*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 041-02*
Ternyata atas nasehat para prajurit, mereka telah membuat api di sekitar tempat mereka beristirahat kelompok-kelompok. Dengan demikian jika binatang melata seperti ular tidak akan melangkahi abu yang hangat dan menghindar.
Meskipun demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat selalu siap untuk melakukan pertolongan jika tiba-tiba saja salah seorang di antara mereka telah dipatuk ular.
Ketika fajar menyingsing, maka mereka pun telah menjadi sibuk. Para prajurit telah menelan obat yang diberikan kepada mereka untuk menawarkan racun dan bisa meskipun hanya untuk sementara.
Sementara itu, mereka yang bertugas untuk menyiapkan makan dan minum pun telah melakukannya dengan cermat dan mencukupi kebutuhan.
Hari itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berusaha membuat sebuah jaring raksasa dengan berpuluh-puluh gulung tambang sabut kelapanya. Jaring itu akan berisi batu yang berwarna kehijau-hijauan itu.
Memang satu pekerjaan yang sulit. Namun beberapa orang prajurit yang telah menelan obat penawar bisa telah membantunya. Namun demikian, tengkuk mereka pun meremang jika mereka melihat jenis-jenis binatang berbisa di celah-celah batu itu. Di antara retak di kulit batu itu, bersembunyi berbagai jenis binatang yang bukan saja dapat membuat kulit tengkuk meremang, tetapi juga dapat membunuh dengan kejinya.
“Jangan hiraukan jika kau memang sudah menelan obat penawar bisa itu. Yakinkan dirimu, bahwa obat itu mempunyai arti bagi kalian,” berkata Mahisa Pukat.
Para prajurit itu mengangguk-angguk. Mereka pun menjadi semakin meningkatkan kerja mereka, justru karena mereka semakin yakin bahwa mereka tidak akan dibunuh oleh bisa.
Namun orang-orang padepokan yang lain sama sekali tidak berani mendekati batu itu. Satu dua orang yang melihat-lihat dari jarak yang terhitung dekat, tubuhnya bagaikan menggigil melihat binatang-binatang berbisa yang bergerak dan berdesakan di relung dan di retak-retak batu hijau itu.
Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat selalu mengingatkan kepada mereka, agar mereka memegang senjata mereka di tangan.
“Bukan karena kita akan diserang musuh,” berkata Mahisa Murti, “tetapi ular berbisa banyak berkeliaran di tempat ini. Jika kalian melihatnya mendekati siapa saja, jangan menunggu lebih lama lagi. Ular itu harus dibunuh.”
Demikianlah kerja itu memerlukan waktu yang lama. Namun akhirnya batu itu dapat juga diselubungi oleh jaring tambang sabut.
Dengan hati-hati tali itu disangkutkan pada bahu sepuluh ekor kerbau yang kuat. Menurut perhitungan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan orang-orang yang ikut bersamanya, sepuluh ekor kerbau itu akan dapat menariknya dengan tidak terlampau banyak mengalami kesulitan.
Namun jalan yang akan mereka tempuhlah yang sulit. Karena itu maka untuk dapat membawa batu itu sampai ke padepokan memang diperlukan waktu yang lama.
Sementara Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan para penghuni padepokan termasuk para prajurit kemudian berusaha menarik batu itu, ternyata tiga orang tengah mengawasi dengan wajah berkerut-kerut.
Seorang di antara mereka berkata, “Gila orang-orang Suriantal itu.”
“Tidak semuanya orang Suriantal,” desis yang lain, “hitung saja di antara mereka yang membawa tongkat. Yang lain datang dari berbagai perguruan. Namun ternyata bahwa Suriantal telah pernah dihancurkan oleh Lemah Warah. Tetapi agaknya padepokan itu kini akan bangkit lagi. Agaknya Akuwu Lemah Warah meninggalkan padepokan itu begitu saja.”
“Tetapi tentu sudah tidak mempunyai kekuatan,” desis orang ketiga.
“Namun anehnya, justru sekarang mereka berani mengambil batu hijau itu,” berkata orang yang pertama.
Kawan-kawannya mengangguk. Dengan nada dalam seorang di antara mereka berkata, “Bagaimana mungkin mereka dapat mengatasi bisa dari binatang yang ada di batu itu.”
“Kedua orang anak muda itu sudah beberapa kali melakukannya. Menyentuh batu itu tanpa cidera. Keduanya tentu mempunyai penawar bisa,” berkata yang lain.
“Mungkin. Tetapi yang membantunya cukup banyak. Apakah mereka semua mempunyai penawar bisa seperti kedua orang anak muda itu?” bertanya kawannya.
Yang lain termangu-mangu. Namun ia tidak menjawab. Bahkan ia berdesis, “Satu kerja gila-gilaan yang dilakukan oleh anak-anak muda. Tetapi kita dapat bersyukur bahwa ada orang yang mengeluarkan batu itu dari lingkungan yang sangat berbisa. Mudah-mudahan batu itu kelak menjadi tawar di padepokan Suriantal, sehingga kita akan dapat mengambilnya dengan cara yang lebih mudah.”
“Aku tidak tahu, kenapa anak muda itu tidak memecah saja batu itu lebih dahulu,” berkata seorang yang lain.
Kedua kawannya tidak menjawab.
Demikianlah, maka kerja besar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun berlanjut. Hanya para prajurit yang berjumlah duapuluh lima orang itu sajalah yang membantunya dengan jarak yang pendek. Bahkan satu dua diantara mereka telah ikut menyentuh batu itu. Sementara itu orang-orang padepokan itu sendiri membantunya dari jarak yang agak jauh dengan menempatkan kerbau-kerbau itu berjajar dan berurutan.
Meskipun demikian ada saja diantara mereka, yang harus mempergunakan pedang atau tombaknya untuk membunuh ular yang berkeliaran.
Sejenak kemudian, dengan jaring raksasa dari tambang sabut yang sudah terpasang, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun selalu memberikan aba-aba. Sejenak kemudian terdengar cambuk meledak-ledak. Sepuluh ekor lembu yang besar itu pun bergerak terus.
Ternyata batu itu memang berat. Selain sepuluh ekor lembu itu beberapa puluh orang telah ikut pula menariknya. Sehingga lambat laun batu yang berwarna kehijauan itu pun mulai bergerak.
Namun dalam pada itu, setiap kali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat selalu memperingatkan bahaya yang mungkin dapat mematuk mereka, terutama orang-orang padepokan. Bahkan para prajurit itu pun telah memperingatkan mereka pula.
Dengan demikian maka sejenak kemudian, bagian pinggiran hutan itu telah dipekakkan oleh teriakan-teriakan yang menggema. Teriakan-teriakan mereka yang menggerakkan kerbau untuk mau berjalan sambil menarik batu itu, tetapi juga teriakan-teriakan orang-orang padepokan yang ikut menarik batu itu pula. Diseling oleh teriakan-teriakan para prajurit yang memperingatkan binatang-binatang berbisa yang berkeliaran.
Ketika batu itu mulai berguling untuk pertama kalinya, maka ternyata tengkuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah meremang pula. Ternyata di bawah batu itu terdapat berpuluh-puluh ekor ular yang saling membelit dengan jenis-jenis binatang berbisa yang lain. Demikian batu itu berkisar, maka binatang-binatang itu telah berhambur ke segenap arah.
“Hati-hati,” teriak Mahisa Pukat.
Yang paling dekat dengan batu itu selain Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah para prajurit. Meskipun mereka telah makan obat penawar bisa untuk sementara, tetapi ternyata mereka lebih merasa aman dengan membunuh binatang berbisa yang mendekat.
Para prajurit itu pun merasa jantungnya berdebaran melihat berjenis-jenis binatang yang bergulat di bawah batu itu.
Demikianlah, setapak demi setapak batu itu beringsut terus. Orang-orang yang mencambuk kerbau-kerbau itu masih saja berteriak sementara kawan-kawannya membantu menarik batu itu pula.
Tiga orang yang memandang dari kejauhan dan dari tempat yang terlindung itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka tidak melihat jelas, binatang-binatang yang berada di bawah itu. Namun yang menjadi perhatian terbesar mereka adalah binatang berbisa yang ada di dalam batu itu.
Demikianlah, perlahan-lahan, namun batu itu ternyata bergerak. Dengan sangat berhati-hati Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan para prajurit mengarahkan gerak batu itu agar tidak masuk ke dalam lereng yang agak dalam, sehingga sulit untuk mengangkatnya keluar.
Tiga orang yang mengawasi kerja itu masih saja menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka seakan-akan melihat satu yang mustahil terjadi, namun ternyata telah terjadi.
“Tetapi satu keuntungan bagi kita,” berkata orang itu, “kita tidak harus bekerja keras seperti itu. Kita tinggal memasuki padepokan Suriantal dan mengambil batu itu.”
“Tetapi kau lihat, orang Suriantal terlalu banyak untuk dilawan,” berkata salah seorang di antara mereka.
“Tentu orang-orang Suriantal itu telah mengerahkan pula orang-orang padukuhan dengan paksa.” menyahut yang lain, “tetapi Suriantal sendiri kini telah menjadi lemah setelah dihancurkan oleh Lemah Warah. Sebagian dari orang-orangnya, terutama yang datang dari padepokan lain, telah meninggalkan padepokan itu. Sebagian lagi, justru orang-orang penting, telah dibawa ke Lemah Warah. Sekarang Suriantal tidak mempunyai pemimpin yang kuat. Agaknya kedua anak muda itulah yang kemudian memegang pimpinan.”
“Tetapi kedua anak muda itu harus diperhitungkan,” desis yang lain.
Ketiga orang itu kemudian mengangguk-angguk. Kedua orang anak muda itu nampaknya memang meyakinkan, sehingga atas mereka tidak dapat diperlakukan sebagaimana orang lain.
Sejenak kemudian ketiga orang itu pun telah meninggalkan tempat mereka itu. Mereka menyusuri pinggir hutan yang tidak terlalu lebat. Namun mereka mengambil arah lain dari yang ditempuh oleh orang-orang dari padepokan Suriantal itu.
Ternyata batu itu bergeser perlahan-lahan. Sepuluh ekor kerbau itu telah berusaha dengan sekuat tenaga. Beberapa kali punggungnya merasa sakit karena cambuk. Namun orang-orang padepokan itu tidak hanya mencambuki kerbau-kerbau itu saja. Tetapi mereka ikut pula menarik dengan sekuat tenaga.
Tetapi seperti yang dikatakan oleh pemimpin padepokan Suriantal, bahwa jika mereka mengambil batu itu, banyak perhatian akan tertuju kepada mereka.
Kerja yang dilakukan itu, adalah kerja yang memerlukan bukan saja kemauan dan ketekunan. Tetapi juga tenaga dan waktu. Batu itu hanya mampu bergeser perlahan-lahan. Dalam pada itu di setiap jengkal, binatang berbisa yang ada di batu itu berjatuhan satu demi satu. Namun sementara itu yang lain berpegangan sekuat tenaga di dalam retak dan relung-relung batu yang berwarna kehijauan itu.
Meskipun demikian, batu itu bergerak juga ke arah padepokan. Betapapun lambatnya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dan orang-orang yang membantunya itu kemudian yakin, bahwa batu itu pada akhirnya akan sampai di padepokan. Namun setelah itu, maka banyak hal yang akan dapat terjadi.
Tetapi kemajuan yang mereka capai ternyata sangat sendat. Baru beberapa ratus patok, maka mereka telah merasa terlalu payah. Demikian pula kerbau-kerbau yang menarik batu itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat cukup bijaksana, ia memang tidak terlalu tergesa-gesa. Bahkan kerbau-kerbau itu pun dapat dikembalikan agak lambat dengan menambah uang sewanya jika itu dikehendaki oleh orang-orang padukuhan.
Karena itu, maka orang-orang yang bertugas untuk menyiapkan makan dan minuman bagi orang-orang yang bekerja keras itu pun telah melakukan tugas mereka pula. Di samping iring-iringan itu beristirahat, maka mereka telah menyiapkan air minum yang hangat dan jika mereka menemukan tempat untuk bermalam, maka telah disiapkan pula makan bagi mereka. Di pagi hari kemudian, orang-orang yang bertugas itu pun telah menyiapkan makan mereka, bukan saja untuk pagi hari. Tetapi mereka juga menyiapkan makan untuk siang hari yang mereka bawa sepanjang perjalanan itu.
Itulah sebabnya, jarak yang tidak terlalu panjang itu harus ditempuh dalam beberapa hari.
Namun dalam pada itu, tiga orang seakan-akan selalu membayangi kerja yang besar itu. Bahkan ternyata bukan hanya ketiga orang itu saja. Dari arah lain, dua orang telah mengamati pula kerja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun agaknya kedua orang itu tidak merasa perlu untuk mengikuti gerak iring-iringan itu setiap hari. Tetapi mereka hanya menyaksikannya dua kali. Setelah itu, maka mereka menganggap bahwa segala sesuatunya akan dapat diselesaikan di padepokan Suriantal.
“Kita tinggal datang mengambilnya,” berkata seorang diantara mereka, “meskipun demikian, kita merasa kasihan juga kepada orang-orang yang telah dipaksa untuk ikut dalam kerja keras dan bodoh itu.”
“Tetapi padepokan itu memang padepokan yang besar,” sahut yang lain.
“Sebelum padepokan itu dihancurkan oleh Akuwu Lemah Warah. Beberapa perguruan yang bergabung menjadi satu, merupakan kekuatan yang sangat besar.”
“Tetapi kekuatan itu dihancurkan juga oleh Lemah Warah,” berkata kawannya.
Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian mereka pun telah meninggalkan tempat itu. Seorang diantara mereka bergeremang, “Kita akan datang pada waktunya langsung di padepokan.”
Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tenggelam dalam kerja mereka. Namun bagaimanapun juga, keduanya yakin bahwa batu itu akan sampai juga ke padepokan.
Sebenarnyalah, dari hari ke hari berikutnya batu itu telah bergeser. Namun untuk sampai ke jalan yang agak rata menuju ke padepokan, diperlukan waktu lima hari.
Namun Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan orang-orang padepokan itu sempat menarik nafas dalam-dalam. Mereka yakin, bahwa dalam waktu sehari lagi, mereka akan dapat memasuki padepokan.
Rencana itu benar-benar dapat terpenuhi. Orang-orang yang bekerja keras menggeser batu itu, menjadi berdebar-debar ketika mereka mendekati pintu gerbang meskipun hari sudah senja.
“Apakah kita akan menunda kerja ini sampai besok?” bertanya Mahisa Murti.
“Tidak,” terdengar jawaban pemimpin padepokan, “kita akan menyelesaikannya malam ini juga meskipun sampai pagi.”
Beberapa orang telah mendahului memasuki padepokan untuk mengambil obor. Dengan obor-obor itu, maka orang-orang padepokan itu telah meneruskan kerja mereka, memasukkan batu yang berwarna kehijauan itu ke dalam padepokan.
Demikian batu kehijauan itu bergeser melalui pintu gerbang, maka orang-orang padepokan itu telah bersorak gemuruh. Satu kerja besar telah mereka selesaikan.
Meskipun kemudian batu telah masuk regol, tetapi mereka masih belum berhenti bekerja. Mereka telah menempatkan batu itu di tengah-tengah padepokan mereka.
Baru setelah batu itu ditempatkan di tempat yang mereka anggap paling baik, maka kerja itu baru dianggap selesai.
Namun orang-orang padepokan itu tidak segera beristirahat. Orang-orang yang bertugas, telah menyiapkan makanan dan minuman untuk menyatakan kegembiraan mereka, bahwa satu kerja yang besar telah mereka lakukan.
Tetapi ketika mereka mulai makan dan minum-minuman panas, maka Mahisa Murti berkata, “Satu kerja telah kita lakukan. Tetapi kerja lain yang tidak kalah beratnya masih menunggu. Mungkin ada pihak lain yang menginginkan batu itu. Tugas kita berikutnya adalah mempertahankannya.”
Seisi padepokan itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka-pun memang bertekad untuk mempertahankannya pula.
Tetapi di samping itu, Mahisa Pukat selalu memperingatkan kepada orang-orang padepokan, bahwa batu itu dihuni oleh binatang-binatang berbisa yang sangat berbahaya.
Demikianlah, sejak saat itu, batu yang berwarna kehijauan itu telah berpindah dari tempatnya ke padepokan Suriantal. Orang-orang Suriantal dengan sepenuh hati menjaga batu itu. Bahkan mereka telah membuat pagar bambu di seputar batu itu. Bukan maksudnya bahwa pagar itu dapat melindungi batu itu dari kekerasan. Namun sekedar tanda dan peringatan, bahwa batu itu cukup berbahaya.
Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah dapat meyakinkan pemimpin padepokan itu, bahwa batu itu tidak membunuh.
“Agaknya binatang-binatang itulah yang telah membunuhnya,” berkata pemimpin padepokan itu.
“Yaa,” jawab Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng. Kemudian Mahisa Pukat lah yang meneruskannya, “Agaknya orang yang menyentuh batu itu telah dipatuk oleh binatang-binatang berbisa itu, sehingga nyawanya tidak dapat diselamatkannya.”
Pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Namun katanya, “Tetapi biarlah kepercayaan tentang keramatnya batu itu tetap melindunginya, sehingga orang yang akan mengambilnya berpikir ulang.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak berkeberatan.
Namun demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tidak boleh menjadi lengah. Seisi padepokan itu benar-benar harus berjaga-jaga, karena setiap saat kekuatan asing akan datang menyerang padepokan itu.
Tetapi sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyerahkan sepuluh ekor kerbau yang dipinjamnya. Bahkan kemudian mereka pun membayar sebagaimana yang dijanjikan, sewa bagi kesepuluh ekor kerbau itu.
Ki Bekel memang merasa sangat beruntung bahwa kerbau yang sepuluh itu telah kembali. Karena itu, ketika ia ditanya oleh Mahisa Murti dan berapa ia harus membayar sewa, apalagi ia telah membawa kerbau itu melampaui waktu yang telah ditentukan.
Ki Bekel termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Segalanya terserah kepada kalian anak-anak muda. Aku belum pernah menyewakan kerbau-kerbau seperti ini.”
“Aku pun belum pernah menyewanya,” berkata Mahisa Murti.
Tetapi Ki Bekel sudah merasa berbahagia bahwa kerbau-kerbau itu telah kembali, maka ia tetap tidak mau menyebut jumlah tertentu.
Karena itu, maka Mahisa Murti telah memberinya upah itu seberapa saja ia mau.
Namun ternyata Ki Bekel telah terkejut melihat uang itu. Dengan suara bergetar ia berkata, “Sedemikian banyak?”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tersenyum. Sementara itu Mahisa Murti berkata, “Sudah cukup?”
“Terlalu banyak tuan,” jawab Ki Bekel.
Namun kedua anak muda itu hanya tersenyum saja.
Demikianlah maka orang-orang padukuhan itu merasa semakin tenang. Orang-orang padepokan itu sama sekali tidak mengganggu mereka, meskipun Ki Bekel dan Bekel-bekel yang lain mempunyai prasangka buruk pula terhadap isi padepokan itu. Mereka mengira bahwa uang yang cukup banyak itu didapat dengan mudah oleh orang-orang padepokan itu. Mereka menganggap bahwa orang-orang padepokan itu di tempat yang jauh sering melakukan kekerasan untuk merampas dan memiliki uang milik orang lain.
“Tetapi itu adalah dosa mereka,” berkata salah seorang Bekel, “kami mendapatkan uang ini dengan sewajarnya. Kami telah meminjamkan milik kami, dan kami mendapat imbalan dari mereka.”
Yang lain hanya mengangguk-angguk saja. Agaknya mereka pun sependapat bahwa uang itu dapat mereka terima dengan baik.
Dengan demikian, maka orang-orang padukuhan itu justru mengharap bahwa lain kali orang-orang di padepokan itu memerlukan sesuatu lagi dari mereka.
Dalam pada itu, padepokan Suriantal telah meningkatkan penjagaan di lingkungan padepokan itu. Para prajurit Lemah Warah pun telah ikut pula berjaga-jaga di malam hari. Tiga orang di antara mereka ikut serta bertugas di malam hari bergantian. Sementara itu panggungan yang ada di dinding padepokan telah disempurnakan pula. Mereka yang bertugas, tidak akan mudah dapat diintai dan diterkam lawan yang dengan diam-diam mendekat, meskipun di malam hari yang gelap sekalipun.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang ingin membuat batu itu menjadi patung, tidak dengan tergesa-gesa meninggalkan padepokan itu untuk mencari seorang pemahat. Mereka-pun menunggu sampai keadaan mengijinkan.
Sebenarnyalah pada saat itu, padepokan Suriantal memang menjadi gawat, justru karena batu berwarna kehijauan itu ada di dalamnya.
Tiga orang yang selalu mengawasi saat-saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengambil batu itu, masih selalu saja membayangi padepokan itu.
Namun dari arah lain, dua orang telah mengamati padepokan itu pula.
Namun sulit bagi mereka untuk mengetahui isi dari padepokan itu. Dinding yang kuat, yang mengelilingi padepokan itu telah melindungi pengamatan orang lain terhadapnya. Yang nampak dari orang-orang itu adalah justru panggungan tempat isi padepokan itu berjaga-jaga menatap keluar. Sedangkan di sebelah menyebelah pintu gerbang juga terdapat panggungan serupa. Justru dua buah, di sebelah menyebelah pintu gerbang.
“Sangat rapi,” desis salah seorang dari ketiga orang yang selalu mengamati orang-orang Suriantal itu.
“Sisa kewaspadaan orang-orang Suriantal,” sahut yang lain.
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka memang melihat penjagaan yang rapat dan tertib. Seakan-akan tidak ada seujung duri pun di sekitar padepokan itu yang terlepas dari pengamatan. Karena itulah maka ketiga orang itu sama sekali tidak berusaha untuk mendekat.
Tetapi ketiga orang itu berkepentingan untuk dapat menduga, seberapa besar kekuatan yang ada di dalam padepokan itu. Sehingga meskipun dari kejauhan, beberapa kali mereka memerlukan untuk melihat-lihat padepokan itu. Hal itu selalu mereka lakukan di malam hari, karena kemungkinan buruk akan dapat terjadi jika mereka datang di siang hari.
Sementara itu, orang-orang padepokan itu memang selalu meningkatkan kewaspadaan mereka. Semakin lama menjadi semakin ketat, bukan sebaliknya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih harus menunggu, kapan mereka mendapat kesempatan untuk menghubungi seorang pemahat. Keduanya masih belum sampai hati itu untuk meninggalkan padepokan itu. Jika justru pada saat keduanya pergi, datang pihak lain merampas batu itu, maka ia akan menjadi sangat kecewa.
Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan berada di padepokan itu sampai batas waktu pasukan Lembah Warah kelompok berikutnya datang. Ia akan minta agar kelompok yang pertama tidak meninggalkan padepokan itu lebih dahulu. Kedua kelompok yang ada di padepokan itu akan merupakan perlindungan yang kuat atas batu hijau itu, sementara ia akan pergi ke Singasari untuk mencari kemungkinan mendapat seorang atau lebih pemahat yang bersedia untuk waktu cukup lama tinggal di padepokan itu.
Karena itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus menunggu untuk waktu hampir sebulan. Sementara itu, maka orang-orang padepokan itu telah menyadap pengalaman dari kehadiran sekelompok prajurit dari Lemah Warah. Orang-orang padepokan itu melihat betapa para prajurit itu melakukan tugasnya dengan ikatan paugeran yang kuat. Namun sama sekali tidak nampak tekanan yang membuat mereka kehilangan pribadi mereka masing-masing.
Para pemimpin kelompok dari orang-orang padepokan itu telah mencoba untuk mengetrapkan tata cara kehidupan para prajurit itu bagi orang-orang padepokan itu. Meskipun tidak sepenuhnya, namun usaha itu ternyata membuat tatanan kehidupan di padepokan itu menjadi semakin baik.
Ternyata bahwa dalam waktu-waktu menunggu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk membuat hubungan yang lebih rapat dengan orang-orang padukuhaan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk meyakinkan, bahwa orang-orang padepokan itu tidak akan mengganggu orang-orang padukuhan.
“Sekelompok prajurit Lemah Warah akan mengambil tindakan jika mereka sekali saja mengganggu orang-orang padepokan,” berkata Mahisa Murti. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mengatakan bahwa sekelompok prajurit Lemah Warah telah berada di padepokan itu.
Namun dalam pada itu, kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di padukuhan, serta orang-orang padepokan yang kadang-kadang juga datang ke padukuhan untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang tidak dapat dihasilkan oleh padepokan itu sendiri, tidak terlepas dari pengamatan beberapa pihak. Tiga orang yang selalu mengamati padepokan itu telah mengetahui hubungan antara isi padepokan itu dengan orang-orang padukuhan. Mereka mengetahui orang-orang padepokan yang kadang-kadang berada di pasar.
Tetapi di samping ketiga orang itu, ternyata dua orang dari pihak lain telah mengamati pula kehidupan orang-orang padepokan. Bahkan mereka berusaha untuk mendapat beberapa keterangan tentang padepokan itu. Tetapi tidak banyak yang dapat disadap oleh orang-orang itu. Bahkan tidak sepatah kata pun yang terluncur dari mulut orang-orang padepokan, bahwa sekelompok prajurit Lemah Warah ada di dalam padepokan itu. Yang justru terdengar adalah ungkapan yang bernada merendah dari orang-orang padepokan. Kadang-kadang justru mereka merasa seolah-olah cemas menghadapi kekerasan yang dapat timbul.
Bahkan seorang penjual gula kelapa berkata, “Sebenarnya salah mereka sendiri. Jika mereka tidak bernafsu memiliki batu keramat itu, mereka tidak akan selalu dicengkam oleh kecemasan. Agaknya kutuk dari batu itu akan menimpa mereka.”
Dengan demikian, maka orang-orang di luar padepokan itu berkesimpulan bahwa kekuatan padepokan itu tidak cukup besar untuk melindungi batu yang berwarna kehijauan itu.
Dalam pada itu, hari pun berjalan demi hari. Pada saatnya, maka sekelompok prajurit dari Lemah Warah telah datang, untuk menggantikan prajurit Lemah Warah yang berada di padepokan itu. Pada kesempatan itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengutarakan niatnya kepada kedua orang Senapati yang memimpin kedua kelompok pasukan Lemah Warah.
“Aku tidak akan terlalu lama,” berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Kedua Senopati itu ternyata tidak berkeberatan. Terutama Senapati yang memimpin pasukan yang datang lebih dahulu. Di padepokan itu ia justru merasa beristirahat. Tidak banyak persoalan yang harus diperhatikan selain berjaga-jaga.
Namun demikian Senapati itu berkata, “Tetapi kau harus singgah di Lemah Warah, agar Akuwu tidak menjadi cemas, karena pasukan ini tidak kembali pada waktunya.”
Namun dalam pada itu, selagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berniat untuk meninggalkan padepokan, mereka mendapat laporan bahwa ada beberapa orang tengah mengamati padepokan itu.
Laporan itu sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Orang-orang padepokan itu sudah mengira bahwa kemungkinan itu akan terjadi. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berharap bahwa jika terjadi juga, jangan terlalu cepat. Mereka sebenarnya memerlukan waktu untuk menghubungi seorang pemahat yang baik untuk mengerjakan batu yang berwarna kehijauan itu.
Namun jika mereka memang sudah datang, maka apa boleh buat.
Dalam pada itu seorang penghuni padukuhan itu telah datang kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk memberitahukan bahwa orang itu telah melihat kelainan yang terjadi di padukuhan.
“Kelainan apa?” bertanya Mahisa Pukat.
“Rasa-rasanya aku melihat orang-orang asing di padukuhan itu. Meskipun aku tidak terlalu banyak mengenal orang-orang padukuhan itu, tetapi rasa-rasanya aku melihat orang-orang yang belum pernah aku lihat berkeliaran di pasar. Bahkan aku merasa seseorang telah mengikuti dan mengamati aku beberapa lama,” jawab orang itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dalam pada itu Mahisa Murti pun berkata, “Tentu ada hubungannya dengan laporan tentang beberapa orang yang mengamati padepokan ini. Jika demikian maka tentu mereka berusaha mencari keterangan lewat beberapa cara. Dengan mengamati padepokan ini secara langsung, dan dengan cara mencari keterangan di padukuhan, karena mereka tahu bahwa ada di antara kita yang sering datang ke padukuhan untuk beberapa macam keperluan.”
Orang itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Agaknya memang demikian. Karena itu, maka kemungkinan-kemungkinan yang lebih keras akan dapat terjadi di padepokan ini.”
“Kita akan siap menghadapinya dengan cara apa pun juga,” berkata Mahisa Pukat.
Dengan demikian maka pemimpin padepokan itu pun telah mengumpulkan para pemimpin kelompok dan dua orang Senapati dari Lemah Warah.
Mereka telah mendengarkan keterangan yang diberikan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk menanggapi perkembangan terakhir dari usaha beberapa perguruan yang ingin mengambil batu yang berwarna kehijauan itu.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar