*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 037-04*
Apalagi apabila dalam keadaan yang gawat itu. Pangeran Gagak Branang sengaja menyeret orang lain untuk menyertainya memasuki dunia langgengnya.
Namun ketika Pangeran Singa Narpada memandanginya dengan tatapan mata yang meyakinkan, maka ia pun telah melakukannya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendiri masih belum menentukan sikapnya, apakah ia dapat menerimanya atau tidak. Mereka ingin melihat dan mengalami satu pengalaman batin selama bersentuhan dengan sikap Pangeran Gagak Branang.
Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah berada di sisinya, maka Pangeran Gagak Branang itu pun berkata dengan suara yang bergetar, “Anak-anak muda. Kita bertemu dalam satu arena pertempuran dan kebetulan kita berdiri berseberangan.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Sementara itu Pangeran Gagak Branang berkata selanjutnya, “Tetapi itu bukan merupakan hambatan bagiku untuk melihat watak dan sikap kalian menghadapi keadaan. Menurut penglihatanku, baik penglihatan kewadagan maupun penglihatan khusus, kalian berdua merupakan anak-anak muda yang pantas untuk mendapat kepercayaan. Kalian berdua telah menjalankan tugas kalian dengan sebaik-baiknya. Penuh tanggung jawab dan mempertaruhkan hidup dan mati meskipun kalian masih sangat muda. Kalian berpegang pada keyakinan dan tanpa mengenal gentar dan takut menghadapi apapun juga. Karena itu, maka aku berpendapat, bahwa kalian adalah orang yang pantas untuk mendapat kesempatan mencapai tataran ilmu yang setinggi-tingginya.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi hampir berbareng mereka berpaling kepada ayahnya.
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Namun menilik sikap dan kata-kata Pangeran Gagak Branang, rasa-rasanya Mahendra mempercayainya bahwa ia tidak akan mencelakakan kedua anaknya.
Sementara itu Pangeran Gagak Branang itu pun berkata, “Anak-anak muda. Apakah kalian bersedia menolongku?”
Kedua anak muda itu termangu-mangu. Namun Mahisa Murti pun kemudian bertanya, “Apa yang dapat aku lakukan?”
“Mengurangi bebanku menjelang kematianku,“ berkata Pangeran Gagak Branang, “ternyata ketamakanku telah menjeratku dalam keadaan seperti ini di saat terakhirku.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja ragu-ragu. Karena itu Pangeran Gagak Branang masih harus menjelaskan, “Tetapi ilmu ini bukan penghambat utama. Jika aku melepaskannya, maka sekedar akan mengurangi beban. Tanpa ilmu yang menurut dugaanku akan dapat memberikan kebanggaan, kebahagiaan dan kelebihan dari semua orang, maka aku tidak akan mengalami kesulitan seperti ini. Aku dapat melepaskan ilmu yang akan aku wariskan kepada kalian tanpa orang lain. Tetapi yang satu itu tidak. Harus ada orang yang menolongku. Sementara aku dibebani oleh perasaan sayang untuk membuang begitu saja sesuatu yang mungkin akan berarti bagi orang lain. Bahkan akan berarti bagi kehidupan yang lebih luas. Jauh lebih besar artinya daripada semasa ilmu itu ada padaku.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Mereka masih saja mengharapkan petunjuk dari ayahnya. Sementara Mahendra pun seolah-olah minta pertimbangan kepada Pangeran Singa Narpada.
Baru kemudian Pangeran Singa Narpada mengangguk kecil, sehingga dengan demikian sudah ada isyarat bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, apakah sebaiknya yang harus mereka lakukan.
“anak-anak muda,“ berkata Pangeran Gagak Branang dengan suara bergetar, “katakanlah. Apakah kau siap untuk mewarisi ilmuku? Baiklah aku beritahukan, apa yang dapat kau sadap dari aku. Sebenarnya bukan satu ilmu yang terpisah dari diriku dan dari diri mereka yang akan mewarisinya. Ilmu itu adalah satu alas yang akan meningkatkan apa yang sudah ada di dalam diri masing-masing. Kau tidak akan mendapatkan sesuatu yang baru.”
Mahendra dan Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian maka kecemasan mereka pun menjadi semakin susut. Getaran yang akan menyusup ke dalam diri anak-anak muda itu tidak akan mengalami benturan-benturan yang keras dengan apa yang telah ada di dalam diri kedua anak muda itu.
“Nah, katakanlah,“ desis Pangeran Gagak Branang, “apakah kalian bersedia menerimanya, atau jika tidak, biarlah ilmu itu aku tumpahkan dan kehilangan arti sama sekali, meskipun sebenarnya masih akan dapat berarti bagi kehidupan ini sesuai dengan pengabdian mereka yang memilikinya.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih nampak ragu-ragu. Namun Pangeran Singa Narpada sekali lagi memberikan isyarat kepada kedua anak itu dan kepada Mahendra. sehingga akhirnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun berkata hampir bersamaan, “Baiklah Pangeran.”
“Ya Pangeran,“ jawab Mahisa Murti.
“Baiklah. Kalian akan segera mendapatkannya. Ilmu itu sudah tidak ada artinya lagi bagiku. Ilmu itu adalah ilmu yang mendukung ilmuku yang lain. Tetapi dalam benturan ilmu yang terjadi, maka ilmuku yang didukung oleh alas kekuatan itu tidak lagi memiliki kemampuan. Sehingga betapapun besarnya kekuatan yang mendukungnya sudah tidak akan ada artinya lagi,“ berkata Pangeran Gagak Branang. “namun aku sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk menyusupkan getaran kekuatan ilmu itu ke dalam tubuh kalian, sehingga kalianlah yang harus menghisapnya daripadaku. Aku sudah mengetahui bahwa kalian berdua telah memiliki ilmu itu sebagaimana dimiliki oleh Pangeran Singa Narpada. Karena itu untuk selanjutnya, biarlah Pangeran Singa Narpada memberikan petunjuk laku kepada kalian.”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Ia-pun kemudian telah memberikan beberapa petunjuk kepada kedua anak muda itu sebagaimana Pangeran Gagak Branang memberikan petunjuk.
Sementara itu Pangeran Gagak Branang pun berkata, “Kita akan segera mulai jika lawe itu sudah ada.”
Mahendra lah yang kemudian menghubungi Akuwu Lemah Warah. Ternyata bahwa seorang di antara prajuritnya telah mendapatkan lawe itu di padukuhan, meskipun hanya beberapa depa saja.
Ketika kemudian lawe itu dibawa kepada Pangeran Gagak Branang, maka katanya, “Lingkarkan lawe itu pada lambungku.”
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Namun ia-pun kemudian mengikuti apa yang dikatakan oleh Pangeran Gagak Branang. Dilingkarkannya lawe itu di lambung Pangeran Gagak Branang.
Pangeran Gagak Branang pun kemudian berkata, “Terima kasih. Sekarang, biarlah kedua anak muda itu mengambil ilmu itu daripadaku. Tetapi Pangeran Singa Narpada, kau harus selalu mendengarkan kata-kataku. Pada saatnya kau harus menolongku melepaskan nyawaku yang terikat oleh wadagku yang telah tidak memadai lagi. Ternyata bahwa apa yang aku anggap akan dapat memberikan aku kebahagiaan tanpa batas itu justru telah menyiksaku. Karena ternyata kematian memang tidak akan dapat dihindari oleh siapapun.”
Pangeran Singa Narpada bergeser mendekat sambil menyahut, “Baiklah pamanda. Aku akan mengikuti segala perintah pamanda. Tetapi pamanda jangan menganggap bahwa aku memang menghendaki kematian pamanda.”
“Tidak Pangeran. Aku sadar sepenuhnya, bahwa aku sendirilah yang menghendakinya. Kau justru akan menolongku untuk melakukannya,“ jawab Pangeran Gagak Branang.
Pangeran Gagak Branang mengangguk kecil. Kemudian katanya, “sekarang sudah waktunya anak-anak muda itu mengambil ilmu itu.”
Pangeran Singa Narpada pun kemudian memberikan isyarat kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Keduanya pun sudah mendapat kesempatan untuk mewarisi ilmu yang tersisa di dalam tubuh Pangeran Gagak Branang yang sudah menjadi sangat lemah.
Kedua anak muda itu pun kemudian bergeser mendekat. Pangeran Gagak Branang yang lemah itu pun telah mengulurkan kedua tangannya sambil berkata, “Pegang tanganku.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi tanggap. Keduanya memegang tangan Pangeran Gagak Branang sebelah menyebelah.
“Anak-anak,“ berkata Pangeran Gagak Branang, “Sekarang pusatkan segala kemampuanmu pada ilmu yang pernah kau miliki sebagaimana dimiliki oleh Pangeran Singa Narpada. Lakukan petunjuk yang telah diberikan kepadamu oleh Pangeran Singa Narpada itu. Aku telah siap untuk melepaskannya. Kerahkan semua kemampuan yang ada padamu. Dan kerahkan daya tahan yang kalian miliki, sehingga seandainya kekuatan getaran ilmuku yang terhisap di dalam tubuhmu dan terjadi sengatan pada bagian dalam tubuhmu oleh limpahan kekuatan ilmuku, maka kau tidak akan mengalami sesuatu. Kemudian ilmu yang terhisap ke dalam kekuatan serta kemampuan ilmumu itu akan menjadi landasan peningkatan kemampuan ilmumu selanjutnya.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun keduanya telah mempersiapkan diri lahir dan batin. Mereka pun telah mempersiapkan segenap kemampuannya daya tahan untuk melindungi isi dada mereka andaikata getaran yang terjadi di dalam dada mereka mengguncangkan isinya, oleh luapan kekuatan yang ternyata terlalu besar.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah mengetrapkan ilmu mereka. Seperti yang dikatakan dalam petunjuk yang diberikan oleh Pangeran Singa Narpada, maka keduanya dalam mengetrapkan ilmunya tidak mempergunakan kekuatan benturan wadag mereka. Mereka justru berusaha untuk melepaskan getaran yang terjadi menusuk ke dalam tubuh mereka.
Demikianlah telah terjadi gejolak di dalam diri Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka merasakan arus yang deras mengalir ke dalam diri mereka. Arus yang seakan-akan tidak terbendung.
Getaran itu semakin lama menjadi semakin keras mengguncang isi dada mereka, sehingga isi-dada kedua anak muda itu pun mulai terasa pedih.
Namun kedua anak muda itu telah mengerahkan segenap kemampuan daya tahan mereka, sehingga dengan demikian mereka masih mampu mengatasi perasaan sakit di dalam diri mereka.
Pangeran Singa Narpada dan Mahendra yang menyaksikan peristiwa itu menjadi berdebar-debar. Dengan cemas keduanya memandang setiap perubahan pada wajah kedua anak muda itu. Keringat nampaknya mulai membasahi tubuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bahkan kemudian tubuh mereka pun telah menjadi bergetar pula.
Mahendra benar-benar menjadi cemas. Tetapi segalanya sedang berlangsung, sehingga ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Namun demikian Mahendra telah bergeser mendekat. Dalam keadaan yang gawat ia akan dapat membantu menyalurkan kekuatan ke dalam tubuh kedua anaknya, untuk ikut serta mendukung beban yang mengalir dari diri Pangeran Gagak Branang ke dalam diri kedua anaknya.
Bahkan Pangeran Singa Narpada pun telah melakukan hal yang sama. Ia pun telah bergeser mendekat, siap untuk memberikan bantuan jika ternyata kemampuan kedua anak muda itu tidak dapat menampung ilmu yang ingin mereka warisi dari Pangeran Gagak Branang.
Keduanya semakin berdebar-debar ketika mereka melihat wajah kedua anak muda itu menjadi semakin pucat, sementara keringat mereka telah membasahi tubuh mereka bagaikan orang yang sedang mandi.
Debar di dalam dada Mahendra dan Pangeran Singa Narpada menjadi semakin memukul-mukul jantung. Namun mereka masih tetap menunggu. Mahendra dan Pangeran Singa Narpada menyaksikan kedua anak muda masih duduk sambil memegangi tangan Pangeran Gagak Branang sebelah menyebelah.
Namun kedua orang itu benar-benar menjadi sangat cemas ketika mereka melihat, kepala Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun tertunduk dalam-dalam, seolah-olah tulang lehernya telah patah.
Mahendra bergeser setapak mendekat. Namun kemudian ia mendengar Pangeran Gagak Branang itu berdesis. Bahkan kemudian seakan-akan Pangeran itu telah mengerang.
“Pamanda,“ desis Pangeran Singa Narpada kemudian.
Orang itu menjadi semakin jelas. Sementara Pangeran Singa Narpada telah bergeser semakin dekat.
“Singa Narpada,“ terdengar suara Pangeran Gagak Branang lambat sekali.
“Pamanda,“ desis Pangeran Singa Narpada.
Wajah Pangeran Gagak Branang pun menjadi sangat pucat pula. Nafasnya terengah-engah dan suaranya menjadi sangat lambat, “Singa Narpada. Anak-anak itu telah berhasil menghisap seluruh kekuatan ilmu itu daripadaku. Bagaimana keadaan mereka sekarang?”
Pangeran Singa Narpada memandang kedua anak muda yang duduk dengan kepala yang terkulai lemah. Bahkan kemudian seakan-akan dari ubun-ubun mereka nampak asap yang tipis menguap perlahan-lahan.
“Pamanda,“ desis Pangeran Singa Narpada, “aku akan mencoba melihatnya.”
“Lihatlah keadaannya. Bantulah jika mereka memerlukannya,“ desis Pangeran Gagak Branang.
Pangeran Singa Narpada pun kemudian mendekati Mahisa Pukat, sementara Mahendra berada di dekat Mahisa Murti. Namun meskipun kedua anak muda itu menjadi sangat sulit. Namun keduanya masih mampu berusaha untuk mengatasi kesulitan didalam diri mereka. Dengan segenap kekuatan tenaga cadangan mereka, maka mereka telah mengatasi perasaan sakit di dalam diri mereka oleh luapan ilmu Pangeran Gagak Branang yang mereka hisap itu. Mereka pun telah berusaha mengatur pernafasan mereka untuk meredakan gejolak getaran didalam dada mereka serta untuk mengatur agar peredaran darah mereka menjadi wajar kembali.
Meskipun perlahan-lahan agaknya keduanya akan mampu mengatasinya tanpa bantuan orang lain.
Sementara itu, Pangeran Singa Narpada pun telah bergeser kembali mendekati telinga Pangeran Gagak Branang yang terbaring diam.
“Pamanda,“ berkata Pangeran Singa Narpada di telinga pamandanya, “mereka dalam keadaan baik meskipun mengalami kesulitan. Namun agaknya mereka akan mampu mengatasinya.”
“Syukurlah,“ berkata Pangeran Gagak Branang, “aku memang sudah menduga, bahwa keduanya akan mampu mengatasinya sendiri.“ Pangeran Gagak Branang berhenti sejenak.
Kemudian, “Dengar Singa Narpada. Kedua anak itu akan menjadi dua orang anak muda yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Ilmu mereka yang memang sudah cukup tinggi, akan terangkat ke atas alas yang dihisapnya daripadaku. Sejenis ilmu yang tidak berdiri sendiri, tetapi menopang ilmu yang telah ada didalam dirinya. Namun pesanku kepadamu, sampaikan kepada anak-anak itu, bahwa mereka harus menyadari kegunaan ilmu itu. Ilmu itu merupakan ungkapan dari keyakinannya yang dapat memberikan arti bagi sesamanya sebagai satu pengabdian kepada Yang Maha Agung. Kau dapat mengatakan kepada mereka, bahwa aku bukan contoh yang baik dari seseorang yang memiliki ilmu itu, karena aku hanya sekedar berpegang pada keyakinanku sendiri.”
Sementara itu, ada keyakinan lain yang berbeda dengan keyakinanku. Memang sulit untuk menyebutkan kebenaran yang mutlak sehingga kadang-kadang kita merasa diri kita adalah yang paling benar tanpa menghiraukan kebenaran bagi orang lain.”
Pangeran Singa Narpada mengangguk sambil berkata, “Aku akan menyampaikannya pamanda. Aku yakin bahwa kedua anak itu pada dasarnya memang berpegang kepada satu keyakinan untuk dapat memberikan arti hidup mereka bagi sesama sebagai satu pengabdian kepada Yang Maha Agung. Sebagaimana selalu dilakukan oleh ayah mereka serta saudara tua mereka, Mahisa Bungalan. Juga paman-paman mereka, yang dikenal dengan Mahisa Agni dan Witantra.”
Wajah Pangeran Gagak Branang nampak berkerut. Dengan nada lemah ia berkata, “Jadi keduanya mempunyai sangkut paut dengan kedua orang yang pernah berada di Kediri atas nama kuasa Tumapel itu?”
“Maksud pamanda, Singasari?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Tumapel,“ ulang Pangeran Gagak Branang.
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Lalu jawabnya, “benar pamanda, keduanya adalah kemanakan kedua orang itu.”
Pangeran Gagak Branang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku kagum kepada keduanya meskipun aku tidak sependapat dengan keyakinannya. Dengan demikian, maka aku yakin, bahwa kedua anak muda itu akan dapat memanfaatkannya bagi sesama jika kita dapat melupakan keyakinan pribadi tentang Tanah Tumpah Darah itu.”
“Ya pamanda,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “aku pun berharap demikian.”
Pangeran Gagak Branang menarik nafas dalam-dalam. Bahkan dalam sekali.
“Singa Narpada,“ berkata Pangeran Gagak Branang kemudian, “sekarang telah sampai waktunya. Aku tidak perlu menunggu Permita. Tolong, bantu aku.”
“Apa yang harus aku lakukan pamanda?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Singa Narpada,“ berkata Pangeran Gagak Branang, “waktu itu memang sudah tiba. Wadagku telah tidak lagi mampu mendukung keinginanku yang melonjak menggapai langit. Karena itu, maka aku tidak akan hidup lebih lama lagi.”
Nafas Pangeran Gagak Branang menjadi semakin terengah-engah. Dengan suara yang sendat ia melanjutkan, “Tolonglah aku Singa Narpada. Lingkarkan Lawe itu pada lambungku. Kemudian tarik ujung yang berada di sebelah kiri dari arahku. Perlahan-lahan, jangan sampai putus. Jika lawe itu putus, kau akan semakin menyiksaku.”
“Untuk apa paman?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Tolonglah, lakukanlah dengan hati-hati,“ berkata Pangeran Gagak Branang kemudian.
Pangeran Singa Narpada menjadi termangu-mangu. Namun ia pun kemudian telah berdiri, melingkarkan lawe itu pada lambung Pangeran Gagak Branang dalam lingkaran penuh. Kemudian, seperti dikatakan oleh Pangeran Gagak Branang, maka Pangeran Singa Narpada perlahan-lahan telah menarik tali itu dari arah kiri Pangeran Gagak Branang.
Demikian perhatian Pangeran Singa Narpada sepenuhnya tertuju kepada benang lawe yang ditariknya perlahan-lahan itu, sehingga ia tidak sempat memperhatikan Pangeran Gagak Branang sendiri. Seperti dikatakan oleh Pangeran Gagak Branang, maka lawe itu jangan sampai putus, karena jika lawe itu putus, maka keadaan Pangeran Gagak Branang akan menjadi semakin buruk.
Untuk beberapa saat Pangeran Singa Narpada justru menahan nafas. Demikian pula Mahendra yang menyaksikannya. Keringat dingin telah mengalir di punggungnya. Bahkan Mahendra tidak lagi memperhatikan kedua anaknya yang sedang berjuang untuk memperbaiki keadaannya.
Ujung lawe itu pun mulai bergerak dan hilang di balik punggung. Tangan Pangeran Singa Narpada pun menjadi gemetar.
Tetapi karena ia cukup berhati-hati, maka akhirnya ia berhasil menarik lawe itu ke kiri dari arah Pangeran Gagak Branang dengan baik. Benang lawe itu tidak putus sama sekali.
Pangeran Gagak Branang tidak menjawab. Bahkan ketika Pangeran Singa Narpada memperhatikannya, ia pun menjadi berdebar-debar. Kedua tangan Pangeran Gagak Branang itu bersilang di dadanya. Matanya terpejam dan mulutnya sedikit menyungging senyum.
“Pamanda,“ panggil Pangeran Singa Narpada.
Pangeran Gagak Branang sama sekali tidak menjawab.
Mahendra pun telah bergeser mendekat. Namun kemudian dipandanginya Pangeran Singa Narpada yang termangu-mangu. Dengan nada datar Mahendra berkata, “Pangeran Gagak Branang sudah sampai kepada batas kematiannya. Pangeran Singa Narpada agaknya telah menjadi lantaran.”
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Pamanda ternyata telah bebas dari penderitaan kewadagannya. Mudah-mudahan pamanda menemukan jalan lurus di dunia abadinya.”
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Tubuh Pangeran Gagak Branang terbujur lurus di pembaringannya. Seperti yang dikatakannya ia tidak menunggu hamba setianya yang sedang bertugas untuk menyelesaikan persoalan Kediri dengan para penghuni padepokan itu yang ternyata berada di bawah pengaruh Pangeran Gagak Branang yang dipanggil Panembahan oleh orang-orang padepokan itu.
Dalam pada itu, maka perhatian Mahendra dan Pangeran Singa Narpada kembali kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Nampaknya perlahan-lahan keduanya mampu mengatasi persoalan di dalam diri mereka, sehingga keduanya telah mengangkat kepala mereka yang seakan-akan terkulai pada lehernya tanpa kekuatan sama sekali. Bahkan kedua anak muda itu telah nampak menguasai diri mereka sepenuhnya. Pernafasan mereka telah semakin teratur dan darah pun telah mengalir dengan wajar.
Tetapi untuk beberapa saat Mahendra dan Pangeran Singa Narpada membiarkan kedua orang anak muda itu menyelesaikan laku yang baru mereka jalani.
Ternyata beberapa saat kemudian, keduanya telah merasa bahwa mereka telah berhasil. Namun ternyata bahwa keadaan mereka masih terlalu lemah. Urat-urat mereka rasa-rasanya tidak mempunyai tenaga sama sekali, sementara persendian mereka rasa-rasanya telah terlepas satu sama lain.
Namun demikian Mahendra telah menyapa mereka, “Bagaimana keadaan kalian?”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Atas doa ayah dan restu Pangeran Singa Narpada, aku telah berhasil.”
“Dan kau?“ bertanya Mahendra kepada Mahisa Pukat.
“Aku juga telah berhasil ayah,“ jawab Mahisa Pukat yang masih sangat lemah.
“Syukurlah,“ berkata Mahendra, “sekarang perhatikan. Inilah keadaan Pangeran Gagak Branang.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian memperhatikan Pangeran Gagak Branang yang terbaring diam. Sementara itu Mahisa Murti pun berkata, “Apakah karena aku dan Mahisa Pukat berusaha mewarisi ilmunya maka Pangeran Gagak Branang telah meninggal?”
“Tidak. Sama sekali tidak,“ jawab Pangeran Singa Narpada dengan serta merta, “pamanda Pangeran Gagak Branang telah menunjuk sendiri jalan kematiannya.”
Sambil menunjukkan benang lawe di samping tubuh Pangeran Gagak Branang Pangeran Singa Narpada berkata, “benang itulah yang telah membunuhnya. Akulah yang menjadi perantara, mengantar pamanda Pangeran menjelang hari-hari tanpa akhir.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak segera mengerti. Namun ayahnya berkata, “Memang sulit bagi kalian untuk mengerti. Apalagi kalian yang sedang menjalani laku. Aku, yang menyaksikan apa yang terjadi tidak juga dapat mengerti dengan jelas apa yang terjadi.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih nampak termangu-mangu, sehingga Pangeran Singa Narpada perlu menjelaskan, “Jangan merasa bersalah. Sudah aku katakan, bukan kalian yang telah menyebabkan Pangeran Gagak Branang meninggal.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk. Namun wajah mereka masih menunjukkan keragu-raguan.
Dalam pada itu, maka Pangeran Singa Narpada pun telah menyerahkan tubuh Pangeran Gagak Branang kepada Akuwu Lemah Warah, agar memerintahkan para prajuritnya untuk menyelenggarakannya sebaik-baiknya tanpa menunggu Ki Permita.
“Kita akan memberikan penghormatan yang terakhir,“ berkata Pangeran Singa Narpada, “lepas dari keyakinan pamanda yang menyimpang menurut penilaian kami, tetapi pamanda adalah seorang prajurit linuwih.”
Demikianlah, maka Akuwu Lemah Warah telah menyelenggarakan tubuh Pangeran Gagak Branang yang mendapat penghormatan dari semua orang yang masih berada di padepokan itu. Mereka tidak menunggu kedatangan hamba yang setia, Ki Permita yang sedang menjalankan tugas khususnya.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih lemah telah mendapat pengamatan dan perlindungan dari ayahnya, Mahendra dan Pangeran Singa Narpada. Namun ternyata bahwa tidak ada sesuatu yang mengganggu mereka.
Setelah segalanya selesai, maka barulah mereka mendapat kesempatan untuk duduk dan menilai apa yang telah terjadi.
Akuwu Lemah Warah dan Mahisa Ura yang mengetahui tentang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah berjuang untuk mewarisi ilmu Pangeran Gagak Branang mengangguk-angguk dengan bangga. Dengan tulus Akuwu Lemah Warah berkata, “Kalian akan menjadi anak-anak muda yang jarang ada bandingnya. Berbagai ilmu telah kalian warisi, sehingga dengan demikian maka untuk menghadapi masa depan, kalian telah membawa bekal yang cukup lengkap.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa orang-orang yang berkumpul itu telah pernah memberikan sesuatu kepada mereka berdua. Sehingga karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Kami mengucapkan terima kasih kepada semuanya. Kami berdua telah mendapat bekal ilmu dari ayah. Kemudian kami mendapat warisan ilmu pula dari Pangeran Singa Narpada. Di daerah yang asing kami telah bertemu dengan Akuwu Lemah Warah yang kami kenal dengan nama Tatas Lintang. Dan yang terakhir kami telah diperkenankan menyadap ilmu dari Pangeran Gagak Branang yang disebut Panembahan di padepokan ini.”
“Itu adalah satu kurnia bagimu,“ berkata Akuwu Lemah Warah yang pernah mengaku kedua anak muda itu sebagai kemanakannya, “namun kalian harus mampu menempatkan dirimu sebagai manusia yang mempunyai kelebihan dari orang lain.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menundukkan kepalanya. Mereka tidak dengan bernafsu berusaha untuk mencapai tataran ilmu yang setinggi-tingginya. Namun agaknya keduanya memang mendapat kurnia untuk memilikinya.
Sementara itu Pangeran Singa Narpada pun berkata, “Justru karena kalian memiliki kemampuan yang sangat tinggi, maka tanggung jawab kalian pun menjadi sangat besar pula. Tanggung jawab kepada diri sendiri dan tanggung jawab kepada Yang Maha Agung.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin menunduk. Bukan saja kepala mereka, tetapi justru hati mereka. Kurnia itu memang harus disyukuri. Tetapi juga merupakan beban tanggung jawab yang sangat besar, karena jika mereka salah mengetrapkan ilmu yang ada pada diri mereka, maka apa yang mereka peroleh bukannya satu kurnia bagi sesamanya yang melimpah dari kurnia atas mereka berdua, namun justru bencana.
Mahendra yang berbangga atas kemajuan ilmu yang dicapai kedua anaknya itu pun menjadi harap-harap cemas pula. Namun pengenalannya atas kedua anaknya membuatnya agak tenang. Namun demikian Mahendra itu pun berkata, “Apa yang akan kau lakukan kemudian, akan menjadi bukti dan kenyataan tentang kalian berdua. Nilai kalian berdua yang sebenarnya bukan terletak kepada ilmu yang kalian miliki itu saja, tetapi seberapa kau sumbangkan ilmu kalian bagi sesama. Seberapa besar pengabdianmu dan kesediaanmu berkorban bagi sesama.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menjawab. Tetapi semua petunjuk dan nasehat itu telah menghunjam jauh ke dalam lubuk hati mereka. Meskipun yang didengarnya itu sebagaimana pernah mereka dengar sebelumnya, namun tekanan-tekanan yang secara khusus diberikan oleh orang-orang tua itu, membuat jantung kedua anak muda itu semakin bergetar.
Demikianlah maka dalam sehari semalam Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha memulihkan keadaan tubuh mereka yang menjadi sangat letih setelah mereka menyadap ilmu dari Pangeran Gagak Branang sebagaimana dikehendaki oleh Pangeran itu sendiri. Dada mereka yang terasa bagaikan tersumbat, sementara tulang belulang mereka yang tidak berdaya sama sekali, berangsur-angsur telah menjadi pulih kembali.
Karena itu, setelah sehari semalam mereka berusaha memulihkan keadaan mereka, maka yang terjadi di dalam diri mereka justru telah berubah.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang merasakan perubahan itu. Tetapi mereka belum pernah mencoba, apakah memang benar kemampuan mereka telah meningkat karena ilmu yang telah mereka sadap itu. Ilmu yang ternyata tidak berdiri sendiri, tetapi menopang kekuatan dan kemampuan ilmu yang sudah ada di dalam diri kedua anak muda itu.
Namun di hari berikutnya, maka Pangeran Singa Narpada dan Mahendra telah berniat untuk melihat perkembangan kemampuan kedua anak muda itu. Karena itu, maka mereka bersama Akuwu Lemah Warah dan Mahisa Ura, telah meninggalkan padepokan menuju ke tempat yang terpencil untuk mencoba kemampuan ilmu kedua anak muda itu.
“Hati-hatilah,“ pesan Akuwu Lemah Warah kepada Senapati prajurit khususnya, “jika dalam keadaan yang penting sekali, lepaskan panah sendaren. Mudah-mudahan kami mendengarnya.”
“Ke arah mana?“ bertanya Senapati itu.
“Ke segala arah. Aku belum tahu, kami akan ke mana?“ jawab Akuwu Lemah Warah.
Demikianlah maka sekelompok kecil telah keluar dari padepokan itu justru menuju ke tempat yang tidak pernah dirambah kaki manusia. Mereka menuju ke sebuah gumuk berbatu padas untuk menguji kemampuan ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.....
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar