*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 09-02*
Karya. : SH Mintardja
Dalam ketegangan yang memuncak itu, maka Lembu Ampal mencoba untuk mengambil langkah yang dapat mempengaruhi keadaan yang nampaknya tenang meskipun hanya dipermukaan saja.
“Aku akan memberikan kejutan pada para Panglima dan Senapati.“ berkata Lembu Ampal kepada Mahisa Agni ketika mereka sampat bertemu.
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Sekedar menarik perhatian. Agar memberikan kesan bahwa keadaan sekarang ini adalah keadaan yang diselubungi oleh kabut yang gelap.”
“Tetapi jangan mengorbankan nyawa seseorang dengan sia-sia. Baik kawan maupun lawan. Kita harus tetap menghargai sesama seperti kita menghargai diri kita sendiri. Hanya dalam keadaan tertentu saja kita dapat mengorbankan jiwa seseorang, apabila kita benar-benar tidak menemukan jalan lain.”
Lembu Ampal menganggukkan kepalanya. Katanya, “Aku akan selalu ingat pesan-pesan tuan. Tetapi aku pun menyadari, bahwa lebih mudah mengerti dari pada melakukannya.”
“Dan kau tentu tidak akan berkeberatan melakukan betapapun sulitnya.”
Lembu Ampal menganggukkan kepalanya.
Demikianlah Lembu Ampal mulai dengan usahanya untuk memberikan kejutan kepada Singasari, agar para pemimpin Singasari terbangun dari kesibukan mereka sendiri.
Tetapi yang dilakukan oleh Lembu Ampal sebenarnya juga suatu tantangan. Ternyata bahwa di Singasari masih ada orang yang dapat berpikir bening, bahwa pemerintahan yang dipegang Tohjaya sama sekali tidak akan menguntungkan Singasari dan sebenarnyalah bahwa ia tidak berhak sama sekali untuk tetap berada di atas tahta.
Yang menjadi sasaran Lembu Ampal adalah pendukung-pendukung Tohjaya. Meskipun Tohjaya bukannya orang yang berhak atas tahta, terapi pendukungnya menganggap bahwa kehadiran Tohjaya di atas tahta sangat menguntungkan mereka. Karena itulah maka mereka berusaha untuk tetap mempertahankannya.
Untuk mengurangi korban yang bakal jatuh, Lembu Ampal harus berusaha memisahkan mereka dari Tohjaya. Tetapi tentu tidak dapat dengan berterus terang kepada mereka. Karena mereka masih tetap banyak mengharapkan keuntungan dari Tohjaya itu.
Karena itu, untuk beberapa lamanya Lembu Ampal memperhatikan setiap orang yang dianggapnya berpihak kepada Tohjaya dengan setia. Terutama beberapa orang pasukan pe-ngawal yang oleh beberapa orang pemimpinnya disebut golongan Rajasa. Sedang golongan yang lain, adalah pasukan Pelayan Dalam yang sebagian terdiri dari orang-orang Sinelir.
Tetapi Lembu Ampal tidak segera mendapat kesempatan. Karena itu ia masih harus menunggu dengan sabar sambil bersembunyi agar mereka tidak lebih dahulu mempersiapkan diri untuk menangkapnya apabila ia dapat terlihat oleh prajurit yang manapun juga.
Sementara masih harus menunggu kesempatan. Lembu Ampal sengaja ingin menimbulkan sedikit keributan di kota Singasari, agar dengan demikian para prajurit dan rakyat Singasari menjadi saling mencurigai. Dengan demikian rencananya akan dapat berjalan sebaik-baiknya.
Demikianlah, maka pada suatu malam Singasari telah dikejutkan oleh api yang menjilat sampai kelangit. Tidak banyak orang yang mengetahui, bagaimana asal mulanya. Tetapi tiba-tiba saja kota Singasari telah dibakar oleh cahaya kemerah-merahan.
Ternyata api itu telah membakar sebuah rumah yang besar dan berhalaman luas. Rumah seorang Senapati yang sudah lama tidak nampak di istana, bahkan tidak dapat diketemukan di sudut-sudut kota Singasari. Rumah itu adalah rumah Lembu Ampal sendiri.
Setelah rumahnya dikosongkan dengan menyembunyikan penghuni-penghuni yang lain, maka Lembu Ampal telah mengorbankan rumahnya sendiri. Ia meletakkan beberapa batang tulang lembu di sudut-sudut rumahnya yang terbakar itu, sehingga bekas-bekasnya masih nampak. Tetapi ketika kemudian api padam, tidak seorang pun yang dapat membedakan, sisa-sisa tulang itu dengaa sisa-sisa tulang manusia.
Ternyata bahwa kebakaran itu telah menimbulkan kegemparan. Bukan saja penduduk di sekitarnya yang berusaha memadamkan api yang menjilat sampai kelangit itu, tetapi juga beberapa orang Senapati dan Panglima memerlukan datang, justru karena rumah itu adalah rumah Lembu Ampal, seorang Senapati yang telah hilang bersama hilangnya dua orang anak-anak muda dari lingkungan keluarga istana.
“Siapakah yang telah melakukannya?“ bertanya seorang Senapati kepada kawan-kawannya.
Tetapi yang lain hanya dapat menggelengkan kepalanya. Tidak seorang pun yang dapat mengatakannya.
“Apakah kebakaran ini disengaja atau karena kelalaian saja?“ desis yang lain.
Kawannya pun hanya dapat menggelengkan kepalanya, pula.
Namun mereka mencoba untuk mencari sebab dari kebakaran itu. Mereka mencoba meneliti bekas-bekas api. Tetapi mereka tidak menemukan sesuatu yang dapat mereka jadikan petunjuk. Yang mereka ketemukan hanyalah sisa-sisa alat-alat rumah tangga dan beberapa potong tulang yang telah hangus.
Kebakaran itu ternyata benar-benar telah menimbulkan kejutan bagi para pemimpin di Singasari. Mereka untuk beberapa hari diliputi oleh teka teki. Justru karena rumah Lembu Ampal yang terbakar, dan diketemukannya sisa-sisa tulang yang sudah hangus sama sekali.
“Apakah ada saling mendendam diantara para Senapati?“ pertanyaan itulah yang kemudian timbul, “Karena dendam itu tidak dapat ditumpahkan kepada Lembu Ampal, maka keluarganyalah yang menjadi korban Mereka terbakar hidup-hidup dirumah yang musna ditelan api itu.”
Seperti yang dimaksud Lembu Ampal, maka mulai timbullah kecurigaan diantara para Senapati. Apalagi mereka yang sejak semula dibayangi oleh kecemasan karena Mahisa Agni dan pengawalnya tetap berada diistana.
“Apakah Mahisa Agni yang telah melakukannya?“ bertanya salah seorang dari para Senapati.
“Ia tidak meninggalkan bangsalnya malam itu.“ sahut yang lain, “Jika ia yang merencanakannya, maka tentu ia telah meminjam tangan orang lain.”
“Tentu ada diantara kita yang berpendirian lain.”
Tetapi mereka tidak dapat menemukan, bahkan menduga pun mereka tidak berani, siapakah yang telah melakukannya. Namun demikian, rasa-rasanya mereka saling memandang yang satu dengan yang lain, seakan-akan ingin melihat dasar hati masing-masing apakah diantara mereka ada yang dilekati oleh sikap yang berbeda. Dalam pada itu, para pemimpin pemerintahan dan para panglima telah memerintahkan untuk menyelidiki kebakaran yang telah menelan habis rumah Lembu Ampal seisinya. Bahkan diantara abu yang berserakan diketemukan beberapa potong tulang yang telah hangus menjadi arang.
Diantara para pemimpin itu, Pranarajalah yang menjadi sangat gelisah. Ia tahu pasti, bahwa Lembu Ampal adalah seorang Senapati yang mendapat perintah untuk membunuh Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, namun yang hilang pula hampir bersamaan waktunya dengan kedua anak-anak muda yang hilang itu.
“Apakah Mahisa Agni mulai melakukan balas dendam.” bertanya Pranaraja di dalam hatinya. Tetapi itu pun ia masih dibingungkan oleh pertimbangan-pertimbangan lain. “Agaknya Mahisa Agni tahu pasti apa yang akan terjadi atas kedua anak-anak muda itu, sehingga ialah yang telah menyembunyikannya dan kemudian melepaskan dendamnya kepada Lembu Ampal.“ Bahkan kemudian Pranaraja berdesis dengan dada yang berdebar-debar.
“Bahkan mungkin Lembu Ampal sendiri telah dibunuhnya dan kemudian seluruh keluarganya pula.”
Pranaraja menjadi ngeri. Dengan jantung yang berdentang-dentang ia bertanya kepada diri sendiri. “Apakah akan datang saatnya Mahisa Agni melepaskan dendam kepada orang-orang lain yang tersangkut pada usaha pembunuhan kedua anak muda itu sehingga aku pun akan mendapat giliran?”
Pranaraja menjadi sangat gelisah. Tetapi ia masih belum menemukan jawaban yang pasti terhadap kekalutan keadaan. Namun demikian ia selalu berlindung dibalik pengawal yang sangat kuat. Beberapa orang Senapati terperecaya yang dapat dibujuknya selalu dekat padanya.
Bukan saja Pranaraja tetapi atas perintahnya pula, pengawalan terhadap Tohjaya pun diperketat pula, karena Pranaraja pun khawatir bahwa akan ada usaha balas dendam terhadap Tohjaya dengan cara yang curang.
Demikianlah, maka belum lagi peristiwa kebakaran rumah Lembu Ampal itu menjadi tenang, maka Singasari telah digemparkan oleh peristiwa yang lain. Peristiwa yang meskipun tidak menimbulkan kerusakan apapun juga, tetapi benar-benar telah mengguncangkan hati setiap orang yang melihatnya.
Pada malam itu, para peronda yang berjaga-jaga di depan gerbang istana telah melihat seekor kuda putih dengan penunggangnya yang berpakaian putih, berlari menyusur jalan kota. Sejenak para peronda itu bagaikan mematung. Rasa-rasanya mereka melihat seseorang yang pernah mendapat gelar Kesatria Putih. Tetapi Kesatria Putih itu sudah tidak ada lagi, karena Anusapati sudah terbunuh di arena sabung ayam.
Ternyata malam itu bukan saja para prajurit di pintu gerbang yang melihatnya, tetapi beberapa tempat yang lain pun agaknya dilalui pula Kesatria Putih itu.
Kehadiran Kesatria Putih yang tiba-tiba saja itu, ternyata tidak kalah menggemparkan dari rumah Lembu Ampal yang terbakar. Seakan-akan rakyat Singasari yang mulai merasakan kebekuan pemerintahan itu melihat Anusapati kembali diantara mereka. Anusapati yang telah hilang dari tahta pada saat ia sedang mulai dengan usaha yang besar bagi kesejahteraan Singasari.
Tetapi tidak seorang pun yang dapat menuduh, bahwa yang telah berbuat itu adalah Mahisa Agni. Pada malam itu Mahisa Agni yang merasa terlampau panas, duduk diantara para prajurit yang bertugas di depan bangsalnya. Bahkan beberapa orang pengawalnya duduk di serambi depan menghirup udara malam yang sejuk.
“Jika bukan Mahisa Agni, maka kita akan dapat dengan mudah menangkapnya.“ berkata salah seorang Senapati. “Orang yang berpakaian serba putih di atas kuda yang putih itu tentu sekedar ingin menumbuhkan pertentangan di hati rakyat Singasari.”
Agaknya pendapat itu disetujui oleh para Senapati yang lain, bahkan oleh para pemimpin pemerintahan. Ketika para Panglima kemudian mengadakan pembicaraan tentang orang berkuda itu, maka mereka memutuskan untuk menangkap orang itu hidup-hidup.
“Mungkin ada sangkut pautnya dengan kebakaran rumah Lembu Ampal itu.“ berkata salah seorang Panglima.
“Ya. Kita harus berusaha menangkapnya hidup.“ sahut yang lain. “Karena itu, lengkapi setiap penjagaan dengan beberapa orang prajurit berkuda, jika benar orang itu bukan Mahisa Agni, maka orang berpakaian putih itu tentu tidak akan terlampau sulit untuk ditangkap.”
Dengan demikian, maka jatuhlah perintah kepada setiap gardu penjagaan terpenting di Singasari untuk melengkapi dengan beberapa orang dari pasukan berkuda yang setiap saat siap untuk mengejar orang yang berpakaian putih di atas kuda putih itu.
Dan perintah selanjutnya berbunyi. “Tangkap orang itu hidup. Hanya jika keadaan memaksa kalian boleh membunuhnya.”
Dengan jatuhnya perintah itu, maka setiap prajurit yang meronda di malam hari menjadi semakin waspada. Setiap saat mereka dapat bertemu dengan orang yang mengenakan pakaian serba putih itu.
Karena hal itu dianggapnya penting, maka para Panglima pun memberitahukannya kepada Tohjaya. Tetapi ternyata Tohjaya justru menjadi sangat marah.
“Anusapati sudah mati. Aku sendiri yang membunuhnya.“ teriaknya.
“Bukan tuanku Anusapai.“ sahut salah seorang Panglima, “Karena itulah kami sedang mencoba menyelidikinya.”
Tohjaya memandang para Panglima itu dengan sorot mata yang seolah-olah langsung menusuk kepusat jantung. Dan sejenak kemudian ia berteriak pula. “Kalian sudah menjadi gila. Tidak ada orang mati yang dapat hidup kembali. Tidak ada lagi Kesatria Putih.”
“Tuanku.“ seorang Panglima mencoba menjelaskan dengan hati-hati, “Bukan maksud kami mengatakan bahwa tuanku Anusapati yang telah mati itu hidup kembali dan mulai lagi dengan pengembaraannya sebagai Kesatria Putih. Tetapi tentu ada orang lain yang mencoba untuk memancing kekeruhan. Apakah Tuanku dapat mengerti maksud kami.”
“Kalian terlalu bodoh untuk mengatasi persoalan yang paling mudah sekalipun. Jika kalian tahu, kenapa kalian melaporkannya kepadaku. Persoalan yang tidak berarti itu harus dapat kalian selesaikan sendiri. Jika semua persoalan diserahkan kepadaku, apakah artinya kalian semua? Apakah artinya aku mengangkat kalian menjadi Panglima?”
Para Panglima itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, Tohjaya benar-benar telah kehilangan dirinya sebagai seorang Maharaja dari Singasari yang besar.
Tetapi tidak seorang Panglima pun yang mengetahui latar belakang dari goncangan perasaan Tohjaya. Mereka tidak mengerti bahwa Tohjaya mencari keseimbangan dari kejutan yang telah membantingnya kedalam jurang yang paling dalam dengan sikapnya yang aneh. Ia ingin mengingkari ketakutannya melihat dirinya sendiri, melihat kehinaannya sendiri dengan tindakan- tindakan yang seolah-olah menunjukkan kebesaran, kekuasaan yang kelebihan-kelebihan yang lain.
Sementara itu, maka para Panglima itu pun kemudian mohon diri meninggalkan Tohjaya sendiri, seperti yang sering dilakukannya. Bahkan ibundanya pun menjadi sangat jarang berada di dalam bangsalnya.
Demikianlah selagi Singasari digoncang oleh keadaan yang hampir tidak dapat diduga-duga itu, Tohjaya masih acuh tidak acuh saja. Ia seakan-akan bersembunyi di dalam bangsal yang dikelilingi oleh kolam yang dalam, yang dibuat oleh Anusapati.
Para Panglima yang kecewa itu terpaksa melakukan kuwajiban atas keputusan mereka sendiri. Dan mereka pun harus mengambil sikap sendiri atas peristiwa-peristiwa yang akan dapat menjadi akibat dari tindakan mereka.
Betapapun para Panglima, para Senapati dan prajurit serta pemimpin pemerintahan mencoba menjabarkan diri, karena sikap Tohjaya, namun perlahan-lahan kekecewaan itu mulai tertimbun di dalam dada mereka. Hanya karena mereka merasa bahwa mereka adalah pendukung Tohjaya pada saat Tohjaya mengambil sikap yang berbahaya dengan membunuh Anusapati sajalah maka mereka tetap berusaha untuk memperbaiki keadaan yang rasanya menjadi semakin parah. Para Panglima, Senapati dan pemimpin pemerintahan itu tidak mau membiarkan Tohjaya runtuh karena perubahan yang terjadi atas dirinya,. Jika demikian, maka akan timbul kekuatan baru di dalam pimpinan pemerintahan Singasari. Jika pimpinan yang baru itu tidak sejalan dengan Tohjaya, maka mereka pun akan ikut serta menanggung akibatnya, karena mereka adalah pendukung-pendukung Tohjaya.
Itulah sebabnya, maka mereka harus menyelamatkan Tohjaya meskipun Tohjaya bagi mereka tidak lebih dari seorang yang sudah menjadi orang yang kehilangan pengamatan diri.
Demikianlah para prajurit di Singasari bersiaga sepenuhnya untuk menangkap orang yang berpakaian serba putih diatas kuda putih pula seperti yang pernah disaksikan pada masa Anusapati masih menjadi Pangeran Pati. Dan perintah yang harus mereka lakukan adalah menangkap orang itu hidup-hidup untuk diperas keterangannya tentang bermacam-macam hal yang mulai menyuramkan ketenangan Singasari.
Tetapi ternyata untuk beberapa malam, tidak seorang pun yang melihat kuda putih dengan penunggangnya yang berpakaian putih pula. Meskipun demikian, para prajurit sama sekali tidak lengah. Setiap saat kuda putih itu akan dapat muncul.
Ternyata seperti yang mereka duga, maka pada malam yang gelap, para peronda di ujung jalan kota melihat seekor kuda putih yang berderap di muka gerbang. Tetapi kuda itu tidak masuk ke dalam kota. Kuda itu hanya melintas dan kemudian menyusur jalan di luar gerbang dan menghilang di dalam gelap.
Namun kehadirannya itu telah membangunkan para penjaga yang memang sedang menunggu dengan terkantuk-kantuk. Beberapa orang prajurit berkuda segera bersiaga disamping kuda mereka. Namun kuda putih yang muncul dengan tiba-tiba dan menghilang itu tidak lewat di jalan itu lagi.
“Beritahukan kepada setiap gardu disegala penjuru.“ perintah pemimpin penjaga gerbang itu.
Dengan demikian, maka beberapa ekor kuda pun kemudian berderap di jalan-jalan kota. Mereka memencar kesegala penjuru kota. Kepada setiap prajurit di gardu-gardu peronda, penunggang kuda itu memberitahukan, bahwa mereka telah melihat kuda putih dengan penunggangnya yang serba putih.
Para prajurit berkuda diseluruh gardu peronda pun kemudian mempersiapkan diri dan kuda mereka. Setiap saat mereka harus meloncat kepunggung kuda masing-masing untuk mengejar orang yang mencoba menghidupkan kembali Kesatria Putih yang sudah tidak ada lagi itu.
Tetapi sampai lewat tengah malam, tidak seorang pun yang melihat kuda putih itu lagi. Meskipun demikian para prajurit masih tetap bersiaga sepenuhnya.
Namun para prajurit telah dikejutkan oleh suara tengara, yang mulai terdengar justru dari tengah-tengah kota Tengara yang sudah mereka sepakati bersama untuk memberikan tanda apabila ada diantara mereka yang melihat orang berpakaian putih diatas kuda putih.
Suara tengara itu pun segera menjalar dari gardu yang sampai ke gardu yang lain, sehingga dalam waktu yang pendek, seluruh kota telah terbangun oleh suara tengara yang merobek sepinya malam.
Tetapi sebelum para prajurit yang berada di regol menyadari sepenuhnya, apa yang harus mereka lakukan menghadapi orang yang hampir serupa dengan Kesatria Putih itu, maka para prajurit itu terkejut bukan buatan. Tiba-tiba saja seperti loncatan lidah api dilangit, seekor kuda putih berderap dengan lajunya. Dua orang yang meloncat ketengah jalan sambil menyilangkan tombak mereka, terpaksa meloncat kembali menepi, karena kuda itu berlari justru semakin kencang.
Namun pasukan berkuda yang sudah siap itu tidak membiarkan orang yang memang mereka tunggu-tunggu itu lewat begitu saja. Apalagi mereka pun sebenarnya memang sudah siap menghadapi kemungkinan itu. Karena itu, maka beberapa orang diantara mereka pun segera berloncatan ke atas punggung kuda dan berderap dengan lajunya menyusul orang yang berpakaian serba putih di atas kuda putih itu.
Di dalam malam yang kelam, lima orang dari pasukan berkuda telah mengejar seorang yang melarikan kudanya di tengah-tengah bulak yang panjang sekali. Suara kaki-kaki kuda itu gemeretak memecah sepinya malam.
Ternyata bukan hanya lima orang prajurit itu saja yang mengejar orang yang berpakaian putih itu. Tetapi beberapa orang yang lain dari gardu yang lain pun segera menyusul pula. Meskipun mereka tidak dapat melihat lagi orang yang mereka kejar, namun mereka dapat menyusuri jejak kaki-kaki kuda yang sedang berkejaran itu.
Dalam pada itu, orang yang berpakaian putih itu pun melarikan kudanya dengan sekencang-kencangnya. Agaknya baik orang yang berpakaian putih maupun kuda putih yang dinaikinya sudah mengenal jalan itu dengan baik, sehingga kuda itu dapat berlari seperti angin.
Tetapi prajurit berkuda itu pun telah mengenal jalan itu dengan sebaik-baiknya pula. Kuda-kuda mereka pun tidak kalah tegarnya dengan kuda putih yang dikejarnya. Sehingga karena itu, maka kuda putih itu tidak berhasil memperpanjang jarak diantara mereka yang sedang saling berkejaran itu.
Bahkan kemudian ternyata, bahwa prajurit berkuda itu berhasil memperpendek jarak diantara mereka. Dengan geram, prajurit-prajurit itu sekali-sekali melecut kudanya yang rasa-rasanya berlari terlalu lambat.
Orang berpakaian putih itu tidak dapat mempercepat lari kudanya, la terpaksa menerima kenyataan, bahwa kuda para prajurit yang memang dipilih dari puluhan kuda yang tegar dan kuat itu, ternyata berlari lebih cepat dari kudanya.
“Berhenti.“ seorang prajurit yang berlari dipaling depan kemudian berteriak sekuatnya ketika jarak mereka tidak terlampau jauh.
Tetapi orang berpakaian putih itu sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan ia berusaha mempercepat lari kudanya. Tetapi ia tidak berhasil.
Lima orang prajurit berkuda itu menjadi semakin dekat Mereka sudah hampir pasti, bahwa mereka akan dapat menangkap orang berpakaian putih itu.
“Asal bukan tuanku Mahisa Agni.“ berkata para prajurit itu di dalam hatinya, “Jika orang itu tuanku Mahisa Agni, maka satu atau dua orang dari antara kami harus segera kembali melaporkan kepada para Panglima, agar mereka dapat segera mengambil tindakan.”
Para prajurit itu pun menjadi semakin dekat. Sekali lagi yang berpacu paling depan berteriak pula “Berhenti. Kami akan berbicara jika kau berhenti.”
Tetapi kuda putih itu berlari terus meskipun jaraknya justru menjadi semakin pendek.
“Ki Sanak.“ teriak prajurit berkuda itu, “Berhentilah. Kau belum berbuat apa-apa, sehingga karena itu kau belum dapat dinyatakan bersalah. Karena itu berhentilah dan kita akan berbicara.”
Agaknya teriakan itu didengar oleh orang berpakaian putih diatas kuda putih itu. Ternyata ia beiteriak. “Apakah jiminanmu?”
“Kami berjanji tidak akan berbuat apa. Kami hanya ingin mendapatkan keterangan saja.”
Orang berkuda putih itu tidak menjawab. Namun kudanya yang sudah diperlambat sedikit itu, tiba-tiba telah dilecutnya sehingga kuda itu bagaikan meloncat terbang di dalam gelapnya malam.
“Gila.“ geram para prajurit itu. Namun kuda mereka adalah tetap kuda yang lebih baik, sehingga jarak itu pun benar-benar telah menjadi semakin pendek.
Beberapa ekor kuda yang berkejaran itu masih menyusuri bulak yang sangat panjang. Tetapi sebentar lagi mereka akan memasuki sebuah padukuhan yang kecil. Padukuhan yang tidak begitu banyak dihuni orang meskipun dikelilingi oleh sebuah bulak yang subur.
“Jangan sampai kuda putih itu mencapai padukuhan dihadapan kita.“ geram prajurit berkuda dipaling depan, “Agar ia tidak mendapat kesempatan untuk melarikan diri de-ngan melepaskan kudanya dan bersembunyi.”
Prajurit-prajurit berkuda yang lain pun mempunyai pendapat yang sama pula. Sebaiknya mereka mencegah kuda putih itu memasuki padukuhan dihadapan mereka. Namun salah seorang mereka berdesis kepada diri sendiri. “Tetapi kuda putih itu mempunyai kaki seperti kudaku ini. Dan penunggangnya tentu mempunyai pendirian yang berlawanan.”
Karena itu, kuda-kuda ku masih tetap berkejaran. Rasa-rasanya para prajurit itu ingin terbang mengejar kuda putih itu sebelum mencapai padukuhan.
Tetapi mereka ternyata tidak berhasil. Kuda putih itu seakan-akan mampu berlari lebih cepat. Sehingga karena itu, maka prajurit dipaling depan mengumpat, “Gila. Berhenti, atau kami akan membunuhmu.”
Tidak ada jawaban. Namun kuda putih itu bagaikan hilang ditelan oleh mulut lorong yang gelap di hadapan mereka.
Tetapi jarak antara kuda perajurit yang mengejarnya itu sudah tidak begitu jauh lagi. Agaknya tidak ada kesempatan bagi orang berkuda putih itu untuk meloncat turun dan ber-lari bersembunyi di padukuhan kecil itu.
Karena itu maka para prajurit itu memacu kudanya semakin cepat.
Namun di dalam padukuhan, gelap malam rasa-rasanya semakin mencekam. Itulah sebabnya, maka kuda-kuda itu tidak dapat berlari terlampau cepat, agar kakinya tidak terantuk dinding batu di sebelah menyebelah jalan. Tikungan yang tajam di dalam padukuhan itu kadang-kadang terasa sangat mengganggu, sehingga kadang-kadang kuda mereka harus berlari sangat lamban.
Tetapi padukuhan itu memang tidak begitu besar. Sebentar lagi mereka akan segera lewat dan kuda putih itu harus muncul di bulak panjang di seberang padukuhan kecil itu.
Kuda putih itu memang tidak dapat ingkar. Sejenak kemudian maka seekor kuda putih berlari keluar dari padukuhan itu dengan penunggangnya yang berpakaian serba putih.
Tetapi darah para prajurit yang mengejarnya itu bagaikan berhenti mengalir Ketika mereka telah muncul dari lorong gelap di padukuhan itu, maka mereka melihat dihadapan mereka, bukan hanya seekor kuda putih berlari kencang sekali, tetapi kini ada dua ekor kuda putih yang berlari berurutan di hadapan mereka.
“He.“ geram prajurit di paling depan, “Apakah mataku sudah kabur?”
“Apakah yang kau lihat?“ bertanya prajurit yang berpacu di belakangnya.
“Dua ekor kuda putih.”
“Ya. Aku juga melihat dua ekor kuda putih.”
“Apakah kita sedang mengejar hantu?”
Tidak ada jawaban. Tetapi prajurit-prajurit itu bukannya menjadi takut. Bahkan mereka sempat menilai keadaan yang sedang mereka hadapi.
Untuk meyakinkan kawan-kawannya prajurit yang ada di paling depan sempat berteriak, “Jangan bermain-main seperti kanak-anak. Aku tahu bahwa semuanya ternyata telah kalian rencanakan sebaik-baiknya. Orang berkuda pulih yang pertama sengaja me-mancing kami kepadukuhan kecil ini sedang yang lain telah siap lebih dahulu. Demikian kawanmu masuk maka kalian berdua segera berpacu beriringan.”
Tidak ada jawaban. Terapi kedua kuda putih di hadapan para prajurit itu berpacu semakin kencang.
“Cegah mereka, jangan sampai memasuki padukuhan berikutnya.“ berkata prajurit yang paling depan. “Mungkin seorang kawannya telah siap menunggu di sana dengan kuda dan pakaian yang serupa.”
Demikianlah maka para prajurit benar-benar berusaha untuk menyusul kedua orang berkuda putih dihadapan mereka.
Agaknya kedua orang berkuda putih itu pun menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat lagi melepaskan diri dari para prajurit itu. Kuda putih itu tidak setegar kuda pengejarnya.
Akhrinya orang-orang yang berkuda putih itu mengambil sikap yang lain. Mereka tidak akan berlari terus, karena bagi mereka sudah tidak akan ada gunanya lagi. Mereka akhirnya tentu akan dapat disusul oleh pengejarnya.
Karena itu, maka ketika mereka sampai disimpang tiga di tengah-tengah bulak, terdengar orang berkuda putih yang di depan memberikan isyarat. Dengan isyarat itu, maka penunggang kuda yang dibelakang tidak lagi mengikuti derap kuda-kuda putih di hadapannya.
Kedua kuda putih itu pun berpisah di simpang tiga. Yang seekor berbelok kekiri dan yang lain berbelok kekanan. Namun mereka tidak untuk selanjutnya berusaha melarikan diri. Kedua penunggangnya segera menarik kekang kuda mereka, sehingga keduanya segera berputar menghadapi pengejarnya.
Disimpang tiga kelima orang prajurit yang sedang mengejar itu pun termangu-termangu. Namun seorang yang pemimpin mereka segera memberikan isyarat. Dua diantara mereka harus berbelok kekiri dan tiga yang lain kekanan.
Benturan senjata pun kemudian tidak dapat dihindari lagi. Kelima orang prajurit yang mengejar itu pun segera menyerang. Meskipun mereka tidak ingin membunuh seperti yang diperintahkan kepada mereka, namun karena kedua orang berpakaian putih di atas kuda putih itu agaknya siap untuk melawan maka mereka pun siap mempergunakan senjata pula.
Sambil bertempur, salah seorang prajurit itu berkata, “Kalian tidak akan dapat menghindar lagi. Sejenak lagi akan datang beberapa orang prajurit berkuda menyusul kami. Kami akan menangkap kalian dan memperlakukannya dengan baik jika kalian menyerah.”
Kedua orang berpakaian putih di atas kuda itu sama sekali tidak menjawab. Mereka masih tetap bertahan. Keduanya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menyerah.
Demikianlah ketika pertempuran itu sedang berlangsung, maka beberapa orang prajurit yang lain sedang berada di perjalanan untuk menyusul kawannya yang sudah terlebih dahulu berpacu memburu orang berkuda putih itu.
Namun sebagian dari para prajurit dengan tergesa-gesa masuk kehalaman istana, dan langsung pergi ke bangsal Mahisa Agni. Mereka ingin membuktikan apakah yang sedang berpacu di atas kuda putih dan berlari dikejar oleh para prajurit itu orang lain atau Mahisa Agni sendiri. Jika Mahisa Agni tidak berada dibanggailnya, dan sedang memancing beberapa orang prajurit berkuda keluar kota maka prajurit-prajurit yang sedang mengejarnya itu tentu tidak akan pernah kembali.
Seorang Senapati yang memimpin prajurit-prajurit yang masuk kehalaman istana dan langsung pergi kebangsal Mahisa Agni itu pun telah siap dengan rencana yang apabila terpaksa akan mereka lakukan.
“Jika Mahisa Agni sendiri yang berada di atas kuda putih itu, maka kita akan menangkap tuan puteri Ken Dedes. Kita akan membawanya dan memaksa Mahisa Agni menyerah.“ berkata Senapati itu.
Namun seorang prajurit yang sudah agak lanjut usia mengerutkan keningnya sambil berkata, “Bukankah tuanku Ken Dedes sudah menjadi semakin tua dan sakitkan. Umurnya tentu sudah tidak akan terlalu panjang lagi. Adalah kurang bijaksana jika melibatkan orang yang sedang sakit dan sudah terlalu lemah di dalam hal ini.”
“Aku tidak peduli. Tetapi Singasari harus diselamatkan. Jika Mahisa Agni mencoba untuk memaksakan kehendaknya dengan cara yang gila kenapa kita tidak berbuat seperti itu juga.”
“Tetapi orang berkuda putih itu berbuat dengan jantan. Maksudku, ia dengan berani menengadahkan dadanya untuk melawan para prajurit.”
“Persetan.“ bentak Senapati itu.
Prajurit itu tidak berani membantah lagi. la adalah seorang prajurit yang hanya dapat tunduk kepada perintah pimpinannya.
Demikianlah dengan dada yang berdebar-debar. Senapati itu pergi langsung kepintu depan. Kepada para penjaga ia menanyakan apakah mereka melihat Mahisa Agni dalam hubungannya dengan orang berkuda putih itu.
“Pintu itu tertutup sejak senja mulai gelap.“ jawab para penjaga.
Senapati itu menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia harus meyakini, apakah Mahisa Agni ada atau tidak di dalam bangsalnya.
Perlahan-lahan ia mengetuk pintu bangsal itu. Ketika seseorang menyahut, maka Senapati itu menjadi semakin berdebar-debar.
Ketika pintu itu terbuka, ternyata yang berdiri di muka pintu bukan Mahisa Agni. Tetapi seorang pengawalnya yang masih saja mengalungkan secarik kain putih dilehernya.
“Apakah tuanku Mahisa Agni ada?“ bertanya Senapati itu.
“Kenapa dengan tuanku Mahisa Agni.“ bertanya orang yang membuka pintu itu.
“Ada pesan yang harus aku sampaikan.”
“Baru saja tuanku Mahisa Agni dapat tidur. Aku tidak berani membangunkannya.”
Senapati itu menjadi semakin berdebar-debar. la sudah mulai berangan-angan. Jika Mahisa Agni benar-benar berkuda putih dan berpacu keluar kota maka pasti sudah mulai terjadi pembunuhan yang mengerikan. Seorang demi seorang prajurit yang mengejarnya akan terlempar dari kuda dan untuk selamanya tidak akan terbangun lagi.
“Tetapi.“ berkata Senapati itu seterusnya, “Aku perlu sekali bertemu. Aku mendapat pesan langsung dari tuanku Tohjaya. Aku harus menyampaikannya sekarang.”
Orang yang berkain putih dilehernya itu termangu-mangu sejenak, lalu, “Tetapi aku tidak berani membangunkannya. Semalam suntuk tuanku Mahisa Agni tidak dapat tidur. Baru menjelang dini hari, ia dapat memejamkan matanya.”
“Tetapi aku membawa pesan Maharaja Singasari.”
Ketika Senapati itu melihat orang berkain putih dilehernya itu masih belum beranjak, ia menjadi semakin cemas. Tetapi ia masih belum pasti, sehingga katanya, “Ki Sanak. Jika kau tidak berani membangunkan, biarlah aku yang membangunkannya.”
Orang itu nampak ragu-ragu. Tetapi ia pun kemudian berkata, “Apakah ada bedanya? Jika kau yang membangunkannya, ia pun pasti merasa terganggu.”
“Tetapi aku mengemban perintah.“ jawab Senapati yang mulia kehilangan kesabarannya itu.
Sementara orang yang berdiri di muka pintu dengan kain putih di lehernya itu masih ragu-ragu, terdengarlah suara dari dalam. “Siapakah orang itu?”
Tiba-tiba Senapati yang berdiri diluar pintu itu menarik nafas dalam-dalam. Di dalam keremangan cahaya lampu minyak di dalam bangsa itu, ia melihat Mahisa Agni yang agaknya memang terbangun dari tidurnya yang nyenyak.
“Apakah pesan itu?“ bertanya Mahisa Agni, “Dan siapakah kau?”
Senapati itu memandang Mahisa Agni dengan saksama, seolah-olah ia ingin meyakinkan bahwa yang dilihatnya itu benar-benar Mahisa Agni.
“He, siapakah kau?“ Mahisa Agni mengulangi.
“Aku adalah Senapati yang sedang bertugas atas pengamanan kota pada malam ini.“ berkata Senapati itu.
“Apa maksudmu mencari aku?”
Senapati itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Tuan. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Karena tuan mengetahui dengan pasti rentang Kesatria Putih pada masa Tuanku Anusapati masih menjadi Pangeran Pati, maka apakah tuan tidak berkeberatan jika aku bercerita tentang orang yang mirip dengan Kesatria Putih itu pada saat ini.”
“O.“ Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Ceriterakan dan kemudian sebut, apakah yang kau tanyakan kepadaku itu.”
Senapati itu pun kemudian menceriterakan penglihatan beberapa orang prajurit tentang Kesatria Putih yang sudah pasti bukan tuanku Anusapati yang sudah meninggal itu.
“Apakah taun dapat menduga, siapakah yang kini menyamarkan diri menjadi Kesatria Putih itu dan apakah maksudnya? Apakah hal ini ada hubungannya dengan hilangnya tuanku Ranggawuni dan Mahisa Cempaka beberapa waktu yang lalu dan kemudian kerusuhan yang timbul akhir-akhir ini?”
Mahisa Agni merenung sejenak. Namun kemudian ia pun menggeleng sambil berkata, “Sayang. Aku belum dapat mengatakan sesuatu tentang hal itu. Aku harus sempat melihatnya dahulu. Apakah orang yang berpakaian serba putih itu kini ada di dalam kota?”
“Tidak tuan.“ jawab Senapati itu, yang kemudian menceriterakan tentang orang berkuda putih yang berpacu menembus para penjaga di regol dan seperti angin menuju keluar kota.
“Aku tidak mengetahuinya. Apakah aku perlu mengejarnya dan mencarinya?“ bertanya Mahisa Agni.
“Tidak tuan. Bukan maksud kami. Kecuali jika para prajurit dan Senapati sudah tidak sanggup lagi menangkap, maka segala sesuatu akan kami serahkan kembali kepada tuan dan tuanku Tohjaya. Namun selama masih ada kemungkinan para prajurit dan Senapati melakukannya, maka biarlah kami akan melakukannya.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Beritaukan kepadaku jika kalian memerlukan aku.”
Senapati itu pun kemudian minta diri. Ditinggalkannya bangsal itu dengan dada yang berdebar-debar.
“Sudah pasti bukan Mahisa Agni.“ desis Senapati itu, “Dengan demikian maka orang berkuda putih itu pasti akan dapat ditangkap. Ia akan dapat diperas untuk memberikan banyak keterangan tentang keadaan terakhir.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk mengiakan, jika orang berkuda putih itu bukan Mahisa Agni, maka ia tidak akan dapat melepaskan diri dari tangan prajurit-prajurit berkuda yang terpilih, yang sudah dipersiapkan untuk menangkapnya.
Namun dalam pada itu, prajurit berkuda yang sudah berhadapan dengan orang yang berpakaian serba putih itu ternyata mendapat kesan yang lain. Orang berkuda putih itu tidak segera dapat ditundukkannya. Bahkan perlawanannya semakin lama menjadi semakin gigih.
“Gila.“ teriak pemimpin kelompok kecil prajurit berkuda yang sedang bertempur melawan dua orang berkuda putih yang berada di jalan yang berlainan arah di simpang tiga, “Agaknya kalian benar-benar ingin mati.”
Tidak seorang pun dari kedua orang berkuda putih itu yang menjawab. Tetapi mereka tetap bertempur melawan prajurit yang akan menangkapnya.
“Cepat.“ teriak pemimpin prajurit itu, “Jika kami kehilangan kesabaran, maka kalian akan kami cincang di simpang tiga ini. Tubuh kalian yang tersayat-sayat akan menjadi tontonan orang yang sebentar lagi akan lewat di jalan ini setelah fajar agaknya sudah mulai nampak memerah.”
Tiba-tiba saja salah seorang berkuda putih itu berkata, “Jangan mengigau. Kalian tidak akan dapat menangkap kami. Kami adalah Kesatria Pulih, penjelmaan dari tuntutan kebenaran dari Kesatria Putih yang pernah kalian saksikan beberapa saat yang lalu.”
“Omong kosong. Menyerahlah, atau mati. Kalian jangan menganggap kami anak-anak yang takut melihat mayat yang hidup kembali. Karena itu apa pun yang kau katakan tentang Kesatria Putih itu sebenarnyalah tidak ada hubungan apa pun dengan kalian, kecuali suatu usaha yang gagal untuk mempengaruhi kami dengan mempergunakan nama seseorang yang telah tidak ada lagi di Singasari, bahkan di dunia ini.”
“Kami akan membuktikan.“ sahut salah seorang yang berpakaian putih itu.
“Jika kalian berkeras, apa boleh buat jika kalian terpaksa mati di peperangan ini dan tubuh kalian akan aku seret di belakang kaki kuda kami sebagai pengewan-ewan di Singasari.”
“Manapun yang akan kau lakukan sama sekali tidak menarik. Dicincang di simpang tiga ini untuk menjadi tontonan orang-orang lewat, atau diseret di belakang kaki kuda untuk menjadi pengewan-ewan di kota, sama-sama tidak kami ingini. Kami adalah Ke-satria Putih yang akan menuntut kematian Kesatria Putih yang pernah menyelamatkan Singasari dari kejahatan.”
“Persetan.“ pemimpin prajurit berkuda itu menggeram.
Sejenak kemudian, maka pertempuran itu pun menjadi semakin seru. Prajurit-prajurit berkuda itu menjadi semakin garang. Bahkan mereka hampir melupakan perintah untuk apabila mungkin menangkap Kesatria Putih itu hidup-hidup.
Namun agaknya kedua orang berpakaian putih itu benar-benar mampu menjaga dirinya. Kelima orang prajurit berkuda yang pilihan itu tidak banyak dapat berbuat sesuatu atas mereka. Serangan-angan prajurit berkuda itu tidak pernah berhasil menyentuh lawannya.
Karena itulah maka kelima orang prajurit berkuda itu menjadi semakin lama semakin marah. Rasa-rasanya kedua orang berpakaian putih diatas kuda putih itu dengan sengaja mempermainkan mereka. Meskipun jalan tidak begitu luas tetapi mereka berhasil hilir mudik diantara lawannya. Demikian tinggi kemampuan mereka bermain pedang, sehingga mereka bagaikan dengan mudahnya mampu menyusup diantara pedang lawan-lawannya.
Dalam pada itu, beberapa orang prajurit berkuda yang menyusul di belakang mereka, semakin lama menjadi semakin dekat pula. Mereka dengan mudah dapat mengenali jejak prajurit yang mendahuluinya. Meskipun demikian, mereka tidak dapat berpacu secepat kuda yang saling mengejar di jalan itu pula, beberapa saat yang lampau, dan yang kemudian berhenti dan bertempur dengan sengitnya.
Tetapi jalan lurus terbentang di hadapan mereka. Tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh sebelum mereka mencapai simpang tiga di seberang sebuah padukuhan kecil.
Dengan demikian kuda para prajurit yang menyusul itu pun dapat berpacu lebih cepat. Mereka menyusup sebuah padukuhan kecil dan kemudian muncul lagi disebuah bulak panjang.
Malam semakin lama menjadi semakin menipis. Cahaya yang kemerah-merahan menyala di langit sebelah timur, sehingga, bulak itu pun rasanya menjadi semakin terang pula.
Karena itulah maka dari kejauhan mereka sudah dapat melihat bayangan yang remang-remang bergerak-gerak di dalam kelamnya pagi seperti bayangan yang bergerak-gerak di atas layar yang kehitaman.
“Itulah mereka.“ desis pemimpin kelompok itu, “Agaknya mereka sedang bertempur di tengah- tengah bulak.“
“Ya, Marilah. Kita harus menangkap mereka.”
Demikianlah maka prajurit berkuda itu berpacu semakin cepat. Debu yang putih terhambur di belakang kaki kuda mereka. Sementara warna langit semakin lama menjadi semakin merah.
Dalam pada itu kedua orang berpakaian putih diatas kuda putih itu pun semakin lama semakin garang. Ia melihat warna langit yang semakin merah. Karena itu maka mereka pun menyadari, bahwa waktu mereka akan menjadi semakin sempit.
Apalagi ketika mereka sempat melihat di dalam samar-samar, beberapa orang berkuda mendekati arena pertempuran itu, maka mereka pun menyadari, bahwa mereka tidak akan dapat bermain-main lebih lama lagi.
Namun dalam pada itu, para prajurit berkuda yang berusaha menangkap kedua orang itu pun merasa bahwa mereka akan segera dapat menyelesaikan tugas mereka apabila kawan-kawan mereka itu telah terjun pula di dalam pertempuran. Karena itu, mereka berusaha agar kedua orang tidak dapat lepas dari ikatan pertempuran. Bahkan pemimpin kelompok prajurit berkuda yang sudah bertempur itu berkata, “Nah, apakah kalian berdua masih dapat menyombongkan diri?”
Salah seorang dari kedua orang berkuda putih itu menyahut, “Kami tidak pernah menyombongkan diri kami.”
“Kenapa kalian tidak menyerah?”
“Itu bukan suatu kesombongan. Boleh saja kau sebut sebagai suatu bentuk ketakutan, karena sebenarnya kami takut dicincang atau diseret dibelakang kudamu.”
“Persetan.“ pemimpin kelompok itu menggeram.
Namun kedua orang berkuda putih itu semakin menyadari bahwa waktu memang sudah terlampau sempit. Karena lagi maka salah seorang dari keduanya berkata, “Sebentar lagi matahari akan terbit. Kami adalah penghuni daerah malam hari. Karena itu, kami harus segera menyingkir bersama turunnya pagi.”
“Kalian tidak akan dapat lepas dari tangan kami.“ Tidak ada jawaban. Tetapi salah seorang dari kedua orang berkuda putih itu tiba-tiba mengangkat pedangnya dan diputar-nya beberapa kali.
Setiap orang yang melihatnya, menyadari, bahwa itu tentu suatu isyarat. Karena itu, maka mereka pun menjadi semakin berhati-hati dan bertempur semakin sengit. Apalagi sementara itu kawan-kawan mereka telah menjadi semakin dekat.
Tetapi adalah diluar dugaan mereka, ketika tiba-tiba saja kedua orang berpakaian putih itu bagaikan menyerbu langsung ke tengah-tengah mereka. Begitu cepatnya sehingga hampir diluar kemampuan gerak mereka.
Yang terjadi kemudian benar-benar telah menggetarkan dada para prajurit berkuda yang pilihan itu.
Dalam gerakan yang tidak terduga-duga tiba-tiba saja pedang kedua orang berkuda putih itu bagaikan kilat yang menyambar dilangit. Tiba-tiba saja terdengar senjata mereka berdentangan. Bukan benturan yang menimbulkan buga api. Tetapi senjata para prajurit berkuda itu tiba-tiba saja terlepas satu demi satu. Setiap kali terdengar senjata gemerincing, maka sebilah pedang telah terlempar dan jatuh di tanah.
“Gila.“ teriak pemimpin kelompok prajurit berkuda itu. Tetapi ia tidak sempat meneruskan kata-katanya karena terasa pundaknya disengat oleh perasaan sakit, dan tanpa dapat bertambahan lagi ia terlempar dari, ia telah terlempar dari punggung kudanya.
Keempat kawannya benar-benar terkejut mengalami peristiwa itu. Mereka bahkan bagaikan dicengkam oleh kebingunan sehingga untuk beberapa saat mereka justru diam mematung.....
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar