*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 038-02*
Ketiga orang itu tidak menjawab. Namun tiba-tiba saja Ki Permita membentak, “Jawab. Apakah kalian masih akan menahan aku di sini?”
Ketiga orang itu termangu-mangu sejenak. Namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
“Kenapa kalian diam saja,” bentak Ki Permita pula, mereka kemudian menjawab, “Kami memang bertugas untuk mencegah siapa saja memasuki padepokan, Palot.”
“Jadi aku benar-benar harus menyingkirkan kalian agar tidak ada lagi orang mengganggu aku “ geram Ki Permita.
“Tidak. Kau tidak usah melakukannya” jawab salah seorang dari mereka” pergilah sekehendakmu. Ternyata kami tidak mampu mencegahmu.”
“Terima kasih. Tinggallah kalian di sini. Lakukan tugas kalian sebaik-baiknya. Jangan ada orang lain yang memasuki padepokan ini. Aku sependapat dengan perintah itu. Tetapi itu tidak berlaku terhadapku” berkata Ki Permita pula.
Tidak ada yang menjawab. Sementara itu Ki Permita berkata, “Ketahuilah, bahwa aku memang memiliki kuasa seperti Panembahan. Semua kata-kataku harus berlaku atas kalian. Jika aku ingin membunuh kalian, aku dengan mudah dapat melakukannya. Tetapi aku memang tidak ingin membunuh. Kawanmu itu pun tidak mati. Rawatlah orang itu. Ia akan sadar kembali dari pingsannya.”
Masih tidak ada jawaban, sehingga orang itu pun kemudian telah melangkah meninggalkan ketiga orang yang berdiri termangu-mangu.
“Gila” desis salah seorang di antara mereka ketika Ki Permita telah menjadi semakin jauh.
“Ternyata ia memang memiliki kemampuan itu” sahut yang lain.
“Aku tidak tahu, apa yang telah dilakukannya atas kami” berkata yang lain pula.
Namun orang yang pertama itu pun segera berkata,”Kita lihat kawan kita yang pingsan itu.”
Ketiga orang itu pun kemudian telah berjongkok di samping seorang kawannya yang terbaring diam. Ternyata orang itu memang tidak mati. Tetapi pingsan karena ia telah keras terbanting di tanah.
Ketika orang yang pingsan itu menjadi sadar, maka Ki Permita menjadi semakin dekat dengan padepokan yang ditujunya, la yakin bahwa orang-orang yang dicarinya memang berada di padepokan itu.
Namun ternyata bahwa jalan ke padepokan yang sudah menjadi semakin dekat itu justru menjadi semakin banyak hambatan. Jika yang telah menghentikannya di ujung padukuhan adalah orang yang pernah dikenalnya di padepokan Suriantal, karena mereka termasuk orang-orang yang berhasil melarikan diri, maka Ki Permita telah bertemu pula dengan orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Dua orang berwajah garang dengan kumis dan jambang yang panjang.
“Siapa kau ?” bertanya salah seorang di antara kedua orang itu.
“Palot” jawab Ki Permita” aku adalah seorang di antara penghungi padepokan yang pecah oleh pasukan Lemah Warah. Aku menyusul para pemimpin padepokan yang berhasil melarikan diri dan kini berada di padepokan beberapa puluh tonggak lagi di depan padukuhan itu.”
“Bagaimana mungkin kau dapat lolos dari pengawasan empat orang kawan kami di ujung padukuhan ini.’.’ – bertanya salah seorang diantara keduanya pula.
“Sudah aku katakan bahwa aku berasal dari padepokan Suriantal sehingga keempat orang itu telah mengenal aku. Dibiarkannya aku lewat mencari perlindungan kepada para pemimpin padepokan yang sempat melarikan diri.
“Tidak seorang pun boleh memasuki padepokan” berkata orang itu, “ini adalah perintah yang tertinggi. Siapapun tidak boleh karena kemungkinan-kemungkinan buruk akan. dapat terjadi. Meskipun ia berasal dari padepokan itu pula.”
“Kenapa? Bukankah wajar jika aku mencari perlindungan di padepokan itu?” bertanya Ki Permita.
“Palot” berkata salah seorang yang berjambang lebat itu, “kau jangan memaksa. Perintah itu jelas. Jika kau merupakan pengawal yang setia dari para pemimpin. kenapa baru sekarang kau menyusul ? Semua orang yang datang kemudian memang pantas dicurigai. Mereka sudah sempat berbicara dengan para pemimpin di Lemah Warah. Mereka telah dapat dibujuk dan diberikan janji-janji yang menarik untuk melakukan pengkhianatan. Nah, jika keempat orang di ujung padukuhan itu memberi kesempatan kau memasuki daerah ini, maka aku melarang kau meneruskan langkahmu menuju ke gerbang padepokan. Tidak ada gunanya. Seandainya aku memberi ijin. maka masih ada beberapa lapis lagi lingkaran yang harus kau lalui. Semakin dalam semakin rapat, sehingga bagaimanapun juga, kau tidak akan sampai ke pintu gerbang.
“Ki Sanak” berkata Ki Permita, “kalian berdua tentu bukan sebagian di antara kami yang berada di padepokan Suriantal. Karena itu kalian tidak dapat membayangkan, betapa eratnya hubungan kami yang satu dengan yang lain. Bagaimana kami di padepokan itu menyatu dalam segala suasana. Seakan-akan kami terikat pada satu janji untuk mati bersama atau hidup bersama, meskipun ternyata pada saat-saat terakhir ada di antara kami yang sempat melarikan diri sementara yang lain mati terbunuh di medan.
“Apa maksudmu ?” bertanya seorang diantara kedua orang itu.
“Tidak apa-apa. Yang melarikan diri itu termasuk aku. Memang aku harus merasa bahwa seakan-akan aku dan beberapa orang yang lain termasuk para pemimpin di padepokan itu tidak setia lagi terhadap kawan-kawan kami. Namun yang kami lakukan justru dengan satu pengertian, bahwa dengan melepaskan diri dari maut, kami akan dapat membalas dendam kematian kawan-kawan kami.” berkata Ki Permita.
Kedua orang itu nampak merenung. Namun seorang di antara mereka berkata, “Tetapi sayang Palot. Perintah itu telah jatuh. Tidak ada orang baru lagi yang boleh memasuki padepokan, meskipun bekas kawan sendiri. Ada beberapa hal yang menyebabkan larangan itu dikeluarkan. Namun yang terpenting adalah, bahwa mereka yang datang kemudian itu sudah tidak akan murni lagi. Apalagi jika orang itu sudah sempat berbicara dengan para pemimpin Lemah Warah.”
“Ki Sanak,” berkata Ki Permita, “aku bukan orang gila yang akan menyurukkan kepalaku di bawah roda pedati. Aku sadar bahwa di padepokan ini berkumpul orang-orang berilmu tinggi. Apa yang dapat aku lakukan dihadapan mereka seandainya aku dibiarkan masuk ke padepokan itu.”
“Bukan kau sendiri yang akan melakukannya. Tetapi jika kau sudah berada di dalam, maka kau akan dapat membuat banyak kesulitan dengan diam-diam. Hingga akhirnya pada satu saat, kau akan melarikan diri untuk memberikan keterangan kepada orang-orang yang telah mengupahmu, atau kau akan membuka pintu gerbang dari dalam agar orang-orang yang mungkin akan menyusulmu itu dapat memasuki padepokan dengan cepat.”
“Lalu apa keuntunganku untuk berbuat demikian,” berkata Ki Permita, “aku telah berjuang sekian lamanya bersama para pemimpin padepokan ini. Aku merasa bahwa mereka adalah saudara-saudaraku.”
Kedua orang itu agaknya menjadi ragu-ragu. Namun seorang di antara mereka agaknya tetap menjunjung perintah yang diembannya, “Sayang Ki Sanak, pergilah.”
“Para pemimpinmu tentu akan menyesal jika aku pergi,” berkata Ki Permita. Namun kemudian katanya, “Cobalah, sampaikan saja kepada pemimpinmu, bahwa Palot akan mohon perlindungan dan tinggal bersama mereka di Padepokan ini.”
Kedua orang itu menjadi semakin ragu-ragu. Namun kemudian salah seorang berkata, “Baiklah, seorang di antara kami akan menyampaikan permohonanmu kepada para pemimpin padepokan. Merekalah yang akan menentukan, apakah kau boleh menghadap atau tidak.”
Ki Permita menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun berkata, “Baiklah. Aku akan menunggu.”
Memang kesempatan itu adalah kesempatan yang terbaik baginya untuk memasuki padepokan daripada ia harus melumpuhkan kedua orang itu dengan kekerasan, sehingga dengan demikian. maka kesalahannya akan bertambah lagi.
Sesaat kemudian, seorang di antara mereka pun telah meninggalkan Ki Permita yang dikenalnya sebagai Palot. Sementara seorang lagi masih menungguinya.
“Kita tunggu di sini,” berkata yang seorang itu kepada Ki Permita sambil duduk di regol halaman rumah sebelah.
Ki Permita pun telah duduk pula. Ketika ia memandang ke halaman lewat pintu yang sedikit terbuka, dilihatnya halaman rumah itu nampak kotor. Daun pepohonan yang kering berjatuhan tanpa dibersihkan. Bukan hanya hari itu. Namun nampaknya telah sejak beberapa hari berselang.
“Apakah rumah ini kosong?” bertanya Ki Permita.
“Nampaknya begitu,” jawab orang itu. “hampir semua orang di padukuhan ini telah menyingkir. Mereka sadar, bahwa kemungkinan yang buruk akan dapat terjadi. Ketika para pemimpin padepokan itu kembali dengan hanya beberapa orang yang sempat melarikan diri, maka mereka telah mengungsi. Mereka memperhitungkan bahwa kemungkinan pihak lain akan memburu ke padepokan ini sehingga akan terjadi pertempuran di sekitar padepokan ini.”
Ki Permita mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Apakah kau sudah lama berada di padepokan ini?”
“Kami datang dari padepokan lain. Kami mengisi padepokan ini setelah penghuninya serta pemimpin padepokan ini pergi bersama seorang yang dianggap akan dapat menjadi tumpuan perjuangan mereka. Kami diminta oleh pemimpin padepokan ini untuk berada di sini.”
“Siapa pemimpinmu?” bertanya Ki Permita.
“Saudara tua pemimpin padepokan ini,” jawab orang itu. “maksudku saudara tua seperguruan.”
Ki Permita termangu-mangu. Pemimpin padepokan itu tentu bukan orang bertongkat yang dikenalnya sebagai pemimpin dari perguruan Suriantal yang telah berubah. Tetapi saudara tua seperguruan itu tentu saudara dari orang yang mampu menguasai binatang untuk melakukan niatnya terhadap musuh-musuhnya.
“Jika orang itu adalah saudara tuanya, maka orang itu agaknya memiliki ilmu yang lebih baik atau setidak-tidaknya sejajar dengan orang yang mempunyai ilmu gendam itu,” berkata Ki Permita di dalam hatinya.
Selain kemampuan yang tinggi, ternyata orang itu telah membawa pula para pengikutnya.
Namun dalam pada itu, Ki Permita berkata kepada orang itu. “pantas jika kalian orang baru di sini. Aku pernah berada di padepokan ini. Tetapi kita belum pernah bertemu.”
Orang itu mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab. Dipandanginya arah kawannya tadi pergi. Namun sementara itu ia berdesis, “Ia memerlukan waktu beberapa saat. Sementara itu, kita akan menunggu di sini.”
Ki Permita mengangguk. Katanya, “Aku akan menunggu. Aku yakin bahwa aku akan diijinkannya.”
Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan ia pun telah bangkit dan berjalan mondar-mandir di depan regol itu.
Sementara itu kawannya telah memasuki padepokan. Di lapisan berikutnya dari pengamatan atas padepokan itu, orang itu berkata terus terang, bahwa ia akan menanyakan kemungkinan bagi orang yang bernama Palot.
“Bukankah perintah itu sudah tegas. Siapapun tidak boleh memasuki padepokan ini,” sahut kawannya di lapisan berikutnya.
“Tetapi orang ini lain. Orang ini pernah tinggal bersama para pemimpin kita yang sempat melarikan diri itu dan bekerja bersama dengan mereka untuk waktu yang lama,” jawab orang yang akan menghadap itu.
“Terserahlah. Kau tentu mempunyai alasan tersendiri. Tetapi jika alasanmu tidak masuk akal, maka kau justru akan dimaki dan bahkan mungkin kau akan mengalami perlakuan yang kurang baik,” berkata kawannya.
Tetapi orang itu tidak mengurungkan niatnya, ia langsung menuju ke padepokan untuk bertemu para pemimpin padepokan itu.
Ketika orang itu menyampaikan permintaan orang yang disebut Palot untuk berlindung di padepokan itu, ternyata permintaan itu memang menarik perhatian. Orang yang memiliki kemampuan mengendalikan binatang dengan ilmu gendamnya itu berkata, “Bawa orang itu kemari. Meskipun sebenarnya aku tidak memerlukannya. Yang kita perlukan adalah Panembahan yang memiliki ilmu tiada taranya itu yang aku kira tidak terkalahkan oleh siapapun. Namun ternyata melawan dua orang pemimpin yang datang dari Kediri, Panembahan itu tidak mampu bertahan.”
“Untuk apa sebenarnya orang itu dibawa kemari?” bertanya saudara tua seperguruannya, “jika orang itu memang tidak berarti kenapa orang itu tidak disingkirkan saja daripada memperbanyak tanggungan kita di sini?”
“Orang itu adalah hamba yang setia dari Panembahan yang kita harapkan akan dapat memberikan jalan bagi kita menuju ke Kediri,” jawab pemimpin padepokan itu. “mungkin orang itu dapat banyak bercerita. Memang tidak penting, tetapi agaknya cukup menarik jika ia berceritera tentang kesetiaannya kepada Panembahan itu.”
“Terserahlah,” berkata orang bertongkat, “padepokan ini padepokanmu. Apapun yang kau lakukan adalah tanggung jawabmu. Tetapi bagiku orang itu tidak berarti lagi sepeninggal Panembahan.”
Pemimpin padepokan yang telah dipaksa kembali oleh pasukan Lemah Warah dari padepokan Suriantal itu tersenyum. Katanya, “Kita memang tidak memerlukannya. Tetapi apa salahnya kita mempunyai seorang hamba yang setia? Mudah-mudahan disini pun ia akan menjadi seorang hamba yang setia pula, yang melakukan apa yang aku perintahkan dan mengiakan apa yang aku katakan.”
“Tetapi bagaimana mungkin ia dapat melarikan diri dari tangan orang-orang Lemah Warah jika Panembahan itu dapat dikalahkan,” desis orang bertongkat itu.
“Kita tidak usah mempersoalkan bagaimana ia keluar dari padepokan itu. Tetapi ia sekarang ada di sini,” jawab pemimpin padepokan itu.
Sementara itu kakak seperguruan dari pemimpin padepokan itupun berkata, “Sebetulnya buat apa kau memelihara seekor tikus. Lebih baik memelihara seekor kucing yang betapapun kecilnya akan dapat memberikan arti pada kehadirannya.”
“Bukan tikus,” jawab pemimpin padepokan itu. “tetapi seekor anjing yang setia dan penurut.”
Kakak seperguruannya tertawa. Katanya, “Terserah kepadamu. Tetapi ingat, jika kau kehabisan tulang, maka anjing itu akan dapat menggigit kakimu sendiri.”
Pemimpin padepokan itu pun tertawa pula. Tetapi ia berkata, “Bawa budak itu kemari. Aku akan mengangkatnya sebagai hambaku. Aku tahu ia setia meskipun karena kesetiaannya itu, ia nampaknya seperti seorang yang besar kepala. Ia memerintah atas nama Panembahan. Tetapi justru karena kesetiaannya.”
“Ia merasa lebih berkuasa dari Panembahan,” berkata orang bertongkat itu. “ia telah memerintah kita semau-maunya saja.”
“Ia tidak bermaksud demikian,” jawab pemimpin padepokan itu. “Ia sekedar menunjukkan setianya kepada Panembahan, bahwa ia telah melakukan perintah Panembahan dengan sebaik-baiknya.”
“Jika kau jadikan ia hambamu, maka ia akan merasa lebih berkuasa dari kau sendiri di padepokan ini,” berkata orang bertongkat itu.
“Aku akan mencekiknya,” sahut kakak seperguruan pemimpin padepokan itu.
Tetapi pemimpin padepokan itu masih tertawa pula. Katanya, “Kenapa kalian ributkan budak yang setia itu. Nah, biarlah ia datang kemari untuk memohon perlindungan kepadaku. Tetapi ia harus menjadi hambaku yang setia.”
Orang yang datang menghadap itu termangu-mangu sejenak. Namun pemimpin padepokan itu pun berkata, “Bawa orang itu kemari. Ia tidak berbahaya. Ia lebih lunak dari buah mentimun.”
Orang yang menghadap itu pun kemudian meninggalkan ruangan itu dan kembali kepada kawannya. Ia menemui kawannya berjalan yang hilir mudik, sementara Ki Permita menunggu dengan gelisah pula. Ia mencemaskan keempat orang yang berusaha mencegahnya, tetapi yang telah dibuatnya tidak berdaya. Jika mereka tiba-tiba menyampaikan persoalan yang terjadi atas diri mereka, maka persoalannya tentu akan berbeda.
Namun karena seorang di antara mereka yang pingsan itu nampaknya masih memerlukan perawatan, maka tiga orang kawannya masih belum meninggalkannya. Bahkan mereka pun seakan-akan telah menyerahkan persoalannya kepada para penjaga di lapisan berikutnya.
“Akhirnya ia akan dihentikan,” berkata salah seorang dari keempat orang itu.
“Tetapi apakah kita tidak dianggap bersalah bahwa mereka telah mampu melewati garis pengamatan kita,” desis yang lain.
“Ternyata kita tidak mampu menahannya,” jawab yang pertama, “bahkan seorang di antara kita telah pingsan.”
“Setan,” geram orang yang baru sadar dari pingsan, “aku tidak tahu apa-apa demikian dadaku merasa tersentuh tangannya.”
“Duduklah,” berkata kawannya, “orang itu tentu akan tertangkap. Dan kita akan dapat membalas sakit hati kita.”
“Tetapi kita harus melaporkannya,” berkata orang yang pingsan itu. “Jika terjadi sesuatu karena kelengahan, maka kita tentu dapat dianggap bersalah.”
Keempat orang itu termangu-mangu sejenak. Namun seorang di antara mereka yang tertua akhirnya berkata, “Baiklah. Dua orang di antara kita akan melaporkan peristiwa yang terjadi ini. Sementara dua orang akan tetap bertugas di sini.”
Akhirnya mereka menentukan orang yang pingsan itu bersama seorang yang lain akan melaporkan peristiwa yang telah terjadi itu ke lapisan berikutnya, agar laporan itu bertingkat merambat sampai kepada para pemimpin padepokan. Atau orang itu sudah terbunuh sebelum mendekati regol padepokan.
Namun ketika mereka sampai ke lapisan berikutnya, mereka menjumpai hanya seorang penjaga. Seorang yang berjambang dan berkumis lebat.
“Kau sendiri?” bertanya orang yang pingsan itu.
“Ya. Seorang kawanku sedang mengantarkan budak yang setia itu ke padepokan,” jawab orang berjambang itu.
Orang yang pingsan itu termangu-mangu. Namun kemudian iapun telah menceriterakan apa yang terjadi.
“Aku menjadi pingsan tanpa tahu sebab-sebabnya,” berkata orang itu kemudian.
Orang berjambang itu termangu-mangu. Namun tiba-tiba iapun tertawa. Katanya, “Kalianlah yang keterlaluan. Orang itu lunak seperti ranti, lamban seperti siput dan merengek seperti anak-anak sakit-sakitan.”
“Mula-mula ia memang berbuat seperti itu,” berkata orang yang pingsan itu.
“Jika ia berlaku sebagaimana kau katakan di padepokan, maka ia akan mengalami perlakuan yang sangat pahit. Ia akan dihukum cincang atau picis,” jawab orang berjambang itu. “nah, kita akan melihat apa yang terjadi.”
Orang yang telah pingsan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tetapi kita harus melaporkannya. Para pemimpin padepokan itu harus berhati-hati menghadapinya.”
“Sebagian dari mereka sudah mengenalnya dengan baik,” jawab orang berjambang itu. Lalu, “He, bukankah kau juga pernah berada di padepokan Suriantal?”
“Ya. Itulah agaknya kami mempunyai gambaran yang keliru tentang orang itu,” jawab orang yang telah pingsan itu.
Tetapi orang berkumis dan berjambang lebat itu tidak banyak menaruh perhatian. Bahkan kemudian katanya, “Tidak ada gunanya. Orang itu sekarang sudah menghadap.”
“Tetapi untuk waktu yang akan datang. Nanti atau hesok.” berkata orang yang pingsan itu.
“Terserah kepadamu,” jawab orang berjambang itu. “aku tidak peduli. Aku menganggap bahwa orang itu tidak akan berbahaya dihadapan para pemimpin.”
“Tetapi jika ia licik?” berkata orang yang telah pingsan itu.
“Terserah kepadamu,” tiba-tiba orang berjambang itu membentak.
Orang yang pingsan itu merenung sejenak. Tetapi iapun kemudian tidak peduli lagi kepada orang berjambang itu. Katanya, “Aku akan menghadap.”
Orang berjambang itupun tidak menghiraukannya pula. Karena itu ketika orang itu berlalu, maka orang berjambang itu sama sekali tidak memperhatikannya lagi. Bahkan ia telah melemparkan pandangannya ke pepohonan di sekitarnya.
Ketika orang yang pingsan itu bersama seorang kawannya menuju ke padepokan, Ki Permita telah dibawa memasuki regol. Orang yang bertugas di regol tidak dapat mencegahnya, karena yang membawa Ki Permita itu adalah seorang pengawal pula yang mendapat tugas justru dari pemimpin padepokan itu untuk membawa hamba yang setia itu menghadap.
Ketika Ki Permita itu dibawa memasuki sebuah barak yang menjadi tempat bertemu para pemimpin padepokan itu, maka ia pun telah menjadi berdebar-debar. Ternyata di ruang itu terdapat beberapa orang yang tidak dikenal. Orang yang tidak ikut berada di padepokan Suriantal.
Ketika Ki Permita yang dikenal bernama Palot itu memasuki ruangan, maka pemimpin padepokan itu, orang yang memiliki ilmu gendam, telah menyapanya sambil tertawa, “Ki Palot. Selamat datang di padeokan ini.”
Ki Permita menjadi ragu-ragu. Ia berdiri termangu-mangu di pintu ruangan yang agak luas itu.
“Duduklah,” berkata pemimpin padepokan itu.
Ki Palot itu memandang berkeliling. Beberapa orang duduk di amben panjang yang terletak di sekeliling ruangan di bilik itu.
Dengan ragu-ragu maka ia pun telah duduk pula di sebuah amben yang berada di sudut ruangan itu.
Tetapi tiba-tiba pemimpin padepokan itu berkata, “He Palot. Kemarilah. Duduklah di sini.”
Ki Permita menjadi ragu-ragu. Tetapi, pemimpin padepokan itu minta Ki Permita duduk di dekatnya, di sebuah amben yang berada di sebelah tempat duduknya.
Namun Ki Permita itu berkata, “Cukup di sini.”
Pemimpin padepokan itu tertawa. Katanya, “Kau adalah seorang hamba yang setia dari Panembahan yang mengecewakan itu. Yang aku kira benar-benar akan dapat menyelesaikan berbagai masalah yang timbul di padepokan. Namun akhirnya ternyata bahwa Panembahan itu tidak kuasa menghadapi prajurit Lemah Warah.”
“Bukan sekedar prajurit Lemah Warah,” jawab Ki Permita. “tetapi ternyata di antara mereka hadir dua orang dari Kediri.”
“Dari manapun datangnya, namun ternyata bahwa Panembahan itu tidak lagi mampu bertahan,” berkata pemimpin padepokan itu.
“Demikianlah agaknya. Tetapi Panembahan sudah berusaha sejauh dapat dilakukan,” berkata Ki Permita.
“Baiklah,” berkata pemimpin padepokan itu. Lalu, “Nah sekarang, apa yang akan kau lakukan sepeninggal Panembahan?”
“Aku akan memohon perlindungan di padepokan ini,” jawab Ki Permita.
“Ya. aku sudah mendengar permintaanmu. Tetapi untuk memenuhi keinginanmu itu, kau harus memenuhi satu syarat,” berkata pemimpin padepokan itu.
“Syarat apakah yang harus aku penuhi itu?” bertanya Ki Permita.
“Palot. Selama ini kau adalah hamba yang setia dari Panembahan. Namun dengan kesetiaanmu itu ternyata kau telah membuat banyak kesalahan. Kau kadang-kadang bersikap sebagaimana Panembahan itu sendiri. Bahkan kadang-kadang kau merasa dirimu lebih berkuasa,” berkata pemimpin padepokan itu.
“Tentu bukan maksudku,” berkata Ki Permita, “aku hanya sekedar menjalankan perintah. Tidak lebih.”
“Baiklah Palot,” berkata pemimpin padepokan itu. “syarat yang aku kemukakan adalah, bahwa selama kau berada di padepokan ini, maka kau harus menjadi hambaku yang setia, sebagaimana kau lakukan terhadap Panembahan. Kau harus menurut segala perintahku dan mengiakan segala kata-kataku. Jika kau bersedia menjadi hamba yang setia, maka aku akan memeliharamu.”
Terasa jantung Ki Permita berguncang. Ia tidak mengira bahwa ia akan menerima penghinaan sedalam itu. Agaknya orang-orang di padepokan Suriantal itu mempunyai anggapan yang buram terhadap dirinya yang menjadi perantara perintah Panembahan. Kekecewaan orang-orang padepokan itu kepada Panembahan, agaknya telah ditumpahkannya kepadanya.
Namun penghinaan itu benar-benar sulit untuk diterimanya. Apalagi beberapa orang yang berada di ruang itu serentak tertawa berkepanjangan.
Namun Ki Permita masih berusaha untuk menahan diri. Bahkan ia berusaha menyembunyikan kesan perasaannya itu di wajahnya. Dengan nada rendah ia berkata, “Sebenarnya aku tidak berkeberatan. Tetapi ada bedanya antara kalian dengan Panembahan bagiku. Aku adalah abdi Panembahan sejak aku masih muda dan Panembahan pun masih sangat muda. Tetapi di sini kita bertemu pada saat-saat kita sudah menjelang usia senja.”
Ki Permita menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu pemimpin padepokan itu berkata lagi, “kau mendapat kesempatan untuk memikirkannya barang sehari. Selama itu kau boleh berada di padepokan ini untuk melihat-lihat cara hidup kami. Kau akan dapat membayangkan, tugas apa yang bakal kau pikul jika kau menjadi hambaku yang setia.”
Penghinaan itu sudah tidak tertanggungkan lagi. Namun sebelum Ki Permita itu berbuat sesuatu, seorang pengawal telah membawa masuk dua orang pengawal yang lain ke dalam ruangan itu.
Ki Permita mengerutkan keningnya. Ia mengenali kedua orang itu. Mereka adalah orang-orang yang telah menahannya di luar padepokan. Ki Permita pun sudah menduga, apa yang akan dikatakannya.
Tetapi ia tidak berkeberatan. Ia pun hampir bertindak karena tidak lagi dapat menahan diri karena penghinaan itu.
Pemimpin padepokan itu termangu-mangu melihat kehadiran kedua orang pengawal itu. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Ada apa kalian menghadap?”
Orang yang telah pingsan itu pun berpaling ke arah Ki Permita yang dikenalnya bernama Palot itu. Dengan ragu-ragu ia berkata, “orang itu.”
“Kenapa dengan orang itu?” bertanya pemimpin padepokan itu.
“Ia memaksa untuk memasuki padepokan,” jawab orang yang pingsan itu.
Pemimpin padepokan itu tertawa. Katanya, “Ia ada di sini sekarang.”
“Ya. Aku melihat,” jawab orang yang pernah pingsan itu. “Tetapi jika ia sampai ke ruang ini, bukan karena kami tidak melakukan tugas kami.”
Pemimpin padepokan itu masih tertawa. Katanya, “Sudahlah. Jangan hiraukan lagi orang itu. Ia sudah bersedia menjadi hambaku yang setia. Ia akan menurut segala perintahku dan ia akan bersedia mengikut di belakang ke mana aku pergi sambil membawa barang-barangku.”
Hampir saja Ki Permita itu berteriak mengumpat. Tetapi orang yang pernah jatuh pingsan itu berkata, “Tetapi ia adalah orang yang sangat berbahaya. Orang itu mempunyai ilmu iblis.”
Pemimpin padepokan itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa, “Jangan cemaskan orang itu. Jika ia garang seperti seekor harimau, maka karena ia bersandar kepada orang yang disebut Panembahan itu.”
“Tidak,” jawab orang yang pernah pingsan itu. “ia bukan sekedar bersandar pada Panembahan. Tetapi ia memang memiliki ilmu iblis itu. Ia mampu memperlakukan kami berempat sebagai bahan permainan.”
Pemimpin padepokan itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang yang pernah pingsan itu dengan Palot berganti-ganti. Sementara itu orang yang pernah pingsan itu berkata, “Itulah yang ingin aku katakan, agar ia tidak menjadi racun di padepokan ini.”
Pemimpin padepokan itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian bangkit berdiri sambil berkata, “Apa yang dapat dilakukan oleh tikus kecil ini.”
“Bagaimanapun juga ia cukup berbahaya,” berkata orang itu.
“Terima kasih atas keteranganmu. Jika demikian, kami akan bersikap lain terhadapnya.”
Orang yang pernah pingsan itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya Ki Permita sambil berdesis, “Nah, kau akan tahu akibat permainanmu yang kasar itu.”
“Tinggalkan orang itu,” berkata pemimpin padepokan kepada orang yang pernah pingsan itu. “aku akan mengurusnya.”
Demikianlah maka kedua orang yang datang untuk melaporkan tentang Ki Permita itu telah meninggalkan ruangan, sementara pemimpin padepokan itu memandanginya dengan tegang.
“Palot,” berkata pemimpin padepokan itu. “apa yang telah kau lakukan? Apa pula yang telah kau pamerkan.”
Ki Permita berusaha untuk mengatur nalarnya. Karena itu maka dengan nada datar ia berkata, “Aku tidak tahu apa yang dikatakannya. Aku memang memaksa untuk memasuki padepokan ini, sementara orang yang mengantarkan aku kemari sama sekali tidak menaruh keberatan apapun juga sehingga aku sekarang ada di sini.”
Pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Tetapi katanya sama sekali tidak diduga oleh Ki Permita, “Palot. Ternyata kau memang pantas untuk dijerat di kandang harimau.”
“Kenapa?” bertanya Ki Permita.
Namun sementara itu beberapa orang yang lain agaknya tidak sabar lagi menunggu pembicaraan itu. Orang bertongkat itu kemudian berkata, “Aku sudah mengorbankan padepokanku. Sekarang kau datang untuk berkhianat pula? Apa yang kami dapatkan dari Panembahan selain kehancuran. Tetapi kami berusaha untuk menerimanya sebagai satu akibat dari perjuangan kami. Tetapi jika kau datang untuk mengacaukan kedudukan kami di sini, maka kau memang harus disingkirkan. Tidak sekedar diusir pergi.”
“Ya,” desis kakak seperguruan pemimpin padepokan itu. “karena itu maka apa boleh buat. Kita tidak memerlukan seorang hamba yang setia, atau seorang budak penurut.”
“Tunggu,” berkata Ki Permita, “apa yang sudah aku lakukan selain memaksa masuk ke padepokan ini untuk mencari perlindungan?”
“Kemampuanmu itu membuat kami tidak tenang,” berkata pemimpin padepokan itu. “karena itu, maka kau tidak aku perlukan lagi. Tetapi kau pun tidak boleh berkhianat jika kau pergi. Sayang. Kau tidak mempunyai pilihan.”
Ki Permita menjadi tegang. Dengan ragu-ragu ia berkata memelas, “Kasihani aku. Apa salahku? Aku datang dengan maksud baik. Mohon perlindungan.”
“Persetan,” geram pemimpin padepokan itu. “mungkin kau benar-benar mencari perlindungan. Tetapi sikapmu kepada orang-orangku menunjukkan bahwa kau tidak lagi dapat dipercaya. Kau bagiku bukan seorang budak yang setia.”
“Aku sungguh tidak mengerti,” berkata Ki Permita.
“Sudahlah Palot. Nasibmu memang buruk. Kau akan mati di sini. Kau tidak mempunyai pilihan lain. Kehadiranmu mencurigakan kami semua. Apalagi bahwa kau tetah memaksa menembus pengawalan dengan kekerasan. Kau telah menunjukkan kemampuan yang tidak terduga-duga. Dengan demikian kami memperhitungkan kemungkinan bahwa kau masih memiliki kemampuan yang lebih tinggi lagi,” berkata pemimpin padepokan itu.
“Seandainya aku mempunyai kemampuan, kenapa kalian mencurigai aku? Bukankah kemampuanku dapat kalian pergunakan menurut kepentingan kalian dan sesuai dengan tingkat kemampuanku,” berkata Palot.
“Tetapi bahwa kau tidak menunjukkan sikap tidak jujur membuat kami curiga,” berkata orang bertongkat itu. “kau sengaja memberikan kesan bahwa kau adalah abdi yang bodoh dan dungu serta tidak berilmu sama sekali. Namun ternyata kau mampu memaksa empat orang pengawal memberikan jalan kepadamu dan mereka menilai kemampuanmu cukup tinggi. Nah, ketidak jujuranmu itu telah menyeretmu dalam kesulitan.”
“Sudahlah,” berkata kakak seperguruan pemimpin padepokan itu. “selesaikan saja orang itu. Ia tidak berarti. Seandainya ia memang seorang abdi, maka apa gunanya ia di sini? Apalagi bahwa ia tidak jujur dan berusaha berkhianat.”
“Baiklah. Aku akan memperintahkan orang-orangku untuk menyelesaikannya,” berkata pemimpin padepokan itu.
“Kematiannya tidak akan membuat kita kehilangan, siapapun orang ini sebenarnya dan kita tidak akan lagi terancam bermacam-macam kemungkinan yang dapat dilakukannya.”
Pemimpin padepokan itu pun kemudian memberi isyarat kepada pengawal kepercayaannya. Katanya dengan nada rendah, “Sayang, bahwa kita harus menyelesaikannya. Aku kira orang ini memang tidak diperlukan lagi. Ia hanya akan memperbanyak tanggungan saja di sini, sehingga sebaiknya orang ini kita selesaikan saja.”
“Tetapi, aku datang dengan maksud baik,” desis Ki Permita.
“Mungkin. Tetapi nasibmulah yang tidak baik. Kau akan mati sia-sia. Terimalah nasib ini, hamba yang setia. Karena kesetiaanmu pula agaknya maka kau tidak berkeberatan jika kau kami bunuh. Dengan setia kau harus menjalaninya tanpa mengadakan perlawanan apapun.”
Ternyata jawaban orang yang dikenalnya bernama Palot itu telah mengejutkan mereka. Dengan tenang ia tiba-tiba berkata, “Siapa yang akan mendapat tugas membunuh aku?”
Semua orang memandanginya dengan tegang. Sementara itu tiba-tiba orang yang disebut Palot itu bangkit berdiri. Sambil berjalan hilir mudik ia berkata tanpa menghiraukan pandangan mata yang mengikutinya, “Baiklah aku berterus terang. Kecurigaan kalian memang beralasan. Ternyata kalian mempunyai ketajaman penggraita, sehingga kalian tidak segera mempercayai aku. Apalagi setelah aku memaksa melampaui keempat orang pengawal kalian itu.”
Pemimpin padepokan yang masih terheran-heran itu bertanya hampir di luar sadarnya, “Sekarang kau mau apa?”
“Akulah yang bertanya,” berkata orang yang dikenal bernama Palot itu. “kalian mau apa? Akan membunuhku? Siapakah di antara kalian yang akan melakukannya?”
“Setan,” geram kakak seperguruan pemimpin padepokan itu. “aku yang akan membunuhmu.”
Palot itu tertawa. Suara tertawanya mempunyai kesan yang berbeda sekali dengan sikapnya sebelumnya.
“Baiklah. Lakukanlah. Tetapi biarlah aku berbicara lebih dahulu,” berkata Palot.
“Apa yang akan kau katakan?” bertanya pemimpin padepokan itu.
“Aku akan berterus terang. Aku datang atas nama Akuwu Lemah warah,” berkata orang yang disebut Palot itu.
“Pengkhianat,” geram orang bertongkat.
“Terserahlah kau sebut apa,” berkata Ki Permita yang dikenal dengan nama Palot, “tetapi dengarlah. Kalian sudah tidak mempunyai kesempatan lagi. Akuwu Lemah Warah tentu akan memburu ke mana kalian pergi. Sekarang, padepokan ini telah diketahui letaknya oleh Akuwu Lemah Warah. Seandainya bukan aku yang menunjukkannya, maka banyak orang-orang kalian yang tertangkap.”
“Tetapi kita sekarang tidak lagi berada di Pakuwon Lemah Warah,” berkata pemimpin padepokan itu.
“Tetapi masih berada di tlatah Kediri, atau barangkali jika di luar Kediri juga masih di daerah Singasari,” jawab Palot. “padepokan ini memang berada di perbatasan antara Pakuwon Lemah Warah dan Pakuwon Panitikan. Tetapi justru karena itu maka kalian akan menjadi semakin sulit, karena Pakuwon Panitikan juga akan mengerahkan prajuritnya bersama prajurit Lemah Warah.”
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar