*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 08-01*
Karya. : SH Mintardja
Mahisa Agni memasuki ruangan depan bangsal itu dengan hati yang berdebar-debar, apalagi ketika kemudian seorang pelayan dalam berkata kepadanya, “Tuanku ditunggu di ruang dalam.”
Sejenak Mahisa Agni termangu-mangu. Apakah di ruangan dalam sudah berhimpun para panglima dan senapati yang akan menangkapnya?
Sekilas terbayang beberapa ekor ikan emas yang berenang di kolam. Ikan emas yang menghindarkan diri dari cengkeraman maut.
“Silakan Tuanku,” berkata pelayan dalam itu dengan hormatnya.
Mahisa Agni tidak membantah. Dengan ragu-ragu ia melangkahkan kakinya masuk ke ruang dalam.
Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti, seperti juga darahnya serasa berhenti mengalir ketika dilihatnya Ken Umang berada di bangsal itu bersama Tohjaya.
“Marilah, Kakang Mahisa Agni,” Ken Umang mempersilakan sambil tertawa.
Wajah Mahisa Agni menjadi tegang. Untuk beberapa saat ia masih diam mematung.
“Silakan, Paman,” berkata Tohjaya kemudian. Mahisa Agni pun kemudian bergeser maju. Dengan kepala tunduk ia duduk menghadap Tohjaya.
“Sudah lama kita tidak berjumpa, Kakang,” berkata Ken Umang kemudian.
“Ya, Tuan Putri,” sahut Mahisa Agni singkat.
Tohjaya memandang ibundanya sejenak. Tetapi sebelum ia mengatakan sesuatu Ken Umang sudah mendahuluinya,” Aku mengenal Mahisa Agni sejak mudaku Tohjaya.”
Tohjaya tidak menyahut.
“Kakang Mahisa Agni sering kali datang ke rumah kakak iparku. Witantra.”
“Witantra?” sahut Tohjaya.
“Ya, kenapa?”
Tohjaya merenung sejenak. Rasa-rasanya ia pernah mendengar nama itu. Tetapi ia tidak berkata sesuatu.
“Sejak mudanya Kakang Mahisa Agni adalah orang yang paling sombong yang pernah aku temui. Jauh lebih sombong dari ayahandamu, Sri Rajasa.”
Tohjaya tidak menyahut.
Namun dalam pada itu terasa dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ia sadar bahwa dendam yang tersimpan di hati Ken Umang yang pernah merasa dihinakannya itu tidak akan hilang sampai akhir hayatnya. Tetapi ia masih tetap berdiam diri.
“Bukankah begitu Kakang Mahisa Agni,” berkata Ken Umang kemudian, “tetapi tidak selamanya kau dapat menyombongkan diri. Aku adalah istri kedua dari Sri Rajasa, Maharaja di Singasari. Mungkin kau masih dapat berbangga pula karena kau adalah saudara Tuanku Permaisuri pada masa pemerintahan Sri Rajasa, dan apalagi kau mendapat kedudukan yang tinggi di Kediri. Tetapi sekarang aku adalah ibunda dari maharaja itu sendiri. Semua kata-kataku adalah kata-kata putraku Tohjaya. Dan kau tahu arti dari kata-katanya.”
Mahisa Agni masih belum menyahut.
“Mahisa Agni,” berkata Ken Umang kemudian, “apakah dalam keadaanmu sekarang, kau masih dapat menyombongkan dirimu? Nah, katakan sebelum aku mengambil sikap yang lain sesuai dengan perbuatan yang pernah kau lakukan atasku, apakah kau melihat Ranggawuni dan Mahisa Cempaka?”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya, lalu, “Ampun Tuan Putri, hamba sama sekali tidak melihat Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Pada saat hamba mendengar kedua cucu kemenakan hamba itu hilang, hamba sudah datang menghadap Tuanku Tohjaya dan mohon perlindungannya. Karena kedua cucu kemenakan hamba itu adalah permata bagi ibundanya. Apa lagi Ranggawuni. Ibunya tidak memiliki apapun lagi kecuali anak laki-laki itu.”
Ken Umang tertawa. Katanya, “Tentu kau dapat ingkar Mahisa Agni. Tetapi apakah sebenarnya maksudmu mengambil kedua anak-anak itu? Bukankah ia mendapat haknya di istana ini?”
“Sekali lagi hamba mengatakan, bahwa justru hambalah yang harus bertanya, di manakah kedua anak-anak itu.”
“Mahisa Agni,” berkata Ken Umang, “kau tahu bahwa di sini ada Tohjaya yang kini memegang kekuasaan. Dan aku adalah ibundanya. Ketahuilah Mahisa Agni, bahwa sebenarnya aku dapat menjatuhkan hukuman apapun terhadapmu karena penghinaan yang pernah kau lemparkan kepadaku saat itu, seolah-olah aku adalah perempuan yang tidak berharga. Tetapi semuanya itu tergantung atas pengakuanmu. Jika kau tidak mau menunjukkan di mana Ranggawuni dan Mahisa Cempaka kau sembunyikan, maka aku dapat menjatuhkan hukuman yang paling berat atasmu. Tidak ada orang yang dapat mencegahnya. Kekuasaan putraku adalah mutlak. Kau tidak akan dapat membanggakan pengikut- pengikutmu yang ada di Kediri, karena tidak semuanya dapat kau kuasai.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Memang Ken Umang memiliki kelebihan dari Ken Dedes. Ken Dedes adalah seorang istri yang baik dan seorang ibu yang baik. Tetapi kadang-kadang memang diperlukan seorang perempuan yang ingin mengetahui banyak hal dari keadaan di sekitarnya. Meskipun Ken Dedes kadang-kadang juga berbincang dengan Sri Rajasa pada masa hidupnya, namun Ken Dedes tidak terlampau banyak ingin mengerti dan bahkan kemudian menentukan sikap atas pemerintahan di Singasari. Ken Dedes lebih banyak mendorong dan membesarkan hati suaminya.
Tetapi Ken Umang kadang-kadang mempunyai sikapnya sendiri. Bukan saja karena kini ia ikut berkuasa bersama anak laki-lakinya, tetapi sejak masa pemerintahan Sri Rajasa, Ken Umang memang banyak menunjukkan sikapnya. Namun agaknya perempuan yang demikianlah yang menarik hati Sri Rajasa. Perempuan yang memiliki gairah yang menyala-nyala.
“Kenapa kau diam saja Mahisa Agni?” berkata Ken Umang, “Apakah kau telah terlempar ke dalam sikap masa bodoh? Seharusnya kau tetap pada sikapmu sebagai seorang kesatria yang berani bertanggung jawab. Nah, katakan. Di mana Ranggawuni dan Mahisa Cempaka supaya aku tidak melipat gandakan hukuman yang dapat aku jatuhkan atasmu. Mungkin aku akan dapat memaafkanmu, asal kau dapat menunjukkan kedua anak-anak itu.”
Mahisa Agni masih tetap berdiam diri sambil menundukkan kepalanya.
“Mahisa Agni,” suara Ken Umang meninggi, “apakah aku harus memaksamu berbicara?”
“Tuan Putri,” berkata Mahisa Agni kemudian sambil memandang wajah Tohjaya sejenak, “hamba sudah mengatakan bahwa hamba tidak tahu. Justru hamba mohon perlindungan kepada Tuanku Tohjaya.”
“Jangan memperbodoh kami!” bentak Ken Umang, “Orang-orangmu yang ada di bangsalmu itu berbuat aneh-aneh pada malam hari itu juga. Apakah kau masih akan ingkar?”
“Hamba tidak mengerti Tuan Putri. Tuan Putri jangan memaksa hamba mengatakan yang hamba tidak mengetahui. Hamba memang dapat menyebut nama-nama tempat. Tetapi tentu saja tidak ada hubungannya dengan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.”
Ken Umang menjadi semakin marah. Dengan lantang ia berkata, “Tohjaya, Mahisa Agni masih tetap sombong seperti dahulu. Jika ia tetap keras tidak mau mengatakan apapun juga, maka jangan kau anggap ia seorang yang memiliki hak lebih banyak dari orang lain. Jika ia kau anggap bersalah tentu kau dapat menghukumnya.”
Tohjaya justru menjadi bingung mendengar kata-kata ibunya. Namun agaknya ia pun terpengaruh juga. Apalagi ketika ibunya berkata lebih lanjut, “Kau jangan silau memandang pengaruhnya yang sebenarnya tidak begitu besar. Apalagi ia sekarang berada di sini. Kau dapat memanggil para senapati yang ada di luar. Jika Mahisa Agni hendak melawan, maka ia dapat dibunuh di sini seperti kalian membunuh seekor ular berbisa.”
Ken Umang memang sangat berpengaruh atas putranya. Karena itu Tohjaya mulai mempertimbangkan pendapat ibunya. Baginya, dugaan bahwa Mahisa Agni tahu benar ke mana perginya Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, agaknya perlu mendapat perhatian yang besar.
“Tohjaya, kenapa kau menjadi termangu-mangu. Kau dapat memaksanya berbicara.”
Tohjaya masih juga ragu-ragu. Ia masih saja teringat kepada Lembu Ampal.
“Jika ternyata Lembu Ampal yang membawa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, maka akan timbul keributan tanpa arti,” katanya di dalam hati. Sehingga dengan demikian Tohjaya masih belum dapat mengambil keputusan. Tetapi sudah barang tentu bahwa ia tidak akan dapat mengatakannya langsung di hadapan Mahisa Agni.
Dalam keragu-raguan itu Tohjaya masih mendengar ibunya berkata, “Tohjaya. Kau tidak usah mempertimbangkan lagi, meskipun Mahisa Agni adalah saudara ibundamu Ken Dedes. Ken Dedes kini bukan permaisuri lagi. Hidupnya tergantung pada belas kasihanmu. Jika Ken Dedes saja tergantung pada kebesaran jiwamu, apalagi orang yang bernama Mahisa Agni ini. Anak pedesaan yang tidak tahu peruntungan nasibnya, yang justru kini berusaha mengacaukan pemerintahanmu dengan menyembunyikan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Apakah arti anak Panawijen ini bagimu sekarang?”
Betapapun Mahisa Agni mencoba menahan hatinya, namun terasa darahnya bagaikan mendidih. Ia sadar, bahwa ia telah masuk ke dalam perangkap. Mahisa Agni itu sadar sepenuhnya bahwa kini di sekitar bangsal itu telah siap sepasukan prajurit Singasari terpilih. Para panglima dan senapati.
Sekilas Mahisa Agni teringat kepada para pengawalnya yang sudah siap pula mempertaruhkan jiwanya. Jika terjadi sesuatu, maka mereka tentu akan bergerak pula. Adalah tidak mustahil baginya berusaha untuk melarikan diri dari tangkapan para prajurit Singasari bersama para pengawalnya. Namun yang selalu memberati hatinya adalah akibat yang timbul kemudian. Jika benar terjadi benturan senjata, maka Singasari akan benar-benar menjadi koyak.
Tetapi Mahisa Agni pun tidak dapat dengan suka rela menyerahkan lehernya sendiri. Jika ia yakin bahwa dengan kematiannya Singasari akan menjadi tenteram dan damai, maka Mahisa Agni sama sekali tidak akan mengelak. Tetapi dalam kekuasaan Tohjaya dan ibundanya Ken Umang, keadaannya tentu akan terjadi sebaliknya.
Karena itu, untuk sementara Mahisa Agni memutuskan, jika terjadi tindakan kekerasan atas dirinya, maka ia harus berusaha menghindar, apapun cara yang dapat dipergunakannya.
Dalam pada itu, karena Tohjaya masih juga ragu-ragu, Ken Umang berkata, “Kenapa kau masih belum bertindak apapun juga Tohjaya? Bukankah kau tinggal memanggil para senapati? Cepat! Sebelum orang yang sombong ini berusaha melakukan pengkhianatan yang lebih banyak lagi. Seandainya Mahisa Agni ternyata tidak menyembunyikan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka pun, kau tidak akan kehilangan apapun juga karena kematian anak Panawijen ini, yang tentu akan segera disusul oleh adiknya Ken Dedes yang sudah sakit-sakitan itu.”
Dada Mahisa Agni rasa-rasanya akan meledak mendengar hinaan yang tiada henti-hentinya itu. Betapapun ia menahan hati, namun akhirnya tepercik jugalah kemarahan yang ditahankannya itu. Ia tidak dapat menerima hinaan terus menerus tanpa membela diri, karena ia masih juga mempunyai telinga dan hati.
“Ampun Tuan Putri,” berkata Mahisa Agni kemudian, “sebenarnyalah yang Tuan Putri katakan itu benar semata-mata. Tetapi sudah barang tentu bahwa hamba sama sekali tidak bermaksud menyombongkan diri. Apa yang pernah hamba lakukan justru karena hamba merasa diri hamba terlampau kecil. Juga saat ini hamba tidak akan berani berbuat apa-apa selain mohon perlindungan Tuanku Tohjaya.”
“Bohong! Kau pernah menyakiti hatiku,” bentak Ken Umang, “dan dendam itu masih tetap membara sampai sekarang.”
Tak ada jalan lain bagi Mahisa Agni selain mempertahankan diri meskipun ia masih mencari jalan yang lebih baik dari kekerasan. Katanya, “Tuan Putri, bagaimana, mungkin hamba dapat menyakiti hati Tuan Putri? Jika sekiranya demikian, kenapa Tuan Putri tidak mengambil tindakan apapun juga saat itu?”
Pertanyaan itu membuat hati Ken Umang tergetar. Namun ia masih menyahut, “Sikap sombongmu itulah yang menyakiti hatiku karena kau merasa dirimu keluarga terdekat dari Ken Dedes yang kini terpaksa berlindung di bawah kebaikan hati anakku.”
Sakit di hati Mahisa Agni menjadi semakin pedih, sehingga terloncat dari bibirnya, “Apakah benar demikian?”
Wajah Ken Umang menjadi semakin merah, dan bibirnya bergetar menahan marah. Ternyata kesombongan Mahisa Agni masih juga terasa olehnya sampai di hari tua.
“Mahisa Agni,” berkata Ken Umang, “kau sekarang tidak akan dapat menyombongkan dirimu lagi. Jika kemarahan hatiku tidak terkendali, maka akibatnya akan menyentuh adikmu yang pernah menjadi seorang permaisuri di Singasari. Jika putraku mengibaskan perlindungan atasnya, maka ia akan mengalami nasib seburuk suaminya dan anak laki-lakinya.”
“Itu lebih baik Tuan Putri,” dengan lantang Mahisa Agni menyahut, “ia memang sudah semakin tua. Tetapi ia tetap seorang perempuan yang bersih dari noda-noda yang memercik dari nafsu dan ketamakan.”
“Agni, apakah maksudmu?” bentak Ken Umang dengan membelalakkan matanya.
Ternyata Mahisa Agni tidak dapat menahan diri lagi. Maka meluncurlah kata-katanya, “Ken Dedes tidak pernah melakukan perbuatan nista. Ia diambil oleh Akuwu Tunggul Ametung dengan paksa. Dan ia kemudian diperistri oleh Sri Rajasa sepeninggal Akuwu Tunggul Ametung. Ken Dedes tidak pernah dengan sengaja menawarkan dirinya, apalagi menjebaknya di tengah-tengah hutan perburuan. Di daerah jelajah binatang-binatang liar.”
“Mahisa Agni!” Ken Umang hampir berteriak.
Tetapi suara Mahisa Agni yang hampir tidak tertahankan itu pun mengatasinya, “Tuan Putri. Hamba tidak akan dapat menutup mata, bahwa hal itu telah terjadi di hutan perburuan pada saat Sri Rajasa berburu bersama beberapa orang pengawal. Meskipun tidak ada orang yang melihat apa yang telah terjadi, tetapi yang telah terjadi itu telah tercium oleh beberapa orang pengawal. Dan bukankah Sri Rajasa sendiri bukannya orang yang dapat menyembunyikan perasaannya terhadap seorang perempuan. Ketika hal itu terjadi, maka tidak ada jalan lain bagi Sri Rajasa selain bertanggung jawab sebagai seorang laki-laki. Maka Tuan Putri pun telah berhasil memaksa Maharaja yang paling berkuasa itu untuk tunduk di bawah kemauan Tuan Putri.”
Kemarahan yang memuncak telah membakar jantung Ken Umang, sehingga hampir tanpa disadarinya ia telah berdiri dan meloncat mendekati Mahisa Agni. Dengan derasnya tangan Ken Umang itu terayun menampar wajah Mahisa Agni yang masih tetap duduk di tempatnya.
“Ibunda!” Tohjaya pun meloncat mencegahnya. Tetapi ayunan tangan Ken Umang telah mengenai wajah Mahisa Agni, meskipun bagi Mahisa Agni yang telah terbiasa berada di medan itu hampir tidak merasakannya.
“Bunuh orang gila ini, Tohjaya! Bunuh orang gila ini sekarang juga!”
“Bunuhlah hamba,” berkata Mahisa Agni, “tetapi sebaiknya Tuanku Tohjaya mendengarkannya, bahwa karena itulah maka Tuanku Tohjaya dilahirkan.”
“Gila, gila, gila!” teriak Ken Umang.
“Ibunda,” Tohjaya termangu-mangu, Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Apa yang telah terjadi Paman Mahisa Agni?”
“Jangan biarkan mulutnya berbicara, kau dapat membunuhnya sekarang.”
Teriakan Ken Umang agaknya telah menarik perhatian beberapa orang senapati yang memang bertugas di luar bangsal. Karena itu, karena mereka tidak tahu pasti apa yang telah terjadi beberapa orang telah berdiri di muka pintu untuk melakukan tugas apabila perintah Tohjaya tiba-tiba saja jatuh. Atau bahkan mereka merasa cemas bahwa sesuatu telah terjadi di luar dugaan, karena Mahisa Agni adalah seorang yang memiliki ilmu yang jarang imbangnya.
Namun agaknya Tohjaya yang mulai dipengaruhi oleh kata-kata Mahisa Agni itu membentak keras sekali, “Pergi! Pergi kalian! Aku tidak memerlukan kalian sekarang.”
Para senapati itu pun surut beberapa langkah. Mereka pun kemudian meninggalkan bangsal itu dan berdiri termangu-mangu di atas jembatan kecil di atas kolam yang ditaburi dengan berjenis-jenis ikan itu.
Sepeninggal para senapati maka Tohjaya pun sekali lagi bertanya kepada Mahisa Agni, “Paman, cobalah katakan. Apa yang telah terjadi dengan ibunda.”
“Oh,” tiba-tiba Ken Umang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sambil menangis ia berkata, “Jangan biarkan ia berbicara. Ia berbohong semata-mata. Sekedar untuk memburukkan namaku dan namamu Tohjaya,.”
“Katakan Paman. Tetapi jika Paman berbohong aku akan menghukum Paman dengan hukuman picis di alun-alun. Hukuman yang paling berat yang dapat dijatuhkan kepada seseorang.”
“Hamba tidak berbohong Tuanku. Ibunda Tuanku telah berhasil menjerat ayahanda Sri Rajasa di hutan perburuan.”
“Di hutan perburuan?”
“Ya. Di hutan perburuan. Dan terjadilah hal itu. Jika kemudian lahir seorang putra, maka Tuankulah putra ibunda Tuanku yang pertama. Ayahanda Sri Rajasa tidak dapat ingkar lagi. Sebagai laki-laki, maka terpaksalah ayahanda Sri Rajasa mengambil ibunda Tuanku menjadi istrinya yang kedua.”
“Begitu? Ibunda, benarkah begitu?” teriak Tohjaya.
“Bohong, bohong!. Sama sekali bohong!”
“Memang tidak ada saksi selain hati nurani Tuan Putri sendiri.”
“Tidak, tidak.”
Tohjaya pun kemudian dengan lemahnya terduduk di tempat duduknya sambil menekan dadanya yang serasa retak.
Sejenak ruangan itu dicengkam sepi. Yang terdengar hanyalah desah-desah nafas yang semakin cepat berkejaran di lubang hidung, dan isak Ken Umang yang semakin menyesak di dadanya.
Tohjaya masih duduk dengan kepala tunduk. Di dalam angan-angannya tanpa disadarinya, terjadilah peristiwa itu. Seakan-akan ia melihat apa yang telah terjadi.
“Alangkah nistanya,” desisnya tiba-tiba.
“Tohjaya, “suara ibunya yang gemetar, “jangan kau percaya kata-katanya. Ia memang dengan sengaja memfitnah aku. Ia merasa bahwa ia tidak lagi mempunyai kekuatan untuk menyelamatkan diri karena ia telah melarikan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Jika ia berhasil dan aku mempercayainya, maka kau sudah terjebak di dalam akal liciknya.”
Tiba-tiba Tohjaya meloncat bangkit. Dengan garangnya ia berkata, “Benarkah begitu? Jadi kau sekedar berusaha menyelamatkan dirimu dengan fitnah yang keji itu?”
“Tuanku Tohjaya,” sahut Mahisa Agni, “seandainya Tuanku Sri Rajasa masih hidup, maka tentu ia akan mengiakannya. Tentu ia akan mengatakan bahwa semuanya itu memang sudah terjadi. Seandainya ibunda Tuanku tetap pada kata-katanya maka aku dapat menyebut rahasia yang lebih banyak lagi yang menyangkut ibunda Tuanku.”
“Bohong!” teriak Ken Umang.
“Hamba tidak berbohong Tuanku. Dan Tuanku dapat bertanya kepada orang yang bernama Witantra itu. Ia adalah saudara ipar ibunda Tuanku.”
“Tidak ada orang bernama Witantra!” Ken Umang masih berteriak.
“Ibunda telah menyebut namanya,” sahut Tohjaya.
Ken Umang terdiam. Tetapi ketegangan yang sangat telah mencengkam jantungnya. Karena itu maka ia masih saja berteriak, “Bunuh saja orang itu! Bunuh saja sekarang!”
Tohjaya masih berdiri termangu-mangu. Sekali lagi membayang saat-saat dari permulaan hidupnya.
Mahisa Agni memandang keduanya berganti-ganti. Tetapi ia tidak mau kehilangan kesempatan. Karena itu maka katanya kemudian, “Tuanku Tohjaya. Sebaiknya Tuanku tidak usah menyesalinya. Bagaimanapun juga yang terjadi, tetapi Tuan Putri Ken Umang adalah ibunda Tuanku.”
Terdengar Tohjaya menggeretakkan giginya. Dan Mahisa Agni berkata seterusnya, “Tuanku pun tidak usah menyesali. Justru karena Tuanku tahu. betapa seorang manusia telah lahir dari kenistaan. Namun adalah suatu kenyataan bahwa Tuanku kini adalah seorang maharaja. Seperti juga setiap orang mengetahui siapakah Anusapati, maka sebenarnya setiap orang pun akhirnya mengetahui, bagaimana Tuanku dapat terjadi.”
Tohjaya hampir kehilangan seluruh tenaganya ketika Mahisa Agni melanjutkan, “Namun bagaimanapun juga, Tuanku masih lebih baik dari Anusapati. Anusapati adalah bukan putra Sri Rajasa. Setiap orang mengetahui, terutama yang sudah berusia lanjut, bahwa pada saat Tuanku Sri Rajasa mengawini Ken Dedes, Tuan Putri Ken Dedes sudah mengandung. Tetapi orang-orang itu tetap berdiam diri untuk menjaga perasaan Anusapati dan Ken Dedes itu sendiri. Kemudian, seperti halnya Ken Dedes, maka setiap orang pun tahu meskipun mula-mula bersumber dari kalangan istana sendiri, dari orang-orang yang dekat dengan Sri Rajasa yang saat itu masih sangat muda dan berbangga diri atas peristiwa yang telah terjadi, bahwa demikianlah adanya.”
Tetapi Tohjaya seolah-olah telah tidak mendengar lagi. Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk, sedang keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya. Ia yang kini duduk di atas tahta Singasari, ternyata adalah anak yang lahir dari perbuatan nista ibundanya, justru di hutan perburuan seperti perbuatan sepasang kijang yang tidak mengenal peradaban.
“Maaf Tuanku,” berkata Mahisa Agni pula, “bukan maksud hamba melukai hati, Tuanku. Tetapi semata-mata karena hamba tidak lagi dapat berdusta kepada diri sendiri, karena hamba pun mendengar peristiwa itu telah terjadi.”
Tiba-tiba saja Tohjaya menjadi liar. Dipandanginya seisi ruangan itu. Sejenak kemudian ia pun berlari ke luar bilik tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia telah melupakan kedudukannya sebagai seorang maharaja. Ia telah melupakan sikap dan suba sita. Sebagai manusia ia telah terhempas ke dalam jurang kekecewaan yang dalam tiada taranya.
Ketika seorang prajurit yang berdiri di ujung jembatan mencoba menunggu perintahnya dengan mulut ternganga melihat sikap Tohjaya itu, maka prajurit itu telah ditendangnya sehingga ia terdorong jatuh ke dalam kolam.
Dengan tergesa-gesa Tohjaya berjalan meninggalkan bangsal itu. Sekejap ia berdiri termangu-mangu di luar regol di ujung jembatan tanpa menghiraukan para prajurit yang ikut menjadi kebingungan melihat sikapnya.
“Tuanku?” pemimpin prajurit yang bertugas di regol itu mencoba bertanya. Tetapi sebuah pukulan telah melayang menampar pipinya sehingga pemimpin prajurit itu mengaduh tertahan.
Sementara itu Tohjaya pun kemudian berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan bangsal itu menuju ke bangsalnya sendiri sebelum ia tinggal di bangsal yang dikitari oleh kolam yang dibuat oleh Anusapati itu.
Dua orang pengawalnya berlari-lari menyusulnya. Tetapi keduanya pun tidak berani bertanya sepatah kata pun selain mengikutinya sambil berlari-lari kecil.
Sementara itu, di dalam bangsal di tengah-tengah kolam itu, Ken Umang menangis sambil menutup wajahnya, sedang Mahisa Agni duduk termangu-mangu di tempatnya.
“Kau gila!” terdengar suara Ken Umang di sela-sela isaknya, “Kau telah membalas sakit hatimu dengan cara yang ke ji sekali.”
“Ampun Tuan Putri,” jawab Mahisa Agni, “bukan hamba yang berusaha membalas dendam dan sakit hati. Tetapi Tuan Putri sendiri. Hamba hanya sekedar mencoba mempertahankan diri.”
“Tetapi kau telah menyiksa perasaannya. Perasaan Tohjaya. Kau dapat menghinakan aku sekali lagi dan sekali lagi. Tetapi kau jangan mematahkan gairah hidup Tohjaya karena ia mengetahui bahwa yang telah terjadi itu adalah perbuatan yang nista.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Betapa keras hatinya, namun ia merasa iba juga melihat Ken Umang yang menangis sehingga nafasnya serasa menjadi sesak.
Namun tiba-tiba Ken Umang itu mengangkat wajahnya. Dengan gelisah ia bergumam, “Aku harus memberi penjelasan kepada Tohjaya. Aku akan menemuinya sendiri. Tidak bersamamu karena kau ingin memanfaatkan keadaan ini untuk keuntunganmu. Keuntungan pribadimu.”
“Tuan Putri,” berkata Mahisa Agni yang mulai lirih, “sebenarnya bukan maksud hamba untuk menghinakan Tuan Putri. Tetapi karena hamba harus berhadapan dengan maut, maka terpaksa hamba membela diri sekedar untuk menyelamatkan hamba dari hukuman mati atau hukuman apapun yang dapat menjerat hamba karena hilangnya kedua anak-anak muda itu, yang justru hambalah orang yang ikut kehilangan mereka.”
“Persetan!” geram Ken Umang, “Aku akan memberikan penjelasan kepada Tohjaya.”
Dan tiba-tiba pula Ken Umang itu pun segera meloncat berlari keluar bangsal.
Mahisa Agni yang untuk beberapa saat dicengkam oleh keragu-raguan, segera meloncat pula mengikati Ken Umang keluar bangsal.
Para prajurit yang bertugas menjadi heran. Mereka melihat Tohjaya dengan sikap yang aneh meninggalkan bangsal itu. Kemudian Ken Umang diikuti oleh Mahisa Agni. Sedangkan para prajurit itu pun melihat, bendul di pelupuk mata Ken Umang yang merah.
“Apakah Tuanku Tohjaya telah berselisih dengan Tuan Putri?” salah seorang dari para prajurit itu bergumam.
“Tidak seorang pun yang tahu. Kami hanya mendengar lamat-lamat Tuan Putri berteriak-teriak. Tetapi kami tidak mendengarnya dengan jelas. Tetapi hal itu memang mungkin sekali terjadi.”
“Tetapi apakah yang mereka persoalkan?”
“Bodoh kau, tentu aku tidak mengetahuinya.”
Prajurit itu pun kemudian berdiam diri sejenak. Mereka memandang Ken Umang yang berlari-lari kecil sampai hilang di longkangan dalam.
Dalam pada itu, sejenak Mahisa Agni mengikutinya dari belakang ke mana Ken Umang pergi. Namun ia pun kemudian terhenti dan berjalan kembali ke bangsalnya sendiri.
Di sepanjang langkahnya Mahisa Agni masih saja mencoba menilai persoalan yang baru saja terjadi. Agaknya Tohjaya benar-benar tersinggung karena peristiwa yang telah terjadi di hutan perburuan, justru yang kemudian mengakibatkan Tohjaya itu lahir di dunia.
Agaknya Tohjaya tidak mau menerima kenyataan itu. Kenyataan yang nista dan tidak pernah dibayangkannya.
Namun Tohjaya tidak dapat menolak pengakuan bahwa hal itu memang telah terjadi. Menurut sorot mata dan warna wajah ibunya, Tohjaya mempunyai keyakinan bahwa yang dikatakan oleh Mahisa Agni itu bukan berbohong.
Terlebih parah lagi apabila terbayang di angan-angan Tohjaya bahwa sebenarnya orang di seluruh Singasari sudah mengetahui apa yang telah terjadi atas ibunya.
“Tentu Ayahanda yang waktu itu masih muda, telah bercerita kepada orang terdekat. Bahkan mungkin justru sebagai kebanggaan atas kehinaan Ibunda,” berkata Tohjaya di dalam hati, “dan kini setiap orang akan mempercakapkannya kembali. Mereka akan dapat bersikap lebih kasar lagi di bawah perintah Tohjaya ini. Bahkan mungkin bukan sekedar mempercakapkan, tetapi tentu ada yang berani merendahkan martabatnya sebagai seorang maharaja di Singasari. Dan berita itu akan segera tersebar. Tersebar sampai ke ujung negeri ini.”
Tohjaya menutup wajahnya.
Selagi Tohjaya tenggelam di dalam kecemasan, malu dan bingung, ibunya perlahan-lahan mendekatinya. Dengan nada yang dalam diselubungi isaknya yang tertahan ia berkata, “Tohjaya, cobalah kau dengarkan penjelasanku.”
Tohjaya mengangkat wajahnya. Namun kemudian ia melangkah menjauhi ibunya sambil berkata, “Ibunda, ternyata Ibunda telah menghinakan diri sendiri dan keturunan Ibunda. Apalagi kini aku menjadi pusat perhatian seluruh rakyat Singasari. Dan apakah kata mereka tentang aku, jika cerita itu kemudian tersebar?”
“Ada jalan yang dapat kau tempuh,” berkata ibundanya.
“Apa?”
“Membungkam Mahisa Agni untuk selama-lamanya.”
Tohjaya terdiam sejenak. Dipandanginya bayangan yang bergerak-gerak di kejauhan. Namun kemudian ia berpaling dan berkata kepada ibunya, “Tidak ada gunanya. Membunuh Mahisa Agni akan sama halnya dengan mengaduk abu kering. Debunya akan beterbangan dan justru tersebar merata.”
“Kenapa?” bertanya ibundanya.
“Karena orang-orang yang berpihak kepada Mahisa Agni akan menyebarkan berita itu semakin cepat. Dan orang-orang yang memang pernah mendengarnya dahulu akan menganggukkan kepalanya, mengiakannya.”
“Tohjaya, apakah kau percaya bahwa cerita itu benar dan memang pernah terjadi?”
Tohjaya menjadi ragu-ragu.
“Jawablah.”
Namun ternyata jawab Tohjaya sangat mengejutkan Ken Umang, “Aku percaya Ibunda.”
“Oh,” Ken Umang terduduk lesu sambil tersedu, “Jadi kau lebih percaya kepada Mahisa Agni, kepada orang yang kini berniat memusnahkan ibundamu dan keturunannya termasuk kau daripada kepada ibundamu sendiri?”
“Ibunda,” bertanya Tohjaya, “jika demikian, apakah sebabnya Ibunda mendendamnya? Apakah alasan Ibunda menyimpan dendam sampai sekarang dan bahkan berusaha membunuhnya? Menurut pertimbanganku, Mahisa Agni tentu mengetahui sesuatu rahasia Ibunda yang paling besar.”
“Cukup Tohjaya! Cukup!”
“Kenapa ibunda?” desak Tohjaya, “jika Mahisa Agni Ibunda sebut sebagai orang yang paling menyombongkan diri, apa pula alasannya?”
“Jangan kau ulang pertanyaan itu Tohjaya, jangan!”
Tohjaya terdiam. Tetapi ia menjadi semakin yakin bahwa apa yang dikatakan Mahisa Agni itu benar, atau setidak-tidaknya sebagian terbesar adalah benar.
“Tohjaya, apakah kau benar-benar tidak mempunyai kepercayaan lagi kepadaku?”
“Ibunda, siapakah sebenarnya Witantra itu?”
“Witantra adalah kakak iparku.”
“Di mana ia sekarang?”
“Tidak ada orang yang tahu.”
“Apakah benar ia berada di Kediri seperti yang pernah disebut-sebut oleh panglima pelayan dalam yang aku tugaskan ke Kediri untuk memanggil Mahisa Agni?”
“Tentu bukan. Witantra sudah lama hilang. Barangkali ia sudah mati.”
“Aku akan memanggil panglima pelayan dalam itu. Ia akan dapat bercerita tentang orang yang bernama Witantra itu.”
“Tidak perlu, itu tidak perlu.”
“Kenapa tidak Ibunda? Ia akan dapat banyak bercerita tentang orang yang bernama Witantra. Yang menurut pendengarannya adalah bekas seorang panglima di masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung di Tumapel.”
“Tidak, jangan.”
“Ibunda, jika orang itulah yang dimaksud, kebetulan sekali. Dengan demikian Ibunda akan dapat bertemu dengan kakak perempuan Ibunda, dan sudah tentu aku akan memanggilnya Bibi.”
“Tidak. Itu tidak perlu!”
“Nah,” suara Tohjaya tiba-tiba menjadi berat, “itu adalah pertanda bahwa kehidupan Ibunda memang dibayangi oleh rahasia yang dengan sengaja akan Ibunda sembunyikan. Tetapi rahasia itu sebagian tentu apa yang dikatakan oleh Mahisa Agni.”
“Oh,” Ken Umang menangis semakin keras.
Beberapa orang emban mengintip dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Namun mereka pun segera pergi karena mereka menjadi ketakutan. Jika mereka mendengar rahasia maharaja, atau diduga mendengarnya, maka mereka akan dapat dihukum mati tanpa sebab.
“Ibunda,” berkata Tohjaya dengan nada yang meninggi, “Jika demikian, rahasia yang menyelubungi Ibunda ternyata sebuah rahasia yang besar. Dan angan-anganku pun menjadi berkembang karenanya. Jika Ibunda telah memasrahkan harga diri, dan bahkan tubuh Ibunda untuk sekedar mengejar keinginan lahiriah, maka Ibunda tentu pernah melakukan kecemaran yang serupa.”
“Tidak, tidak! Demi dewa-dewa aku bersumpah,” teriak Ken Umang.
Tohjaya menarik nafas dalam-dalam. Samar ia mulai membayangkan apa yang pernah terjadi atas dirinya. Apa yang dilakukan ibundanya selama ini. Ibundanya yang telah mendorongnya untuk melakukan apa saja agar ia sampai pada puncak tertinggi dari seluruh kekuasaan yang ada di Singasari. Sejak kecil ibundanya sudah mengajarinya membenci Anusapati yang kemudian disebut sebagai anak Tunggul Ametung. Kemudian berusaha mendesaknya dan menyingkirkannya.
Kebencian kepada Anusapati dan adik-adiknya yang lahir dari Ken Dedes telah mendorongnya sampai ke puncaknya dengan segala macam usaha untuk membunuh Anusapati.
“Tetapi Anusapati telah membunuh Sri Rajasa,” Tohjaya mencoba membela sikapnya sendiri di dalam hatinya.
Namun kemudian ia terlempar pada suatu kenyataan, bahwa ibunyalah yang telah membentuknya menjadi seorang manusia yang dicengkam oleh kebencian, dendam dan permusuhan.
Tohjaya menggigit bibirnya. Terasa dadanya menjadi sesak oleh kegelisahan.
Ken Umang masih saja menangis tertahan-tahan. Penyesalan yang dalam, bukan karena ia telah melakukan sesuatu yang hina, tetapi ia telah memberi kesempatan kepada Mahisa Agni untuk membuka rahasia itu. Dan karena Tohjaya yang ternyata tidak mau menerima kenyataan itu dengan senang hati.
“Terkutuklah Mahisa Agni!” berkata Ken Umang di dalam hatinya, “Ia harus mati. Jika tidak ia tentu akan membuka rahasiaku yang lain, bahwa aku telah mencoba untuk membujuknya. Bahkan setelah aku sudah menjadi istri Sri Rajasa.”
Ken Umang terperanjat ketika ia kemudian mendengar Tohjaya berkata, “Ibunda, tinggalkan aku sendiri.”
“Tohjaya,” desis Ken Umang, “aku sebenarnya perlu memberikan banyak sekali penjelasan. Kau seharusnya tidak mempercayai fitnah yang keji itu.”
“Aku akan memikirkannya. Tetapi silakan Ibunda meninggalkan aku sendiri.”
Ken Umang termangu-mangu. Namun ia pun kemudian melangkah meninggalkan anak laki-lakinya yang duduk merenungi dirinya sendiri.
Sepeninggal ibunya, maka Tohjaya semakin dapat melihat kenyataan hidupnya yang pernah dilaluinya. Sejak ia masih kanak-kanak. Hubungannya dengan Anusapati memang tidak begitu baik. Ia dibentuk oleh ibunya untuk membenci Anusapati, apalagi setelah Anusapati diangkat oleh Sri Rajasa menjadi Pangeran Pati.
Sekilas terlintas di angan-angannya yang melambung tinggi ke masa silamnya, Anusapati. Namun ternyata bahwa justru karena itu, yang terjadi adalah sebaliknya. Bukan Anusapati yang tersisih dari hati rakyat ternyata bahwa Pangeran Pati itu mendapat tempat yang sebaik-baiknya.
Perang tanding di alun-alun, yang maksudnya untuk menunjukkan bahwa ia adalah anak muda yang terbaik di Singasari, ternyata muncul seorang yang menyebut dirinya Kesatria Putih yang ternyata adalah Anusapati.
“Waktu itu aku hampir tidak mau menerima kenyataan bahwa aku memang tidak dapat mengalahkan kakanda Anusapati apapun caranya,” katanya di dalam hati, “dan yang terakhir aku memang berhasil membunuhnya dengan curang.”
Namun setelah Tohjaya berhasil duduk di atas tahta, ia justru mengetahui tentang dirinya sendiri. Dan yang lebih parah, ia mengetahui bahwa sebenarnya rahasia ibunya itu telah banyak diketahui orang, terutama yang sebaya dengan Mahisa Agni. Tetapi karena ayahandanya adalah seorang raja yang besar, maka tidak seorang pun yang berani mengatakannya.
Sementara itu, Ken Umang yang mendendam hatinya serasa menjadi semakin membara. Mahisa Agni baginya adalah hantu yang paling menakutkan meskipun pada masa mudanya ia pernah tergila-gila kepadanya. Karena itu, tidak ada cara lain untuk melapangkan hatinya selain membunuh Mahisa Agni, disetujui atau tidak oleh anaknya.
“Tidak ada kekuatan yang cukup untuk menumbangkan kekuasaan Tohjaya. Pengikut-pengikut Mahisa Agni tidak akan mampu berbuat apapun juga untuk membelanya,” Ken Umang bergumam di dalam dadanya yang bagaikan akan retak.
Sejenak itulah maka Ken Umang mulai berusaha sepenuh hati untuk menemukan orang yang dapat diupahnya untuk membunuh Mahisa Agni dengan cara yang kasar atau halus.
Namun Mahisa Agni pun ternyata telah menyadari bahwa kemungkinan yang demikian itu akan terjadi. Itulah sebabnya maka ia menjadi semakin berhati-hati.
Di hari-hari berikutnya, para pemimpin di Singasari melihat perubahan yang terjadi atas maharajanya yang sedang memerintah. Tohjaya menjadi pendiam dan lebih murung. Tidak banyak persoalan yang diperbincangkannya di dalam paseban. Bahkan bicaranya pun rasa-rasanya telah berubah pula. Suaranya menjadi serak dan dalam.
“Hilangnya kedua anak-anak itu membuat Tuanku Tohjaya menjadi sangat murung,” berkata seorang senapati yang kurang mengetahui persoalan yang sebenarnya.
Namun sebenarnyalah persoalan yang berurutan telah membuat Tohjaya semakin murung. Tidak seorang pun yang kemudian berhasil menemukan Lembu Ampal. Tidak seorang pun pula yang dapat mengatakan di manakah Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
“Tuanku,” berkata Pranaraja, “Lembu Ampal itu bagaikan hilang tidak ada bekasnya. Kedua anak-anak muda itu pun tidak lagi diketahui nasibnya. Setiap hari hamba mengirimkan prajurit-prajurit sandi menjelajahi kota ini. Tetapi mereka tidak pernah mendengar berita tentang keduanya dan Lembu Ampal.”
Tetapi Rasa-rasanya Tohjaya tidak tertarik lagi meskipun setiap kali ia teringat usaha pembunuhan itu, dadanya rasanya berdesir.
“Mungkin Lembu Ampal sudah berhasil,” desis Pranaraja.
Tohjaya tidak menyahut. Dan Pranaraja berkata seterusnya, “Jika demikian, tidak akan ada orang lagi yang akan dapat merintangi kekuasaan Tuanku.”
Tetapi di dalam hatinya Pranaraja berkata kepada diri sendiri, “Jika Lembu Ampal berhasil, ia tentu akan segera kembali untuk menerima hadiahnya.”
Tetapi Pranaraja tidak mengatakannya. Ia masih belum tahu pasti, apakah sebenarnya yang sedang mempengaruhi sikapnya.
Kemurungan Tohjaya memang menimbulkan banyak pertanyaan di hati para pemimpin di Singasari. Namun tidak seorang pun yang dapat menebak arti dari kemurungan wajah ini selain Tohjaya sendiri dan ibundanya.
Dalam pada itu Ken Umang masih saja memikirkan cara untuk dapat menyingkirkan Mahisa Agni. Sebenarnya Ken Umang sendiri sangsi, apakah dengan demikian rahasianya akan ikut terkubur bersama lenyapnya Mahisa Agni. Apakah Tohjaya dapat melupakan semua persoalan yang pernah dikatakan oleh Mahisa Agni?
Namun demikian dendam yang membara diliatinya telah mendorongnya untuk melakukannya. Ia tidak peduli apakah lenyapnya Mahisa Agni akan berpengaruh pada Singasari, pada kepercayaan Tohjaya terhadapnya atau kepada apapun juga. Ia ingin melepaskan dendam, kemarahan dan kebencian. Apalagi setelah Mahisa Agni membuka rahasianya di hadapan anak laki-lakinya yang dimanjakannya selama ini.
Ken Umang menyadari betapa sulitnya pekerjaan yang akan dilakukannya itu. Ia menyadari bahwa Mahisa Agni adalah orang yang pilih tanding, sehingga dengan demikian ia tidak akan dapat berbuat tanpa perhitungan yang sebaik-baiknya.
Karena Ken Umang tidak dapat memecahkan cara yang akan ditempuhnya, maka ia pun kemudian memanggil Pranaraja pula. Karena Ken Umang tahu pula, bahwa Pranarajalah yang mendorong usaha untuk menyingkirkan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
“Kau tidak dapat ingkar bahwa kaulah yang telah menyebabkan kedua anak-anak itu lenyap dari istana. Apakah hal itu karena Lembu Ampal benar-benar telah berhasil membunuhnya, atau karena orang lain yang mendengar rencana itu kemudian menyelamatkannya.”
“Hamba memang tidak akan dapat ingkar Tuan Putri. Apa lagi di hadapan Tuan Putri dan Tuanku Tohjaya.”
“Pranaraja,” berkata Ken Umang, “Aku minta pertimbanganmu, karena kau tidak akan dapat lari dari tangan Mahisa Agni jika ia mendengarnya.”
Pranaraja mengerutkan keningnya. Lalu dengan ragu-ragu ia pun bertanya, “Maksud Tuan Putri?”
“Baiklah kita menyeberang terus, karena kita memang telah basah kuyup.”
Pranaraja tidak menyahut.
“Karena itu, kenapa kau sekedar berusaha menyingkirkan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka saja? Kenapa bukan Mahisa Agni dan kemudian Ken Dedes dan anak-anaknya yang lain?”
“Oh,” Pranaraja termangu-mangu, “begitu banyak orang yang harus dikorbankan?”
“Jika kau hanya sekedar menyingkirkan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, itu tidak akan banyak artinya. Keduanya memang orang-orang yang penting di Singasari. Tetapi kau harus memperhitungkan pula anak-anak Ken Dedes yang lain. Mereka adalah adik-adik Tohjaya, dan mereka adalah anak-anak Sri Rajasa yang lahir dari permaisuri.”
Pranaraja mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tetapi semuanya itu akan dapat kau lakukan jika Mahisa Agni sudah tidak ada. Karena itu, yang pertama-tama dari kerja yang besar dan meyakinkan itu adalah membunuh Mahisa Agni terlebih dahulu.”
Pranaraja masih tetap ragu-ragu. Usaha untuk membunuh beberapa orang sekaligus, dan mereka itu adalah orang-orang yang penting di Singasari tentu akan menimbulkan banyak persoalan bagi Singasari sendiri. Namun Pranaraja pun mengetahui bahwa tekanan dari pembunuhan itu adalah pada Mahisa Agni. Jika Mahisa Agni sudah mati, maka semuanya itu seolah-olah sudah tidak akan mempunyai kekuatan apapun juga.
“Bagaimana pendapatmu Pranaraja?”
“Ampun Tuan Putri,” jawab Pranaraja, “sampai sekarang Tuan Putri Ken Umang apakah sudah pernah membicarakannya dengan Tuanku Tohjaya. Karena menurut pengamatan hamba, Tuanku Tohjaya masih agak berkeberatan untuk langsung berhadapan atas dasar kekerasan dengan Mahisa Agni.”
“Persetan!” desis Ken Umang, “Tohjaya masih terlampau kanak-kanak. Ia masih selalu dipengaruhi oleh perasaan anak-anaknya daripada pertimbangan nalar seorang maharaja. Menurut pendapatku tidak ada yang perlu dicemaskan pada Mahisa Agni.”
“Tuan Putri,” berkata Pranaraja, “tetapi hampir setiap pemimpin dan senapati di Singasari memberikan peringatan itu.”
“Peringatan apa?”
“Bahwa Mahisa Agni mempunyai pengaruh yang sangat kuat pada anak buahnya, terutama di Kediri. Sementara itu panglima pelayan dalam yang datang langsung ke Kediri telah melihat pihak-pihak yang tentu tidak akan tinggal diam. Dengan tiba-tiba saja telah muncul seorang bekas panglima pada masa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung dan bernama Witantra. Tentu ia bukan orang kebanyakan. Dan tentu ia mempunyai pengaruh atas lingkungan tertentu. Dan ternyata Witantra itu berpihak kepada Mahisa Agni.”
“Apa artinya orang yang bernama Witantra itu?”
“Apakah Tuan Putri tidak pernah mendengar sesuatu tentang dirinya?”
“Tidak.”
“Apakah Tuan Putri lupa, bahwa hamba adalah orang yang banyak mengetahui semasa Akuwu Tunggul Ametung berkuasa, dan hamba mengetahui pula hubungan keluarga antara Tuan Putri dengan Witantra.”
Ken Umang tersentak mendengar jawaban Pranaraja itu. Namun kemudian ia memaksa dirinya untuk tetap tegak sambil berkata, “Baiklah jika kau memang mengetahuinya Pranaraja. Tetapi kita sama-sama orang yang sekarang mempunyai cela masing-masing. Kita di hadapan Mahisa Agni adalah orang-orang yang penuh dengan noda. Aku mendendamnya, dan kau telah berusaha melenyapkan kedua anak-anak itu.”
“Tetapi Tuan Putri, perintah untuk membunuh kedua anak-anak muda itu keluar dari Tuanku Tohjaya sendiri.”
“Semula ia tidak bermaksud demikian. Namun kaulah yang telah memaksanya atau setidak-tidaknya mempengaruhinya.”
Pranaraja menarik nafas.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar