*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 035-03*
Dalam pada itu, para penghuni padepokan itupun telah berusaha untuk mencegah para prajurit Lemah Warah keluar dari padepokan itu, namun terlalu sulit bagi mereka untuk dapat berbuat demikian, karena mereka pun tidak dapat melihat pada jarak selangkah.
Para prajurit Lemah Warah yang berusaha mencapai dinding padepokan harus mengamati setiap tubuh yang terbaring yang mereka jumpai. Jika ternyata tubuh itu adalah tubuh prajurit Lemah Warah hidup atau mati, maka prajurit itu telah berusaha membawanya.
Betapapun sulit dan lambatnya, namun akhirnya para prajurit Lemah Warah itupun telah berhasil keluar dari dinding padepokan itu. Padepokan yang semula dikenal sebagai padepokan orang-orang bertongkat. Namun ternyata yang memenuhi padepokan itu bukannya hanya orang-orang bertongkat saja.
Ternyata beberapa perguruan telah bergabung menjadi satu. Atau mungkin salah satu perguruan yang mempunyai kekuatan tidak terlawan oleh yang lain telah memaksakan kehendaknya atas perguruan yang lain yang ada di padepokan itu.
Ketiga orang anak muda yang disebut kemanakan Tatas Lintang itupun telah berada di luar padepokan pula, sementara Tatas Lintang adalah orang yang terakhir yang meloncati dinding padepokan.
Diluar padepokan, tidak ada selembar kabut pun yang menghalangi pandangan mereka. Tidak ada angin yang tidak ada suasana apapun yang mempengaruhi mereka. Langit cerah dan dedaunan pun bergerak dihembus oleh angin yang tidak begitu kencang.
“Luar Biasa,” geram Tatas Lintang, “ternyata didalam padepokan itu terdapat seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Ilmu yang telah berhasil menghentikan pertempuran. Kemenangan yang perlahan-lahan telah diraih oleh para prajurit itu, ternyata tidak dapat mereka selesaikan dengan tuntas.”
Namun bagi Tatas Lintang, menarik pasukannya keluar dari padepokan adalah jalan yang paling baik yang dapat ditempuh. Jika tidak, maka orang-orang padepokan itu yang kemudian menjadi mapan akan sangat berbahaya bagi mereka. Jika kabut itu dibuatnya sedikit menipis setelah orang-orang dari padepokan itu berhasil bebas dari himpitan dan tekanan pasukan Lemah Warah, maka mereka akan mendapat banyak kesempatan untuk menyerang dan kemudian menghilang diantara kabut dan sudut-sudut barak di padepokan itu.
Karena itu, maka satu-satunya kemungkinan yang dapat ditempuh adalah sebagaimana dilakukan oleh Tatas Lintang.
Setelah mereka berada di luar padepokan, maka Tatas Lintang pun segera mengumpulkan para pemimpin kelompok serta ketiga orang yang disebutnya sebagai kemanakannya, serta Panglima pasukan khusus itu. Mereka berusaha untuk memecahkan teka-teki yang mereka hadapi di padepokan itu.
Namun akhirnya Tatas Lintang pun memerintahkan kepada para pemimpin kelompok untuk kembali ke kelompok masing-masing dengan pesan, “Jangan ada seorang pun yang lolos. Kita tetap mengepung padepokan ini. Pada saatnya nanti kita akan berbicara lebih mendalam. Mungkin kita mendapat petunjuk apa yang harus kita lakukan.
Para pemimpin kelompok itupun segera kembali ke pasukan masing-masing. Mereka telah mengatur kelompoknya serta menyampaikan perintah Akuwu agar mereka tetap mengepung padepokan itu dengan ketat.
“Tidak seorang pun boleh lolos dari kepungan,” berkata setiap pemimpin kelompok kepada pasukannya.
Dalam kesempatan itu, Tatas Lintang sempat berbicara secara khusus dengan Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Ura dan Panglima pasukan khususnya.
“Sayang kita tidak menemukan orang itu dan tidak mengetahui di mana orang itu berada,” berkata Tatas Lintang.
Ketiga orang yang pernah diaku sebagai kemanakan Tatas Lintang itu serta Panglima khususnya mengangguk-angguk. Mereka sebenarnya tidak gentar menghadapinya seandainya mereka mendapat kesempatan. Tetapi agaknya mereka sulit untuk menemukan orang itu di antara para penghuni padepokan itu.
“Pada waktu ia melepaskan ilmunya, mungkin ia berada di salah satu barak di padepokan itu,” berkata Mahisa Murti.
“Mungkin,” sahut Tatas Lintang, “tetapi bagaimana menemukan barak yang satu itu.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun baginya tidak segera nampak satu cara untuk memecahkan teka-teki itu.
“Kita akan menunggu sampai kita menemukan satu cara. Selama itu kita akan mengepung padepokan ini,” berkata Tatas Lintang. Lalu, “Sementara itu kita dapat menghitung berapa orang kita yang gugur, yang terluka dan yang hilang. Namun kita yakin, bahwa jumlah korban di antara kita dan orang-orang padepokan itu, tentu lebih banyak di antara mereka.”
“Ya. Aku yakin,” desis Mahisa Pukat.
Dengan demikian, maka mereka tidak melanjutkan pembicaraan itu. Mereka justru telah mengelilingi pasukan Lemah Warah yang mengepung padepokan itu dalam kelompok-kelompok kecil yang tersebar. Seperti diperintahkan oleh Akuwu Lemah Warah, maka tidak boleh seorang pun lolos.
Untuk menjaga agar pasukan Lemah Warah itu tidak dikoyak-koyak oleh orang-orang yang berilmu tinggi dari padepokan itu yang dengan sengaja dan diam-diam meloncati dinding untuk menyerang, maka para kelompok harus mempunyai alat untuk menyampaikan isyarat. Karena itu, maka mereka harus berusaha mencari batang bambu di rumpun-rumpun bambu di luar padepokan itu untuk membuat kentongan.
Dengan isyarat itu, maka mereka akan dapat memanggil para pemimpin dari Lemah Warah untuk menghadapi orang-orang berilmu tinggi dari padepokan itu apabila mereka dengan diam-diam keluar dari padepokannya untuk mengacaukan kepungan para prajurit Lemah Warah.
Kepada setiap pemimpin kelompok Akuwu Lemah Warah yang datang kepada kelompok-kelompok itu telah memberikan pesan agar pasukan Lemah Warah tidak justru terjebak.
“Kita harus berhasil,” berkata Akuwu Lemah Warah, “yang perlu dicari pemecahannya adalah kabut yang membuat padepokan itu menjadi gelap. Apalagi jika dalam gelapnya kabut itu, orang-orang padepokan itu sempat mempergunakan ular-ular mereka. Maka kita benar-benar akan dihancurkan, karena ular itu akan dapat menelusur ke seluruh medan dengan bekal pengenalan atas lawan-lawan dari orang yang mempengaruhinya dengan Ilmu Gendam.”
Para pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Mereka memang dapat membayangkan, betapa ngerinya jika di dalam kabut yang gelap itu, di bawah kaki mereka berkeliaran ular-ular berbisa yang setiap saat dapat mematuk mereka. Dengan demikian maka mereka akan dibantai oleh lawan mereka tanpa mampu memberikan perlawanan apapun juga.
Dengan demikian maka yang harus dilakukan oleh pasukan itu adalah sekedar menunggu perintah lebih lanjut. Sementara itu mereka harus mengawasi padepokan itu dengan ketat, sehingga mereka tidak akan terjerumus ke dalam keadaan yang tiba-tiba saja menjadi gawat.
Namun di antara mereka yang terluka itu ternyata ada juga yang telah digigit oleh ular berbisa. Untunglah bahwa mereka pada umumnya membawa obat penawar bisa, sehingga meskipun untuk sementara, mereka berhasil menahan menjalarnya bisa di dalam tubuh mereka, sampai saatnya Akuwu Lemah Warah sendiri memberikan pengobatan kepada mereka.
Di malam hari, pengawasan di sekitar padepokan itu tidak mengendor. Setiap kelompok telah membagi orang-orangnya untuk mengamati keadaan dengan saksama. Sementara itu, setiap kelompok pun harus menghitung dengan teliti, berapa orang yang terbunuh, hilang atau terluka.
Sambil mengamati keadaan, maka beberapa orang prajurit telah menyelenggarakan persiapan penguburan kawan-kawan mereka yang terbunuh, yang akan dilakukan besok. Sedangkan yang lain merawat kawan-kawan mereka yang terluka.
Di hari berikutnya kesibukan para prajurit Lemah Warah ditandai dengan beberapa gundukan tanah basah. Mereka telah menguburkan kawan-kawan mereka yang terbunuh di peperangan.
Meskipun demikian, pengawasan terhadap padepokan itu sama sekali tidak diabaikan. Setiap jengkal mendapat pengawasan secermat-cermatnya.
Tatas Lintang, Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Ura dan Panglima pasukan khusus dari Lemah Warah itu agaknya masih belum mendapatkan cara untuk menembus padepokan itu. Ketika mereka berbicara tentang kemungkinan itu, maka Mahisa Pukat pun berkata, “Kita bakar saja padepokan itu.”
“Kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Mungkin barak-barak itu akan terbakar, tetapi orang-orangnya masih akan tetap bertahan,” jawab Tatas Lintang.
“Jika persediaan makan mereka juga terbakar?” berkata Mahisa Pukat pula.
“Kita tidak tahu di manakah mereka menyimpan persediaan makanan mereka. Tetapi membakar padepokan itu mempunyai kesan yang terlalu kasar, meskipun kita tidak melanggar paugeran apapun juga,” jawab Akuwu Tatas Lintang, “namun jika kita mempunyai cara lain yang lebih baik untuk memaksa menyerah, aku kira kita akan menempuhnya.”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, yang lain pun berpikir juga untuk mencari satu kemungkinan yang lebih baik dari yang diusulkan oleh Mahisa Pukat itu.
Namun tidak mudah untuk menemukan cara itu. Karena itu Tatas Lintang pun telah memerintahkan agar pasukannya mengepung padepokan itu dengan rapat.
“Kita akan berada di sini untuk waktu yang tidak ditentukan,” berkata Tatas Lintang kepada para pemimpin kelompok, “kita harus mencari jalan yang sebaik-baiknya agar korban tidak terlalu banyak jatuh. Karena itu kita tidak boleh tergesa-gesa.”
Para pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa Akuwu Lemah Warah itu harus berbuat dengan sangat berhati-hati tanpa mengorbankan prajurit-prajuritnya tanpa arti. Namun demikian mereka juga mulai memandang hari-hari berikutnya yang tidak pasti. Meskipun dihadapan mereka masih tetap berdiri dinding padepokan yang garang yang menyimpan orang-orang berilmu tinggi.
Namun dalam pada itu, peristiwa lain telah terjadi. Beberapa orang prajurit telah menangkap tiga orang yang tidak dikenal. Tetapi ketiga orang itu tidak melakukan perlawanan.
Ketika para prajurit mengacukan senjata mereka, maka salah seorang dari ketiga orang itu berkata, “Kami justru ingin bertemu dengan Panglima pasukan kalian.”
“Kami dipimpin langsung oleh Panglima kami dan Akuwu kami,” jawab prajurit itu.
“Bawa kami kepada keduanya,” jawab salah seorang dari ketiga orang itu.
Para prajurit itu memang ragu-ragu. Tetapi ketiga orang itu nampaknya memang tidak ingin melakukan sesuatu. Bahkan seandainya mereka ingin berbuat curang, maka biarlah mereka berhadapan dengan Akuwu dan tiga orang anak muda yang disebut kemanakannya itu. Orang-orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.
Sebenarnyalah maka ketiga orang itu telah dibawa menghadap Akuwu Lemah Warah yang sedang berbincang dengan tiga orang yang disebut kemanakannya itu serta Panglima pasukan khususnya. Perbincangan yang panjang yang masih belum menemukan kesimpulan yang meyakinkan untuk mengatasi kesulitan di dalam padepokan itu.
Seorang di antara para prajurit itu telah menghadap Akuwu Lemah Warah yang berada di dalam sebuah gubug kecil yang telah dibangun oleh para prajurit Lemah Warah untuk sekedar berlindung dari terik matahari basahnya embun malam.
“Kami telah menangkap tiga orang yang tidak dikenal, Akuwu,” berkata prajurit itu.
“Apa yang mereka lakukan?” bertanya Akuwu.
“Mereka tidak berbuat apa-apa. Dan mereka sama sekali tidak melakukan perlawanan. Bahkan mereka mohon untuk dapat menghadap Akuwu Lemah Warah,” jawab prajurit itu.
Akuwu Lemah Warah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Bawa mereka kemari.”
Para prajurit itupun kemudian telah membawa ketiga o rang itu memasuki gubug menghadap Akuwu Lemah Warah.
Namun ketika Akuwu Lemah Warah, Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Ura dan Panglima pasukan khusus melihat orang yang datang itu, mereka pun serentak telah bangkit berdiri sambil mengangguk hormat.
Prajurit yang membawa ketiga orang itu termangu-mangu sejenak. Namun mereka pun menjadi jelas ketika Akuwu Lemah Warah kemudian mempersilahkan, “Marilah pangeran Singa Narpada. Silahkan duduk di perkemahan kami yang besar ini.”
Salah seorang dari ketiga orang yang datang itu mengangguk sambil menjawab, “Terima kasih.” Lalu sambil berpaling kepada kedua orang yang lain ia berkata, “Akuwu, kedua orang ini adalah Ki Mahendra, ayah dari kedua orang anak muda yang sudah ada di sini, dan yang lain adalah Senapati dari Kediri yang memang aku bawa untuk kawan berjalan.”
“Oo,” Akuwu Lemah Warah itu mengangguk. Katanya, “Syukurlah, Pangeran dari kedua orang saudara kita ini telah datang. Tetapi maksud Pangeran, Ki Mahendra adalah ayah dari ketiga orang yang selama ini aku sebut sebagai kemanakanku ini.”
“Hanya dua,” jawab Pangeran Singa Narpada. Lalu ia-pun bertanya kepada Mahendra, “Bukankah anak Ki Mahendra yang seorang lagi adalah Mahisa Bungalan. Apakah Ki Mahendra masih mempunyai anak yang lain.”
Mahendra tersenyum. Katanya, “Anakku memang hanya dua.”
Mahisa Ura termangu-mangu. Namun iapun kemudian tersenyum, “Aku adalah anak angkatnya.”
Mahendra lah yang kemudian tersenyum, sementara Mahisa Ura berkata, “Aku adalah sahabat Mahisa Bungalan. Aku telah mendapat beban dari padanya untuk menyertai kedua adiknya yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Namun bedanya, Mahisa Bungalan akan mampu melindungi kedua adiknya, sementara aku justru menjadi bebannya.”
“Ahh,” desah Mahendra, “tentu bukan begitu.”
“Mahisa Ura telah memberikan banyak sekali petunjuk sehingga kami sempat sampai ke tempat ini,” berkata Mahisa Murti.
Mahendra pun mengangguk-angguk, sementara Akuwu Lemah Warah pun berkata, “Baiklah. Marilah silahkan duduk. Kita akan berbicara banyak. Aku yakin kehadiran Pangeran tentu ada hubungannya dengan tugas yang harus aku laksanakan. Namun yang membentur kesulitan ini.”
“Kesulitan?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Ya. Kesulitan yang belum terpecahkan,” jawab Akuwu Lemah Warah. Lalu, “Tetapi nanti sajalah jika Pangeran telah beristirahat, kita akan membicarakannya.”
Dalam pada itu, maka para petugas di perkemahan itu telah menyiapkan hidangan bagi ketiga orang tamu itu, meskipun dengan gaya makanan di medan perang.
Namun ketiga orang tamu itupun adalah tiga orang prajurit, sehingga suguhan itupun cukup baik bagi mereka.
Baru kemudian setelah mereka menghirup minuman hangat dari sepotong bumbung pring wulung, barulah mereka mulai berbicara tentang kesulitan yang dialami oleh Tatas Lintang.
Namun demikian, Pangeran Singa Narpada sempat berceritera kenapa ia bertiga sampai ke padepokan orang-orang bertongkat itu.
“Kepergian kedua anak Ki Mahendra itu sudah terlalu lama, sehingga ayahnya menjadi cemas,” berkata Pangeran Singa Narpada, “tetapi karena ayahnya juga seorang pengembara di masa mudanya maka ia tidak tinggal menunggu sambil meratap. Tetapi Ki Mahendra telah mencari anaknya. Agaknya Ki Mahendra telah datang ke Kediri untuk menanyakan kedua anaknya. Dalam pada itu aku ikut merasa bertanggung jawab, karena akulah yang telah memberikan mereka tugas, sehingga karena itu maka kami berdua telah sepakat untuk mencarinya. Karena itulah maka kami berdua telah mengajak seorang Senopati untuk menyusul. Sementara itu aku pun ingin tahu apa yang telah dilakukan oleh Akuwu Lemah Warah. Ternyata bahwa Akuwu Lemah Warah telah memanggil sepasukan prajurit untuk pergi ke padepokan ini. Dengan keterangan yang kami peroleh dari Lemah Warah maka kami telah sampai pula ke tempat ini.”
Akuwu Lemah Warah itu mengangguk-angguk. Sementara itu Mahendra pun berkata, “Ternyata aku pun telah menemukan kedua orang anakku di sini dan seorang yang telah menjadi saudaranya pula.”
Mahisa Ura tersenyum. Katanya, “Namaku Mahisa Ura sekedar untuk meyakinkan bahwa aku adalah saudaranya.”
Mahendra tertawa. Katanya, “Kau pantas disebut kakak oleh anak-anakku.”
Pangeran Singa Narpada pun mengangguk-angguk, iapun kemudian mengetahui bahwa Singasari pun telah mengirimkan pula seorang petugas sandinya untuk menyertai Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, namun agaknya Mahisa Bungalan menghendaki orang itu mampu memberikan beberapa petunjuk arah kepada kedua adiknya.
Dalam pada itu maka Akuwu Tatas Lintang pun kemudian melaporkan kesulitan yang dialaminya karena seorang yang berilmu sangat tinggi telah mempengaruhi medan pada saat pasukannya hampir menguasai padepokan itu.
“Kami tidak dapat bertahan dalam kegelapan kabut itu,” berkata Akuwu Tatas Lintang, “kami masih dapat melihat beberapa langkah di hadapan kami dalam gelapnya malam. Tetapi di dalam gelapnya kabut kami sama sekali tidak melihat sesuatu. Di malam hari kami masih sanggup untuk bertempur terus. Tetapi di dalam kabut kami mengalami kesulitan, sementara itu orang-orang padepokan itu jauh lebih mengenal medan dari kami sehingga mereka yang telah tersudut pun lolos dari tangan kami. Mereka kemudian memencar dan tidak lagi dapat kami cari dalam gelapnya kabut yang semakin padat. Apalagi jika kemudian ternyata di bawah kaki kami beberapa ekor ular dalam kuasa ilmu gendam menyerang kami.”
Pangeran Singa Narpada, Mahendra dan Senapati yang menyertai mereka itupun mengangguk-angguk. Mereka sudah mendapat gambaran jelas dari kesulitan yang dialami oleh Tatas Lintang beserta pasukannya.
Sementara itu Tatas lintang melanjutkan, “untuk mengatasi kesulitan tersebut, kami sudah berbicara banyak sekali. Namun kami masih belum menemukan cara yang paling baik untuk mengatasinya.”
“Baiklah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “kita harus memperhitungkan setiap kemungkinan. Kami yang baru datang akan mencoba untuk melihat-lihat keadaan. Kemudian kita bersama-sama akan mencoba lagi untuk menentukan langkah yang paling baik yang dapat kita tempuh.”
“Segala sesuatunya terserah kepada Pangeran karena Pangeran sudah ada di sini,” berkata Tatas Lintang!
“Kita akan menentukan bersama-sama,” jawab Pangeran Singa Narpada.
Demikianlah, maka Pangeran Singa Narpada, Mahendra dan seorang Senapati Kediri telah bergabung dengan pasukan Pakuwon Lemah Warah. Namun ternyata mereka pun tidak dengan tergesa-gesa menentukan langkah-langkah yang akan mereka ambil.
Di hari berikutnya, maka Pangeran Singa Narpada dan Mahendra diiringi oleh Senapati Kediri yang bersama keduanya datang ke tempat itu. Akuwu Lemah Warah serta tiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya serta Panglima pasukan khususnya diiringi oleh sekelompok kecil pasukan khususnya telah mendekati padepokan itu.
Para penjaga yang bertugas mengamati keadaan di padepokan itu, yang berdiri di atas panggung di dalam lingkungan dinding padepokan telah melihat mereka mendekat. Karena itu mereka pun telah memberikan isyarat kepada para pemimpin padepokan itu.
Para pemimpin padepokan itupun segera mengambil langkah. Mereka segera naik pula ke panggung pengamatan untuk melihat sendiri, siapa sajakah yang telah datang mendekati padepokan itu.
Namun orang-orang padepokan itu tidak melihat orang lain di antara mereka kecuali Akuwu Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya. Mereka tidak melihat Pangeran Singa Narpada, Mahendra dan seorang Senapati Kediri sebagai orang-orang penting, karena mereka tidak mengenakan tanda-tanda khusus dan sikap tertentu sehingga mereka dapat dikenali sebagai orang-orang penting.
Karena itu maka para pemimpin dari padepokan itupun tidak menentukan sikap-sikap khusus pula. Bahkan mereka menjadi tidak acuh saja karena mereka menganggap kehadiran mereka tidak lebih dari usaha untuk menentukan langkah-langkah yang masih gelap bagi para pemimpin dari Lemah Warah itu.
“Biar saja mereka dalam kebingungan,” berkata para pemimpin padepokan itu.
Para pengawas dari padepokan itu tidak menjawab. Tetapi mereka juga menganggap sebagaimana para pemimpin mereka.
Orang-orang Lemah Warah benar-benar dalam kebingungan. Mereka memerlukan melihat-lihat untuk mencari kemungkinan.
Karena itu, maka salah seorang di antara mereka tiba-tiba saja berteriak, “He, apa yang kalian cari?”
Orang-orang Lemah Warah itu memperhatikan orang-orang yang berada di atas panggungan di dalam dinding padepokan. Mereka melihat beberapa orang sedang memperhatikan mereka. Namun kemudian para pemimpin dari padepokan itu telah turun sambil berpesan, “Amati saja mereka. Hanya jika mereka menunjukkan sikap yang membahayakan, beri kami isyarat. Sementara itu, orang-orang yang berada di gardu-gardu pengawas di sisi lain dari padepokan ini akan mengawasi mereka jika mereka mengelilingi padepokan ini.”
Sebenarnyalah bahwa orang-orang Lemah Warah bersama Pangeran Singa Narpada, Mahendra dan Senapati yang baru datang dari Kediri itu telah mengelilingi padepokan. Mereka mencoba menilai betapa tingginya ilmu orang yang mampu memenuhi padepokan yang seluas itu dengan kabut.
“Memang luar biasa,” berkata Pangeran Singa Narpada.
“Jarang ada duanya,” sahut Mahendra. Namun kemudian katanya, “Tetapi jika kita sempat menghadapinya, belum tentu ia memiliki kemampuan ilmu kanuragan yang tidak terkalahkan. Mungkin ia akan dapat menyelubungi dirinya dengan kabut. Namun mungkin pula ada kesempatan untuk menembus kepadatan kabut itu dengan daya penglihatan khusus atau dengan kekuatan untuk menghembus kabut itu sehingga menyibak meskipun tidak seluruhnya.”
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Menurut Akuwu Lemah Warah, maka kesulitannya adalah menemukan orang yang melepaskan ilmu itu. Jika kita sempat menemukannya, maka mungkin kita akan memancingnya dalam pertempuran sebelum ia sempat melepaskan kabutnya.”
“Kita sebaiknya memasuki padepokan itu,” berkata Mahendra.
Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk-angguk sambil berkata, “Ya. Sebaiknya kita memasuki padepokan itu malam nanti.”
Ternyata para pemimpin Lemah Warah itu sepakat untuk memasuki padepokan itu jika malam turun. Karena itu maka, mereka pun telah berusaha untuk melihat dengan cermat tempat-tempat pengawasan. Gardu-gardu dan panggungan untuk melihat keadaan di luar padepokan.
Namun orang-orang yang berada di gardu-gardu dan panggungan-panggungan itu tidak dapat mengamati setiap jengkal dinding padepokan. Tetapi hal itu disadari oleh para pemimpin padepokan, sehingga mereka mengadakan pengawasan di dalam dinding. Dua orang secara teratur harus meronda nganglang mengitari bagian dalam dinding padepokan, sehingga jika ada seseorang yang meloncat memasuki padepokan itu tanpa dilihat oleh para pengawas di gardu-gardu dan panggungan-panggungan, akan dapat ditemukan oleh para peronda dan pengawas-pengawas yang berada di dalam dinding padepokan.
Namun orang-orang Lemah Warah pun telah memperhitungkan hal itu pula. Karena itu, maka mereka pun telah membuat rencana yang sebaik-baiknya untuk memasuki padepokan itu dan mencoba untuk mengetahui, di manakah orang yang dianggap memiliki ilmu tertinggi itu berada.
Orang-orang Lemah Warah itupun kemudian memutuskan, bahwa yang akan memasuki padepokan itu adalah Pangeran Singa Narpada sendiri, Mahendra, Tatas Lintang serta Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sementara itu, yang lain harus bersiap-siap di luar dinding dan bergerak setiap saat jika diperlukan. Selain itu maka semua prajurit Lemah Warah pun harus berada dalam kesiagaan tertinggi. Karena mereka pun mungkin akan terlibat di dalam pertempuran jika keadaan memaksa.
Demikianlah maka setelah mengelilingi padepokan itu, para pemimpin Lemah Warah itu mempunyai sedikit gambaran apa yang harus mereka kerjakan malam nanti.
Namun demikian Mahisa Pukat sempat juga mengacukan genggaman tangannya ketika orang-orang padepokan itu berteriak, “Marilah. Singgahlah barang sejenak di padepokan kami.”
Mahendra yang melihat sikap Mahisa Pukat tersenyum. Katanya, “satu sambutan yang ramah. Karena itu jangan marah.”
Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun wajahnya masih berkerut.
Demikianlah, ketika mereka telah berada kembali dalam sebuah gubug kecil yang menjadi tempat para pemimpin Lemah Warah mengatur dan membicarakan langkah-langkah mereka, Pangeran Singa Narpada pun telah memberikan pesan-pesan kepada orang-orang yang akan bersamanya memasuki padepokan itu. Sebaliknya, Akuwu Tatas Lintang telah memberikan beberapa keterangan tentang isi padepokan itu. Memberikan sedikit gambaran tentang barak-barak yang bertebaran dan halaman serta kebun bahkan pategalan yang memiliki banyak tanaman dan bahkan rumpun-rumpun bambu.
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan melakukan dengan sangat berhati-hati. Mudah-mudahan kita tidak usah terlibat dalam kekerasan. Jika orang-orang padepokan itu sempat melihat kehadiran kita, maka usaha pertama kita adalah meninggalkan padepokan itu dan keluar dengan meloncati dinding. Hanya dalam keadaan yang memaksa kita akan mempergunakan kekerasan. Namun kita harus menyadari, jika demikian maka mungkin sekali akan terjadi pertempuran dan akan terulang lagi apa yang pernah terjadi.”
Yang lain pun mengangguk-angguk. Namun mereka menyadari sepenuhnya pesan Pangeran Singa Narpada. Karena itu, maka mereka pun siap untuk melaksanakan.
Ketika malam pun kemudian turun, maka para pemimpin Lemah Warah pun telah bersiap pula untuk melakukan tugas mereka yang berat.
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar