Selasa, 05 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 035-04

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 035-04*

Namun Pangeran Singa Narpada menyadari bahwa segalanya harus dilakukan dengan hati-hati. Pasukan Lemah Warah harus belajar dari pengalaman, apa yang pernah terjadi di padepokan itu.

Semakin dalam malam menukik ke pusatnya, maka orang-orang Lemah Warah pun menjadi semakin bersiaga, karena Pangeran Singa Narpada telah siap pula untuk memasuki padepokan itu bersama dengan beberapa orang yang telah ditunjuknya.

“Ternyata bahwa kita masih mendapat kesempatan untuk ikut menyelesaikan tugas ini,” berkata Pangeran Singa Narpada, “karena itu, hendaknya kita dapat menyelesaikan dengan baik.”

Mahendra mengangguk kecil. Diamatinya dari kejauhan dinding padepokan yang tegak membeku. Namun ia sadar bahwa dibalik dinding itu tersimpan kekuatan ilmu yang sangat tinggi.

Dalam pada itu, ketika saatnya telah datang, maka Pangeran Singa Narpada pun telah memberikan pesan terakhir kepada Panglima pasukan khusus Lemah Warah serta Mahisa Ura. Dalam keadaan tertentu maka mereka memang harus menggerakkan pasukan.

Sejenak kemudian, maka Pangeran Singa Narpada telah meninggalkan gubug kecil itu bersama dengan Akuwu Tatas Lintang, Mahendra dan kedua orang anaknya. Dengan sangat berhati-hati mereka telah mendekati dinding padepokan. Mereka menyusuri tempat-tempat gelap di bawah bayangan pepohonan. Di siang hari sebelumnya mereka telah mengamati keadaan padepokan itu, sehingga mereka dapat memperhitungkan tempat-tempat yang tidak terlalu tajam mendapat pengawasan. Namun mereka pun menyadari, bahwa yang mereka lihat adalah pengawasan yang nampak dari luar dinding. Di belakang dinding itu tentu terdapat penjagaan yang kuat sebagaimana yang mereka lihat dari luar padepokan. Bahkan mungkin di balik dinding itu, orang-orang padepokan itu berdiri berjajar rapat berjarak sepanjang langkah mereka.

Karena itu, maka mereka harus berhati-hati. Mereka harus memperhitungkan setiap langkah yang mereka ambil.

Beberapa langkah dari dinding padepokan, mereka telah berhenti seorang di antara mereka, Pangeran Singa Narpada sendiri telah bergeser mendekat. Dengan ketajaman pendengarannya ia berusaha untuk mengetahui apakah di balik dinding kayu itu terdapat seseorang atau bahkan lebih.

Namun Pangeran Singa Narpada tidak mendengar desah nafas. Bahkan yang didengarnya adalah justru desir langkah. Namun langkah yang semula mendekat itu justru telah menjauh.

Dengan demikian Pangeran Singa Narpada memperhitungkan bahwa di dalam dinding padepokan itu tidak terdapat penjaga yang berjaga-jaga di setiap jengkal, tetapi para perondalah yang mengamatinya, yang lewat pada saat-saat tertentu saja.

Beberapa saat Pangeran Singa Narpada menunggu. Dengan demikian maka Pangeran Singa Narpada mampu memperkirakan jarak waktu para peronda yang nganglang itu.

Sejenak Pangeran Singa Narpada masih menunggu, di beberapa langkah nampak sebuah gardu panggungan. Meskipun dalam keremangan malam, namun ketajaman penglihatan Pangeran Singa Narpada mampu melihat, bahwa ada tiga orang yang bertugas di gardu itu.

Dengan demikian maka Pangeran Singa Narpada telah dapat menentukan di mana mereka harus mencoba memanjat masuk.

Dengan isyarat Pangeran Singa Narpada telah memanggil Mahendra. Dengan hati-hati Mahendra telah merayap mendekati Pangeran Singa Narpada.

Dengan bahasa isyarat pula mereka berdua berniat untuk melihat apa yang ada di balik dinding itu.

Sejenak kemudian mereka menunggu. Merekapun mendengar langkah para peronda pula.

Namun demikian peronda itu berlalu, maka kedua orang itu dengan sigapnya telah meloncat keatas dinding. Keduanya kemudian telah menelungkup melekat dinding padepokan itu, di bawah bayangan sebatang pohon yang tumbuh justru di dalam padepokan itu, namun daunnya yang rimbun telah membayangi bagian dari dinding padepokan itu.

Untuk beberapa saat keduanya menunggu. Seperti yang mereka perhitungkan, maka para peronda pun telah lewat pula dengan langkah yang pasti namun tidak tergesa-gesa. Para peronda itu nampaknya memang mendapat perintah untuk mengamati keadaan dengan saksama.

Tetapi kemampuan kedua orang itu memang sangat tinggi. Mereka mampu menahan pernafasan mereka dan menyerap bunyi yang timbul karena diri mereka. Sehingga dengan demikian maka para peronda itu tidak mendengar sama sekali kehadiran mereka di atas dinding padepokan.

Dengan mengamati keadaan secara langsung, maka mereka pun dapat menentukan, kapan orang-orang yang bersama dengan mereka itu dapat meloncat masuk.

Dengan perhitungan yang cermat, maka keduanya telah memberikan isyarat kepada Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Akuwu Lemah Warah agar mereka segera memasuki padepokan.

Seorang demi seorang di antara mereka telah meloncat masuk. Demikian mereka berada di dalam, maka mereka pun segera menempatkan diri di balik pohon-pohon perdu. Mereka berusaha untuk bukan saja tidak dapat dilihat oleh para peronda, tetapi juga tidak didengar.

Dengan penuh kewaspadaan, maka orang-orang itupun mulai menebar, sampai saatnya Pangeran Singa Narpada dan Mahendra sendiri meloncat masuk pula.

Seperti yang mereka rencanakan, maka orang-orang itu telah memecah diri menjadi dua kelompok. Tatas Lintang bersama Pangeran Singa Narpada, sementara Mahendra bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereda akan menentukan langkah-langkah mereka masing-masing untuk menentukan di mana orang terpenting dari padepokan itu berada.

Dengan sangat berhati-hati kedua kelompok itu mulai bergerak. Mereka harus mengamati setiap barak. Mungkin mereka mendapat isyarat atau pertanda atau apapun juga yang dapat menunjukkan kepada mereka di mana orang yang mereka cari itu berada.

Karena itulah, maka kedua kelompok itu selalu bergerak di sekitar barak-barak. Mereka bergeser dari balik gerumbul yang satu ke balik gerumbul yang lain. Mereka berusaha mencapai setiap dinding barak meskipun mereka tidak boleh lengah karena ternyata di dalam padepokan itu, telah dilakukan pengawasan yang sangat ketat.

Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bergeser ke barak-barak yang berada di sisi depan dari padepokan itu, sementara Pangeran Singa Narpada dan Tatas Lintang mengamati di bagian belakang.

Namun dalam pada itu selagi beberapa orang Lemah Warah berhasil menembus dinding penjagaan isi padepokan itu, ternyata orang-orang padepokan itupun berhasil melakukan hal yang sama.

Ternyata malam itu beberapa orang telah meninggalkan padepokan. Dua di antara mereka adalah orang terbaik dari padepokan itu. Dengan kemampuan mereka yang tinggi, mereka berhasil menyusup di antara para pengawas dari Lemah Warah menembus kepungan.

Ketika mereda sudah berada pada jarak yang aman maka seorang di antara mereka berkata sambil tertawa, “ternyata kemampuan pengamatan para prajurit Lemah Warah tidak setajam seperti yang kita duga. Mereka, tidak dapat melihat sama sekali kita menyusup kepungan mereka.”

“Ya. Mereka akan terkejut jika tiba-tiba saja mereka menghadapi bahaya,” berkata seorang yang lain.

Orang yang pertama itu tertawa. Katanya, “Aku akan membuktikan bahwa kemampuan kita melampaui kemampuan orang-orang Lemah Warah. Jika aku pernah kehilangan kesempatan untuk melawan, karena waktu itu aku memang lengah, sehingga aku tidak menyadari bahwa sedikit demi sedikit kekuatanku telah dicurinya dengan licik. Kini aku telah mengetahuinya sehingga dalam waktu yang akan datang, jika aku bertemu lagi dengan anak muda yang licik itu, aku sudah dapat menempatkan diriku menghadapi ilmu pengecutnya itu.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang yang lain. yang ternyata adalah orang memiliki kemampuan menyusup ke dalam wadag orang lain itupun berkata, “Baiklah. Kita akan mencari binatang jenis apapun yang dapat menjadi berbahaya. Aku sependapat bahwa kita akan mencari ular berapa karung pun yang dapat kita peroleh. Nanti ular-ular itu kita lepaskan di perkemahan prajurit Lemah Warah sementara sebagian yang lain akan kita pergunakan untuk melawan mereka jika mereka berani memasuki padepokan lagi. Sementara kabut meliputi padepokan, ular-ular itu akan mematuk kaki para prajurit Lemah Warah.”

Orang-orang yang lain itupun masih mengangguk-angguk. Mereka memang mempunyai keyakinan bahwa orang-orang Lemah Warah itu tidak akan dapat menundukkan mereka.

Demikianlah, maka sekelompok kecil orang-orang itu telah memasuki hutan yang tidak terlalu jauh dari padepokan mereka. Dalam gelapnya malam mereka langsung menuju ke bongkahan-bongkahan padas yang terdapat pada lereng rendah sebuah sungai yang tidak begitu besar. Namun di tempat itu memang terdapat banyak sekali ular.

Ternyata mereka adalah orang-orang yang memiliki ketrampilan untuk menguasai ular. Kecuali itu, mereka pun telah minum obat penawar bisa meskipun hanya akan dapat bertahan untuk beberapa lama. Namun waktu itu tentu sudah cukup lama untuk mengumpulkan ular sebanyak yang mereka butuhkan.

Demikianlah, mereka telah menangkap ular sebanyak-banyaknya dan mereka masukkan ke dalam karung. Ular-ular itu akan sangat berarti jika pasukan Lemah Warah menyerang lagi padepokan mereka.

Tetapi orang-orang itu tidak sekedar menangkap ular. Dengan kemampuan yang tinggi untuk menguasai binatang dengan lambaran ilmu gendam maka beberapa ekor harimau berhasil dikumpulkan. Orang yang memiliki ilmu gendam itu duduk di paling depan, sementara beberapa orang yang bersamanya duduk di belakangnya. Dalam puncak samadi sesuai dengan laku ilmu gendamnya maka empat ekor harimau yang terjangkau oleh ilmunya itu telah datang. Sejenak keempat ekor harimau itu berjalan hilir mudik. Namun kemudian keempatnya telah mendekam di hadapan orang yang memiliki ilmu gendam itu.

Agaknya telah terjadi hubungan getar di dalam diri orang yang berilmu gendam itu dengan getar di dalam diri harimau-harimau itu. Dalam ketiadaan kesadaran berpribadi dan penalaran maka harimau itu telah menerima getaran yang telah mempengaruhi nalurinya untuk berbuat sesuatu. Karena itu, ketika getaran itu telah benar-benar menguasai dirinya, maka harimau itupun telah bangkit dan mulai bergerak berdasarkan tuntunan dan perintah kekuatan ilmu gendam atas nalurinya.

“Satu cara untuk sekedar menghalau dingin bagi para prajurit Lemah Warah itu,” berkata orang yang memiliki ilmu gendam itu setelah dilepaskannya samadinya.

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka sadar bahwa keempat ekor harimau itu tentu akan menuju ke perkemahan para prajurit Lemah Warah dan menimbulkan kekisruhan.

Pada saat yang demikian, maka mereka akan lebih mudah berusaha menerobos kepungan itu kembali memasuki lingkungan padepokan dengan membawa beberapa karung ular.

Dalam pada itu Pangeran Singa Narpada dan Tatas Lintang telah menyusup semakin dalam. Namun mereka tidak menemukan orang yang mereka cari atau tanda-tanda tentang orang itu.

Demikian pula Mahendra bersama kedua anaknya. Mereka telah memasuki lorong-lorong di antara barak-barak dengan kemungkinan bertemu dengan para peronda. Namun mereka tidak melihat tanda-tanda tentang orang yang memiliki ilmu yang paling tinggi di padepokan itu, yang mampu menyelimuti padepokan itu dengan kabut yang tebal.

Namun mereka justru telah sampai di belakang sebuah barak yang khusus. Mereka melihat beberapa orang penjaga yang berada di depan pintu barak itu. Nampaknya barak itu memang mendapat penjagaan lebih baik dari barak-barak yang lain.

Dengan sangat hati-hati Mahendra mendekati barak itu, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus mengawasi dari dua sudut barak itu jika ada peronda yang mengitari pondok itu.

Dari belakang pondok itu, Mahendra berhasil mengintai ke dalam. Yang dilihatnya adalah beberapa orang yang terluka terbaring di sebuah amben yang besar. Orang-orang terluka yang agaknya mendapat perawatan dengan baik. Namun mereka mendapat penjagaan yang kuat pula.

“Agaknya mereka bukan orang-orang padepokan ini,” berkata Mahendra kepada diri sendiri.

Beberapa saat ia memperhatikan ruangan itu. Namun kemudian iapun telah bergeser menjauh dan mengajak kedua anaknya menyingkir ke belakang gerumbul perdu.

“Apa yang ayah lihat?” bertanya Mahisa Murti.

“Beberapa orang yang terluka. Namun agaknya mereka telah mendapat perawatan yang baik,” jawab Mahendra.

“Maksud ayah orang-orang padepokan ini yang terluka?” bertanya Mahisa Pukat pula.

“Aku tidak jelas. Tetapi menilik sikap dan pelayanan orang-orang yang ada di ruang itu, mereka bukan orang-orang padepokan ini. Ketika seorang bangkit dan duduk di pembaringannya, menurut penglihatanku ia nampak lain dari orang-orang yang merawat orang-orang yang terluka itu,” jawab Mahendra.

“Mungkin orang-orang Lemah Warah yang terhitung hilang. Karena kami tidak dapat membawa semua orang yang gugur atau terluka saat kami meninggalkan medan di padepokan ini,” berkata Mahisa Murti.

“Apakah kalian mengalami tekanan yang demikian beratnya, sehingga kalian harus melarikan diri dengan sangat tergesa-gesa?” bertanya Mahendra.

“Bukan tekanan para penghuni padepokan ini dalam pertempuran. Tetapi dalam kabut yang gelap itu kita tidak mampu untuk mencari kawan-kawan kita yang terluka dan gugur dengan cermat,” jawab Mahisa Murti.

Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “jika benar orang-orang yang dirawat itu para prajurit Lemah Warah, ternyata orang-orang padepokan ini adalah orang-orang yang baik.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun mereka tidak dapat menjawab. Namun mereka memang pernah mendengar bahwa isi padepokan ini memang merupakan campur baur dari beberapa perguruan, sehingga mungkin ada perbedaan sikap di antara para penghuni yang berasal dari beberapa padepokan itu.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terdiam, sementara Mahendra memperhatikan keadaan di sekitarnya.

“Hari ini kita gagal menemukan yang kita cari,” berkata Mahendra. “mudah-mudahan Pangeran Singa Narpada menemukannya. Namun jika Pangeran Singa Narpada juga gagal, kita masih mempunyai waktu untuk mengulanginya atau mencari jalan lain yang lebih baik.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk.

Namun dalam pada itu, waktu pun berjalan terus. Sebagaimana mereka sepakati sebelumnya, maka mereka pun segera kembali ke tempat mereka memasuki padepokan itu untuk bersama-sama meninggalkannya.

Namun untuk beberapa saat Mahendra dan kedua anaknya menunggu. Baru beberapa waktu kemudian, Pangeran Singa Narpada dan Tatas Lintang telah datang pula.

Dengan sangat berhati-hati mereka telah meloncat keluar dinding padepokan dengan memperhatikan para peronda yang setiap waktu mengelilingi lingkungan padepokan itu.

Demikian mereka sampai di luar, maka mereka pun telah berusaha untuk menghindari pengamatan orang-orang padepokan itu yang berada di gardu-gardu di panggungan.

“Kita harus mencari cara lain,” berkata Pangeran Singa Narpada kemudian setelah, mereka merasa lepas dari setiap pengamatan.

“Ya Pangeran,” jawab Mahendra, “dengan cara ini kita sulit menemukannya.”

Yang lain pun mengangguk-angguk. Sementara itu Tatas Lintang pun berkata, “Kita harus memancing agar orang itu melepaskan ilmunya. Mungkin kita akan dapat melihat, sesuatu yang menjadi pertanda lepasnya ilmu itu.”

Pangeran Singa Narpada dan Mahendra agaknya setuju dengan pendapat itu. Dengan nada datar Pangeran Singa Narpada berkata, “Mungkin kita harus mempergunakan semua kekuatan seperti yang pernah kita lakukan.”

Yang lain pun mengangguk-angguk.

Namun dalam pada itu, kelima orang itupun terkejut. Mereka yang hampir sampai ke perkemahan melihat keributan terjadi di antara para prajurit Lemah Warah.

“Apa yang terjadi?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

Yang lain tidak segera menjawab. Namun mereka telah mempercepat langkah mereka menuju ke perkemahan.

Semakin dekat mereka dengan perkemahan, maka mereka pun lelah melihat para prajurit yang sedang berkelahi. Beberapa orang prajurit telah mengacukan senjata mereka dan memutarnya. Kemudian sekelompok-sekelompok prajurit yang lain juga sedang sibuk.

Pangeran Singa Narpada dan mereka yang bersamanya telah mempercepat langkah mereka. Namun mereka pun kemudian mengetahui bahwa keributan itu tidak hanya terjadi di gubug yang dipergunakan oleh Akuwu Tatas Lintang. Tetapi juga di bagian-bagian lain dari perkemahan itu.

Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka mereka pun kemudian melihat bahwa para prajurit itu sedang berkelahi melawan seekor harimau.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Kepada seorang prajurit ia bertanya, “Hanya seekor?”

“Ya Pangeran. Disini. Tetapi ada lagi di tempat lain.” jawab prajurit itu.

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Namun baik Pangeran Singa Narpada, Akuwu Lemah Warah maupun yang lain tidak merasa perlu untuk ikut dalam perkelahian itu. Para prajurit pun segera dapat mengatasi harimau yang mengamuk itu. Termasuk Mahisa Ura.

Namun tiba-tiba saja terdengar beberapa orang prajurit yang berteriak tentang ular. Mereka melihat beberapa ekor ular tiba-tiba saja telah merayap mendekati arena pertarungan itu. Demikian para prajurit berhasil membunuh harimau yang bagaikan gila itu, maka mereka pun telah terdesak mundur oleh beberapa ekor ular yang melata mendekati mereka.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang melihat ular-ular itu mendekat segera meloncat maju. Namun Mahendra pun kemudian berteriak, “gunakan senjata kalian. Tusuk tepat di belakang kepalanya, jika kalian tidak sempat menghindar.”

Namun Mahendra mulai mencemaskan kelompok-kelompok prajurit yang lain. Meskipun dengan ujung tombak dan pedang mereka akan membunuh ular yang merayap mendekat, tetapi jika ular itu terlalu banyak, maka tentu saja ada diantara mereka yang akan dapat dipatuknya.

Namun di kelompok lain, Mahendra melihat obor yang menyala. Sambil menarik nafas ia berkata, “Bagus. Ular itu akan menjadi ketakutan melihat api.”

“Tetapi mereka dikuasai ilmu gendam sebagaimana harimau itu,” berkata Mahisa Murti.

“Tetapi bagaimanapun juga naluri binatang itu sendiri masih akan tetap berperan pada tingkah lakunya. Seandainya karena pengaruh ilmu gendam ular itu tidak lagi takut terhadap api, namun mereka tidak akan dapat menembus lidah api yang menyala dan diayun-ayunkan di hadapan ular-ular itu. Panas api itu akan membakarnya karena ular yang dipengaruhi ilmu gendam itu tidak menjadi kebal api. “Mahendra menjelaskan.

Mahisa Murti tidak menyahut lebih lanjut. Iapun kemudian disibukkan oleh ular-ular yang datang kepadanya. Namun ia tidak lagi mencemaskan para prajurit dalam kelompok-kelompok yang lain. Karena api yang semula hanya nampak pada sekelompok prajurit, kemudian nampak pada kelompok-kelompok yang lain, yang agaknya telah terpengaruh pula untuk melawan ular yang menyerang mereka dengan cara yang sama. Dengan api.

Keributan itu tidak terlalu lama berlangsung. Para prajurit itu segera menguasai beberapa ekor harimau dan ular yang menyerang mereka.

Dengan demikian maka beberapa saat kemudian, maka keadaan pun lelah menjadi tenang kembali.

Para panglima dan pemimpin kelompok pun menarik nafas lega. Sambil menyeka peluh yang membasahi pakaian mereka, para prajurit itu merasa bahwa mereka telah berhasil mengatasi kesulitan yang datang karena serangan orang-orang berilmu tinggi di padepokan itu.

Namun sebenarnyalah mereka tidak menyadari bahwa yang terjadi itu hanyalah sekedar cara orang-orang padepokan itu mengalihkan perhatian. Pada saat para prajurit Lemah Warah sibuk dengan harimau dan ular yang menyerang, maka beberapa orang telah menembus kepungan memasuki padepokan itu sambil membawa beberapa karung ular.

Orang-orang padepokan yang dari tempat mereka menembus kepungan melihat dalam keremangan malam orang-orang yang sibuk melawan harimau dan ular, bahkan dengan menyalakan obor-obor belarak dan ranting-ranting kering, tidak dapat menahan tertawa mereka. Demikian mereka memasuki regol padepokan, maka mereka pun telah tertawa berkepanjangan.

Namun sebaliknya, mereka pun tidak mengetahui, bahwa orang-orang Lemah Warah dan Kediri pun telah berhasil memasuki padepokan itu pula.

Demikianlah, maka semalam suntuk para prajurit Lemah Warah hampir tidak sempat beristirahat. Mereka dengan hati-hati selalu bersiaga menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan datang. Setiap saat, beberapa ekor ular dapat meluncur dan mematuk kaki mereka. Jika ular itu sangat berbisa, maka jika terlambat beberapa kejap saja, maka nyawa mereka yang dipatuknya tidak akan dapat tertolong lagi.

“Dalam pada itu, Akuwu Tatas Lintang pun telah memberikan pesan kepada setiap pemimpin kelompok untuk tetap berhati-hati menghadapi beberapa unsur ilmu yang ada didalam padepokan itu, karena padepokan itu memang terisi oleh beberapa perguruan.

Ternyata sampai saatnya fajar menyingsing, tidak ada lagi peristiwa yang mengejutkan. Tidak ada lagi seekor ular pun yang datang ke perkemahan para prajurit Lemah Warah. Tidak ada pula seekor harimau atau binatang lain yang menyerang para prajurit Lemah Warah.

Dengan demikian maka suasana di perkemahan terasa menjadi tenang. Para prajurit telah mendapat kesempatan untuk beristirahat. Sementara yang lain telah pergi ke sumber air di sebuah belik kecil. Lainnya lagi pergi ke sungai yang tidak terlalu jauh. Sedangkan dari gubug yang dipergunakan sebagai dapur telah mengepul asap. Mereka yang bertugas di dapur telah menyiapkan minuman panas dan makanan bagi para prajurit Lemah Warah.

Para pemimpin prajurit Lemah Warah pun sempat pula beristirahat. Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada dan Mahendra masih membicarakan perlakuan orang-orang padepokan itu terhadap para prajurit Lemah Warah yang terluka.

“Mudah-mudahan mereka memang memperlakukan para prajurit itu dengan baik,” berkata Tatas Lintang pula.

“Mudah-mudahan,” berkata Mahendra, “namun dalam pada itu kita masih juga belum berhasil menemukan yang kita cari.”

“Kita tidak tergesa-gesa,” berkata Pangeran Singa Narpada kita masih mempunyai waktu. Kita akan mencoba sekali lagi memasuki padepokan itu. Namun jika kita tidak berhasil, maka kita akan memakai cara lain.”

“Cara itulah yang harus kita persiapkan,” berkata Tatas Lintang.

“Mungkin kita akan mengulangi serangan ke dalam padepokan itu,” berkata Pangeran Singa Narpada, “sementara itu, di antara kita akan mengamati seluruh padepokan itu. Kita harus menemukan saat-saat permulaan dari pelepasan ilmu yang menggetarkan jantung itu. Kita harus melihat, di manakah kabut itu mulai nampak.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Namun iapun telah siap dengan pasukannya untuk kembali menyerang isi padepokan itu. Karena itulah maka Tatas Lintang selalu memelihara keadaan pasukannya, agar setiap saat dapat digerakkan dengan cepat dan mampu memenuhi harapan para pemimpinnya, apalagi telah hadir Pangeran Singa Narpada.

Sebab itu, para prajurit Lemah Warah memang tidak mempunyai tugas khusus. Namun mereka yang bertugas sajalah yang tetap dengan waspada mengamati keadaan. Kepungan mereka tidak boleh ditembus oleh orang-orang dari padepokan itu.

Sebenarnyalah bahwa para prajurit Lemah Warah masih belum mengetahui bahwa sebenarnya orang-orang padepokan itu telah mampu menembus kepungan para prajurit itu di malam hari.

Hari itu tidak terjadi sesuatu yang menarik perhatian. Keadaan padepokan itu masih tetap tenang. Sementara para petugas masih tetap mengamati keadaan dengan waspada.

Demikian juga di malam hari. Para pemimpin dari Lemah Warah tidak berusaha memasuki padepokan, sementara orang-orang padepokan itupun tidak mengganggu para prajurit dari Lemah Warah yang mengepung mereka dengan jenis binatang apapun.

Namun ketika matahari terbit di pagi hari, para prajurit Lemah Warah telah melihat seorang dari kawannya yang tiba-tiba saja telah berlari-lari dari arah padepokan. Para prajurit Lemah Warah mengenalinya sebagai salah seorang kawan mereka yang telah hilang.

Karena itu, kedatangannya telah disambut oleh kawan-kawannya dengan gembira. Beberapa orang menyongsongnya dan kemudian ketika kawan-kawannya itu melihat tubuhnya yang terluka, mereka pun telah membantunya berjalan menuju ke gubug-gubug kecil.

“Kau terluka?” bertanya salah seorang prajurit.

“Ya. Aku terluka,” katanya dengan nada rendah.

Kawan-kawannya telah membawanya ke sebuah amben bambu yang sederhana, yang mereka buat sendiri. Seorang di antara para prajurit itu berkata,” beristirahatlah. Bagaimana kau dapat keluar dari padepokan itu?”

“Aku melarikan diri dengan meloncat dinding ketika aku merasa lukaku agak baik. Namun karena itu, maka rasa-rasanya lukaku menjadi kambuh lagi.”

“Berbaringlah. Beristirahat sebaik-baiknya. Syukurlah bahwa kau sempat melepaskan diri dari padepokan itu,” berkata prajurit yang lain, “namun apakah dengan demikian kawan-kawan kita yang tertangkap tidak mengalami kesulitan?”

“Mudah-mudahan tidak,” jawab prajurit itu, “kami mendapat perlakuan baik di padepokan itu. Meskipun demikian, aku merasa bahwa jika kesempatan itu datang, aku lebih baik keluar dari padepokan.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, tiba-tiba seorang di antara para prajurit itu menyibakkan kawan-kawannya. Dengan nada tinggi penuh kegembiraan ia mengguncang tubuh prajurit yang berhasil kembali itu, “He, kau berhasil meloloskan diri. Bagaimana hal itu kau lakukan he? Bagaimana mungkin kau dapat meloncati dinding yang diamati dengan ketat. Nah, dengan demikian kita mendapat kesempatan lagi untuk bermain macanan. He, kau masih hutang kepadaku. Kau harus membayarnya.”

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...