*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 038-03*
Tetapi pemimpin padepokan itu menggeram, “Jangan menganggap kami anak-anak yang mudah sekali menjadi ketakutan. Kami sudah menentukan sikap. Sudahlah, jangan banyak bicara. Kau harus mati.”
“Tunggu,” berkata Palot, “masih ada pesan yang harus aku sampaikan.”
“Persetan,” geram para pemimpin yang ada di tempat itu.
“Dengarlah dahulu,” berkata Palot, “pesannya mengandung persahabatan.”
Orang-orang yang ada di ruang itu menjadi tegang. Saudara seperguruan pemimpin padepokan itu menjadi tidak sabar. Dengan nada tinggi ia berkata, “Tidak ada waktu lagi. Matilah dengan cara yang paling baik yang kau kehendaki.”
Tetapi orang yang disebut Palot itu berkata, “Tunggu. Dengarlah. Akuwu Lemah Warah menawarkan kesempatan kepada kalian untuk menyerah. Jika kalian bersedia menyerah, maka akan diadakan pembicaraan dengan para pemimpin di Kediri agar kalian mendapat pengampunan.”
“Gila,” teriak pemimpin padepokan itu. “kau kira kami sudah menjadi gila.”
“Bukan. Justru karena Akuwu Lemah Warah menganggap kalian masih tetap waras. Pertimbangkan. Kalian tidak lagi mempunyai kesempatan. Padepokan inipun akan dapat dihancurkan. Kalian tidak akan dapat melarikan diri untuk kedua kalinya,” berkata Ki Permita yang disebut Palot itu.
“Setan,” teriak kakak seperguruan pemimpin padepokan itu. “aku yang tidak terlibat dalam pertempuran itupun hatiku menjadi panas. Apalagi mengingat janji Panembahan yang tidak terpenuhi dengan alasan apapun juga. Ternyata bahwa ilmunya tidak mampu melindungi padepokan itu sebagaimana dijanjikannya. Karena itu, maka kau harus mati. Sebut, cara yang paling terhormat yang kau kehendaki.”
“Ki Sanak,” berkata Palot, “tenanglah sedikit. Renungkan tawaran itu. Jika kau sudah membuat pertimbangan-pertimbangan dengan nalar yang bening, barulah mengambil keputusan. Sekarang kalian belum sempat membuat pertimbangan itu, sehingga kalian dengan serta merta telah menolak tawaran yang bersahabat itu.”
“Tutup mulutmu,” teriak kakak seperguruan pemimpin padepokan itu. “sebut cara yang paling terhormat untuk mati yang kau inginkan.”
Ki Permita termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Apakah benar-benar tidak ada jalan lain?”
“Tidak,” jawab kakak seperguruan pemimpin padepokan itu.
Palot menarik nafas dalam-dalam. Namun sementara itu pemimpin padepokan itu pun berkata, “Biarlah anak-anak membunuhnya. Mengikatnya pada tonggak kayu di halaman padepokan. Biarlah ia menyebut cara yang paling baik yang dikehendakinya.”
“Tidak,” jawab kakak seperguruan pemimpin padepokan itu, “aku akan menyelesaikannya. Bukan orng lain. Biarlah sekali-sekali aku membunuh kelinci yang deksura, yang sombong dan tidak tahu diri.”
“Jangan kotori tanganmu dengan darah hamba yang setia dan dungu itu,” berkata pemimpin padepokan itu.
“Mulutnya membuat darahku mendidih,” berkata kakak seperguruannya itu. “karena itu biarlah aku melakukannya untuk mendapat kepuasan tersendiri. Di pertempuran membunuh merupakan kebanggaan. Tetapi sikap orang itu mendorong keinginanku untuk membunuhnya untuk mendapatkan kepuasan.”
Yang tidak disangka ternyata telah terjadi. Tiba-tiba saja orang yang disebut Palot itu tertawa. Bahkan kemudian dengan nada datar ia berkata, “Baiklah. Jika aku diberi kesempatan memilih jalan kematian, aku memilih perang tanding.”
Ruang itu telah dicengkam oleh ketegangan. Suara tertawa Palot itu benar-benar telah mengguncang setiap jantung. Mereka seakan-akan tidak percaya kepada penglihatan dan pendengaran mereka masing-masing.
“He, kenapa kalian menjadi bingung. Marilah, siapa yang akan membunuh aku dengan cara yang aku pilih?” berkata Palot kemudian.
Kakak seperguruan pemimpin padepokan itu mengumpat. Dengan lantang iapun kemudian berkata, “Aku akan membunuhnya. Aku tahu satu cara untuk menggertak. Tetapi tidak ada gunanya. Aku akan tetap membunuhnya seperti membunuh seekor kelinci.”
“Marilah,” berkata Palot, “kita akan mencoba.”
“Siapkan arena di halaman. Bukan arena perang tanding. Tetapi aku akan membantainya, agar ternyata bahwa aku adalah orang yang melakukan apa yang aku katakan. Aku akan membunuhnya sepengetahuannya, agar ia dapat merasa bagaimana jalan kematiannya itu.”
Tetapi Palot itu masih tertawa. Katanya, “Seperti yang selalu aku dengar. Mengancam, menakut-nakuti dan segala macam ceritera yang mengerikan. Tetapi aku sudah terbiasa mendengarnya, dan karena itu aku sama sekali tidak gentar.”
“Setan,” kakak seperguruan pemimpin padepokan itu hampir saja menerkamnya. Namun ia sudah memerintahkan untuk menyiapkan arena, karena itu maka ia pun segera berjalan meninggalkan ruangan itu ke halaman sambil berkata, “Jika kau benar-benar jantan, aku tunggu kau di luar. Aku akan menyayat tubuhmu dan menghancurkan kepalamu sampai lumat.”
“Tidak usah banyak berbicara,” jawab Palot, “aku akan memasuki arena sebagai seorang hamba yang setia. Sekarang aku adalah abdi Sang Akuwu Lemah Warah yang mengemban tugas untuk memaksa para pemimpin padepokan ini menyerah atau membunuh mereka. Sebagai hamba yang setia, maka aku harus melakukannya.”
Darah kakak seperguruan pemimpin padepokan itu bagaikan mendidih karenanya. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa iapun telah turun ke halaman dan memasuki arena sambil berteriak, “Marilah. Semua orang di sekitar arena ini akan menjadi saksi.”
Ki Permita yang disebut Palot itu pun telah melangkah keluar ruangan itu menuju ke halaman. Namun beberapa orang pengawal mengamatinya agar orang itu tidak melarikan diri.
Tanpa ragu-ragu Palot pun kemudian turun pula ke halaman. Dipandanginya orang-orang yang ada di sekelilingnya. Dengan suara mantap ia berkata, “Nah, kalian memang akan menjadi saksi kematian salah seorang pemimpin kalian dalam perang tanding ini. Jangan tangisi kepergiannya karena kesombongannya.”
Beberapa orang yang ada di sekitar arena itu menjadi heran melihat sikap orang yang disebut Palot itu. Seorang yang berjambang lebat berkata, “Apa orang itu telah menjadi gila karena ketakutan?”
Namun dalam pada itu, seorang yang termasuk orang berilmu di antara pengikut kakak seperguruan pemimpin padepokan itu berkata, “Ada dua kemungkinan. Ia menjadi gila, atau orang itu memang memiliki ilmu.”
Tetapi orang berjambang itu menyahut, “Orang itu tidak lebih dari seorang hamba yang setia dan patuh. Ia tidak pernah berbuat sesuatu selain atas nama tuannya yang ternyata tidak mampu melawan orang-orng Kediri itu.”
“Kita akan melihat apa yang terjadi,” berkata lawannya berbicara itu.
Arena itu pun kemudian menjadi tegang. Kakak seperguruan pemimpin padepokan itu pun kemudian berkata lantang, “Lihatlah. Bagaimana aku membungkam mulut orang gila itu. Ketakutan itu telah sampai ke puncak sehingga ia telah kehilangan akalnya.”
Orang berjambang itu telah menggamit kawannya berbicara sambil berdesis, “Nah, bukankah dugaanku benar.”
Yang digamit menjawab, “Bukan benar. Tetapi dugaanmu sama dengan dugaan pemimpin kita itu.”
Orang berjambang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab, “Ya. Memang sama.”
Namun perhatian rnereka pun kemudian telah tertuju ke arena itu sepenuhnya. Kedua orang yang berada di arena itu sudah siap. Sementara itu, para pemimpin padepokan itu yang berilmu tinggi menjadi berdebar-debar, karena mereka melihat orang yang disebut bernama Palot itu pun telah menunjukkan sikap yang meyakinkan.
“Palot,” berkata kakak seperguruan pemimpin padepokan itu. “kau masih mempunyai kesempatan untuk menyebut nama ayah ibumu sebelum kau mati. Atau mungkin kau mempunyai pesan terakhir yang perlu kau katakan?”
“Memang mungkin ada yang ingin aku katakan,” berkata orang yang disebut Palot itu.
“Apa?” bertanya lawannya.
“Sebuah pertanyaan,” jawab Palot.
“Sebut,” lawannya menjadi geram.
“Di mana kau ingin dikubur setelah kau mati dalam perang tanding ini?” bertanya Palot.
“Gila,” orang itu berteriak sambil meloncat menyerang. Ia tidak lagi mampu menahan hatinya karena kesombongan sikap lawannya.
Tetapi Palot telah bersiap menghadapi kemungkinan itu. Karena itu, maka ia pun dengan tangkasnya telah meloncat menghindari serangan itu.
Sambil tertawa ia berkata, “Inikah kemampuan seorang pemimpin tertinggi yang di padepokan ini?”
Orang itu mengumpat. Namun ia berkata, “Apakah kau menganggap bahwa yang aku lakukan adalah puncak dari kemampuanku.”
“Tidak. Tentu tidak,” jawab Palot, “baru pada tataran pertama. Aku masih menunggu tingkat-tingkat berikutnya. Baru jika kau sudah sampai ke puncak maka aku akan membalas.”
Sangat menyakitkan hati. Tetapi justru karena itu, maka lawannya itu pun berusaha menahan diri sambil berkata, “Jangan kau kira aku tidak mengetahui caramu yang licik itu. Kau sengaja membuat aku marah. Dengan demikian maka sebagian kemenangan telah tergenggam di tanganmu.”
“Jadi kau tidak marah?” bertanya Palot.
“Aku memang marah. Tetapi bukan marahnya anak-anak,” jawab kakak seperguruan pemimpin padepokan itu.
Palot mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Nah. Jika demikian maka barulah aku mendapat lawan yang sebenarnya.”
“Kau terlalau sombong. Tetapi aku tahu. Kau ingin menolong dirimu sendiri dengan sikapmu. Jika kau berhasil membuat aku marah dan tidak terkendali, maka kau mengharap untuk dapat berbuat licik,” berkata lawannya.
Tiba-tiba saja Palot tertawa. Katanya, “Kau menyadari keadaan. Jika demikian tidak ada gunanya aku membuat marah. Sekarang aku harus menghadapimu dalam arena, benar-benar bertempur beradu ilmu.”
Lawannya termangu-mangu sejenak. Tetapi ia melihat sikap yang mantap pada Palot. Sangat berbeda dengan sikap seorang hamba yang setia, patuh dan dungu.
Karena itu, maka lawannya itu pun menjadi semakin berhati-hati. Agaknya Palot memang bukan sekedar dapat membuatnya marah. Tetapi ia benar-benar memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri. Yang perlu dijajaginya, seberapa tingkat kemampuan itu.
Sejenak kemudian, maka kakak seperguruan pemimpin padepokan itu mulai menyerang. Meskipun ia menjadi lebih berhati-hati, namun ia tetap merasa sebagai orang yang memiliki ilmu tertinggi. Pemimpin padepokan itu adalah adik seperguruannya yang ilmunya lebih muda daripadanya.
Tetapi orang itu ingin membunuh lawannya dengan tangannya. Tidak dengan meminjam tangan atau mulut binatang buas yang manapun juga, yang dapat dipengaruhinya dengan ilmu gendam.
Demikianlah, maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin meningkat. Kakak seperguruan pemimpin padepokan itu mulai menjadi heran bahwa lawannya, hamba yang setia dan dungu itu masih juga mampu mengimbangi ilmunya.
Sebenarnyalah bahwa Ki Permita justru sekedar mengikuti tingkat kemampuan lawannya yang semakin meningkat, ia tidak dengan serta merta mempergunakan puncak kemampuannya. Jika ia melakukannya, maka lawannya yang tidak menduga, akan dengan cepat diselesaikan. Tetapi Ki Permita tidak berbuat demikian.
Jika ia berbuat dengan serta merta maka ia akan dianggap sebagai seorang yang licik meskipun lawannyalah yang sebenarnya telah merendahkannya.
Namun dengan demikian, lawannya, seorang yang memang berilmu tinggi mulai menyadari kesalahannya. Terpengaruh oleh sikap adik seperguruannya serta orang bertongkat dari perguruan Suriantal yang menganggap bahwa orang yang disebut Palot itu tidak lebih dari seorang hamba yang setia, patuh tetapi dungu, sehingga ia menganggap bahwa dengan sekedar kemampuan wajarnya ia akan dapat membantai orang itu.
Tetapi ternyata bahwa setelah ia mulai merambah pada tenaga cadangannya, orang itu masih juga tidak mengalami kesulitan.
Karena itu, maka kakak seperguruan pemimpin padepokan itupun berkata, “Semakin lama aku semakin menyadari kenyataan. Kau tidak hanya mampu memancing kemarahan agar kau dapat berbuat licik. Tetapi kau agaknya memang memiliki kemampuan yang tinggi sehingga kau benar-benar merasa berani menghadapi aku. Bukan sekedar didorong oleh sikap putus asa dan tanpa harapan lagi, sehingga tingkah lakumu menjadi aneh.”
“Sudah aku katakan sejak semula,” berkata orang yang disebut Palot itu. “bahwa kaulah yang akan dikubur setelah perang tanding ini selesai.”
“Baik. Aku sudah bersiap sekarang. Aku tidak akan menganggap kau sebagai seorang hamba yang dungu. Tetapi agaknya kau memang seorang yang pantas untuk turun ke dalam arena perang tanding. Namun sayang, bahwa pada kesempatan ini kau bertemu dengan aku,” berkata kakak seperguruan pemimpin padepokan itu.
Tetapi orang yang disebut Palot itu tertawa. Katanya, “Siapapun yang kau hadapi, bukan soal. Tetapi sekali lagi aku menawarkan kepada kalian untuk menyerah. Dengan demikian maka Akuwu Lemah Warah atas persetujuan orang-orang Kediri akan dapat membuat pertimbangan-pertimbangan lain tentang kalian.”
“Tutup mulutmu,” geram kakak seperguruan pemimpin padepokan itu.
Palot masih akan menjawab lagi. Tetapi lawannya telah mulai bergeser.
Orang yang disebut Palot itu tidak lagi dapat sekedar melayani lawannya. Ia sadar bahwa lawannya tentu mulai mempergunakan kemampuannya dan ilmunya untuk mengalahkannya.
Sebenarnyalah bahwa ketika kakak seperguruan pemimpin padepokan itu mulai menyerang, maka segala-galanya telah berbeda. Angin yang menyambarnya ketika ia mengelak terasa menampar tubuhnya. Demikian kerasnya, sehingga kulitnya merasa pedih.
Palot menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar sepenuhnya, jika anginnya cukup membuat kulitnya pedih, apalagi jika ia tersentuh langsung oleh serangan itu.
Karena itu, maka Ki Permita yang disebut Palot itu pun telah meningkatkan daya tahannya. Pertempuran yang akan terjadi kemudian adalah pertempuran antara dua orang yang berilmu tinggi. Bukan hanya Ki Permita yang disebut Palot itu sajalah yang menyadari akan hal itu, tetapi lawannya pun menyadarinya pula.
Ketika lawannya meloncat menyerangnya lagi, maka Palot telah bergeser pula. Sekali lagi terasa angin menerpa kulitnya. Namun Palot tidak membiarkan dirinya menjadi sasaran. Demikian serangan lawannya meluncur sejengkal dari kulitnya, maka Palot lah yang kemudian mengangkat kakinya. Tubuhnya-pun menjadi semakin condong sementara kakinya terayun lurus menyamping.
Lawannyalah yang kemudian meloncat menghindari serangannya. Namun ternyata bahwa jantungnya pun telah berdesir. Orang yang dikatakan hamba yang setia dan dungu itu ternyata seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Meskipun kakinya tidak mengenai sasaran, tetapi udara panas bagaikan berhembus menyertai ayunan kaki itu.
Dengan demikian maka ternyata bahwa hamba yang setia itu mampu mengimbangi kemampuan lawannya, yang mampu menampar tubuh lawannya dengan sambaran angin oleh dorongan serangannya, sementara hamba yang setia itu mampu menghembuskan udara panas.
Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu pun menjadi berdebar-debar. Bahkan pemimpin padepokan itu dan orang bertongkat dari perguruan Suriantal menjadi berdebar-debar. Mereka tidak saja menyaksikan pertempuran itu, tetapi mereka merasa betapa tajamnya angin menyambar kulit mereka dan sentuhan udara panas yang menyengat.
Dengan demikian mereka dapat menduga, seberapa tingkat kemampuan kedua orang yang bertempur itu.
Serangan demi serangan datang dan bahkan kadang-kadang saling menyusul. Namun keduanya memiliki kemampuan yang luar biasa sehingga serangan-serangan itu sama sekali tidak mengenai sasaran.
Meskipun demikian perasaan sakit pun telah menggigit kulit oleh sambaran angin dan udara panas.
Namun ketahanan tubuh mereka yang tinggi, ternyata telah mampu mengatasi perasaan sakit itu. Sementara itu mereka yang bertempur itupun telah semakin meningkatkan ilmu mereka sehingga pertempuran pun semakin lama menjadi semakin seru.
Tidak seorang pun yang dapat menduga, siapakah di antara mereka yang akan memenangkan pertempuran itu. Kakak seperguruan pemimpin padepokan itu memang memiliki tataran ilmu yang lebih tinggi dan masak dari pemimpin padepokan itu sendiri, sehingga dengan demikian maka ia adalah orang yang jangat berbahaya bagi lawan-lawannya jika terlibat dalam pertempuran.
Namun ternyata bahwa lawannya, hamba yang setia dan dungu itu memiliki tingkat ilmu yang mampu mengimbanginya, sehingga dengan demikian pertempuran pun menjadi betapa sengitnya.
Serangan dibalas dengan serangan. Namun keduanya memiliki kecepatan gerak untuk saling menghindari. Sehingga untuk beberapa lamanya, pertempuran itu berlangsung tanpa dapat diduga apa yang akan terjadi.
Namun, karena tata gerak mereka menjadi semakin cepat dan semakin kuat, maka mereka pun kemudian tidak selalu sempat menghindarkan diri dari serangan demi serangan. Namun mereka tidak ingin membiarkan tubuh mereka dikenai oleh serangan lawannya.
Karena itu, maka ketika lawan Palet itu meloncat menyerang dengan kecepatan yang tidak terduga, sementara Palot masih baru meletakkan kakinya setelah menghindari serangan sebelumnya, maka Palot itu tidak sempat lagi menghindar.
Ia sadar, bahwa serangan kakak seperguruan pemimpin padepokan itu demikian dahsyatnya, jika benar-benar mengenai lambungnya, maka tulang-tulang iganya akan berpatahan.
Karena itu, maka yang dapat dilakukannya adalah melindungi lambungnya dari ujung serangan lawannya. Demikianlah ketika telapak kaki lawannya itu meluncur ke arah lambung, maka Palot telah merendahkan dirinya. Dengan sikunya ia melindungi lambungnya itu. Namun ia tidak sekedar bertahan. Dengan segenap kekuatan yang sempat terhimpun ia pun mendorong serangan lawannya pula
Demikianlah telah terjadi benturan yang dahsyat sekali. Sentuhan kaki kakak seperguruan pemimpin padepokan itu terasa bagaikan menyayat lengan Ki Permita yang dikenal bernama Palot itu. Sementara itu kekuatan yang sangat besar telah mendorongnya sehingga Palot itu terlempar beberapa langkah. Tubuhnya bagaikan terbanting. Beberapa kali ia berguling. Baru kemudian sambil menyeringai ia berusaha untuk bangkit.
Namun Palot terpaksa berdiri pada sebelah lututnya, sementara ia berusaha mengatur pernafasannya yang menjadi terengah-engah. Bahkan rasa-rasanya lehernya telah tersumbat oleh hentakan yang menyesak di dadanya.
Perlahan-lahan Palot berhasil menembus sesak nafasnya, sehingga pernafasannya itu pun menjadi semakin teratur. Darahnya yang bergejolak oleh degup jantungnya yang melonjak-lonjak, dapat dikuasainya pula. Sementara Palot berusaha untuk meningkatkan daya tahannya dengan alas ilmunya yang mapan.
Palot memang tidak tergesa-gesa. Ia sempat melakukannya karena ia melihat keadaan lawannya yang tidak lebih baik dari dirinya.
Kakak seperguruan pemimpin padepokan itu ternyata telah terpental pula beberapa langkah. Kakinya yang mengenai siku Palot yang melindungi lambungnya, bagaikan menghantam besi yang membara. Betapa keras dan panasnya, sehingga ia justru terpental oleh kekuatannya sendiri beberapa langkah. Kecuali panas yang membakar kakinya, tulang-tulang kakinya terasa bagaikan berpatahan. Bahkan panas itu rasa-rasanya bagaikan merambat sampai ke seluruh tubuhnya.
Untuk beberapa saat lamanya kakak seperguruan pemimpin padepokan itu terbaring diam. Dengan segenap sisa kemampuannya, ia berusaha memperbaiki keadaannya. Ditingkatkannya daya tahan tubuhnya, sehingga perasaan sakitnya mulai berkurang.
Perlahan-lahan orang itu pun mulai bangkit. Ia menduga, bahwa lawannya, hamba yang dungu yang bernama Palot itu telah berhasil dibinasakan meskipun keadaannya sendiri terasa sakit hampir di seluruh tubuhnya.
Namun ketika ia berhasil bangkit dan duduk sambil menahan sakit, alangkah terkejutnya ketika ia melihat orang yang disebut Palot itu sudah bangkit dan bahkan sedang mencoba untuk berdiri tegak.
“Setan,” geram kakak seperguruan pemimpin padepokan itu. “Jadi kau belum mati?”
Palot justru mencoba tersenyum. Ketika ia sudah mampu berdiri tegak, maka iapun telah bertolak pinggang sambil berkata, “Marilah. Bangkitlah. Aku sudah menunggu.”
Kakak seperguruan pemimpin padepokan itu menggeretakkan giginya. Ia pun kemudian berusaha untuk berdiri tegak meskipun tulang-tulangnya bagaikan gemeretak.
“Bagaimana Ki Sanak,” suara Palot masih tetap terdengar lantang.
“Persetan,” geram lawannya, “seharusnya kau sudah mati.”
“Tetapi aku belum mati,” berkata Palot, “karena bukan akulah yang akan mati.”
“Persetan. Persetan,” lawannya itu berteriak, “kau harus mati. Kau kira bahwa aku benar-benar sudah sampai pada puncak kemampuanku.”
“Tidak,” jawab Palot, “aku tahu bahwa kau belum sampai ke puncak ilmumu. Seharusnya kau sadar, bahwa kau terlalu merendahkan aku. Kau menganggap bahwa seorang hamba yang setia itu tentu dungu dan tidak berilmu sama sekali. Ternyata bahwa dungaanmu itu salah Ki Sanak. Meskipun aku hamba yang setia, tetapi aku bukan orang yang dungu dan sama sekali tidak berilmu.”
“Kau terlalu sombong. Sampai saat ini aku masih belum menunjukkan kemampuanku yang sebenarnya. Tetapi dalam keadaan seperti ini, maka kau akan mengalami nasib yang paling buruk. Sebenarnya aku ingin membunuhmu dalam keadaan wajar. Tetapi ternyata aku terpaksa menghancurkan tubuhmu berkeping-keping. Aku tidak mempunyai pilihan lain,” geram orang itu.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar