*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 040-02*
Beberapa orang memang tidak bersedia untuk menyerah. Mereka merasa lebih baik bertempur sampai mati dari pada menyerah dan dibantai tanpa perlawanan.
Namun betapapun mereka mengadakan perlawanan, namun mereka memang tidak memiliki kekuatan untuk bertahan. Ternyata lawan mereka tidak berusaha untuk membunuh mereka. Namun orang-orang padepokan yang telah kehilangan lawannya, berusaha membantu kawan-kawannya melumpuhkan lawannya tanpa membunuhnya. Hanya karena tidak lagi dapat dihindari, dengan terpaksa sekali orang padepokan itu telah membunuh.
Ternyata dalam waktu singkat, selama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memberikan tuntunan oleh kanuragan, mereka-pun telah berhasil menyisipkan olah kajiwan, sehingga sifat-sifat orang-orang padepokanku menjadi berubah. Mereka tidak lagi termabuk orang-orang yang kasar dan apalagi buas.
Meskipun demikian masih ada juga orang yang tidak mau menyerah dalam keadaan yang betapapun sulitnya. Dengan liar orang itu melawan. Mereka tidak lagi memikirkan, apakah lawannya akan membunuhnya atau tidak.
Beberapa orang penghuni padepokan itu memang menjadi bingung. Namun pada saat-saat terakhir, mereka tidak mempunyai pilihan lain. Orang-orang yang keras hati itu terpaksa dilumpuhkan dengan kasar, meskipun mungkin akan membunuhnya.
Namun pada saat yang demikian. Mahisa Pukat telah datang mendekat, ia telah meninggalkan Mahisa Murti yang masih menunggui lawannya yang tidak berdaya.
Ketika dilihatnya orang-orang yang keras hati dan tidak mau menyerah pada keadaan yang bagaimanapun juga itu, maka ia pun telah teringat apa yang dilakukan oleh Mahisa Murti. Karena itu maka ia pun telah menyusup diantara orang-orang padepokan itu yang mengepung beberapa orang yang tidak mau menyerah.
Mahisa Pukat memperhatikan orang-orang itu sejenak. Kemudian maka ia pun telah terjun ke arena bertempur di antara orang-orang padepokan itu.
Namun Mahisa Pukat tidak membunuh lawan-lawannya. Ia memperlakukan lawan-lawannya seperti Mahisa Murti. Dengan cekatan ia berloncatan, menyusup diantara desing senjata. Sekali-sekali ia berhasil menyentuh lawannya di bagian yang manapun juga dari tubuhnya.
Sementara itu, keseimbangan pertempuran pun segera berubah. Orang-orang yang bertekad untuk mati itu benar-benar telah tidak mampu berbuat sesuatu. Namun dalam keadaan yang demikian, maka Mahisa Pukat pun memerintahkan agar orang-orang padepokan itu menghentikan perlawanan mereka.
“Kenapa?“ bertanya salah seorang di antara mereka yang telah mengambil jarak karena pertempuran itu telah terhenti.
“Mereka akan menyerah,“ berkata Mahisa Pukat.
“Persetan,“ geram salah seorang di antara mereka, “untuk apa aku menyerah. Jika kau ingin membunuhku, bunuhlah aku.”
Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba ia telah mengambil sebilah pedang dari salah seorang penghuni padepokan itu yang kebetulan bukan dari perguruan Suriantal.
Dengan pedang itu, maka Mahisa Pukat telah menyerang orang-orang yang menjadi lemah karena sentuhan-sentuhannya, sehingga senjata-senjata mereka berloncatan dari tangan.
Kemudian Mahisa Pukat telah memasuki kelompok orang-orang yang telah kehilangan senjata mereka, setelah ia sendiri mengembalikan pedang yang dipinjamnya.
Bagaimanapun juga orang-orang itu masih berusaha melawan. Mereka telah menyerang Mahisa Pukat yang menyusup di antara mereka.
Mahisa Pukat sama sekali tidak membalas. Ia berdiam diri saja di antara beberapa orang yang mengerumuninya dalam memukulinya dengan tangan mereka, karena senjata mereka telah terlepas dari tangan mereka. Mahisa Pukat hanya meningkatkan saja daya tahan tubuhnya, sehingga ia mampu mengatasi perasaan sakit karena serangan-serangan itu.
Namun satu hal yang tidak dimengerti oleh orang-orang itu telah terjadi. Orang-orang yang beramai-ramai memukuli Mahisa Pukat itu, semakin lama justru menjadi semakin lemah. Pukulan-pukulan mereka semakin tidak berarti lagi. Bahkan akhirnya mereka tidak lagi berdaya untuk berbuat sesuatu.
Mahisa Pukat lah yang kemudian mulai meraba mereka seorang demi seorang, sehingga akhirnya, maka orang-orang itu pun telah terjatuh dan tidak berdaya sama sekali.
Dengan demikian, maka pertempuran pun telah berakhir. Bagaimanapun juga tidak dapat dihindarkan korban pada kedua belah pihak. Namun orang-orang yang datang ke padepokan itu dengan rencana yang paling buruk di kepala mereka untuk membantai semua orang yang ada di padepokan, benar-benar telah mengalami kegagalan, bahkan orang-orang merekalah yang justru lebih banyak menjadi korban, karena lawan mereka yang pada saat-saat terakhir sempat menempa diri, ternyata memiliki kemampuan yang lebih besar dari mereka.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah mengumpulkan para pemimpin kelompok dari orang-orang padepokan itu. Mereka telah memberikan petunjuk-petunjuk untuk mengatasi persoalan yang timbul kemudian.
“Orang-orang yang terluka harus dikumpulkan, sementara yang meninggal di peperangan harus diselenggarakannya dengan baik,“ berkata Mahisa Murti.
Orang yang diserahi memimpin padepokan itu nampak muram. Dengan nada rendah ia berkata, “Penghuni padepokan ini tinggal sedikit. Hari ini harus berkurang lagi.”
“Kita tidak dapat menghindari kemungkinan itu,“ berkata Mahisa Pukat, “bukan salah kita karena kita sudah berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Namun apa yang terjadi ini masih terlalu baik dibandingkan dengan apabila padepokan ini jatuh ke tangan mereka.”
Pemimpin padepokan itu mengangguk kecil. Katanya, “Aku percaya. Keadaan ini masih jauh lebih baik daripada jika padepokan ini jatuh ke tangan mereka. Namun sekarang, apa yang harus kita lakukah terhadap mereka?”
“Itu akan kita pikirkan kelak. Tetapi kita harus merawat lebih dahulu orang-orang yang terluka dalam pertempuran ini. Yang terbunuh agaknya memang sudah nasibnya. Tetapi yang masih hidup dalam keadaan payah itulah yang harus dengan cepat mendapat perawatan,” berkata Mahisa Murti kemudian.
Pemimpin padepokan itu mengangguk. Katanya, “Anak-anak telah melakukannya. Aku minta para pemimpin kelompok akan mengaturnya sebaik-baiknya.”
Para pemimpin kelompok itu pun telah kembali ke kelompok masing-masing. Hampir semua orang di antara mereka yang datang ke padepokan itu mengalami keadaan yang payah. Selebihnya justru telah terbunuh karena kekerasan hati mereka.
Sepeninggal para pemimpin kelompok, Mahisa Murti telah berkata lirih kepada pemimpin padepokan itu. “Bagaimana jika kau mencoba memikirkan untuk memperkuat kedudukan padepokanmu dengan orang-orang baru?”
Pemimpin padepokan itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya dengan ragu, “Apa maksudmu? Jika demikian, darimana datangnya orang-orang baru itu?”
Mahisa Murti memandang Mahisa Pukat sejenak. Memang ada keragu-raguan membayang di wajahnya. Namun kemudian katanya, “Bagaimana dengan orang-orang yang telah datang dengan sendirinya itu? Mereka bemaksud memiliki padepokan ini. Tetapi jika kita dapat mengadakan pendekatan secara baik, apakah tidak mungkin kalian tinggal bersama-sama di padepokan ini?”
Pemimpin padepokan itu mengerutkan keningnya. Dengan wajah yang tegang ia berkata, “Bagaimana mungkin hal itu akan dapat dilakukan. Mereka datang dengan senjata di tangan. Mereka berniat untuk bukan sekedar mengusir kami, tetapi membunuh kami semuanya. Selebihnya, seorang di antara pemimpin mereka yang berilmu tinggi itu masih ada, sehingga akhirnya merekalah yang benar-benar akan berkuasa.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Mereka dapat mengerti alasan pemimpin padepokan itu. Jika pemimpin perguruan yang datang itu masih tetap hidup, maka ia akan mempunyai kesempatan lebih besar dari siapa pun di padepokan itu.
Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Bagaimana jika tanpa pemimpin mereka? Seorang di antara kedua orang pemimpin mereka telah terbunuh. Seorang lagi tidak berdaya sama sekali sekarang ini.”
“Namun orang itu akan menjadi pulih kembali dan ia adalah orang terkuat di antara kami semuanya,“ jawab pemimpin padepokan itu.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun katanya, “Aku akan dapat membawanya pergi. Aku dapat menyerahkannya kepada Akuwu Lemah Warah untuk ditelusuri asal-usulnya. Itulah sebabnya salah seorang di antara kedua orang pemimpin perguruan itu sebaiknya tetap hidup, agar dapat diketahui siapakah mereka sebenarnya beserta perguruannya.”
Pemimpin perguruan itu termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya, “Aku akan membicarakan dengan para pemimpin kelompok. Namun perasaan kami agaknya masih sulit untuk menerima kenyataan, bahwa mereka akan menjadi bagian dari kami.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mendesaknya untuk mengambil keputusan. Namun sementara itu, pemimpin perguruan yang datang yang telah kehilangan kekuatannya itu pun terdengar mengeluh tertahan.
Ketika Mahisa Pukat kemudian mendekati orang itu, Mahisa Murti pun berkata, “Baiklah. Kita tidak tergesa-gesa. Kau mempunyai waktu untuk membicarakannya dengan para pemimpin kelompok. Mungkin mereka mempunyai pendapat yang lebih baik dari yang aku katakan itu.”
“Aku akan mencobanya,“ jawab pemimpin kelompok itu. “tetapi aku tidak akan dapat memaksakan kehendakku kepada para pemimpin kelompok itu. Aku harus menghargai pendapat mereka karena meskipun kami berasal dari perguruan yang berbeda, tetapi kami sudah merasa seakan-akan kami ini satu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk, ia mengerti, bahwa orang yang diserahi untuk memimpin padepokan itu tidak akan dapat mengambil keputusan. Dan bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menyadari, bahwa kehadiran pemimpin perguruan yang menginginkan untuk memiliki padepokan itu akan dapat mendesak orang-orang yang sudah lebih dahulu berada di tempat itu.
Karena itu, maka sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang menunggu, bagaimana keputusan orang-orang padepokan itu.
Dalam pada itu, pemimpin padepokan itu pun akan mengumpulkan para pemimpin kelompoknya sekali lagi. Tetapi ia tidak tergesa-gesa. Ia ingin memberikan kesempatan kepada para pemimpin kelompok itu untuk melakukan tugas mereka.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun juga tidak tergesa-gesa. Ia tahu bahwa semua orang sedang sibuk di padepokan itu, sehingga mereka membiarkan orang-orang padepokan itu bekerja dengan tenang.
Dalam pada itu, semua orang yang terluka telah mendapat perawatan. Meskipun demikian letak mereka telah dipisahkan. Orang-orang padepokan itu sendiri ditempatkan pada satu barak, sementara orang-orang yang datang ke padepokan itu, pada barak yang lain.
Tetapi, di samping mereka terdapat seorang yang harus mendapat perawatan khusus. Orang itu adalah pemimpin perguruan yang datang kemudian untuk memiliki padepokan itu, namun gagal.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyadari, bahwa, orang itu adalah orang yang berilmu sangat tinggi, karena itu orang itu harus mendapat pengawasan langsung dari Mahisa Murti atau Mahisa Pukat.
Demikianlah dari waktu ke waktu, keadaan tubuh orang itu menjadi semakin baik. Luka-lukanya di luar tubuhnya maupun di dalam dirinya sudah berangsur sembuh, sehingga ia mulai membiasakan diri untuk melakukan apapun juga yang memang dapat dikerjakannya. Namun dengan demikian tugas Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin berat karena mereka harus mengawasi hal-hal yang mungkin dapat terjadi.
Sementara itu, maka tugas para penghuni padepokan itu-pun akhirnya telah selesai. Mereka telah mengumpulkan orang-orang yang terluka dan merawatnya dengan baik. Yang meninggal pun telah diselenggarakannya sebagai mestinya.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian mengadakan semacam pembicaraan dengan pemimpin padepokan itu. Sementara itu pengawasan terhadap para tawanan itu pun telah diperketat pula. Orang yang berilmu tinggi itu pun telah ditempatkan ditempat yang khusus. Ampat orang penghuni padepokan itu mengawasi mereka bergantian. Tugas mereka adalah memberikan isyarat jika mereka melihat sesuatu yang mencurigakan.
Mereka tidak akan mungkin berbuat sesuatu jika orang itu memang ingin melarikan diri.
Kepada pemimpin padepokan itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ingin mengulangi pendapatnya, bagaimanakah kiranya jika orang.-orang dari perguruan yang datang itu diterima saja menjadi keluarga mereka.
Pemimpin padepokan itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Marilah. Kita akan berbicara langsung saja dengan para pemimpin kelompok. Aku akan mengumpulkan mereka.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak berkeberatan. Karena itu, maka sejenak kemudian, mereka telah berhadapan dengan para pemimpin kelompok dari padepokan itu.
Kepada mereka Mahisa Murti telah mengatakan berterus terang niatnya, apabila disetujui, maka biarlah orang-orang yang datang kepadepokan itu menjadi satu dengan mereka.
“Jumlah kalian telah semakin berkurang. Sementara itu, ada sekelompok kecil orang yang memerlukan tempat tinggal. Nah, apakah bukan satu kebetulan telah terjadi ?“ bertanya Mahisa Murti.
Tetapi semua pemimpin kelompok itu menggelengkan kepalanya. Seorang diantara mereka berkata, “Bagaimana mungkin kita dapat hidup bersama. Kita sudah saling membunuh?”
“Kami berdua dan kalian pada waktu itu telah berada pada tempat sebagaimana kalian dengan orang-orang itu,“ berkata Mahisa Pukat.
“Ada bedanya,“ berkata pemimpin padepokan itu. “kalian memang tidak mempunyai nafsu untuk memiliki padepokan ini.”
Mahisa Murti lah yang menyahut, “Ki Sanak. Jumlah orang-orang itu yang masih hidup dan terluka sudah tidak begitu banyak lagi. Kalian tentu akan menguasai mereka. Apalagi jika lambat laun hubungan kalian menjadi bertambah baik dengan saling pengertian dan saling menyesuaikan diri.”
“Tetapi pemimpinnya sangat berbahaya bagi kami,“ berkata pemimpin padepokan itu.
“Jika kalian berkeberatan, sebagaimana pernah aku katakan, biarlah aku menyingkirkan pemimpinnya itu. Aku dapat membawanya ke Lemah Warah. Ia memang sebaiknya ditangkap dan harus mempertanggungjawabkan kesalahannya,“ berkata Mahisa Murti.
Para pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Sementara Mahisa Murti berkata, “Kalian akan merenungkannya. Kalian masih mempunyai banyak waktu sampai saatnya orang-orang yang terluka itu sembuh.”
Pemimpin padepokan itu mengangguk. Tetapi ia tidak segera menjawab. Demikian para pemimpin kelompok. Mereka tertunduk diam. Mamun mereka merenungkan apa yang dikatakan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Tetapi bagaimanapun juga, rasa-rasa perasaan mereka sulit untuk dapat mengerti, bagaimanapun juga mereka berusaha untuk mempergunakan nalar.
“Baiklah,“ berkata Mahisa Murti, “pikirkan untuk satu dua hari. Apakah kalian akan berjiwa besar, atau kalian memang tetap berjiwa kecil.”
Pemimpin padepokan itu hanya menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mempersilahkan mereka membicarakannya dengan tidak tergesa-gesa.
“Langkah ini akan menentukan satu bentuk baru dari padepokan ini,“ berkata Mahisa Murti, “karena itu kalian harus memikirkannya masak-masak. Bagiku, padepokan ini tetap milik kalian. Karena itu kalianlah yang akan menentukan, apakah kalian akan dapat menerima mereka di antara kalian.”
Pemimpin pengawal itu mengangguk kecil. Katanya, “Baiklah Mahisa Murti. Kita akan membicarakannya dengan mendalam.”
Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah mempersilahkan para pemimpin kelompok itu kembali ke kelompok-kelompok masing-masing. Hanya pemimpin padepokan itu sajalah yang masih tinggal bersama mereka untuk berbicara tentang beberapa hal yang menyangkut padepokan itu.
Di hari berikutnya, pemimpin padepokan itu mulai membicarakan persoalan padepokan itu dengan sungguh-sungguh. Ia minta agar setiap pemimpin kelompok menyatakan pendapatnya dengan jujur. Namun pada umumnya, para pemimpin kelompok itu memang berkeberatan.
“Saudara-saudaraku,“ berkata pemimpin padepokan itu, “jumlah orang-orang itu memang tidak banyak lagi dibanding dengan kawan-kawan kita. Agaknya kita terpaksa membunuh mereka untuk melindungi diri kita sendiri. Mula-mula jumlah mereka lebih banyak dari kita. Kini ternyata jumlah mereka telah susut jauh sekali. Karena itu, dipandang dari satu segi, mereka memang tidak lagi membahayakan kedudukan kita.”
“Tetapi bagaimana dengan pemimpin mereka?“ bertanya salah seorang pemimpin kelompok, “orang itu memiliki ilmu yang sebagaimana kita saksikan, benar-benar nggegirisi. Adalah kebetulan bahwa di sini ada dua orang anak muda kemenakan Akuwu Lemah Warah itu.”
“Aku tidak tahu, apakah benar mereka kemenakan Akuwu Lemah Warah, karena ternyata semuanya lain dengan kenyataannya. Namun kita dapat mengajukan syarat kepada mereka, jika pemimpin orang-orang pendatang itu ada di sini, maka keduanya harus tetap tinggal di sini pula. Jika mereka akan pergi, biarlah orang itu dibawanya,“ berkata pemimpin padepokan itu.
“Aku masih sulit untuk mengerti tentang sikapku sendiri,“ desis seorang pemimpin kelompok yang lain.
Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Katanya, “Apakah kita harus belajar dari sikap kedua anak muda itu? Keduanya sama sekali tidak nampak bekas-bekas permusuhan dengan kita. Keduanya benar-benar telah melupakannya. Bahkan keduanya bersedia membantu kita.”
Para pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Namun kemudian seorang di antara mereka berkata, “Aku sependapat. Mereka kita minta tinggal di sini. Jika keduanya pergi, biarlah orang itu dibawanya.”
Ternyata pendapat itu disetujui oleh para pemimpin kelompok. Mereka menerima orang-orang yang datang itu menjadi keluarga mereka kecuali pemimpinnya yang memiliki ilmu yang tinggi. Orang itu hanya disetujui tinggal di padepokan itu selama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga berada di padepokan itu.
Hal itulah yang kemudian disampaikan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Orang-orang di padepokan yang sebenarnya memang berasal dari beberapa perguruan itu dapat menerima orang baru di antara mereka, kecuali seorang. Seorang yang dianggap memiliki kemampuan jauh melampaui kemampuan mereka, sehingga orang itu akan dapat membahayakan kedudukan mereka. Bukan sekedar kedudukan pemimpin padepokan yang akan dengan mudah dapat diambilnya. Tetapi orang itu akan dapat meneruskan niatnya untuk mengambil seluruh padepokan.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka pun mengerti sikap orang-orang padepokan itu. Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak akan menuntut lebih dari itu.
Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bertemu lagi dengan para pemimpin kelompok, maka para pemimpin kelompok itu, termasuk orang yang diserahi untuk memimpin padepokan itu, minta agar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat lah yang akan menjadi pemimpin padepokan itu. Dengan demikian maka kedudukan padepokan itu akan menjadi kuat dan tidak mudah diguncang oleh kekuatan dari manapun.
Tetapi sambil tersenyum Mahisa Murti berkata, “Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan itu. Tetapi itu bukan hak kami.”
“Anak-anak muda,“ berkata pemimpin padepokan itu. “di setiap padepokan, yang biasanya terdiri dari satu perguruan, maka pemimpin padepokan itu adalah guru dari para penghuni padepokan itu. Ia memiliki ilmu yang tinggi dan dapat melindungi padepokan itu dari berbagai ancaman dan bahaya. Tanpa orang kuat di sebuah padepokan, maka padepokan itu tidak akan mampu berdiri untuk waktu yang lama. Setiap saat akan datang orang lain yang dengan mudah mengambil padepokan itu dengan paksa.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Memang ada cara yang barangkali dapat ditempuh. Jika padepokan ini memang sudah tidak mempunyai sandaran lagi, kenapa padepokan ini tidak dirubah saja menjadi sebuah padukuhan yang bergantung pada kelompok padukuhan di sekitar tempat ini. Mungkin pada Kabuyutan yang meliputi lingkungan di sekitar padepokan ini. Dengan demikian, maka padepokan ini akan memiliki ujud yang berbeda.”
“Kami masih bermimpi tentang sebuah padepokan anak muda,“ berkata pemimpin padepokan itu. “entahlah waktu yang akan datang. Namun sementara ini kami mengharap kalian berdua berada di padepokan ini.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Mereka tidak ingin mengecewakan para penghuni padepokan itu.
Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah sepakat untuk tetap berada di padepokan ituhntuk waktu yang tidak ditentukan.
Namun dalam pada itu, pemimpin dari orang-orang yang menginginkan padepokan itu pun telah berangsur baik. Kekuatannya perlahan-lahan tumbuh kembali di dalam dirinya, yang untuk beberapa saat seakan-akan telah terhisap kering oleh kemampuan ilmu lawannya.
Tetapi untuk sementara orang itu masih tetap terpisah dari orang lain. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tetap menempatkannya di ruang tersendiri.
Sementara itu, sesuai dengan keputusan orang-orang dari padepokan itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta pemimpin padepokan itu telah mengumpulkan orang-orang yang datang ke padepokan itu untuk memilikinya, namun yang ternyata telah dihancurkan oleh kekuatan yang masih tersisa di padepokan itu, yang sebelumnya tidak diduga sama sekali.
Kepada mereka, maka pemimpin padepokan itu telah menyatakan bahwa padepokan itu akan tetap dipertahankan sampai kemungkinan yang terakhir. Tidak ada orang lain yang akan dapat mengambilnya.
“Kecuali jika kami mengorbankan orang terakhir,“ berkata pemimpin padepokan itu. Tetapi ia masih meneruskan, “Namun demikian ada sesuatu yang dapat kami berikan kepada kalian. Satu kesempatan yang mungkin akan sama-sama berarti bagi kita.”
Orang-orang yang tersisa itu termangu-mangu. Mereka yang pada umumnya dibebani oleh perasaan bersalah karena niat buruk mereka untuk membunuh semua orang di padepokan itu, selalu dibayangi oleh ketakutan, bahwa mereka akan diperlakukan sangat buruk oleh orang-orang padepokan itu. Mereka sama-sekali tidak akan berdaya untuk melawan seandainya mereka setiap hari dengan kaki tangan terikat harus bekerja untuk kepentingan orang-orang di padepokan itu. Mereka tidak akan dapat menolak seandainya mereka diperlakukan seperti seekor binatang sekalipun..
Tetapi pemimpin padepokan itu berkata, “Ki Sanak. Jumlah kalian susut tajam setelah pertempuran selesai. Kalian telah menjadi tawanan kami, sementara kawan-kawan kalian terpaksa terbunuh di peperangan. Sekarang, pada keadaan seperti ini, apakah kira-kira yang akan kalian lakukan?”
Orang-orang itu menundukkan kepalanya. Sementara itu sebagian dari mereka masih dalam keadaan terluka. Meskipun mereka mendapat perawatan dan pengobatan yang baik, namun luka yang cukup parah tidak akan dapat dengan cepat disembuhkan.
Bahkan ada di antara mereka yang merasa lebih senang jika luka-lukanya tidak segera sembuh, karena mereka membayangkan bahwa apabila keadaan mereka menjadi baik, maka mereka akan diperlakukan dengan buruk.
Dengan demikian maka ketika mereka mendengar pertanyaan pemimpin padepokan itu, jantung mereka menjadi berdebaran.
Mereka menduga, bahwa saat-saat yang pahit itu akan datang. Pemimpin padepokan itu akan membagi mereka yang masih tersisa hidup itu untuk melakukan kerja yang sulit dan berat.
Tetapi orang-orang itu justru menjadi bingung ketika pemimpin padepokan itu bertanya kepada mereka, “Ki Sanak. Menilik keadaan kalian yang parah, maka apakah kalian masih berniat untuk kembali ke perguruan kalian dan menghimpun kekuatan untuk berusaha merebut padepokan ini? Kenapa kita tidak menempuh cara yang lebih baik. Misalnya, kita akan membangun padepokan ini bersama-sama. Kami, penghuni padepokan ini pernah juga kehilangan sanak-kadang kami dalam jumlah yang besar pada saat kami menghadapi langkah keras dari Akuwu Lemah Warah. Namun ternyata bahwa keadaan kami masih jauh lebih baik dari keadaan kalian. Karena itu kami justru menawarkan kepada kalian untuk tinggal saja bersama kami. Kalian tidak perlu merebut padepokan ini dengan kekerasan, bahkan dengan niat yang paling buruk untuk menyingkirkan kami semua. Tetapi kami justru menawarkan, marilah padepokan ini bersama-sama kita miliki. Kita bangun dan kita jadikan satu tempat yang baik dan tenang tanpa saling mencurigai dan saling mendengki.”
Melihat keragu-raguan di wajah-wajah mereka, maka Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Kalian harus yakin, bahwa apa yang kami katakan itu benar sebagaimana kami katakan. Kami tidak berniat buruk sebagaimana niat yang kalian bawa pada saat kalian datang ke padepokan ini. Kami ingin memberi kesempatan kepada kalian untuk ikut bersama kami memiliki padepokan ini. Kami tidak akan dapat menyerahkan padepokan ini kepada siapa pun juga. Kami akan mempertahankannya sampai akhir hayat kami. Namun kami tidak menutup pintu untuk menerima sikap persahabatan jika memang kalian kehendaki.”
Orang-orang itu masih termangu-mangu. Sementara Mahisa Pukat berkata dengan nada yang lebih keras, “Singkatnya, apakah kalian mau bergabung dengan kami atau kami harus tetap memperlakukan kalian sebagai tawanan kami.”
Orang-orang itu seperti terbangun dari mimpi yang buram, yang tidak jelas dan mengambang dalam kehidupan semu. Namun tiba-tiba mereka merasa benar-benar berpijak di atas tanah. Mereka kemudian merasa yakin, bahwa memang mereka mendengar satu tawaran yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Karena itu, maka mereka pun kemudian mendengar dengan jelas keterangan pemimpin padepokan itu. “Ki Sanak. Kami memang ingin menawarkan satu kesempatan. Jika kalian mau menerima, maka kita akan hidup bersama dalam padepokan ini, sudah tentu dengan ketentuan dan paugeran yang sudah berlaku di sini. Kita akan bersama-sama membina padepokan ini asal kita bersikap jujur.”
Terasa Jantung mereka tergetar. Mereka yang sudah berputus asa justru karena dibebani oleh warna yang kotor di dalam hati yang ditujukan kepada penghuni padepokan itu, tiba-tiba telah mendapatkan satu tawaran yang justru memberikan tempat kepada mereka.
Namun karena hal yang tidak terduga-duga itu, maka mereka justru terdiam. Tetapi dada mereka terasa bergejolak. Ada semacam keragu-raguan, apakah yang didengar itu benar-benar sebagaimana arti kata-katanya atau orang-orang itu sekedar menjebaknya dan kemudian menjerumuskan mereka ke dalam bencana yang menentukan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat keragu-raguan itu. Karena itu Mahisa Murti pun berkata, “Ki Sanak, jangan melihat niat kami dengan prasangka buruk. Kami benar-benar memberi kesempatan kepada kalian. Kami merasa bahwa padepokan dan tanah garapan yang tersedia terlalu luas bagi kami. Karena itu, jika kalian bersedia bekerja sama dengan kami atas dasar paugeran yang telah ada di padepokan ini, maka seperti yang dikatakan tadi, kita akan saling mendapat keuntungan. Apalagi jika kelak kita benar-benar dapat merasa satu keluarga.”
Seorang di antara mereka yang ragu-ragu itu tiba-tiba saja telah bertanya, “Apakah yang aku dengar ini benar?”
“Aku tahu bahwa kau menjadi ragu-ragu,“ sahut Mahisa Pukat, “kau tentu membayangkan, bahwa kau dan kawan-kawanmu sepantasnya dihukum mati atau dihukum kerja paksa seumur hidup. Atau hukuman-hukuman lain yang pantas menurut ukuran kalian. Tetapi dengan demikian kalian harus terbangun dan melihat kenyataan, bahwa di dunia ini isinya bukan hati-hati yang kelam seperti hati kalian seluruhnya. Bahkan tidak semua orang menganggap bahwa seseorang atau sekelompok orang pantas untuk memaksakan kehendaknya atas orang lain, apalagi dengan kekerasan dan usaha pembunuhan.”
Orang-orang itu saling berpandangan. Hati mereka memang tersentuh oleh kata-kata itu. Bagi mereka, kekerasan adalah jalan yang paling mereka banggakan untuk memaksakan kehendak atas orang lain. Bahkan mereka sudah berniat untuk membunuh semua orang di padepokan itu. Ketika mereka mendapat penjelasan bahwa mereka harus merebut padepokan itu dengan kekerasan, mereka justru merasa gembira bahwa mereka akan mendapat kesempatan untuk membunuh sebanyak-banyaknya tanpa harus bertanggung jawab kepada siapa pun juga, bahkan semakin banyak mereka membunuh, namanya akan semakin banyak disebut-sebut.
Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Justru pasukan merekalah yang dihancurkan. Jika orang-orang padepokan itu berpikir sebagaimana mereka pikirkan, maka tentu tidak ada seorang pun yang masih akan tetap hidup.
Tetapi orang-orang padepokan itu tidak membunuh mereka. Bahkan mereka diberi kesempatan untuk ikut tinggal bahkan ikut memiliki padepokan itu. Padepokan yang dipertahankan mati-matian.
Orang-orang yang ingin merebut padepokan itu memang sulit untuk mengerti jalan pikiran para penghuni padepokan itu. Apalagi para pemimpinnya. Dua orang anak muda yang ada di padepokan itu membuat sifat yang sulit untuk mereka pahami. Namun adalah satu kenyataan, bahwa isi padepokan itu telah menerima mereka.
Demikianlah, maka orang-orang yang semula telah menyerang dan bahkan berusaha untuk membinasakan seluruh isi padepokan itu mulai mencoba untuk hidup bersama di dalam satu padepokan. Karena jumlah mereka tidak terlalu banyak, maka mereka tidak terasa mengganggu putaran kehidupan di padepokan itu. Bahkan perlahan-lahan mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dan mencoba mengerti, apakah yang telah mendorong orang-orang padepokan itu menerima mereka.
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar