Sabtu, 30 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 17-02

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 17-02*

Karya.   : SH Mintardja

“Pegatmega.” berkata saudagar itu. ”Peristiwa seperti ini pernah pula terjadi beberapa waktu yang lalu. Sampai sekarang tidak seorang pun yang dapat memecahkan persoalan itu. Agaknya orang yang kehilangan itu tidak melaporkannya kepada yang berwajib, sehingga dengan demikian tidak pernah dilakukan pengusutan apapun juga. Sahabatku itu pun agaknya condong untuk tidak melaporkan peristiwa itu, dan menganggapnya sudah selesai.“

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk.

“Yang aku cemaskan Pegatmega, bahwa pada suatu saat kedua orang itu akan sampai ke rumah ini. Mungkin aku memang menyimpan sejumlah uang dan perhiasan. Kedua orang yang pernah mengalami masih beruntung bahwa kedua orang itu tidak mengambil perhiasan dan apalagi nyawa seseorang. Tetapi kita tidak tahu apa yang dapat dilakukannya kemudian.”

Mahisa Bungalan mencoba menahan gejolak di dalam dadanya. Ia langsung menduga, bahwa kedua orang itu tentu kedua orang yang sedang dicarinya.

Tetapi ia masih tetap menahan diri untuk tidak mengatakan apa yang sebenarnya diketahuinya. Bahkan kemudian ia bertanya, ”Apakah paman mengetahui berita itu langsung dari yang mengalaminya?”

“Ya, ya. Sahabatku sendiri. Seperti yang sudah aku katakan, ia juga seorang saudagar ternak.”

“Apakah orang itu dapat mengatakan paman, bagaimanakah ujud dan ciri-ciri kedua orang itu. Jika sekiranya sahabat paman itu dapat mengenalnya, maka ada kemungkinan prajurit Singasari dapat menemukan mereka.”

Tetapi saudagar itu menggeleng. Jawabnya, ”Tidak. Kedua orang itu menutup wajah mereka dengan ikat kepala.” ia berhenti sejenak, lalu, ”Tetapi yang pernah terjadi sebelumnya pun serupa pula. Dua orang yang mengambil sebagian uang itu pun menutup wajah mereka dengan ikat kepala.”

“Jika demikian, ada persamaannya bukan paman?”

“Aku menduga, bahwa dua orang yang melakukannya lebih dahulu adalah sama orangnya. Jika tidak, maka mereka tentu terdiri dari satu kelompok yang mempunyai perhitungan dan pertimbangan yang serupa, karena hal seperti itu jarang sekali, dan hampir tidak mungkin terjadi. Pada umumnya, mereka akan menyapu bersih semua kekayaan yang dapat mereka bawa, Termasuk perhiasan. Sedangkan yang telah terjadi, uang pun tidak mereka bawa semuanya.”

“Memang aneh paman.”

“Tetapi mungkin yang terjadi kelak akan berbeda. Itulah sebabnya aku menjadi gelisah.”

“Jadi, apakah rencana paman? Apakah akan menyembunyikan semua uang dan perhiasan?”

“O, itu justru berbahaya. Mereka tentu tidak percaya bahwa aku tidak memilikinya apabila pada suatu saat mereka akan datang kemari. Dengan demikian akibatnya akan menjadi parah.”

Pegatmega mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengemukakan pendapatnya. Ia berharap bahwa saudagar itu tidak akan berusaha mencegah kemungkinan hadirnya kedua orang itu langsung ke rumahnya, karena dengan demikian ia akan dapat berhadapan dengan dua orang itu tanpa mencarinya kemana-mana.

Namun agaknya saudagar itu masih saja kebingungan dan tidak melihat jalan keluar dari kesulitan itu.

“Pegatmega.” katanya kemudian, ”Aku tidak mengerti, bagaimana sebaiknya yang harus aku lakukan. Apakah aku harus membayar dua tiga orang yang dapat dipercaya untuk menjaga rumah ini atau kau mempunyai pikiran yang lain? Tidak ada orang yang dapat aku ajak berbicara kecuali kau sekarang ini. Aku tidak mungkin membicarakannya dengan bibimu.”

Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, ”Paman, sebaiknya paman membicarakannya saja dengan paman Mahisa Agni. Mungkin paman Mahisa Agni dapat memberikan petunjuk apakah yang sebaiknya paman lakukan.”

Saudagar itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, ”Kau benar Pegatmega. Hampir saja aku melupakannya. Pamanmu Mahisa Agni adalah orang yang tidak ada duanya di Singasari. Kenapa baru sekarang aku teringat kepadanya?”

“Paman Mahisa Agni tentu akan bersedia membantu.”

“Tentu, tentu. Aku percaya bahwa pamanmu Mahisa Agni akan dengan senang hati membantuku. Apalagi aku yang sudah dikenalnya dengan baik, sedang orang yang sama sekali tidak pernah dikenalnya pun akan dibantunya jika diperlukan.”

“Jadi apakah paman akan menemui paman Mahisa Agni?”

“Ya. Aku akan pergi menemuinya.”

Saudagar itu menjadi sangat berlega hati setelah ia menemukan jalan yang paling baik untuk mengatasi kesulitannya. Karena itu, maka ia pun segera bersiap untuk pergi ke istana menemui Mahisa Agni.

“Pamanmu orang baik. Ia tidak pernah menolak sahabat-sahabatnya yang datang kepadanya, saat apapun juga, asal ia tidak sedang bertugas. Mudah-mudahan saat ini pamanmu baru tidak sedang sibuk.” berkata saudagar itu kemudian, namun, ”Tetapi jangan kau katakan kepada bibimu, apa yang kau ketahui.”

“Baik paman. Dan aku juga tidak akan mengatakan bahwa paman sedang pergi ke istana.”

Saudagar itu pun kemudian dengan tergesa-gesa minta diri kepada isterinya. Tetapi ia tidak berterus terang tentang apa yang sedang membuatnya gelisah, agar isterinya tidak menjadi gelisah pula.

Dengan senang hati Mahisa Agnipun kemudian menerimanya meskipun agak ragu-ragu dan berdebar-debar. Ia menyangka bahwa sahabatnya itu akan membicarakan Mahisa Bungalan yang ada di rumahnya.

Tetapi ternyata pembicaraan saudagar itu tidak menyinggung anak muda yang dititipkannya. Yang dikatakannya adalah ceritera yang didengar oleh saudagar itu dari sahabatnya.

Mahisa Agni mendengarkan ceritera itu dengan saksama. Sejenak terasa jantungnya berdebaran. Seperti saat Mahisa Bungalan mendengar ceritera itu, maka Mahisa Agni pun segera menghubungkannya dengan peristiwa yang sedang diamati oleh Mahisa Bungalan itu. Apalagi ketika saudagar itu telah memberikan ciri-ciri yang serupa pada dua orang yang telah merampok uang dengan cara yang aneh itu.

“Aku sudah memberitahukannya pula kepada Pegatmega.” berkata saudagar itu kemudian, ”Karena aku menjadi kebingungan, maka anak itu menganjurkan aku untuk datang kemari.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Lalu katanya, ”Baiklah. Aku akan memikirkannya. Mungkin aku mempunyai cara yang baik untuk mengatasinya.”

Saudagar itu mengangguk-angguk. Hatinya sudah mulai tenang ketika Mahisa Agni menyatakan kesanggupannya untuk mencari jalan keluar dari ketegangan yang dialaminya.

“Aku akan bertemu dengan Pegatmega.” berkata Mahisa Agni.

“Silahkan. Tetapi aku harap, jangan memberitahukan kepada isteriku. Aku sengaja tidak memberitahukan kepadanya agar ia tidak menjadi tegang dan bingung.” berkata saudagar itu.

“Baiklah. Aku harap bahwa aku masih sempat mengambil tindakan sebelum kedua orang itu datang.”

“Tetapi, tetapi jika nanti malam ia datang?”

“Tentu tidak nanti malam. Uang yang diambilnya dari sahabatmu itu tentu belum habis.”

Saudagar itu mengangguk-angguk. Tetapi katanya, ”Siapa tahu bahwa nasibku sangat buruk.” ia berhenti sejenak, lalu, ”Apakah tidak ada tindakan sementara yang dapat diambil?”

“Maksudmu?”

“Pengamatan kota yang lebih mantap dari biasanya?”

“Prajurit Singasari tidak pernah mendengar dan mendapat laporan apapun, sehingga mereka tidak merasa perlu untuk mengambil tindakan serupa itu.”

“Tetapi hal itu telah terjadi.”

“Karena itu, sebaiknya mereka yang mengalaminya melaporkannya, sehingga prajurit Singasari mengetahui apakah yang telah terjadi sebenarnya. Dengan demikian maka mereka akan dapat mengambil tindakan pengamanan yang tepat.”

“Bukan aku yang pernah mengalami.”

“Sudahlah. Jangan bingung. Aku yakin bahwa nanti malam belum akan terjadi apapun juga. Bukan saja rumahmu, tetapi di rumah yang lainpun tidak. Jarak waktu yang diambilnya tentu agak panjang, jika mereka tidak ingin cepat terjebak.”

“Tetapi jangan terlalu lama mengambil tindakan.” minta saudagar itu.

“Aku berjanji.” jawab Mahisa Agni, ”Nanti aku akan menemui Pegatmega menjelang senja, agar tidak banyak orang yang mengetahuinya. Jika banyak orang yang melihat aku datang, tentu akan sangat menarik perhatian.”

“Tentu ada yang melihatnya.”

“Mudahan tidak seorang pun yang menghiraukannya sehingga tidak menimbulkan persoalan apapun juga, karena berita tentang dua orang perampok itu tentu sudah didengar oleh beberapa orang lain pula, yang akan mencari buhungan dengan kehadiranku di rumahmu.”

Saudagar itu mengangguk-angguk. Desisnya, ”Mudah-mudahan. Apa lagi jika terdengar oleh kedua orang itu, mungkin justru rumahku menjadi sasaran.” lalu tiba-tiba saja ia berkata, ”Kenapa bukan Pegatmega saja yang kau panggil datang kemari? Atau aku akan mengantarkannya menghadapmu?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Jika Mahisa Bungalan di bawanya masuk halaman, maka akan ada satu dua orang prajurit atau Senapati akan lupa menyebut namanya, sehingga saudagar itu akan mengetahui bahwa anak muda yang ada di rumahnya adalah anak muda yang justru menjadi sasaran utama dari sekelompok orang yang memiliki kekuatan hitam. Dengan demikian, maka ia akan menjadi semakin ketakutan dan bahkan mungkin akan mengusir Mahisa Bungalan dari rumahnya.

Karena itu, maka Mahisa Agnipnu berkata, ”Biarlah aku saja yang datang ke rumahmu. Pegatmega adalah anak yang tidak tahu unggah-ungguh, sehingga jika ia masih ke istana mungkin akan dapat menimbulkan persoalan baru baginya.”

Saudagar itu tidak menjawab. Dan sebenarnyalah bahwa iapun sama sekali tidak berkeberatan mendapat kunjungan Mahisa Agni. Orang yang penting bagi Singasari.

Karena itulah maka saudagar itupun kemudian minta diri dan menyiapkan kunjungan Mahisa Agni ke rumahnya.

Menjelang senja, seperti yang disanggupkan Mahisa Agni benar-benar berkunjung ke rumahnya. Tidak lebih dari Mahisa Agni sendiri dan hanya diiringi oleh seorang Senapati tanpa mempergunakan tanda keprajuritan sama sekali.

“Benar-benar tidak ada seorang pun yang menghiraukan kehadiran di rumah ini.” berkata Mahisa Agni.

“Tentu.” jawab saudagar itu, ”Tidak seorang pun akan menyangka bahwa Mahisa Agni, salah seorang pemimpin tertinggi Singasari akan datang ke rumahku hanya berdua saja.”

Mahisa Agni tersenyum Katanya, ”Dimanakah Pegatmega?”

Saudagar itu pun kemudian memanggil Mahisa Bungalan untuk menghadap pamannya yang telah datang ke rumah itu.

Mahisa Agni tidak banyak berpesan. Ia hanya mengharap agar Pegatmega tidak menjadi gelisah. Ia akan segera mencari jalan keluar dari kesulitan yang mungkin timbul.

“Kau adalah anak laki-laki. Apapun yang akan terjadi, jangan membuatmu menjadi mati membeku.” bekata Mahisa Agni.

Tetapi ketika mereka bertiga saja dengan Senapati yang datang bersama Mahisa Agni, selagi saudagar itu pergi kebelakang maka Mahisa Agni berkata, ”Aku akan minta pamanmu Witantra untuk berada di tempat ini.”

“Kenapa bukan ayah Mahendra saja paman?”

“Aku tidak sampai hati memisahkannya dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dalam keadaan seperti ini. Jika ada sekelompok orang yang mencarimu di rumahmu karena petunjuk siapapun juga, tanpa ayahmu, maka adik-adikmu akan dapat menjadi korban.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk.

“Aku memang mengharap bahwa kedua orang itu akan datang kemari pada suatu saat.”

“Dan paman Witantra akan tinggal disini?”

“Mudah-mudahan ia masih suka bermain-main. Ia akan menjadi seorang upahan untuk berjaga-jaga di rumah ini.”

Mahisa Bungalan tiba-tiba tersenyum. Ia membayangkan, bagaimana mungkin Witantra akan berada di rumah itu pula sebagai seorang upahan.

Dan tiba-tiba saja ia bertanya, ”Apakah tidak akan ada seorang pun yang mengetahui, bahwa orang itu adalah Witantra yang bergelar Panji Pati-Pati?”

Mahisa Agni menggeleng. Katanya, ”Banyak orang yg pernah mengenal Witantra. Tetapi dalam pakaian yang lain dengan seorang yang menjual tenaganya untuk menjaga rumah ini.”

Mahisa Bungalan justru tertawa, ”Lucu sekali.”

“Dalam pakaian seorang yang diupah untuk bermain-main dengan senjata, seperti layaknya orang-orang kasar yang memamerkan kemampuannya dalam olah kanuragan, maka tidak akan ada orang yang mengenalnya.”

“Aku senang sekali paman. Aku mendapat kawan yang dapat melindungi diriku.”

“Kau harus melindungi dirimu sendiri? Kau sudah berhasil membunuh tiga di antara mereka, meskipun barangkali bukan mereka yang sudah matang.”

“Baiklah paman. Aku akan menempa diri semakin tekun agar aku tidak mengecewakan lagi.”

“Baiklah. Aku akan segera memanggil pamanmu Witantra.”

Pembicaraan merekapun terputus ketika saudagar ternak itu memasuki ruangan.

Sejenak kemudian, ketika mereka mengulangi pembicaraan mengenai kemungkinan yang dapat terjadi pada rumah itu, maka Mahisa Agnipun berkata, ”Aku mempunyai cara yang barangkali dapat memberikan sedikit ketenangan kepadamu.”

“Apakah yang harus aku lakukan?”

“Aku mempunyai seorang pengawal yang dapat dipercaya. Tetapi karena umurnya ia sudah mengundurkan diri dari lingkungan keprajuritan. Jika kau tidak berkeberatan, apakah kau bersedia mengupah orang itu untuk menjagamu di sini?”

Saudagar itu mengerutkan keningnya. Katanya, ”Apakah orang itu mungkin akan bermanfaat bagi kami? Apalagi orang itu sudah tua.”

“Ia mempunyai kelebihan dari prajurit-prajurit yang lain. Barangkali aku dapat menghubunginya.”

“Apakah kau percaya jika benar-benar terjadi, bahwa ada dua orang datang ke rumah ini dan memaksa aku memberikan semua milikku, ia akan dapat mengatasi kesulitan itu?”

“Aku percaya. Aku mengenal kemampuan pengawal-pengawalku.”

“Baiklah. Ia akan melakukan tugasnya jika dua orang itu memaksa aku menyerahkan semua milikku atau nyawaku. Jika ia hanya minta sebagian dari uangku, aku akan memberikannya dengan senang hati.”

“Kau akan memberinya?”

“Ya. Tanpa banyak persoalan. Bukankah itu lebih baik dan aman bagiku?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Terserahlah kepadamu. Tetapi aku mempunyai pendirian lain. Orang itu sebaiknya ditangkap.”

“Kenapa?”

“Ia akan melakukan hal yan serupa terus menerus.”

“Terserahlah. Tetapi jangan pada saat orang-orang itu datang ke rumahku.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Baiklah. Semuanya itu terserah kepada pembicaraanmu dengan orang upahan yang akan ditempatkan di rumah ini.”

Saudagar itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, ”Kapan ia akan datang?”

“Besok atau lusa.”

“Jangan terlalu lama. Mungkin nanti malam, mungkin besok malam, orang itu dapat saja datang ke rumah ini.”

Mahisa Agni menggeleng. Katanya, ”Tidak dalam dua tiga hari ini. Ia akan datang jika uang yang diambilnya dari kawanmu itu sudah habis.”

Saudagar itu akhirnya menurut semua petunjuk Mahisa Agni. Iapun dengan senang hati akan menerima seorang upahan di rumahnya. Namun ia masih tetap menghendaki agar orang itu baru berbuat sesuatu jika orang-orang yang datang itu tidak hanya sekedar minta sebagian uangnya saja.

Demikianlah, maka Mahisa Agni pun segera menghubungi Witantra. Seorang penghubung telah datang ke rumah Witantra dan mengharapnya datang ke istana.

“Apakah adi Mahisa Agni tidak berpesan apapun juga?”

“Tidak.” jawab penghubung itu, ”Aku hanya disuruh menyerahkan rontal itu.”

“Baiklah.” jawab Witantra, ”Aku akan segera datang.”

Di hari berikutnya, Witantra telah benar-benar datang ke istana. Dengan singkat Mahisa Agni menceriterakan apa yang sudah terjadi di Kota Raja, dan sekaligus ia minta agar Witantra masih bersedia untuk bermain-main seperti beberapa saat lampau.

“Tetapi lawan yang mungkin aku hadapi kali ini benar-benar berbahaya.” berkata Witantra, ”Untunglah di rumah itu ada Mahisa Bungalan.”

“Tentu tidak akan berbahaya bagimu.” berkata Mahisa Agni.

Witantra tertawa. Katanya, ”Jangan menganggap lawanmu ringan. Itu adalah permulaan dari kelengahan.”

“Ya, ya. Aku mengerti.” jawab Mahisa Agni sambil tersenyum.

Namun tiba-tiba saja Witantra bertanya, ”Berapa saudagar itu akan membayar aku sehari semalam?”

Mahisa Agni tertawa. Jawabnya, ”Berapa saja kau minta. Ia adalah saudagar yang kaya raya.”

Witantrapun tertawa pula.

Namun dalam pada itu, ternyata tawaran Mahisa Agni itupun sangat menarik perhatiannya. Jika benar, orang-orang yang mereka curigai itu datang dan berhasil ditangkapnya, maka mungkin akan tersibak suatu kabut yang menyembunyikan sekelompok orang-orang yang sangat berbahaya bagi Singasari.

Karena itulah maka dengan senang hati Witantra menerima tugas yang ditawarkan kepadanya oleh Mahisa Agni untuk tinggal beberapa lamanya pada keluarga saudagar yang kaya itu.

“Nanti menjelang senja kita datang ke rumahnya.” berkata Mahisa Agni.

“Lalu, apakah yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menyebut diriku dengan nama yang lain?” bertanya Witantra.

“Tentu. Kau harus mempergunakan nama yang lain. Bukan Witantra dan sudah tentu bukan Panji Pati-Pati.”

“Nah, siapakah yang baik?”

Mahisa Agni merenung sejenak, lalu, ”Sempulur. Namamu Sempulur.”

“Baiklah. Aku akan menyebut diriku Sempulur.”
“Jangan lupa. Mahisa Bungalan mempunyai namanya yang lain pula. Pegatmega.”

“Ya. Pegatmega. Aku akan segera mengingatnya.”

Demikianlah maka ketika langit menjadi suram, Mahisa Agni bersama seorang pengawalnya telah membawa Witantra ke rumah saudagar itu, seolah-olah ia membawa seorang bekas prajurit pengawalnya yang dipercayanya untuk membantu menjaga ketenteraman rumah saudagar itu.

“Siapakah namanya?” bertanya saudagar itu.

“Sempulur.” jawab Mahisa Agni, ”Ia adalah prajurit yang mumpuni meskipun seolah tingkahnya agak kasar. Tetapi ia adalah orang yang baik.”

Saudagar itu termangu-mangu sejenak.

“Jangan cemas tentang orang yang bernama Sempulur itu. Aku mempertanggung jawabkannya. Jika ia melakukan sesuatu yang menurutmu tidak sewajarnya, kau dapat mengatakan kepadaku. Akulah yang akan mengambil tindakan atasnya.”

Saudagar itu mengangguk-angguk.

“Kau dengar Sempulur?” beranya Mahisa Agni.

“Ya tuan. Aku mendengar. Dan aku akan mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya.”

“Meskipun kau bukan seorang prajurit lagi, tetapi kau tetap orangku. Akulah yang menempatkan kau disini.”

“Ya tuan. Aku akan menjunjung kepercayaan ini sejauh-sejauh dapat aku lakukan.”

“Terima kasih. Jika ada sesuatu yang kurang, lebih baik kau berkata terus terang.”

“Ya tuan. Tetapi aku sebenarnya sudah sangat berterima kasih bahwa tuan masih percaya kepadaku untuk melakukan tugas yang mirip dengan tugas keprajuritan ini.”

“Sama sekali tidak.” jawab Mahisa Agni, ”Kau tidak harus berjaga-jaga di muka regol siang dan malam. Kau justru harus melebur dirimu sehingga tidak seorang pun yang mengetahui kehadiran seorang bekas prajurit di rumah ini. Kau harus melakukan pekerjaan sehari-hari seperti keluarga sendiri Mengambil air, menyapu halaman, dan mungkin membelah kayu.”

“Aku mengerti tuan. Dan aku akan menjalankannya.”

“Terima kasih. Mudah-mudahan kau dapat melakukan semua tugas itu sebaik-baiknya. Jika terjadi sesuatu, maka kau harus dapat mengatasinya. Kau adalah bekas seorang prajurit Singasari.”

“Ya tuan.”

“Baiklah. Jika kau sudah bersetuju, tinggallah disini. Disini ada seorang anak muda bernama Pegatmega,” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu bertanya kepada saudagar itu, ”Dimana Pegatmega?”

“Ia sedang turun ke sungai.”

“Apa yang dilakukan?”

“Mandi. Ia lebih senang mandi di sungai daripada di pakiwan.”

“Menjelang malam?”

“Sudah kebiasaannya. Ia pulang setelah malam menjadi gelap. Setiap hari.”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa Mahisa Bungalan mempergunakan kesempatan itu untuk melatih diri di tempat yang sepi. Di bawah tebing sungai di dalam gelapnya ujung malam.

“Ia tentu akan senang mendapat seorang kawan.” berkata Mahisa Agni, ”Pegatmega pandai bermain macanan. Sedang Sempulur juga mempunyai kesenangan yang serupa.”

“Mudah-mudahan keduanya senang tinggal di rumah ini.”

Pembicaraan mereka masih berlangsung beberapa saat. Akhirnya Mahisa Agnipun minta diri dan meninggalkan Witantra di rumah saudagar yang kaya itu.

Kepada isterinya saudagar itu mengatakan, bahwa ia telah menerima seseorang yang dititipkan oleh Mahisa Agni. Seorang yang barangkali dapat membantunya melakukan pekerjaannya.

Dengan hadirnya Witantra, saudagar itu merasa agak tenang. Menilik sikap dan kata-katanya, agaknya Witantra memang bekas seorang prajurit.

“Sayang, ia sudah agak tua.” katanya di dalam hati, ”Tetapi mudah-mudahan ia benar-benar dapat melindungi bukan saja hak milikku, tetapi juga nyawaku.”

Dengan demikian, maka Witantra pun kemudian tinggal bersama saudagar itu dan Mahisa Bungalan yang dikenal pula dengan nama Pegatmega.

Agar ia benar-benar dapat melindungi saudagar itu dari marabahaya, maka iapun telah ditempatkan di ruang dalam bersama dengan Pegatmega.

“Kenapa orang itu tidak kau suruh tidur di belakang, bersama para pembantu?” bertanya isteri saudagar itu.

“Ia bekas seorang prajurit. Ia bukan pembantu di rumah ini. Oleh Mahisa Agni, ia telah dititipkan kepadaku, karena ia memerlukan pekerjaan.”

“Bukankah itu berarti bahwa ia bekerja pada kita.”

“Tetapi soalnya adalah berbeda. Ia bekerja bukan karena ia tidak dapat mencari sesuap nasi? Ia bekerja karena ia tidak mau duduk termenung di rumahnya setelah ia menyelesaikan masa baktinya sebagai seorang prajurit.”

“Bukankah sudah sewajarnya? Ia pantas beristirahat pada usianya yang telah tua setelah ia bekerja bertahun-tahun sebagai seorang prajurit. Apakah dengan demikian ia masih harus bekerja lebih lama lagi?”

“Ia tidak mau cepat mati. Katanya, mereka yang sudah tidak lagi mempunyai kewajiban dan tanggung jawab apapun akan lekas mati.”

Isterinya tidak membantah lagi. la tidak tahu pasti, apakah yang dikatakan oleh suaminya itu benar.

Namun dengan demikian maka penghuni rumahnya telah bertambah dengan seorang lagi.

Tetapi ternyata, Witantra yang dikenal bernama Sempulur itu tidak hanya sekedar duduk menunggu dua orang yang dicemaskan akan datang ke rumah sauadgar itu. Ternyata seperti Pegatmega ia, adalah seorang yang rajin. Ia bekerja sejak ia terbangun menjelang dini hari, sampai saatnya matahari terbenam. Apa saja dipegangnya sebagai pekerjaan yang dikerjakannya dengan senang hati. Bahkan kadang-kadang berdua dengan Pegatmega mereka duduk di bawah sebatang pohon yang rindang sambil membelah ranting-ranting kecil supaya cepat kering sebelum dibawa kedapur. Tetapi kadang-kadang mereka berdua duduk dengan tegang sambil bermain macanan. Agaknya keduanya memang mempunyai kegemaran yang sama, bermain macanan. Kadang-kadang mereka lupa waktu, sehingga halaman di depan pendapa, hampir penuh dengan daun-daun kering yang berguguran. Namun jika mereka menyadarinya, segera mereka berlari-lari mengambil sapu lidi, dan membersihkannya. Seorang di depan dan seorang di belakang.

Pelayan-pelayan yang semula mempunyai pekerjaan itu, justru dengan sengaja bersembunyi di dapur atau di kandang kuda. Baru setelah keduanya mulai mengayunkan sapu, ia datang sambil berkata agak menyesal, ”Ah, biarlah aku saja yang menyapunya. Bukankah itu kewajibanku?”

Tetapi baik Sempulur, maupun Pegatmega selalu menjawab, ”Sudahlah. Kerjakan pekerjaanmu yang lain.”

Dengan demikian maka para pembantunya menjadi semakin senang karena kehadiran kedua orang itu di rumah saudagar ternak yang kaya itu. Namun mereka sama sekali tidak mengetahui, bahwa setiap saat hari saudagar itu selalu dicengkam oleh kegelisahan dan ketakutan.

Beberapa hari setelah Sempulur berada di rumah itu, maka keragu-raguan mulai tumbuh di hati saudagar itu. Mungkin ia terlalu dibayangi oleh ketakutan. Ternyata akhirnya tidak ada sesuatu yang terjadi.

Tetapi tiba-tiba terasa kehadiran Sempulur dan Pegatmega seolah-olah telah menjadi keharusan. Ia merasa segan ditinggalkan oleh keduanya. Karena keduanya dapat diajak duduk berbicara tentang banyak hal. Apalagi Sempulur.

Orang tua itu mengenal berbagai macam bentuk pusaka dan besi aji. Tetapi ia juga pandai mengupas arti sebuah kidung yang rumit. Bahkan di malam hari, sering terdengar suara Sempulur yang meskipun sudah menjadi agak parau, namun masih juga memberikan suasana yang ngelangut.

“Kau juga harus belajar membaca kidung.” berkata saudagar itu kepada Pegatmega, ”Sempulur menjadi semakin tua. Suaranya akan menjadi serak, dan pada suatu ketika ia akan menjadi pikun dan gemetar. Belajarlah selagi ia berada disini.”

Pegatmega hanya tersenyum saja. Sambil mengangguk-angguk ia merenungi kitab yang tertutup di hadapannya.

Sementara itu, saudagar itu sudah hampir melupakan bahwa di kota raja itu sedang berkeliaran dua orang yang dapat mengganggu ketenangannya. Yang setiap hari diperbincangkan dengan Sempulur dan Pegatmega adalah justru persoalan-persoalan yang lain. Persoalan-persoalan yang sama sekali tidak menyangkut tentang kemungkinan yang mendebarkan itu.

Tetapi ketenangan dan ketenteraman hati saudagar itupun kemudian telah diguncang pula oleh peristiwa yang serupa dengan yang pernah terjadi. Tidak ada bedanya. Dua orang datang sambil menyembunyikan wajahnya dibalik ikat kepalanya.

Mereka berkelahi hanya sebentar sekali, karena pemilik rumah yang didatanginya sama sekali tidak berdaya melawan keduanya. Tetapi keduanya tidak berbuat apa-apa selain mengambil sebagian saja dari uangnya. Hanya uangnya. Tidak lebih. Perhiasan yang ada di dalam peti sama sekali tidak disentuhnya seperti yang terjadi sebelumnya.

Agaknya peristiwa itu segera didengar oleh saudagar ternak yang kaya itu. Ketakutan yang sangat mulai merambati hatinya kembali setelah ia hampir menemukan ketenangan.

Saudagar itu seolah-olah sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa saat berikutnya yang akan didatangi oleh kedua orang yang tidak dikenal itu adalah rumahnya.

“Mereka tentu akan segera datang.” Desisnya, ”Aku seakan-akan sudah pasti. Tidak ada orang lain yang lebih pantas didatangi selain aku.”

“Apakah tidak ada orang lain yang lebih kaya dari paman?” bertanya Pegatmega.

“Ada. Tetapi mereka benar-benar orang yang kaya. Mereka memiliki sepasukan pengawal di rumahnya. Mereka seolah-olah adalah prajuritnya yang dapat melindungi kekayaannya. Tetapi aku tidak. Aku tidak mempunyai sepasukan pengawal. Dan yang pernah didatangi oleh kedua orang itu sampai saat ini bukanlah orang-orang kaya yang sebenarnya itu. Yang didatangi adalah orang-orang yang memiliki sekedar kekayaan, tetapi tidak cukup banyak untuk memelihara sepasukan pengawal-pengawal.”

“Di sini adalah paman Sempulur.” berkata Pegatmega.

“Ya, ya.” jawab saudagar itu. Namun kemudian, ”Tetapi aku masih cemas.”

“Kenapa paman?”

“Ia hanya seorang diri.”

“Tetapi paman Sempulur adalah seorang bekas prajurit.”

Saudagar itu memandang Sempulur dengan gelisah. Lalu katanya, ”Sempulur. Kau adalah orang yang baik. Kehadiranmu di rumah ini, bagaikan kehadiran saudaraku sendiri. Karena itu, jika kedua orang itu datang kemari, sudahlah, kau tidak usah berbuat apa-apa. Karena itu akan dapat membahayakanmu.”

“Jika mereka tidak berbuat apa-apa, seperti pesan Ki Saudagar akupun tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi bagaimana jika keduanya melakukan lebih dari hanya mengambil sebagian dari uang yang ada?”

“Tidak. Ia tidak akan berbuat lebih dari itu. Beberapa kali sudah terjadi, bahwa hanya uang sajalah yang dimbilnya. Tidak lebih.”

“Syukurlah jika demikian.” Sempulur mengangguk-angguk, ”Tetapi bagaimanapun juga setiap kemungkinan akan dapat terjadi.”

“Sudahlah. Jangan mengorbankan dirimu buat kepentinganku. Yang kau dapatkan di sini sama sekali tidak seimbang, jika kau harus mengorbankan dirimu. Aku kira kedua orang yang berbuat demikian itu justru orang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.”

Sempulur tidak menjawab lagi selain mengangguk-anggukkan kepalanya.

Demikianlah kehidupan saudagar ternak itu nampaknya masih tetap tenang. Isterinya sama sekali tidak tahu, bahwa pernah terjadi sesuatu yang dapat membuat suaminya gelisah dan bingung. Jika ia melihat suaminya duduk merenung, ia selalu menyangka bahwa ada sesuatu yang kurang baik pada perhitungan dagangnya, sehingga ia mengalami sedikit kerugian.

“Sudahlah kakang.” ia selalu mencoba menghiburnya, “Jika kau mengalami kerugian serba sedikit, janganlah dirisaukan. Kita tidak akan menjadi miskin karenanya. Kita sudah cukup kaya. Anak kitakan sudah memiliki kekayaannya tersendiri, sehingga apa yang kita punya seolah-olah hanyalah bagi sisa hidup kita yang semakin pendek.”

Suaminya tetap tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Karena itu ia selalu menjawab, ”Baiklah Nyai. Aku akan melupakannya kekeliruanku yang kecil itu.”

Namun sebenarnyalah jantungnya bagaikan dicengkam oleh ketakutan yang tidak terhindarkan lagi.

Dari hari kehari, ternyata saudagar itu menjadi semakin gelisah. Rasa-rasanya saat itu pun menjadi semakin pendek, bahwa dua orang akan segera datang untuk mengambil uang. Sebagian saja dari seluruh miliknya.

“Baiklah aku akan menyediakannya.” berkata saudagar itu, ”Kenapa aku justru menjadi gelisah? Sudah beberapa kali hal itu terjadi. Dan yang beberapa kali itu tidak pernah menimbulkan persoalan yang gawat.”

Dengan demikian maka saudagar itu pun justru telah menyediakan uangnya dalam sebuah peti. Di dalam peti itu terletak sebuah peti lebih kecil, tempat ia menyimpan perhiasannya. Ia tidak mau menyembunyikan perhiasan itu, karena hal itu justru akan dapat menimbulkan kecurigaan dan perhatian tersendiri kepadanya. Tentu kedua orang itu megnganggap bahwa ia tidak mempercayai mereka itu.

“Orang yang merasa dirinya tidak dipercaya akan dapat berbuat apa saja diluar dugaan.” berkata saudagar itu di dalam hatinya.

Namun sementara itu, Pegatmega dalam kesempatan ter¬sendiri, selalu mengharap agar dua orang itu benar-benar datang ke rumah itu.

“Jika kita dapat melihat, atau memaksa mereka untuk melontarkan ilmu yang sebenarnya tersimpan pada mereka berdua, maka kila akan dapat mengetahui, siapakah sebenarnya keduanya itu.” berkata Witantra.

“Ya.” jawab Pegatmega, ”Akan sangat menarik jika keduanya benar-benar orang dari lingkungan ilmu hitam itu. Akulah orang yang paling berkepentingan. Dan agaknya merekapun memang sedang mencari aku. Seharusnya aku tidak bersembunyi seperti sekarang ini, dengan nama dan keadaan yang lain daripada saat aku membunuh ketiga orang dari mereka.”

“Kenapa kau harus menyatakan dirimu? Kau tidak usah berbuat demikian. Kau dapat berbuat demikian jika kau yakin bahwa kedua orang itu pun akan berbuat jantan. Datang kepadamu dan menantangmu dengan dada tengadah.”

Mahisa Bungalan hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun sebenarnya ia merasa kurang mapan untuk bersembunyi saja terus-menerus. Jika semakin lama kedua orang itu bertindak semakin kasar, maka ia tentu akan merasa bersalah terhadap korban-korban yang berjatuhan.

Tetapi pembicaraan mereka berdua selalu terhenti jika saudagar kaya, tempat mereka tinggal itu datang. Segera mereka pun mengalihkan perhatian mereka kepada garis-garis di tanah, dan potongan-potongan lidi, yang mereka pergunakan sebagai alat permainan mereka. Macanan atau mul-mulan.

Namun agaknya dari hari kehari, kegelisahan menjadi semakin nampak pada saudagar itu. Meskipun kadang-kadang ia dapat menenangkan hatinya dengan menyediakan uangnya, tetapi kadang-kadang, terbayang kengerian yang sangat.

“Jika keduanya mengambil sikap lain.” katanya di dalam hati, ”Apakah Sempulur yang tua itu akan dapat menolongku? Meskipun Mahisa Agni seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa sehingga ia akan mampu menilai Sempulur, tetapi tentu ketuaannya itu akan berpengruh juga.”

Tetapi saudagar itu tidak mengatakannya kepada siapapun. Apalagi kepada Pegatmega yang nampaknya menjadi semakin sesuai dengan Sempulur. Keduanya memiliki sifat yang hampir sama. Rajin dan tidak mau duduk termenung tanpa berbuat sesuatu. Jika mereka memang tidak mempunyai kerja apapun juga, maka mereka pun sempat mempertajam otak mereka dengan permainan mereka meskipun dengan alat-alat yang sangat sederhana.

Sementara itu, selagi Sempulur dan Pegatmega menunggu sampai pada suatu saat dua orang itu akan datang ke rumah saudagar kaya itu, maka di tempat lain, agaknya seseorang telah menaruh perhatian juga kepada kedua orang itu.

Agaknya perbuatan kedua orang, yang tidak dengan resmi dilaporkan itu, terdengar pula oleh Linggadadi.

Dengan demikian ia mulai merasa terganggu pula. Ia sama sekali tidak mau melihat wajah danau yang seolah-olah meliputi seluruh Singasari itu, bergelombang, betapapun kecilnya.

“Setiap peristiwa yang bersifat kekerasan tentu akan membangunkan prajurit-prajurit Singasari yang sudah mulai akan tidur lelap.” berkata Linggadadi.

Dengan demikian, maka ia pun kemudian bersepakat dengan Linggapati untuk mengirimkan dua orang yang mereka percaya untuk menyesuaikan masalahnya.

“Aku tidak tahu, siapakah mereka itu. Tetapi agaknya mereka adalah orang-orang yang memiliki kelebihan. Cobalah tangkap mereka hidup-hidup. Jika tidak mungkin, bunuh sajalah agar mereka tidak mengganggu ketenangan Singasari. Aku ingin Singasari benar-benar tidur, hingga pada suatu saat, aku akan datang dengan pasukan yang dengan pasti akan menghancurkannya selagi mereka masih lelap, dan tidak akan mungkin dapat bangun lagi.”

Kedua orang anak buah Linggapati itu pun kemudian mempersiapkan dirinya untuk melihat keadaan Singasari. Mereka mendapat tugas yang cukup berat. Mereka harus menghadapi dua orang yang tidak dikenal dan belum dapat dijajagi kemampuannya.

Demikianlah, maka dengan kesiagaan sepenuhnya, dua orang anak buah Linggapati itupun berangkat. Yang seorang bertubuh sedang, berwajah keras meskipun kadang-kadang ia tersenyum juga. Namanya Sruba. Sedang yang lain agak lebih tinggi, tetapi juga lebih kurus. Namanya Tuju.

Namun agaknya keberangkatan mereka telah menumbuhkan kegelisahan pada Linggapati dan Linggadadi. Sepeninggal keduanya, ternyata Mahibit telah kedatangan tamu. Tapak Lamba dengan kawan-kawannya.

“Kau benar-benar datang?” bertanya Linggapati sambil tersenyum.

Tapak Lamba mengerutkan keningnya. Namun iapun tersenyum pula sambil menjawab, ”Ya. Aku benar-benar datang.”

“Jarak waktu yang diperlukan terlalu lama.”

“Ada sesuatu yang menarik.” jawab Tapak Lamba.

Linggapati dan Linggadadi menjadi heran.

Sejenak kemudian, setelah mendapat hidangan minum dan makanan, Tapak Lamba mulai menceriterakan perjalanannya. Ia menceriterakan pula apa yang telah terjadi di daerah yang disebut daerah bayangan hantu itu.

Linggapati menjadi gelisah. Dengan serta merta ia bertanya, ”Jadi kau jumpai tiga orang berilmu hitam itu?”

“Ya. Dan Ki Buyut itu pun menjadi ragu-ragu. Apakah orang-orang di Mahibit tidak menganut ilmu hitam.”

Linggapati tertawa. Jawabnya, ”Ilmu hitam adalah ilmu tersendiri. Jika ada orang yang tidak senang kepada cita-citaku, dapat saja ia menyebut aku juga golongan hitam. Tetapi sebenarnya aku tidak menganut ilmu hitam yang dimaksud. Ilmu hitam yang murni. Karena ilmu itu benar-benar mengerikan. Mungkin aku juga kadang-kadang membunuh dengan cara yang mengerikan. Tetapi bukan merupakan keharusan dan kebanggaan. Apalagi mereka memang memerlukan darah untuk menyegarkan ilmu mereka. “

“Jadi kau sudah pernah mendengar?”

“Ya. Tetapi sebenarnya ilmu itu sudah lama lenyap. Kini tiba-tiba saja ilmu itu muncul dan berkembang. Hal itu tentu akan membahayakan cita-citaku. Tentu Singasari akan memperkuat diri dan bangkit dengan kesiagaan sepenuhnya. Jika demikian, aku tidak akan mungkin dapat mengguncang Kota Raja itu dengan caraku, karena aku ingin kota itu menjadi tenang dan damai. Sekali angin bertiup, maka akan robohlah batangnya untuk tidak akan pernah bersemi lagi.”

Tapak Lamba mengangguk-angguk. Katanya, ”Jika benar-benar terjadi perampokan-perampokan itu di Singasari, mungkin memang ada hubungannnya dengan orang-orang yang berilmu hitam itu.”

Linggapati termenung sejenak. Diluar sadarnya kepalanyapun terangguk-angguk pula. Ia mulai membayangkan perjalanan ke dua orang-orangnya yang pergi ke Singasari.

“Jika benar kedua orang itu dari lingkungan ilmu hitam, apakah Sruba dan Tuju akan dapat berhasil menangkap hidup, atau melenyapkannya agar ia tidak membuat onar lagi di Singasari?” gumamnya.

“Kakang.” berkata Linggadadi, ”Biarlah aku pergi saja ke Singasari. Aku akan melihat perkembangan keadaan.”

“Kau adalah seorang yang mudah tersinggung. Kau suka bermain-main. Tetapi kau kurang tabah dengan permainanmu sehingga kadang-kadang hatimu terbakar. Jika kedua orang dari lingkungan hitam itu dapat ditangkap hidup, maka ada kemungkinan kita dapat berhubungan dengan pimpinannya. Adalah tidak mustahil bahwa kita akan dapat bekerja bersama, seperti kita akan bekerja bersama dengan Tapak Lamba.”

Tapak Lamba menundukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa sebenarnyalah bahwa sisa hidupnya adalah karena belas kasihan Linggapati saat Linggadadi hampir saja membunuhnya. Namun kemudian hidup itu seakan-akan telah disambung pula oleh Mahisa Bungalan, kakak dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang hampir saja dibunuhnya.

“Jadi bagaimana maksud kakang?”

Linggapati termangu-mangu. Lalu katanya, ”Baiklah. Jika kau mau pergi, pergilah. Tetapi jangan kau ulangi kekasaranmu seperti yang hampir saja kau lakukan terhadap Tapak Lamba. Jika sekiranya kau tidak perlu membunuh, jangan kau bunuh orang itu.”

Linggadadi mengangguk. Tetapi iapun kemudian berkata, ”Mudah-mudahan bukan orang-orang itulah yang memaksa, aku membunuh mereka.”

“Memang ada kalanya demikian. Terserahlah kepadamu. Apa yang sebaiknya harus kau lakukan.”

Linggadadi pun kemudian memandang Tapak Lamba sambil bertanya, ”Apakah kau akan pergi bersamaku?”

Tapak Lamba ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya aku tidak usah pergi. Bukan karena aku takut menghadapi maut jika sekiranya kita akan berjumpa dengan orang-orang dari lingkungan ilmu hitam itu. Tetapi aku adalah orang yang barangkali telah dikenal oleh satu dua orang Singasari sehingga mungkin akan dapat menghambat usahamu.”

Sebelum Linggadadi menjawab, Linggapati telah memotong, “Biarlah ia tinggal disini. Ia akan menjadi beban bagimu.”

Sekali lagi Tapak Lamba menundukkan kepalanya. Ia merasa bahwa dalam pembicaraan itu, ia adalah orang yang seolah-olah tidak banyak berarti. Ilmunya masih belum dapat ikut diperhitungkan untuk menghadapi orang-orang dari lingkungan ilmu hitam. Bahkan Linggapati menganggapnya, bahwa ia hanya akan menjadi beban Linggadadi di perjalanan dan apalagi mereka benar-benar bertemu dengan orang-orang berilmu hitam itu.

Tetapi Tapak Lamba harus menyimpan perasaannya itu di dalam hatinya betapapun pahitnya.

Dalam pada itu, maka Linggadadi pun segera mempersiapkan diri. Disaat fajar menyingsing dihari berikutnya, maka iapun segera meninggalkan Mahibit seorang diri. Ia akan menggabungkan dirinya denga dua orang yang telah berangkat lebih dahulu. Ia akan dapat menemukan kedua orang itu dengan memberikan ciri-ciri tertentu di sepanjang jalan-jalan kota Singasari, sebagai pertanda kehadirannya. Ciri-ciri yang tidak banyak menarik perhatian, tetapi akan segera dikenal oleh kedua orang kawannya itu.

Dengan demikian, maka di kota Singasari, telah berkumpul beberapa pihak yang saling bertentangan. Bertentangan sikap dan cita-cita.

Tetapi ternyata bahwa Sruba dan Tuju yang sudah berada di Kota Raja itu bergerak lebih banyak dari Witantra dan Mahisa Bungalan yang hanya sekedar menunggu. Sruba dan Tuju, setiap malam berkeliaran di jalan-jalan kota. Tidak seperti kedua orang yang dikirim oleh mereka yang berada di dalam lingkungan ilmu hitam itu pula, maka Sruba dan Tuju tidak memerlukan tempat tinggal. Mereka dapat berada dimana saja dalam panas yang terik dan dalam hujan yang lebat.

Beberapa hari setelah mereka berada di Kota Raja, maka mereka mulai mencurigai dua orang yang mereka lihat lewat di jalan-jalan sepi di malam hari. Tetapi keduanya masih belum berbuat apa-apa sama sekali. Bahkan kemudian, sebelum mereka berbuat sesuatu, mereka telah melihat lembaran daun pakis di tepi jalan. Tidak hanya disatu tempat. Tetapi di beberapa tempat yang banyak dilalui orang.

Hampir tidak seorang pun yang menghiraukan lembaran daun pakis yang tergolek begitu saja di tepi jalan. Tetapi bagi Sruba dan Tuju, itu adalah pertanda bahwa Linggadadi sedang berusaha menghubungi keduanya.

Ternyata mereka tidak terlampau sulit. Dengan menunggu saja pada salah satu dari daun pakis yang berceceran itu, maka merekapun akan dapat bertemu dengan Linggadadi.

Tetapi, ketika malam menjadi gelap, sebelum Linggadadi melintasi sekali lagi jalan-jalan yang telah diberinya ciri-ciri daun pakis itu, Sruba dan Tuju melihat dua orang yang mereka curigai itu lewat lagi tidak jauh dari mereka berdua.

“Kita ikuti, kemana keduanya pergi.”

“Bagaimana dengan Linggadadi?”

Srubapun kemudian memungut salah satu dari daun pakis itu, dan dibuatnya simpul mati, sebagai pertanda bahwa Sruba dan Tuju telah melihat ciri-ciri yang ditinggalkannya, tetapi belum sempat bertemu.

Setelah meletakkan daun pakis yang sudah diberinya simpul itu, maka Sruba dan Tujupun segera mengikuti dua orang yang mereka curigai itu, supaya mereka tidak kehilangan jejaknya.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...