Sabtu, 30 Januari 2021

SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG JILID 16-01

*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 16-01*

Karya.  : SH Mintardja

Anak muda itu tidak menunggu lagi. Tiba-tiba saja ia pun sudah siap untuk melepaskan ilmunya. Karena itu, maka ia pun segera meloncat selangkah kedepan mendekati salah seorang pengawal yang agaknya sedang mempersiapkan diri.

Agaknya seperti yang telah diperhitungkan, kedua orang lawan yang tinggal itu tidak mau bertempur seorang demi seorang melawan anak muda itu. Apa bila salah seorang dari mereka harus menghadapinya, maka yang lainnya akan mempergunakan ilmunya untuk membinasakan siapa saja yang akan tersentuh tangannya. Namun tanpa berjanji agaknya mereka telah mempersiapkan diri untuk bersama-sama menghadapi anak muda itu.

Akan tetapi anak muda itu bergerak lebih cepat. Dengan segenap kemampuan yang ada padanya, ia telah meloncat menyerang seorang dari kedua orang pengawal yang tersisa itu.

Lawannya tidak menduga bahwa anak muda itu akan bergerak begitu cepatnya. Karena itulah maka mereka menjadi agak bingung sekejap. Akan tetapi kemudian mereka sadar bahwa mereka harus melindungi diri mereka dengan ilmu puncak yang ada pada mereka.

Namun jarak mereka dengan anak muda itu ternyata tidak sama panjang. Yang seorang berdiri lebih jauh dari yang lain. Meskipun perbedaan jarak itu tidak terlalu berpengaruh, namun dengan demikian mereka tidak akan dapat membenturkan ilmu mereka berbareng dalam sekejap. Tapi dengan demikian maka benturan yang kemudian akan menjadi amat berbahaya bagi anak muda itu karena sebagian besar kekuatannya telah terhempas pada benturan yang pertama dengan puncak ilmu hitam salah seorang dari kedua iblis yang tinggal itu.

Anak muda itu tak sempat berbuat lain. Karena itu, maka ia pun akan menanggung akibat itu seandainya harus terjadi.

Tetapi dalam pada itu, ternyata Tapak Lamba dan Ki Buyut beserta orang-orang yang ada di sekitar arena itu pun tidak tinggal diam. Terutama Tapak Lamba dan ketiga kawannya serta Ki Buyut sendiri. Mereka pun mengerti, bahwa sangat berbahaya bagi anak muda itu untuk membentur dua kekuatan dalam waktu yang hampir bersamaan. Karena itulah, maka dengan kemampuan yang ada pada mereka, maka mereka pun mencoba untuk membantunya.

Pada saat, salah seorang dari kedua iblis itu siap menghadapi lawannya, maka Tapak Lamba dan kawan-kawannya serta Ki Buyut telah dengan serentak menyerang iblis yang lain dari segenap arah. Mereka melepaskan segenap kemampuan yang ada dalam diri mereka. Bahkan untuk mengikat mereka dalam waktu yang lebih panjang, maka kawan-kawan Tapak Lamba bukan saja menyerang, tetapi mereka telah melempar lawannya itu dengan senjata-senjata mereka.

Meskipun pengawal itu berada dalam puncak ilmunya, tetapi ia tidak menjadi kebal karenanya. Karena itu, maka ia harus menghindari lontaran-lontaran senjata yang mengarah ke tubuhnya.

Agaknya saat-saat menghindarkan diri itu memerlukan waktu yang meskipun sangat pendek, tetapi cukup berpengaruh atas keseluruhan dari perkelahian itu.

Pada saat iblis yang seorang sibuk menghindari lemparan senjata itulah, telah terjadi benturan yang sangat dahsyat, Anak muda yang menyerang itu masih sempat menghindar sambaran senjata iblis yang berilmu hitam, karena hal itu memang sudah diperhitungkan. Dengan sisi telapak tangannya yang dilambari ilmu puncaknya ia berhasil mematahkan senjata iblis itu, dan kemudian ilmu mereka pun telah saling berbenturan.

Akibat yang terjadi memang sudah dapat diperhitungkan. Pengawal yang telah mengkhianati Ki Buyut itu terlempar jatuh di tanah untuk tidak bangun lagi selama-lamanya.

Ternyata bahwa usaha Tapak Lamba dan Ki Buyut membawa pengaruh juga atas pertempuran itu. Kawannya yang seorang itu pun tiba-tiba mengumpat. Ia melihat kawannya telah meloncat, membentur lawannya, dan terlempar jatuh.

Karena itu, ia sama sekali tidak menghiraukan lagi serangan Ki Buyut dan Tapak Lamba serta kawan-kawannya. Selagi anak muda itu masih belum dapat menghimpun kekuatannya kembali, maka ia pun segera meloncat menyerang dengan garangnya.

Waktunya memang terlampau pendek bagi anak muda itu. Tetapi ia tidak sekedar dibakar oleh kemarahan dan nafsu semata-mata. Ia masih sempat mempergunakan pikirannya.

Karena itulah, ia sama sekali tidak membenturkan dirinya pada serangan itu. Dengan serta merta, ia pun segera meloncat menghindar, dan bahkan meloncat jauh-jauh dari lawannya.

Agaknya lawannya pun mengetahui bahwa anak muda itu berusaha mendapatkan waktu untuk membangunkan kembali kekuatan puncaknya. Karena itu, maka ia pun cepat memburunya dengan serangan yang dahsyat. Senjatanya terayun deras segera dilambari oleh ilmu puncaknya.

Namun anak muda itu menyadari, bahwa peranan senjata itu tidak begitu penting di dalam puncak ilmunya. Karena itu, maka ia pun sekedar menghindar pula dan sekali lagi meloncat menjauh.

Lawannya tidak melepaskannya. Ia pun memburu dengan senjata terjulur, hampir menembus perut anak muda itu. Namun tiba-tiba terasa tangannya menjadi nyeri oleh pukulan telapak tangan lawannya pada pergelangannya.

Ketika senjatanya kemudian terlepas, maka ia tidak mau memberi kesempatan lagi. Dengan dahsyatnya ia memburu kemanapun anak muda itu menghindar.

Akhirnya, anak muda itu memang tidak dapat menghindar lagi. Meskipun ia belum berhasil membangunkan ilmunya sampat kepuncak, maka benturan tidak dapat dihindarkan lagi.

Sekali lagi telah terjadi benturan ilmu yang dahsyat. Setali lagi orang-orang yang ada di halaman itu melihat, betapa orang terakhir dari ketiga pengawal berilmu hitam itu jatuh di tanah.

Namun agaknya kali ini ia tidak langsung terbunuh seperti kedua kawannya yang lain. Sambil memegangi dadanya ia berusaha untuk bangkit betapapun sulitnya.

Sementara itu, anak muda yang tidak dikenal namanya, baik oleh Ki Buyut maupun oleh Tapak Lamba itu terlempar beberapa langkah. Keletihan yang sangat, apalagi saat benturan itu terjadi, ia masih belum sampai kepada puncak kekuatannya, telah membuatnya tertatih-tatih. Bahkan kemudian ia pun jatuh terduduk, tepat pada saat lawannya berhasil berdiri dengan kesulitan.

Dengan wajah yang merah kebiru-biruan, orang itu melangkah satu-satu mendekati anak muda yang terduduk dengan lemahnya. Anak muda yang telah membenturkan ilmunya tiga kali berturut-turut, bahkan benturan ketiga terjadi terlampau cepat setelah benturan yang kedua, sehingga kekuatannya seolah-olah masih belum terungkat seluruhnya, setelah dilepaskannya sampai tuntas pada benturan sebelumnya.

Semua orang yang menyaksikan keadaan itu menjadi berdebar-debar. Mereka melihat pengawal yang seorang itu tertatih-tatih mendekati dengan sorot mata penuh dendam dan kebencian.

Anak muda yang terduduk di tanah itu masih tetap berada di tempatnya. Ia melihat lawannya datang mendekatinya. Namun agaknya tubuhnya menjadi sangat lemah, sehingga ia tidak dapat beringsut pergi.

Yang dapat dilakukan kemudian adalah justru duduk dengan tenangnya. Kedua kakinya disilangkan seperti kedua tangannya yang bersilang pula, di dadanya.

Matanya yang redup membayangkan hatinya yang pasrah menghadapi semua kemungkinan. Namun dengan sepenuh hati memanjatkan permohonan kepada Yang Maha Agung agar di diselamatkan dari tangan iblis yang hitam lekam itu.

Anak muda itu masih belum dapat beringsut ketika orang yang mendekatinya setapak-setapak itu menjadi semakin dekat. Bahkan yang kemudian menjulurkan tangannya sambil menggeram, “Aku akan mencekikmu sampai mati.”

Tetapi ketika orang itu setapak lagi maju, ia menjadi terhuyung-huyung. Tangannya yang terjulur bagaikan telah merusak keseimbangan tubuhnya yang memang belum menjadi mantap.

Karena itulah, maka tiba-tiba saja ia bagaikan batang ilalang kering yang didorong oleh sentuhan angin yang kuat sehingga ketika kakinya selangkah lagi bergeser, maka ia pun telah jatuh terjerembab, tepat di hadapan anak muda yang masih duduk bersila, mengheningkan hati untuk memohon agar kekuatannya dipulihkan kembali.

Anak muda itu melihat lawannya terjatuh beberapa jengkal saja di hadapannya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Juga seandainya lawannya itu bangkit lagi dan mencekiknya.

Tetapi ternyata lawannya itu tidak bangun lagi. Ia masih menggeliat dan mencoba menggapai dengan tangannya yang kehitam-hitaman, dan jari-jarinya yang mengembang bagaikan hendak menerkam dan meremasnya. Tetapi tangan itu pun kemudian melemah dan kehilangan kekuatan setelah hampir menyentuh kulitnya.

Iblis yang terakhir itu pun kemudian mati di hadapan anak muda yang duduk diam sambil mencoba memulihkan kekuatannya.

Sejenak halaman itu dicengkam oleh ketegangan. Semua orang berdiri tegak bagaikan patung. Nyai Buyut yang duduk di pendapa pun seolah-olah telah membeku di tempatnya.

Ia telah pernah menyaksikan berpuluh-puluh kali kematian bahkan dengan cara yang paling mengerikan. Namun baru saat itu ia menyadari, betapa kematian itu dapat menumbuhkan ketakutan dan kengerian. Setiap kali ia membunuh di bagian belakang rumahnya, dan yang sebenarnya dilakukan oleh ketiga iblis itu pula, ia tidak mengerti, betapa perasaan yang paling menyiksa telah menghinggapi korban-korbannya. Ia baru menyadari, setelah ia sendiri mengalaminya. Betapa ia disiksa kecemasan dan bahkan ketakutan ketika ia melihat satu demi satu pengawalnya terkelupas oleh lingkaran iblis di halaman rumahnya itu. Betapa ia membayangkan saat kematian yang menjadi semakin dekat.

Terasa sesuatu telah menyumbat dadanya disaat terakhir. Disaat kematian itu rasa-rasanya sudah mulai meraba ujung rambutnya.

Namun kini ia telah terlepas dari jari-jari maut itu. Ketiga pengawalnya yang berkhianat itu telah terbunuh oleh seorang anak muda yang tidak dikenalnya.

“Jika anak muda itu mengetahui siapakah kami, apakah ia mau menolongnya pula?” pertanyaan itu telah membersit di hati Nyi Buyut.

Tetapi ternyata bukan saja di hati Nyi Buyut, tetapi juga di hati Ki Buyut. Namun rasa-rasanya yang mendatang adalah suatu kesempatan baginya untuk melakukan cara hidup yang lain, yang barangkali lebih baik dari cara yang pernah ditempuhnya.

Sejenak kemudian orang-orang di halaman itu bagaikan terbangun dari sebuah mimpi yang dahsyat ketika mereka melihat anak muda itu terbatuk. Mereka melihat setitik darah di bibirnya. Namun kemudian anak muda itu mengusapnya dan sejenak kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali, seolah-olah udara di seluruh padukuhan itu akan dihisapnya.

Perlahan-lahan anak muda itu pun berdiri. Diangkatnya kedua tangannya tinggi-tinggi, seperti orang yang menggeliat dipagi hari demikian ia bangun dari pembaringan.

Tidak seorang pun yang bertanya sesuatu kepadanya. Mereka hanya menyaksikan anak muda itu mengambil sesuatu dari sebuah bumbung kecil di kantong ikat pinggang kulit yang besar yang melilit di lambungnya.

Namun setiap orang menduga, bahwa anak muda itu sedang berusaha mengobati dirinya sendiri dengan obat yang dibawanya.

Ternyata dugaan mereka tidak salah.

Sejenak kemudian nampak anak muda itu menjadi semakin segar. Wajahnya yang pucat, perlahan-lahan menjadi kemerahan.

Sejenak kemudian anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Dikembangkannya tangannya seolah-olah ia ingin meyakinkan dirinya sendiri, bahwa kekuatannya telah tumbuh kembali meskipun belum pulih sama sekali.

Ki Buyut dan Tapak Lamba menyaksikan sikap anak muda itu dengan berharap-harap cemas. Seolah-olah mereka pun menjadi bagian dari keadaan anak muda itu dalam keseluruhan. Jika anak muda itu menjadi bertambah baik, rasa-rasanya mereka pun akan menjadi bertambah baik pula.

Sejenak kemudian barulah anak muda itu melangkah mendekati mereka. Sambil memandang berkeliling ia berkata, “Apakah yang sebenarnya telah terjadi disini?”

Ki Buyut menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Ketiga orang itu adalah pengawal-pengawalku anak muda. Tetapi pada suatu saat, mereka telah melawanku.”

“Mereka adalah orang yang sangat berbahaya dengan ilmu hitamnya.”

“Kami mengucapkan terima kasih, bahwa Ki Sanak telah menyelamatkan jiwa kami.”

“Kalian pun telah menyelamatkan aku. Jika kalian tidak berusaha menahan orang terakhir dari ketiga orang itu dengan mengganggunya saat ia memusatkan kekuatannya, maka aku kira aku pun telah mati pula. Setidak-tidaknya aku akan menjadi terluka parah.”

“Tetapi kedatangan anak muda di padukuhan ini telah menyebabkan beberapa jiwa terselamatkan. Jika Ki Sanak tidak datang ke padukuhan terpencil ini, maka kami semuanya akan menjadi bahan permainan ketiga iblis itu dengan cara yang sangat mengerikan.”

Anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia pun bertanya, “Apakah ia pernah berbuat sesuatu di padukuhan ini sebelum ia berkhianat kepada ki Buyut?”

Ki Buyut menjadi bingung. Apakah ia harus berterus terang atas apa yang pernah dilakukannya selama ini bersama ketiga orang itu?

Dalam kebimbangan ia memandang Tapak Lamba seolah-olah ingin mendapat petunjuk apakah yang sebaiknya dikatakan kepada anak muda yang telah menyelamatkan jiwa mereka itu.

Tapak Lamba pun ragu-ragu sejenak Namun kemudian ia berkata kepada Ki Buyut, “Ki Buyut. Bukankah anak muda ini pernah bertanya atau menyebut-nyebut daerah bayangan hantu. Dengan demikian, maka cara yang kalian tempuh selama ini untuk bersembunyi tidak berhasil seluruhnya, karena masih ada juga kecurigaan terhadap daerah ini. Ternyata ada segolongan orang yang telah memberikan nama yang tepat kepada padukuhan ini, daerah bayangan hantu.”

Ki Buyut termangu-mangu. Namun kemudian ia bertanya kepada anak muda itu, “Darimanakah Ki Sanak mendapatkan nama itu?”

“Tetapi bukankah Ki Buyut telah membenarkan pada saat aku mendekati perkelahian yang sedang berlangsung bahwa daerah inilah yang disebut daerah bayangan hantu?”

“Anak muda, saat itu aku hanya bermaksud untuk menakutimu agar kau pergi dari tempat ini dan tidak terlibat perkelahian dengan ketiga iblis itu. Tetapi justru kaulah yang telah berhasil membinasakannya.”

“Terima kasih atas usahamu menyelamatkan aku Ki Buyut. Tetapi kenapa daerah ini merupakan daerah yang tidak dapat dimengerti oleh orang-orang di sekitar hutan di seberang.“ anak muda itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi menilik kehadiran ketiga iblis itu, daerah ini memang sepantasnya disebut daerah bayangan hantu.”

Ki Buyut tidak segera menjawab. Ia menjadi bingung, apakah yang sebaiknya dikatakannya.

“Ki Buyut.“ berkata anak muda itu, “Aku ingin mendapat keterangan yang sebenarnya. Ketiga orang itu sudah mati. Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Coba, katakanlah, apakah mereka sering melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dapat dimengerti oleh kita pada umumnya, yang tidak menganut ilmu hitamnya yang mengerikan itu?”

“Maksud anak muda?”

“Ilmu hitam itu dibayangi oleh kebiasaan yang buruk sekali. Membunuh dengan cara yang tidak masuk akal.”

“O.“ Ki Buyut menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak segera menyahut.

Dalam keheningan itu, tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh isak tangis Nyai Buyut di pendapa. Ia tidak dapat beringsut dari tempatnya. Tetapi ia mendengar semua percakapan itu, sehingga akhirnya ia berkata, “Ya anak muda. Kau benar. Kami semuanya di sini telah dijangkiti oleh penyakit yang gila itu. Aku pun telah dijalari oleh kebiasaan membunuh dengan cara yang tidak masuk akal.”

“Jadi kalian juga pernah melakukannya.”

“Anak muda.“ potong Ki Buyut. Tetapi Nyi Buyut mendahului, “Ya. Tetapi sama sekali bukan maksud kami. Kami tiba-tiba saja telah terjerumus kedalam kebiasaan itu di luar kesadaran kami, karena kebiasaan itu rasa-rasanya memang sangat menyenangkan.”

Anak muda itu menjadi tegang. Lalu, “Jadi kalian juga memiliki ilmu iblis itu?”

Nyi Buyut termangu-mangu sejenak. Dipandanginya suaminya yang ragu-ragu. Namun kemudian Ki Buyut pun berkata, “Tidak Ki Sanak. Kami tidak memiliki ilmu itu. Kami hanya sekedar terseret oleh kebiasaannya membunuh dengan cara-cara yang mengerikan.”

“Kenapa kalian melakukannya?”

Ki Buyut tidak segera menyakut. Ia ragu-ragu untuk mengatakan alasan yang sebenarnya, bahwa mula-mula ia hanya didorong oleh keinginannya untuk menghilangkan jejak persembunyiannya. Agar tidak seorang pun yang dapat menceriterakan tentang dirinya, maka semua orang yang pernah menemukannya bersembunyi dipadukuhan itu harus dilenyapkan, dibumbui oleh kebiasaan pengawalnya, maka jadilah padukuhan itu daerah bayangan hantu.

Namun yang kemudian dikatakannya adalah, “Ki Sanak. Kami tidak tahu, kenapa kami pun terseret kepada kebiasaan itu. Mula-mula bukan maksud kami. Tetapi lambat laun, kami pun terbiasa membunuh.”

Tapak Lamba menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa mula-mula Ki Buyut hanya sekedar ingin menyembunyikan diri. Namun ia pun tidak dapat mengatakannya kepada anak muda yang belum dikenalnya itu.

“Ki Buyut.“ berkata anak muda itu kemudian, “Apakah Ki Buyut kini menyadari bahwa yang pernah Ki Buyut lakukan adalah perbuatan yang salah?”

“Tentu Ki Sanak. Karena itu pulalah agaknya maka telah terjadi perkelahian di antara kami. Kedatangan kawanku itu agaknya telah membuka mataku, bahwa seharusnya aku tidak melakukan pembunuhan-pembunuhan serupa itu. Tetapi ketiga pengawalku itu memaksaku untuk berbuat demikian seterusnya.”

“Tentu Ki Buyut. Ketiga iblis itu harus melakukannya terus. Adalah menjadi salah satu ketentuan bagi mereka, bahwa mereka harus membunuh dan membunuh. Mereka harus membiasakan diri melihat darah menitik dari tubuh korbannya, dan kadang-kadang dilakukannya dengan cara yang paling terkutuk. Untuk memperkuat ilmunya, maka seakan-akan mereka harus memberikan korban darah bagi kepercayaannya itu.”

“Gila.“ desis Nyi Buyut, “Ternyata kami telah menjadi alat yang paling baik bagi mereka untuk mendapatkan korban-korban baginya.”

“Agaknya memang demikian meskipun aku pun menjadi heran bahwa Ki Buyut dan para bebahu padukuhan ini dapat terseret ke dalam tingkah lakunya itu. Dan yang akhirnya Ki Buyut dan bebahu padukuhan ini tidak dapat lagi keluar dari dalamnya.”

“Ya. Itulah yang sangat aku sesali.“ sahut Ki Buyut, “Namun demikian, aku tidak pernah memberikan korban orang-orang ku sendiri.”

“Itulah sebabnya bagi orang diluar daerah ini menyebut daerah ini sebagai daerah yang dibayangi oleh hantu-hantu. Ternyata daerah ini memang tinggal tiga orang iblis yang berhasil membujuk Ki Buyut dan bebahu daerah ini untuk berbuat keji seperti tingkah laku hantu yang sebenarnya.”

“Ya. Kami menyesal sekali.“ Ki Buyut menundukkan kepalanya.

“Ki Buyut.“ berkata anak muda itu, “Apakah Ki Buyut dapat membawa aku ketempat pembantaian yang sering dilakukan oleh ketiga iblis itu?”

“O. jangan anak muda. Tempat itu mengerikan sekali. Aku yang sekarang menyadari betapa tingkah lakuku benar-benar bagaikan iblis itu, tidak berani lagi membayangkan apa yang ada di dalam ruang pembantaian itu.”

“Tetapi aku ingin melihatnya.”

Tapak Lamba pun tiba-tiba saja menyela, “Aku pun ingin melihatnya Ki Buyut.”

Anak muda itu memandang Tapak Lamba dengan heran. Bahkan kemudian ia pun bertanya, “Jadi kau bukan bebahu pedukuhan ini?”

“Aku bukan.“ jawab Tapak Lamba, “Aku datang berempat. Tetapi yang lain adalah bebahu padukuhan ini.”

“Justru ia nyaris menjadi korban terakhir anak muda.“ berkata Ki Buyut, “Ia adalah sahabatku yang sudah lama sekali tidak bertemu. Orang itulah yang memberikan kesadaran padaku, bahwa cara hidup ini tidak dapat berlangsung lebih lama lagi. Aku pun menjadi sadar, bahwa hal ini memang harus dihentikan.”

Anak muda itu mengangguk-angguk, dan sekali lagi meminta kepada Ki Buyut, “Aku benar-benar ingin melihat alat-alat yang tentu sudah diciptakan oleh iblis-iblis itu Ki Buyut.”

Ki Buyut tidak dapat ingkar lagi. Meskipun ketika mereka mulai melangkah, Nyi Buyut di pendapa telah memekik kecil.

Ki Buyut tertegun sejenak. Lalu katanya, “Ki Sanak. Isteriku telah lumpuh. Maaf, aku akan membawanya masuk lebih dahulu.”

Anak muda itu tidak berkeberatan. Dibiarkannya Ki Buyut membawa isterinya masuk lebih dahulu ke rumahnya.

“Kenapa kau bawa mereka.“ berkata Nyi Buyut kepada suaminya, “Tempat terkutuk itu harus dimusnakan. Semuanya. Aku muak melihatnya. Bahkan jika benda-benda itu masih ada, mungkin aku akan mempergunakannya untuk membunuh diri.”

“Aku akan memusnakannya Nyai.“ berkata Ki Buyut, yang kemudian meninggalkannya isterinya di dalam biliknya dan membawa tamu-tamunya kebagian belakang rumah. Tempat yang selama itu menjadi tempat yang sangat rahasia bagi orang lain.

Anak muda yang telah menolong Ki Buyut itu mengikutinya dengan hati yang berdebar-debar. Di belakangnya berjalan Tapak Lamba dan ketiga kawannya. Meskipun mereka adalah orang-orang yang tidak gentar melihat darah, namun hati mereka pun menjadi serasa menyempit.

Ketika mereka semuanya memasuki sebuah bilik yang besar, di bagian belakang halaman rumah Ki Buyut, mereka hampir tidak percaya akan penglihatan mereka. Rasa-rasanya mereka benar-benar telah berada di dalam neraka yang paling jahanam.

Anak muda itu tidak dapat tinggal beberapa kejap saja di dalam bilik itu. Demikian ia masuk, maka ia pun dengan tergesa-gesa telah melangkah keluar. Demikian juga Tapak Lamba dan ketiga kawan-kawannya. Bahkan Ki Buyut sendiri, tiba-tiba menjadi pening melihat segala macam benda yang ada di dalam bilik itu. Benda yang tidak pantas dibuat oleh tangan-tangan manusia yang mempunyai akal tetapi juga budi.

“Mengerikan sekali.“ desis anak muda itu.

“Ya anak muda.“ sahut Ki Buyut, “Tanpa tiga orang iblis itu, maka bilik yang besar itu akan segera musna.”

“Jadi benar iblis itu yang menciptakannya?”

“Ya. Dibumbui oleh keadaan yang kalut dari keluarga kami. Ayah tiri isteriku yang serakah, dendam keluarga dan keadaanku sendiri yang gelap, merupakan tempat yang subur bagi ketiga iblis itu untuk menciptakan neraka yang mengerikan itu.”

Anak muda itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Sudahlah Ki Buyut. Apa yang aku lihat telah mengatakan kepadaku, apa saja yang pernah terjadi disini. Padukuhan ini benar-benar menjadi daerah yang dapat disebut daerah bayangan hantu. Agaknya ada juga orang-orang yang berhasil mencium peristiwa yang telah terjadi disini. Mungkin tidak ada orang yang dapat keluar lagi dari padukuhan ini apabila ia telah memasukinya. Tetapi justru orang-orang padukuhan ini sendirilah yang telah menceriterakan kepada orang lain, apabila mereka memerlukan sesuatu di luar daerah ini.”

“Orang-orang dipadukuhan ini pun tidak banyak yang mengetahui apakah yang sebenarnya telah terjadi.”

“Agaknya memang satu dua orang saja. Tetapi mereka adalah orang-orang biasa yang dapat saja menjadi khilaf sehingga sepatah dua patah kata, terloncat dari bibir mereka, apakah yang telah terjadi di daerah ini, sehingga di balik hutan sebelah itu, diberitakan orang ada sebuah daerah yang disebut daerah bayangan hantu. Jalma mara, jalma mati, sato mara sato mati.

Ki Buyut mengangguk-angguk.

“Sudahlah Ki Buyut. Aku harap bahwa daerah ini tidak lagi menjadi daerah yang mengerikan itu. Biarlah padukuhan ini menjadi padukuhan yang sewajarnya. Dengan demikian maka padukuhan ini tentu akan dapat berkembang. Hutan di sebelah adalah hutan yang rindang. Bukan hutan lebat yang dapat membatasi perkembangan daerah terpencil ini.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak juga dapat mengatakan bahwa ia adalah seseorang yang memang sengaja menyembunyikan diri dari pergaulan hidup.

Namun akhirnya Ki Buyut itu pun bercermin pada Tapak Lamba. Meskipun ia justru tinggal di kota, namun ia berhasil menyingkirkan dirinya dari pengamatan prajurit-prajurit Singasari.

Karena itu, maka Ki Buyut itu pun kemudian berkata, “Terima kasih anak muda. Aku akan mencoba untuk melakukannya. Mudah-mudahan padukuhan ini akan segera menjadi padukuhan yang sewajarnya seperti padukuhan-padukuhan lain. Namun demikian kami sadar, bahwa padukuhan ini tentu akan kehilangan ketenangannya.”

“Ya. Aku pun berpendapat demikian. Padukuhan ini akan kehilangan ketenangan dan kedamaiannya. Tetapi ketahuilah Ki Buyut, bahwa ketenangan dan kedamaian yang nampak pada wajah padukuhan ini adalah ketenangan dan kedamaian yang kelam, karena dibalik ketenangan dan kedamaian itu, telah terjadi peristiwa-peristiwa yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang berhati iblis.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ki Buyut. Biarlah orang-orang Ki Buyut menguburkan korban-korban yang masih berserakan. Bilik itu memang harus dimusnakan bersama segala isinya. Alat-alat yang telah diciptakan oleh ketiga orang itu tidak boleh dilihat oleh orang lain, sehingga tidak menimbulkan dorongan bagi mereka yang memiliki hati yang lemah untuk melakukan perbuatan serupa dalam pengaruh ilmu hitam. Karena ilmu itu memang memerlukan darah pada saat-saat tertentu.”

Kulit tubuh Ki Buyut meremang. Jika biasanya ia berada didalam bilik itu dengan kesenangan yang rasa-rasanya melonjak didasar hatinya, maka kini ia merasa bahwa saat-saat yang demikian adalah saat iblis berkuasa di dalam dirinya.

“Aku akan membakar bilik itu.“ berkata Ki Buyut. “Sekarang juga aku akan melakukannya.”

“Itu akan menimbulkan kegelisahan dan kebingungan banyak orang jika Ki Buyut melakukannya dengan tiba-tiba. Jika Ki Buyut memang akan membakarnya, Ki Buyut harus memberitahukannya kepada penduduk padukuhan ini.”

“Tetap: mereka tidak tahu, bahwa di belakang rumah ini ada sebuah bilik seperti isi nereka ini.”

“Ki Buyut tidak perlu memberitahukannya. Ki Buyut. dapat mengatakan, bahwa Ki Buyut merasa perlu membakar rumah yang berada di halaman belakang karena sesuatu sebab.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Ia memang dapat mencari alasan apa saja yang dapat diterima oleh penduduk padukuhan itu.

“Baiklah anak muda.“ katanya, “Aku akan mengatakan kepada penduduk di padukuhan ini, bahwa aku perlu membakar lumbungku yang sudah kosong, sebagai korban yang akan dapat membuat padukuhan ini menjadi lebih subur seperti perintah Dewa-Dewa yang aku dengar di dalam mimpi.”

Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Kau memang terbiasa memperbodoh rakyatmu. Tetapi mudah-mudahan kali ini adalah kali yang terakhir Sebab jika kau terlampau sering melakukannya, maka nilai perintah Yang Maha Agung akan menjadi turun dimata mereka, karena setiap kali mereka mendengar ucapan semacam itu. padahal, sama sekali bukannya yang sebenarnya demikian.”

“Baiklah anak muda. Aku mengerti.”

“Lakukanlah. Aku akan minta diri meninggalkan daerah ini. Tetapi sepeninggalku, hati-hatilah Mungkin ada orang yang mencari ketiga iblis yang terbunuh itu. Katakanlah kepada mereka, bahwa akulah yang telah membunuhnya, agar mereka mencurahkan dendamnya kepadaku.”

Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Lalu ia pun kemudian bertanya, ”Siapakah anak muda ini sebenarnya? Anak muda sudah menolong kami. melepaskan kami dari kesulitan yang akan dapat membawa jiwa kami. Tetapi kami belum tahu si apakah Ki Sanak ini.”

Anak muda itu tersenyum. Katanya, “Sebenarnya namaku tidak penting bagi kalian. Jika bukan karena kemungkinan datang pembalasan dari keluarga atau saudara-saudara seperguruan ketiga iblis itu, aku tidak perlu menyebut namaku.”

“Nama Ki Sanak sangat penting bagi kami, agar kami setiap kati dapat menyebut nama Ki Sanak dihadapan anak cucu kami.”

Anak muda itu tertawa. Katanya kemudian, “Baiklah.”

“Orang tuaku memberi nama kepadaku, Mahisa Bungalan.”

“Mahisa Bungalan, putera Mahendra.“ tiba-tiba saja Tapak Lamba menyebutnya dengan lantang di luar sadarnya.

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Dipandanginya Tapak Lamba sejenak. Lalu ia pun bertanya, “Darimanakah kau pernah mendengar namaku dan nama ayahku?”

Barulah Tapak Lamba sadar akan keterlanjurannya. Karena itu untuk beberapa saat ia bingung. Dipandanginya Ki Buyut dan anak muda itu berganti-ganti. Namun mereka tidak memberikan kesan apapun yang dapat membuka jawaban bagi pertanyaan yang sulit itu.

Namun akhirnya ia pun menjawab. “Anak muda, aku memang pernah mendengar nama Mahisa Bungalan putera Mahendra. Aku telah pernah mendengar pula nama orang-orang yang memiliki ilmu setingkat dengan Mahendra, Witantra dan Mahisa Agni.”

“Bukan setingkat dengan ayah Mahendra, tetapi keduanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu puncak di Singasan sekarang. Sedang ayah tentu bukan apa-apa bagi mereka.”

“Itu adalah ciri dari orang-orang mumpuni.“ berkata Tapak Lamba kemudian, “Anak muda adalah orang yang sangat rendah hati.”

“Ah. Sudahlah. Nama seseorang memang dapat saja didengar oleh orang lain. Nama ayah. nama pamanda Witantra yang juga bergelar Panji Pati-pati. Nama pamanda Mahisa Agni yang tidak ada duanya, nama pamanda Lembu Ampal dan mungkin masih banyak nama lagi.“ ia berhenti sejenak lalu, “Yang penting, katakan saja nama-nama itu kepada setiap orang yang akan membalas dendam kematian ketiga iblis berilmu hitam itu. Aku tidak berkeberatan. Setiap saat aku akan bersedia membuat perhitungan dengan perguruan mereka yang masih belum aku ketahui. Ilmu mereka adalah ilmu yang menurut pengamatanku sudah lama hilang dari Singasari, namun yang kini tiba-tiba saja telah muncul di daerah terpencil yang kemudian disebut daerah bayangan hantu.”

“Baiklah anak muda. Aku akan mencoba menyebut nama-nama itu. Terutama nama Mahisa Bungalan.”

“Pamanda Witantra dan pamanda Mahisa Agni tentu akan membantuku jika pada suatu saat aku menemui kesulitan dengan ilmu hitam itu. Ilmu yang sudah lama sekali hilang.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Tetapi Tapak Lamba nampak gelisah. Meskipun demikian ia berusaha untuk melenyapkan segala macam kesan dari wajahnya.

Sejenak kemudian anak muda itu benar-benar meninggalkan! rumah Ki Buyut. Meskipun Ki Buyut mencoba menahannya untuk sekedar memberikan semangkuk air untuk obat haus, namun anak muda itu menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Aku akan minta sebutir kelapa muda nanti diperjalanan. Sekarang aku tidak haus meskipun aku baru saja bertempur melawan iblis-iblis itu.”

“O.“ Ki Buyut dengan tergopoh-gopoh memanggil seorang pembantunya. “Ia akan memanjat sekarang juga anak muda.”

Sekali lagi Mahisa Bungalan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Tidak sekarang Ki Buyut. Nanti di perjalanan.”

“Sekarang Ki Sanak akan pergi kemana?“ bertanya Ki Buyut.

“Aku adalah seorang pengembara. Tetapi agaknya aku akan kembali menyeberangi hutan itu karena aku sudah melihat daerah yang disebut daerah bayangan hantu.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Lalu, “Aku berharap bahwa setiap kali anak muda dapat singgah kepadukuhan ini.”

Anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu termangu-mangu sejenak. Kemudian ia pun bertanya dengan nada datar, “Apakah gunanya setiap kali aku harus datang kemari?”

“Tidak apa-apa anak muda. Tetapi kau sudah pernah menyelamatkan kami dari terkaman iblis itu. Dengan demikian maka kau adalah orang yang mempunyai arti tersendiri bagi padukuhan ini.“ jawab Ki Buyut, lalu, “Selebihnya, mungkin kau dapat membantu melindungi kami jika tumbuh persoalan yang berkepanjangan dengan keluarga atau perguruan iblis yang mengerikan itu.”

Mahisa Bungalan tersenyum. Katanya, “Sudah aku katakan. Jika mencari orang yang membunuh ketiga iblis itu. sebutlah namaku. Mahisa Bungalan, anak Mahendra.”

“Baiklah anak muda. Mudah-mudahan pengembaraanmu tidak mengalami kesulitan apapun di perjalanan. Demikian juga hendaknya kami yang kau tinggalkan.”

Mahisa Bungalan pun kemudian minta diri kepada setiap orang dihalaman itu. Kepada Ki Buyut ia berpesan agar disampaikan pula kepada Nyi Buyut salamnya dan bahwa ia terpaksa segera meninggalkan padukuhan itu.

Sepeninggal Mahisa Bungalan, maka Ki Buyut pun segera memerintahkan orang-orangnya untuk membersihkan halaman. Menyingkirkan mayat-mayat yang berserakan dan kemudian mempersiapkan pembakaran bilik yang telah dibuatnya menjadi neraka yang paling mengerikan.

Sementara itu, Tapak Lamba yang duduk di serambi belakang rumah Ki Buyut itu pun berbisik, “Anak yang aneh. Ia datang dengan tiba-tiba, namun kemudian pergi pula dengan tergesa . Ia sama sekali tidak mau singgah barang sebentar. Bahkan minum pun tidak sempat.”

“Ya.“ sahut Ki Buyut, “Agaknya demikianlah wataknya. Ia datang untuk bertempur melawan kejahatan. Kemudian menghilang seperti asap yang ditiup angin.”

Tapak Lamba menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku kini berada dalam keadaan yang sulit.”

Ki Buyut mengerutkan keningnya. Kemudian ia pun bertanya, “Kenapa?”

Tapak Lamba tidak segera menjawab. Agaknya Ki Buyut pun harus berdiri pula dari tempatnya karena orang-orang yang menyiapkan pembakaran bilik itu, sudah siap.

“Baiklah.“ berkata Ki Buyut, “Kita tidak akan menyulutnya sekarang. Kalian beritahukan kepada penduduk padukuhan ini, bahwa Ki Buyut akan melakukan upacara korban, membakar sebuah lumbung kosong agar tanah di sekitar padukuhan ini menjadi semakin subur seperti perintah yang didengarnya dalam mimpi. Karena, itu, mereka tidak usah menjadi gelisah dan ketakutan.”

“Jadi kapan kita akan membakarnya?”

Setelah hampir setiap orang mengetahuinya. Beritahukan beberapa orang yang terpencar. Dan pesan kepada tetangga-tetangga mereka terdekat, sambung bersambung.

Beberapa orang pun kemudian pergi untuk memberitahukan, bahwa Ki Buyut telah bermimpi, agar sebuah dari lumbungnya yang telah kosong dibakar, sebagai korban untuk kesuburan sawah mereka.

Baru setelah orang-orang itu pergi berpencar, maka Ki Buyut bertanya kepada Tapak Lamba, “Kenapa kau kini justru berada dalam kesulitan?”

“Ki Buyut.“ berkata Tapak Lamba, “Aku bukanlah orang yang bersih sama sekali dari tindak kejahatan. Seperti yang aku katakan, aku pun seorang pembunuh yang tidak tanggung-tanggung. Tetapi aku tidak mempergunakan cara seperti yang kau lakukan disini, dan tujuan yang tidak menentu, sekedar untuk melepaskan nafsu kekejian. Jika kau mempunyai alasan untuk melenyapkan jejak pelarianmu dan sekedar dendam yang tersimpan di dalam hati, maka alasan itu kemudian menjadi kabur dengan sekedar sebuah kesenangan. Kesenangan melihat darah mengucur dan wajah yang ketakutan menjelang maut. Bahkan kemudian jerit dan sesambat kau anggap bagaikan dendang yang merdu mengiringi lepasnya nyawa dari badannya.“

“Sudahlah. Apakah yang sebenarnya ingin kau katakan?”

“Ki Buyut. Di Singasari aku pernah berusaha membunuh dua orang anak muda. Tetapi gagal karena Linggadadi telah menghalangi aku. Namun demikian, sama sekali bukan karena Linggadadi menentang tindak kejahatan serupa itu. Ia mencegah aku melakukan pembunuhan karena ia tidak mau mengusik prajurit Singasari. Ia mengharap agar Singasari untuk waktu yang lama tetap tenang dan tenteram, sehingga para Senapatinya menjadi lengah.”

Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya, “Suatu cara yang baik.”

“Ya. Dan aku memang gagal membunuh kedua anak muda itu. Bahkan aku menerima sebuah tawaran yang sangat menarik, Bekerja bersama dengan saudara tua Linggadadi, Linggapati dari Mahibit.“

“Sudah pernah kau singgung.”

“Ya. Tetapi sekarang tiba-tiba Mahisa Bungalan telah menyelamatkan nyawaku.“ ia berhenti sejenak, lalu, “Sedangkan kedua anak muda yang hampir saja menjadi korban dendamku adalah kedua adiknya.”

“He?”

“Ya. Kedua anak muda itu adalah anak-anak Mahendra pula. Adik Mahisa Bungalan itu.”

Ki Buyut dan orang-orang yang mendengar keterangan Tapak Lamba itu termangu-mangu. Mereka tidak dapat merasakan langsung kebimbangan yang membelit hati Tapak Lamba. Namun mereka dapat membayangkan, bahwa Tapak Lamba seolah-olah berdiri ditengah-tengah simpang jalan yang sulit untuk menentukan, jalan manakah yang harus dipilih.

“Siapakah kedua adik Mahisa Bungalan itu?“ bertanya Ki Buyut kemudian.

“Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.“ jawab Tapak Lamba.

Ki Buyut mengangguk-angguk. Sementara Tapak Lamba menceriterakan apa yang sudah dilakukan oleh ketiga orang kawannya dan dirinya sendiri. Dan yang kemudian muncul seorang yang bernama Linggadadi.

“Aku tidak tahu, siapakah yang lebih tinggi ilmunya. Linggadadi dan Linggapati atau Mahisa Bungalan.“ berkata Tapak Lamba kemudian, “Bagiku kedua belah pihak adalah orang-orang yang memiliki kelebihan yang sukar dinilai. Apalagi keduanya menunjukkan kemampuannya dalam suasana yang sangat berbeda.”

Ki Buyut mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian katanya, “Tetapi bagaimanapun juga, Linggapati dari Mahibit tidak akan dapat banyak berbuat. Yang kita lihat adalah kemampuan yang ditunjukkan oleh Mahisa Bungalan. Apalagi jika kemudian Mahendra sendiri ikut campur. Sedangkan Mahendra biasanya tidak berdiri sendiri. Tetapi di sampingnya ada Mahisa Agni, Panji Pati-pati dan beberapa orang kuat lainnya yang sekarang berada di Singasari mengelilingi dan menjadi perisai kekuasaan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”

Tapak Lamba menarik nafas dalam-dalam. Sambil berdesah ia berkata, “Aku memang menjadi bingung.”

“Kau berhutang budi kepada Mahisa Bungalan. Tetapi kau mempunyai cita-cita yang sudah kau jalin sebelum kau datang kemari. Bukankah kedatanganmu itu ada hubungannya dengan rencanamu untuk bekerja bersama dengan orang-orang dari Mahabit itu?”

“Ya. Tetapi benar-benar membingungkan sekarang.”

“Sudahlah. Kita akan memikirkannya kelak. Sekarang, kita tunggu, apakah orang-orang yang memberitahukan pembakaran bilik itu sudah merata.”

Tapak Lamba mengangguk-angguk. Sekilas terbayang, isi dari bilik yang mengerikan itu. Benar-benar seperti isi neraka yang paling seram. Di dalamnya terdapat berbagai macam alat untuk menyakiti dan menyiksa orang. Kemudian cara-cara membunuh yang paling biadap dan terkutuk. Selebihnya adalah korban-korban yang dengan tanpa perasaan disimpan dalam bentuk yang beraneka macam.

Sejenak kemudian, maka beberapa orang yang berpencar mengelilingi padukuhan itu pun sudah berkumpul kembali. Mereka sudah memberitahukan rencana itu kepada hampir setiap orang sehingga jika pembakaran itu dilakukan, maka isi padukuhan itu tidak akan terkejut lagi.

“Beberapa orang mengucapkan terima kasih, bahwa Ki Buyut telah mengorbankan sebuah lumbung bagi kemakmuran mereka.“ berkata orang-orang kepercayaan Ki Buyut itu.

“Lalu apa katamu?“ bertanya Ki Buyut.

“Aku katakan kepada mereka, bahwa semua milik Ki Buyut pun dapat dikorbankan untuk kepentingan padukuhan ini.”

Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Nampaknya semuanya itu sebagai suatu gurau yang segar. Tetapi rasa-rasanya jantung Ki Buyut bagaikan ditusuk dengan duri.

Selama ini, ia adalah yang paling terkutuk di padukuhannya. Jangankan mengorbankan semua miliknya. Yang dilakukan adalah pelanggaran atas asas-asas kemanusiannya.

Namun dalam pada itu, maka ia pun sadar, bahwa bilik di belakang rumahnya itu memang harus dimusnakan. Ia harus melenyapkan semua kenangan dan bekas-bekas yang dapat menumbuhkan kenangan buruk tentang tingkah lakunya itu.

“Baiklah.“ berkata Ki Buyut kemudian, “Marilah kita bakar tempat terkutuk itu. Yang paling dekat dengan rumah ini harus dirobohkan lebih dahulu, agar api tidak terlampau dekat dan bahkan dapat menjilat rumah ini.”

Orang-orangnya pun kemudian mulai melakukan perintahnya. Bagian yang paling dekat dengan rumah Ki Buyut, mulai dirobohkan dan dilemparkan menjauh, agar jika bagian itu terbakar, api tidak menjilat rumah Ki Buyut.

Sejenak kemudian, maka Ki Buyut pun mulai menyalakan obor minyak jarak. Perlahan-lahan ia melangkah masuk kedalam biliknya yang sebagian sudah dirobohkannya itu. Disiramnya seonggok kayu dengan minyak jarak dan kemudian dinyalakannya.

Api mulai menyala pada bagian dinding yang sudah ber¬serakan itu. Perlahan-lahan api itu pun menjalar ke sekitarnya. Beberapa potong kayu yang menjadi tulang-tulang dinding bambu itu pun telah terbakar pula. Semakin lama semakin besar, semakin besar.

Akhirnya, rumah hantu itu pun merupakan segumpal api raksasa yang bagaikan menari-nari menjilat langit. Warna merah yang menyeramkan telah menelan bilik yang bagaikan neraka. Dan kini bilik itu telah dilengkapi dengan nyala api yang dahsyat. Tetapi api itu bukan bagian dari neraka yang jahanam itu. Namun api itulah justru yang akan menelan dan memusnakannya hingga menjadi debu lembut dengan segenap isinya.

Dan di antara yang terbakar dari isi bilik itu adalah mayat ketiga iblis yang telah menciptakan bilik itu dengan segala kelengkapannya.

Ketika api mulai surut, Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ada sesuatu beban yang hilang dari bahunya, sehingga sepercik ketenangan telah menyentuh hatinya.

“Mudah-mudahan lenyaplah bilik itu dapat menumbuhkan kedamaian di hatiku.“ desis Ki Buyut.

“Tetapi kita akan segera terjerumus kedalam persoalan-persoalan lain.“ desis Tapak Lamba.

“Persoalannya tentu berbeda. Jika kita berjuang untuk suatu cita-cita, maka kita bukannya sejenis orang-orang yang telah terbunuh itu. Kita melakukannya dengan sadar dan mempunyai tujuan tertentu.”

Tapak Lamba menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hatinya, tumbuh semacam keragu-raguan. Apakah ada bedanya, pembunuhan-pembunuhan yang bakal dilakukan dengan pembunuhan yang pernah dilakukan oleh Ki Buyut dengan ketiga iblis itu.

“Peperangan pasti akan menimbulkan kekejaman-kekejaman yang barangkali tidak terlampau banyak terpaut dengan yang dilakukan oleh iblis-iblis itu.“ berkata Tapak Lamba didalam hatinya, “Bilik itu adalah gambaran dari watak peperangan. Pembunuhan tanpa pertimbangan akal, siksaan dan tindak kekejaman yang lain, yang kadang-kadang diluar jangkauan nalar sehat bahwa hal itu dapat terjadi.”

Tetapi seperti Ki Buyut yang kemudian mengajak Tapak Lamba masuk ke dalam rumahnya setelah membersihkan diri Tapak Lamba dan kawan-kawannnya mencoba untuk mengesampingkan semua persoalannnya.

“Beristirahatlah disini dengan tenang.“ berkata Ki Buyut, “Untuk sementara kita tidak usah memikirkan, apakah kita akan berpihak kepada orang-orang Mahibit atau berdiam diri saja disini.”

Tapak Lamba mengangguk sambil tersenyum. Jawabnya, “Baiklah Aku akan tinggal disini untuk beberapa lamanya.”

“Mudah-mudahan aku akan menemukan jalan keluar yang paling baik dari lingkaran kekalutan ini.”

Sementara Tapak Lamba dan kawan-kawannya tinggal di padukuhan itu, Mahisa Bungalan telah jauh meninggalkannya. Ia telah berhasil menemukan daerah yang disebut daerah bayangan hantu, dan bahkan telah menghapusnya sama sekali.

“Mudah-mudahan orang-orang di padukuhan itu tidak kambuh lagi setelah ketiga iblis itu terbunuh.“ berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya.

Sementara itu dalam perjalanan menjauh, ia masih sempat melihat api yang mengepul tinggi. Dan ia pun tahu, bahwa Ki Buyut dari daerah bayangan hantu, telah membakar alat-alat yang selama beberapa saat yang lalu dipergunakannya untuk memberikan kepuasan kepada salah satu bentuk nafsu yang tidak terkendali di dalam dirinya, didorong oleh kehadiran tiga orang iblis berilmu hitam yang memang setiap kali memerlukan darah untuk menyegarkan ilmunya itu.

Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Akan tetapi ia meneruskan perjalanannya. Kudanya berlari tidak terlampau kencang tetapi juga tidak lambat sekali.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...