Kamis, 07 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 040-04

*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 040-04*

“Aku tidak mau,“ bentak orang itu tanpa bangkit dari pembaringannya.

“Jangan membuat kami marah,“ geram Mahisa Murti.

“Aku tidak peduli,“ jawab orang itu.

Mahisa Pukat menggeram. Ia tidak telaten melihat sikap orang itu. Tiba-tiba saja telah menyengat lawannya dengan ilmunya, sekedar untuk menyakitinya.

“Setan,“ geram orang itu. “bunuh jika kau ingin membunuh.”

“Hanya ada dua pilihan,“ berkata Mahisa Pukat, “kau ikut kami, atau kau akan dihukum picis di halaman depan padepokan ini. Kau tahu, betapa bencinya orang-orang yang pernah menjadi pengikutmu itu kepadamu. Mereka merasa telah kau tipu, bahkan kau jebak dalam kesulitan.”

“Omong kosong,“ geram orang itu.

“Kau kira aku hanya dapat menakut-nakutimu,“ bentak Mahisa Pukat.

“Tidak ada tali yang dapat mengikat aku untuk menjalani hukum picis,“ berkata orang itu.

“Jangan kau kira kami terlalu dungu. Kami mempunyai jangat rangkap tiga. Tidak seorang pun dengan ilmu apa pun yang dapat memutuskannya,“ berkata Mahisa Pukat.

“Coba, ikatkan janget tinatelon itu. Aku sanggup memutuskannya,” jawab orang itu.

“Baik,“ berkata Mahisa Pukat, “jika demikian, separo dari kekuatanmu harus dihisap lebih dahulu.”

Wajah orang itu tiba-tiba menjadi pucat. Ketika Mahisa Pukat bergeser mendekat orang itu berdesis, “Jangan.”

“Kau menjadi ketakutan. Kau akan dihukum picis selagi kau tidak berada di puncak kekuatan ilmumu,“ berkata Mahisa Pukat.

Orang itu memandang Mahisa Pukat dengan penuh kebencian. Tetapi terbayang juga kecemasan di hatinya. Karena itu, yang terjadi adalah campur baurnya perasaan di dalam dadanya.

Namun Mahisa Pukat tidak telaten. Dicengkamnya pundak orang itu. Tidak dengan kemampuannya menghisap kekuatan lawan. Tetapi justru mengerahkan tenaga cadangannya, hingga cengkamannya itu terasa sakit.

“Jangan main-main dengan apimu,“ bentak Mahisa Pukat, “jika aku kehilangan kesabaran, aku benar-benar akan menghisap tenagamu dan membunuhmu dengan hukum picis. Sesudah itu aku bebas dari gangguanmu, meskipun aku harus menunggumu mati dalam tiga atau ampat hari.”

“Setan,“ geram orang itu.

“Pilih. Pergi bersama kami atau mati,“ bertanya Mahisa Pukat.

Orang itu tidak mempunyai pilihan. Ia ngeri juga menghadapi Mahisa Pukat yang nampaknya sikapnya lebih keras dari Mahisa Murti. Karena itu, maka ia tidak dapat berbuat lain kecuali ikut bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menuju ke Lemah Warah.

Para pengikutnya yang tinggal ternyata tidak merasa kehilangan lagi, kesetiaan mereka telah surut setelah mereka berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan di padepokan itu. Karena itu ketika mereka melihat orang yang pernah menjadi pemimpin perguruannya itu dibawa pergi, mereka tidak berkeberatan sama sekali.

Justru bekas pemimpin perguruan itu, yang melihat orang-orangnya memandanginya dengan acuh tak acuh, terdengar ia mengumpat kasar.

Tetapi Mahisa Pukat berkata, “Kau harus menerima kenyataan itu. Lihat, orang-orangmu kini hatinya sudah terbuka.”

“Kalian telah menenung mereka dengan ilmu iblis,“ geram orang itu.

“Dalam keadaan putus asa, apapun dapat saja kau katakan,“ sahut Mahisa Pukat, “tetapi ingat, bahwa kesabaran seseorang itu terbatas. Jika di perjalanan aku kehabisan kesabaran itu, maka aku akan menggantungimu dengan batu dan menenggelamkanmu ke dalam kedung setelah sebagian kemampuanmu aku hisap lebih dahulu. Dengan kemampuanmu yang tersisa kau tidak akan segera mati, karena secara naluriah kau akan berusaha menyelamatkan diri.”

“Kau memang iblis,“ orang itu masih mengumpat.

Mahisa Pukat hampir saja kehilangan kesabaran. Namun Mahisa Murti kemudian berkata, “Biarlah ia menikmati kenyataan tentang para pengikutnya yang terbuka hatinya. Biarlah ia kemudian melihat, betapa dunia ini tidak selalu dihuni oleh orang-orang berhati kelam seperti dirinya sendiri. Karena itu kita tidak akan segera membunuhnya, kecuali jika terpaksa.”

Jantung orang itu terasa bagaikan meledak. Tetapi ia memang tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia berada di bawah kekuasaan kedua anak muda itu.

Demikianlah, maka betapapun segannya, orang itu berjalan meninggalkan padepokan yang diinginkannya itu menuju ke Lemah Warah. Memang satu perjalanan yang panjang dan berat bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang harus mengawasi tawanannya di sepanjang perjalanan. Apalagi mereka memang harus bermalam. Di malam hari, dapat terjadi banyak kemungkinan.

Karena itu, ketika mereka terpaksa beristirahat di sebuah gumuk kecil, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membagi tugas.

Namun orang itu masih sempat juga membakar hati Mahisa Pukat, “Jaga aku baik-baik he. Usir jika ada nyamuk yang menggigit kulitku.”

Mahisa Pukat yang telah menyimpan kemarahan di hatinya, tidak lagi dapat mengendalikan dirinya. Tiba-tiba tangannya yang kuat didorong oleh tenaga cadangannya telah terayun dan memukul mulut orang itu.

Sebenarnyalah bahwa orang itu pun telah menduga. Karena itu, ia telah meningkatkan daya tahan tubuhnya. Meskipun demikian ternyata sebagaimana terjadi, orang itu telah menyeringai menahan sakit. Tenaga cadangan Mahisa Pukat yang dikerahkannya karena kemarahannya, benar-benar telah memecahkan bibir orang itu, sehingga berdarah.

Orang itu mengumpat sejadi-jadinya. Namun Mahisa Pukat telah menantangnya, “Balas kalau mau membalas.”

Tetapi orang itu tidak membalas. Ia sadar, jika ia membalas maka ia akan mengalami keadaan yang lebih buruk lagi.

Namun demikian ia sama sekali tidak menunjukkan perasaan cemasnya. Ia tahankan gejolak di dadanya bahkan sempat menengadahkan kepalanya sambil berkata, “Bunuh aku jika kau mampu.”

Tetapi Mahisa Murti lah yang kemudian menyahut, “Membunuhmu sama sekali tidak ada kesulitannya. Tetapi kami ingin membiarkan kau hidup sampai batas tertentu. Kecuali jika kau ingin membunuh dirimu sendiri. Kami tidak akan mencegahnya jika kau membenturkan kepalamu di batu yang besar itu. Atau dengan kemampuanmu yang lain kau berbuat sesuatu sehingga kau mati. Tetapi bukan kami yang melakukannya.”

“Jangan menyesal jika datang saatnya akulah yang membunuh kalian berdua,“ geram orang itu.

Tetapi tiba-tiba saja Mahisa Murti tertawa. Katanya, “Kau mimpi atau menggigau atau sekedar ingin memanaskan hati kami he?”

Wajah orang itu menjadi merah seperti bara api. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu.

Demikianlah, malam itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berganti-ganti menjaga tawanan mereka. Sementara itu, orang itu berusaha untuk dapat tidur nyenyak untuk memanaskan hati kedua anak muda itu. Tetapi ternyata bahwa orang itu tidak juga dapat tidur sebagaimana dikehendaki. Apalagi ketika Mahisa Pukat yang sedang mendapat giliran menjaganya.

Ada saja yang dilakukan sehingga menimbulkan bunyi yang mengejutkan, sementara Mahisa Murti berbaring ditempat yang agak jauh.

“Kau jangan membuat gaduh he?“ bentak orang itu. “aku mau tidur. Jika kau ingin tidur, tidur sajalah. Tetapi jangan ribut di situ.”

Tetapi Mahisa Pukat menjawab, “aku sengaja membuat gaduh agar kau tidak dapat tidur. Aku benci melihat kau tidur, sementara itu aku harus berjaga-jaga karena kau.”

“Bukankah itu salahmu,“ geram orang itu. “kenapa kau tidak tidur saja dan tidak usah mengurusi aku.”

“Aku sengaja mengurusimu. Karena itu aku harus berjaga-jaga. Supaya aku tidak menjadi semakin sakit hati melihat kau mendekur, maka aku sengaja membuatmu tidak tidur. Jika kau keberatan, aku dapat membuat kau lebih sulit lagi,“ berkata Mahisa Pukat.

Orang itu memandang Mahisa Pukat dengan sorot mata yang menyala. Tetapi ia tidak dapat melepaskan kemampuannya, karena jika demikian, ia harus bertempur melawan anak muda itu, sementara anak muda itu jelas memiliki kelebihan daripadanya, sehingga ia tidak akan mungkin dapat mengalahkannya.

Karena itu, agar anak muda itu tidak semakin ribut, maka orang itu pun segera terdiam. Ia pun kemudian mencoba berbaring lagi di atas rerumputan kering. Namun ia terpaksa membiarkan apa saja yang dilakukan oleh Mahisa Pukat.

Ternyata orang itu benar-benar tidak bisa tidur selama Mahisa Pukat yang bertugas menjaganya.

Tetapi ternyata bukan hanya orang itu sajalah yang tidak dapat tidur selain Mahisa Pukat. Mahisa Murti pun telah terpengaruh pula keributan itu meskipun ia berada di tempat yang agak jauh.

Tetapi Mahisa Murti sama sekali tidak menegurnya.

Demikianlah, ketika matahari mulai membayangkan cahaya fajar, maka ketiga orang itu telah bersiap. Mereka telah menemukan sebuah parit kecil, namun berair jernih.

Hari itu ketiganya berjalan tanpa berhenti, meskipun mereka berjalan perlahan-lahan. Di luar sebuah pasar, Mahisa Pukat telah membeli makanan yang dapat mereka makan sambil berjalan. Kecuali beberapa potong ketela pohon, maka Mahisa Pukat juga membeli beberapa potong ubi panjang.

Tetapi sekali lagi Mahisa Pukat hampir tidak dapat menahan dirinya ketika orang yang dibawanya itu berkata, “Itukah jenis makananmu? Aku tidak biasa makan seperti itu. Aku makan nasi dengan lauk pauk yang pantas. Daging binatang buruan atau daging burung tekukur.”

“Setan,“ geram Mahisa Pukat.

Jantungnya serasa telah membengkak. Namun Mahisa Murti berkata, “Makanlah, agar kau tidak kelaparan. Hari ini hanya inilah yang kita punya. Kita tidak punya beras dan tidak punya daging apapun.”

Orang itu menarik bibirnya ke bawah sambil berdesis, “Beli nasi buat aku dengan daging atau telur.”

Mahisa Pukat menjadi tidak sabar lagi. Ketika tiba-tiba saja ia melihat seekor ular menelusur di tanggul parit di pinggir jalan tiba-tiba saja ia telah menerkamnya. Mahisa Pukat sama sekali tidak menghiraukan ketika ular itu mematuk tangannya. Bahkan dengan tangannya yang lain Mahisa Pukat telah menekan lehernya sehingga mulut ular itu terbuka dan gigitannya terlepas.

Dengan kemarahan yang memuncak Mahisa Pukat telah mendorong mulut ular itu ke mulut orang yang keras kepala itu sambil berkata, “Makan ular ini. Ini pun daging yang barangkali kau sukai. Makan atau kau akan dimakannya.”

Orang itu benar-benar menjadi berdebar-debar, ular itu dapat menggigit mulutnya. Jika pada saat ular itu menggigit Mahisa Pukat racun di mulutnya belum tuntas, maka gigitan berikutnya akan dapat membunuhnya, tanpa menunggu terbentuknya bisa yang baru di kelenjar bisanya.

Mahisa Murti yang melihat kemarahan Mahisa Pukat itu-pun kemudian berkata, “Sudahlah. Jangan hiraukan mulut orang yang sedang berputus asa itu.”

“Aku ingin melihat, bisa yang manakah yang lebih tajam antara mulutnya dan mulut ular ini,“ geram Mahisa Pukat.

“Orang itu sudah menjadi pucat,“ berkata Mahisa Murti.

Orang itu tidak menjawab. Ia sadar, bahwa Mahisa Pukat benar-benar sudah marah. Orang itu akan dapat menyentuh mulutnya dengan mulut ular. Satu cara kematian yang tidak menyenangkan.

Mahisa Pukat yang marah itu telah menarik kepala ular itu. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian dilemparkannya ular di tangannya itu ke tanah.

Sejenak ketiga orang itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja orang yang dibawa oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu tersenyum. Katanya, “Kaulah yang telah dipatuk oleh ular itu. Sebentar lagi, maka bisa ular itu tentu akan membuat jantungmu membeku.”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun seolah-olah tidak mendengar kata-kata itu Mahisa Murti berkata, “Kita berjalan terus. Kita akan makan apa yang ada pada kita. Jika ada di antara kita yang tidak mau makan, kemudian menjadi kelaparan, itu karena salahnya sendiri.”

Orang yang dibawa oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu termangu-mangu. Anak muda itu telah dipatuk ular. Ia sendiri melihatnya. Tetapi anak muda itu sama sekali tidak menghiraukannya.

Sebenarnyalah bisa ular itu sama sekali tidak berpengaruh. Mahisa Pukat masih saja berjalan dengan wajar. Bahkan kemudian sambil menyuapi mulutnya dengan ketela pohon rebus.

Orang yang dibawa oleh kedua anak muda itu termangu-mangu. Namun kemudian ia pun telah mengambil pula sepotong ketela rebus yang nampaknya telah direbus dengan santan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak mengatakan sesuatu. Mereka berjalan sambil makan, tanpa berhenti.

Demikianlah, maka perjalanan mereka pun semakin lama menjadi semakin mendekati Pakuwon Lemah Warah. Mereka yang berjalan tidak tergesa-gesa itu tidak perlu bermalam lagi. Sebelum matahari sampai ke batas cakrawala, mereka telah sampai ke regol Pakuwon.

Kedatangan mereka telah disambut baik oleh Akuwu Lemah Warah. Benar-benar sebagai kemenakannya sendiri.

Keduanya pun langsung diterima di serambi samping sebagaimana Akuwu menerima keluarganya sendiri.

“Siapakah Ki Sanak ini?“ bertanya Akuwu kepada kedua orang anak muda yang dianggapnya sebagai kemenakannya itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Murtilah yang menjawab, “Ampun Akuwu. Kami telah membawa saudara kami ini, karena ada sedikit persoalan yang telah menyangkut dalam hubungan kami dengan padepokan Suriantal.”

Akuwu Lemah Warah mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Persoalan apa lagi yang tumbuh di padepokan itu?”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun terpaksa menceriterakan apa yang telah terjadi, dan memperkenalkan orang yang telah dibawanya itu.

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Dipandanginya orang itu sejenak. Lalu katanya, “Sayang Ki Sanak. Sebenarnya padepokan itu memerlukan seseorang. Jika Ki Sanak bersikap lain, mungkin kedua orang anak muda itu tidak akan membawa Ki Sanak kemari.”

“Aku mengerti,“ jawab orang itu. “tetapi aku tidak mau menjadi seorang pemimpin yang masih berada di bawah perintah. Aku memerlukan padepokan itu. Kalian harus memenuhi tuntutanku itu tanpa syarat.”

Akuwu Lemah Warah mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah ia berkata, “ternyata yang dikatakan oleh anak-anak muda itu benar tentang kau. Sikapmu seharusnya berubah. Aku menerimamu dengan baik, bahkan aku kira kau adalah kawan dari kedua orang kemenakanku itu. Tetapi kau tidak mengimbangi sikapku.”

“Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau berpura-pura. Aku mengatakan dan berbuat sesuai dengan nuraniku. Diterima atau tidak oleh orang lain, itu bukan persoalanku,“ jawab orang itu.

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Katanya, “kalian benar anak-anak. Orang ini memang harus kau bawa kemari. Baru kau berbuat lebih banyak lagi bagi padepokan itu. Jika orang ini masih juga berada di padepokan, maka ia akan dapat menjadi penghambat, atau bahkan penghalang sama sekali.”

“Itulah sebabnya aku membawanya kemari,“ berkata Mahisa Murti, “aku ingin menitipkan orang itu di sini. Atau barangkali Akuwu mengambil sikap lain.”

“Aku akan melihatnya lebih dahulu, apa yang akan dilakukannya di sini,“ berkata Akuwu.

“Jangan memberikan kesempatan kepadanya,“ berkata Mahisa Pukat, “orang ini benar-benar berbahaya. Sebenarnya kami sudah ingin memperlakukannya dengan baik. Tetapi orang ini dengan sengaja selalu memancing persoalan.”

“Aku akan berusaha melarikan diri dan membunuh kalian,“ geram orang itu.

Akuwu Lemah Warah memandang orang itu dengan tajamnya. Ia sadar bahwa orang itu memang berbahaya. Karena itu, maka katanya, “Aku sendiri akan mengurusnya. Jangan cemas, ia tidak akan sempat melarikan diri.”

Tiba-tiba saja orang itu tertawa. Katanya, “Kau belum tahu siapa aku.”

“Tidak ada artinya dihadapan Akuwu,“ desis Mahisa Pukat.

“Aku tidak yakin. Jika kalian berdua meninggalkan aku di sini, maka isi istana Pakuwon Lemah Warah ini akan aku hancurkan,“ berkata orang itu.

“Jadi apa sebenarnya yang kau inginkan,“ bertanya Akuwu.

“Padepokan itu harus diserahkan kepadaku tanpa syarat,“ jawab orang itu.

Mahisa Pukat yang sudah terlalu lama menahan diri, hampir saja telah bertindak lagi. Namun Akuwu yang melihat sikap itu cepat berkata, “Jangan. Orang itu harus diyakinkan dengan cara lain, bahwa aku akan dapat menjinakkannya.”

“Tidak ada seorang pun yang akan mampu menjinakkan aku. Mungkin kalian dapat membunuhku beramai-ramai. Tetapi aku tidak akan dapat menjadi jinak,“ jawab orang itu.

Namun orang itu terkejut ketika tiba-tiba saja Akuwu itu berkata, “Baiklah. Kita akan melihat, apakah aku akan dapat menjinakkannya atau tidak.”

“Apa maksud Akuwu?“ bertanya Mahisa Murti.

“Kita akan pergi ke sanggar,“ jawab Akuwu, “kita akan melihat, apakah orang itu akan dapat bertahan.”

“Persetan,“ geram orang itu. “jika terjadi sesuatu atasmu, bukan salahku.”

“Ya. Memang bukan salahmu,“ jawab Akuwu.

Demikianlah maka Akuwu telah membawa orang itu ke sanggar bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Demikian mereka berada di dalam Sanggar maka Akuwu berkata, “terhadap orang yang demikian, kita harus mempunyai cara khusus untuk menundukkannya. Cara sebagaimana dikehendakinya.”

“Cara mati yang paling menyedihkan dari seorang Akuwu. Sebaiknya kau kerahkan Senapatimu yang terpilih,“ berkata orang itu.

Akuwu itu mengerutkan keningnya. Tetapi menurut ceritera Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang dapat ditangkapnya meskipun tidak berterus terang, orang itu dapat dikalahkan oleh anak-anak muda itu, sehingga dengan demikian, maka Akuwu Lemah Warah itu pun dapat menduga seberapa jauh dan seberapa tinggi ilmu yang dimilikinya.

Demikianlah, maka setelah mereka berada di sanggar, maka Akuwu itu pun berkata, “Aku tidak akan berbuat curang. Aku akan bertempur sebagai seorang laki-laki agar kau yakin bahwa kau tidak akan dapat berbuat apa-apa di sini. Kau di bawah pengawasanku dan orang-orangku tidak ubahnya sebagaimana kau berada di bawah pengawasan kedua orang kemenakanku itu.”

“Persetan,“ geram orang itu. “jika kau mati di sini, sama sekali bukan salahku. Kaulah yang telah menantangku untuk berperang tanding. Bukan aku.”

“Bersiaplah,“ desis Akuwu, “Jangan terlalu banyak bicara.”

Demikianlah keduanya pun telah bersiap. Dari Mahisa Murti Akuwu menyadari, bahwa orang itu memiliki ilmu yang dapat membakar udara di sekitarnya. Tetapi orang itu pun memiliki senjata yang dapat dilontarkannya, meskipun jenis yang pernah dipergunakannya untuk bertempur melawan Mahisa Murti sudah habis.

Sejenak kemudian keduanya telah bersiap. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang berdebar-debar juga. Tetapi mereka pun menyadari bahwa Akuwu Lemah Warah memiliki ilmu yang tinggi. Keduanya pernah mendapat tuntunannya, dan mewarisinya salah satu dari ilmunya yang nggegirisi.

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pernah mendapatkan kesempatan penajaman ilmu dari seorang Pangeran yang mendekati masa ajalnya, namun justru menemukan cahaya di saat-saat terakhirnya.

Demikianlah, maka kedua orang itu telah saling bergeser. Orang yang dibawa oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu ternyata benar-benar menjadi liar. Orang itu sama sekali tidak dapat dijinakkan sebagaimana dikatakannya sendiri. Para pengikutnya yang mendapatkan perlakuan baik di luar dugaannya, telah menjadi lunak pula dan perlahan-lahan berubah untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di padepokan sebagai tempat tinggalnya yang baru. Namun orang itu sama sekali tidak mengenal kebaikan sikap orang lain.

Hal itulah yang telah dilihat oleh Akuwu Lemah Warah. Karena itu, maka ia telah mempunyai cara tersendiri untuk membuat penyelesaian dengan orang itu.

Sejenak kemudian, maka orang yang merasa dirinya pemimpin dari sebuah perguruan dan berilmu tinggi itu telah menyerang. Meskipun belum menentukan, namun Akuwu harus meloncat surut.

Pemimpin perguruan yang gagal memiliki padepokan Suriantal itu pun kemudian meloncat pula menyerang. Lebih keras dan bahkan serangan-serangan berikutnya pun menyusul dengan derasnya.

Akuwu Lemah Warah sudah menduga, bahwa orang itu akan bersikap demikian. Ia akan menjadi kasar, keras dan bahkan liar.

Namun Akuwu Lemah Warah sudah siap menghadapi kemungkinan itu. Karena itu, maka ia sama sekali tidak terkejut mengalami perlawanan yang demikian.

Sejenak kemudian pertempuran itu pun menjadi semakin seru. Akuwu justru menunggu lawannya mempergunakan ilmu puncaknya. Karena sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa orang itu memiliki ilmu yang cukup tinggi.

Namun sebelum orang itu sampai ke puncak ilmunya, agaknya ia ingin mengetahui, apakah benar Akuwu memiliki kekuatan kewadagan yang tinggi. Serangannyalah yang kemudian menjadi semakin cepat dengan kekuatan tenaga cadangan yang besar.

Namun Akuwu justru telah membenturkan kekuatannya melawan kekuatan orang itu. Ternyata Akuwu Lemah Warah benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, apapun yang dilakukan oleh lawannya, Akuwu mampu mengimbanginya.

Dalam keadaan yang tersudut, maka lawan Akuwu itu pun segera merambah sampai ke puncak ilmunya. Seperti yang dikatakan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka orang itu memang memiliki kekuatan untuk seakan-akan membakar udara di sekitarnya. Karena itu, untuk melemahkan ketahanan tubuh lawannya, maka udara di dalam sanggar itu menjadi berangsur panas.

“Aku bakar seisi sanggarmu, termasuk kau dan kedua anak ingusan itu,“ geram orang itu. Dihentakkannya ilmunya sampai ke batas kemampuannya.

Udara di dalam sanggar itu memang dengan cepat meningkat panasnya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meningkatkan daya tahan tubuh mereka, agar mereka tidak justru menjadi lemah oleh udara yang panas itu.

Akuwu Lemah Warah memang agak terkejut ketika ia mengalami serangan udara panas yang demikian cepat meningkat. Namun Akuwu Lemah Warah tidak dapat dengan serta merta menghentikannya.

Tetapi Akuwu juga bukan orang kebanyakan. Ketika udara sampai pada batas yang membahayakan, maka Akuwu pun telah bersiap untuk menghentikannya.

Tetapi Akuwu juga harus menjaga, agar serangannya jika lepas dari sasaran tidak justru merusakkan sanggarnya sendiri.

Karena itu, maka tiba-tiba saja Akuwu telah meloncat naik ke atas sebuah patok bambu yang tinggi, yang terbiasa dipergunakannya untuk berlatih. Dengan sigapnya ia meloncat dari satu patok ke patok yang lain.

“Jangan lari,“ geram orang yang ingin merebut Suriantal.

Akuwu tidak menjawab. Tetapi ia telah meloncat menjauh di atas patok-patok batang bambu itu.

“Kau kira aku tidak dapat mengejarmu?“ berteriak orang itu.

Akuwu tidak menjawab. Ia justru berbalik dan menghadapi orang itu.

Akhirnya waktu yang ditunggu itu pun datang. Tepat pada saat orang itu meloncat naik ke atas patok bambu untuk mengejarnya, maka Akuwu Lemah Warah telah melontarkan serangan ilmunya yang dahsyat. Kedua tangannya telah terangkat dengan telapak tangan menghadap, ke arah lawannya. Sebuah sinar yang silau seolah-olah telah meluncur dari telapak, tangannya itu.

Orang itu terkejut. Tetapi justru pada saat ia melayang meloncat ke atas patok bambu itu, ia tidak sempat menghindar. Ia memang berusaha menggeliat. Namun ternyata bahwa sinar yang tajam itu telah mengenainya.

Orang itu telah terlempar dengan kerasnya, menghantam dinding sanggar, dan kemudian terbanting jatuh di tanah.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, Akuwu Lemah Warah pun segera meloncat turun. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati orang yang terbanting diam itu. Pingsan.

“Agaknya Akuwu tidak mempergunakan seluruh kekuatan dan kemampuan Akuwu,“ desis Mahisa Murti.

“Kenapa kau menduga demikian?“ bertanya Akuwu.

“Orang itu tidak menjadi lumat,“ jawab Mahisa Murti.

Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian menjawab, “Aku memang tidak ingin membunuhnya. Ia harus menjadi jera. Aku ingin menjinakkannya dengan paksa. Sebagian besar dari kekuatan dan ilmunya harus dimusnahkan dari dalam dirinya,“ berkata Akuwu Lemah Warah.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Itulah agaknya yang dikehendaki oleh Akuwu dengan perang tanding itu. Ia sengaja menantang orang itu untuk mendapatkan kesempatan melakukan rencananya dengan cara yang jantan. Akuwu Lemah Warah tidak mau bertindak sebagai seorang pengecut untuk menjinakkan orang yang sombong dan tidak tahu diri itu.

“Marilah, para pengawal akan membawanya ketempat yang diperuntukkan baginya. Aku akan memerintahkan mereka itu untuk mempersiapkannya,“ berkata Akuwu Lemah Warah.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian mengikuti Akuwu keluar dari sanggar.

Keduanya kemudian menyaksikan, bagaimana Akuwu memerintahkan kepada pemimpin pasukan pengawal khususnya untuk mengambil orang yang pingsan didalam sanggar. Kepada pemimpin pengawal itu Akuwu telah memberikan beberapa pesan khusus.

Demikianlah, maka pemimpin pengawal khusus itu telah membawa ampat orang pengawal kedalam sanggar dan membawa orang yang pingsan itu keluar, serta menempatkannya di sebuah bilik yang kuat dan diawasi oleh beberapa orang pengawal pilihan.

Namun Akuwu Lemah Warah menyadari betapa berbahayanya orang itu. Karena itu, maka setelah beristirahat sejenak untuk minum minuman hangat bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka Akuwu itu pun kemudian berkata, “Marilah, kita akan melakukan rencana kita. Keadaan orang itu agak parah. Agaknya ia belum sempat menumbuhkan seluruh kekuatannya kembali. Aku ingin memaksanya menjadi jinak.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian mengikutinya ke bilik bagi orang itu. Ternyata seperti yang dikatakan oleh Akuwu, orang itu masih terbaring diam. Orang itu masih belum sadar sama sekali.

Akuwu Lemah Warah pun kemudian duduk di pembaringan, di sisi orang itu. Sejenak ia memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun kemudian ia telah mengambil satu keputusan untuk melakukannya.

“Untuk kebaikan, maka aku harus melakukannya,“ berkata Akuwu Lemah Warah, “kadang-kadang kita memang harus mempertimbangkan kemungkinan atas seseorang. Jika masih ada kemungkinan jalan kembali, maka aku tidak akan mengambil langkah yang paling tajam untuk menghukumnya. Tetapi aku tidak melihat kemungkinan itu pada orang ini. Karena itu aku memutuskan untuk memaksanya dengan cara yang keras ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya menarik nafas saja. Tetapi keduanya sama sekali tidak menyahut.

Demikianlah, maka Akuwu Lemah Warah itu pun telah menelungkupkan tubuh yang masih lemah itu. Dengan jari-jarinya yang kuat dan berpengalaman, maka Akuwu Lemah Warah telah menekan beberapa bagian di sebelah menyebelah tulang belakangnya.

Meskipun orang itu masih pingsan, tetapi sentuhan itu ternyata berakibat demikian dahsyatnya sehingga orang itu menggeliat tanpa sadarnya.

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia-pun telah membalikkan kembali tubuh itu dan membiarkannya terbaring diam.

Akuwu Lemah Warah yang kemudian bangkit dan melangkah keluar diikuti Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun kemudian telah memerintahkan para pengawal untuk berusaha menyadarkannya.

“Titikkan air dibibirnya. Jangan hanya sekali dua kali. Tetapi ulangi lagi. Namun jangan sampai semangkuk penuh,“ pesan Akuwu kepada seorang pengawal.

Pengawal itu mengangguk hormat. Sepeninggal Akuwu. Maka ia-pun telah mencoba untuk menitikkan air dingin dibibir orang yang pingsan itu.

Ternyata bahwa titik-titik air itu telah mempengaruhi kesegaran tubuh orang yang pingsan itu. Perlahan-lahan darahnya yang seolah-olah membeku telah mengalir.

Ketika orang itu membuka matanya, maka dilihatnya pengawal yang duduk sebelahnya. Agaknya orang itulah yang telah menitikkan air dibibirnya.

Perlahan-lahan terasa kesegaran itu menjalar di seluruh tubuhnya. Kekuatannya pun agaknya terasa mulai menelusuri urat-urat nadinya. Bahkan dengan nada rendah orang itu berkata, “beri aku setitik lagi.”

Pengawal itu memang menjadi ragu-ragu. Tetapi agaknya orang itu masih sangat lemah, sehingga ia tidak akan mampu berbuat sesuatu. Karena itu, maka ia pun telah menitikkan air itu lagi dibibirnya.

Orang yang merasa tubuhnya menjadi semakin segar itu masih berbaring diam. Ia masih berusaha menunjukkan kesan, bahwa ia masih terlalu lemah untuk berbuat sesuatu.

Namun ketika setitik air diteguknya lagi, maka ia merasa bahwa ia akan mampu untuk berbuat sesuatu, meskipun tenaganya tentu belum pulih sebagaimana sebelumnya. Namun untuk melawan seorang prajurit, agaknya ia tidak akan mengalami kesulitan.

Orang itu berpikir sejenak untuk menilai keadaan. Ketika prajurit itu akan meninggalkannya, maka ia pun berkata, “Tunggu. Mungkin aku masih memerlukan air itu lagi.”

Prajurit pengawal itu tercenung sejenak. Tetapi ia tidak segera keluar. Ia masih membawa mangkuk berisi air jernih yang telah dititikkan dibibir orang yang pingsan itu.

Namun dalam pada itu, orang yang pingsan itu berusaha untuk mendapatkan waktu lebih banyak, sehingga ia mendapatkan tenaganya kembali lebih besar lagi.

Jika pengawal itu masih berada di dalam biliknya, tentu tidak ada orang yang melihatnya, apa yang telah dilakukannya. Dengan demikian, lewat pintu yang memang sudah terbuka itu, ia akan dapat keluar dari bilik itu dan melarikan diri.

Sebenarnyalah perlahan-lahan orang itu menggerakkan tubuhnya untuk mengetahui, apakah ia sudah mampu berbuat sesuatu.

Ketika ternyata bahwa anggauta tubuhnya telah mampu bergerak dengan wajar, maka orang itu pun kemudian telah bangkit dan duduk. Namun ia masih berusaha untuk nampak lemah sekali dan tidak berdaya.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...