Rabu, 06 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 036-04

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 036-04*

Tetapi para prajurit Lemah Warah pun mempunyai perhitungan yang mapan. Demikian kabut itu terangkat dan lenyap bagaikan disapu angin, maka mereka pun menjadi yakin, bahwa mereka akan dapat memenangkan pertempuran itu.

Namun dalam pada itu, seorang yang berambut putih telah membuka pintu biliknya. Ketika ia keluar dari bilik itu dan turun ke ruang dalam, maka seorang yang lain telah mendekatinya sambil berjongkok, “Ampun Panembahan. Apakah yang akan Panembahan lakukan kemudian?”

“Aku akan turun ke medan,“ jawab orang berambut putih itu.

“Ampun Panembahan. Apakah Panembahan turun dengan hati yang gelap?“ bertanya orang itu.

“Apa maksudmu?“ bertanya orang berambut putih yang dipanggil Panembahan itu.

“Apakah Panembahan akan menghancurkan lawan Panembahan seperti menggilas sarang semut dengan segumpal batu hitam?“ bertanya orang itu.

“Aku telah dihinakan,“ jawab Panembahan itu, “ada orang yang berhasil mengangkat kabutku.”

“Bukan satu penghinaan Panembahan,“ jawab orang itu, “di medan pertempuran, seseorang akan berusaha untuk mengalahkan lawannya. Orang-orang itu sama sekali tidak ingin menghina Panembahan. Tetapi mereka berusaha menyelamatkan dirinya sendiri atau menyelamatkan kelompoknya.”

“Jadi bagaimana menurut pendapatmu?“ bertanya orang yang disebut Panembahan itu.

“Jangan pergi Panembahan. Jika Panembahan berada di medan, maka Panembahan akan dapat melakukan satu kerja yang sangat mengerikan. Panembahan dapat menyapu lawan itu dengan tanpa kekang sama sekali,“ minta orang itu.

“Aku tidak akan menghiraukan para prajurit Lemah Warah. Tetapi aku ingin bertemu dengan dua orang yang berilmu sangat tinggi,“ jawab orang itu.

Orang yang menunggui Panembahan yang sudah berambut putih itu menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan nada rendah ia berkata, “Panembahan memiliki sesuatu yang luar biasa. Jika Panembahan turun ke medan dan bertemu dengan prajurit Lemah Warah yang dengan serta merta menyerang, maka Panembahan tentu akan menghapus mereka dengan ilmu yang Panembahan miliki tanpa dapat dilawan sama sekali.”

“Kakek,“ berkata Panembahan itu, “kau adalah orang yang memiliki pandangan yang sangat sempit. Kau selalu menyangka bahwa aku adalah orang yang memiliki ilmu tertinggi di dunia. Tetapi kau salah. Ada orang-orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi kini berada di sini. Bahkan seandainya aku membunuh semua prajurit Lemah Warah itupun termasuk rangkuman peperangan seperti yang kau katakan, bahwa di medan pertempuran orang selalu berusaha untuk mengalahkan lawannya.”

Orang yang menunggui Panembahan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ampun Panembahan. Hamba selalu dibayangi oleh kecemasan, bahwa Panembahan akan menyapu orang-orang Lemah Warah itu tanpa ampun.”

“Dan kau melihat bahwa orang-orang padepokan inilah yang telah disapunya tanpa ampun,“ jawab Panembahan itu.

“Tetapi mereka berdiri di atas alas kemampuan yang setingkat Panembahan,“ jawab orang itu.

“Jika aku memiliki kelebihan, apakah itu salah? Aku melihat orang-orang berilmu dari Lemah Warah pun telah menyapu lawan-lawan mereka,“ jawab Panembahan.

“Tetapi Panembahan bukan mereka,“ orang itu telah bersujud di kaki orang yang disebutnya Panembahan.

“Aku mengerti kakek,“ jawab orang yang disebut Panembahan, “satu isyarat bagiku.”

Orang yang bersujud itu mengangkat wajahnya.

“Jika kau melihat saat kematian itu memang akan tiba, jangan halangi aku. Bukankah lebih baik aku mati di peperangan dari pada mati di dalam bilik ini?“ berkata orang yang disebut Panembahan itu.

“Tidak Panembahan,“ orang yang bersujud itu menjawab gagap, “tetapi setiap kematian akan menambah beban di hati Panembahan.”

Orang berambut putih yang disebut Panembahan itu berkata perlahan-lahan, “Biarkan aku keluar. Orang-orang padepokan ini semakin berkurang. Bukan hanya seorang demi seorang. Tetapi tusukan demi tusukan dari sepasukan prajurit telah membunuh semakin banyak.”

Orang yang bersujud itu tidak dapat lagi menahan Panembahan yang berambut putih itu. Selangkah demi selangkah ia bergeser, dan kemudian menuju ke pintu barak kecil itu.

Demikian pintu itu terbuka, maka dilihatnya lorong-lorong yang lengang. Yang nampak adalah barak-barak yang membeku di sekitar barak kecilnya. Namun dari tempatnya terdengar riuhnya pertempuran di padepokan itu.

Orang yang disebut Panembahan itupun melangkah keluar. Dengan tergesa-gesa orang yang menemuinya itu menyusulnya sambil menyerahkan sebilah pedang yang masih berada di dalam wrangkanya.

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Aku tidak memerlukannya. Aku akan mempergunakan bagian dari tubuhku.”

“Tetapi Panembahan,“ berkata orang itu, “pedang ini akan dapat membatasi kematian yang mungkin Panembahan timbulkan di peperangan. Tanpa pedang, Panembahan tidak akan mungkin dapat membatasi diri.”

Orang yang disebut Panembahan itu tidak menjawab lagi.

Orang yang membawa pedang itu masih berjalan di belakangnya. Namun matanya telah menyorotkan keputus-asaan yang mencengkam isi dadanya.

Sejenak kemudian, maka orang yang disebut Panembahan itu telah turun ke medan. Ketika ia muncul dari lorong di sela-sela barak, maka dilihatnya prajurit Lemah Warah sedang mendesak orang-orang padepokan itu.

Panembahan itu menjadi ragu-ragu. Tetapi ketika ia melihat seorang penghuni padepokan itu tertusuk pedang di dadanya, maka iapun menggeretakkan giginya. Tiba-tiba saja prajurit yang telah menusuk dengan pedang itupun bagaikan terlempar dan jatuh di tanah dengan tubuh yang bagaikan terbakar hangus.

“Panembahan,“ desis orang yang mengikutinya, “apa yang Panembahan lakukan?”

“Aku membunuh orang yang memang harus dibunuh,“ jawab Panembahan itu, “ia telah menusuk lawannya dengan pedang dan mati seketika.”

“Panembahan harus membunuhnya dengan cara yang sama,“ berkata orang itu, “inilah pedang Panembahan.”

Tetapi Panembahan itu menggeleng.

Untuk beberapa saat orang yang disebut Panembahan itu berdiri di tempatnya. Ia telah membunuh dengan pancaran api dari matanya jika ia melihat seorang prajurit Lemah Warah yang membunuh seorang penghuni padepokan itu dari golongan yang manapun juga.

Orang yang mengikutinya dengan membawa pedang itu menjadi semakin tegang. Namun ia sudah tidak dapat mencegah lagi. Panembahan itupun telah membunuh prajurit Lemah Warah seorang demi seorang.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja terdengar suara, “Inikah agaknya orang yang tersembunyi itu?”

Suara itu tidak mengejutkan Panembahan yang berambut putih itu. Tanpa berpaling ia menjawab, “Siapakah yang kau cari? Aku?”

“Apakah kau orang yang telah bertempur dengan caramu yang licik itu? Menebarkan kabut tanpa hadir di medan?“ terdengar suara itu bertanya.

“Ya,“ jawab Panembahan itu.

“Tetapi itu bukan sikap yang licik,“ jawab orang yang membawa pedang itu, “dengan demikian Panembahan telah menghentikan pertempuran tanpa menebarkan kematian.”

Orang yang menyapa Panembahan itupun kemudian menjadi ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “Dengan siapakah sebenarnya aku berhadapan?”

Panembahan itu baru memutar diri menghadap kepada orang yang menyapanya. Dua orang yang sudah cukup masak menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga gawatnya.

Orang yang disebut Panembahan itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Jadi kalian berdualah yang telah berhasil melawan ilmuku?”

“Maksudmu, kabut yang menyelimuti padepokan ini?“ bertanya orang yang datang berdua itu.

“Ya Pangeran,“ jawab orang itu.

“Darimana kau tahu tentang aku?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Aku menerima laporan bahwa Pangeran Singa Narpada ada di daerah ini,“ jawab Panembahan itu, “karena itu, maka dengan serta merta aku menebak, bahwa di antara kalian berdua tentu terdapat Pangeran Singa Narpada.”

“Baiklah,“ jawab Pangeran Singa Narpada, “aku tidak akan ingkar. Akulah Singa Narpada dan kawanku ini adalah Mahendra.”

“Terima kasih Pangeran,“ jawab orang yang disebut Panembahan itu, “jika Pangeran ingin mengenalku, maka aku mempunyai seribu macam sebutan. Ada yang memanggilku Panembahan, ada yang memanggilku guru dan ada yang memanggilku Ki Lurah. Bahkan ada yang menyebutku Ki Ajar.”

“Kau sendiri mengenali dirimu sebagai siapa?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Itu justru tidak penting,“ jawab Panembahan itu, “bagi orang lain, aku adalah sebagaimana mereka menyebutnya. Sedangkan aku tidak mempunyai persoalan dengan diriku sendiri.”

“Kau tidak jujur,“ jawab Pangeran Singa Narpada, “justru kau merasa ketakutan melihat pada dirimu sendiri yang sebenarnya, sehingga kau lebih senang menjadi seseorang bagi orang lain, tetapi tidak dikenal oleh dirinya sendiri. Ki Sanak, kau tidak akan dapat melarikan diri dari pengenalanmu atas dirimu. Atau barangkali pernah terjadi satu peristiwa pada dirimu yang ingin kau lupakan?”

“Sudahlah Pangeran,“ berkata orang itu, “jangan mempersoalkan diriku saja. Sekarang kita berada di medan. Apakah kita akan bertempur?”

“Kami datang untuk menghancurkan padepokan ini,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

“Pangeran,“ berkata orang berpedang itu, “kenapa Pangeran mempergunakan cara ini untuk menghentikan satu kegiatan yang dilakukan oleh padepokan ini? Apakah tidak ada cara yang lebih baik tanpa saling membunuh?”

“Akuwu Tatas Lintang sudah menawarkan penyelesaian cara itu,“ jawab Pangeran Singa Narpada.

“Akuwu hanya menawarkan penyerahan,“ jawab orang itu.

“Itu adalah satu-satunya kemungkinan yang dapat dilakukannya,“ jawab Pangeran Singa Narpada, “seharusnya isi padepokan ini harus menyerah, karena Akuwu adalah penguasa tunggal di daerah ini. Baru kemudian Akuwu akan menentukan langkah-langkah berikutnya.”

“Itu tidak adil,“ jawab orang yang membawa pedang itu.

“Sudahlah,“ berkata orang yang disebut Panembahan, “sekarang apa yang kalian kehendaki?”

“Ki Sanak,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “aku menghendaki seisi padepokan ini menyerah. Kami akan memilih di antara kalian, siapakah yang bersalah dan siapakah yang tidak. Siapakah di antara kalian termasuk perguruan orang-orang bertongkat dan siapa yang tidak.”

Orang yang disebut Panembahan itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Caramu tidak menarik. Karena itu, biarlah aku menentang. Aku tidak mau menyerah.”

“Jika demikian, maka kita akan bertempur,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

“Baiklah Pangeran,“ jawab orang itu, “tetapi jika aku membunuh, bukan salahku. Apalagi yang aku bunuh adalah orang yang memiliki landasan ilmu yang tinggi, sehingga tidak ada orang yang dapat menuduhku bertindak sewenang-wenang.”

“Ya. Tindak sewenang-wenang sebagaimana yang baru saja kau lakukan. Membunuh prajurit yang tidak berdaya menghadapi ilmumu yang nggegirisi itu, yang tidak terlawan oleh seorang yang berilmu tinggi sekalipun.”

“Aku terpaksa membunuh mereka yang telah membunuh lebih dahulu di hadapan mataku,“ berkata Panembahan itu. Lalu, “Tetapi sekarang aku akan membunuh orang yang memang pantas aku bunuh.”

“Apakah yang sebenarnya terjadi antara Panembahan dan Pangeran Singa Narpada? Apakah persoalannya sehingga kalian harus saling membunuh?“ bertanya orang yang membawa pedang itu, “apakah tidak dapat dibicarakan dengan baik dan wajar?”

“Mereka telah menginjak harga diriku, harga diri padepokan ini dan harga diri seisi Tanah Kediri,“ berkata Panembahan itu.

“Panembahan berpegangan teguh pada sikap itu?“ bertanya orang yang membawa pedang itu.

“Ya,“ jawab orang yang disebut Panembahan.

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengerti sekarang. Setiap kali aku berhadapan dengan mereka yang tersinggung karena Kediri berada dalam satu keluarga dengan Singasari.”

“Singasari sekarang sudah tidak berdaya sepeninggal Sri Rajasa,“ berkata Panembahan itu, “dan ternyata yang menjadi tumpuan harapan di Kediri justru masih tertidur nyenyak tanpa bangkit kembali untuk mengetrapkan harga diri seorang kesatria sejati.”

“Kau tahu jawabnya,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “apakah aku harus menjelaskan?”

Orang yang disebut Panembahan itu mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia berkata, “Pangeran. Bagaimana mungkin aku tahu jawabnya. Aku menyaksikan dengan kecewa. Aku menunggu hingga kesabaranku tidak tersisa lagi. Dan Pangeran mengatakan bahwa aku tahu jawabnya.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Semua orang yang menentang kebijaksanaan Sri Baginda berdiri pada alasan yang sama seperti Ki Sanak katakan. Aku yakin, bahwa Ki Sanak tahu jawaban dari persoalan yang Ki Sanak kemukakan. Soalnya Ki Sanak setuju atau tidak setuju?”

Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika demikian maka persoalan di antara kita sudah jelas. Sementara itu, para prajurit Lemah Warah masih saja membunuhi orang-orang padepokan ini. Karena itu, maka sebaiknya kita pun segera menyelesaikan persoalan kita dan kemudian segalanya akan menjadi jelas. Apakah isi padepokan ini yang akan hancur di sini, atau para prajurit Lemah Warah yang akan tumpas di padepokan ini.”

Pangeran Singa Narpada pun segera mempersiapkan diri. Sedangkan Mahendra pun telah mengambil tempat pula. Ia sadar bahwa orang yang disebut Panembahan itu mampu menyerang dengan sorot matanya dan membakar lawannya. Ilmu yang juga dimiliki oleh Pangeran Singa Narpada dengan cara yang sedikit berbeda. Sedangkan Mahendra menebarkan ilmunya dengan cara yang lain lagi.

Sementara itu, maka orang yang membawa pedang itupun sekali lagi mencoba memberikan pedangnya kepada orang yang disebutnya Panembahan. “Panembahan. Inilah pedang Panembahan.”

“Terima kasih,“ jawab Panembahan itu, “untuk melawan kedua orang ini aku justru tidak memerlukan pedang itu.”

“Panembahan harus membatasi diri dengan pedang ini agar Panembahan tidak kehilangan kendali,“ minta orang itu.

Orang yang disebut Panembahan itu termangu-mangu. Namun iapun kemudian menerima pedang itu dan menariknya dari wrangkanya. Namun kemudian dengan sorot matanya, maka orang yang disebut Panembahan itu telah menghancurkan pedangnya sendiri. Dengan tatapan matanya yang memancarkan ilmunya, maka Panembahan itu telah meluluhkan daun pedangnya yang terbuat dari besi baja pilihan itu.

“Panembahan,“ orang yang menyerahkan pedang itu menjerit dan kemudian jatuh berlutut di hadapan orang yang disebut Panembahan itu.

“Panembahan telah menghancurkan kendali yang selama ini mampu menahan gejolak api di dalam diri Panembahan Tanpa pedang itu, maka Panembahan adalah orang yang paling berbahaya di muka bumi. Panembahan akan selalu mempergunakan ilmu Panembahan yang tidak terlawan itu. Apalagi di dalam perang brubuh. Maka yang akan Panembahan lakukan akan lebih kejam daripada membakar sarang semut,“ berkata orang yang membawa pedang itu.

“Minggirlah,“ berkata orang yang disebut Panembahan itu, “segalanya akan berakhir. Dan kau tidak akan selalu cemas lagi, bahwa aku akan menghancurkan sasaran kemarahanku tanpa pertimbangan perasaan.”

“Apa maksud Panembahan?“ bertanya orang itu.

“Menyingkirlah,“ berkata orang yang disebut Panembahan itu, “aku akan menghadapi dua orang yang memiliki ilmu yang tidak ada duanya di Kediri. Karena itu, maka jangan ganggu aku.”

Orang itu memandangi wajah Panembahan dengan tatapan mata yang buram. Namun kemudian katanya, “Panembahan. Panembahan dapat berbuat apa saja.”

“Tidak di hadapan kedua orang ini,“ sahut Panembahan itu, “karena itu minggirlah.”

Orang itu tidak dapat berbuat lain. Dengan ragu-ragu ia-pun kemudian bergeser mundur.

“Kita akan berhadapan Pangeran,“ berkata orang itu, “aku tahu Pangeran memiliki ilmu yang tinggi. Namun kita akan menguji, siapakah di antara kita yang akan memenangkan pertempuran ini. Aku sama sekali tidak menuntut perang tanding di dalam medan pertempuran. Karena itu, maka aku siap menghadapi kalian berdua.”

Mahendra memang telah mengambil jarak dari Pangeran Singa Narpada. Keduanya telah siap menghadapi kemampuan ilmu yang sangat tinggi dari orang yang disebut Panembahan itu.

Sementara itu pertempuran masih saja berlangsung di seluruh padepokan, terutama di kebun-kebun, di halaman samping dan di tempat-tempat yang lapang. Kaki-kaki para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu sendiri telah menginjak-injak tanaman yang tumbuh di kebun padepokan itu, yang biasanya dipelihara dengan tekun agar pada saatnya dapat menghasilkannya buah yang baik. Tetapi pada saat perang terjadi di padepokan itu, maka tanaman-tanaman itupun telah hancur terinjak-injak kaki.

Namun keseimbangan pertempuran masih belum berubah. Pasukan Lemah Warah masih tetap berhasil mendesak isi padepokan itu di mana-mana. Meskipun orang-orang berilmu tinggi dari padepokan itu telah berjuang dengan sekuat tenaga. Namun mereka masih dibatasi kemampuannya oleh orang-orang yang berilmu tinggi dari Lemah Warah.

Sementara itu, orang yang disebut Panembahan itupun ternyata tidak lagi mampu melindungi padepokan itu dengan kabutnya. Dua orang dari Kediri dan Singasari berhasil membatasi kemampuannya, sehingga kabut yang dibangunnya telah terangkat dan tidak berhasil menghentikan pertempuran sebagaimana pernah terjadi sebelumnya. Bahkan orang yang disebut Panembahan itu, telah berhadapan langsung dengan dua orang yang juga berilmu tinggi, yang telah mampu mengangkat kabut tebalnya.

Untuk beberapa saat orang yang disebut Panembahan itu berdiri tegak menghadapi dua lawannya yang berdiri pada jarak yang semakin panjang. Mahendra sadar, bahwa mereka harus mampu membelah perhatian orang yang disebutnya Panembahan itu.

Untuk beberapa saat, kedua belah pihak masih belum mulai berbuat sesuatu. Namun kedua belah pihak telah bersiap dalam kesiagaan tertinggi.

Ketika terdengar sorak gemuruh di medan pertempuran, maka orang yang disebut Panembahan itupun menggeram. Kemudian katanya, “Aku tidak dapat membiarkan orang-orang Lemah Warah membantai orang-orangku. Karena itu, maaf jika kalian cepat-cepat aku selesaikan.”

Pangeran Singa Narpada dan Mahendra tidak menjawab. Tetapi keduanya benar-benar telah bersiap.

Sebenarnyalah orang yang disebut Panembahan itu tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja ia berpaling ke arah Mahendra yang dianggapnya lebih mudah dihancurkan karena ia tidak menunjukkan sikap apapun sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Singa Narpada. Baru kemudian Panembahan itu akan menghadapi Pangeran Singa Narpada sepenuhnya, seorang lawan seorang.

Tetapi Mahendra cukup tanggap. Di luar dugaan orang yang disebut Panembahan itu, maka ketika cahaya yang memancarkan ilmunya meluncur dari matanya, Mahendra dengan cepat dan tangkas telah meloncat ke samping, sehingga serangan itu telah menghantam tiang barak di belakangnya.

Terdengar suara gemeretak. Tiang itu telah patah berderak dan bahkan nampak menjadi hangus bagaikan terbakar.

Orang yang disebut Panembahan itu terkejut melihat cara Mahendra menghindar. Ternyata orang itu memiliki kemampuan jauh lebih tinggi dari yang disangkanya, sehingga ia tidak dapat dengan serta merta menghancurkannya dengan ilmunya yang memancar lewat pandangan matanya.

Tetapi orang itu tidak mau melepaskan Mahendra. Ia akan menyerangnya dengan serangan berikutnya.

Namun orang yang disebut Panembahan itu justru telah terkejut pula. Ia melihat gerak Pangeran Singa Narpada. Ketika tangannya terjulur ke depan dengan telapak tangannya menghadap ke arahnya, maka Panembahan itupun menyadari, bahwa Pangeran itu mampu juga melontarkan serangan sebagaimana dilakukan, lewat telapak tangannya.

Karena itu, maka dengan cepat pula Panembahan itu harus meloncat menghindar. Serangan Pangeran Singa Narpada ternyata meluncur menyambarnya. Namun ketika Panembahan itu menghindar dan tidak mengenai sasarannya, maka serangan itu telah terbang dan menghantam sebatang pohon yang tumbuh di sela-sela barak. Terdengar suara gemeretak ranting berpatahan dan daun pun menjadi hangus pula.

“Bukan main,“ geram orang yang disebut Panembahan itu, “inilah agaknya tingkat kemampuan Pangeran Singa Narpada. Agaknya kawannya itupun memiliki kemampuan serupa.”

Pangeran Singa Narpada tidak menjawab. Tetapi ia berdiri tegak dengan kaki renggang, sementara Mahendra pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“Ki Sanak,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “kami bersiap melakukan sebagaimana kau lakukan. Cara apapun yang kau kehendaki, maka aku tidak pernah merasa gentar. Adalah tugasku untuk mengatasi segala kemelut di Kediri, termasuk kemelut yang disebabkan oleh orang-orang padepokan ini.”

“Bagus Pangeran,“ berkata orang yang disebut Panembahan itu, “ternyata pertempuran pada jarak panjang tidak akan segera mengakhiri pertempuran. Kita akan saling menyerang dan menghindar. Bahkan barak-barak itulah yang mungkin akan terbakar dan pepohonan akan menjadi kering.”

“Lalu apa maksud Ki Sanak?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Kita bertempur dengan kemampuan ilmu pada wadag kita,“ jawab orang yang disebut Panembahan itu.

“Bagus,“ berkata Pangeran Singa Narpada. “Apakah kau akan memilih aku atau saudaraku ini untuk melawanmu?”

“Sudah aku katakan,“ jawab orang itu, “kalian harus bertempur berdua agar pekerjaanku cepat selesai.”

“Baiklah,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “aku tidak merasa tersinggung karenanya, karena aku juga berharap bahwa pertempuran ini cepat selesai sebelum semua isi padepokan ini terbunuh.”

“Jangan terlalu sombong Pangeran,“ berkata orang itu, “jika Pangeran mampu melepaskan serangan sebagaimana aku lakukan dengan cara yang berbeda, bukan berarti bahwa kemampuan Pangeran dapat mengimbangi kemampuanku. Bahkan kalian berdua.”

“Marilah kita lihat,“ berkata Pangeran Singa Narpada yang kemudian berpaling ke arah Mahendra, “kita akan bertempur dengan mempergunakan wadag kita.”

Mahendra tidak menjawab. Namun iapun sadar, bahwa orang yang disebut Panembahan itu tentu mempunyai alas kekuatan ilmu yang luar biasa.

Namun Mahendra pun bukan kanak-kanak lagi di dalam dunia olah kanuragan. Ia memiliki alas ilmu yang sulit dicari bandingnya, bukan saja mampu ditebarkan dalam bentuknya yang keras dan yang lunak, namun ilmunya mampu juga dibenturkannya langsung ke sasaran.

Demikianlah, maka Pangeran Singa Narpada dan Mahendra telah menerima tantangan orang yang disebut Panembahan itu. Merekapun segera bersiap dan memasuki pertempuran yang mempergunakan alas wadag mereka yang dilambari dengan ilmu yang sangat tinggi.

Panembahan itu sama sekali memang tidak memerlukan sebilah pedang untuk menghadapi Pangeran Singa Narpada dan Mahendra berbareng. Ia yakin bahwa wadagnya yang telah ditempa dan menjalani laku yang berat akan dapat mengatasi kemampuan kedua orang lawannya.

Beberapa saat kemudian, maka Mahendra dan Pangeran Singa Narpada pun telah bergeser mendekati lawannya. Namun bagaimanapun juga keduanya harus berhati-hati, jika orang yang disebut Panembahan itu menjadi curang.

Tetapi Panembahan itu benar-benar ingin bertempur dengan mempergunakan wadagnya dalam lambaran ilmunya. Karena itu, maka ia memang tidak melepaskan serangan dengan kemampuan tatapan matanya. Karena ia menganggap bahwa bertempur dalam jarak jauh tidak akan segera dapat menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah, karena lawan-lawannya pun memiliki kemampuan serupa meskipun dengan cara yang berbeda.

Beberapa saat kedua belah pihak mempersiapkan diri. Mereka bergeser semakin lama menjadi semakin dekat.

“Bagus,“ berkata Panembahan itu, “ternyata kalian benar-benar kesatria Kediri yang tangguh tanggon, meskipun kalian berdiri di sisi yang lemah.”

“Maaf Ki Sanak,“ sahut Pangeran Singa Narpada, “sisi yang kau maksudkan adalah sisi sebagaimana kau bayangkan. Kau melihat kebenaran dari sudut hatimu yang buram. Karena itu maka sikap yang lahir dari ungkapan penglihatanmu itupun menjadi buram.”

Orang yang disebut Panembahan itu tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang. Ayunan tangannya bagaikan ayunan bandul timah yang berat dan didorong oleh tenaga yang tidak terkira besarnya, langsung mengarah ke dada Pangeran Singa Narpada.

Namun Pangeran Singa Narpada yang telah bersiap sepenuhnya itu tidak membiarkan dadanya dihancurkan oleh serangan orang yang disebut Panembahan itu. Karena itu. maka iapun telah bergeser selangkah menghindarinya.

Ternyata Pangeran Singa Narpada mampu bergerak secepat ayunan tangan orang yang disebut Panembahan itu, sehingga karena itu, maka serangan itu tidak mengenainya.

Namun orang yang disebut Panembahan itu telah meloncat memburunya. Sebelah kakinya melangkah jauh ke depan sementara tangannya terjulur lurus dan sekali lagi mengarah dada.

Pangeran Singa Narpada melihat pula gerak orang yang disebut Panembahan itu. Karena itu, maka iapun telah meloncat ke samping, demikian cepatnya, sehingga tangan lawannya itu tidak mengenainya.

Tetapi ternyata bahwa tangan Panembahan itu telah menghantam dinding barak di belakang Pangeran Singa Narpada yang bergeser. Suaranya berderak dan dinding bambu itupun telah koyak dan roboh pula ke bagian dalam. Beberapa buah tiang bambu telah ikut roboh pula menimpa perabot yang ada di dalam barak.

Pangeran Singa Narpada menjadi berdebar-debar. Ternyata kekuatan tangannya tidak ubahnya sebagaimana sorot matanya yang nggegirisi. Karena itu, maka ia harus sangat berhati-hati menghadapinya.

Sementara itu Mahendra masih belum berbuat sesuatu. Namun dengan demikian ia telah melihat sebagian dari kemampuan orang yang disebut Panembahan itu pada tumpuan wadagnya.

Karena itu, maka Mahendra harus benar-benar mempersiapkan diri menghadapinya.

Namun Mahendra memang merasa canggung bahwa ia harus bertempur berpasangan dengan Pangeran Singa Narpada. Ia tidak terbiasa melakukannya. Namun karena orang yang disebut Panembahan itu menghendakinya dan nampaknya pertempuran di padepokan itupun telah berlangsung dalam perang brubuh, maka tidak ada salahnya jika ia membantu Pangeran Singa Narpada. Tentu saja dengan satu usaha untuk menangkap orang yang disebut Panembahan itu hidup-hidup. Meskipun Mahendra sadar, bahwa kemungkinan yang lebih buruk akan dapat saja terjadi karena seorang yang memiliki kemampuan ilmu sebagaimana orang yang disebut Panembahan itu tentu tidak akan membiarkan dirinya tertangkap hidup.

Dalam pada itu, selagi Mahendra merenung, tiba-tiba saja ia melihat Pangeran Singa Narpada mulai menyerang, dengan sigap Pangeran Singa Narpada bergeser selangkah. Namun kemudian dengan berputar pada sebelah kakinya, maka kakinya yang lain telah terayun mendatar. Cepat dan keras sekali, mengarah ke lambung orang yang disebut Panembahan itu.

Orang itupun dengan tangkas pula mengelak. Bahkan demikian mengejutkan, tiba-tiba saja orang yang disebut Panembahan itu tidak saja mengelak, tetapi ia telah menyerang pula Mahendra. Kakinya telah terangkat menyamping. Serangan kaki datar meluncur dengan derasnya.

Tetapi Mahendra pun cukup cepat menanggapi keadaan, iapun sudah siap menghadapi keadaan yang demikian. Karena itu, maka iapun telah meloncat ke samping, sehingga serangan lawannya itu meluncur tanpa menyentuhnya. Bahkan demikian kaki lawannya terjulur di sebelahnya. Mahendra telah merendahkan dirinya dan dengan sapuan yang cepat berusaha menjatuhkan lawannya dengan menyerang kaki lawannya yang sebelah.

Tetapi ternyata orang yang disebut Panembahan itu cukup tangkas, sapuan kaki Mahendra tidak mengenai sasarannya, karena sambil menggeliat, maka orang yang disebut Panembahan itu telah meloncat pula, justru dengan langkah panjang, karena ia harus juga memperhatikan Pangeran Singa Narpada.

Namun agaknya Pangeran Singa Narpada merasa segan pula sebagaimana Mahendra. Ia sama sekali tidak mengganggu ketika orang yang disebut Panembahan itu tengah bertempur melawan Mahendra.

Sejenak kemudian orang yang disebut Panembahan itu telah berdiri tegak beberapa langkah dari Mahendra dan Pangeran Singa Narpada, sementara kedua orang lawannya itupun berdiri saja termangu-mangu.

Untuk beberapa saat mereka saling memandang. Namun orang yang disebut Panembahan itupun menyadari, bahwa kedua lawannya agaknya masih merasa segan untuk bertempur berpasangan melawannya. Sehingga karena itu agaknya keduanya telah saling menunggu dan membiarkan masing-masing bertempur sendiri.

Dalam pada itu Pangeran Singa Narpada menyadari, bahwa agaknya ia telah berhadapan dengan orang yang memegang kemudi dari seluruh gerakan dari isi padepokan itu dari manapun mereka berasal. Apakah mereka orang-orang yang sejak semula penghuni padepokan ini, yang disebut orang-orang dari perguruan Suriantal dan mempunyai ciri senjata yang khusus, sebuah tongkat, atau orang-orang dari perguruan lain yang berdatangan kemudian.

Karena itu, maka bagi Pangeran Singa Narpada orang itu tentu sangat berharga. Namun Pangeran Singa Narpada pun menyadari bahwa orang itu berilmu sangat tinggi, sehingga mungkin justru bukan orang itulah yang ditangkapnya hidup-hidup, tetapi justru Pangeran Singa Narpada sendiri.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...