Kamis, 07 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 040-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 040-03*

Memang tidak mudah untuk memahami apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun lambat-laun, dalam pembicaraan, pesan-pesan dan petunjuk-petunjuk yang banyak diberikan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, orang-orang itu akhirnya mampu melihat sisi lain dari kehidupan sebagaimana yang pernah mereka jalani. Ternyata tidak semua orang berhati kelam sebagaimana pernah membakar dada mereka.

Demikianlah, maka ternyata kemudian kehidupan di padepokan itu telah menemukan keseimbangannya. Orang-orang yang datang ke padepokan itu akhirnya berhasil menyesuaikan diri mereka.

Namun dalam pada itu, seorang di antara mereka yang datang ke padepokan itu, masih harus tersisih dari kehidupan isi padepokan itu. Pemimpin perguruan yang telah membawa orang-orangnya memasuki padepokan itu, justru merasa terhina atas sikap para pengikutnya. Dengan sikapnya yang keras ia masih tetap menentang usaha Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk membuat kehidupan di padepokan itu tenang.

“Kau sudah tidak berdaya,“ berkata Mahisa Murti, “kau tidak dapat menentukan apa pun juga disini.”

“Aku tetap pada pendiriannya. Aku menuntut padepokan ini untuk aku miliki. Aku tidak akan memberi tempat kepada satu orang pun selain orang-orangku sendiri,“ berkata orang itu.

“Apakah kau tidak menyadari, bahwa kau tidak mampu berbuat apa-apa lagi?“ bentak Mahisa Pukat, “atau kau ingin kami membunuhmu.”

“Itu lebih baik,“ berkata orang itu. “tetapi aku tidak mau surut dari rencanaku. Hanya kematian yang dapat mencegah rencanaku.”

“Bagus,“ Mahisa Pukat berteriak, “aku masih sanggup membunuhmu.”

“Persetan,“ geram orang itu.

Namun Mahisa Pukat benar-benar menjadi marah. Tiba-tiba saja ia meloncat menerkam orang itu dengan kemampuannya yang luar biasa, meskipun ia memang tidak ingin membunuh lawannya. Namun sejenak kemudian kekuatan lawannya itu bagaikan terhisap oleh sentuhan tangan Mahisa Pukat, pada saat ia mencoba melawan.

Pada waktu Mahisa Pukat melepaskan orang yang menjadi tawannya itu, maka orang itu sama sekali sudah tidak mampu berbuat apa pun lagi. Tubuhnya terkulai di pembaringannya, sementara nafasnya menjadi terengah-engah.

Namun kedua matanya masih tetap memancarkan hatinya yang bagaikan membara. Bahkan dari sela-sela bibirnya masih terdengar suaranya berdesis, “Pada satu saat, akulah yang akan membunuhmu jika kau tidak membunuhku sekarang.”

Mahisa Pukat menggeram. Namun Mahisa Murti berkata, “Sudahlah. Jangan kau dengar suara orang yang berputus asa itu.”

“Aku memang ingin membunuhnya,“ berkata Mahisa Pukat, “buat apa sebenarnya orang itu? Para pengikutnya sudah menyesuaikan dirinya dalam kehidupan padepokan ini. Mereka telah berusaha menyatukan diri. Perlahan-lahan mereka sudah berhasil berbaur dengan para penghuni padepokan ini. Namun orang gila ini masih menganggap bahwa ia akan dapat berbuat sesuatu atas kita di sini.”

“Itu adalah pertanda bahwa ia benar-benar berputus-asa. Kita tidak akan bersedia diperalat untuk membunuh diri. Kelak jika ia ingin membunuh diri, jika kekuatannya pulih kembali, biarlah ia melakukan dengan caranya sendiri. Tetapi kita bukan budaknya, bukan pula hambanya yang dapat diperintahnya untuk membantunya membunuh diri,“ jawab Mahisa Murti.

Mahisa Pukat tercenung sejenak. Namun orang itulah yang mengumpat, “Anak setan, iblis. Kau anggap aku apa he? Bunuh aku sekarang.”

Mahisa Murti pun kemudian membetulkan letak orang yang dalam keadaan yang sangat lemah itu, sehingga ia terbaring lurus di pembaringannya sambil berkata, “Tidurlah anak manis. Tidurlah dengan nyenyak. Besok kau boleh bangun lagi setelah kau mimpi indah.”

Orang itu menggeram. Kemarahan yang membara di dadanya rasa-rasanya membuat jantungnya hampir meledak.

Dengan demikian ia merasa semakin tersiksa justru karena ia tidak dapat berbuat apa-apa sama sekali. Ia tidak lagi mempunyai tenaga lagi meskipun hanya sekedar untuk menggerakkan ujung jarinya.

Sementara itu, Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Marilah. Kita tinggalkan orang itu. Ia tidak akan dapat bangkit untuk sehari semalam. Besok perlahan-lahan sekali tenaganya baru akan mulai tumbuh lagi, sehingga jika sehari ini orang itu kita biarkan saja di pembaringannya, ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Biarlah ia merenungi kekalahannya. Kelemahannya dan kenyataan bahwa kita memang lebih perkasa dibanding dengan dirinya.”

Rasa-rasanya orang itu ingin meloncat menerkam Mahisa Murti. Kata-katanya lebih menyiksanya dari kemarahan Mahisa Pukat.

Namun ia tidak mampu berbuat apa-apa, sehingga yang terdengar adalah sekedar umpatan-umpatan kasar dari mulutnya.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah meninggalkan bilik itu diiringi oleh umpatan kasar, namun dilontarkan dengan tenaga yang sangat kecil.

Ketika mereka sampai di luar bilik itu. maka ia pun telah menyerahkan tawanannya kepada para pengawal. Namun bagaimanapun juga, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum dapat melenyapkan sama sekali kecurigaannya kepada para pengikut orang yang terbaring di dalam bilik itu. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berpesan, “Hati-hatilah. Jangan ada seorang pun yang boleh mendekatinya, lebih-lebih para pengikutnya. Kalian berhak untuk mengambil langkah-langkah yang perlu. Jika kalian mengalami kesulitan, laporkan kepada pemimpin padepokan ini.”

Orang yang diserahinya itu termangu-mangu sejenak. Ia merasa bahwa ia telah mendapat beban yang berat, namun yang memang harus dilaksanakan.

Tetapi Mahisa Pukat pun kemudian berpesan, “Namun terhadap orang di dalam bilik itu kalian tidak usah cemas. Orang itu sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Ia hanya dapat berbaring seperti beberapa hari yang lalu.”

Pengawal itu mengangguk. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah melangkah pergi.

Di luar, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat kehidupan yang mulai serasi. Orang-orang yang datang kemudian itu benar-benar telah luluh di dalam kehidupan di padepokan itu.

Karena itu, maka yang penting kemudian adalah memberikan tekanan terhadap mereka agar mereka untuk selanjutnya selalu berpegang pada alas kehidupan itu.

Namun untuk selanjutnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun harus memikirkan orang-orang yang tidak nampak di padepokan itu, tetapi tersangkut pada kehidupan yang ada di dalamnya. Orang-orang yang tinggal di padepokan itu ternyata sebagian mempunyai keluarga dan sanak kadang yang mereka tinggalkan di padukuhan-padukuhan, bahkan padukuhan yang jauh. Bukan saja mereka yang telah lama tinggal di padepokan itu, tetapi mereka yang baru datang pun mempunyai persoalan yang sama.

Sebelumnya, orang-orang itu telah memberikan uang atau barang apa pun juga untuk hidup sanak kadang itu dengan cara yang tidak sepantasnya dilakukan. Karena itu, jika mereka tidak melakukannya lagi, maka harus ada jalan untuk mengatasinya.

Tetapi hal itu tidak tergesa-gesa dipecahkan. Untuk sementara, yang penting bagi padepokan itu adalah keseimbangan kehidupan, karena goncangan-goncangan yang telah terjadi. Termasuk orang yang keras kepala, yang tidak mau melihat kenyataan tentang dirinya dan orang-orangnya.

Namun demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menganggap bahwa persoalan itu tidak akan teratasi. Masih banyak jalan yang dapat ditempuh untuk menentukan, apa yang akan dilakukan atas orang itu.

Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun telah menemui pemimpin padepokan itu. Kepada pemimpin padepokan itu mereka memberitahukan apa yang telah terjadi. Karena itu, maka pemimpin padepokan itu pun berkata, “Karena itu, maka orang itu kami serahkan kepada kalian berdua. Selain keras kepala, ternyata orang itu berilmu tinggi, sehingga dengan demikian, maka diperlukan orang yang dapat mengendalikannya.”

“Kami menyadari akan hal itu.“ jawab Mahisa Murti, “tetapi hari ini orang itu tidak akan dapat berbuat apa pun juga. Ia akan berbaring di pembaringannya. Kekuatannya akan pulih perlahan-lahan sekali. Baru besok ia akan dapat bangkit.”

Pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia berkata, “Jangan tinggalkan orang itu terlalu lama. Bagaimanapun juga di sini terdapat beberapa orang pengikutnya. Mungkin masih ada satu dua orang yang setia kepadanya.”

“Seandainya ada yang setia kepada orang itu, tidak ada yang dapat dilakukan. Orang itu tidak akan dapat menolong pemimpinnya yang telah kehilangan kekuatan dan kemampuannya itu,“ berkata Mahisa Pukat, “untuk membawanya pergi diperlukan paling sedikit dua orang, sementara itu, yang lain tidak akan mampu melindungi kedua orang itu. Bukankah kau yakin?”

Pemimpin kelompok itu mengangguk. Jika orang yang memiliki ilmu yang tinggi itu dalam keadaan tidak berdaya, maka memang tidak ada persoalan yang perlu dicemaskan. Tetapi jika orang yang berilmu tinggi itu kemudian mendapatkan kekuatannya kembali, maka seisi padepokan itu tidak akan mampu mengalahkannya.

Dalam pada itu, setelah minta diri kepada pemimpin padepokan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun untuk beberapa saat akan meninggalkan padepokan itu. Tidak ada orang yang diberitahukannya, ke mana ia akan pergi.

Sebenarnyalah bahwa keduanya telah pergi ke tempat batu yang berwarna kehijauan itu. Seperti hari-hari yang lewat, mereka hanya melihat-lihat saja batu itu. Ketika mereka mendekat, maka di sela-sela retak-retak batu itu, mereka masih melihat binatang berbisa yang tidak terhitung jumlahnya. Jika mereka mengguncang batu itu dengan kekuatan mereka yang sangat besar, maka getar batu itu telah menggerakkan berbagai jenis binatang berbisa itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah orang-orang yang memiliki ketahanan tubuh dari sengatan bisa yang betapapun tajamnya. Namun melihat berjenis-jenis binatang berbisa dalam jumlah yang tidak terhitung di sela-sela retak batu yang berwarna kehijauan itu, kulitnya terasa meremang juga.

Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum mendapat cara untuk mengambil batu itu, seluruhnya atau sebagian. Sementara itu, mereka yakin, bahwa selain pemimpin padepokan Suriantal tentu ada orang lain yang telah memiliki pecahan batu itu sebagaimana dipasang di pangkal tongkat pemimpin perguruan Suriantal itu. Dengan demikian, maka lambat atau cepat, tentu akan datang orang lain lagi untuk mengambilnya.

“Perguruan yang ingin memiliki padepokan itu tentu ada juga hubungannya dengan batu itu,“ berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Apakah mungkin kita menarik batu itu ke padepokan?”

“Kita berusaha untuk mendapatkan sepuluh ekor lembu yang kuat dan besar. Kita akan mengikat batu itu dengan tambang yang kuat dan kemudian menyeret batu itu ke padepokan. Di padepokan kita akan dapat memecah batu itu, sementara batu itu sudah terlindung,“ berkata Mahisa Murti.

“Bagaimana jika seperti yang pernah kita sebut-sebut, batu itu kita pecahkan dengan kemampuan ilmu kita,“ berkata Mahisa Pukat.

“Agaknya tidak akan menguntungkan,“ jawab Mahisa Murti, “batu itu akan berserakan. Binatang-binatang berbisa itu akan terbunuh dan kita tidak akan dapat sekaligus mengumpulkan dan membawa pecahan batu itu.“ Mahisa Murti terdiam sejenak, “namun lebih daripada itu. jika kita dapat membawa batu itu utuh. sebenarnya bukan semata-mata karena kita ingin memiliki. Kita akan dapat berhubungan dengan seorang pemahat yang paling baik yang kita kenal. Batu itu akan dapat dibuat menjadi sebuah patung yang bagus sekali. Sementara itu, pecahan-pecahannya tentu sudah terlalu banyak untuk dibuat batu akik dan batu perhiasan. Berapa ratus batu akik akan dapat dibuat dari pecahan-pecahannya, jika batu itu dipahat, sementara itu kita dapat juga membuat untaian batu-batu perhiasan yang sudah kita asah dan kita rangkai. Ayah akan dapat menjual barang-barang itu. Tetapi kita tidak semata-mata sekedar mencari keuntungan bagi kita, atau keluarga kita sendiri. Jika batu itu benar-benar dapat dibuat sebuah patung yang baik, maka nilai patung itu akan menjadi sangat tinggi. Mungkin kita akan dapat mempersembahkan patung itu kepada Sri Maharaja di Singasari sebagai satu persembahan yang berarti.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku sependapat. Patung itu akan menjadi benda yang berharga jika orang yang membuatnya berhasil menciptakan patung yang baik.”

“Kita dapat bertanya kepada kakang Mahisa Bungalan atau kepada ayah atau paman Mahisa Agni atau paman Witantra atau kepada siapapun juga, siapakah pemahat terbaik di Singasari.“

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, maka batu ini harus kita selamatkan lebih dahulu. Aku setuju untuk mencari sepuluh ekor kerbau terkuat. Tetapi apakah ada pedati yang kuat untuk membawa batu ini? “

“Tanpa pedati,“ jawab Mahisa Murti, “kita tarik batu itu begitu saja.“

Mahisa Pukat termangu-mangu. Bahkan kemudian katanya, “Satu kerja yang sulit dibayangkan.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia memang dapat mengerti pendapat Mahisa Pukat itu. Kerja itu adalah kerja yang sangat berat. Tetapi Mahisa Murti kemudian berkata, “Kita akan mencoba.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Kita memang dapat mencobanya. Tetapi darimana kita mendapatkan sepuluh ekor kerbau?”

“Kita dapat mencarinya di padukuhan. Jika perlu kita akan menyewanya,“ jawab Mahisa Murti.

“Ya. Kita dapat menyewanya di padukuhan diseberang padang perdu sebelah padepokan,“ berkata Mahisa Pukat.

Keduanya pun kemudian bergeser menjauh. Masih saja seekor ular menelusur dibawah kaki mereka. Tetapi ular itu tidak menggigit.

Demikianlah, maka kedua anak muda itu telah kembali ke padepokan. Namun mereka telah singgah di sebuah padukuhan. Padukuhan yang terletak diseberang padang perdu.

Orang-orang padukuhan itu memang menjadi ketakutan. Mereka tidak terbiasa berhubungan dengan orang-orang padepokan. Meskipun orang-orang padepokan sejak semula tidak pernah mengganggu mereka, namun peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian, yang mengguncang-guncang padepokan itu, telah membuat orang-orang padukuhan menjadi ragu-ragu dan bahkan ketakutan berhubungan dengan mereka.

Orang-orang padukuhan itu sudah menduga, bahwa kedua orang itu memang orang padepokan, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak ingkar, bahwa mereka memang berasal dari padepokan yang semula hanya dihuni oleh orang-orang Suriantal.

Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat melihat seseorang di halaman, maka mereka pun telah mendekatinya.

Orang itu memang menjadi gemetar. Namun Mahisa Murti telah mendahului berkata dengan nada lunak, “Ki Sanak. Kami tidak bermaksud buruk. Bukankah kawan-kawan kami dari padepokan itu tidak pernah berbuat sesuatu yang menyulitkan kalian. Memang kadang-kadang kami datang untuk mencari kebutuhan sehari-hari. Dan bukankah kami telah membelinya?”

“Ya, ya Ki Sanak,“ jawab orang itu dengan suara bergetar, “selama ini kalian memang tidak menyulitkan kami.”

“Sekarang pun kami tidak akan menyulitkan kalian. Kami hanya ingin menemui Ki Bekel. Dimanakah rumah Ki Bekel?“ bertanya Mahisa Murti.

“Apakah kalian belum pernah pergi kerumah Ki Bekel? Bukankah orang-orang padepokan itu sering menemui Ki Bekel,“ bertanya orang itu.

“Ya. Tetapi aku belum,“ jawab Mahisa Pukat.

Orang itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Ia pun telah menunjukkan jalan untuk pergi kerumah Ki Bekel.

Demikianlah maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah pergi ke rumah Ki Bekel. Sementara itu, ternyata Ki Bekel pun menjadi berdebar-debar pula menerima kedatangan kedua orang dari padepokan di seberang padang perdu. Peristiwa yang terjadi di padepokan pada saat-saat terakhir, telah mengaburkan pengertian orang-orang padukuhan itu tentang padepokan yang tidak terlalu banyak diketahui itu.

“Silahkan Ki Sanak,“ berkata Ki Bekel.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian duduk dipendapa rumah Ki Bekel yang tidak terlalu besar. Namun keduanya kemudian mengerutkan kening ketika mereka melihat beberapa orang anak muda berada di halaman itu.

Agaknya Ki Bekel terlalu berhati-hati menghadapi orang-orang padepokan, sehingga ia pun telah menyiapkan anak-anak muda di halaman dan di luar regol rumahnya.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak banyak terpengaruh oleh kehadiran anak-anak muda itu. Mereka akan dapat berbuat apa saja seandainya anak-anak muda itu berbuat sesuatu atas mereka.

Dalam pada itu maka setelah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat duduk bersama Ki Bekel di pendapa, maka Ki Bekel pun telah bertanya, “Apakah angger berdua mempunyai kepentingan, sehingga angger berdua telah datang ke padukuhan ini ? Bukankah angger berdua penghuni padepokan yang terpencil itu?”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk. Sementara itu Mahisa Murti pun menyahut, “Ki Bekel. Kami memang datang dari padepokan itu. Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan kepada Ki Bekel. Tetapi kami tidak bermaksud merugikan Ki Bekel dan penghuni padukuhan ini.”

“Apakah yang kalian perlukan ,“ bertanya Ki Bekel.

“Kami memerlukan sepuluh ekor kerbau yang besar dan kuat,“ jawab Mahisa Murti.

Wajah Ki Bekel menjadi tegang. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Kami bukan orang-orang kaya Ki Sanak, Jika kalian ingin mendapatkan sepuluh ekor kerbau dari padukuhan kami, maka padukuhan ini akan mengalami banyak kesulitan. Sawah kami akan banyak yang tidak dikerjakan karena kekurangan tenaga. Akibatnya dapat kalian bayangkan. Karena itu, kerbau bagi kami merupakan binatang yang sangat berarti. Karena itu, agaknya kami tidak akan dapat memenuhinya jika kalian memerlukan sepuluh ekor kerbau kami.”

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menyadari kesalahannya. Karena itu maka katanya, “Ki Bekel. Kami tidak bermaksud mengambil sepuluh ekor kerbau dan membawanya ke padepokan. Tetapi kami ingin meminjam atau bahkan menyewa sepuluh ekor kerbau untuk mengambil dan kemudian menarik sesuatu dari tempatnya ke padepokan itu.”

Wajah Ki Bekel justru menjadi tegang. Ia tidak segera menangkap maksud yang sebenarnya dari kedua orang anak muda yang datang kepadanya itu.

Karena itu, maka Ki Bekel tidak segera memberikan jawaban. Bahkan Ki Bekel itu pun bertanya, “Anak-anak muda. Apakah yang sebenarnya ingin kalian lakukan.”

“Kami belum dapat mengatakannya Ki Bekel,“ jawab Mahisa Murti, “tetapi jika Ki Bekel tidak berkeberatan, kami akan membawa sepuluh ekor kerbau itu ke padepokan.”

Ki Bekel termangu-mangu. Ia tidak dapat segera mengiakan atau menolak. Ternyata orang-orang padepokan itu tidak sekedar akan merampas kerbau yang ada di padukuhan itu. Tetapi mereka akan memberikan imbalan atas sepuluh ekor kerbau itu.

Dengan demikian maka Ki Bekel pun kemudian berkata, “Anak-anak muda. Baiklah persolan ini kami perhatikan. Tetapi aku sendiri tidak mempunyai sepuluh ekor kerbau. Aku sendiri hanya mempunyai sepasang yang sering aku pergunakan untuk mengerjakan sawah. Padukuhan ini pun bukan padukuhan yang kaya, sehingga untuk mengumpulkan sepuluh ekor kerbau, kami memang harus menghitung lebih dahulu untuk satu padukuhan ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Kemudian Mahisa Murti pun berkata, “Baiklah Ki Bekel. Kami akan menunggu. Dalam waktu dua hari mendatang, kami akan datang lagi. Mudah-mudahan Ki Bekel setuju. Jika Ki Bekel setuju, maka kami akan membawa sepuluh ekor kerbau itu ke padepokan. Kemudian dalam waktu selambat-lambatnya sepekan, kami akan mengembalikannya dalam keadaan baik dan utuh. Jika ada cacat atau mungkin mati, maka aku akan menggantinya.”

“Mudah-mudahan aku dapat memenuhinya. Tetapi sebaiknya, dalam waktu dua hari lagi, aku persilahkan kalian datang lagi. Aku akan membicarakannya dengan para penghuni padukuhan ini. Tetapi jika ternyata di padukuhan ini tidak ada sepuluh ekor kerbau, maka kami tidak akan dapat memenuhinya,“ berkata Ki Bekel.

“Terima kasih Ki Bekel,“ berkata Mahisa Murti, “aku yakin bahwa di satu padukuhan ini terdapat sepuluh ekor kerbau. Jika tidak, maka aku harap di padukuhan sebelah kami mendapatkan genapnya. Bahkan mungkin Ki Bekel dapat membantu menyampaikan persoalan ini kepada Ki Bekel di padukuhan sebelah.”

“Aku tidak berjanji. Tetapi aku akan mencobanya,“ berkata Ki Bekel.

Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun telah meninggalkan padukuhan itu. Mereka telah mulai menempuh satu jalan untuk menangani batu yang berwarna kehijau-hijauan itu.

“Tetapi apakah jika batu itu berada di padepokan, akan menjadi lebih aman?“ bertanya Mahisa Pukat.

“Mudah-mudahan,“ jawab Mahisa Murti, “setidak-tidaknya kita mempunyai sejumlah kawan untuk membantu kita mengawasi batu itu. Sementara jika dapat dipertahankan maka pada batu itu masih tetap ditunggui oleh binatang-binatang yang dapat menjadi pengaman dari batu itu sendiri.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun kemudian ia-pun berkata, “Jika demikian, kita harus benar-benar mempersiapkan padepokan kita.”

“Ya. Kita akan membuat padepokan itu sebagai satu lingkungan yang dapat menjadi tempat penyimpanan batu itu. Selama ini, batu itu masih berada di tempat terbuka, sehingga orang-orang yang tertarik padanya, masih belum merasa perlu untuk mengambil langkah-langkah yang tergesa-gesa. Tetapi jika kita sudah berbuat sesuatu atas batu itu, apalagi menyimpannya di padepokan ini, maka sudah tentu orang-orang yang merasa berkepentingan dengan batu itu akan dengan serta merta mempertimbangkan sikap yang akan mereka ambil. Mungkin mereka telah mempertimbangkan pula langkah-langkah kekerasan,“ berkata Mahisa Murti.

“Itulah yang aku maksud,“ berkata Mahisa Pukat, “bukankah dengan demikian kita harus siap menghadapi kekerasan?”

“Orang-orang padepokan itu cukup baik,“ berkata Mahisa Murti, “sedangkan orang-orang baru itu pun benar-benar dapat memperkuat kedudukan padepokan ini. Mereka nampaknya benar-benar menyadari apa yang sebaiknya mereka lakukan, sementara pemimpinnya memang masih harus diasingkan. Ia keras kepala dan tidak mudah ditundukkan.”

“Orang itu memang berniat membunuh diri,“ berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin demikian. Tetapi agaknya kita memang harus menaruh perhatian yang sangat besar atas dirinya.”

“Bagaimana jika orang itu kita singkirkan saja ke Lemah Warah,“ berkata Mahisa Pukat, “di sana ada tempat yang pantas bagi orang itu. Sementara itu, kita justru akan mendapat kesempatan untuk memusatkan perhatian kita kepada batu itu.”

Mahisa Murti termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Ada juga baiknya. Jika demikian, maka setelah kita mendapat kepastian dari padukuhan itu, kita akan pergi ke Lemah Warah untuk membawa orang itu ke sana, sekaligus menyampaikan rencana kita dengan batu itu kepada Akuwu Lemah Warah. Jika Akuwu sependapat, maka Akuwu tentu bersedia membantunya.”

Demikianlah, maka kedua orang anak muda itu sependapat untuk menghubungi lagi Akuwu Lemah Warah. Mereka akan menyampaikan rencana mereka dengan penuh harapan, bahwa Akuwu itu akan sependapat dengan mereka.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum memberitahukan tentang batu kehijauan itu kepada orang-orang padepokan. Mereka masih menunggu keterangan Ki Bekel dan pendapat Akuwu Lemah Warah. Karena itu maka mereka baru akan mengatakannya apabila mereka telah kembali menghadap Sang Akuwu.

Seperti yang dijanjikan oleh Ki Bekel, maka dua hari kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah pergi menemuinya. Sementara itu mereka terpaksa membuat tawanannya tidak berdaya, agar sepeninggal mereka, tawanan itu tidak berbuat sesuatu yang sulit diatasi oleh orang-orang padepokan.

Ternyata Ki Bekel merasa, tidak mempunyai pilihan lain kecuali menerima permintaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ia sudah berbicara dengan tiga orang Bekel dari padukuhan-padukuhan yang terdekat. Ternyata mereka tidak dapat menolaknya. Mereka mencemaskan akibatnya jika mereka menolak untuk meminjamkan, bahkan dengan istilah menyewakan kerbau mereka.

“Jika kerbau itu kembali dengan utuh, kita sudah merasa beruntung,“ berkata salah seorang di antara para bekel itu. “apalagi jika anak-anak muda yang kau katakan itu benar-benar membayar sewanya.”

Karena itulah, maka ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ditemui oleh Ki Bekel, maka pembicaraan mereka pun menjadi cepat. Ki Bekel telah menyediakan sepuluh ekor kerbau, yang dikumpulkannya dari ampat padukuhan.

“Terima kasih Ki Bekel,“ berkata Mahisa Murti, “dalam waktu sepekan lagi, kerbau-kerbau itu akan kami ambil. Kami akan meminjam selama kira-kira sepekan. Bahkan tidak sampai selama itu.”

“Baiklah Ki Sanak,“ berkata Ki Bekel, “dalam sepekan aku akan mengumpulkan kerbau-kerbau itu di sini. Kalian tinggal mengambilnya di sini. Tidak usah ke padukuhan-padukuhan yang lain.”

“Terima kasih,“ berkata Mahisa Murti, “mudah-mudahan kerja kami dapat selesai.”

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah meninggalkan Ki Bekel dan kembali ke padepokan. Mereka pun segera berkemas untuk menempuh perjalanan ke Lemah Warah. Ketika ia mengatakan hal itu kepada pemimpin padepokan, maka dengan wajah cemas pemimpin padepokan itu bertanya, “Lalu bagaimana dengan tawanan yang seorang itu?”

“Kami akan membawanya,“ jawab Mahisa Murti, “karena itu kami baru akan berangkat besok, jika orang itu telah mampu berjalan sendiri.”

“Bukankah kalian akan kembali lagi kemari?“ bertanya pemimpin padepokan itu..

“Tentu. Kami akan kembali kemari,“ berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “kami mempunyai rencana khusus untuk menjadikan rawa-rawa di sebelah padang perdu itu untuk dijadikan tanah garapan yang akan dapat membuat daerah ini lebih baik. Karena itu, kami tentu kembali. Dan tentu tidak terlalu lama.”

Demikianlah, di hari berikutnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meninggalkan padepokan itu menuju ke Pakuwon Lemah Warah. Tawanannya yang merasa berilmu tinggi itu telah dibawanya serta. Meskipun orang itu mengumpat-umpat, namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memaksanya untuk berangkat.

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...