Selasa, 05 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 035-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 035-02*

“Persetan,” geram orang itu, “sebentar lagi kau akan mati.”

“Jika demikian, maka kita benar-benar akan sampai kepada batas terakhir dari sebuah perang tanding,” berkata Mahisa Murti.

“Kita tidak sedang berperang tanding,” jawab orang itu, “karena itu jika kau merasa perlu untuk memanggil beberapa orang prajurit dan bertempur bersamamu, aku tidak berkeberatan.”

“Ah, pada saatnya tentu akan aku lakukan,” jawab Mahisa Murti, “tetapi agaknya aku akan dapat menyelesaikan tugas ini tanpa bantuan orang lain.”

“Kau terlalu sombong anak muda,” jawab orang itu.

Mahisa Murti terkejut. Tongkat itu hampir saja mematuk dahinya. Untunglah ia cepat menyadari keadaan, sehingga ia sempat meloncat ke samping, sehingga ujung tongkat itu tidak menyentuhnya. Mahisa Murti sadar sepenuhnya bahwa patukan ujung tongkat itu akan dapat melubangi dahinya dalam keadaan wajar.

Orang itu tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Kau terkejut anak muda. Namun bagaimanapun juga aku tetap merasa heran, bahwa kau mampu bertahan sekian lama.”

“Kenapa kau heran?” bertanya Mahisa Murti, “kau akan menjadi semakin heran jika kau sempat menyadari akhir dari pertempuran ini. Tetapi agaknya kau tidak akan sempat melihatnya secara wadag apa yang akan terjadi di akhir perang tanding ini.”

“Gila,” geram orang itu. Tongkatnya pun menjadi semakin cepat berputaran sehingga menimbulkan desing yang semakin lama semakin keras.

Namun Mahisa Murti pun telah bersiap sepenuhnya menghadapinya. Karena itu, apapun yang dilakukan oleh lawannya. Mahisa Murti mampu mengimbanginya.”

Dengan demikian maka pertempuran antara Mahisa Murti dan orang bertongkat itupun menjadi semakin sengit.

Tongkat itu menyambar-nyambar dengan dahsyatnya sehingga menimbulkan angin yang berdesing berputaran, semakin lama semakin keras sehingga bagaikan angin pusaran.

Tetapi Mahisa Murti tidak menjadi bingung karenanya, ia dengan penuh kesadaran menghadapi lawannya yang memiliki kekuatan yang luar biasa itu. Ketahanan tubuhnya yang besar telah mengikatnya pada bumi tempatnya berpijak sehingga ia tidak menjadi goyah oleh dorongan angin pusaran.

Sekali-sekali kedua senjata di tangan kedua orang berilmu tinggi itu telah bersentuhan. Ternyata bahwa tongkat yang ujudnya terbuat dari kayu itu memiliki kekuatan yang mampu beradu dengan pedang di tangan Mahisa Murti yang terbuat dari baja yang keras.

Mahisa Murti menjadi kagum akan kekuatan tongkat itu. sehingga ia menyadari bahwa kekuatan tongkat itu bukannya kekuatan kayu sewajarnya, tetapi tentu karena kemampuan dan kekuatan orang yang mempergunakannya.

Tetapi sebaliknya orang itupun heran mengalami benturan yang keras dengan pedang Mahisa Murti. Anak muda itu ternyata memiliki kekuatan yang mampu mengimbangi kekuatannya. Sehingga dalam setiap benturan, pedang anak muda itu sama sekali tidak terguncang di pegangan tangannya.

Dengan demikian maka pertempuran antara keduanya semakin lama menjadi semakin dahsyat. Pengaruhnya pun terasa di sekitar putaran pertempuran. Namun ternyata keduanya telah bergeser semakin jauh dari arena pertempuran yang riuh antara para prajurit Lemah Warah dan isi padepokan itu.

“Anak itu harus segera mati,” geram orang bertongkat itu.

Namun ternyata bahwa ia tidak sanggup membunuh lawannya itu. Apalagi dalam waktu singkat. Bahkan terasa bahwa kekuatan dan kemampuan anak muda itu semakin lama menjadi semakin meningkat.

Dalam pada itu, di tempat lain, Mahisa Pukat masih berjuang melawan sekelompok ular berbisa. Ia dengan sengaja membiarkan dirinya menjadi sasaran ular-ular berbisa itu daripada para prajurit Lemah Warah. Agar dengan demikian maka bisa ular itu tidak akan berhamburan di medan. Karena ular itu akan dapat mematuk beberapa orang prajurit sekaligus sehingga seekor ular akan dapat membunuh dua tiga orang sekaligus.

Namun membunuh ular-ular itu bukannya satu pekerjaan yang mudah. Ular-ular itu seakan-akan telah mendapat latihan untuk bertempur. Mereka mampu menyerang dari arah yang berlainan, sehingga dapat menimbulkan kebingungan pada lawan yang dikepungnya.

Beberapa saat Mahisa Pukat bertempur dengan pedangnya. Beberapa ekor ular yang berusaha menyerangnya sambil tegak pada bagian kepalanya telah tertebas pedang.

Beberapa saat Mahisa Pukat bertempur dengan pedangnya. Beberapa ekor ular yang berusaha menyerangnya sambil tegak pada bagian kepalanya telah tertebas putus.

Namun yang lain tetap merayap perlahan-lahan mendekatinya sambil berdesis mengerikan.

“Gila,” geram Mahisa Pukat, “ilmu setan ini benar-benar membuat kepalaku menjadi pening.”

Ternyata Mahisa Pukat tidak membiarkan dirinya terlalu lama dikepung oleh segerombolan ular berbisa. Meskipun ia dengan sengaja memang menempatkan diri memancing perhatian ular-ular itu.

Karena itu maka iapun justru telah menyarungkan pedangnya. Kemudian dibangunkannya ilmunya yang disadapnya dari Tatas Lintang yang ternyata adalah Akuwu Lemah Warah itu.

Dengan demikian maka Mahisa Pukat itupun telah mengembangkan kedua telapak tangannya yang terjulur ke depan. Dari sepasang telapak tangannya itu telah memancar sinar yang menyambar ke arah segerombolan ular di satu sisi dari kepungan yang rapat.

Tanah di arah sambaran sinar yang memancar dari telapak tangan Mahisa Pukat itupun bagaikan meledak. Sekelompok ular berbisa itupun bagaikan terlempar dari ledakan itu dan berhamburan jatuh beberapa langkah dari tempatnya.

Mahisa Pukat masih melihat beberapa ekor di antara ular-ular itu menggelepar. Namun yang lain telah tergolek diam. Mati.

Serangan yang demikian itu telah diulanginya ke arah yang lain. Sehingga terjadi pulalah ledakkan yang telah melemparkan segerombolan ular yang lain.

Serangan yang demikian telah diulanginya beberapa kali sehingga akhirnya, ular yang merambat keluar dari kotak yang besar itu telah habis berhamburan sampai beberapa langkah di sekitar Mahisa Pukat.

Namun tidak semua ular telah terbunuh. Masih ada beberapa yang menelusur di antara rerumputan dan sela-sela barak meninggalkan tempat itu dan menuju ke arena pertempuran. Namun karena ular itu tidak terlalu banyak, maka agaknya ular itu tidak lagi berbahaya bagi para prajurit Lemah Warah.

Dalam pada itu, lawan Mahisa Pukat yang memiliki ilmu gendam dan aji panglimunan yang belum sempurna itu terpaksa, menyingkir jauh-jauh. Ketika ia mendapat kesempatan untuk mengetrapkan ilmu gendamnya dan melepaskan ular-ularnya, maka ia berharap bahwa dengan demikian pertempuran itupun akan segera berakhir karena ularnya tentu akan membunuh banyak prajurit Lemah Warah. Namun ternyata bahwa ular-ularnya tidak banyak dapat membantunya, karena sebagian besar dari ular-ular itu telah terbunuh oleh Mahisa Pukat.

Tetapi orang itu tidak melihat kehancuran ularnya, karena ia sendiri telah berusaha untuk bersembunyi. Ia tidak lagi memiliki kemampuan untuk bertempur secara langsung. Tenaganya bagaikan telah terkuras habis terhisap oleh ilmu Mahisa Pukat yang luar biasa. Sehingga dengan demikian orang itu telah bersembunyi sambil berusaha untuk menumbuhkan kembali kemampuan di dalam dirinya. Namun ia sadar sepenuhnya, bahwa untuk itu ia memerlukan waktu.

Sementara itu pertempuran berlangsung terus. Di segala sudut padepokan itu senjata saling beradu. Namun telah banyak diantara mereka yang terbaring diam atau harus mengerang kesakitan.

Mahisa Pukat yang telah menghabiskan lawan itupun mulai memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ia masih melihat di jarak yang agak jauh seekor ular merayap diantara rerumputan.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun segera melenting ke arah ular itu. Ketika ular itu kemudian berbalik dan mengangkat kepalanya, maka pedang Mahisa Pukat-pun telah terayun. Agaknya Mahisa Pukat tidak lagi terlalu banyak mempertimbangkan tindakannya dalam perang yang semakin keras itu.

Menggunakan kekuatan dan kecepatan gerak mereka untuk mencoba menghancurkan lawan masing-masing.

Namun pertempuran yang demikian itu tentu hanya akan menelan waktu yang berkepanjangan.

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti maupun orang bertongkat itu tidak akan mampu mengalahkan lawan mereka. Keduanya memiliki kekuatan dan ketrampilan yang tinggi mempermainkan senjata mereka. Benturan demi benturan telah terjadi. Keduanya saling mendesak dan memburu. Namun keduanya-pun kemudian menyadari, bahwa mereka harus meningkatkan ilmu mereka jika mereka memang ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu.

Karena itulah, maka orang bertongkat itu kemudian telah berusaha untuk benar-benar menghancurkan lawannya dengan ilmunya yang mendebarkan.

Pertempuran antara keduanya yang menjadi semakin seru dan cepat itu memang telah bergeser semakin jauh dari hiruk pikuk pertempuran antara para prajurit Lemah Warah dan isi padepokan itu. Dengan demikian maka keduanya telah mendapat kesempatan untuk bertempur beralaskan kemampuan masing-masing tanpa bantuan dan ikut campur orang lain.

Untuk beberapa saat kedua senjata itu masih beradu. Namun jantung Mahisa Murti berdesir ketika ia melihat lawannya meloncat menjauh dan tiba-tiba saja telah mengangkat tongkatnya teracu ke arahnya.

Dengan cepat Mahisa Murti telah meloncat tepat pada saat tongkat itu memancarkan seleret cahaya menyambarnya.

Karena itu, maka serangan itu tidak mengenainya. Meskipun demikian, Mahisa Murti tidak mendapat banyak kesempatan. Orang itu telah mengarahkan tongkatnya sekali lagi ke arah Mahisa Murti.

Mahisa Murti menyadari bahwa serangan pun akan segera datang lagi. Iapun tidak menunggu ilmu lawannya itu menyambarnya. Karena itu maka dengan cepat pula Mahisa Murti telah meloncat menghindar.

Sekali lagi serangan orang bertongkat itu tidak mengenainya. Cahaya yang menyambar dan tidak mengenainya itu telah menghantam tanah tempat Mahisa Murti semula berpijak, sehingga tanah itu seakan-akan telah meledak.

Kegagalan itu telah membuat orang bertongkat itu semakin marah. Karena itu, maka ia tidak mau melepaskan lawannya yang berloncatan menghindari serangannya itu. Sekali lagi ujung tongkat itu telah terangkat mengarah kepada tubuh Mahisa Murti.

Tetapi Mahisa Murti tidak mau sekedar menjadi sasaran. Dengan demikian maka iapun telah bersiap menghadapi serangan itu dengan kemampuan ilmunya pula.

Namun Mahisa Murti tidak dapat berbuat lain ketika sekali lagi seleret sinar menyambar dari ujung tongkat itu. Mahisa Murti bahkan telah meloncat dan berguling beberapa kali di tanah.

Demikian Mahisa Murti melenting berdiri, maka sekali lagi ia harus menjatuhkan dirinya karena serangan itu menyambarnya lagi.

Namun Mahisa Murti tidak dengan tergesa-gesa meloncat berdiri. Sambil berbaring tiba-tiba saja ia telah menjulurkan tangannya dengan telapak tangan terbuka ke arah lawannya.

Lawannyalah yang kemudian terkejut, iapun melihat sinar yang menyala di telapak tangan anak muda itu. Karena itu, maka iapun harus dengan cepat menghindar.

Sebenarnyalah seleret sinar telah menyambar orang itu.

Namun orang bertongkat itupun dengan cepat meloncat pula ke samping, sehingga sambaran sinar itu tidak mengenainya.

Tetapi jantung orang itu berdebar ketika sinar itu menembus dan menebas dahan dan ranting sebatang pohon yang tumbuh di halaman padepokan itu. Suaranya gemeretak dan berderak, sehingga dengan demikian maka hampir separuh dari rimbunnya dahan dan dedaunan pohon itu runtuh di tanah.

Dengan demikian maka kedua orang itupun harus semakin berhati-hati. Mereka menyadari bahwa masing-masing memang memiliki kemampuan yang sangat tinggi.

Mahisa Murti yang kemudian berdiri tegak justru masih mengacukan pedangnya. Dengan suara gemetar ia berkata, “Marilah. Manakah yang kau pilih. Kau mampu meluncurkan serangan lewat ujung tongkatmu sementara aku mampu membalasmu dengan sebelah telapak tanganku. Kita akan dapat saling menyerang dari jarak tertentu. Namun kita dapat bertempur dengan cara lain, sebagaimana pernah kita lakukan sebelumnya.”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia telah mengangkat ujung tongkatnya. Ketika sinar itu meluncur. Mahisa Murti sempat menghindar ke samping.

Sementara itu dengan menjulurkan tangannya, maka serangan balasannya pun telah menyambar orang bertongkat itu. Tetapi orang bertongkat itupun mampu bergerak secepat Mahisa Murti. Karena itu maka serangannya pun tidak mengenai sasarannya.

Namun dengan demikian Mahisa Murti mendapat kesempatan untuk meloncat mendekati lawannya. Sebelum lawannya siap mengangkat tongkatnya, sekali lagi Mahisa Murti meluncurkan serangannya. Tetapi sekali lagi pula lawannya berhasil bergeser menghindar.

Namun dengan demikian, Mahisa Murti telah mendapat, kesempatan lagi untuk meloncat mendekat. Sehingga dengan demikian maka ujung pedang Mahisa Murti telah hampir dapat menjangkau tubuh lawannya.

“Gila,” geram orang bertongkat itu. Tetapi ia tidak sempat mengangkat tongkatnya dan menyerang Mahisa Murti dengan loncatan sinar dari ujung tongkatnya itu. Mahisa Murti dengan kecepatan yang mungkin dilakukan berusaha untuk memaksa lawannya bertempur pada jarak dekat dengan beradu senjata.

Dengan demikian, maka lawannya tidak mempunyai pilihan lain. Keduanya kembali terlibat ke dalam pertempuran jarak dekat dengan mengandalkan kemampuan mereka beradu senjata.

Sementara itu, Tatas Lintang yang berusaha untuk dapat mengamati seluruh arena pertempuran melihat, bahwa prajuritnya mendapat kemajuan di beberapa tempat. Kecuali jumlahnya memang lebih banyak, para prajurit Lemah Warah itu benar-benar terpilih. Karena itu meskipun mereka harus berhadapan dengan para pengikut orang-orang berilmu tinggi dengan bekal yang cukup pula, namun para prajurit itu tidak terlalu banyak mengalami kesulitan. Untuk menghadapi orang-orang yang memiliki kemampuan yang melampaui kemampuan mereka, maka para prajurit itu telah bertempur berpasangan.

Dalam pada itu, maka Tatas Lintang pun akhirnya merasa bahwa ia tidak perlu mencemaskan keadaan prajuritnya. Bahkan ketika ia bergeser lagi, dilihatnya Mahisa Pukat yang muncul dari antara barak orang-orang padepokan itu seorang diri pula.

“Kau terluka?” bertanya Tatas Lintang.

“Ya.” jawab Mahisa Pukat. “Tetapi tidak seberapa.”

“Meskipun begitu, kau harus mengobatinya sebelum kau terjun ke lingkungan pertempuran yang lebih sibuk,” berkata Tatas Lintang.

Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun iapun tidak menolak ketika Tatas Lintang kemudian mengobatinya. Sementara itu Mahisa Pukat sempat berceritera tentang perkelahiannya melawan salah seorang pemimpin padepokan itu.

“Tetapi aku telah kehilangan orang itu,” berkata Mahisa Pukat.

“Orang itu tetap berbahaya,” berkata Tatas Lintang, “meskipun ia sendiri tidak akan mampu memasuki arena karena kekuatannya telah terhisap, tetapi ilmu gendamnya masih mampu dipergunakannya.”

“Aku sudah membunuh hampir semua ular-ularnya,” berkata Mahisa Pukat, “ular adalah binatang yang paling berbahaya. Seandainya ia sempat melepaskan dua tiga ekor harimau, maka persoalannya tidak akan segawat jika ia melepaskan tiga atau empat ekor ular di medan.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Katanya, “Syukurlah jika kau sudah menghabiskan ular-ular itu.”

“Masih ada satu dua yang terlepas,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi yang sekotak sudah aku bunuh semuanya.”

“Jika demikian, sebaiknya kita pergi ke medan. Kita harus menyelesaikan pertempuran ini sesegera mungkin,” berkata Tatas Lintang.

Keduanya pun kemudian telah meninggalkan tempat itu. Namun keduanya tidak selalu bersama-sama. Tatas Lintang telah memilih arah tersendiri, sementara Mahisa Pukat pun telah menentukan tujuannya sendiri pula.

“Jika pertempuran ini tidak segera berakhir sampai petang, maka orang yang memiliki ilmu gendam itu akan mampu muncul lagi di medan. Bahkan jika ia sempat memanfaatkan waktu yang semalam untuk mendapatkan jenis-jenis binatang yang akan dapat dipergunakannya, maka arena akan menjadi semakin gawat. Apalagi jika ia mempergunakan ular lagi,” berkata Mahisa Pukat di dalam hatinya.

Sementara itu Tatas Lintang yang muncul di bagian lain dari padepokan itu, melihat pertempuran yang semakin seru. Namun seperti di bagian lain, agaknya para prajurit Lemah Warah semakin mendesak lawan-lawan mereka.

Dalam pada itu, Mahisa Murti yang telah bertempur pada jarak pendek, telah mempergunakan ilmunya sebagaimana telah dipergunakan oleh Mahisa Pukat. Ia telah memanfaatkan setiap benturan untuk melemahkan kekuatan lawannya.

Namun ternyata sesuatu di luar pengetahuan Mahisa Murti telah terjadi. Orang bertongkat itu ternyata telah mendapat peringatan dengan pesan langsung dengan aji pameling yang hanya dapat didengarnya.

Ternyata orang yang telah dikalahkan oleh Mahisa Pukat itu sempat menyaksikan pertempuran antara Mahisa Murti dan lawannya, orang yang bersenjata tongkat.

Untuk dapat memahami pesan itu, maka orang bertongkat itu telah berusaha melenting menjauhi Mahisa Murti. Ia mendapat kesempatan sekejap untuk mendengarkan pesan itu, bahwa lawannya mungkin mempergunakan ilmu yang mampu menghisap tenaga sebagaimana pernah dialami.

“Karena itu, hindari benturan,” bisik pesan itu.

Orang bertongkat itu mampu memahaminya karena ia memang sudah mendengar bahwa ada semacam ilmu yang mampu menghisap tenaga dan kemampuan lawannya. Karena itu, maka iapun menjadi semakin berhenti-hati menghadapi Mahisa Murti.

Bahkan benturan-benturan yang satu dua kali telah terjadi, sempat dinilainya, sehingga iapun kemudian berkesimpulan bahwa lawannya memang memiliki ilmu itu.

Karena itu, maka iapun berusaha untuk berbuat sebaliknya dari yang dilakukan oleh Mahisa Murti. Orang bertongkat itu kemudian telah berusaha untuk bertempur pada jarak tertentu dengan mempergunakan kemampuannya melontarkan serangan dari ujung tongkatnya. Setiap kali ia berusaha untuk menghindar jika Mahisa Marti memancingnya bertempur pada jarak dekat. Dengan serangan-serangan beruntun orang bertongkat itu berusaha dengan sungguh-sungguh mempertahankan jarak di antara mereka.

Mahisa Murti memang merasa heran akan perubahan itu. Jika semua orang itu tidak merasa gentar bertempur dengan cara apapun, namun tiba-tiba saja ia telah menghindari kemungkinan sentuhan senjata di antara mereka dengan memelihara jarak dan bertempur dengan senjata ilmunya yang membentur dari tongkatnya.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti berusaha untuk meyakinkan. Ia telah menempuh cara yang sama seperti pernah dilakukannya untuk mendapat kesempatan bertempur pada jarak dekat. Tetapi orang bertongkat itu selalu berusaha untuk menghindari cara sebagaimana dikehendaki oleh Mahisa Murti.

Akhirnya Mahisa Murti pun sadar, bahwa agaknya lawannya itu mengerti, bahwa sentuhan senjata dengan senjata Mahisa Murti adalah pertanda bahwa nasibnya akan menjadi sangat buruk.

“Siapakah yang telah memberitahukan hal itu kepadanya,” geram Mahisa Murti di dalam dirinya.

Namun sebenarnyalah bahwa lawannya tidak mau lagi bertempur pada jarak dekat yang memungkinkan senjata mereka saling beradu.

Namun demikian Mahisa Murti pun tidak menjadi gentar. Untunglah bahwa iapun telah memiliki satu kemampuan untuk bertempur dalam jarak tertentu.

Karena itu, maka pertempuran antara keduanya pun menjadi semakin seru. Namun mereka ternyata memerlukan arena yang cukup luas agar serangan-serangan mereka yang luput dari sasaran tidak justru membunuh orang-orang yang baru bertempur dengan sengitnya, karena mungkin justru kawan-kawan sendirilah yang akan dikuasainya.

Namun bagaimanapun juga, agaknya Mahisa Murti memang memiliki kelebihan. Umurnya yang masih muda telah mempengaruhi dorongan kekuatannya. Namun dalam usianya yang muda itu, Mahisa Murti telah memiliki ilmu dan pengalaman yang sangat luas.

Itulah sebabnya maka perlahan-lahan tetapi pasti, Mahisa Murti telah mendesak lawannya.

Sementara itu Tatas Lintang yang mengambil arah sendiri dan berpisah dengan Mahisa Pukat, telah melihat di sudut padepokan itu, pertempuran yang kurang seimbang. Seorang yang agaknya memiliki ilmu yang tinggi telah menyapu lawan-lawannya yang mengepungnya.

Namun karena lawannya cukup banyak, maka ia tidak mendapat banyak kesempatan untuk melepaskan ilmunya yang luar biasa. Namun ketika sekali ia mendapat kesempatan itu, maka ia telah mengacukan tangannya. Seleret sinar telah menyambar. Sekaligus tiga orang telah terlempar dan seakan-akan meledak dengan akibat yang mengerikan sekali.

Serangan itu memang mengejutkan. Tetapi para prajurit Lemah Warah justru menyadari bahwa serangan yang demikian sangat berbahaya. Karena itu maka mereka pun segera meloncat menyerang dari beberapa arah. Mereka harus bertempur pada jarak dekat, sehingga lawannya itu tidak sempat melepaskan serangannya yang mengerikan itu.

Namun ternyata orang itupun memiliki ketrampilan yang sangat tinggi. Apalagi dalam keadaan yang demikian ia sempat berloncatan menghindar dan memberi isyarat kepada orang-orang padepokan itu untuk memasuki arena.

Dengan demikian maka iapun telah mendapat kesempatan untuk memasuki pertempuran yang lain yang memungkinkannya untuk menebas lawannya dengan ilmunya yang nggegirisi.

Namun dalam pada itu, ketika ia melenting keluar dari arena, tiba-tiba saja seseorang telah menandinginya sambil tersenyum. Bahkan orang itu telah bertepuk tangan sambil berkata lantang, “luar biasa. Kau benar-benar seorang yang pilih tanding.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun segera mengenali orang yang datang itu.

“Ha, kau Sang Akuwu yang Agung,” sapa orang itu sambil melangkah mendekat, “Aku memang menunggu kesempatan seperti ini.”

“Kita sudah pernah mendapat kesempatan,” berkata Tatas Lintang, “tetapi kesempatan itu telah kau tinggalkan.”

“Di mana kemanakanmu itu?” bertanya orang itu, “aku pernah meminjam wadag seorang di antara mereka. Sayang aku tidak mendapat kesempatan sekarang ini. Sebenarnya aku dapat menyembunyikan wadagku dan kemudian mengoyak pasukan Lemah Warah dengan caraku. Memasuki tubuh mereka seorang demi seorang dan membunuhnya dengan mudah.”

“Kenapa mudah?” bertanya Tatas Lintang.

“Aku memang bodoh,” berkata orang itu, “kenapa aku baru teringat sekarang. Aku dapat memasuki wadag prajurit Lemah Warah dan membiarkan orang-orang padepokan ini menghunjamkan senjatanya di dada. Dengan cepat aku harus melepaskan diri dan memasuki tubuh yang lain. Dengan cara yang sama aku akan dapat banyak membunuh orang-orang Lemah Warah.”

“Kenapa tidak kau lakukan?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Sudah aku katakan, itulah kebodohanku.” jawab orang itu.

“Kau masih mendapat kesempatan,” berkata Akuwu Lemah Warah.

“Tentu tidak Sang Akuwu,” jawab orang itu, “kau tentu akan menemukan tubuhku dan mencincangnya dengan geram.”

“Karena itu, maka kesempatanmu sekarang adalah bertempur melawan aku,” berkata Akuwu Lemah Warah, “tidak sepantasnya kau membunuh prajurit-prajurit itu.”

“Di peperangan aku boleh membunuh lawanku yang manapun,” jawab orang itu.

“Tetapi aku tidak melakukannya,” jawab Tatas Lintang, “aku masih mempunyai harga diri, sehingga aku sempat memilih lawan. Nah, sekarang aku telah menemukan lawan itu.”

“Salahmu sendiri,” berkata orang itu, “kenapa kau harus mempertahankan harga dirimu.”

“Baiklah. Kita tidak mempersoalkannya lagi. Kita sekarang sudah mendapat kesempatan untuk bertemu lagi. Apakah kau akan lari lagi?”

Orang itu tertawa. Katanya, “Tentu tidak Sang Akuwu yang mulia. Aku tidak akan lari. Tetapi aku akan membunuhmu.”

Akuwu Lemah Warah itu menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak mereka saling berhadapan. Keduanya telah bersiap dalam kesiagaan tertinggi. Mereka masing-masing mengerti bahwa lawannya memiliki ilmu yang nggegirisi, yang mampu menyambar lawannya pada jarak tertentu.

Namun selagi keduanya telah bersiap, terdengar lawan Tatas Lintang itupun berkata, “Kita menyadari, bahwa kita tidak akan dapat dengan cepat menyelesaikan pertempuran di antara kita. Jika kita mempergunakan kemampuan kita sebagaimana pernah terjadi, maka kita hanya akan berkejaran dan saling berloncatan. Karena itu aku tantang kau bertempur dengan cara yang lain.”

“Cara apakah yang kau maksud?” bertanya Tatas Lintang.

“Kita akan beradu ilmu pedang,” berkata orang itu.

Tatas lintang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak berkeberatan. Kita akan melakukannya dengan jujur. Di antara kita tidak akan dengan tiba-tiba dan curang menyerang dari jarak jauh.”

“Aku setuju,” jawab orang itu.

Demikianlah maka keduanya pun telah bersiap dengan pedang. Keduanya, akan mengukur kemampuan mereka dalam ilmu pedang.

Sejenak kemudian maka pedang mereka pun telah terjulur. Ujung-ujungnya itupun mulai mematuk dengan cepatnya.

Keduanya ternyata memang memiliki kemampuan ilmu pedang yang tinggi. Kedua pedang di tangan kedua orang yang sedang bertempur itupun kemudian berputar dengan cepatnya, sehingga yang nampak hanyalah gulungan awan putih yang menyelubungi keduanya masing-masing.

Namun sekali-sekali kedua senjata itupun telah beradu sehingga bunga api pun telah memercik ke udara.

Semakin lama pertempuran antara kedua orang itupun menjadi semakin cepat. Benturan-benturan telah memperingatkan kepada mereka, bahwa lawan mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan kemampuan yang tinggi.

Namun dalam pada itu, pertempuran yang bertebaran di seluruh padepokan itu telah menjadi semakin kehilangan keseimbangan. Prajurit Lemah Warah yang memang lebih banyak, ternyata menjadi semakin mapan. Orang-orang dari padepokan itu, betapapun mereka telah mengerahkan segenap kemampuan mereka, namun mereka benar-benar sulit untuk mengimbangi kemampuan prajurit Lemah Warah.

Karena itulah, maka lambat laun orang-orang padepokan itupun bagaikan telah tergiring ke sudut-sudut padepokan. Mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menentukan dan memilih medan.

Para pemimpin padepokan itu menyadari kesulitan yang terjadi pada para pengikut mereka. Namun mereka tidak segera mendapat cara untuk mengatasinya. Para pemimpin itu ternyata telah mendapat lawan yang seimbang. Bahkan ternyata mereka, memiliki beberapa kelebihan sehingga para pemimpin dari padepokan itupun telah terdesak sebagaimana para pengikutnya.

Dalam keadaan yang demikian, maka rasa-rasanya tidak akan ada harapan lagi bagi orang-orang padepokan itu. Satu-satunya kemungkinan bagi mereka, jika tidak ada perubahan keadaan, adalah melarikan diri dari padepokan itu. Namun di luar padepokan sebagian kecil pasukan Lemah Warah telah menunggu.

Karena itu, maka sebenarnyalah keadaan orang-orang padepokan itu benar-benar menjadi sangat gawat. Sedangkan pertempuran telah terjadi sedemikian lamanya dan benar-benar telah menghisap tenaga.

Di sudut-sudut padepokan, orang-orang padepokan itu bertempur dalam keadaan putus asa. Namun justru karena itu, maka mereka seakan-akan menjadi keras, kasar dan bahkan liar. Mereka tidak lagi sempat membuat perhitungan-perhitungan. Apapun telah mereka lakukan bukan untuk mempertahankan diri lagi, tetapi mereka telah bertempur untuk mencari kawan sebanyak-banyaknya untuk terjun ke daerah maut.

Namun dalam keadaan yang demikian, mereka masih mengharapkan sesuatu terjadi, meskipun hanya sepercik kecil. Harapan yang semakin lama menjadi semakin pudar.

Tetapi dalam pada itu, di tengah-tengah padepokan itu, suasananya memang agak berbeda. Suasana tetap lengang dan sepi. Tidak seorang pun yang nampak. Seakan-akan tempat itu menjadi terlarang bagi siapapun.

Dalam keadaan yang sepi lengang itu, ternyata sesuatu telah terjadi. Di dalam barak yang tertutup rapat, seorang sedang duduk di atas sebuah amben yang besar. Tangannya bersilang di dadanya. Sementara kepalanya menunduk dan matanya separuh terpejam.

Dengan ketajaman panggraitanya ia telah mengikuti pertempuran yang terjadi di padepokan itu. Dengan jantung yang berdebaran ia melihat orang-orang padepokan itu semakin terdesak. Bahkan para pemimpinnya yang diandalkannya pun telah terdesak pula. Bahkan seorang di antara mereka benar-benar telah dilumpuhkan oleh lawannya. Hanya karena ia memiliki ilmu panglimunan meskipun belum sempurna sajalah maka ia dapat membebaskan dirinya dan harus bersembunyi, karena tenaganya hampir seluruhnya telah terhisap habis!

Kekalahan-kekalahan itu tidak dapat dibiarkannya begitu saja. Semula ia memang berharap bahwa segalanya akan terselesaikan tanpa ia sendiri ikut campur. Namun ternyata bahwa orang-orang padepokan itu telah terdesak dan hampir kehilangan kesempatan sama sekali.

Karena itu, maka orang itupun akhirnya merasa bahwa ia tidak akan dapat tinggal diam. Ia harus berbuat sesuatu untuk membantu orang-orang padepokan itu, agar mereka tidak dihancurkan sama sekali oleh para prajurit dari Lemah Warah.

Untuk beberapa saat orang itu masih memperhatikan keadaan dengan saksama sebelum mengambil langkah-langkah tertentu.

Sementara itu, orang-orang yang telah memasuki padepokan itu memang menjadi bingung. Mereka tidak melihat apapun pada jarak selangkah di hadapan mereka. Karena itu yang mereka lihat adalah bayangan-bayangan kabur yang tidak begitu jelas, apakah mereka kawan atau lawan.

Orang-orang padepokan itupun merasa sulit untuk menyerang. Tetapi mereka mempunyai kesempatan untuk bergeser dari tempatnya. Mereka dengan pengenalan mereka yang baik atas padepokan itu, seorang demi seorang telah berhasil lolos dari himpitan pasukan dari Lemah Warah.

Dengan demikian maka pertempuran pun pada dasarnya telah berhenti. Kedua belah pihak tidak mau menanggung akibat buruk karena kesalahan mereka menentukan lawan dan kawan. Jika mereka hanya melihat bayangan yang sepintas lewat di depan mereka, maka mereka tidak akan segera dapat mengenalinya.

Tatas Lintang yang memimpin langsung para prajurit Lemah Warah itupun semula tidak segera dapat menentukan langkah-langkah yang perlu diambil oleh pasukannya. Namun akhirnya Tatas Lintang tidak dapat berbuat lain daripada untuk sementara menyelamatkan prajurit-prajuritnya yang terjebak oleh kabut yang semakin tebal itu.

Karena itu, maka dengan suaranya yang bergaung memenuhi, udara padepokan itu Tatas Lintang berkata, “Kita lebih baik keluar dari padepokan ini. Kita akan mengepung padepokan ini diluar dinding.”

Para prajuritnya mendengar suara Tatas Lintang itu. Meskipun mula-mula mereka ragu-ragu, namun akhirnya mereka menyadari, bahwa perintah itu memang datang dari Akuwu Lemah Warah.

Karena itu, maka para prajurit itupun telah berusaha untuk mencapai dinding padepokan. Mereka yang sempat menemukan kawan-kawan mereka yang terluka dan terbaring di padepokan itu, dengan susah payah telah mereka bawa keluar. Mereka sadar, bahwa mereka tidak akan mungkin keluar lewat pintu gerbang, karena pintu gerbang itu tentu telah ditutup dan dijaga oleh para penghuni padepokan itu.

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...