*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-040-01*
Mereka tidak dengan gemetar melemparkan senjatanya untuk menyerah. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang yang datang untuk menduduki padepokan itu tidak dapat dengan sesuka hati melakukan apa yang telah mereka angan-angankan. Mereka tidak dapat mendera orang-orang mereka untuk dipenggal. Mereka tidak dapat membunuh sebanyak-banyaknya dengan sah, karena itu dilakukan di dalam pertempuran.
Tetapi yang terjadi adalah justru bertentangan sama sekali dengan yang mereka angankan itu. Orang-orang padepokan itu ternyata telah bertempur dengan gigihnya. Mereka mempertahankan setiap jengkal tanah di padepokan itu tanpa mengenal surut.
Dalam pertempuran yang menjadi semakin sengit itu, ternyata bahwa kemampuan orang-orang padepokan itu tidak berada di bawah tataran kemampuan orang-orang yang ingin merampas padepokan mereka. Latihan-latihan yang berat yang mereka lakukan, telah banyak memberikan arti dalam pertempuran yang keras dan bahkan kasar.
Ternyata bahwa usaha Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memperkenalkan unsur-unsur gerak yang dianggapnya masih asing itu banyak pula artinya. Dalam keadaan yang tiba-tiba dan mendesak, mereka mampu mengambil sikap. Dan sikap itu banyak menolong dan menyelamatkan mereka dari ujung senjata lawan. Bahkan kemudian ternyata bahwa perlahan-lahan orang-orang padepokan itu berhasil mendesak lawannya.
Meskipun jumlah orang-orang vang datang untuk merebut padepokan itu lebih banyak, namun tekad yang membaja di hati para penghuni padepokan itu untuk mempertahankannya, maka mereka telah berhasil menguasai hampir di semua sudut pertempuran. Apalagi karena kedua orang pemimpin dari perguruan yang datang itu telah terikat dalam pertempuran melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Karena itu, maka semakin lama para penghuni padepokan itu pun menjadi semakin yakin, bahwa mereka akan dapat mengusir lawan mereka untuk meninggalkan padepokan itu. Kecuali jika orang-orang itu memang ingin membunuh dirinya.
Seorang pemimpin kelompok dari orang-orang yang datang untuk merebut padepokan itu, telah bertempur dengan salah seorang dari perguruan Suriantal yang bersenjata tongkat panjang. Semula orang itu mengira bahwa orang yang bersenjata tongkat panjang itu tidak akap mampu bertahan sepenginang. Namun ketika mereka telah bertempur maka ternyata bahwa orang bertongkat itu memiliki kemampuan jauh melampaui dugaannya.
Ketika usahanya untuk dengan cepat mengakhiri perlawanan orang Suriantal itu gagal, maka orang itu pun telah mengumpat kasar.
“Kenapa kau mengumpat-umpat?“ bertanya orang Suriantal itu sambil mengayunkan tongkat panjangnya mendatar.
Lawannya meloncat surut selangkah. Sekali lagi ia justru mengumpat. Namun kemudian katanya, “Iblis manakah yang telah membantumu, sehingga kau mampu bertahan?”
Orang Suriantal yang telah memiliki keyakinan akan dirinya setelah ia berlatih bersama dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu menjawab, “Kaulah yang tidak mampu menilai ilmu seseorang. Kau dan barangkali juga kawan-kawanmu menganggap kami tidak berkemampuan sama sekali, justru karena padepokan ini telah dihancurkan oleh pasukan dari Lemah Warah. Tetapi yang perlu kau ingat adalah, bahwa kekuatan prajurit Lemah Warah jauh lebih besar dari kekuatan perguruanmu. Bahkan kemampuan secara pribadi, prajurit Lemah Warah jauh di atas tataran kemampuan kalian.”
“Persetan,“ geram orang itu. “bagaimanapun juga, kemampuan kami berada di atas kemampuanmu. Karena itu, menyerahlah. Juga kawan-kawanmu. Dengan demikian maka kalian masih akan mendapat kesempatan untuk ikut memiliki padepokan ini.”
Tetapi orang bertongkat itu tersenyum. Sekali lagi tongkatnya menyambar hampir mengenai kepala lawannya. Ketika lawannya itu meloncat menghindar, maka orang Suriantal itu menjawab, “Kami sadar, bahwa kami akan dihancurkan mutlak pada saat ini. Tidak seorang pun di antara kami akan hidup. Aku sudah mendengar salah seorang kawanmu tadi berteriak, bahwa isi padepokan ini akan dimusnahkan.”
“Tentu tidak,“ jawab orang itu. “itu hanya ungkapan kemarahan saja.”
“Bagaimana jika ungkapan kemarahan itu diujudkan dalam tingkah laku dan tindakan. Bukan sekedar pada kata-kata?“ bertanya orang Suriantal itu.
“Baiklah. Aku benar-benar akan melakukannya. Sebentar lagi kau dan kawan-kawanmu yang tersisa pada perang melawan para prajurit Lemah Warah akan musnah sekarang ini,“ berkata orang itu.
Orang Suriantal itu tidak sempat menjawab. Lawannya menerkamnya dengan pedang terjulur lurus ke arah dada.
Tetapi orang Suriantal itu cepat mengelak. Bahkan kemudian tongkatnya pun berputar. Ujungnya dengan cepat mematuk orang yang menerkamnya dengan pedang itu. Tetapi orang itu masih sempat menangkis serangan orang bertongkat itu.
Namun ketika benturan terjadi, sekali lagi pemimpin kelompok dari orang-orang yang ingin merebut padepokan itu terkejut. Ia tidak menyangka bahwa orang bertongkat itu memiliki kekuatan yang besar sekali, bahkan hampir saja melemparkan pedangnya.
Dengan demikian maka pemimpin kelompok itu dapat menduga apa yang telah terjadi di padepokan itu. Kawan-kawannya tentu menghadapi kekuatan yang sama sekali tidak diduganya. Harapan mereka satu-satunya terletak pada jumlah mereka yang lebih banyak serta kepada kedua orang pemimpin perguruan mereka.
Namun pemimpin kelompok itu harus berjuang mati-matian untuk melindungi dirinya dari serangan tongkat panjang yang semakin lama justru bergerak semakin cepat.
Di bagian lain, orang-orang yang datang dengan dada tengadah itu pun telah membentur kekuatan yang tidak diduganya sebelumnya. Jika mereka menganggap bahwa merebut padepokan itu dengan kekerasan justru akan lebih menyenangkan, karena mereka akan dapat membantai penghuni padepokan itu dengan sah, ternyata telah menghadapi perlawanan yang sulit untuk ditembus. Bahkan perlahan-lahan orang-orang yang datang memasuki padepokan itu telah semakin terdesak.
Dalam pada itu, sebagian besar dari mereka memang menunggu pemimpin mereka mengakhiri pertempurannya. Dan kemudian datang menghancurkan orang-orang padepokan itu.
Namun ternyata kedua pemimpin mereka itu masih belum nampak di antara para pengikutnya.
Tetapi mereka yang bertempur di halaman depan melihat, apa yang sebenarnya telah terjadi. Kedua orang pemimpin yang mereka harapkan akan dapat menolong mereka itu telah terikat dalam pertempuran melawan anak-anak muda. Namun ternyata bahwa kedua pemimpin mereka itu tidak segera dapat mengalahkan kedua anak muda itu. Bahkan semakin lama nampaknya kedua orang pemimpin mereka itu menjadi semakin terdesak.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun kemudian nampaknya tidak lagi terlalu tergesa-gesa. Ketika ia melihat bahwa orang-orang padepokan itu mampu mempertahankan diri. Bahkan di halaman depan, penghuni padepokan yang jumlahnya lebih kecil itu mampu bertahan dan mendesak lawannya meskipun sejengkal demi sejengkal.
Kenyataan itu telah membuat kedua orang pemimpin perguruan yang datang ke padepokan itu menjadi berdebar-debar. Seakan-akan mereka tidak dapat mempercayai penglihatan mereka atas kejadian itu, karena mereka masih tetap beranggapan bahwa kemampuan orang-orang padepokan itu tidak setinggi orang-orangnya. Apalagi tekad perjuangan mereka telah runtuh pada saat orang-orang padepokan itu dikalahkan oleh prajurit Lemah Warah.
Namun ternyata yang terjadi adalah sebaliknya.
Orang-orang padepokan itu sama sekali tidak digentarkan oleh kehadiran lawan yang garang dalam jumlah yang lebih banyak dari jumlah mereka. Bahkan setelah pertempuran itu terjadi, terbukti bahwa kemampuan orang-orang padepokan itu lebih baik dari mereka yang datang menyerang dan ingin menguasai padepokan itu.
Karena itu, maka kedua orang pemimpin itu menyadari, bahwa orang-orangnya tentu menyandarkan diri kepada mereka berdua. Jika mereka berdua tidak dapat menolong para pengikutnya, maka para pengikutnya itu tentu akan mengalami kesulitan.
Dengan demikian maka kedua orang itu telah bertekad untuk segera menyelesaikan pertempuran itu, agar mereka segera dapat membantu para pengikutnya.
Namun lawan mereka, anak-anak yang masih muda itu, memiliki ilmu yang mendebarkan.
Lawan Mahisa Murti yang telah menghentakkan kekuatannya, ternyata tidak dengan segera dapat mengalahkan anak muda itu. Ketika dengan sigap dan cepat orang itu melanda lawannya, Mahisa Murti pun mampu mengimbangi kecepatan geraknya. Dengan demikian maka serangan-serangan orang itu sama sekali tidak mengenai sasarannya.
Betapa kemarahan menghentak-hentak di dalam dada orang itu. Ia merasa memiliki kekuatan yang sangat tinggi. Jika ia berhasil mengenai lawannya, maka orang itu menduga, bahwa tubuh anak muda itu akan dapat dihancurkannya. Tulang-tulangnya akan dapat dipatahkannya sehingga anak muda itu akan terkapar di halaman padepokan itu.
Kekuatannya yang sangat besar, bergabung dengan pemimpin perguruan yang lain, telah dapat mematahkan selarak pintu gerbang yang besar dan kuat. Sehingga dengan demikian maka betapapun tubuh anak muda itu tentu akan dapat dihancurkannya pula.
Tetapi anak muda itu mampu bergerak terlalu cepat melampaui kecepatan serangan-serangannya. Karena itu, ia sama sekali masih belum dapat menyentuhnya sama sekali.
Karena itulah, maka orang itu telah menghentakkan segenap kemampuannya. Seperti badai ia menyerang. Jika serangannya gagal, maka serangan berikutnya telah menyusul pula.
Mahisa Murti memang menyadari, bahwa lawannya mempunyai kekuatan yang sangat besar. Tetapi lawannya tidak mampu bergerak melampaui kecepatan geraknya. Karena itu, maka dengan demikian, lawan-lawannya tidak akan pernah mampu mengenainya.
Sebaliknya Mahisa Murti yang memiliki kemampuan bergerak lebih cepat, telah memanfaatkan kemampuan itu sebaik-baiknya. Ia tidak hanya selalu menghindari serangan lawannya yang memiliki kekuatan yang sangat besar, tetapi ia justru telah mempergunakan kesempatan yang baik untuk menyerang kembali lawannya itu.
Justru karena itu, maka bukannya lawannya yang telah mengenainya, tetapi Mahisa Murtilah yang telah berhasil menyentuh lawannya yang garang itu.
Kemarahan orang itu menjadi semakin memuncak ketika serangan Mahisa Murti telah mulai menyentuhnya. Meskipun sentuhan itu tidak berakibat parah, tetapi orang itu merasakan sentuhan itu telah menyakitinya.
Karena itu, maka ia pun telah menghentakkan segenap kemampuan untuk mengimbangi kecepatan gerak Mahisa Murti. Bahkan ketika kemudian Mahisa Murti menyerangnya, orang itu sama sekali tidak berusaha untuk menghindar. Ia justru berusaha membentur kekuatan Mahisa Murti dengan lambaran segenap kekuatannya. Orang itu berusaha bahwa dengan demikian, maka benturan itu akan berakibat buruk bagi Mahisa Murti.
Demikianlah seperti yang diperhitungkan oleh lawannya, maka benar-benar telah terjadi benturan. Dengan sigapnya orang itu dengan sengaja telah membiarkan serangan Mahisa Murti yang mengarah ke lambungnya. Orang itu hanya berusaha melindungi lambungnya dengan sikunya.
Mahisa Murti yang melihat sikap orang itu, segera mengetahui bahwa orang itu sama sekali tidak akan menghindari serangannya, tetapi justru akan menangkisnya sehingga terjadi benturan. Namun Mahisa Murti memang tidak mengerahkan segenap kekuatannya, sehingga ketika terjadi benturan itu, justru Mahisa Murti lah yang bergeser selangkah surut. Sementara orang itu masih tetap tegak di tempatnya meskipun kakinya tergetar pula.
Namun dengan benturan itu, Mahisa Murti berusaha semakin menyesatkan pendapat orang itu tentang dirinya. Orang itu menganggap bahwa Mahisa Murti memang tidak memiliki kekuatan cukup untuk bertahan atas benturan itu.
Tetapi ternyata orang itu menjadi curiga. Meskipun anak muda itu tergeser surut, tetapi di wajahnya sama sekali tidak nampak perasaan cemas atau getaran perasaan apapun juga. Karena itu, maka orang itu pun menyadari, bahwa anak muda itu tentu masih belum sampai pada puncak kemampuannya.
Karena itu, maka tidak ada cara lam untuk melawannya selain mempergunakan senjatanya yang dianggapnya sebagai satu cara terakhir. Jarang sekali ia mempergunakan senjatanya yang satu itu. Tetapi menghadapi anak muda yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi, maka ia tidak mempunyai cara lain.
Dengan demikian, ketika ia mendapat kesempatan, ia pun telah dengan cepat mengambil senjata itu dari kantong ikat pinggangnya. Dengan cepatnya, maka sebuah lingkaran bergerigi telah terbang menyambar Mahisa Murti.
Mahisa Murti yang sempat melihat tangan orang itu memang sudah menduga, bahwa orang itu akan menyerangnya dengan senjata. Ternyata bahwa sebuah cakra telah benar-benar menyambarnya.
Namun lingkaran bergerigi itu sama sekali tidak mengenai sasarannya, karena Mahisa Murti dengan cepat sempat bergeser mengelak.
Tetapi orang itu tidak membiarkan lawannya terlepas. Ia sudah terlanjur mempergunakan senjata andalannya. Karena itu maka satu di antara lingkaran bergeriginya harus mengenai sasarannya. Tubuh lawannya harus dapat dikoyakannya dengan Senjata itu.
Karena itu, maka lontaran pertama itu segera disusul dengan lontaran kedua. Lontaran yang dilambari dengan segenap kekuatannya yang sangat besar.
Namun sekali lagi lawannya mampu mengelak, sehingga lingkaran bergerigi itu tidak mengenainya. Namun ternyata lingkaran bergerigi itu telah membabat dahan-dahan pepohonan dengan suara gemersak. Bahkan bukan saja dahan-dahannya berpatahan, tetapi pohon-pohon itu bagaikan telah diguncang oleh angin yang kencang.
Mahisa Murti menjadi berdebar-debar. Tetapi lawannya benar-benar berusaha untuk membinasakannya. Karena itu maka serangannya telah datang beruntun saling menyusul. Sehingga dengan demikian, maka pepohonan pun bagaikan telah dirampas dahan serta daun-daunnya.
Ternyata bahwa di dalam kantong ikat pinggangnya terdapat senjata seperti itu dalam jumlah yang banyak. Lingkaran bergerigi yang memang tidak terlalu besar itu terbuat dari baja yang tipis.
Dalam pada itu, pertempuran antara Mahisa Pukat dan lawannya pun menjadi semakin sengit. Lawannya yang merasa memiliki kekuatan yang sangat besar itu pun tidak segera mampu mengalahkan Mahisa Pukat, karena Mahisa Pukat mampu bergerak lebih cepat dari serangan-serangan yang datang membanjir.
Kegagalan-kegagalan itu pun telah membuat lawan Mahisa Pukat itu menjadi marah. Apalagi ketika ia menyadari, bahwa orang-orangnya ternyata justru telah terdesak. Semua dugaan dan perhitungan yang telah dibuatnya agaknya telah meleset dari kenyataan yang dihadapinya. Ternyata orang-orang padepokan itu memiliki kelebihan dari orang-orangnya, sehingga meskipun jumlahnya lebih kecil dari jumlah orang-orangnya, namun mereka mampu bertahan, bahkan mendesak mundur.
Karena itu, maka orang itu pun tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus mempergunakan apa yang ada padanya untuk membinasakan lawannya secepatnya.
Jika pemimpin perguruan itu yang seorang mempergunakan lingkaran bergerigi untuk menyerang Mahisa Murti, maka orang itu mempergunakan jenis senjata yang lain. Namun sebagaimana saudara seperguruannya, maka ia pun telah mempergunakan senjata yang dilontarkannya untuk membunuh lawan.
Orang itu telah melemparkan pisau-pisau kecil ke arah Mahisa Pukat dengan kekuatan yang sangat besar. Terdengar siul angin yang mengikuti arah terbang pisau-pisau kecil itu menggetarkan jantung. Pisau-pisau yang luput dari sasarannya itu telah menghunjam ke dalam pokok-pokok kayu sedalam panjang pisau itu sendiri.
Jika pisau itu sempat mengenai dada Mahisa Pukat, maka kekuatannya yang besar akan mampu mendorong pisau itu sehingga tembus sampai ke punggung.
Namun Mahisa Pukat menyadarinya, sehingga karena itu ia menjadi sangat berhati-hati menghadapi pisau-pisau itu.
Tetapi lawannya seakan-akan tidak memberinya kesempatan sama sekali. Pisau-pisau itu menyambarnya susul menyusul tidak henti-hentinya. Ternyata orang itu memiliki sejumlah pisau yang terselip diikat pinggangnya melingkar penuh. Karena itu, maka ia dapat melontarkan pisau-pisau itu yang kadang-kadang bahkan dua buah pisau sekaligus.
Mahisa Pukat ternyata lebih cepat kehabisan kesabaran dari Mahisa Murti. Ia tidak mau menjadi sasaran tanpa membalas.
Kesalahan kecil yang dilakukannya akan mampu menyeretnya ke dalam kubur.
Karena itu, ketika serangan-serangan itu menyambarnya semakin deras, maka Mahisa Pukat telah bertekad untuk membalasnya. Ia tidak telaten menunggu sampai pisau-pisau itu habis, karena dengan demikian, kemungkinan yang pahit akan dapat terjadi.
Demikianlah, ketika lawannya itu mengurungnya dengan lontaran-lontaran pisau sambil berusaha mendekat untuk memperpendek dan mempersempit arah bidik. Mahisa Pukat telah membalasnya. Tetapi ia tidak mempunyai senjata yang dapat dilontarkan.
Namun seandainya ia memilikinya, maka tentu akan berakibat lebih baik bagi lawannya, karena Mahisa Pukat tidak perlu mempergunakan ilmunya yang dahsyat.
Tetapi justru karena ia tidak bersenjata sebagaimana dimiliki oleh lawannya, maka Mahisa Pukat itu pun telah berusaha untuk membalas serangan-serangan lawannya itu dengan ilmunya.
Ketika lawannya sempat melontarkan dua buah pisau ke arah Mahisa Pukat, maka sebuah diantaranya hampir saja telah mengoyak kulitnya. Anginnya yang menyambar tubuhnya terasa berdesir sebagaimana jantungnya berdesir.
Namun dalam pada itu, sambil meloncat menghindari serangan berikutnya, Mahisa Pukat telah menghentakkan tangannya dengan telapak tangan yang terbuka.
Ternyata bahwa sikap itu telah membawa bencana yang menentukan akhir dari pertempuran itu. Dari telapak tangan Mahisa Pukat itu seakan-akan telah meluncur sinar yang silau kebiru-biruan menyambar tubuh lawannya dengan kecepatan petir di langit. Lawannya sama sekali tidak mampu menghindarinya, sehingga karena itu yang terdengar kemudian adalah teriakan yang menggetarkan jantung.
Lawan Mahisa Pukat itu telah terlempar beberapa langkah. Kemudian tubuhnya terbanting jatuh di tanah. Tubuh itu hanya sempat menggeliat. Namun kemudian tubuh itu telah diam untuk selama-lamanya.
Sementara itu Mahisa Pukat berdiri tegak dengan kaki renggang memandangi keadaan lawannya yang terbaring diam itu.
Pada saat yang demikian, Mahisa Murti masih juga bertempur melawan lawannya yang membawa lingkaran bergerigi. Satu-satu lawannya itu melontarkan cakranya. Namun sama sekali tidak mengenai sasarannya.
Namun Mahisa Murti masih telaten menunggu lawannya kehabisan senjatanya. Ia tidak dengan garang menghancurkan lawannya sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Pukat. Tetapi ia ingin menundukkan lawannya dan memaksanya untuk membawa orang-orangnya keluar dari padepokan itu.
Kemarahan yang memuncak membuat orang itu justru kehilangan kemampuan bidiknya. Kegelisahan dan kecemasan membuatnya semakin tidak dapat menguasai diri. Senjatanya bertebaran semakin jauh dari sasaran.
Akhirnya, seperti yang diharapkan oleh Mahisa Murti. Seberapa banyak senjata itu dapat dibawanya, namun pada saatnya orang itu telah menggenggam senjatanya yang terakhir.
Mahisa Murti melihat lawannya menjadi ragu-ragu untuk melontarkan senjatanya. Karena itu, maka ia pun dapat menebak, bahwa senjata di tangannya itu tinggal satu-satunya yang masih dimilikinya. Karena itu, maka ia pun kemudian berkata dengan nada lunak, “Ki Sanak. Bukankah Ki Sanak telah kehilangan semua senjata Ki Sanak tanpa arti apa-apa. Jika senjata Ki Sanak yang terakhir itu kau lemparkan, maka kau telah kehilangan semua senjatamu.”
“Persetan,“ geram orang itu. “aku akan membidikkan senjataku di depan hidungmu.”
“Aku akan bergeser menjauh jika kau mendekat,“ berkata Mahisa Murti.
“Aku akan mengejarmu sampai ke ujung bumi sekalipun,“ berkata orang itu.
Mahisa Murti termangu-mangu. Jika benar yang dikatakan, maka ia terpaksa mencegah orang itu untuk mendekatinya. Semakin dekat jarak orang itu daripadanya, maka lontaran lingkaran bergerigi itu menjadi semakin berbahaya baginya.
Ketika Mahisa Murti berpaling ke arah Mahisa Pukat, maka dilihatnya Mahisa Pukat telah menyelesaikan lawannya. Bahkan Mahisa Pukat kemudian sempat memperhatikannya. Sementara lawannya terbaring diam. Agaknya lawannya tidak dapat bertahan terhadap kekuatan serangan ilmu Mahisa Pukat.
Sementara orang yang membawa senjata lingkaran bergerigi itu benar-benar melangkah setapak maju. Justru pada saat ia tidak mempunyai harapan lagi, maka ia telah melakukan satu cara yang mendebarkan bagi lawannya.
“Jangan maju lagi,“ berkata Mahisa Murti, “kau tahu, bahwa kawanmu itu terbunuh.”
“Persetan,“ geram orang itu. “aku tidak peduli. Jika kau menjadi ketakutan, panggil kawanmu itu. Bertempurlah berpasangan. Aku tidak takut.”
Mahisa Murti menjadi berdebar-debar. Ia tidak ingin membunuh orang itu. Seorang di antara pemimpin perguruan yang datang itu sudah tidak berdaya, bahkan mungkin benar-benar telah mati. Karena itu, maka ia ingin mengalahkan lawannya tanpa membunuhnya dan memaksanya untuk membawa sisa orang-orangnya pergi.
Tetapi agaknya lawannya itu benar-benar seorang yang keras kepala. Bahkan seperti yang dikatakan, ia benar-benar melangkah maju dengan senjata yang tinggal sebuah di tangannya. Ia akan membidik dari jarak yang dekat dan melontarkannya, sehingga ia tidak akan luput lagi.
“Berhenti,“ berkata Mahisa Murti.
Ternyata Mahisa Pukat lah yang menjadi tidak telaten. Sambil bergeser selangkah maju ia berkata, “Kau-biarkan lawanmu tetap berkeras kepala, sehingga justru kau sendiri yang terdesak?”
“Aku ingin ia tetap hidup,“ jawab Mahisa Murti.
“Kau tidak pantas memberi kesempatan orang itu hidup,“ sahut Mahisa Pukat, “kecuali jika ia menyerah.”
“Aku bukan pengecut,“ orang itu pun berteriak, “aku akan membunuh kalian.”
Orang itu justru telah melangkah maju mendekati Mahisa Murti.
Namun langkah orang itu tertegun. Tiba-tiba saja tanah di depan kakinya bagaikan meledak.
“Bukan kau yang kuledakkan,“ geram Mahisa Murti, “tetapi jika kau maju lagi, maka kaulah yang akan terlempar dan terbanting jatuh. Mati.”
“Aku tidak peduli,“ jawab orang itu. “jika kau mampu membunuhku, lakukanlah.”
Orang itu maju selangkah lagi. Sekali lagi ia tertegun. Ledakkan itu terjadi dekat di ujung ibu jarinya. Bahkan tanah yang terlempar dari ledakkan itu, serta batu-batu kerikil telah mengenai tubuhnya.
Orang itu memang menjadi kesakitan. Tetapi ia benar-benar bagaikan orang yang kehilangan akal. Ia maju lagi selangkah.
Namun setiap kali ia melangkah maju, langkahnya terhenti. Sehingga karena itu, maka orang itulah yang tidak telaten. Ketika ia sudah menjadi semakin dekat, maka ia pun telah tidak menunggu lagi. Tiba-tiba saja ia telah meloncat sambil melontarkan senjatanya dengan sepenuh kekuatannya.
Jaraknya memang jauh lebih dekat dari sebelumnya. Namun Mahisa Murti yang sudah memperhitungkan kemungkinan itu, melihat tangannya yang bergerak, sehingga dengan kemampuannya yang tinggi, ia berhasil melenting menghindarkan diri dari sambaran senjata itu.
Namun lawannya benar-benar telah menjadi liar. Justru karena serangannya yang terakahir telah gagal, maka ia telah meloncat menyerang Mahisa Murti dengan garangnya.
Mahisa Murti pun telah siap menghadapi serangan itu. Bahkan ia memang telah menunggunya. Ia sadar, bahwa kekuatan lawannya memang sangat besar, karena berdua mampu memecahkan selarak gapura padepokan itu.
Tetapi Mahisa Murti pun telah menyiapkan puncak dari daya tahan tubuhnya serta ilmunya yang diwarisinya dari Pangeran Singa Narpada.
Sejenak kemudian telah terjadi benturan yang sangat dahsyat. Mahisa Murti memang terpental beberapa langkah surut. Tetapi ia masih tetap mampu mempertahankan keseimbangannya. Sementara itu, lawannya yang merasa berhasil mengenai lawannya dan akan menghancurkannya, namun ternyata ia sendiri telah terpental pula beberapa langkah surut. Kakinya yang mengenai tubuh lawannya justru terasa sakit. Namun seperti Mahisa Murti ia pun masih tetap tegak berdiri meskipun harus menyeringai.
Tetapi orang itu menjadi heran. Dalam pertempuran yang sudah berlangsung cukup lama, ia sama sekali tidak dapat mengenai tubuh lawannya. Namun tiba-tiba justru pada saat ia sudah berputus asa, ia benar-benar mampu menghantamnya. Meskipun ia juga menjadi sangat heran, bahwa lawannya yang dikenainya itu tidak lumat menjadi debu.
Namun dengan demikian, maka gairah perjuangannya telah tumbuh kembali. Ia merasa bahwa pada serangan pertama ia hanya mampu mendorong lawannya beberapa langkah surut. Namun jika ia mampu mengenainya beberapa kali, lawannya itu tentu akan dapat dihancurkannya pada akhirnya.
Karena itu, maka ia pun telah bersiap pula. Sekali lagi ia telah menyerang dengan cara yang sama. Demikian cepatnya, sehingga seolah-olah Mahisa Murti tidak siap untuk mengelak.
Sekali lagi benturan telah terjadi. Sekali lagi Mahisa Murti tergeser dari tempatnya. Kakinya yang mengenai lawannya justru menjadi semakin sakit.
Itulah sebabnya, maka ia telah berniat menyerang Mahisa Murti dengan kakinya yang satu lagi. Dengan demikian maka ia telah mengambil sikap yang berbeda.
Namun Mahisa Murti masih tetap berusaha untuk membentur serangan orang itu. Karena itu, ketika serangan itu datang lagi, ia masih juga tidak menghindar, tetapi justru membenturnya, sehingga yang telah terjadi itu terulang kembali.
Tetapi Mahisa Murti tidak lagi tergeser beberapa langkah. Ia hanya tergeser dua langkah saja, sementara lawannya justru mengalami kesulitan yang lebih parah. Kakinya yang sebelah itu pun menjadi sakit pula dan bahkan rasa-rasanya kaki itu akan patah.
Mahisa Pukat yang mengetahui niat Mahisa Murti itu menggeramang karenanya. Ia sebenarnya tidak telaten menunggu. Tetapi ia tidak dapat mencegah niat Mahisa Murti itu.
Karea itu, yang dapat dilakukannya hanyalah sekedar menunggu. Sementara itu, Mahisa Murti masih saja tetap menunggu lawannya itu menyerang. Bukan berarti bahwa ia tidak merasakan sengatan kesakitan. Namun ia memang telah meningkatkan daya tahan tubuhnya sampai ke puncak untuk mengatasi rasa sakit, karena ia yakin bahwa pekerjaannya tidak akan terlalu lama lagi.
Sementara itu, lawannya berusaha untuk benar-benar menghancurkannya dengan serangan-serangannya. Ia yakin, betapapun kuatnya daya tubuhnya, namun perlahan-lahan tubuh itu tentu akan dapat dihancurkannya.
Tetapi kemudian orang itu merasakan satu kelainan pada dirinya. Rasa-rasanya ilmunya tidak lagi sekuat sebelumnya.
Ketika ia kemudian menyerang sekali lagi dengan puncak kemampuannya, maka Mahisa Murti sudah tidak tergeser lagi dari tempatnya. Bahkan kemudian anak muda itu berdiri sambil bertolak pinggang. Dipandanginya lawannya sambil tersenyum dan berkata, “Marilah. Lepaskan semua kekuatan dan kemampuan ilmumu.”
Orang yang telah bangkit harapannya untuk menang itu telah menjadi goyah kembali. Rasa-rasanya lawannya itu menjadi semakin lama semakin perkasa. Serangan-serangannya sama sekali tidak menggoyahkannya.
Namun orang itu masih ingin mencobanya. Diulanginya sekali lagi dan sekali lagi. Namun justru benturan-benturan itulah yang telah menghancurkannya. Tenaganya seakan-akan telah terhisap sehingga kemudian ia menyadari, bahwa ia memang berhadapan dengan anak muda yang luar biasa.
“Pengecut,“ geram orang yang sudah hampir kehabisan tenaga itu. “kau hisap kekuatanku sebagaimana laku seorang pencuri. Kau tidak berani bertempur beradu ilmu.”
Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Jangan marah-marah begitu Ki Sanak. Kau tidak akan mendapat apa-apa dengan sikapmu itu. Karena itu lebih baik kau menyerah saja. Kau akan mendapat perlakuan yang baik dan mungkin sangat menguntungkan bagimu.”
“Persetan. Aku akan membunuhmu,“ geram orang itu.
Tetapi ia menjadi semakin lemah. Ia tidak lagi mampu meloncat menyerang meskipun ia masih tetap berusaha berdiri tegak.
Namun Mahisa Murti lah yang yang datang mendekat. Orang itu tidak dapat mengelak ketika Mahisa Murti kemudian menangkap pergelangan tangannya.
Dalam waktu yang singkat, seluruh tenaganya sudah terhisap habis. Karena itu, ketika Mahisa Murti melepaskannya, maka orang itu telah terhuyung-huyung sejenak. Namun kemudian ia pun telah berjatuh dan sama sekali tidak mampu lagi untuk bangkit, karena seakan-akan seluruh tenaganya telah terhisap habis. Bahkan untuk mengumpat pun suaranya tidak lagi mampu meloncat dari bibirnya kecuali sekedar seperti orang berbisik, “Setan kau. Aku akan membunuhmu.”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia berpaling kearah Mahisa Pukat, sementara Mahisa Pukat melangkah mendekatinya.
“Kau telaten juga bermain-main dengan orang itu,“ berkata Mahisa Pukat.
“Aku ingin ia tetap hidup,“ berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Mungkin ia memang masih diperlukan.”
“Ya. Kita tidak akan memusnahkan semua orang yang memasuki padepokan ini. Kita akan mengusir mereka pergi. Dan orang ini akan dapat membawa mereka, karena orang ini adalah salah seorang dari pemimpin mereka.”
Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun dilayangkannya pandangannya ke bagian lain dari padepokan itu. Sebagian besar dari pertempuran sudah selesai. Orang-orang yang datang dengan penuh kepastian akan dapat membantai seisi padepokan itu, ternyata harus menyerah kalah, karena mereka memang sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk melawan.
Bahkan mereka pun telah pasrah jika leher mereka akan ditebas putus dengan pedang. Orang-orang itu memang menduga, bahwa mereka semuanya tentu akan diselesaikan, sebagaimana mereka juga merencanakan berbuat demikian atas isi padepokan itu.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar