Kamis, 04 Februari 2021

PANASNYA BUNGA MEKAR JILID 28-03

PANASNYA BUNGA MEKAR : 28-03
Demikianlah, maka dengan memusatkan tenaga pada sisi telapak tangannya, maka Mahisa Bungalan pun kemudian meloncat ke arah pintu regol yang tertutup dan diselarak dari dalam. Dengan kedua galum tangannya maka Mahisa Bungalan pun menghantam regol yang tertutup itu.

Terdengar suara berderak memekakkan telinga. Bukan saja pintu kayu yang tebal itu yang berderak pecah. Tetapi selaraknya pun telah berpatahan.

Semua orang yang menyaksikan dengan mendengar suara itu pun terkejut. Ketika daun pintu itu kemudian rontok, maka kelima orang penjaga regol itu berdiri dengan mulut ternganga. Bahkan para pengawal yang mengaku diri mereka sebagai perampok itu pun menjadi keheran-heranan melihat kekuatan Mahisa Bungalan.

Dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun yang berdiri di depan pintu itu pun kemudian melangkah masuk, melangkahi daun pintu yang sudah rontok di tanah.

“Aku sama sekali bukan iblis dan aku pun tidak mempergunakan kekuatan iblis.” berkata Mahisa Bungalan. Lalu, “Nah, Sekarang pertimbangkan. Apakah kalian akan melawan?”

Orang-orang itu berdiri dengan tubuh gemetar. Tidak lagi terlintas di kepalanya, keberanian untuk melawan orang yang dapat memecahkan pintu regol hanya dengan tangannya itu.

“Apakah kalian menyerah?” bertanya Mahisa Bungalan.

Kelima orang itu termangu-mangu. Namun akhirnya mereka pun tidak dapat berbuat lain ketika para pengawal itu pun maju mendekatinya.

“Lepaskan senjata kalian!” berkata Mahisa Bungalan.

Orang-orang itu pun kemudian melepaskan senjata mereka. Dalam pada itu, saudagar permata yang juga mendengar derak pintu pecah itu pun tidak mempunyai harapan lagi untuk berbuat sesuatu, ketika dari balik pintu rumahnya ia mendengar percakapan antara para perampok dengan penjaga rumahnya di pendapa. Karena kelima penjaga itu pun telah diikat kaki dan tangannya dan kemudian mereka pun dipersilahkan duduk di sudut pendapa.

“Jangan berbuat sesuatu yang akan dapat mencelakai diri kalian sendiri.” berkata seorang pengawal.

Dalam pada itu, maka seorang pengawal yang lain pun telah mengetuk pintu rumah saudagar itu. Di ruang dalam, saudagar permata itu tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka ia pun telah membuka pintunya dengan wajah yang pucat.

Lima orang pengawal kemudian memasuki rumahnya. Yang lain masih tetap tinggal di pendapa. Sementara dua orang mengawasi masing-masing di sebelah kanan, kiri dan belakang rumah. Sedangkan dua orang lainnya berada di regol.

Dalam pada itu, ketika para pengawal yang memasuki rumah itu sedang berbicara dengan saudagar permata untuk mendapatkan barang-barangnya yang berharga, maka segerombolan orang telah mendekati halaman rumah itu. Mereka adalah para perampok yang sebenarnya, yang tinggal di hutan perbatasan. Mereka berniat untuk menangkap perampok yang telah menggetarkan daerah Pakuwon Watu Mas itu.

Pemimpin perampok itu beranggapan, jika ia berhasil menangkap meskipun hanya seorang saja di antara mereka yang telah merampok di daerah Watu Mas itu, maka ia akan bebas dari segala tuduhan. Ia akan mendapat kepercayaannya kembali sehingga gerombolannya justru akan mendapat dukungan dari para pengawal di perbatasan. Para pengawal itu tentu akan tetap melindungi mereka jika para pengawal dari Pakuwon Kabanaran berusaha mengejar mereka, apalagi menusuk masuk ke dalam sarang mereka yang terletak di tlatah Watu Mas.

Karena itu, untuk menjual jasa, para perampok itu sama sekali tidak menghubungi para pengawal. Yang akan mereka lakukan adalah menghadapkan tawanan yang dapat mereka tangkap kepada para pengawal.

Demikianlah, maka mereka pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan rumah saudagar permata yang sedang dalam kebingungan. Saudagar itu tidak dapat berbuat lain, kecuali menyerahkan apa yang diminta oleh para perampok itu.

“Bawa kemari semua harta bendamu,” berkata pengawal yang menyatakan dirinya sebagai perampok itu, “jika ternyata kemudian bahwa kau masih menyimpan harta benda lain kecuali yang kau bawa kemari, maka rumah dan isinya akan aku bakar habis. Tetapi jika kau berterus terang, dan membawa semua harta kekayaanmu, maka aku akan membawa sebagian saja dari seluruh harta bendamu.”

Saudagar itu pun telah mengeluarkan semua simpanannya. Ketika ia meletakkan peti di amben bambu di samping peti yang terdahulu, hampir di luar sadarnya ia berdesis, “Ini barang dagangan. Jika barang-barang ini juga hilang dari tanganku, dari mana lagi aku akan dapat mencari gantinya?”

Mahisa Bungalan yang juga memasuki rumah itu pun mengerutkan keningnya. Sambil membuka peti itu ia berkata, “Apakah barang daganganmu ini bukan milikmu sendiri?”

“Hanya sebagian kecil saja,” jawab saudagar itu, “tetapi sebagian besar dari barang-barang itu, adalah milik orang lain. Permata itu adalah barang titipan yang harus aku jual dan kemudian menyerahkan uangnya kepada pemiliknya.”

Mahisa Bungalan memperbandingkan dua buah peti yang ada di hadapannya. Keduanya berisi emas dan permata. Tetapi memang dapat diduga bahwa yang sebuah adalah milik saudagar kaya itu sendiri. Sementara yang lain seperti yang dikatakannya beremas dan permata titipan.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun berkata, “Aku hanya akan mengambil barang-barangmu. Aku tidak akan mengambil barang-barang titipan itu.”

Saudagar itu benar-benar tidak menyangka. Sikap yang demikian bukan sikap kebanyakan perampok. Biasanya mereka akan membawa apa saja yang ada. Milik sendiri atau bukan, tidak menjadi persoalan bagi mereka.

“Tetapi sikap perampok ini agak berbeda.” berkata saudagar itu di dalam hatinya.

Meskipun saudagar itu belum pernah dirampok sebelumnya, tetapi ia pernah mendengar apa yang sering terjadi dalam perampokan-perampokan. Bahkan kadang-kadang para perampok itu tidak percaya meskipun semua harta benda sudah diserahkan oleh pemiliknya.

Dalam pada itu, selagi Mahisa Bungalan dan para pengawal itu membenahi barang-barang yang akan dibawanya, tiba-tiba dua orang yang berada di regol memberi isyarat, bahwa sekelompok orang tengah mendekati regol halaman.

“Siapa mereka?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Belum tahu dengan pasti.” desis seorang pengawal yang kemudian berlari menghambur keluar untuk mendapat kepastian siapakah yang datang.

Dalam pada itu, kedua pengawal yang menjaga regol sudah terdesak masuk ke halaman. Mereka berdiri tegak di depan pendapa rumah saudagar kaya itu, sementara beberapa orang yang berada di pendapa telah turun pula.

“Nah,” berkata pemimpin perampok yang sebenarnya, “ternyata kita dapat bertemu kali ini.”

Mahisa Bungalan yang kemudian keluar juga dari ruang dalam dan menyerahkan peti yang sudah siap untuk dibawa itu kepada seorang pengawal, melihat bahwa yang datang itu bukan pasukan pengawal dari Pakuwon Watu Mas.

“Siapakah kalian?” bertanya Mahisa Bungalan dari pendapa.

“Apa gunanya kau mengerti tentang diri kami?” jawab pemimpin. perampok itu, “Menyerahlah. Kami akan memperlakukan kalian dengan baik.”

“Tunggu, Ki Sanak,” berkata Mahisa Bungalan pula, “apakah hak kalian untuk mengancam kami? Apakah kalian para pengawal dari Pakuwon Watu Mas? Menilik pakaian kalian, maka kalian tentu bukan pengawal Pakuwon ini.”

“Kami memang bukan para pengawal,” berkata pemimpin perampok itu, “tetapi hak kami sama dengan para pengawal.”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Apa pedulimu? Menyerahlah agar kami tidak perlu mempergunakan kekerasan.” ancam pemimpin perampok itu.

“Kami adalah perampok-perampok yang sudah berpengalaman,” jawab Mahisa Bungalan, “seharusnya kamu tahu, bahwa perampok-perampok besar seperti kami ini, tidak akan pernah menyerah. Apalagi kami yakin, bahwa kalian tidak akan dapat berbuat banyak menghadapi kami.”

“Persetan,” pemimpin perampok itu menggeram, “kau terlalu sombong. Kau kira hanya kalian sajalah perampok-perampok yang berpengalaman di dunia ini?”

“Ya,” jawab Mahisa Bungalan, “tidak ada segerombolan perampokan yang dapat menyamai kemampuan kami.”

Pimpinan perampok itu menjadi panas. Ia merasa seolah-olah dihina oleh perampok yang belum dikenalnya.

Karena itu, hampir di luar sadarnya ia berkata, “Omong kosong. Kalian tidak akan dapat mengimbangi kemampuan kami.”

Mahisa Bungalan tertawa. Ia berusaha untuk melontarkan nada yang tinggi menyakitkan hati. Katanya, “Jika ada sekelompok orang yang mengaku berpengalaman melampaui atau menyamai kami, maka ia adalah orang-orang yang tidak tahu diri.”

“Cukup!” teriak pemimpin perampok itu, “Kami adalah penguasa di hutan-hutan yang lebat. Kami adalah raja dari para perampok dan penyamun. Kami adalah segala-galanya dari dunia yang hitam kelam. Karena itu jangan mencoba menyaingi kegiatan dan usaha kami. Jangan mencoba menjelajahi daerah jelajah kami.”

Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Siapakah sebenarnya kalian?”

“Persetan dengan pertanyaanmu.” geram pemimpin perampok itu.

“Kaliankah yang dijuluki serigala hitam di hutan perbatasan? Kaliankah yang sering memasuki Pakuwon Kabanaran?” bertanya Mahisa Bungalan. Kemudian katanya, “Jika demikian, maka kami tidak mempunyai persoalan dengan kalian. Kami telah memiliki daerah yang tidak akan kau jamah. Jika kalian memelihara sawah di Pakuwon Kabanaran, aku telah memilih yang lain.”

“Orang-orang dungu yang tidak tahu diri,” jawab pemimpin perampok itu, “kau sangka bahwa kami dapat membiarkan kalian merampok di daerah Watu Mas?”

“Kami tidak pernah mengganggu kalian yang merampok di Kabanaran.” jawab Mahisa Bungalan.

“Kalian tidak berhak mengganggu kami,” teriak pemimpin perampok itu, “sekarang kita sudah bertemu. Tidak ada persoalan apapun di antara kita. Kalian harus menyerah, atau kami akan menyapu kalian sampai orang yang terakhir.”

Mahisa Bungalan tidak segera menjawab. Nampak ia menjadi ragu-ragu. Sementara itu, pemimpin perampok itu menganggap bahwa perampok yang mendatangi rumah saudagar itu menjadi ketakutan.

Namun ia terkejut ketika Mahisa Bungalan kemudian menjawab, “Baiklah. Kita sudah bertemu di sini. Jika kami menyerah dan melepaskan hasil rampokan kami, maka kalianlah yang akan memilikinya. Selebihnya maka kalian akan memperlakukan kami sewenang-wenang. Karena itu, kami tidak akan menyerah. Kami akan mencoba kemampuan kalian. Siapakah di antara kita yang memiliki pengalaman lebih luas dalam dunia yang hitam kelam ini. Kalian atau kami.”

“Bodoh dan gila,” geram pemimpin perampok itu, “kami mempunyai kemampuan lebih tinggi dari kalian. Jumlah kami lebih banyak dari kalian. Pengalaman kami lebih banyak dari kalian. Apa yang dapat kalian banggakan untuk menghadapi kami?”

“Tekad kami membara di dada kami,” jawab Mahisa Bungalan, “bersiaplah. Kita akan bertempur mati-matian.”

Pemimpin perampok itu menjadi marah sekali. Ia pun kemudian berteriak, “Hancurkan tikus-tikus bodoh itu. Tangkap hidup-hidup satu atau dua orang. Mereka akan berbicara tentang diri mereka di hadapan para pengawal di Watu Mas.”

“Kalian bekerja bersama para pengawal?” bertanya Mahisa Bungalan.

“Apa pedulimu?” jawab pemimpin perampok itu. Dalam pada itu, para perampok yang sudah memasuki halaman itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka menebar dari ujung sampai ke ujung halaman. Sementara itu, para pengawal yang berada di halaman samping pun telah menarik diri ke sisi pendapa, sementara kawan-kawannya pun telah bersiap menghadapi segala macam kemungkinan.

Mahisa Bungalan yang kemudian memimpin para pengawal itu melangkah mendekati para perampok. Ia tertegun ketika pemimpin perampok itu menyongsongnya sambil berkata, “Kau pemimpin pasukan kelinci itu?”

“Ya. Tetapi malam ini akan terjadi, serigala hitam di hutan perbatasan akan hancur digilas oleh kelinci-kelinci putih.” jawab Mahisa Bungalan.

Kemarahan pemimpin perampok itu tidak dapat ditahan lagi. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang, langsung dengan senjatanya yang mengerikan. Sebuah tongkat besi baja berkepala bulatan yang bergerigi tajam.

Ayunan senjatanya itu berdesing mengerikan. Namun yang diserangnya adalah Mahisa Bungalan, sehingga dengan sigapnya anak muda itu meloncat menghindar. Serangan itu adalah aba-aba yang telah menggerakkan para perampok. Dengan serentak mereka menyerang sambil berteriak-teriak nyaring.

Namun sebenarnyalah yang mereka hadapi adalah para pengawal dari Kabanaran. Pengawal yang telah mendapat tempaan khusus untuk tugas mereka yang aneh. Mereka telah diperkenalkan dengan cara bertempur yang paling keras dan kasar. Mereka pun telah mendapat petunjuk, bagaimana mereka harus bersikap dalam tugas mereka.

Karena itu, demikian para perampok itu berteriak, maka para pengawal itu pun mengimbanginya. Namun beberapa orang di antara mereka masih juga bergumam, “Satu tugas yang gila. Aku masih belum sampai hati mengumpat-umpat dengan kata-kata kotor seperti itu.”

Meskipun demikian, mereka memang harus bertempur dengan cara yang keras dan kasar menghadapi para perampok yang sebenarnya.

Demikianlah, sejenak kemudian telah terjadi pertemuan yang sengit. Masing-masing telah bertempur dengan keras dan kasar antara kegilaan para perampok yang sebenarnya, dengan cara para pengawal yang terlatih baik.

Dalam pertempuran yang seru, maka nampak perbedaan pada dasar penguasaan ilmu mereka. Bagaimanapun juga, para pengawal tidak terbiasa untuk bertempur sambil berteriak-teriak dan mengumpat-umpat. Kadang-kadang para pengawal memang bersorak pada saat-saat tertentu. Tetapi tidak sebagaimana dilakukan oleh para perampok itu.

Meskipun demikian, masih ada juga di antara para pengawal yang sempat berlaku kasar. Hanya pada saat-saat ia terdesak maka ia harus kembali kepada dasar ilmu yang dipelajarinya dan dimatangkannya di dalam lingkungan para pengawal.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa para pengawal memiliki kematangan olah senjata yang lebih mapan dari para perampok, betapapun juga para perampok itu mempunyai pengalaman yang luas. Tetapi pengalaman mereka terutama adalah pengalaman menghadapi para peronda yang tidak mempunyai kemampuan yang cukup, serta para penjaga regol di rumah orang-orang kaya yang jumlahnya terlalu sedikit.

Karena itu, ketika mereka dihadapkan kepada kemampuan para pengawal, maka segera terasa betapa mereka merasakan tekanan yang sangat berat, meskipun jumlah mereka lebih banyak.

Dalam pada itu, para pengawal itu pun telah menyerang perampok-perampok itu dari beberapa arah. Sebagian besar dari mereka bertempur di depan pendapa. Beberapa orang pengawal telah menyerang dari lambung sebelah menyebelah. Dengan demikian maka para perampok itu harus menghadapi para pengawal dari arah yang berbeda-beda.

Pemimpin perampok yang bertempur melawan Mahisa Bungalan itu pun tidak terlalu banyak dapat berbuat. Ia segera terdesak. Hanya karena jumlah para perampok itu terlalu banyak, maka pemimpin perampok itu masih berlindung di antara jumlah yang banyak itu. Hanya sekali-sekali saja ia tampil. Namun kemudian ia berada di antara sekelompok pengikutnya.

Di pendapa, para penjaga regol yang menyerah itu menyaksikan pertempuran dengan jantung yang berdebaran. Dalam cahaya obor yang lemah, mereka melihat pertempuran yang menjadi semakin sengit.

Tetapi mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Kaki dan tangan mereka telah terikat.

Namun kecemasan telah benar-benar mencengkam jantung mereka. Mereka tahu pasti, bahwa yang bertempur itu adalah dua gerombolan perampok yang memiliki kekuatan yang tangguh. Ketika keduanya berbenturan, maka rasa-rasanya halaman itu telah guncang.

Sementara itu, saudagar permata yang berada di dalam rumahnya itu pun menjadi bingung. Masih ada seorang pengawal yang mengawasinya. Sambil mengacukan senjatanya, pengawal itu berkata, “Duduklah. Biarlah mereka yang bertempur itu menyelesaikan persoalan mereka.”

Saudagar itu menjadi bingung. Namun ia pun kemudian duduk dengan tubuh gemetar.

Mahisa Bungalan dan para pengawal masih bertempur dengan sengitnya. Tetapi bekal ilmu mereka mampu mengatasi kekasaran para perampok itu. Meskipun tidak seluruhnya, tetapi beberapa orang pengawal telah dapat memberikan kesan kekasaran dan kekerasan. Ada juga di antara para pengawal yang berteriak-teriak dan mengumpat sejadi-jadinya, sebagaimana dilakukan oleh para perampok itu.

Dalam pada itu, ternyata jumlah para perampok yang mampu bertempur itu cepat susut. Mahisa Bungalan pun telah memaksa beberapa orang perampok untuk melepaskan perlawanannya karena luka-lukanya. Sementara para pengawal masih berusaha untuk tidak membunuh lawan. Tetapi sebagian dari mereka tidak berhasil mengendalikan senjata mereka, sehingga menembus tubuh lawannya terlalu dalam.

Dalam pertempuran yang seru itu, masih juga dapat dilihat oleh Mahisa Bungalan, bahwa para perampok itu tidak memiliki ilmu yang sebenarnya. Mereka hanya berbekal keberanian dan pengalaman yang keras dan kasar. Sehingga ketika mereka dihadapkan kepada kemampuan para pengawal, maka mereka tidak dapat banyak memberikan perlawanan.

Karena itu, maka para perampok yang jumlahnya cepat susut itu pun telah terdesak. Pemimpin perampok yang selalu mengumpat-umpat itu pun tidak dapat menutup mata. Meskipun ia sendiri memiliki bekal ilmu kanuragan yang cukup, tetapi berhadapan dengan Mahisa Bungalan maka ia tidak dapat banyak berbuat.

Dengan demikian, maka pemimpin perampok itu sudah dapat memperhitungkan, apa yang akan terjadi seandainya pertempuran itu akan berlangsung terus. Karena itu, maka tidak ada jalan yang lebih baik bagi mereka, selain melarikan diri.

Meskipun mereka tidak berhasil menangkap perampok yang telah berani mengganggu tlatah Watu Mas itu, namun mereka akan dapat memberikan laporan kepada para pengawal di Watu Mas, bahwa sebenarnyalah ada segerombolan perampok yang kuat telah mengganggu ketenangan Pakuwon Watu Mas.

Sejenak kemudian, maka pemimpin perampok yang melihat kekalahannya itu, telah memberikan isyarat kepada para pengikutnya untuk meninggalkan arena pertempuran. Para perampok itu tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan serta merta, maka para perampok itu pun telah berlarian meninggalkan halaman rumah saudagar permata itu.

Para pengawal tidak mengejar mereka. Namun yang terdengar kemudian adalah perintah, “Kita pun harus segera pergi.”

Para pengawal yang telah menyelesaikan pertempuran itu pun kemudian telah berkumpul di pendapa untuk menunggu perintah selanjutnya. Sementara itu, Mahisa Bungalan telah masuk kembali ke ruang dalam sambil berkata kepada saudagar permata itu, “Ki Sanak. Aku akan melakukan seperti yang sudah aku rencanakan. Aku akan membawa barang-barang yang kau sebut milikmu sendiri. Tetapi aku tidak akan membawa barang-barang yang merupakan dagangan, lebih-lebih barang-barang titipan. Kau harus berterima kasih bahwa aku tidak mengambilnya semuanya meskipun aku dapat melakukannya bila aku mau. Yang aku lakukan ini tentu lebih baik dari yang dilakukan oleh para perampok yang datang kemudian itu.”

Saudagar itu tidak menjawab. Ia tidak akan dapat mencegahnya. Bahkan mungkin perampok itu akan mengambil sikap yang lain jika ia berbuat sesuatu.

Karena itu, Maka saudagar itu membiarkan saja ketika para perampok itu kemudian mengambil petinya dan membawanya keluar.

“Ki Sanak,” berkata Mahisa Bungalan kepada saudagar permata itu, “di halaman terdapat beberapa orang yang terluka. Barangkali ada yang terbunuh tanpa sengaja. Terserahlah kepadamu. Mungkin para pengawal dari Pakuwon Watu Mas akan segera datang untuk meneliti peristiwa ini. Katakan dengan terus-terang, bahwa ada dua gerombolan perampok yang saling berebut harta bendamu.”

Saudagar itu masih tetap diam. Bahkan seolah-olah ia tetap membeku ketika Mahisa Bungalan dan kawan-kawannya meninggalkan halaman rumah itu dengan membawa hasil rampokannya.

Baru kemudian saudagar itu meloncat keluar ketika ia mendengar para penjaga pintu rumahnya berteriak-teriak.

Dengan tergesa-gesa maka saudagar itu pun melepas ikatan mereka. Namun tidak ada yang dapat mereka lakukan.

“Kita hanya dapat melaporkannya kepada Ki Buyut.” berkata saudagar itu.

“Kita akan segera melaporkannya.” desis para penjaga itu.

Namun dalam pada itu, saudagar permata itu bergumam, “Tetapi mereka adalah perampok-perampok yang aneh. Di balik kekasaran mereka, terdapat sesuatu yang tidak dapat aku mengerti. Ternyata mereka tidak mengambil semua harta benda yang sebenarnya dapat mereka bawa. Tetapi mereka tidak melakukannya.”

“Kami pun tidak disakitinya.” berkata para penjaga regol.

“Pemimpinnya berilmu iblis.” sambung salah seorang di antara mereka. “Orang itu dapat memecahkan pintu regol.”

“Itulah sebabnya maka gerombolan yang satu lagi dapat dikalahkannya.” desis saudagar itu.

“Gerombolan yang datang kemudian sebenarnya akan menangkap gerombolan yang datang terdahulu. Tetapi ternyata mereka dapat dikalahkan.” desis salah seorang penjaga regol itu.

“Aku kira itu hanya sekedar dalih saja.” berkata saudagar itu, “Tetapi mereka pun tentu akan merampok. Bahkan mungkin mereka akan membawa semua barang-barang yang ada di rumah ini. Bukan saja barang-barang miliknya sendiri seperti yang dilakukan oleh perampok yang datang terdahulu.”

Para penjaga itu hanya termangu-mangu saja.

“Nah,” berkata saudagar itu, “dua orang di antara kalian pergi kepada Ki Buyut. Laporkan apa yang terjadi. Sementara kami yang tinggal akan melihat akibat dari pertempuran itu. Yang terluka mungkin memerlukan pertolongan segera.”

Ketika kedua orang itu keluar dari regol, maka mereka melihat beberapa orang tetangga yang menjenguk. Tetangga-tetangga yang sudah tidak mendengar keributan lagi, baru berani keluar dari rumah mereka.

“Apa yang terjadi?” bertanya salah seorang tetangga yang melihat kedua orang penjaga regol itu.

“Perampok.” jawab salah seorang dari kedua orang itu.

“Saudagar itu telah dirampok?” bertanya orang itu lagi.

“Ya. Sekelompok perampok dalam jumlah yang tidak dapat kami atasi,” jawab penjaga regol itu, “tetapi mereka sudah pergi.”

“Apa ada barang-barang yang dibawa?” bertanya tetangga itu.

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi ada.” jawab penjaga itu sambil meneruskan perjalanannya ke rumah Ki Buyut.

Berita itu ternyata cepat sekali menjalar. Dalam waktu yang pendek, maka tetangga-tetangga di sekitar rumah saudagar itu telah mendengarnya, bahwa Ki Saudagar telah dirampok.

Beberapa orang pun telah berkumpul di regol halaman rumah saudagar itu. Sebagian dari mereka memberanikan diri memasuki halaman yang masih terasa hangatnya pertempuran. Para penjaga regol yang tinggal telah membawa orang-orang yang terluka ke pendapa.

Beberapa orang tetangga itu pun dengan suka rela telah membantu mengangkat mereka, sementara ada juga dua orang yang ternyata telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Agaknya beberapa orang pengawal tidak dapat lagi mengendalikan senjatanya, sehingga senjata mereka telah menembus jantung lawannya.

Malam itu, padukuhan yang baru saja dikunjungi oleh sekelompok perampok itu pun menjadi sibuk. Beberapa orang berkumpul dengan wajah-wajah tegang. Namun mereka tidak dapat berbicara bagaimana seharusnya mereka mengatasi keadaan itu. Segalanya akan tergantung kepada Ki Buyut. Agaknya beberapa orang pengawal Kabuyutan tidak akan mampu berbuat banyak menghadapi perampok-perampok yang kuat. Hanya pengawal dari Pakuwon Watu Mas sajalah yang akan dapat mengatasi persoalan.

Ki Buyut yang kemudian mendapat laporan itu pun terkejut. Dengan serta merta ia pun telah pergi ke tempat kejadian disertai oleh beberapa orang pengawal Kabuyutan. Sementara itu beberapa orang pengawal yang lain harus melaporkannya kepada para pengawal Pakuwon Watu Mass yang bertugas di tempat paling dekat.

Dalam pada itu, Mahisa Bungalan dan pasukannya telah menjadi semakin jauh. Ternyata bahwa ada beberapa orang di antara mereka yang terluka.

Namun untunglah bahwa tidak seorang pun dari para pengawal itu yang terbunuh. Meskipun demikian tiga orang dari mereka yang terluka, harus dipapah karena lukanya cukup berat.

“Kita berhenti sejenak,” berkata Mahisa Bungalan ketika mereka sudah cukup jauh, “kita obati kawan-kawan yang terluka agar darah mereka tidak mengalir terlalu banyak. Sementara kita akan dapat beristirahat barang sejenak.”

Para pengawal itu pun kemudian menebar di pinggir sebuah hutan yang tidak terlalu lebat. Sementara mereka yang terluka pun telah diobatinya.

Namun dalam pada itu, beberapa orang pengawal mulai membicarakan tugas mereka yang aneh itu. Seorang pengawal Pakuwon Kabanaran yang bertubuh raksasa berdesis, “Sampai kapan kita akan melakukan tugas seperti ini?”

Tetapi jawab kawannya di luar dugaan. Katanya, “Menyenangkan sekali. Kita melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan.”

“Tetapi pengalaman ini sangat berbahaya bagimu.” sahut pengawal bertubuh raksasa itu.

“Kenapa?” bertanya kawannya.

“Jika pada saatnya kau tidak lagi menjadi pengawal, kau akan memanfaatkan pengalaman ini.” jawab pengawal bertubuh raksasa itu.

“Ah,” kawannya itu menggeleng, “tentu tidak. Segalanya tergantung isi dada kita masing-masing.”

Pengawal bertubuh raksasa itu tersenyum. Katanya, “Jangan sombong. Tidak ada orang yang tahu gejolak isi dada yang dapat menimbulkan perubahan-perubahan. Tetapi mudah-mudahan dadamu tetap tenang melihat harta benda yang tidak ternilai harganya itu, yang melihat pun baru setelah kita melakukan tugas aneh ini.”

“Agaknya kaulah yang mulai dihinggapi iblis.” desis kawannya.

Orang bertubuh raksasa itu tertawa. Katanya, “Mudah-mudahan kita semuanya berhati batu.”

Keduanya pun tidak berbicara lagi. Namun kawan-kawannya yang lain agaknya berbicara pula tentang persoalan yang mirip dengan yang mereka bicarakan dengan cara dan gayanya masing-masing.

Untuk beberapa lamanya sekelompok pengawal itu beristirahat setelah mereka yang terluka tidak lagi mengalirkan darah dari luka-lukanya, maka para pengawal itu pun segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Menembus hutan perbatasan dan kembali ke dalam barak mereka di daerah Pakuwon Kabanaran.

Ternyata perampokan-perampokan yang terjadi di Watu Mas itu cukup menggelisahkan. Para perampok yang bersarang di hutan perbatasan daerah Pakuwon Watu Mas ternyata tidak dapat mengimbangi kemampuan para perampok yang belum mereka kenal. Mereka tidak berhasil menangkap meskipun hanya seorang. Bahkan para perampok dari Watu Mas itu harus mengorbankan beberapa orang kawan mereka.

Kesatuan pengawal Watu Mas yang berada di tempat paling dekat dari tempat kejadian, telah mendapat laporan pula. Beberapa orang pengawal berkuda segera datang ke tempat itu, sesaat setelah Ki Buyut datang pula.

Ki Buyut dan pengawal Pakuwon Watu Mas itu pun segera meneliti keadaan. Mereka menemukan beberapa orang korban. Yang terluka dan yang telah terbunuh. Namun mereka tidak segera dapat menentukan, dari pihak manakah dari antara kedua gerombolan itu yang meninggalkan korban-korban itu. Sementara mereka belum sempat bertanya kepada orang-orang yang terluka, yang masih dapat memberikan keterangan apabila diminta.

Dalam pada itu, sebenarnyalah, para perampok yang telah melarikan diri itu pun telah menghubungi dengan tergesa-gesa pemimpin pengawal Pakuwon Watu Mas di perbatasan. Agaknya laporan memang mengejutkan mereka. Ternyata gerombolan perampok yang garang itu tidak berhasil mengimbangi kemampuan para perampok yang telah melakukan perampokan itu di Pakuwon Watu Mas.

Bersama beberapa orang pengawal, maka pemimpin pengawal itu pun datang pula di tempat kejadian. Sehingga dengan demikian, maka para pengawal itu dapat berbincang di antara mereka dan Ki Buyut.

Kesimpulan dari pembicaraan itu adalah, laporan kepada Akuwu di Watu Mas, karena peristiwa itu agaknya bukan peristiwa yang dapat diabaikan.

“Aku tidak boleh menunggu terlalu lama,” berkata pemimpin pengawal di perbatasan itu, “aku mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu, sehingga tindakan yang harus aku ambil harus mendapat persetujuan dari Akuwu, karena akan melibatkan kekuatan di luar rangkah.”

Baru pada hari berikutnya, setelah para korban yang terbunuh diselenggarakan sebagaimana seharusnya, maka seorang Senopati, utusan khusus dari Akuwu di Watu Mas telah datang untuk melihat keadaan. Beberapa keterangan dari saudagar itu, serta keterangan yang telah dihimpun sebelumnya mengenai peristiwa-peristiwa yang aneh, karena orang-orang yang tidak dikenal telah membagikan hadiah dan pemberian-pemberian yang kurang jelas maksudnya, maka Watu Mas mulai dapat mengurai keadaan yang mereka hadapi.

“Kita harus menutup perbatasan.” berkata Senopati itu.

Laporan itu ternyata disetujui oleh Akuwu di Watu Mas. Karena itulah, maka perbatasan antara kedua Pakuwon itu pun telah ditutup dan diawasi dengan saksama oleh orang-orang Watu Mas.

Namun demikian, Mahisa Bungalan masih juga berhasil menerobos lubang-lubang yang terdapat pada penjagaan di perbatasan itu, sehingga Mahisa Bungalan masih juga berhasil menyuap dan merampok di daerah Watu Mas.

Namun demikian, ternyata bahwa Mahisa Bungalan dan kawannya tidak dapat menutup jejak untuk seterusnya. Meskipun mereka selalu berhasil kembali dengan utuh, betapapun ada di antara mereka yang terluka, namun para pengawas di Watu Mas akhirnya mengetahui juga bahwa perampok-perampok yang aneh itu bersarang di daerah Pakuwon Kabanaran.

Laporan itu tidak terlalu mengejutkan bagi Akuwu di Watu Mas. Perhitungannya yang cermat memang sudah mengarah seperti laporan itu.

Karena itu, maka apa yang telah di lakukan oleh Akuwu di Watu Mas untuk menutup perbatasan itu telah diperkuat lagi.

“Kita harus menumpas mereka sampai ke sarangnya,” berkata Akuwu di Watu Mas, “tetapi hati-hati. Aku yakin, mereka bukan perampok yang sebenarnya. Mereka hanya ingin membuat imbangan dari kekecewaan mereka. Kami telah melarang mereka mengejar para perampok dan memasuki Pakuwon Watu Mas. Karena kami sendiri mampu untuk menumpas perampok-perampok yang demikian. Namun yang dilakukan oleh Pakuwon Kabanaran adalah penyerangan terhadap Watu Mas karena yang melaksanakan adalah para pengawal.”

Demikianlah, maka Watu Mas telah benar-benar bersiap untuk memasuki daerah Pakuwon Kabanaran karena menurut Akuwu di Watu Mas, Kabanaran telah mulai dengan peperangan. Yang memasuki Watu Mas bukan sekedar para penjabat, tetapi justru merupakan bagian dari usaha Kabanaran untuk melemahkan Pakuwon Watu Mas, dan dilakukan dalam rencana yang besar, memerangi Watu Mas.

Namun dalam pada itu, Kabanaran pun menyadari akan hal itu. Kabanaran tidak menutup mata melihat persiapan-persiapan di perbatasan. Karena itulah, maka Akuwu di Kabanaran telah memanggil Mahisa Bungalan untuk berbicara tentang persiapan Pakuwon Watu Mas.

“Kita akan bertahan,” berkata Akuwu di Kabanaran, “kita akan melawan pasukan Watu Mas di Pakuwon kita sendiri. Dengan demikian, tidak akan ada orang yang dapat menuduh, bahwa kita telah menyerang Watu Mas.”

“Kita harus menyiapkan ajang peperangan itu, sehingga rakyat tidak akan menjadi korban.” berkata para Senopati.

“Bagus,” sahut Akuwu Suwelatama, “kalian harus melakukannya sejak sekarang. Kita akan mempergunakan hutan perbatasan di daerah Kabanaran sebagai ajang. Kemudian beberapa padukuhan di lapisan pertama di belakang hutan itu harus dikosongkan. Sementara padukuhan itu akan dihuni oleh para pengawal dan anak-anak muda yang selama ini telah mengikuti latihan yang berat untuk menghadapi segala kemungkinan.”

“Kita harus memperhitungkan Pangeran Indrasunu dengan pasukan dari padepokan itu.” berkata Mahisa Bungalan.

“Karena itulah, maka kita juga menyiapkan anak-anak muda yang bukan pengawal, tetapi yang mempunyai keberanian dan tekad untuk ikut serta bertahan di garis pertama.”

Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun ia masih memerlukan pada satu kesempatan untuk melihat sendiri kesiagaan anak-anak muda yang telah menyatakan dirinya bersedia untuk ikut berada di medan.

Dengan sungguh-sungguh Mahisa Bungalan melihat dan menilai kemampuan mereka mempermainkan senjata. Dengan teliti Mahisa Bungalan memberikan penilaian terhadap mereka, sehingga para Senopati telah mendapatkan beberapa pertimbangan tentang anak-anak muda itu. Beberapa orang di antara mereka masih harus mendapat persiapan lebih matang lagi, karena mereka akan berhadapan dengan para pengawal di Watu Mas dan mungkin para cantrik dari padepokan-padepokan yang memiliki kemampuan yang cukup pula.

Dalam pada itu, maka mereka yang sudah dianggap cukup, segera dikirim ke daerah perbatasan bersama para pengawal dalam tahap-tahap yang tidak menarik perhatian. Beberapa padukuhan yang telah dikosongkan segera diisi oleh para pengawal dan anak-anak muda yang telah dipersiapkan, sementara di kota Pakuwon, anak-anak muda yang lain masih mengikuti latihan-latihan yang berat, untuk mempersiapkan mereka dalam waktu singkat. Jika perang berkobar, maka anak-anak muda itu akan di tarik ke medan secepatnya menyusul kawan-kawannya yang terdahulu.

Dengan demikian, maka pada garis perbatasan yang panjang, antara Pakuwon Kabanaran dan Pakuwon Watu Mas, telah terjadi persiapan-persiapan yang menegangkan. Sementara itu, maka kegiatan Mahisa Bungalan pun telah dihentikan. Para pengawal itu tidak akan dapat lagi menembus penjagaan yang semakin ketat dari para pengawal di Watu Mas.

Namun sebaliknya, para perampok dari Watu Mas pun tidak akan dapat melintasi perbatasan tanpa diketahui oleh para pengawal di Kabanaran.

Dalam suasana yang semakin panas, maka benturan-benturan kecil tidak dapat dihindari lagi. Jika kedua kelompok peronda berpapasan di perbatasan, maka mereka kadang-kadang tidak dapat mengendalikan diri lagi. Meskipun mereka tidak saling mendekat, namun ternyata mereka dengan sengaja telah membawa busur dan anak panah. Kadang-kadang mereka telah saling menyerang pada jarak jangkau anak panah dari daerah masing-masing.

Dalam pada itu, Akuwu di Kabanaran dan Akuwu di Watu Mas tidak lagi dapat membuat pertimbangan-pertimbangan lain. Apalagi ketika Pangeran Indrasunu yang sering berkunjung ke Pakuwon Watu Mas telah memberikan dorongan dan bahkan kesanggupan untuk membantu. Sehingga dengan demikian maka kemelut di perbatasan itu menjadi semakin panas.

Namun dalam pada itu, kedua belah pihak tidak ada yang telah menyampaikan persoalan kemelut itu kepada para pemimpin di Kediri dan apalagi Singasari. Mereka bertekad untuk menyelesaikan masalah mereka menurut keinginan mereka sendiri.

Baru kemudian apabila persoalan mereka telah selesai, maka mereka akan dapat memberikan laporan menurut sudut kepentingan mereka masing-masing.

Dalam pada itu, maka sentuhan-sentuhan para peronda di perbatasan, ternyata tidak dapat dikendalikan lagi. Para pengawal di Watu Mas benar-benar telah kehilangan kesabaran. Apalagi ketika mereka kemudian mengetahui, hutan di perbatasan yang semula menjadi sarang para pengawal yang menyebut dirinya para perampok dari hutan perbatasan.

“Kita akan menghancurkan landasan yang mereka pergunakan untuk memasuki wilayah Watu Mas.” berkata seorang Senopati Pakuwon Watu Mas.

“Mereka sudah agak lama tidak pernah muncul.” sahut seorang pengawal. Lalu, “Mungkin mereka sudah memindahkan sarangnya dan menyusun landasan baru.”

“Memang mungkin mereka tidak akan lagi mempergunakan cara itu.” berkata Senapati itu pula, “Tetapi sarang itu tentu masih ada siapa pun yang menungguinya. Mungkin para pengawal itu juga yang bertugas mengawasi perbatasan. Namun, siapa pun mereka, kami akan datang dan menghancurkannya.”

Demikianlah pasukan pengawal dari Pakuwon pengawal dari Pakuwon Watu Mas itu pun segera mempersiapkan diri. Dengan segelar sepapan mereka berniat menghancurkan salah satu landasan pengawal Kabanaran di perbatasan. Sementara para pengawal yang lain masih tetap berjaga-jaga dengan ketatnya.

Para pengawal dari Pakuwon Watu Mas itu pun sudah mendapat laporan bahwa padukuhan-padukuhan di belakang hutan perbatasan itu sudah kosong. Penghuninya sudah ditarik untuk mengungsi apabila terjadi peperangan yang seru.

“Mungkin padukuhan-padukuhan itulah yang kemudian menjadi sarang para pengawal. Mereka tidak lagi berada di hutan perbatasan. Karena itu, kita harus bersiap-siap menghadapi pertempuran yang besar.” berkata Senapati itu.

Meskipun demikian, Senapati itu pun cukup berhati-hati. Sebelum pasukannya berangkat, ia sudah mengizinkan dua orang petugas sandinya untuk mengawasi hutan perbatasan dengan diam-diam.

“Hutan itu telah lenyap,” berkata kedua orang itu, “kami menemukan beberapa barak yang sudah rapuh karena dibuat dengan tergesa-gesa. Tetapi barak itu sudah tidak berpenghuni lagi.”

Dengan demikian maka Senapati itu berkesimpulan, bahwa pasukan pengawal Kabanaran berada di padukuhan-padukuhan yang kosong.

“Hati-hatilah. Jangan dikelabuhi dengan akal licik orang-orang Kabanaran.” berkata Senapatinya.

Atas persetujuan Akuwu di Watu Mas, dan justru didorong oleh Pangeran Indrasunu, maka pasukan yang sudah dipersiapkan itu pun mulai bergerak. Mereka melintasi hutan perbatasan yang memang sudah kosong. Namun mereka maju lagi sampai ke seberang perbatasan.

Ketika mereka melihat sebuah rumah kecil, maka mereka mulai tertarik. Dua orang diperintahkan untuk melihat, rumah di pinggir hutan itu. Apakah rumah itu merupakan salah satu jebakan, atau semacam gardu peronda atau untuk keperluan lain.

Dua orang yang mendekati rumah itu sama sekali tidak melihat tanda-tanda bahwa rumah itu berpenghuni. Karena itu, maka kedua orang itu pun telah memberanikan diri membuka pintu lereg dari rumah itu.

Tidak ada seorang pun si dalam rumah itu. Namun tiba-tiba saja mereka telah melihat dua ekor burung merpati lepas dan terbang meninggalkan rumah itu. “Nampaknya penghuni rumah ini sudah pergi,” berkata yang seorang, “perabot rumah ini nampaknya cukup lengkap sampai ke alat-alat dapur.”

Kawannya mengangguk-angguk. Ketika mereka memperhatikan sebuah gentong yang besar, isinya sama sekali bukan air, tetapi jagung, yang agaknya merupakan makanan bagi burung-burung merpati itu. Sementara itu, di sudut rumah itu terdapat sebuah belanga yang berisi air.

Kedua orang itu mulai berpikir. Tiba-tiba salah seorang dari mereka menghentak sambil berkata, “Kita yang dungu. Dua ekor merpati itu dengan sengaja dipelihara di dalam rumah ini, dengan perhitungan, bahwa jika kami membuka pintu rumah ini, maka kedua ekor burung itu akan terbang dan kembali ke rumahnya.”

“Apa artinya?” bertanya yang lain.

“Kau memang bodoh,” jawab kawannya, “tidak ada orang yang akan datang ke tempat ini kecuali pasukan yang melintasi perbatasan. Di padukuhan itu, para pengawal selalu mengawasi gupon-gupon merpati yang dahulu milik penduduk di padukuhan itu.”

“O, aku mengerti sekarang. Dengan demikian, jika burung-burung itu kembali ke guponnya, berarti ada seseorang yang datang ke rumah ini.” berkata kawannya.

“Tidak seseorang, tetapi mereka sudah memperhitungkan, sepasukan. Tidak ada pengawas atau petugas sandi dari Watu Mas yang memberanikan diri sampai ke tempat ini tanpa pasukan.” berkata kawannya.

“Jika demikian, para pengawal di Kabanaran itu mengetahui bahwa kita akan datang?” bertanya kawannya.

“Kita akan melaporkannya.” sahut yang lain. Keduanya pun segera menemui Senapati yang memimpin serangan itu. Mereka pun melaporkan tentang burung merpati yang semula tidak mereka hiraukan itu.

“Aku tidak peduli,” berkata Senapati itu, “mereka tidak akan sempat mengumpulkan pasukan dari padukuhan-padukuhan yang jauh. Karena itu, kita tentu akan dapat menyelesaikan tugas kita kali ini dengan baik. Kita akan kembali dengan membawa kemenangan.”

Para pengawal dari Watu Mas itu mengangguk-angguk. Mereka pun membayangkan, bahwa pasukannya akan dapat menghancurkan salah satu kekuatan dari deretan pasukan pengawal Kabanaran yang bersiaga di perbatasan.

“Jika ada satu lubang pada sebuah tanggul yang dilanda banjir bandang,” berkata Senapati itu, “maka tanggul itu tentu akan menjadi semakin lebar. Akhirnya tanggul itu akan bedah dan air pun akan melimpah menghanyutkan segalanya yang diterjangnya.”

Para pengawal itu mengangguk-angguk pula. Dengan demikian maka dengan keyakinan yang pernah mereka melangkah maju. Mereka yakin bahwa lawan mereka berada padukuhan-padukuhan yang berada di belakang hutan perbatasan.

Sementara itu, Mahisa Bungalan dan para pengawal yang menjadi sasaran itu pun telah dikejutkan oleh burung-burung merpati yang mereka tempatkan di hutan perbatasan. Seorang pengawal yang bertugas mengawasi gupon burung merpati itu melihat, sepasang burung itu pulang ke dalam guponnya.

Karena itulah, maka dengan tergesa-gesa pengawal itu pun segera melaporkannya kepada Mahisa Bungalan, bahwa tentu ada seseorang yang telah membuka pintu rumah di pinggir hutan itu.

“Kita harus bersiap-siap.” katanya kepada para pemimpin pengawal.

Dengan cepat perintah itu pun segera menjalar. Dengan kuda para penghubung menyampaikan berita itu kepada padukuhan di sebelah menyebelah, yang harus menyampaikan berita itu beranting ke padukuhan berikutnya.

“Kita harus siap untuk pergi ke padukuhan yang menjadi sasaran.” berkata para penghubung. “Jika kita memerlukan bantuan, maka seperti yang sudah kita sepakati, kita akan meluncurkan panah sendaren.”

Dengan demikian, maka para pengawal itu bukan saja siap menunggu lawan yang bakal datang, tetapi mereka harus bersiap untuk pergi ke padukuhan terdekat yang memerlukan bantuan, apabila padukuhan itulah yang menjadi sasaran.

Sementara itu, dua orang pengawas telah diperintahkan untuk pergi ke sebuah gumuk di hadapan padukuhan itu untuk mengamati keadaan. Jika mereka melihat sesuatu yang dianggap penting, mereka harus segera melaporkan.

Dalam pada itu, kedua pengawal itu telah berada di atas sebuah gumuk kecil. Betapa mereka menjadi terkejut, ketika mereka melihat pasukan segelar sepapan mendekati padukuhan yang berada di jalur jalan yang sedang dilalui oleh pasukan itu.

Karena itu, maka dengan serta merta, mereka pun segera kembali untuk melaporkan, bahwa lawan yang datang adalah pasukan segelar sepapan.

“Pasukan yang berada di beberapa padukuhan harus dikumpulkan ke dalam waktu dekat.” berkata pengawas itu.

Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar. Yang datang itu bukan sekedar sekelompok perampok di hutan perbatasan. Tetapi mereka adalah pasukan Pengawal dari Watu Mas.

Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun segera memerintahkan, untuk mengirimkan isyarat kepada padukuhan-padukuhan terdekat yang akan meneruskan isyarat itu ke padukuhan-padukuhan berikutnya.

Sesaat kemudian, maka panah sendaren pun telah meraung di udara. Sebagaimana telah disepakati, isyarat itu akan dilakukan ganda tiga kali apabila keadaan sangat mendesak.

Para pengawal di padukuhan sebelah menyebelah pun menerima isyarat itu dengan hati yang berdebar-debar. Dengan tergesa-gesa mereka bersiap. Sebagian kecil di antara mereka yang mendapat seekor kuda untuk melakukan hubungan yang tergesa-gesa, telah mendahului ke padukuhan sumber isyarat itu. Meskipun jumlah mereka sangat kecil, tidak lebih dari lima orang di setiap padukuhan, namun kehadiran mereka dari beberapa padukuhan telah menambah jumlah para pengawal yang akan menjadi sasaran pasukan segelar sepapan, sementara pengawal yang lain, akan dengan segera menyusul.

Beberapa pasukan kecil yang muncul dari padukuhan-padukuhan itu pun berlari-lari kecil menuju ke padukuhan sumber isyarat. Hanya beberapa orang sajalah yang tinggal di padukuhan masing-masing untuk mengawasi keadaan, agar padukuhan-padukuhan itu tidak kosong sama sekali.

Pasukan dari Watu Mas itu pun sebenarnya tidak mengetahui, padukuhan yang manakah yang menjadi induk dari sekelompok padukuhan yang ada di daerah itu, yang merupakan bagian dari jalur yang panjang, yang merupakan perbatasan antara Watu Mas dan Kabanaran.

Jika Senopati dari Watu Mas itu menuju ke tempat itu, adalah karena ia mendapat keterangan bahwa tempat itu dan barangkali padukuhan di belakangnya adalah sarang mereka yang menamakan diri para perampok dari Kabanaran yang melakukan kegiatannya di Watu Mas.

Meskipun demikian, Mahisa Bungalan ingin meyakinkan, bahwa pasukan lawan itu benar-benar menuju ke padukuhan yang sudah dipersiapkan, tidak di padukuhan yang lain.

“Biarlah sepasukan kecil peronda memancing mereka agar pasukan itu datang kemari, sementara kita menyusun gelar untuk menerima mereka sambil menunggu kawan-kawan kita yang tentu akan segera datang.” berkata Mahisa Bungalan.

Dengan sigap lima orang pengawal berusaha memancing perhatian pasukan yang datang itu agar tidak menuju ke padukuhan yang lain, sementara para pengawal berusaha untuk menyusun gelar di luar padukuhan. Beberapa orang memanjat gumuk dan yang lain berada di balik tanggul. Bagian yang terdepan dari pasukan Mahisa Bungalan adalah pasukan yang akan menghambat laju gelar lawan, pasukan berpanah.

Dengan busur-busur terentang, para pengawal yang berada di paling depan itu pun telah siap menyambut kedatangan pengawal dari Watu Mas. Sementara itu, para pengawal yang berada di padukuhan-padukuhan lain dengan tergesa-gesa berusaha untuk segera mencapai padukuhan yang telah memberikan isyarat memanggil mereka.

Ketika sebagian dari mereka telah memasuki padukuhan yang menjadi sasaran, maka para pengawal itu pun segera menyesuaikan diri dengan persiapan sebelumnya.

Ternyata bahwa usaha memancing pasukan lawan itu pun berhasil. Para pengawal yang menampakkan diri itu pun segera mundur ke daerah pertahanan kawan-kawannya.

Tetapi para pengawal dari Watu Mas pun tidak terlalu bodoh. Mendekati pertahanan pasukan pengawal di Kabanaran, maka mereka yang berperisai di tempatkan di paruh gelar.

Tetapi para pengawal Watu Mas yang berada di gumuk-gumuk dan di balik tanggul, belum menerima isyarat perintah untuk menyerang ketika paruh pasukan lawan melalui pertahanan mereka langsung menuju ke padukuhan. Namun demikian ujung paruh itu lewat, Mahisa Bungalan baru memberikan isyarat untuk menyerang, justru pada lambung pasukan lawan.

Serangan itu memang mengejutkan. Para pengawal dari Watu Mas menganggap bahwa mereka belum memasuki daerah pertahanan lawan. Namun ternyata mereka sudah melampaui lapis pertama yang dengan sengaja melepaskan pasukan berperisai untuk memasuki pertahanan pada lapisan berikutnya.

Anak panah yang menghunjam pada lambung pasukan dari arah sebelah menyebelah, menyebabkan laju pasukan lawan terhambat. Para pengawal dari Watu Mas itu terpaksa melawan hujan anak panah dengan senjata mereka. Namun bagaimanapun juga, anak panah itu telah menyusup di antara senjata-senjata yang berputaran mematuk tubuh-tubuh mereka.

Beberapa orang dari para pengawal Watu Mas telah terluka sebelum pasukan itu berbenturan.

Dalam pada itu, pasukan yang berperisai, yang sebelumnya justru telah melampaui pertahanan pada lapisan pertama itu, harus menarik mundur, melindungi lambung yang terserang oleh pasukan pengawal Kabanaran pada lapis pertama.....

Bersambung... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...