BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-18-02
Dalam pada itu, di sekitar gerbang padukuhan itu-pun masih berkobar pertempuran yang semakin seru. Masing-masing telah mengerahkan kemampuan yang ada. Demikian juga pemimpin perampok itu. Ia ingin segera membunuh Senapati Singasari sebelum kawan-kawannya datang menolongnya. Tetapi Senapati itu tidak membiarkan dirinya menjadi korban, sehingga ia-pun telah berjuang mati-matian untuk bertahan.
Dan ternyata bahwa meskipun pemimpin perampok itu mampu mendesak pemimpin prajurit Singasari, namun ia pasti akan memerlukan waktu yang sangat panjang untuk mengalahnya, dan apalagi membunuhnya.
Meskipun demikian ia berharap bahwa orang-orangnya akan dapat segera menumpas prajurit-prajurit yang ada di regol itu, untuk mengurangi jumlah mereka yang ada di dalam padukuhannya.
Tetapi ternyata rencana itu sama sekali tidak berlaku. Tanpa diketahui sebabnya, seorang demi seorang para perampok itu jatuh terguling. Kadang-kadang mereka sempat meloncat mundur dan memperbaiki kedudukannya, meskipun segores luka menyentuh lengan. Tetapi ada juga yang sama sekali tidak berdaya lagi untuk bangkit berdiri.
Kemarahan pemimpin perampok itu telah membuatnya semakin buas. Tandangnya menjadi semakin kasar, sekasar serigala kelaparan. Sehingga dengan demikian ia berhasil mendesak Senapati Singasari itu semakin keras.
Pada saat yang demikian itulah, tiba-tiba saja dua orang prajurit Singasari telah memasuki regol. Sejenak mereka berdiri termangu-mangu. Namun sejenak kemudian ia melihat Senapatinya dan bahkan putera Mahkota sedang bertempur dengan sengitnya. Karena itu maka mereka-pun maju beberapa langkah sambil mengusung mayat Kiai Kisi.
Dalam keributan itu tiba-tiba saja terdengar saah seorang dari mereka berteriak, “He, siapakah di antara kalian yang mengenal orang ini?”
Suara prajurit itu ternyata telah mempengaruhi pertempuran itu. Tanpa disadari setiap orang berusaha untuk mendapat kesempatan untuk berpaling. Demikian juga Anusapati.
Terasa dadanya berdebar-debar melihat prajurit-prajurit yang mengusung sesosok mayat. Segera ia-pun mengenali bahwa mayat itu adalah mayat Kiai Kisi.
“Hem, ada juga akalnya prajurit itu,” berkata Anusapati di dalam hatinya.
Sementara itu, para perampok itu-pun terkejut. Apalagi ketika kedua prajurit itu meletakkan tubuh yang telah membeku itu sambil berteriak, “He, apakah kalian kenal orang ini? Orang yang telah terbunuh di peperangan?”
Tiba-tiba saja pemimpin perampok itu meloncat, beberapa langkah mendekat. Wajahnya menjadi pucat dan tubuhnya gemetar. Dengan suara yang menggeletar ia berkata, “Siapa yang sudah membunuhnya?”
Salah seorang dari kedua orajurit itu menjawab, “Tentu tidak usah ditanyakan. Ia mati didalam peperangan. Siapakah yang membunuhnya?”
“Tentu ada. Ayo, sebut siapa yang membunuhnya,” namun terasa suaranya menjadi semakin gemetar.
“Prajurit Singasari. Yang membunuh adalah prajurit Singasari. Kau heran? Nah, kalau guru yang paling disegani ini sudah terbunuh, siapa lagi yang akan dapat melawan?”
Sejenak pemimpin perampok itu membeku. Namun tiba-tiba ia menggeram keras sekali. Seperti lolongan serigala kelaparan yang kehilangan induknya.
Prajurit-prajurit Singasari itu menyadari, bahwa pemimpin perampok itu berada di puncak kemarahan. Selebihnya hatinya benar-benar telah dicengkam keputus-asaan. Karena itulah maka ia tidak sempat lagi untuk berpikir. Dengan serta-merta ia menyerang Senapati Singasari itu sejadi-jadinya.
Tetapi Senapati itu-pun menyadari pula, bahwa demikianlah agaknya yang akan terjadi. Sehingga karena itu, ia sudah siap menghadapi kemungkinan itu.
Kerena itu, ketika serangan yang membabi buta itu datang, ia sempat menghindarkan dirinya. Bahkan kini ia berusaha untuk tidak saja mempergunakan tenaganya, tetapi juga otaknya.
Demikianlah maka perkelahian yang dahsyat itu-pun terulang lagi. Pemimpin perampok yang putus asa itu bertempur tanpa menghiraukan apa-pun juga.
Tetapi berbeda dengan pemimpin perampok itu, anak buahnya benar-benar telah berhati kecut. Tidak seorang-pun yang berpengharapan untuk dapat mempertahankan pedukuhan kecil ini. Karena itulah maka mereka mulai berpikir untuk berbuat sesuatu.
“Tidak ada jalan yang paling baik daripada lari,” kata mereka didalam hati.
Demikianlah yang kemudian terjadi. Ketika salah seorang dari mereka tanpa menghiraukan kawan-kawannya meloncat berlari, maka yang lain-pun segera menyusulnya. Berloncatan secepat-cepat berkata mereka di dalam hati.
Melihat beberapa orang anak buahnya berlari-larian tanpa dapat dikendalikan pemimpin perampok itu berteriak keras-keras, “He, jangan lari kelinci. Siapa yang tidak mendengar perintahku, besok pasti akan aku cincang di gerbang ini.”
Tetapi tidak seorang-pun yang menghiraukannya lagi. Mereka tidak lagi berharap sesuatu. Mereka-pun mengira bahwa pemimpin mereka itu-pun pasti akan mati, karena gurunya yang dibangga-banggakannya. Kiai Kisi itu-pun telah mati terbunuh pula. Sehingga dengan demikian, mereka tidak akan lagi mengharap dapat terhindar dari kehancuran. Itulah sebabnya, mereka menganggap lebih baik lari daripada mati dipadukuhan itu.
Yang terakhir berada dipadukuhan itu dalam perlawanan adalah pemimpin perampok itu sendiri. Yang lain sudah melarikan dirinya, kecuali yang terluka dan yang telah terbunuh.
Sejenak kemudian, pertempuran di seluruh padepokan itu-pun telah berakhir kecuali pemimpin perampok itu sendiri. Beberapa orang prajurit masih mencoba mengejar mereka sampai keluar padukuhan, namun sebagian dari mereka masih juga berhasil lolos.
Yang tinggal di padukuhan itu-pun segera mengepung pemimpin perampok yang sudah berputus-asa itu. Tetapi ia tidak juga mau menyerah. Ia masih bertempur membabi buta melawan Senapati Singasari.
“Apakah tidak lebih baik bagimu untuk menyerah saja,” berkata Senapati yang masih bertempur itu. Ia masih melawan pemimpin perampok itu seorang diri tanpa memerintahkan kepada anak buahnya untuk membantunya.
“Persetan. Aku akan membunuh kalian,” teriak pemimpin perampok itu.
“Kau tinggal seorang diri. Kawan-kawanmu telah mati terbunuh, terluka parah atau lari meninggalkan gelanggang.”
“Persetan dengan mereka,” berkata pemimpin itu dengan nada yang sumbang, “aku tidak memerlukan mereka sama sekali.”
“Tetapi gurumu sudah mati.”
“Tentu terjadi pengkhianatan. Guru tidak akan dapat dikalahkan oleh prajurit segelar sepapan sekalipun.”
“Apa-pun sebabnya, tetapi Kiai Kisi sudah mati.”
“Persetan, persetan,” pemimpin perampok yang seakan-akan menjadi wuru itu menyerang tanpa menghiraukan apa-pun juga.
Namun dengan demikian kedudukannya menjadi sangat lemah. Ia tidak lagi dapat menguasai tata geraknya sendiri. Bahkan kadang-kadang ia meloncat sambil memutar senjatanya dengan mata tertutup.
Prajurit-prajurit Singasari, berdiri saja termangu-mangu di seputar arena perkelahian itu. Kadang-kadang mereka hanya saling berpandangan. Tetapi Senapati itu tidak memberikan perintah apa-pun juga kepada mereka.
Meskipun sebenarnya pemimpin perampok itu memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari Senapati Singasari itu, namun karena kejutan yang menghentak dadanya, setelah ia melihat gurunya terbunuh, maka ia tidak lagi dapat berbuat banyak. Dengan tenang Senapati Singasari itu melayani lawannya yang menjadi buas dan liar, tetapi kehilangan segala perhitungan dan pertimbangan.
Dalam pada itu, di dalam lingkungan para prajurit yang mengitari arena itu, terdapat Putera Mahkota. Ia berdiri tegak diapit oleh prajurit-prajurit yang harus melindunginya. Dengan saksama ia melihat perkelahian antara Senapati Singasari melawan pemimpin perampok yang putus-asa itu.
“Bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya Anusapati kepada prajurit yang berdiri disampingnya.
“Senapati akan berhasil menguasainya,” jawab prajurit itu, “tetapi agaknya ia tidak ingin membunuh pemimpin perampok itu. Senapati agaknya ingin menangkapnya hidup-hidup.”
“Untuk dibawa ke Singasari?”
“Ya. Ada beberapa persoalan yang menarik disini. Perampok-perampok itu mengetahui bahwa kita akan datang besok. Untunglah bahwa Senapati mengambil kebijaksanaan lain. Malam kita menyerang sebelum mereka bersiap benar-benar. Apalagi Kiai Kisi yang pasti akan menjadi hantu bagi prajurit-prajurit Singasari itu sudah terbunuh.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mendengar juga dari Kiai Kisi sebelum ia menarik nafasnya terakhir, bahwa memang ada pengkhianatan didalam istana Singasari. Seandainya Anusapati sendiri tidak mempunyai bekal ilmu yang tersembunyi, maka ia pasti akan menjadi korban.
Dengan demikian Anusapati menjadi lebih berhati-hati. Kalau kali ini gagal, maka disaat lain, ia pasti akan dimasukkan kedalam jebakan yang lebih dalam. Mungkin ia akan dihadapkan kepada orang-orang yang pilih tanding. Orang-orang yang memiliki ilmu yang cukup kuat untuk menghancurkannya.
“Untunglah, bahwa sampai saat ini aku masih sempat menyembunyikan ilmuku, sehingga mereka agaknya telah keliru menentukan ukuran.” berkata Anusapati di dalam hati. Lalu, “tetapi Kiai Kisi adalah orang yang terlalu kuat untuk pasukan kecil ini. Kalau ia benar-benar melawan pasukan ini, maka tidak akan ada seorang-pun yang dapat lolos. Aku akan tertawan dan menjadi alat untuk memeras Ayahanda Sri Rajasa.”
Dalam pada itu, Senapati Singasari itu-pun masih bertempur terus. Ternyata seperti yang diduga oleh prajurit itu, ia ingin menangkap pemimpin perampok itu hidup-hidup. Tetapi agaknya terlampau sulit untuk dilakukannya. Karena itu, maka tiba-tiba keluar perintahnya, “Tiga orang prajurit aku minta membantuku menangkap orang ini.”
“Persetan,” pemimpin perampok itu berteriak. Dan tiba-tiba saja ia mengamuk sejadi-jadinya. Ia tidak lagi dapat mengendalikan gangguan-gangguan perasaannya, setelah ia mendengar rencana Senapati Singasari itu untuk menangkapnya hidup-hidup.
Karena itu, ledakan perasaannya yang bergejolak telah membuatnya kehilangan pengamatan diri. Didalam keputus-asaan ia hanya menunggu, kapan ujung senjata lawannya menghantam di dadanya.
Prajurit-prajurit Singasari itu-pun mengalami kesulitan untuk mencoba menangkapnya hidup-hidup, selagi orang itu mengamuk seperti seekor harimau yang terluka.
Beberapa saat lamanya prajurit-prajurit Singasari itu masih mencoba. Namun tanpa mereka sengaja, sebuah goresan senjata telah melukai pemimpin perampok yang mengamuk itu. Setitik darah dari tubuhnya membuatnya menjadi semakin buas dan liar.
Akhirnya Senapati Singasari tidak dapat mengambil kebijaksanaan lain. Hidup atau mati orang itu harus ditundukkan. Dengan demikian maka prajurit-prajurit Singasari-pun tidak lagi ragu-ragu. Kalau terpaksa mereka dapat melukai orang itu.
Anusapati masih berdiri diam di pinggir gelanggang. Karena tidak ada perintah Senapatinya, maka ia tidak ikut campur dalam perkelahian itu. Namun demikian ia menjadi berdebar-debar juga. Seandainya Kiai Kisi telah memberikan dasar-dasar ilmu puncaknya, maka pemimpin perampok itu tetap merupakan orang yang berbahaya.
Tetapi menilik perjuangan dengan ilmu kanuragan sampai saat terakhir tanpa melepaskan ilmu pamungkas seperti yang dimiliki oleh Kiai Kisi, maka agaknya Kiai Kisi, masih juga belum menurunkan ilmu itu kepadanya.
Dengan demikian maka Anusapati menjadi agak tenang. Betapa-pun juga dahsyat ilmunya, selama ilmu itu masih ilmu wadag sewajarnya, maka ia tidak akan dapat menang melawan Senapati Singasari bersama beberapa orang prajurit sekaligus.
Demikian juga agaknya pemimpin perampok itu. Ternyata ia benar-benar tidak akan mampu melawan prajurit-prajurit Singasari. Tetapi itu tidak lagi dihiraukannya. Ia memang sudah tidak dapat memilih lagi. Yang ada dihadapannya adalah maut.
Dan memang ternyata kemudian pemimpin perampok, itu tidak dapat mengelak ketika tangan-angan maut mulai merabanya. Ketika ia mencoba mengelakkan serangan seorang prajurit yang menjulurkan pedangnya kearah lambung, ia kehilangan pengamatan atas ujung senjata Senapati Singasari itu, sehingga justru ujung senjata Singasari itulah yang kemudian menghunjam kepundak kirinya.
Terdengar pemimpin perampok itu menggeram. Darah yang merah memancar dari luka itu ketika Senapati Singasari menarik pedangnya. Dengan jari-jarinya, pemimpin perampok itu mencoba meraba lukanya. Terasa darah yang hangat membasahi jari-jarinya itu.
Kemarahan yang tiada taranya telah menggeletarkan jantungnya. Namun kenyataan yang dihadapinya tidak akan dapat dihindarinya. Beberapa orang prajurit berdiri di sekitarnya dengan senjata di tangan.
Demikianlah, maka pemimpin perampok itu masih terus mengamuk dengan sisa tenaganya. Ia tidak menghiraukannya sama sekali ketika ujung senjata seorang prajurit yang mengepungnya telah menyobek punggungnya. Kemudian seleret luka menyilang di dada. Disusul oleh goresan yang menyobek lengannya, sehingga segaris luka telah menganga.
Tetapi pemimpin perampok itu sama sekali tidak menghiraukannya. Ia masih bertempur seperti serigala kelaparan. Menyerang kesegenap arah dan menerjang kesegala penjuru.
Namun ketika darahnya seolah-olah telah terkuras habis, maka lambat laun tubuhnya menjadi menggelepar tidak berdaya. Ia jatuh terjerembab. Ia masih berusaha untuk bangkit, tetapi hanya kepalanya sajalah yang terangkat. Kemudian kepala itu terkulai lagi jatuh di tanah. Mati.
Sejenak Senapati dari Singasari itu berdiri merenungi mayat yang terbujur didekat kakinya. Bagaimana-pun juga, ia merasa kagum atas perjuangan yang gigih untuk mempertahankan harga dirinya, harga diri seseorang yang telah berani menyebut dirinya sebagai seorang pemimpin perampok.
Mereka menyadari keadaan mereka, ketika tiba-tiba saja terdengar kokok ayam jantan yang menjalar dari kandang kekandang. Hampir bersamaan mereka menengadahkan wajahnya. Tampaklah langit yang sudah menjadi kemerah-merahan.
“Hampir fajar,” berkata salah seorang prajurit.
Senapati Singasari yang memimpin pasukan kecil itu-pun kemudian mengeluarkan perintah, “Kita berkumpul di tempat yang telah ditentukan. Di halaman yang luas di tengah-engah padukuhan ini. Kita bawa semua tawanan.”
Para prajurit yang ada diregol itu-pun kemudian pergi bersama-sama ke rumah yang dipergunakan oleh pemimpin perampok itu sambil membawa semua tawanan. Yang luka dan yang tidak terluka.
“Ambillah dua orang tawanan yang kami tinggalkan,” berkata Senapati itu, “hati-hatilah. Keduanya adalah orang-orang yang agak penting, karena keduanya adalah kawan-kawan atau murid-murid Kiai Kisi. Jangan sampai lolos, atau jangan sampai mereka sempat melawan dan membunuh diri seperti pemimpin perampok ini. Jagalah agar ikatan pada tangannya tetap kuat.”
Beberapa orang prajurit-pun kemudian pergi kembali ketempat mereka menawan dua orang kawan Kiai Kisi. Mereka harus mengambil kedua orang itu dan membawanya kepadukuhan terpencil yang dipergunakan sebagal sarang oleh para perampok itu.
“Mudah-mudahan mereka masih ada disana,” desis salah seorang prajurit itu.
“Kalau tidak masih disana, kemana mereka akan pergi?”
Prajurit yang mula-mula berdesis itu tidak menjawab. Namun langkah mereka menjadi semakin cepat. Mereka sadar, bahwa yang menunggui kedua tawanan itu hanyalah seorang saja. Kalau keduanya berhasil melepaskan diri, maka prajurit yang menungguinya pasti akan tidak sanggup melawan.
“Tetapi kalau saja keduanya tidak ditinggal tidur, maka mereka pasti tidak akan dapat melepaskan diri.”
Berbagai macam angan-angan telah membuat mereka semakin cepat, melangkah menerobos padang ilalang dan gerumbul-umbul perdu. Sekali-sekali mereka harus meloncati batu-batu padas kemudian menuruni lekuk-lekuk yang rendah.
Akhirnya mereka-pun sampai ketempat yang mereka tuju. Mereka menarik nafas dalam-dalam, ketika mereka masih menemukan kedua tawanan itu terikat pada sebatang pohon, seperti pada saat mereka tinggalkan. Agaknya keduanya telah berusaha sejauh-jauh dapat dilakukan untuk mencoba melepaskan ikatan pada kedua tangannya, namun keduanya tidak berhasil.
“Anak setan,” geram prajurit-prajurit itu ketika mereka melihat kawannya yang bertugas menunggui kedua tawanan ita justru tertidur nyenyak.
“Sst, aku akan mengejutkannya,” desis salah seorang prajurit.
Kawannya memandangnya dengan heran. Ia tidak mengetahui apa yang akan dilakukannya.
“Marilah keduanya kita ambil tanpa memberitahukan kepada anak itu. Kalau ia terbangun, ia akan mencarinya.”
“Ah, terlampau berat, ia akan ketakutan setengah mati.”
“Jadi?”
“Ambillah dan bawalah bersama beberapa orang. Aku akan membangunkannya dan pura-pura mencarinya.”
“Tidak ada bedanya.”
“Aku tidak akan sampai hati membiarkannya ketakutan setengah mati. Kalau wajahnya sudah seputih kapas, aku akan mengatakan kepadanya, apa yang sebenarnya sudah terjadi.”
Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kedua tawanan itu mengumpat-umpat di dalam hati. Dengan enaknya mereka berdua akan dipergunakan sebagai bahan permainan di antara para prajurit itu. Tetapi mereka tidak dapat menolak. Para prajurit itu membawa senjata. Dan jumlah mereka jauh melampaui jumlah yang hanya dua itu. Apalagi mereka berdua telah terikat.
Dengan demikian mereka membiarkan prajurit-prajurit itu melepaskan tali yang mengikat mereka pada sebatang pohon. Seorang demi seorang, yang kemudian mengikat kedua tangannya erat-erat dipunggungnya.
“Kita pergi kepadukuhanmu,” berkata salah seorang prajurit.
Kedua kawan Kiai Kisi itu tidak dapat menolak. Dengan tangan terikat di belakang mereka berjalan melintas padang rumput kembali kepadukuhan yang mereka pergunakan sebagai sarang bagi para perampok itu.
Dua orang prajurit di antara prajurit-prajurit Singasari itu tinggal menunggui kawannya yang sedang tertidur nyenyak. Setelah kedua tawanan itu hilang didalam kegelapan, maka dengan nafas yang seakan-akan terengah-engah keduanya membangunkan kawannya yang sedang tertidur.
Prajurit yang terkejut itu meloncat bangun. Sejenak diusapnya matanya yang masih kabur. Dadanya terasa berdebaran karena jantungnya yang seakan-akan berdentangan.
“Kita terdesak,” desis prajurit yang membangunkannya.
“He?” prajurit itu menjadi bingung.
“Kita terdesak. Ternyata kekuatan para perampok itu jauh melampaui perhitungan kita.”
“He,” prajurit itu masih bingung.
“Kita terdesak. Kita harus lari, karena jumlah perampok itu banyak sekali. Hampir lipat tiga dari jumlah seluruh pasukan kita.”
“’Banyak sekali?”
“Ya. Dan kita harus bergerak mundur. Kita harus menyelamatkan Putera Mahkota.”
“O.”
“Dan tugas kita bertiga adalah menyingkirkan tawanan itu. Dua orang kawan Kiai Kisi.”
“O,” prajurit itu mengangguk-angguk, lalu, “kemana?”
“Kemana saja. Sebaik-baiknya kembali ke Singasari.”
“Singasari?”
“Ya, Singasari.”
Prajurit itu mengangguk-angguk. Kemudian ia-pun berdiri dengan tergesa-gesa. Setelah membenahi pakaiannya sekedarnya, ia-pun melangkah maju, mendekati batang-batang pohon tempat kedua tawanan itu terikat.
Tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi pucat. Dengan suara gemetar ia berkata, “Tetapi, tetapi bukankah ia terikat di pohon itu?”
“Ya, seingatku ia terikat dipohon itu. Tetapi apakah kedua orang itu sudah kau singkirkan?”
“Tidak. Aku sama sekali tidak berbuat apa-apa.”
“Lalu?”
Orang itu menjadi gemetar. Katanya terbata-bata, “Tetapi, tetapi ia sudah tidak ada lagi. Keduanya telah hilang.”
“Hilang? Bagaimana mungkin hilang?”
“Hilang, ya, hilang.” suaranya semakin parau dan tubuhnya menjadi semakin gemetar.
Sejenak kedua prajurit yang datang kamudian itu berdiri mematung memandangi prajurit yang ketakutan itu.
“Apa kata Senapati nanti kalau benar-benar kedua orang itu hilang. Kenapa kau biarkan mereka lari?”
“Aku, aku … “ prajurit itu tidak meneruskannya.
Namun ternyata prajurit yang seorang lagi tidak dapat menahan tertawanya, sehingga ia memutar tubuhnya membelakangi prajurit yang ketakutan itu.
“Bagaimana bisa hilang,” bertanya yang seorang.
Prajurit yang ketakutan itu menjadi heran. Bahkan kemudian ia bertanya, “Kenapa kau tertawa he? Apakah yang lucu bagimu?”
“Kau masih saja suka berkelakar,” jawab prajurit yang tertawa itu disela-sela suara tertawanya, “dalam keadaan yang begini tegang, kau masih dapat membuat kami kecemasan. Nah, dimana keduanya?”
Prajurit itu menjadi semakin bingung, sedang prajurit yang datang kemudian itu masih juga tertawa. Bahkan kemudian kedua-duanya.
“Gila. Kenapa kalian tertawa? Apa yang sudah terjadi?”
“Kedua tawananmu memang hilang.”
“Kemana? Apakah kalian tahu?” ia berhenti sejenak. Lalu, “kalian pasti tahu. Kalian pasti sekedar memperolok-olokkan aku.”
Kedua kawannya itu tertawa semakin keras.
“Gila. Gila sekali. Kalian menghina aku he? Dimana keduanya. Aku tidak senang bergurau dengan cara yang kasar ini. Aku tidak mau. Aku akan melaporkannya kepada Senapati, bahwa kau sudah menghina aku. Menakut-nakuti aku dan membuat aku hampir pingsan.”
“Apakah yang akan kau laporkan?” bertanya salah seorang dari kedua prajurit itu.
“Kalian tidak sekedar bergurau. Tetapi kalian dapat membuat aku pingsan, bahkan mati ketakutan.”
Kedua prajurit itu justru tertawa semakin keras mendengar kata-kata itu. sehingga tubuh mereka berguncang-guncang. Salah seorang dari mereka berkata, “Bukankah kau seorang prajurit. Kenapa begitu mudahnya pingsan dan bahkan mati?”
“Aku tidak mau bergurau lagi. Aku akan melaporkannya kepada Senapati, bahwa kalian telah membuat aku sakit hati. Jantungku terasa berdentangan dan nafasku semakin berdebar-debar.”
“Kau akan melaporkannya?”
“Tentu. Dan kalian berdua akan dihukum.”
“Apa yang akan kau laporkan?”
“Kalian telah berbuat berlebih-lebihan. Kalian telah mengejutkan aku. Selagi aku tertidur, tawanan itu sudah kalian singkirkan. Kemudian kalian pura-pura akan mengambilnya.”
“O. Itulah laporanmu? Lengkap sekali. Tawanan itu diambil tanpa kau ketahui, sebelum kau kami kejutkan.”
“Kenapa kau tidak mengetahui bahwa tawanan itu sudah diambil?”
Prajurit itu mengerutkan keningnya.
“Kenapa he? Kau harus melaporkannya selengkapnya.”
Prajurit itu menggigit bibirnya.
“Kenapa?”
“Aku tertidur,” jawab prajurit itu.
“Dan kau akan melaporkan kepada Senapati, bahwa kau tertidur selagi kau menjaga tawanan yang kita anggap sangat penting ini?”
“O.”
“Begitu? Aku akan bangga melihat seorang kawanku melaporkan dirinya sendiri yang tertidur selagi menjaga dua orang tawanan terpenting.”
“Ah,” desah prajurit itu.
“Kenapa? Mari, aku antarkan kau melaporkan kami berdua dan kau sendiri.”
“Ah.”
“Kenapa?”
Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jangan bergurau lagi. Aku akan benar-benar menjadi mati ketakutan. Ternyata aku tidak dapat melaporkan kalian.”
Kedua kawan-kawannya itu tertawa. Salah seorang bertanya, “Jadi?”
“Ah. Sudahlah. Kita susul orang-orang yang telah mencuri tawananku.”
Kedua kawannya masih tertawa terus. Bahkan prajurit itu-pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Kali ini aku kalah. Tetapi awas, lain kali aku pasti akan membalas.”
Demikianlah maka mereka-pun segera menyusul kawan-kawan nya yang telah lebih dahulu membawa tawanan itu. Ketika ketiganya berhasil menyusul kawan-kawannya, maka hampir bersamaan prajurit-prajurit itu tertawa tertahan. Hanya kedua tawanan itulah yang mengumpat-umpat di dalam hati.
Demikianlah maka kedua tawanan itu-pun segera dihadapkan kepada Senapati prajurit Singasari itu. Tetapi ternyata mereka tidak hanya berdua. Beberapa orang tawanan yang lain telah berada di rumah yang semula dipergunakan oleh pimpinan perampok yang tinggal di padukuhan itu.
Tetapi di dalam pembicaraan di antara prajurit Singasari, maka hanya dua orang itulah yang akan mereka bawa kembali ke Singasari. Yang lain, perampok-perampok kecil yang tidak banyak mengetahui tentang pekerjaan mereka yang sebenarnya tidak perlu dibawa ke istana. Tetapi mereka hanya cukup mendapat peringatan keras.
“Kalau kalian masih melakukan kejahatan, dimana-pun juga diwilayah Singasari, maka kalian pasti akan dihukum picis. Kulit kalian akan dikupas oleh setiap orang yang lewat, sementara kalian diikat di alun-alun Singasari. Anak-anak akan meneteskan air belimbing dan garam, bahkan asam diluka-luka kalian. Apakah kalian mengerti?”
Para perampok itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Sementara ini beberapa orang kawan kalian berhasil lolos, selain yang terbunuh. Kalau kalian bertemu dengan mereka, beritahukan kepada mereka, agar mereka menghentikan kegiatan mereka. Beberapa pekan lagi, pasukan Singasari yang lebih besar akan datang, dan akan tinggal di daerah ini untuk beberapa bulan lamanya. Merekalah yang akan menentukan sikap terhadap kalian kelak sesuai dengan perkembangan tata hidup kalian sepeninggal kami.”
Para perampok itu hanya menundukkan kepalanya saja.
“Kalian yang tidak kena cideralah yang harus memelihara kawan-kawan kalian yang luka. Ingat pengampunan ini hanya berlaku satu kali. Pengampunan yang diberikan oleh Putera Mahkota yang ada di antara kita sekarang atas nama Sri Rajasa. Beruntunglah kalian bahwa Putera Mahkota berkenan berlaku belas kasihan. Kalau tidak, atau seandainya kami tidak beserta Putera Mahkota, maka bukanlah hak dan wewenang kami untuk memaafkan kalian. Kalian semua pasti akan dihukum mati, di regol padukuhan ini.”
Sejenak para perampok itu mengangkat wajah mereka. Sekilas mereka menatap wajah Putera Mahkota. Namun mereka-pun kemudian menundukkan wajah mereka kembali.
“Tetapi yang dua orang ini, kawan-kawan Kiai Kisi, bahkan mungkin keduanya adalah muridnya, akan kami bawa menghadap Sri Rajasa. Sri Rajasalah yang akan memutuskan hukuman buat mereka. Apakah hukuman itu ringan atau berat, entahlah, semuanya akan tergantung dari peranan apakah yang dilakukannya di samping kiai Kisi.”
Tidak seorang-pun yang menyahut. Tawanan-tawanan itu merasakan sesuatu yang aneh di dalam diri mereka. Mereka tidak mengerti, kenapa mereka tidak dibunuh saja. Atau barangkali inilah yang disebut peradaban yang baik? Bahwa prajurit-prajurit Singasari tidak sekedar membunuh apabila ia dapat melakukannya?
Tetapi ternyata perlakuan yang terasa asing bagi mereka itu telah menumbuhkan sesuatu yang lain pula di dalam hati mereka. Bayangan yang kelam dari hidup dan kehidupan manusia, yang selama ini membalut hatinya, perlahan-lahan seperti tersingkap. Ternyata di luar dunianya yang hitam kelam ada juga cahaya yang cerah memancari hatinya di dalam keadaan yang hampir tidak berpengharapan untuk dapat hidup terus.
Karena itu, sesuatu telah bergetar di dalam hati mereka ketika mereka mendengar Senapati Singasari itu berkata kemudian, “Kalau kalian benar-benar berhasrat untuk memperbaiki cara hidup kalian, kalian masih belum terlambat. Di sekitar padukuhan ini terdapat tanah yang cukup subur. Selama ini padukuhan yang telah kalian rampas dan kalian duduki ini sekedar menjadi sarang kalian. Mungkin dipadukuhan ini tersimpan harta benda yang selama ini kalian kumpulkan selama kalian bertualang sebagai perampok. Tetapi untuk seterusnya kalian akan tetap tinggal dipadukuhan sebagai orang-orang yang hidup wajar. Kalian dapat membuka tanah pertanian yang selama ini kalian biarkan menjadi padang ilalang dan pohon-pohon perdu. Kalian dapat memperbaiki parit dan saluran-saluran air, kalian dapat menanam bermacam-tanaman yang akan menghasilkan makan buat kalian.”
Para perampok itu merasa seakan-akan ia mendengar sesuatu yang aneh ditelinga mereka. Mereka selama ini sama sekali tidak pernah berpikir untuk mempergunakan perkakas pertanian dan membenamkan kaki-kakinya ke dalam lumpur. Mereka selama ini lebih senang membenamkan ujung pedang ke dalam dada lawan-lawannya atau orang-orang yang tidak mau memberikan barang miliknya. Tetapi kini ia mendengar, bahwa mereka-pun dapat turun ke dalam lumpur untuk bercocok tanam.
“Mungkin kalian tidak akan mendapatkan harta benda sebanyak yang kalian dapatkan selama ini. Mungkin kalian hanya sekedar mendapatkan kebutuhan makan dan pakaian. Tetapi hidup demikian agaknya lebih baik daripada bertualang seperti yang kalian lakukan selama ini.”
Meskipun tidak ada jawaban, tetapi tanpa mereka sadari, para tawanan itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.
“Besok kami akan kembali ke Singasari. Aku serahkan persoalan kawan-kawanmu yang terluka dan terbunuh kepada kalian.”
Demikianlah, maka dikeesokan harinya, prajurit-prajurit Singasari telah siap meninggalkan padukuhan kecil dan terpencil itu. Mereka tidak memerlukan apa-pun juga selain sekedar bahan makanan untuk bekal di perjalanan mereka. Namun sekali lagi mereka berpesan, bahwa pasukan Singasari yang lebih besar akan datang setiap saat.
“Apa yang akan mereka perbuat atas kalian, tergantung atas tingkah laku kalian kemudian. Kalian dapat saja lari, atau bersembunyi sambil meneruskan petualangan kalian. Tetapi ingat, pengampunan yang diberikan kepada kalian hanyalah satu kali. Kali ini.”
Para tawanan yang ternyata telah dibebaskan itu menganggukkan kepalanya.
Namun di saat pasukan Singasari meninggalkan padukuhan itu, mereka masih memberikan suatu ciri khusus bagi para tawanan itu dengan menggoreskan ujung duri cangkring dipundak masing-masing, sehingga menimbulkan luka berdarah.
“Luka itu tidak dalam dan tidak berbahaya. Besok atau lusa luka itu akan sembuh. Tetapi bekas luka itu masih akan tetap tampak di pundak kalian. Apakah kalian tahu maksudnya?” bertanya Senapati itu.
Orang-orang itu tidak menyahut. Mereka hanya memandang luka di pundak masing-masing sejenak, lalu memandang Senapati itu dengan herannya.
“Kami telah meninggalkan tanda di pundak kalian. Disaat lain, apabila kami menangkap seorang penjahat yang mempunyai ciri dipundaknya, ia tidak akan dapat ingkar, bahwa ia pernah mendapat satu kali pengampunan. Dengan demikian, maka hukuman baginya akan dapat segera ditentukan.”
Wajah para tawanan yang akan ditinggalkan itu menjadi tegang sejenak. Tetapi mereka-pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Mereka tidak dapat ingkar dari kenyataan itu, bahwa memang mereka pernah mendapat pengampunan satu kali. Luka kecil dipundaknya itu menjadi saksi untuk sepanjang umurnya, karena luka kecil itu memang tidak akan dapat terhapus meskipun mereka berusaha mengelupas kulitnya.
Sejenak kemudian, setelah semuanya selesai, maka para prajurit Singasari itu-pun mulai meninggalkan padukuhan terpencil itu dengan membawa dua orang tawanan terpenting. Sekali-sekali mereka masih berpaling. Dilihatnya beberapa orang berdiri termangu-mangu di regol padukuhan.
Senapati Singasari, yang terakhir meninggalkan padukuhan itu berpesan, “Ada beberapa orang kawan-kawanmu yang lari. Mungkin mereka pada suatu saat akan kembali. Nah, terserah, apa yang akan kalian lakukan. Tetapi lebih baik apabila kalian minta mereka mengikuti jejakmu. Lalu kalian dapat membuat tanda serupa dipundak mereka. Kalau tidak, atau bahkan mereka akan merampas harta yang pasti kalian sembunyikan, kalian adalah laki-laki yang pernah menggenggam senjata. Tetapi kali ini untuk tujuan yang sebaliknya. Kalau tujuan itu kau yakini, maka kau-pun akan mempertaruhkan nyawa kalian seperti di saat-saat kalian masih menjadi perampok yang mengetuk setiap pintu rumah orang-orang berada.”
Orang-orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti, apa yang harus mereka kerjakan apabila kawan-kawan mereka yang berhasil lolos itu kembali lagi.
Sejenak kemudian prajurit-prajurit Singasari itu telah menjadi semakin jauh. Mereka telah mulai dengan perjalanan mereka yang sulit, seperti disaat mereka berangkat. Mereka harus menuruni jurang dan memanjat tebing yang curam.
Tetapi kini mereka mempunyai kelebihan waktu. Kalau mereka ingin sampai di Singasari tepat menurut rencana, maka mereka mempunyai persediaan waktu satu hari satu malam, hari mereka kembali ke Singasari, sebenarnya adalah hari yang akan mereka pergunakan untuk menyerang. Tetapi mereka menyerang di malam hari, sehingga siang itu, perjalanan mereka telah dapat mereka mulai.
“Kita tidak akan berjalan secepat di saat kita berangkat,” berkata Senapati Singasari, “kita akan berjalan sejauh dapat kita capai hari ini. Kita akan beristirahat kalau kita sudah lelah, karena hari ini seharusnya kita masih bertempur.”
Sebenarnya bahwa pasukan Singasari itu tidak dapat berjalan secepat saat mereka berangkat, karena ada diantara mereka yang terluka disaat-saat mereka bertempur melawan para perampok. Tetapi kedatangan para prajurit yang tiba-tiba itu, telah banyak memberikan pengaruh, karena perlawanan para perampok, kecuali yang berada diregol, tidak terasa begitu berat.
Tetapi karena kelebihan yang satu hari itu, memungkinkan para prajurit Singasari datang ke pusat pemerintahan tepat di malam yang direncanakan. Meskipun jauh malam, tetapi mereka memasuki kota dengan dada yang tengadah. Bahwa mereka telah dapat menjalankan tugas sebaik-baiknya seperti rencana yang seakan-akan tidak mungkin dilakukan oleh sepasukan prajurit yang mana-pun juga.
Kedatangan pasukan kecil itu ternyata telah mengejutkan seisi kota. Prajurit digardu-gardu perondaan menyambut mereka dengan heran, tetapi juga bangga.
Betapa lelahnya, prajurit itu berjalan terus menuju ke gerbang istana. Mereka harus menyampaikan laporan mereka langsung kepada Panglima prajurit Singasari dan kepada Sri Rajasa. Terlebih-lebih karena di antara pasukan itu terdapat Putera Mahkota.
Namun agaknya panglima dan Sri Rajasa sudah tidur nyenyak, sehingga tidak seorang-pun yang berani membangunkannya. Dengan demikian maka baru esok harinya, keduanya akan sempat melaporkan diri atas hasil perjalanan mereka. Tetapi mereka kini telah berada di istana. Mereka dapat menitipkan tawanan mereka. Dan tidak seperti di malam sebelumnya, pasukan kecil itu harus mengatur penjagaan di tengah-tengah hutan, tetapi malam ini mereka begitu saja menjatuhkan diri dan tidur silang menyilang di halaman belakang istana.
Para prajurit pengawal istana yang sedang meronda dan bertugas di istana menggeleng-gelengkan kepala. Mereka mengerti, betapa lelahnya prajurit-prajurit yang baru datang itu. Mereka-pun tahu, bahwa tugas yang telah dilakukan itu hampir tidak mungkin.
Karena itulah, maka meskipun mereka telah tidur nyenyak begitu mereka menjatuhkan diri, beberapa orang mulai menyalakan api di dapur untuk menyediakan makan buat mereka. Beberapa orang yang lain membantu para prajurit yang terluka dan tidak dapat segera tidur nyenyak seperti kawan-kawan mereka.
Mejelang dini hari prajurit-prajurit itu terkejut ketika mereka dibangunkan. Bahkan ada di antara mereka yang meloncat berdiri sambil meraba hulu pedang. Namun mereka-pun kemudian sadar, bahwa mereka telah berada di halaman istana Singasari, sehingga sambil menarik nafas dalam-dalam, tangan-angan itu-pun segera terkulai dengan lemahnya.
“Kenapa kami dibangunkan?” bertanya Senapati.
“Di dapur, ternyata telah disediakan makan buat kalian. Kami menduga bahwa kalian pasti lapar setelah perjalanan yang jauh dan sulit,” jawab seorang prajurit pengawal.
“O,” Senapati itu-pun kemudian berpaling dan memandang wajah-wajah yang tiba-tiba menjadi cerah.
“Ya, kami kelaparan,” berkata seorang prajurit muda.
“Pergilah kedapur.”
Prajurit-prajurit itu-pun kemudian pergi ke dapur dahulu-mendahului seperti kanak-kanak menyongsong oleh-oleh ibunya yang pulang dari pasar.
“Kedua tawanan itu-pun pasti lapar pula,” berkata Senapati itu, “berilah mereka makan. Tetapi hati-hati. Mereka adalah orang-orang yang berbahaya.”
“Baiklah,” sahut prajurit pengawal istana.
Demikianlah maka para prajurit, termasuk Putera Mahkota yang masih harus berada di pasukannya itu, makan bersama-sama di dapur. Nasi hangat dengan sepotong daging membuat nafsu mereka melonjak-lonjak. Serundeng kelapa dan jangan asem. Alangkah nikmatnya. Setelah mereka menempuh perjalanan yang berat, makan seadanya dan dingin malam yang serasa menusuk tulang, mereka mendapatkan makan nasi putih yang hangat.
Ternyata setelah makan sekenyang-kenyangnya, justru mereka sudah tidak dapat tidur lagi. Sebentar lagi langit di Timur mulai semburat merah. Sebentar lagi mereka harus melaporkan kehadiran mereka kepada Panglima dan Sri Rajasa.
Karena itu, maka seorang demi seorang, mereka-pun mulai mandi dan berganti pakaian yang paling bersih yang ada pada mereka, karena mereka tidak sempat mengambilnya pulang ke rumah masing-masing. Tetapi sebagai prajurit yang baru pulang dari medan, keadaan pakaian mereka yang kotor tidak akan membuat Panglima dan Sri Rajasa marah.
“Ternyata Putera Mahkota masih juga segar bugar,” desis seorang prajurit pengawal.
“Apakah tuanku Anusapati juga berhasil mencapai tempat yang dituju atau sekedar berhenti di tengah jalan, dititipkan kepada seseorang dengan pengawalan?” bertanya yang lain.
Kawannya menggelengkan kepalanya.
“Aku dengar perjalanan ini adalah perjalanan yang berat. Justru baru perjalanannya. Belum lagi mereka harus berhadapan dengan lawan. Ternyata pasukan ini kembali dengan selamat dan utuh. Hanya beberapa saja di antara mereka terluka. Luka-luka ringan.”
Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaknya pasukan kecil itu memang mutlak berhasil.
“Bukan saja mereka kembali utuh,” katanya kemudian, “bahkan tepat dalam waktu yang direncanakan. Dan mereka tidak sekedar berbuat untuk memenuhi perintah, tetapi mereka berhasil membawa dua orang tawanan pula.”
“Kalau perjalanan mereka tidak mutlak berhasil, mereka tidak akan membawa tawanan hidup.”
Prajurit-prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Prajurit-prajurit pengawal adalah prajurit-prajurit pilihan. Tetapi mereka kagum melihat hasil yang dapat dicapai oleh pasukan kecil itu. Apalagi didalamnya terdapat Putera Mahkota yang baru pertama kali mengalami perjalanan yang langsung merupakan perjalanan yang berat.
Tetapi pimpinan pemerintahan Singasari bersepakat, menyebut perjalanan ini sebagai perjalanan pendahuluan dan latihan bagi Anusapati. Dengan demikian maka di saat-saat yang lain Anusapati harus menempuh perjalanan yang lebih berat lagi.
Demikianlah, maka ketika panglima prajurit Singasari sudah hadir di istana beserta para penglima yang lainnya, panglima pasukan pengawal, pelayan dalam dan para Senapati tertinggi, maka seorang prajurit penghubung telah menyampaikan berita kedatangan pasukan kecil yang mendapat tugas untuk menumpas segerombolan perampok, yang juga menjadi sarana pendadaran Putera Mahkota.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar