*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 03-03*
Karya. : SH Mintardja
Dengan demikian maka cara yang paling baik yang dapat dilakukan untuk menyingkirkan Anusapati, Maharaja Singasari, adalah dengan memancingnya keluar. Di malam hari atau siang hari.
Tetapi dengan demikian, maka tidak akan mungkin dapat merahasiakan lagi, siapakah yang melakukannya atau atas perintah siapa. Jika para pengawal bertindak dengan cepat, maka semuanya akan terbongkar, dan usaha yang sudah dilakukan itu tidak akan gunanya.
“Para pengawal itulah yang harus dipisahkan dari Anusapati,” berkata salah seorang dari mereka.
“Ya,” jawab yang lain, “Kita baru memiliki seorang panglima.”
“Tetapi panglima itu adalah panglima pelayan dalam. Semua usahanya akan sangat bermanfaat.”
“Dan bagaimana dengan panglima pasukan pengawal?”
Tidak seorang pun yang dapat menjawab. Meskipun panglima pasukan pengawal itu adalah seorang yang setia kepada Sri Rajasa, namun ia tidak dapat dengan mudah dipengaruhi untuk memusuhi Anusapati yang kini duduk di atas tahtanya.
“Aku akan berusaha,” berkata salah seorang dari mereka.
Semua orang berpaling kepadanya. Kepada seorang perempuan yang meskipun umurnya sudah semakin tua, namun ia masih tetap tampak sebagai seorang perempuan muda yang cantik.
“Apakah yang akan Ibunda lakukan?” bertanya anak laki-lakinya.
Perempuan itu tersenyum. Katanya, “Jangan takut. Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku dapat mencari dua tiga orang gadis yang sangat cantik. Aku akan mencoba menundukkannya.”
Semua orang yang mendengarnya menarik nafas dalam-dalam. Mereka masih melihat perempuan itu tersenyum sambil mengangkat wajahnya, “Jika aku berhasil, apakah yang harus dilakukan oleh panglima itu?”
“Tidak apa-apa. Ia hanya diharuskannya berdiam diri saja.”
“Kenapa berdiam diri?”
“Berdiam diri dengan seluruh pasukannya. Jika terjadi sesuatu di istana ini, Pasukan pengawal sebaiknya tidak bertindak apapun juga. Dan dengan demikian, maka pasukan penempur yang ada di dalam istana tidak akan banyak dapat berbuat sesuatu. Mereka akan segera dapat dikuasai oleh pasukan pengawal dan pelayan dalam.”
Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mengerti. Karena kalian tidak mungkin lagi membunuh Anusapati dengan diam-diam, maka kalian akan membunuhnya di hadapan penghuni istana ini tanpa tedeng aling-aling. Tetapi untuk itu kedua pasukan terkuat di istana ini harus dikuasai lebih dahulu.”
Orang-orang yang ada ditempai itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya pula seperti perempuan itu. Sepercik harapan memang telah timbul di hati mereka. Jika kedua panglima yang paling berkuasa di dalam istana ini dapat dikuasai, maka semuanya akan dapat berjalan dengan lancar. Tidak akan ada seorang pun yang berani berbuat sesuatu apapun yang akan terjadi.
Namun demikian salah seorang dari mereka bertanya, “Tetapi bagaimana dengan para prajurit di luar istana. Jika mereka tidak mau tunduk kepada perintah kita, apakah kita dapat menundukkan mereka? Dan bagaimana jika tiba-tiba mereka mengepung istana ini?”
“Kita akan dapat mempengaruhi sebagian dari mereka. Jika mereka tidak sependirian lagi, maka kekuatan mereka tidak akan menggetarkan dinding istana. Apalagi jika kita dapat mengumumkan harapan yang dapat kita berikan kepada mereka dan kutukan atas segala kejahatan yang pernah dilakukan oleh Anusapati.”
“Semua usaha akan kita jalankan.”
Demikianlah maka pertemuan itu telah sepakat, bahwa mereka akan menempuh jalan terakhir. Jalan yang paling kasar yang pernah mereka pikirkan. Tetapi mereka benar-benar tidak mempunyai jalan lain.
Ternyata bahwa mereka tidak menyia-nyiakan waktu lagi. Dengan tertib mereka mulai melakukan tugas masing-masing. Dan berhasillah mereka mendapatkan tiga orang gadis yang paling cantik, yang menyediakan diri menjadi umpan bagi yang mereka namakan suatu perjuangan untuk merebut keadilan dari tangan Maharaja Anusapati.
Dengan pesan yang meyakinkan, maka ketiga orang gadis yang paling cantik itu mendapat tugas untuk menguasai panglima pasukan pengawal yang memiliki pengaruh yang besar bagi keamanan di dalam lingkungan halaman istana dan keluarga maharaja.
Adalah kebetulan sekali bahwa salah seorang dari ketiga gadis itu berhasil mendekatkan diri dengan panglima itu yang secara kebetulan sedang berada di halaman istana, di antara beberapa orang pengawal.
Tetapi ia baru berhasil mendapat perhatian saja dari panglima itu. Panglima itu masih belum menegurnya dan apalagi bertanya tentang sesuatu.
Namun akhirnya, gadis yang lain berhasil pula memancingnya dalam suatu pembicaraan. Ketika panglima itu memasuki halaman istana, maka dengan serta-merta, gadis yang sedang berada di semak-semak itu berlari-lari sehingga terjatuh.
“Kenapa?” tanpa berpikir lagi panglima itu pun bertanya.
“Ampun Tuan,” gadis itu terengah-engah, “ada seekor ular. Hamba sedang mencari sekuntum bunga yang indah di dalam taman ini. Tetapi ternyata hamba diganggu oleh seekor ular berbisa.”
Dengan usaha yang sungguh-sungguh, untuk kepentingan perjuangan yang menurut mereka adalah perjuangan yang luhur, maka akhirnya ketiga orang gadis itu berhasil memperkenalkan diri, justru ketika panglima pasukan pengawal itu sedang dilihat kesepian. Sebagai seorang prajurit kadang-kadang ia terpisah dari keluarganya untuk waktu yang tidak tertentu. Dan itulah yang memungkinkan ia kehilangan keseimbangan. Agaknya usaha yang lain telah dilakukan pula. Ketika panglima itu mendengar bahwa istrinya yang ditinggalkan di rumah terlibat dalam hubungan yang tidak sewajarnya dengan seorang laki-laki.
Alangkah dangkalnya perasaannya. Meskipun nalarnya masih dapat menahan agar ia tidak segera bertindak, karena mungkin yang didengar itu sekedar fitnah, namun kehadiran gadis-gadis cantik itu telah mempengaruhinya. Seakan-akan ia tidak mau lagi melihat apakah yang didengarnya itu suatu kebenaran atau sekedar fitnah semata-mata. Bahkan di dalam gejolak nafsu butanya, ia mengharap bahwa ia tidak akan sempat melihat pembuktian bahwa istrinya tidak bersalah.
Dengan demikian, maka kekebalan dinding hatinya menjadi semakin luluh, Kehadiran ketiga orang gadis yang cantik itu benar-benar telah mencengkamnya. Apalagi dengan sengaja ketiga orang gadis itu mengganggunya dengan segala cara.
Tidak ada yang dapat dilakukan, selain pasrah diri di dalam cengkeraman nafsu yang gila itu. Ia benar-benar kehilangan pengamatan diri, ketika gadis-gadis itu seakan-akan dengan ikhlas menyerahkan dirinya. Meskipun dari ketiga orang itu yang paling dibutuhkan hanya seorang, namun yang seorang itu sudah cukup kuat mencengkam dan membelenggu tangan dan kakinya.
Seperti disambar petir rasanya, ketika pada saat ia kehilangan kendali atas dirinya, tiba-tiba saja pintu rumah gadis itu terbuka. Dengan wajah yang pucat panglima itu berdiri dengan tubuh gemetar. Di sampingnya gadis yang cantik itu justru semakin melingkar di pembaringan.
Di muka pintu berdiri Tohjaya dengan sepasukan pengawal.
“Apa yang kau lakukan di sini?” bertanya Tohjaya.
Jari-jari yang menunjuk hidungnya itulah yang membuka kesadarannya, bahwa sebenarnya ia sudah terjebak. Dengan wajah yang semakin pucat, akhirnya ia pasrah sambil bertanya, “Apakah yang sebenarnya Tuanku kehendaki. Hamba memang tidak akan dapat ingkar, karena di hadapan hamba ada beberapa orang saksi yang tidak akan dapat hamba hapuskan.”
“Apakah kau akan mencoba membunuh orang-orang yang melihat dengan mata kepala sendiri atas peristiwa ini?”
“Tidak mungkin Tuanku. Karena itu Tuanku akan berhasil memeras hamba. Dan itulah yang hamba tanyakan, apakah yang akan aku lakukan?”
Tohjaya mengerutkan keningnya sejenak. Namun kemudian ia tertawa sambil melangkah masuk. Kepada gadis yang masih ada di dalam bilik itu ia berkata, “Pergilah! Tugasmu sudah selesai.”
Gadis itu memandang panglima yang telah ditundukkan itu dengan senyum yang paling menyakitkan hati. Sambil melangkah pergi ia berkata, “Maaf Tuan. Hamba telah menyelesaikan tugas hamba. Apa yang terjadi memang akan tetap menjadi kenangan bagi hamba. Dan hamba tidak akan pernah melupakan Tuan. Bahkan seandainya kelak hamba sudah bersuami sekalipun.”
Panglima itu menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak menjawab. Dipandanginya saja gadis yang meninggalkan bilik itu dengan tanpa berkedip.
Tetapi gadis itu terkejut ketika tiba-tiba sebuah tangan yang kuat memegang lengannya dan tanpa berkata apapun juga lengan itu ditariknya
“Tuan,” gadis itu memekik kecil, tetapi suaranya terdengar dari dalam bilik yang ditinggalkannya, “apa artinya ini?”
Panglima yang ada di dalam bilik itu mendengar juga suara gadis itu, sehingga ia menggeram, “Jadi Tuankulah yang akan menghapuskan jejak dan saksi? Apakah Tuanku akan melenyapkan gadis itu?”
“Ia akan menerima hadiahnya. Dan sudah barang tentu ia masih sangat aku perlukan. Jika kau ingkar, ia adalah saksi yang pertama yang akan mengatakan kepada sidang para pemimpin Singasari yang sembilan, bahwa kau adalah seorang panglima yang tidak pantas menjadi teladan rakyat dan prajurit di seluruh Singasari.”
“Hamba mengerti. Tetapi hamba tidak yakin bahwa gadis itu akan menerima hadiah yang sebenarnya Tetapi tuan tentu akan menyingkirkannya untuk selama-lamanya, karena gadis itu akan dapat bercerita, bahwa Tuankulah yang telah memberikan tugas kepadanya menjebak hamba di dalam rencana pemerasan ini.”
Tiba-tiba Tohjaya tertawa. Hanya perlahan-lahan. Katanya, “Aku tidak tergesa-gesa. Tetapi sebaiknya kau bekerja bersama dengan aku, agar kau tidak menjadi tumpuan caci dan maki karena tindakanmu yang liar ini. Aku kira istrimu masih belum membayangkan apa yang telah terjadi. Jika kau anggap istrimu benar-benar telah berbuat salah karena melanggar pagar ayu, maka berita yang sampai ke telingamu itu pun sekedar berita yang sejalan dengan semua rencanaku. Istrimu adalah istri yang setia. Istri yang baik. Nah, apakah kau sampai hati merusak kesetiaannya karena berita yang akan didengarnya tentang apa yang kau lakukan, dan apakah ia akan sampai hati melihat kau diarak ke alun-alun dan dilempari batu sampai mati karena kau berzina?”
“Hamba mengerti Tuanku. Karena itu, sebaiknya Tuanku mengatakan saja, apakah yang harus hamba lakukan?”
Tohjaya tersenyum bagaikan senyuman iblis di atas tanah perkuburan yang baru. Katanya, “Baiklah Panglima. Aku ingin bertemu dengan kau malam nanti di ujung jalan yang memotong ujung dinding halaman istana ke arah barat.”
“Baiklah Tuanku. Hamba akan datang. Dan sekarang, apakah Tuanku bersedia meninggalkan hamba, atau membiarkan hamba pergi dari tempat ini?”
“Tentu. Aku akan segera pergi. Kau dapat tetap tinggal di sini. Tetapi sendiri. Gadis itu dilindungi oleh para pengawalku. Demikian juga kedua gadis yang lain.”
“Hamba tidak berkepentingan lagi dengan gadis-gadis itu. Tetapi hamba justru menjadi cemas, bahwa gadis itu akan mengalami nasib yang sangat buruk di dalam perlindungan pengawal-pengawal Tuanku.”
“Kasihan sekali. Tetapi mereka adalah bebanten dari perjuangan ini, seperti Kakanda Anusapati harus mengorbankan pengalasan dari Batil itu.”
Sepercik gugatan nampak di wajah panglima itu. Tetapi ia pun kemudian menundukkan kepalanya. Agaknya nasib ketiga gadis itu pun tidak akan lebih baik dari nasibnya sendiri.
Panglima itu pun kemudian tidak mendengar lagi gadis itu meronta-ronta di tangan para prajurit. Salah seorang dari mereka berkata, “Jangan ribut. Kau tidak akan di-apa-apakan. Kau hanya akan dilindungi dari kemungkinan yang dapat mengancam nyawamu. Jika panglima itu berbuat licik, maka ia akan dapat memerintahkan orang-orangnya membunuhmu, agar tidak ada saksi yang utama apabila persoalannya terpaksa dihadapkan kepada para pemimpin di Singasari.”
“Aku tidak akan membuka rahasia ini. Tetapi jangan kau seret aku seperti menyeret kambing.”
Tetapi pengawal itu tertawa. Katanya, “Sayang, kau bukan gadis lagi. Tetapi jangan takut bahwa kau tidak akan mendapatkan seorang suami karena kau sangat cantik. Jasamu tentu akan selalu diingat oleh Tuanku Tohjaya yang masih jejaka itu. Kecuali jika Tuanku Tohjaya tidak memerlukannya dan memberikan kau kepadaku, agar aku dapat selalu melindungimu dari ancaman maut.”
“Diam, diam. Aku tidak sudi.”
Pengawal itu tertawa. Benar-benar menyakitkan hati, sehingga gadis itu mengumpatnya.
Tetapi gadis yang malang itu tidak dapat melawan ketika ia kemudian dibawa dengan pengawalan yang kuat ke tempat yang tidak diketahuinya.
“Kau benar-benar sekedar kita amankan,” seorang pengawal masih sempat berkata kepadanya ketika pintu biliknya kemudian ditutup dari luar.
Ternyata di dalam bilik itu telah berkumpul ketiga gadis yang telah menyerahkan diri, mengorbankan kehormatannya untuk suatu perjuangan yang mereka anggap luhur. Namun yang akhirnya mereka terlempar ke dalam suatu tempat yang tidak mereka kenal.
Karena itu, maka ketiga gadis itu hampir berbareng telah memukul-mukul pintu bilik itu sekuat tenaga mereka sambil berteriak-teriak, “Lepaskan kami! Kami telah berjasa bagi kalian.”
Tetapi pintu itu masih tetap tertutup. Dan bahkan bergetar pun tidak, sehingga ketiga gadis itu semakin lama menjadi semakin lelah, dan akhirnya mereka terhenti dengan sendirinya.
Namun dalam pada itu, selagi mereka terduduk sambil menangis, tiba-tiba pintu bilik itu berderit. Perlahan-lahan pintu itu terbuka, sehingga ketiga gadis itu terkejut. Serentak mereka mengangkat wajah sambil memandang ke arah pintu yang terbuka itu.
Sepercik harapan telah melonjak di dalam hati mereka ketika mereka melihat seorang putri masuk ke dalam bilik mereka sehingga serentak pula mereka meloncat dan bersujud di hadapannya.
“Ampun Tuanku. Hanya kepada Tuanku Ken Umang, hamba bersama-sama mohon perlindungan,” dan gadis yang telah berhasil meruntuhkan hati panglima itu melanjutkan, “hamba telah berhasil melakukan perintah Tuanku. Namun akhirnya hamba justru dimasukkan ke dalam bilik ini.”
Ken Umang tersenyum hambar. Kemudian ia pun duduk di atas sebuah dingklik kayu di sudut ruangan itu.
“Anak-anakku,” berkata Ken Umang, “kalian memang sudah memberikan pengorbanan yang tiada taranya bagi Singasari. Karena itu aku datang untuk mengucapkan terima kasih kepada kalian.”
“Hamba sekedar melakukan kewajiban hamba,” jawab salah seorang dari mereka, “namun hamba tidak mengerti, kenapa hamba justru harus berada di tempat ini?”
Ken Umang justru tertawa sambil berkata, “Jangan berbuat setengah-setengah anak-anakku. Lakukanlah pengorbananmu dengan sempurna. Kau sudah berhasil menaklukkan panglima pasukan pengawal itu dengan mutlak. Karena itu, maka kalian dituntut untuk memberikan pengorbanan yang lebih banyak lagi. Aku kira kalian tidak akan berkeberatan.”
“Maksud Tuan Putri?”
“Apa boleh buat anak-anakku. Pengorbanan berikutnya adalah kesediaan kalian tinggal di sini untuk sementara.”
“Oh,” hampir bersamaan mereka merayap mendekat, “ampun Tuanku. Apakah Tuanku tidak dapat memerintahkan kepada para prajurit, agar hamba dapat dilepaskan? Apa yang hamba lakukan semata-mata demi kepentingan Singasari, sehingga hamba tidak pernah mengharapkan hadiah atau semacam itu yang bagaimanapun bentuknya. Hamba sudah berkorban dengan ikhlas sehingga apa yang hamba lakukan adalah berdasarkan pada kesadaran hamba untuk mengabdi. Jika dicemaskan bahwa hamba akan berkhianat, tentu tidak mungkin sama sekali. Berbeda jika hamba mengharapkan untuk mendapatkan hadiah. Hamba tentu akan memilih siapakah yang akan memberi lebih banyak dari yang hamba terima sebelumnya.”
Ken Umang masih saja tertawa. Katanya, “Karena itulah maka kalian masih harus berkorban lagi. Pengorbanan yang kalian berikan, kalian sandarkan kepada pengabdian. Dan kalian masih harus memberikan pengorbanan atas dasar yang sama. Tidak terlampau berat. Kalian harus berada di dalam bilik ini untuk sementara. Jika keadaan telah memungkinkan, maka kalian akan dapat kami lepaskan lagi.”
“Tetapi ampun Tuanku, untuk sementara di dalam bilik yang dikelilingi oleh prajurit-prajurit yang kasar, adalah berbahaya sekali bagi perempuan-perempuan seperti hamba bertiga.”
“Ah, kenapa kalian berpikir demikian? Bukankah hal itu sudah kalian lakukan demi pengorbanan kalian untuk Singasari.”
“Tetapi tidak seperti ini, Tuan Putri.”
Ken Umang memandang perempuan-perempuan yang menangis itu sejenak. Namun yang tampak di dalam angan-angannya adalah perbuatannya sendiri. Ia berhasil memaksa Ken Arok mengawininya, karena ia lebih dahulu telah berhasil memancing kekhilafannya di hutan perburuan, sehingga Ken Arok yang merasa dirinya seorang pemimpin pada waktu itu, tidak mau ingkar dari tanggung jawab.
Karena itu maka sambil mengerutkan keningnya ia berkata, “Apakah salahnya jika semuanya terjadi. Kalian harus menyerahkan apa saja yang ada pada kalian untuk suatu tujuan yang besar. Untuk kepentingan diri kalian masing-masing, dan apalagi untuk kepentingan Singasari.”
“Oh,” tangis ketiga perempuan itu pun bagaikan meledak. Tetapi agaknya sama sekali tidak tersentuh perasaan belas kasihan di dalam hati Ken Umang. Ia merasa berhak menuntut pengorbanan yang serupa, karena ia pun harus melakukannya meskipun untuk kepentingannya sendiri.
“Jangan cengeng!” berkata Ken Umang, “Lakukanlah dengan ikhlas, agar kalian tidak menjadi sakit hati. Pada saatnya kalian akan bebas dari tempat ini, dan kalian akan mendapat hadiah yang cukup. Kau harus mengetahui bahwa rencana ini akan dilakukan dengan cermat. Anusapati harus disingkirkan dan bahkan dibunuh. Agar rencana ini tidak dapat disadap oleh siapa pun, maka kalian terpaksa berada di tempat ini. Jika Anusapati telah terbunuh, maka kalian akan bebas pergi ke manapun.”
Ketiga gadis itu menangis semakin keras, sehingga Ken Umang merasa bahwa telinganya menjadi bising. Sambil mengerutkan keningnya ia pun kemudian berdiri. Ia mengibaskan kain panjangnya ketika salah seorang gadis itu memeganginya sambil berteriak, “Jangan pergi Tuanku, jangan pergi. Hamba bertiga memerlukan perlindungan Tuanku.”
Tetapi Ken Umang pun melangkah keluar.
“Tuan Putri, Tuan Putri,” gadis-gadis itu berteriak semakin keras. Tetapi Ken Umang justru menjadi semakin cepat pergi.
Hampir di luar sadarnya, ketiga gadis itu pun berpegangan pada kain panjang, kaki dan bahkan tangan Ken Umang sehingga Ken Umang harus membentak, “Lepaskan! Lepaskan!”
Tetapi di dalam kebingungan gadis- itu berpegangan semakin erat.
“Jangan bodoh. Jika kalian tidak mau melepaskan, maka aku akan memanggil prajurit-prajurit itu dan memegangimu. Setelah aku pergi, aku tidak tahu, apa yang akan mereka lakukan atasmu.”
“Oh, tidak, tidak.”
“Jika tidak, lepaskan aku!”
Ketiganya tidak dapat berbuat lain. Mereka terpaksa melepaskan Ken Umang dan membiarkan ia pergi keluar dari bilik itu.
Sepeninggal Ken Umang, maka pintu bilik itu pun tertutup kembali. Rasa-rasanya lebih rapat daripada sebelum Ken Umang itu mengunjunginya, karena mereka pun kemudian yakin, bahwa yang terjadi itu bukannya karena para prajurit berbuat atas kehendak dan kepentingan mereka sendiri, tetapi memang demikianlah yang harus mereka lakukan menurut rencana yang sudah ditetapkan sebelumnya.
“Jika aku tahu sebelumnya,” kata seorang gadis di antara isak tangisnya.
Kedua kawannya tidak menyahut. Penyesalan yang sudah terlambat sekali. Apalagi seorang di antara mereka bertiga yang sudah terlanjur mengorbankan dirinya lebih dari kedua kawannya yang lain.
Tetapi mereka tidak dapat menolak lagi nasib yang menerkam mereka. Bahkan terbayang, bahwa yang akan terjadi adalah saat-saat yang mengerikan di dalam hidup mereka. Mereka tidak dapat mengharap lagi untuk keluar dari bilik ini dan hidup dengan wajar. Jika pada suatu saat mereka keluar juga dari sekapan, maka mereka adalah sampah buangan yang tidak ada harganya sama sekali.
“Aku harus menebus pengkhianatanku kepada Tuanku Anusapati,” keluh mereka di dalam hati masing-masing. Dan rasa-rasanya yang terjadi adalah petunjuk bagi mereka, bahwa sebenarnya yang mereka dengar tentang perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan hak di atas Singasari itu keliru.
“Jika benar Tuanku Anusapati berbuat salah, tentu aku tidak akan mengalami nasib begini buruk. Jika aku mati karena perjuanganku di medan yang aku pilih ini, adalah wajar sekali. Tetapi aku justru telah dikhianati oleh Tuan Putri Ken Umang,” perasaan itu tumbuh di hati ketiga gadis itu.
Tetapi tidak ada jalan untuk kembali. Mereka harus berjalan terus, betapapun tajamnya batu berserakan di sepanjang perjalanan mereka.
Dalam pada itu, seperti yang sudah dijanjikan, maka pada malam harinya, panglima yang sudah dalam jebakan itu tidak dapat mengelak lagi. Ia harus pergi ke ujung jalan yang memotong ujung dinding halaman yang menuju ke barat.
Dadanya menjadi berdebar-debar ketika ia berada semakin dekat dengan tempat yang ditujunya, sehingga akhirnya ia berhenti di ujung jalan yang sepi.
“Apakah yang harus aku lakukan di sini?” ia bertanya kepada diri sendiri, karena ia tidak melihat seorang pun yang berada di tempat itu.
Sejenak ia berdiri termangu-mangu. Bahkan kemudian berjalan mondar-mandir.
“Apakah aku harus mengalami perlakuan semacam ini?” katanya di dalam hati. Sebagai seorang panglima ia mempunyai harga diri yang teguh. Tetapi ia pun harus melindungi namanya dari perbuatan yang paling hina, yang hampir di luar sadar telah dilakukannya.
Baru sejenak kemudian ia mendengar sesuatu berdesir. Naluri keprajuritannya telah membuatnya bersikap untuk menghadapi segala kemungkinan.
“Tuan,” tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggilnya.
“Siapa kau?”
“Aku Tuan. Aku adalah utusan Tuanku Tohjaya untuk membawa Tuan ke tempat Tuanku Tohjaya menunggu.”
“Kenapa Tuanku Tohjaya tidak berada di tempat ini?”
“Tidak Tuan. Tuanku Tohjaya masih harus mengatur rencananya di tempat yang tersembunyi. Karena itu, marilah Tuan ikut bersama aku.”
Tidak ada pilihan lain, daripada mengikuti orang itu ke manapun ia pergi.
Ternyata mereka pergi menyusup jalan kecil melewati halaman kosong yang luas dan gelap, sehingga akhirnya mereka sampai ke sebuah gubuk kecil yang terpencil.
“Di dalam gubuk itu Tuanku Tohjaya menunggu tuan.”
Panglima pasukan Pengawal itu termangu-mangu sejenak. Namun sebenarnya ia sudah meraba, apa yang harus dilakukannya, karena ia mengetahui latar belakang dari perebutan kekuasaan di Singasari.
Perlahan-lahan ia mendekati gubuk kecil itu. Dilihatnya beberapa orang prajurit bertebaran di sekitar gubuk kecil itu, sehingga ia pun menjadi semakin berdebar-debar karenanya.
Tetapi ia harus menemui Tohjaya, sehingga betapapun ia dicengkam oleh keragu-raguan, maka ia pun melangkah perlahan-lahan mendekati gubuk itu.
Di depan pintu seseorang telah menunggunya dan mempersilakan, “Tuan, silakan masuk. Tuanku Tohjaya sudah lama menunggu.”
Panglima pasukan pengawal itu menarik nafas. Tetapi ia pun kemudian melangkah masuk ke dalam gubuk kecil itu. Karena pintu gubuk itu terlampau rendah, maka panglima itu harus menundukkan kepalanya ketika ia melangkah tlundak pintu.
Demikian ia berada di dalam rumah itu, ia pun terkejut. Di dalam rumah itu ternyata selain Tohjaya terdapat seorang panglima yang lain pula. Panglima pelayan dalam.
Dengan wajah yang tegang ia memperhatikan seorang demi seorang yang duduk di sebuah amben yang besar. Beberapa orang senapati telah ada di dalam gubuk itu pula.
“Marilah,” Tohjaya mempersilakannya, “untuk sementara kita memerintah Singasari dari gubuk yang kecil ini. Tetapi sebentar lagi, akulah yang akan berada di paseban di hadapan para panglima, senapati dan para pemimpin pemerintahan di Singasari.”
Panglima pasukan Pengawal itu memandang Tohjaya sejenak, lalu katanya kepada panglima pelayan dalam, “Apakah kau terjebak seperti aku?”
Panglima pelayan dalam itu tidak segera menjawab. Sejenak ia memandang Tohjaya yang tersenyum. Katanya, “Sebaiknya kau tidak mempersoalkan lagi, kenapa kita masing-masing terdampar sampai ke tempat ini.”
“Kita berkumpul di sini karena kita masing-masing merasa wajib untuk menyelamatkan Singasari dari bencana yang lebih besar lagi. Akhirnya aku memutuskan bahwa kita tidak dapat memaafkan lagi atas semua kesalahan yang pernah dilakukan oleh Kakanda Anusapati. Dan kini pun aku sudah mengetahui dari orang-orang tua, bahwa sebenarnya aku dan Kakanda Anusapati tidak mempunyai sangkut paut dalam hubungan darah. Tegasnya, aku dan Kakanda Anusapati memang orang lain. Demikian juga Kakanda Anusapati dan Ayahanda Sri Rajasa sama sekali tidak bersangkut paut keluarga,” kata Tohjaya.
Panglima pasukan pengawal itu tidak menjawab. Sebenarnya ia pun mengetahui bahwa saat yang paling buruk ini akhirnya memang akan datang. Orang-orang tua yang mengetahui bahwa Anusapati bukannya putra Sri Rajasa, pada suatu ketika akan mengatakannya juga kepada orang-orang yang akan terlibat di dalam persoalan itu sendiri.
“Nah, duduklah,” sekali lagi Tohjaya mempersilakan.
Dengan ragu-ragu panglima pasukan pengawal itu pun kemudian duduk bersama dengan mereka yang telah datang lebih dahulu di atas amben yang besar itu. Ia menarik nafas ketika amben itu berderik seolah-olah merintih karena beban yang terlalu memberati punggungnya.
“Nah, kita sekarang sudah berada di dalam satu rumah. Di bawah satu atap. Sebaiknya kita lupakan saja apa yang sudah mendorong kita masing-masing sampai ke tempat ini. Sebaiknya kita memandang ke depan, bahwa Singasari harus menjadi semakin cerah.”
Tidak ada seorang pun yang menjawab.
“Aku masih belum tahu, cara yang manakah yang akan aku tempuh. Kita tahu, bahwa Kakanda Anusapati adalah seorang yang pilih tanding. Sedang di sampingnya ada seorang yang tidak ada duanya di Singasari, yaitu Mahisa Agni. Karena itu, untuk menguasai Singasari, kita harus bergerak serentak. Tidak tanggung-tanggung. Jika kita kehilangan kesempatan untuk menguasai dengan mutlak, maka kita tentu akan gagal.”
Masih belum ada yang menyahut. Dan Tohjaya pun berkata selanjutnya, “Karena itu kita harus membulatkan hati. Kita harus yakin, bahwa kita akan berhasil.”
Beberapa orang senapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kau pun harus yakin,” berkata Tohjaya kepada panglima pasukan pengawal, “kau harus mempersiapkan orang-orangmu, sehingga mereka tidak akan menghalangi rencana kita. Kau dapat membicarakan dengan beberapa orang kepercayaanmu. Tentu saja dengan sangat hati-hati. Kau dapat menjanjikan kenaikan pangkat dan kedudukan. Meskipun barangkali kau sendiri tidak memerlukan kenaikan pangkat dan kedudukan karena kau di dalam kesatuanmu adalah seorang yang berpangkat paling tinggi dan berkedudukan paling tinggi. Tetapi kaudapat mengharapkan yang lain dari kedudukan dan pangkat. Aku masih menyimpan ketiga orang gadis yang barangkali kau perlukan setelah perjuangan ini selesai.”
“Cukup Tuanku. Hamba sudah mencoba untuk tidak mengingat lagi kenapa hamba terlempar ke dalam gubuk ini. Hamba berharap bahwa Tuanku pun tidak akan mengungkitnya lagi.”
Tohjaya tertawa. Katanya, “Baik, baik. Aku tidak akan mengungkit yang telah lalu. Tetapi aku hanya ingin mengatakan kepadamu, bahwa kau akan mendapat hadiah yang lain kecuali pangkat dan kedudukan.”
“Aku tidak memerlukan pangkat dan kedudukan yang lain Tuanku. Jika aku akan melakukan perintah Tuanku, karena Tuanku telah berhasil menjebak aku. Aku kira di antara kita di sini, hal ini bukannya suatu rahasia lagi. Dan aku pun tidak akan merahasiakannya pula.”
“Kau benar-benar seorang senapati yang jujur terhadap dirimu sendiri. Baiklah. Perintah yang pertama yang harus kaujalankan adalah mempengaruhi setiap senapati terpenting dari pasukan pengawal agar mereka pada suatu saat dapat melindungi gerakanku. Terserah kepadamu, dan mungkin kau memang akan mengatur pasukanmu lebih tertib dari sebelumnya.”
Panglima itu tidak menyahut. Tetapi wajahnya membayangkan perasaannya yang pahit mengalami peristiwa yang hitam di dalam hidupnya. Sebenarnya panglima itu bukannya seorang yang berhati lemah. Tetapi memang ada katanya ia berada di puncak kelemahannya menghadapi persoalan yang semula tidak pernah dibayangkan.
Namun kini panglima itu tahu pasti. Tentu ada di antara senapatinya yang memang sudah mengetahui rencana ini sejak lama. Perubahan-perubahan yang terjadi di istana, menurut dugaan panglima itu adalah rangkaian dari rencana Tohjaya. Senapati yang mendapat kepercayaan daripadanya, yang bertugas mengatur kesiagaan di halaman istana, agaknya sadar atau tidak, telah terpengaruh pula oleh orang-orang yang berada di dalam jalur rencana Tohjaya itu.
“Mungkin masih ada satu dua orang perwira tertinggi yang terjebak seperti aku, atau akan terjebak di hari-hari yang akan datang,” berkata panglima itu di dalam hatinya.
Karena panglima itu masih saja berdiam diri, maka Tohjaya pun kemudian berkata, “Panglima yang besar. Kau tidak boleh ragu-ragu lagi. Di dalam pergolakan yang akan terjadi kau harus berdiri di tempat yang pasti. Karena jika kau goyah, maka kau akan terlindas di tengah-tengah. Atau kau akan memilih rahasiamu itu diungkapkan? Aku masih menyimpan gadis-gadis itu. Dan dengan sedikit janji ia akan mengatakan apa yang sudah terjadi di atas diri mereka.”
“Tuan memang sangat bijaksana,” panglima itu bergumam seperti kepada diri sendiri, “Tuanku tahu betapa lemahnya hati hamba. Dan setiap kali Tuanku mempergunakan kelemahan hati hamba untuk memaksakan kehendak Tuanku. Sebenarnya Tuanku tidak usah mengancam berulang kali, karena hamba yang berhati kecil dan hitam ini tidak akan dapat menolak apapun yang harus hamba lakukan.”
“Nada kesanggupanmu bukannya nada yang ikhlas.”
“Tentu Tuanku mengetahui bahwa hamba melakukannya bukan karena hamba hendak melakukannya. Hamba melakukan sekedar karena hamba tidak berani melihat kesalahan hamba diketahui oleh orang yang lebih banyak lagi dari sekarang. Meskipun aku sadar, bahwa pada suatu saat seluruh Singasari akan mengetahuinya juga.”
Tohjaya menarik nafas panjang. Tetapi ia pun tersenyum sambil berkata, “Baiklah. Aku memang harus berpendirian demikian. Kau memang tidak membantu kami dengan ikhlas. Tetapi apa boleh buat. Sebaiknya aku tidak mempertimbangkan lagi, ikhlas atau tidak, asal semua perintahku dilaksanakan sebaik-baik-nya.”
Tohjaya berhenti sejenak, lalu, “Nah, kalian tentu tabu, bahwa orang yang bernama Mahisa Agni itu tidak ada yang mengalahkan di dalam perang tanding di seluruh permukaan bumi, setidaknya di seluruh Singasari.”
Hampir semua orang yang ada di dalam ruangan itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Dengan demikian maka orang itulah yang harus mendapat pengawasan yang sebaik-baiknya selain Anusapati sendiri. Nah, tugas kalian memang berat jika Mahisa Agni berada di istana.”
Para senapati itu mengangguk-angguk.
“Karena itu, kita harus dapat memilih waktu yang sebaik-baiknya. Kita harus dapat memperhitungkan kesempatan selagi Mahisa Agni berada di Kediri.”
Sekali lagi mereka yang mendengarkan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, agaknya pertemuan kita kali ini sudah cukup. Yang penting, kalian harus dapat mempengaruhi pasukan masing-masing, sehingga pada saatnya kita tidak akan terjebak dan mengalami kegagalan lagi. Dengan kolam itu kita tidak mempunyai banyak kesempatan. Dan aku sudah memutuskan untuk menyeretnya keluar dan membunuhnya dengan dada terbuka. Setelah itu, kita akan membereskan Mahisa Agni itu sendiri.”
Demikianlah maka pertemuan di gubuk yang kecil itu pun berakhir. Tetapi para panglima dan senapati itu tidak bubar bersama-sama. Seorang demi seorang meninggalkan gubuk itu agar tidak menarik perhatian.
Demikian pula panglima pasukan pengawal itu. Ia pun melangkah dengan kepala tunduk meninggalkan tempat itu, melalui beberapa halaman kosong seperti hatinya yang kosong pula.
Di rumah, panglima pasukan pengawal itu pun menjadi murung. Setiap kali ia melihat istrinya yang setia, hatinya berdesir. Ia merasa telah melakukan suatu kesalahan yang besar bagi keluarganya. Dan kesalahannya itu telah menyeretnya ke dalam suatu keadaan yang pahit. Pahit sekali.
Tetapi ia tidak dapat menarik diri dari keadaan yang telah membelenggunya itu. Ia harus berjalan terus, apapun yang akan sampai ke daerah yang sama sekali tidak diharapkannya.
Meskipun demikian, ia terpaksa juga melakukannya. Dengan hati yang luka ia mulai mempengaruhi beberapa orang senapatinya Mula-mula disebarkan cerita tentang Anusapati seperti yang memang pernah didengarnya, bahwa sebenarnya Anusapati bukan putra Sri Rajasa. Dan berita itu memang mengejutkan bagi sebagian orang, karena yang sebagian memang sudah mengetahuinya meskipun hanya disimpannya di dalam hati.
Tetapi setiap kali ia mencoba meyakinkan kepada orang lain, bahwa Anusapati tidak berhak menggantikan Sri Rajasa, maka ada sebagian dari kesetiaannya yang ikut serta terseret dan hanyut ke dalam ceritanya sendiri, sehingga akhirnya panglima itu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah memang sebenarnya Anusapati tidak berhak menjadi Maharaja di Singasari?”
Apalagi panglima pasukan pengawal itu sudah mendengar sejak lama bahwa Anusapati memang bukan putra Sri Rajasa. Karena itu, maka lambat laun, ia pun justru menjadi percaya akan cerita yang disebarkannya sendiri, seperti kehendak yang dipaksakan dari Tohjaya, bahwa Anusapatilah yang sebenarnya menyuruh Pengalasan Batil untuk membunuh Sri Rajasa, dan kemudian pengalasan itu telah dibunuhnya sendiri.
Kepercayaan itu semakin lama justru menjadi semakin tebal. Dengan demikian, maka ia pun menjadi semakin bernafsu untuk meyakinkan orang lain, bahwa sebenarnyalah Anusapati tidak berhak untuk menggantikan Sri Rajasa, karena Anusapati memang bukan putra Sri Rajasa.
“Tetapi Anusapati adalah putra Akuwu dari Tumapel,” berkata salah seorang tua kepada kawannya ketika orang-orang itu mendengar desas-desus yang menjadi semakin tersebar itu.
“Ya, dan Sri Rajasa sebenarnya hanyalah mewarisi kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung, karena Sri Rajasa mengawini Ken Dedes. Jika kemudian Kekuasaan itu berkembang, kita memang menaruh hormat kepadanya. Tetapi tidak boleh dilupakan dari mana ia mendapatkan sumber kekuasaan, sehingga jika Tuanku Anusapati yang mewarisi kekuasaan atas Singasari, adalah wajar sekali.”
Namun demikian, kekuasaan keprajuritan di dalam istana sebenarnya sudah mulai beralih. Perlahan-lahan tetapi pasti, maka pengikut Tohjaya mulai menguasai kedudukan penting di dalam istana, terutama di bidang pengamanan. Hampir setiap senapati yang ada di dalam istana dari pasukan pengawal adalah orang-orang yang sudah berdiri di pihak Tohjaya. Dengan licik panglima pasukan pengawal berhasil menyingkirkan orang-orang yang dianggapnya tidak dapat bekerja bersamanya.
Seperti yang dilakukan oleh panglima pasukan pengawal, maka panglima pelayan dalam pun telah bekerja sebaik-baiknya. Apalagi ketika kedua panglima itu hampir di luar sadarnya telah terlempar ke dalam sebuah bilik sempit di luar halaman istana. Meskipun gadis yang berada di dalam bilik itu sudah bersikap lain, namun semakin sering mereka berada di dalam bilik itu, maka semakin dalam mereka terperosok ke dalam perangkap Tohjaya.
Ternyata gadis-gadis yang berada di dalam bilik itu, meskipun masih juga gadis-gadis yang pernah menjebak panglima pasukan pengawal itu, namun mereka sudah kehilangan gairah perjuangannya. Mereka tidak lagi dengan segala usaha menjerumuskan panglima itu ke dalam lumpur dengan mengorbankan diri sendiri, tetapi kini ia tidak lebih dari barang yang tidak kuasa berbuat sesuatu selain membiarkan dirinya diperlakukan apapun juga.
Dan betapa dalam penyesalan menyesak dada, namun ketiga orang gadis itu tidak dapat lagi mengubah nasibnya yang buruk.
Persiapan yang dilakukan oleh Tohjaya ternyata semakin lama menjadi semakin mapan dan rapat. Tidak seorang pun di luar mereka yang mengetahui apakah yang sebenarnya akan terjadi.
Dalam pada itu, Anusapati sendiri, yang meskipun merasa bahwa kolam itu berhasil untuk sementara menenteramkan hatinya, namun semacam kegelisahan yang semakin lama semakin dalam, telah mencengkam hatinya. Perasaan bersalah atas kematian Sri Rajasa, dan penyesalan atas pengorbanan yang terlampau besar yang telah diberikan oleh Sumekar, membuatnya selalu dibayangi oleh peristiwa-peristiwa yang buram itu.
“Ternyata aku tidak berhasil mengatasinya seperti Ayahanda Sri Rajasa,” berkata Anusapati di dalam hatinya, “bayangan hitam itu selalu mengejarku ke mana aku pergi.”
Dan akhirnya Anusapati jatuh ke dalam kelemahannya. Ia memang bukan seorang yang pantas berdiri di atas tetesan darah orang lain, karena hatinya lembut. Dan karena itulah, maka tiba-tiba ia terlempar ke dalam suatu keadaan yang tidak seharusnya dilakukan. Pasrah diri terhadap nasib yang manapun yang akan menimpanya.
Dengan demikian di dalam kegelapan Anusapati tidak lagi ingin mengganggu pamannya, Mahisa Agni. Semua kekalutan dicobanya untuk menelannya, betapa pahitnya.
Meskipun demikian, ada juga usahanya yang dilakukannya. Anusapati telah menempa anak laki-lakinya untuk menjadi seorang laki-laki. Anusapati mencoba mempelajari sifat-sifat yang ada di dalam dirinya, kelemahan dan kekuatan pamannya, yang juga mempunyai kelebihan dan kekurangan. Ayahandanya Sri Rajasa, Sumekar dan orang-orang lain. Dengan meresapi setiap sifat dan watak, maka ia berusaha membentuk anak laki-lakinya menjadi seorang yang baik, lahir dan batinnya.
Kepada Ranggawuni lah, Anusapati menggantungkan seluruh harapannya. Harapan bagi kelanjutan namanya, dan harapan bagi Singasari.
“Pada saatnya, awan akan berlalu. Tetapi matahari akan tetap mengarungi jalur jalannya. Jika aku pergi, Ranggawuni harus siap berada di atas cakrawala,” katanya di dalam hati, “dan jika aku terlampau cepat pergi, aku harap Pamanda Mahisa Agni masih sanggup melakukan pekerjaan besar yang lain, membuat Ranggawuni menjadi seorang maharaja yang besar.”
Dan rasa-rasanya hidup ini menjadi terlampau tergesa-gesa. Sehingga ada semacam firasat, bahwa hari terakhir bagi Anusapati memang menjadi semakin dekat.
Dan inilah ujud dari perasaan putus asa itu, kadang-kadang Anusapati menyadari. Tetapi ia tidak dapat menghindarkan dirinya.
Untuk beberapa lamanya, Anusapati masih dapat berusaha untuk menenteramkan hatinya. Tetapi lambat laun ia tidak dapat bersembunyi lagi. Kolam yang mengelilingi bangsalnya hanya mampu membentengi keselamatan jasmaniahnya untuk beberapa lamanya. Tetapi tidak mampu untuk membentengi hatinya dari perasaan bersalah.
Agaknya Tohjaya melihat perubahan yang terjadi pada diri Anusapati. Meskipun secara lahiriah ia selalu bersujud dan seakan-akan tidak lagi ingin berbuat sesuatu, namun ternyata ia mampu menangkap perkembangan jiwa yang terjadi pada Anusapati. Apalagi ia berhasil mengatur beberapa orang yang berada di sekeliling Maharaja Singasari itu.
Sebenarnya Anusapati yang memang sudah menaruh kecurigaan kepada Tohjaya itu merasakan juga sikap yang berlebih-lebihan. Bukan watak Tohjaya menjadi seorang penurut dan sekedar menundukkan kepalanya. Namun demikian, kelemahan di dalam diri Anusapati selalu menahannya apabila ia ingin berbuat sesuatu.
Sehingga pada puncaknya, Anusapati hanya sekedar dapat merenungi kesalahannya sendiri.
Dengan rendah hati Tohjaya selalu mengemukakan kepedihannya atas kematian ayahandanya, bahkan seakan-akan Tohjaya telah menggantungkan dirinya kepada Anusapati sebagai saudara tuanya.
“Kakanda Anusapati,” berkata Tohjaya, “tidak ada orang lain yang dapat menjadi pengganti Ayahanda Sri Rajasa daripada Kakanda Anusapati.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Bagaimanapun juga ia tidak dapat melupakan beberapa orang yang sengaja memasuki biliknya. Beberapa kelompok prajurit yang memberontak, yang terbunuh di dalam bilik tahanannya, dan hal-hal lain yang mencurigakan.
Namun di hadapan Tohjaya, Anusapati selalu menunjukkan wajah yang bersih dan cerah.
“Adinda Tohjaya,” katanya, “aku memang menganggap adik-adikku sebagai keluarga yang berada di bawah tanggung jawabku sepeninggal Ayahanda, karena aku adalah saudara yang tertua di antara kalian.”
“Terima kasih Kakanda,” berkata Tohjaya, “tetapi untuk selanjutnya barangkali aku akan sering mengganggu Kakanda di dalam banyak hal, karena aku akan mengadukan semua persoalan dan kebutuhanku kepada Kakanda.”
“Aku tidak berkeberatan Adinda.”
Dan Tohjaya pun ternyata membuktikan kata-katanya. Kadang-kadang ia datang menghadap dan mohon sesuatu kepada Anusapati. Terutama berhubungan dengan kegemarannya menyabung ayam, sehingga kadang-kadang ia memerlukan berbagai macam kelengkapan bagi lapangan sabung ayamnya.
Dan seperti yang sudah dikatakannya, Anusapati pun tidak pernah menaruh keberatan. Seakan-akan ia memang ingin membiarkan Tohjaya tenggelam di dalam sabungan ayam dan tidak memikirkan lagi persoalan-persoalan yang menyangkut pemerintahan.
“Itu suatu kelemahan Kakanda,” Mahisa Wonga Teleng lah yang kadang-kadang terpaksa memperingatkannya, “aku tidak pernah merasa tenteram apabila Kakanda Tohjaya masih saja leluasa berbuat sesuatu di istana ini.”
“Aku tidak dapat melarangnya Adinda,” berkata Anusapati, “ia adalah putra Ayahanda Sri Rajasa juga. Karena itu maka ia pun berhak untuk berbuat sesuatu di dalam halaman istana peninggalan ayahandanya.”
“Tetapi sudah barang tentu bila tidak menentang kekuasaan yang ada di Singasari,” sahut Mahisa Wonga Teleng, “seperti yang Kakanda rasakan, apakah Kakanda Tohjaya berlaku jujur menghadapi keadaan yang berkembang di Singasari sekarang ini.”
“Kita hanya sekedar berprasangka Adinda.”
“Tidak Kakanda,” berkata Mahisa Wonga Teleng, “sebaiknya Kakanda selalu ingat nasihat Pamanda Mahisa Agni. Dan aku yakin, bahwa sumber dari setiap bencana yang terjadi atau pun tanda-tanda bahwa hal itu akan terjadi, tentulah lapangan sabungan ayam itu.”
Anusapati mengerutkan keningnya.
“Kakanda,” berkata Mahisa Wonga Teleng, “aku kira saatnya sudah tiba bagi Kakanda untuk mengambil sikap. Kakanda dapat mengusir lapangan sabung ayam itu keluar halaman istana. Adalah tidak pantas sekali bahwa sebagian dari halaman istana ini menjadi arena sabungan ayam.”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar