*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 038-04*
Palot memandang orang itu dengan tajamnya. Namun ia-pun sadar, bahwa orang itu tidak hanya sekedar membual. Orang itu tentu memiliki kemampuan melampaui pemimpin padepokan itu. Dengan demikian maka banyak kemungkinan dapat terjadi. Salah satu ilmu yang pantas diperhitungkan adalah ilmu penglimunannya. Dengan ilmu itu, maka Palot tentu akan mengalami kesulitan untuk melawannya.
Menurut perhitungan Ki Permita, sebagaimana pemimpin padepokan itu, maka kakak seperguruannya pun tentu memiliki ilmu yang sama. Jika Pemimpin padepokan itu, yang pernah tinggal bersama Palot masih belum mampu menyempurnakan ilmunya, maka kakak seperguruannya agaknya akan berbeda.
Karena itu, maka Palot pun telah mengetrapkan kemampuan tertinggi dari daya tahannya. Ia akan mendapat serangan yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Bukan sekedar kekuatan wadag sewajarnya. Tetapi kekuatan ilmu yang dahsyat.
Untuk beberapa saat kedua orang itu masih saling berdiam diri. Mereka tengah memusatkan segenap nalar budi untuk memulihkan kekuatan dan kemampuan masing-masing. Kemudian meningkatkannya sampai kepuncak.
Sejenak kemudian, maka kakak seperguruan pemimpin padepokan itu pun mulai bergerak. Namun iapun kemudian memandang berkeliling. Kepada orang-orang yang ada disekitarnya dan menyaksikan perang tanding itu, ia berkata, “Minggirlah. Jika kalian ikut terkena seranganku bukan salahku.”
Orang-orang yang menyaksikan perang tanding itu pun dengan serta merta telah menebar. Mereka tidak hanya mundur ampat lima langkah. Tetapi mereka telah bergeser sejauh-jauhnya dari arena. Namun mereka masih tetap ingin melihat apa yang akan terjadi. Karena itu, ada di antara mereka yang berdiri di belakang sebatang pohon yang setiap saat akan dapat dijadikannya tempat untuk berlindung.
Karena itu, maka halaman padepokan itu pun kemudian menjadi semakin lapang. Dengan demikian maka arena pertempuran itupun tidak lagi terganggu oleh orang-orang yang menyaksikan. Kedua orang yang berperang tanding itu mendapat kesempatan dengan leluasa untuk mengerahkan segenap ilmunya.
Sejenak kemudian kedua orang itu agaknya telah bersiap sepenuhnya. Ketika kakak seperguruan dari padepokan itu bergeser, maka Palot pun telah bergeser pula.
Dalam pada itu, maka tiba-tiba saja kakak seperguruan pemimpin padepokan itu telah menghentakkan tangannya ke arah Palot yang telah bersiaga sepenuhnya pula.
Secercah sinar tiba-tiba telah menyambarnya. Sinar yang meloncat dari telapak tangan orang itu.
Palot melihat sinar yang menyambar itu. Karena itu, maka dengan serta merta, maka ia pun telah meloncat menghindar, sehingga sinar itu meluncur sejengkal dari tubuhnya.
Namun akibatnya memang mendebarkan. Sinar yang memancar itu yang tidak mengenai sasarannya ternyata telah menyambar gerumbul-gerumbul perdu. Sinar yang memancar itu seakan-akan merupakan senjata yang luar biasa. Dedaunan dan ranting-ranting yang disambar menurut garis lurus telah dihancurkannya, melampaui meluncurnya sebatang tombak yang dilontarkan dengan kekuatan yang sangat besar.
Jantung orang-orang yang menyaksikan dari jarak yang agak jauh itu pun menjadi berdebar-debar. Jika serangan itu mengenai sasarannya, maka tubuh yang ditembus oleh kekuatan ilmu itu tentu akan hancur dan tulangnya pun akan berpatahan.
Palot sendiri memang menjadi berdebar-debar. Meskipun ia tidak dikenai oleh serangan itu, namun sambaran anginnya telah menyakitinya sebagaimana serangan wadagnya.
Namun Palot tidak sempat memperhatikan akibat serangan itu untuk selanjutnya, karena tiba-tiba saja lawannya telah melakukan gerakan yang sama pula.
Palot harus meloncat pula menghindar. Namun serangan berikutnya ternyata telah menyusulnya, sehingga Palot yang dalam kesulitan tidak dapat berbuat lain kecuali menjatuhkan dirinya sambil berguling.
Serangan lawannya itu meluncur di atas tubuhnya yang berguling, hampir saja menyambar pundaknya.
Namun Palot tidak membiarkan lawannya menyerangnya terus menerus. Sambil berguling, maka iapun telah mengacukan tangannya pula. Hanya sebelah. Tetapi ternyata dari tangannya bagaikan meluncur segumpal api yang menyambar ke arah lawannya.
Kakak seperguruan pemimpin padepokan itu terkejut. Ia tidak mengira bahwa Palot mampu menyerangnya dalam keadaan yang sulit itu. Karena itu, maka ia tidak dapat menyusul serangannya dengan serangan berikutnya, karena ia harus menghindari sambaran gumpalan api yang meluncur dengan cepatnya.
“Gila,” geram lawannya.
Sebenarnyalah gumpalan api yang dilontarkannya sambil berguling itu bagaikan terbang karena tidak mengenai sasarannya. Namun gumpalan api itu telah menyambar sebatang pohon gayam.
Akibatnya memang membuat kulit meremang. Daun pohon gayam yang tersambar gumpalan api itu bagaikan didera oleh api yang panasnya melampaui bara besi baja. Terbakar dan menjadi abu.
Sekali lagi lawannya mengumpat. Ternyata Palot benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa, yang tidak disangka sebelumnya. Meskipun lawannya itu menyadari bahwa Palot memiliki ilmu yang tinggi, tetapi ternyata kenyataan yang dihadapinya jauh lebih berbahaya dari yang diperkirakannya sebelumnya.
Demikianlah maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Keduanya tidak berusaha untuk saling mendekat dan mengenai lawanya dengan wadagnya. Keduanya telah saling menyerang dari jarak tertentu dengan mempergunakan ilmu mereka masing-masing yang berimbang. Masing-masing mempunyai kelebihannya, sehingga tidak seorangpun yang dapat memperhitungkan, siapakah yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Pemimpin padepokan itu serta pemimpin perguruan Suriantal yang ada dipadepokan itu pula, hanya dapat menahan nafas mereka, ketika mereka melihat pertempuran dari dua raksasa ilmu yang nggegirisi.
Apalagi para pengikut mereka, rasa-rasanya mereka melihat pertempuran itu bagaikan mimpi. Rasanya-rasanya apa yang terjadi itu di luar jangkauan nalar mereka.
Para pengikut kakak seperguruan pemimpin padepokan itu yang yakin akan kemampuan pimpinan mereka, ternyata merasa heran dan kagum melihat pemimpin mereka sampai ke puncak ilmunya. Mereka belum pernah menyaksikan pertempuran dalam benturan ilmu sedahsyat itu. Kekuatan yang terlontar dari diri masing-masing oleh dorongan ilmu yang sangat tinggi, membuat udara di padepokan itu penuh dengan sambaran-sambaran maut.
Karena itulah maka orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu semakin lama menjadi semakin memencar. Bahkan sebagian besar dari mereka pun kemudian mencari tempat untuk dapat berlindung pada saat-saat yang gawat, karena serangan yang tidak mengenai sasaran.
Sementara itu, sambaran-sambaran ilmu dari kedua orang yang sedang bertempur itu telah mematahkan dan membakar ranting dan cabang-cabang pepohonan. Suara retaknya cabang-cabang yang dibarengi dengan gumpalan-gumpalan api yang membakar reruntuhan gerumbul dedaunan merupakan peristiwa yang sangat mendebarkan jantung.
Dalam pada itu, pemimpin padepokan itu menjadi semakin berdebar-debar melihat api yang menyambar-nyambar. Sedangkan kakak seperguruannya tidak segera mampu menguasai hamba yang setia dari seorang yang disebutnya Panembahan.
Tetapi pemimpin padepokan itu masih mempunyai harapan. Ia tahu bahwa saudara seperguruannya itu juga memiliki ilmu Panglimunan yang cukup mapan, sehingga jika ilmu itu diuapkan, maka ia tentu akan dapat membuat lawannya menjadi bingung.
Namun kakak seperguruannya masih belum mempergunakannya. Ia masih berusaha menghancurkan lawannya dengan kemampuannya yang lain. Serangan yang meluncur bagaikan lembing yang dilontarkan dengan kekuatan yang tiada taranya.
Meskipun serangan itu tidak tertangkap oleh mata wadag. Namun akibatnyalah yang dapat dilihat. Ranting dan cabang pepohonan yang terkena serangan itu telah berderak patah dan jatuh ke tanah.
Semakin lama pertempuran itu menjadi semakin dahsyat dan semakin sulit untuk diikuti.
Kakak seperguruan pemimpin padepokan itu dan Ki Permita yang disebut Palot itupun telah mengerahkan segenap kemampuan pada jenis ilmunya itu. Namun ternyata keduanya masih belum mampu mengalahkan lawannya.
Karena itulah maka kakak seperguruan pemimpin padepokan itu telah mempertimbangkan untuk mempergunakan ilmunya yang terakhir. Puncak kemampuannya yang jarang dipergunakannya, kecuali pada saat dan keadaan yang tidak teratasi.
Sementara itu, ia masih belum menemukan cara yang dapat dipergunakan untuk mengalahkan lawannya. Sehingga karena itu, maka ilmu pamungkasnya itulah satu-satunya kemungkinan yang paling baik dipergunakannya.
Palot yang mampu mengimbangi iimu lawannya itu melihat perubahan sikap pada lawannya itu. Karena itu. maka ia pun harus menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan, karena ia memang menduga bahwa lawannya itu menguasai ilmu panglimunan yang dapat dipergunakan setiap saat.
Karena itu, maka Ki Permita pun harus menyiapkan ilmunya yang mungkin akan dapat dipergunakannya untuk melawan ilmu itu, karena ia sendiri tidak menguasai Aji Panglimunan.
Namun Ki Permita pernah mendengar serba sedikit tentang ciri-ciri dari Aji Panglimunan itu. Karena itu, maka ia harus melawan kemampuan ilmu itu dengan ilmu yang dikuasainya.
Sebenarnyalah maka kakak seperguruan pemimpin padepokan itu sudah bersiap memasuki dunia panglimunan. Karena itu, maka ia berusaha untuk menghentakkan lawannya untuk mendapat kesempatan mengetrapkan ilmunya.
Palot yang tanggap akan rencana lawannya, telah mengatur diri pula. Ketika lawannya menyerangnya dengan kemampuan tertinggi dari ilmu yang dipergunakannya itu, Palot telah melenting menghindarinya dengan loncatan yang jauh.
Demikianlah, maka tiba-tiba saja lawannya telah bergeser surut. Dalam kesiagaan tertinggi untuk menghadapi serangan, Palot dengan gumpalan apinya, maka bayangan orang itu semakin lama menjadi semakin kabur, sehingga akhirnya kakak seperguruan pemimpin padepokan itu telah hilang dan tangkapan mata wadag.
Namun adalah di luar dugaan, bahwa pada saat itu tiba-tiba saja kabut yang tebal bagaikan turun menyelimuti halaman padepokan itu. Demikian cepat sehingga tiba-tiba saja halaman itu telah menjadi gelap.
Demikianlah, maka dua orang yang sedang bertempur itu memang telah hilang. Kakak seperguruan pemimpin padepokan itu telah mempergunakan ilmu pamungkasnya, sementara Ki Permita yang dikenal dengan nama Palot itu telah menyelubungi dirinya dengan kabut tidak hanya di sekitar tubuhnya saja, tetapi hampir di seluruh halaman padepokan.
“Gila,” tiba-tiba terdengar umpatan kasar, “kenapa kau bersembunyi di balik kabutmu.”
“Aku mempunyai Aji Panglimunan yang sah dapat aku pergunakan dalam perang tanding,” jawab kakak seperguruan pemimpin padepokan itu.
“Kau kira ilmuku tidak sah dipergunakan?” bertanya Palot.
Sejenak kemudian sekali lagi terdengar umpatan kasar. Namun meskipun lawan Palot itu berada di dunia panglimunan, namun ia tidak segera dapat menemukan Palot yang terselubung kabut tebal.
Demikianlah terjadi pertempuran antara dua orang lawan yang tidak saling melihat. Kakak seperguruan dari pemimpin padepokan itu telah mempergunakan Aji Panglimunan yang sudah dalam tataran yang cukup tinggi, sehingga ia benar-benar berhasil untuk tidak dapat dilihat oleh mata wadag orang lain betapapun tajamnya. Namun ternyata bahwa lawannya yang dikenalnya bernama Palot telah berhasil menyelubungi dirinya dengan kabut yang tebal, sehingga dalam dunia panglimunan kakak seperguruan pemimpin padepokan itu tidak juga berhasil melihat, di mana Palot itu berada.
Namun dengan sekedar menduga-duga, maka kakak seperguruan pemimpin padepokan itu telah meluncurkan serangannya, menembus pusat dari Kabut yang gelap itu. Namun serangan itu meluncur tanpa mengenai sasarannya. Karena ternyata Palot tidak berada di pusat kabut yang meliputi seluruh padepokan itu.
Namun orang yang tidak nampak itu berkali-kali melontarkan serangan ke beberapa arah. Ia berharap bahwa pada satu saat, serangannya itu akan mengenai sasarannya.
Tetapi ternyata bahwa serangannya tidak pernah menyentuh orang yang disebut Palot itu.
Karena itu, maka kakak seperguruan pemimpin padepokan itu telah bertekad untuk menemukan lawannya. Dengan tanpa ujud menurut penglihatan wadag, maka kakak seperguruan pemimpin padepokan itu telah memasuki daerah kabut yang gelap. Tetapi orang itu merasa seolah-olah ia telah berada di dalam sebuah goa yang gelap yang tidak dapat ditembus oleh ketajaman pandangan matanya.
Namun tiba-tiba saja orang itu terkejut ketika ia mendengar suara bergulung-gulung, “Nah, marilah. Kenapa kau berhenti menyerang? Jika kau dapat menembus setiap titik pada kabutku, maka kau baru akan dapat mengenai aku.”
Orang yang menyusup di antara kabut dengan tidak menampakkan ujudnya itu menggeram. Dengan nada berat ia berkata, “Setan licik. Kemanapun kau bersembunyi. Aku akan menemukannya.”
Namun belum lagi getar kata-katanya hilang dari udara berkabut itu, tiba-tiba terdengar sebuah gumpalan api bagaikan bergaung tidak lebih sejengkal dari tubuhnya.
Saudara tua seperguruan pemimpin padepokan itu terkejut bukan kepalang. Meskipun dalam dunia panglimunan, namun serangan ilmu orang yang dikenalnya bernama Palot itu akan dapat menghancurkannya apabila tepat mengenai tubuhnya. Sebab tubuhnya masih tetap sebagaimana wadagnya sewajarnya. Hanya karena pengaruh Aji Panglimunan wadagnya itu tidak nampak oleh penglihatan wajar orang lain.
Karena itu maka saudara seperguruan pemimpin padepokan itu harus lebih berhati-hati menghadapi lawan yang seorang ini. Jika lawan-lawannya yang berilmu tinggi, namun pernah dihancurkannya dengan ilmu panglimunannya, ternyata ia tidak segera dapat melakukannya atas Palot.
Pada saat ia hilang dari pandangan Palot, maka Palot itu pun hilang pula dari pandangan matanya.
Sejenak kemudian, maka kakak seperguruan pemimpin padepokan itu telah mengulangi serangan-serangannya ke segala arah. Tanpa tahu pasti di mana sasaran yang ditujunya, ia asal saja melepaskan serangan. Namun Palot pun ternyata telah berbuat serupa. Gumpalan apinya pun berterbangan mencari sasaran yang tidak dilihatnya.
Beberapa saat terjadi lontaran-lontaran ilmu tanpa arah. Keduanya berusaha memperhatikan sumber dari serangan lawannya. Tetapi hal itu telah diperhitungkan pula, sehingga setiap pihak yang melepaskan serangannya, segera meloncat dari tempatnya karena serangan lawannya dengan cepat akan menyambar tempat itu.
Orang-orang yang berada di sekeliling halaman padepokan itu menjadi bingung. Mereka tidak melihat apapun juga. Mereka yang pernah berada di padepokan Suriantal segera mengenali ilmu yang dilontarkan oleh Palot. Ilmu yang pernah dilepaskan pula oleh orang yang disebutnya Panembahan. Bahkan dengan ilmu itu Panembahan pernah menyelamatkan padepokan Suriantal dari kehancuran karena serangan para prajurit Lemah Warah.
Namun pada serangan yang kedua, pasukan Lemah Warah yang diperkuat oleh orang-orang Kediri mampu melawan Panembahan yang berilmu sangat tinggi itu bahkan menghancurkannya.
Pemimpin padepokan itu dan pemimpin perguruan Suriantal hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Meskipun mereka orang yang termasuk berilmu tinggi, namun ternyata bahwa mereka merasa ketinggalan menyaksikan pertempuran yang dahsyat itu. Namun yang kemudian ternyata tidak dapat dilihatnya sama sekali.
Namun yang mengerikan adalah setiap kali mereka melihat pepohonan di halaman padepokan itu berguncang. Ranting dan dahan berpatahan, sementara daunpun terbakar dan berguguran, seolah-olah di halaman padepokan itu akan terjadi bencana yang maha dahsyat yang akan menghancurkan seluruh padepokan itu.
“Ternyata Palot memiliki kemampuan sebagaimana Panembahan,” berkata pemimpin perguruan Suriantal.
“Kita salah menilai orang itu,” berkata pemimpin padepokan itu. “kita menganggapnya tidak lebih dari seorang hamba yang setia tetapi dungu. Hamba yang dengan sombong menyampaikan perintah tuannya karena merasa tuannya itu berkuasa. Namun ternyata bahwa hamba yang setia itu sendiri memiliki kemampuan yang sama, atau setidak-tidaknya hampir sana dengan orang yang disebutnya Panembahan itu.”
Pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Kabut yang memencar itu benar-benar telah meliputi seluruh halaman padepokan. Karena itu, maka mereka yang menyaksikan kedahsyatan pertempuran itu harus menebar lebih luas, dan bahkan sebagian di antara mereka telah naik ke atas dinding halaman.
Sementara itu pertempuran yang dahsyat itu masih berlangsung meskipun tidak dapat diikuti dengan mata wadag. Tetapi kesan dan akibatnya sajalah yang nampak oleh mereka menggetarkan seluruh halaman.
Semakin lama kedua belah pihak menjadi semakin gelisah. Mereka tidak segera dapat menyelesaikan pertempuran itu. Serangan-serangan mereka yang tidak terarah dengan baik tidak segera dapat mengenai sasaran, sehingga dengan demikian mereka telah banyak menghamburkan tenaga.
Dengan demikian maka kakak seperguruan pemimpin padepokan itu mulai mengurangi serangan-serangannya. Ia ingin memasuki lagi daerah berkabut itu dan mencarinya. Bukan ilmunya yang dilontarkannya ke segala arah. Tetapi ia sendiri akan mencarinya meskipun ada kemungkinan terkena serangan Palot juga dilontarkan tanpa arah dan sasaran, selain sekedar menduga-duga.
Untuk beberapa saat kakak seperguruan pemimpin padepokan itu berusaha. Namun ia tidak segera menemukannya meskipun ia sudah menjelajahi hampir seluruh bagian berkabut itu. Terutama di halaman karena dari halaman itulah serangan-serangan Palot dilontarkan. Tetapi semuanya gelap semata-mata.
Sementara itu Palot pun telah tidak telaten lagi. Ia ingin cepat menyelesaikan pertempuran itu. Karena itu maka ia telah berusaha memancing lawannya untuk melepaskan serangan agar ia dapat menduga di mana lawannya itu berada.
Sejenak kemudian, serangan Palot itu terlontar lagi ke beberapa arah. Sebenarnyalah lawannya telah dengan serta merta membalasnya ke arah sumber serangan itu.
Palot tidak menyerang dengan gumpalan-gumpalan apinya lagi. Tetapi ia ingin menyelesaikan pertempuran itu segera.
Karena itu ketika ia yakin bahwa lawannya yang tidak dapat dilihatnya itu masih tetap berada di tengah halaman, maka ia pun telah mengambil langkah yang menentukan, ia tidak melepaskan gumpalan apinya, namun tiba-tiba halaman itu telah diguncang oleh prahara yang dahsyat. Angin pusaran yang keras dan mengandung tenaga yang dahsyat sekali telah berputaran hampir di seluruh halaman. Demikian cepatnya, sehingga tidak mungkin bagi seseorang yang berada di halaman itu melepaskan diri, kecuali yang berada di tepi melekat dinding.
Beberapa orang yang duduk di atas dinding halaman telah terlempar keluar, sementara itu, satu dua orang yang masih berada di halaman telah berusaha melekat dinding halaman. Satu dua di antara mereka sempat meloncat. Namun di luar keinginan Palot. ternyata ada juga yang terlempar ke udara dan terbanting jatuh tanpa ampun lagi. Apalagi mereka yang berada di bagian tengah halaman. Pepohonan telah tercabut dan dengan suara yang berderak bagaikan dilontarkan dan terbang di udara.
Bahkan barak-barak yang terdekat dengan halaman padepokan itupun telah terputar dan runtuh berserakan.
Sesuatu yang sangat dahsyat telah terjadi. Apalagi di pusat angin prahara itu.Tidak akan ada orang yang akan mampu bertahan betapapun tinggi ilmunya.
Demikian pula dengan kakak seperguruan pemimpin padepokan itu. Ia sama sekali tidak mengira bahwa ia akan mendapat serangan yang sangat dahsyat itu. Karena itu maka ia tidak bersedia untuk melawannya.
Ketika ia mulai terputar dengan kerasnya dan terlempar ke udara maka kakak seperguruan pemimpin padepokan itu baru menyadari bahwa ia sudah terputar oleh ilmu Palot yang sangat dahsyat. Ilmu pamungkas yang jarang ada duanya di seluruh Kediri bahkan Singasari.
Dalam keadaan yang sulit itu, maka kakak seperguruan pemimpin padepokan itu sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk melawannya. Tubuhnya yang tidak nampak oleh mata wadag itu bagaikan tidak berdaya sama sekali. Seperti sebatang kayu yang terperosok ke dalam pusaran air yang sangat dahsyat di ujung banjir.
Untuk beberapa saat tubuh itu berputaran di udara. Kemudian bagaikan hanyut melambung tinggi. Namun tiba-tiba tubuh itu telah meluncur dan terbanting jatuh di atas tanah yang keras di halaman.
Kakak seperguruan pemimpin padepokan itu memang sempat meningkatkan daya tahannya. Namun ketika ia terbanting dari ketinggian maka tubuhnya bagaikan remuk. Tulang-tulangnya seakan-akan berpatahan dan isi dadanya bagaikan rontok dari tangkainya.
Kakak seperguruan pemimpin padepokan itu mengeluh. Namun ia tidak kuasa lagi mengetrapkan ilmunya, sehingga tubuhnya pun perlahan-lahan mulai nampak oleh mata wadag. Sementara itu kabut pun mulai menipis dan hilang dihembus sisa-sisa angin yang masih berputar perlahan-lahan.
Semua mata yang sempat menyaksikan terbelalak melihat keadaan halaman padepokan yang berserakan. Pepohonan tumbang, dan barak-barakpun bertebaran. Sementara itu ada tiga sosok tubuh yang terbaring diam. Sementara lebih dari sepuluh orang yang berdiri terlambat melekat dinding telah terlempar dan hampir pingsan. Bahkan di luar dinding halaman-pun beberapa orang telah kesakitan karena terlempar dari atas dinding.
Kakak seperguruan pemimpin padepokan itupun terbaring diam. Namun nafasnya masih nampak menggerakkan dadanya.
Perlahan-lahan Palot melangkah mendekatinya. Bahkan kemudian berjongkok di sisinya.
“Ternyata kau luar biasa,” berkata orang yang sudah kehilangan hampir segenap tenaganya itu.
“Aku terpaksa melakukannya,” sahut Palot.
“Aku mengaku kalah,” desis lawannya sambil tersenyum, “kau adalah orang terbesar sampai saat ini. Karena itu, kau harus bertindak sebagaimana dilakukan oleh Panembahan, melawan orang-orang Kediri.”
Tetapi Palot menjawab, “ternyata bahwa orang-orang Kediri apalagi orang Singasari lebih besar dari Panembahan. Apalagi aku. Aku tidak akan mampu berbuat apa-apa.”
Tiba-tiba saja senyumnya lenyap dari bibirnya. Dengan nada dalam ia berkata, “Kau tidak boleh menjadi pengkhianat. Kau mampu melawan orang-orang Kediri.”
Palot termangu-mangu sejenak. Namun menghadapi orang yang sedang dalam kesulitan itu, Palot tidak sampai hati untuk menolak kata-katanya. Karena itu maka iapun berkata, “Baiklah Ki Sanak. Barangkali aku memang memiliki sekedar ilmu untuk meneruskan perlawanan Panembahan terhadap orang-orang Kediri.”
“Bagus,” orang itu seakan-akan ingin bangkit. Namun iapun kemudian terbaring lagi. Bahkan orang itupun lelah terdiam untuk selama-lamanya.
Palot menarik nafas dalam-dalam. Ia menunduk sejenak. Bagaimanapun juga orang itu pantas dihormati. Ilmunya bertimbun di dalam dirinya sehingga orang itu merupakan orang yang sangat disegani.
Perlahan-lahan Palot itupun bangkit berdiri. Diamatinya orang-orang yang berada di sekeliling halaman depan padepokan itu melekat dinding. Bahkan beberapa orang yang telah berada di atas dinding halaman itu pula.
Dengan sikap seorang yang telah memenangkan perang Palot memandang berkeliling. Memandang wajah-wajah yang gelisah dan cemas.
Sementara itu pemimpin padepokan itu dan orang bertongkat, pemimpin perguruan Suriantal berdiri termangu-mangu memandang Palot yang tegak di tengah-tengah halaman, di sebelah tubuh kakak seperguruan pemimpin padepokan itu.
Palot mengangkat wajahnya dan menengadahkan dadanya. Ia benar-benar seorang pahlawan yang telah berhasil mengalahkan lawannya di arena perang tanding. Kemudian katanya kepada semua orang yang memandanginya itu. “Marilah. Siapa lagi yang akan menantang aku untuk berperang tanding? Atau jika tidak, siapakah yang masih akan menangkap aku? Marilah, majulah beramai-ramai. Aku akan menggilas kalian dengan angin praharaku. Bukan salahku jika di halaman ini akan berserakkan mayat kalian yang dihancurkan oleh angin pusaran.”
Tidak seorangpun yang bergerak. Mata mereka yang memandang Palot itu memancarkan ketegangan yang sangat.
Ketika Palot memandang kedua orang pemimpin tertinggi dari padepokan itu, ia pun telah berkata, “Marilah. Apakah kalian akan menuntut balas kematian saudaramu?”
Jantung pemimpin padepokan itu berdebaran. Tetapi peristiwa yang baru saja terjadi itu benar-benar telah mengguncangkan dadanya. Bagaimanapun juga ia tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa saudara tua seperguruannya telah dikalahkan oleh hamba yang dianggapnya setia dan dungu itu. Bukan sekedar dikalahkan, tetapi sudah disaksikannya satu pertempuran yang sangat dahsyat. Kakak seperguruannya yang berilmu sangat tinggi, bahkan memiliki Aji Panglimunan ternyata telah dihancurkan dan terbunuh oleh orang yang disangkanya tidak lebih dari hamba yang setia itu.
Karena itu, untuk menanggapi tantangan itu ia harus berpikir dua tiga kali lagi.
Karena tidak ada yang menjawab, maka Palot pun berkata, “Ki Sanak. Para pemimpin padepokan ini serta pemimpin perguruan lain yang ada di sini. Sekali lagi aku memberikan tawaran Akuwu Lemah Warah serta para pemimpin Kediri itu. Menyerahlah. Kalian akan aku bawa menghadap. Aku akan membawa kalian ke padepokan yang telah kalian tinggalkan itu. Namun jika Akuwu telah kembali ke Lemah Warah, maka kita pun akan menyusul ke Lemah Warah, atau bahkan ke Kediri.”
Pemimpin padepokan itu termangu-mangu. Demikian pula orang bertongkat dari perguruan Suriantal itu.
“Cepat, ambil keputusan atau aku akan menggulung seluruh padepokan ini dengan prahara. Semua orang akan mati dan padepokan ini akan aku terbangkan ke udara. Tidak satu pun isi padepokan yang masih akan diambil gunanya. Dan tidak pula seorang pun yang akan luput dari kematian.”
Ancaman itu benar-benar mendebarkan jantung. Sejenak kedua orang pemimpin itu saling berpandangan. Namun sorot mata mereka memancarkan keputus-asaan.
“Tidak ada harapan lagi,” berkata orang bertongkat itu.
Pemimpin padepokan itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya padepokannya itu dengan padangan iba.
“Aku tidak pernah membayangkan bahwa ada orang yang memiliki kemampuan seperti itu. Terhadap kakak seperguruanku itu aku sudah mengaguminya. Apalagi orang yang semula bagiku tidak lebih dari hamba yang setia itu. Ternyata ia memiliki ilmu sebagaimana dimiliki oleh Panembahan itu,” berkata pemimpin padepokan itu.
Orang bertongkat itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Tidak ada ilmu yang dapat melawan arus praharanya. Namun bagaimana mungkin Panembahan itu dapat dikalahkan oleh orang-orang Kediri? Jika demikian seberapa tinggi tingkat ilmu orang Kediri itu?”
“Kita tidak mempunyai pilihan lain,” berkata pemimpin padepokan itu. “jika kita berkeras hati, maka semua orang yang ada sekarang akan mati oleh pusaran praharanya itu.”
Pemimpin perguruan Suriantal itu mengangguk kecil. Katanya, “Ya. Kita tidak dapat membiarkan sekian banyak orang itu terbunuh. Karena itu, maka kita memang tidak mempunyai pilihan lain. Sementara itu, orang yang paling bersalah dalam hubungan kita dengan Kediri adalah Panembahan itu. Ialah yang mengingini Mahkota Kediri sebagai benda yang sangat berharga dan bertuah bagi usahanya merebut kekuasaan di Kediri.”
Pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Suaranya merendah, “Memang tidak ada pilihan lain. Orang ini lebih dahsyat dari Akuwu Lemah Warah atau kedua orang anak muda yang disebutnya sebagai kemanakannya itu.”
Pemimpin perguruan Suriantal itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia pun kemudian bergeser mendekati hamba yang setia itu, diikuti oleh pemimpin padepokan itu.
“Aku menyerah,” berkata pemimpin perguruan Suriantal itu.
Palot menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Terima kasih atas kesediaanmu itu. Tetapi bagaimana dengan yang lain?”
“Aku tidak dapat berbuat lain,” berkata pemimpin padepokan itu. “aku tidak ingin para pengikutku di padepokan ini mati seperti tebasan ilalang, tanpa hitungan.”
Palot mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku tahu bahwa kalian memang akan menyerah. Dengan demikian maka tugas yang dibebankan kepadaku telah dapat aku selesaikan.”
“Lalu apa yang harus kami lakukan?” bertanya pemimpin perguruan Suriantal itu.
“Kita akan menghadap Akuwu Lemah Warah,” berkata Palot, “mudah-mudahan ia bersama pasukannya masih berada di padepokan yang pernah kita tinggalkan itu.”
“Apakah kita seisi padepokan ini harus pergi padepokan itu?” bertanya pemimpin padepokan itu.
Palot menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Aku tidak akan membawa semuanya bersamaku. Tetapi orang-orang tertentu sajalah yang akan pergi ke padepokan itu bersamaku.”
Bersambung........!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar