*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-041-01*
Prajurit yang membawa air itu mulai ragu-ragu. Sekali lagi melihat pintu yang terbuka. Namun kemudian ia berpaling kepada orang yang sudah mulai dapat duduk itu.
Orang yang duduk itu diam-diam mengepalkan tinjunya. Ternyata bahwa kekuatannya rasa-rasanya sudah mulai mantap. Sementara itu yang dihadapinya hanyalah seorang prajurit. Karena itu, maka timbullah niatnya untuk melumpuhkan prajurit itu dan kemudian berusaha melarikan diri dari istana Akuwu Lemah Warah.
Dengan sikap seorang yang masih sangat lemah maka ia-pun berkata perlahan-lahan, “Air. Tolong, beri aku air.”
Prajurit itu memang ragu-ragu. Namun melihat keadaan tawanan itu, maka rasa-rasanya ia masih belum akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu, maka prajurit itu pun melangkah mendekat.
“Aku haus sekali,” berkata tawanan itu.
Prajurit itu pun kemudian memberikan mangkuk air itu kepada tawanan yang nampak kehausan itu.
Namun yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Tiba-tiba saja tawanan itu telah menangkap pergelangan tangan prajurit itu.
Prajurit itu terkejut. Suatu kekuatan yang besar telah menariknya dan melemparkannya ke arah dinding kayu yang kuat.
Benturan itu benar-benar menyakitinya. Namun nalurinya sebagai seorang prajurit segera mengguncang dadanya. Tiba-tiba pula ia telah meloncat bangkit dan siap menghadapi segala kemungkinan.
Orang yang melemparkannya itu pun telah berdiri pula. Tetapi ia merasa heran bahwa prajurit itu masih sempat bangkit dan bersiap untuk bertempur melawannya.
“Setan alas,” geram tawanan itu.
Tetapi ia tidak mau gagal. Karena itu, maka ia pun segera menyerang prajurit itu dengan mengerahkan kekuatannya. Ia akan membunuh prajurit itu secepat dapat dilakukan agar ia segera dapat meninggalkan tempat terkutuk itu.
Ketika ia meloncat menyerang, maka prajurit itu tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar. Bilik tahanan itu tidak terlalu luas sehingga karena itu, maka ia hanya mampu melindungi tubuhnya dengan tangannya.
Serangan tawanan itu telah menghantam tangan prajurit yang bersilang di dadanya. Terdengar keluhan tertahan. Namun prajurit itu sempat memperbaiki keadaannya. Ketika tawanan itu siap mengayunkan tangannya pula, maka prajurit itu telah memiringkan tubuhnya. Kakinya terjulur dengan cepat menghantam lawannya yang berdiri pada jarak yang terlalu dekat.
Sementara itu, tubuhnya telah tersandar pada dinding kayu yang kuat, sehingga justru menjadi tempat bertumpu. Dengan demikian maka dorongan kakinya seakan-akan menjadi semakin kuat.
Tawanan itu telah terdorong demikian kerasnya sehingga ia telah terlempar dan terbanting melintang di pembaringannya. Punggungnya terasa betapa sakitnya.
Namun ia merasa seorang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Karena itu, maka ia pun telah menghentakkan ilmunya. Ia tidak mau menunda-nunda waktu lagi. Jika orang itu dan bahkan seluruh bangunan itu akan terbakar menjadi hangus ia tidak mempedulikannya lagi. Karena itulah, maka ia pun telah menghentakkan ilmu puncaknya yang nggegirisi.
Dalam pada itu beberapa orang prajurit pengawal yang berada diluar telah mendengar keributan yang terjadi. Mereka segera menyadari, bahwa tawanan itu tentu berusaha untuk memberontak. Karena itu, maka mereka pun telah meloncat menuju ke pintu bilik yang tidak terlalu luas itu.
Namun mereka terkejut, ketika mereka melihat beberapa langkah dari pintu itu, Akuwu Lemah Warah bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri bagaikan membeku. Bahkan kemudian mereka pun telah memberi isyarat kepada para prajurit itu agar mereka mengurungkan niatnya.
Prajurit-prajurit itu kebingungan. Seorang di antara mereka dengan tergesa-gesa telah berlari mendekati Akuwu sambil berdesis, “Ampun Akuwu. Bukankah kawan hamba itu akan mati dicekik oleh tawanan yang mempunyai kemampuan tidak terbatas itu?”
“Kita akan melihatnya,” berkata Akuwu.
Prajurit itu menjadi heran. Namun ia menjadi terkejut ketika sesosok tubuh kemudian terlempar keluar dari bilik itu. Selagi tubuh yang terlempar keluar itu berusaha untuk bangkit, maka yang lain telah meloncat keluar dari pintu itu pula.
Ternyata mereka telah melanjutkan pertempuran di luar bilik yang sempit, yang agaknya kurang memberikan kesempatan mereka untuk bergerak.
Di luar bilik, pertempuran itu menjadi sangat seru. Keduanya saling menyerang dan bertahan. Sekali-sekali keduanya telah membenturkan kekuatan mereka dan keduanya terdorong beberapa langkah surut.
Adalah di luar dugaan, bahwa dalam pertempuran yang keras itu, prajurit Lemah Warah itu mampu mengimbangi kemampuan tawanan yang pernah disebut sebagai seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.
Namun ternyata bahwa tawanan itu sama sekali tidak lagi dapat bertahan lebih lama lagi. Perlahan-lahan ia menjadi semakin terdesak. Ketika sekali lagi ia menghentakkan kemampuan ilmunya, ternyata lawannya sama sekali tidak terpengaruh karenanya. Bahkan sebuah serangan yang kuat telah mengenai dadanya. Kaki lawannya yang tiba-tiba terjulur, sama sekali tidak mampu dihindarinya, sehingga karena itu, maka ia pun telah terlempar dan terbanting jatuh.
Betapa perasaan sakit telah menyumbat dadanya. Jantungnya rasa-rasanya telah retak karenanya.
Ketika ia bangkit sambil menyeringai, maka ia melihat lawannya, seorang prajurit yang tadi membawa air untuknya itu, telah siap pula untuk menyerangnya.
Sejenak orang yang pernah memimpin satu perguruan itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian menyadari, bahwa jika serangan itu datang lagi, maka ia tidak akan dapat berbuat apa-apa.
Sebenarnyalah, serangan berikutnya datang membadai. Orang itu memang tidak dapat berbuat banyak. Kaki yang terjulur sekali lagi menghantam dadanya dan mendorongnya bahkan membantingnya jatuh di tanah.
Prajurit itu sudah siap menghancurkannya sebelum orang itu bangkit. Tetapi Akuwu Lemah Warah telah menahannya. Katanya, “Sudahlah. Ia sudah tidak berdaya.”
Prajurit itu tertegun. Namun ia pun kemudian melangkah surut ketika ia sadar, bahwa Akuwu telah berdiri beberapa langkah dari lawannya itu.
Perlahan-lahan orang yang pernah memimpin sebuah perguruan itu bangkit. Kemudian dipandanginya Akuwu Lemah Warah itu dengan sorot mata bagaikan membakarnya.
“Kau licik,” geram orang itu.
“Kenapa?” bertanya Akuwu Lemah Warah.
“Kau rusakkan kemampuan ilmuku dengan merusakkan simpul-simpul perbendaharaan ilmuku di punggungku,” geram orang itu, “sehingga aku sama sekali tidak mampu lagi melepaskan ilmuku, karena ilmuku itu telah terhapus dari perbendaharaan kemampuanku. Ilmu yang aku pelajari bertahun-tahun, kini telah kau hancurkan. Semula aku mengira bahwa hal itu hanya karena tubuhku masih lemah. Tetapi ketika ternyata bahwa sama sekali tidak terungkap ilmuku itu. Serta punggungku yang terasa sakit, maka barulah aku sadar, bahwa ketika aku pingsan, kau telah berbuat licik. Sangat licik. Tidak layaknya dilakukan oleh seorang laki-laki. Apalagi seorang kesatria seperti kau Akuwu.”
Akuwu mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, “Kau benar Ki Sanak, jika persoalannya kau lepaskan dari tingkah laku serta sikapmu. Tetapi kau harus ingat, bahwa aku melakukannya setelah aku mengenali tingkah laku serta sikapmu seutuhnya.”
“Bagaimana dengan sikapku?” bertanya orang itu.
“Jika kau bersikap wajar dan tidak mengingkari kenyataan, maka aku tidak akan berbuat sebagaimana aku lakukan,” berkata Akuwu Lemah Warah, “coba bayangkan apa yang telah terjadi di padepokan Suriantal. Kemudian bagaimana pula sikapmu ketika kau dibawa kemari. Bagaimana pula sikapmu setelah kau berada di sini, dihadapan Akuwu yang berkuasa di Lemah Warah, maka aku mengambil kesimpulan, bahwa orang seperti kau tidak pantas untuk mendapat perlakuan yang baik sebagaimana aku memperlakukan seorang kesatria, bahkan memperlakukan seorang hamba yang mengenal dirinya dan menerima kenyataan tentang dirinya itu.”
“Persetan,” geram orang itu.
“Nah, kau masih juga tidak tahu diri. Aku dapat memanggil prajurit-prajuritku untuk memperlakukan kau lebih buruk lagi. Kau sudah tidak memiliki ilmu apapun juga, kecuali sedikit ketrampilan berkelahi seperti anak-anak di Pakuwon ini. Kau tidak dapat lagi membangunkan tenaga cadangan di dalam dirimu, apalagi ilmumu yang mampu menyadap kekuatan api. Nah, apa lagi yang akan kau pergunakan untuk menyombongkan diri dengan sikap kasar dan umpatan-umpatan tidak pantas.”
Orang itu termenung sejenak. Berbagai perasaan telah bergejolak di dalam dirinya. Marah, kecewa, cemas dan bahkan ketakutan bercampur, baur. Namun dalam gejolak yang tidak dapat dikendalikannya maka tiba-tiba saja ia bangkit berdiri sambil berteriak, “Bunuh aku. Ayo, siapakah di antara kalian yang cukup jantan berani membunuhku he? Siapa?”
Para prajurit yang berkerumun termangu-mangu. Mereka sekali-sekali memandang Akuwu Lemah Warah yang berdiri di tempatnya tanpa berbuat sesuatu.
Sementara itu, orang itu pun masih saja berteriak, “Bunuh aku.”
Baru beberapa saat kemudian Akuwu Lemah Warah itu berkata, “Ki Sanak. Tidak ada orang yang akan bersedia membunuhmu di sini. Tetapi jika kau cukup mempunyai keberanian maka bunuhlah dirimu sendiri. Kau dapat meminjam pedang, keris atau jenis senjata lainnya yang kau inginkan. Nah, lakukanlah. Para prajurit akan menjadi saksi bahwa seorang laki-laki yang putus asa karena tidak mampu lagi menegakkan ilmunya yang nggegirisi telah membunuh diri.”
“Persetan,” orang itu masih menggeram.
Sementara itu Akuwu Lemah Warah berkata, “Nah, apakah sebenarnya yang kau inginkan sekarang.”
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia-pun telah menundukkan kepalanya. Agaknya ia tidak lagi merasa perlu untuk mengingkari kenyataan yang terjadi atas dirinya. Bahkan ia pun merasa kecewa, bahkan dirinya telah mengalami perlakuan yang pahit justru karena sikapnya sendiri. Ia telah kehilangan segenap kemampuannya, sehingga ia tidak lebih dari seorang prajurit kebanyakan. Bahkan ketika ia berkelahi melawan prajurit pengawal itu terasa bahwa tenaganya tidak lagi mampu mengimbangi kekuatan prajurit itu.
Karena itu, maka orang itu tidak lagi berniat untuk berbuat apapun juga. Ia pun telah pasrah seandainya ia harus menjalani hukuman mati, atau perlakuan apa pun juga.
Akuwu yang melihat sikap orang itu pun kemudian melihat perubahan di dalam dirinya. Karena itu, maka Akuwu pun kemudian berkata kepada prajurit yang telah berkelahi melawan orang itu, “Bawa kembali ke biliknya.”
Prajurit yang telah bertempur melawan tawanan itu memang menjadi heran terhadap dirinya sendiri, bahwa ia mampu melawan dan bahkan mengimbangi kemampuan orang yang menurut keterangan yang diterimanya, berilmu sangat tinggi.
Namun akhirnya orang-orang termasuk para prajurit di istana Lemah Warah itu mengetahui, bahwa kemampuan orang yang berbahaya itu telah dihancurkan oleh Akuwu, sehingga orang itu tidak lagi memiliki ilmu yang nggegirisi.
Karena itu, maka tawanan itu tidak memerlukan pengawalan yang khusus lagi. Ia dimasukkan ke dalam biliknya yang kuat dan diselarak dari luar. Ia tidak lagi memiliki kemampuan untuk keluar dari bilik itu.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak terlalu lama berada di Lemah Warah. Ia berjanji akan segera kembali kepada Ki Bekel yang akan menyediakan kerbau yang dikehendakinya.
Karena itu, setelah menyerahkan tawanannya yang tidak memiliki kemampuan lagi untuk menengadahkan kepalanya dan menuntut agar padepokan Suriantal diserahkan, maka kedua anak muda itu telah minta diri.
“Baiklah,” berkata Akuwu Lemah Warah, “tetapi jika kau perlukan bantuan, aku tidak berkeberatan. Seandainya sepuluh ekor kerbau itu kau bawa dari sini, maka kau tidak perlu mencari di padukuhan itu.”
“Terima kasih. Tetapi untuk membawa sepuluh ekor kerbau dari Lemah Warah agaknya terlalu sulit karena jarak yang panjang,” berkata Mahisa Murti.
Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Anak-anak muda, apakah rencanamu selanjutnya dengan batu hijau itu? Seperti yang kalian katakan, kalian ingin membentuk sesuatu dengan batu itu. Jika batu itu berada di padepokan Suriantal, maka agaknya untuk mengamankannya diperlukan kekuatan yang cukup besar. Apalagi jika batu itu akan dibentuk di padepokan itu.”
“Jadi bagaimana sebaiknya menurut Akuwu?” bertanya Mahisa Murti.
“Apakah tidak sebaiknya batu itu kalian bawa kemari saja. kemudian dikerjakan di sini sebagaimana kalian inginkan? Di sini batu itu akan lebih aman, karena kita akan mampu melindunginya. Tetapi di padepokan itu, kekuatan yang tertinggal tidak lagi cukup besar jika ada kekuatan yang ingin merampas batu itu. Apalagi nanti, jika ujud batu itu sudah dibentuk.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka mengerti keterangan Akuwu itu. Namun anak-anak muda itu agaknya mempunyai keinginan untuk melakukan sesuatu yang berarti. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Akuwu. Kami mohon kali ini diijinkan untuk melakukan itu sendiri. Kami akan berbuat sesuatu yang barangkali akan dapat menjadi semacam kebanggaan di hati kami. Kami akan mempersembahkan sebuah patung dari batu yang berwarna kehijauan itu.”
Akuwu Lemah Warah tersenyum. Katanya, “Baiklah anak-anak. Lakukanlah jika kau memang menginginkannya. Aku sependapat, bahwa hal itu akan menjadi satu kebanggaan bagi kalian. Patung itu akan dapat kalian persembahkan kepada orang yang paling kalian hormati.”
“Kami ingin mempersembahkan kepada Sri Maharaja di Singasari,” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng.
“Bagus,” jawab Akuwu, “kau dapat membuat sebuah patung yang indah dari Sepasang Ular di Satu Sarang.”
“Ya,” desis Mahisa Pukat, “Sepasang Ular Naga di Satu Sarang.”
“Sebutan bagi Sri Maharaja dan Ratu Angabaya,” sahut Mahisa Murti.
Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian rencana kalian itu merupakan rencana yang bagus sekali. Aku akan membantu apa pun yang dapat aku berikan. Mungkin kau memerlukan sekelompok prajurit yang akan dapat membantu menjaga batu itu. Atau mungkin bekal atau bahkan uang.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Namun kemudian Mahisa Murti itu pun berkata, “Kami mengucapkan terima kasih Akuwu. Kami memang memerlukan bantuan yang barangkali cukup banyak. Jika kami kelak mengundang seorang pemahat yang mumpuni, maka kami akan memerlukan perlindungan Akuwu dan barangkali juga uang. Jika Akuwu berkenan bermurah hati memberikannya kepada kami, maka kami tidak perlu mencarinya atau mengambil pulang ke Singasari.”
“Katakan apa yang kau perlukan,” berkata Akuwu, “kalian berdua adalah kemenakanku. Aku sudah mengaku kalian sebagai kemenakanku sejak kita bersama-sama bertugas di padepokan Suriantal itu.”
Demikianlah, maka ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bersiap-siap kembali ke padepokan Suriantal, maka Akuwu telah menugaskan duapuluh lima orang prajurit pilihan untuk menyertai mereka berdua. Para prajurit pilihan itu bertugas untuk membantu mengamankan batu yang akan disimpan di padepokan untuk selanjutnya dipahat menjadi sebuah patung yang akan dipersembahkan kepada Sri Maharaja di Singasari.
Di hari berikutnya, ketika fajar menyingsing, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meninggalkan Pakuwon Lemah Warah bersama duapuluh orang prajurit yang akan bertugas bergantian dalam waktu sebulan. Sekelompok pasukan berikutnya akan menggantikan para prajurit itu susul menyusul sampai mereka tidak diperlukan lagi. Atau justru malahan sepasukan yang lebih besar untuk mengawal patung yang akan dibawa ke Singasari.
Demikianlah, sebuah iring-iringan telah meninggalkan Lemah Warah memasuki perjalanan yang cukup panjang. Mereka memang harus bermalam di perjalanan. Baru di hari berikutnya mereka memasuki padepokan Suriantal.
Kedatangan sepasukan prajurit itu memang mengejutkan. Seisi padepokan itu dengan serta merta telah mempersiapkan diri. Namun ternyata yang datang adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Meskipun demikian pemimpin padepokan itu menjadi agak ragu juga. Ketika regol padepokan itu dibuka, maka pemimpin padepokan itu telah berdiri di pintu. Beberapa orang pemimpin kelompok telah bersiap di belakangnya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada di paling depan dari iring-iringan itu tersenyum. Kemudian Mahisa Murti berkata, “Aku sudah menitipkan tawanan kita di Lemah Warah. Sementara itu Akuwu Lemah Warah telah mengirimkan beberapa orang prajurit yang akan membantu kita. Setiap kelompok akan berada di padepokan ini untuk sebulan. Mereka akan diganti oleh kelompok yang lain, berurutan di setiap bulan.”
Pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Tetapi masih nampak keragu-raguan di wajahnya.
“Kau cemas bahwa kami telah berubah sikap?” bertanya Mahisa Pukat, “setelah kami menyingkirkan orang yang berniat untuk memiliki padepokan ini, maka kami datang untuk menggantikannya?”
Pemimpin padepokan itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti berkata, “Kelompok ini adalah prajurit Lengah Warah. Jika hal yang demikian itu kami kehendaki, maka kami akan membawa kekuatan yang lebih meyakinkan. Atau Akuwu Lemah Warah tidak akan meninggalkan padepokan setelah padepokan ini dipecahkannya dahulu.”
Pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Karena itu, maka kemudian katanya, “Aku minta maaf. Aku telah diajar oleh pengalaman untuk berhati-hati.”
“Satu sikap yang baik,” berkata Mahisa Murti, “aku tidak berkeberatan atas sikapmu itu.”
Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun telah dipersilahkan masuk bersama duapuluh lima orang prajurit yang datang bersamanya. Orang-orang padepokan itu dengan tergesa-gesa telah membersihkan barak yang untuk beberapa lama sudah tidak dipergunakan lagi. Di barak itulah ke-dua puluh lima prajurit itu kemudian ditempatkan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memberikan pesan-pesan khusus kepada para prajurit itu, agar mereka berusaha untuk menyesuaikan diri hidup di lingkungan yang berbeda dari lingkungan mereka sebelumnya.
Tetapi Senapati yang memimpin sekelompok prajurit itu berkata, “Kami sudah ditempa untuk menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga. Kami akan berusaha untuk menjadikan diri kami bagian dari padepokan ini.”
“Terima kasih,” berkata Mahisa Murti, “kita akan membina bersama-sama. Bukan saja kehidupan dan kesejahteraan di padepokan ini, tetapi juga kemampuan dari orang-orang yang tinggal di padepokan ini.”
“Kami akan mencoba,” berkata Senapati itu.
Demikianlah, sejak hari itu, penghuni padepokan itu pun telah bertambah.
Namun seperti yang dikatakan oleh Senapati prajurit Lemah Warah, bahwa para prajurit itu akan segera menyesuaikan dirinya dengan para penghuni padepokan itu.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menemui Ki Bekel sebagaimana pernah dikatakannya sebelumnya bersama beberapa orang penghuni padepokan itu untuk mengambil sepuluh ekor kerbau dan membawanya ke padepokan.
Meski pun dengan agak ragu, namun Ki Bekel telah melepaskan sepuluh ekor kerbau yang cukup kuat itu sebagaimana dijanjikan. Bahkan beberapa orang Bekel yang lain telah mengatakan bahwa seandainya kerbau-kerbau itu terpaksa tidak kembali, maka mereka tidak akan menuntutnya.
“Kenapa?” bertanya salah seorang Bekel.
“Mereka dapat berbuat apa saja. Sampai saat ini orang-orang padepokan itu tidak pernah secara sungguh-sungguh mengganggu kita. Karena itu, kita jangan membuat mereka kecewa, sehingga mereka akan melakukan apa yang tidak pernah mereka lakukan,” jawab Ki Bekel yang merelakan kerbaunya.
Yang lain mengangguk-angguk. Mereka memang menyadari bahwa kekuatan yang ada di padepokan itu memang tidak akan terlawan. Mereka mengerti bahwa telah terjadi beberapa pergolakan di padepokan itu. Namun mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang mereka ketahui bahwa di padepokan itu masih terdapat kekuatan yang dapat memaksakan kehendak mereka kepada orang-orang di padukuhan jika mereka kehendaki.
Dengan sepuluh ekor kerbau itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah merencanakan untuk menarik batu yang berwarna kehijau-hijauan itu ke padepokan. Untuk itu maka ia memang harus berbicara dengan pemimpin padepokan itu, para pemimpin kelompok dan Senapati prajurit Lemah Warah.
Dari sorot matanya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat melihat kecemasan di hati pemimpin padepokan itu.
Karena itu maka Mahisa Murti pun telah bertanya, “Apakah yang membuatmu nampak ragu-ragu?”
Pemimpin padepokan itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Batu itu adalah batu yang penuh dengan rahasia. Tidak setiap orang dapat menyentuhnya. Bahkan kadang-kadang orang yang berani menyentuhnya akan mati.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti berkata, “Aku mengenal watak jenis-jenis bebatuan. Mudah-mudahan kita tidak mengalami sesuatu.”
“Bukan hanya itu,” berkata pemimpin padepokan itu, “tetapi banyak pihak yang mengingini batu itu. Karena itu, jika batu itu berhasil kita bawa ke padepokan ini, maka mereka merasa bahwa batu itu sudah tidak lagi berbahaya. Mereka akan datang untuk mengambilnya dari padepokan ini. Bahkan dengan kekerasan.”
Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Itulah sebabnya aku telah memohon bantuan Akuwu Lemah Warah dengan sekelompok prajurit yang kini ada bersama kita.”
Pemimpin padepokan itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menyadari, jika benar kedua anak muda itu akan mengambil batu yang berwarna kehijauan itu, maka mereka tidak dapat berharap bahwa padepokan itu akan menjadi tenang. Setiap saat akan datang orang-orang yang akan mengambil batu itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat kegelisahan itu. Bukan saja pada pemimpin padepokan, tetapi juga pada para pemimpin kelompok.
Karena itu Mahisa Murti pun berkata, “Aku berharap kalian tidak akan cemas. Para prajurit Lemah Warah akan berada di sini selama batu itu masih ada di sini.”
Pemimpin padepokan itu menarik nafas dalam-dalam. Kehadiran para prajurit Lemah Warah itu memang memberikan ketenangan, karena meskipun yang ada di padepokan itu hanya dua puluh lima orang, tetapi mereka adalah lambang keterlibatan seluruh Pakuwon Lemah Warah. Jika terjadi sesuatu dengan para prajurit itu, maka Akuwu tentu tidak akan tinggal diam.
Karena itu, maka pemimpin padepokan itu pun kemudian berkata, “Baiklah. Kami akan melakukan apa yang baik bagi kalian.”
Demikianlah, maka segala persiapan pun telah dilakukan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dibantu oleh orang-orang padepokan itu telah membuat tali dari sabut. Mereka telah mengumpulkan sabut kelapa bukan saja dari padepokan itu, tetapi mereka telah datang pula ke padukuhan untuk minta agar sabut kelapa yang ada di padukuhan itu dikumpulkan.
Dengan sabut kelapa itu mereka telah membuat tali-tali yang besar dan kuat. Bukan hanya satu dua depa, tetapi panjang sekali. Beberapa puluh gulung.
Sebelum usaha menarik batu itu dilakukan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah sekali lagi datang ke tempat batu yang kehijau-hijauan itu.
Mereka telah merencanakan cara yang paling baik untuk menarik batu itu. Mereka sadar, jika batu itu berguncang, maka binatang-binatang berbisa yang ada di celah-celah batu itu dalam jumlah yang tidak terhitung akan berjatuhan di sepanjang jalan. Binatang-binatang itu memang akan dapat berbahaya bagi orang lain. Namun agaknya binatang-binatang berbisa itulah yang telah menumbuhkan ceritera seolah-olah batu itu menjadi keramat dan dikeramatkan. Bahkan orang yang berani menyentuh batu itu akan mati.
Agaknya orang yang menyentuh batu itu telah disengat atau dipatuk oleh binatang berbisa yang ada di dalam dan di sekitar batu itu.
“Memang sulit,” berkata Mahisa Pukat.
“Binatang berbisa yang terjatuh di sepanjang jalan tentu akan segera berlari bersembunyi,” berkata Mahisa Murti, “hanya setelah mendekati padepokan kita harus berhati-hati terhadap binatang itu.”
“Orang-orang yang membantu menarik batu itu?” bertanya Mahisa Pukat.
“Agaknya kita harus bekerja keras dengan penawar racun itu. Tetapi agaknya kita sendirilah yang harus mengikat batu itu, agar sentuhan bisa itu tidak mengambil korban,” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Nampaknya mereka berdua memang harus bekerja keras, sehingga batu itu sampai di padepokan.
Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berada di tempat itu. Mereka mengamati tempat itu dengan saksama. Mereka mulai meneliti ke arah mana batu itu akan ditarik dan dibawa ke luar dari lingkungan hutan yang penuh dengan binatang berbisa itu.
Setelah keduanya mendapatkan kepastian tentang batu itu, maka keduanya pun segera kembali ke padepokan.
“Besok kita akan mulai,” berkata Mahisa Murti kepada Senapati prajurit dari Lemah Warah. Lalu katanya, “Salah satu hambatan adalah binatang berbisa.”
Tetapi Senapati itu berkata, “Kami dibekali dengan obat penawar racun meskipun hanya berlaku untuk sementara. Tetapi setidak-tidaknya dapat mencegah kami dibunuh oleh bisa apa pun juga dalam waktu satu hari. Karena itu, maka kami akan dapat melakukan tugas itu tanpa merasa takut terhadap berjenis-jenis binatang yang ada pada batu itu. Namun mungkin kulit kami memang akan dapat meremang jika kami menyaksikan retak-retak batu besar itu penuh dengan binatang yang bergerak-gerak dan siap menyerang.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Mahisa Pukat berkata, “Syukurlah. Pekerjaan kita akan jauh bertambah ringan. Ternyata Akuwu Lemah Warah mempunyai pandangan jauh ke depan. Apa yang tidak kita mohon, telah diberikannya.”
Dengan demikian, maka di malam hari, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengumpulkan semua isi padepokan itu termasuk para prajurit. Dengan singkat tetapi pasti, Mahisa Murti mengatakan kepada mereka, bahwa besok mereka akan mulai dengan kerja besar. Bukan saja mengambil batu itu. Tetapi tugas yang kemudian harus mereka lakukan adalah mempertahankan batu itu jika ada pihak lain yang menghendakinya.
Dengan nada berat Mahisa Murti berkata, “Aku mempercayakan batu itu kepada kalian semuanya. Dengan harapan bahwa batu itu kelak akan dapat menjadi sebuah patung yang berharga yang akan kita persembahkan kepada Sri Maharaja di Singasari.”
Bagaimanapun juga seisi padepokan itu merasa ikut berkewajiban untuk mempertahankan batu itu. Penjelasan yang diberikan oleh Mahisa Murti telah meyakinkan mereka. Termasuk para prajurit dari Lemah Warah.
Di keesokan harinya, sebelum matahari terbit, semua orang telah dipersiapkan. Jarak antara padepokan itu sampai ke batu yang berwarna kehijauan itu memang tidak terlalu dekat. Sehingga karena itu mereka harus mempersiapkan sebuah perjalanan.
Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memutuskan bahwa semua orang harus ikut serta. Jika ada sebagian yang tinggal, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sebagaimana pemimpin padepokan itu justru mencemaskan keselamatan mereka.
Sementara itu, maka telah dipersiapkan pula bekal untuk mereka makan di perjalanan. Bahkan bahan mentah yang mungkin diperlukan! Lembu-lembu yang masih belum dipergunakan itu dapat membantu membawa bekal bagi mereka.
Ternyata sambil menggiring sepuluh ekor lembu di perjalanan yang berat, mereka maju sangat lamban.
Namun mereka tidak mengeluh. Orang-orang yang ikut bersama mereka adalah orang-orang yang terlatih dan ditempa oleh pengalaman yang sangat berat pula.
Karena itu, maka mereka tidak dapat melakukan tugas mereka itu dalam sehari. Malam hari mereka harus bermalam tidak terlalu jauh dari batu yang kehijau-hijauan itu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menasehatkan agar mereka membuat kelompok-kelompok dan menyalakan api.
“Biasanya binatang melata banyak di tempat ini,” berkata Mahisa Pukat, “kalian harus berhati-hati.”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar