*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 17-03*
Karya. : SH Mintardja
Sejenak kemudian Linggadadi pun mulai menelusuri jalan yang telah diberinya tanda dengan daun pakis. Satu-satu ia memperhatikan daun-daun pakis yang diletakkannya di tepi jalan.
Semua masih berada ditempatnya. Tetapi ketika ia sampai pada salah satu diantaranya yang sudah ditandai dengan simpul mati, maka ia berhenti termangu-mangu.
“Sruba dan Tuju sudah melihat daun pakis ini.” berkata Linggadadi. Lalu, ”Tetapi ia tidak sempat menunggu aku. Tentu ada sesuatu yang penting yang mereka lakukan malam ini.”
Demikianlah maka Linggadadi pun kemudian meninggalkan tempat itu. Tetapi ia tidak mendapatkan petunjuk, kemanakah kedua kawannya itu pergi. Meskipun demikian ia berusaha untuk dapat mencarinya.
“Tentu ia berada di dalam kota.” Desisnya, ”Dan aku akan mengelilingi seluruh kota ini. Jika tidak ada sesuatu yang sangat penting, maka ia tidak akan meninggalkan tanda yang sudah aku berikan ini.”
Dalam pada itu, Sruba dan Tuju dengan diam-diam berusaha mengikuti dua orang yang berjalan di dalam gelapnya malam. Adalah sangat mencurigakan, bahwa dua orang itu sekali-sekali berhenti di depan sebuah rumah yang besar dan halamannya luas. Tetapi kemudian mereka meninggalkan tempat itu, dan setelah berjalan beberapa lama, maka mereka melakukan perbuatan serupa di hadapan rumah lain.
“Mereka tentu sedang memperbandingkan, yang manakah yang paling baik dimasukinya.” bisik Tuju.
Sruba mengangguk kecil. Katanya, ”Ya. Demikian mereka masuk, kita akan mendekati dan menangkap mereka hidup-hidup.”
Sejenak keduanya menunggu. Rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi menunggu. Seakan-akan merekalah yang justru ingin mendorong kedua orang itu masuk ke rumah yang besar itu.
Namun akhirnya, seperti yang diharapkan oleh Sruba dan Tuju, maka kedua orang itupun dengan hati-hati memasuki sebuah regol halaman yang cukup luas. Halaman rumah seorang saudagar ternak yang termasuk kaya raya.
Sruba dan Tujupun segera mendekatinya. Sejenak mereka berhenti diluar regol. Dari gelapnya malam mereka mendengar kedua orang yang memasuki halaman itu berbisik, ”Kita ketuk saja pintunya.”
Salah seorang dari kedua orang itupun segera mengetuk pintu. Hanya perlahan-lahan. Perlahan-lahan sekali. Tetapi ketukan pintu yang perlahan-lahan itu ternyata telah mengejutkan seisi rumah yang seolah-olah memang tidak dapat memejamkan mata sama sekali.
Penghuni rumah itu adalah saudagar ternak suami isteri, pembantu-pembantunya yang berada di belakang, dan diantara mereka terdapat Sempulur dan Pegatmega.
Dengan gemetar saudagar ternak itupun keluar dari biliknya. Ketika isterinya akan mengikutinya, ia masih sempat menenangkan, ”Jangan ikut aku. Tidak ada apa-apa. Mungkin ada tamu yang kemalaman.”
“Tetapi bukan waktunya ada tamu.” desisnya.
“Mungkin ada berita yang sangat penting.” berkata saudagar itu.
Isterinya termangu-mangu. Tetapi ia menganggukkan kepalanya.
Dalam pada itu, saudagar yang ketakutan itupun pergi ke bilik Sempulur dan Pegatmega. Dilihatnya kedua orang itu sudah duduk di bibir pembaringan masing-masing.
“Apa yang sebaiknya aku lakukan?” suara saudagar itu bergetar.
“Bukakanlah pintunya.” berkata Sempulur, ”Jika yang dikehendaki lebih dari uang, maka aku akan bertindak.”
“Tetapi jangan tergesa-gesa. Biarlah tidak ada kesulitan yang lebih besar yang dapat aku alami.”
“Baiklah.” Pegatmega memotong, ”Biarlah paman Sempulur menunggu isyarat paman. Jika paman memerintahkan, maka paman Sempulur akan segera melakukan tugasnya. Ia adalah bekas seorang prajurit.”
Saudagar itu menjadi semakin gemetar ketika terdengar sekali lagi pintunya diketok dari luar. Agaknya lebih keras.
“Bukalah pintunya.” desis Sempulur.
Saudagar itu pun kemudian dengan kaki yang gemetar pergi ke pintu depan. Dengan cemas ia mendekati pintu yang masih tertutup rapat itu.
Dengan tangan gemetar pula ia mengangkat selarak pintu itu, dan dengan perlahan-lahan ia menarik daun pintunya.
Ketika pintu itu terbuka, dilihatnya didalam keremangan malam dua orang berdiri dipendapa. Nampaknya keduanya agak tergesa-gesa. Demikian pintu itu terbuka, maka keduanya segera meloncat masuk dan dengan tergesa-gesa pula segera menutup pintu itu kembali.
Terasa tulang-tulang saudagar kaya itu menjadi lemas dan tidak bertenaga lagi. Dua orang itu benar-benar yang dicemaskannya selama ini. Dua orang yang mempergunakan tutup wajah seperti yang pernah didengarnya.
Tetapi yang pertama-tama didengarnya dari mulut yang tertutup itu adalah suara tertawa. Katanya kemudian, ”Kau tentu sudah mengenal aku. Mungkin kawan-kawanmu pernah berceritera tentang aku. Karena itu, sebaiknya kau tidak usah takut. Aku tidak pernah membuat keributan. Dengan terus terang, baiklah aku beritahukan, sebenarnyalah bahwa aku hanya ingin mencukupi kebutuhan makan dan pakaian saja. Tidak lebih dari itu. Karena itu, aku minta kau dengan senang hati menyediakan uang buatku.”
Saudagar itu menjadi semakin gemetar. Tetapi kata-kata yang sareh itu membuatnya agak tenang sedikit. Yang diminta oleh orang-orang itu tidak lebih dari sekampil uang seperti yang pernah dilakukannya.
Ketika isterinya keluar dari dalam bilik dan melihat kedua orang itu, hampir saja ia menjadi pingsan. Tetapi selagi ia terhuyung-huyung, dan hampir saja terjatuh, maka dengan cekatan, salah seorang dari mereka yang mempergunakan tutup wajah itu meloncat dan menangkap perempuan yang sudah tidak bertenaga lagi.
“Isterimu menjadi ketakutan.” berkata orang yang bertutup wajah itu.
“Ya, ia tentu terkejut sekali.” desis saudagar itu.
Orang yang menahan tubuh perempuan itu tidak menjawab. Diangkatnya tubuh perempuan itu seperti menjinjing anak-anak dan meletakkannya di pembaringan.
Ternyata perempuan itu belum pingsan sama sekali. Tetapi tubuhnya bergetar seperti sepekan terendam air embun yang dingin.
“Jangan takut Nyai.” berkata orang yang mendukungnya dan meletakkannya di pembaringan, ”Aku tidak akan berbuat apa-apa. Baik terhadapmu maupun terhadap suamimu. Aku hanya memerlukan sedikit uang. Tidak lebih.”
Perempuan itu tidak menjawab. Ia rasa-rasanya telah membeku di pembaringannya itu.
Sejenak kemudian maka salah seorang dari kedua orang itu berkata, ”Tunjukkan simpanan uangmu.”
“Baik, baik Ki Sanak.” jawab saudagar itu terbata-bata.
Dalam pada itu, ketika ketiga orang itu menuju kedalam bilik tempat isteri saudagar itu di baringkan, salah seorang dari kedua orang yang bertutup wajah itu tertegun di muka pintu sebuah bilik yang tertutup. Dengan ragu-ragu ia menggamit saudagar itu sambil bertanya, ”Siapakah yang berada di dalam bilik ini?”
Saudagar itu tergagap. Jawabnya kemudian, ”Kemanakanku, Ki Sanak, kemanakanku bersama kakak sepupuku.”
Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Kemudian salah seorang dari keduanya itupun mendorong pintu lereg itu kesamping.
Sejenak keduanya berdiri di tempatnya dengan ragu-ragu. Kedua orang bertutup wajah itu melihat, dua orang berada di dalam bilik itu duduk di bibir pembaringan.
“Siapa kau?” bertanya salah seorang dari kedua orang yang datang itu.
Sempulur sudah mendengar jawaban saudagar ternak itu, hingga iapun menjawab, ”Aku adalah kakang sepupunya. Dan anak muda ini adalah anakku.”
Kedua orang yang datang itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun berkata, ”Jangan mengganggu tugas kami Ki Sanak. Jika kalian tamu disini, silahkanlah. Akupun tidak akan mengganggumu.”
“Aku tidak dapat berbuat apapun disini. Tetapi aku berterima kasih, bahwa aku tidak akan terganggu karenanya.”
Orang bertutup wajah itu tertawa kecil. Katanya, ”Akupun terima kasih bahwa kau tidak menjadi ribut karenanya.” Kedua orang itupun kemudian meninggalkan bilik itu dan masuk kedalam bilik yang lain. Namun dengan demikian, perempuan yang diletakkan di pembaringan itu menjadi semakin ketakutan.
“Kami tidak akan berbuat apa-apa.” berkata salah seorang dari mereka.
Tetapi perempuan itu tidak mendengarnya. Karena itulah ia masih saja menggigil di pembaringannya.
Sejenak kemudian maka saudagar itupun memperlihatkan peti uangnya dan perhiasan-perhiasan simpanannya. Dengan suara gemetar ia berkata, ”Yang manakah yang kau perlukan?”
“O.” terdengar suara perempuan di pembaringan. Salah seorang yang bertutup wajah itu tertawa. Katanya, “Jangan cemas. Aku tidak akan mengambil apapun selain sejumput uang. Itu saja.”
Perempuan itupun terdiam. Tetapi rasa-rasanya ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi itu.
Tetapi dalam pada itu, selagi kedua orang bertutup wajah itu akan mengambil uang di dalam peti itu, terdengar pintu rumah itu sekali lagi diketuk orang. Perlahan-lahan, tetapi cukup mengejutkan semua orang yang berada di dalarnnya.
“Siapakah mereka itu?” bertanya kedua orang bertutup wajah itu.
“Aku tidak mengerti.” jawab saudagar itu.
“Apakah kau mempunyai beberapa orang pengawal?”
“Tidak. Tidak. Aku tidak mempunyai satu pengawal pun.”
“Jangan bohong.”
“Aku tidak bohong.”
Pintu itupun sekali lagi diketuk dari luar.
“Pergilah kepintu itu. Bukalah. Aku berada di dalam bilik ini. Jika ternyata kau berbuat curang, maka seisi rumah ini akan aku tumpas. Kau, isterimu dan kedua tamumu.”
Saudagar itu menjadi bingung. Tetapi salah seorang bertutup wajah itu mendorongnya sambil berkata, ”Cepat. Bukalah pintu itu.”
Saudagar itupun kemudian melangkah dengan kebingungan. Ia tidak tahu apakah yang paling baik dilakukan dalam keadaan seperti itu. Apalagi ia dicengkam oleh kecemasan, tetapi juga ketakutan. Dan ia tidak dapat membayangkan, siapakah yang akan datang lagi di malam hari itu.
Dengan tangan bergetar maka iapun membuka pintu rumahnya sekali lagi. Ketika pintu itu terbuka, dilihatnya dua orang yang lain telah berdiri di muka pintu itu.
Hati saudagar ternak itu berdegup keras sekali. Ia benar-benar cemas, bingung dan bahkan takut menghadapi keadaan yang tidak dimengertinya sama sekali itu.
“Ki Sanak.” berkata salah seorang dari kedua orang yang berdiri di muka pintu itu, ”Aku ingin bertemu dengan kedua orang tamumu yang datang lebih dahulu dari aku.”
Saudagar itu termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, ”Aku tidak mempunyai tamu.”
“Jangan bohong Ki Sanak.” sahut yang lain, ”Ketahuilah. Aku berniat baik. Aku sama sekali tidak akan merampok milikmu seperti kedua orang yang wajahnya disembunyikan di balik ikat kepalanya itu.”
Saudagar itu menjadi semakin bingung. Karena itu untuk beberapa saat ia seolah-olah telah membeku di muka pintu.
Kedua orang yang bersembunyi di dalam bilik itu mendengar semua pembicaraan saudagar dengan kedua orang yang datang kemudian itu. Karena, itu, maka iapun mengerti, bahwa yang datang itu adalah orang-orang yang juga tidak dikenal oleh saudagar kaya itu. Karena itulah, maka keduanya pun menjadi berdebar-debar.
“Siapakah kira-kira mereka?” bisik salah seorang dari keduanya.
Yang lain menggelengkan kepalanya. Katanya, ”Tentu aku juga tidak tahu. Kita tunggu saja perkembangannya.”
“Bagaimanakah jika kedua memaksa untuk masuk?”
“Jika keadaan memaksa, apaboleh buat. Kita wajib menyelamatkan diri.”
“Apakah kita harus bertempur?”
“Jika itu perlu untuk melindungi hidup kita.”
“Apakah dengan demikian, maka kita tidak perlu lagi menyembunyikan ilmu kita?”
“Sejauh-jauh dapat kita lakukan. Jika kita mampu mengalahkan lawan kita dengan ilmu yang sewajarnya, kita tidak akan mempergunakan ilmu simpanan yang sampai saat ini masih harus kita rahasiakan.”
Kawannya menganguk-anguk.
“Tetapi jika dengan demikian, kita tidak mampu lagi bertahan, maka kita akan membunuh lawan kita. Kita akan menguburkannya, sehingga tidak ada, orang lain yang mengetahuinya.”
“Saudagar kaya itu?”
“Ia tidak tahu apa-apa. Kita tidak akan mengganggunya saat ini. Demikian juga agaknya kedua tamu yang membeku di dalambilik itu.”
Sementara itu, kedua orang yang berada dimuka pintu, ternyata tidak mau ditahan lagi. Merekapun mendesak masuk sambil mengancam, ”Jangan melindungi perampok yang ada di dalam rumahmu dan justru akan merampok kekayaanmu Ki Sanak. Aku tahu bahwa kau lakukan hal itu bukan karena kau memang berniat untuk melindungi. Tetapi kau lakukan hal ini karena kau ketakutan oleh ancamannya. Nah, sekarang jangan takut lagi. Akulah yang akan mempertanggung jawabkan.”
Saudagar itu menjadi semakin bingung. Lalu katanya, ”Aku benar-benar tidak tahu Ki Sanak, siapakah yang kalian maksud itu.”
“Sudahlah.” berkata salah seorang dari keduanya, ”Menyingkirlah. Aku akan mencarinya sendiri.”
“Jangan Ki Sanak. Jangan.”
Tetapi saudagar itu tidak mampu menahan keduanya. Salah seorang dari kedua orang itu tiba-tiba menangkap tangannya dan memilinnya, ”Jika kau ribut, tanganmu akan aku patahkan.”
“Aduh, jangan. Jangan.”
“Jika demikian, diamlah. Dan duduklah di amben itu tanpa berbuat apa-apa.”
Ketika sebuah pisau belati berkilau di hadapan matanya, maka rasa-rasanya nyawanya memang sudah berada di ubun-ubun. Dengan gemetar ia duduk di amben yang ditunjuk oleh kedua orang itu tanpa dapat berbuat apa-apa.
Sementara itu, di dalam bilik yang lain, Witantra dan Mahisa Bungalan pun duduk termangu-mangu. Mereka sadar, bahwa kedua orang itu dapat keliru dan menganggap keduanya adalah dua orang yang telah masuk lebih dahulu kedalam rumah itu. Namun selain kegelisahan itu, mereka pun menjadi bingung. Semula keduanya sudah bersiap untuk menangkap kedua orang yang datang terlebih dahulu jika mereka keluar dari rumah itu dan langsung menyergapnya di halaman. Tetapi dengan kehadiran dua orang lagi, maka Witantra dan Mahisa Bungalan menjadi ragu-ragu untuk bertindak.
Selagi mereka termangu-mangu, maka mereka pun terkejut ketika pintu bilik itu didorong dengan keras sehingga terbuka lebar-lebar. Keduanya dengan susah payah berusaha menahan diri untuk tetap duduk ditempatnya dengan kaki yang gemetar.
“Ha, ternyata kalian berada disini.” berkata salah seorang dari kedua orang yang masuk itu.
“Ya, kami tamu disini.” jawab Witantra dengan suara yang tersendat-sendat.
Salah seorang dari kedua orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi yang lain tertawa. ”Jangan berbohong. Kau masuk rumah ini dengan tutup wajah. Sekarang kau mencoba ingkar dan ketakutan.”
“Tidak. Aku sudah beberapa hari berada di rumah ini. Aku adalah kakak saudagar itu dan ini adalah anakku. Ini, di dalam bungkusan di geledek ini adalah beberapa lembar bekal pakaianku dan itu adalah pakaian anakku. Aku tidak baru saja masuk ke dalam rumah ini.”
Kedua orang itu menjadi ragu-ragu. Nampaknya keduanya memang bukan orang yang dicari. Tetapi mereka masih tetap ragu-ragu.
Dengan hati-hati kedua orang itu melangkah masuk ke dalam bilik itu. Dilihatnya bungkusan yang ada di dalam gledeg itu. Ternyata bungkusan itu adalah beberapa lembar pakaian.
Dengan demikian maka kedua orang itu percaya, bahwa keduanya memang bukan orang yang baru saja masuk ke dalam rumah itu.
“Aku kira memang bukan mereka.” bisik salah seorang dari kedua orang itu, ”Keduanya nampaknya memiliki sikap yang berbeda sekali dengan kedua orang ini. Cekatan dan tidak ragu-ragu.”
Yang lain mengangguk-angguk. Desisnya, ”Kita cari ke bilik yang lain.”
Dengan demikian maka keduanya pun segera keluar dari dalam bilik itu. Mereka memandang saudagar yang duduk ketakutan itu sejenak. Kemudian salah seorang dari mereka berkata, ”Aku akan mencarinya di tempat lain. Tetapi kali ini aku tidak dapat berbuat lebih baik dari kedua orang yang telah mendahului aku. Jika ternyata aku menemukan kedua orang itu maka aku akan membunuh mereka, dan sekaligus memberimu peringatan karena kau tidak membantu aku sama sekali. Peringatan yang barangkali sepadan dengan kedunguanmu sekarang ini.”
“Tetapi, tetap.“ Saudagar itu tergagap.
“Agaknya kau lebih takut kepada kedua orang itu dari pada kepada kami.” yang lain hampir kehilangan kesabarannya, ”Jangan kau sangka bahwa aku tidak dapat membunuhmu dengan cara yang lebih baik dari cara yang dapat diambil oleh kedua orang itu. Atau barangkali ada anggauta keluargamu yang diancam sebagai taruhan. Jika kau membuka mulutmu, orang itu akan dibunuh?”
Saudagar itu tidak menjawab.
“Jika demikian, maka aku pun akan mengancam. Jika aku tidak menemukan orang itu, maka kedua orang di dalam bilik itupun akan aku bunuh. Kemudian kau sendiri akan aku ikat dibelakang kuda. Kau tentu mempunyai satu atau dua ekor kuda. Bahkan mungkin lebih. Satu kakimu akan aku ikat dengan seekor kuda yang menghadap ke Timur di jalan di depan rumahmu ini, sedang satu kakimu yang lain akan aku ikat dengan seekor kuda yang menghadap ke Barat.”
“Jangan, jangan.” saudagar itu menjadi sangat ketakutan.
“Dan kau akan dapat membayangkan akibatnya jika kedua ekor kuda itu kami kejutkan dan meloncat berlari ke arah yang berlawanan.”
“Jangan, jangan.”
“Jika kau tidak mau, katakan, dimanakah kedua orang itu?”
Saudagar itu benar-benar menjadi bingung. Jika ia menunjukkan, maka kemungkinan yang paling pahit adalah, isterinya akan menjadi korban. Tetapi jika tidak, ancaman itu benar-benar sangat mengerikan.
Karena itu, maka justru untuk beberapa saat ia diam mematung. Ia tidak tahu, apakah yang sebaiknya dilakukannya.
Kedua orang itu agaknya sudah tidak sabar lagi. Yang seorang segera meloncat mendekatinya. Diguncangnya lengannya sambil membentak, ”Jangan menunggu aku kehilangan kesabaran. Aku dapat menarik kau di belakang kuda dan membakar rumah itu sekaligus.”
“Tetapi, tetapi……“ suaranya tergagap.
“Cepat, aku tidak mempunyai waktu. Aku yakin, kedua orang itu ada di dalam rumah ini. Jika tidak ada orang lain, maka kedua orang yang ada di dalam bilik itulah yang akan aku bunuh.”
Saudagar itu masih saja kebingungan, la tahu bahwa orang yang disebut bernama Sempulur itu adalah bekas seorang prajurit. Jika ia akan dibunuh, maka ia tentu akan melawannya. Tetapi akhir dari perkelahian itu sama sekali tidak dapat dibayangkannya.
Sementara itu, selagi kedua orang itu mengguncang saudagar yang kebingungan, Witantrapun menjadi termangu-mangu. Hampir diluar sadarnya ia berdiri dan melangkah kepintu. Tetapi ia masih belum menjengukkan kepalanya.
Mahisa Bungalan pun kemudian mempersiapkan diri perlahan-lahan dan dengan sangat berhati-hati ia melangkah mendekat dinding. Ia telah bertekad untuk bertempur melawan kedua orang yang baru datang itu. Bahkan jika perlu dengan dua orang yang terlebih dahulu bersembunyi di dalam bilik yang lain.
Namun dalam pada itu, salah seorang yang berdiri sambil bertolak pinggang di hadapan saudagar itu benar-benar telah kehilangan kesabaran. Dengan serta merta ia melangkah kepintu bilik yang lain dan mendorongnya dengan kakinya.
Ketika bilik itu terbuka, maka hampir berbareng kedua orang itu berdesis, ”Nah, bukankah kami benar?”
Saudagar itu mengigil ketakutan. Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi di dalam rumahnya itu.
Sementara itu, kedua orang yang bertutup wajah itupun dengan langkah yang tenang keluar dari dalam bilik itu sambil mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan. Bahkan salah seorang dari mereka berkata, ”Aku sudah menduga, bahwa kalian akan membuka pintu bilik itu. Tetapi sebelum kita mempersoalkan kehadiran kita masing-masing di rumah ini, apakah aku dapat bertanya, siapakah kalian?”
“Kita masing-masing memang saling ingin mengetahui. Aku pun ingin bertanya kepadamu, siapakah kau berdua? Dan apakah maksud perbuatanmu selama ini?”
Kedua orang yang bertutup wajah itu saling berpandangan sejenak. Namun salah seorang dari merekapun bertanya. ”Apakah kau petugas atau prajurit Singasari?”
Kedua orang yang datang kemudian itu termenung sejenak. Salah seorang daripadanya pun kemudian berkata, ”Sudahlah. Berkatalah berterus terang. Kau telah melakukan perampokan beberapa kali didaerah Singasari ini. Karena itu kalian harus ditangkap dan dibunuh.”
“Sekali lagi aku bertanya.” desis salah seorang dari kedua orang yang bertutup wajah itu, ”Benarkah kalian petugas sandi?”
“Sama sekali tidak. Tetapi aku tidak senang melihat kerusuhan yang terjadi didaerah Singasari. Dengan demikian maka kalian seolah-olah telah membangunkan harimau yang sedang tidur.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Dengarlah. Barangkali kita dapat menemukan jalan seiring. Jika kalian menghentikan kerusuhan yang kalian lakukan dan bersedia bekerja bersama kami, maka mungkin kita akan segera dapat menyelesaikan tugas yang besar bukan saja sekedar untuk mendapatkan uang sekampil dua kampil tetapi seluruh Singasari akan jatuh ketangan kita.”
“Aku masih tetap tidak mengerti.”
“Kami sedang mempersiapkan diri untuk menguasai Singasari. Karena itu biarkan Singasari menjadi aman dan tenteram. Jika kau melakukan perampokan-perampokan kecil, tetapi kemudian akan menjalar menjadi perampokan yang lebih berani, maka para petugas dari Singasari akan terbangun. Prajurit Singasari akan bersiap-siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang lebih pahit dari perampokan-perampokan kecil seperti yang kau lakukan.”
Kedua orang yang bertutup wajah itu terdiam sejenak. Namun salah seorang dari mereka terdengar tertawa dan berkata, ”Siapakah sebenarnya kau ini. Kata-katamu bagaikan guntur yang dapat membelah langit, meruntuhkan gunung dan mengeringkan lautan. Kau sangka Singasari itu berisi anak-anak yang baru pandai main jirak kemiri? He, kenapa kau bermimpi untuk menguasai Singasari? Kami, yang memiliki kekuatan yang tidak ternilai, masih belum berani mengucapkan kata-kata itu. Apalagi kau?”
Wajah kedua orang yang datang kemudian itu menjadi merah. Dengan lantang salah seorang berkata, ”Katakan. Siapakah kalian?”
“Itu tidak perlu. Agaknya kau pun segan mengatakan, siapakah kalian sebenarnya. Sekarang, baiklah kita tidak saling mengganggu. Pergilah. Carilah jalan sendiri. Aku akan menyampaikan salam jika kalian kelak berhasil merebut Singasari. Tetapi kalian akan berada di bawah telapak kaki kami, jika kamilah yang lebih dahulu memiliki tahta itu.”
“Jadi, perampok-perampok kecil yang mengumpulkan sekampil dua kampil uang itu juga merindukan tahta Singasari yang agung. Apakah kau pernah mendengar nama-nama Senapati besar dari Singasari? Apakah kau menyadari apa yang sedang kau lakukan itu?”
“Kenapa tidak? Aku mengenal Mahisa Agni, Witantra, Lembu Ampal, Kuda Werdi, Kidang Pagut, Panji Soroh dan masih banyak lagi. Juga dapat disebut Mahendra yang tidak berada di dalam lingkungan keprajuritan tetapi ia adalah seorang yang perlu diperhitungkan. Dan yang baru muncul adalah anaknya Mahisa Bungalan yang masih muda dan senang melakukan petualangan. Nah, apakah kau mengenal nama sebanyak itu?”
Kedua orang itu sesaat terdiam. Ternyata perampok kecil itu mengenal banyak sekali nama Senapati-Senapati Singasari dan agaknya mereka menyadari kemampuan para Senapati itu.
Karena itu. maka salah seorang dari mereka berkata, ”Jika demikian, kau menyadari sepenuhnya apa yang kalian lakukan. Karena itu, maka sudah seharusnya kami menghentikan semua kegiatanmu itu, karena pasti akan mengganggu semua rencana kami. Kecuali jika kalian bersedia bekerja bersama kami.”
Sejenak kedua orang itu tidak menjawab. Nampaknya mereka sedang merenungi kata-kata itu.
Dalam pada itu, Witantra dan Mahisa Bungalan yang berada di dalam bilik saling berpandangan. Agaknya kedua orang yang datang terlebih dahulu dan dua orang yang kemudian, adalah orang-orang dari kelompok tertentu dengan rencana tertentu. Mereka nampaknya memang sedang melakukan persiapan untuk suatu usaha yang besar. Tahta Singasari.
Tetapi keduanya tidak sempat membuat pertimbangan-pertimbangan ketika terdengar salah seorang dari orang yang bertutup wajah itu berkata, ”Sudahlah. Jangan membuat persoalan sekarang. Kita masih belum tahu, apakah jadinya nanti. Tawaran tentang kerja sama itupun masih harus aku pertimbangkan karena aku masih belum tahu siapakah kalian.”
“Tidak ada waktu lagi untuk membuat pertimbangan-pertimbangan.”
“Jadi kalian benar-benar ingin membuat keributan? Aku sudah berusaha untuk melakukan pekerjaan yang benci ini dengan diam-diam, sehingga orang yang kehilangan itu sendiri tidak pernah mempersoalkan. Bahkan sekarang kalian datang untuk mencampuri persoalan ini.”
“Tidak ada pembicaraan di antara kita. Jika kalian bersedia bekerja bersama kami, mari ikutlah kami. Jika tidak, maka kalian akan mati di halaman rumah ini. Mudah-mudahan ada seseorang yang bersedia menguburkan kalian.”
“Jangan membuat kami marah.” desis salah seorang yang bertutup wajah itu, ”Kami bukan orang yang pada dasarnya ramah tamah. Kami adalah orang-orang kasar dan buas. Jika kami kambuh, maka kalian akan menyesal. Dan agaknya penyesalan itu tidak akan ada gunanya.”
Kedua orang yang datang kemudian itu menjadi tegang. Wajah merekapun menjadi merah membara dan gigi mereka gemeretak.
Agaknya memang tidak ada kemungkinan lain daripada perkelahian diantara mereka. Karena itulah agaknya maka kedua orang itupun segera bersiaga. Salah seorang dari mereka berkata, ”Agaknya sudah jelas bagi kita masing-masing. Kita akan bertempur. Nah, apakah kita akan berkelahi di sini atau di luar?”
“Baiklah. Masih ada kesempatan untuk berpikir sedikit. Marilah kita bertempur di halaman.”
Keempat orang itupun segera melangkah meninggalkan ruangan itu. Salah seorang yang bertutup wajah itu masih sempat berpaling dan berkata kepada penghuni rumah itu, ”Siapkan uang yang aku perlukan. Aku akan membunuh orang-orang ini lebih dahulu. Dan agaknya kau benar-benar tidak ikut campur di dalam persoalan ini. Demikian juga kedua orang tamumu itu.”
Tetapi salah seorang dari kedua orang yang lain menjawab meskipun juga ditujukan kepada saudagar ternak itu.
“Kau tidak perlu menyediakan apa-apa selain cangkul, karena sebentar lagi kau harus menguburkan kedua orang itu.”
Saudagar itu menjadi semakin gemetar. Ia tidak tahu apakah yang akan terjadi di halaman rumahnya. Ia sama sekali tidak dapat membayangkan akhir dari perkelahian itu. Dan apakah akibat yang dapat timbul kemudian.
Karena itulah, maka ia masih tetap membeku di tempatnya ketika dua orang itu kemudian melangkah pergi disusul oleh kedua orang yang lain.
Demikian keempat orang itu hilang di balik pintu, maka Witantra dan Mahisa Bungalan pun segera berloncatan keluar dari bilik mereka. Sejenak mereka tercenung melihat saudagar yang membeku itu. Namun kemudian Witantra mendekatinya sambil berbisik, ”Jangan kebingungan. Kita harus berbuat sesuatu.”
“Apa yang dapat kita lakukan?” bertanya saudagar itu.
“Kau tahu, aku bekas seorang prajurit.”
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan melihat perkelahian itu. Tentu ada yang menang dan ada yang kalah. Jika yang menang kemudian masih akan mengganggumu, akulah lawan mereka.”
“Jangan terlampau bangga dengan kedudukanmu sebagai seorang bekas prajurit, Sempulur. Aku tidak yakin bahwa kau dapat melawan mereka atau salah seorang dari mereka.”
“Aku juga tidak tahu pasti. Tetapi sebagai seorang prajurit aku tidak takut menghadapi mereka semuanya. Dan agaknya kemanakan tuanku Mahisa Agni yang dititipkan kepadamu itupun bukan seorang anak muda penakut.”
“Apakah yang akan dilakukan?”
“Ia akan bertempur bersamaku.”
“O, itu tidak mungkin. Ia dititipkan kepadaku. Jika terjadi sesuatu atasnya, maka akulah yang akan menanggung akibatnya.”
“Tetapi itu adalah kehendaknya sendiri.”
“Aku tidak menyetujuinya.”
“Baiklah. Tetapi kami tidak akan duduk membeku seperti itu. Kami akan melihat, apa yang terjadi.”
“Kita tidak dapat berbuat apa-apa.”
“Ya. Tetapi sekedar melihat, tentu tidak banyak kesulitan. Aku adalah seorang bekas prajurit.”
Witantra tidak menunggu jawaban saudagar itu. Iapun kemudian bersama Mahisa Bungalan pergi meninggalkan ruangan itu dan langsung ke pendapa.
Sejenak mereka tertegun. Mereka melihat, di halaman keempat orang itu sudah siap untuk bertempur. Masing-masing menghadapi seorang lawan.
“Perkelahian yang seru.” desis Mahisa Bungalan.
“Ya.” sahut Witantra, ”Kita akan melihat, siapakah mereka sebenarnya.”
Sejenak kemudian mereka berempat yang berada di halaman itupun sudah mulai melibatkan diri dalam perkelahian. Semakin lama semakin seru. Masing-masing telah menyerang dan menghindar. Bahkan sekali-sekali telah terjadi benturan.
Namun dalam pada itu. Witantra dan Mahisa Bungalan segera mengetahui bahwa yang terjadi itu barulah gerak-gerak penjajagan. Agaknya masing-masing masih ragu-ragu, karena mereka satu dengan yang lain sama sekali belum mendapat gambaran tentang kekuatan dan kemampuannya.
“Kita akan menjadi penonton.” berkata Witantra.
“Hanya sebagai penonton sampai akhir pertunjukan?” bertanya Mahisa Bungalan.
“Setelah kita melihat perkembangan keadaan, mungkin kita memang harus bersikap lain. Tetapi untuk sementara kita tidak berbuat apa-apa.”
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Memang menarik sekali untuk menyaksikan perkelahian yang semakin lama memang menjadi semakin seru. Agaknya masing-masing tidak lagi sedang menjajagi kekuatan lawan, tetapi mereka sudah benar-benar berkelahi untuk menguasai lawan.
Dengan demikian maka perkelahianpun semakin lama benar-benar menjadi semakin sengit. Benturan-benturan yang kuat telah berulang terjadi. Semakin lama semakin kuat. Namun kadang-kadang masing-masing juga menunjukkan kecepatan mereka menghindar, sehingga serangan-serangan yang dahsyat sama sekali tidak menyentuh lawannya.
Dalam pada itu, setiap orang didalam arena perkelahian itu agaknya masih berusaha menyelubungi diri masing-masing. Yang nampak adalah tata gerak perkelahian yang paling sederhana meskipun dilambari oleh kekuatan yang semakin besar.
Namun, ternyata bahwa benturan-benturan yang nampaknya agak kasar dan bodoh itu, telah menunjukan, betapa masing-masing memiliki kekuatan yang mengagumkan.
Witantra dan Mahisa Bungalan pun kemudian turun dari pendapa dan bergeser menepi. Mereka berada di bawah batang perdu yang rimbun sehingga seakan-akan mereka tenggelam sama sekali di dalam kegelapan.
Tetapi ternyata mereka yang sedang berkelahi itu sempat melihat mereka berdua. Salah seorang yang bertutup wajah itu pun berkata, ”He, Ki Sanak. Kenapa kau turun ke halaman. Masuklah dan bersembunyi sajalah di dalam bilikmu. Jika aku berhasil membunuh kedua orang ini, kau akan selamat. Jika kau berada di tempat ini, mungkin kau akan mengalami sesuatu.”
Lawannya, tiba-tiba pula menyahut sambil berkelahi, ”Kalian memang harus menyiapkan dua buah lubang kubur. Kalian tidak perlu memikirkan apakah kedua mayat itu perlu disempurnakan dengan api pembakaran.”
Yang terdengar kemudian adalah gemeretak gigi. Mereka berempat pun segera mengerahkan kemapuan masing-masing, setelah ternyata kekuatan masing-masing tidak segera mampu mengatasi lawan.
Sedikit demi sedikit ilmu yang untuk beberapa saat masih tersembunyi, mulai nampak pada tata gerak mereka. Namun dengan demikian, ternyata perkelahian itu semakin lama menjadi semakin kasar.
Witantra dan Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar melihat perkelahian itu. Rasa-rasanya mereka sedang menunggu sesuatu yang masih saja terselubung, meskipun tanda-tandanya sudah mulai dapat mereka kenal.
Orang-orang yang berilmu hitam itu, agaknya menjadi ragu-ragu. Mereka masih berusaha untuk sejauh mungkin tidak menampak kan ciri-ciri dari ilmu mereka yang untuk beberapa lamanya tersembunyi. Jika mereka tidak berhasil membunuh kedua lawannya, maka ada saksi yang dapat menceriterakan, bahwa ilmu mereka yang tersembunyi itu ternyata masih tetap hidup, seperti api yang tersembunyi di bawah sekam. Pada suatu saat, akan mengejutkan dengan ledakan yang tidak terduga-duga sebelumnya. Tetapi jika ada orang yang dapat mengenallinya, maka Singasari tentu akan berbuat sesuatu atas ilmu yang tentu ditakuti oleh sebagian besar penghuni tanah ini.
Dalam pada itu, pengikut Linggapati pun bukan orang-orang yang lemah lembut. Mereka membentuk diri dalam lingkungan alam yang keras dan buas. Mereka menghimpun kekuatan berlandaskan pada kekuatan lingkungan mereka sesuai dengan tata kehidupan mereka. Meskipun ilmu mereka bukan ilmu hitam yang setiap saat perlu disiram dengan darah, namun sebenarnyalah bahwa darah bagi mereka sama sekali tidak menggetarkan selembar rambut pun, meskipun arti dari darah bagi kedua pihak agaknya sangat berbeda di dalam kepentingan ilmu mereka.
Tetapi karena perkelahian itu tidak juga segera berakhir, maka kedua belah pihak tidak dapat lagi menyembunyikan ciri-ciri khusus mereka. Masing-masing kemudian tidak lagi mampu membuat pertimbangan-pertimbangan selain membunuh lawan mereka secepat-cepatnya.
Mahisa Bungalan menjadi semakin berdebar-debar ketika ia mu iai melihat ciri-ciri tata gerak seperti yang pernah dilihatnya di daerah bayangan hantu. Kedua, orang yang bertutup wajah itupun mulai menunjukkan betapa garangnya setiap langkah dan setiap ayunan tangan mereka.
Tetapi kini keduanya mendapat lawan yang tangguh. Kedua orang dari Mahibit itupun memiliki kemampuan yang cukup tinggi untuk melawan murid-murid utama dari perguruan yang memiliki ilmu hitam itu.
Benturan-benturan yang kasar pun segera terjadi. Masing-masing tidak lagi mempunyai nilai-nilai yang harus mereka pertahankan sebagai landasan tata kesopanan dalam pertempuran. Mereka masing-masing telah berbuat apa saja untuk mengalahkan lawannya.
Mahisa Bungalan menggamit Witantra ketika ia melihat kedua orang yang bertutup wajah itu saling mendekat. Ternyata gerak dan langkah keduanya jauh lebih cepat dan mantap dari tiga orang yang pernah dilihatnya di daerah bayangan hantu itu.
“Kedua orang ini memiliki ilmu yang lebih sempurna paman.” desis Mahisa Bungalan.
“Ya. Tetapi lawannya adalah orang-orang yang tangguh pula.”
“Keduanya sudah saling mendekat. Tentu akan segera disusul dengan pembunuhan yang mengerikan.”
“Tidak mudah untuk membunuh kedua orang lawannya itu.”
Mahisa Bungalan terdiam. Ia melihat kedua orang yang bertutup wajah itu berusaha untuk semakin mendekat. Sedang lawan mereka agaknya tidak begitu memperhatikan, apa yang kemudian akan terjadi.
Sejenak mereka masih saling menyerang. Mereka berloncatan seperti kijang. Tetapi kadang-kadang merekapun berbenturan seperti dua ekor kambing domba yang berlaga. Dengan sepenuh kepercayaan pada diri sendiri mereka membenturkan kekuatan mereka masing-masing dengan garangnya.
Ternyata yang diduga oleh Mahisa Bungalan pun segera dapat dilihatnya. Ketika kedua lingkaran perkelahian itu menjadi semakin dekat, maka tiba-tiba saja terdengar sebuah suitan pendek. Sekejap kemudian, Mahisa Bungalan dan Witantra telah menyaksikan sebuah putaran yang melingkari kedua orang yang datang kemudian itu. Putaran yang semakin lama menjadi semakin cepat.
Sekejap kedua orang yang berada di dalam lingkungan itu menjadi bingung. Namun hanya sekejap. Dan dalam sekejap itu pun mereka masih sempat mengatur diri, beradu punggung.
Namun ternyata bahwa kedua orang yang dikirim oleh Linggapati itupun bukan orang kebanyakan. Meskipun agaknya mereka belum pernah menjumpai ilmu seperti yang sedang dilawannya itu namun merekapun segera dapat menempatkan dirinya. Dengan pengetahuan tala perkelahian dan pengalaman mereka, maka mereka pun segera menyusun kerja sama yang mantap untuk melawan lingkaran yang rasa-rasanya menjadi semakin cepat berputar mengitarinya.
“Kita harus memecahkan putaran itu.” desis salah seorang dari kedua orang yang berada di dalam lingkaran itu.
Sambil menangkis setiap serangan, maka keduanya mencari akal untuk menghentikan putara yang membuat mereka menjadi pening.
“Sebelum kita menjadi pingsan.” desis yang lain.
Tetapi mereka masih harus menemukan caranya, sementara serangan kedua orang yang berputar itu rasa-rasanya menjadi semakin dahsyat dan putaran itupun menjadi semakin cepat.
“Kita patahkan dengan serangan rendah.” bisik yang seorang.
Yang lain mengangguk. Mereka mempunyai cara tersendiri di dalam olah kanuragan, yang agaknya akan dicobanya untuk memecahkan kepungan yang berputar itu.
Sejenak kedua orang didalam lingkaran itu masih bertahan. Namun sejenak kemudian, dengan suatu sentuhan sebagai aba-aba, maka keduanyapun tiba-tiba saja menjatuhkan diri. Senjata mereka menyambar rendah sekali, setinggi lutut, terayun masing-masing setengah lingkaran.
Serangan itu telah menyejutkan mereka yang berputar di sekelilingnya. Mereka harus menghindari serangan itu dengan melenting tinggi.
Kesempatan itulah yang dipergunakannya. Selagi keduanya tidak berjejak di atas tanah dalam loncatan putarannya, keduanya telah bersama-sama menyerang salah seorang dari kedua orang itu.
Hasilnya benar-benar mengejutkan. Yang seorang, yang mendapat serangan itu terkejut. Apalagi kedua kakinya sedang terangkat, sehingga geraknya menjadi sangat terbatas.
Dalam keadaan itulah, maka ia kehilangan kemampuannya untuk melawan dua orang sekaligus. Ia hanya berhasil menangkis serangan dari salah seorang daripada lawannya. Tetapi senjata dari lawannya yang lain terasa telah menyentuh, bahkan menghunjam dilambungnya.
Yang terdengar adalah sebuah keluhan yang tertahan. Namun keluhan itupun segera disusul oleh rintih kesakitan. Ternyata bahwa kawannya yang lain, yang bebas dari serangan kedua lawannya, berhasil dengan cepat memperbaiki keadaannya, dan mencoba menolong kawannya. Dengan sebuah loncatan ia menyerang salah seorang dari kedua lawannya yang sedang memusatkan perlawanannya kepada kawannya.
Sekejap kemudian, ketika mereka berloncatan surut, dua orang dari keempat orang yang sedang bertempur itu telah terhuyung-terhuyung dan akhirnya jatuh berguling di tanah. Keduanya telah terluka parah, tertusuk senjata.
Witantra dan Mahisa Bungalan menjadi tegang. Sambil menggamit pamannya, Mahisa Bungalan berbisik, ”Paman, keduanya telah sampyuh.”
Wintantra menarik nafas dalam-dalam, lalu sahutnya, ”Kita harus berbuat sesuatu. Keduanya yang tersisa tidak boleh mati sampyuh pula, sehingga kita kehilangan sumber keterangan.”
“Kita terlambat paman.”
“Tidak. Kita masih mempunyai kesempatan.” Namun selagi Witantra dan Mahisa Bungalan bersiap untuk melakukan sesuatu, tiba-tiba saja meloncat dari dalam kegelapan yang pekat, sebuah bayangan seseorang yang langsung mendekati arena.
“Siapakah orang itu paman?”
Witantra menjadi agak bingung. Jawabnya, ”Kita menunggu sejenak.”
Orang yang baru datang itupun kemudian menggeram sambil berkara, ”Jadi di dunia ini masih ada ilmu hitam yang mengerikan itu?”
Kedua orang yang sudah siap bertempur itupun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian terdengar salah seorang dari keduanya berkata, ”Ki Linggadadi.”
“Ya. Aku melihat tanda yang kau tinggalkan pada daun pakis itu. Dengan tergesa-gesa aku mencoba mencarimu, tetapi ternyata aku sudah terlambat. Seorang kawan kita sudah terbunuh meskipun orang-orang berilmu hitam itu harus melepaskan seorang kawannya pula?”
“Ya, kami sudah kehilangan seorang kawan.” Linggadadi melangkah semakin dekat. Lalu katanya, ”Apakah kita harus membunuhnya pula?”
“Ya.” sahut kawannya.
Sejenak Linggadiadi termangu-mangu. Ditebarkannya tatapan matanya ke sekelilingnya sambil bergumam, ”Apakah keributan ini tidak membangunkan tetangga-tetangga?”
“Halaman ini terlampau luas.”
Linggadadi mengangguk-angguk. Katanya, ”Siapakah yang berdiri dikegelapan itu?”
“Mereka adalah keluarga pemilik rumah ini.”
Linggadadi masih mengangguk-angguk, lalu katanya, ”Ilmu yang kegilaan itu memang harus dimusnahkan.”
“Ki Sanak.” berkata orang yang bertutup wajah itu, ”Ternyata kau adalah orang yang aneh. Apakah artinya ilmu yang kua sebut hitam atau putih, jika akibatnya bagi orang lain tidak ada bedanya?”
Linggadadi mengerutkan keningnya. Lalu iapun bertanya, ”Apakah maksudmu?”
“Jika ilmuku kau anggap ilmu hitam yang mengerikan, apakah namanya ilmu yang kau miliki jika kaupun telah merencanakan pembunuhan besar-besaran atas orang-orang Singasari?”
“Siapakah yang akan melakukan pembunuhan?”
“Aku sudah mendengar dari kawanmu. Bahkan aku sudah mendengar tawarannya, agar aku bergabung saja padanya. Kini kau menghendaki Singasari tertidur dengan nyenyak, sehingga pada suatu saat Singasari akan terkejut justru setelah tikamanmu langsung menusuk jantung, sehingga Singasari yang serasa aman dan damai itu tidak dapat melawanmu sama sekali pada tusukan pertama.”
Linggadadi mengangguk-angguk. Katanya, ”Kau benar. Tetapi aku tidak membasahi ilmu dengan darah. Jika kelak terjadi pembunuhan itu adalah karena pertentangan sikap dan pendirian dalam pencapaian cita-cita yang luhur. Tetapi ilmu hitammu tidak. Kapan dan dalam keadaan apapun kau selalu menghisap korban-korban darah bagi ilmumu yang terkutuk itu.”
Bersambung.... !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar