalam kesulitan. Meskipun sudah tentu aku menolak, namun tindakan selanjutnya pasti membuat aku kebingungan. Aku tidak akan dapat membiarkan ia melanjutkan rencananya, tetapi aku juga tidak akan dapat menghentikannya, karena tindakan kekerasan berarti pertengkaran antara aku dan Baladatu, satu-satunya saudaraku.”

Lembu Ampal masih mengangguk-angguk.

“Senapati” berkata Empu Sanggadaru kemudian, “bahkan untuk selanjutnya, aku pun mohon, agar aku dibebaskan dari suatu tuntutan kuwajiban apapun atas adikku. Aku berjanji bahwa aku tidak akan memberikan bantuan apapun juga dari semua perbuatan yang akan dilakukan selanjutnya. Mungkin ia akan mempergunakan kedua gerombolan itu untuk tindakan kejahatan, tetapi mungkin untuk kepentingan yang belum dapat kita bayangkan. Namun yang pasti bahwa tiga padepokan yang kini dikuasainya, merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan, justru karena mereka adalah orang-orang yang dikuasai oleh ilmu hitam.”

Lembu Ampal memandang wajah Empu Sanggadaru yang tegang. Namun ia mempercayai semua yang dikatakannya. Dari sorot matanya, Lembu Ampal dapat melihat kejujuran di hati orang tua itu.

“Empu” berkata Lembu Ampal, “aku memang tidak berniat untuk melibatkan Empu pada persoalan yang mungkin akan berkembang. Tetapi aku ingin agar Empu sudi memberikan beberapa keterangan tentang Empu Baladatu jika ternyata kemudian Empu mendengar segala sesuatu tentang dirinya“

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam. Katanya, “Aku bersedia. Aku akan memberikan keterangan sejauh yang aku ketahui” ia berhenti sejenak, lalu, “namun Senapati. Bagaimanapun juga aku tetap dikuasai oleh perasaan curiga meskipun terhadap adikku sendiri. Jika ada sisa dendam pada gerombolan Serigala Putih dan kecurigaan dari Baladatu bahwa aku akan menghambat usahanya, maka pertemuan dari keduanya akan dapat berarti bencana bagi padepokanku yang kecil ini.”

Lembu Ampal terdiam sejenak. Namun katanya kemudian, “Aku dapat mengerti Empu. Tetapi Empu mempunyai cantrik yang sudah mendapatkan dasar-dasar ilmu kanuragan.”

“Tidak sekuat gerombolan Serigala Putih dalam keseluruhan. Seandainya demikian, tentu tidak bersama Macan kumbang.”

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti bahwa Empu Sanggadaru tidak membuat padepokannya sekuat padepokan gerombolan-gerombolan seperti Serigala Putih dan Macan Kumbang karena tujuan lahirnya sebuah padepokan memang sudah berbeda. Meskipun demikian, Lembu Ampal pun dapat memperhitungkan menurut keterangan yang pernah didengarnya tentang perselisihan antara Empu Sanggadaru dengan orang-orang dari gerombolan Serigala Putih, bahwa padepokan Empu Sanggadaru bukanlah padepokan yang lemah, meskipun bukan maksudnya untuk membangunkan kekuatan dengan maksud tertentu.

“Empu” berkata Lembu Ampal kemudian, “dengan hadirnya Empu Baladatu di kedua padepokan itu, maka bukanlah dengan demikian dendam itu akan terhapuskan pula?”

“Aku mengharap demikian meskipun bukan satu-satunya kemungkinan” jawab Empu Sanggadaru.

“Mudah-mudahan memang demikian. Namun apakah yang akan Empu lakukan dalam keadaan sekarang ini menghadapi gerombolan orang berilmu hitam yang meskipun dipimpin oleh adik Empu sendiri?”

“Tidak apa-apa. Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku akan melakukan kebiasaanku sehari-hari.”

“Termasuk kecurigaan dan sikap hati-hati yang dapat membuat orang lain menjadi heran dan kebingungan menghadapi cantrik-cantrik dari padepokan ini?”

Empu Sanggadaru mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Mungkin kau benar Senapati. Mungkin aku masih tetap dalam sikapku sehari-hari lengkap dengan kecurigaan dan ketakutan.”

“Empu” Lembu Ampal mengangguk-angguk, “tidak ada salahnya Empu berhati-hati. Bahkan, aku sebenarnya ingin minta ijin yang barang kali dapat Empu kabulkan.”

Empu Sanggadaru termangu-mangu sejenak.

“Tetapi sebelumnya aku mohon maaf” Lembu Ampal melanjutkan, “kami melakukannya tanpa maksud apa-apa atas padepokan ini. Benar. Dan aku harap Empu mempercayai aku.”

“Apakah yang sebenarnya akan Senapati lakukan? Senapati adalah seorang petugas istana. Sebenarnya apapun yang akan berlaku atas padepokanku, aku tidak akan dapat menolak apapun yang akan terjadi dengan maksud apapun juga.”

Lembu Ampal menarik nafas. Ia mempercayai kata-kata Empu Sanggadaru, bahwa kesediaan itu adalah ucapan yang jujur, bukannya sekedar berpura-pura atau dengan maksud tertentu.

“Empu” berkata Lembu Ampal, “Empu adalah kakak kandung Empu Baladatu. Karena itu, bagaimanapun juga, akan mungkin terjadi hubungan antara Empu Sanggadaru dan Empu Baladatu. Apakah hubungan itu akan berlangsung baik sebagaimana dua orang kakak beradik, atau hubungan yang buram antara dua orang yang berbeda pendirian dan sikap.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk.

“Empu” berkata Lembu Ampal dengan hati-hati, “jangan salah mengerti. Bukan maksudku untuk minta ijin mengadakan pengawasan atas padepokan ini, tetapi semata-mata karena kami ingin mengetahui apakah yang akan dilakukan oleh Empu Baladatu selanjutnya.”

“Aku belum mengerti maksud Senapati.”

“Jika Empu tidak berkeberatan, apakah aku diperbolehkan menempatkan beberapa orang pengawal di padepokan ini? Menurut perhitunganku, kapan pun waktunya, Empu Baladatu tentu akan datang kemari. Nah, dengan demikian maka Empu Sanggadaru akan dapat memberikan keterangan dan hubungan dengan aku lewat orang-orangku yang aku titipkan disini.”

Empu Sanggadaru menarik nafas dalam-dalam. Nampak sesuatu yang agak buram membayang di wajahnya, sehingga dengan serta merta Lembu Ampal menyambung, “Tetapi itu hanyalah sesuatu permintaan Empu. Jika Empu berkeberatan, aku tidak memaksa.”

Empu Sanggadaru termenung sejenak. Lalu katanya, “Memang agak berat untuk menerimanya. Meskipun Senapati mengatakan bahwa itu bukanlah suatu usaha untuk mengawasi padepokanku.”

“Sebenarnyalah Empu. Aku percaya kepada setiap kata yang Empu katakan. Demikian juga aku percaya akan ketetapan hati Empu. Tetapi jika Empu mempercayai aku seperti aku mempercayai Empu, maka yang ingin aku lakukan benar-benar sekedar usaha untuk mengetahui perkembangan keadaan dan perkembangan hubungan antara padepokan ini dengan padepokan gerombolan Serigala Putih yang kini dipimpin oleh Empu Baladatu yang mempunyai seribu satu macam sifat dan watak sehingga yang dilakukan itu benar-benar merupakan watak yang bertentangan sama sekali dengan sifat dan watak yang pernah aku lihat di hutan perburuan.”

“Bukan demikian Senapati. Bukan watak dan sifatnya yang berubah-rubah, tetapi ia adalah seorang yang paling cakap memainkan peranan yang berwatak dan bersifat saling berbeda dan bahkan bertentangan.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Agaknya memang demikian. Dan ternyata bahwa ia berhasil dengan caranya itu untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Tetapi permintaan Lembu Ampal untuk menempatkan orang-orangnya di padepokannya memang dapat menimbulkan keragu-raguan.

Agaknya Lembu Ampal pun memakluminya, sehingga untuk beberapa saat ia terdiam untuk memberi kesempatan Empu Sanggadaru memikirkannya.

Untuk beberapa saat Empu Sanggadaru merenungkan permintaan Lembu Ampal. Dengan hati-hati ia mencoba menimbang buruk baiknya.

Namun akhirnya ia berkata, “Senapati, agaknya aku dapat mengerti, bahwa Senapati ingin selalu mengikuti perkembangan keadaan dalam hubungannya dengan Baladatu. Karena itu, baiklah. Aku tidak berkeberatan memenuhi keinginan Senapati untuk menempatkan beberapa orang prajurit di padepokan ini.”

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengucapkan terima kasih. Jika aku kembali ke Kota Raja, maka aku segera menyiapkan beberapa orang petugas sandi yang untuk beberapa saat lamanya akan menjadi cantrik di padepokan ini. Benar-benar akan melakukan tugas-tugas seorang cantrik, sehingga karena itu, maka jika mereka membantah atau bahkan menolak perintah yang Empu berikan, aku akan mengambil tindakan atas mereka.”

Empu Sanggadaru tersenyum. Jawabnya, “Bagaimana mungkin aku dapat berbuat demikian. Meskipun aku dapat berpura-pura, tetapi aku tidak dapat mengelabui hatiku sendiri, bahwa sebenarnya mereka memang bukan cantrik dari padepokanku.”:

Lembu Ampal pun tersenyum. Katanya, “Yang pura-pura itu pun memadailah asal nampaknya seperti bersungguh-sungguh.”

Keduanya tertawa. Sambil mengangguk-angguk Empu Sanggadaru mengangguk, “Baiklah. Aku akan mengatur segala-galanya. Aku akan memerintahkan orang-orangku untuk menganggap mereka sebagai kadang di padepokan ini.”

Lembu Ampal mengangguk-angguk. Nampaknya pembicaraan mereka menemukan kesepakatan, sehingga setelah dijamu secukupnya maka Lembu Ampal pun minta diri.

“Begitu tergesa-gesa Senapati?” bertanya Empu Sanggadaru.

“Aku akan menyiapkan beberapa orang yang akan aku kirim kemari. Mereka akan mendapat pesan-pesan khusus dan aku berharap, bahwa Empu pun akan memberikan beberapa petunjuk apa yang seharusnya mereka lakukan di sini.”

“Aku akan mencoba. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu dengan padepokanku yang kecil ini. Aku masih berharap bahwa adikku masih tetap menganggap aku sebagai saudara tuanya meskipun kami sudah lama saling berpisah dan tidak menemukan persamaan cara untuk mencapai kepuasan lahir dan batin.”

“Mudah-mudahan. Tetapi perlu Empu perhatikan, bahwa yang dilakukan oleh Empu Baladatu sampai saat ini telah membahayakan ketenteraman, bukan saja bagi Singasari yang biasanya terbatas dengan pengertian Kota Raja, tetapi juga rakyat Singasari dalam keseluruhan.”

Empu Sanggadaru mengangguk-angguk. Ia pun menyadari, bahwa adiknya memang dapat kehilangan nalar dan bertindak bertentangan dengan kewajiban sebagai seorang warga yang baik,

Lembu Ampal pun kemudian meninggalkan padepokan itu. Ia berharap bahwa dalam waktu singkat ia akan dapat mengirimkan beberapa orang prajurit pilihan ke padepokan itu dalam tugas sandi.

Baru setelah mendapat keterangan dari padepokan Empu Sanggadaru, Lembu Ampal menyampaikan hal itu kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Dengan sedikit keterangan dan berita yang didengarnya, Lembu Ampal mencoba memberikan gambaran, apa yang dapat terjadi dengan tingkah laku Empu Baladatu itu.

“Hamba telah minta kepada Empu Sanggadaru untuk menempatkan beberapa orang prajurit dalam tugas sandi di padepokannya” berkata Lembu Ampal.

Ranggawuni mengangguk-angguk. Katanya, “Paman sudah menentukan sikap yang benar menghadapi Empu Baladatu, Meskipun kita tidak dapat mutlak tanpa bukti menuduh bahwa ia akan melakukan tindak kekerasan terhadap Singasari namun aku tidak berkeberatan paman berhati-hati. Tetapi untuk sementara tidak lebih dari suatu sikap berhati-hati, karena kita tidak akan dapat menentukan kesalahan Empu Baladatu hanya karena prasangka saja.”

Lembu Ampal mengangguk dalam-dalam sambil menyahut, “Ampun tuanku. Sebenarnyalah demikian. Yang hamba lakukan hanyalah sekedar sikap hati-hati berdasarkan perhitungan dan pertimbangan. Tetapi juga mungkin sekedar prasangka”

“Baiklah. Aku tidak berkeberatan. Kau dapat memilih prajurit-prajurit yang kau anggap akan dapat melakukan tugasnya dengan baik.”

Dengan ijin Ranggawuni maka Lembu Ampal pun kemudian memilih sepuluh orang prajurit pilihan. Untuk beberapa hari mereka mendapat petunjuk-petunjuk khusus dari Lembu Ampal sendiri menghadapi tugasnya yang tidak dapat ditentukan waktunya.

“Kalian berada dalam tugas sandi” pesan Lembu Ampal, “karena itu kalian harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkunganmu. Semua tindakan harus kalian pertimbangkan masak-masak, agar kalian tidak melakukan kesalahan yang dapat merugikan tugas kalian, dan terlebih-lebih merugikan orang yang telah bersedia membantu kita semuanya.”

Para prajurit itu mendengarkan semua pesan dan petunjuk dengan seksama.

Setelah tiga hari mereka mendapat latihan khusus untuk menjadi seorang cantrik yang baik, maka mereka pun kemudian diserahkan kepada Empu Sanggadaru di padepokannya. Agar kedatangan mereka tidak menimbulkan kesan yang mencurigakan bagi orang-orang di sepanjang jalan menuju ke padepokan itu, maka kesepuluh orang itu tidak datang bersama-sama. Yang terdahulu adalah Lembu Ampal bersama tiga orang prajurit. Di hari berikutnya empat orang lagi, dan di hari ketiga adalah sisanya.

Empu Sanggadaru menerima mereka dengan senang hati meskipun ada juga percikan-percikan keragu-raguan. Tetapi Empu Sanggadaru menganggap bahwa Lembu Ampal bukannya orang yang berpura-pura di dalam tindakannya. Apalagi dalam tugas keprajuritannya.

Karena itulah maka Empu Sanggadaru pun kemudian berusaha untuk menghapus segala macam prasangka yang telah mengganggunya.

“Empu” berkata Lembu Ampal setelah prajurit-prajuritnya seluruhnya ada di padepokan itu, “aku sudah bermalam di padepokan ini sambil menunggu petugas-petugas sandi yang kini sudah lengkap. Karena itu, maka aku pun akan segera minta diri.”

“Demikian tergesa-gesa Senapati?” bertanya Empu Sanggadaru.

“Sudah cukup lama aku meninggalkan istana. Tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka sedang memerlukan kawan, karena orang-orang tua di istana sedang dalam perjalanan.” sahut Lembu Ampal, lalu, “Mudah-mudahan orang-orangku berguna di sini. Terlebih-lebih lagi tidak justru menimbulkan gangguan yang dapat merubah suasana padepokan yang tenang dan damai ini.”

“Tentu tidak” jawab Empu Sanggadaru, “nampaknya mereka mengerti apa yang harus mereka lakukan disini.”

“Selebihnya terserah kepada Empu. Jika perlu Empu dapat memerintahkan salah seorang atau lebih untuk pergi ke Singasari menghubungi aku dalam segala keperluan.”

Empu Sanggadaru mengangguk. Katanya, “Baiklah. Mudah-mudahan tidak ada sesuatu yang terjadi.”

Demikianlah setelah menitipkan kesepuluh orang-orangnya dan setelah memberikan pesan-pesan terakhir, maka Lembu Ampal pun segera meninggalkan padepokan itu.

Ketika ia sampai di kota Raja dan menghadap Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, maka ia pun terkejut karena Mahendra telah menghadap pula.

“Kau” sapa Lembu Ampal. Mahendra tertawa.

Setelah menyampaikan beberapa hasil kepergiannya sebagai laporan kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, maka Lembu Ampal atas perkenan Ranggawuni berkesempatan mendengarkan ceritera Mahendra tentang perjalanan yang pernah ditempuhnya, dan sebaliknya Lembu Ampal pun berceritera tentang seseorang yang bernama Empu Baladatu dan usahanya untuk menguasai dua gerombolan yang saling bertentangan meskipun bersumber pada ilmu yang sama.

Mahendra mendengarkan ceritera itu dengan penuh minat. Baginya orang-orang berilmu hitam memang sangat menarik perhatiannya. Di perjalanannya, telah dijumpainya pula beberapa orang yang disebut berilmu hitam itu. Bahkan kedua anak-anaknya pernah mengalami benturan kekerasan.

“Kekuatan orang-orang berilmu hitam itu ternyata tersebar sampai ke tempat yang jauh” berkata Mahendra.

“Meskipun mereka mempunyai sumber yang sama, tetapi di dalam perkembangannya, ilmu hitam itu pun memiliki berbagai macam bentuk. Yang masih dekat sekali bentuknya adalah gerombolan Serigala Putih dan gerombolan Macan Kumbang. Meskipun demikian, dengan tata gerak Empu Baladatu, pada beberapa hal masih juga dapat dijumpai persamaan watak betapapun Empu Baladatu berusaha untuk menyembunyikannya.” sahut Lembu Ampal, kemudian, “pada saat aku menyaksikan tata gerak Empu Baladatu di hutan perburuan itu, aku sama sekali tidak memperhatikannya. Tetapi baru kemudian, setelah aku mendengar bagaimana ia berhasil menguasai kedua gerombolan itu, barulah aku berusaha mengingat apa saja yang pernah dilakukannya di hutan perburuan itu.”

Mahendra mengangguk-angguk. Katanya kemudian” Ternyata yang sudah dilakukan itu sangat berbahaya, “

Lembu Ampal mengangguk. Kemudian sambil membungkuk hormat ia menghadap kepada Ranggawuni sambil berkata

“Mudah-mudahan orang-orang yang hamba tempatkan di padepokan itu pada suatu saat dapat memberikan keterangan yang hamba perlukan.”

Ranggawuni mengangguk. Jawabnya, “Semua usaha pantas dijalankan. Sudah tentu dengan berhati-hati dan tidak tergesa-gesa karena semuanya masih harus dibuktikan.”

“Hamba tuanku” sahut Lembu Ampal, “hamba sudah memberikan pesan-pesan yang penting bagi mereka.”

“Mudah-mudahan mereka dapat mengerti dan tidak terpengaruh oleh perasaan mereka apabila pada suatu saat mereka harus menghadapi suatu keadaan yang Tiba-tiba dengan orang-orang berilmu hitam itu” berkata Mahisa Cempaka, “bukankah menurut perhitunganmu, Empu Baladatu atau orang-orangnya, akan kembali mengunjungi padepokan kakaknya itu?”

“Hamba tuanku” jawab Lembu Ampal, “hamba berharap, bahwa mereka tidak berbuat apa-apa selain menangkap perkembangan keadaan itu, kecuali jika jiwa mereka sendiri terancam.”

Mahendra pun mengangguk-angguk pula. Bahkan kemudian ia berkata, “Apakah tuanku tidak berkeberatan, jika hamba menempatkan kedua anak-anak hamba dipadepokan itu pula?”

Ranggawuni termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Lembu Ampal, seolah-olah ia minta pertimbangannya.

Lembu Ampal menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Jika keduanya memang berkeinginan, hamba kira, tidak ada keberatannya tuanku.”

Ranggawuni pun ternyata tidak berkeberatan. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Baiklah paman Mahendra. Aku tidak berkeberatan. Biarlah paman Lembu Ampal yang membawa kedua puteramu itu ke padepokan Empu Sanggadaru. Tetapi seperti yang lain, keduanya memerlukan petunjuk-petunjuk agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dipadepokan itu.”

“Terima kasih tuanku,” berkata Mahendra kemudian, “hamba ingin, agar anak-anak hamba dapat mengenal segi-segi kehidupan yang lain dari cara-cara hidup di rumahnya sendiri, di perjalanan bersama ayahnya atau keperluan-keperluan lain yang masih dalam lingkungan keluarga saja.”

Ranggawuni mengangguk-angguk pula. Katanya, “Serahkanlah kedua anak-anakmu kepada paman Lembu Ampal.”

Seperti yang dititahkan oleh Ranggawuni, maka di hari berikutnya Mahendra menyerahkan kedua anak-anaknya kepada Lembu Ampal. Seperti para prajurit, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun mengalami latihan-latihan dan petunjuk-petunjuk apa yang harus dilakukannya di padepokan itu, apalagi menghadapi orang-orang berilmu hitam yang memang mungkin sekali datang kepadepokannya setiap saat.

Kehadiran Mahisa Pukat dan Mahisa Murti menambah padepokan Empu Sanggadaru menjadi bertambah segar. Keduanya adalah anak-anak muda yang mulai meningkat dewasa, yang memiliki gairah hidup yang cerah. Keduanya segera menyesuaikan diri dengan kerja yang dilakukan oleh anak-anak muda sebayanya di padepokan itu. Bahkan kelakarnya yang segar dapat menambah kegembiraan para cantrik yang sebaya umurnya.

Seperti yang dipesankan oleh Lembu Ampal, maka kedua anak Mahendra itu sama sekali tidak menyombongkan kelebihan ilmunya dari para cantrik. Bahkan keduanya pun dengan tekun mengikuti latihan-latihan yang diberikan oleh beberapa orang yang telah mendapat wewenang untuk melakukannya, meskipun pada umumnya sudah mengetahui, bahwa kedua anak muda itu memang sudah memiliki ilmu dari perguruan yang lain.

Begitu pula sepuluh orang prajurit dalam tugas sandi yang ditempatkan dipadepokan itu. Baik para prajurit maupun para cantrik berusaha untuk saling menyesuaikan diri sehingga lambat laun mereka dapat luluh seolah-olah mereka memang lahir dari satu perguruan.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...