Rabu, 06 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 037-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 037-03*

“Aku bertanya kepadamu Ki Permita,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “bagaimana sikap batinmu terhadap Kediri sekarang ini? Kita masih tetap di arena. Kau belum menyerah dan aku pun belum menyerah meskipun kemampuanku tentu belum pulih kembali.”

“Jangan paksa aku merasa semakin tersiksa Pangeran. Mungkin Pangeran tidak dapat menyiksaku dalam ujud kewadagan. Tetapi pertanyaan Pangeran itu telah menyiksa perasaanku, sebaiknya Pangeran membunuh saja aku. Kematianku akan mengakhiri segala persoalan yang terjadi di padepokan ini.” berkata Ki Permita.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Bukan maksudku Ki Permita. Baiklah. Jika kau tidak mau mendengar pertanyaanku itu. Aku tidak akan memaksamu menjawab.”

“Ampun Pangeran,“ desis Ki Permita, “satu-satunya kemungkinan terbaik yang dapat Pangeran lakukan dalam keadaan seperti ini adalah membunuhku.”

“Tidak Ki Permita,“ jawab Pangeran Singa Narpada, “sebagaimana kau tidak merasa berhak membunuhku, dalam perang sekalipun, maka aku pun tidak merasa berhak menghukummu.”

“Pangeran berhak. Aku menyerah,“ berkata Ki Permita, “jika Pangeran menganggap bahwa aku belum menyerah, maka aku menegaskan, sejak aku menyerahkan mati hidupku, aku menyerah. Pangeran berhak membunuh seorang tawanan yang berbahaya, karena sebenarnyalah bahwa aku akan dapat menjadi sangat berbahaya bagi Pangeran dan bahkan bagi Kediri.”

Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Namun kemudian suaranya merendah, “jadi kau menyerah.”

“Ya. Dan Pangeran dapat membunuhku,“ jawab orang itu.

“Baiklah Ki Permita,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “jika kau memang menyerah, maka kau tentu merasa berada di bawah kuasaku.”

Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian ia pun bertanya dengan nada tinggi, “Apa maksud Pangeran.”

“Aku terima penyerahanmu. Tetapi dengan syarat,“ jawab Pangeran Singa Narpada.

“Justru dengan syarat?“ bertanya orang itu, “bukankah seharusnya akulah yang mengajukan syarat? Dan bukankah Pangeran seharusnya memerintahkan aku menyerah tanpa syarat?”

“Kali ini tidak,“ jawab Pangeran Singa Narpada, “aku sudah menghindari pertanyaanku tentang sikapmu terhadap Kediri. Karena itu, sebagai syarat penyerahanmu, aku tuntut kau menangkap orang-orang yang berhasil melarikan diri. Jika kau yang melakukannya tentu akan jauh lebih mudah daripada jika aku atau orang-orang Lemah Warah yang melakukannya. Terutama para pemimpinnya.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata selanjutnya, “Yang dilakukan oleh Akuwu Lemah Warah sudah terlalu banyak. Yang dikorbankannya pun telah terlalu banyak pula justru adalah anak-anaknya yang terbaik.”

Ki Permita termangu-mangu sejenak. Sementara itu Pangeran Singa Narpada berkata selanjutnya, “Ki Permita. Bukan karena Akuwu Lemah Warah sudah menjadi putus asa dan tidak akan mampu lagi memburu orang-orang yang melarikan diri itu. Tetapi apakah kita akan dapat mencari jalan lain yang lebih singkat dan korban yang lebih kecil.”

Orang yang disebut Ki Permita itu menundukkan kepalanya. Dengan nada rendah ia pun kemudian berkata, “Pangeran. Aku selalu berusaha mencegah jika Panembahan berniat untuk mempergunakan ilmunya di dalam setiap pertempuran. Sorot matanya dan juga angin pusaran yang dapat dilontarkan dari dirinya atas dorongan ilmunya.”

“Aku mengerti Ki Permita. Dengan demikian kau berusaha agar pamanda Pangeran Gagak Branang tidak membantai lawannya sebagaimana membabat batang ilalang,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “tetapi yang akan terjadi tentu tidak demikian. Orang-orang yang melarikan diri itu hanya disertai dengan beberapa orang pengawal saja. Jika kau harus menghancurkannya, maka jumlahnya tidak terlalu banyak dan bahkan mungkin kau dapat mengambil jalan lain. Bukan jalan kekerasan. Tetapi jika yang datang prajurit Lemah Warah, akan terjadi pertempuran lagi. Dan korban pun akan jatuh dari kedua belah pihak. Tentu jauh lebih banyak daripada jika kau sendiri yang melakukannya. Sementara itu aku yakin bahwa kau akan mampu mengatasi orang-orang yang telah melarikan diri itu. karena betapapun tinggi ilmu mereka, agaknya bukan tandingannya dengan ilmu yang pernah kau pertunjukkan kepadaku.”

Ki Permita masih termangu-mangu. Namun agaknya ia memang tidak mempunyai pilihan lain. Ia dapat mengerti apa yang dimaksud oleh Pangeran Singa Narpada. Namun bagaimanapun juga ada sesuatu yang masih menghambat perasaannya.

“Ki Permita,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “aku ingin mendengar kesediaanmu.”

Ki Permita mengangkat wajahnya. Dipandanginya Pangeran Singa Narpada dengan tatapan mata yang lesu. Namun kemudian katanya, “Baiklah Pangeran. Aku akan memenuhi syarat penyerahanku. Mudah-mudahan aku dapat menangkap mereka tanpa mempergunakan kekerasan, apalagi jatuhnya korban.”

“Terima kasih. Untuk sementara kami masih akan berada di padepokan ini. Jika selama kami masih berada di padepokan ini Ki Permita dapat memenuhi syarat itu, maka kami akan merasa sangat beruntung,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

Ki Permita menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Aku hanya dapat berusaha. Tetapi untuk menemukan mereka aku masih memerlukan waktu. Apalagi untuk membawa mereka ke padepokan ini.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku percaya kepadamu Ki Permita. Kau akan melakukan tugasmu dengan baik.“ namun kemudian terdengar suaranya menurun, “dan aku percaya kepadamu, bahwa kau mempunyai keyakinan yang berbeda dengan pamanda Pangeran Gagak Branang. Hanya kesetiaanmu sajalah yang memaksamu untuk mengikutinya dan berbuat seolah-olah kau pun berkeyakinan seperti pamanda Pangeran Gagak Branang.”

Orang itu menunduk dalam-dalam. Sesuatu terasa bergejolak di dalam dadanya. Penilaian Pangeran Singa Narpada membuat darahnya bagaikan mengalir lebih cepat.

Sebenarnyalah bahwa ia memang mempunyai keyakinan yang berbeda. Tetapi ia adalah abdi yang setia sehingga ia telah menimbun keyakinannya sendiri dan menempatkan dirinya pada sikap dan keyakinan orang lain. Namun orang yang diikutinya itu sudah tidak mungkin lagi untuk bersikap dan berkeyakinan. Bahkan agaknya sulit bagi Panembahan itu untuk dapat tetap bertahan hidup.

Karena itu, maka ia pun merasa telah terlepas dari ikatan kesetiaannya tentang sikap dan keyakinan, meskipun ia masih merasa bahwa ia adalah hamba dari Panembahan itu, dan bahkan terbersit niatnya untuk ikut mati bersamanya.

Namun Pangeran Singa Narpada ternyata memberikan perintah kepadanya untuk melakukan sesuatu yang barangkali baik juga dilakukannya. Sebagaimana dikatakan oleh Pangeran Singa Narpada, bahwa jika ia bersedia melakukannya, maka korban akan dapat dikurangi sekecil-kecilnya. Karena ia akan dapat melakukannya sendiri tanpa pasukan dan para pemimpin dari Lemah Warah, sementara itu, Lemah Warah telah memberikan korban cukup banyak.

“Baiklah,“ berkata Pangeran Singa Narpada kemudian, “kita dapat memikirkan langkah-langkah kita lebih lanjut. Aku akan melihat suasana medan.”

“Silahkan Pangeran. Biarlah aku menunggui Panembahan di sini. Aku tidak tahu, apakah keselamatan Panembahan masih dapat diusahakan. Namun bagaimanapun juga, aku masih akan berusaha.”

“Silahkan,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

“Aku akan membawanya ke barak sebelah,“ berkata Ki Permita kemudian.

Pangeran Singa Narpada dan para pemimpin Lemah Warah serta yang lain pun kemudian telah meninggalkan Pangeran Gagak Branang yang ditunggui oleh hambanya yang setia.

Seperti dikatakan oleh Akuwu Lemah Warah, maka pertempuran memang sudah selesai. Namun Pangeran Singa Narpada harus mengelus dadanya melihat jumlah korban yang jatuh. Meskipun Pangeran Singa Narpada adalah seorang prajurit yang keras dan garang, namun melihat korban yang sedang dikumpulkan, baik dari Lemah Warah maupun dari padepokan itu sendiri, rasa-rasanya kulitnya telah meremang.

Tetapi rasa-rasanya memang tidak ada jalan lain. Tanpa pengorbanan yang besar, maka Kediri tidak akan dapat menyingkap rahasia padepokan itu yang ternyata dipimpin oleh Pangeran Gagak Branang yang tidak kalah kerasnya dari Pangeran Singa Narpada.

Akuwu Lemah Warah sendiri setiap kali telah menekan dadanya melihat anak-anaknya terbaik menjadi korban.

Dalam pada itu, Ki Permita telah membawa tubuh Pangeran Gagak Branang ke barak sebelah, barak yang masih terhitung utuh dibanding dengan bark-barak yang lain.

Namun ternyata bahwa keadaan tubuh Pangeran Gagak Branang itu sudah demikian lemahnya. Jantungnya tidak lagi berdetak cukup keras untuk mendorong darahnya mengalir ke seluruh tubuhnya. Sementara itu kekuatan sejenis getah yang telah mempengaruhi wadagnya, seakan-akan mampu menahan pertumbuhannya, tidak lagi berarti, sehingga karena itu, maka perubahan pada wadag itu pun telah terjadi dengan cepat. Namun yang terbaring itu masih tetap Pangeran Gagak Branang.

Hanya karena pertimbangan usia sajalah maka Pangeran Singa Narpada tidak memikirkannya sebagai Pangeran Gagak Branang. Sebenarnya Pangeran Singa Narpada memang mengenali orang yang disebut Panembahan itu adalah seorang yang pernah dikenalnya. Tetapi getah yang diminumnya tentu sudah berselang beberapa puluh tahun dari saat Pangeran Gagak Branang meninggalkan Kediri, sementara itu beberapa tahun berikutnya pertumbuhan wadagnya telah terhenti. Mungkin sepuluh tahun atau lebih.

Ki Permita menunggui tubuh yang terbaring itu dengan wajah yang suram. Pangeran Gagak Branang memang sudah terlalu tua. Usianya sudah mendekati seratus tahun. Namun pertumbuhan wadagnya telah terhenti sekitar seperempat abad sebelumnya.

Kini tubuh yang terbaring itu benar-benar tubuh seorang yang berusia seratus tahun. Tua, lemah dan keriput di dahi dan keningnya.

“Panembahan,“ desis Ki Permita.

Panembahan itu membuka matanya. Namun nafasnya seakan-akan sudah tidak lagi mengalir dari lubang hidungnya. Sementara arus darahnya pun serasa sudah berhenti pula.

“Permita,“ suaranya lemah sekali.

“Ya Panembahan,“ jawab Permita.

“Aku kagum akan kemampuan Singa Narpada dan orang yang disebut Mahendra itu,“ desisnya. Suaranya lemah, bahkan gemetar.

“Ya Panembahan,“ jawab Ki Permita, “mereka memiliki ilmu yang sangat tinggi.”

“Sementara itu, aku juga mendengar pengakuanmu Permita, bahwa kau juga memiliki ilmu sebagaimana aku miliki,“ berkata Pangeran Gagak Branang, “tetapi itu tidak mengejutkan aku. Yang mengejutkan aku adalah bahwa sebenarnya kau mempunyai keyakinan lain dari keyakinanku.”

“Ampun Panembahan,“ jawab Ki Permita, “aku tidak dapat mengelak lagi dari nuraniku yang sebenarnya. Aku memang tidak ingin menyembunyikan lagi justru pada saat Panembahan telah terlempar ke dalam ujud kewajaran. Kita sudah sama-sama tua. Pada saatnya aku pun akan segera berubah sebagaimana Panembahan. Jika sampai saat terakhir Panembahan tidak mengetahui keadaanku sebenarnya, rasa-rasanya aku masih tetap berhutang kepada Panembahan. Ada kebohongan yang terasa terbawa tanpa pengakuan. Karena itu Panembahan, tanpa mengurangi kesetiaanku kepada Pangeran Gagak Branang, maka aku telah memberikan pengakuan itu. Dengan demikian aku merasa tidak lagi berhutang kepada Panembahan dengan kebohongan yang tidak habis-habisnya.”

Pangeran Gagak Branang mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian katanya, “Terima kasih atas kejujuranmu. Dalam saat-saat terakhir ini, sebaiknya aku memang mengetahui segala-galanya. Pengakuanmu atas keyakinanmu yang berbeda, justru memberikan tekanan akan kesetiaanmu. Hanya orang yang setia sepenuhnya sajalah yang dapat menyembunyikan nuraninya untuk waktu yang sekian tahun lamanya. Untuk itu aku harus berterima kasih kepadamu.”

Ki Permita menundukkan wajahnya. Dengan nada dalam ia berkata, “Pangeran, hamba mohon maaf.”

Panembahan yang terluka parah itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian menyeringai menahan sakit di dadanya. Pada usia yang sudah sangat tua, maka ia tidak akan mampu bertahan lagi, setelah simpul pengendalian ilmunya terguncang setelah membentur kekuatan ilmu Pangeran Singa Narpada dan Mahendra bersama-sama.

Karena itu maka suaranya yang semakin lemah terdengar pula, “Permita. Meskipun sikapku terhadap Kediri tidak sama dengan Pangeran Singa Narpada, namun ia adalah seorang yang luar biasa. Ia adalah seorang kesatria yang teguh memegang martabat kesatriaannya. Karena itu, maka kau akan mendapat tumpuan pengabdian yang baru. Ikutlah anak itu dan justru sikapmu akan sesuai dengan sikapnya.”

“Aku mendapat perintah dari Pangeran Singa Narpada, Panembahan,“ berkata Ki Permita.

“Lakukan. Aku sudah mendengarnya. Kau akan dapat memenuhinya tanpa merenggut korban lagi dari orang-orang Lemah Warah,“ berkata Panembahan itu.

“Tetapi dalam tugas ini, aku ingin menutup lembaran-lembaran ceritera tentang hidup seorang hamba yang setia. Panembahan, umurku pun sudah terlalu tua. Aku sudah terlalu lama hidup tanpa ujung pangkal. Maka sepeninggal Panembahan, maka rasa-rasanya hidup pun tidak akan berarti lagi. Karena itu maka aku memang ingin mengakhiri hidup ini dengan cara sebagai seorang prajurit yang mati di medan perang.”

“Tidak ada orang yang dapat membunuhmu kecuali Pangeran Singa Narpada dan Mahendra itu bersama-sama sebagaimana dilakukan atas diriku,“ berkata Panembahan itu semakin lemah.

Permita tidak menyahut lagi. Tetapi ia bergeser semakin mendekat. Ditatapnya wajah yang menjadi semakin pucat serta nafas yang semakin sendat.

Tetapi ternyata bahwa Pangeran Gagak Branang itu masih belum sampai pada batas terakhir. Ia masih tetap bernafas meskipun keadaannya menjadi sangat parah. Bahkan Permita telah menyangka bahwa sebelumnya Pangeran Gagak Branang itu telah meninggal. Namun ternyata belum.

Namun justru karena itu, maka Pangeran Gagak Branang itu akan menjadi persoalan baginya. Jika ia melakukan tugas Pangeran Singa Narpada, maka ia harus meninggalkan Pangeran Gagak Branang dalam keadaan yang payah.

Ki Permita tidak dapat sekedar merenungi keadaan itu. Karena itu ia harus mengatakannya kepada Pangeran Singa Narpada apabila ia sudah siap untuk berangkat.

Ketika hal itu kemudian disampaikan kepada Pangeran Singa Narpada maka Pangeran Singa Narpada tidak mengabaikannya. Pangeran Gagak Branang memang memerlukan perawatan, sementara itu ia tidak dapat terlalu lama menunggu sehingga orang-orang yang harus mereka cari akan bersembunyi semakin jauh.

Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada itu pun kemudian bertanya kepada Ki Permita, “Bagaimana menurut pertimbanganmu?”

“Memang harus ada orang khusus yang merawatnya,“ berkata Ki Permita, “sebenarnya orang yang paling tepat adalah aku. Tetapi Pangeran telah memerintahkan aku untuk mencari orang-orang yang telah melarikan diri dari padepokan ini.”

“Jadi, bagaimana sebaiknya? Tugasmu diurungkan?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Tidak Pangeran. Biarlah aku bertanya kepada Pangeran Gagak Branang, apa yang dikehendakinya,“ jawab Ki Permita.

“Jika pamanda Gagak Branang menghendaki kau tinggal, maka aku sama sekali tidak berkeberatan kau tinggal,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

Namun dalam pada itu, maka Mahendra telah berkata, “Pangeran. Jika Pangeran Gagak Branang setuju, aku bersedia merawatnya, selama Ki Permita melakukan tugasnya.”

Ki Permita menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun menjawab, “Aku akan bertanya kepada Pangeran Gagak Branang.”

Seperti yang dikatakannya, maka Ki Permita pun telah menemui Pangeran Gagak Branang yang terbaring di sebuah amben di dalam barak yang tidak lagi dihuni oleh orang lain.

Ternyata Ki Permita tidak menolak. Apalagi ketika ia mendapat keterangan bahwa Mahendra adalah salah seorang dari kedua orang yang telah membentur ilmunya.

“Ia adalah orang yang luar biasa sebagaimana Singa Narpada,“ berkata Pangeran Gagak Branang, “aku akan merasa beruntung sekali jika ia bersedia mengawani aku di sini.”

Demikianlah, maka pada saatnya Ki Permita itu pun telah minta diri untuk melakukan tugasnya. Sementara itu, Pangeran Singa Narpada serta Akuwu Lemah Warah serta pasukannya masih tetap berada di padepokan itu untuk beberapa saat lamanya.

Seperti yang disanggupinya, maka Mahendra lah yang kemudian merawat Pangeran Gagak Branang yang tua dan lemah. Yang kadang-kadang menjadi sangat gawat sehingga nampaknya tidak ada lagi harapan baginya untuk bertahan sampai sepenginang. Namun ternyata bahwa segala dugaan telah keliru. Pernafasan Pangeran Gagak Branang menjadi teratur kembali dan keadaannya pun berangsur baik.

Ternyata bahwa Mahendra berusaha untuk merawat Pangeran Gagak Branang sebaik-baiknya. Ia sama sekali tidak memberikan kesan bahwa mereka pernah berhadapan sebagai lawan yang mempertaruhkan hidup mati mereka. Namun sebaliknya Pangeran Gagak Branang pun tidak lagi menganggap Mahendra sebagai musuhnya. Dalam pergaulan mereka yang semakin akrab, maka Pangeran Gagak Branang telah menganggap Mahendra sebagai sahabatnya.

Bahkan Pangeran Gagak Branang itu pun mulai tertarik kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, anak Mahendra yang memiliki kemampuan yang tinggi pada usianya yang masih muda.

“Aku telah mendengar tentang anak-anakmu itu Mahendra,“ berkata Pangeran Gagak Branang.

“Mereka memang mulai belajar tentang olah kanuragan,“ berkata Mahendra, “tetapi mereka tidak termasuk anak-anak yang cerdas.”

“Kau merendahkan diri,“ berkata Pangeran Gagak Branang, “aku tahu, anak-anakmu memiliki kemampuan yang mengagumkan. Sebelum kau datang, anak-anakmu telah menunjukkan kelebihannya. Mereka mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang sebenarnya terlalu berat bagi anak-anak muda sebayanya.”

“Pangeran memuji,“ desis Mahendra.

Pangeran Gagak Branang tersenyum. Namun ia pun kemudian terdiam. Seperti sering dilakukan, maka ia pun kemudian telah merenung. Seakan-akan dipandanginya satu masa yang tidak dapat disebutkan. Mungkin ia sedang menerawangi satu kenangan atau mungkin bahkan ia sedang menyesali keadaannya, atau mengangankan masa depan yang mungkin akan dialaminya.

Namun dalam pada itu, ternyata Mahendra mampu menempatkan dirinya sebagai sahabat Pangeran Gagak Branang. Sehingga dengan demikian sepeninggal Ki Permita, Pangeran Gagak Branang tidak merasa sendiri, tanpa orang lain.

Sementara itu, Ki Permita telah meninggalkan padepokan itu. Sebenarnya ia pun tidak begitu pasti, ke mana orang-orang itu pergi. Namun ia mempunyai beberapa dugaan, tempat-tempat yang mungkin didatangi oleh para pemimpin padepokan itu yang melarikan diri, sehingga tempat-tempat itu akan dapat dijadikan sasaran utama dalam melaksanakan tugasnya.

Namun demikian, di sepanjang jalan, Ki Permita mencoba untuk mendengarkan pembicaraan orang atau justru ia telah bertanya-tanya apakah ada orang yang sempat melihat kelompok kecil yang lewat di padukuhan mereka atau bahkan kepada para penjual di kedai, mungkin sekelompok orang telah singgah di kedai itu.

Meskipun tidak banyak orang yang bersedia memberikan keterangan, karena takut terlibat dalam satu tindak kekerasan, namun ada juga yang tidak dengan maksud sesuatu, menunjukkan, sekelompok orang yang pernah lewat di padukuhan mereka, atau singgah di kedai mereka. Sehingga dengan demikian, meskipun agak sulit, namun Ki Permita akhirnya yakin bahwa sekelompok kecil orang-orang itu telah menuju ke sebuah padepokan lain yang juga pernah dikenalnya.

Namun Ki Permita itu kadang-kadang menjadi berdebar-debar. Jika ia harus menghadapi orang padepokan, maka ia tentu akan melakukan sesuatu yang dicemaskannya dilakukan oleh Pangeran Gagak Branang.

Tetapi untuk menenangkan hatinya sendiri ia berkata, “Tetapi sasarannya memang berbeda. Pangeran Gagak Branang akan melakukannya atas para prajurit yang sedang mengemban tugas, sedangkan aku jika terpaksa akan melakukannya atas orang-orang yang sedang memberontak terhadap pemerintah.”

Namun Ki Permita tetap berkeinginan bahwa segalanya akan dapat diselesaikan tanpa kekerasan, tanpa korban dan akan dicapainya dengan tuntas.

Sementara Ki Permita menelusuri jalan yang dilalui oleh para pemimpin padepokan yang melarikan diri, maka keadaan Pangeran Gagak Branang menjadi semakin tidak menentu. Kadang-kadang keadaannya nampak sulit sekali. Nafasnya bagaikan tidak dapat lagi mengalir. Namun kadang-kadang keadaannya nampak baik dan bahkan semakin segar.

Dalam keadaan yang demikian, Pangeran Gagak Branang telah memanggil Pangeran Singa Narpada dan Mahendra.

Dengan suara yang bergetar Pangeran itu berkata, “Pangeran Singa Narpada dan Ki Mahendra. Sebagaimana kalian lihat, keadaanku ternyata sangat sulit. Aku seperti berdiri di sebuah pintu. Sekali aku didorong untuk masuk, namun kadang-kadang aku telah terlempar lagi keluar.”

Pangeran Singa Narpada yang duduk dekat dengan Pangeran Gagak Branang itu kemudian berkata, “Bagaimana maksud pamanda. Apakah pamanda ingin melakukan samadi agar keadaan pamanda menjadi semakin baik? Jika memang pamanda kehendaki, maka biarlah aku dan Mahendra menolong pamanda. Keadaanku dan Mahendra sudah berangsur baik, dan bahkan justru telah pulih kembali.”

“Aku memang sudah menduga,“ berkata Pangeran Gagak Branang, “tetapi nampaknya keadaanku tidak akan menjadi baik. Aku sudah terlalu tua dan wadagku seperti ini tidak akan dapat lagi mendukung ilmuku seandainya aku masih mungkin menyelamatkannya.”

“Jadi bagaimana maksud pamanda?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

Pangeran Gagak Branang termangu-mangu. Kemudian dengan suara sendat ia berkata, “Singa Narpada. Ada sesuatu yang perlu kau ketahui. Bahwa apapun yang terjadi atas diriku, aku tidak akan mati. Seandainya kalian berdua, dalam kemampuan sepenuhnya seperti sekarang ini menyerang aku, aku memang akan semakin hancur. Tetapi aku tidak akan mati. Bahkan justru semakin tersiksa. Tubuhku menjadi semakin rusak. Namun nyawaku akan tetap berada di dalamnya dengan semua penanggungan.”

“Kenapa Pangeran tidak dapat mati?“ bertanya Mahendra.

“Itulah yang ingin aku pecahkan,“ berkata Pangeran Gagak Branang, “semula aku merasa bangga akan kekebalan itu. Tetapi pada saat seperti ini, maka kematian adalah satu-satunya jalan yang paling baik bagiku untuk melepaskan diri dari penderitaan ini.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun ia dapat mengerti, bahwa kematian memang merupakan pelepasan terbaik bagi Pangeran Gagak Branang.

“Singa Narpada, kau jangan merasa segan untuk membenarkan kata-kataku,“ berkata Pangeran Gagak Branang, “aku memerlukan pertolonganmu.”

“Apa yang dapat kami lakukan pamanda?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

Pangeran Gagak Branang termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Carilah seutas lawe.”

“Lawe?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Ya, lawe. Kemudian usahakan agar kau dapat melakukan sesuatu untuk melepaskan penderitaan ini,“ berkata Pangeran Gagak Branang.

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian telah memerintahkan kepada Akuwu Lemah Warah untuk mengusahakan seutas lawe.

“Jika perlu, pergi ke padukuhan,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

Sementara prajurit Lemah Warah mencari seutas lawe, maka Pangeran Gagak Branang itu pun berkata, “Singa Narpada. Ada sesuatu lagi yang ingin aku beritahukan. Dalam keadaan yang parah ini, masih ada yang dapat aku berikan kepada seseorang. Mungkin kau atau Ki Mahendra atau kedua-duanya. Kalian adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Dengan sisa ilmu yang ada padaku, maka kalian akan memiliki ilmu yang lebih baik lagi.”

“Tetapi dengan akibat, tidak dapat mati sebagaimana pamanda sekarang ini?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Tidak Singa Narpada,“ jawab Pangeran Gagak Branang, “bahwa aku terlepas dari kematian bukan karena ilmu itu. Tetapi karena ilmu yang lain.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun bertanya, “Pamanda. Apakah ada syaratnya bagi seseorang yang harus menerima ilmu itu?”

“Memang ada,“ jawab Pangeran Gagak Branang, “yang akan menerima ilmu itu harus orang-orang yang memang sudah berilmu, ia memiliki wadag yang kuat untuk mendukung kemampuan yang timbul karena ilmu itu. Selanjutnya, penilaian tentang watak dan tingkah laku.”

Pangeran Singa Narpada dan Mahendra termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Pangeran Singa Narpada lah yang bertanya, “Bagaimanakah dasar penilaian tentang watak dan tingkah laku?”

Pangeran Gagak Branang yang nafasnya terasa menjadi sesak berkata, “Penilaian watak dan tingkah laku tergantung orang yang memiliki ilmu itu untuk menentukan apakah seseorang dianggap pantas untuk menerimanya.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk . Namun kemudian katanya, “Pamanda. Kami berdua sudah menjadi semakin tua. Sebentar lagi kami berdua akan segera menyusul sebagaimana keadaan pamanda sekarang. Karena itu seandainya ilmu itu pamanda berikan kepada kami berdua, maka agaknya tidak akan banyak memberikan manfaat bagi kehidupan.”

“Bukankah kalian akan dapat mewariskannya kepada orang-orang yang kalian percaya?“ berkata Pangeran Singa Narpada. “Sementara itu, kau memiliki syarat yang paling baik untuk menerima ilmu ini. Kau mampu menghisap ilmu orang lain sehingga akan berarti bagi dirimu sendiri.”

“Tidak pamanda. Aku hanya mampu memperlemah ilmu orang lain, tetapi tidak menghisapnya dan memberikan arti bagi kemampuanku,“ jawab Pangeran Singa Narpada.

“Kau sudah berdiri di ambang pintu. Kau tinggal melangkah satu langkah lagi untuk sampai pada kemampuan itu,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “jika pada saat kau mengetrapkan ilmumu itu kau sertai dengan laku yang lain, maka kau akan sampai pada kemampuan itu.”

“Apakah yang harus aku lakukan seandainya aku bersedia menerima ilmu pamanda,“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Pangeran. Kau sampai saat ini masih membenturkan kekuatan dan kemampuan ilmumu sekaligus dan bersama-sama. Yang terjadi dalam pergolakan ilmu itu adalah, bahwa ilmumu justru telah menyusup ke dalam tubuh lawanmu, baru terjadi penyusutan kemampuan lawanmu karena getaran ilmumu yang telah membekukan sebagian dari ilmu lawanmu di dalam tubuh mereka. Jadi yang terjadi bukannya satu kemampuan untuk menghisap ilmu lawanmu.“

“Hamba mengerti pamanda. Tetapi istilah yang paling mudah dipergunakan adalah menghisap ilmu lawan sebagaimana dipergunakan oleh banyak orang. Mereka menuduh aku mempergunakan ilmu yang licik, karena aku telah mencuri kemampuan lawan dengan diam-diam. “ jawab Pangeran Singa Narpada.

“Mungkin istilah itu dapat saja dipergunakan, karena yang terjadi memang seolah-olah demikian,“ berkata Pangeran Gagak Branang, “namun untuk memiliki ilmuku kau dapat berbuat lain. Kau harus benar-benar menghisap. Kau trapkan ilmumu, tetapi tidak dengan kekuatan benturan. Kau justru harus membiarkan kekuatan lawan menusuk ke dalam dirimu, kemudian kau terima dan kau hisap ke dalam ruang penempatan ilmumu yang tidak terbatas. Kau biarkan getaran itu bergejolak di dalam dirimu, namun kau siapkan daya tahanmu untuk melindungi dirimu jika ilmumu itu ternyata kurang mampu mewadahi luap getaran ilmu yang akan kau terima itu. Karena itu, untuk menerima ilmuku, seseorang memang harus sudah memiliki ilmu yang tinggi, sehingga luapan kemampuan ilmu ini dapat di atasi dengan kemampuan daya tahan yang cukup besar.”

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dipandanginya Mahendra sejenak. Kemudian hampir berbisik Pangeran Singa Narpada berkata, “Bagaimana dengan kedua anakmu. Aku kira itu akan lebih baik daripada jika kita yang tua-tua ini yang akan menerimanya.”

Mahendra nampak ragu-ragu. Namun dalam pada itu Pangeran Gagak Branang mendengar pertanyaan itu betapapun lambatnya. Karena itu, maka ia pun bertanya, “Siapakah yang kau maksud?”

“Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,“ jawab Pangeran Singa Narpada.

Pangeran Gagak Branang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah mendapat laporan tentang kedua anak muda itu. Dan aku pun telah melihat pula meskipun tidak dengan mata wadagku bagaimana ia bertempur. Nampaknya anak-anak itu memiliki kemampuan yang cukup tinggi, sementara itu aku mempunyai penilaian yang baik bagi watak dan tingkah lakunya. Dalam usianya yang masih sangat muda mereka telah melakukan satu tugas dengan penuh tanggung jawab tanpa menghiraukan taruhannya yang sangat besar, yaitu nyawa mereka sendiri. Bahkan mereka telah mampu mengalahkan orang-orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi pula.”

“Jadi bagaimana menurut pamanda Pangeran, jika aku mengusulkan agar ilmu itu dapat disalurkan kepada kedua anak muda yang masih akan memiliki masa depan yang panjang itu?”

Pangeran Gagak Branang menarik nafas dalam-dalam. Tubuhnya memang benar-benar sudah menjadi kian parah. Namun ia masih berkata, “Bawa anak itu kemari!”

Pangeran Singa Narpada pun kemudian memberi isyarat kepada Mahendra untuk menghadapkan kedua anak laki-lakinya. Namun bagaimanapun juga terbersit keragu-raguan di hati Mahendra. Yang akan dilakukan oleh Pangeran Gagak Branang itu adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Jika kedua anaknya tidak mampu menerima dan mengisap dan meluluhkannya di dalam dirinya, serta ternyata daya tahannya tidak dapat mengatasi luapan ilmu itu maka ilmu itu justru akan membahayakannya.

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...