*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 17-01*
Karya. : SH Mintardja
“Baik, baiklah Ki Sanak,” katanya ketakutan.
“Sebelum aku mengambil sikap yang lain terhadapmu dan keluargamu.”
Pemilik rumah itu sama sekali tidak berani berbuat apa-apa lagi. Ia merasa bahwa ilmu orang itu jauh berada di atas kemampuannya yang tidak seberapa itu.
Dengan kaki gemetar ia melangkah ke dalam biliknya diikuti oleh Wangkir. Diambilnya sebuah peti dari bawah amben bambunya yang diikat dengan tali yang kuat dengan kaki amben itu.
“Kau sangat berhati-hati.” berkata Wangkir. Orang itu tidak menjawab.
“Bukalah petimu.”
Orang itu ragu-ragu. Tetapi kemudian ia pun membuka peti itu. Peti yang berisi bukan saja uang, tetapi juga perhiasan. Pendok emas, timang dan sepasang perhiasan isterinya yang dibuat dari permata bersalut emas.
Wangkir menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian berkata, ”Minggirlah. Aku akan mengambil sendiri keperluanku.”
Pemilik rumah itu ragu- sejenak. Tetapi ia pun kemudian bergeser selangkah.
Wangkir masih berdiri termangu-mangu. Wajahnya menjadi tegang memandang barang-barang yang berada di dalam peti itu. Bukan hanya uang. Tetapi perhiasan yang harganya cukup mahal.
Diluar sadarnya, terasa nafasnya menjadi terengah-engah. Ada sesuatu yang terasa bergejolak di dalam dadanya. Jarang sekali ia melihat perhiasan-perhiasan seperti yang sekarang dilihatnya di dalam peti itu.
Selagi Wangkir berdiri termangu-mangu, tiba-tiba saja Geneng telah berada di belakangnya. Wajahnya tiba-tiba menjadi tegang, dan biji matanya seolah-olah akan meloncat keluar.
“Apa salahnya.” bisiknya ditelinga Wangkir.
Wangkir berpaling. Sejenak ia termangu-mangu.
“He, apakah yang harus dipikirkan lagi.” desak Geneng.
Wangkir menarik nafas dalam-dalam. Katanya perlahan-lahan, ”Kita memerlukan beaya selama kita berada di Kota Raja.”
“Ya. Dan perhiasan itu adalah cukup berharga.”
Wangkir termenung untuk beberapa saat. Namun kemudian ia menggeleng sambil berkata, ”Kita hanya memerlukan uang. Hanya itu.”
Geneng berdesis, ”Gila. Kau semakin lama menjadi semakin bodoh. Buat apa kau berpura-pura menjadi seorang yang bersih dari kejahatan.”
“Aku tidak berpura-pura. Tetapi kita sedang menjalankan tugas yang dibebankan oleh guru kita, Empu Baladatu. Kau ingat, bahwa jika kita gagal, maka kita akan menghadapi hari depan yang gelap? Kita harus dapat merintis jalan itu, betapapun kecil hasilnya.”
Geneng menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah ia sedang berusaha mengendapkan gelora di dalam dadanya. Namun ia tidak berani membantah lagi. Kakak seperguruannya telah mengambil keputusan yang berbeda dengan pendiriannya.
Karena itu, maka ia pun melangkah surut, dan tidak lagi berusaha untuk mengetahui isi peti itu lebih lama lagi. Geneng tidak yakin akan dirinya sendiri, bahwa ia dapat mengekang gejolak perasaannya seandainya ia memandangi isi peti itu lebih lama lagi.
Sejenak kemudian, maka Wangkir pun berjongkok di samping peti yang penuh dengan perhiasan dan uang. Sekilas dipandanginya pemilik peti yang duduk di sudut bilik itu dengan ketakutan.
“Kiai.” berkata Wangkir, ”Seperti yang sudah aku katakan, aku hanya akan mengambil uang menurut kebutuhanku. Aku tidak akan mengambil semuanya, apalagi perhiasan-perhiasanmu itu. Jika ternyata ada sebutir permata saja yang hilang karena tanganku, maka terkutuklah aku dan sanak kadangku.”
Pemiliknya sama sekali tidak berani menyahut. Ia hanya memandangi saja tangan Wangkir yang mengambil beberapa genggam keping uang dari petinya.
“Nah, terima kasih Kiai. Mudah-mudahan di hari mendatang, kau akan menjadi semakin kaya raya. Mudah-mudahan kau tidak akan pernah diganggu oleh penjahat-penjahat yang manapun juga.”
Pemilik rumah itu tercengang. Tetapi ia tidak dapat menjawab sepatah katapun juga.
Orang itu masih kebingungan.
“Aku minta diri Kiai.”
Wangkir tertawa. Kemudian ia pun melangkah meninggalkan bilik itu diikuti Geneng. Sekali mereka berpaling, namun kemudian mereka pun meninggalkan rumah itu lewat pintu yang telah mereka rusakkan.
Demikian mereka meninggalkan halaman rumah itu, Geneng tidak dapat menahan perasaannya lagi. Seperti banjir ia melontarkan berbagai macam pertanyaan yang terasa menyumbat jantungnya.
“Kakang, kenapa kakang bersikap begitu baiknya terhadap pemilik rumah itu? Kenapa kakang menjadi sabar dengan tiba-tiba dan bahkan kakang telah mencegah aku bertindak? Kemudian aku sama sekali tidak mengerti, kenapa kakang tidak mengambil sebutir permata pun dari peti yang sudah dihadapkan di bawah hidung kakang itu?”
Wangkir tertawa. Katanya, ”Geneng. Kau memang terlampau bodoh untuk menjalankan tugas seperti ini. Kita akan tinggal di Kota Raja ini untuk beberapa waktu lamanya. Untuk melihat perkembangan keadaan. Untuk melihat-lihat apakah kita akan dapat bertemu dengan anak muda yang bernama Mahisa Bungalan, dan apabila mungkin menjajagi, betapa tinggi ilmu Mahisa Agni yang termashur itu.”
“Ya, apa hubungannya dengan sikap kita yang banci ini?”
“Geneng. Jika kita bersikap kasar, dan apabila kau mempergunakan cara yang khusus dipergunakan oleh perguruan kita dalam puncak perlawanan, membunuh lawan dengan luka arang kranjang dan kulit terkelupas, maka hal itu tentu akan dapat segera dikenal. Apalagi jika mayat itu kemudian dilihat oleh orang-orang penting di Singasari, terutama jika kebetulan Mahisa Bungalan sempat melihatnya, maka ia pun akan segera mengambil kesimpulan, bahwa kita berada di kota ini.”
“Mereka tidak mengenal kita.”
“Tetapi bahwa di kota ini ada murid Empu Baladatu, akan membuat kota ini menjadi semakin sibuk dengan penjagaan dan kesiagaan.”
Geneng menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Kau memang cerdik. Aku mengerti.” ia berhenti sejenak, lalu, ”Tetapi bagaimana dengan perhiasan itu? Jika kita membawanya, apakah ada kesulitannya?”
“Buat apa kita membawanya? Kita tidak akan segera dapat memanfaatkannya. Daripada kita harus menyimpannya untuk waktu yang lama, biarlah pemiliknya itu menyimpannya untuk kita.”
“He?”
“Mereka percaya bahwa kita bersikap baik. Agaknya ia akan tetap menyimpan kekayaannya. Pada suatu saat, jika kita akan kembali kepadepokan, maka kita akan singgah sebentar untuk mengambil titipan kita itu.”
“Apakah barang-barang itu tidak akan disingkirkannya?”
“Justru karena sikap kita meyakinkan, mereka akan tetap menyimpannya.”
Geneng mengangguk-angguk. Ternyata kawannya memang cerdik sehingga ia dapat menyembunyikan segala ujud dan wataknya yang sebenarnya, sehingga dengan demikian, maka pemilik rumah itu tidak menjadi dendam kepadanya.
Seperti yang diperhitungkan oleh Wangkir, penghuni rumah yang meskipun pintu rumahnya dirusak itu, menjadi heran melihat tingkah laku dua orang yang menyembunyikan wajahnya di balik ikat kepalanya. Meskipun di hadapannya telah tersedia uang dan barang-barang perhiasan yang nilainya jauh lebih banyak dari uang yang tersedia, namun kedua orang itu sama sekali tidak mengambilnya. Bahkan uang yang ada itupun tidak diambil seluruhnya.
“Tentu karena keadaan yang memaksa sekali, maka kedua orang itu masuk ke dalam rumah ini dan mencari uang. Tetapi ternyata mereka adalah orang-orang yang baik dan tidak serakah. Meskipun semula mereka hanya memerlukan uang, tetapi jika pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang serakah, maka perhiasan itu pun akan diambilnya.” berkata pemilik rumah itu kepada isteri dan anak- anaknya.
“Memang mengherankan sekali Kiai.” sahut isterinya, ”Perhiasan-perhiasan itu tetap utuh.”
“Aku tidak mengerti.” gumam suaminya, ”Tetapi itu merupakan kenyataan bagi kita.”
“Tetapi besok kita harus memperbaiki pintu itu.”
“Ah itu tidak seberapa. Jika saja aku tahu tingkah lakunya, maka pintu itu tidak akan rusak. Dan aku tidak perlu mencoba melawannya, karena sama sekali tidak berarti apa-apa. Jika mereka berdua membunuh aku dan merampas semua milik kita, maka tidak seorang pun yang dapat menghalanginya.”
Dengan demikian maka kedua orang suami isteri itu justru mengucap sukur bahwa mereka masih tetap hidup dan milik mereka yang berharga, yang mereka tabung sedikit demi sedikit itu masih tetap ada di tangan mereka.
Berbeda dengan kedua orang tua itu, yang pada pagi harinya seolah-olah telah melupakan peristiwa itu, maka kedua anaknya telah bercerita kepada kawan-kawannya, tentang kedua orang yang semalam masuk ke dalam rumahnya.
“Ah, kau bermimpi.” berkata salah seorang kawannya.
“Kami tidak akan dapat bermimpi berdua bersamaan waktu dan kejadiannya.” jawab yang tua dari kedua saudara itu.
Kawan-kawannya mengerutkan keningnya. Lalu, ”Tetapi itu mustahil. Satu di antara seribu orang yang berbuat demikian.”
“Nah, jika demikian ternyata dua di antara yang dua ribu orang adalah orang-orang yang masuk ke rumahku semalam.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Memang hal itu adalah suatu hal yang jarang sekali terjadi.
Dalam pada itu. Wangkir dan Geneng, telah membuat diri mereka menjadi dua orang perantau. Menjelang tengah hari mereka berdua datang memasuki halaman rumah yang memang sudah mereka pilih sebelumnya. Dengan wajah yang letih dan kata-kata yang melas asih, keduanya minta agar diperkenankan untuk tinggal beristirahat barang satu dua hari di rumah itu.
“Jika paman tidak berkeberatan, tolonglah kami.” berkata Wangkir.
“Aku adalah orang melarat Ki Sanak.” sahut pemilik rumah itu, ”Rumahku kecil dan sederhana.”
“Paman, jika kami berdua diperkenankan tinggal di atas kandang sekalipun, kami akan mengucapkan beribu terima kasih.”
“Seandainya demikian, sekedar tempat untuk tidur, tetapi apakah aku dapat memberi makan kepada Ki Sanak selama Ki Sanak berada di rumah ini.”
“Paman.” jawab Wangkir, ”Aku masih mempunyai beberapa keping uang, yang barangkali dapat membantu paman selama aku berada di rumah ini. Tetapi juga sekedar membantu saja karena uang kami juga tidak banyak.”
“Jika demikian.” berkata orang itu, ”Kami tidak berkeberatan. Pakailah uangmu untuk makanmu sehari-hari. Aku. dapat memberimu tempat untuk tidur di bekas lumbung, karena tidak ada lagi yang dapat aku simpan di lumbung kedua. Di lumbung yang satu pun agaknya padiku tidak memenuhi seperempatnya lagi, sebelum panen mendatang, sedang keluargaku termasuk keluarga yang agak besar.”
Wangkir dan Geneng mengangguk-angguk. Mereka tidak tahu bahwa di rumah itu ada tujuh orang anak, sepasang suami isteri yang sudah tua, ayah dan ibu pemilik rumah itu, dan dua orang adik isterinya.
“Nampaknya rumah ini sepi.” berkata Wangkir, ”Ternyata paman mempunyai keluarga yang cukup banyak.”
“Ya. Keluargaku cukup banyak. Aku harus memberi makan dua keluarga sekaligus. Sebagian memang tidak tinggal disini, karena mereka masih mempunyai rumahnya sendiri, meskipun hanya berbatasan dinding batu di sebelah.”
“O.” Wangkir mengangguk-angguk, ”Jadi keluarga yang paman sebut itu tinggal di dua rumah sebelah menyebelah ini.”
“Ya. Karena itu aku masih ada tempat bagimu berdua untuk tidur. Hanya untuk tidur.”
“Paman.” berkata Wangkir, ”Aku akan menyerahkan uangku kepada paman dan bibi disini. Aku akan ikut makan bersama keluarga di sini, apapun ujudnya.”
Pemilik rumah itu termangu-mangu sejenak. “Inilah uangku paman.” berkata. Wangkir kemudian sambil menyerahkan sekampil uang.
Pemilik rumah itu terkejut melihat uang sebanyak itu. Hampir ia tidak dapat mempercayai penglihatannya. Uang sebanyak itu jarang sekali dilihatnya dan merupakan kekayaan yang tidak terduga-duga sebelumnya menurut ukurannya.
Karena itu ia justru termenung beberapat saat bagaikan membeku. Uang sebanyak itu benar-benar telah memukaunya sehingga ia kehilangan nalar.
Wangkir yg mengetahui perasaan pemilik rumah itu tersenyum. Uang yang diberikan itu masih belum seluruhnya yang diambilnya dari peti yang bercampur baur dengan perhiasan. Tetapi karena tingkat hidup kedua keluarga yang didatanginya itu memang jauh berbeda, maka uang yang hanya sebagian itu benar-benar telah mengejutkannya.
“Apakah pendapat paman?” bertanya Wangkir.
“Ki Sanak.” berkata pemilik rumah itu, ”Apakah aku tidak sekedar bermimpi melihat uang sehanyak itu?”
“Tidak paman. Aku memang membawa uang yang cukup.”
“Aku menjadi bingung Ki Sanak. Uang itu terlalu banyak buatku. Mungkin dalam waktu beberapa bulan aku bekerja, aku tidak akan mendapatkan uang sebanyak itu.”
“Tetapi uang ini sekarang ada disini. Jika paman mengijinkan aku tinggal disini, di kandang pun aku tidak berkeberatan, maka uang itu aku serahkan kepada paman, sebagai imbalan kebaikan hati paman, dan makan kami sehari-hari untuk beberapa saat selama aku tinggal di sini.”
Pemilik rumah itu mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku tidak dapat menyatakan keberatan apapun Ki Sanak. Pada dasarnya, aku dapat memberikan tempat untuk sekedar tidur di lumbung. Sedang untuk makan Ki Sanak, ternyata Ki Sanak sudah membawa uang sendiri, dalam jumlah yang cukup banyak.”
Dengan demikian maka Wangkir dan Geneng pun telah dengan senang hati diterima menjadi keluarga dalam rumah yang sederhana itu. Sebuah dari lumbung yang kosong itupun dibersihkannya, dan diberi sebuah amben yang cukup besar.
Di hari-hari pertama, Geneng dan Wangkir menunjukkan sikap dan tindak tanduk yang baik dan menyenangkan. Pagi-pagi benar mereka telah bangun dan mengisi jambangan di pakiwan sampai penuh. Kemudian mereka pun ikut membersihkan halaman dan menyapu daun-daun kuning yang berguguran di longkangan.
Dalam hubungan sehari-hari Wangkir dan Geneng sama sekali tidak menyembunyikan namanya. Setiap orang didalam keluarga itu memanggil mereka dengan namanya. Sedang Wangkir dan Geneng pun kemudian memanggil pemilik rumah itu dengan kependekan namanya, paman Suri.
Hubungan di antara mereka pun segera menjadi akrab. Geneng yang kasar, harus mengekang segala tingkah lakunya sesuai dengan petunjuk Wangkir yang ternyata lebih mampu mengendalikan dirinya. Bahkan Geneng tidak lagi dapat bermalas-malas seperti yang biasa dilakukannya. Setiap saat Wangkir telah mendesaknya untuk berbuat sesuatu bagi Suri. Memotong kayu, mengambil air dan kerja yang lain.
Dalam pada itu, ketika hidup Wangkir dan Geneng sudah menjadi semakin luluh di dalam keluarga itu, berita tentang perampokan yang telah dilakukannya sampai juga ketelinga petugas sandi Singasari. Meskipun pemilik uang yang diambil oleh Wangkir dan Geneng itu tidak merasa perlu untuk melaporkan kehilangan yang baginya tidak begitu banyak itu, namun ceritera dari mulut kemulut, baik yang dikatakan oleh anak-anaknya, maupun dalam suatu saat pemilik itu sendiri terlupa dan terloncat ceritera tentang kedua orang yang mendatanginya itu, maka akhirnya ceritera itu pun banyak menarik perhatian petugas-petugas sandi yang mendengarnya.
Tetapi petugas-petugas sandi itu tidak segera mengambil sikap. Mereka masih berpura-pura tidak mengerti, bahwa hal itu telah terjadi. Namun laporan tentang hal itu, telah mereka sampaikan kepada atasan mereka.
“Peristiwa itu memang sangat menarik perhatian.” berkata Senapati yang mendapat laporan langsung dari petugas-petugas sandi.
Dalam persoalan yang aneh itu, beberapa orang Senapati akhirnya mengambil keputusan untuk mengadakan beberapa penyelidikan. Mereka masih membatasi diri pada lingkungan petugas-petugas sandi. Hanya satu dua orang Senapati di luar lingkungan mereka yang mendengar peristiwa yang aneh itu.
Lembu Ampal yang kebetulan mendengar dari seorang Senapati bawahannya, ternyata tertarik juga akan peristiwa yang jarang sekali terjadi itu.
“Aku tidak mengerti, apakah tujuan perampokan itu.” berkata Lembu Ampal pada suatu saat, ketika ia bertemu dengan Mahisa Agni.
“Mungkin kedua orang itu benar dua orang yang tidak berniat buruk. Mungkin mereka adalah perantau yang kehabisan bekal di jalan.”
“Seandainya keduanya adalah perantau, maka mereka adalah perantau yang pilih tanding. Pemilik rumah itu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Kedua orang itu memiliki ilmu yang tinggi.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Apalagi ketika Lembu Ampal menceriterakan bagaimana salah seorang dari mereka bersikap kasar dan mengancam dengan tata gerak yang mengerikan.
“Yang seorang.” berkata Lembu Ampal, ”Telah mengancam akan membunuh penghuni rumah itu dengan kulit terkelupas seperti pisang.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Keterangan itu sangat menarik hatinya. Tetapi untuk mesentara ia tidak memberikan tanggapan apapun. Namun demikian ia bergumam, ”Aku ingin bertemu dengan pemilik rumah itu.”
“Kita akan kesana.” berkata Lembu Ampal.
“Kita memberitahukannya kepada pimpinan petugas sandi agar tidak terjadi kesimpang siuran.”
“Baiklah. Aku akan segera menghubunginya.”
Demikianlah Lembu Ampal pun kemudian atas persetujuan pimpinan petugas sandi, telah pergi bersama Mahisa Agni ke rumah orang yang telah didatangi oleh Wangkir dan Geneng. Pimpinan petugas sandi itu sama sekali tidak dapat menolak meskipun ia masih ingin membatasi penyelidikan persoalan itu, karena Mahisa Agni adalah orang yang sangat di segani oleh siapapun di Singasari.
Kedatangan Mahisa Agni sama sekali tidak menarik perhatian siapapun juga, karena ia datang hanya berdua saja dengan Lembu Ampal dan seorang pengawal sebagai penunjuk jalan.
Tidak seorang pun yang mengira bahwa seorang yang memiliki pengaruh dan wibawa sebesar Mahisa Agni itulah yang datang ke rumah orang kaya itu, sehingga, karena itu tidak seorang pun yang menghiraukannya.
Tetapi bagi pemilik rumah itu, kedatangan ketiga orang tamunya benar-benar telah mengejutkannya. Ia pun sama sekali tidak menduga, bahwa tiba-tiba saja tiga orang tamu dari lingkungan istana Singasari telah datang kepadanya.
Dengan tergopoh-gopoh ia mempersilahkan tamu-tamunya naik ke pendapa. Meskipun semula ia tidak begitu mengenal mereka, tetapi lambat laun ia dapat mengetahui bahwa yang datang adalah orang yang pernah dilihatnya sebagai salah seorang dari pimpinan tertinggi prajurit Singasari.
“Kedatangan tuan-tuan sangat mengejutkan hati.” berkata pemilik rumah itu.
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, ”Memang mungkin aku sangat mengejutkan, karena aku tidak memberitahukan kedatanganku lebih dahulu. Tetapi sebenarnya aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Aku hanya ingin melihat apakah yang pernah aku dengar tentang peristiwa yang terjadi di rumah ini benar seperti ceritera itu.”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu iapun bertanya dengan berdebar-debar, ”Darimanakah tuan mengetahui bahwa baru saja terjadi sesuatu di rumah ini?”
Mahisa Agni memandang orang itu sambil tertawa kecil. Katanya, ”Mungkin aku mendengar ceritera yang salah. Karena itu, sebaiknya kau menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi.”
Penghuni rumah itu menjadi semakin bimbang. Tetapi Mahisa Agni mendesaknya, ”Katakan, apa yang kau alami pada malam itu selengkapnya. Ketika dua orang telah datang kepadamu dan merampas uangmu. Aku ingin mendengar langsung dari mulutmu.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun segera berceritera tentang peristiwa yang telah dialaminya itu selengkap-lengkapnya seperti yang diminta oleh Mahisa Agni. Tidak ada yang dilampauinya dan tidak ada yang ditambahkannya.
Mahisa Agni, Lembu Ampal dan pengawal yang menunjukkan tempat itu pun mendengarkannya dengan penuh perhatian. Agaknya peristiwa itu memang peristiwa yang aneh bagi Singasari. Dalam suasana yang tenang dan damai, tiba-tiba saja telah terjadi perampokan yang mengandung rahasia.
“Beberapa saat yang lalu, kedua anak Mahendra diserang oleh tiga orang tanpa sebab.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, ”Kini terjadi perampokan yang aneh. Apalagi menilik sifat-sifat kedua orang perampok yang sangat berbeda itu.
Tetapi Mahisa Agni tidak mengucapkannya. Ia masih akan memikirkannya dan mengurai kemungkinan-kemungkinan yang telah terjadi itu. Yang diperlukannya sekarang adalah keterangan selengkap-lengkapnya mengenai kedua orang yang telah datang ke rumah itu.
“Apakah kau tidak melihat ciri-ciri yang lain?” bertanya Mahisa Agni.
“Tidak tuan. Kedua orang itu menutup wajahnya dengan ikat kepalanya.”
“Maksudku tentang tingkah laku mereka.”
Pemilik rumah itu termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, ”Tuan. Agaknya kedua orang yang datang itu memang berbeda sikap dan pandangannya. Ketika mereka melihat peti simpananku, agaknya yang seorang berpendapat lain.”
“Maksudmu?”
“Aku tidak mendengar, jelas pembicaraan mereka, karena mereka hanya sekedar saling berbisik. Tetapi agaknya yang seorang mengharap lebih dari yang diambil oleh kawannya.”
“Siapakah di antara keduanya yang nampaknya lebih berkuasa?”
“Yang baik tuan. Orang yang baik dan lebih sabar itulah agaknya yang lebih berkuasa di antara mereka berdua.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia masih belum sempat membuat gambaran tentang kedua orang itu. Tetapi ia sudah mengumpulkan bahannya.
“Kenapa kau tidak segera melaporkan peristiwa itu?” tiba-tiba saja Mahisa Agni bertanya.
Pemilik rumah itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian agak ragu, ”Tuan. Aku tidak ingin hal ini menjadi berkepanjangan. Aku sudah berterimakasih bahwa tidak semua kekayaanku dibawanya, dan bahkan badanku disakiti. Karena itu aku menganggap bahwa persoalannya sudah selesai. Aku hanya kehilangan sebagian kecil dari simpananku, sedang aku sama sekali tidak mengalami apapun juga bersama seluruh keluargaku.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Lalu, ”Dan kau tidak berniat untuk menyingkirkan kekayaanmu itu?”
“Kenapa tuan? Jika mereka ingin mengambilnya, maka tentu sudah dilakukannya.”
Mahisa Agni masih mengangguk-angguk. Agaknya pendapat orang itu benar. Jika mereka ingin mengambilnya, maka barang-barang berharga itu tentu sudah dibawanya.
Namun Mahisa Agni tidak membatasi tanggapannya pada pendapat yang demikian. Ia masih berusaha untuk mencari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dibalik peristiwa yang nampaknya tidak menarik perhatian itu. Apalagi sikap pemilik rumah itu agaknya wajar sekali, sebagai seseorang yang tidak ingin menimbulkan keributan.
Tetapi Mahisa Agni sama sekali tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Ia masih memikirkannya dan mencoba memecahkannya.
Dari pemilik rumah itu ia mendapatkan semua keterangan yang diperlukannya. Sifat dan tingkah laku kedua orang itu, ciri-ciri yang nampak, dan tanggapan pemilik rumah itu sendiri terhadap keduanya.
Setelah semuanya cukup, maka Mahisa Agni, Lembu Ampal dan pengawalnya pun segera meninggalkan rumah itu. Di sepanjang jalan, mereka hampir tidak berbicara sama sekali. Mereka ingin mendapatkan jawaban atas teka teki yang baru saja disaksikannya dan didengarnya itu.
Demikianlah, ketika Mahisa Agni sudah berada di bangsalnya, maka ia masih saja tetap dicengkam oleh keadaan yang baru saja diamatinya. Nampaknya memang wajar sekali. Tidak ada yang pantas diragukan.
Tetapi kenapa kedua orang itu tidak membawa perhiasan yang cukup mahal harganya? Apakah benar, bahwa mereka sebenarnya adalah orang yang baik, yang sebenarnya tidak akan pernah melakukan kejahatan serupa itu jika bukan karena terpaksa sekali. Meskipun demikian, mereka masih tetap pada pendirianya, sehingga yang diambilnya hanyalah sekedar yang diperlukan saja.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ada sesuatu yang tidak dapat dimengertinya. Seseorang telah memasuki rumah dengan paksa, dengan sikap tenang dan bahkan sama sekali tidak menunjukkan kecemasan telah merampas sejumlah uang.
“Jika mereka orang baik dan melakukannya dengan terpaksa maka mereka tidak akan dapat berbuat setenang yang dikatakan oleh pemilik rumah itu.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya. Kemudian, ”Dan jika keduanya berbuat dengan jujur, maka sikap dan perbuatan mereka yang satu dengan yang lain tidak akan berbeda terlampau jauh seperti yang dikatakan oleh pemilik uang yang dirampasnya itu.”
Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Salah seorang dari kedua orang itu atau kedua-duanya tentu telah bertingkah laku tidak seperti watak dan sifatnya yang sebenarnya. Atau seandainya keduanya memang berbeda watak, maka dalam keadaan yang gawat, antara keinginan untuk merampas semua milik orang itu, dan yang lain tidak, tentu akan timbul persoalan yang tidak mudah diselesaikan, dalam waktu yang singkat, karena persoalannya tentu menyangkut watak sifat.
Tetapi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam ketika ia menyadari bahwa memang mungkin sekali hal itu disebabkan karena keduanya berbeda pendirian tetapi terikat pada satu perguruan.
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Bahkan kemudian ia melangkah hilir mudik didalam biliknya.
Tiba-tiba saja teringat olehnya ceritera Mahisa Bungalan tentang iblis di padukuhan yang disebutnya daerah bayangan hantu. Di daerah bayangan hantu itupun pernah terjadi, seseorang bertempur melawan iblis yang mengerikan. Ketika ia terbunuh maka kulitnya terkelupas seperti kulit pisang.
“Malahan, Mahisa Bungalan telah terlibat pula dalam perkelahian itu.” desis Mahisa Agni.
Ingatan itu membuat Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Apakah memang ada hubungannya antara keduanya. Orang yang merampok dengan cara yang aneh itu, dengan iblis yang ada di daerah bayangan hantu itu.
Untuk menyesuaikan pendapatnya, maka Mahisa Agni pun segera memanggil Mahisa Bungalan. Dengan cermat Mahisa Agni menceriterakan apa yang baru saja disaksikan dan didengarnya tentang dua orang perampok yang aneh. Kemudian di suruhnya Mahisa Bungalan mengingat kembali apa yang pernah disaksikannya tentang ilmu hitam yang mengerikan itu.
“Korban mereka nampaknya memang bagaikan terkelupas. Demikian banyaknya luka di tubuh mereka, sehingga mereka seolah-olah telah tidak berkulit lagi.”
“Mengerikan sekali.” sahut Mahisa Agni, ”Dan orang yang datang ke rumah seseorang untuk merampok uang itu juga menyebut-nyebut tentang pembunuhan dengan akibat yang sangat keji itu. Orang yang meskipun tidak jelas, namun nampaknya ingin merampas bukan saja uang, tetapi juga semua perhiasan. Namun telah dicegah oleh kawannya.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Apakah mungkin memang hubungan itu ada. Mungkin satu dua orang dari perguruan itu memang mencari aku, karena aku mengatakan kepada orang-orang di daerah bayangan hantu, jika ada orang yang mencari pembunuh-pembunuh iblis itu, maka pembunuhnya adalah Mahisa Bungalan, anak Mahendra.”
Mahisa Agni menarik nafas. Namun dengan tergesa-gesa Mahisa Bungalan menyambung, ”Bukan maksudku untuk menyombongkan diri. Tetapi aku sekedar ingin menarik perhatian agar dendam saudara-saudara seperguruan ketiga orang yang terbunuh itu tidak tertuju kepada para bebahu pedukuhan kecil itu.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Lalu, ”Jadi memang ada kemungkinan bahwa satu dua orang dari antara mereka ada di kota ini. Dan adalah tidak mustahil bahwa mereka memang memerlukan uang untuk membeayai hidup mereka di dalam kota yang asing bagi mereka ini.”
Mahisa Bungalan termenung. Ia mencoba membayangkan apa yang sudah terjadi di padukuhan kecil yang semula disebut daerah bayangan hantu itu.
“Orang yang terbunuh itu memang seperti sebuah pisang yang terkelupas.” katanya di dalam hati, sehingga dengan demikian, maka dugaannya pun menjadi semakin keras, bahwa kedua perampok itu memang saudara seperguruan dari ketiga iblis yang telah terbunuh itu.
“Paman.” berkata Mahisa Bungalan kemudian, ”Seandainya kedua orang itu benar-benar saudara seperguruan dari ketiga orang yang terbunuh itu, apakah kira-kira yang akan mereka lakukan disini?”
“Pertama-tama mencari seorang anak muda yang bernama Mahisa Bungalan.” berkata Mahisa Agni.
Mahisa Bungalan tersenyum. Ia pun menyadari bahwa dendam saudara-saudara seperguruan iblis-iblis itu tentu tertuju kepadanya. Namun kemudian ia masih bertanya, ”Jika mereka pertama-tama mencari aku, lalu apakah yang akan mereka lakukan kemudian?”
“Mencari Mahendra dan nama-nama lain yang kau sebutkan.”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Lalu, ”Apakah hanya itu paman?”
“Apa lagi menurut dugaanmu?”
Mahisa Bungalan tidak segera menjawab. Sejenak ia merenung. Terasa sesuatu menggelepar di hatinya. Seolah-olah ia memang suatu kepastian telah diyakininya, bahwa kedatangan mereka tentu bukan sekedar untuk mencarinya.
“Mahisa Bungalan.” berkata Mahisa Agni kemudian, ”Agaknya kau mempunyai dugaan lain. Menilik sikapmu, aku dapat meraba bahwa dugaanmu sejalan dengan dugaanku. Aku menganggap bahwa persoalannya tidak berhenti pada Mahisa Bungalan. Tetapi perguruan yang kini menghidupkan kembali ilmu hitam itu tentu mempunyai tujuan yang lain selain melepaskan dendam semata-mata.”
“Ya paman. Ada dugaan yang membersit di sudut hati yang paling dalam. Tetapi itu hanyalah sekedar firasat yang tidak aku ketahui alasannya.”
“Kau benar.” sahut Mahisa Agni, ”Tetapi mungkin ada persoalan yang sedikit banyak dapat kita telusuri kemudian.”
“Apa yang dapat kita lakukan?”
“Mahisa Bungalan.” berkata Mahisa Agni, ”Kita kini dihadapkan pada suatu teka-teki yang sulit untuk ditebak. Tetapi kau harus tetap berhati-hati. Jika benar ada dua pasang mata yang selalu mengintaimu, maka kau tidak akan terjebak karenanya.”
“Ya paman. Aku akan berhati-hati.” sahut Mahisa Bungalan, ”Aku masih tetap ingat, bagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tiba-tiba saja diserang oleh orang yang tidak dikenal.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Lalu katanya, ”Sebaiknya kau pun melihat-lihat perkembangan keadaan di dalam kota. Meskipun seorang dari kedua orang aneh itu ternyata dapat menahan dirinya dalam tingkah laku dan sikapnya, namun pada suatu saat ia akan kehilangan pengamatan diri. Karena itu, jika terjadi sesuatu yang agak lain dari kebiasaan di kota ini, kau wajib mencurigainya.”
Mahisa Bungalan mengangguk.
“Untuk itu Mahisa Bungalan, kau dapat melakukannya dengan cara lain.”
“Maksud paman?”
“Kau dapat setiap hari mengelilingi kota tanpa diketahui oleh banyak orang, karena kau memang belum banyak dikenal oleh orang-orang di kota ini. Hanya beberapa orang prajurit, Senapati dan kawan-kawan terdekatmu sajalah yang mengenalmu.”
“Apakah yang harus aku lakukan?”
“Tidak banyak. Hanya berjalan-jalan setiap hari dan melihat-lihat jika ada orang yang berkelakukan aneh. Mungkin dapat dilihat dari hubungan antara dua orang yang berjalan atau berbuat sesuatu ber-sama-sama. Yang seorang agaknya sulit untuk mengendalikan diri, sedang yang lain nampaknya terlampau sabar dan dapat mengendalikan bukan saja dirinya, tetapi juga kawannya yang seorang.”
Mahisa Bungalan mengerti maksud Mahisa Agni. Lalu katanya, ”Aku mengerti paman. Aku harus membuat diriku agak berbeda dengan diriku sekarang ini supaya tidak seorang pun yang memperhatikan aku jika aku berjalan-jalan mengelilingi kota setiap hari.”
“Ya.”
“Apakah aku harus menjadi pedagang atau bahkan pengemis?”
Mahisa Agni tertawa. Katanya, ”Itu tidak perlu sama sekali. Kau tetap seperti itu. Tetapi kau harus berpakaian seperti kebanyakan anak-anak muda yang tidak berketentuan. Berjalan sajalah kesana kemari. Melihat-lihat, dan terutama mengawasi kemungkinan tentang kedua orang itu. Tidak banyak orang yang tahu, siapakah kau sebenarnya.”
“Ya, ya. Aku mengerti paman. Besok aku akan mulai. Aku akan mengunjungi tempat-tempat yang ramai. Mengamat-amati setiap orang yang mempunyai sifat dan tabiat yang aneh.”
“Kau akan dapat menjadi petugas sandi.” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu, ”Tetapi tidak mustahil bahwa kau justru diawasi oleh petugas-petugas sandi.”
“Apakah kita tidak bekerja bersama dengan mereka?”
“Belum waktunya. Nanti pada saatnya kita akan memberitahukan kepada mereka, dan bahkan mungkin memerlukan pertolongan mereka.”
“Tetapi jika aku setiap hari keluar dan kembali ke istana, apakah itu tidak akan menarik perhatian?”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Pertanyaan itu memang perlu dipertimbangkan.
Sejenak Mahisa Agni menimbang-nimbang. Baru kemudian ia berkata, ”Mahisa Bungalan. Sebaiknya kau memang tidak tinggal bersamaku di bangsal ini. Untuk kepentingan yang tidak kalah pentingnya ini, kau akan tinggal di luar istana.”
“Tetapi bagaimana dengan latihan-latihanku bersama tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka yang setiap malam kita lakukan?”
“Sebenarnya latihan-latihan itu sudah cukup memadai. Kalian sudah sampai pada tingkatan puncak dari ilmu dasar yang kalian miliki. Jika kalian masih harus berlatih terus, maka itu berarti kalian harus memperkaya pengalaman dan mematangkan ilmu itu sendiri, karena di dalam latihan-latihan yang tidak dilakukan seorang diri, akan dapat diketemukan persoalan-persoalan yang tiba-tiba saja kalian hadapi di dalam latihan-latihan itu.” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu, ”Karena itu, maka jumlah latihan-latihan itu memang dapat dikurangi. Aku akan menyampaikan persoalan yang sebenarnya kepada tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Cempaka, bahwa ada persoalan yang cukup penting yang harus kau tangani.”
“Baiklah paman. Jika demikian aku akan melakukannya. Tetapi dimana aku harus tinggal di luar halaman istana ini?”
“Jangan cemas. Akulah yang akan mencarikan tempat buatmu.”
“Mungkin dengan demikian, aku akan benar-benar dapat mendekati persoalan yang sebenarnya.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia memang sudah menaruh kepercayaan kepada Mahisa Bungalan, bahwa anak muda ini akan dapat melakukan tugasnya sebaik-baiknya menghadapi iblis-iblis itu, jika dugaanya benar.
Demikianlah, maka Mahisa Agni pun kemudian menyampaikan persoalan itu kepada tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, tanpa ada orang lain yang mengetahuinya.
“Tuanku, hamba masih menganggap persoalan ini belum saatnya dibicarakan dengan terbuka.” berkata Mahisa Agni.
“Kenapa paman? Bukankah persoalan ini akan menyangkut banyak segi dalam pemerintahan Singasari?”
“Tuanku. Semuanya masih belum jelas dan pasti. Jika dugaan kami tidak benar, maka kegelisahan yang tentu akan timbul adalah sia-sia. Sedangkan jika dugaan itu benar, maka orang yang sedang kami cari tentu sudah menyingkir dari tempatnya bersembunyi.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mengangguk-angguk. Dengan nada yang datar Ranggawuni berkata, ”Kau benar paman. Baiklah. Aku tidak berkeberatan jika Mahisa Bungalan berada di luar halaman istana. Tetapi setiap kali ia masih tetap aku perlukan. Mungkin sepekan dua kali atau saat-saat tertentu yang lebih baik menurut pertimbangan paman.”
“Hamba akan selalu berada di antara tuanku dan anak muda itu, karena hamba tidak akan dapat melepaskannya bekerja sendiri. Apalagi jika ternyata bahwa yang dihadapinya adalah benar-benar orang-orang dari perguruan hitam itu tuanku.”
“Mahisa Bungalan memang harus selalu dilindungi. Jika benar orang-orang berilmu hitam itu mendendamnya, maka ia adalah sasaran utama. Dan barangkali paman lebih mengetahuinya, bagaimanakah kemampuannya dibandingkan dengan orang-orang berilmu hitam yang tentu tidak hanya seorang diri itu. Bahkan mungkin lebih dari dua orang itu. Apalagi apabila kita memperhitungkan langsung kemungkinan yang ada di sarang mereka, yang barangkali seperti sarang semut ngangrang.”
“Jika tuanku mengijinkan, biarlah anak muda itu pada saatnya mohon diri kepada tuanku, untuk tinggal di luar halaman istana ini. Sudah barang tentu ia akan mempergunakan sebutan dan nama yang lain bagi pengamanannya. Karena Mahisa Bungalan lah sasaran yang paling utama bagi orang-orang berilmu hitam itu.”
Demikianlah akhirnya Mahisa Agni meninggalkan tuanku Ranggawuni dan tuanku Mahisa Campaka untuk memanggil Mahisa Bungalan. Meskipun agak berat, maka Ranggawuni dan Mahisa Campaka pun kemudian melepaskannya, seperti seorang yang melepaskan kawan bermain yang paling akrab.
Tetapi tugas itu memang memerlukan perpisahan itu justru bagi keselamatan Mahisa Bungalan dan berhasilnya tugas yang akan dilakukannya.
Mahisa Agni tidak terlampau sulit mencari tempat tinggal bagi anak muda itu. Meskipun demikian, kepada pemilik rumah itu. Mahisa Agni tidak menyebutnya bernama Mahisa Bungalan.
“Ia kemanakanku.” berkata Mahisa Agni kepada sahabatnya, seorang saudagar ternak yang berpengaruh di Singasari, ”Namanya Pegatmega. Ia ingin tinggal dikota ini untuk satu dua pekan, atau mungkin lebih. Tetapi ia tidak pantas tinggal bersamaku di istana, karena ia masih belum paham mengenai tata kehidupan istana. Kelak, jika ia sudah mengenal unggah-ungguh dengan baik, dan ia masih belum ingin kembali kepadukuhannya, biarlah ia bersamaku tinggal di istana.”
Sahabat Mahisa Agni sama sekali tidak berkeberatan. Dengan senang hati ia menerima Pegatmega tinggal di rumahnya. Apalagi nampaknya anak muda itu adalah anak muda yang baik dan tidak banyak tingkah.
“Biarlah ia disini.” berkata saudagar ternak itu, ”Aku akan memeliharanya seperti anakku sendiri, karena anakku sudah berumah tangga sendiri dan meninggalkan aku berdua saja dengan isteri dan pembantu-pembantu di rumah ini.”
“Terima kasih. Jika anak itu nakal, tariklah kupingnya, la masih perlu banyak diajari unggah-ungguh dan sopan santun.”
Juga kepada beberapa orang Senapati yang mengenal Mahisa Bungalan, Mahisa Agni memberitahukan, bahwa ia dengan sengaja menempatkan Mahisa Bungalan di rumah seseorang agar ia belajar hidup sebagai seorang anak dewasa yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Meskipun Mahisa Agni tidak berterus terang, apakah sebenarnya yang sedang dilakukan oleh Mahisa Bungalan, namun ia memberitahukan kepada mereka, bahwa nama anak itu telah digantinya menjadi Pegatmega.
Untuk beberapa lama Pegatmega berada di rumah sahabat Mahisa Agni, seorang saudagar yang kaya. Ternyata bahwa kehadiran Mahisa Bungalan dapat memberikan kesegaran baru di rumah itu, karena saudagar yang tinggal berdua itu serasa menemukan anaknya yang paling bungsu. Apalagi Mahisa Bungalan yang kemudian bernama Pegatmega itu segera dapat menyesuaikan diri. Dengan rajinnya ia mengerjakan pekerjaan apapun yang pantas dikerjakannya di rumah itu. Manimba air untuk mengisi jembangan di pakiwan, mengisi gentong di dapur dan bahkan ikut membersihkan halaman rumah itu yang cukup luas.
“O, anak ini.” berkata isteri saudagar ternak itu, ”Apakah ia tidak merasa lelah dengan kerjanya yang keras itu sehari-hari?”
“Memang anak yang baik.” berkata suaminya, ”Adalah kebiasaannya di padesan melakukan pekerjaan itu semua.”
“Tetapi tidak seperti yang dikatakan oleh kakang Mahisa Agni. Ternyata anak itu sudah mengenal unggah ungguli dengan baik. Bahasanya utuh dan sikapnya sopan. Apalagi sebenarnya yang kurang padanya.”
“Biar sajalah. Biar anak itu tetap tinggal disini.”
Demikianlah Mahisa Bungalan benar-benar dianggap seperti anak saudagar itu sendiri. Bahkan kadang-kadang saudagar itu merasa iri, kenapa anaknya sendiri, pada waktu masih muda seperti Pegatmega itu, sama sekali tidak mau bekerja seperti itu. Karena itulah maka ketika berumah tangga sendiri, pada mulanya banyak menjumpai kesulitan, sehingga ibunya harus berbulan-bulan tinggal bersama untuk mengajarinya.
Namun sementara itu, Mahisa Bungalan tidak melupakan tugas. Setiap hari ia menyisihkan waktu untuk berjalan-jalan. Menyelusuri tempat-tempat yang ramai. Mengamati orang yang nampaknya agak asing.
Tetapi Mahisa Bungalan sama sekali tidak menemukan tanda-tanda tentang orang yang dicarinya itu. Dan iapun menyadari bahwa tentu sangat sulit untuk menemukan dua orang yang belum dikenalnya di antara penduduk kota sebesar Singasari.
Meskipun demikian Mahisa Bungalan sama sekali tidak berputus asa. Ia melakukan tugasnya setiap hari. Betapapun perasaan jemu mulai menggelitik hatinya. Namun ia masih belum mau menyerah.
Tetapi ternyata pada suatu hari ia sudah dikejutkan oleh sebuah berita yang dibawa oleh saudagar ternak itu. Dengan gelisah, saudagar itu memanggilnya sambil menahan gejolak dadanya.
“Pegatmega.” Desisnya, ”Kemarilah. Kau adalah anak muda yang sudah aku anggap sebagai anakku sendiri.”
Mahisa Bungalan menjadi bimbang.
“Kemarilah. Ada berita penting yang ingin aku beritahukan kepadamu. Tetapi berita ini sama sekali tidak aku beritahukan kepada bibimu. Biarlah bibimu tidak mengetahuinya, karena akan dapat membuatnya selalu gelisah dan ketakutan.”
“Berita apakah itu paman?”
“Pegatmega.” Bisiknya, ”Mendekatlah, agar tidak ada orang lain yang mendengarnya.”
Mahisa Bungalan bergeser mendekat.
“Dengarlah.” berkata saudagar itu, ”Baru saja aku bertemu dengan seorang kawanku, juga seorang saudagar ternak. Ia menceriterakan bahwa rumahnya telah didatangi oleh dua orang yang tidak dikenal.”
“Dua orang.” Mahisa Bungalan menjadi semakin berdebar-debar.
“Ya, dua orang. Mereka minta kepada sahabatku, itu sejumlah uang. Namun ternyata bahwa keduanya bersikap aneh. Ketika dengan ketakutan sahabatku menunjukkan peti uang, maka tidak semua uangnya diambil oleh kedua orang itu. Bahkan mereka sama sekali tidak menanyakan kekayaan sahabatku itu yang lain meskipun sahabatku itu mempunyai perhiasan seperti yang terdiri dari intan berlian.”
Mahisa Bungalan menjadi tegang sejenak. Namun iapun segera berusaha menghapus semua kesan dari wajahnya.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar