Senin, 04 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 032-04

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 032-04*

Kawan-kawannya tidak tahu juga apa yang harus mereka lakukan. Karena itu, maka seorang di antara mereka menjawab. “Kita menunggu perintah Ki Bekel.”

Sebenarnyalah bahwa Ki Bekel pun menjadi bingung. Beberapa orang bebahu telah dipanggilnya di gardu di ujung lorong. Dengan gelisah Ki Bekel itupun telah minta pendapat para bebahu itu.

“Anak-anak muda itu baru pulang sebentar untuk melihat pondok mereka yang pernah dirusak oleh harimau-harimau itu,“ berkata salah seorang bebahu.

“Suara itu berasal dari pondok kecil itu. Agaknya pondok kecil itu memang menjadi sasaran harimau,“ berkata bebahu yang lain.

“Tetapi harimau itu tentu tidak hanya seekor,“ berkata Ki Bekel, “sebenarnya kita harus menengoknya. Anak-anak itu sudah bersedia membantu kita. Jika mereka sendiri mengalami kesulitan, apakah kita tidak datang membantunya?”

Para bebahu itu termangu-mangu. Namun seorang di antara mereka berkata, “Marilah. Kita beramai-ramai melihatnya.”

Ki Bekel itupun kemudian berkata kepada sejumlah laki-laki dan anak-anak muda yang ada di sekitar gardu itu, “Saudara-saudaraku. Marilah kita pergi ke pondok kecil itu.”

Beberapa orang nampak termangu-mangu. Karena itu maka Ki Bekel pun berkata, “Hanya mereka yang tidak merasa ketakutan. Kita wajib melihat apa yang terjadi. Kita sudah mendengar aum beberapa ekor harimau. Sementara di pondok itu hanya tinggal Tatas Lintang dengan ketiga orang kemanakannya. Sekali lagi, hanya mereka yang memiliki keberanian. Sementara itu, kita yakin bahwa kita memiliki kelebihan dari seekor harimau, karena kita mempunyai akal. Kita akan dapat membunuh seekor harimau. Dengan sepuluh ujung pedang, harimau itu akan dapat kita bunuh.”

Beberapa orang termangu-mangu. Namun akhirnya ketika Ki Bekel dan para bebahu mulai bergerak, sejumlah laki-laki dan anak-anak muda pun mengikutinya. Bahkan di sepanjang jalan yang mereka lalui, maka kelompok itu jumlahnya bertambah-tambah.

Namun seorang di antara mereka berbisik kepada kawannya, “Harimau itu lebih dari seekor.”

“Ya, Aumnya menunjukkan kepada kita,“ jawab yang lain.

Tetapi mereka tidak berhenti. Mereka tetap mengikuti Ki Bekel yang berjalan menuju ke pategalan di sisi padukuhan.

Sementara itu, orang yang memiliki tanah itupun telah pergi bersama Ki Bekel itu. Pemilik tanah itupun sudah mendengar apa yang pernah terjadi dan dilakukan oleh Tatas Lintang. Baik terhadap yang dengan serakah ingin merampas kerja yang sudah diterimanya dari pemilik tanah itu, maupun apa yang telah terjadi di dekat pasar.

Namun ketika tiba-tiba terdengar harimau itu mengaum sekali lagi, lebih keras, maka iring-iringan itupun berhenti.

“Dua ekor harimau,“ gumam seorang bebahu.

“Ya, kita mendengar aum dua ekor harimau. Tetapi dengan demikian tentu lebih dari dua ekor yang berada di pondok itu,“ sahut Ki Bekel, “betapapun kuatnya keempat orang itu, namun jiwa mereka ada dalam bahaya.”

Meskipun jantung mereka menjadi semakin cepat berdebar, tetapi mereka pun kemudian melanjutkan langkah mereka menuju ke pondok kecil di sudut pategalan di luar dinding padukuhan itu.

Dalam pada itu, setelah ketiga harimau yang lain terbunuh, dua di antaranya yang merunduk bersama untuk menerkam Tatas Lintang, harus berhadapan dengan keempat orang yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Dua ekor harimau itu tidak mempunyai banyak kesempatan. Sebelum keduanya meloncat menerkam Tatas Lintang, maka keduanya telah mengalami nasib buruk. Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura lah yang telah mendahului menyerang keduanya.

Namun Justru pada saat kedua ekor harimau itu mengaum sambil menggeliat sebelum mati, Tatas Lintang telah berlari ke arah yang berlawanan dari arah harimau itu merunduk. Dengan satu hentakkan ia telah melepaskan serangannya dari jarak jauh ke arah sudut lawannya.

Serangan itu memang dahsyat sekali. Sekilat sinar memancar dari telapak tangannya yang mengembang menyambar sasaran.

Namun yang terdengar adalah sebatang pohon yang berderak dan kemudian terguncang keras sekali. Sejenak kemudian pohon yang tidak terlalu besar itupun telah roboh dengan suara gemeresak.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dari Mahisa Ura kemudian melangkah pula cepat-cepat ke arah Tatas Lintang yang berdiri termangu-mangu.

“Siapa?“ bertanya Mahisa Ura.

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku gagal, setidak-tidaknya mengikatnya dalam perkelahian.”

“Tetapi siapa?“ desak Mahisa Ura.

“Aku tidak yakin, siapakah orang itu. Tetapi aku merasakan kehadirannya di tempat itu. Ketika aku melepaskan serangan, aku memang melihat bayangan yang lenyap dalam kegelapan.”

Mahisa Ura berpaling ke arah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang menegang. Keduanya lebih memperhatikan dua ekor harimau yang merunduk dan hampir menerkam Tatas Lintang. Kemudian keduanya telah membunuh harimau itu bersama Mahisa Ura. Karena itu mereka tidak memperhatikan bayangan yang dilihat oleh Tatas Lintang.

Namun dengan demikian, maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun semakin menyadari kelebihan Tatas Lintang dalam beberapa segi daripada mereka.

“Sudahlah,“ berkata Tatas Lintang, “Aku kira orang itulah yang mengendalikan harimau-harimau itu.”

“Tetapi harimau-harimau itu semula tidak seluruhnya berada di satu pihak dari pondok kita,“ jawab Mahisa Pukat.

“Itu tidak perlu,“ berkata Tatas Lintang kemudian, “orang itu dapat mengendalikan harimau-harimau itu tanpa melihatnya. Tetapi mengetahui tempatnya.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu, maka mereka pun telah mendengar suara gemeresak. Sejenak kemudian mereka pun menjadi jelas, suara itu adalah suara sekelompok orang yang datang ke pondok itu.

“Siapa?“ bertanya Mahisa Ura.

“Entahlah. Tetapi mungkin orang-orang padukuhan yang mendengar aum harimau itu,“ jawab Tatas Lintang.

Ternyata dugaan itu benar. Beberapa saat kemudian, maka mereka pun melihat beberapa orang mendatangi halaman rumah itu. Ada di antara mereka yang membawa obor.

Tatas Lintang lah yang kemudian menyongsong mereka di pagar halaman. Sambil membungkuk hormat ia berkata, “Marilah Ki Bekel. Silahkan.”

Beberapa orang telah memasuki halaman, sementara yang lain menunggu di luar.

Namun seorang di antara mereka yang membawa obor berteriak sambil meloncat ke arah Ki Bekel.

“Ada apa?“ bertanya Ki Bekel.

“Harimau,“ jawab orang itu dengan suara gemetar.

Beberapa orang pun kemudian melihat, lima bangkai harimau terkapar di halaman itu.

“Lima ekor harimau,“ teriak seseorang dengan mata terbelalak.

Sebenarnyalah di halaman rumah itu bertebaran lima bangkai harimau yang besar. Harimau loreng.

Justru karena itu maka orang-orang yang berada di luar-pun telah berlari-larian masuk. Mereka ingin melihat, apakah benar ada lima ekor harimau terbunuh di halaman itu.

“Siapakah yang membunuh?“ bertanya Ki Bekel.

“Kami,“ jawab Tatas Lintang singkat.

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah mengira. Namun aku pun merasa cemas sebelumnya oleh auman harimau-harimau itu, sehingga aku mengajak beberapa orang kemari. Tetapi seandainya kelima harimau itu masih hidup, maka tidak seorang pun yang akan berani memasuki halaman.”

Namun dalam pada itu, seorang di antara mereka bertanya, “Bagaimana mungkin kalian berempat mampu membunuh lima ekor harimau.”

Tatas Lintang tertawa. Katanya, “Biasa saja. Kami mempunyai kesempatan lebih baik daripada harimau itu, karena kami memiliki akal dan kemampuan memperhitungkan sesuatu. Sedangkan harimau tidak.”

“Tentu bukan karena itu,“ jawab seseorang, “kalian tentu mempunyai ilmu yang tidak kami ketahui.”

“Salah satu kecerdikan manusia adalah mempelajari ilmu. Itu memang termasuk kelebihan kita seperti yang sudah aku katakan, karena harimau tidak akan mampu mempelajari ilmu apapun juga.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.

Sementara itu maka Tatas Lintang pun telah bertanya kepada Ki Bekel, “Apakah yang sebaiknya kita lakukan dengan harimau-harimau itu?”

“Apa rencanamu?“ bertanya Ki Bekel pula.

“Terserah kepada Ki Bekel,“ jawab Tatas Lintang, “kami tidak memerlukan harimau-harimau itu. Mungkin Ki Bekel atau orang-orang padukuhan ini memerlukan kulitnya.”

“Menarik sekali,“ desis seseorang.

Ki Bekel mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Apakah kira-kira harimau ini tidak ada yang lain lagi?”

“Seandainya ada lagi sudah aku katakan, kita memiliki banyak kelebihan dari harimau-harimau itu. Kita dapat mempergunakan tombak, pedang atau senjata-senjata yang lain. Apalagi kita melawannya dalam kelompok yang besar. Maka harimau itu tentu tidak berarti apa-apa. “jawab Tatas Lintang.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Bawalah ke banjar. Besok kita akan mengulitinya. Kulit harimau termasuk barang yang mahal harganya.”

Beberapa orang pun kemudian telah membawa harimau itu ke banjar. Karena harimau itu berat, maka mereka telah mencari batang-batang bambu untuk menggotong harimau-harimau itu.

Namun demikian sepanjang jalan, orang-orang itupun masih saja berdebar-debar. Mereka berada di jalan di luar dinding padukuhan. Jika masih ada kawanan harimau itu, maka mereka tentu akan datang menyerang karena mereka mencium bau bangkai. Bangkai harimau yang mereka bahwa ke banjar itu.

Tetapi seperti yang dikatakan oleh Tatas Lintang. Mereka berjumlah banyak. Apalagi karena orang-orang yang berada di tempat-tempat lain di padukuhan itu telah datang pula untuk melihat harimau-harimau yang mati itu.

“Luar biasa,“ desis seseorang, “hampir tidak masuk akal. Empat orang mampu membunuh lima ekor harimau sebesar itu.”

“Tetapi itu sudah terjadi,“ sahut yang lain.

“Ya. Mungkin akalku lah yang terlalu pendek.“ jawab yang pertama.

Merekapun terdiam. Namun mereka ikut pula dalam iring-iringan menuju ke banjar itu.

Ketika mereka memasuki regol padukuhan, maka mereka pun menjadi agak tenang. Meskipun harimau-harimau itu ternyata dengan mudah dapat memasuki dinding padukuhan, namun rasa-rasanya masih ada batas yang melindungi mereka dari harimau-harimau itu.

Demikian mereka sampai di banjar, maka harimau itupun telah mereka letakkan begitu saja di halaman banjar. Orang-orang yang membawa harimau-harimau itu meskipun bergantian, merasa letih juga karena harimau itu memang berat.

“Tinggallah saja di situ,“ berkata Ki Bekel, “besok kita akan mengulitinya. Sekarang kalian dapat kembali dengan tenang. Malam ini tidak akan ada harimau yang menerkam kambing. Meskipun begitu, penjagaan di gardu-gardu serta pengawasan di regol-regol butulan padukuhan harus tetap dilakukan.”

Orang-orang yang berkerumun di banjar itupun seorang demi seorang telah pergi. Bahkan kemudian kelompok-kelompok kecil telah keluar dari banjar itu dengan penuh kekaguman.

“Besok, harimau-harimau itu akan menjadi tontonan anak-anak yang sangat menarik,“ berkata salah seorang di antara mereka.

“Kita akan dapat menunjukkan kepada anak-anak kita bahaya di luar dinding padukuhan. Jika mereka bermain di terang bulan, jangan bersembunyi di luar dinding padukuhan, karena harimau-harimau itu akan dapat mengintai mereka. Bukan hanya seekor. Malam ini lima ekor sekaligus. “Jawab yang lain.

Perlahan-lahan halaman banjar itupun menjadi kosong. Ki Bekel lah yang kemudian meninggalkan halaman itu terakhir bersama dua orang bebahu. Karena itulah, maka banjar itupun telah menjadi kosong. Yang terisi kemudian ada gardu di luar regol banjar itu, meskipun pintu regol itu tidak pernah ditutup dan diselarak.

“Berjagalah baik-baik,“ berkata Ki Bekel ketika ia melalui pintu regol itu. “Mungkin masih ada harimau yang ingin mencari kawan-kawannya dan menuju ke banjar ini.”

Anak-anak muda yang berjaga-jaga di gardu itu menjadi berdebar-debar. Tetapi beberapa orang hampir berbareng menjawab, “Baik Ki Bekel.”

Namun sepeninggal Ki Bekel seorang di antara mereka berkata, “Apakah mungkin masih ada harimau yang lain?”

“Tentu tidak,“ jawab kawannya, “semuanya sudah terbunuh.”

“Apakah di hutan itu hanya ada lima ekor harimau?“ bertanya yang pertama pula.

Kawannya tidak menjawab. Namun ketegangan membayang di wajah anak itu. Jika benar seekor saja harimau sebesar itu datang ke regol banjar, apakah yang dapat mereka lakukan? Meskipun mereka tidak hanya dua atau tiga orang, tetapi lebih banyak lagi. Namun menghadapi seekor harimau tentu akan mengalami kesulitan.

Sementara itu, Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu telah berada di dalam pondok mereka yang telah berserakan pula. Namun amben mereka ternyata tidak rusak seperti yang pernah terjadi. Mereka masih dapat tidur di atas amben itu, meskipun mereka sepakat untuk bergantian.

“Mungkin tidak akan ada harimau lagi datang kemari. Setidak-tidaknya untuk malam ini,“ berkata Tatas Lintang, “tetapi bayangan yang aku rasakan kehadirannya itu rasa-rasanya selalu mengganggu saja. Mungkin ia masih berada di sekitar pondok ini. Mungkin ia akan datang mendekat dan membakar pondok ini. Jika tidak dengan api akan dapat dilakukannya dengan ilmunya.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengangguk-angguk. Karena itu, maka mereka sepakat untuk mempergunakan sisa malam itu bergantian.

Karena itu, waktu mereka memang sangat pendek. Bahkan ketika Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mendapat giliran beristirahat tidur nyenyak, Mahisa Murti dan Tatas Lintang tidak membangunkannya, karena sisa malam tinggal terlalu pendek.

Baru ketika matahari membayang, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura telah terbangun sendiri. Sementara itu Tatas Lintang-pun berkata, “Kita tidak mempunyai kerja apa-apa hari ini.”

“Besok kita baru akan mulai bekerja di sawah di ujung padukuhan ini. Karena itu, aku akan tidur pagi ini. Mungkin Mahisa Murti pun akan tidur juga.”

“Ya,“ jawab Mahisa Murti, “meskipun tidur di saat matahari sudah terbit, rasa-rasanya tidak menyegarkan badan. Tetapi aku memang letih.”

Karena itulah, maka Mahisa Murti dan Tatas Lintang itu-pun justru pergi tidur sementara Mahisa Pukat dan Mahisa Ura telah merebus air.

Namun sejenak kemudian, mereka pun telah dikejutkan oleh beberapa orang yang datang berlari-lari ke pondok itu. Sebelum mereka memasuki halaman, mereka sudah berteriak-teriak memanggil nama Tatas lintang.

Tatas Lintang yang sudah berbaring di amben besar di dalam pondoknya terkejut. Dengan serta merta iapun telah meloncat turun disusul oleh Mahisa Murti. Ketika mereka berdua keluar dari pondoknya, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun telah berlarian pula ke halaman depan.

Tatas Lintang yang menyongsong mereka pun menjadi berdebar-debar. Sementara itu. seorang di antara mereka yang berlari di paling depan berhenti dua langkah dihadapan Tatas Lintang.

Dengan nafas yang memburu, orang itu berkata terbata-bata, “Harimau itu.”

“Harimau itu kenapa?“ bertanya Tatas Lintang.

“Yang di banjar,“ orang itu masih saja nampak bingung.

“Tenanglah,“ berkata Tatas Lintang, “katakan dengan jelas apa yang telah terjadi.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk menenangkan dirinya. Kemudian katanya meskipun masih juga dengan suara bergetar, “Bangkai-bangkai harimau itu hilang.”

“Hilang?“ Tatas Lintang benar-benar terkejut. Demikian pula Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura.

“Bagaimana mungkin bangkai-bangkai harimau itu dapat hilang? Bukankah ada beberapa orang yang berjaga-jaga di banjar?“ bertanya Tatas Lintang.

“Ya. Ada beberapa orang anak muda yang berjaga-jaga di gardu di depan regol banjar,“ jawab orang itu.

“Jadi, bagaimana dengan para penjaga itu? Apakah mereka tidak mampu mencegah orang yang mengambil bangkai-bangkai harimau itu atau mereka memang tidak tahu, bagaimana bangkai-bangkai harimau itu hilang. Apakah para penjaga itu mengalami cidera?“ bertanya Tatas Lintang pula.

“Mereka tidak apa-apa,“ jawab orang itu dengan nafas yang masih terengah-engah.

Tatas Lintang termenung sejenak. Namun kemudian katanya kepada ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu, “Marilah kita pergi ke banjar.”

Ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itupun dengan tergesa-gesa membenahi diri. Tetapi mereka tidak sempat mandi.

Dengan tergesa-gesa keempat orang itu telah pergi ke banjar diikuti oleh-beberapa orang yang datang ke rumahnya. Mereka sama sekali tidak sempat berbicara apapun di perjalanan. Rasanya jantung mereka telah menjadi tegang.

Ketika mereka sampai di halaman banjar, maka Ki Bekel dan beberapa orang bebahu telah berada di banjar itu pula. Merekapun nampak tegang dan gelisah.

“Siapakah yang semalam bertugas di banjar?“ bertanya Tatas Lintang kepada Ki Bekel.

Ki Bekel kemudian memanggil seorang anak muda yang semalam bertanggung jawab atas penjagaan banjar padukuhan itu.

“Katakanlah, apa yang telah terjadi,“ berkata Ki Bekel kepada anak muda itu.

Anak muda itupun kemudian telah menceriterakan kepada Tatas Lintang, apa yang dialaminya bersama kawan-kawannya semalam.

“Kami tidak tahu apa yang telah membuat kami semuanya kehilangan penguasaan diri,“ berkata anak muda itu, “ketika kami sadar, ternyata bahwa kami semuanya telah tertidur di gardu. Dua orang awan kami yang sedang berada di banjar pun telah tidur pula dengan nyenyak sekali. Baru ketika kami dibangunkan oleh orang yang lewat di depan regol banjar, kami baru terbangun dan menyadari apa yang telah terjadi.”

“Sirep,“ terdengar Mahisa Pukat berdesis.

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata kepada Ki Bekel, “Sirep, Ki Bekel. Sirep yang sangat tajam, sehingga anak-anak itu tertidur sampai matahari terbit.”

“Sementara itu mereka tidak tahu apa yang telah terjadi di halaman banjar. Mereka tidak tahu, bahwa bangkai-bangkai harimau itu sudah dicuri orang.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Luar biasa. Berapa orang yang telah datang mencuri di banjar itu. Lima ekor harimau yang cukup besar. Bagaimana mereka membawa kelima ekor harimau itu? Bagaimana mereka membawa keluar dari padukuhan ini, sementara di regol-regol padukuhan pun telah dijaga? Anak-anak yang berjaga-jaga di regol-regol padukuhan itu tidak terkena sirep. Mereka tetap berjaga-jaga semalam suntuk.”

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang pernah mendapat pengalaman yang sama masih tetap berdiam diri. Keduanya pernah meninggalkan bangkai harimau di dekat batu yang berwarna kehijau-hijauan itu. Ketika mereka bersama-sama dengan orang-orang padukuhan akan mengambilnya, ternyata bangkai harimau itupun telah hilang pula.

Namun bangkai harimau itu berada di tempat terbuka, sehingga tidak terlalu sulit untuk mengambilnya dan membawanya pergi. Tidak banyak orang yang sampai ke tempat itu, sehingga karena itu, kecil sekali kemungkinannya untuk diketahui atau dilihat orang. Berbeda dengan bangkai-bangkai harimau yang berada di banjar itu.

Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat menduga bahwa orang yang mengambil bangkai harimau itu berapa pun jumlahnya, adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi.

Tetapi baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat masih belum mengatakannya dalam hubungannya dengan hilangnya lima bangkai harimau di halaman banjar itu.

Dalam pada itu, maka Tatas Lintang pun berkata, “Ki Bekel. Ternyata bahwa harimau itu mempunyai hubungan dengan peristiwa-peristiwa yang masih terselubung. Karena itu, biarlah kami berusaha untuk memecahkannya. Meskipun mungkin kami benar-benar akan kehilangan jejak. Tetapi kami akan tetap berusaha. Namun tidak mustahil bahwa kami akan mengalami kegagalan.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Aku percaya Ki Sanak. Kalian telah berbuat sejauh-jauh dapat kalian lakukan. Kalian pun telah membuat pangeram-eram di sini. Menurut perhitungan kami mustahil bahwa empat orang akan dapat membunuh lima ekor harimau sebesar itu.”

“Sudah berkali-kali aku katakan, bahkan kita seharusnya mempunyai lebih banyak kesempatan dari harimau-harimau itu, karena kita mempunyai akal.“ jawab Tatas Lintang. Namun kemudian katanya, “Meskipun demikian, kita tidak boleh mengingkari bahwa harimau memang memiliki kekuatan yang luar biasa.”

“Baiklah Ki Sanak,“ berkata Ki Bekel, “kami minta kalian untuk tetap berada di padukuhan ini. Mungkin masih akan ada bencana yang akan menerkam padukuhan ini. Seandainya bukan berujud harimau, mungkin dalam ujud yang lain.”

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan nada datar ia berkata, “Ada sesuatu yang akan aku katakan kepada Ki Bekel.”

“Apa ?“ bertanya Ki Bekel.

“Aku akan mengatakannya pada kesempatan lain,“ jawab Tatas Lintang.

Ki Bekel mengerutkan keningnya. Tetapi ia mengerti, bahwa yang akan dikatakan oleh Tatas Lintang itu tidak perlu didengar oleh banyak orang. Karena itu, maka katanya, “Marilah, kita pergi ke rumahku.”

Tatas Lintang termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya Ki Bekel memberikan pesan kepada para petugas di banjar ini. Mereka harus mempunyai pegangan, meskipun menurut perhitunganku, harimau itu tidak akan datang di siang hari.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Mereka pernah mengalami, bahwa harimau itu datang di siang hari. Namun mereka tidak dengan tergesa-gesa menyahut. Mereka akan mengatakan pengalaman mereka jika mereka mendapat kesempatan untuk berbicara khusus dengan Ki Bekel.

Ki Bekel pun kemudian memberikan pesan, agar penjagaan dilakukan meskipun di siang hari. Jika mereka merasakan sesuatu yang asing, apapun juga, agar mereka membunyikan isyarat. Sejenak kemudian Ki Bekel pun kembali ke rumahnya diiringi oleh Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakuinya sebagai kemanakannya, sementara dua orang bebahu telah tinggal di banjar bersama orang-orang yang masih diganggu oleh perasaan heran, karena peristiwa yang baru saja terjadi.

Di rumah Ki Bekel, maka Tatas Lintang pun telah berkata, “Ki Bekel. Sebenarnya kami tidak berkeberatan untuk tetap berada di padukuhan ini. Tetapi sebagaimana Ki Bekel ketahui, agaknya kamilah yang menjadi sasaran dari kelima ekor harimau itu. Bukan padukuhan ini. Karena itu, selama kami masih berada di padukuhan ini, maka justru padukuhan ini masih akan selalu diganggu oleh harimau-harimau. Atau mungkin justru oleh peristiwa-peristiwa lain yang akan dapat menyulitkan rakyat padukuhan ini.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi bukankah kau sudah cukup lama berada di padukuhan ini? Jika benar kaulah yang menyebabkannya, kenapa baru sekarang? Bukankah sejalan dengan pikiranmu, maka yang menyebabkan kehadiran harimau-harimau itu tentu ketiga orang kemanakanmu itu.”

Tatas Lintang termangu-mangu. Namun Mahisa Murti lah yang menjawab, “Mungkin benar Ki Bekel. Sebelum kami datang agaknya paman Tatas Lintang tidak pernah diganggu oleh siapapun atau oleh apapun. Namun setelah kami berada di sini, maka harimau-harimau itupun telah berdatangan.“ Mahisa Murti berhenti sejenak, lalu, “Sebenarnyalah bahwa kami pun pernah mengalami gangguan harimau seperti ini. Justru di siang hari, di tepi hutan.”

“Tetapi di tepi hutan,“ jawab Ki Bekel, “bukankah itu wajar sekali. Namun sebenarnyalah kami tidak ingin menyalahkan kalian karena kehadiran harimau-harimau itu.”

“Aku mengerti,“ jawab Mahisa Murti, “tetapi aku ingin mencoba mencari sebab sebenarnya dari kehadiran harimau-harimau ini. Ketika kami berhasil membunuh harimau-harimau yang datang mengganggu kami, maka di sore harinya, ketika kami berusaha mengambil bangkai harimau itu untuk dikuliti, harimau-harimau itupun telah hilang pula.”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Mungkin kau benar. Harimau-harimau itu memang mencarimu.”

“Mungkin Ki Bekel,“ berkata Tatas Lintang. Namun katanya kemudian, “Tetapi sebelumnya, tidak seorang pun yang memperhatikan kehadiranku di sini. Tetapi setelah kami kehilangan kesabaran dan mulai berkelahi, maka kehadiran kami di sini sangat menarik perhatian banyak orang. Banyak orang yang menyangka bahwa kami memiliki ilmu yang tinggi, sehingga mungkin sekelompok orang menganggap perlu menjajagi kemampuan kami dengan harimau-harimau itu.”

Ki Bekel mengangguk-angguk pula. Namun katanya, “Ki Sanak. Kau sudah aku anggap keluarga sendiri di sini. Demikian pula ketiga orang kemanakanmu itu. Karena itu biarlah kalian tinggal di sini. Apapun yang akan terjadi. Bahkan ternyata aku telah dapat mengatasi kesulitanmu sendiri.”

“Tetapi tiga ekor kambing sudah dikorbankan.“ jawab Tatas Lintang.

“Apa artinya tiga ekor kambing dari satu persahabatan yang akrab. Jangan hiraukan.“ jawab Ki Bekel, “pemilik kambing itu pun telah melupakannya.”

Tatas Lintang termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Kami mengucapkan terima kasih Ki Bekel. Tetapi sebenarnyalah bahwa pada suatu saat kami harus meninggalkan pondok kami. Tetapi kami tidak tahu, apakah kami akan kembali akan kembali atau tidak.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku mengerti Ki Sanak. Sejak semula aku memang sudah menduga, bahwa padukuhan ini hanya sekedar tempat untuk singgah bagi Ki Sanak. Aku pun sudah menduga, bahwa apa yang kami lihat, bukanlah sebenarnya.”

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Aku tidak akan ingkar Ki Bekel. Karena itulah maka aku harus mohon diri meskipun mungkin aku dapat menyesuaikan diri. Tidak sekarang atau besok. Mungkin dua tiga hari lagi. Aku masih akan menanam beberapa jenis pepohonan buah-buah di pategalan yang terletak di ujung padukuhan. Aku sudah berjanji.”

“Masihkah itu perlu kau lakukan?“ bertanya Ki Bekel.

“Aku kira aku masih akan melakukannya. Sekaligus untuk mengamati keadaan setelah kami membunuh lima ekor harimau itu.“ berkata Tatas Lintang.

Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun ia tentu akan kehilangan Tatas Lintang dan tiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu. Agaknya bagaimanapun juga ia menahan, tetapi keempat orang itu tentu akan pergi juga dari padukuhannya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Tatas Lintang pun telah minta diri kepada Ki Bekel. Dengan nada dalam ia berkata, “Masih ada sesuatu yang harus aku lakukan Ki Bekel.”

“Ya. Aku mengerti,“ jawab Ki Bekel.

Tatas Lintang hanya menarik nafas dalam-dalam tanpa mengatakan sesuatu lagi. Mereka berempat pun kemudian telah meninggalkan rumah Ki Bekel itu.

Di jalan kembali ke pondok kecil mereka, Mahisa Pukat berkata, “Kita jangan dihambat lagi. Kami sudah terlalu lama pergi dan ingin segera melakukan tugas kami sebaik-baiknya. Berhasil atau tidak berhasil.”

“Aku mengerti,“ jawab Tatas Lintang, “Tetapi kita tidak boleh tergesa-gesa.”

“Aku tidak tergesa-gesa,“ jawab Mahisa Pukat, “tetapi waktuku sudah terlalu lama terbuang.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan melakukannya. Tetapi apakah kita tidak ingin mengetahui serba sedikit rahasia di dalam dinding padepokan itu? Mereka sudah mulai datang kepada kita, meskipun baru harimau-harimaunya. Aku gagal berhubungan dengan salah seorang di antara mereka. Agaknya orang itulah yang mengendalikan harimau-harimau itu.”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Tetapi ingat, langkah kita masih belum sampai ke tujuan meskipun kita sudah mendekat.”

“Sebenarnyalah kita mempunyai kepentingan yang sama dan dalam keadaan yang sama pula. Aku pun merasa bahwa aku telah terlalu lama berada di sini. Karena itu, maka kita akan berusaha untuk secepatnya melakukan tugas kita,“ berkata Tatas Lintang.

Mahisa Pukat tidak menyahut. Tetapi justru terbersit satu pertanyaan di hatinya, “Apakah ada kesengajaan orang ini untuk menghambat tugas kami?”

Mahisa Murti tidak menyambung. Tetapi ia justru mulai mengenang pangeran Singa Narpada. Apakah Pangeran Singa Narpada menganggap bahwa tugasnya sudah gagal. Bahkan ia-pun mulai memikirkan ayahnya. Mungkin ayahnya sudah mulai menjadi gelisah karena ia sudah terlalu lama pergi. Bahkan kakaknya pun tentu memikirkannya pula.

“Tetapi kakang Mahisa Bungalan pada waktu pengembaraannya kadang-kadang juga memerlukan waktu yang cukup lama,“ berkata Mahisa Murti di dalam hati.

Mahisa Ura pun tidak berkata apa-apa. Tetapi sebenarnyalah iapun sudah memikirkan, bahwa ia sudah pergi terlalu lama.

Dengan demikian iapun telah terlalu lama meninggalkan tugas-tugasnya. Namun yang dilakukannya itu juga termasuk salah satu tugas dari kedudukannya sebagai petugas sandi Singasari.

Ketika keempat orang itu sampai ke pondoknya, sama sekali tidak terjadi perubahan apapun juga. Tidak ada orang yang mengganggu rumah kecilnya dan tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan.

Namun demikian, agaknya Tatas Lintang masih juga menunggu. Meskipun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menanyakannya, agaknya ada firasat bahwa orang yang sedang ditunggunya itu akan datang.

“Jika sikap Tatas Lintang jujur, agaknya ia masih menunggu orang yang pernah datang bersama harimau-harimaunya itu,“ berkata Mahisa Murti di dalam hatinya. “Mudah-mudahan ia tidak mempunyai kepentingan lain. Atau sekedar berhati-hati karena umurnya yang sudah mendekati masa-masa tuanya.”

Senja yang kemudian datang, setelah keempat orang itu-sempat beristirahat dan menyiapkan makan dan minum, membuat pondok kecil itu menjadi lengang. Mahisa Murti dan Tatas Lintang merasa bahwa merekalah yang harus berjaga-jaga di belahan malam yang pertama, telah menyiapkan minuman hangat dan jagung bakar.

“Jika kalian nanti memerlukan, siapkan perapian yang akan kau nyalakan malam nanti,“ berkata Tatas Lintang kepada Mahisa Pukat.

Tetapi jawab Mahisa Pukat, “sisakan saja minuman dan makanan kalian.”

Tatas Lintang hanya tertawa kecil. Tetapi Mahisa Murti lah yang menjawab, “Bukan salah kami jika semuanya sudah habis sebelum kalian terbangun.”

Tetapi Mahisa Pukat tetap saja duduk di amben bersama Mahisa Ura, sementara Mahisa Murti dan Tatas Lintang telah keluar dari pondok mereka dan duduk di lincak di serambi depan.

Malam yang turun perlahan-lahan rasa-rasanya memang sangat sepi. Gelap menjadi semakin pekat, karena di langit tidak ada bulan.

Tatas Lintang dan Mahisa Murti pun kemudian bangkit dan berpindah tempat duduk. Mereka tidak lagi berada di serambi, karena dengan demikian mereka akan menempatkan diri mereka sebagai sasaran yang mapan jika ada orang yang dengan licik menyerang mereka dari jarak yang agak jauh.

“Lebih baik kita duduk di dalam,“ berkata Tatas Lintang.

“Ya. Udara mulai dingin. Minuman kita pun akan segera menjadi dingin jika tidak segera kita minum,“ berkata Mahisa Murti.

Ternyata Mahisa Ura dan Mahisa Pukat masih sempat menjawab, “Biarlah kami sajalah yang minum. Kalian berjaga-jaga di luar.”

“Tidur, cepat. Nanti jika waktunya kalian dibangunkan, kalian hanya menggeliat saja. Tetapi segera tertidur lagi.“ jawab Mahisa Murti.

Mahisa Pukat tidak menyahut. Tetapi ia membalikkan badannya menghadap dinding.

Mahisa Murti dan Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Namun mereka pun hanya tersenyum saja tanpa menjawab.

Beberapa saat mereka duduk sambil meneguk minuman mereka.

Namun kemudian Mahisa Murti pun bertanya, “Apakah menurut pendapatmu, orang itu akan datang kembali menemui kita?”

“Ya,” jawab Tatas Lintang, “aku yakin mereka akan kembali. Namun aku tidak tahu, dengan cara apa mereka akan datang lagi. Mungkin tidak dengan harimau-harimau itu.”

“Akhirnya bukan kita yang datang kepada mereka, tetapi merekalah yang datang kepada kita.“ berkata Mahisa Murti.

“Itu lebih baik daripada kita berselisih jalan. Kita datang kepada mereka, sementara mereka datang kepada kita,“ jawab Tatas Lintang.

“Agaknya mereka memang berkeberatan untuk menerima tamu di padepokan mereka,“ berkata Mahisa Murti, “sebenarnya terserah kepada kita. Apakah kita memang benar-benar memasuki padepokan itu atau tidak. Jika kita memang ingin masuk, kita tidak perlu memikirkannya, apakah kita akan berselisih jalan atau tidak.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Mungkin pikiranku sudah terlalu tua bagi kalian. Tetapi aku ingin berbuat dengan hati-hati. Jika satu dua orang datang kepada kita, maka kita akan dapat menjajagi kemampuan-mereka sebelum kita terjerumus ke dalam satu lingkungan yang akan dapat menjerat kita.”

“Tetapi bukankah kita pernah datang ke tempat itu?”

“Kami pernah, dan kau pun pernah,“ berkata Mahisa Murti, “bukankah kita bertemu di dekat padepokan itu pula.”

“Ya,“ jawab Tatas Lintang, “tetapi aku sekedar mengamat-amati keadaan dan melihat kemungkinan-kemungkinannya. Waktu itu aku memang belum siap untuk meloncat masuk. Itulah sebabnya kita bertemu dan aku pun berusaha menjajagi kemampuan kalian meskipun sejak semula aku yakin bahwa kalian mengemban satu tugas tertentu. Bukan hanya sekedar dendam di antara padepokan. Di antara orang-orang berilmu yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang berbenturan.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun iapun terdiam. Dilihatnya Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menjadi gelisah. Agaknya mereka ingin untuk tidur barang sebentar, namun mereka pun ingin mendengarkan pembicaraan itu.

Tatas Lintang pun agaknya mengerti juga. Karena itu maka iapun tidak berbicara lagi. Namun iapun justru bangkit dan pergi ke bagian belakang pondok kecilnya yang dipergunakannya untuk dapur.

Tetapi Tatas Lintang itupun tertegun. Ia mendengar sesuatu di belakang pondok kecil itu. Sebuah desir lembut.

Tatas Lintang tidak dengan serta merta menanggapinya. Iapun justru melanjutkan langkahnya dengan hati-hati dan duduk di depan perapian meskipun perapian itu tidak menyala.

Demikian juga lampu minyak di dapur itupun memang tidak dinyatakannya sejak hari menjadi gelap.

Karena itulah, maka Tatas Lintang itupun duduk di dalam kegelapan. Justru dari tempat itu Tatas Lintang ingin mengetahui apa yang akan terjadi.

Dengan mempergunakan kemampuannya, maka Tatas Lintang itupun telah berusaha untuk menyerap bunyi pernafasannya serta sentuhan-sentuhan tubuhnya. Ia berharap bahwa jika ada seseorang di luar tidak mengetahuinya bahwa ia berada di dapur.

“Jika ia berada didekat dinding sejak semula, maka ia tentu mendengar langkahku masuk ke dapur ini, meskipun ia tidak sempat melihat,“ berkata Tatas Lintang di dalam hatinya.

Tetapi ternyata bahwa kehadiran Tatas Lintang ke dapur itu tidak diketahui. Ternyata Tatas Lintang masih mendengar langkah-langkah di bagian belakang pondok kecilnya. Bahkan kemudian ia juga mendengar geseran pada dinding pondok kecil itu.

Tatas Lintang termangu-mangu. Ia tidak tahu apakah orang-orang yang ada di amben besar di ruang dalam itu juga mendengarnya.

Namun demikian Tatas Lintang masih tetap duduk di tempatnya.

Pada saat yang demikian, seseorang tengah merunduk di belakang pondok kecil itu. Tetapi kemudian orang itu telah bergeser ke samping. Orang itu ternyata tidak mengetahui bahwa Tatas Lintang telah pergi ke dapur. Ia memang mendengar desir langkah Tatas Lintang. Namun ketika ia berusaha untuk mengintip, justru Tatas Lintang pun mendengar kehadirannya dan mengatur langkah-langkahnya sehingga orang di luar dinding itu telah kehilangan pengamatannya.

Namun orang di luar dinding pondok itu telah mengetahui, bahwa orang di dalam pondok itu telah bergeser dari tempatnya semula meskipun ia tidak mengetahui, dimanakah orang-orang di dalam pondok itu kemudian berada.

Untuk beberapa saat orang di luar dinding itu berusaha untuk mendengar suara-suara di dalam pondok. Namun yang didengarnya kemudian adalah justru dengkur Mahisa Ura dan Mahisa Pukat yang telah tertidur nyenyak.

Mahisa Murti yang masih duduk di amben memang mendengar desir pada dinding pondoknya. Apalagi ketika ia mendengar langkah Tatas Lintang yang masuk ke dalam dapur. Iapun mengira bahwa di luar tentu ada sesuatu. Mungkin seseorang, mungkin seekor binatang yang meskipun bukan seekor harimau, namun yang telah dicengkam oleh ilmu gendam.

Untuk beberapa saat Mahisa Murti bagaikan membeku. Ia tidak bergerak sama sekali, sehingga tempat duduknya tidak berderit.

Namun sejenak kemudian, Mahisa Murti telah mendengar suara yang asing. Bukan desir langkah seseorang, bukan pula derak kuku harimau di dinding.

Mahisa Murti itupun memasang telinganya baik-baik. Ia berusaha untuk mengetahui suara apakah yang telah didengarnya itu. Namun ia tidak segera mengetahuinya.

Sementara itu, ketika Mahisa Murti sempat memperhatikan Mahisa Pukat dan Mahisa Ura, maka dilihatnya kedua orang itu tidurnya sangat nyenyak. Agaknya keduanya memang merasa letih. Bukan saja tubuhnya, tetapi nalarnya, justru karena peristiwa yang baru saja terjadi di padukuhan itu.

Namun selagi Mahisa Murti masih berangan-angan, tiba-tiba suara yang aneh itu terdengar di bawah amben yang besar itu di arah dinding. Ia mendengar pula seakan-akan dinding itu berderik kecil. Tentu bukan seekor harimau yang masuk.

Sejenak kemudian terasa tengkuk Mahisa Murti meremang, ia tidak menjadi ketakutan, tetapi rasa-rasanya ngeri juga menghadapi peristiwa yang terjadi itu.

Sejenak Mahisa Murti masih tetap duduk di tempatnya. Suara di bawah amben bambu yang besar itu menjadi semakin jelas. Tetapi Mahisa Murti tidak menduga, bahwa yang terjadi itu adalah demikian cepatnya. Tiba-tiba saja ia melihat sesuatu yang bergerak naik ke amben tempatnya duduk sekaligus tempat Mahisa Pukat dan Mahisa Ura tertidur nyenyak.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...