Minggu, 03 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 031-01




*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-031-01*

“Baiklah,” jawab suara itu, “sekarang kemarilah. Aku berada di sini. Apakah kau belum menemukan tempatku?”

Mahisa Pukat termangu-mangu. Sementara itu Mahisa Murti pun berkata, “Marilah. Kita akan mendekat.”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata Mahisa Murti itu adalah pertanda bahwa ia telah menemukan arah suara yang tidak mereka lihat orangnya itu.

Namun keduanya yakin, bahwa orang itu bukannya orang bertongkat yang pernah mereka jumpai dan yang pernah datang ke banjar. Bahkan mereka menduga bahwa orang itu mempunyai landasan ilmu yang berbeda pula menilik sentuhan getar suaranya yang berbeda. Juga cara orang itu menyinggung sasarannya. Meskipun getaran itu terasa, tetapi sama sekali bukanlah merupakan serangan yang menyakitkan jantung. Getaran yang menyentuh sasaran terasa lunak yang tidak bersifat permusuhan meskipun kata-kata yang terlontar merupakan tantangan bagi mereka.

Meskipun demikian, ketiga orang itu tidak kehilangan kewaspadaan. Segala kemungkinan dapat terjadi pada keadaan seperti itu. Mungkin yang mereka hadapi termasuk sejenis jebakan yang berbahaya, sebagaimana tempatnya yang nampak sangat asing.

Mahisa Murtilah yang kemudian berjalan dipaling depan. Agak di belakang di sisi kanan berjalan Mahisa Pukat, sementara di sisi lain Mahisa Ura yang telah mengerahkan segenap kemampuan di dalam diri, yang setiap saat akan dapat dilepaskannya.

Dengan sangat berhati-hati ketiganya maju selangkah demi selangkah. Mahisa Murti telah menemukan arah suara itu. Di bawah pohon benda raksasa itu, agak di sebelah kanan, di dekat sebongkah batu yang sangat besar.

Beberapa langkah dari batu itu ketiganya berhenti. Dengan suara datar Mahisa Murti berkata, “Silahkan Ki Sanak. Kami telah datang.”

Yang terdengar adalah desah nafas. Dalam kegelapan malam mereka melihat seseorang yang bergeser keluar dari balik batu yang besar itu.

“Luar biasa,” berkata orang itu yang masih belum nampak jelas wajahnya, “kalian mampu menemukan tempatku bersembunyi.”

Mahisa Murtilah yang menjawab, “Kami tidak dapat mengerti, bagaimana kalian dapat melihat kehadiran kami dalam gelap seperti ini pada jarak yang cukup jauh.”

Orang itu tertawa lembut. Beberapa langkah ia maju, sehingga jarak di antara mereka pun menjadi semakin dekat.

Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun melihat bahwa orang itu sama sekali tidak membawa tongkat sebagaimana orang pernah dijumpainya dan yang bahkan telah datang ke banjar.

“Aku melihat kalian datang,” berkata orang itu, “Baru kemudian aku bersembunyi di balik batu ini. Bukan sesuatu yang aneh yang dapat menjadi pangeram-eram.”

“Baiklah,” berkata Mahisa Murti, “kami telah datang. Apakah yang Ki Sanak kehendaki?”

Orang itu memandang ketiga orang yang datang itu berganti-ganti. Dalam kegelapan malam, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura dapat melihat, orang itu memang bukan orang yang pernah dijumpainya dan yang kemudian datang ke banjar.

Justru karena itu, maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura masih harus meraba-raba. Apa saja yang dikehendaki oleh orang ini, yang agaknya mempunyai sifat dan watak yang berbeda dengan orang yang datang bertongkat dan bersikap kasar itu.

Dalam pada itu, maka orang itu pun kemudian bertanya, “Nah, Ki Sanak. Seperti aku katakan, aku ingin menjajagi kemampuan kalian. Sebelum kalian memasuki padepokan itu, maka kalian harus menunjukkan kepadaku, bahwa kalian memang pantas untuk memasukinya. Karena jika tidak, maka kalian akan dibantai anak-anakku dan kalian akan kehilangan segala-galanya, mati sia-sia sama sekali tidak berarti.”

Mahisa Murti lah yang kemudian melangkah maju sambil menjawab, “Baiklah Ki Sanak. Aku tidak berkeberatan. Aku sadari bahwa kau tentu tidak sekedar menjajagi. Jika anak-anakmu berbuat sebagaimana kau katakan, maka segalanya itu dilakukan atas tuntutanmu. Mustahil bahwa mereka melakukannya tidak sebagimana dilakukan oleh pemimpinnya. Apalagi gurunya. Dengan demikian, maka kau pun akan berbuat sebagaimana kau katakan itu.”

Orang itu nampak termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Apakah kau mendapat kesan bahwa aku akan berbuat seperti itu?”

“Ya.” berkata Mahisa Murti tegas, “menilik sikap dan perbuatan anak-anakmu sebagaimana kau katakan sendiri.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Mungkin aku memang akan berbuat seperti itu. Karena itu bersiapkah. Aku akan mulai dengan orang pertama. Tetapi jika kemudian kalian merasa perlu, maka aku tidak akan berkeberatan jika kalian bersama-sama bertempur melawan aku.”

“Baiklah,” sahut Mahisa Murti, “sebelum kita mulai, aku sudah mulai merendahkan kami. Tetapi kami memang ingin menghormati orang-orang yang lebih tua dari kami. Karena itu, maka apa pun yang kau katakan, kami tidak akan pernah merasa sakit hati.”

“Bagus,” berkata orang itu, “satu permulaan yang baik bagimu anak muda. Kau memang tidak boleh cepat marah. Orang yang marah kadang-kadang kehilangan kecermatannya menghadapi satu persoalan.”

“Nah, sekarang akulah orang yang pertama akan menghadapimu,” berkata Mahisa Murti.

“Bagaimana jika aku memilih yang lain?” bertanya orang itu.

“Kalau kau silau melihat aku berdiri di sini, silahkan. Tidak ada perbedaan di antara kami bersaudara,” jawab Mahisa Murti.

Yang terdengar adalah suara tertawa yang lunak. Orang itu pun kemudian berkata, “Kau memang seorang anak muda yang masak menghadapi keadaan yang manapun. Aku senang kepadamu. Karena itu, biarlah kau akan menjadi lawanku yang pertama. Seandainya kau dapat membunuhku, maka kau tidak akan menyesalinya, justru karena kau memiliki kematangan jiwa seorang kesatria.”

“Jangan memuji,” berkata Mahisa Murti, “aku tahu. Ada dua hal yang harus aku perhatikan. Apakah lawanku berusaha membuatku marah, atau ia akan memujiku sehingga aku menjadi lengah.”

“Bagus,” sahut orang itu, “kau memiliki bekal yang cukup. Bukan saja ilmu, tetapi juga ketahanan nalar budimu.”

“Aku sudah siap Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti, “apakah kita akan mulai.”

Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku juga sudah siap.”

Mahisa Murti pun bergeser beberapa langkah. Ia memilih tempat yang tidak terlalu dekat dengan lumpur yang basah.

Meskipun jika ia terpaksa harus bertempur di dalam rawa-rawa ia pun tidak akan ingkar, meskipun bukan kebiasaannya.

Sesaat kemudian kedua orang itu pun telah bersiap. Namun sebelum benturan terjadi, Mahisa Murti bertanya, “Siapa namamu?”

“Ooo,” orang itu tertawa, “kau sempat bertanya tentang nama?”

“Mungkin ada gunanya,” jawab Mahisa Murti.

“Namaku Tatas Lintang,” berkata orang itu kemudian.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, “Nama yang aneh.”

“Jangan terpancang pada nama,” berkata orang itu pula, “namaku memang aneh. Tetapi marilah, apakah kau sudaha benar-benar siap.”

“Ya,” jawab Mahisa Murti pendek.

Orang itu pun kemudian bergeser pula. Ketika ia kemudian mulai menyerang, maka Mahisa Murti pun meloncat menghindarinya. Namun ia pun kemudian mulai menggapai lawannya dengan serangan kakinya.

Tetapi serangan Mahisa Murti pun belum bersungguh-sungguh sehingga karena itu, ketika lawannya memiringkan tubuhnya kaki Mahisa Murti tidak mengenainya.

Demikianlah, maka pertempuran antara keduanya pun telah mulai. Semakin lama semakin cepat. Namun masih terbatas pada kekuatan dan kemampuan wadag. Meskipun keduanya telah mengerahkan tenaga cadangan mereka, tetapi pertempuran itu masih belum merambah pada kekuatan dan kemampuan ilmu mereka yang paling dalam.

Mahisa Murti dengan sengaja masih belum melepaskan ilmunya. Ia berusaha untuk mempergunakan kemampuan olah kanuragan yang beralaskan pada ketrampilan wadag dan landasan kekuatan cadangan di dalam dirinya.

Namun dalam pada itu, maka tata gerak mereka pun semakin lama menjadi semakin cepat. Keduanya berloncatan menyerang dan menghindar.

Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menyaksikan pertempuran itu dengan tegang. Keduanya melihat, bahwa baik Mahisa Murti maupun lawannya masih dalam tataran permulaan.

Namun justru pada tataran itu, keduanya nampak mengerahkan segenap kekuatan dan kecepatan gerak pada landasan unsur kewadagan dan tenaga cadangan yang diungkit dari dalam diri mereka masing-masing. Benturan-benturan yang terjadi terasa keras sekali. Keduanya berloncatan berputaran. Serang menyerang dan desak mendesak.

Semakin lama pertempuran itu pun menjadi semakin cepat. Di luar kesadaran mereka, arena pertempuran itu pun telah bergeser. Pohon-pohon perdu dan batang-batang kayu yang tumbuh di sekitar arena itu pun telah berguncang terbentur kekuatan kedua orang yang sedang bertempur itu.

Dalam pada itu, baik Mahisa Murti maupun lawannya yang menyebut namanya Tatas Lintang itu ternyata memiliki kekuatan yang sangat besar atas landasan tenaga cadangan mereka.

Bahkan tenaga cadangan mereka itu pun telah mampu mendorong tubuh-tubuh mereka yang bertempur itu sehingga tata gerak mereka pun nampaknya menjadi semakin cepat. Tubuh-tubuh mereka menjadi ringan dan kaki-kaki mereka bagaikan tidak lagi berpijak di atas tanah.

Mahisa Pukat mengamati pertempuran itu dengan saksama, sementara itu Mahisa Ura menjadi semakin tegang. Ia sudah melihat kekuatan yang terlontar dari kedua belah pihak tidak lagi dapat diimbanginya. Apalagi jika mereka sampai ke puncak ilmu mereka.

Dalam kegelapan malam keduanya saling menyambar Penglihatan mereka atas lawan-lawan mereka tidak lagi semata-mata atas dasar kemampuan mata wadag mereka, tetapi juga atas dasar pengamatan batin mereka berlandaskan kepada perhitungan dan unsur naluriah yang sudah mendapat lambaran yang matang.

Karena itulah, maka betapapun gelapnya malam, namun mereka mampu mengamati setiap langkah lawannya.

Dengan demikian maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin cepat dan keras. Benturan-benturan telah terjadi dan serangan pun dibalas pula dengan serangan.

Sebenarnyalah orang yang menyebut dirinya bernama Tatas Lintang itu menjadi sangat heran. Anak yang melawannya itu masih muda. Namun sudah memiliki kekuatan dan ketrampilan yang sangat mengagumkan.

Bahkan dalam beberapa hal, Tatas Lintang itu merasa dirinya tidak lagi dapat mengimbanginya. Ia tidak dapat bergerak lebih cepat lagi, sementara itu Mahisa Murti masih berusaha untuk meningkatkan kecepatan geraknya.

Namun pengalaman Tatas Lintang ternyata mampu menutup kekurangannya. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh Mahisa Murti sering kali telah mematahkan perhitungannya. Namun demikian, Mahisa Murti berusaha untuk dapat mengimbangi kemampuan lawannya dengan tenaga dan kecepatan gerak.

Tenaga dan kekuatannya yang dipanasi oleh darah mudanya, ternyata mempunyai kelebihan dari lawannya. Tetapi Mahisa Murti pun menyadari, bahwa lawannya yang jauh lebih tua daripadanya itu, pada suatu saat tentu akan memasuki kekuatan ilmunya yang mungkin sangat nggegirisi.

Mahisa Murti memang harus berhati-hati. Tetapi ia tidak menjadi gentar karenanya. Apapun yang terjadi, hal itu merupakan bagian dari tugas yang dibebankan kepadanya.

Dalam pertempuran yang menjadi semakin keras itu, Mahisa Murti nampaknya memang berhasil mendesak lawannya. Namun seperti yang diperhitungkannya itu pun terjadilah.

Lawan Mahisa Murti tidak saja membiarkan dirinya terdesak oleh kesegaran tenaga wadag Mahisa Murti yang muda itu serta darahnya yang panas dan menggelegak di dalam dirinya. Namun ia pun mulai merambah ke dalam ilmunya yang perlahan-lahan dilepaskan.

Mahisa Murti mulai merasakan kekuatan ilmu lawannya ketika mulai terasa gerak lawannya menjadi semakin lamban. Sekali-sekali Tatas Lintang meloncat mengambil jarak. Namun kemudian ketika Mahisa Murti menyerang, orang itu sama sekali tidak menghindar. Tetapi dengan lambaran ilmunya Tatas Lintang telah menangkis serangan lawannya yang masih muda itu.

Mahisa Murti yang membentur kekuatan lawannya merasakan perbedaannya. Bukan saja kekuatan wadag yang dilandasi dengan tenaga cadangan yang ada di dalam diri orang itu. Tetapi tubuh orang itu terasa seakan-akan mulai mengeras. Sentuhan tubuh Mahisa Murti pada benturan-benturan yang terjadi terasa justru menjadi sakit. Bahkan ketika dengan kemampuan kecepatan geraknya Mahisa Murti berhasil memukul lengan orang itu, rasa-rasanya tangannya telah menyentuh batu hitam.

Mahisa Murti mengerti, bahwa ia tidak akan dapat bertempur sekedar dengan tenaga wadag dan tenaga cadangan di dalam dirinya. Meskipun demikian Mahisa Murti tidak tergesa-gesa. Ia ingin mendapatkan kepastian, apa yang terjadi pada lawannya itu.

Sebenarnyalah, tubuh lawannya benar-benar bagaikan mengeras. Setiap kali, pada saat lawannya menangkis serangannya, maka Mahisa Murti pun telah berdesis menahan sakit.

“Apakah kemampuannya itu sejalan dengan ilmu kebal?” bertanya Mahisa Murti di dalam dirinya.

Namun ia masih harus mengujinya. Apakah orang itu memang mampu membuat dirinya kebal, atau sekedar membuat dirinya menjadi sekeras batu namun tanpa dapat menghindari perasaan sakit dalam setiap benturan.

Namun Mahisa Murti merasa kelembutan sikap orang itu. Orang itu tidak meningkatkan ilmunya dengan serta merta dan berusaha menghabisinya dalam waktu dekat. Tetapi yang dilakukan oleh orang itu rasa-rasanya memang seperti yang dikatakannya, sekedar menjajagi kemampuannya.

“Tetapi sesudah menjajagi lalu bagaimana? “ pertanyaan itu telah timbul di dalam hatinya.

Tetapi sementara itu pertempuran itu pun masih berlangsung terus. Mahisa Murti tidak banyak mendapat kesempatan untuk merenung. Lawannya bukan saja mampu menjadikan tubuhnya semakin keras sehingga menjadi sekeras batu, namun rasa-rasanya orang itu pun bergerak semakin cepat. Kakinya tidak lagi berpijak di atas tanah. Satu sentuhan kecil, telah mampu melemparkan tubuhnya beberapa langkah.

“Ada semacam pertentangan yang terjadi di dalam diri orang itu,” berkata Mahisa Murti, “Tubuhnya menjadi sekeras batu, sehingga seharusnya ia menjadi semakin berat. Tetapi menilik tata geraknya, seolah-olah orang itu menjadi tidak berbobot lagi.”

Dengan demikian maka Mahisa Murti pun harus bekerja lebih keras lagi untuk mengimbangi peningkatan kemampuan lawannya yang sudah mulai merambah ke dalam ilmunya yang tinggi.

Dalam pada itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura yang menyaksikan pertempuran itu pun menjadi berdebar-debar. Sesaat mereka melihat Mahisa Murti mendesak lawannya. Namun kemudian setiap kali mereka justru melihat Mahisa Murti bergeser surut.

“Apa yang terjadi?” bertanya Mahisa Ura di dalam dirinya.

Namun Mahisa Pukat telah melihat bahwa tata gerak orang yang menyebut dirinya bernama Tatas Lintang itu mulai berubah.

Dengan demikian maka Mahisa Murti tidak dapat bertahan untuk tetap beralaskan kemampuan wadagnya serta kekuatan cadangan di dalam dirinya. Ia harus mulai mempergunakan ilmu yang dikuasainya, baik yang diterimanya dari ayahnya, maupun yang diterimanya dari Pangeran Singa Narpada.

Namun sebagaimana dilakukan oleh orang yang tubuhnya menjadi semakin mengeras itu, Mahisa Murti pun tidak melakukannya dengan serta merta. Ia meningkatkan ilmunya perlahan-lahan. Ia tidak menghentakkan segenap kemampuan ilmunya, menghantam lawannya dan menghancurkannya. Tetapi ia justru mempergunakan ilmunya dalam ujudnya yang lunak.

Ketika Mahisa Murti melontarkan ilmunya ke arah lawannya yang tubuhnya mengeras itu, lawannya terkejut. Ia bergeser surut. Betapapun tubuhnya keras bagaikan batu, namun ilmu lawannya yang masih muda dalam ujudnya yang lunak itu telah membuatnya dicengkam oleh udara dingin.

“Inti dari kekuatan api dalam bentuk yang berlawanan,” berkata orang itu di dalam hatinya, “menurut dugaanku, satu ujud dari ilmu Bajra Geni.”

Orang itu harus bergeser lagi ketika serangan berikutnya mengejarnya.

Sambil meloncat menyamping orang itu berdesis, “Bagus anak muda. Kau benar-benar seorang yang luar biasa. Kau telah melepaskan satu jenis ilmu yang sulit dicari bandingnya. Justru dalam bentuk yang berlawanan dari inti kekuatan yang kau hisap.”

“Darimana kau mengetahuinya Ki Tatas Lintang?” bertanya Mahisa Murti.

Orang itu tertawa. Namun ia pun harus meloncat menghindari serangan Mahisa Murti yang bergulung menghampirinya.

Mahisa Murti memang menjadi heran. Ilmunya adalah ilmu yang sangat khusus. Namun orang itu dapat menebaknya meskipun tidak menyebut namanya. Bahkan ia mampu menghindarkan diri dari inti kekuatan ilmunya itu sehingga ia tidak membeku karenanya.

Ketika Mahisa Murti meningkatkan ilmunya, maka udara-pun menjadi semakin dingin. Tidak saja terbatasnya arus serangannya, namun udara di sekitarnya pun menjadi terasa membeku.

Namun Mahisa Murti telah siap dengan kekuatan dan kemampuannya yang dilambari dengan ilmunya. Karena itu, lawannya pun menjadi semakin berhati-hati.

Pada saat Mahisa Murti berhasil menembus kecepatan gerak lawannya dengan memotong langkahnya, serta berhasil menyentuh tubuh lawannya dengan ilmunya, maka Mahisa Murti mendengar lawannya itu berdesah.

Mahisa Murti memang belum mempergunakan segenap kekuatan ilmunya. Karena itu, maka sentuhannya pun masih belum menentukan. Meskipun benturan dengan lawannya yang bertubuh sekeras batu itu masih membuatnya sakit, tetapi ia sadar, bahwa kekuatan ilmunya pun mampu juga menyakiti lawannya meskipun belum menunjukkan pengaruh yang nyata.

Dengan demikian maka Mahisa Murti pun telah meningkatkan ilmunya pula selapis. Ia ingin sampai pada satu tingkatan yang mungkin mampu menghentikan pertempuran itu. Meskipun sentuhan-sentuhan yang terjadi menyakitinya, tetapi lawannya pun harus merasakan kesakitan melampuai dirinya.

Tetapi ternyata bahwa lawannya pun telah mempergunakan kelebihannya yang lain untuk mengimbangi kekuatan ilmu Mahisa Murti. Orang itu mampu bergerak lebih cepat dari Mahisa Murti. Dengan demikian maka serangan-serangan Mahisa Murti jarang sekali, bahwa hampir tidak pernah dapat mengenainya. Sebaliknya orang itu semakin lama semakin sering menembus pertahanan Mahisa Murti dan menyakitinya.

“Bukan main,” geram Mahisa Murti di dalam hatinya. “Ia mampu bergerak seperti bayangan iblis.”

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti memang mengalami kesulitan untuk mengatasi kecepatan gerak lawannya. Betapapun ia berusaha, namun lawannya selalu berhasil mendahuluinya. Sekali-sekali serangannya mengenai dadanya. Namun kemudian mengenai punggungnya. Perasaan sakit pun semakin lama semakin menghentak-hentak tubuhnya. Kemampuan serangan orang itu ternyata melampaui kemampuan daya tahan ilmu Mahisa Murti.

Mahisa Pukat dan Mahisa Ura ikut menjadi cemas. Mereka melihat bahwa Mahisa Murti agaknya semakin terdesak. Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat pun menjadi tegang. Mahisa Murti masih saja bertahan dalam keadaannya. Meskipun ia meningkatkan ilmunya, tetapi karena kemungkinan untuk mampu mengenai lawannya dengan serangan yang dilambari dengan ilmunya semakin kecil, maka Mahisa Murti seharusnya mulai menyesuaikan dirinya.

“Luar biasa,” berkata orang itu, “aku kira kemampuanmu masih terbatas pada kemampuan dasar. Ternyata kau sudah mampu mengembangkannya, bahkan jauh melampaui dugaanku. Tetapi baiklah. Biarlah aku berusaha untuk menghangatkan tubuhku, agar aku tidak menjadi beku karenanya.”

Sebenarnyalah, orang itu mampu membuat dirinya menjadi hangat. Tatas Lintang itu tidak membalas serangan Mahisa Murti dengan jenis ilmu yang berlawanan, tetapi ia sekedar menyelamatkan dirinya sendiri dengan ilmunya.

Namun dalam pada itu, maka Tatas Lintang itu pun telah meningkatkan serangannya pula. Tubuhnya yang menjadi ringan itu menjadi semakin ringan pula. Ia bergerak sangat cepat dan yang meresahkan adalah sentuhan tangan orang itu bagaikan sentuhan batu yang sangat keras.

Sementara itu, orang itu mampu menghindari serangan-serangan ilmu Mahisa Murti dalam bentuknya yang lunak.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah merubah ujud serangan-serangannya. Ia tidak lagi mempergunakan ilmunya dalam ujudnya yang lunak. Tetapi ia telah mempergunakan ilmunya dalam bentuknya yang sesungguhnya, dalam ujud yang keras.

Mahisa Murti menggosokkan kedua telapak tangannya yang satu dengan yang lain. Sesaat ia terpaksa meloncat surut untuk mengambil jarak.

Sementara itu Mahisa Pukat menjadi semakin berdebar-debar. Ia merasakan udara yang dingin, sehingga ia sadar, bahwa Mahisa Murti telah meningkatkan ilmunya sampai ketataran yang lebih tinggi. Namun kemudian udara yang dingin itu dengan cepat menyusut. Ketika ia melihat tata gerak Mahisa Murti, maka ia pun menyadari bahwa Mahisa Murti telah merubah ujud ilmunya dari yang lunak ke sebaliknya. Ujud yang keras.

Mahisa Ura kurang mengerti akan kekuatan ilmu itu. Tetapi ia pun merasakan udara menjadi dingin membeku. Namun ti-ba-tiba udara telah berubah pula sebagaimana tata gerak Mahisa Murti.

“Agaknya Mahisa Murti mengalami kesulitan sehingga ia harus merubah-rubah ujud ilmunya,” berkata Mahisa Pukat di dalam hatinya. Tetapi ia pun ikut cepat juga menyaksikan kemampuan bergerak lawan Mahisa Murti itu. Demikian cepatnya, melampaui kemampuan yang dapat dicapai oleh Mahisa Murti.

Sebenarnyalah Mahisa Murti pun memang tidak mempunyai jalan lain. Semakin lama ia semakin menyadari bahwa ia tidak akan mampu mengatasi kemampuan lawannya jika ia masih bertahan dalam tatarannya. Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah semakin meningkatkan ilmunya. Dengan landasan kekuatan ilmunya, maka Mahisa Murti pun telah memperhitungkan langkah dan sikap yang harus diambilnya.

Dengan cermat Mahisa Murti memperhitungkan setiap langkah lawannya yang mampu bergerak dengan sangat cepat itu. Sekali dari sekian banyak serangan, Mahisa Murti harus berhasil menangkisnya dan membenturkan kekuatan ilmunya yang semakin meningkat.

Ternyata bahwa perhitungan Mahisa Murti yang cermat itu telah berhasil dilakukan. Pada saat-saat Mahisa Murti diburu oleh serangan lawannya yang meluncur dengan cepatnya, Mahisa Murti sama sekali tidak berusaha untuk menghindar. Namun dengan sengaja ia telah membenturkan ilmunya yang tinggi kepada kekuatan serangan lawannya.

Yang terjadi adalah satu benturan yang dahsyat. Kekuatan ilmu orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu telah membentur ilmu Mahisa Murti yang nggegirisi. Dan kekuatan ilmu yang tinggi yang saling berbenturan itu benar-benar telah berakibat dahsyat.

Orang yang mempergunakan ilmunya yang menggetarkan itu ternyata terpental beberapa langkah surut. Ilmu Mahisa Murti bagaikan telah memecahkan dadanya. Udara panas telah menembus kulitnya dan merambat sampai ke jantung, seakan-akan telah menghanguskan isi dadanya, karena itulah, maka ia pun tiba-tiba saja telah terduduk. Dengan serta merta ia telah menyilangkan tangannya. Kemudian memusatkan nalar budinya dan mengetrapkan daya tahan ilmunya setinggi-tingginya untuk mengatasi benturan yang baru saja terjadi.

Sementara itu, Mahisa Murti pun telah terlempar pula beberapa langkah surut dan bahkan hampir saja kehilangan keseimbangannya. Dengan susah payah Mahisa Murti bertahan agar ia tidak benar-benar lepas dari keseimbangannya dan jatuh di tanah.

Meskipun kemudian Mahisa Murti berhasil mempertahankan keseimbangannya, tetapi ia tidak dapat segera menyerang lawannya yang sedang membenahi dirinya dengan pemusatan nalar budinya, karena untuk beberapa saat, tubuh Mahisa Mur-ti pun bagaikan telah menjadi retak-retak dalam benturan ilmu itu.

Ternyata beberapa saat kemudian, hampir berbareng pula keduanya mampu memperbaiki keadaan mereka. Tatas lintang-pun telah bangkit berdiri pula. sementara Mahisa Murti telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan.

Namun Mahisa Murti tidak mau mengalami keadaan yang serupa. Benturan dengan tubuh lawannya yang mengeras bagaikan besi baja telah membuatnya hampir tidak mampu menahan diri dari guncangan keseimbangan. Karena itu, maka ia pun harus meningkatkan ilmunya sampai ke puncak. Jika terjadi lagi benturan, maka biarlah lawannya yang mengalami keadaan yang lebih parah.

Sementara itu, Tatas Lintang pun menarik nafas dalam-dalam Di dalam hati ia berkata, “anak ini benar-benar luar biasa. Ia sudah memiliki ilmunya yang berkembang dengan pesat. Bahkan agaknya anak itu masih mampu meningkatkan lagi kemampuan ilmunya.”

Karena itu, maka Tatas Lintang pun menjadi semakin berhati-hati. Ia sadar, jika ia membentur kemampuan puncak ilmu yang dimiliki oleh lawannya, maka ia akan benar-benar mengalami kesulitan.

Karena itu, Tatas Lintang telah mempergunakan kemampuannya untuk bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dengan kemampuannya itu, Tatas Lintang tidak akan dapat membentur kekuatan lawannya. Meskipun Mahisa Murti selalu berusaha, tetapi Tatas Lintang mampu untuk selalu mengurungkan setiap benturan. Bahkan dengan loncatan-loncatan yang melampaui kecepatan gerak Mahisa Murti Tatas Lintang mampu mengenainya dari arah samping bahkan arah belakang.

“Licik,” geram Mahisa Murti, “kau tidak berani membentur beradu dada.”

“Kita sedang bertempur,” jawab Tatas Lintang, “kita tidak sedang binten atau jotosan, yang memberi kesempatan kita berganti-ganti menyerang tanpa ada kesempatan untuk menghindar atau menangkis serangan itu.”

“Persetan,” sahut Mahisa Murti sambil menyerang. Tetapi lawannya telah meloncat mendahului serangannya.

Dalam keadaan yang demikian ipaka Mahisa Murti pun sampai pada satu keputusan untuk mempergunakan ilmunya yang lain. Meskipun setiap kali ia merasa ragu, bahwa ilmunya itu akan dapat dianggap sebagai ilmu yang licik, sebagaimana setiap kali selalu mengganggu perasaan Pangeran Singa Narpada yang mewariskan ilmu itu kepadanya.

Namun menghadapi lawannya yang mampu bergerak terlalu cepat itu, ia tidak mempunyai pilihan lain. Lawannya itu pun akan dapat disebut licik, karena ia tidak pernah membenturkan kekuatan dan kemampuan berhadapan. Tetapi selalu menghindari benturan dan kemudian dengan cepat berusaha menyerang dari arah belakang atau dari sisi.

Karena itu, maka sejenak kemudian Mahisa Murti pun telah mengambil jarak dari lawannya untuk mendapat kesempatan membangunkan ilmunya yang lain.

Mahisa Pukat dan Mahisa Ura benar-benar menjadi cemas melihat keadaan Mahisa Murti. Namun bagi Mahisa Pukat, usaha Mahisa Murti untuk mengambil jarak ternyata telah sedikit melapangkan dadanya, meskipun bagi Mahisa Ura, segala sesuatu masih belum jelas. Tetapi Mahisa Pukat melihat kemungkinan bahwa Mahisa Murti akan mempergunakan ilmunya yang lain.

“Ia harus segera mulai,” berkata Mahisa Pukat di dalam hatinya, “Jika ia terlambat, maka ia tidak akan mampu menyusul lagi.”

Sebenarnyalah Mahisa Pukat sudah tidak sabar lagi. Seandainya ia sendiri yang harus melawan orang yang menyebut dirinya bernama Tatas Lintang itu, maka ia sudah berada di dalam ilmunya sejak tadi. Namun agaknya Mahisa Murti lebih cermat mengamati kemampuan lawannya.

Demikianlah, maka Mahisa Murti pun telah mengetrapkan ilmunya yang lebih sesuai untuk melawan kemampuan ilmu Tatas Lintang.

Dalam pada itu Tatas Lintang sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam diri lawannya yang masih muda itu. Namun ketika ia melihat sesuatu yang berbeda pada langkah lawannya itu, maka orang yang memiliki pengalaman yang sangat luas itu, mulai mengerti, bahwa Mahisa Murti akan mempergunakan kemampuannya yang masih tersimpan.

“Apa lagi yang dapat dilakukan oleh anak itu?” bertanya Tatas Lintang di dalam hatinya.

Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti telah dengan tidak sadar, merubah sikap dan tata geraknya. Ia tidak lagi terlalu berusaha untuk menghindari serangan lawannya.

Namun ketika Tatas Lintang berhasil menyentuh pundaknya, maka Mahisa Murti menyeringai menahan sakit. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak merubah langkah-langkahnya.

Beberapa kali lawannya berhasil mengenainya, sementara itu Mahisa Murti merasa seluruh tubuhnya bagaikan menjadi memar.

Namun pada saat yang demikian, maka Mahisa Murti pun telah membangunkan kedua macam ilmunya sekaligus. Pada saat-saat tulang-tulangnya bagaikan retak.

Yang terjadi kemudian adalah pertempuran yang sangat seru. Mahisa Murti berusaha untuk dapat membentur kekuatan lawannya. Namun lawannya selalu berusaha menghindarinya.

Lawannya berusaha untuk dapat mengenai tubuh Mahisa Murti dari arah yang lain.

Meskipun orang itu berhasil karena kemampuannya bergerak terlalu cepat, namun sesuatu telah terasa asing di dalam dirinya. Ada yang terasa terlepas dari padanya. Seakan-akan memang ada yang hilang.

Karena itulah, maka Tatas Lintang yang memiliki pengalaman yang luas itu pun berusaha untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.

Beberapa kali orang itu dengan sengaja menyentuh tubuh Mahisa Murti, meskipun ia masih selalu berusaha menghindari benturan. Namun dengan beberapa kali sentuhan, maka Tatas Lintang pun segera mengetahui, apakah sebenarnya yang terjadi.

Sejenak kemudian, maka Tatas Lintang itu pun telah berusaha mengambil jarak. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya orang itu kemudian berkata, “Bukan main anak muda. Kau memiliki seperangkat ilmu yang sangat dahsyat. Kau mampu membentur kekuatan lawan dengan ilmumu yang nggegirisi dalam bentuknya yang keras. Namun kau mampu juga membuat lawanmu membeku jika ilmumu kau lontarkan dalam bentuknya yang lunak. Di samping itu kau ternyata juga memiliki kemampuan untuk menghisap kekuatan ilmu lawanmu pada setiap sentuhan. Dengan demikian semakin sering kau tersentuh oleh serangan lawan, maka lawanmu itu pun akan menjadi semakin lemah.”

Mahisa Murti berdiri termangu-mangu. Seluruh tubuhnya terasa nyeri. Beberapa kali tubuhnya telah dikenai oleh serangan lawannya yang tubuhnya bagaikan sekeras batu, sehingga tulang-tulangnya bagaikan menjadi berpatahan.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun merasa yakin, bahwa kekuatan dan kemampuan ilmu lawannya pun telah berkurang.

Untuk beberapa saat orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu masih berdiri termangu-mangu. Bahkan ia pun kemudian berkata, “Anak muda, kau memiliki satu jenis ilmu yang mengalir dari perguruan yang jarang sekali didengar namanya. Namun menurut pendengaranku, ilmu itu pernah menjamah keluarga istana Kediri.”

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu tentu orang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang sangat luas. Seakan-akan ia mampu menebak ilmu yang ada di dalam diri Mahisa Murti itu. Baik yang diwarisinya dari ayahnya, maupun yang diwarisinya dari Pangeran Singa Narpada.

Namun dalam pada itu, maka Tatas Lintang itu pun berkata, “Anak muda. Selama empat puluh hari aku akan mengalami kesulitan, karena baru setelah itu kekuatan dan kemampuan ilmuku akan pulih kembali setelah sebagian berhasil kau hisap. Jika dalam waktu itu aku menjumpai lawan yang berilmu tinggi, maka aku akan kehilangan kesempatan untuk mengimbangi kemampuannya dan bahkan mungkin aku akan digilasnya sampai mati.”

Mahisa Murti menggeram. Dengan nada datar ia menjawab, “Aku tidak mempunyai cara lain. Tetapi aku tidak mau kau bunuh dengan cara apapun. Aku yakin, bahwa kau tentu tidak sekedar menjajaki ilmuku. Tetapi kau tentu akan membunuhku dengan atau tidak dengan anak-anakmu dari padepokan itu.”

“Bukan salahmu jika timbul kesan yang demikian. Tetapi baiklah. Meskipun sebagian dari kekuatan dan kemampuan ilmuku telah kau hisap, tetapi aku masih memiliki kemampuan yang cukup untuk mengalahkanmu,” berkata orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu.

“Baiklah,” berkata Mahisa Murti, “aku sudah siap. Lakukan apa yang paling baik buatmu.”

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya kepada diri sendiri, “Bagaimanapun juga aku harus menunjukkan bahwa aku memiliki kelebihan dari padanya.”

Karena itu, maka sejenak kemudian orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu pun segera bersiap. Dengan suara bergetar ia berkata, “Aku akan menyerangmu dengan tanpa menyentuh tubuhmu.”

Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Demikianlah, maka orang yang bernama Tatas Lintang itu-pun telah menghentakkan tangannya terjulur ke depan.

Dengan ketajaman penglihatan batinnya, Mahisa Murti melihat semacam getaran sinar yang meluncur dari telapak tangan orang itu.

Meskipun hampir di seluruh tubuh Mahisa Murti masih terasa nyeri namun Mahisa Murti masih mampu bergerak dengan tangkas menghindari serangan itu.

Demikian getaran itu menyentuh tanah, maka seakan-akan telah terjadi ledakan yang mengejutkan. Asap bagaikan tersembur dari dalam bumi menghembus dan bahkan memancar dengan garangnya.

Tetapi Mahisa Murti sama sekali tidak tersentuh serangan itu. Namun yang terjadi itu benar-benar telah menggetarkan jantungnya. Sementara itu, Tatas Lintang itu pun mengeluh dengan nada berat, “Anak muda. Yang terjadi benar-benar menyulitkan kedudukanku. Ternyata seranganku datang terlalu lamban setelah sebagian tenagaku terhisap oleh ilmumu. Tidak seorang pun yang mampu menghindari seranganku jika aku dalam keadaan yang wajar. Aku menyesal bahwa aku tidak mempergunakan ilmuku ini sebelum kau berhasil melumpuhkan sebagian dari kekuatanku.”

Mahisa Murti memang menjadi berdebar-debar. Ia dengan demikian harus memperhitungkan orang itu sebaik-baiknya. Jika tenaganya yang terhisap itu masih mampu menunjukkan kekuatan yang sedemikian besarnya, maka Mahisa Murti dapat membayangkan, betapa besarnya tenaga dan kemampuan ilmunya, jika ilmunya masih utuh sepenuhnya.

Namun dalam pada itu, Tatas Lintang tidak menunggu lebih lama lagi. Sekali lagi ia menghentakkan tangannya dengan kedua telapak tangannya menghadap ke depan. Ia telah mengulangi serangannya kembali.

Sekali lagi Mahisa Murti meloncat menghindar, sehingga serangan itu tidak menyentuhnya.

Meskipun demikian Mahisa Murti merasakan satu kesulitan. Ia akan sukar sekali dapat membenturkan serangannya sehingga menyentuh tubuh lawannya.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah mempergunakan ilmunya dalam ujudnya yang lunak. Dengan demikian ia akan mampu mengurangi kemampuan serangan lawannya. Sementara itu, ia masih tetap siap mempergunakan kemampuan yang diwarisinya dari Pangeran Singa Narpada.

Ternyata usaha Mahisa Murti berpengaruh juga. Udara yang dingin itu mampu menusuk ke dalam tubuh Tatas Lintang yang kekuatan daya tahannya pun telah susut. Sementara itu, lawannya pun tidak lagi mampu bergerak secepat sebelum ia termakan oleh hisapan ilmu Mahisa Murti.

Meskipun demikian, namun serangan-serangan orang itu masih saja sangat berbahaya bagi Mahisa Murti. Setiap kali Mahisa Murti harus bergeser surut. Meloncat ke samping dan sekali-sekali mengambil jarak.

Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menyaksikan pertempuran itu dengan jantung yang berdebaran. Mahisa Pukat pun kemudian mengerti bahwa Mahisa Murti telah merubah lagi ujud ilmunya dengan ujud yang lunak, sehingga udara pun terasa menjadi dingin. Apalagi jalur serangan ilmu Mahisa Murti yang melihat lawannya. Seandainya lawannya tidak memiliki ilmu yang sangat tinggi dan daya tahan yang sangat kuat, maka ia pun tentu telah membeku.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Ilmu yang terpancar dari kedua belah pihak telah beradu.

Meskipun pada saat-saat terakhir Mahisa Murti masih tetap merasa dalam kesulitan, tetapi ia masih mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Bahkan kadang-kadang Mahisa Murti masih juga mampu menembus ilmu lawannya dengan serangan-serangan wadagnya dan menyentuh lawannya itu. Namun pada saat-saat terakhir, agaknya lawannya benar-benar ingin mengakhiri pertempuran itu. Dengan demikian, maka tiba-tiba saja ilmu lawannya itu bagaikan tercurah dari dirinya. Bukan saja getaran cahaya yang meluncur dari kedua telapak tangannya yang mengembang, namun tiba-tiba semacam kabut yang berwarna keputih-putihan bagaikan telah melibat tubuh Mahisa Murti.

Semula Mahisa Murti tidak merasakan akibat dari libatan kabut putih yang tipis itu. Namun semakin lama rasa-rasanya kabut itu telah membuat matanya menjadi sangat pedas. Seakan-akan matanya itu telah tersentuh oleh asap arang yang basah.

“Gila,” geram Mahisa Murti, “ilmu apa lagi yang ditrapkan oleh orang itu?”

Namun Mahisa Murti tidak sempat berpikir terlalu panjang. Serangan demi serangan datang beruntun.

Ketika matanya menjadi semakin pedih oleh asap yang keputih-putihan maka ia pun merasa semakin sulit untuk dapat menghindari serangan-serangan Tatas Lintang yang lain, yang rasa-rasanya semakin cepat memburunya.

Dalam keadaan yang demikian, Mahisa Pukat pun melihat kesulitan yang semakin mencengkam Mahisa Murti. Bahkan kabut yang keputih-putihan itu agaknya telah menebar dan menyentuhnya pula, sehingga Mahisa Pukat dapat mengerti akibat yang ditimbulkan dari kabut putih itu, karena matanya pun menjadi pedih.

Yang lebih cemas lagi adalah Mahisa Ura. Ia pun melihat kesulitan yang dialami oleh Mahisa Murti. Bahkan ia menjadi semakin berdebar-debar karena kabut putih itu.

Untuk beberapa saat Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menyaksikan pertempuran itu dengan jantung yang berdegupan. Namun ketika Mahisa Murti menjadi semakin terdesak, maka rasa-rasanya Mahisa Pukat tidak lagi dapat berdiam diri.

“Amati apa yang terjadi,” desis Mahisa Pukat, “aku akan turun ke arena. Orang itu memiliki ilmu yang luar biasa. Kami akan menghadapinya berdua. Agaknya kami masing-masing tidak akan mampu melawannya.”

“Aku ikut bersama,” berkata Mahisa Ura.

“Jangan. Kau harus mengamati keadaan. Siapa tahu orang itu pun tidak sendiri,” berkata Mahisa Pukat.

Mahisa Ura mengangguk-angguk. Ia mengerti tugas apakah yang harus dilakukannya.

Dalam pada itu, maka Mahisa Pukat pun telah bersiap untuk memasuki arena. Ia tidak dapat membiarkan saudaranya mengalami cidera dan bahkan mungkin parah, bahkan lebih dari itu, Mahisa Murti akan dapat terbunuh di dalam pertempuran itu.

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...