*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 26-03*
Karya. : SH Mintardja
“Akan tetapi, bukankah Empu Baladatu mengetahui segala sesuatunya tentang Empu Sanggadaru?” Tiba-tiba saja seorang bertanya.
Kiai Dulang tertawa. Dengan nada datar ia berkata, “Sudah tentu Empu Baladatu tahu segala-galanya tentang Empu Sanggadaru. Akan tetapi Empu Baladatu tidak mengetahui perkembangan terakhir dari keadaan kakaknya itu. Oleh karena itulah maka kalian wajib memberitahukan apa yang kau ketahui tentang dirinya.”
Orang-orang yang mendengarnya itu pun mengangguk-angguk.
“Selanjutnya, orang-orang lain yang tidak terlalu sulit bagi kita untuk mendapatkannya, tetapi sudah cukup nilainya untuk mengadakan korban pengampunan itu adalah orang-orang yang namanya justru sudah dikenal oleh orang-orang dari lingkungan ilmu hitam. Sebut sajalah nama Mahisa Bungalan dan Linggadadi yang dengan sombong menyebut dirinya pembunuh orang-orang berilmu hitam. Jika kita dapat menangkap kedua-duanya, maka nilainya tentu sudah sama dengan apabila kita mengorbankan orang-orang terpenting yang aku sebut. Mahisa Agni misalnya.”
Orang-orang yang mendengarnya menarik nafas dalam-dalam. Mereka sadar sepenuhnya, meskipun mereka tidak ditugaskan untuk menangkap orang-orang yang disebut namanya, karena Kiai Dulang dan Empu Baladatu menyadari, bahwa jika tugas itu dibebankan kepada mereka, justru hanya akan menimbulkan korban yang tidak berarti, namun yang harus mereka lakukan itu sudah cukup mendebarkan jantung.
Tetapi Kiai Dulang berkata, “Mungkin ada keragu-raguan di antara kalian, apakah kalian dapat melakukan tugas itu dengan baik. Namun tidak ada pilihan lain. Korban pengampunan itu harus ada. Jika tidak, maka kitalah yang akan menjadi korban. Seorang demi seorang. Sedangkan tugas yang diberikan kepada kalian tidaklah seimbang beratnya dengan kesalahan yang pernah kalian lakukan sehingga menimbulkan kemurkaan itu. Yang kemudian ternyata justru mendapat tugas yang paling berat untuk membebaskan kalian nanti adalah Empu Baladatu sendiri dan orang-orang yang ditunjuknya.”
Orang-orang itu mengangguk-angguk. Mereka melihat imbangan tugas yang harus mereka lakukan.
“Kita hanya mencari keterangan dan segera melaporkan setiap perkembangan keadaan yang kita lihat” desis salah seorang dari mereka.
Kawannya mengangguk. Jawabnya, “Empu Baladatu ternyata tidak memberikan perintah sewenang-wenang. Ia sudah memperhitungkan kemampuan kita, dan ia sendiri tidak segan melakukan tugas yang berat itu demi kepentingan kita.”
Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat menyebut perasaan apakah yang sebenarnya bergejolak di dalam hatinya. Apakah ia berbangga atau justru kecewa dan menyesali tingkah laku Empu Baladatu, ia sama sekali tidak berani menyebutnya, karena menurut kepercayaannya, jika ada sedikit terpercik sangkalan tentang kesetiaan dan kepercayaannya tentang Empu Baladatu dan kekuasaan yang ada di belakangnya, maka ia akan mengalami nasib yang buruk sekali.
Demikianlah, maka setelah Kiai Dulang memberikan keterangan itu dihadapan orang-orangnya, maka mulailah kedua kelompok yang mendapat pengaruh dengan cara yang sama itu mulai menyebar orang-orangnya. Kedua kelompok yang semula bermusuhan yang dipimpin yang sekelompok oleh Kiai Dulang sedang yang lain oleh Kiai Ungkih telah melaksanakan semua perintah Empu Baladatu sebaik-baiknya. Mereka harus mencari keterangan tentang beberapa orang yang dianggap cukup bernilai untuk dikorbankan sebagai tebusan kemarahan kekuasaan yang ada di belakang kekuatan ilmu hitam itu.
Tetapi yang sebenarnya dicari oleh Empu Baladatu adalah keterangan sebanyak-banyaknya tentang Linggadadi dan Mahisa Bungalan. Meskipun ada beberapa bagian yang sudah diketahuinya, namun ia masih memerlukan penjelasan lebih jauh dari keduanya.
Sejak saat itu, maka kedua kelompok itu pun telah berpencar. Masing-masing menyebar ke segala penjuru untuk mendapatkan keterangan yang mereka perlukan tentang beberapa nama yang pernah disebut oleh pemimpin mereka yang mewakili Empu Baladatu.
“Tetapi tugas kita memang tidak terlalu berat” desis dua orang yang mendapat tugas bersama.
“Tetapi apakah yang dapat kita lakukan berdua? Berjalan siang dan malam, mendengarkan setiap pembicaraan dan menyadap kemungkinan untuk dapat mengetahui serba sedikit tentang orang-orang yang tidak kita kenal?”
“Mungkin begitu. Tetapi kita tidak perlu cemas. Kita dapat hidup dengan pengembaraan yang lajim dilakukan orang. Kita membawa tempurung untuk mendapatkan belas kasihan orang di sepanjang jalan. Atau barangkali………” ia terdiam karena kawannya segera memotong, “Kita mendapat pesan, bahwa selama perjalanan kita, kita tidak boleh melakukan kejahatan. Setiap kejahatan akan dapat menimbulkan kecurigaan dan barangkali tindakan yang dapat merugikan kita dalam keseluruhan yang tersebar itu.”
Kawannya menarik nafas. Lalu katanya, “Apakah kita akan dapat bertahan untuk waktu yang cukup lama dengan minta-minta itu?”
“Memang tidak. Tetapi itu tergantung pada akal kita. Kita dapat mencari bekal dengan bekerja satu dua pekan kepada seseorang untuk perjalanan sepekan dua pekan pula. Demikian kita akan berhenti setiap kali dan melanjutkan pula perjalanan kita.”
“O” desis yang lain, “berapa bulan kita akan dapat menyelesaikan tugas ini?”
Kawannya mengerutkan keningnya. Namun ia pun tertawa sambil berkata, “Apakah kita tergantung kepada waktu? Jika kita tidak berhasil menemukan orang-orang yang kita cari, atau setidak-tidaknya memberikan keterangan tentang mereka, maka orang lain akan berhasil. Setiap tiga bulan, menurut perintah itu, kita harus berkumpul, berhasil atau tidak berhasil. Jika ternyata seseorang telah memenuhi tugasnya dan dapat memberikan banyak keterangan, maka tugas kita akan selesai.”
“Tetapi siapakah yang akan memberikan kerja kepada kita barang satu dua pekan? Bahkan yang akan kita temukan di sepanjang perjalanan adalah kecurigaan.”
Kawannya mengangguk-angguk. Lalu, “Baiklah kita pulang ke rumah kita masing-masing untuk mengambil bekal apa saja yang ada bagi perjalanan kita. Kita tidak memerlukan banyak bekal, karena kita akan menjadi pengemis di sepanjang jalan.”
“Pengemis yang muda dan bertubuh sehat kekar.”
Keduanya tertawa, betapapun kecutnya. Namun mereka tidak dapat ingkar akan tugas itu, meskipun bagi mereka agaknya lebih baik merampok daripada mengemis. Tetapi pemimpinnya yang baru, yang mewakili Empu Baladatu berpesan, bahwa mereka tidak boleh menumbuhkan keadaan yang dapat mempersempit usaha mereka. Bahkan pemimpin-pemimpin mereka itu pun berpesan agar mereka menghindarkan diri dari kemungkinan mempergunakan kekerasan, kecuali semata-mata karena terpaksa untuk menyelamatkan nyawanya.
Demikianlah maka orang-orang dari gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang itu pun segera memencar. Mereka mendapat tanda-tanda dan kata-kata sandi yang diketahui oleh kedua gerombolan itu, sehingga apabila dua orang dari gerombolan yang berbeda bertemu, mereka tidak akan terlibat dalam pertengkaran.
Para pemimpin dari gerombolan-gerombolan itu sama sekali tidak memberikan tugas tertentu kepada orang-orangnya yang tersebar. Mereka dapat mencari keterangan tentang siapa saja. Tetapi hampir semua orang diantara mereka, bahwa yang paling menarik adalah mencari orang-orang yang bernama Mahisa Bungalan dan Linggadadi, karena keduanya disebut sebagai orang-orang yang memusuhi ilmu hitam dan bahkan disebut sebagai pembunuh orang-orang berilmu hitam.
Meskipun mereka tidak diberi wewenang untuk langsung melakukan suatu tindakan karena mereka tidak akan mampu mengatasi kemampuan orang-orang itu, namun satu dua di antara mereka ada yang langsung ingin melihat dan mendengar beberapa keterangan tentang mereka, karena tidak semua orang langsung mengakui bahwa orang-orang yang disebut pembunuh orang-orang berilmu hitam itu benar-benar memiliki kemampuan yang tidak ada taranya.
Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Linggadadi pun tidak sekedar berdiam diri. Meskipun ia tidak mengetahui dengan pasti, namun ia sudah menduga bahwa gerombolan orang-orang berilmu hitam itu tentu mencari keterangan tentang dirinya, tentang orang yang disebut pembunuh orang-orang berilmu hitam seperti juga Mahisa Bungalan.
“Diluar segala kemungkinan tentang diriku” berkata Linggadadi kepada kakaknya, Linggapati, “kakang Linggapati harus menyiapkan kekuatan yang cukup. Tidak mustahil bahwa pada suatu saat orang-orang berilmu hitam itu akan datang dan apabila mereka merasa kuat, mereka akan melakukan kekerasan terhadap kita. Apakah kita akan dapat mengelakkannya, sebenarnya tergantung kepada kita sendiri.”
Linggapati tersenyum. Katanya, “Kita sudah dapat mengetahui kekuatan mereka. Gerombolan Serigala Putih dan gerombolan Macan Kumbang itu bersama-sama tidak akan mampu menggetarkan kekuatan kita disini meskipun kekuatan kita pada dasarnya tetap tersembunyi.”
“Kedua kekuatan itu memang bukan apa-apa kakang. Tetapi kita harus mempertimbangkan kekuatan orang yang di sebut Empu Baladatu, yang kemudian menguasai kedua gerombolan itu.”
Linggapati masih tetap tersenyum.
Namun dalam pada itu, dua orang dari gerombolan orang berilmu hitam sudah berada dilingkungan daerah pengaruh Linggapati. Tetapi kedua orang itu bukannya orang dari gerombolan Serigala Putih atau gerombolan Macan Kumbang. Kedua orang itu adalah dua orang yang dikirim langsung oleh Empu Baladatu. Agaknya mereka mempunyai kemampuan yang lebih baik dari orang-orang dari gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang.
“Ternyata bahwa Linggadadi memiliki kekuatan yang terpisah dari Mahisa Bungalan” desis salah seorang dari keduanya.
Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi nampaknya akan lebih mudah untuk menguasai Mahisa Bungalan lebih dahulu sebelum Linggadadi, karena nampaknya Linggadadi berada dalam satu lingkungan kekuatan yang tidak kita ketahui dengan pasti.”
“Pada suatu saat kita akan mendapatkannya” desis salah seorang dari mereka.
“Tetapi itu bukan tugas yang mudah” jawab yang lain, “meskipun demikian, kita tidak boleh berputus asa. Kita harus melakukan dengan teliti. Dalam keadaan tertentu kita mendapat wewenang untuk menghubungi Kiai Dulang dan Kiai Ungkih. Mereka mempunyai kekuatan yang meskipun barangkali masih harus diperkuat.”
Kawannya mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi kedua orang itu pun mendapat wewenang dari Empu Baladatu untuk mengetahui sesuatu tentang Mahisa Bungalan dan Linggadadi yang disebut pembunuh orang berilmu hitam. Pada suatu saat, orang-orang dari gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang pun akan berkeliaran pula.”
“Bukankah mereka sudah mendapat penjelasan tentang isyarat sandi di antara mereka?”
“Seharusnya Kiai Dalang dan Kiai Ungkih membekali mereka dengan isyarat itu. Jika ada orang-orang dari gerombolan Serigala Putih dan Macan Kumbang belum mengetahui isyarat yang sudah ditentukan, maka itu adalah kesalahan Kiai Dulang dan Kiai Ungkih.”
Keduanya mengangguk-angguk.
“Kita tidak usah menunggu mereka. Kita akan segera berada di sekitar Kota Raja.”
“Mahisa Bungalan adalah anak Mahendra.”
“Tetapi ia sering berada di Kota Raja.”
Kedua orang itu pun kemudian memutuskan untuk berada di Kota Raja. Dengan cara yang paling samar, mereka selalu bertanya tentang Mahisa Bungalan kepada orang-orang yang dijumpainya di warung-warung atau di tempat-tempat yang banyak dikunjungi orang. Demikian samarnya, sehingga tidak seorang pun yang mencurigainya.
Namun keterangan yang mereka dengar ternyata telah mengecewakan mereka.
“Mahisa Bungalan sudah agak lama tidak kelihatan di Kota Raja” berkata salah seorang prajurit yang kebetulan bertemu dan bersama-sama berada di dalam satu tempat pemberhentian dengan kedua orang petugas sandi Empu Baladatu.
“Apakah ia sedang bertugas?”
“Resminya Mahisa Bungalan bukanlah sedang bertugas, karena ia sekedar ingin mengadakan perjalanan keliling dengan Senapati Agung Singasari, Mahisa Agni.”
Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Namun mereka pun kemudian mengangguk-angguk.
Setelah keduanya berpisah dengan prajurit itu, maka salah seorang pun berkata, “Mahisa Bungalan sedang dalam perjalanan perburuan.”
“Tetapi ia tidak akan menemukan orang-orang berilmu hitam di sarangnya. Empu Baladatu pun tidak. Bahkan ia tidak akan mendapat jejaknya sekalipun.”
Yang lain menarik nafas. Namun kesimpulan mereka adalah, bahwa mereka harus meninggalkan Kota Raja dan mencari keterangan tentang Linggadadi.
“Salah seorang dari mereka akan kita selesaikan lebih dahulu. Jika kali ini kita tidak dapat menjumpai Mahisa Bungalan, maka kita harus mempergunakan waktu ini sebaik-baiknya. Kita akan mencari keterangan tentang Linggadadi.”
Setelah beberapa hari keduanya berada di Kota Raja dan tidak berhasil mendapat keterangan tentang Mahisa Bungalan, maka mereka pun segera meninggalkan Kota Raja itu. Bahkan salah seorang dari mereka masih sempat berkata, “Mudah-mudahan perjalanan Mahisa Bungalan pada suatu saat bertemu dengan orang-orang kita yang langsung dapat menyelesaikannya.”
Tetapi yang lain menggeleng. Katanya, “Tidak mungkin. Kecuali jika segelar sepapan.”
Namun dalam pada itu, selagi keduanya dalam perjalanan mencari keterangan tentang Linggadadi, Tiba-tiba mereka telah dikejutkan oleh peristiwa yang sama sekali tidak diharapkan.
Dalam perjalanan di sebuah padukuhan, kedua orang itu dikejutkan oleh sikap yang curiga. Bahkan beberapa orang laki-laki telah mengerumuninya dengan senjata di tangan.
“Kau berani memasuki padukuhan di siang hari he?” teriak seorang yang bertubuh kekar. “Apakah kau memang merasa terlalu kuat untuk melawan kami? Kalian memang dapat mengalahkan sepuluh orang sekaligus, tetapi sekarang kami tidak hanya berjumlah sepuluh.”
Kedua orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang dari mereka pun bertanya, “Apakah sebenarnya yang telah terjadi disini? Kami baru sekali ini menginjakkan kaki di padukuhan ini.”
“Kalian tentu akan ingkar. Tetapi perampokan itu telah terjadi tidak hanya sekali. Memang sekali di padukuhan ini, tetapi beberapa kali di padukuhan tetangga. Bahkan ketika sekelompok peronda menjumpai kalian, maka kalian telah membunuh lebih dari lima orang di antara mereka.“
Kedua orang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Ki Sanak. Kalian salah paham. Tetapi hal itu dapat kami mengerti. Cobalah, beri kami kesempatan. Jika perampokan itu terjadi lagi di padukuhan ini, dan aku tidak dapat menangkap mereka, maka biarlah aku digantung di regol padukuhan ini.”
“Jangan mencari kesempatan untuk meloloskan diri.”
“Percayalah. Kalian harus percaya akan niat baik kami, karena kami sebenarnya adalah petugas sandi dari Singasari. Seandainya kalian tidak percaya, maka kalian pun tidak akan mampu berbuat apa-apa atas kami, karena kami mampu tidak hanya membunuh sepuluh orang sekaligus. Sebagai prajurit pilihan yang dipercaya untuk melakukan tugas sandi, kami dapat melawan dan membunuh seluruh penghuni padukuhan ini dengan cara kami, meskipun kami hanya berdua. Keterangan ini hanya aku berikan, justru karena telah terjadi salah paham, karena sebenarnyalah tugas kami bersifat sandi.”
Orang-orang itu termangu-mangu. Nampak keragu-raguan membayang di setiap wajah. Bahkan beberapa orang saling berpandangan dan bertanya-tanya di dalam hati tentang kedua orang yang mengaku petugas sandi dari Singasari itu.
Selagi orang-orang itu kebingunan, maka salah seorang dari mereka bertanya, “Apakah kata-kata kalian dapat kami percaya?”
“Kami akan membuktikan. Kami akan tinggal di sekitar daerah ini untuk beberapa hari. Jika terjadi perampokan itu lagi, kami akan mencoba menyelesaikan menurut cara kami. Agar kalian tidak mencurigai kami, maka biarlah kami tinggal di tempat yang langsung dapat kalian awasi setiap saat.”
Beberapa orang mengangguk-angguk. Lalu salah seorang berkata, “Baiklah. Tinggallah di banjar.”
“Terima kasih. Tetapi aku berharap bahwa di setiap padukuhan disediakan alat-alat yang dapat memberikan isyarat. Kentongan misalnva atau panah sendaren. Sehingga jika terjadi sesuatu, kami akan dapat segera datang.”
“Ya. Kami akan menghubungi setiap padukuhan di sekitar tempat ini.”
“Tetapi ingat, jangan seorang pun dari padukuhan lain yang mendengar, bahwa aku disini. Jika kehadiranku disini didengar oleh orang lain, dan kemudian merambat sampai ke telinga para penjahat itu, maka mereka tentu tidak akan melakukannya lagi, sehingga aku tidak akan berhasil menangkapnya.”
Demikianlah keduanya kemudian ditempatkan di banjar padukuhan. Mereka mendapat pelayanan yang baik dari orang-orang di padukuhan itu. Mereka mendapat minum dan makan secukupnya, karena setiap orang menganggap bahwa keduanya adalah prajurit-prajurit sandi dari Singasari.
“Mudah-mudahan orang-orang yang melakukan kejahatan itu bukan orang-orang dari gerombolan yang sudah dikuasai oleh Empu Baladatu itu” berkata salah seorang dari kedua orang itu.
“Bagaimana kalau demikian?”
“Justru kita menjadi semakin sulit. Tetapi seperti pesan Empu Baladatu, untuk sementara kita jangan mengundang persoalan yang akan dapat menghadapkan kita langsung kepada prajurit-prajurit Singasari. Karena itu, jika mereka tidak mau menurut perintah kami, maka menjadi kewajiban kami melaksanakan perintah Empu Baladatu.”
Yang lain mengangguk-angguk. Empu Baladatu memang sedang membatasi diri, seperti juga yang ternyata dilakukan oleh Linggapati. Mereka merasa diri masing-masing belum siap menghadapi tugas yang besar. Yang bukan saja memerlukan kekuatan, tetapi juga perhitungan dan kewibawaan pada lingkungan tertentu. Yang dapat mereka lakukan, barulah memberikan pengaruh jiwani kepada orang-orang Singasari untuk menumbuhkan suasana kejiwaan tertentu sebelum pada suatu saat mereka melakukan tindakan kekerasan.
Karena itu, maka mereka tidak boleh menumbuhkan kekecewaan, apalagi kebencian dari rakyat Singasari.
Untuk beberapa hari, kedua orang itu tinggal di banjar padukuhan. Namun yang beberapa hari itu terasa tidak ada sesuatu yang terjadi, sehingga keduanya menjadi gelisah. Mereka cemas, bahwa akan timbul prasangka, setelah mereka berdua tinggal dalam pengawasan, maka tidak ada lagi kerusuhan yang terjadi.
Tetapi pada malam berikutnya, padukuhan itu telah dikejutkan oleh suara kentongan yang menjalar dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain.
Kedua orang itu terkejut. Namun mereka cukup berpengalaman menghadapi peristiwa apapun juga, sehingga sesaat kemudian mereka pun telah berada di atas punggung kuda mereka.
“Kemanakah aku harus pergi” bertanya salah seorang dari keduanya, “isyarat itu seakan-akan sudah merata.”
“Sumber bunyi itu dari arah padukuhan di ujung bulak panjang di sebelah utara padukuhan ini, “jawab salah seorang yang bertugas ronda malam itu.
Kedua orang itu pun segera berpacu. Mereka melintasi bulak panjang dalam keremangan malam. Namun keduanya seolah-olah memiliki ketajaman penglihatan melampaui orang kebanyakan.
Ketika keduanya sampai di padukuhan yang baru saja mengalami perampokan, maka ia pun segera mendapat keterangan, bahwa perampokan itu telah menghilang menuju ke hutan kecil di sebelah utara padukuhan itu.
“Kalian tidak mengejar mereka?” bertanya salah seorang dari keduanya.
“Terlampau berbahaya. Mereka mampu membunuh beberapa orang sekaligus.”
“Bukankah kalian terdiri dari banyak laki-laki.”
“Dalam pengejaran kami akan terpencar.”
Keduanya tidak bertanya lebih banyak lagi. Salah seorang dari keduanya berkata, “Aku akan mencoba menangkap mereka jika aku masih sempat menemukan.”
“Mereka belum terlalu jauh. Dan mereka tidak mempergunakan kuda.”
“Justru karena itu. Mereka akan sempat menyusup ke jalan setapak. Dan barangkali sepanjang pematang.”
Namun keduanya masih juga ingin mencoba. Mereka memacu kuda mereka di tengah-tengah bulak berikutnya, menyelusur jalan kecil yang menuju ke hutan.
“Mudah-mudahan kita dapat menemukan mereka” desis salah seorang dari keduanya.
Baru kemudian setelah kedua orang itu hilang dalam gelapnya malam, salah seorang dari mereka yang berkerumun itu bertanya, “Siapakah kedua orang berkuda itu?”
Tiba-tiba saja pertanyaan itu telah mengejutkan setiap orang yang sedang berkumpul itu. Bahkan salah seorang dari mereka berkata, “Apakah kedua orang itulah yang telah merampok di rumah saudagar ternak itu?”
“Ya, mereka juga berdua. Jika demikian, kita sudah dikelabuinya.”
Tetapi salah seorang dari mereka menyahut, “Aku yakin, bukan mereka. Aku melihat kedua orang perampok itu dengan tenang keluar dari rumah saudagar itu. Dan keduanya bukannya penunggang-penunggang kuda yang baru saja lewat itu. Bukan menurut bentuk tubuhnya dan bukan pula menurut pakaiannya.”
Yang lain mengerutkan keningnya. Lalu salah seorang dari mereka berkata, “Ya, agaknya memang bukan. Menilik sikapnya keduanya tidak sedang membohongi kita. Keduanya benar sedang berusaha mencari perampok-perampok itu.”
Meskipun orang-orang yang berkerumun itu masih tetap ragu-ragu, namun mereka tidak dapat berbuat lain kecuali menunggu perkembangan keadaan selanjutnya.
Dalam pada itu, kedua orang berkuda itu berpacu terus mengikuti jalan ke hutan. Mereka masih tetap berharap untuk menemukan kedua perampok itu sebelum mereka hilang di dalam lebatnya dedaunan hutan di waktu malam.
Ternyata bahwa kedua orang yang telah melakukan perampokan itu, berjalan seenaknya menuju ke hutan seperti yang diduga. Keduanya sama sekali tidak merasa cemas, bahwa orang-orang padukuhan akan mengejarnya. Keduanya yakin bahwa orang-orang di sekitar padukuhan itu, telah pernah mendengar bahwa kedua orang perampok itu mampu membunuh sepuluh orang sekaligus dalam satu arena perkelahian.
Tetapi keduanya mengerutkan kening ketika mereka mendengar derap kaki kuda menyusul mereka. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari keduanya berkata, “Apakah kita akan bersembunyi?”
Yang lain termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian dalam keragu-raguan, “Siapakah yang telah berani menyusul kita?”
“Mungkin bebahu padukuhan, atau orang yang mereka undang khusus untuk menghadapi kita.”
“Biarlah mereka sadar, dengan siapa mereka berhadapan.”
“Jadi kita tidak menghindar?”
“Kita akan membunuh orang-orang berkuda itu, agar tidak lagi ada orang yang berani menghalang-halangi kita di hari berikutnya.”
Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Ketika mereka berpaling maka mereka melihat bayangan dua ekor kuda yang beriringan mendekati mereka.
“Mereka telah dekat” desis salah seorang dari kedua rang yang sedang berjalan itu.
Tiba-tiba saja orang berkuda itu menarik kekang kudanya, yang seorang dari keduanya yang berada di depan bahkan segera meloncat turun. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Ki Sanak. Apakah Ki Sanak menyadari, kenapa kami berdua menyusul sampai ke tempat ini?”
Salah seorang dari kedua orang perampok itu langsung menjawab sambil menengadahkan dadanya, “Kami mengerti, bukankah kalian ingin menangkap dua orang perampok?”
“Ya. Kami memang ingin menangkap kalian berdua jika kalian berdua memang perampok-perampok itu.”
Hampir berbareng keduanya tertawa. Salah seorang dari keduanya menjawab, “Apakah kalian terlampau yakin bahwa kalian akan dapat melakukannya?”
“Kami akan mencoba. Daerah ini biasanya tidak pernah dijamah oleh kejahatan. Kini Tiba-tiba saja kalian telah membuat daerah ini menjadi gelisah dan ketakutan.”
Keduanya tertawa. Katanya, “Sudahlah. Itu sudah menjadi nasib daerah ini. He, siapakah kalian berdua?”
Kedua orang yang sudah turun dari kuda mereka itu saling berpandangan sejenak. Baru kemudian salah seorang menarik nafas sambil berkata, “Apakah kalian berdua ingin mengenal kami? Baiklah. Kami datang dari ujung bukit, di kaki bintang silang dibawa ujung bintang waluku.”
Tiba-tiba saja kedua orang perampok itu terkejut bukan buatan. Bahkan salah seorang dari mereka bergeser surut.
“Nah, apakah kalian berdua mengenal kami?”Keduanya tidak segera dapat menjawab. Tetapi nampak kegelisahan yang mencengkam.
“Menilik gelagat, kalian mengenal kami setelah kami memperkenalkan diri. Karena itu, maka kami pun telah mengenal kalian. Kalian tentu akan menyebut diri kalian seperti aku menyebut diriku.”
Keduanya masih terdiam. Tetapi keringat dingin mulai membasahi punggung mereka.
“Sudahlah. Sebut sajalah, apakah kalian datang dari gerombolan Serigala Putih atau Macan Kumbang.”
Keduanya tidak segera menjawab.
“Kami tahu, bahwa kedua gerombolan yang sudah berada di bawah pimpinan Empu Baladatu itu mendapat tugas seperti yang harus aku jalankan. Tetapi tidak untuk merampok dan menimbulkan kekacauan yang lain. Sebab dengan demikian berarti akan mengundang persoalan dengan prajurit- prajurit Singasari. Itulah sebabnya kami segera menghubungi kalian sebelum terlambat.”
Kedua orang yang telah merampok itu termangu-mangu. Bahkan perasaan cemas mulai merayapi jantung. Mereka sadar bahwa mereka berhadapan dengan pemimpin yang tidak dapat membiarkan mereka merajuk, dan kemudian memanjakan yang mereka hadapi adalah orang yang mendapat tugas dari Empu Baladatu untuk menjalankan tugas yang keras dan sama sekali tanpa pertimbangan kebijaksanaan.
“Cepatlah. Sebutlah, apakah kalian berasal dari gerombolan Serigala Putih atau Macan Kumbang.”
“Kami tidak akan mengambil sikap apapun juga. Kami hanya akan mengantar kalian kembali ke padepokan, karena kami tidak mendapat tugas untuk mengambil tindakan apapun terhadap kalian. Tetapi karena yang kalian lakukan itu membahayakan kedudukan kita semuanya, maka kami merasa perlu untuk mengambil langkah-langkah pengamanan.”
Kedua orang yang telah merampok itu masih termangu-mangu sehingga keduanya masih belum mengambil sikap apapun juga.
“Cepatlah. Kenapa kalian ragu-ragu? Aku kira tidak ada jalan yang lebih baik bagi kalian daripada berterus terang. Dengan demikian, pimpinan kalian akan dapat mempertimbangkan pengampunan. Tetapi jika kalian berkeras kepala, maka mungkin sekali kalian akan mendapat hukuman. Hukuman yang paling berat sekalipun, karena menurut kepercayaan kita semuanya, tidak ada larangan untuk mengorbankan seseorang pada saat upacara penyerapan ilmu itu, meskipun dari kalangan sendiri.”
Terasa bulu tengkuk kedua perampok itu bagaikan berdiri. Ancaman itu membuat dada keduanya benar-benar tergetar.
“Jawablah pertanyaanku” desak salah seorang dari kedua orang yang menyusul itu.
Namun Tiba-tiba saja salah seorang dari kedua perampok itu melangkah maju sambil mengangkat wajahnya. Dengan suara yang gemetar ia berkata, “Aku memang tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi aku kira, kami tidak akan dapat melakukannya. Jika kami menyerah, maka leher kami tentu akan menjadi taruhan. Mungkin benar yang kau katakan, bahwa purnama mendatang, salah seorang dari kami berdua akan menjadi korban, sedangkan yang lain di bulan berikutnya.”
“Jadi apakah yang kau kehendaki sebenarnya?”
“Kami menghendaki kebebasan dari tuntutan semacam itu.”
“Karena itu, ikutlah kami. Kami akan menyerahkan kalian dan barangkali kami dapat memberikan beberapa keterangan yang dapat meringankan kesalahanmu. Aku tahu, bahwa kalian memerlukan bekal di perjalanan kalian yang tidak terbatas waktunya. Mudah-mudahan hal itu dapat dimengerti, sehingga kalian tidak akan mendapatkan hukuman yang terlampau berat.”
Sejenak kedua orang yang telah merampok itu termangu-mangu.
Namun Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak mau mengalami nasib yang paling buruk.”
“Jadi apakah yang akan kalian lakukan? Bukankah kau katakan bahwa kalian tidak mempunyai pilihan lain?”
“Jika kami menghadap pimpinan kami yang memerintah padepokan kami atas nama Empu Baladatu, bersama dengan kalian.”
“Jadi?”
“Tidak ada orang lain yang mengetahui perbuatan kami kecuali kalian berdua.”
Kata-kata itu telah mengejutkan kedua orang yang menyusul kedua perampok itu. Dengan ragu-ragu salah seorang dari mereka bertanya, “Apa maksudmu?”
“Ki Sanak” berkata salah seorang dari kedua perampok itu, “aku tahu bahwa kau bukannya dari gerombolan Serigala Putih dan bukan pula dari gerombolan Macan Kumbang. Kami berdua sama sekali belum pernah melihat kalian. Tetapi pengenalan sandi itu menunjukkan kepada kami bahwa kalian pun tentu anak buah Empu Baladatu.”
“Kau benar. Tetapi aku tidak tahu maksudmu sebenarnya.”
“Maaf Ki Sanak. Seperti yang aku katakan, bahwa tidak ada orang lain dari lingkungan Empu Baladatu yang mengetahui, apa yang sudah kami lakukan berdua. Alasan kami memang seperti yang kau katakan. Kami tidak mempunyai bekal sama sekali untuk melakukan tugas kami. Nah, itulah sebabnya maka kami terpaksa mencarinya.”
“Sudah aku katakan, bahwa aku mengerti.”
“Tidak cukup untuk sekedar mengerti.”
“Aku berjanji bahwa aku akan berusaha meringankan tuduhan apapun bagi kalian.”
“Itu juga tidak cukup.”
“Jadi apa yang harus kami lakukan?”
“Kalian tidak harus melakukan apa-apa. Itulah yang sebenarnya kami kehendaki. Kalian jangan melakukan apa-apa. Tetapi peringatan itu pun tidak cukup. Terus terang, kami bermaksud meyakinkan diri kami, bahwa kalian tidak akan dapat lagi menyampaikan hal ini kepada siapapun juga.”
“Gila” geram salah seorang dari kedua orang yang menyusul mereka, “aku jelas sekarang. Kalian berdua ingin membunuh kami? Bukankah begitu?”
“Terpaksa harus kami lakukan.”
“Jangan menjadi gila Ki Sanak. Seandainya kalian berhasil, namun kalian tidak akan dapat ingkar dari kekuasaan di belakang setiap upacara penyerapan ilmu. Setiap orang yang melanggar ketentuannya, akan binasa dengan cara apapun juga.”
Kata-kata itu ternyata dapat mempengaruhi pikiran kedua orang yang telah merampok itu. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian mereka sadar, bahwa mereka tidak akan dapat melangkah surut lagi sehingga salah seorang dari keduanya berkata, “Menyesal sekali. Upacara penyerapan ilmu itu, tentu sekedar berlaku dalam penyerapan ilmu itu sendiri. Jika salah seorang dari kami tidak percaya kuasa dari pada kekuasaan di belakang upacara itu, maka siapa yang tidak percaya itu akan binasa seperti yang pernah terjadi. Tetapi aku percaya sepenuhnya, dan karena itu, maka ilmuku pun menjadi semakin meningkat. Karena itu, maka tidak ada lagi hubungannya dengan perampokan yang kami lakukan, karena kami sama sekali tidak menolak kepercayaan itu.”
“Kau memang picik” jawab salah seorang dari kedua orang yang menyusul, “tetapi baiklah. Jika memang demikian yang kau kehendaki, apa boleh buat. Tetapi kalian harus sadar, bahwa aku akan melakukan apa saja untuk mempertahankan hidupku. Dan kalian pun harus menyadari, siapakah yang kalian hadapi sekarang.”
“Kami sadar, yang kami hadapi sekarang adalah orang-orang yang ingin mendapat pujian dengan mengorbankan orang lain tanpa pertimbangan lagi.”
Kedua orang pengikut Empu Baladatu yang menyusul kedua orang perampok itu benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Karena itu, maka mereka pun kemudian mengikat kuda mereka pada batang-batang perdu sambil berkata, “Jika kau berhasil membunuh kami berdua, maka kalian akan mendapatkan kuda kami dengan semua perlengkapannya.”
“Terima kasih” jawab salah seorang dari kedua orang yang merampok itu.
Sejenak kemudian, setelah kedua ekor kuda itu terikat, maka keempat orang itu pun mulai mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi. Kedua pengikut Empu Baladatu yang menyusul kemudian itu merasa bahwa mereka adalah murid-murid Empu Baladatu yang memiliki masa penyadapan ilmu yang lebih lama. Sedangkan kedua orang yang telah merampok itu merasa, bahwa mereka sudah memiliki bekal yang cukup, dan yang kemudian diperkaya dengan ilmu yang diterimanya dari orang-orang yang ditugaskan oleh Empu Baladatu.
Dengan demikian maka keempat orang itu merasa bahwa masing-masing memiliki bekal yang cukup untuk mempertahankan diri dan bahkan membinasakan lawannya.
Para pengikut Empu Baladatu yang menyusul kedua perampok itu mulai memencar. Tetapi mereka sudah mendapatkan pesan, agar mereka tidak meninggalkan bekas-bekas ilmu yang disebut ilmu hitam, seperti juga kedua orang yang karena memerlukan bekal perjalanan, telah melakukan perampokan itu.
Kedua belah pihak pun kemudian telah memilih lawan. Satu-satu mereka berdiri saling berhadapan.
“Jadi, tidak ada cara lain kecuali cara ini?” bertanya pengikut Empu Baladatu yang menyusul kedua perampok itu.
Salah seorang dari keduanya menjawab, “Sayang. Bagi kami, jalan yang paling baik adalah membunuh kalian, karena jika kami tidak melakukannya, kamilah yang akan menjadi korban karena perbuatan kami. Meskipun yang kami lakukan sebenarnya juga untuk kepentingan padepokan kami.”
“Sebutlah, barangkali kami tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mendengar, dari padepokan manakah kalian berdua.”
Salah seorang dari kedua perampok itu tertawa. Jawabnya, “Kau sudah berputus asa. Baiklah, kami berdua datang dari Padepokan Macan Kumbang. Kami akan meneruskan tugas kami setelah kami membunuh kalian dan menguburkan di pinggir jalan ini sehingga tidak seorang pun yang mengetahui apa yang telah terjadi. Kami sebenarnya tidak memerlukan kedua ekor kuda kalian, tetapi kami pun tidak mau mengalami akibat buruk karenanya. Jika ada orang yang mengenal kuda itu sebagai milik kalian, maka akan datang persoalan yang sama sekali tidak kami kehendaki. Karena itu, yang paling baik bagi kami adalah membawa kuda kalian dan mengikatnya di tengah-tengah hutan. Jika ada seekor harimau membunuhnya, itu adalah hal yang paling baik.
Kedua pengikut Empu Baladatu itu mengerutkan keningnya. Kemarahan yang melonjak di dadanya, hampir-hampir tidak dapat dikendalikannya lagi. Namun mereka masih tetap berusaha untuk tenang dan tidak kehilangan akal.
Namun demikian keduanya sudah bersiap untuk berbuat sesuatu melawan kedua orang dari gerombolan Macan Kumbang itu.
“Nah, bersiaplah. Sudah tiba waktunya bagi kami untuk melenyapkan semua bekas kejahatan yang kali ini kami lakukan, karena Empu Baladatu tidak menghendakinya, karena sebenarnyalah merampok adalah pekerjaan kami sehari-hari sebelum Macan Kumbang dipersatukan dengan ilmu hitam yang bersumber pada cabang perguruan Empu Baladatu.”
“Sayang” jawab salah seorang pengikut Empu Baladatu, “tetapi baiklah kita saling menjajagi, apakah kalian benar-benar sudah memiliki ilmu dari cabang perguruan Empu Baladatu itu.”
Orang-orang Macan Kumbang itu tidak menjawab. Tetapi mereka sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Sejenak mereka masih berdiri termangu-mangu. Namun salah seorang pengikut Empu Baladatu itu pun agaknya sudah tidak sabar lagi. Dengan hati-hati ia mulai melangkah maju, melontarkan serangan meskipun tidak terlampau keras.
Tetapi gerak yang hati-hati itu telah menjadi isyarat bahwa keempat orang itu segera terlibat dalam perkelahian yang semakin lama semakin seru.
Ternyata bahwa orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang itu bukannya orang-orang kebanyakan. Mereka telah memiliki bekal yang cukup selama mereka mengembara di dalam lingkungan yang gelap berdasarkan ilmu hitam meskipun dalam perkembangannya menjadi berbeda dengan ilmu hitam cabang perguruan Empu Baladatu.
Sejenak mereka bertempur dengan sengitnya. Masing-masing mencoba menjajagi kelemahan lawannya.
Namun demikian, para pengikut Empu Baladatu masih mencoba untuk menyembunyikan ilmu mereka yang sebenarnya seperti yang dipesankan kepadanya. Tetapi justru karena ada sesuatu yang harus disimpan, maka para pengikut Empu Baladatu itu tidak dapat melepaskah kemampuannya sekuat-kuat tingkat ilmunya. Meskipun demikian, tetapi pertempuran digelapnya malam itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Masing-masing mulai menunjukkan sikap dan sifat mereka masing-masing. Semakin lama menjadi semakin kasar.
Satu-satu teriakan telah terlontar dari mulut keempat orang itu. Mereka berloncatan diantara tanggul dan pematang ketika arena perkelahian mereka menjadi semakin luas. Jalan di tengah bulak itu rasa-rasanya menjadi terlampau sempit dan sangat membatasi tata gerak mereka.
Para pengikut Empu Baladatu ternyata telah terbentur pada kekuatan yang tidak terduga. Gabungan antara ilmu hitam yang memang pada dasarnya dianut oleh orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang dan dasar-dasar ilmu Empu Baladatu, nampaknya membuat orang-orang Macan Kumbang memiliki sesuatu yang dapat mereka banggakan.
“Sulit untuk mengalahkan orang-orang ini” berkata salah seorang dari pengikut Empu Baladatu di dalam hatinya.
Bahkan semakin lama semakin terasa, bahwa mereka mulai mengalami kesulitan. Orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang itu sama sekali tidak berusaha menyembunyikan apapun juga yang ada pada mereka dalam tata gerak dan ilmunya.
“Tidak ada yang perlu disembunyikan” berkata mereka itu kepada diri sendiri, “mereka sudah tahu siapakah kita, dan karena itu, cara apapun juga dapat ditempuh.”
Berbeda dengan mereka, para pengikut Empu Baladatu masih saja terikat pesan, bahwa mereka tidak dibenarkan untuk menunjukkan ciri-ciri tentang perguruannya.
Namun akhirnya, seperti juga orang-orang Macan Kumbang, akhirnya mereka pun sampai pula pada suatu kesimpulan, bahwa diantara mereka tidak ada lagi yang perlu dirahasiakan pada lawannya, karena lawannya itu pun sudah mengetahui sepenuhnya tentang diri mereka berdua.
“Apakah artinya kami merahasiakan kemampuan kami terhadap kedua orang dari gerombolan Macan Kumbang ini, “Tiba-tiba salah seorang dari kedua orang itu berteriak.
“Ya. Dengan demikian kita akan terdesak terus, karena ada sesuatu yang tidak kita pergunakan untuk melawan ilmu iblis yang disadap dari tingkah laku harimau kumbang yang buas dan liar.”
“Kami adalah murid-murid Empu Baladatu” tiba-tiba salah seorang dari kedua orang gerombolan Macan Kumbang itu menyahut.
“Ya. Murid yang sama sekali tidak patuh kepada gurunya. Dan itu merupakan pantangan yang tidak terampuni.”
“Hanya jika masih ada orang yang merendahkan dirinya, menjilat kaki sekedar untuk mendapatkan pujian.”
“Gila” teriak salah seorang pengikut Empu Baladatu
“Jadi itukah sikapmu dalam perguruan Empu Baladatu? Baiklah. Sikap itu sudah cukup menjadi alasan, bahwa murid yang demikian harus dimusnahkan.”
Salah seorang pengikut Empu Baladatu itu pun Tiba-tiba saja menggeram. Ketika terdengar sebuah hentakkan gigi, maka tata geraknya perlahan-lahan mulai berubah.
Kedua orang pengikut Empu Baladatu itu ternyata tidak lagi berkeinginan untuk menyimpan ilmunya yang dapat menjadi ciri perguruannya. Salah seorang dari mereka berkata
“Hanya kepada orang lain kami harus menyembunyikan diri, agar jika terjadi sesuatu, mereka tidak langsung melemparkan kesalahan kepada orang-orang yang mereka anggap berilmu hitam. Tetapi terhadap murid-murid yang gila seperti ini, maka tidak ada pilihan lain, justru dengan menunjukkan kebesaran ilmu dari perguruan Empu Baladatu itu sendiri.”
Kata-kata itu telah menyentuh perasaan kedua orang dari gerombolan Macan Kumbang itu. Tetapi mereka tidak mempunyai pilihan lain. Bahkan mereka pun kemudian mencoba membesarkan hati masing-masing, “Ilmu yang mereka miliki bukannya ilmu iblis yang tidak terkalahkan. Ilmu itu sudah kami kenal pula pada beberapa bagiannya dengan penyadapan yang dilandasi korban-korban darah. Tetapi kami masih memiliki kelebihan dari ilmu itu, karena kami sudah mempelajari dasar ilmu kanuragan sebelumnya.”
Sejenak kemudian masing-masing pihak mulai dipengaruhi oleh pengerahan ilmu masing-masing. Diantara mereka memang terdapat beberapa persamaan ditingkat yang lebih tinggi.
Namun dengan demikian, perkelahian itu pun menjadi semakin keras dan kasar. Masing-masing pihak mulai menampakkan kemampuan mereka yang sebenarnya berdasarkan ilmu yang mereka miliki.
Kedua belah pihak telah mempelajari dasar-dasar ilmu Empu Baladatu meskipun dalam ramuan yang berbeda, karena orang-orang Macan Kumbang memiliki dasar yang berbeda. Tetapi perkembangan seterusnya, keduanya mempunyai banyak persamaan. Kedua belah pihak mulai mengarah kepada gerak-gerak putaran dengan ujung-ujung pisau belati yang dapat menyayat kulit bagaikan terkelupas.
“Tidak ada yang akan mengetahui akhir dari perkelahian ini kecuali yang akan tetap hidup” mereka telah mendapatkan kepastian di dalam diri, “yang mati akan mati dan akan dikuburkan tanpa diketahui oleh orang lain.”
Itulah sebabnya mereka bertempur dengan mempertaruhkan segalanya yang ada, pada mereka.
Namun ternyata bahwa orang-orang dari gerombolan Macan Kumbang akhirnya mengalami kesulitan. Ternyata para pengikut Empu Baladatu mempunyai dasar pengalaman yang lebih luas di dalam penggunaan ilmu hitam itu.
Ketika tubuh mereka mulai berkeringat, maka putaran-putaran yang semakin cepat pun telah terjadi. Semua pihak mencoba melibat lawannya dalam putaran angin pusaran. Tetapi orang-orang yang menyusul para perampok dari padepokan Macan Kumbang itu berhasil menguasai lawannya dan ujung pisaunya mulai menyentuh lawannya.
Orang-orang dari padepokan Macan Kumbang merasa bahwa mereka akan kehilangan kesempatan untuk bertahan dalam putaran yang demikian. Itulah sebabnya ,mereka mulai mencari kemungkinan lain dalam pertempuran yang semakin sengit itu.
Dengan serta merta salah seorang dari kedua orang gerombolan Macan Kumbang itu meloncat sejauh-jauhnya menghindari putaran lawannya yang semakin cepat. Sambil berteriak nyaring ia mempersiapkan dirinya menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang.
Lawannya terkejut melihat perubahan sikap yang tiba-tiba itu. Namun, ia pun segera mulai dengan ungkapan ilmunya, Dengan serta merta ia pun mulai mencoba melingkari lawannya dengan pisau belati teracung.
Tetapi lawannya menyadarinya. Dengan cepatnya ia meloncat memotong setiap usaha untuk mengitarinya. Bahkan dengan serangan yang Tiba-tiba.
Pengikut Empu Baladatu menjadi semakin marah. Ketika ia mencoba melihat kawannya, ia masih tetap berhasil menguasai lawannya dalam putaran yang semakin lama menjadi semakin sempit.
“Lawanku mulai menjadi gila dan liar” geramnya. Karena itulah maka ia pun harus mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya.
Tetapi lawannya pun tidak membiarkan dirinya terkurung lagi. Itulah sebabnya maka ia pun selalu berusaha memecahkan ilmu lawannya yang juga diketahuinya dengan pasti, karena ia sendiri pun pernah mempelajarinya. Bahkan seperti juga lawannya, ia mempelajari ilmu dari cabang perguruan Empu Baladatu dalam upacaranya yang lengkap dan bersungguh-sungguh.....
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar