Minggu, 03 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 030-04

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 030-04*

Mahisa Ura masih saja dibayangi oleh kebimbangan. Namun ketika dilihatnya wajah-wajah anak-anak muda itu bersungguh-sungguh, maka ia tidak dapat bertahan pada harga dirinya. Karena itu katanya kemudian, “Baiklah. Jika kalian benar-benar menghendaki membantu aku, maka aku akan mengucapkan terima kasih.”

“Tetapi kau tahu, bahwa ilmu yang ada pada kami pun masih terlalu sempit, sehingga mungkin yang kami lakukan kurang memberimu kepuasan. Namun kami akan mencoba sejauh dapat kami lakukan” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Ura mengangguk kecil.

“Kita akan memerlukan waktu sekitar tiga hari. Pada malam berikutnya kita akan pergi padepokan itu. Mungkin terjadi sesuatu pada tiga hari yang kita sisihkan itu. Namun biarlah aku dan Mahisa Pukat menyelesaikannya,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Ura mengangguk-angguk, meskipun ia sadar, bahwa yang dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu lebih banyak ditujukan kepada keselamatannya dari pada keberhasilan tugas mereka. Meskipun demikian, Mahisa Ura tidak dapat menolak keiklasan hati kedua anak muda itu.

Tetapi mereka tidak akan dapat melakukannya di banjar itu apalagi di siang hari. Mereka berada di banjar itu sebagai pedagang batu-batu berharga dan wesi aji. Meskipun tidak banyak orang yang memerlukan mereka, tetapi sekali-sekali ada juga orang yang datang untuk melihatnya.

Karena itu, maka ketiga orang itu harus membuat rencana mereka dalam hubungan usaha mereka membuka kemungkinan Mahisa Ura mampu mengurai daya tahannya untuk melawan getaran yang dipancarkan lewat suara seseorang yang didorong oleh kekuatan ilmu yang tinggi.

Di siang hari mereka harus berada di banjar itu, sementara di malam hari mereka akan mengadakan latihan-latihan khusus di tempat yang tersembunyi. Sudah tentu mereka harus menghindarkan diri dari pengamatan orang-orang bertongkat itu.

Namun di siang hari, Mahisa Ura harus mempergunakan waktunya untuk menegaskan sikapnya di malam hari. Karena itu, maka ia harus tetap berada di pembaringannya, selalu dalam pemusatan nalar budi.

“Biarlah kau dianggap orang lain sedang sakit,” berkata Mahisa Pukat.

“Bagaimana jika orang-orang padukuhan ini, terutama yang pernah berhubungan dengan kita ingin menengok?” bertanya Mahisa Ura.

“Aku akan mengatakan bahwa sakitmu dapat menular meskipun tidak berbahaya jawab Mahisa Pukat, “mudah-mudahan tidak ada seorang pun di antara mereka yang dengan berani membiarkan dirinya kejangkitan penyakit seperti yang sedang kau derita. Pusing-pusing kepala, menggigil dan hidung tersumbat.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Cerdik juga kau agaknya. Baiklah. Aku akan menjalankan apa saja yang harus aku lakukan.”

Ketiganya pun kemudian telah menyusun rencana mereka. Pada malam pertama, maka mereka pun telah berpesan kepada penunggu banjar itu, bahwa mereka akan bangun pagi-pagi.

“Jika kami belum bangun pada saat fajar menyingsing, tolong bangunkan kami,” berkata Mahisa Murti.

“Jadi aku harus bangun pagi-pagi sekali? Satu hal yang tidak pernah aku lakukan kecuali jika terpaksa sekali,” jawab penunggu banjar itu.

“Aku tahu maksudmu. Kau perlu uang?” bertanya Mahisa Murti.

Orang itu tersenyum. Sementara itu Mahisa Murti pun berkata, “Aku akan memberimu uang besok jika kau benara-benar melakukan pesan itu. Jika kau lupa atau jika kau terlambat bangun, maka aku tidak akan memberimu apapun juga.”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Jangan takut. Setiap hari aku bangun menjelang dini hari.”

“Satu hal yang tidak pernah kau lakukan kecuali terpaksa sekali. Apakah kau setiap hari mendapat tekanan sehingga terpaksa bangun menjelang dini hari?” bertanya Mahisa Murti.

Penunggu banjar itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Aku akan membangunkan kalian.”

Demikianlah, maka penunggu banjar itu pun tidak lagi berniat mengusik ketiga orang itu di malam hari, karena menurut pesan mereka, maka mereka minta untuk dibangunkan pagi-pagi sekali.

Namun sebenarnyalah bahwa ketiga orang itu sama sekali tidak tidur di banjar. Ketika malam menjadi sepi, maka mereka telah meninggalkan banjar itu dengan meloncati dinding. Tidak seorang pun yang melihat mereka keluar. Orang-orang yang berada di gardu dan penunggu banjar itu tidak mengira bahwa ketiga orang itu telah meninggalkan banjar.

Malam itu ketiga orang itu telah berada di tempat yang tidak pernah dikunjungi seorangpun. Mereka telah menyepi untuk memberikan kesempatan kepada Mahisa Ura menjalani laku bagi peningkatan daya tahan tubuhnya. Terutama menghadapi ilmu yang dipancarkan lewat getaran suara.

“Sadarilah, bahwa kau telah memiliki ilmu yang cukup tinggi,” berkata Mahisa Murti, “kemudian, marilah. Aku dan Mahisa Pukat akan membantumu, menuntun pemusatan nalar budimu sehingga kau akan dapat menemukan jalan di dalam dirimu untuk mengungkapkan kemampuanmu bagi peningkatan daya tahanmu.”

Mahisa Ura pun mengikuti saja petunjuk kedua anak muda yang memiliki ilmu dan pengalaman yang ternyata jauh lebih luas dari dirinya.

Ketiga orang itu pun kemudian telah menentukan langkah yang akan mereka lakukan. Mahisa Murtilah yang pertama-tama akan membantu Mahisa Ura di dalam laku itu, sementara Mahisa Pukat akan mengamati keadaan.

Ketika malam menjadi semakin malam, maka Mahisa Murti dan Mahisa Ura telah duduk di atas sebuah batu padas yang datar dan cukup luas. Mahisa Ura membelakangi Mahisa Murti yang memegangi kedua pundaknya. Dengan cara itu, maka keduanya telah berusaha untuk menemukan jalan bagi Mahisa Ura, agar ia mampu menyalurkan ilmunya bagi menopang daya tahannya.

Keduanya pun kemudian duduk tanpa bergerak sama sekali. Keduanya telah memusatkan nalar budi mereka, sebagai laku yang harus dijalani oleh Mahisa Ura.

Ternyata bahwa Mahisa Ura memang telah memiliki bekal yang cukup. Kekuatan yang seolah-olah mengalir dari diri Mahisa Murti ternyata dengan serta merta telah membuka kemungkinan bagi Mahisa Ura untuk melakukannya. Perlahan-lahan, tetapi pasti. Kekuatan yang seakan-akan menjalar melalui pundaknya telah menggetarkan seluruh tubuhnya. Namun Mahisa Ura sendiri telah membuka dirinya seluas-luasnya, sehingga karena itulah, maka seolah-olah gejolak yang terjadi di dalam dirinya telah dituntun ke satu arah yang berpusar di dalam dadanya.

Demikianlah, Mahisa Murti dan Mahisa Ura menjalaninya sampai menjelang dini hari. Ketika Mahisa Pukat memberikan isyarat maka keduanya telah mengurai pemusatan nalar budinya itu.

Menjelang diri hari, maka mereka pun segera kembali ke Banjar. Seperti saat mereka pergi, maka mereka pun memasuki banjar dengan cara yang sama. Dengan diam-diam mereka segera kembali ke pembaringan mereka yang gelap, karena lampu sengaja tidak dipasang.

Dengan hati-hati mereka bertiga telah berada kembali di pembaringan. Mahisa Ura pun segera meneruskan laku yang dijalaninya tanpa bantuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sekedar untuk mendalami laku yang telah dijalaninya di tempat yang terasing itu.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah duduk di tangga banjar sambil menunggu, sebagaimana disang-gupkan, penunggu banjar itu akan membangunkan mereka.

Ternyata penunggu banjar itu memenuhi kesanggupannya. Ia pun kemudian datang pada saat yang dijanjikan. Pada saat fajar menyingsing.

“Ooo,” orang itu tertegun ketika dilihatnya Mahisa Murti dan Mahias Pukat telah duduk di tangga banjar. “Ternyata kalian telah bangun.”

“Kami tidak dapat tidur semalaman,” sahut Mahisa Murti.

“Kenapa?” bertanya penunggu banjar itu.

“Saudaraku telah sakit,” jawab Mahisa Murti.

“Oo, sakit apa?” bertanya penunggu banjar itu, “apakah aku dapat menengoknya?”

“Jangan, sakitnya dapat menular?” jawab Mahisa Murti.

“Sakit apa?” wajah penunggu banjar itu menegang.

“Tubuhnya menggigil kedinginan. Namun kemudian terasa menjadi panas. Hidungnya bagaikan tersumbat dan lehernya terasa pedih,” jawab Mahisa Murti, “Menurut pengalaman kami, jika salah seorang dari kami bertiga dihinggapi penyakit seperti itu, maka yang lain pun akan ditularinya pula, jika kami terlalu dekat atau tidur di sampingnya.”

“Oo,” penunggu banjar itu mengangguk-angguk. Lalu, “Jadi apakah yang dapat aku lakukan untuk membantu meringankan sakitnya?”

“Apakah kau mempunyai pohon ketela gerandel?” bertanya Mahisa Murti.

“Ya. Ada. Aku tahu maksudmu. Apakah aku harus membuat reramuan dari ketela gerandel dari ujung akar sampai ke ujung daun? Aku memang mendengar bahwa obat seperti itu memang sangat baik bagi orang yang sakit kedinginan seperti kakakmu itu,” jawab penunggu banjar itu.

“Ya. Buatkanlah untuk kakang Mahisa Ura,” jawab Mahisa Murti.

Orang itu mengangguk-angguk. Namun ia tidak segera berbuat sesuatu, sehingga Mahisa Pukat pun berdesis, “Aku akan memperhitungkan harga batang ketela gerandel itu sekaligus tenagamu.”

“Ah, bukan maksudku,” berkata penunggu banjar itu sambil melangkah pergi.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menggelengkan kepalanya. Namun kemudian mereka pun telah membicarakan langkah-langkah yang akan mereka ambil selanjutnya.

Ketika kemudian matahari terbit, maka penunggu banjar itu benar-benar telah membawa pipisan ketela gerandel dari ujung akarnya sampai ke ujung daunnya, termasuk bunga, buahnya dan tangkainya, meskipun masing-masing hanya sepotong kecil.

Sejenis reramuan obat yang pahit sekali.

Di hari itu, maka orang-orang yang pergi ke banjar itu pun mendapat pemberitahuan bahwa Mahisa Ura sedang sakit. Bahkan sakit menular sehingga tidak seorang pun yang dibenarkan untuk menengoknya.

Namun dalam pada itu, maka Mahisa Ura pun masih saja berada dalam pendalaman dari apa yang telah dilakukan semalam.

Ketika malam turun, maka ketiga orang itu pun kembali meninggalkan banjar dengan laku yang sama. Mereka berada di tempat yang semalam mereka pergunakan. Mahisa Ura telah kembali berada dalam pemusatan nalar budinya. Mahisa Pukatlah yang kemudian membantunya membuka pintu urat nadinya, untuk meningkatkan daya tahan, tubuhnya. Tetapi Mahisa Pukat tidak memegangi kedua pundak Mahisa Ura dengan kedua tangannya. Tetapi Mahisa Pukat hanya memegangi sisi pundak Mahisa Ura dengan sebelah tangannya.

Segala sesuatunya terasa semakin lancar di dalam diri Mahisa Ura. Setelah urat nadinya terasa terbuka semalam dan dengan kemampuan sendiri berusaha untuk memperlebarnya, maka malam itu rasa-rasanya segala sesuatunya menjadi semakin mudah.

Tidak ada hambatan, baik yang datang dari dalam diri Mahisa Ura sendiri maupun yang datang dari luar dirinya. Demikian pula ketika mereka kembali ke banjar menjelang dini hari. Kemudian sehari penuh Mahisa Ura berada di atas pembaringannya. Namun ia memang sedang menjalani laku. Dan Mahisa Ura pun benar-benar tidak makan dan minum kecuali pipisan seluruh bagian dari ketela gerandel dengan diberi sedikit garam.

Pada malam ketiga, Mahisa Ura tidak lagi duduk bersila dengan dibantu oleh Mahisa Murti atau Mahisa Pukat membuka urat nadinya untuk dapat membangunkan dan meningkatkan daya tahannya. Tetapi ia sudah mulai menempa peningkatan itu dengan kekuatan-kekuatan yang dilontarkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Dengan demikian, maka ketiga orang itu pun merasa bahwa yang mereka lakukan itu telah membawa hasil. Mahisa Ura yang memang telah memiliki ilmu yang tinggi di dalam dirinya, seakan-akan mendapatkan saluran yang tidak dikenal sebelumnya untuk meningkatkan daya tahannya dari serangan-serangan getaran suara yang dilontarkan berlandaskan ilmu yang tinggi.

Ketika kemudian langit mulai dibayangi oleh warna-war-na merah, ketiga orang itu pun segera kembali ke banjar. Mahisa Ura yang sudah berhasil membuka ilmunya untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya terutama terhadap serangan-serangan yang lebih bersifat langsung kebagian dalam tubuhnya, bukan sekedar pada wadagnya, merasa dirinya telah menemukan sesuatu yang baru. Meskipun pada dasarnya bekal itu sudah ada di dalam dirinya, namun dibantu oleh dua orang yang meskipun jauh lebih muda daripadanya, maka ia dapat mengetrapkan ilmunya lebih mapan.

Ketika malam ketiga telah lewat, maka yang dilakukan oleh Mahisa Ura tinggallah menempatkan segala sesuatu di dalam dirinya agar lebih mapan. Ia masih harus membenahi beberapa gejolak di dalam dirinya yang tidak begitu sulit dilakukannya. Namun di hari itu Mahisa Ura masih juga tidak turun dari pembaringannya. Ia pun masih belum makan dan minum selain pipisan seluruh bagian dari batang ketela gerandel.

Dengan demikian, maka yang sedang bergejolak di dalam diri Mahisa Ura itu pun telah mapan kembali. Seolah-olah tidak terjadi perubahan apapun di dalam dirinya. Namun demikian, ternyata bahwa ia telah mampu membangunkan ilmunya serta mempergunakan tenaga cadangan di dalam dirinya untuk membangkitkan daya tahan yang semakin meningkat.

Ketika hari-hari yang penuh dengan laku itu telah lewat, maka Mahisa Ura pun telah mulai keluar dan turun dari pembaringannya. Penunggu banjar yang melihatnya, mendekatinya sambil bertanya, “Apakah kau sudah sembuh?”

Mahisa Ura tersenyum. Katanya, “Sudah Ki Sanak. Aku sudah berangsur baik.Tetapi selama aku sakit, kenapa kau tidak mau menjengukku. Bukankah kau tinggal melangkahi tangga saja?”

“Ah,” jawab penunggu banjar itu, “Bukankah sakitmu menular?”

“Siapa yang mengatakannya?” bertanya Mahisa Ura.

“Adik-adikmu,” jawab penunggu banjar itu.

Mahisa Ura tersenyum. Katanya, “Sakitku memang menular. Tetapi sama sekali tidak berbahaya. Adik-adikku adalah penakut. Mereka tidak berani tidur di sebelahku. Mereka lebih senang tidur di lantai atau bahkan duduk saja semalam suntuk di tangga pendapa.”

“Tetapi lebih baik begitu daripada mereka harus dijangkiti penyakit yang serupa. Jika kalian bertiga sakit, siapakah yang akan melayani kalian. Siapakah yang akan membeli nasi ke warung sebelah.

“Bukankah kau yang membelikannya?” bertanya Mahisa Ura.

“Ya. Tetapi jika kalian bertiga sakit, aku tidak mau mendekat. Kalian tidak akan dapat menyuruh aku membeli nasi atau membeli apapun juga. Aku pun tidak mau membuat minuman panas dan menyediakan obat ketela gerandel.”

Mahisa Ura tersenyum. Katanya, “Tetapi aku sudah sembuh. Aku tidak akan menyulitkan adik-adikku lagi. Juga tidak akan menyulitkanmu. Segala sesuatunya kini sudah dapat aku lakukan sendiri.”

Penunggu banjar itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sudah enam kali membuat obat ketela gerandel, masing-masing semangkuk penuh.”

“Terima kasih,” jawab Mahisa Ura.

“Karena itu maka kau telah disembuhkannya,” berkata orang itu lagi.

“Terima kasih,” jawab Mahisa Ura pula.

Penunggu banjar itu mengerutkan keningnya. Dengan kesal ia berkata, “Setelah kau sembuh, bukankah kau dapat melakukan pekerjaanmu lagi?”

“Ya. Tentu” jawab Mahisa Ura.

“Akulah yang menyebabkannya” berkata penunggu banjar itu.

“Terima kasih” jawab Mahisa Ura.

“Terima kasih, terima kasih. Hanya terima kasih?“ penunggu banjar itu benar-benar menjadi jengkel.

Mahisa Ura mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu mengerti, kenapa tiba-tiba saja penunggu banjar itu marah kepadanya.

Namun dalam pada itu, terdengar suara tertawa. Tidak begitu keras tetapi suara itu telah menarik perhatian Mahisa Ura dan penunggu banjar itu, sehingga keduanya telah berpaling.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri di bawah tangga pendapa. Ketika penunggu banjar itu memandanginya, maka ia pun berkata, “Sudah aku katakan, akulah yang akan membayarnya. Kakang Mahisa Ura tidak tahu menahu tentang perjanjian itu.”

Wajah penunggu banjar itu menjadi merah. Dengan gagap ia berkata, “Bukan maksudku. Aku sudah senang melihat kesembuhannya.”

Mahisa Ura termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil berkata, “Terima kasih.”

Penunggu banjar itu tidak menjawab. Bahkan sambil melangkah pergi ia menirukan, “Terima kasih.”

Mahisa Ura pun tertawa. Namun ia tidak berkata sesuatu.

Demikianlah, hari itu, Mahisa Ura sempat membenahi dirinya. Setelah tiga hari ia tidak makan dan minum selain pipisan ketela gerandel. Hari itu ia mendapat kesempatan untuk memulihkan segenap tenaganya menurut ukuran kewadagan.

Dengan demikian, maka setelah Mahisa Ura selesai menjalani laku, ketiga orang itu pun telah melanjutkan rencana mereka untuk mendekati lingkungan sebuah padepokan yang dihuni oleh sekelompok orang-orang bertongkat.

“Kita akan pergi ke padepokan itu,” berkata Mahisa Ura, “kita akan mendekatinya di malam hari. Apapun yang akan terjadi, kita sudah menentukan satu langkah.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Murti pun berkata, “Kita akan pergi besok malam. Tetapi bagaimana dengan Ki Bekel padukuhan ini? Apakah kita akan minta diri atau kita pergi dengan diam-diam.”

“Apakah kita yakin bahwa kita akan kembali di hari berikutnya sebelum pagi?” bertanya Mahisa Pukat.

“Kita tidak yakin,” jawab Mahisa Murti, “karena itu, bukankah sebaiknya kita berbicara dengan Ki Bekel, bahwa kita akan melanjutkan perjalanan kita mencari daerah baru untuk memasarkan barang-barang kita. Bukan berarti bahwa kita kecewa karena di sini barang-barang kita tidak banyak yang laku.”

“Aku kira itu adalah cara yang lebih baik daripada kita pergi dengan diam-diam. Pada kesempatan lain, kita akan dapat datang lagi jika kita perlukan tanpa merasa cangung,” berkata Mahisa Ura.

Demikianlah, maka mereka bertiga pun sepakat untuk pergi ke rumah Ki Bekel. Bukan untuk mendesak agar Ki Bekel segera menentukan pilihan, batu akik yang mana yang dikehendakinya. Tetapi mereka akan minta diri.

Ketika mereka benar-benar datang ke rumah Ki Bekel setelah senja, Ki Bekel terkejut. Sebelum ketiga orang itu mengatakan maksudnya, maka Ki Bekel telah mendahuluinya, “Maaf Ki Sanak, Aku belum sempat datang untuk menentukan yang manakah yang ingin aku ambil dari batu-batu akik yang aku sisihkan itu.”

Mahisa Ura mengangguk sambil tersenyum. Katanya, “Maaf Ki Bekel. Bukan maksudku untuk mempersoalkan tentang batu-batu berharga itu. Tetapi kami ingin minta diri, bahwa kami akan melanjutkan perjalanan.”

“Kemana?” bertanya Ki Bekel.

“Aku akan mendatangi padukuhan-padukuhan. Mungkin aku mendapat kesempatan untuk menawarkan barang-barangku. Sementara itu, aku pun dapat mengenali daerah yang lebih luas lagi,” jawab Mahisa Ura.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Ura pun berkata, “Batu-batu akik yang Ki Bekel sisihkan itu akan kami tinggalkan. Kami berniat dalam waktu yang tidak lama, kami akan datang lagi ke padukuhan ini.”

Ki Bekel tersenyum sambil berkata, “Baiklah. Kami akan menunggu kedatangan kalian kembali. Tetapi sebenarnya batu-batu akik itu tidak usah kalian tinggalkan.”

“Tidak apa-apa Ki Bekel. Kami masih membawa beberapa yang akan dapat kami jual di sepanjang perjalanan kami,” jawab Mahisa Ura.

Ki Bekel tidak dapat menolak. Karena itu, maka ia hanya dapat mengucapkan terima kasih dan benar-benar mengharap ketiganya untuk datang kembali.

Demikianlah, maka ketiga orang itu pun telah meninggalkan banjar padukuhan. Mereka sama sekali tidak mengatakan, kemana mereka akan pergi. Mereka hanya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ki Bekel dan orang-orang padukuhan itu yang ramah dan baik hati.

Namun dalam pada itu, ketiga orang itu pun telah memasuki tugas mereka yang berbahaya. Mereka benar-benar telah mendekati padepokan orang-orang bertongkat yang sangat berbahaya.

Namun mereka harus menunggu sampai matahari terbenam. Jika malam menjadi gelap, maka mereka akan merayap mendekati padepokan itu untuk melihat, apakah mereka akan dapat berbuat lebih jauh lagi daripada sekedar melihat-lihat.

Untuk beberapa lamanya, mereka masih mempunyai waktu untuk beristirahat dan mempersiapkan diri menghadapi tugas yang sangat berbahaya itu.

Mahisa Ura yang pernah sampai ke lingkungan yang mereka datangi itu, berusaha untuk mengingat kembali, apa yang pernah dilihatnya sebelumnya.

“Tetapi yang aku ketahui tidak begitu banyak,” berkata Mahisa Ura.

“Kita akan melihat nanti,” jawab Mahisa Murti, “Tetapi bahwa kita telah mendekati sasaran itu adalah satu hasil yang besar. Terserah kepada kita, apakah kita akan dapat menyelesaikan atau tidak.”

Untuk menunggu waktu yang paling baik, maka mereka bertiga telah menunggu sebuah tikungan sungai kecil yang agaknya tidak pernah didatangi orang. Mereka berada di atas bebatuan, di balik gerumbul-gerumbul liar. Dari tempat itu, mereka harus merayap beberapa puluh tonggak lagi.

“Malam ini kita akan melihat, apakah yang dapat kita lakukan kemudian,” berkata Mahisa Murti, “Namun mungkin kita harus melihatnya pula di siang hari setelah kita mendapat gambaran yang lebih utuh dari padepokan ini. Di siang hari mungkin kita akan mendapat beberapa keterangan dari lingkungan di sekitarnya yang harus kita amati pula sebelumnya.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan memanfaatkan kehadiran kita di sini sebaik-baiknya. Kita harus mendapat keterangan sebanyak-banyaknya. Dengan bahan-bahan itu maka kita akan menentukan sikap. Mungkin langkah kita terbatas dengan sekedar memberikan laporan kepada Pangeran Singa Narpada. Tetapi mungkin kita akan mengambil langkah-langkah lebih jauh tanpa berhubungan dengan Pangeran Singa Narpada lebih dahulu.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Pukat pun berkata, “Padepokan itu sampai saat ini masih merupakan bayangan dikegelapan bagi kita. Kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya dan kita belum tahu lingkungan di sekitarnya. Dengan demikian maka kita akan mulai dari permulaan sekali.”

“Ya,” jawab Mahisa Ura, “sebelumnya memang tidak ada keterangan yang dapat aku berikan, selain arah dari padepokan ini.”

“Itu sudah cukup,” desis Mahisa Murti, “adalah kewajiban kita untuk mengumpulkan keterangan lebih banyak lagi.”

Ketiga orang itu membiarkan malam berlalu perlahan-lahan. Langit yang membentang digayuti oleh bintang-bintang yang berkeredipan.

Mahisa Murti pun kemudian bangkit sambil menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Marilah. Agaknya waktunya telah tiba.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun kemudian bangkit pula. Dengan nada datar Mahisa Pukat berkata, “Aku mempunyai dugaan, bahwa letak padepokan ini ada hubungannya dengan batu besar yang berwarna kehijau-hijauan itu. Batu itu adalah batu yang berharga meskipun bukan yang terbaik. Tetapi dalam ujud yang sangat besar, maka batu itu mempunyai nilai yang sangat mahal. Apalagi menilik orang bertongkat yang pada ujungnya terdapat pecahan batu itu pula yang setelah digosok nampak menjadi sangat bagus.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Mahisa Pukat. Bahkan katanya, “Aku yakin, orang bertongkat itu keluar dari padepokan ini pula. Karena itu, maka tidak mustahil bahwa kita pun harus berhadapan lagi dengan harimau. Mungkin harimau yang sebenarnya. Tetapi mungkin harimau jadi-jadian.”

Mahisa Pukat bahkan telah berkata pula, “orang itu mempunyai ilmu gendam. Mungkin ilmu itu ditujukan untuk menggerakkan harimau. Tetapi mungkin pula untuk yang lain. Ilmu itu adalah ilmu yang mampu menguasai tingkah laku binatang yang buas sekalipun.”

Mahisa Murti dan mengangguk-angguk pula. Katanya, “Kita memang harus berhati-hati.”

Demikianlah mereka bertiga telah dengan sangat hati-ha-ti melangkah menuju ke padepokan dari orang-orang bertongkat itu. Mereka menyadari bahwa orang bertongkat yang dijumpainya di tepi hutan dan yang kemudian datang ke banjar, tentu sudah memperhitungkan kemungkinan kehadirannya di padepokan itu. Dengan demikian maka mungkin sekali bahwa orang bertongkat itu telah menyiapkan sejenis penyambutan yang sangat menarik.

Karena itulah, maka mereka bertiga telah benar-benar mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Bahkan Mahisa Murti yang menjadi tegang itu pun berdesis, “Kita akan berbuat sebaik-baiknya. Tetapi segala sesuatu akan kita serahkan kepada Yang Maha Agung. Jika tugas kita ini dires-tuinya, maka kita tentu akan berhasil apapun yang kita hadapi.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengangguk-angguk. Me-reka pun telah melambari usaha mereka dengan sikap yang sama, dengan kesadaran yang tinggi, bahwa yang mereka lakukan adalah usaha semata-mata.

Selangkah demi selangkah ketiga orang itu menuju ke sebuah padepokan yang tidak mereka ketahui sebelumnya, ujud serta sifat dari lingkungannya. Dengan kemampuan serta ketajaman pengamatan mereka, maka mereka berusaha untuk mendekati dinding padepokan di bagian samping.

Tetapi langkah mereka tertegun ketika mereka mendengar suara tertawa seseorang. Perlahan sekali. Tetapi suara itu rasa-rasanya tajam menusuk sampai ke pusat jantung.

Ketiga orang itu pun kemudian telah berjongkok di antara batang-batang ilalang. Mereka memusatkan daya tahan mereka untuk melindungi jantung mereka dari serangan suara tertawa itu.

Meskipun Mahisa Ura sudah berhasil membuka kemungkinan untuk meningkatkan daya tahan di dalam dirinya, namun masih terasa jantungnya bagaikan akan meledak. Tetapi untunglah bahwa suara itu pun kemudian menjadi lenyap.

“Gila,” geram Mahisa Ura, “kedatangan kita telah diketahuinya.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun katanya, “orang ini bukan orang bertongkat itu. Serangannya mempunya bobot yang berbeda.”

Mahisa Ura termangu-mangu. Ia tidak dapat membedakan serangan itu dengan serangan yang pernah dialaminya di dekat batu yang berwarna kehijauan itu. Namun pada waktu itu, ia masih belum memiliki kemampuan dasar sekalipun untuk meningkatkan daya tahannya terhadap serangan semacam itu.

Namun dalam pada itu Mahisa Pukat menyahut, “Ya. Aku merasakan bahwa serangan ini memiliki tingkat yang lebih berbahaya. Karena itu kita memang harus berhati-hati.”

Mahisa Ura menjadi berdebar-debar. Ia baru saja sampai pada satu tingkat di tataran pertama. Jika serangan itu datang dengan bobot yang terlalu berat, maka dadanya pun tentu akan pecah karenanya.

Meskipun demikian Mahisa Ura itu berkata kepada diri sendiri, “Aku sudah mampu menginjak tataran pertama. Aku tentu mampu meningkatkannya dalam keadaan yang memaksa.”

Namun serangan itu tidak datang lagi. Yang terdengar kemudian adalah suara lembut, “Luar biasa. Kalian masih sangat muda. Namun kalian telah memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Jarang sekali terjadi keanehan seperti ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi mereka dengan hati-hati telah mengetrapkan semua ilmu dan kemampuannya sampai tataran tertinggi untuk menghadapi segala kemungkinan.

Mahisa Ura pun telah bersiap-siap pula. Tetapi ia masih saja dibayangi oleh perasaan rendah diri di hadapan kedua anak muda itu. Apalagi jika mereka harus berhadapan dengan orang yang berilmu tinggi.

“Anak-anak muda,” berkata suara itu perlahan-lahan, “aku ingin menguji kemampuanmu. Tetapi tidak di dekat padepokan ini. Kita harus sedikit menjauh, agar kita tidak menarik perhatian orang-orang padepokan itu.”

“Apakah kau bukan orang padepokan itu?” bertanya Mahisa Murti.

“Aku adalah pemimpin padepokan itu,” jawab orang yang tidak menampakkan dirinya itu, “Tetapi jika kita menarik perhatian para penghuninya, maka kalian akan mati dibantai oleh anak-anakku sehingga kau tidak akan berujud lagi. Tetapi jika kita menyingkir dan bertempur di tempat lain, kita akan mendapat kesempatan untuk menguji kemampuan kita. Mungkin kalian yang ingin mengetahui sampai di mana tingkat kemampuan kalian. Tetapi mungkin juga aku. Nah, apakah kalian bersedia? Sebenarnyalah kalian memang tidak mempunyai pilihan lain. Seandainya kalian menolak, dan kalian jatuh ke tangan anak-anakku, maka adalah salahmu sendiri.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Ketika mereka berpaling ke arah Mahisa Ura, maka Mahisa Ura sama sekali tidak memberikan kesan apapun juga.

“Namun dalam pada itu sejenak kemudian Mahisa Pukatlah yang menjawab,” Ki Sanak. Jika aku memenuhi permintaanmu, sama sekali bukan karena kami takut dicincang oleh anak-anakmu. Jika kami menjauhi padepokan ini, karena kami sebenarnya memang ingin menjajagi ilmu dari pemimpin padepokan ini.”

“Bagus,” jawab suara itu, “aku akan menyingkir. Aku akan pergi ke arah tanah berawa-rawa di hutan sebelah.”

“Aku belum pernah melihat tempat itu,” jawab Mahisa Pukat.

“Pergilah ke Barat. Kalian akan sampai ke hutan perdu yang basah. Jika kalian masuk lebih dalam, maka kalian akan sampai ke sebuah rawa yang ditumbuhi pepohonan air. Di tempat itu kalian akan menjumpai sebatang pohon besar yang sudah sangat tua. Aku menunggu di sekitar pohon itu,” jawab suara itu.

“Kau menantang kami bertempur di dalam air?” bertanya Mahisa Murti.

“Tidak. Kita akan bertempur di atas tanah meskipun jika perlu aku tidak akan mengelak jika kalian ingin bertempur di dalam rawa-rawa?” jawab suara itu.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu suara itu berkata lagi, “Aku akan mendahului kalian.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun sejenak kemudian Mahisa Murti itu pun berdesis, “Marilah. Kita akan menjajagi kemampuan orang yang mengaku sebagai pemimpin padepokan ini.”

“Ia sangat sombong,” berkata Mahisa Pukat.

“Ya. Tetapi mungkin orang itu benar-benar memiliki ilmu yang tinggi, sehingga ia berani menantang orang yang kurang dikenalnya justru pada saat ia dengan mudah dapat memanggil anak-anaknya, yang barangkali yang dimaksud adalah murid-muridnya,” berkata Mahisa Murti pula.

“Kita memang harus berhati-hati,” jawab Mahisa Pukat.

Demikianlah mereka bertiga pun segera bersiap. Mahisa Murti yang melihat kekecutan hati Mahisa Ura berkata, “Kau tidak usah berkecil hati. Kau j anganmerasa dirimu terlalu kecil. Jauh lebih kecil dari yang sebenarnya. Seharusnya kau bangkit dan berdiri di atas kenyataanmu yang sebenarnya. Kau bukannya tidak berilmu. Jika kau merasa dirimu terlalu kecil, maka kau akan benar-benar menjadi kerdil dan kehilangan gelar yang pernah kau capai pada masa-masa lampaumu. Kau seorang diri mampu memburu orang yang dikehendaki oleh Singasari. Bahkan pada saat kita berangkat, kau telah menunjukkan kelebihanmu.”

Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan mencobanya.”

“Kau tidak usah mencoba,” berkata Mahisa Murti, “kau tinggal mempergunakannya. Kau harus dapat berbuat sebagaimana kau lakukan sebelumnya. Sekarang kau justru telah bertambah. Bukan berkurang. Sadari itu.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk kecil. Ia merasa dirinya justru menjadi paling muda di antara anak-anak muda itu. Ia tidak dapat menyingkirkan rasa rendah dirinya setelah ia melihat kenyataan bahwa kedua anak muda itu memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Namun ia benar-benar ingin mencoba untuk memulihkan kehangatan darahnya sebagai seorang petugas sandi yang mempunyai nama di Singasari.

Demikianlah maka mereka bertiga pun telah bergeser dari tempatnya menuju ke tempat yang telah ditunjuk oleh suara yang tidak dilihat siapa orangnya itu.

Beberapa saat kemudian, maka ketiga orang itu pun telah memasuki hutan perdu yang basah. Kemudian dalam kegelapan mereka sampai ke tempat yang berlumpur.

“Kita sudah sampai ke daerah yang berawa-rawa itu,” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Hanya karena ketajaman penglihatan mereka sajalah, maka mereka mengetahui apa yang ada di sekitarnya.

“Kita mencari pohon benda yang disebutkannya itu,” desis Mahisa Murti.

“Kita harus berhati-hati. Mungkin ini merupakan satu jebakan yang dapat menyeret kita ke dalam kesulitan,” berkata Mahisa Ura.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, mereka pun telah tertegun. Dalam kegelapan mereka melihat sebatang pohon benda yang besar dan berdaun rimbun, sehingga dahan-dahannya menebar melindungi daerah yang cukup luas.

Untuk beberapa saat ketiga orang itu termangu-mangu. Namun kemudian mereka pun segera bersiap ketika mereka mendengar suara tertawa perlahan-lahan.

“Luar biasa,” berkata suara itu, “kalian adalah orang-orang yang sangat berani. Kemarilah, aku berada di sini.”

Mahisa Murti memberi isyarat kepada Mahisa Pukat untuk menjawab. Sebagaimana pernah mereka lakukan, selagi mereka berbicara, maka salah seorang di antaranya akan memusatkan pendengarannya untuk mengetahui arah suara itu.

Dengan nada datar maka Mahisa Pukat pun menjawab, “Baiklah Ki Sanak. Apakah tempat itu cukup luas untuk menjajagi kemampuan kita masing-masing.”

“Lebih dari cukup,” terdengar pula jawaban, “aku sudah terlalu lama menunggu.”

“Sudah kami katakan, bahwa kami masih harus mencari tempat ini,” berkata Mahisa Pukat, “untunglah, bahwa kami segera menemukannya.”

“Bukahkah aku sudah memberikan ancar-ancar?” bertanya suara itu.

“Ya. Bukankah kami masih harus mencarinya?” bertanya Mahisa Pukat pula.

“Baiklah,” jawab suara itu, “sekarang, kemarilah. Aku ada di sini. Apakah kau belum menemukan tempatku?”

Mahisa Pukat termangu-mangu. Sementara itu Mahisa Murti pun berkata, “Marilah. Kita akan mendekat.”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata Mahisa Murti itu adalah pertanda bahwa ia telah menemukan arah suara yang tidak mereka lihat orangnya itu.

Namun keduanya yakin, bahwa orang itu bukannya orang bertongkat yang pernah mereka jumpai dan yang pernah datang ke banjar. Bahkan mereka menduga bahwa orang itu mempunyai landasan ilmu yang berbeda pula menilik sentuhan getar suaranya yang berbeda. Juga cara orang itu menyinggung sasarannya. Meskipun getaran itu terasa, tetapi sama sekali bukanlah merupakan serangan yang menyakitkan jantung. Getaran yang menyentuh sasaran terasa lunak yang tidak bersifat permusuhan meskipun kata-kata yang terlontar merupakan tantangan bagi mereka.

Meskipun demikian ketiga orang itu tidak kehilangan kewaspadaan. Segala kemungkinan dapat terjadi pada keadaan seperti itu. Mungkin yang,mereka hadapi termasuk sejenis jebakan yang berbahaya, sebagaimana tempatnya yang nampak sangat asing…..

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...