*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 030-03*
Pada saat yang demikian, maka harimau yang garang itu mengaum keras sekali. Dengan kedua kakinya yang terjulur ke depan, maka harimau itu telah meloncat menerkam Mahisa Pukat.
Mahisa Pukat telah memperhitungkan masak-masak. Karena itu. maka ia pun dengan cepat telah bergeser selangkah, sehingga kaki harimau itu tidak mencengkamnya.
Namun demikian harimau itu menyentuh tanah, maka Mahisa Pukat lah yang kemudian meloncat dengan tidak kalah garangnya. Tangannya yang sudah dipenuhi oleh kekuatan ilmunya terayun dengan derasnya mengarah ke tengkuk harimau itu.
Sejenak kemudian, maka terdengarlah hentakkan ilmu Mahisa Pukat. Tangannya itu pun telah menyambar tengkuk harimau yang buas itu dengan lambaran ilmu pamungkasnya.
Yang terdengar kemudian adalah gemeretak tulang yang patah. Harimau itu tidak sempat mengaum lagi. Sekali harimau itu menggeliat, namun kemudian harimau itu telah diam untuk selama-lamanya.
Berbeda dengan cara Mahisa Pukat mengakhiri perlawanan harimau itu, maka Mahisa Murti telah mempergunakan itu, maka Mahisa Murti telah mempergunakan cara yang lain. Mahisa Murti yang berada di punggung harimau itu, telah mencabut pisau belatinya. Dengan pisau belatinya, maka Mahisa Murti berusaha untuk membunuh harimau itu.
Beberapa kali Mahisa Murti telah menghunjamkan pisaunya ke tubuh harimau itu. Darah pun telah memancar dari tubuh harimau yang koyak itu.
Untuk beberapa saat harimau itu masih berusaha untuk membebaskan diri. Namun kemudian terdengar aum kesakitan yang menyayat, sehingga akhirnya harimau itu pun roboh tidak berdaya.
Mahisa Murti mengakhiri perlawanan harimau itu tidak dengan ilmu pamungkasnya, tetapi dengan senjatanya, pisau belatinya.
Sejenak kedua anak muda itu termangu-mangu. Namun kemudian setelah sempat mengatur perasaannya yang bergejolak, Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Aku ingin membunuh harimau itu tanpa melukainya. Bukankah dengan demikian kulitnya tidak berbekas lubang-lubang luka itu. Harganya tentu lebih mahal.”
Mahisa Murti tersenyum. Tetapi ia tidak sempat menjawab. Yang terdengar kemudian adalah suara dari orang yang tidak kelihatan itu, “Luar biasa. Benar-benar luar biasa. Kalian berdua telah membunuh harimau-harimau itu dengan cara yang berbeda. Tetapi alasan kalian yang sebenarnya bukan kulitnya berlubang atau tidak berlubang. Tetapi kalian berdua ingin menunjukkan kepadaku, bahwa kalian memiliki kemampuan yang dapat saling mengisi. Ilmu yang tajam sekali yang jarang ada bandingnya dan ketrampilan yang sangat tinggi dan luar biasa sehingga dengan pisau belati harimau itu telah terbunuh.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terdiam sejenak. Keduanya justru berusaha untuk menemukan arah suara orang itu. Namun sebelum mereka berhasil, maka tiba-tiba saja mereka telah melihat seekor harimau meloncat dari sebuah gerumbul dan berlari menjauh.
Mahisa Murti menggeram. Namun ia sempat melontarkan kata-kata, “Kaulah harimau jadi-jadian itu. Sungguh luar biasa, bahwa kau dapat melakukannya di siang hari.”
Harimau itu sama sekali tidak berhenti. Tetapi harimau itu sempat berpaling. Namun sejenak kemudian harimau itu pun telah menyibak dan memasuki batang-batang ilalang yang tumbuh lebat di antara gerumbul-gerumbul perdu di sekitar gumuk kecil itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Mereka pun kemudian sadar, bahwa mereka memang berhadapan dengan seorang yang berilmu tinggi meskipun agak kecil. Namun keduanya tidak tahu, apakah orang yang sempat menggerakkan dua ekor harimau itu datang dari padepokan yang mereka cari atau dari tempat lain. Dan apakah orang itu juga mengetahui bahwa batu kehijauan itu memiliki harga yang cukup mahal atau karena sebab-sebab lain.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mengejarnya. Mereka pun merasa bahwa mereka tidak akan dapat mencapainya. Apalagi jika harimau itu sudah hilang di lebatnya hutan ilalang.
Karena itu. maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun telah berada kembali di antara kedua ekor harimau yang terbunuh. Yang seekor mati tanpa luka seujung duri pun, sedangkan yang lain tubuhnya telah dikoyak-koyak oleh pisau belati Mahisa Murti.
“Kita apakan dengan harimau ini?” bertanya Mahisa Pukat.
“Aku tidak tahu, apakah orang-orang padukuhan itu memerlukan kulitnya. Sebaiknya kita kembali ke padukuhan dan mengatakannya kepada penjaga banjar itu, apakah ia akan mau mengambil kulitnya atau tidak,” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Bagaimana dengan batu itu?”
“Kita akan membiarkannya,” jawab Mahisa Murti, “Mungkin lain kali kita akan memanfaatkannya.”
Mahisa Pukat masih mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian sekarang kita kembali ke padukuhan.”
“Ya. Tetapi kita akan singgah di sungai atau parit atau belik yang manapun. Kita harus menghapus bekas-bekas darah di tubuh kita. Apakah itu darah kita sendiri, atau darah harimau yang telah kita bunuh,” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat dan Mahisa Murti pun kemudian meninggalkan kedua ekor harimau yang telah dibunuhnya itu. Mereka sempat singgah disebatang parit yang berair bersih sebelum mereka mulai memasuki sebuah bulak panjang. Di parit itu keduanya sempat membersihkan diri dan membenahi pakaian mereka.
Sementara itu di padukuhan, Mahisa Ura telah dicengkam oleh kegelisahan yang sangat. Agaknya Mahisa Ura sangat menyesal bahwa ia tidak ikut serta bersama kedua orang anak muda yang diakunya sebagai adiknya itu.
Karena itu. maka ia tidak dapat tinggal diam di banjar. Dalam kegelisahan maka Mahisa Ura pun telah menyusuri jalan menuju ke gerbang padukuhan.
Dari gerbang itulah Mahisa Ura memandangi jalan panjang yang terbentang di hadapannya. Bulak yang panjang, yang diapit oleh sawah yang subur.
“Jika keduanya pulang, mereka akan datang melalui jalan ini,” berkata Mahisa Ura di dalam hatinya.
Karena itu, maka Mahisa Ura pun kemudian telah berada di gardu di gerbang padukuhan itu berlama-lama. Ketika ia merasa jemu duduk dan berjalan hilir mudik, maka ia pun telah berbaring di dalam gardu.
Beberapa orang yang lewat, yang sudah mengenalnya sebagai salah seorang pedagang batu akik dan wesi aji yang berada di banjar sempat juga bertanya.
“Sekedar mencari udara sejuk,” jawab Mahisa Ura kepada setiap orang yang bertanya, “apa yang dilakukan di gardu itu.”
“Apakah di tempat asalmu, kau meronda di siang hari?” bertanya seorang anak muda sambil tertawa.
Mahisa Ura pun tertawa betapapun asamnya.
Tetapi Mahisa Ura tidak peduli. Ia berada saja di gardu itu dalam kegelisahannya. Tetapi Mahisa Ura tidak berusaha untuk menyusul. Mungkin justru akan dapat berselisih jalan.
Karena itu ia bertahan untuk tetap berada di gerbang itu. Sekali ia bangkit dan berjalan hilir mudik. Sekali berjongkok di dekat sebuah parit yang mengalirkan air yang jernih, sekali berdiri bersandar tiang pintu gerbang dan sekali berbaring di gardu sambil menyilangkan kakinya.
Pada saat Mahisa Ura hampir menjadi jemu, maka ia pun sekali lagi berjalan hilir mudik di depan pintu gerbang. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih cepat. Ternyata Mahisa Ura melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat datang dari kejauhan.
Tetapi Mahisa Ura menahan diri untuk tidak berlari menyongsongnya. Bahkan ketika mereka menjadi semakin dekat, maka Mahisa Ura itu pun telah duduk di bibir gerdu.
“Kau di sini?” bertanya Mahisa Murti ketika ia sampai di pintu gerbang dan melihat Mahisa Ura berada di gardu.
“Udara panas sekali di banjar. Aku mencari kesejukan dengan menghirup angin di bulak-bulak panjang.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menaruh prasangka apapun. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Marilah. Kita kembali ke banjar.”
Mereka bertiga pun kemudian telah kembali ke banjar. Di halaman mereka melihat penunggu banjar itu mendatangi mereka.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Tetapi kita benar-benar mempunyai oleh-oleh yang berharga buat orang itu.”
“Apa,” bertanya Mahisa Ura, “nampaknya kau tidak membawa sesuatu.”
“Aku simpan ceriteraku sampai malam nanti. Tetapi agaknya aku harus menyebutkan karena penunggu banjar itu tentu bertanya tentang oleh-oleh itu,” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Ura tidak menyahut. Tetapi ia menunggu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memberi jawaban kepada penunggu banjar itu.
Sebenarnyalah penunggu banjar itu memang bertanya, “Apakah kalian membawa oleh-oleh.”
“Kau masih saja memeras?” bertanya Mahisa Murti.
“Tidak. Aku tidak memeras. Aku hanya bertanya apakah kau membawa oleh-oleh,” jawab orang itu.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku mempunyai dua lembar kulit harimau. Apakah kau mau?”
“Dua lembar kulit harimau?” bertanya orang itu.
“Ya,” jawab Mahisa Murti.
“Ah, yang benar sajalah,” desis orang itu, “jangan bergurau begitu. Aku akan menjadi sangat kecewa jika ternyata yang kau katakan itu tidak benar.”
“Aku memang mempunyai dua lembar kulit harimau,” jawab Mahisa Pukat, “apakah kau mau mengambilnya bersama kami berdua?”
“Tentu jika kau tidak berbohong,” jawab orang itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tersenyum. Sementara itu Mahisa Pukat berkata, “Baiklah. Setelah aku beristirahat sejenak, maka kita akan pergi ke tempat itu. Kau dapat mengambil dua lembar kulit harimau langsung dari tubuh harimau itu.”
“Ah, benar begitu?” bertanya penunggu banjar itu.
“Ya, kenapa tidak,” jawab Mahisa Pukat.
“Baiklah,” berkata penunggu banjar itu, “Tetapi sudah tentu tidak akan dapat aku lakukan sendiri. Aku memerlukan beberapa orang kawan untuk membawa harimau itu kemari.”
“Terserahlah,” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Tunggulah. Aku memanggil kawan-kawan itu,” berkata penunggu banjar itu kemudian sambil dengan tergesa-gesa meninggalkan banjar itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian setelah membersihkan diri telah duduk di serambi untuk sekedar beristirahat sambil minum, karena tidak ada minuman panas, maka mereka telah meneguk air dari kendi yang terasa sangat segar dikerongkongan mereka.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menceriterakan apa yang telah mereka alami.
Mahisa Ura mendengarkan ceritera Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu dengan saksama. Namun sekali-sekali ia pun menarik nafas dalam-dalam karena kekagumannya kepada kedua orang anak muda itu.
“Kami tidak sedang menyombongkan diri,” berkata Mahisa Pukat, “Kami hanya ingin mengatakan yang sebenarnya.”
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Dengan nada dalam ia berkata, “Aku mengerti bahwa kalian bukan anak-anak muda yang senang menyombongkan diri. Jika kalian menceriterakan apa yang kalian alami, semata-mata karena kalian ingin menunjukkan apa yang kalian alami itu sejelas-jelasnya.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Sokurlah jika kau mempunyai pengertian tentang kami berdua.”
“Ceriterakanlah selanjutnya,” berkata Mahisa Ura.
“Sebentar lagi kami akan pergi lagi ke gumuk itu,” berkata Mahisa Pukat.
“Untuk apa?” bertanya Mahisa Ura, “apakah kalian berjanji untuk bertemu lagi dengan orang itu sebentar lagi?”
“Bukankah kita telah berjanji dengan penunggu banjar ini?” sahut Mahisa Pukat.
Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Kalian akan mengambil kulit harimau itu.”
“Nampaknya penunggu banjar ini lebih senang mengambil harimau itu dan mengulitinya di padukuhan daripada mengulitinya di tempat itu,” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Namun ternyata mereka tidak menunggu terlalu lama. Sejenak kemudian, maka penunggu banjar itu bersama tiga orang kawannya telah datang dengan membawa sepotong bambu yang cukup besar dan panjang serta beberapa helai tali ijuk.
“Inilah kawan-kawanku,” berkata penunggu banjar itu, “Marilah, kita mengambil harimau itu.”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian bangkit sambil berdesis, “Kami akan pergi ke banjar.”
“Aku ikut bersamamu,” berkata Mahisa Ura.
Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun ia pun tidak menolaknya.
Demikianlah, mereka bertujuh pun telah berjalan beriringan menuju ke gumuk kecil yang sudah menjadi gundul itu. Di sepanjang jalan penunggu banjar itu sempat bertanya beberapa hal tentang harimau itu.
“Bagaiamana kau mendapatkan dua ekor harimau itu,” bertanya penunggu banjar itu, “apakah kau menemukan bangkai dua ekor harimau atau apa saja yang telah kau lakukan?”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Murtilah yang menjawab, “Kamilah yang membunuh dua ekor harimau itu.”
“Bukan main,” penunggu banjar itu menjadi sangat heran, “bagaimana mungkin kalian melakukannya.”
“Harimau-harimau itu akan mengganggu sekelompok orang yang sedang mencari daun pandan berduri sungsang,” berkata Mahisa Murti.
“Kalian berdua tiba-tiba datang menolong mereka dan membunuh harimau itu,” potong penunggu banjar itu.
“Siapa bilang?” bertanya Mahisa Murti.
Penunggu banjar itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam ketika Mahisa Murti berkata, “Kami memang datang. Tetapi yang membunuh harimau itu bukan hanya kami berdua. Tetapi kami bersama-sama. Orang-orang yang akan mencari daun pandan berduri sungsang dan kami berdua.”
Penunggu banjar itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun berkata, “Ternyata kalian hanya menemukan bangkai harimau itu. Dan sekarang kau menawarkannya kepadaku.”
“Darimana pun aku dapatkan, tetapi bukankah kau mau mengambil kulit harimau itu?” bertanya Mahisa Murti.
Penunggu banjar itu tidak menyahut lagi.
Demikianlah maka mereka pun telah menempuh perjalanan menuju ke gumuk kecil. Sementara itu langit pun telah mulai menjadi buram, karena matahari telah menjadi sangat rendah di langit sebelah barat.
Semakin jauh mereka dari padukuhan, maka penunggu banjar bersama dengan ketiga orang kawannya itu merasa mulai diajari oleh perasaan takut di dalam hati.
“Kita akan pergi ke mana?” bertanya penunggu banjar itu.
“Ke gumuk kecil itu, bukankah kita akan mengambil kedua ekor harimau yang telah mati itu?” sahut Mahisa Murti.
Penunggu banjar itu tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah ia menjadi ketakutan. Apalagi matahari semakin pudar di sisi langit sebelah barat.
Namun ternyata seorang di antara kawan-kawannya tidak dapat lagi menahan perasaan takut itu sehingga dengan nada tinggi ia berkata, “Apakah kita akan pergi ke hutan.”
“Tidak,” jawab Mahisa Murti, “ke gumuk. Apakah kau belum pernah melihat gumuk itu.”
“Tetapi tidak pada saat seperti ini,” sahut orang itu, “jika hari menjadi gelap, maka rasa-rasanya kami berada di pintu sarang hantu.”
“Bukankah sebentar lagi kita akan sampai?” bertanya Mahisa Pukat.
Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia harus menahan perasaan takutnya.
Namun beberapa saat kemudian, sebelum langit menjadi benar-benar gelap, mereka telah sampai ke dekat gumuk itu. Mahisa Pukat yang berjalan dipaling depan telah mempercepat langkahnya menuju ke dua bangkai harimau yang mereka tinggalkan.
Tetapi wajah Mahisa Pukat menjadi tegang. Ketika ia sampai ke tempat itu, ternyata ia tidak menemukan lagi bangkai dua ekor harimau yang telah dibunuhnya dan dibunuh oleh Mahisa Murti.
Mahisa Murti melihat sikap Mahisa Pukat menjadi curiga. Ia-pun telah meloncat dan berlari mendekatinya.
“Harimau itu telah hilang,” desis Mahisa Pukat.
“Hilang?” ulang Mahisa Murti.
“Kita tidak menemukan lagi di sini,” sahut Mahisa Pukat.
Wajah Mahisa Murti pun menjadi tegang pula, sementara itu Mahisa Ura dan keempat orang yang menyertai mereka menjadi semakin dekat.
Dalam keremangan senja, maka orang-prang yang mendatangani padang perdu di dekat gumuk kecil itu menjadi berdebar-debar. Ketika penunggu banjar itu mengetahui bahwa kedua bangkai harimau yang dikatakan itu tidak ada, maka ketakutannya pun menjadi semakin mencengkam.
“Kau membohongi kami,” berkata penunggu banjar itu dengan suara bergetar.
“Tidak. Kami tidak berniat untuk berbohong. Kami memang meninggalkan kedua tubuh harimau itu di sini. Tetapi di luar pengetahuan kami agaknya ada orang lain yang telah menemukannya dan membawanya,” jawab Mahisa Murti.
“Omong kosong,” penunggu banjar itu menjadi marah bercampur ketakutan, “jangan permainkan kami.”
“Kalian mau mencoba-coba kami?” Kawan penunggu banjar itu pun marah pula.
“Sudah aku katakan, bahwa kami tidak berniat untuk membohongi kalian. Kami berkata sesungguhnya. Tetapi di luar pengetahuan kami dua ekor harimau yang mati itu hilang,” sahut Mahisa Pukat.
“Yang pasti bagi kami, di sini kita tidak menemukan apapun juga,” berkata penunggu banjar itu.
Tiba-tiba Mahisa Murti pun menjawab, “Baiklah. Kami harus bertanggung jawab atas keterangan kami. Karena itu, tunggulah di sini, kami bertiga akan mencarinya.”
“Mencari ke mana?” bertanya penunggu banjar itu.
“Ke hutan dan di sekitar gumuk itu,” jawab Mahisa Murti, “Mungkin bangkai itu masih disembunyikan di sana.”
“Kalian akan meninggalkan kami di sini dalam keadaan seperti ini?” bertanya penunggu banjar itu.
“Bukankah kami harus menemukan kedua tubuh harimau yang mati itu? Jika kami tidak menemukannya, maka kami harus mencarikan gantinya di tengah-tengah hutan itu. Kami harus berburu sehingga kami mendapatkan dua ekor harimau sebagai pertanggungan jawab kami,” jawab Mahisa Murti.
“Tetapi kami jangan ditinggalkan di sini,” berkata penunggu banjar itu.
“Kami tidak mau,” berkata seorang kawannya.
“Ooo,” Mahisa Murti mengangguk-angguk, “jadi kalian akan ikut kami ke hutan?”
“Tidak,” hampir berbareng keempat orang itu menjawab.
“Lalu bagaimana?” bertanya Mahisa Murti, “kami harus mempertanggung jawabkan keterangan kami. Karena itu kami harus mencari ganti yang hilang. Tetapi kalian tidak membiarkan kami berburu harimau di hutan karena kalian tidak mau ditinggal, tetapi juga tidak mau pergi bersama kami. Lalu apa yang harus kami lakukan sekarang?”
Keempat orang itu termangu-mangu. Sementara langit-pun semakin lama menjadi semakin gelap. Matahari telah berlindung di balik bukit, dan gumuk yang ada di hadapan mereka mulai menjadi remang-remang.
Dengan demikian keempat orang itu pun menjadi semakin ketakutan. Karena itu, maka salah seorang di antara mereka berkata, “Marilah. Kita kembali ke padukuhan.”
“Silahkan,” berkata Mahisa Murti, “jika kalian ingin kembali, silahkan kembali. Nanti kami akan datang dengan membawa dua ekor harimau itu.”
“Kami tidak dapat kembali hanya berempat,” jawab penunggu banjar.
“Kenapa? Bukankah hari belum malam. Kalian tidak akan melalui pinggiran hutan sehingga kalian tidak usah takut bertemu dengan seekor harimau. Kalian juga tidak akan mengalami gangguan yang lain di perjalanan pulang yang tidak terlalu jauh itu,” berkata Mahisa Murti.
“Antar kami pulang. Kami tidak memerlukan harimau itu lagi,” berkata penunggu banjar.
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah jika demikian. Marilah, kami antar kalian pulang. Tetapi bukankah kalian sudah tidak akan menuntut kami lagi?”
“Tidak,” jawab penunggu banjar itu, “asal kami segera kalian antar pulang.”
Mahisa Murti pun kemudian berkata kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Ura, “Marilah. Kita kembali ke banjar.”
Mereka pun kemudian dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu. Dengan langkah yang panjang dan cepat, mereka berjalan semakin lama bagaikan orang yang berlari-lari. Tetapi ketika keempat orang itu sadar, bahwa jarak mereka dengan ketiga orang pedagang batu akik itu menjadi semakin jauh, maka mereka pun telah menunggu betapapun jantung mereka berdebaran.
“Nampaknya tempat ini menakutkan,” berkata Mahisa Murti.
“Ya,” jawab Mahisa Ura. “tetapi kalian telah bebas dari tuntutan tentang dua ekor harimau yang mati itu.”
Mahisa Murti mengangjguk-angguk. Namun Mahisa Pukat pun berkata, “Tetapi siapakah yang telah mengambil tubuh harimau yang mati itu?”
“Mungkin ada hubungannya dengan orang yang memusuhi kita itu,” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu keempat orang yang mendahului mereka itu pun telah berjalan pula, sementara hari pun menjadi semakin gelap.
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura yang nampaknya tidak begitu menghiraukan hilangnya kedua tubuh harimau itu, namun sebenarnyalah bahwa hal itu telah menjadi pikiran pula bagi mereka.
Ketika mereka menjadi semakin jauh dari gumuk kecil itu, maka keempat orang padukuhan itu pun menjadi semakin berani, sehingga mereka tidak lagi begitu banyak menghiraukan, apakah ketiga orang pedagang batu akik dan wesi aji itu ada di belakang mereka atau masih berjarak beberapa langkah.
Dalam pada itu, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah salah hitung terhadap keempat orang yang berjalan di hadapan mereka. Ketika mereka sampai di banjar, ternyata penunggu banjar itu masih mempersoalkannya.
“Kalian telah mempermainkan kami,” berkata penunggu banjar itu, “sebenarnyalah kami akan dapat menyelesaikan beberapa pekerjaan jika kami tidak kau bawa ke gumuk itu.”
“Pekerjaan apa?” bertanya Mahisa Pukat.
“Dua orang di antara kawan-kawanku ini adalah blandong. Mereka tentu akan sempat menyelesaikan beberapa balok kayu jika ia tidak pergi mengikut kalian. Seorang lagi adalah seorang penganyam bambu yang membuat barang-barang anyaman yang akan dijual besok ke pasar. Ia juga harus menghentikan pekerjaannya karena kalian menawarkan dua lembar kulit harimau. Tetapi ternyata kalian telah mempermainkan kami, sementara itu, kami mengalami kerugian karena kami tidak dapat melakukan kerja kami pada saat kami mengikuti kalian pergi ke gumuk itu,” berkata penunggu banjar.
“Jadi, apakah maksudmu?” bertanya Mahisa Pukat.
Penunggu banjar itu termangu-mangu. Namun Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura telah mengetahui maksudnya.
“Ki Sanak,” berkata Mahisa Pukat, “bukankah tadi kami sudah bersedia untuk mencarikan gantinya yang hilang itu. Tetapi kalian justru berkeberatan. Karena itu, maka niat itu kami urungkan.”
“Sekarang pergilah,” berkata penunggu banjar itu, “carikan ganti dua lembar kulit harimau sebagai ganti dari dua ekor harimau sebagaimana kalian katakan.”
“Kenapa baru sekarang?” bertanya Mahisa Pukat, “bukankah aku harus menempuh perjalanan kembali ke hutan?”
“Terserah kepada kalian. Tetapi itu adalah tanggung jawab kalian,” berkata penunggu banjar itu.
“Kau mulai memeras kami lagi?” bertanya Mahisa Pukat, “apakah kami harus berhubungan dengan Ki Bekel?”
“Ah,” desah penunggu banjar itu, “jangan begitu. Kami hanya ingin kalian ketahui kesulitan yang terjadi karena kami telah kalian permainkan.”
“Kami tidak mempermainkan kalian,” jawab Mahisa Pukat.
Namun dalam pada itu, Mahisa Ura pun telah mengambil beberapa keping uang dari kantong ikat pinggangnya. Katanya, “Marilah. Aku akan mengganti kalian dengan uang. Bukan seharga dua lembar kulit harimau, tetapi sekedar pengganti upah yang kalian dapat atau nilai barang yang dapat kau hasilkan selama kalian mengikut kami ke gumuk itu.”
Keempat orang itu saling berpandangan. Namun akhirnya mereka pun menerima uang itu.
“Terima kasih,” berkata penunggu banjar itu.
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mencegahnya karena dengan demikian maka persoalan di antara mereka pun segera dapat dianggap selesai. Penunggu banjar itu tidak akan mengejar lagi, sehingga mereka pun akan dapat beristirahat.
Ketika penunggu banjar dan kawan-kawannya telah pergi, maka ketiga orang itu pun segera membersihkan diri mereka ke pakiwan. Baru kemudian mereka duduk di sebuah amben besar di banjar itu.
Adalah di luar dugaan ketika penunggu banjar itu pun kemudian datang sambil membawa minuman hangat. Wedang sere dengan gula kelapa.
“Nyaman sekali,” desis Mahisa Ura.
“Silahkan, mumpung masih hangat,” katanya sambil bergeser keluar. Tetapi masih terdengar kata-katanya, “Aku akan membawa ketela pohon rebus.”
“Ah, terima kasih sekali. Kenapa kau tiba-tiba saja telah menyibukkan dirimu?” bertanya Mahisa Pukat.
“Tidak apa-apa,” jawab penunggu banjar itu semakin jauh.
Sebenarnyalah sejenak kemudian ia telah kembali sambil membawa ketela pohon rebus. Asapnya masih mengepul, sementara baunya mengusik hidung.
Ketika penunggu banjar itu pergi, maka Mahisa Murti pun berdesis, “orang ini menyatakan terima kasihnya karena pemberianmu Mahisa Ura.”
“Sebenarnyalah aku memberikan uang tidak terlalu banyak,” jawab Mahisa Ura, “tetapi biar sajalah. Ketela pohon dan wedang sere dengan gula kelapa ini nampaknya akan membuat tubuh kita menjadi segar.”
Demikianlah, maka mereka bertiga pun telah menikmati hidangan yang tidak mereka duga sebelumnya. Biasanya mereka hanya minum air dari kendi dan membeli makanan di sebuah kedai menjelang senja. Tetapi kedai itu telah ditutup ketika mereka kembali. Namun tiba-tiba mereka telah mendapat suguhan yang segar.
Dalam pada itu, sambil makan ketela rebus dan meneguk air sere panas, mereka bertiga telah membicarakan lagi tentang harimau yang hilang itu.
“Memang ada beberapa kemungkinan,” berkata Mahisa Ura, “mungkin orang yang menggerakkan harimau itulah yang telah mengambilnya. Tetapi mungkin orang lain yang menemukan harimau mati, yang menurut dugaannya tidak ada orang yang memerlukannya.”
“Memang banyak kemungkinan dapat terjadi,” berkata Mahisa Murti, “Tetapi seandainya orang itu yang menggerakkan harimau itu, apakah kepentingannya dengan dua ekor harimau yang telah mati?”
“Mungkin tidak ada hubungan apa-apa. Tetapi orang itu merasa kasihan bahwa bangkai kedua ekor harimau yang telah dipergunakannya itu ditinggalkan begitu saja tanpa ada yang memungutnya. Mungkin orang itu pun telah memberitahukan kepada orang lain untuk mengambilnya, “sahut Mahisa Pukat.
Yang lain mengangguk-angguk kecil. Tetapi mereka tidak dapat mengambil kesimpulan apa yang sebenarnya telah terjadi dengan bangkai harimau itu.
Namun dalam pada itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “besok kita tidak akan pergi ke gumuk itu. Kita sudah melihat batu itu dan mengetahuinya serba sedikit, bahwa batu itu memang batu yang berharga meskipun bukan yang paling baik. Tetapi kita pun harus menyediakan waktu untuk mereka yang telah datang ke banjar ini untuk melihat-lihat wcsi aji dan batu-batu akik.”
Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengangguk-angguk. Dengan nada datar Mahisa Pukat pun berkata, “Baiklah. Besok kita tinggal di banjar ini sehari penuh. Aku juga ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh orang bertongkat itu.”
Demikianlah, maka akhirnya pembicaraan mereka pun berakhir untuk malam itu. Mereka pun kemudian menyingkirkan mangkuk-mangkuk minuman dan makanan. Baru kemudian mereka membaringkan diri untuk tidur.
Di hari berikutnya mereka benar-benar tidak meninggalkan banjar. Ki Bekel yang datang ke banjar itu dapat menemuinya dan melihat-lihat beberapa buah batu akik. Tetapi Ki Bekel masih belum mendapatkan yang paling sesuai dengan keinginannya, meskipun ia pun kemudian menyisihkan tiga buah akik yang dianggapnya terbaik.
Namun ternyata yang mengejutkan telah terjadi. Yang datang di banjar itu kemudian adalah seorang yang rambutnya telah berwarna rangkap, meskipun nampaknya tubuhnya masih tegap dan kekar. Membawa sebatang tongkat bersisik dengan sebuah batu yang terdapat di ujungnya. Batu yang berwarna kehijauan sebesar genggaman tangan dicengkeram oleh kaki seekor naga yang berwarna kekuningan.
Namun betapapun juga, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura harus menahan diri. Sebagaimana seorang pedagang, maka mereka telah mempersilahkan orang itu duduk dan dengan ramah mempertanyakan keperluannya.
“Menurut pendengaranku, kalian adalah pedagang batu-batu berharga dan wesi aji,” jawab orang itu.
“Benar Ki Sanak,” jawab Mahisa Murti, “apakah Ki Sanak memerlukan Wesi aji atau batu akik?”
“Apakah aku dapat melihatnya?” bertanya orang itu.
“Tentu,” jawab Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng.
Mereka pun kemudian telah menyiapkan beberapa buah akik dan tiga batang wesi aji yang paling baik yang ada pada mereka.
Sejenak orang itu mengamatinya. Namun kemudian orang itu pun tertawa kecil sambil berdesis, “Ki Sanak nampaknya hanya membuang-buang waktu saja. Apakah yang sebenarnya Ki Sanak bawa ini? Potongan-potongan besi yang kau temukan sisa kerja pande besi di pasar-pasar?”
Wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi panas. Tetapi Mahisa Murti dengan cepat menguasai perasaannya dan menjawab, “Inilah yang dapat kami tunjukkan Ki Sanak. Menurut pendapatku barang-barang ini adalah barang-barang yang paling baik yang dapat aku tunjukkan kepada Ki Sanak.”
Orang itu tertawa. Katanya, “Untunglah bahwa aku serba sedikit mampu mengenali wesi aji dan batu-batu berharga. Jika tidak, mungkin aku pun akan tertipu seperti barangkali telah terjadi atas banyak orang.”
“Kami tidak pernah menipu siapapun. Kami menunjukkan barang-barang yang kami bawa sebelum seseorang menawar. Mungkin orang itu melakukan tayuh. Mungkin tidak karena orang itu sudah dapat mengenalinya, yang manakah yang baik dan yang manakah yang tidak baik,” jawab Mahisa Murti.
“Nilai wesi ajimu yang hanya sekecil kuku kelingking itu tidak sebanding dengan wesi aji yang aku buat menjadi tongkatku ini. Tongkatku yang mempunyai bobot berpuluh kali dibanding dengan wesi aji yang kau perdagangkan ini tentu mempunyai nilai yang beratus kali lipat dari wesi ajimu itu,” berkata orang itu.
Tetapi Mahisa Pukat lah yang menyahut, “O, kau kira tongkatmu itu mempunyai harga? Ujudnya memang bagus. Bahkan mungkin kau telah mempergunakan logam berharga untuk membuatnya. Mungkin ada bagian yang kau buat dari emas dan mungkin batu berharga. Tetapi tongkatmu itu tidak bernilai sama sekali jika dibandingkan dengan batu besar yang berwarna kehijauan di gumuk kecil itu. Kami telah menemukannya, menilainya dan kami sudah siap untuk mengambilnya. Kami sudah berbicara dengan Ki Bekel yang tidak berkeberatan untuk memberikannya kepada kami, sudah tentu dengan harga yang pantas.”
Wajah orang itulah yang menegang. Tetapi ia pun telah tersenyum pula sambil berkata, “Apa hubungannya antara tongkatku dengan batu di gumuk itu? Jika kau menganggap bahwa batu itu berharga, maka ternyata bahwa kalian memang belum mengenali batu-batu berharga dengan baik.”
“Mungkin kami keliru. Tetapi kami menganggap bahwa batu itu adalah batu berharga. Karena itu maka kami telah membelinya,” jawab Mahisa Pukat.
“Kepada siapa kau membelinya?” bertanya orang itu, “Tidak ada seorang pun yang berhak menjualnya. Batu itu biarlah berada di tempatnya.”
“Itu bukan persoalanmu Ki Sanak,” jawab Mahisa Pukat, “biar saja orang yang berhak mengambil keputusan, menentukan sikapnya. Mungkin dengan uang hasil penjualan batu itu, maka Ki Bekel akan dapat membangun padukuhan ini menjadi lebih baik.”
Orang itu termangu-mangu. Namun wajahnya nampak menjadi tegang. Sementara itu katanya, “Biarlah kita tidak membicarakan batu itu. Sebenarnyalah aku ingin membeli wesi aji yang benar-benar mempunyai bobot yang murwat bagi wesi aji yang sebenarnya. Bukan sekedar potongan kejen bajak yang patah.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Namun nampaknya keduanya masih harus mengekang diri, justru karena mereka berada di banjar padukuhan itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak sepantasnya mengganggu ketenangan padukuhan itu dengan benturan kekerasan.
Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian menjawab, “Ki Sanak. Inilah yang dapat aku tunjukkan kepadamu. Mungkin kau menilai barang-barangku ini terlalu buruk. Tetapi aku tidak mempunyai barang yang lebih baik dengan harga yang pantas. Tetapi jika kau ingin benar-benar membeli wesi aji sebagaimana kau kehendaki, maka kau harus menyediakan uang yang sangat banyak. Nah, jika kau bersedia, maka aku akan Sanggup mengusahakannya.”
“Aku tidak pernah ingkar untuk membayar barang-barang yang aku sukai,” berkata orang itu, “jika kau dapat menunjukkannya, maka aku akan membayarnya.”
“Tidak seorang pun akan dapat menjamin, apakah sesuatu kau sukai atau tidak kau sukai,” jawab Mahisa Pukat. Namun tiba-tiba saja ia pun menggeram, “Apakah yang sebenarnya kau kehendaki? Kau mencela benda-benda yang ada pada kami sekarang, sementara itu kau mengigau tentang barang-barang yang kau sukai.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tertawa sambil berkata, “Jangan marah Ki Sanak. Kalian adalah penjual wesi aji dan batu-batu berharga. Sementara aku adalah salah seorang calon pembeli. Kau tidak dapat memaksakan penilaianmu atas barang-barangmu sendiri terhadap calon-calon pembelimu. Kau juga tidak dapat menipu calon-calon pembelimu dengan mengatakan bahwa barang-barangmu adalah barang-barang yang paling baik.”
“Baiklah kita bersikap jujur,” berkata Mahisa Pukat yang hampir kehilangan kesabaran, “apakah yang sebenarnya kau kehendaki? Mungkin kita akan dapat membicarakannya di tempat lain.”
Kata-kata Mahisa Pukat itu memang dapat dinilai sebagai satu tantangan, meskipun orang lain tidak mengetahuinya. Namun bagi orang bertongkat itu, sikap Mahisa Pukat sudah jelas.
Tetapi justru karena itu ia tertawa sambil berkata, “Kenapa kita harus membicarakannya di tempat lain? Bukankah kau membawa barang-barangmu kemari dan aku datang untuk melihatnya? Biar saja aku menilainya di sini. Jika ada orang lain yang mendengarnya bahwa barang-barangmu jelek, bukankah kalian tidak berkeberatan? Karena itu demikian kalian akan bersikap jujur.”
Wajah Mahisa Pukat menjadi merah. Namun dalam pada itu Mahisa Murti herkata, “Terima kasih atas penilaianmu Ki Sanak. Tetapi aku sangsi apakah kau sebenarnya mengerti tentang wesi aji. Kami adalah pedagang vvesi aji sejak kami masih kanak-kanak. Kesangsian kami atas pengenalan Ki Sanak terhadap wesi aji itu adalah sebagaimana kami lihat pada tongkat Ki Sanak yang sangat bagus dan barangkali mahal. Bukan karena bobot wesi ajinya. Tetapi karena pada tongkat itu terdapat emas dan segumpal batu yang merupakan pecahan batu yang berwarna kehijauan itu.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Sementara Mahisa Murti berkata selanjutnya, “Jangan kau kira kami tidak mengenalinya. Itulah sebabnya kau tunggui batu hijau itu. Jika sekecil genggaman tangan pada tongkatmu itu sudah kau anggap memiliki nilai yang sangat tinggi, berapa besar nilai batu yang sebesar kepalamu atau bahkan batu yang berada di gumuk itu.”
“Persetan,” geram orang itu, “kau sama sekali tidak sopan Ki Sanak. Sebagai seorang pedagang kau akan menjauhkanmu dari para calon pembeli.”
“Ada beberapa macam calon pembeli. Ada yang bersungguh-sungguh ingin membeli, tetapi ada yang sekedar ingin menunjukkan kemampuannya mengenali wesi aji dan batu-batu berharga. Dan kau adalah jenis orang dalam kelompok kedua. Tetapi sayang, bahwa kau tidak memiliki kemampuan pengenalan sama sekali,” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia hampir terpancing ke dalam satu sikap yang keras dan akan menimbulkan kesan yang kurang baik bagi padukuhan itu. Untunglah bahwa Mahisa Murti masih dapat mengekang diri dan bahkan menyesuaikan sikapnya dengan sikap orang bertongkat itu.
Untuk beberapa saat orang bertongkat itu berdiam diri. Namun pembicaraan itu ternyata telah mendebarkan jantung Mahisa Ura. Ia melihat satu kemungkinan bahwa kedua belah pihak tidak lagi dapat mengekang diri.
Tetapi Mahisa Ura tidak mencemaskan kedua anak muda itu. Yang dipikirkannya adalah Ki Bekel dari padukuhan itu. Jika kehadiran mereka di banjar itu menimbulkan kekerasan dan mengguncangkan suasana tenang di padukuhan itu, maka Ki Bekel tentu akan mempunyai pertimbangan lain.
Namun agaknya orang itu pun berpikir dua tiga kali untuk bertindak lebih jauh. Ia sadar, bahwa kedua anak muda itu memiliki kemampuan dan ilmu yang cukup tinggi, karena sebenarnyalah menurut perhitungan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, orang itu melihat bagaimana keduanya telah membunuh harimau dengan caranya masing-masing.
Sementara itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Nah Ki Sanak. Apa yang ingin kau lakukan di sini? Jika kau memang tidak senang atas wesi aji yang aku bawa, maka apa lagi yang kau tunggu di sini?”
Orang itu mengatupkan giginya. Tetapi ia pun masih juga harus menjaga diri. Katanya, “Baiklah. Aku akan pergi. Tetapi jangan mencoba menipu orang lain dengan barang-barangmu yang tidak berharga. Jika demikian maka aku akan mengadukanmu kepada Ki Bekel, sehingga Ki Bekel tentu tidak akan membiarkan banjar ini kalian pergunakan untuk menipu penghuni padukuhan ini.”
“Pergilah. Mungkin aku akan mendapatkan batu yang paling berharga. Batu yang kehijauan itu,” jawab Mahisa Murti.
Wajah orang itu menegang. Tetapi ia tidak menjawab sama sekali. Bahkan ia pun kemudian beringsut dan meninggalkan banjar itu.
Namun kedatangan orang itu ke banjar, benar-benar merupakan satu langkah yang pantas dipuji. Orang bertongkat itu tentu orang yang memiliki keberanian yang sangat tinggi. Meskipun ia menyadari, siapakah yang dihadapinya, namun ia tidak segan-segan untuk datang.
Tetapi kemudian dapat diketahui oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menurut ceritera beberapa orang yang kemudian menemuinya, bahwa orang itu tidak sendiri. Ketika ia memasuki padukuhan, maka tiga orang kawannya telah menunggunya di luar regol padukuhan itu.
“Kami sama sekali tidak mencurigai mereka,” berkata salah seorang di antara orang-orang yang melihat tiga orang kawan orang bertongkat itu menunggu di luar padukuhan, “tetapi ketika kemudian kami ketahui orang bertongkat itu pergi ke banjar, maka kami pun menjadi tertarik akan kehadirannya serta para pengikutnya yang ditinggalkannya di luar regol. Tetapi ternyata mereka tidak berbuat sesuatu dan kemudian meninggalkan regol padukuhan itu.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura yang mendapat keterangan itu mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Murti pun bertanya, “Apakah orang-orang yang ditinggal di regol itu juga membawa tongkat?”
Orang yang memberikan keterangan itu merenung sejenak, mengingat-ingat, apakah orang-orang yang berada di luar regol padukuhan itu bertongkat.
Baru kemudian orang itu berkata, “Aku tidak melihat tongkat. Tetapi entahlah jika tongkat itu mereka tinggalkan di manapun.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Terima kasih. Keterangan kalian penting bagi kami. Orang itu agaknya memang bukan seorang calon pembeli yang baik. Ia mencela semua barang-barang yang aku perlihatkan kepadanya, sedangkan Ki Bekel pun menganggap bahwa masih ada juga yang baik dari barang-barangku itu. Hanya saja di antara barang-barangku masih belum ada yang sesuai bagi Ki Bekel. Bukannya kurang baik. Bahkan Ki Bekel sudah menyisihkan di antara barang-barangku yang mungkin kemudian diketahui sesuai dengan keinginan Ki Bekel.”
Orang yang memberitahukan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sudah mengira.”
“Apakah kau mengetahui, kemana mereka pergi?” bertanya Mahisa Murti.
“Mereka menuju ke Barat lewat jalan bulak ini,” jawab orang yang memberikan keterangan itu.
“Aku ingin mengetahui, kemana mereka pergi. Karena itu, maka aku akan menelusurinya, bertanya kepada orang-orang di padukuhan sebelah apabila mereka mengetahui orang bertongkat itu lewat bersama kawan-kawannya,” berkata Mahisa Murti.
“Baiklah,” berkata orang yang memberikan keterangan itu, “Aku akan membantu. Aku akan memberikan kabar baru jika aku mendengarnya. Mungkin seseorang memberitahukan kepadaku, kemana mereka pergi.”
“Terima kasih. Kalian amat baik terhadap kami,” berkata Mahisa Murti kemudian.
Dengan demikian, maka perhatian Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura, sepenuhnya ditujukan kepada orang bertongkat itu, dalam hubungannya dengan batu yang berwarna kehijauan. Mereka pun telah mengalami langkah kekerasan dari orang bertongkat itu menurut perhitungan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun yang tidak menemukan penyelesaian yang tuntas.
Karena itulah, maka akhirnya Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura telah menentukan satu langkah, bahwa mereka harus membuat perhitungan dengan orang bertongkat itu. Tetapi sebelumnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ingin mengetahui jalan menuju ke padepokan yang mereka cari.
“Jika terjadi sesuatu, kita sudah pernah menemukan padepokan dari orang-orang bertongkat itu,” berkata Mahisa Pukat.
“Baiklah,” jawab Mahisa Murti, “kita memang harus menyelesaikan tugas pokok kita. Kita akan melihat padepokan itu. Mungkin ada sesuatu yang menarik yang dapat kita bawa sebagai laporan, atau jika salah seorang saja di antara kita yang sempat kembali, maka keterangan itu akan dapat sampai juga kepada yang seharusnya menerima.”
“Jangan berkata begitu,” sahut Mahisa Ura, “kita sudah menentukan langkah bersama. Jika kita gagal keluar dari lingkungan padepokan itu, maka kita bertiga akan tinggal. Hidup atau mati. Jika kita dapat keluar, maka kita bertigalah yang akan bersama-sama membawa laporan ini.”
“Tidak begitu,” berkata Mahisa Pukat, “salah seorang di antara kita harus kembali. Kau harus kembali ke Singasari. Kau sampaikan hasil perjalanan kita kepada kakang Muhisa Bungalan. Biarlah Kakang Mahisa Bungalan menyampaikannya kepada Panglima di Singasari tetapi juga kepada Pangeran Singa Narpada di Kediri, agar Pangeran Singa Narpada dapat merencanakan langkah-langkah yang dapat diambil untuk menghadapi orang-orang bertongkat itu.”
Mahisa Ura termangu-mangu. Sementara Mahisa Murti-pun berkata, “Rahasia padepokan itu harus sampai kepada Pangeran Singa Narpada. Itu adalah persoalan yang paling penting yang harus kita selesaikan. Karena itu, maka aku sependapat. Salah seorang di antara kita harus tetap hidup.”
Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Seandainya demikian, maka biarlah salah seorang dari kalian berdua sajalah yang akan kembali ke Kediri atau kalian berdua. Aku bukan orang yang utama dalam tugas ini, karena kalianlah yang memang sedang mengemban tugas ini dari Pangeran Singa Narpada.”
Tetapi Mahisa Murti tersenyum sambil menjawab, “Siapapun yang akan menyampaikannya kepada Pangeran Singa Narpada bukan soal. Tetapi kita harus memilih kemungkinan yang paling baik yang dapat kita lakukan.”
Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Pukat pun berkata, “Kakang Mahisa Ura. Sebenarnya kita dapat mempergunakan waktu sedikit untuk kepentinganmu mengatasi suara-suara yang dilontarkan dengan lambaran ilmu itu.”
Mahisa Ura termangu-mangu. Namun ia pun kemudian bertanya, “Apakah benar begitu? Berapa lama waktu yang aku perlukan untuk itu?”
“Kau bukan anak ingusan di dalam olah kanuragan. Kau memiliki bekal yang cukup. Namun agaknya satu pintu masih tertutup. Marilah, kami bantu membuka pintu itu sehingga dengan demikian kau mampu menyalurkan kemampuanmu untuk meningkatkan daya tahanmu. Sebenarnya kekuatan itu ada di dalam dirimu. Namun agaknya kau belum dapat memanfaatkannya sebaik-baiknya.”
Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah harga dirinya agak tersinggung. Kedua anak muda itu jauh lebih muda daripadanya. Seharusnya ia lah yang membantu keduanya untuk menelusuri ilmunya. Tetapi yang terjadi ternyata sebaliknya. Anak-anak muda itu yang melihat bahwa ia masih belum mampu memanfaatkan sesuatu yang sebenarnya ada di dalam dirinya.
Tetapi dalam keadaan yang gawat itu Mahisa Ura harus mengesampingkan harga dirinya yang berlebih-lebihan. Meskipun keduanya masih terlalu muda dibandingkan dengan umurnya, namun adalah satu kenyataan bahwa keduanya memiliki kelebihan daripadanya.
Karena itu, maka Mahisa Ura itu pun berkata, “Apakah kalian melihat kemungkinan sebagaimana kau katakan itu?”
“Kita dapat mencoba,” jawab Mahisa Pukat.
“Tetapi bukankah dengan demikian, tugas kalian akan terhambat?” bertanya Mahisa Ura.
“Kami tidak dibatasi waktu. Meskipun kami berharap bahwa kami akan dapat menyelesaikan tugas kami secepatnya, namun jika yang kita lakukan akan memperlancar tugas-tugas kita selanjutnya, maka hal itu tentu baik untuk dilakukan,” berkata Mahisa Murti.
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar