Rabu, 06 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 037-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 037-02*

Tetapi Mahendra dan Pangeran Singa Narpada tidak akan menyerah begitu saja. Meskipun kekuatan mereka masih belum dapat dibangunkan kembali, namun mereka telah menghimpun apa yang tersisa di dalam diri mereka untuk melawan angin pusaran yang dahsyat itu.

Namun keduanya menjadi heran, bahwa angin pusaran itu sama sekali tidak mengarah kepada mereka. Angin pusaran yang terlontar itu telah meluncur beberapa jengkal dari keduanya. Demikian dahsyatnya, maka ketika angin pusaran itu menghantam barak yang berada di garis lintasnya, maka barak itu pun telah menjadi hancur berkeping-keping. Anyaman kayu, bambu dan atap ijuknya telah terputar roboh. Kemudian diremasnya dan sebagian besar telah dilemparkan ke udara.

Mahendra dan Pangeran Singa Narpada memperhatikan pecahan-pecahan barak yang terlempar itu dengan jantung yang berdebaran. Kemudian mereka pun menyaksikan pecahan-pecahan itu terhempas di tanah dan benar-benar menjadi lumat.

“Luar biasa,“ desis Mahendra.

Orang itu pun kemudian berdiri termangu-mangu. Dipandanginya Mahendra dan Pangeran Singa Narpada yang masih lemah.

“Nah, Ki Sanak. Bagaimana jika aku menyerang kalian dengan kekuatan ilmu sebagaimana telah kalian lihat? Ilmu yang sama sebagaimana dipergunakan oleh Panembahan? Dan apakah kalian masih belum yakin bahwa aku adalah saudara seperguruannya?“ bertanya orang itu.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia menyahut, “Aku percaya Ki Sanak, bahwa kau adalah saudara seperguruannya.”

“Bagaimana jika aku menyerang kalian dengan ilmu itu?“ bertanya orang itu.

Mahendra dan Pangeran Singa Narpada termangu-mangu.

Namun kemudian Pangeran itu menjawab, “Silahkan Ki Sanak. Itu hakmu. Aku akan melawan dengan sisa kekuatanku. Jika aku hancur oleh ilmumu, itu adalah tanggung jawab yang memang harus aku pikul.”

Orang itu terdiam sejenak. Dipandanginya Mahendra dan Pangeran Singa Narpada berganti-ganti.

Sementara itu pertempuran di bagian-bagian lain dari padepokan itu pun telah mereda pula. Para prajurit Lemah Warah telah benar-benar menguasai keadaan. Betapa tingginya ilmu orang-orang padepokan itu, namun mereka tidak mampu melawan kemampuan para pemimpin Pakuwon Lemah Warah yang dibantu oleh Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura.

Dalam pada itu. orang yang mampu melepaskan ilmu sebagaimana orang yang disebut Panembahan itu menjadi ragu-ragu. Agaknya orang itu memang mempunyai watak dan pandangan hidup yang berbeda dengan orang yang disebutnya Panembahan itu.

Namun Mahendra dan Pangeran Singa Narpada memang merasa heran. Dua orang saudara seperguruan, namun nampaknya tataran hidup mereka jauh berbeda. Yang seorang nampaknya tidak lebih dari hamba dari yang lain.

Tetapi Mahendra dan Pangeran Singa Narpada tidak mempunyai banyak kesempatan. Jika orang itu benar-benar melepaskan ilmunya kepada mereka, maka mereka akan benar-benar tidak mampu melawannya.

Untuk beberapa saat mereka dicengkam oleh ketegangan. Namun tiba-tiba orang yang memiliki ilmu sebagaimana dimiliki oleh Panembahan itu berkata, “Tidak. Aku tidak berhak membunuh kalian.”

Mahendra dan Pangeran Singa Narpada masih termangu-mangu. Mereka masih belum yakin bahwa sikap itu akan tetap dapat dipertahankan. Mungkin pada satu saat, pendirian itu berubah, dan orang itu akan menyerangnya dengan kekuatannya yang sangat dahsyat.

Bahkan menurut perhitungan Mahendra dan Pangeran Singa Narpada, orang itu akan mampu pula melepaskan kabut dan bahkan membakar sasaran dengan sorot matanya.

Untuk beberapa saat orang itu masih termangu-mangu. Namun sejenak kemudian sekali lagi ia berkata, “Aku tidak berhak membunuh kalian meskipun aku dapat melakukannya.”

Mahendra dan Pangeran Singa Narpada terkejut, ketika orang itu kemudian memandang kepingan kayu bambu dan ijuk yang teronggok di sebelah mereka berdiri. Pecahan barak yang telah diremasnya dengan angin pusaran, dilontarkannya ke udara dan dibantingnya lagi di tanah. Tiba-tiba saja asap telah mengepul dan api pun segera menjilat.

Mahendra dan Pangeran Singa Narpada harus mengakui bahwa api itu akan dapat membakar mereka jadi dikehendaki.

Sementara itu mereka berdua sedang dalam keadaan sangat lemah.

Tetapi orang itu tidak melakukannya. Justru setiap kali orang itu berkata; “ Aku tidak berhak. Aku tidak berhak.”

Mahendra dan Pangeran Singa Narpada melihat sesuatu yang sedang bergejolak didalam jiwa orang itu. Karena itu, maka mereka pun perlahan-lahan bergeser saling mendekat.

Namun tiba-tiba langkah mereka terhenti ketika orang itu membentak, “Apa yang akan kau lakukan? Kalian akan saling mendekat dan menggabungkan sisa kemampuan yang ada didalam diri kalian? Tidak ada gunanya. Meskipun kalian akan bersama-sama menyerang aku, maka sisa kekuatan kalian tidak akan berarti apa-apa lagi.”

“Kau benar Ki Sanak,“ berkata Mahendra, “sisa kemampuan kami memang tidak akan dapat mengatasi kemampuan Ki Sanak.”

“Jika demikian, apa yang akan kalian lakukan?“ bertanya orang itu.

“Sikap Ki Sanak, sangat menarik perhatian,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “Ki Sanak akan mampu berbuat apa saja atas diri kami. Tetapi Ki Sanak merasa tidak berhak melakukannya, justru dalam pertempuran seperti ini. Apalagi Ki Sanak tahu pasti, bahwa pihak Ki Sanak, orang-orang Padepokan ini dari perguruan manapun asalnya telah mengalami kekalahan. Jika Ki Sanak membunuh kami berdua, maka Ki Sanak akan mendapat kesempatan untuk menolong orang-orang padepokan ini. Ki Sanak akan dapat membinasakan orang-orang Lemah Warah, bahkan termasuk Akuwu dari Lemah Warah dan para pemimpin yang lain.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia telah berpaling ke arah tubuh orang yang disebutnya Panembahan itu, yang terbaring diam.

“Hanya orang inilah yang berhak melakukannya atas Pangeran,“ berkata orang itu

“Kenapa?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja tanpa menghiraukan kedua orang lawannya, maka orang itu telah berjongkok di sisi orang yang terbaring diam itu.

“Kemarilah,“ berkata orang itu.

Mahendra dan Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian mereka pun telah mendekat.

“Lihat,“ berkata orang itu,“ betapa ilmu kalian telah merusakkan jaringan tubuhnya, ia seakan-akan telah kehilangan kesadarannya meskipun ia masih hidup. Namun dengan demikian, maka kalian berdua telah terbebas dari kemungkinan untuk mati di medan perang ini, karena orang yang berhak membunuh kalian sudah tidak akan mampu melakukannya.”

“Aku tidak mengerti,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “semua orang di medan perang seperti ini mempunyai hak yang sama atas lawan-lawan mereka.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada rendah, “Aku hanya seorang hamba yang rendah. Aku tidak patut untuk berdiri berhadapan dengan seorang Pangeran. Apalagi membunuhnya.”

“Kau berpegang pada unggah-ungguh yang kuat. Namun jarang orang yang masih dapat mengingatnya jika ia berada di peperangan,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “tetapi kata-katamu menarik perhatian kami sebagaimana ilmumu. Kau sebut dirimu saudara seperguruan dengan orang yang kau panggil Panembahan itu. Namun kemudian kau nyatakan dirimu tidak lebih dari seorang hamba.”

“Aku memang hanya seorang hamba, Pangeran. Hamba yang rendah,“ jawab orang itu, “aku memang dapat menyebut diriku saudara seperguruan dengan Panembahan, karena aku memiliki ilmu yang sama, bahkan tingkat kemampuanku pun hampir sama. Tetapi sebenarnya aku memang hambanya. Aku menjadi saudara seperguruan diluar pengetahuan Panembahan itu sendiri.”

“Bagaimana hal itu mungkin terjadi,“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Aku telah mengantar Panembahan itu berguru,“ berkata orang itu, “bahkan demikian besar kepercayaan Panembahan itu serta gurunya, sehingga aku diperkenankan ikut berada didalam sanggar. Aku mendengar setiap kata dari guru Panembahan itu, bagaimana ia mengajarkan ilmu dan menuntun laku. Diluar pengetahuan Panembahan dan gurunya, aku telah mendalaminya. Dalam saat-saat senggang aku telah minta ijin untuk pergi ke sungai atau pergi kemana pun juga. Namun akhirnya aku tidak dapat bersembunyi lagi. Guru Panembahan itu melihat dasar kemampuanku, sehingga akhirnya aku justru telah mendapat bimbingannya pula. Namun karena aku tidak lebih dari seorang hamba, maka aku tidak dapat belajar bersama Panembahan. Bahkan sampai saat berguru berakhir, Panembahan tetap tidak mengetahui bahwa aku memiliki kemampuan hampir menyamainya. Sementara itu guru pun telah berbaik hati untuk tidak mengungkapkan rahasia itu kepada Panembahan, namun dengan janji, bahwa aku harus tetap merupakan seorang hamba yang setia.”

Mahendra dan Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Ia sudah memenuhi janjinya. Bahkan sampai saatnya Panembahan itu tidak lagi mampu menilai apa yang terjadi di sekitarnya, orang itu masih tetap seorang hamba yang setia.

Namun dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada pun bertanya, “Ki Sanak. Siapakah sebenarnya orang yang kau sebut Panembahan itu? Siapa pula Ki Sanak yang setia mengabdi sampai orang yang kau sebut Panembahan itu kehilangan kesadarannya.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Kemudian dengan ragu ia berkata, “Sudahlah Pangeran. Apa gunanya Pangeran mengetahui siapakah Panembahan itu dan siapa pula aku ini.”

“Sikapmu menunjukkan sikap seorang hamba dari lingkungan tertentu,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “karena itu, aku ingin mengetahui, meskipun barangkali aku tidak akan mengenalinya siapakah orang itu dan dari lingkungan yang mana?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Pangeran Singa Narpada dengan tajamnya. Namun kemudian dipandanginya orang yang terbaring diam itu.

Sementara itu, orang itu pun berkata, “Pangeran. Pertempuran sudah selesai. Isi padepokan ini telah terbunuh dan yang lain menyerah. Mungkin ada yang sempat melarikan diri dari arena.”

“Akuwu Lemah Warah akan menyelesaikan mereka,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “karena itu maka aku kira aku tidak perlu mencampurinya.”

Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian ia pun bertanya, “Siapakah sebenarnya Ki Sanak yang seorang itu?”

“Ia adalah Mahendra. Seorang keluarga dari kalangan para pimpinan prajurit Singasari. Tetapi ia sendiri bukan seorang prajurit,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

“Tetapi kemampuannya melampaui para Senapati,“ berkata orang itu.

“Ia adalah seorang pewaris sebuah perguruan yang besar dan disegani,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku ingin berkata jujur. Panembahan sangat membenci orang-orang Singasari.”

“Kenapa?“ bertanya Mahendra.

“Dalam hubungan Singasari dan Kediri,“ jawab orang itu, “pergolakan yang selalu terjadi sejak orang-orang Singasari merampas kebebasan Kediri.”

“Apakah kau sependapat?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

Orang itu termangu-mangu. Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata pula, “Aku juga orang Kediri. Aku juga tidak mau jika kebebasan kami dibelenggu. Tetapi hubungan antara Kediri dan Singasari adalah hubungan antara keluarga. Singasari mencakup keluarga besar di atas Tanah ini termasuk Kediri. Namun dalam kehidupan sehari-
hari, Kediri adalah keluarga yang dewasa. Yang hidup karena kemampuan diri. Yang bertanggung jawab atas pakartinya sendiri.”

“Pengertian dari yang Pangeran katakan itu dapat diterjemahkan dalam arti yang berbeda-beda,“ berkata orang itu, “Panembahan ternyata mempunyai pengertian yang berbeda dari Pangeran Singa Narpada. Sebelumnya pun banyak keluarga Pangeran yang mempunyai pengertian yang lain, sehingga pertikaian terjadi tidak henti-hentinya.”

“Itulah yang harus kita atasi,“ berkata Pangeran Singa Narpada. Lalu kemudian katanya, “Tetapi dengan pembicaraan ini aku mempunyai arah dugaan tentang kalian.”

“Kami tidak akan bersembunyi lagi,“ berkata orang itu.

“Jika demikian, katakan,“ desis Pangeran Singa Narpada.

“Aku akan mengatakannya,“ sahut orang itu, “tetapi aku masih ingin mengatakan sikap Panembahan. Bagi Panembahan Singasari adalah kuasa yang bukan seharusnya memimpin Kediri sekarang ini.”

“Dengan alasan yang sudah terlalu sering disebut-sebut,“ potong Mahendra, “bahwa Singasari tidak lebih dari Pakuwon Tumapel. Sedangkan Akuwu Tumapel yang kemudian atas nama Singasari menyatakan Kediri adalah seorang keturunan pidak-pedarakan.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau benar. Bukan sekedar keturunan pidak-pedarakan. Tetapi ia adalah seorang penjahat yang ditakuti di masa mudanya. Dengan kemampuan seorang penyamun dan perampok ulung, ia dapat mendesak kedudukan Akuwu Tunggul Ametung.”

“Tetapi orang itu bukan orang kebanyakan. Yang terjadi pada tataran pertama hidupnya bukannya kenyataan tentang dirinya yang dipilih untuk kemudian memimpin. Ciri-ciri kebesaran ada pada dirinya, sehingga pada akhirnya kenyataan itu terjadi, meskipun Ken Arok itu sekedar perantara,“ berkata Mahendra.

“Sebagaimana selalu dikatakan oleh orang-orang Singasari,“ jawab orang itu.

“Sudahlah,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “perbedaan yang ada biarlah kita akui adanya. Tetapi sebut, siapakah Ki Sanak itu, dan siapakah sebenarnya Panembahan itu?”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “orang inilah yang seharusnya Pangeran cari untuk menegakkan Kediri.”

“Kau belum menyebutnya,“ sahut Pangeran Singa Narpada.

Orang itu nampak ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “Apakah Pangeran benar-benar tidak mengenalnya lagi?”

Pangeran Singa Narpada menjadi bingung. Ia bergeser mendekat. Dipandanginya wajah yang terbaring diam itu. Namun rasa-rasanya wajah itu menjadi lain. Meskipun ia tetap mengenali sebagai orang yang disebut Panembahan, tetapi ada sesuatu yang berbeda padanya.

“Apa yang sebenarnya terjadi padanya?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Pangeran, apakah Pangeran juga benar-benar telah melupakan aku?“ bertanya orang itu.

Pangeran Singa Narpada menjadi semakin bingung. Dipandanginya orang itu dengan tajamnya. Namun Pangeran itu kemudian menggeleng sambil berdesis, “Aku belum pernah mengenalimu.”

Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Pangeran. Aku akan menunggu. Jika kemampuan Pangeran dan Ki Mahendra telah pulih kembali, hancurkan simpul pengendali ilmuku sebagaimana Panembahan. Dengan demikian, maka akan terjadi perubahan pada diriku.”

Pangeran Singa Narpada masih dibayangi oleh perasaan bingungnya. Namun orang itu kemudian berkata, “Pangeran. Amati dengan saksama. Pangeran tentu mengenal Panembahan.”

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Namun hampir di luar sadarnya ia pun telah bergeser mendekat. Diamatinya wajah orang yang terbaring diam itu dengan saksama.

Sementara itu, Akuwu Lemah Warah, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura telah mendekati mereka. Sementara panglima pasukan khusus Lemah Warah berdiri termangu-mangu beberapa langkah sambil mengamati keadaan..

Pangeran Singa Narpada memandanginya sambil berdesis, “Bagaimana dengan para prajurit dan orang-orang padepokan ini?”

“Kita tidak dapat menghindari korban yang berjatuhan dalam perang yang hampir tidak terkendali, Pangeran. Namun sebagian dari para penghuni padepokan ini telah menyerah,“ sahut Akuwu Lemah Warah.

“Bagaimana dengan para pemimpin mereka?“ bertanya Pangeran itu pula.

“Ternyata para pengikutnya merupakan lingkaran kesetiaan yang sulit untuk ditembus. Dalam keadaan yang paling gawat, maka beberapa orang di antara mereka sempat melepaskan diri. Justru orang-orang terpenting di antara mereka. Selain ilmu mereka yang tinggi, maka para pengikutnya telah mengorbankan diri untuk memberikan kesempatan kepada para pemimpinnya melarikan diri dari medan.“

“Siapakah yang telah berhasil melarikan diri?“ bertanya orang yang menjadi bayangan kemampuan orang yang disebut Panembahan itu.

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu sejenak. Dipandanginya orang itu dengan saksama. Namun kemudian ia pun bertanya, “Siapakah mereka Pangeran?”

“Yang terbaring itu adalah Panembahan yang memegang pimpinan tertinggi di padepokan ini,“ jawab Pangeran Singa Narpada.

“Yang seorang?“ bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Saudara seperguruannya,“ jawab Pangeran Singa Narpada pula.

“Apakah ia sudah menyerah?“ bertanya Akuwu itu pula.

Pangeran Singa Narpada memandang orang itu dan Akuwu Lemah Warah berganti-ganti. Namun kemudian terdengar suaranya rendah, “Bukan Akuwu. Orang ini sama sekali tidak menyerah. Tetapi orang ini justru telah menyelamatkan nyawa kami berdua. Aku dan Mahendra.”

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi tegang.

“Apa artinya Pangeran?“ bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Orang ini sebenarnya dapat membunuh kami berdua jika ia mau. Tetapi ia tidak melakukannya,“ jawab Pangeran Singa Narpada.

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan ragu ia bertanya, “Apa yang sebenarnya telah terjadi Pangeran?”

Pangeran Singa Narpada memandang orang yang terbaring itu kembali. Namun dengan nada datar ia bertanya, “Apakah orang yang mampu melepaskan diri dari wadagnya dan memasuki wadag orang lain itu sempat melarikan diri?”

“Maaf Pangeran. Dalam benturan ilmu orang itu tidak dapat bertahan. Kami tidak tahu, apakah ia akan dapat bertahan untuk hidup,“ jawab Akuwu Lemah Warah.

“Akuwu,“ berkata Pangeran Singa Narpada kemudian sambil memandangi orang yang terbaring itu, “kami, maksudku aku berdua bersama Mahendra telah dengan untung-untungan membenturkan ilmu kami melawan kemampuan ilmu orang yang disebut Panembahan ini. Akibatnya dapat kalian lihat terjadi pada Panembahan. Namun kami pun telah kehilangan segenap tenaga kami karena kami telah memaksakan menghentakkan ilmu kami dalam benturan itu. Sampai saat ini kemampuan kami masih belum pulih seutuhnya. Pada saat yang demikian, saudara seperguruan Panembahan ini akan mampu menghancurkan kami. Tetapi yang terjadi tidak demikian.”

“Apa sebabnya Pangeran?“ bertanya Akuwu.

“Bertanyalah kepadanya,“ jawab Pangeran Singa Narpada.

Akuwu itu termangu-mangu.

Namun dalam pada itu orang itu pun berkata sekali lagi, “Pangeran. Pandang wajah ini dengan saksama.”

Pangeran Singa Narpada bergeser lebih mendekat. Diamatinya wajah itu dengan saksama. Namun ia menggeleng lemah, “Aku kurang mengenalnya.”

“Pengenalan Pangeran terbatas pada masa-masa dekat. Coba Pangeran mencoba mengenang keluarga terdekat Pangeran di masa yang sudah agak jauh lewat,“ berkata orang itu.

Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. Dengan suara bergetar ia berdesis, “Apakah aku berhadapan dengan pamanda Pangeran Gagak Branang.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan mengangguk-angguk kecil ia berkata, “Ya. Panembahan adalah Pangeran Gagak Branang yang menyingkir dari istana pada saat Tumapel memecah Kediri.”

“Singasari maksudmu?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Tumapel,“ jawab orang itu.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata, “Jadi aku memang berhadapan dengan pamanda Pangeran. Tetapi menurut perhitunganku umur pamanda tentu sudah terlalu tua sekarang ini, sementara Panembahan itu masih mampu bertempur dengan kekuatan yang mengagumkan dan sikapnya pun sama sekali tidak menunjukkan ketuaannya.”

“Tetapi wajah itu?“ desis orang yang mengaku saudara seperguruan itu.

Ketika Pangeran Singa Narpada memandang wajah itu lagi, maka ia menjadi heran. Orang itu nampaknya memang sudah terlalu tua, jauh lebih tua dari pengenalannya pada saat mereka beradu ilmu.”

Karena itu maka dengan wajah yang tegang Pangeran Singa Narpada bertanya kepada hamba orang yang disebut Panembahan itu, “Bagaimana mungkin segalanya itu terjadi?“

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Pangeran. Hal ini memang akan terjadi pada suatu saat. Juga akan terjadi padaku.”

“Kenapa hal itu akan terjadi padamu,“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Pangeran,“ berkata orang itu, “selama berguru, kami telah mendapatkan kesempatan yang tidak banyak didapat oleh orang lain.”

“Kesempatan apa?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, ”Di dalam tubuh kami mengalir getah pohon yang tidak ada duanya. Getah itu mempunyai pengaruh yang kuat sekali pada wadag kami.”

“Getah pohon apa?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Tidak seorang pun tahu,“ jawab orang itu. “kecuali guru.”

“Pengaruhnya?“ bertanya Pangeran Singa Narpada pula.

Orang itu termangu-mangu pula sejenak. Namun kemudian katanya, “Tidak seorang pun yang tahu bagaimana terjadinya. Namun getah itu seakan-akan telah menahan pertumbuhan wadag kami. Pada saat kami mendapat getah itu, maka seakan-akan kami tidak lagi bertambah tua.”

“Kau juga mendapat kesempatan? Bukankah dengan demikian Pangeran Gagak Branang akan tahu bahwa aku adalah saudara seperguruannya?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Pangeran Gagak Branang tahu bahwa aku juga mendapat kesempatan minum getah itu. Tetapi tidak sebagai saudara seperguruannya. Tetapi sebagai hambanya yang setia, yang akan mengikutinya ke mana saja Pangeran Gagak Branang pergi,“ jawab orang itu.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia bertanya, “Kau tidak dapat mengenali jenis getah itu?”

Orang itu menggeleng. Jawabnya, “Tidak. Pangeran Gagak Branang pun tidak.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk kecil. Sementara orang berkata selanjutnya, “Namun pada saat-saat seperti yang terjadi pada Pangeran Gagal Branang, maka yang tertahan itu akan datang pula. Demikian juga, jika aku tidak lagi mampu menguasai kesadaranku oleh sebab apapun juga, maka aku akan mengalaminya.”

Sejenak Pangeran Singa Narpada terdiam. Mahendra pun mengangguk-angguk pula, sementara yang lain termangu-mangu.

“Sudahlah Pangeran. Agaknya batas itu telah sampai. Pada saat kekuatan Pangeran Singa Narpada dan Ki Mahendra pulih kembali, maka antarkan aku menyusul Pangeran Gagak Branang, agar aku pun kembali ke keadaan wajarku,“ berkata orang itu.

“Siapa kau sebenarnya,“ bertanya Pangeran Singa Narpada pula.

Orang itu tidak segera menjawab. Namun tiba-tiba saja ia berdiri tegak sambil berkata, “Baiklah. Jika kekuatan ilmu Pangeran belum pulih kembali, demikian pula Ki Mahendra, maka biarlah Akuwu Lemah Warah dan ketiga anak muda ini menolongku. Lepaskan ilmu kalian. Biarlah tubuhku mengalami hentakan yang dapat melumpuhkan segenap syarafku, sehingga dengan demikian kalian akan dapat mengenal aku lewat Pangeran Singa Narpada.”

Akuwu Lemah Warah mengerutkan keningnya. Dipandanginya Pangeran Singa Narpada sejenak. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam.

“Ki Sanak,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “jangan memaksa melakukan hal yang tidak perlu. Katakan tanpa usaha seperti yang kau katakan dari Akuwu Lemah Warah. Siapakah kau sebenarnya. Jika kau mau menyebut namamu, maka aku akan segera dapat mengenalimu. Seandainya aku memang sudah mengenalmu sebelumnya.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Pangeran masih teringat benar, siapakah Pangeran Gagak Branang.”

“Ya aku ingat, meskipun umurku terpaut agak banyak,“ jawab Pangeran Singa Narpada.

“Nah, Pangeran tentu ingat, siapakah yang selalu berada di belakangnya. Orang itu jarang sekali terpisah dari Pangeran Gagak Branang. Kemana pun Pangeran pergi, maka orang itu ada,“ jawab orang itu.

“Yang umurnya sebaya dengan pamanda Pangeran?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Ya. Kira-kira demikian meskipun terpaut sedikit,“ jawab orang itu.

Pangeran Singa Narpada mencoba mengingat-ingat. Siapakah orang yang selalu bersama pamandanya, Pangeran Gagak Branang.

Sejenak Pangeran Singa Narpada sempat membayangkan pamannya di masa mudanya. Pangeran yang keras, bahkan agak pemarah. Ia pun ingat saat pamandanya meninggalkan Kediri tanpa ada yang mengetahui ke mana perginya.

Sekilas ia berpaling ke arah Mahendra. Pamandanya itu tentu lebih tua dari Mahendra. Bahkan mungkin terpaut agak banyak. Orang itu pun tentu lebih tua dari Mahendra, meskipun ujudnya sebaliknya.

Untuk sejenak Pangeran Singa Narpada memasuki dunia ingatannya. Namun tiba-tiba saja berdesis, “Apakah aku berhadapan dengan Ki Permita.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian terdengar suaranya serak, “Ya Pangeran. Hamba yang rendah ini adalah Permita yang tentu sudah Pangeran kenal. Karena itu maka tidak ada pilihan lain bagi hamba ini selain hukuman mati.”

“Ooo,“ Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu orang yang disebut Ki Permita itu pun telah menjatuhkan dirinya bersimpuh di hadapan Pangeran Singa Narpada.

“Bunuh aku Pangeran. Panembahan pun agaknya tidak akan mampu mengatasi kesulitan di dalam dirinya,“ berkata orang yang disebut Ki Permita itu, “buat apa aku hidup terus?”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam, ia pun kemudian berdiri tegak. Dipandanginya keadaan di sekelilingnya. Ia tidak lagi mendengar hiruk pikuk pertempuran.

Yang dilihatnya adalah sisa-sisa api yang mengepul dari barak yang terbakar oleh kemampuan ilmu Ki Permita yang ternyata adalah saudara seperguruan dari Pangeran Gagak Branang.

Untuk beberapa saat Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Di balik pepohonan dan barak-barak yang masih berdiri, seakan-akan dilihatnya prajurit Lemah Warah yang tersisa menawan para penghuni padepokan itu yang terdiri dari beberapa perguruan. Bukan hanya terdiri dari orang-orang bertongkat saja. Memang padepokan ini semula adalah padepokan orang-orang bertongkat itu. Namun agaknya dengan kehadiran Pangeran Gagak Branang, maka padepokan ini telah menjadi tempat penempaan sekelompok orang dari beberapa perguruan yang berbeda.

“Ki Mahendra dan Akuwu Lemah Warah,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “setelah aku mengetahui bahwa yang memimpin padepokan ini adalah pamanda Pangeran Gagak Branang, maka aku tidak memerlukan lagi seorang pun yang akan aku sadap keterangannya. Aku tahu pasti apakah yang telah terjadi. Aku tahu pasti alasan dari orang-orang Suriantal datang ke istana Kediri untuk mengambil benda yang paling berharga yang menjadi tempat bersemayam Wahyu Keraton.”

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Satu perjuangan yang keras dan berat telah dilakukan. Ternyata bahwa yang terjadi tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah terjadi sebelumnya. Pangeran Kuda Permati, Pangeran Lembu Sabdata, dan beberapa orang lain dalam sikapnya yang sama.

“Kau telah kehilangan orang-orang terbaik dari Lemah Warah,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

“Karena itu,“ berkata Ki Permita, “bunuh aku Pangeran. Aku akan menerima beban hukuman dari Kediri karena peristiwa ini.”

“Ki Permita, kau adalah seorang hamba yang setia. Namun menurut ingatanku, kau adalah orang yang banyak diminta nasehat dan petunjukmu oleh pamanda Pangeran Gagak Branang.”

“Pangeran benar. Tetapi tidak semua pendapatku sesuai dengan pendapat Pangeran Gagak Branang. Aku sudah berusaha untuk meyakinkan pamanda Pangeran, bahwa usaha ini adalah sia-sia,“ berkata Ki Permita.

“Jadi kau sependapat dengan pamanda Gagak Branang? Namun kau menganggap bahwa perjuangan pamanda itu sia-sia. Jadi kau mencoba mencegah usaha pamanda Gagak Branang bukan karena kau mempunyai keyakinan yang berbeda,“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Pangeran. Aku sudah menyerahkan leherku. Bunuhlah aku sebagai hukuman atas pengkhianatanku terhadap Kediri serta kesediaanku untuk memikul hukuman dari isi padepokan ini, terutama mereka yang sempat melarikan diri.”

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...