*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 041-03*
“Nampaknya suasananya telah menjadi semakin panas. Karena itu aku telah menunda kepergianku. Setiap saat keadaan akan dapat meledak dan membakar padepokan ini,” berkata Mahisa Murti. “karena itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Meningkatkan kesiagaan jika setiap saat, kita mengalami tekanan kekerasan.”
Para pemimpin kelompok itu pun mengangguk-angguk. Mereka pun telah mendengar dari beberapa orang kawan mereka, tentang beberapa orang yang dianggap asing yang berkeliaran di padukuhan terdekat. Namun yang terakhir, beberapa orang penghuni padepokan itu melihat beberapa orang yang berkeliaran di sekitar lingkungan padepokan yang pernah disebut padepokan Suriantal itu.
Ternyata bahwa yang diperhitungkan oleh orang-orang padepokan itu tidak jauh dari kenyataan yang terjadi. Dalam waktu dekat, kesibukan di luar padepokan itu menjadi semakin jelas. Di padukuhan orang-orang yang dianggap asing semakin banyak. Ketika seorang di antara orang-orang padepokan itu membeli garam di pasar, maka ia pun telah berbicara dengan penjual garam itu.
“Apakah kau juga melihat orang-orang yang nampaknya tidak biasa berada di pasar ini?” bertanya orang padepokan itu.
“Ya,” jawab penjual garam itu, “semula aku mengira bahwa mereka adalah kawan-kawanmu, penghuni padepokan yang belum kami kenal. Namun agaknya menilik cara mereka berpakaian, agak berbeda dengan cara kalian berpakaian.”
“Hanya soal pakaian?” bertanya orang padepokan itu.
“Tidak. Juga tentang sikap dan tingkah laku,” jawab penjual garam itu.
Orang padepokan itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia melihat seorang yang nampak asing berdiri beberapa langkah dari padanya. Meskipun orang itu tidak menghadap ke arahnya, tetapi orang padepokan itu menyadari bahwa orang itu sedang mengawasinya.
“Kau kenal orang itu?” bertanya orang padepokan itu kepada penjual garam.
Penjual garam itu menggeleng. Katanya, “Tidak. Tetapi nampaknya memang menarik perhatian.”
Orang padepokan itu kemudian berdesis, “orang itu tentu mengikuti aku.”
“Agaknya memang demikian,” jawab penjual garam itu. “tetapi salah kalian sendiri. Kenapa kalian telah mengambil batu itu dan membawanya ke dalam padepokan? Banyak orang yang menginginkan batu itu. Tetapi batu keramat itu tidak pernah dapat beringsut dari tempatnya. Bahkan beberapa orang korban memang telah jatuh di antara mereka yang ingin memiliki batu itu. Namun kini batu itu sudah berkisar dari tempatnya dan berpindah ke padepokan kalian, agaknya orang-orang itu berpikir bahwa batu itu sudah tidak keramat lagi. Dengan demikian, maka nafsu mereka untuk memilikinya telah timbul kembali.”
“Darimana kau tahu tentang batu itu?” bertanya orang padepokan itu.
“Semua orang tahu. Dua orang anak muda dari padepokan itu telah menyewa kerbau-kerbau dari padukuhan. Seekor diantaranya adalah kerbauku. Dan aku pun telah mendengar apa yang terjadi di tempat batu hijau itu bersemayam untuk waktu yang tidak terhitung lamanya,” berkata penjual garam itu.
“Bagaimana dengan kerbaumu sekarang?” bertanya orang padepokan itu.
“Nampaknya sehat-sehat saja,” jawab penjual garam itu. Namun kemudian katanya, “Apakah kau memerlukan garam di tempat-tempat kecil lainnya?”
Orang padepokan itu pun kemudian telah membeli beberapa bungkus garam untuk keperluan beberapa hari. Sementara itu, orang yang mengikutinya masih saja berdiri sambil bersilang tangan di dada.
Namun agaknya orang padepokan itu cukup cerdik juga. Selagi orang itu memandang ke arah lain. ia justru menyelinap di belakangnya dan menuju ke arah yang sama sekali tidak diperhitungkannya.
Itulah sebabnya, maka orang yang mengikutinya itu justru kehilangan, sehingga untuk beberapa saat ia mencarinya. Tetapi sama sekali tidak diketemukannya lagi.
Namun dalam pada itu, maka di dalam padepokan itu persiapan dan kesiagaan benar-benar sudah sampai pada tataran tertinggi. Itulah sebabnya, maka ketika seorang pengamat melihat sekelompok orang lewat tidak terlalu jauh dari padepokan itu, telah melontarkan panah sendaren.
Orang-orang yang lewat itu terkejut. Panah sendaren biasanya merupakan isyarat bagi sasarannya. Tetapi yang dilakukan oleh pengamat itu sekedar memberitahukan bahwa orang-orang yang lewat itu telah dilihat oleh pengamat di padepokan.
Sekelompok orang yang lewat itu memang berhenti. Mereka melihat seorang petugas di atas panggungan.
Namun yang seorang itu pun kemudian telah bertambah menjadi dua, tiga, empat dan lima orang. Orang-orang padepokan yang mendengar panah sendaren itu pun telah keluar pula dengan senjata di tangan masing-masing.
“Aku baru memberi peringatan kepada mereka,” berkata pengawal yang melepaskan anak panah sendaren itu, “biarlah mereka mengetahui bahwa kami tidak senang akan kehadiran mereka di sekitar padepokan ini.”
Yang lain mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian melihat sekelompok orang itu memang bergeser pergi menjauhi padepokan itu.
“Gila,” geram salah seorang di antara orang-orang yang berjalan tidak jauh dari padepokan itu, “isi padepokan itu memang sekelompok orang-orang sombong.”
“Mereka telah menghina kita,” berkata yang lain.
“Besok kita akan datang lagi dan menghancurkan mereka. Kita memerlukan batu itu,” berkata seorang yang nampaknya adalah pemimpin dari sekelompok orang itu.
Sebenarnyalah, orang-orang itu berniat untuk mengambil batu yang berwarna kehijauan itu. Tetapi mereka tahu, bahwa untuk membawa batu itu diperlukan sepuluh ekor kerbau, tenaga manusia yang cukup banyak dan waktu yang panjang.
Tetapi pemimpin dari sekelompok orang itu berpendirian, bahwa mereka harus menduduki padepokan itu lebih dahulu baru memikirkan untuk menyingkirkan batu yang kehijauan itu.
Dari orang-orangnya yang disebar di padukuhan, maka diambil kesimpulan bahwa isi padepokan itu sama sekali tidak mengerahkan orang-orang padukuhan pada saat mereka mengambil batu itu. Karena itu, maka mereka berkesimpulan bahwa orang-orang yang mengambil batu itu sepenuhnya adalah orang-orang padepokan.”
“Padepokan itu memang termasuk sebuah padepokan yang besar,” berkata seorang di antara para pemimpinnya, “karena itu kita pun harus datang dengan kekuatan yang besar pula.”
“Jumlah kawan kita tidak akan sebanyak isi padepokan itu,” berkata salah seorang di antara mereka.
“Kita harus bekerja bersama dengan kelompok yang lain. Jika kita bergabung maka kekuatan kita akan melampaui kekuatan mereka. Kita akan dapat membagi hasil kerja keras kita yang mungkin akan menelan beberapa orang korban.”
Yang lain mengangguk-angguk, sehingga mereka pun kemudian sepakat untuk mengadakan hubungan dengan kelompok lain yang juga mengingini batu yang berwarna kehijauan itu.
Demikianlah, maka tiga orang yang selalu mengamati padepokan itu ternyata telah membuat hubungan dengan dua orang lainnya yang juga pernah melihat-lihat kegiatan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Ternyata dua kelompok itu memang memiliki kepentingan yang sama, sementara mereka merasa bahwa masing-masing kelompok itu tidak akan mampu mengalahkan padepokan yang pernah dihancurkan oleh kekuatan dari Lemah Warah.
Meskipun kelompok itu masing-masing mempunyai pengikut yang mungkin tidak kalah jumlahnya dari orang-orang padepokan itu, tetapi dengan demikian mereka tidak akan yakin akan dapat memenangkan pertempuran seandainya mereka harus menyerang dan memecahkan dinding padepokan itu.
“Kita harus memberikan korban yang cukup banyak pada saat-saat kita akan memasuki padepokan itu. Karena itu, maka kita harus yakin akan kekuatan kita,” berkata salah seorang dari ketiga orang pemimpin kelompok yang satu kepada para pemimpin kelompok yang lain.
Demikianlah maka kedua gerombolan itu telah menyusun satu kekuatan yang sangat besar menurut perhitungan mereka. Dengan kekuatan itu mereka yakin, bahwa mereka akan dapat menduduki padepokan Suriantal dan menguasai batu yang berwarna kehijauan itu.
Tetapi satu hal yang tidak mereka perhitungkan, bahwa sekelompok prajurit Lemah Warah yang akan menggantikan sekelompok prajurit yang terdahulu telah datang, sementara kelompok yang lama masih tetap berada di padepokan itu.
Demikianlah, dua gerombolan yang garang telah menentukan rencana mereka. Sesuai dengan imbangan kekuatan mereka, maka mereka akan membagi batu yang berwarna kehijauan itu.
“Orang-orang Suriantal telah menghilangkan keramat yang melekat pada batu itu. Agaknya orang-orang Suriantal lah yang akan terkena kutuk dan tumpas oleh kekuatan kita. Korban itu tentu sudah cukup, sehingga kita akan memiliki batu itu dengan aman dan tenang,” berkata salah seorang pemimpin di antara mereka.
Para pemimpin dari kedua belah pihak nampaknya sependapat bahwa mereka akan segera melakukan rencana mereka. Semakin cepat agaknya akan semakin baik. Kemudian mereka akan mencari jalan untuk menyingkirkan batu itu dari padepokan Suriantal. Mungkin dengan cara yang telah ditempuh oleh orang-orang padepokan itu.
“Untuk sementara kita dapat menyimpan batu itu di padepokan yang sebentar lagi akan kita duduki. Tetapi untuk selanjutnya batu itu harus disingkirkan. Jika Lemah Warah ikut campur, maka akibatnya akan berbeda,” berkata salah seorang diantara para pemimpin itu.
Yang lain mengangguk-angguk. Yang penting bagi mereka adalah menguasai batu itu lebih dahulu. Setelah itu mereka baru akan memikirkan, bagaimana mereka menyingkirkan batu itu.
“Jejak penyingkiran batu itu tentu akan mudah ditelusuri,” berkata seorang diantara mereka, “apalagi dengan cara sebagaimana ditempuh oleh orang-orang padepokan itu.
“Kita tidak mempunyai pilihan lain,” jawab pemimpin yang lain, “tetapi setidak-tidaknya kita dapat berusaha untuk menjauhkan batu itu dari padepokan, serta berusaha untuk menghapuskan jejaknya. Jika kemudian orang-orang Lemah Warah itu mencari kita juga akhirnya, maka apaboleh buat.”
Yang lain mengangguk-angguk. Memang tidak ada pilihan lain. Bahkan seorang diantara mereka berkata, “Lemah Warah terlalu jauh dari tempat ini. Jika para pemimpin Lemah Warah tertarik pada batu itu, maka sejak semula mereka tentu sudah berusaha untuk mengambilnya dengan cara apa pun juga. Jika mereka datang, tentu hanya untuk melindungi padepokan yang pernah dihancurkannya itu.”
Para pemimpin lainnya nampaknya memang sependapat. Karena itu, maka yang penting bagi mereka adalah menduduki padepokan itu dan kemudian baru memikirkan bagaimana mereka membawa batu itu pergi.
Dengan demikian, maka kedua gerombolan yang sepakat untuk bekerja bersama itu, telah mempersiapkan pasukan mereka untuk benar-benar memecahkan dinding padepokan itu. Mereka menyadari bahwa untuk melakukan hal itu, mereka akan memberikan korban yang tidak sedikit. Tetapi dengan jumlah yang dua kali lipat, maka mereka yakin akan dapat menghancurkan padepokan itu dan menguasai batu yang berwarna kehijauan itu. Batu yang tidak diketahui asal usulnya, yang bahkan ada yang mengatakan bahwa batu itu jatuh dari langit.
Pada hari-hari yang sudah ditentukan, maka orang-orang dari kedua gerombolan itu telah berada di sekitar padepokan. Mereka mengepung padepokan itu dari segala penjuru. Kepungan itu merupakan lingkaran yang rapat sehingga tidak mungkin seorang pun yang dapat lolos.
Demikian orang-orang itu muncul di saat matahari terbit, maka para pengawas di panggungan segera memberikan isyarat bahwa mereka telah melihat pasukan yang kuat telah mengepung padepokan itu.
Beberapa orang pemimpin dari padepokan itu pun kemudian telah naik pula keatas panggungan di sebelah menyebelah regol, termasuk Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan dua orang Senapati dari kedua pasukan Lemah Warah selain beberapa orang pemimpin kelompok dari padukuhan itu.
“Mereka benar-benar datang,” berkata Mahisa Murti.
“Jumlah mereka cukup banyak,” desis Mahisa Pukat.
“Memang cukup banyak,” sahut Mahisa Murti, “tetapi kita dalam kedudukan yang lebih baik. Apalagi kebetulan sekali bahwa sekelompok pasukan Lemah Warah sudah datang untuk menggantikan kedudukan pasukan yang ternyata masih tetap tinggal di sini.”
“Jumlah prajurit Lemah Warah tidak begitu banyak dibanding dengan jumlah mereka,” berkata Senapati yang datang kemudian.
“Tetapi jumlah seluruh isi padepokan ini cukup memadai,” berkata Mahisa Pukat. Lalu, “Seperti yang dikatakan oleh Mahisa Murti, kedudukan kita lebih baik. Kita akan mengurangi jumlah lawan kita pada saat mereka berusaha untuk memasuki padepokan ini.”
Para pemimpin di padepokan itu serta kedua orang Senapati prajurit Lemah Warah mengangguk-angguk. Mereka memang harus memanfaatkan saat-saat yang menguntungkan itu. Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah memerintahkan untuk dengan cepat mempersiapkan busur dan anak panah.
“Agaknya mereka belum akan menyerang hari ini,” berkata Mahisa Murti, “menilik susunan pasukan mereka. Tetapi tidak ada salahnya jika kita sudah siap dengan busur dan anak panah itu.”
Sebenarnyalah dalam waktu yang singkat, orang-orang yang sudah diatur sebelumnya untuk menahan arus pasukan lawan dengan busur dan anak panah telah bersiap. Tetapi Mahisa Murti masih belum memerintahkan mereka untuk naik ke panggungan di sebelah menyebelah pintu gerbang dan di sudut-sudut dinding padepokan.
Seperti yang diperhitungkan oleh Mahisa Murti, orang-orang yang mengepung padepokan itu masih belum siap untuk menyerang pada hari itu. Namun mereka agaknya masih ingin melihat dengan lebih pasti, sasaran yang akan mereka kuasai kemudian.
Karena itulah, maka dengan dada tengadah, para pemimpin mereka telah berjalan mengelilingi padepokan itu pada jarak yang cukup dekat, seolah-olah mereka tidak menghiraukan para penjaga yang berada di panggungan. Mereka berjalan dengan langkah yang pasti sambil mengamati dinding padepokan itu.
Sikap itu memang telah menggelitik para penjaga dipadepokan itu. Karena itulah, maka para penjaga itu pun seolah-olah tidak melihat mereka lewat. Bahkan dua orang dengan serta merta telah duduk sambil membelakangi mereka, seolah-olah tidak ada seorang pun yang nampak, apalagi dalam keadaan berbahaya.
Sikap itu memang telah menyinggung perasaan orang-orang yang mengelilingi padepokan itu. Karena itulah maka seorang diantara mereka berteriak, “He, apakah kalian menjadi ketakutan melihat kami lewat.”
Dua orang penjaga itu berpaling. Namun mereka hanya tertawa saja tanpa menjawab teriakan itu.
“Setan,” orang yang lewat itu berteriak pula, “aku bunuh kau besok.”
Seorang diantara penjaga itu justru melambaikan tangannya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Keduanya masih saja tertawa seolah-olah semua yang dihadapi itu sekedar permainan saja.
Orang-orang yang mengelilingi padepokan itu melanjutkan langkah mereka. Beberapa diantara mereka mengumpat. Tetapi yang lain berkata, “Mereka pun merasa tersinggung melihat sikap kita. Seolah-olah kita sedang berjalan di pematang sawah kita untuk melihat-lihat apakah padi sudah cukup tua untuk dipotong.”
Kawan-kawannya tidak menjawab. Namun di luar sadar mereka, maka langkah mereka pun menjadi semakin cepat.
Namun, demikian mereka selesai dengan mengelilingi padepokan itu, maka mereka mulai membicarakan penyerangan yang benar-benar akan mereka lakukan.
Para pemimpin sependapat, bahwa usaha memasuki padepokan itu bukannya satu-satunya jalan lewat pintu gerbang dengan memecahkan pintu gerbang itu.
“Sebagian dari kita harus memasuki padepokan itu dengan meloncati dinding atau memecahkan pintu butulan,” berkata salah seorang diantara para pemimpin dari kedua gerombolan yang akan memasuki padepokan untuk menguasai batu yang berwarna kehijau-hijauan itu.
Dengan demikian, maka para pemimpin padepokan itu pun telah memberikan beberapa petunjuk kepada para pengikutnya, agar mereka mempersiapkan diri untuk memasuki padepokan lewat segala jalan.
“Memang kita akan menugaskan sebagian dari orang-orang kita untuk berusaha memecahkan pintu,” berkata seorang diantara para pemimpin itu, “tetapi, kita harus benar-benar bersiap dengan perlindungan yang baik, karena orang-orang padepokan itu tentu akan menghujani mereka yang berusaha memecahkan pintu gerbang dengan anak panah.”
Nampaknya memang tidak ada perbedaan pendapat antara para pemimpin dari kedua gerombolan itu. Banyak hal yang menurut perhitungan mereka ternyata harus diatasi dengan cara yang sesuai menurut pendapat para pemimpin dari kedua belah pihak.
Namun dalam pada itu, selagi mereka memperbincangkan rencana mereka itu, maka telah dikejutkan kehadiran seorang yang sudah menginjak hari-hari tuanya. Namun masih nampak tegap dan kekar. Rambutnya nampak hitam seperti jambangnya.
Ketiga orang pemimpin dari salah satu gerombolan yang bergabung itu tiba-tiba saja bergumam dengan serta merta, “Guru.”
Orang yang berkumis dan berjambang tebal itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku telah mendengar rencanamu.”
“Silahkan guru,” salah seorang dari ketiga orang muridnya itu mempersilahkan.
Kepada kedua orang pemimpin dari gerombolan yang lain salah seorang dari ketiga murid orang berjambang itu memperkenalkan, “Guru kami. Empu Sepada.”
Kedua orang pemimpin dari gerombolan yang lain itu pun mengangguk. Seorang diantara mereka berkata, “Nama itu sudah pernah kami dengar. Mungkin Empu mengenal pula guru kami.”
“Siapa nama guru kalian?” bertanya Empu Sepada.
“Ki Buyut Bapang,” jawab seorang dari kedua orang itu.
“Ooo,” desis Empu Sepada,” jadi kau adalah murid Ki Buyut Bapang yang terkenal itu? Adalah kebetulan sekali kalian bekerja sama dengan muridku. Aku mengenal Ki Buyut Bapang, meskipun tidak terlalu rapat. Tetapi apakah gurumu tidak akan datang kemari?”
“Kami tidak mohon kepada Ki Buyut Bapang untuk datang,” jawab orang itu.
“Ketiga muridku ini juga tidak minta kepadaku,” berkata Empu Sepada, “tetapi demikian aku mendengar rencananya untuk menguasai batu itu, maka aku telah datang menemuinya.”
“Tetapi agaknya guru tidak datang,” jawab orang itu, “mungkin guru tidak mengetahui rencana kami.”
“Menurut pendapatku, sebaiknya kau panggil gurumu,” berkata Empu Sepada, “persoalan yang kalian hadapi adalah persoalan yang gawat. Jika seseorang mampu memindahkan batu itu, maka orang itu tentu bukan orang kebanyakan. Karena itu kita harus berhati-hati menghadapinya. Aku pun akan memberi peringatan kepada murid-muridku untuk tidak melakukan kesalahan seperti ini. Meskipun ia mempunyai pengikut yang cukup, apalagi bergabung dengan kalian, namun belum tentu kalian akan berhasil.”
“Tetapi kami memerlukan waktu paling sedikit dua hari untuk memanggil guru. Itu pun jika guru bersedia,” jawab salah seorang dari murid Ki Buyut itu.
“Aku tahu, bahwa kedudukan gurumu berbeda dengan kedudukanku. Aku adalah orang yang tidak terikat oleh kewajiban tertentu, sementara gurumu adalah seorang Buyut yang memerintah di satu lingkungan. Tetapi sebaiknya kalian mencoba. Katakan, bahwa Empu Sepada ada di padepokan Suriantal.”
“Dan kita akan kehilangan waktu lagi,” jawab seorang yang lain.
“Tidak apa-apa. Mundur dua atau tiga hari akan lebih baik jika kita mempunyai kepastian daripada kita lakukan hari ini tetapi gagal,” berkata Empu Sepada.
Kedua orang pemimpin gerombolan itu menjadi ragu-ragu. Namun Empu Sepada mendesaknya agar mereka menghubungi guru mereka. Dengan demikian maka mereka akan menjadi yakin, bahwa usaha mereka akan berhasil.
Kedua orang itu memang ragu-ragu. Gurunya adalah seorang Buyut yang memerintah satu lingkungan yang luas. Memang beberapa orang yang ada di dalam gerombolannya adalah orang-orang padukuhan yang termasuk daerah yang dipimpin oleh gurunya. Namun apakah gurunya akan bersedia langsung turun ke medan itulah yang masih dipertanyakan.
Namun Empu Sepada berkata, “Kalian dapat mencoba.”
Akhirnya kedua orang itu setuju. Mereka akan menghubungi gurunya dan minta agar gurunya datang ke padepokan Suriantal untuk mengambil batu yang berwarna kehijauan. Sebenarnyalah bahwa salah seorang yang menganjurkan untuk mengambil batu itu adalah memang gurunya itu.
Demikianlah, di hari berikutnya, sebelum matahari terbit, keduanya telah berangkat menuju ke Kabuyutan Bapang. Mereka harus mencapai Kabuyutan itu hari itu juga meskipun mungkin mereka akan menyelesaikan perjalanan mereka menjelang tengah malam.
Ternyata keduanya tidak menemui hambatan apa pun di perjalanan. Mereka sampai di Kabuyutan Bapang setelah malam turun, meskipun tidak sampai dekat tengah malam. Keduanya seakan-akan tidak beristirahat di perjalanan selain berhenti untuk makan di sebuah kedai dan sejenak duduk-duduk sambil minum minuman hangat.
Ki Buyut Bapang memang terkejut. Ia memang sudah mendengar usaha kedua muridnya untuk menguasai batu yang berwarna kehijauan yang menurut banyak orang, adalah batu yang jatuh dari langit itu.
Kepada gurunya, kedua muridnya berkata langsung tentang pesan Empu Sepada, agar gurunya bersedia hadir di padepokan Suriantal.
Ki Buyut itu tersenyum, Katanya, “Aku tahu. Empu Sepada hanya ingin melakukannya beramai-ramai. Ia dapat berbuat apa saja karena ia tidak mempunyai tanggung jawab sebagaimana tanggung jawabku atas Kabuyutan ini.”
“Tetapi Empu berpesan dengan sangat, agar guru bersedia datang,” berkata muridnya.
“Aku mengenal Empu Sepada,” jawab Ki Buyut, sejenak ia merenung. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan datang. Besok kita pergi bersama. Tetapi aku tidak dapat terlalu lama berada di padepokan Suriantal. Aku harus kembali di tengah-tengah orang Kabuyutan ini agar persoalan Kabuyutan ini dengan orang luar tidak menyulitkan kedudukan Kabuyutan ini.”
Demikianlah, maka Ki Buyut pun telah mempersiapkan dirinya untuk meninggalkan Kabuyutan itu beberapa lama. Malam itu juga dipanggilnya beberapa orang bebahu yang sebagian terbesar adalah orang-orang yang berpikiran sejalan dengan Ki Buyut itu sendiri. Sehingga sebenarnyalah bahwa seisi Kabuyutan itu sebagian besar adalah orang-orang yang mengikuti jejak Ki Buyut. Selain mengerjakan sawah ladang mereka sebagaimana kebiasaan orang-orang lain di lingkungan sebuah Kabuyutan, namun ternyata bahwa Ki Buyut dan terutama murid-muridnya adalah orang yang kadang-kadang melakukan tindakan tercela.
Tetapi karena hal itu dilakukan dengan tertib, maka persoalannya memang tidak banyak diketahui oleh orang lain.
Ternyata Ki Buyut tidak menunda keberangkatannya pada hari-hari berikutnya. Malam itu kedua muridnya diperintahkannya untuk segera beristirahat dan tidur nyenyak. Besok pagi-pagi sekali mereka akan berangkat kembali ke padepokan Suriantal.
Ternyata kedua muridnya adalah orang-orang yang memiliki ketahanan tubuh yang sangat tinggi. Ketika pagi-pagi mereka harus bangun dan berjalan kembali ke padepokan Suriantal, mereka tidak merasa terlalu letih. Mereka berjalan dengan langkah yang tetap sebagaimana mereka menempuh perjalanan sebaliknya sehari sebelumnya.
Seperti yang ditempuh di hari sebelumnya, maka mereka sampai di padepokan Suriantal menjelang tengah malam. Mereka disambut oleh Empu Sepada sebagai kawan yang telah lama tidak bertemu. Terasa kegembiraan di hati kedua orang tua itu. Dalam pembicaraan yang singkat, keduanya telah menemukan kesepakatan. Mereka berdua akan ikut serta memasuki padepokan untuk memastikan, bahwa usaha mereka akan berhasil.
Dalam pada itu, orang-orang padepokan Suriantal yang menjadi gelisah. Ternyata padepokannya yang telah dikepung untuk dua hari itu, masih belum disentuh sama sekali. Para penjaga memang melihat orang-orang yang hilir mudik. Tetapi mereka tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menyerang.
Tetapi Mahisa Murti agaknya melihat satu gejala yang dapat memberinya sedikit arah perhitungan. Dengan ragu ia berkata kepada Mahisa Pukat, “Agaknya masih ada yang mereka tunggu.”
“Maksudmu, saat yang baik atau perhitungan hari?” bertanya Mahisa Pukat.
“Bukan. Tetapi agaknya mereka menunggu satu atau sekelompok orang,” jawab Mahisa Murti, “mereka masih belum yakin bahwa mereka akan berhasil memecahkan padepokan ini.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Perlawanan kita tentu akan sangat berat. Kita harus mampu memanfaatkan saat-saat mereka berusaha memasuki dinding padepokan.”
“Agaknya jumlah busur, anak panah dan lembing cukup banyak untuk menahan mereka dan mengurangi kekuatan mereka,” jawab Mahisa Murti.
“Aku sependapat. Ketrampilan mereka pun nampaknya bertambah-tambah pula. Sementara itu telah disediakan pula obor-obor yang mungkin dapat dipergunakan menahan arus mereka.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi ia masih memperingatkan, “Hati-hatilah dengan obor-obor itu. Api obor itu memang mungkin akan dapat menahan gerak mereka, namun dapat juga menimbulkan niat di hati mereka untuk membakar dinding halaman dan apalagi barak-barak yang ada di padepokan itu.”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita akan mengutamakan penggunaan busur dan anak panah serta lembing-lembing yang sudah dipersiapkan di atas panggungan.”
Sebenarnyalah semua persiapan memang sudah dilakukan. Bahkan orang-orang padepokan itu hampir tidak sabar menunggu.
Tetapi Mahisa Murti berkata, “Kejemuan itu merupakan salah satu diantara senjata yang dipergunakan oleh orang-orang yang mengepung padepokan ini. Mereka memang menunggu agar kita kehabisan kesabaran dan tidak lagi dapat berpikir bening.”
Namun sebenarnyalah orang-orang yang mengepung itu sendiri menjadi hampir tidak sabar menunggu. Mereka sudah terlalu lama berkeliaran di sekitar padepokan itu tanpa berbuat apa-apa.
Demikianlah, akhirnya orang-orang di luar padepokan itu-pun mulai bergerak. Namun bukan seluruh pasukan bergerak memperpadat kepungan, tetapi hanya beberapa orang diantara mereka yang melangkah menuju pintu gerbang.
Para petugas di pintu gerbang pun segera memberikan isyarat kepada Mahisa Murti, Mahisa Pukat, pemimpin padepokan itu dan para Senapati dari Lemah Warah.
Sejenak kemudian mereka telah berdiri di panggungan menunggu kehadiran beberapa orang pemimpin dari gerombolan yang mengepung padepokan itu.
Beberapa langkah dari gerbang, orang-orang itu berhenti, sementara para pemimpin padepokan itu telah siap di panggungan.
“Selamat bertemu Ki Sanak,” berkata orang yang bernama Empu Sepada itu, “perkenankanlah aku memperkenalkan diri. Namaku Empu Sepada, sementara sahabatku ini adalah Ki Buyut dari Bapang. Jika berkenan kami ingin berkenalan dengan pemimpin padepokan itu.”
Pemimpin padepokan itu menjadi ragu. Ia ingin mendorong Mahisa Murti atau Mahisa Pukat untuk mengaku sebagai pemimpin padepokan itu. Namun Mahisa Murti sudah menggamitnya lebih dahulu.
Pemimpin padepokan itu terpaksa bergerak maju dan menjawab, “Akulah pemimpin padepokan ini. Aku terima salam perkenalan Ki Sanak. Tetapi perkenankanlah aku bertanya, apakah artinya tingkah laku Ki Sanak bersama para pengikut Ki Sanak itu.”
Empu Sepada tersenyum. Katanya, “Aku kira kau sudah mengetahuinya. Namun biarlah aku mengucapkannya. “ ia berhenti sejenak, lalu, “Ki Sanak. Kalian telah melanggar hak orang-orang yang mengagumi batu yang berwarna kehijauan itu, karena batu itu telah kalian bawa memasuki padepokan ini.”
“Ooo,” jawab pemimpin padepokan itu, “siapakah yang sebenarnya berhak atas batu itu? Kami atau kalian atau siapa? Karena batu itu sudah bertahun-tahun terletak di situ dan tidak ada orang yang berminat, maka apa salahnya jika kami mengambilnya. Kami memang tidak pernah berbicara tentang hak atas batu itu. Nah, jika kalian menginginkannya, kenapa tidak kalian ambil sebelumnya?”
“Ki Sanak,” berkata Ki Buyut, “batu itu memberikan kesejahteraan kepada lingkungannya. Jika batu itu kau ambil, maka lingkungan ini akan menjadi berubah. Sungai-sungai akan kering dan tanaman-tanaman di sekitarnya akan mati. Daerah ini akan menjadi gersang dan tanah menjadi cengkar.”
“Ooo,” pemimpin padepokan itu menjawab, “apakah begitu? Baiklah kita menunggu. Kita akan membuktikannya bahwa yang kalian katakan itu tidak benar. Batu itu tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Tetapi seandainya demikian, maka alangkah senangnya kami, karena batu itu akan berpengaruh baik bagi padepokan ini.”
“Kau terlalu mementingkan diri sendiri, Ki Sanak,” berkata Empu Sepada, “sebaiknya batu itu kalian serahkan saja kepada kami.”
“Kalian akan mengambil batu itu?” bertanya pemimpin padepokan itu.
Empu Sepada berpaling ke arah Ki Buyut Bapang sejenak. Namun kemudian katanya: “Ki Sanak. Maafkan kami. Tetapi hal ini terpaksa kami katakan karena kami memang tidak mempunyai jalan lain.”
“Tentang apa?” bertanya pemimpin padepokan itu.
“Kami memang menghendaki batu itu. Tetapi kami tidak ingin dengan tergesa-gesa membawanya pergi,” jawab Empu Sepada.
“Kalian titipkan kepada kami?” bertanya pemimpin padepokan itu.
“Juga tidak. Kami ingin batu itu beserta padepokan ini sekaligus. Kami ingin mempersilahkan kalian meninggalkan padepokan ini dan mencari tempat baru. Satu hukuman yang paling ringan yang dapat kami berikan kepada kalian, karena seharusnya kalian mendapat hukuman yang jauh lebih berat,” berkata Empu Sepada.
Pemimpin padepokan itu termangu-mangu. Sejenak ia berpaling kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ketika keduanya mengangguk kecil maka pemimpin padepokan itu pun berkata, “Ki Sanak. Kau tidak berhak menghukum kami. Seandainya kami berbuat salah dengan menyingkirkan batu itu, biarlah Akuwu Lemah Warah atau Sri Baginda di Kediri atau bahkan Sri Maharaja di Singasari menghukumku. Tetapi bukan kau.”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar