Rabu, 06 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 037-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-037-01*

Tetapi sebagai seorang prajurit, andai kata Pangeran Singa Narpada harus mati di medan perang pun ia tak akan menyesal. Kemungkinan yang demikian sudah diperhitungkannya sejak ia menyatakan diri sebagai seorang prajurit. Apalagi seorang Senopati.

Karena itu, maka ia pun telah bertekad untuk menangkap orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi itu hidup-hidup, meskipun nampaknya hal itu sangat mustahil.

Di luar sadarnya, dipandanginya Mahendra yang juga sudah bersiap. Meskipun keduanya tidak pernah membicarakannya sebelumnya, namun bagi Mahendra, apabila mereka mampu menangkap orang yang disebut Panembahan itu hidup-hidup, maka banyak hal yang akan dapat diketahui dan banyak teka-teki yang dapat ditebak.

Dalam pada itu, orang yang disebut Panembahan itu pun memandangi kedua orang lawannya berganti-ganti. Wajah-wajah yang dalam dan memancarkan kepribadian yang mantap.

Namun orang yang disebut Panembahan itu sama sekali tidak menjadi gentar. Sejenak ia mengendapkan gejolak perasaannya, namun sejenak kemudian ia telah siap untuk bertempur lagi.

Pangeran Singa Narpada lah yang kemudian bergerak mendekat. Sementara orang yang disebut Panembahan itu pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Bahkan seolah-olah ia memang menunggu serangan Pangeran Singa Narpada.

Mahendra pun berdiri termangu-mangu. Tetapi ia sama sekali tidak bergerak. Dibiarkannya Pangeran Singa Narpada bertempur. Dalam keadaan yang khusus sajalah Mahendra ingin bergerak. Mungkin pada saat yang paling tepat untuk mendesak dan mungkin menangkap orang yang disebut Panembahan itu hidup-hidup.

Sebenarnyalah sejenak kemudian, maka Pangeran Singa Narpada telah melenting menyerang. Serangannya datang demikian cepatnya sehingga rasa-rasanya tidak akan mungkin dapat dihindari.

Tetapi ternyata orang yang disebut Panembahan itu mampu menghindari serangan itu. Ia pun bergerak secepat gerak Pangeran Singa Narpada, sehingga serangan Pangeran Singa Narpada tidak menyentuh apapun juga.

Namun dengan tangkas orang yang disebut Panembahan itulah yang kemudian menyerang. Tidak kalah cepatnya. Angin yang terayun bersamaan dengan ayunan kakinya menyambar tubuh Pangeran Singa Narpada meskipun serangan kaki itu sendiri tidak mengenainya, karena Pangeran Singa Narpada meskipun sempat bergeser.

Mahendra masih berdiri termangu-mangu. Meskipun ia sudah bersiap sepenuhnya, namun ia tidak segera berbuat sesuatu. Namun di luar sadarnya, ia bergeser jika pertempuran itu telah bergeser pula.

Sejenak kemudian pertempuran antara Pangeran Singa Narpada dan orang yang disebut Panembahan itu semakin menjadi cepat. Keduanya telah meningkatkan kemampuan mereka, karena masing-masing ingin lebih cepat menyelesaikan pertempuran itu.

Namun dalam pada itu, dalam kesempatan yang tidak terduga, Panembahan itu telah meloncat menyerang Mahendra yang berdiri termangu-mangu. Hampir saja ayunan tangan orang yang disebut Panembahan itu menyentuh kening Mahendra. Namun dengan tangkas Mahendra telah bergerak. Sambil merendahkan diri Mahendra bergeser selangkah, sehingga dengan demikian maka serangan itu tidak menyentuhnya. Namun angin yang bergetar bersama dengan ayunan tangan itu telah menampar wajah Mahendra, sehingga rasa-rasanya nafasnya telah menjadi sesak.

“Bukan main,“ geram Mahendra.

Ia tidak sempat mengagumi serangan itu terlalu lama. Sekejap kemudian serangan berikutnya pun telah datang pula. Seperti serangan yang terdahulu, maka angin yang keras telah menyambar tubuhnya meskipun serangan itu sendiri tidak mengenainya.

Mahendra tiba-tiba saja menjadi curiga pada angin yang menerpa tubuhnya itu. Tentu bukan angin biasa yang didorong oleh ayunan tubuhnya betapapun kuatnya.

Sebenarnyalah ketika serangan berikutnya datang, maka angin itu rasa-rasanya telah menjadi hangat.

“Inilah tebakan dari teka-teki itu,“ berkata Mahendra di dalam dirinya. Angin yang dengan kuat mengikuti ayunan serangannya itu tentu merupakan bagian dari ilmunya yang luar biasa.

Namun Mahendra tidak akan menghindar dari arena. Ia-pun kemudian telah menyerang lawannya dengan dahsyatnya.

Pangeran Singa Narpada lah yang kemudian berdiri tegak memperhatikan kedua orang yang sedang bertempur itu. Dengan ketajaman pengamatannya, maka Pangeran Singa Narpada pun kemudian dapat mengetahui pula, bahwa angin yang menyambar berbareng dengan setiap serangan itu bukan sekedar karena besarnya tenaga ayunan serangan Panembahan itu, tetapi sebenarnyalah bahwa angin itu merupakan bagian dari ilmunya yang luar biasa.

Mahendra yang kemudian bertempur dengan Panembahan itu semakin merasakan kekuatan ilmu lawannya. Angin itu pun semakin lama terasa semakin panas.

Karena itu, maka Mahendra pun harus berbuat sesuatu. Ia tidak dapat sekedar bertempur dengan tenaga cadangannya. Sekedar melawan benturan kekuatan tenaga cadangan lawan. Atau sekedar meloncat dengan cepat mengimbangi kecepatan gerak orang yang disebut Panembahan itu. Tetapi ia harus mampu melawan kekuatan ilmu Panembahan itu yang mulai dipancarkan pada setiap serangan wadagnya.

Mahendra adalah seorang yang memiliki ilmu yang masak pula. Karena itu, maka untuk melawan ilmu lawannya yang menyerap tenaga api, maka ia tidak membenturnya dengan kekuatan yang memiliki watak yang sama. Tetapi ia mulai membangunkan kekuatan ilmunya dalam ujudnya yang sebaliknya. Mahendra tidak membentur kekuatan lawan dan kemudian saling menolak dan beradu kekuatan. Tetapi Mahendra telah menahan serangan lawannya dengan kekuatannya yang lunak dan justru menyerap kekuatan ilmu lawannya, menggulungnya dan kemudian menghapuskannya dengan kekuatan yang berlawanan itu.

Demikianlah, maka dalam benturan ilmu, Mahendra telah melepaskan ilmunya dalam ujudnya yang lunak.

Dengan ilmu itu, maka Mahendra telah melepaskan satu kekuatan yang mempunyai pengaruh yang sebaliknya. Getaran yang terpancar dari dalam dirinya telah melepaskan udara dingin yang bagaikan bergulung-gulung di sekitarnya.

Memang terjadi benturan dua kekuatan yang saling berlawanan. Ketika orang yang disebut Panembahan itu meloncat menyerang Mahendra dengan hembusan udara panas, maka rasa-rasanya udara itu telah menyusup ke dalam satu gulungan kekuatan yang menghisap panas itu dan justru telah membekukannya.

Orang yang disebut Panembahan itu terkejut. Namun ia mulai merasa udara dingin itu bukan saja telah menghisap dan menawarkan serangan kekuatan ilmunya yang disadapnya dari kekuatan api, namun udara dingin itu telah mempengaruhinya pula.

“Gila,“ geram orang disebut Panembahan itu.

Namun dengan demikian ia semakin terperosok ke dalam kekuatan ilmu Mahendra yang membuatnya seakan-akan menjadi kedinginan. Namun orang disebut Panembahan itu tidak mau dikuasai oleh kekuatan ilmu lawannya. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah membentak dengan menghentakkan kekuatan ilmunya.

Udara di sekitarnya telah menggelepar. Ternyata kekuatan yang disadapnya dari kekuatan api bagaikan menghentak pula dan membakar menjilat ke sekitarnya.

Mahendra yang tiba-tiba merasa terjilat api telah meloncat surut. Tetapi api itu tidak dapat membakarnya. Kekuatan ilmunya benar-benar dahsyat pula, sehingga panasnya api yang bagaikan menjilat ke sekitarnya itu telah tertahan, kemudian justru terhisap dan menjadi tawar sama sekali.

Namun bukan berarti bahwa serangan berikutnya tidak dapat menerpanya, dan barangkali justru semakin dahsyat.

Karena itu, maka Mahendra pun telah bersiap sepenuhnya. Kekuatan ilmunya masih saja bergulung-gulung mengitarinya sehingga kekuatan api yang betapapun panasnya akan dapat ditawarkannya.

Sementara itu, agaknya Panembahan itu mempunyai perhitungan yang lain. Agaknya ia merasa bahwa ia tidak akan dengan mudah dan cepat mengalahkan lawannya itu. Karena itu. maka tiba-tiba ia telah berpaling lagi kepada Pangeran Singa Narpada. Justru pada saat Pangeran Singa Narpada sedang memperhatikan pertempuran itu dengan saksama.

Pada saat yang demikian, maka tiba-tiba saja orang-orang disebut Panembahan itu telah melenting menyerang Pangeran Singa Narpada sambil berteriak, “Mari Pangeran. Kenapa kau diam saja. Sudah aku katakan, kalian dapat bertempur berpasangan.”

Pangeran Singa Narpada tidak menjawab. Namun dengan tangkas ia harus menghindari serangan itu. Namun sementara itu, udara panas telah menyambarnya, sehingga terasa seakan-akan kulitnya akan terkelupas.

Namun Pangeran Singa Narpada telah meningkatkan daya tahannya sampai ke puncak, sehingga meskipun tubuhnya bagaikan terbakar, namun ia masih mampu menahankannya.

Untuk menghadapi lawannya, maka Pangeran Singa Narpada pun harus mempergunakan ilmunya pula. Ia tidak akan dapat membiarkan dirinya dibakar oleh panasnya ilmu lawannya.

Karena itulah maka betapapun panasnya sentuhan api dari ilmu yang terpancar dari orang yang disebut Panembahan itu, namun Pangeran Singa Narpada telah berusaha untuk membenturkan kekuatan ilmunya yang sangat besar.

Panembahan itu memang merasa heran melihat cara Pangeran Singa Narpada bertempur. Ia sama sekali tidak berusaha menghindari serangan-serangannya. Bahkan Pangeran Singa Narpada selalu berusaha untuk membenturkan kemampuannya meskipun tubuhnya serasa bagaikan terkelupas oleh panasnya ilmu lawannya.

Semula Penembahan itu tidak merasakan sesuatu pada dirinya selain benturan-benturan. Kadang-kadang memang terasa kulitnya menjadi sakit dalam benturan itu. Namun kemampuan daya tahannya mampu mengatasinya, sehingga orang yang disebut Panembahan itu tidak menghiraukannya.

Menurut perhitungannya Pangeran Singa Narpada memang berusaha untuk menyakitinya dengan serangan-serangannya dan benturan-benturan yang sengaja dilakukan.

Namun sebenarnyalah bahwa Pangeran Singa Narpada memang menjadi semakin garang. Langkah-langkahnya yang panjang telah memburu ke mana saja lawannya menghindar. Bahkan jika lawannyalah yang menyerang dibarengi dengan arus angin panas. Pangeran Singa Narpada sama sekali tidak berusaha untuk mengelakkannya.

Orang yang disebut Panembahan itu memang menjadi heran. Setiap kali ia melihat Pangeran Singa Narpada menyeringai menahan sakit. Tetapi serangan-serangannya yang cepat dan garang, memang dapat juga membuatnya sakit, meskipun dengan cepat orang yang disebut Panembahan itu mampu mengatasinya.

Namun tiba-tiba saja sesuatu telah terjadi didalam dirinya. Panembahan yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi itu, dengan cepat menyadari, ilmu lawannya yang bernama Pangeran Singa Narpada itu ternyata ilmu yang nggegirisi.

Karena itu maka tiba-tiba saja orang yang disebut Panembahan itu meloncat untuk mengambil jarak.

Pangeran Singa Narpada dan Mahendra tidak memburunya. Mereka berdiri beberapa langkah dari orang itu sambil menunggu, apa yang akan dilakukannya.

“Bukan main,“ berkata orang yang disebut Panembahan itu, “kalian berdua memang orang-orang luar biasa. Seorang diantara kalian mampu menjadikan udara ini beku sehingga arus panasku sama sekali tidak berpengaruh atasnya. Sedangkan yang seorang memiliki ilmu hisap yang dahsyat sekali. Meskipun kesannya memang agak licik, tetapi akibatnya bagi lawannya akan terasa menentukan. Untunglah aku cepat menyadari. Jika aku terlambat maka aku akan menjadi seonggok tubuh yang tidak berdaya di pinggir arena ini. Bahkan kemudian menjadi tontonan para prajurit Lemah Warah dan orang-orangku sendiri di padepokan ini.

Pangeran Singa Narpada memandang orang itu dengan tajamnya. Dengan nada tinggi ia berkata, “Apapun yang aku katakan Panembahan. Tetapi kami sudah siap bertempur dengan cara apapun juga.”

“Aku mengerti bahwa kalian memang sudah siap. Tetapi kalian akan kecewa jika kalian menganggap bahwa pertempuran sudah selesai.”

Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Mungkin pertempuran diantara kita belum selesai.”

Orang yang disebut Panembahan itu mengerutkan keningnya. Lalu dengan nada rendah ia bertanya, “Apa maksudmu?”

“Wajar saja. Pertempuran diantara kita memang belum selesai. Karena itu kami masih selalu siap. Jika kami menganggap bahwa pertempuran sudah selesai, maka kami tidak perlu mempersiapkan diri,“ jawab Pangeran Singa Narpada, “tetapi mungkin yang belum selesai adalah pertempuran diantara kita saja. Sementara itu pertempuran di seputar padepokan ini sudah dapat diselesaikan oleh para prajurit Lemah Warah.”

Orang yang disebut Panembahan itu termangu-mangu sejenak. Namun yang dikatakan oleh Pangeran Singa Narpada itu memang mungkin saja terjadi. Panembahan itu sadar, bahwa kekuatan Lemah Warah memang lebih tinggi dari kekuatan padepokan itu. Sementara para pemimpin dari Lemah Warah pun memiliki ilmu yang lebih mapan. Apalagi Akuwu Lemah Warah itu sendiri.

Tetapi orang yang disebut Panembahan itu memang tidak dapat berbuat terlalu banyak, justru karena kehadiran kedua orang yang berilmu tinggi itu.

Untuk beberapa saat orang yang disebut Panembahan itu tercenung. Namun tiba-tiba hatinya telah bergejolak, ia melihat betapa orang-orang padepokan itu mengalami kesulitan dan bahkan kehancuran.

Karena itu, maka tidak ada jalan lain yang dapat memberikan pertimbangan dari peristiwa itu selain menghancurkan kedua orang itu. Namun orang yang disebut Panembahan itu sadar, bahwa kedua lawannya adalah orang yang berilmu tinggi.

Tetapi tidak ada pilihan lain. Ia harus melakukannya dengan mengerahkan segenap ilmu yang ada didalam dirinya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Panembahan itu pun telah bersiap untuk menyingkapkan kemampuan puncaknya, ia sadar bahwa setiap sentuhan dengan tubuh Pangeran Singa Narpada akan berarti susutnya kemampuannya. Sementara itu, ia tidak dapat membiarkan dirinya membeku karena ilmu lawannya yang seorang lagi dalam ujudnya yang lunak.

Karena itulah, maka tiba-tiba saja orang yang disebut Panembahan itu telah bergeser mundur, ia berdiri tegak pada kedua kakinya yang merenggang, sementara tangannya pun telah bersilang di dadanya.

Pangeran Singa Narpada dan Mahendra menyadari, apa yang sebenarnya tengah terjadi. Orang yang disebut Panembahan itu tentu sedang memusatkan nalar budinya untuk melepaskan ilmu puncaknya.

Ada niat Mahendra untuk menyerang lawannya justru pada saat ia belum siap. Namun Mahendra mengurungkannya, ia pun kemudian sadar bahwa lawannya yang berilmu tinggi itu mampu dengan cepat menguasai diri dan mempersiapkan ilmunya. Jika ia terlambat barang sekejap maka ialah yang justru akan menjadi korban pada benturan yang mungkin terjadi.

Karena itu maka lebih baik bagi Mahendra untuk menunggu, apa yang akan terjadi. Namun Mahendra pun telah mempersiapkan dirinya pada puncak kemampuannya, ia siap melepaskan ilmunya dalam ujudnya yang keras atau yang lunak.

Demikian pula Pangeran Singa Narpada. Ia siap dengan segenap kemampuan yang ada didalam dirinya. Ia sadar bahwa ia akan menghadapi satu jenis ilmu yang dahsyat yang mungkin dilontarkan oleh orang yang disebut Panembahan itu, karena di samping ilmu kabutnya, sambaran angin yang memancarkan kekuatan apinya, serta sorot matanya yang membakar, maka orang yang disebut Panembahan itu tentu masih menyimpan ilmu pamungkasnya yang dahsyat. Bahkan Pangeran Singa Narpada itu tidak dapat meramalkan, apakah ia akan mampu menghadapi ilmu itu atau tidak.

Namun apapun yang terjadi, itu merupakan akibat dan tanggung-jawab yang tidak dapat dihindarinya. Bahkan sampai mati pun ia harus menghadapinya.

Beberapa saat lamanya mereka masih saling berdiam diri. Namun ternyata masing-masing telah membangunkan puncak-puncak kekuatan di dalam diri mereka.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian orang yang disebut Panembahan itu telah menarik sebelah kakinya. Kedua tangannya yang bersilang-pun telah diurainya. Kedua tangan itu tiba-tiba saja telah terangkat ke depan menghadap ke arah masing-masing seorang lawan.

Mahendra dan Pangeran Singa Narpada telah bersiap sepenuhnya menghadapi segala kemungkinan. Ketika mereka melihat sikap orang yang disebut Panembahan itu maka mereka pun telah bersiap pula melepaskan ilmu mereka.

Sejenak kemudian, telah terdengar suara gemuruh yang bergulung-gulung tanpa diketahui dari mana asalnya. Namun kemudian Mahendra dan Pangeran Singa Narpada telah melihat getar yang mulai bergerak di seputar tubuh orang yang disebut Panembahan itu.

Getar itu semakin lama menjadi semakin cepat. Kemudian berputar bergulung-gulung semakin deras.

Ketika udara yang terputar oleh kekuatan ilmu orang yang disebut Panembahan itu mulai bergerak ke arah kedua lawannya, maka kedua lawannya pun menjadi semakin berdebar-debar.

Namun ternyata gerak pusaran itu tidak terduga. Semula pusaran itu maju dengan lambat. Namun tiba-tiba saja bagaikan meloncat menerkam kedua orang lawannya.

Mahendra dan Pangeran Singa Narpada terkejut. Mereka tidak menduga bahwa gerak pusaran itu akan berubah dan dengan tiba-tiba melibat mereka.

Karena itu untuk beberapa saat, kedua orang itu bagaikan terputar oleh kekuatan yang sulit untuk dilawan. Kekuatan yang sangat besar telah menelan mereka dalam cengkaman yang sangat kuat.

Mahendra berusaha untuk menggeliat dan bertahan. Tetapi pusaran itu rasa-rasanya telah memutarnya dan melambungkannya ke udara. Semakin lama semakin cepat dan semakin tinggi.

Tetapi Mahendra telah menghentakkan segenap kemampuannya untuk bertahan. Rasa-rasanya kemampuan ilmunya telah dihimpunnya untuk menahan tubuhnya agar tetap melekat di atas tanah. Karena itulah maka rasa-rasanya kakinya yang terangkat itu masih juga sekali-sekali menyentuh tanah. Namun sekali-sekali terlepas dan terlempar meninggi. Tetapi kemudian perlahan-lahan ia telah mendekati buminya kembali karena bobot ilmunya.

Yang terjadi atas Pangeran Singa Narpada pun tidak berbeda. Untuk sekejap Pangeran Singa Narpada memang merasa kebingungan, sehingga karena itu maka ia pun telah terlempar dengan kerasnya, naik di puncak pusaran yang gemuruh.

Namun seperti Mahendra akhirnya Pangeran Singa Narpada mampu memusatkan kekuatan ilmunya untuk memantapkan bobotnya sehingga seperti Mahendra. ia pun telah turun perlahan-lahan diberati oleh ilmu yang ada di dalam dirinya.

Untuk beberapa saat keduanya berjuang menentang kekuatan angin prahara yang memutar dan mengangkat mereka. Mahendra dan Pangeran Singa Narpada sadar, bahwa jika mereka tidak mampu menahan dirinya tetap melekat pada bumi. maka mereka akan diangkat dilontarkan tinggi ke udara, kemudian dibanting terhempas di tanah.

Untuk beberapa saat mereka beradu tenaga lewat ilmu mereka.

Orang yang disebut Panembahan itu berusaha untuk mengangkat mereka dan menghempaskannya sampai lumat, sementara itu Mahendra dan Pangeran Singa Narpada bertahan untuk tetap melekat pada bumi sehingga mereka tidak akan dapat dihempaskan oleh kekuatan angin pusaran yang dibangunkan oleh kemampuan ilmu lawan.

Namun akhirnya Mahendra dan Pangeran Singa Narpada tidak dapat untuk hanya sekedar bertahan. Meskipun mereka tetap berharap bahwa mereka akan memiliki daya tahan melampaui kekuatan orang yang disebut Panembahan itu. Namun ternyata bahwa angin pusaran itu rasa-rasanya menjadi semakin cepat dan keras.

Karena itu, maka baik Mahendra, maupun Pangeran Singa Narpada merasa perlu untuk memberikan perlawanan yang lebih berarti daripada sekedar bertahan.

Namun mereka tidak sempat untuk berbicara di antara mereka. Karena itu, maka mereka tidak dapat melakukan pada waktu yang sama.

Tetapi karena mereka adalah orang-orang yang memiliki bekal yang tinggi, maka terdapat persamaan perhitungan dalam usaha mengatasi persoalan yang sama.

Dalam pada itu, Mahendra yang memiliki kemampuan ilmu mapan pada tataran yang sangat tinggi, sebagaimana saudara serperguruannya Witantra, telah berusaha untuk memusatkan kemampuannya yang memang sudah tersusun sebelumnya. Sementara ia bertahan untuk tetap berjejak di atas tanah, ia pun telah berusaha menghimpun kekuatan ilmu puncaknya.

Meskipun ia tidak akan mungkin dapat mengenai orang yang disebut Panembahan itu pada jarak yang panjang, tetapi pengalamannya mengangkat kabut telah menuntunnya untuk melakukannya pula atas ilmu yang lain dari orang yang disebut Panembahan itu.

Karena itu, maka yang akan langsung dikenainya dengan ilmunya bukan orang yang disebut Panembahan itu sendiri, tetapi justru kekuatan ilmunya yang berupa angin pusaran itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Mahendra telah menghentakkan kekuatan ilmunya, menghantam angin pusaran yang membelit dirinya dan berusaha mengangkatnya untuk kemudian dihempaskannya sampai lumat.

Dengan demikian maka terjadi benturan kekuatan ilmu yang sangat dahsyat. Angin pusaran yang membelit Mahendra itu telah terguncang dengan dahsyatnya.

Sejenak kemudian, terjadi satu goncangan yang dahsyat. Pusaran yang membelit tubuh Mahendra itu bagaikan pecah oleh kekuatan yang dahsyat yang dilepaskan oleh Mahendra.

Dengan demikian maka orang yang disebut Panembahan itu telah memusatkan kekuatannya condong kepada Mahendra yang hampir saja berhasil memecahkan angin pusarannya yang membelit tubuhnya. Perlahan-lahan angin pusaran itu telah menemukan bentuknya kembali, memutar tubuh Mahendra dan berusaha mengangkatnya.

Namun Mahendra yang masih tetap menyadari keadaannya sepenuhnya telah menghimpun kekuatan kembali. Satu hentakkan yang sangat dahsyat telah mengguncang pusaran itu sekali lagi. Sehingga dengan demikian maka perhatian orang yang disebut Panembahan itu seluruhnya hampir tertuju kepada Mahendra untuk mempertahankan kekuatan angin pusarannya.

Pada saat yang demikian itulah, maka Pangeran Singa Narpada telah bertindak. Ia pun telah menghimpun segenap kekuatan ilmunya. Sebagaimana dilakukan oleh Mahendra, maka Pangeran Singa Narpada pun telah berusaha untuk memecahkan pusaran yang membelitnya dan berusaha melemparkannya ke udara dan menghempaskannya ke tanah.

Dengan segenap kekuatan ilmunya, maka Pangeran Singa Narpada itu pun seakan-akan telah meronta dan bagaikan sebuah ledakkan yang dahsyat, maka kemampuan ilmu Pangeran Singa Narpada telah mengoyak pusaran angin yang mengelilinginya.

Karena hampir semua kekuatan ilmu Panembahan itu ditujukan untuk tetap mengikat Mahendra dengan pusarannya, maka ledakan yang terjadi pada angin pusaran yang membelenggu Pangeran Singa Narpada telah mengejutkannya. Dengan tergesa-gesa Panembahan itu berusaha untuk memperbaikinya. Namun sebelum ia sempat berbuat sesuatu, maka hentakkan kedua telah dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada sehingga angin pusaran yang seakan-akan mengungkungnya itu pun telah berhasil dikoyakkannya.

Panembahan itu pun menjadi cemas melihat keadaan kedua orang lawannya. Apalagi ketika perhatiannya terhisap oleh hentakkan ilmu Pangeran Singa Narpada. Mahendra telah sekali lagi menghantam sisa-sisa angin yang mengikatnya, sehingga pecahlah kekuatan orang yang disebut Panembahan itu.

Orang yang disebut Panembahan itu menggeram. Dilepaskannya kekuatan ilmunya yang telah dipecahkan oleh kedua lawannya. Sekejap ia telah membangunkan kembali ilmunya itu. Seperti yang dilakukan semula, maka ia pun telah mengangkat dan mengacukan tangannya ke arah kedua orang lawannya.

Namun Mahendra dan Pangeran Singa Narpada tidak mau membiarkan diri mereka dibelit lagi oleh kekuatan ilmu orang yang disebut Panembahan itu. Karena itu maka mereka pun kemudian telah bersiap untuk menyambut pusaran angin yang datang kepada mereka.

Dengan pengenalan mereka atas serangan ilmu itu sebelumnya, maka mereka sadar, bahwa pusaran yang bergerak perlahan-lahan itu pada saatnya akan meloncat menerkam mereka berdua.

Sebenarnyalah yang terjadi kemudian adalah sebagaimana pernah terjadi sebelumnya. Angin pusaran yang kemudian timbul oleh kekuatan ilmu orang yang disebut Panembahan itu telah meluncur dengan derasnya ke arah Mahendra dan Pangeran Singa Narpada.

Namun baik Mahendra maupun Pangeran Singa Narpada telah bersiap sepenuhnya. Karena itu ketika angin pusaran itu meluncur cepat ke arah mereka, keduanya tidak menunggu dirinya terputar didalamnya.

Demikian angin pusaran itu menerkam mereka, maha Mahendra dan Pangeran Singa Narpada bersama-sama telah menghentakkan ilmu mereka menghantam angin pusaran yang datang untuk melibat mereka dan berusaha melemparkan ke udara.

Benturan yang dahsyat memang terjadi. Kekuatan ilmu orang yang disebut Panembahan itu langsung berbenturan dengan kekuatan ilmu Mahendra dan Pangeran Singa Narpada.

Sebenarnyalah bahwa yang kemudian bagaikan meledak dan melontarkan udara yang panas bukan saja pada benturan yang terjadi. Tetapi rasa-rasanya benturan itu telah terjadi pula di dada ketiga orang itu. Mahendra yang menghantam kekuatan ilmu orang yang disebut Panembahan itu telah terguncang. Jantungnya bagaikan terhimpit oleh kekuatan yang sangat besar. Dengan demikian maka rasa-rasanya dadanya telah menjadi sesak.

Kesulitan yang timbul bukan saja karena benturan yang terakhir yang terjadi. Tetapi sejak Mahendra berusaha memecahkan angin pusaran yang mengikatnya, telah mulai terasa sentuhan-sentuhan itu di dadanya. Dengan demikian maka benturan yang terakhir terjadi, adalah hentakkan yang telah menjadikan dadanya semakin sesak.

Demikian kuatnya benturan itu terjadi, sehingga Mahendra telah terdorong selangkah surut. Keseimbangannya pun ternyata telah terguncang sehingga Mahendra itu pun jatuh terduduk.

Namun ketika Mahendra sempat mengangkat wajahnya, dilihatnya angin pusaran yang datang menyerangnya telah pecah berserakan. Namun itu bukan berarti bahwa ia telah terbebas. Orang yang disebut Panembahan itu akan dapat membangunkan lagi kekuatan ilmunya dan menyerangnya sekali lagi dan sekali lagi.

Karena itu, maka Mahendra pun telah berusaha untuk menguasai dirinya. Dihimpunnya sisa kekuatan yang masih ada didalam dirinya. Dengan sisa kekuatan itu, maka Mahendra pun telah bangkit berdiri.

Sementara itu Pangeran Singa Narpada pun telah mengalami nasib yang sama. Pangeran Singa Narpada yang telah membentur kekuatan ilmu orang yang disebut Panembahan itu pun telah kehilangan keseimbangannya pula. Bahkan Pangeran Singa Narpada itu pun telah terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Hanya karena ia tersandar pada sebatang pohon yang besar sajalah maka Pangeran Singa Narpada itu tidak terjatuh.

Namun dalam pada itu, orang yang disebut Panembahan itu pun telah dihentakkan oleh kekuatan raksasa yang seakan-akan telah menghantam dadanya. Pada saat ia melepaskan ilmunya pada puncak kemampuannya, tiba-tiba dua kekuatan raksasa telah membentur kekuatannya itu.

Dengan demikian maka seakan-akan hentakkan kekuatannya itu memental dan menghantam jantungnya sendiri.

Orang yang disebut Panembahan itu tidak terlempar surut. Ia tetap berdiri di tempatnya. Untuk beberapa saat ia masih tetap bertahan. Namun kemudian perlahan-lahan orang yang disebut Panembahan itu menjadi gemetar. Sisa-sisa kekuatannya tidak mampu lagi mendukung kemauannya yang bagaikan tidak pernah surut dalam keadaan yang manapun juga.

Meskipun ia tetap berdiri, tetapi tubuhnya telah menjadi sangat lemah. Tubuhnya yang gemetar itu rasa-rasanya tidak lagi dapat tegak berdiri meskipun orang itu tidak mau mengakui apa yang telah terjadi pada dirinya.

Pada saat yang demikian, maka orang yang semula membawakan pedangnya dan kemudian bergeser menjauh ketika terjadi pertempuran antara orang itu melawan Mahendra dan Pangeran Singa Narpada, telah meloncat berlari dan menangkap tubuh yang hampir saja terjatuh itu.

“Panembahan,“ desis orang itu.

Tubuh orang yang disebut Panembahan itu memang sudah menjadi sangat lemah. Karena itu, maka perlahan-lahan tubuh itu pun telah terkulai di tangan orang yang selalu mengikutinya itu. Bahkan kemudian dengan sangat hati-hati tubuh itu telah dibaringkannya di tanah.

Dengan wajah yang penuh duka orang itu menatap kedua mata orang yang disebutnya Panembahan itu yang menjadi redup.

“Panembahan,“ desis orang itu pula.

Panembahan itu memandanginya. Wajahnya menjadi sangat pucat, dan seluruh tubuhnya bahkan telah menggigil seperti orang yang kedinginan.

“Panembahan, Panembahan masih mempunyai kesempatan,“ berkata orang itu, “Panembahan dapat memusatkan nalar budi untuk mengatur pernafasan dan peredaran darah Panembahan.”

Panembahan itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia-pun telah menyeringai menahan pedih di dadanya. Dengan suara sendat ia berkata, “Dua orang itu benar-benar raksasa yang besar. Mereka mampu menahan ilmuku dan bahkan membenturkannya seakan-akan mendorong ilmuku kembali memental menghantam jantungku sendiri.”

“Panembahan masih mempunyai kesempatan,“ berkata orang yang berjongkok di sampingnya itu. Lalu katanya, “Marilah, aku bantu Panembahan duduk dan berusaha untuk mengatasi kesulitan di dalam diri Panembahan.”

Panembahan itu termangu-mangu. Namun kemudian ia-pun menggeleng kecil sambil berkata, “Tidak ada gunanya.”

“Tentu ada gunanya Panembahan,“ berkata orang itu, “aku akan membantu. Dengan demikian maka keadaan Panembahan akan segera pulih kembali selagi kedua orang itu masih belum dapat mengatasi kesulitan di dalam dirinya.”

Tetapi nafas Panembahan itu rasa-rasanya menjadi semakin sulit untuk melalui hidungnya secara wajar. Dadanya bagaikan terhimpit oleh sebongkah batu karang. Bahkan darahnya pun tidak lagi mengalir ke seluruh bagian tubuhnya karena jantungnya yang menjadi semakin lemah.

Sejenak suasana terasa mencengkam. Masing-masing berada di tempatnya tanpa bergerak. Mahendra dan Pangeran Singa Narpada benar-benar merasa sangat letih. Bahkan dada mereka pun serasa menjadi sesak dan pedih.

Keduanya memang berusaha untuk memperbaiki keadaan diri mereka. Tetapi perkembangan yang terjadi terasa sangat lamban. Benturan itu merupakan benturan yang sangat dahsyat, sehingga rasa-rasanya ada yang rusak di dalam dada mereka.

Namun jantung keduanya menjadi semakin cepat berdetak ketika keduanya melihat orang yang agaknya merupakan pengikut setia dari orang yang disebut Panembahan itu memandang mereka dengan tajamnya. Dalam keadaan yang demikian, maka orang itu mempunyai kesempatan yang cukup besar untuk menghancurkannya.

“Seandainya ia berilmu meskipun tidak setinggi orang yang disebut Panembahan itu,“ berkata Pangeran Singa Narpada di dalam hatinya, “ia akan dapat berbuat banyak.”

Tetapi baik Pangeran Singa Narpada maupun Mahendra tidak akan membiarkan dirinya dihancurkan. Meskipun keadaan mereka tidak cukup baik, tetapi mereka tentu akan melawan apapun yang akan dapat terjadi.

Untuk beberapa saat lamanya mereka saling berdiam diri. Orang yang semula membawa pedang Panembahan itu kemudian berkata, “Kalian berdua memang luar biasa. Kalian berdua mampu menghantam isi dada Panembahan sehingga mengalami luka yang tidak akan mungkin disembuhkan lagi. Seandainya Panembahan masih dapat tertolong, namun ilmunya tidak akan lagi dapat pulih kembali sebagaimana dimilikinya sekarang, karena bagian dari pusat kemampuan ilmunya telah terguncang pada saat benturan itu terjadi. Beruntunglah kalian bahwa hal itu tidak terjadi pada kalian, karena kalian berdua bersama-sama ternyata memiliki kekuatan yang lebih besar dari Panembahan,“ orang itu berhenti sejenak lalu, “tetapi aku ingin memperkenalkan diri kepada kalian berdua, meskipun aku adalah hambanya yang setia yang tidak lebih dari derajat seorang budak. Tetapi aku adalah saudara seperguruannya. Dengan demikian aku memiliki ilmu yang sama dengan yang dimiliki oleh Panembahan. Seandainya ada selisihnya, maka selisihnya itu tidak ada seujung rambut.”

Mahendra dan Pangeran Singa Narpada menjadi semakin tegang. Namun mereka masih belum yakin, bahwa yang dihadapinya itu adalah saudara seperguruan orang yang disebutnya Panembahan itu.

Namun baik Mahendra maupun Pangeran Singa Narpada telah dikejutkan sikap orang itu. Sebagaimana orang yang disebutnya Panembahan orang itu berdiri tegak sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Kemudian ditariknya sebelah kakinya, sementara tangannya yang bersilang itu pun telah diurainya. Diagungkannya kedua tangannya ke dua arah yang berbeda.

Mahendra dan Pangeran Singa Narpada yang masih dalam keadaan yang sangat lemah, berdiri termangu-mangu. Mereka tidak mempunyai sisa kekuatan untuk melawan jika serangan datang ke arah mereka.

Yang terjadi telah meyakinkan Mahendra dan Pangeran Singa Narpada bahwa orang itu memang saudara seperguruan dari orang yang disebutnya Panembahan itu. Perlahan-lahan udara pun telah bergetar. Kemudian bergulung-gulung bagaikan angin pusaran. Kemudian pusaran itu pun telah bergerak perlahan-lahan sebagaimana yang pernah dilontarkan oleh orang disebutnya Panembahan.

Mahendra dan Pangeran Singa Narpada menjadi berdebar-debar. Jika angin pusaran itu menggulung mereka, maka mereka tidak akan mampu bertahan. Mereka akan terangkat dan terlempar ke udara. Kemudian mereka akan dihempaskan ke tanah sampai lumat.

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...